Disclaimer: all Naruto characters belong to Masashi Kishimoto-Sensei, judulnya itu lagunya TVXQ ^^. Ada yang tau?:3
Genre : Romace and Hurt/Comfort
Chara : Ita-chan *sok SKSD* dan Ino-chan
Chapter 12 for you! :D
Hufft! Jadi juga chapter 12 ini. Moga-moga minna-san belum lumutan nungguinnya. Hahaha…
Seperti biasa, saya mau ucapin makasih yang sebesar-besarnya untuk minna-san yang dah baca, yang dah nge-review, yang dah nge-fave, dan memberi support buat saya ngelanjutin fict ini (maaf kalau nggak balesin review kalian satu-satu, tapi saya bener-bener berterima kasih dari lubuk hati saya yang terdalam atas semua review kalian). Dan menanggapi beberapa review minna-san yang me-request supaya Itachi nggak mati, saya cuma bisa bilang, semoga saya bisa menghadirkan suatu ending yang nggak mengecewakan kalian. ^^
Sekali lagi, saya ucapkan terima kasih banyak buat yang masih bersedia mengikuti fic ini.
Okey then.
Happy reading, all!:3
FLOWER LADY
~Dead~
Semenjak perbincangan singkatnya dengan Kisame, Ino semakin giat mendatangi perpustakaan dan laboratorium, sama seperti ketika ia hendak merampungkan jurus barunya. Ia juga semakin aktif mencari tahu mengenai Medical Ninjutsu yang mungkin bisa membantunya dalam menyembuhkan penyakit Itachi. Meskipun demikian, tujuan ia melakukan hal tersebut ia samarkan sedemikian rupa hingga tidak mengundang kecurigaan. Setidaknya, begitulah harapan Ino.
Di samping memperdalam keahliannya dalam Medical Ninjutsu, Ino juga tetap mencari tahu mengenai tragedi pembantaian keluarga Uchiha yang dilakukan oleh Itachi. Bagaimanapun, hasil penyelidikan Ino hampir mencapai akhir.
Namun, penyelidikan ini sempat tersendat saat Ino menyadari bahwa seorang pengganti Sasuke dalam kelompok Kakashi adalah anggota dari Ne ANBU. Orang baru tersebut –Sai- terlihat memasang mata padanya hingga Ino memutuskan untuk menghentikan penyelidikannya sementara. Ia bahkan berpura-pura mendekati pemuda itu dan menunjukkan ketertarikannya agar pemuda berkulit pucat itu tidak lagi mencurigainya. Selain itu, dengan mendekatinya, mungkin saja Ino bisa mendengar sesuatu yang mungkin terlontar dari mulut pemuda yang menurutnya berperawakan sedikit mirip Sasuke itu.
o-o-o-o-o
Hari-hari seperti biasa berlalu dengan berbagai macam misi yang harus diselesaikan oleh para Shinobi Konohagakure. Sebut saja misi mengembalikan Uchiha Sasuke sebagai salah satunya. Naruto, Sakura, serta si orang baru –Sai, serta seorang anggota ANBU bernama Yamato, ditugaskan untuk menyelinap ke markas Orochimaru. Di sanalah mereka bertemu dengan Sasuke yang menjadi target mereka. Tapi ternyata, misi itu berakhir dengan kegagalan. Sasuke tidak bisa diyakinkan untuk kembali ke Konoha dan akan terus berjalan dengan idealisme-nya sendiri.
Ino yang mendengar kabar berita ini hanya bisa meringis. Dalam hatinya, ia mengutuki Sasuke yang tidak percaya pada saudara kandungnya sendiri. Seandainya saja ia punya kesempatan untuk bertemu pemuda yang kini dianggap sebagai Missing Nin itu, tentu dia akan dengan senang hati membeberkan hasil penelitiannya. Sayang bukan ia yang ditugaskan untuk menemui pemuda itu.
Meskipun demikian, tanpa sepengetahuan Ino, sebenarnya Kakashi sudah mencoba merekomendasikan gadis itu dalam misi mengembalikan Sasuke. Tapi, mengingat bahaya yang mengancam dan suatu alasan lain yang enggan dijelaskan, akhirnya Godaime Hokage –Tsunade- menolak rekomendasi tersebut.
"Untuk saat ini, aku tidak bisa membiarkannya keluar dari Konoha. Ada satu hal yang mengganjal pikiranku dan aku ingin memastikannya lebih jauh!"
