MY TEACHER IS MY (EX)BOYFRIEND
Disclaimer : Belong to SM, God, and theirselves :D This story is mine. Not for commercial.
Author : Lee Rae Ra / Iqlima
Genre : General, Romance
Rate : T
Length : Sequel
Summary : (New) Guru baru di sekolah Jaejoong adalah pacarnya dulu! Belum sempat putus tapi sudah pergi. Dan kini mereka berusaha menjalin hubungan lagi tetapi diganggu oleh penganggu! YunJae!
MY TEACHER IS MY (EX)BOYFRIEND
Dengan panik Changmin menggedor pintu kamar hotel Boa. Pintu terbuka dan nampaklah Boa yang langsung panik melihat keadaan Jaejoong.
"Bawa masuk, cepat!"
Yunho langsung membawa Jaejoong ke dalam diikuti Changmin. Boa langsung mengunci pintu agar tidak ada yang melihat. Untung saja kamar Boa juga sepi tak ada orang. Yunho membaringkan Jaejoong di atas salah satu ranjang.
"Dia kenapa?" tanya Boa panik sambil membongkar tas medisnya.
"Tadi Ara seongsaenim memberinya susu! Kau tahu kan Jaejoong suka susu! Ternyata di susu itu ada alkohol!" seru Changmin.
"Dan sepertinya itu alkohol kadar tinggi, aku minum dua teguk saja sudah pusing." Balas Yunho sambil memegangi kepalanya.
"Wanita sialan!" umpat Boa kesal. "Jantung Jaejoong kambuh lagi! Alkohol menyebabkan jantungnya sakit tak karuan! Dudukkan Jaejoong, dia masih sadar!" perintah Boa pada Yunho.
Yunho bergegas membenahi posisi Jaejoong yang tadinya berbaring menjadi duduk. Boa langsung memberikan nitroglyserin untuk menghilangkan rasa sakit. Jaejoong menelannya, dan seterusnya dia terus memakan nitroglyserin setiap lima menit sekali agar rasa sakitnya hilang.
Boa bergegas memeriksa tekanan darah Jaejoong sampai akhirnya Boa yakin Jaejoong baik-baik saja, walaupun wajah Jaejoong masih merah. Boa pun menyuruh Jaejoong berhenti meminum nitroglyerin setelah Jaejoong memakan lima buah nitroglyserin.
"Minum ini." Kata Boa sambil menyerahkan sebuah obat.
"Fungsinya apa?" tanya Yunho.
"Menetralisir alkohol."
Yunho langsung membantu Jaejoong meminum obat itu. Perlahan-lahan Jaejoong sudah bisa bernapas dengan baik dan wajahnya pun sudah kembali normal.
"Aku benci wanita itu." Desis Yunho.
"Tapi bagaimana dia tahu kalau Jaejoong punya penyakit jantung? Kalian tidak pernah membicarakannya di sekolah kan?" tanya Boa pada Yunho dan Changmin.
Yunho dan Changmin sama-sama menggeleng.
"Kalau menurutku, dia tidak tahu Jaejoong punya penyakit jantung. Tapi, dia tahu Jaejoong hyung belum tujuh belas tahun! Usia rata-rata dewasa untuk minum alkohol! Jika para guru tahu Jaejoong hyung belum tujuh belas tahun, tentunya para guru akan menghukumnya." Tebak Changmin.
"Aku setuju dengan Changmin." Cetus Yunho.
"Tapi mengapa Jaejoong? Apakah dia tahu kalau kau punya hubungan dengan Jaejoong?" tanya Boa.
Yunho terdiam. Tangannya mengelus-elus rambut Jaejoong yang ada di sampingnya sambil berpikir.
"Ah! Mungkin tadi saat aku berciuman dengan Jaejoong di pantai, dia melihatnya!" seru Yunho.
Boa mendecih. "Kalau begitu cepat katakan padanya bahwa kau ini gay! Kalau begini kan Jaejoong yang kasihan!"
Yunho terdiam. Dia bisa saja mengatakan bahwa dia ini gay. Tapi Yunho juga tahu sifat Ara. Ara pasti akan langsung melaporkannya ke sekolah dan akibatnya, Jaejoong akan dikeluarkan dari sekolah.
"Ayo, bawa Jaejoong kembali ke kamarnya. Para guru akan curiga jika dia lama-lama di sini." Kata Boa.
Yunho mengangguk dan langsung membopong Jaejoong. Setelah mengucapkan terima kasih, mereka pun keluar dari kamar Boa dan menuju ke kamar Jaejoong.
