Luciano Olexandr Labrentsis a.k.a LOL


'.., kurasa harus menunggu 10 menit dari sekarang agar dia hidup lagi dan menolongku. Haha.., semoga dia menolongku jika hidup lagi..'

Naruto memasrahkan ini. Hidan kalau sudah mati, harus menunggu 10 menit terlebih dahulu untuk bangkit kembali. Itu proses alamiahnya. Jika ingin dipercepat, tinggal hancurkan saja kepalanya. Namun karena dia juga begini, dan dia rasa Yukine pun mengalami hal yang sama, Naruto hanya berharap pendarahannya bisa tidak terlalu parah dalam jangka waktu 10 menit kedepan.

Yahhh…, Naruto percayakan pada Jashin milik Hidan agar ada yang menolongnya..

Naruto by Masashi Kishimoto sensei desuu~

"Novus Ordo Seclorum"

Genre : Adventure, Action, Supranatural, Sci-fi

Rate : M

Sumary : Hidup di masa dimana tatanan dunia baru sedang berlansung, membuatnya berambisi besar untuk ambil bagian. Menggunakan semua yang dia punya, dia pasti akan mencapai tujuannya di dunia baru nanti..

A/N sedikit dari saya soal hubungan Naruto dan Amaterasu. Emmm di arc ini, akan menjadi pondasi awal hubungan mereka, tapi tentu tidak langsung jadi kekasih setelah arc ini selesai. Saya hanya menyediakan pondasi atau alasan mereka masing-masing dalam melanjutkan hubungan selanjutnya. Bukan berarti saya gak suka romance atau gak mau adain disini, tapi saya mau romance itu bener2 feelnya.. bukan cerita romance manis kaya nisekoi atau apa,, tapi cerita cinta mereka benar-benar rumit. Dimana, Naruto yang terjebak masa lalu juga ambisinya, kemudian Amaterasu yang punya beban berat sebagai pemimpin. Saya mau hubungan itu dibangung dengan pondasi yang kuat, enggak langsung nempel atau sayang2an. Sebagai author saya gak suka hal tersebut. Dan saya pun mohon kesabarannya dari reader semua, inspirasi hubungan mereka saya comot dari Gintoki dan Tsukuyo dari Gintama. Hubungan mereka benar-benar rumit, dan sampai eps sekarang pun gak ada tanda atau kemajuan. Naahhh Naruto dan Amaterasu hubungannya perlu saya bangun dulu disini, cinta yang sejati juga abadi tidak langsung dengan cinta pandangan pertama atau cinta karena tampan dan cantik!


Arc 2 : Battle in Takamagahara

Chapter 12. Persiapan

.

Dimensi Buatan Naruto –

.

Naruto masih sadar. Pemuda berusia lebih dari 20 Tahun itu masih memiliki sedikit kesadaran untuk melihat lingkungannya. Meski menyakitkan memang. Dengan luka menganga di perut bekas tusukan musuh, Organ dalam Naruto pun ikut hancur dengan serangan tersebut. Usus besar, kecil juga 12 Jari benar-benar terlumat oleh serangan tadi. Peluang Hidup nya mungkin mencapai Mustahil, jika ini manusia biasa. Namun ketika melihat siapa yang terluka, Permasalahannya hanya tinggal tim bantuan saja.

Penglihatannya mulai terganggu karena kondisi ini. mata biru itu memandang langit biru Dimensi buatan ini dengan kesakitan, kekehan kecil juga khas orang sekarat dikeluarkannya. "Aku tidak menyangka akhir perjalananku akan seperti ini. mungkin Tou-san juga Kaa-san akan bangga dengan ini, mati ditangan Dewa? Kheh.., itu lebih keren dibanding mati ditangan Iblis…"

'.., Dan mungkin, aku juga bisa bertemu dengannya..'

"…Maa terserah.., Aku akan segera menyusulmu, dasar cewek judes…"

Sedikit demi sedikit mata biru cerah itu tertutup. Senyuman kecil terpatri diwajah tampannya, ekspresi yang membahagiakan untuk orang yang akan mati. Sebelum hilang kesadaran, Naruto jelas mendengarkan suara yang menyahuti ucapannya, suara riang kurang ajar yang sepertinya sangat dia kenal, juga suara orang-orang kamvret yang sudah sering mengganggu hidupnya,

"Siapa yang akan menyusul cewek judes, Danna?"

Sebuah Distorsi Dimensi tercipta didekat Naruto. Seperti lubang hitam. Dari sana, keluar beberapa orang yang seragamnya sama. Jubah khas Akatsuki dengan motif awan merah. Wajah-wajah suram juga mengerikan mereka memandang pada Naruto yang hilang kesadaran, ekspresi bermacam-macam ditunjukan oleh mereka. Ada yang tersenyum seperti Algojo dengan senyum yang terlihat Sadis, ada yang Tersenyum riang Watados, dan ada juga yang seolah terkejut ketika melihat keadaan Naruto.

"Ara Danna? Untung saja Mukuro memberi tau dan mengirimkan kita kemari. Kalau tidak…" Pria putih pucat dengan ekspresi riangnya berkomentar. Pria Akatsuki ini jelas sekali orang yang punya peran dalam Konspirasi Kyoto, dia adalah Zetsu. "…, kurasa kau sudah di Jitak oleh Cewek Judes-mu di Akhirat sana."

"Maa Maa, Zetsu…, Di jitak itu kurang. Harusnya…" Pria berambut hitam lurus panjang yang berkomentar, err wajahnya ada keriput kecil. Senyuman sadis bertengger manis diwajahnya. "…, Naruto-Danna disiksa dengan cambuk dan diikat seperti Masokis!"

Hidung pria itu kembang kempis ketika berkomentar. Pria yang sepertinya pengidap Fetish aneh. Mungkin juga seorang Masokis. Pria satunya yang berambut Orange dengan Tindikan tak tau tempat hanya diam saja, namun komentar pelan dia keluarkan atas tindakan Masokis tadi.

"Kau yang seorang Masokis, Itachi.."

"Maa Taicho.., Aku bukan Masokis! Tapi seorang S!"

Dengan bangganya, pria bernama Itachi itu tersenyum sadis pada orang yang dipanggil Ketua itu. Zetsu sebagai penonton hanya tersenyum seperti biasa. Moment mereka terganggu ketika sebuah Distorsi seperti tadi muncul didekat mereka. Berputar beberapa detik, dan kemudian dari Distorsi itu keluar 3 Orang. Yang pertama adalah Hidan yang sepertinya sudah sembuh dan hidup lagi, lalu Yukine yang dalam keadaan baik-baik saja juga seorang sosok misterius memakai Jubah hitam, sosok itu tak lain adalah Mukuro.

"Gezzz Kamvret! Selalu saja Perempuan itu yang membunuhku! Cihhh…, awas saja nanti.." Keluh Hidan. Sepertinya pria berambut perak itu sangat kesal, mengingat dia dua kali dibunuh oleh orang yang sama. Hal pertama yang sangat membuat Pria penyembah Jashin itu kesal luar biasa. Disampingnya Yukine hanya tersenyum, pertempurannya dengan Kugaha dimenangkan dengan mudah olehnya, namun Shinki tua itu kabur ketika akan dia tangkap.