Demikianlah kalimat penolakan yang digunakan Tsunade. Kakashi yang sedikit banyak mengerti maksud Tsunade mengatakan itu, hanya bisa mengangguk perlahan sebelum mengundurkan diri dari ruangan sang Hokage.
o-o-o-o-o
Hari itu, tidak ada misi untuk Ino. Tadinya Ino bermaksud untuk berlatih Medical Ninjutsu seperti biasa. Tapi karena ayahnya memintanya untuk menjaga toko, jadilah Ino berdiam di tokonya. Ino tidak membenci kegiatan ini. Sebaliknya, ia merasa senang tiap kali ia dikelilingi oleh bunga-bunga kesayangannya. Di luar itu, menjaga toko bunganya dapat memberikan keuntungan tersendiri bagi Ino. Dan keuntungan itu biasanya berkaitan dengan informasi yang bisa ia dapatkan. Informasi yang tidak bisa ia dapatkan di perpustakaan terkadang bisa ia dapatkan dari pelanggan-pelanggan yang mampir atau bahkan sekedar lewat di depan tokonya.
Seperti kali itu misalnya.
"Asuma-Sensei! Beli bunga lagi untuk Kurenai-Sensei?" goda Ino saat Sensei-nya itu mendadak lewat di depan tokonya.
"Eh? Ah, tidak, tidak!" jawab Asuma sedikit terkejut sambil menggaruk bagian belakang kepalanya. Terlihat jelas bahwa pria berjanggut itu tengah salah tingkah.
Ino terkikik pelan.
"Tidak usah malu-malu seperti itu lagi, Sensei! Toh hampir semua orang sudah tahu perihal hubungan kalian kan?"
Asuma menggaruk ujung hidungnya sekilas.
"Tapi tidak usah kau beritahukan terang-terangan seperti itu kan?"
Sekali lagi, Ino terkikik. "Baik, baik!" jawab Ino dengan nada yang jahil.
Mendengar perkataan Ino, Asuma akhirnya tidak bisa menahan diri untuk tidak mengacak-acak rambut gadis berambut pirang pucat itu. Tentu saja Ino protes setelah itu. Ia menggerutu dengan wajah yang sedikit membulat. Kali itu, giliran Asuma-lah yang tertawa melihat tingkah kekanakan sang murid.
"Ngomong-ngomong, Sensei mau ke mana memang?"
Asuma mengambil rokok dari saku celananya dan mengambil pemantik untuk menyalakan rokoknya tersebut. Setelah rokok terselip di mulutnya, barulah Asuma menjawab.
"Aku mau ke tempat Hokage. Baru saja ada panggilan."
"Lalu kenapa masih di sini?" tanya Ino sambil berkacak pinggang. "Jangan meniru Kakashi-Sensei yang selalu datang terlambat dong! Sama sekali bukan orang dewasa yang keren!"
"Ah, tenang, tenang! Masih ada waktu! Lagipula, aku juga menunggu Shikamaru!" ujar Asuma sambil menengok ke arah kirinya. Sepertinya pria perokok berat itu menunggu si pemuda rambut nanas di daerah dekat toko bunga Yamanaka.
"Shika juga ikut? Chouji?"
"Yang kudengar dari pengantar pesan tadi, yang ikut hanya aku, Shikamaru, dan beberapa orang Jounin," jawab Asuma sambil mengeluarkan rokok dari mulutnya dan kemudian menghembuskan asapnya ke sembarang arah.
Tindakan itu membuat Ino mendelik kesal. Ah, tidak! Jauh sebelumnya, saat Asuma mengeluarkan rokok, Ino sudah melemparkan death-glare yang sayangnya tidak dilihat oleh Asuma.
"Kau bisa cepat mati kalau terus-terusan merokok seperti itu, Sensei! Setidaknya, kurangilah kebiasaan merokokmu itu! Kalau perlu hentikan benar-benar!"
Asuma hanya bisa tertawa mendengar nasehat dari Ino. Ino pun jadi mengernyitkan alisnya saat melihat tawa Asuma. Ia merasa tidak sedang melucu. Kenapa Sensei-nya yang satu itu malah tertawa?
"Sensei, aku serius!"
"Yah…" jawab Asuma sambil membuang rokoknya ke tanah dan kemudian menginjaknya. "Kalau begitu, aku juga punya satu nasehat untukmu, Ino!"
