"Maukah kau ikut dengan kami, Jeonghan hyung?" Tanya Jihoon.
Jeonghan menatap bingung ke arah Jihoon.
"Kami memiliki sebuah mansion jauh dari kota. Tak terlalu besar namun setidaknya cukup untuk kita. Itu bisa menjadi markas besar untuk Preator." Jawab Jihoon.
Jeonghan terdiam sejenak lalu menatap Jisoo.
Jisoo hanya mengangkat bahunya, menyerahkan keputusan di tangan Jeonghan.
"Kupikir akan lebih baik jika kita berdiam di satu tempat. Dengan kekuatanmu, kita bisa membuat pintu utama menghubungkan mansion dengan berbagai tempat. Kupikir baik untuk kita agar lebih dekat dan mempunyai markas sendiri. Seungkwan juga tak keberatan." Jelas Jihoon.
Apa yang dikatakan Jihoon memang benar adanya. Lebih baik mereka berdiam di satu tempat karena kini keluarga mereka sudah lengkap.
"Dan satu hal lagi, Jeonghan hyung. Ruang ritual ada di mansion."
Memang Jeonghan tak menjawab tapi dari mimik tipis Jeonghan, Jihoon mengetahui jawabannya.
"Ayo naik. Kita akan menuju mansion." Kata Seungkwan dengan senang.
Mereka semuanya akhirnya masuk ke sebuah mobil limosin berukuran sedang.
Perjalanan membutuhkan waktu tiga jam.
Mereka hanya sempat mampir di sebuah restaurant juga sebuah mini market. Tak ada yang spesial setelah itu.
Oh kecuali ketika mereka memasuki sebuah kawasan yang penuh dengan pohon rindang. Mata Jeonghan dan Jisoo benar-benar dimanjakan oleh pemandangan yang luar biasa indahnya.
Mereka lalu memasuki sebuah kawasan berpagar tinggi. Masuk melewati hamparan rumput luas dengan beberapa pohon lalu berhenti di kanopi utama.
"Jihoon, aku ingat kau mengatakan kau memiliki sebuah mansion tak terlalu besar. Lalu yang besar itu seperti apa?" Tanya Jisoo.
Seungkwan hanya bisa tertawa menanggapi, sedangkan Jihoon hanya tersenyum.
"Jihoon hyung itu rendah hati. Jadi ya seperti itu." Kata Seungkwan.
Mereka disambut oleh deretan butler dan maid yang membungkuk hormat ke arah mereka. Barang- barang yang dibawa oleh Jeonghan dan Jisoo sudah diangkut beriringan oleh para butler.
Jihoon dan Seungkwan mempimpin jalan masuk ke dalam mansion.
Saat masuk sudah terlihat sebuah ruang tamu yang di penuhi interior khas Serenityan.
"Tunggu di atas sebentar. Aku akan menyiapkan piranti teh. Seungkwan, antarkan mereka." Kata Jihoon.
"Ayayay captain!" Kata Seungkwan penuh semangat.
Ia mengenggam tangan Jeonghan dan Jisoo. Menariknya dengan semangat menuju lantai atas.
"Nanti saat semuanya sudah hadir kita pilih-pilih kamar ya." Kata Seungkwan terlihat senang.
Jeonghan hanya tersenyum tipis sedangkan Jisoo mengangguk dengan tenang.
"Ini ruangan pribadi Jihoon hyung. Tempat pertemuan-pertemuan dan sejenisnya. Ayo masuk." Kata Seungkwan.
Seorang butler membukakan pintu untuk mereka.
Terasa bahwa ruangan ini cukup hangat di tengah cuaca saat ini.
"Jadi, bagaimana cara kita memberi tahu Seokmin, Mingyu, dan Wonwoo?" Tanya Jisoo.
Seungkwan menatap Jeonghan seolah ia tahu bahwa Jeonghan mempunyai jawabannya.
"Serahkan padaku."
.
.
.
.
.
.
.
Damanic's present
-o0o-
With the world of imagination
"Cuap-cuap Damanic"
.
.
Halo semua. Kembali lagi dengan Damanic disini. Sebuah kebahagiaan bisa mengupload cerita ini sebenarnya. Karena cerita ini sudah dibuat dari tahun 2016 dan mengalami banyak sekali perubahan. Dari yang awalnya OC sampai akhirnya kuputusakan menjadi fanfiction.
Karena ini Fantasy kan ya, aku cuma berharap kalian bisa mengerti alurnya. T.T Susahnya Fantasy itu di bagian deskripsinya, dan menurut aku ff ini masih banyak kekurangan di bagian deskripsi. Aku sampai harus minta pendapat teman-teman aku dan nanya "Kamu ngerti kan ini cerita ngapain?"
Yang jelas, gak mungkin cerita ini nangkring atau gak selesai. Karena emang udah tamat :D di file word. Selamat menikmati dan kalau ada pertanyaan, tanya-tanya aja. Semoga aku bisa jawab -_-V
Sekian dan terima kasih :*
.
.
.
.
.
.
.
Kini langkah kaki tujuh orang itu telah sampai di sebuah ruangan dengan aura kelam nan tenang.
Terdapat sebuah segitiga terlukis indah di lantai marmer. Di tiap titik sudutnya, terdapat sebuah patung megah, gambaran para Lord.
Di tengah segitiga itu, terdapat sebuah sebuah pedang yang tertancap disana.