"Ara Hidan? Kudengar kau kalah berulang kali oleh Cewek yah? Pffffft…, Dasar Jones takut cewek.." Zetsu berkomentar pedas seperti biasa, dimana Hidan disana mencoba menenangkan hatinya untuk tidak menebas leher pria biadab disana.

"Maa Zetsu…, Wajar saja dia begitu 'kan? Mungkin saja dia kalah dengan alasan, 'Aku tidak akan melukai seorang Cewek karena itu adalah jalan sesat-ku' atau 'Aku ini seorang Masokis, jadi aku mengalah dan mohon siksa aku!' Aku tak menyangka kau seorang Masokis Hidan…" Ekspresi Kecewa dikeluarkan Itachi yang justru membuat Hidan semakin kesal dengan candaan rekan-rekan Sableng lainnya.

"Kau yang seorang Masokis, Itachi.."

"Ara Taicho.., Kau membela Hidan, apa kau juga seorang Masokis? Dari semua tindikanmu, kurasa iya.."

Saat akan menjawap tuduhan Itachi, Taicho itu didahului oleh Zetsu dengan senyum lebarnya. "Naruto-Danna juga seorang Masokis Taicho. Dia seorang Maniak Masokis.."

"Ha'I Itachi! Aku juga seorang Masokis!"

'Dasar Ketua Kamvret!' Hidan hanya mengutuk dalam hati karena kondisi Kelompoknya, penuh dengan orang-orang Sableng. Memang bukan menjadi rahasia lagi, kalau rekannya yang bernama Itachi itu seorang dengan sifat S yang luar biasa. Menyebalkannya dia suka sekali menuduh orang Masokis. Sedangkan sang Taicho, dia seorang Fanatik Naruto-sama. Semua yang dilakukan Naruto-sama pasti dia ikuti, sebodoh apapun itu. Karenanya lah, dia suka sekali kena tipu oleh anggota lainnya.

Mata Hidan bergerak penasaran ketika melihat Itachi berjongkok didekat tubuh Naruto dengan wajah mencurigakan. Apalagi senyuman S terpatri di wajah keriputan itu. Gawat, Itachi tersenyum seperti itu pasti ada yang tidak beres.

"Apa yang kau lakukan Itachi? Dengan senyum seperti The Hash Singing Laser seperti itu?" Taicho mereka mengwali, mata Orange miliknya menatap waspada pada Itachi yang jongkok dekat dengan tubuh Naruto-sama. Biasanya ada yang tidak beres kalau Itachi sudah senyum seperti The Hash Singing Laser dari Serial Sponge berjalan itu.

"Tidak. Namanya bukan itu Taicho, kepeleset kata-mu terlalu jauh…" Dengan wajah dibuat sedatar mungkin, Hidan mengomentari Taicho-nya. Jelas sekali nama yang diucapkan Taicho-nya itu terpeleset terlalu jauh, namun wajah penuh tindiknya sangat percaya diri sekali.

"Ara Taicho, Hidan benar. Nama yang kau ucapkan itu salah dan terlalu jauh.." Hidan menatap Zetsu lekat, mungkin pria berwajah watados itu punya jawaban yang lebih bagus dari Taicho mereka. Disebrang sana Taicho mereka mengucapkan kalimat Tanya penasaran, "Apa dia?"

"…, Nama yang benar itu adalah…, The Hash Nungging Slasher.."

"Kau juga salah Kamvret! Juga apa-apaan Nungging itu?! Namamu itu terlalu jauh Sialaan!"

"Hm, benarkah?"

"Apanya yang 'benarah' Taicho!? Ucapannya jelas sekali salah lho.., mana ada orang dengan selipan nama 'Nungging'?!"

"Hmmmm kau kurang piknik, Hidan. Jauh disana bahkan ada yang menamai dirinya dengan Goyang it-,"

"Itu sesuatu yang berbeda sialaan!" Sungguh tak habis pikir Hidan, kelakuan mereka kalau sudah bersatu padu menjadi Absurd maka dia hanya kesal dibuatnya. "Lagipula, daripada kita menguruskan ini, bukannya lebih baik merawat Naruto-Kamvret itu 'kan Taicho?"

"Hmmmm.., Hidan benar. Lebih baik kita segera merawat Naruto-sama.."

"Ara Taicho.., Naruto-sama itu suka sekali lho kalau berdebat soal The Hash Nungging Slasher…"

"Baiklah, Lanjutkan.."

'Balok mana Balok!' Kembali dibuat kesal. Kelakuan mereka benar-benar membuat Hidan kesal. Mungkin dia memang sama tidak normalnya dengan mereka, tapi dia tidak seperti mereka juga yang selalu mendatangkan kesal itu. Matanya melihat Itachi yang sekarang berdiri dekat Naruto, kemudian Mukuro yang diam saja juga Yukine yang tersenyum kikuk dari tadi. Sepertinya karena melihat kelakuan mereka.

"Maa Maa…, kalian ini seperti tidak pernah melihat serial kartun saja. Dasar masa kecil kurang bahagia…" Itachi berkomentar, Hidan mulai jengah juga dengan situasi ini. kekonyolan akan tambah konyol kalau pria S itu ikut-ikutan debat aneh ini.

'Aku ragu serial kartun ada dizaman kecilmu, pria keriputan..'

"…., yang benar itu adalah, Flying Dutchman."

"Itu bahkan salah jauh kamvret! Kau pikir siapa yang sedang dibicarakan ini?! kau bahkan menyebutkan orang yang berbeda!"

"Heiiii.., kau masa kecil kurang bahagia Hidan. Ini satu serial juga 'kan?"

Hidan tak menjawab lagi. Terlalu malas kalau sudah menanggapi kekonyolan mereka. Lebih baik berurusan dengan Bendahara mereka yang super duper Ultimate Excelent very Pelit juga kikir dibanding berhadapan dengan kedua pria macam Itachi dan Zetsu, otak mereka sudah geser terlalu jauh.

"Hmmmm…, namanya jadi banyak yah?" Taicho mereka berujar bingung, kedua tangannya bersidekap didepan dada dengan pose berpikir seperti Detektip.

'Semua yang kalian sebutkan itu salah dan jauh dari kata benar, Kamvret..'

"Mukuro, bagaimana menurutmu?" menaikan alisnya bingung, Hidan menatap penasaran pada Taicho mereka yang berniat bertanya pada Mukuro. Pria misterius yang jarang bicara juga anggota terakhir yang gabung ke Akatsuki. Dia jarang se-misi dengannya, jadi wajar kalau dia tida terlalu akrab juga kenal pria misterius itu.