"Huh?"
"Kau juga berhentilah melakukan tindakan yang mungkin akan membawamu menyeberangi batas dan menghadapi bahaya!"
Ino membesarkan matanya. Terkejut. Apalagi ekspresi Asuma kali ini tampak serius. Ino bisa melihatnya, pria itu tengah bersungguh-sungguh.
"Aku tidak melarangmu untuk mencintai seseorang. Tapi, orang yang kau pilih itu…"
"Sensei!" potong Ino cepat. "Sejauh mana… Sensei mengetahuinya?"
Mata gelap Asuma bertemu dengan mata aquamarine Ino. Keheningan sejenak tercipta di antara keduanya. Namun, saat Asuma sudah hendak menjawab, mendadak suara Shikamaru mengejutkan mereka.
Asuma pun menoleh ke arah pemuda bertampang malas itu. Ia akhirnya tersenyum sebelum menepuk puncak kepala Ino perlahan.
"Kita lanjutkan kapan-kapan!"
Ino hanya bisa terdiam sembari memegangi kepalanya yang baru saja disentuh Asuma. Asuma sendiri kemudian langsung mengambil langkah menjauh dari toko bunga Yamanaka. Meninggalkan Ino yang tengah mengolah informasi yang baru saja diterimanya.
Asuma-Sensei tahu soal hubungannya dengan Itachi.
Kalau begitu, apa mungkin ada orang lain yang juga mengetahuinya?
Ino mendecak pelan. Tindakan yang ia kira sudah begitu hati-hati ini ternyata tetap saja memiliki celah yang dapat membuat orang lain mengetahui fakta yang mati-matian disembunyikannya.
"Nanti akan kupaksa Asuma-Sensei memberitahuku siapa saja yang tahu soal ini!" batin Ino merutuk.
Sayangnya,Ino belum tahu kalau kata 'nanti' itu tidak akan pernah terjadi.
o-o-o-o-o
Saat berita itu sampai padanya, Ino tengah menyiram bunga yang ada di salah satu pot. Dengan terburu-buru, Ino-pun langsung meninggalkan semua pekerjaannya begitu saja. Bersama dengan sahabatnya, Chouji, Ino segera mengikuti arah yang ditunjukkan oleh dua orang Jounin.
Saat mereka sampai, Ino masih bisa melihat sosok dua orang berjubah hitam dengan motif awan merah. Sayang, tidak seorangpun dari kedua anggota Akatsuki itu yang Ino kenali. Ia pun segera mengalihkan perhatiannya pada Shikamaru yang masih tersungkur. Dengan cepat, Ino kemudian bergerak ke arah temannya tersebut.
"Shikamaru! Kami datang membantumu!" ujar Ino sambil menyentuh pundak Shikamaru pelan.
"Aku tidak apa-apa! Asuma!" ujar Shikamaru cepat. "Bagaimana dengan Asuma?"
Ino menyipitkan matanya sebelum ia membantu Shikamaru untuk mencapai tempat Asuma yang sudah dibawa ke tempat aman oleh Chouji. Sekali lagi, Ino melirik ke arah kedua anggota Akatsuki itu. Keduanya sudah hendak menyerang lagi. Tapi kemudian mereka malah menunjukkan gelagat seperti Kisame terdahulu. Benar saja, keduanya pun mendadak pergi setelah itu.
Sekarang yang tersisa hanyalah para Shinobi dari Konohagakure. Empat di antaranya adalah mereka yang sempat tergabung dalam kelompok 10. Bagaikan suatu reuni yang tragis.
"Gimana, Ino?" tanya Chouji setelah Ino mulai menggunakan Medical Ninjutsu-nya untuk mengobati Asuma yang sudah terluka sangat parah.
"Empat organ vitalnya… Kalau begini sudah…" batin Ino menjawab.
Ya, hanya batinnya yang bisa bersuara. Tidak sepatah kata pun meluncur dari mulutnya. Tidak, ia tidak berani mengungkapkan yang sebenarnya pada kedua temannya.
Walaupun sebenarnya, sia-sia saja Ino menutup mulutnya . Ekspresi sang gadis yang menahan tangis sambil menunduk sudah lebih dari cukup untuk menjadi jawaban bagi semua yang ada di situ.