Jihoon memimpin jalan mereka dan menggerakan tangannya mempersilakan Jeonghan untuk memasuki segitiga itu.
"Aku tak pernah tahu ruangan ini, Jihoon hyung…" Kata Seungkwan sambil merapatkan dirinya ke Jihoon.
Jihoon menyeringai kecil.
"Itu karena ruangan ini hanya bisa dibuka oleh segel yang ada di tubuh Arch kita, Seungkwan." Balas Jihoon.
Seluruhnya kini menatap Jeonghan yang mulai melangkahkan kakinya.
Cahaya redup mulai mengelilinginya.
Kemeja putih dan celana jeans hitam yang Jeonghan gunakan menghilang, bergantikan pakaian khasnya sebagai seorang Master.
Segitiga di lantai membentuk pola yang semakin mengecil dengan pusat di pedang itu.
Semakin ke tengah langkah Jeonghan, semakin bersinar ketiga patung Lord. Bersinar dengan aura masing-masing tentunya.
Jeonghan mengenggam pedang itu kini. Ia menariknya dan mengangkatnya.
Seketika sebuah cahaya mulai terpancar dari ketiga patung itu memusat pada sebuah permata yang ada di pedang Jeonghan.
Blasth…
Pedang itu kini memancarkan gelombang cahaya super besar lurus ke atas hingga menembus langit- langit ruangan itu.
Seluruh pasang mata menatap dengan berbagai macam ekspresi.
Tubuh Jeonghan perlahan melayang dengan lambang di dahinya bersinar terang.
Keenam orang lain mulai beranjak ke sisi-sisi segitiga itu.
Di antara patung God dan Azazel berdiri Wonwoo juga Seungkwan. Di antara patung Azazel dan Satan berdiri Seokmin dan Mingyu. Sedangkan di antara patung Satan dan God berdiri Jihoon juga Jisoo.
Mereka semua kini menunduk, berlutut menghadap ke pusat.
Sebuah belati kecil muncul di samping mereka dengan segera. Seperti sudah mengetahui apa yang harus mereka lakukan, mereka mengambil belati itu dan menggoreskannya di jari kelingking tangan kiri mereka. Membiarkan darah menetes ke sisi segitiga itu.
Setetes darah itu membuat sebuah aliran yang semakin menuju pusat semakin lebar.
Jeonghan menancapkan pedangnya tepat di depannya.
Ia masih melayang dengan kedua tangannya yang melayang ke samping.
Aliran darah itu kini telah mengenai pedang Jeonghan. Pedang itu melayang dengan sendirinya dan berubah arah ke dada Jeonghan. Sekali gerakan, pedang itu langsung menghunus dadanya.
Dengan itu sesosok iblis muncul, keluar dari dalam diri Jeonghan seolah terperanjat, tertarik ke belakang.
Angin bertiup sangat hebat menyambut sepasang sayap iblis yang mengepak di belakang Jeonghan.
Jeonghan membalikan badannya. Terlihat sosok rupawan berambut hitam dengan mahkota yang menghiasi kepalanya tersenyum ke arah Jeonghan.
"Master, kau sudah mendapatkan kekuatanmu…" Ucapan yang begitu pelan itu diucapkan sosok iblis yang menjadi bagian dalam diri Jeonghan.
Ya, sosok itu Seungcheol sang Astaroth, iblis yang mengabdi kepada Jeonghan.
"Kau tahu apa yang harus kau lakukan…." Ucap Seungcheol kembali.
Jeonghan mengangguk pelan.
Ia mengarahkan tangannya ke Jihoon dan Jisoo. Sebuah aura hitam muncul dari tangan Jeonghan dan bergerak cepat menuju mereka berdua.
Dalam sekejab pakaian mereka berubah menjadi pakaian khas bersamaan dengan dua buah sosok muncul di samping mereka.
"Soonyoung…" Ucap Jihoon sambil tersenyum.
"Master…." Sosok iblis berambut abu-abu itu menyeringai ke arah sang master.
Di sisi lain, Jisoo menatap takjub ke sampingnya.
"Samuel? Kau sangat tampan." Ucap Jisoo langsung berdiri dan memeluk sosok iblis penjaganya.
Tangan Jeonghan kini menuju Wonwoo dan Seungkwan. Hal yang sama juga terjadi pada mereka.
"Junhwi…" Ucap Wonwoo pelan.
"Senang bertemu denganmu kembali, master. Aku tahu aku sangat tampan, jangan terpukau begitu." Kata Junhwi.
"Hansolie… " Kata Seungkwan sambil berdiri sedikit mendongkak ke atas lantas langsung memeluk sang iblis. Hansol hanya tertawa kecil kala melihat Seungkwan yang memeluknya.
Jeonghan kembali mengarahkan tangannya menuju dua orang lain, Mingyu dan Seokmin.
Sosok Minghao dan Chan muncul seketika.
"Selamat master Mingyu." Ucap Minghao sambil menyeringai.
Di sisi satunya, Seokmin mengangguk pada Chan yang terlihat gagah dengan sayap besarnya.
Suara Jeonghan dan Seungcheol yang menapakan kaki mereka di lantai terdengar oleh semua sosok disana. Jumlah kedua belas sosok itu kini berlutut ke arah Jeonghan.
"Kami Preator. Bertugas di bawah ketiga Lord. Setia kepada Arch. Bersama menghancurkan kegelapan…"
Suara keenam sosok itu bergema dengan besarnya.
"Preator… Datang."
