All about Marriage

Naruto © Kishimoto Masashi

.

.

Chapter 12 : Uncontrollable Feeling called Love

"Pesan minuman yang tidak membuat mabuk."

Tatapan Gaara bersibobrok dengan bartender yang terkejut melihat wajahnya. "Soda, Tuan?"

Gaara menggeleng cepat. "Aku ingin alkohol."

Untung saja bartender itu seorang professional jadi ia tersenyum pendek menanggapi permintaan Gaara yang sedikit tidak masuk akal. Minuman alkohol yang tidak membuat mabuk? "Baiklah. Silahkan ditunggu sebentar."

Gaara mengambil kursi terdekat dan menumpukan kepalanya dilengan ketika suara getar ponsel membuatnya harus bergerak dari posisi itu. Gaara merogoh ponsel dan menemukan nama Naruto disana. Dengan malas, Gaara menggeser tombol hijau.

"Apa?"

"Selamat siang maksudmu?"

"Selamat siang untukmu, disini sudah malam."

"Ah, apapun itu ada yang lebih penting. Kudengar katanya kau akan bercerai? Apa itu benar?"

"Kau dengar dari mana?"

"Berarti itu benar? Kau Gilaa, hah?!"

Gaara menjauhkan ponsel itu dari telinganya dan balas memekik, "Tanpa kau berteriak pun aku masih bisa mendengarmu. Kalau kau menelepon hanya untuk memecahkan gendang telingaku lebih baik kututup saja!"

"Eh, tunggu! Baiklah aku tidak akan berteriak. Tapi kenapa kau melakukannya? Maksudku, bercerai! Ada apa denganmu? Kau tahu kan hokum adat tentang perceraian adalah hal yang tabu. Kau mau cari mati, huh?"

"Artis saja banyak yang bercerai."

"Emang kau artis? Kalau lihat contoh itu yang baik-baik jangan yang ditiru malah yang jelek dasar bodoh!"

Perempatan siku dikening Gaara berdenyut. Rasanya ia tidak terima dikatai bodoh oleh orang seperti Naruto. "Kalau kau menelponku hanya untuk mengataiku, kututu—"

"Jangan! Iya aku tidak akan mengejekmu. Sensitif sekali sih."

"Kututup—"

"Gaara! Kau tidak menghargaiku sih, Aku telepon mahal-mahal untuk menanyakan kabarmu, kok malah dingin gini sih?! Cepat jawab, kenapa kamu mau bercerai?"

Saat Gaara hendak menjawab, bartender menyodorkan segelas minuman padanya. "Silahkan."

Gaara mengamati gelas itu dan mulai menimbang, jika ia meminum isi didalamnya, apa ia akan mabuk? Rasanya mabuk itu seperti apa? Apakah ia bisa sejenak saja mengalihkan rasa sakit dihatinya?

"Gaara kenapa kau diam? Cepat jawab!"

Gaara mendesah pasrah, kalau ia tidak menjawab Naruto maka dipastikan pria pirang itu akan muncul dihadapannya cepat atau lambat."Kenapa kau ingin tahu? Ini masalah pribadi."

"Aku tahu sebenarnya aku tidak berhak untuk memaksamu tapi karena kasus ini menyangkut nama baik dirimu aku sungguh tidak bisa membiarkannya."

"Cih," nama baikku? Batin Gaara mengejek,"Kau mau kumasukan ke kelompok mereka, ya?"

"Kelompok mereka? Siapa? Ah, lebih dari itu kau harus tahu bahwa setiap pasangan memang memiliki masalah tapi tolong jangan selesaikan dengan perceraian. Kau jelas paham dampak negatif perceraian? Memangnya kau tidak mengkhawatirkan kehidupan Matsuri setelah ia jadi janda? Kau tega membiarkannya jadi tahanan rumah seumur hidup?"

Kata janda yang diucapkan Naruto untuk melabeli Matsuri terdengar menyebalkan meskipun saat mereka berpisah nanti Matsuri memang secara otomatis akan mendapatkan gelar itu.

"Aku tahu ini bukan tempatku ikut campur tapi jika kalian benar-benar bercerai maka kau telah merusak masa depan istrimu sendiri. Dia yatim-piatu kan? Aku yang juga yatim-piatu merasa tidak terima jika kau membuangnya, akan terasa menyakitkan saat kau tiba-tiba kembali sendirian."