"Su-sudahlah…" ujar Asuma mendadak, di sela-sela nafasnya yang terdengar memberat. "Hidupku hanya sam..pai sini… Aku.. sudah tahu soal.. itu…"
"Diamlah kau! Chouji angkat Asuma! Kita bawa dia ke Konoha Hospital!" seru Shikamaru.
"Ba.."
Belum sempat Chouji menyelesaikan perkataannya, Asuma kemudian memotongnya.
"C-cukup. Kalian tidak usah m-melakukan.. apapun.. lagi!" ujar Asuma kemudian dengan seulas senyum tipis. "D-dengarkan saja… Ada.. Yang ingin kusampaikan…p-pada kalian!"
Mata Shikamaru sedikit membelalak mendengar perkataan Asuma. Ia kemudian menunduk sementara Chouji yang melihat Shikamaru tampak putus asa langsung mengarahkan pandangannya pada Asuma yang sedang terbaring tidak berdaya.
"Sensei! Jangan bicara lagi! Biarkan aku membawamu ke rumah sa…"
"Chouji!" ujar Shikamaru memotong ucapan Chouji. Chouji sedikit tersentak. Ia pun segera mengarahkan tatapannya pada Shikamaru. Shikamaru sendiri sempat menutup matanya sejenak sebelum membukanya kembali. Dengan suara datar, Shikamaru pun melanjutkan perkataannya. "Dengarkan baik-baik. Ini.. Pesan terakhir Asuma-Sensei!"
Chouji menatap Shikamaru dengan alis yang turun, menyiratkan kesedihannya. Shikamaru mengangguk kecil sebelum kemudian menengok ke arah Ino.
"Ino juga.."
Ino sudah tidak dapat berkata apa-apa. Air mata yang tadi ditahannya kini sudah mengalir deras membasahi pipinya. Pundaknya terlihat bergetar naik turun seiringan dengan isak tangisnya.
Sementara ketiga mantan muridnya tampak berwajah sendu, Asuma malah tersenyum. Padahal kondisinya sudah tidak bisa dibilang baik. Perlahan, ia kembali menggerakkan bibirnya.
"I..no…Terkadang kau memang keras kepala… Tapi kau a-anak baik yang suka menolong…" Asuma menarik nafas. "Shikamaru dan Chouji.. Mereka sedikit canggung… Karenanya.. Kutitipkan mereka p-padamu…"
"Hai'!" jawab Ino sambil memejamkan matanya.
"Lalu.. Jangan kalah dari Sakura.. Ninjutsu.. Juga…" Asuma mendadak menghentikan perkataannya. Ia menghela nafas sekilas. "B-bukan..! Kau… Jaga dirimu baik-baik… Apapun pilihanmu.. Pikirkan selalu.. Dengan kepala dingin…"
Ino menggigit bibir bawahnya sebentar sebelum ia mengangguk.
"Baik! Baik, Sensei!"
Selanjutnya, Asuma memberikan nasihat pada Chouji dan Shikamaru. Ino sudah tidak terlalu mendengarkan apa yang mantan-gurunya itu katakan pada dua rekannya. Pikirannya sibuk mengenang masa lalu saat-saat Asuma masih berada di sekitarnya.
Mendadak, Asuma melirik ke arah Ino.
"A-aku sudah tidak perlu berhenti merokok kan?" kelakarnya di sisa waktunya.
Ino sedikit tersentak. Tapi gadis itu tetap tidak bisa berkata apa-apa.
"Tolong.. Nyalakan.. Sebatang rokok.. Terakhir.. Dalam saku-ku…"
Shikamaru-lah yang kemudian membantu memenuhi permintaan terakhir pria berjanggut tersebut. Tak lama setelah itu, Asuma menghembuskan nafas terakhirnya dalam senyum. Shikamaru yang sejak tadi menahan tangispun akhirnya tak kuasa membendung air matanya lebih lama.
Seolah mengerti duka yang dirasakan semua yang ada di situ, langit-pun berubah gelap sebelum menjatuhkan butir-butir airnya. Bagaikan air mata yang tidak dapat terbendung, hujan tidak juga berhenti. Terus seperti itu, sampai pemakaman Asuma.
o-o-o-o-o
Tidak berapa lama setelah pemakaman Asuma, Shikamaru, Ino, dan Chouji, siap untuk membalas kematian Asuma yang disebabkan oleh kedua orang anggota Akatsuki –Hidan dan Kakuzu. Awalnya, niat mereka itu dihalangi oleh Tsunade selaku Hokage yang tidak ingin membiarkan para Shinobi-nya jatuh dalam bahaya begitu saja. Namun, setelah Kakashi membujuknya, Tsunade pun akhirnya melepaskan kepergian mereka.