"Zzzzzzzzzz…"

"Hmmm begitu yah? Menurut dia, yang benar itu adalah The Hash Singing Laser. Nama itu memang benar-benar ada di Serial tersebut. Katanya juga, kalian itu Kampungan karena hal kecil seperti inipun tidak tau…"

"Apanya yang 'Begitu' Taicho-Kamvret! Mana ada kalimat 10 Z seperti orang tidur itu artinya sepanjang itu?! Dan juga itu hanya akal-akalanmu saja 'kan?! Jawaban Mukuro sama dengan jawabanmu, Dasar Curang!"

"A-anoo.." Hidan juga Taicho ditambah Zetsu dengan senyum khasnya menatap penasaran pada Yukine. Bocah remaja itu menunjuk telunjuknya pada Posisi Itachi tadi, didekat tubuh sekarat Naruto atau pimpinan mereka. Mengikuti arah tunjukan itu, mereka hanya bisa memandang datar kedepan.

"Tehehe.."

"Apanya yang tehehe sialaaan! Perutnya! Perutnya! Kau memasukan Pencuci perut pada perut yang bolong?! Dan hentikan senyum The Hash Slinging Slasher itu dasar Maniak S!"

Seperti itulah kalau Akatsuki bertemu dalam satu waktu dan tempat.


.

"Khehehehehe…, Terima kasih! Hahahahaha semua rencana kita pasti akan berhasil.." suara mengerikan nyaring terdengar begitu menakutkan di ruang yang serba gelap itu. Aura disana benar-benar mencekam, sampai-sampai Hantu sekalipun akan takut jika harus diruangan tersebut. Pencahayaan yang minim, mata bercahaya mengerikan mahluk yang ada diruangan tersebut menyala terang bagai pemburu mencari mangsa.

Disebrang kiri, tatapan mata dingin bagaikan es dari mata Biru begitu menusuk siapapun yang melihatnya. Bersebelahan dengannya, ada Mata Amethyst indah beraura kematian yang benar-benar menjanjikan rasa sakit, sedang satu lagi yang paling tengah, adalah mata ganas dan mengerikan berwarna merah api yang menusuk. Tatapan tajam juga ganas yang menjanjikan kemusnahan, bagai Api berkobar yang melahap siapapun korbannya.

Mereka, yang menempati ruangan misterius ini, adalah Komplotan Oposisi yang memang berniat melakukan tindakan Kudeta pada kepemimpinan Amaterasu, saat ini. tindakan mereka mungkin diragukan dan dibilang Gila, namun bukan berarti mereka tidak punya persiapan sama sekali. Persiapan mereka sudah sangat matang, cukup matang untuk memberikan Kejutan juga Kekalahan pada pihak musuh.

Dan saat inilah, pembahasan penting terkait rencana mereka selanjutnya. Setelah tadi sore, mereka berhasil menambah Stock Kuas Ungkapan untuk senjata mereka. Sekedar info, sekarang mungkin sudah pukul 21.15 lebih..

"Tentu saja Berhasil, Tuan." Suara dingin menusuk jiwa terdengar, dimana suara gelak tawa menyahuti kalimat itu. "…, Pencegah yang mereka kirim hanya Kacangan juga Orang-orang tak berguna. Mudah bagi kami untuk memenangkannya."

"Selain itu, tipuan licik yang kita rencanakan punya peran penting dalam misi ini. mungkin mereka para pengganggu itu sudah benar-benar mati. Khehehehe.."

Suara yang lebih Feminim namun sama menyeramkannya terdengar begitu jelas di gendang telinga. Bersamaan dengan ucapan itu, Mata Amethyst disana menyipit tajam kedepan.

"Hahahahaha..! Bagus! Sakra-sama pasti senang dengan semua ini! dia pasti Bahagia jika rencana kali ini berhasil tanpa diganggu sedikitpun oleh para Tikus itu.."

Seperti dugaan Naruto dan yang lainnya, Dewa Botak sang Svargavati memang memiliki hubungan atas insiden ini. bisa menjadi Antagonis utama atau sebagai pembantu Antagonis. Mata sewarna api itu bersinar mengerikan ketika selesai ucapan tadi.

Mari sedikit bercerita. Sakra atau lebih dikenal Indra di Hindhu ini memang mempunyai tabiat aneh, di masa-masa sekarang. Dia yang merupakan Dewa dengan umur ribuan tahun juga sudah banyak pengalaman, sekarang sedang dalam masa terbosannya. Tidak seperti dahulu, saat dia Detya berperang dengan para Adetya. Dimana hal itu adalah saat-saat yang sangat menyenangkan baginya. Yang saat itu dia juga merupakan pemimpin perang dan Dewa perang. Sekarang tidak ada hal-hal seperti itu lagi, alhasil kebosanan benar-benar menyelimuti perasaannya. Karena itulah, Dewa Botak itu mulai melakukan hal-hal aneh juga diluar akal untuk mengusir kebosanan.

Sebenarnya bukan hanya Sakra saja yang mengalami hal ini. diberbagai Mitologi dan Wilayah, mereka para Dewa yang mental dan pola pikirinya tidak jauh berbeda dengan Indra, tentu mengalami hal yang sama. Terselimuti kebosanan hingga ribuan tahun lamanya. Contoh mudahnya seperti Ares dan Hades. Kedua Dewa satu Mitologi itu sama bosannya dengan Sakra, perang mereka sudah berakhir ribuan tahun lalu. Dan saat ini mereka hanya diam saja sebagai Legenda hidup yang entah kapan berakhirnya, tentu saja dengan pola pikir dan keadaan dan kondisi yang sama, mereka menjalin sebuah kerja sama atau sebuah Aliansi dengan tujuan tertentu. Meskipun masih menjadi mistery apa tujuan komplotan Dewa-Dewa itu.

"Suatu kehormatan, apabila Sakra-sama yang terhormat Bahagia karena kami.."

Mata merah itu melirik kearah mata Biru bagai es, sedikit menganalisa yang kemudian terganggu dengan munculnya tawa mengerikan. "Bagus. Nah lalu bagaimana persiapan kita? Aku sudah tidak sabar menjalankan semua rencana kita.."

"Anda tenang saja. Semua persiapan sudah hampir selesai." Suara feminim menyahuti, terdengar tawa senang ketika suara tadi hilang.

"Dengan dua kuas ungkapan yang ada dikita, ditambah Dopping kekuatan yang anda berikan untuk eksprimen kita. Pasukan Ayakashi untuk menyerbu Takamagahara sedikit lagi selesai dan siap dibawa perang kapanpun.."

"Jumlahnya?"

"Sekitar 100 ribu Ayakashi siap dibawa perang. Varietas bentuk juga special kekuatannya semuanya lengkap. Dengan pasukan sebanyak itu, kemungkinan menang berada ditangan kita."

Seperti yang sudah-sudah, Phantom Brush atau Mandate of Hell atau Kuas ungkapan mempunyai kemampuan untuk menciptakan Ayakashi semaumu. Sampai saat ini memang tidak ada limit penciptaan atau pemakaian energy berlebih untuk menggunakan pusaka itu. Yang mengkhawatirkan dari Benda itu adalah kutukannya. Diceritakan, Dewa sekalipun bahkan terkena kutukan itu dan akan mengalami kesakitan jika menggunakannya. Seperti sebuah pedang bermata dua, Kuas ungkapan itu pun sama. Dibalik kekuatannya yang Gila menyamai Pusaka lainnya, ada kelemahan juga harga yang harus dibayar.