Gaara menelan ludahnya. Jantungnya mendadak nyeri. "Apa maksudmu?"

"Kalau dia yatim-piatu berarti kaulah satu-satunya keluarga wanita itu sekarang. Tapi jika kau menceraikannya maka, ia akan kembali sendirian. Membiarkan wanita sebatang kara di dunia ini seakan kau membuang—"

"Aku tidak membuangnya."

"Tapi kau menceraikannya! Kau memutuskan satu-satunya tali keluarga di hidup Matsuri. Itu sama saja dengan kau membuangnya!"

"Tapi aku—"

"Makanya Gaara, kalau kalian ada masalah bertengkarlah sehebat apapun itu tapi jangan bercerai, itu terlalu kejam untuknya."

Tanpa sadar, Gaara telah mengangkat gelas minuman itu dan menegak isinya dalam sekali minum. Rasa asam manis bercampur pahit menyerbu indra perasa Gaara seakan menggambarkan perasaannya yang bercampur aduk. Begitu minuman yang ia tegak mengalir menuju lambungnya, kepala Gaara terasa berdenyut. Pandangannya mengabur dan seluruh tubuhnya terasa oleng.

"Tuan, Anda baik-baik saja?" Seru sang bartender meneliti perubahan ekspressi Gaara.

Gaara mengangkat sekuat tenaga kepalanya yang terasa sangat berat. Dengan Gerakan patah-patah ia mengibaskan tangannya pada sang bartender seolah mengatakan dia baik-baik saja. Sang bartender langsung menyodorkan segelas air putih. Dugaannya ternyata tepat, toleransi alkohol pria muda itu cukup buruk. Dia hanya mencampur sedikit alkohol berkadar rendah bersama sari buah-buahan dan Gaara langsung mabuk seakan telah menegak sebotol wiski.

"Hallo, Gaara kau mendengarku?"

"Hm," Gumam Gaara seraya memijit kepalanya. Ia berada dalam zona yang sedikit membingungkan. Kesadarannya perlahan terasa digerogoti oleh sensasi aneh yang menyeruak. Detik selanjutnya Gaara telah menumpahkan seluruh keluh kesah yang ia tahan selama ini. "Lalu aku harus bagaimana? Dia, wanita itu yang tidak mau melihatku lagi. Padahal aku begitu merindukannya. Sangat merindukannya sampai segala sesuatu yang kulakukan terasa salah. Tapi dia wanita itu mengusirku! Tidak mau menemuiku lagi dan ia bilang pengacaranya yang akan mengurus semuanya! Sialaan!"

"Ga,Gaara kau baik-baik saja?"

Gaara menggelengkan kepalanya. Bagaimana bisa aku baik-baik saja. Aku hampir tidak bisa bernapas. Menyakitkan rasanya sakit sekali. Naruto aku harus bagaimana? Bantu aku bantu aku.

"Gaara kau mencintainya?"

"Cinta?" Kata itu terasa begitu asing di lidahnya. "Tidak tahu, Aku hanya tidak bisa hidup tanpanya!"

"Lalu apa yang kau tunggu? Kejar dia!"

"Tapi dia—"

"Persetan semua itu, yang perlu kau lakukan adalah pertahankan ia dan jangan kau lepaskan."

"Bolehkah aku melakukannya?"

"Dasar bodoh, memang itu yang harus kau lakukan."

.

.

.

Setelah menutup telepon dan mengatakan Gaara tidak bersama Matsuri, Temari kembali bergerak gusar di kursi penumpang. Kepalanya celingak-celinguk menyusuri jalanan seolah tidak boleh ada yang terlewat dari pandangannya. Shikamaru hanya bisa mendesah melihat kelakuan istrinya yang kadang membuatnya frustasi.

"Kepalamu tidak pusing apa melirik sana-sini terus?"

"Hush, diam! Aku sedang berkonsentrasi."

"Temari, dia tidak mungkin ada di jalanan begini."

"Yakin sekali, Kau tahu dari mana dia tidak akan ada di jalanan?"

"Kalau dia ada di jalanan pun pasti tidak akan kelewat oleh kita. Percaya deh!"

"Kalau mata kita tidak siaga yah pasti kelewat.

Shikamaru mendesah gemas. "Kalau dia ada di jalan, orang-orang yang lewat pasti langsung mengerubunginya!—"

"Ah, kau benar."