Sesampainya di kamar, untungnya Eunhyuk sudah tidur dan hanya tinggal Donghae yang masih terjaga. Dia langsung melompat berdiri begitu melihat Jaejoong yang terkulai lemas di gendongan Yunho.
"Apa yang terjadi? Apakah jantungnya kambuh lagi?" tanya Donghae langsung.
Yunho dan Changmin langsung berpandangan. Yunho diam dan membaringkan Jaejoong di ranjang.
"Kau tahu?" tanya Changmin pelan.
"Baru saja tadi, tak sengaja aku melihat Jaejoong meminum obatnya. Tenang saja, aku tak akan memberitahu siapapun." Kata Donghae.
Yunho melangkahkan kakinya untuk keluar dari kamar, tapi Jaejoong menahannya.
"Yun.. Di sini.. Temani aku.." pinta Jaejoong lirih.
Donghae membelalakkan matanya begitu mendengarnya. Dia menatap Yunho dan Jaejoong bergantian dengan pandangan tak percaya.
"Aku dan Jaejoong berpacaran, sudah lama." Kata Yunho datar. "Jangan bilang siapapun."
Yunho beralih kepada Jaejoong. "Boo, aku harus ke kamarku. Nanti para guru curiga, besok saja kita habiskan waktu bersama ya?"
Jaejoong mengangguk pelan. Kemudian Yunho mengecup kening Jaejoong dan pergi keluar dari kamar Jaejoong.
"Jae hyung, istirahat saja. Agar besok hyung bisa sehat lagi." Kata Changmin. "Hae, tidur sekarang ya? Aku matikan lampunya agar Jaejoong hyung bisa tidur."
Donghae mengangguk. "Terserah kau mau lakukan apa, jika itu untuk kenyamanan Jaejoong. Kasihan dia."
: MY TEACHER IS MY (EX)BOYFRIEND :
Esoknya, Yunho sudah siap. Dia keluar dari kamar dan menuju ke ruang makan. Ruang makan sudah ramai, tetapi Yunho hanya mencari-cari satu orang. Ketika dilihatnya Jaejoong ada di meja yang sama dengan Changmin serta Boa, dia lega. Jaejoong sedang makan walaupun masih agak lemas. Tapi Yunho tidak khawatir karena Boa menemani Jaejoong.
"Oppa, kau gay ya?" bisik seseorang.
Yunho melonjak kaget. Dia menoleh dan menemukan Ara.
"Apa yang baru saja kau katakan?!"
Ara mengangkat kedua bahunya. "Yah, kalau Oppa gay sih tidak apa-apa. Aku akan cari pria yang lain saja. Maaf saja, aku anti pria gay. Dan maaf atas alkohol pada Jaejoong tadi malam." Kata Ara santai, lalu meninggalkan Yunho.
Yunho menahan rasa dongkol dalam hatinya. Kalau saja Ara bukan perempuan, pastilah muka Ara sudah tak berbentuk lagi terkena hantaman bogem mentah dari Yunho.
"Wanita sialan."
: MY TEACHER IS MY (EX)BOYFRIEND :
Jaejoong tersenyum senang begitu melihat tulisan Air Terjun Cheonjeyeon. Hari ini mereka akan mengunjungi dua air terjun. Dan Air Terjun Cheonjeyeon ini adalah tujuan mereka yang pertama.
"Pasti romantis ya, untuk berduaan dengan Yunho seongsaenim?" tanya Changmin kecut.
Jaejoong mengulum senyum. "Telepon Kyu saja, suruh dia ke sini untuk menemanimu."
Changmin buru-buru menggeleng. "Tidak tidak, aku tidak mau merepotkan Kyu! Kasihan dia!"
"Ah, walaupun begitu kau mau kan?" goda Jaejoong.
Changmin meninju pelan lengan Jaejoong. "Hyung! Berhenti menggodaku!"
Jaejoong tertawa melihat tingkah Changmin. Walaupun sudah SMA, tapi ingat, Changmin masih berumur 15 tahun, jiwanya masih jiwa anak-anak.
Bus berhenti. Mereka semua turun dan mendengarkan pengarahan dari Oh seongsaenim, setelah itu semuanya langsung berpencar.
Yunho langsung mendatangi Jaejoong. Karena Changmin tak mau ditinggal sendirian, dia pun ikut di belakang Yunho dan Jaejoong.