Pada akhirnya, kelompok Asuma bersama Kakashi berhasil merampungkan misi mereka dengan bantuan Naruto, Sakura, Sai, dan Yamato.
Sejujurnya, sewaktu melakukan misi itu, Ino merasa bahwa dirinya sama sekali tidak berguna. Sejak awal, tugasnya hanya untuk menemukan lokasi kedua anggota Akatsuki tersebut dan setelahnya ia lebih banyak berperan sebagai observer. Padahal ia merasa sudah banyak mengalami perkembangan, nyatanya ia tetap saja sama seperti ia yang dulu.
Memikirkan itu, Ino menjadi sedikit frustrasi. Kalau begini, bagaimana ia bisa melindungi dirinya sendiri?
Mendongak menatap langit, awan gelap yang terlihat. Mendung, pertanda akan hujan. Mengingatkan Ino akan detik-detik sebelum kematian Asuma.
Terus menerus, bagaikan mantra yang tidak akan pernah selesai dirapal, kata-kata Asuma sebelum ia wafat terngiang dalam benak Ino.
"…Kau… Jaga dirimu baik-baik… Apapun pilihanmu.. Pikirkan selalu.. Dengan kepala dingin…"
"Bagaimana aku bisa melindungi diriku sendiri kalau aku tetap lemah seperti ini? Apa cukup hanya dengan belajar Medical Ninjutsu terus menerus?" gumam Ino pada dirinya sendiri.
Selanjutnya, gadis itu menghela nafas panjang.
"Tidak. Aku.. Harus bisa lebih kuat dari sekarang!"
Ia kemudian mengambil beberapa bunga dari tokonya sebelum berteriak lantang ke arah rumahnya.
"Tou-san! Aku pergi dulu sebentar!"
"Mau ke mana, Ino?"
"Ke makam Asuma!"
Dan setelah itu, Inoichi tidak mengatakan apapun lagi. Ino pun segera bergegas dan mempercepat langkahnya menuju kompleks pemakaman para Shinobi yang gugur dalam bertugas. Sesekali ia menengok ke arah langit. Pilihan yang salah untuk mengunjungi makam sebenarnya. Tapi entah kenapa, Ino tidak bisa menahan dorongan yang dirasakannya untuk mengunjungi makam Asuma saat itu juga. Saking kuatnya dorongan itu, Ino bahkan tidak sadar saat ada seseorang yang mengikuti dan mengamati tiap gerak-geriknya.
Tidak lama, gadis itu pun sudah mencapai gerbang pemakaman. Dari kejauhan,Ino bisa melihat keberadaan orang lain yang tengah berdiam di depan makam gurunya. Ino mengenalinya sebagai Yuuhi Kurenai –Jounin mantan penanggungjawab kelompok delapan sekaligus orang yang dicintai oleh Asuma.
"Kurenai-Sensei," panggil Ino saat wanita berambut hitam panjang itu tengah berlutut di depan makam Asuma.
"Oh? Ino?" ujar Kurenai sambil berdiri dan memberikan jalan bagi Ino untuk mendekati nisan Asuma. "Tumben sendiri?"
Ino tersenyum sembari meletakkan karangan bunga di depan makam Asuma.
"Begitulah," jawab gadis itu singkat.
Setelah itu, Ino berlutut dan menangkupkan tangannya di depan makam Asuma untuk beberapa saat. Kurenai hanya terdiam di sampingnya dan memandanginya. Tak lama, Ino sudah selesai memberikan doa bagi Asuma hingga ia memutuskan untuk kembali berdiri.
"Sensei sudah lama di sini?"
"Aku baru datang sebetulnya," jawab Kurenai lembut.
"Jangan-jangan aku sudah mengganggu kegiatan Sensei ya?"
"Tidak, tidak. Jangan berkata seperti itu," jawab Kurenai sambil tersenyum, "Asuma pasti senang dikunjungi muridnya."
"Lagipula," sambung Kurenai lagi, "tampaknya sudah mau hujan. Jadi aku memang sudah berpikir untuk pulang sebentar lagi!"