"Sudah, istirahat saja. Biar aku yang cari. Sudah malam."

"Tidak! Kita harus secepat—"

Kata-kata Temari teputus begitu televisi portable di dalam mobil mereka menayangkan headline-news. Mata Temari melotot melihat isi berita itu. Shibazeki Sumi, Ketua Umum Partai Persatuan Revolusi Suna menggelar rapat terbuka pukul tujuh tadi malam. Dari rapat tersebut diumumkan bahwa PPRS berkoalisi dengan Partai Suna Merdeka akan memperjuangkan Suna dalam menentukan kiblat pemerintahan Negara yang baru. Menurutnya, sudah saatnya Suna berevolusi karena nilai-nilai pemerintahan yang dianut saat ini sudah tidak sesuai dengan perkembangan dunia. Berikut konferensi persnya.

Pada layar, latar berubah fokus pada orang yang berdiri di mimbar di tengah para wartawan yang memegang kamera. Bunyi jepretan dan suara gaduh melemah saat orang di atas mimbar itu membuka salamnya.

"Selamat Malam. Saya, Shibazeki Sumi, Ketua Umum PPRS. Hari ini saya akan mengumumkan hasil rapat yang baru kami lakukan tadi. Dengan ini kami memutuskan untuk berkoalisi bersama PSM dalam memperjuangkan kiblat pemerintahan Suna yang baru. Kami menilai bahwa nilai-nilai dalam dasar Negara sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan Dunia. Oleh karena itu untuk mewujudkan cita-cita bangsa dan mensejahterakan warga masyarakat kita perlu membentuk suatu pemerin—"

Shikamaru yang mematikan televisi portable itu langsung dihadiahi pelototan marah istrinya.

"Apa yang kau lakukan? Kenapa dimatikan?!"

"Tidak ada gunanya mendengarkan pengumuman sampah."

"Apanya yang sampah! Mereka—"

"Sudah, lupakan yang barusan kau lihat dan dengar. Mereka Cuma sedang cari perhatian."

"Kita harus mendengarnya karena sekarang mereka bahkan sudah berani membuka kedok di depan umum. Ini bahkan lebih gawat dari yang—"

"Temari, tenanglah! Selama hakim belum mengetuk palunya, kita masih baik-baik saja. Gaara masih Kazekage dan Matsuri masih istrinya. Mereka melakukannya untuk memancing kita, memperparah keadaan dengan opini publik yang semakin bertentangan. Kau mengerti?"

Temari menyisir rambutnya, menenggelamkan kepalanya di atas kedua lutut yang ditekuk. "Arghh! Sialan!"

Shikamaru sadar, ia terlalu kasar dalam mengarahkan Temari. Bagaimanapun perempuan itu pernah dalam kondisi terburuk saat menghadapi perang politik. Shikamaru memaklumi respon Temari yang terlalu cemas menghadapinya. Yah, mereka bisa saja menang waktu itu, tapi tidak kali ini tidak, saat Shikamaru disampingnya.

"Kau percaya padaku, kan?" Tanya Shikamaru seraya menepikan mobil di bahu jalan. "Temari?"

Wanita pirang itu menengadahkan kepalanya, menatap Shikamaru dengan wajah sembab. Temari adalah wanita yang kuat, tapi ada saat-saat dimana dia menunjukkan sisi lemah itu padanya, dan jujur saja Shikamaru sedikit senang. Karena wajah menangis ini pula lah yang membuat Shikamaru tertarik pada Temari.

"Mereka bisa saja hampir menang waktu itu. Tapi saat ini aku bersamamu. Kau harus mengandalkanku. Bersandarlah padaku, aku akan mengurus mereka. Kau percaya padaku, kan?"

Temari meraih leher Shikamaru dan membenamkan wajahnya di sana. Memeluk erat kepala pria nanas itu dengan sepenuh hatinya. Tidak ada kata-kata, karena Temari memang tidak suka membuka suaranya saat menangis. Katanya jika ia buka suara, ia benci pada isakan yang menyela kalimatnya.

Tangan Shikamaru merayap melepas sabuk pengaman, lalu ia menunduk memeluk bahu bergetar istrinya dengan penuh kasih sayang. "Sudah, semua akan baik-baik saja. Percayalah!"

Shikamaru merasakan anggukan Temari di lehernya.