Dewa yang diketahui pernah menggunakan Kuas ungkapan adalah Ebisu, dan Kuantitas dari Etintas yang dia ciptakan pun tidak terlalu banyak. Menyentuh angka 10 pun sudah menjadi sebuah keajaiban. Namun sekarang! Komplotan Ebisu yang dibantu oleh pihak Sakra mendapatkan bantuan berupa Dopping, yang membuat kekuatan tempur pasukan mereka yang diremehkan dan dipandang sebelah mata, menjelma menjadi kekuatan tempur setara sebuah Fraksi itu sendiri. Berhasil menciptakan 100 ribu Ayakashi adalah sebuah keajaiban juga sebuah prestasi dari dasar kemustahilan yang Dramatis. Dan hal ini, pasti akan dicatat dalam sejarah, dimana ada Mahluk yang berhasil menciptakan 100 ribu pasukan tempur menggunakan Kuas ungkapan.

"Lalu bagaimana dengan kondisi Ebisu sendiri? Apa dia bisa ikut bertempur meski sudah melakukan semua kegilaan ini?"

Tentu saja kehadiran Ebisu sebagai tuan dan pencipta 100 ribu pasukan tempur itu sangat krusial dalam perang nanti. Karena mau bagaimanapun, system dari Kuas ungkapan itu sangat sederhana namun penuh celah disisi lainnya. Dimana, para Ayakashi atau Siluman buatan yang diciptakan Kuas ungkapan itu akan dan harus selalu mengikuti perkataan penciptanya. Mereka benar-benar patuh dan tak mau menerima perintah dari orang lain, jika memakasa yang ada konflik dengan Ayakashi akan terjadi.

Mudahnya, jika Ebisu tak hadir dalam perang nanti, para Ayakashi itupun tak bisa dijadikan pasukan tempur mereka dan hanya berakhir menjadi mahluk buas tak punya pemikiran. Itu sama saja mereka tidak memiliki pasukan tempur dan kemungkinan kalah menjadi nyata bagi mereka. Karena itulah, meski jumlah pasukan 100 ribu atau bahkan 1 juta sekalipun, jika tidak bisa diperintah dan membantu, sama saja bohong.

"Sekali lagi, berkat Dopping yang anda berikan, dia masih cukup mampu untuk mengkoordinir semua pasukan itu. Memang tidak meragukan jika Dewa yang masuk dalam jajaran Top 20 Strongest in the World juga salah satu dari 8 Vasu/Wasu membantu rencana kudeta. Benar-benar mengerikan.."

Informasi yang perlu digaris bawahi dengan tebal adalah, Support yang membantu pihak oposisi, atau bantuan yang dikirimkan Sakra dalam panggung Takamagahara ini, masih termasuk Top 20 Mahluk terkuat di dunia. Dan lebih jelas lagi, dia salah satu dari 8 Vasu/Wasu yang langsung di komandoi oleh Svargavati, Indra atau Sakra. Tentu saja bantuan yang dikirim Sakra ini bukanlah sembarang bantuan yang sia-sia, dia langsung mengirim salah satu Vasu/Wasu kemari. Ini tentu menjadi indikasi kalau Konspirasi yang dia mainkan benar-benar serius.

Sekedar mengingatkan, Top 20 bukanlah predikat atau posisi yang bisa diisi sembarang Mahluk. Hanya mahluk dengan kelas tinggi atau Dewa lah yang mampu mengisinya. Kekuatan mereka benar-benar luar biasa jika berhasil masuk predikat ini. salah satu contoh, dari Norse ada Thor putra Odin yang memasuki Top 20, tidak terlalu jauh dari ayahnya Odin. Lalu ada juga 8 Wasu/Vasu yang merupakan pasukan terbaik Sakra yang ke-semuanya memasuki Top 20. Dan ada beberapa Akatsuki yang masuk Top 20 ini, meskipun memang ada 1 atau 2 orang yang berhasil masuk dalam predikat lebih tinggi, Top 10.

"Hahahaha aku tersanjung. Yang lebih mengerikan, adalah kalian. Tidak, tapi kau!.." Mata merah bercahaya bagai api membara itu menatap tertarik pada mata es biru yang dingin. ".., Menyiapkan dan merencanakan semua ini untuk menggulingkan Dewi Amaterasu, kau memang manusia yang menarik. Kheh…"

"Maaf saja, sejak aku mati ribuan tahun lalu, aku sudah bukan lagi manusia.."

Dan tawa mengerikan keluar nyaring disana. Entah apa maksudnya dari pembicaraan ambigu tadi, yang pasti ada rahasia besar dibalik Konflik ini. tentu saja masing-masing pihak memiliki kelicikannya masing-masing. Konflik di Takamagahara, tidak tapi diseluruh Dunia Supranatural dan Dunia manusia, tidak ada yang namanya baik jahat atau konsep pahlawan penjahat. Tiap pihak sama saja, punya kepentingan dan siap mengorbankan apapun untuk mewujudkan kepentingan itu. Kawan atau lawan, tak benar-benar ada di Dunia yang kejam ini, semuanya sama saja. Ibarat sebuah pribahasa Politik, Tak ada Kawan sejati dan musuh sejati, yang ada hanya Kepentingan!

Sama juga dalam kasus kali ini. kedua pihak menjalankan rencana mereka dengan penuh percaya diri juga penuh ambisi. Kedua pemimpin bersebrangan ini selalu percaya bahwa semua rencananya berhasil, karena memang itu syarat memimpin. Seperti Naruto, disana dia percaya diri kalau rencana untuk menyerang Aliansi 3 Fraksi dengan senjata politiknya di Takamagahara ini akan berjalan lancar dan musuh bisa dihabisi dengan mudah, namun kenyataannya musuh menyimpan kekuatan besar yang tak akan diduga Naruto. Dan musuh Naruto pun sama, mereka percaya diri dengan kekuatan militer mereka dan percaya akan menang, tanpa tau kalau ada Akatsuki tambahan yang datang dan ikut terlibat Konflik ini. ironis bukan?

Namun begitulah seorang pemimpin. Mereka yang ragu dan pesimis akan berakhir mati dan menjadi mayat tak berguna yang akan dimakan tanah di peperangan nanti. Tak perduli rencana cadangan apa yang dimiliki musuh, kepercayaan harus selalu dipegang untuk membalas menyerang. Inilah fakta lainnya dalam sudut pandang lain, sebuah pertarungan epic antara kedua pemimpin dengan kepercayaannya masing-masing. Pertarungan penentu siapa pemimpin tercerdas juga tercerdik plus paling licik, pertarungan Konspirasi siapa yang paling unggul, disinilah pembuktiannya.