"Benar juga," jawab Ino sambil melihat ke arah langit yang semakin menggelap. Awan kelabu semakin menunjukkan kuasanya, menutupi langit biru yang biasa membawakan kehangatan.
"Kau sendiri? Masih lama di sini, Ino?"
"Sebenarnya aku masih ingin bercerita panjang lebar pada Asuma-Sensei," jawab Ino sambil setengah tertawa, "tapi kalau melihat cuaca seperti ini, mungkin aku juga harus pulang sebentar lagi!"
"Ada sesuatu yang ingin kau ceritakan pada Asuma?"
"Hanya hal tidak penting. Mungkin tepatnya, semacam pengaduan sekaligus untuk melepas kerinduan?" jelas Ino sambil tersenyum dengan alis yang sedikit menurun. Begitu Ino memandang Kurenai, ia bisa melihat raut kesedihan mendalam yang ditunjukkan oleh wanita itu.
"Ah! Ano…" ujar Ino kemudian dengan salah tingkah.
Bagaimanapun, jika ada orang paling bersedih dengan kematian Asuma di samping mantan kelompok 10 yang terdiri dari Ino, Shikamaru, dan Chouji, maka dapat dipastikan bahwa Kurenai-lah orangnya. Guru cantik itu adalah kekasih Asuma yang tengah mengandung anak sang almarhum. Ditinggal pergi oleh orang yang dicintai bahkan sebelum anaknya lahir, entah bagaimana perasaan Kurenai saat mendengar berita kematian tersebut.
"Rindu ya…"
"Kurenai-Sensei…"
"Serindu apapun, kita sudah tidak bisa bertemu dengannya bukan?" ujar Kurenai-Sensei lagi sambil tersenyum. Senyum yang terlihat dipaksakan di mata Ino.
Untuk sesaat, keadaan menjadi hening. Lidah Ino terasa kelu dan ia tidak dapat memikirkan kata apapun untuk diucapkan. Saat ino tengah menunduk memandangi rumput di bawahnya, Kurenai malah menatap gadis itu seolah ada yang ingin disampaikannya. Sesaat, wanita itu tampak ragu. Tapi toh, akhirnya ia memutuskan untuk membuka mulutnya.
"Ngomong-ngomong, Ino," ujar Kurenai perlahan, "sebenarnya ada yang ingin kutanyakan padamu."
"Ya?"
"Apa benar.. Kau punya hubungan dengan salah satu anggota Akatsuki?" ujar Kurenai sambil menatap tajam pada Ino, berusaha menilai reaksi gadis itu. Awalnya Ino hanya terdiam meskipun tidak dapat dipungkiri bahwa ia sedikit merasa terkejut. Tapi, perkataan Kurenai selanjutnya, membuat Ino membelalakkan matanya dengan sempurna. "Uchiha Itachi?"
DEG!
"Kenapa.. Sensei menanyakan hal itu?"
Kurenai kini memandang ke arah makam Asuma dan ia mulai menjawab pertanyaan Ino, "Aku hanya mendadak teringat saat melihatmu. Asuma pernah cerita kalau ia sedikit mengkhawatirkanmu! Dan alasan mengapa ia mengkhawatirkanmu adalah karena kau dicurigai sering melakukan kontak dengan pemuda Uchiha itu!"
Ino terdiam.
"Bukan cuma Asuma, Inoichi, Tou-san-mu, juga mencemaskan hal yang sama!" sambung Kurenai lagi, kali ini dengan tatapan yang kembali mengarah pada Ino. "Maukah kau menceritakannya padaku?"
Gadis berambut pirang itu kini tampak menunduk sepenuhnya. Ia sedikit menggigit bibir bawahnya. Tanpa diduganya, ia mendapatkan informasi yang sebelumnya ingin ia dengar dari Asuma. Baiklah, jadi siapa lagi yang sudah mengetahui hubungannya dengan Itachi?
Mendadak, Ino kembali mengangkat kepalanya, mendongak menatap Kurenai. Bibirnya tampak terbuka dan Kurenai siap mendengarkan pengakuan gadis itu. Tapi sang Jounin cantik dipaksa menelan kekecewaannya saat Ino malah berkata.
"Sensei, kalau kau tidak segera pulang, hujan akan benar-benar turun."
Kurenai memandang Ino untuk beberapa saat. Kemudian, wanita itu memegang perutnya sembari menghela nafas.