"Boo, aku dipanggil untuk foto bersama guru. Aku tinggal dulu ya." Pamit Yunho ketika dia melihat kode dari salah satu guru.
Jaejoong mengangguk. Dia dan Changmin pun akhirnya jalan-jalan berdua, menikmati pemandangan dan tak lupa, berfoto-foto ria.
"Kim Jaejoong?" panggil seseorang.
Jaejoong menoleh begitu mendengar suara orang memanggilnya. Matanya membulat sempurna begitu melihat siapa yang memanggilnya.
"Ah, Siwon-ssi." Kata Jaejoong canggung.
Changmin memandang Siwon dengan pandangan menyelidik. Untuk apa Siwon ada di sini?
"Kau di sini juga rupanya? Kudengar kalau sekolahmu mengadakan wisata ke Jeju." Tanya Siwon, menampakkan kedua lesung pipinya yang indah.
Jaejoong tersenyum kecut. Dia tahu, pasti Siwon datang ke sekolah dan menanyakan tentangnya. Dan dia pasti menyusul ke sini setelah dia mengetahui kalau Jaejoong sedang wisata ke Jeju.
"Ah, iya." Kata Jaejoong kikuk.
"Indah sekali, ya? Cocok sekali untuk orang berpacaran." Kata Siwon.
"Ah, iya."
"Pasti enak kalau membawa kekasih kemari." Kata Siwon lagi.
"Ah, iya."
"Lihat saja pemandangannya. Hawanya, pemandangannya, semuanya sempurna untuk orang yang memadu kasih."
"Ah, iya."
Siwon menatap Jaejoong heran. "Kenapa dari tadi kau hanya mengucapkan 'Ah, iya'? Apa kau tidak punya kata lain untuk diungkapkan?"
Jaejoong menggeleng. "Aku sedang hemat bicara."
Siwon tertawa kecil. Kemudian dia menatap Changmin. "Hei, tiang listrik! Tak kusangka kita bertemu lagi di sini!"
Changmin menatap Siwon kesal. "Aku bukan tiang listrik." Gerutunya.
"Lalu apa? Lihatlah tinggimu ini."
"Jangan kata-katai dia. Dia sahabatku." Kata Jaejoong ketus.
Siwon mengerutkan keningnya. "Sebenarnya ada apa denganmu, Jaejoong? Kenapa kau aneh sekali hari ini?"
Changmin menginjak kaki Jaejoong pelan, memberi kode bahwa Yunho mendekat ke arah mereka.
"Ah, Siwon-ssi! Aku harus pergi, ada yang ketinggalan di bus!" kata Jaejoong cepat sambil menarik tangan Changmin pergi.
Demi apa pun yang ada di dunia ini, Jaejoong sangat takut jika Yunho marah. Jika Yunho marah padanya, bisa berhari-hari. Yunho sudah pernah marah pada Jaejoong dan Jaejoong tak ingin itu terulang lagi.
"Apa yang dia lakukan di sini?!" tanya Jaejoong frustasi ketika mereka sudah berada jauh dari Siwon.
Changmin menggelengkan kepalanya. "Dia pasti mengejarmu, hyung. Dari sikapnya saja sudah terlihat bahwa dia menyukaimu."
"Bagaimana dia menyukaiku? Aku ini masih anak SMA dan dia sudah jadi Bos di perusahaan! Dari segi umur saja mungkin kami sudah beda jauh!"
Changmin mengangkat kedua bahunya. "Tidak tahu, hyung. Ya sudah, kita ke sana lagi saja. Yunho seongsaenim pasti mencari."
Jaejoong mengangguk pelan dan mereka berdua pun berjalan pergi untuk mencari Yunho.
: MY TEACHER IS MY (EX)BOYFRIEND :
Bus sudah bergerak meninggalkan area Air Terjun Cheonjeyeon. Kali ini mereka akan menuju air terjun lagi, yaitu Air Terjun Jeongbang. Air Terjun Jeongbang sangat populer, terutama dalam sejarah Korea. Dari dulu Jaejoong sangat ingin pergi ke Jeongbang, tapi entah mengapa karena Siwon, semuanya jadi hancur. Dia jadi tidak bersemangat pergi ke Jeongbang.
Jaejoong termenung sambil menatap pemandangan yang dilaluinya. Dia benar-benar tidak menyangka akan bertemu Siwon di sini. Liburan yang dikiranya akan menjadi kenangan romantis dengan Yunho, malah diganggu dengan kedatangan Siwon.