"Bukan manusia? Kurasa kau benar.." Gumam kecil dan rendah mengerikan terdengar jelas. ".., Kurasa mengerikannya, kalian berusaha menghancurkan sekutu kalian sendiri 'kan?"

Hening sejenak. Tak ada balasan pertanyaan tadi, entah memang tidak ada jawabannya atau tidak mau menjawab. Keduanya bukanlah hal penting lagi sekarang.

"Aku bukan golongan Shinto. Kebetulan saja aku disegel oleh Izanagi.."

Mata merah memandang mata Amethyst indah itu lekat, sedikit menyipit dan kemudian memandang mata biru bagai es disampingnya.

"Aku juga. Hanya kebetulan saja ada Dewa Shinto yang keluar masuk tubuhku.." Suara datar itu kembali menghadirkan gelak tawa di ruangan gelap itu. Tawa jahat yang mengerikan. "…, Hmmm sudahlah.., lalu apa yang selanjutnya kita lakukan? Apa kita akan menyerbu dengan serangan kejutan pada mereka? Atau apa?"

Pembahasan inilah yang sebenarnya ditunggu-tunggu. Tindak lanjut atau Follow up terhadap tersedianya 100 ribu Ayakashi. Apakah akan didiamkan saja atau dibawa perang? Dan bagaimana bentuk perangnya? Pada pertemuan inilah mereka harus membahasnya dengan jelas, sehingga persentase kemenangan ini benar-benar mereka pegang.

Dan dengan dimulainya pembahasan tersebut, suasana dan aura yang dirasakan di sini benar-benar mencekam. Mahluk biasa tak akan bertahan di ruangan seperti ini. Radiasi Kekuatan gila benar-benar membinasakan sesiapapun yang hadir, namun tidak bagi ketiga sosok yang sudah ada disini sedari awal. Mata merah bagai api membara itu menatap kedua sosok lainnya, rencana tetap rencana. Dan dia akan menjalankan rencana itu sebaik mungkin.

"Kita akan berperang secara terbuka. Maksudku, pihak kita kirimkan pesan pada pihak musuh untuk menanggapi tantangan perang kita, sertakan juga ancaman 100 ribu Ayakashi milik kita. Serangan dengan element kejutan memang mengerikan, namun dengan kekuatan juga taktik yang matang, peperangan terbuka pun bisa menjadi sangat mengerikan dari perang lainnya."

Maksudnya sederhana, mereka seolah mengundang pihak Amaterasu untuk menghadiri peperangan yang mereka rencanakan. Sebenarnya agak gila juga menggelikan, mengingat taktik ini bisa dikatakan sangat bodoh. Kenapa juga tidak menyerang diam-diam dan mengejutkan musuh? Itulah benak awam pada umumnya. Namun disini masing-masing pemimpin bukanlah mahluk sembarangan, dibalik semua keputusannya ada rencana cadangan yang siap men-Support semua rencana utama. Jika satu rencana gagal, maka rencana cadangan lainnya akan mem-backup. Intinya, semuanya selalu dengan rencana dan taktik yang brilliant.

"Hmmmm aku tak mengerti kenapa kau memilih taktik seperti itu. Tapi baiklah…" disebrang sana, suara lainnya menyahuti. "…, Aku akan segera mengirimkan surat tantangannya. Kita siap berperang besok siang."

' Semua rencana berjalan dengan sempurna. Sesuai dengan rencana besar Sakra-sama. Khehehehe…, memberikan kabar perang juga ancaman? Itu bisa membuat mereka panic dan bertindak gegabah. Aku yakin, para tetua disana akan mengirimkan semua kekuatan militernya ke medan perang. Hahaha.., dengan begitu tujuan Sakra-sama pasti tercapai. Semaksimal mungkin membasmi kekuatan militer Shinto dalam perang ini, hingga tujuan besar Sakra-sama tercapai. Kalau situasi mulai runyam, kurasa aku akan turun. Mengalahkan Amaterasu dan Susano'o sepertinya tidak sulit..'

Semua rencana Sakra sebenarnya sederhana, hanya tujuannya saja yang rumit dan masih rahasia. Pertama perang ini, dia merencanakan terbuka agar semua kekuatan militer Shinto berkumpul semua di satu tempat. Ancaman 100 ribu Ayakashi adalah ancaman yang bagus untuk mereka. Dan saat perang, sebisa mungkin habisi dan terus kurangi kekuatan militer Shinto. Sederhana memang, namun entah untuk apa tujuan Sakra dan komplotannya melakukan semua ini. akan bahaya jika dunia mengetahui semua ini, bisa-bisa gejolak Politik akan panas karena semua tindakan Sakra.

'Mungkin permasalahannya hanya kedua manusia reseh itu. Mehhh.., dengan kekuatan baruku aku yakin bisa membunuh mereka berdua. Hahahahaha.. aku berterima kasih karena ini, backup kekuatan di belakang Sakra-sama benar-benar luar biasa. Aku masih tak menyangka saja mahluk sepertinya masih hidup dan ikut satu komplotan dengan Sakra-sama bahkan menjadi backup kekuatan paling mengerikan. Sumber semua konspirasi ini, dalang dibalik semua kelicikan dunia…, mahluk itu benar-benar mengerikan.'


- Takamagahara -

.

Ditempat biasa, para Dewa Shinto sedang melakukan rapat soal pesan ancaman juga tantangan perang dari pihak Oposisi. Rapatnya sudah mulai lama dari beberapa jam yang lalu. Namun sampai sekarang pun masih belum ada tanda-tanda selesai, sepertinya pembahasan sangat panjang dan alot. Semua pihak sepertinya saling kukuh dengan pendapatnya masing-masing.

Kaki jenjang itu berjalan cepat dilorong ruangan dengan gaya arsitektur barat tersebut, lantai atau karpet merah bergesekan pelan dengan alas kaki perempuan itu. Kimono besar dan mewahnya berkibar-kibar pelan ketika berjalan agak tergesa, wajah cantik dengan rambut panjang hitam disanggul itu penuh kecantikan dan kelembutan namun juga sarat nilai ketegasan. Sebuah kombinasi yang sempurna. Perempuan itu adalah Amaterasu atau dipanggil akrab Touka. Dalam penampilan Dewi miliknya dia baru saja menyelesaikan rapat berat tadi, dan langsung pergi begitu saja ke suatu tempat. Tempat yang bisa menghilangkan semua keraguannya.

Rapat tadi sebenarnya sangat malas dia ikuti dan juga selalu memancing amarahnya. Bagaimana tidak, dari lamanya rapat ini, pembahasan hanya memojokan posisi Tsukoyomi atau adiknya yang masih satu golongan dengan Oposisi yang besok akan berperang dengan mereka. Menurut yang kontra, Tsukoyomi juga yang lainnya benar-benar sudah tidak bisa ditolerir lagi tindakannya, dan hukuman mati juga pembuangan adalah hukuman yang pas menurut mereka. Meskipun sudah diberi tau kalau Tsukoyomi dikendalikan seseorang, mereka tidak percaya dengan alasan skeptis, tak ada bukti jelas. Menurut mereka juga, memangnya siapa yang bisa mengendalikan dia? Dia itu Dewa terkuat nomor 2 setelah anda, jadi tidak mungkin dia dikendalikan.