"Baiklah. Kuanggap itu ungkapan penolakanmu."
Ino tersenyum tipis.
"Kau tahu, Ino? Tidak seorangpun di dunia yang tidak berhak jatuh cinta," ujar Kurenai yang sudah membelakangi Ino. Ino tidak menjawab seolah memberikan kesempatan pada Kurenai untuk melanjutkan kata-katanya. "Tapi, ada saatnya cinta itu harus dilupakan dan kemudian melangkah maju untuk sesuatu yang lebih baik!"
"Maksud Sensei," ujar Ino dengan posisi yang masih saling memunggungi dengan Kurenai, "aku telah jatuh cinta pada orang yang salah?"
"…Dia orang yang tega membantai anggota klan-nya sendiri. Dia juga anggota Akatsuki… Rekan dari orang-orang yang sudah membunuh Asuma."
Ino tersenyum samar. Tapi ia tidak lagi mengatakan apapun sehingga Kurenai memutuskan untuk menyudahi percakapan ini.
"Aku pulang dulu."
Masih tidak ada tanggapan dari Ino sehingga wanita bermata merah itu kembali menghela nafas sesaat.
"… Kuharap kau mau mendengarkanku dan berhenti membuat cemas Tou-san-mu! Kurasa Asuma juga berpikiran sama denganku dari atas sana! Dia mengharapkanmu untuk berhenti melakukan hal-hal yang bisa membahayakanmu!"
"Arigatou, Kurenai-Sensei!" ujar Ino tulus. "Tapi Asuma-Sensei hanya mengatakan agar aku menjaga diriku sendiri dengan baik. Pilihan apapun yang akan kuambil, dia pati akan mendukungku selama keputusan itu sudah kupikirkan dengan matang!"
Kurenai membelalakkan mata merahnya sembari menengok ke arah Ino dari sela bahunya. Ino masih saja berdiri membelakangi Kurenai. Akhirnya, melihat punggung Ino yang tegak seolah menunjukkan kebulatan tekadnya, Kurenai hanya bisa tersenyum simpul. Wanita itu pun kemudian meninggalkan kompleks pemakaman tersebut dengan langkah yang berhati-hati
Setelah sosok wanita itu benar-benar menghilang dari pandangan, butir-butir hujan perlahan mulai berjatuhan. Ino mendongak menatap langit.
"Mereka tidak mengerti apa-apa," gumam Ino lirih.
Gadis itu kemudian memejamkan matanya, membiarkan tetes hujan menyesap masuk ke dalam tubuhnya. Tidak diacuhkannya rasa dingin yang mulai menjalar. Ia hanya ingin di situ untuk beberapa saat lagi.
Membicarakan soal Itachi, meskipun hanya sekilas telah membuat Ino merasakan suatu kerinduan yang begitu besarnya. Ia ingin bertemu dengan pemuda itu. Tidak peduli bahwa Kurenai sudah memperingatkannya agar ia melupakan Itachi. Kurenai hanya satu dari segelintir orang yang tidak mau mengerti soal Itachi.
SRAK!
Sebuah suara berhasil memaksa Ino keluar dari lamunannya. Kemudian, mendadak saja, Ino memperlihatkan suatu senyum simpul.
"Mereka tidak mau mencoba untuk mengerti dirimu, Itachi-nii," ujar Ino sambil menengok ke belakangnya.
Di sanalah pemuda itu berdiri terdiam, seolah menjawab semua kerinduan yang Ino rasakan. Dengan tubuh yang sama basah seperti Ino, ia berdiri mematung sembari memandangi gadis itu.
"Mereka tidak perlu memahamiku!" jawab pemuda itu datar.
"Oh, mereka harus!" ujar Ino sambil tertawa kecil. Poninya yang basah sedikit ia sibakkan agar tidak mengganggu pandangannya. "Ngomong-ngomong, kenapa kau ada di sini? Tidak takut tertangkap, eh?"
"Tidak," jawabnya singkat seperti biasa.
Ino menelengkan kepalanya sedikit.
"Lalu.. Alasanku ke sini…" ujar pemuda berambut gelap itu –Itachi- sambil melihat ke arah lain. Tapi meskipun Ino sudah menunggu beberapa saat, tidak ada kelanjutan kata-kata yang keluar dari mulut pemuda itu.