Tidak butuh waktu lama sampai Temari melepas pelukannya. Itu tandanya ia sudah cukup tenang. Shikamaru menyodorkan tissue kehadapan Temari yang langsung disambut dengan tangan terbuka. Setelah membuang ingus dan mengelap wajahnya yang basah. Temari berdeham, "Terima kasih."

Shikamaru mengusap kepala pirang istrinya sebagai balasan. Temari menatap Shikamaru penuh rasa syukur. Tidak perlu kata-kata, karena baginya apa yang terpancar dibalik kedua bola mata itu sudah cukup jelas untuk keduanya.

"Sebenarnya bukan hanya tentang partai oposisi itu saja." Kata Temari tiba-tiba mencurahkan isi hatinya yang terasa penuh beban.

"Katakanlah!"

Setelah mengangguk kecil, Temari kemudian berkata "Yang ku khawatirkan adalah Gaara. Dia sepertinya salah paham pada kami,"

Kami yang dimaksud mungkin merujuk pada dirinya dan Kankuro. Tadi siang mereka menemui Gaara untuk membahas partai oposisi itu dan yah, kemudian Gaara menghilang. Sepertinya kejadian tadi sianglah pemicu Temari cemas begini.

"Aku tidak bisa menyalahkan Gaara yang salah paham karena kami memang belum minta maaf padanya dengan benar. Aku, wanita yang kejam Shika."

"Apa maksudmu? Kau wanita yang baik."

"Tidak. Kau tidak tahu seperti apa aku dulu. Aku kami mengatai adik kami sendiri pembunuh."

Pengakuan itu membuat Shikamaru terkejut. Tapi ia diam, menunggu kalimat selanjutnya diucapkan Temari.

"Kami sangat kejam padanya. Padahal dia cuma bayi yang tidak tahu apa-apa. Tapi kami kami menyebutnya pembunuh. Kami menyalahkan kelahiran anak itu. Gara-gara ia terlahir, ibu kami meninggal. Tapi itu hanya alasan kami, ya karena kami merasa iri padanya. Semua orang yang memperhatikan kami langsung memunggungi kami karena Gaara. Semua kerja keras kami untuk menjadi calon Kazekage runtuh seketika saat Ayah mengatakan Gaara-lah calon penerusnya. Kami kalah, oleh bayi yang bahkan hanya bisa menangis. Harga diriku jatuh. Aku kecewa. Aku terlalu mementingkan kekecewaan dan harga diri untuk melihat realita yang sebenarnya! Dia anak itu begitu menyedihkan. Aku, aku—"

Air mata berlomba keluar dari matanya seperti bendungan bocor. Temari menggigit bibirnya dan tanpa sadar Shikamaru sudah memeluknya, membenamkan wajah istrinya di dadanya yang lalu terguguk.

"Aku protes karena kehilangan kasih sayang ibuku saat dia bahkan tidak pernah merasakan buaian ibu. Me,mengingatnya saja membuatku merasa sedih." Lanjut temari ditengah isakannya. "Aku sangat kejam, aku terlalu mementingkan diriku. Bagaimana ini, Shika? Aku harus bagaimana? Kesalahanku padanya terlalu besar Gaara maafkan aku, maafkan aku."

.

.

.

"Kenapa kau baru mengangkat telepon ku?!"

Teriakan itu sesaat menulikan gendang telinga Shikamaru. Shikamaru mendecak melihat layar ponsel lalu menggerutu. "Kau pikir jam berapa ini Naruto? Di Suna sudah tengah malam! Aku sibuk."

"Sibuk dengan istri, maksudmu?"

Meskipun konotasinya beda, Shikamaru memang sibuk dengan Temari barusan. Yah, sibuk menenangkan Temari yang menangis seperti bayi. Tapi wanita itu kini sedang terlelap di jok penumpang dengan wajah damai.

"Sekarang kan aku sudah mengangkat telponmu, jadi kau mau bicara apa?"

Naruto mendengus, "Aku baru dengar beritanya. Ternyata lebih gawat ya."

Rasanya bibir Shikamaru gatal. Sebatang rokok mungkin akan membuat dirinya lebih nyaman. "Jadi kau mau aku bagaimana?"

"Masa cutimu sudah mau habis, Shika."

"Kau menggangguku tengah malam begini hanya untuk mengingatkanku tentang masa cuti? Sepertinya Hokage kita kurang kerjaan. Lupakan saja masa cutiku, aku harus minta ijin dispensasi lebih lama untuk menyelesaikan masalah disini."