Pemikiran bodoh. Mereka hanya memikirkan bahwa ini hanya konflik internal Shinto saja, padahal kenyataannya ada intervensi bahkan dalang semua ini dari pihak luar, pihak Sakra. Namun yang namanya Dewa kolot, ,mereka tetap kukuh dan memaksa Amaterasu untuk membunuh Tsukoyomi di perang nanti. Dia tak bisa berbuat apa-apa saat itu, dia hanya bisa pergi dari rapat dan menuju sebuah tempat yang bisa menghilangkan semua keraguannya. Sebuah tempat dimana disana bisa menjadi pundak yang siap menanggung semua keluh kesah perempuan rapuh seperti Amaterasu.

"Oooi Aneki, kau mau kemana? Tidak sopan lho meninggalkan rapat tanpa menutupnya terlebih dahulu.."

Amaterasu menghentikan langkahnya hanya untuk menengok ke belakang, disana dia bisa melihat sosok Dewa tampan berambut hitam panjang dengan Yukata putih. Mata emasnya memandang Amaterasu lekat, yang dibalas lekat juga oleh Amaterasu. Dia adalah adik Amaterasu selain Tsukoyomi, The god of Calamity..

"Ada apa, Susano'o?"

"Maa Maa.. Tanya ada apa? Kau sudah berlaku tidak sopan lho saat rapat tadi, Aneki." Nada santai dikeluarkan Susano'o, melawan Amaterasu yang serius dia mencoba sesantai mungkin.

Wanita berambut hitam itu menghela napas sejenak, kemudian dia mulai berbalik lagi dan hendak melanjutkan tujuannya. "Aku tidak perduli akan kesopanan jika mereka adalah mahluk bebal yang ingin membinasakan keluargaku…"

"…, dan kalau tidak ada lagi aku akan pergi-,"

"Pergi kemana?" langkah gadis itu ditahan kembali, tanpa menoleh dan hanya menghentikan langkahnya. "Pergi ke orang itu? Calon suamimu?" tak ada balasan dari Amaterasu, sepertinya positif. "Hahhh.., sudahlah Aneki. Kau jangan terlalu bergantung padanya. Yang ada kita hanya membuatnya dalam bahaya saja. Kodratnya sebagai manusia tak bisa melampaui para Dewa. Mahluk penuh kelemahan sepertinya tidak patut dijadikan sandaran kekuatan bagimu, Aneki. Apalagi dia kalah telak dari Dewa Yato, apalagi yang kau cari Aneki? Mengalahkan Yato seorang saja dia sekarat, apalagi melawan yang lainnya? Jangan terlalu memberikan bahaya pada manusia Aneki."

Disana Amaterasu hanya mengeratkan rahangnya. Tadi beberapa waktu lalu, dia didatangi beberapa Akatsuki yang membawa tubuh sekarat Naruto. Dia langsung merawatnya di kediaman Amaterasu, Amaterasu sendiri mencoba mengobatinya dengan peralatan juga sihir medis yang dia kuasai. Sudah sembuh, namun sepertinya masih belum sadar dari sekarat. Wajar juga memang, perut juga organ dalamnya toh hancur.

Dan soal kata-kata Susano'o, Amaterasu tak bisa menampiknya. Selama ini, dia tak tau limit kekuatan partnernya tersebut. Pertarungan yang dia ketahui, adalah pertarungan Naruto melawan Tengu. Dia tak tau apakah Naruto benar-benar kuat atau tidak. Jadi wajar, jika kata-kata Susano'o sedikit mengganggunya. Apa benar dia menjadi penyebab sekaratnya pria itu? Dan pertanyaan lainnya berputar dibenak Amaterasu. Namun sekali lagi, tekadnya untuk menemui dia sekarang sudah bulat.

"Aku tidak mengharap kekuatan tempur darinya.." Susano'o menaikan alisnya perlahan. Matanya memandang tertarik punggung kakaknya itu. "…, dibanding kekuatan tempur. Dia bisa memberikan kekuatan yang lain yang lebih hebat dari itu, untukku."

"Mattaku.., kau sudah seperti pasangan saja dengan pria itu? Padahal kalian pura-pura saja 'kan?"

Susano'o bukanlah bodoh seperti kelihatannya. Dia tau semua sandiwara kakaknya dengan Naruto ketika pertemuan dulu. Mereka hanya berpura-pura untuk melancarkan aksi mereka. Dia pun ikut pura-pura kaget saja waktu itu. Namun dia tak menyangka juga bahwa Kakaknya bersikap seolah mereka berdua sepasang pasangan romantic.

"Kalau sudah tau, kenapa Tanya? Sudahlah, kau siapkan saja pasukan untuk berperang besok, Ototou.."

Dan Amaterasu pun berlalu pergi. Senyum tipis tersungging di wajah cantiknya, pembicaraannya dengan adiknya sedikit meringankan beban beratnya. Dia melangkah pergi menuju tempat Naruto dirawat, atau kediamannya sendiri.

"Pergilah… aku akan mengurus semua sisanya. Kau bersenang-senanglah dengan pria itu. Tenang saja, aku merestui hubungan kalian berdua. Jadi pergilah dengan senyuman terbaikmu, Aneki!"

Teriakan Susano'o selesai bersamaan dengan menghilangnya Amaterasu dari pandangan. Dewa badai itu tersenyum senang dengan kondisi kakaknya. Jarang dia melihat kakaknya bersikap seperti ini, jadi rasa senang terasa sekali ketika melihat saudarinya bersikap seperti itu. Sekarang, dia hanya tinggal menyiapkan pasukan dan hal lainnya untuk perang civil nanti.

"Hahhhh.., aku lupa satu hal…" Menepuk dahinya pelan, Susano'o tersenyum sembari menatap kedepan.

".., Semoga kuat saja dengan Kakak Judes itu."

.

Sreeet.

Bunyi pelan dari pintu geser terbuka terdengar jelas di sebuah itu sendiri berada tepat disamping halaman luar, sehingga hanya terpisah pintu geser dan dinding saja. Pencahayaannya sedikit kurang, namun penglihatan masih bekerja jelas, khususnya gadis berambut hitam panjang yang baru masuk itu. Gadis atau Amaterasu itu menutup pintu dengan pelan dan duduk sopan disebuah tubuh yang sedang tertidur dibalik selimut hangat berwarna biru itu. Tidur dilantai seperti Jepang kebanyakan.

Tubuh itu, tak salah lagi adalah Naruto yang masih dalam masa perawatan. Kekalahannya dengan Yato menyisakan luka parah dan membuatnya sekarat. Untungnya ada obat juga peralatan lainnya yang membantu penyembuhan, sehingga pria itu masih terselamatkan meski perut dan organ dalamnya hancur. Amaterasu memandang sendu wajah tegas itu. Kalau bukan karena bantuannya, baik itu kekuatan tempur juga motivasi untuk hatinya, mungkin sekarang Amaterasu sudah tidak kuat dengan semua tekanan ini. sebuah tekanan yang sama saat dahulu, saat dia dengan Tsukuyomi bersatu dalam sebuah hubungan. Kalau bukan karena pria itu, Amaterasu tak tau lagi sepertia apa. Mungkin akan berakhir seperti dahulu, bunuh diri.