Tapi entah mengapa, begitu melihat Siwon, jantung Jaejoong berdebar-debar. Padahal, jantung Jaejoong jarang berdebar-debar jika berada dekat dengan Yunho. Jaejoong menepiskan pikiran bahwa dia menyukai Siwon, karena tidak akan mungkin! Hati Jaejoong hanya satu dan hatinya telah diberikan seutuhnya pada Yunho.
Jaejoong memegang dadanya dengan miris. Waktunya hanya tinggal empat bulan lagi. Dan sampai sekarang dia dan keluarganya masih belum bisa menemukan donor jantung untuknya. Sesungguhnya, Jaejoong benar-benar rela jika dia harus pergi. Tapi hanya satu yang dia tak bisa relakan, Jaejoong tak bisa meninggalkan orang-orang yang dia cintai.
Jaejoong akan sangat merasa bersalah jika nanti dia menyerah. Orang-orang yang dicintainya tak pernah menyerah untuk memberinya semangat dan mencari donor jantung. Jaejoong tidak bisa membalas semua kebaikan mereka dengan cara 'menyerah'. Jaejoong harus bertahan, dia harus kuat.
"Hyung, kau kenapa?" tanya Changmin.
Jaejoong menggelengkan kepalanya. "Hanya mengantuk saja."
"Kalau begitu hyung tidur saja, nanti kalau sudah sampai kubangunkan." Kata Changmin penuh pengertian.
Jaejoong menganggukkan kepalanya. Dia memejamkan matanya, tapi dia tidak tidur. Jaejoong diam menyesali nasibnya. Mengapa dia harus terlahir dengan jantung lemah seperti ini? Mengapa dia hanya punya waktu tujuh belas tahun dengan jantung lemah seperti ini?
Seandainya dia tak punya jantung ini..
"Ah!" pekik Jaejoong pelan.
"Ada apa hyung?" tanya Changmin panik.
Jaejoong menggeleng. "Tidak, hanya kaget saja.."
Jaejoong kembali memejamkan matanya. Dia memarahi dirinya sendiri karena dia memikirkan tentang "seandainya". Tuhan tidak suka jika manusia berandai-andai tentang sesuatu yang seharusnya terjadi, karena itu berarti manusia itu tidak menerima takdir yang telah digariskan untuknya.
: MY TEACHER IS MY (EX)BOYFRIEND :
Jaejoong hanya duduk diam di sebuah bangku, sedangkan Changmin sudah sibuk pergi ke sana kemari membawa kamera Jaejoong. Jaejoong benar-benar sedang tidak mood.
"Boo, kau kenapa?" tanya Yunho yang tiba-tiba duduk di sampingnya.
Jaejoong menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak, aku baik-baik saja."
"Wajahmu pucat, Boo. Sakit lagi?"
"Tidak, Yun. Aku hanya sedang berpikir."
"Apa yang kau pikirkan? Jangan berpikir yang berat-berat, kau ini sakit." Kata Yunho khawatir.
Jaejoong tersenyum. "Tidak apa-apa kok Yun."
"Pasti karena Siwon."
Jaejoong tersentak. Dia memandang Yunho dengan panik. "Hah? Apa? Kau bilang apa tadi?"
"Kau pikir aku tidak tahu? Kau dan Changmin cepat-cepat pergi dari Siwon saat tadi di Cheonjeyeon." Kata Yunho enteng.
"Yun, benar! Aku bersumpah aku tidak ada apa-apa dengan Siwon! Aku sendiri juga tidak tahu mengapa Siwon ada di Cheonjeyeon tadi." Kata Jaejoong panik.
Yunho tersenyum pada Jaejoong. "Aku tahu, aku tahu. Sudah, jangan panik begitu. Aku tidak marah padamu."
Jaejoong mengelus dadanya lega. Sungguh dia tidak mau kalau Yunho marah padanya!
"Yun, aku ingin pulang." Kata Jaejoong pelan.
"Mengapa? Ini baru hari kedua di sini. Dua hari masih tersisa di Jeju dan tiga hari di Nami." Tanya Yunho.
Jaejoong menunduk. "Aku rindu rumah. Aku rindu Umma, Appa, Yesung hyung, dan Ryeowook hyung."
"Ada aku di sini, Boo. Ada Changmin juga, yang penting kan kau tidak sendirian. Sudah, jangan sedih lagi."
"Ah, Yun.. Aku menyayangimu."