"Sayangnya aku tidak bisa mengijinkannya."

"Naruto!"

"Shika kehadiranmu hanya akan memperburuk keadaan."

"Aku tahu apa yang aku lakukan."

"Tapi ini bukan hanya menyangkut namamu saja, Shika. Jika kau ikut campur mereka akan mengkambing-hitamkan Konoha sebagai dalang dibalik kisruh politik Suna. Jika sudah seperti itu aku sebagai Hokage tidak bisa melepasmu seenaknya. Ingat posisimu! Kau dikenal sebagai Ahli Strategi Politik Konoha. Kalau kau ikut campur mereka bisa membolak-balikkan fakta dan menuduh kita."

Shikamaru benci mengakuinya tapi apa yang dibicarakan Naruto memang masuk akal. "Jadi kau mau aku jadi pengecut?"

"Bukan begitu. Aku hanya memintamu untuk tidak ikut campur. Kembalilah ke Konoha sebelum situasi lebih parah. Percayakan pada Gaara, aku yakin dia bisa mengatasinya. Ini masalah Gaara bukan tempat kita untuk ikut campur."

"Kau tidak mau membantu temanmu yang sedang kesusahan?"

"Membantu dan ikut campur itu beda. Aku akan mengulurkan tanganku langsung jika Gaara butuh bantuanku. Tapi untuk sekarang, biarkan Gaara menghadapi mereka dengan caranya."

"Tapi aku barusaja meminta Temari untuk mempercayakan keadaan ini padaku. Ah, bagaimana ini?"

"Naruto beri aku seminggu."

"Kau tidak dengar apa yang kukatakan barusan? Jangan. Ikut. Campur!"

"Tapi aku—"

"Pulang! Kembalilah dengan pesawat paling pagi besok."

"Baiklah, tiga hari saj—"

"SHIKAAA, PULANG BESOK!"

"Tapi aku—"

"Tidak ada tapi-tapian! Ini berbahaya bagi kita. Tolong mengerti akan posisi kita."

"Temari!"

Nama itu mampu meredam omelan Naruto di seberang telepon.

"Demi Temari biarkan aku disini. Aku hanya akan melihat saja, tidak akan ikut campur."

"Baiklah, kuberi waktu dua hari. Kalau kau tidak kembali di hari ketiga, aku akan mengirim pasukan untuk menyeretmu pulang, mengerti?!"

"Terima kasih."

"Laporkan padaku jika kau pikir kita harus ikut bertindak."

"Katanya tidak boleh ikut campur."

"Maksudku, jika kita memungkinkan untuk membantu. Ah, lama-lama posisi ini bisa membunuhku. Aku juga mengkhawatirkan Gaara. Yah, pokoknya kalau menurutmu situasi memungkinkan jangan segan untuk melaporkannya padaku."

"Iya. Aku tidak akan segan-segan padamu."

"Ya sudah. Sampai jumpa."

Telepon terputus. Menyisakan Shikamaru dengan sakit kepala hebat.

Sialan! Gerutunya.

Shikamaru tidak menyangka jika kejadiannya akan menjadi seburuk ini.

.

.

.

Matsuri melirik jam di dinding dengan gusar. Hatinya mendadak tidak tenang. Ia berjalan mondar mandir seperti setrikaan sambil terus memanggil nomor telepon yang sama. Tapi menit demi menit panggilan sibuk yang telalu terdengar.

"Malam-malam begini memangnya kau menelepon siapa sih?" Gerutunya kesal menatap handphone yang lagi-lagi bernada sibuk.

"Apa jangan-jangan perempuan?" Hati Matsuri tiba-tiba terbakar cemburu. "Tidak-tidak memangnya perempuan mana yang berani mendekati Gaara?"

Tapi ia tiba-tiba teringat percakapan orang-orang di restoran musim panas lalu. Tentang mereka yang tidak akan membiarkan Gaara bersama dengan Matsuri. Tenang para wanita yang ingin berdemo agar mereka segera bercerai. Jangan-jangan mereka sekarang sedang berpesta karena harapan mereka menjadi kenyataan. Jangan-jangan pula, para wanita itu mulai gencar mendekati Gaara karena status duda yang akan disandangnya tak lama lagi.