Namun dia juga merasa bersalah. Karena sudah melibatkan pria ini pada masalahnya dan membuatnya sekarat seperti ini. seharusnya dia paham kalau pria ini hanya manusia biasa yang penuh kelemahan, sangat jauh berbeda dengan dia sebagai Dewa. Dia menyesali semua itu, dan dia bertekad bahwa selanjutnya dia akan mengatasi semua sendiri dan tak akan membuat Naruto terluka seperti ini. dia bertekad.

"Naruto-san…" Suara lembut Amaterasu terdengar begitu indah, namun sayang Karena sepertinya satu-satunya mahluk disana sedang tidak sadar. "…, Kurasa ini adalah batasanku. Aku tidak bisa lagi memperjuangkan adik bodoh itu. Tidak sepertimu yang cerdas dan lihai dalam Negosiasi dan lainnya, aku tidak bisa. Kau mungkin manusia, namun kekuatan tekad juga hatimu sangat besar melebihiku. Dibandingkan denganmu, aku hanya seorang Dewi rapuh yang tak becus menjadi pemimpin. Kedepannya, aku tak akan melibatkanmu lagi, Naruto-san.."

Sedikit butir air mata menggenang dipelupuk matanya. Namun Amaterasu melanjutkan. ".., Aku tidak mau kau terluka lagi seperti ini. kau tidak seharusnya mengalami hal ini, Naruto-san. Karena itulah, mohon istirahat yang nyaman dan hiraukan kami semua!"

Perkataan Amaterasu selesai, dan suasana kembali hening seperti biasa. Amaterasu merasa cukup puas karena sudah mengadu pada pria yang sudah mendukungnya itu. Senyum senang dan lega dia pasang indah, dia kemudian mulai berdiri dan berniat pergi dari sini. Tak mau lagi mengganggu pria ini. dia mulai melangkah pergi menuju pintu.

"Kau pikir mau kemana, Touka?"

… dan langkah kaki itu terhenti Karena suara Naruto. Tanpa menoleh, Amaterasu atau Touka tau kalau sekarang Naruto sudah sadar, meskipun masih berbaring.

".., Setelah semua curhatanmu itu, kau mau pergi begitu saja? Heh maaf saja, aku ini type pria yang selalu membalas curhatan perempuan."

Touka mulai menghilangkan niatnya pergi, dia berdiri dan hanya memunggungi Naruto. Naruto sendiri hanya memandang langit-langit ruangan dengan lekat. " Kau itu pemimpin hebat, Touka. Aku bahkan iri padamu yang kuat dan tegar itu, tidak sepertimu yang masih bisa tersenyum meski sudah pernah kehilangan keluarga. Aku tidak bisa. Jadi, jangan rendahkan dirimu sendiri. Kau kuat dan itu bagus."

"Dan masalah adikmu? Kau tau, ada sebuah pribahasa yang sangat inspiratif. Jadi pemimpin itu berat, tapi kehilangan keluarga itu lebih berat. Aku serahkan semua keputuasan padamu, lakukanlah dengan tekad mu. Jika ingin mengakhirinya, lakukanlah dengan tekad! Jika ingin mempertahankannya, lakukan dengan tekadmu! Seorang yang ragu dan pesimis, akan berakhir di pertempuran.."

Suasana masih hening. Touka masih memunggungi Naruto, namun kalau dilihat air mata mulai jatuh melalui pipi putih miliknya. Inilah yang dia maksud tadi dengan Susano'o. Naruto selalu bisa memberikannya kekuatan misterius ini, kekuatan yang selalu membantunya dalam setiap keputusannya. Kekuatan yang mempengaruhi tekadnya, Amaterasu mengakui kalau hanya Naruto yang bisa membuatnya seperti ini.

"Hahhh.., aku sudah capek-capek me-Motivasi dan hanya dibalas dengan butiran air itu. Pergilah, kau itu mengganggu istirahatku, dasar perempuan Judes.."

Senyum kecil tercipta diwajah Amaterasu. Hatinya lega sekarang. Sesuatu yang selalu dia dapat jika bersama dengan pria itu, sebuah perasaan yang entah apa itu. Amaterasu selalu rasakan ketika bersama dengan pria atau manusia itu. Dengan senyuman kecil, dia kembali melangkah pergi.

".., Dan juga..! hapus dulu air mata itu! Aku tidak mau ada yang melihat wajah cantikmu yang dibasahi air mata. Aku tidak mau dituduh menyakiti calon istrinya sendiri oleh Susano'o dan menyebabkannya memburuku.."

Masih dengan senyum, Amaterasu menghapus air mata itu dipipinya. Wajahnya terlihat bahagia, dengan sedikit semburat merah dipipinya. Benar-benar manis. Dilihat dari manapun, mereka berdua cocok dan bahkan terlihat seperti sepasang kekasih. Namun, mereka berdua tak ambil pusing soal itu. Hubungan mereka mungkin akan rumit kedepannya. Naruto tersenyum memandang langit-langit ketika Touka benar-benar sudah pergi. Dia selalu merasa nyaman jika berbicara dengan Dewi tersebut. Rasa nyaman yang sama seperti dahulu.

"Kau terlihat begitu senang, Naruto-sama?"

Suara baru muncul, dari sudut yang gelap keluar sosok lain. Seorang pria berambut seperti duren dengan warna orange yang nyentrik, tindikan tak tau tempatnya menambah ke-nyentrikannya. Naruto hanya diam saja dengan kehadiran anggotanya atau tangan kanannya yang memang sudah sedari tadi disini, menjaganya terus.

"Kau itu tidak sopan, Pain. Menguping pembicaraan antara pria dan perempuan, kau harus belajar lebih lagi."

"Ha'I"

Entah darimana munculnya, Pain langsung menuliskan sesuatu pada buku kecil ditangannya. Naruto hanya diam saja melihat kelakuan tangan kanannya itu. Wajahnya dia buat serius ketika pria bertindik itu selesai melaksanakan aktivitasnya. ".., Jadi bagaimana?"

Wajah pain yang datar itu semakin serius. ".., ,Musuh mempunyai kuantitas pasukan tempur yang gila. 100 ribu pasukan. Dan mengejutkannya, dalang semua ini benar seperti dugaan anda. Dia adalah Sakra. Dan yang menjadi panahnya disini, adalah salah satu Wasu/Vasu. Dia dijuluki Duta para Dewa, kurasa anda tau siapa dia.."

"Dia yah? Lawan yang sulit. Kekuatan dia mungkin berada diatas Amaterasu. Lalu apa lagi?"

"Semua masih sesuai rencana kita. Anda hanya perlu membagi-bagi saja kekuatan kita di tiap titik penting. Anda paham 'kan?"