: MY TEACHER IS MY (EX)BOYFRIEND :
Bus melaju menuju Mokseokwon, taman yang memiliki memiliki kumpulan batu-batuan berbentuk unik dan akar-akar pohon tua yang sudah mati. Taman ini sangat unik dan indah, menjadikannya banyak dikunjungi wisatawan.
Jaejoong tentu saja sangat antusias. Kegilaannya pada tanaman tak akan pernah berubah. Maka dari itu dia senang jika mengunjungi tempat yang banyak tanamannya.
"Hyung, kau semangat sekali." Komentar Changmin sambil mengunyah keripik kentang.
"Tentu saja! Kan tentang tanaman!"
"Aku heran mengapa wisata sekolah pergi ke Mokseokwon."
"Tak apa kan? Banyak tanaman, jadi kita bisa belajar mencintai lingkungan." Kata Jaejoong.
Aku ingin begini, aku ingin begitu ~
Ingin ingin ingin itu banyak sekali ~
Jaejoong bergegas mengambil ponsel dari saku jaketnya. Ternyata pesan dari Leeteuk.
From : Umma
Sekarang sedang di mana?
Dengan lincah Jaejoong mengetikkan kata-kata balasan untuk Leeteuk.
To : Umma
Perjalanan menuju Mokseokwon, Umma! Aku senang sekali karena kami banyak mengunjungi tanaman di sini!
From : Umma
Bagus kalau begitu, have fun dan hati-hati ya. Salam untuk Yunho dan Changmin.
To : Umma
Tentu saja, Umma ^^
: MY TEACHER IS MY (EX)BOYFRIEND :
Aku ingin begini, aku ingin begitu ~
Ingin ingin ingin itu banyak sekali ~
Yunho tersenyum begitu mendengar ringtone yang sangat dikenalnya. Ringtone yang dipilih Jaejoong karena melambangkan keceriaan.
Yunho sedih, jika ingat kalau kebahagiaan Jaejoong telah banyak terenggut oleh penyakitnya. Ingin rasanya Yunho memberi kebahagiaan yang tak ada habisnya pada Jaejoong, tapi semua kebahagiaan itu seakan tertutupi oleh penyakit Jaejoong.
Yunho terus berusaha mencari donor jantung untuk Jaejoong, tapi keberuntungan belum berpihak padanya. Teman-temannya di Amerika pun tak kunjung menemukan donor jantung untuk Jaejoong.
"Yaa, Yunho! Melamun saja." Kata Baek seongsaenim.
Yunho tersenyum tipis. "Ah, tidak apa-apa. Hanya ingin melamun saja."
"Awas nanti kalau kemasukan hantu."
"Tidak akan."
Selain itu, masih ada yang mengusik pikiran Yunho. Jujur saja, saat melihat Siwon tadi, dia sangat kaget. Bagaimana Siwon tahu jika SM High School sedang mengadakan wisata ke Pulau Jeju? Dan bagaimana pula Siwon tahu jika mereka sedang ada di Air Terjun Cheonjeyeon?
Dari pengalamannya, sekali lihat saja sudah ketahuan bahwa Siwon menyukai Jaejoong. Yunho beranggapan bahwa Siwon bukan orang yang mudah menyerah, dan dia akan berusaha mendapatkan Jaejoong apa pun caranya. Tapi sampai mati pun, Yunho tak akan pernah melepaskan Jaejoong.
: MY TEACHER IS MY (EX)BOYFRIEND :
Setelah makan malam, para siswa masih sibuk bermain-main. Entah keluar menyusuri pemandangan Jeju di malam hari atau sekadar main ke kamar yang lain. Donghae dan Eunhyuk sedang sibuk battle dance di kamar, sedangkan Changmin sudah tidur lelap.
Jaejoong bosan hanya melihat-lihat hasil foto di kameranya. Akhirnya Jaejoong memutuskan untuk pergi ke kolam renang. Setelah pamit pada Donghae dan Eunhyuk, Jaejoong pun pergi ke kolam renang.
Di kolam renang sedalam dua meter tersebut, Jaejoong memasukkan tangan kanannya dan merasakan airnya. Ternyata tidak terlalu dingin. Maka Jaejoong pun duduk di pinggir kolam dan memasukkan kedua kakinya ke dalam kolam renang. Jaejoong tidak bisa berenang, tapi dia sangat suka merendam kakinya di dalam kolam renang.
Jaejoong mengeluarkan ponsel dan earphone dari kantong jaketnya, lalu mulai mendengarkan musik.