"Tidak-tidak!" Matsuri menjenggut rambutnya frustasi.

Ditengah lamunannya, Matsuri tesentak oleh panggilan telepon rumah di kamar apartemen itu. Dengan langkah cepat ia memutuskan sambungan ponsel dan meraih gagang telepon rumahnya. "Halo?"

"Matsuri, apa Gaara bersamamu?"

Suara itu terdengar cemas. "Temari-neesama?"

"Iya ini aku. Kau sudah bertemu Gaara hari ini?"

"Gaara-sama? Tidak. Kenapa? Apa yang terjadi?"

"Ah, bukan apa-apa. Aku hanya sedang mencarinya."

Setelah berkata begitu, Temari memutuskan sambungan sepihak. Matsuri menghela napasnya. Rasanya sedikit mencurigakan karena tidak biasanya Temari menelepon hanya untuk menanyai kabar Gaara. Apakah itu berarti Gaara tidak bisa dihubungi? Seperti Matsuri yang juga kesulitan menghubungi Gaara?

Duh, Gaara-sama Anda di mana?

Tidak lama setelah Temari memutuskan sambungan, telepon rumah kembali berdering. Kali ini, Kankuro lah yang menelepon.

"Apa Gaara bersamamu?"

"Memangnya kenapa?"

"Dia ada bersamamu ternyata, syukurlah."

"Ah, bukan itu maksudku. Gaara-sama memangnya kenapa dengan dia?"

"Dia tidak bersamamu? Ck, ke mana anak bodoh itu pergi?"

"Kankuro-niisama, jawab pertanyaanku! Memangnya kenapa dengan Gaara-sama?"

"Dia hanya entahlah, kita sedang mencarinya. Ada masalah di pemerintahan jadi aku sedang membutuhkannya sekarang. Sudah ya, aku sibuk nih. Kututup telponnya, bye!"

Matsuri terhenyak. Perasaannya tambah tidak enak. Semua orang sedang mencari Gaara? Kemana dia sebenarnya?

Matsuri kembali memfokuskan dirinya pada benda sepanjang lima inch itu. Lalu dirinya memencet angka speed dial dengan mempertaruhkan keberuntungannya. Tersambunglah tersambunglah! Rapal Matsuri tapi sayang, dering telepon sibuk kembali terdengar. Matsuri tidak bisa menenangkan perasaannya yang semakin dilanda kecemasan.

Coba ada TV! Keluh Matsuri saat melihat apartemen yang nyaris kosong melompong. Kalau ada TV setidaknya ia bisa tahu berita apa yang terjadi sampai Temari dan Kankuro menanyakan Gaara seolah dunia hampir kiamat. Matsuri mencoba peruntungannya dengan membuka aplikasi berita di layar handphone, berharap provider khilaf dan membiarkan nomornya yang tanpa kuota itu bisa mengakses internet. Tapi nihil, gambar jam pasir tak henti bolak-balik.

Ah, bikin emosi saja!

Dengan gerutuan, Matsuri mengeluarkan aplikasi membaca berita lalu menghempaskan diri ke sofa kecil di ruang tengah. Mendengus sebal.

"Gaara-sama" Sebut Matsuri lirih, "Bagaimana kabarmu? Aku.." merindukanmu.

Matsuri berguling di sofa itu hingga tubuhnya jatuh berdebam.

"Akh! Sakit sekali," Rintihnya lalu mengusap punggungnya yang tersengat. Rasa sakit berangsur-angsur berkurang, tapi kenapa matanya terasa berkaca? Matsuri merasakan sesuatu yang panas bangkit dalam dirinya. Sebuah perasaan yang tak mampu ia bendung lagi saking membludaknya.

Sisi emosional Matsuri bangkit tak terkendali. Seluruh masalah yang ia hadapi, perjalanan hidupnya yang tiba-tiba menghantui Matsuri merasa begitu kasihan pada dirinya sendiri. Hidup yang terasa hampa dan sulit, mampukah ia kembali ke masa itu? Masa saat dirinya hanyalah sebatang kara.

Matsuri memeluk lututnya dan menenggelamkan kepalanya di pangkuan. Mencoba mengendalikan diri saat bayang demi bayang Gaara menghantuinya. Kenang-kenangan itu berputar seperti kaset tua. Tidak bisa, hatinya memberontak saat akal Matsuri mencoba memaksakan realita. Ia tidak mau berpisah, ia tidak sanggup tanpa Gaara hatinya tidak siap.