Entah sejak kapan, Ino sudah berada di depan Itachi. Akhirnya, dengan suara yang nyaris berbisik dan wajah yang mulai menunjukkan senyum jahil, Ino mencoba menebak sendiri alasan kedatangan Itachi ke hadapannya, "Datang hanya untuk menemuiku?"
Sekali ini, Itachi tidak menjawab. Untuk sesaat, pemuda itu hanya bisa mengadu pandangannya dengan Ino. Tapi selanjutnya, ia melakukan suatu tindakan yang membuat Ino sedikit kaget. Ia mengulurkan tangannya, perlahan, untuk menyentuh pipi Ino!
"Ng?"
"Soal Sensei-mu… Maaf!" ujar Itachi kemudian.
Mata aquamarine Ino tampak terbelalak pada awalnya. Tapi kemudian, sebuah senyum mengembang di wajah gadis itu. Bersamaan dengan itu, Ino menyingkirkan tangan Itachi dari wajahnya dan kemudian menggenggam erat tangan tersebut. Tubuhnya sendiri semakin condong hingga akhirnya kepalanya menempel di dada Itachi.
"Bukan kau yang melakukannya," ujar Ino perlahan sambil memejamkan matanya. "Lagipula, dendam sudah dibalaskan. Semua sudah selesai!"
Saat mengatakan hal itu, Ino semakin mengeratkan pegangannya pada tangan Itachi. Itachi tidak berkata apa-apa dan hanya memandangi Ino dengan tubuh yang tampak bergetar. Pemuda itu tahu bahwa Ino tengah menangis namun sama sekali tidak terlintas dalam benak Itachi untuk menghentikan tangisan gadis itu.
Ino kemudian melepaskan pegangan tangannya pada Itachi dan perlahan ia memeluk tubuh pemuda itu untuk menumpahkan semua kegundahannya. Hujan tidak membuat semuanya lebih baik. Sebaliknya, Ino semakin merapatkan tubuhnya pada Itachi dengan air mata yang malah tampak semakin deras. Seolah membentuk suatu sinkronisasi tersendiri dengan hujan yang juga semakin deras.
"Gomen," bisik Itachi lagi tanpa membalas pelukan Ino. Pemuda itu membiarkan Ino merangkulnya sementara kedua tangannya sendiri ia biarkan menggantung di sisi kiri dan kanan tubuhnya.
Untuk beberapa lamanya, Ino tidak menjawab permintaan maaf Itachi. Namun, perlahan, gadis itu sudah dapat mengendalikan kesedihannya. Air matanya berangsur kering meskipun hujan membuatnya nampak bagaikan air mata yang tidak akan pernah habis.
Lalu, dengan suara yang sengau dan setengah terisak, Ino mulai mengeluarkan suara.
"Kalau.. Kau ingin minta maaf… Jangan mati!"
Itachi terkesiap.
"Jangan mati dan meninggalkanku begitu saja! Berjanjilah padaku!"
Sekali itu, Ino sudah mendongak dan menatap tajam ke arah mata Itachi.
"Kumohon…" pinta Ino dengan suara yang sudah melemah.
Itachi kemudian memegang bahu Ino. Lalu dengan gerakan sigap yang membuat Ino sedikit kaget, Itachi memutar tubuh Ino dan langsung mengarahkan sebuah kunai ke leher gadis itu.
"Pembicaraan mengenai kematian dalam dunia Shinobi bukanlah hal yang bisa dihindari," ujar Itachi sambil berbisik. "Tapi setidaknya, aku belum akan mati dulu saat ini!"
Dan setelah itu, di bawah hujan yang perlahan mulai berubah menjadi rintik-rintik kecil, beberapa sosok mulai bermunculan di sekeliling Itachi. Termasuk di antaranya adalah Tsunade, Sang Godaime Hokage.
*** TBC***
AN:
1. Haiiiizz! Tragedi! Ternyata saya tetap harus membuat Asuma mati. Duh, kesian juga dia. T.T
2. Yah, maaf kalau dipotongnya agak aneh. Dan… Betul! Para petinggi Konoha itu sudah tahu soal hubungan ItaIno. Jadi… Gimana hubungan mereka selanjutnya? Tunggu aja di next chapter! Hahaha…
3. Seperti biasa, saya masih membutuhkan review yang banyak dari minna-san. Review-nya please? *membungkuk hormat*
4. Okey, c u next chapter! Hope u all like this fic. :3