Naruto mulai bangkit dari tidurnya, perban menempel ditangan kirinya. Mata biru dingin itu memandang sudut gelap di ruangan ini. Pain disisinya hanya diam menunggu. "Itachi! Zetsu! Hidan! Juga Mukuro! Keluarlah!"

Dari pintu yang terbuka itu, cahaya bulan yang baru keluar dari awan menyinari ruangan itu dengan Dramatis. Sudut gelap itu sedikit demi sedikit terkena cahaya bulan dan memperlihatkan orang-orang yang dimaksud Naruto. Itachi dengan jubah Akatsuki miliknya, dibelakangnya ada sebuah Katana cukup panjang. Lalu Zetsu dengan senyuman biasa miliknya, kemudian Hidan dan Mukuro dengan mistery dibaliknya.

"Ini perang Civil pertama yang kita lakoni. Kekuatan kalian sangat dibutuhkan sekarang. Bisa dibilang, perang ini menjadi pemanasan sebelum konflik besar terjadi. Itachi!"

Seorang pria dengan keriput dimata mengangkat tangannya, dengan senyuman seperti biasa. Senyuman S. "Kau tetap disini dan jaga titik disini! Mereka mungkin saja menyuruh orang untuk menyerang tempat ini. kurasa hal mudah bagimu dan kekuatanmu untuk menjaga disini 'kan?"

Mengangkat kedua tangannya seolah pasrah. "Maa…, aku pun sebenarnya malas berpergian. Misi sebelumnya benar-benar menguras tenaga."

"Zetsu dan Hidan! Kalian berdua pergi ketitik perang utama! Soal bantai membantai, kurasa kalian jago 'kan?"

Mereka berdua menjawab dengan bersamaan, "Yahh aku sudah lama tidak semisi dengan orang ini.."

Tersisa Pain dan Mukuro. Mereka menunggu intruksi pemimpin mereka lebih lanjut.

"sisanya.., kalian ikut aku mematikan api..!"

Semuanya tersenyum dengan cirri khasnya masing-masing. Malam ini, adalah awal bagi Akatsuki debut dalam sebuah perang. Mereka akan menunjukan kemampuan mereka yang mengerikan. Khususnya Naruto, dia akan menunjukan pada pemimpin musuh kekuatan juga kecakapannya dalam memimpin. Baginya, ini adalah pertarungan kelicikan juga kecerdasan pemimpin. Dia sendiri langsung melawan 2 pemimpin musuh.

Jika menurut Analogi Naruto. Ini pertarungan antara Kira melawan L dan Near. Naruto sebagai Kira akan mengalahkan kedua musuhnya itu, pun begitu dengan kedua musuh Naruto. Namun, pertarungan ini akan berakhir berbeda dengan pertarungan yang Naruto analogikan. Naruto tak akan kalah dari Near, dia berjanji untuk menang dipermainan ini!

'Lihat saja! Aku akan menunjukan pada Dewa itu kekuatan manusia yang sesunguhnya! Aku pasti membungkamnya dengan kekuatan tertinggi Techno Magic! Kemampuan yang dikatakan bisa membunuh Tuhan sekalipun, aku pasti akan menunjukannya! Lihat saja nanti aku memadamkan api..'

.

And Cut!

Chapter 12 'Persiapan' End!


Author Note :

Saya kembali lagi… menambah A/N diatas.., yaaa sudah saya tampilkan sedikitnya scene manis lah buat mereka. Gak perlu scene pegangan tangan atau scene mengucapkan kalimat cinta, mereka punya caranya sendiri untuk mengungkapkan perasaannya masing-masing. Dan yahhh.., Naruto sendiri sepertinya masih terjebak di masa lalu atau istilahnya gagal move on dari pacarnya yang sudah mati. Ini menjadi kunci hubungan Naruto dan Amaterasu, dan saya sudah siapin arc untuk membahas ini. mohon sekali lagi, para reader mengerti.., hubungan antar character gak harus lah hubungan manis cinta-cintaan atau bahkan sampai lime/lemon segala…, sekali lagi bukan berarti gak akan ada romance, ada cuman perlu dibangun dengan baik hubungan mereka..

Kemudian.., emm nah Akatsuki sudah nambah lagi munculnya. Mereka akan sedikit debut di arc ini. Hidan dan Zetsu akan banyak unjuk gigi karena mereka di medan perang utama. Hahhh ga perlu lama-lama langsung aja civil war. Gak harus kan bahas strategi politik dan lainnya.. langsung hajar dan menang. Intinya sudah hapal aja gimana liciknya masing-masing pimpinan. Dan hohoho garis bawahi tuh… Dalang dan support dari Sakra cs adalah salah satu Wasu. Siapa kah? Lebih kuat dari Amaterasu juga Susano'o.

Lalu… ada Backup kekuatan besar dan misterius dibelakang Sakra. Bisa saya bilang, itulah yang membuat Sakra berani dan melakukan hal aneh2. Siapa dia? Yang pasti dia juga licik bahkan lebih licik dari Naruto. Gak seru kan kalau hanya Naruto saja yang berlaku licik, harus ada pihak bersebrangan lainnya. Silahkan tebak sampai fic ini mendekati akhir2.. hehehehe

Maa kayanya itu aja yah…, paling atas saya berusaha mengenalkan Akatsuki yang Koplak. Semoga sreg dihati reader semua.. Pain Fanatik Naruto-sama, Itachi seorang S, Zetsu si Watados ceplas-ceplos, Hidan kau taulah, juga Mukuro yang sampai sekarang masih menjadi mistery di fic ini. kalau boleh bilang.., dia pun memegang kunci penting konflik fic ini..

Review akan saya balas yang pake akun.. yang lewat jalur non-login akan saya jawab kalau mendesak sekali untuk dijawab pertanyaan atau saran tersebut…

Yosh., itu balasan untuk Danna semua. Saya gak bisa ngasih apa-apa pada kalian semua yang sudah berbaik hati dan sudi membaca fic saya dan memberikan apresiasi, huhuhuu.. saya do'a kan semuanya baik dan sehat lagi tetap dilindungi tuhan.

Jangan lupa berikan saran, kritik atau komentnya di Review atau melalui PM, agar fic ini semakin baik. Saya mohon, kalau tiap chap nya mengalami kemunduran dan semakin jelek, reader peka dan memberikan masukan dan solusinya. Agar saya semakin bagus menyediakan konten dan membuat Danna semakin terhibur. Apakah benar membiarkan sebuah keburukan berlangsung terus menerus? Orang beragama pasti mengerti. GRATIS kok

Terakhir, jangan lupa pula dukung fic saya dan sebarkan agar yang lain tau, dengan fav atau foll. Ingat, sekali lagi GRATIS kok.

'….Kami berkarya tidak dibayar sama sekali. Sangatlah kejam, ketika

Anda hanya melihatnya saja. Tidak bermoral, ketika sikap Apresiatif

Atau saling menghargai tidak ada…'

Bye Bye…

Salam LOL