Tiba-tiba Matsuri teringat akan masa-masa saat mereka di universitas dulu. Masa yang tidak akan pernah Matsuri lupakan seumur hidup. Meski kenyataan pahit memukulnya saat itu. Bahwa dia, jatuh cinta pada penerus Kazekage. Gaara yang lebih tinggi dari puncak pohon tertinggi Saat itu Matsuri merasa malu pada dirinya sampai ia tidak bisa menatap Gaara yang masih menjadi dosen pembimbingnya. Maka selepas wisuda, Matsuri menghilang tanpa jejak mencoba mengumpulkan pecahan hatinya agar tidak terlanjur jatuh lebih dalam.

Tapi mereka kembali bertemu dan Matsuri tidak bisa menahan perasaanya lagi. Lalu perasaan cintanya yang berubah pamrih dan keserakahannya. Matsuri benci mengakui hal ini, tapi ia tidak puas dengan tubuh Gaara saja karena ia juga menginginkan hati Gaara. Ia ingin Gaara menjadi miliknya, seutuhnya..untuk dirinya sendiri.

"Aku butuh Gaara!" Ucap Matsuri. Ia butuh Gaara untuk menenangkan perasaannya. Ia tidak akan peduli lagi apakah Gaara mencintainya atau tidak, dia hanya butuh Gaara disampingnya dan itu cukup! Matsuri harus puas dengan itu jika ia ingin kewarasaannya terjaga karena merindukan Gaara adalah hal terberat yang membuat dirinya nyaris gila.

Matsuri kembali meraih ponselnya dan menekan tombol panggilan cepat saat ponselnya berdering nyaring. Nama yang tertera dilayar membuat debar jantungnya berlomba. Suara Gaara terdengar di seberang telepon dengan suasana musik yang mengalun cepat.

"Hallo?"

"Gaara-sama?!"

"Ugh, aku pasti bermimpi." Rutuk suara Gaara terdengar berat.

"Hah?

"Kau kemarilah!"

Matsuri cukup terkejut mendengar perintah itu. Memangnya tidak apa-apa Matsuri keluar dari apartemen ini? Tapi rasa rindu dan khawatir membuat Matsuri tidak mau banyak berpikir. "Gaara-sama, memangnya anda sedang di mana?"

"..nata. Kau harus"

Ugh, omong besar. Tetap saja hati Matsuri terasa hancur jika hati Gaara bukan untuknya seorang. Sialan!

Seketika perasaan Matsuri langsung berubah kelabu. Ia merasa de javu. "Anda bersama Hinata-sama?" Serobot Matsuri.

"Apa?! Hinata? Dia ada di sini?"

"Tadi Anda kan yang bilang." Kecemburuan membuat Matsuri terasa terbakar. "Kalau Anda bersama Hinata-sama untuk apa aku kesana? Anda mau pamer padaku, ya?"

"Siapa yang uh, pokoknya kubilang kesini yang kesini!"

"Tidak mau."

"Matsuri!"

"Tidak mau! Untuk apa aku ke sana? Anda senang ya menghancurkan hatiku? Memangnya aku akan diam saja kalau Anda menyakitiku?"

"Siapa yang menghancurkan hati siapa? Lebih dari itu sepertinya aku mabuk ya? Parah sekali sampai kayak nyata Ah, kalau aku bermimpi kau pasti akan mengikuti apa kataku kan? Ya, ini kan mimpiku."

"Anda bicara apa sih?"

Mabuk? Memang sih, suara Gaara seperti sedang mabuk berat. Apalagi ia mulai bicara melantur dengan ucapan yang tidak jelas pelafalannya. Tapi mengingat Gaara yang bahkan langsung tak sadarkan diri saat minum air beras, tidak mungkin Gaara bisa mabuk sampai meracau dalam telepon!

"Pokoknya, kemarilah!"

"Memangnya Anda dimana?"

"Aku? Dimana ya? Bar ya aku di Bar! Itu loh yang pertama kali kita bertemu. Di bar saat kau masih kuliah dulu. Kau, waitress yang memecahkan tujuh gelas lalu dipecat. Kemarilah, jemput aku. Aku membutuhkanmu, aku..merindukanmu."

Matsuri tak bisa bernapas saking terkejutnya.

.

.

.

TBC