Jaejoong melepas earphone nya begitu merasakan bahunya ditepuk seseorang. Jaejoong agak tersentak begitu melihat Ara. Ara duduk di sebelah Jaejoong dan ikut memasukkan kakinya ke dalam kolam renang. Rambut panjang Ara berkibar ditiup angin malam. Jaejoong tersenyum tipis. Memang cantik, tapi murahan.
"Apa yang Miss Ara lakukan di sini?" tanya Jaejoong gugup.
Ara menggeleng. "Aku hanya ingin minta maaf telah mencampurkan alkohol dalam susumu kemarin. Aku sangat marah mengetahui bahwa kau berpacaran dengan Yunho Oppa, tapi ya sudahlah. Semuanya sudah terjadi. Yunho Oppa gay dan aku harus bisa menerima kenyataan itu."
"Ah, tak apa Miss." Balas Jaejoong.
"Kau tidak mabuk kan?"
Jaejoong menggeleng. Dia memang tidak mabuk, tapi efek alkohol itu lebih dahsyat. Jaejoong mengumpat dalam hati, seandainya saja Ara merasakan apa yang dia rasakan kemarin malam. Jaejoong berani bertaruh kalau Ara pasti tidak akan tahan. Padahal Jaejoong telah merasakan sakit itu selama hampir tujuh belas tahun.
"Kau ada hubungan apa dengan Siwon?" tanya Ara tiba-tiba.
"Hah? Siwon?" ulang Jaejoong.
Ara mengangguk yakin. "Ya, Choi Siwon. Direktur Choi Corp. Lelaki yang tadi menemuimu di Cheojeyeon."
Jaejoong menggelengkan kepalanya. "Tidak ada apa-apa, Miss. Hanya dulu dia pernah membantuku membawa barang ke sekolah."
"Tapi kenapa dia sangat memperhatikanmu?!" suara Ara meninggi.
Jaejoong menatap Ara heran. "Ada apa, Miss?"
"Kenapa dia ke sekolah dan langsung meminta nomor guru yang mengampumu? Administrasi memberitahu nomorku dan dia menanyakan kami akan menuju ke mana! Dari suaranya aku sudah tahu kalau dia itu lelaki tampan! Maka kuberi tahu saja dia kami sedang ada Cheojeyeon! Aku senang sekali saat melihatnya! Dia sempurna! Aku sudah akan pergi menyapanya ketika dia mendekatimu. Kau tidak tahu betapa sakit hatiku, saat kulihat dia malah mendekatimu!" seru Ara panjang lebar.
Jaejoong terdiam. Dia tak menyangka jika Ara terlibat dalam masalahnya dengan Siwon. Jaejoong kesal karena ternyata Ara yang memberitahu Siwon tentang di mana mereka berada saat itu.
"Kenapa selalu kau, Jaejoong? Dulu Yunho Oppa, sekarang Choi Siwon?! Apa yang kau punya?! Kau ini laki-laki, tapi mengapa mereka lebih tertarik padamu daripada kepadaku yang jelas-jelas wanita cantik?!" seru Ara lagi.
"Maaf Miss, saya tidak tahu.."
"Tidak tahu apa?! Lelaki sesempurna Siwon itu seharusnya straight! Bukan gay?!" Sihir apa yang kau pakai, hah?!"
Wajah Jaejoong merah padam menahan amarah. Dia ingin sekali balas membentak Ara tapi dia masih punya kesabaran.
"Aku sudah memaafkanmu tentang hubunganmu dengan Yunho Oppa, tapi Choi Siwon?!"
"Miss! Anda tidak berhak menyinggung tentang hubunganku dengan Yunho seongsaenim! Itu bukan urusan Anda!" balas Jaejoong.
Ara tertawa hambar. "Oke, tidak Yunho. Tapi kenapa CHOI SIWON? Lelaki sempurna seperti dia, yang selalu kuharapkan. Mengapa dia juga lebih memilihmu?!"
"Saya tidak tahu!"
"Kau ini benar-benar ya! Anak kecil sudah jalang!" seru Ara marah.
Ara bersiap mendorong Jaejoong ke dalam kolam renang.
"AH!"
.
.
.
To Be Continued..
.
.
Haaa mengetik ini dengan perasaan senang dan gembira :))
Oh ya, FYI. AKU GAK JADI HIATUS ! Nananananana ~~
Tapi aku belum bisa menuhin request an fanfic, karena aku terlanjur buat fanfic YunJae lagi -_- Argh aku gila -_-
