GOOD MORNING, VAMPIRE
Chapter 12 : Trust and Treason
Maaf telat update. Dan Maaf juga karena mengganggu. Author sudah mengingatkan di awal if you don't like don't read. Beginilah adanya cerita yang author buat. Sekedar pemberitahuan kalau author adalah type orang yang sangat suka Hurt/Comfort jadi jangan protes jika menemukan scene hurt. Terimakasih.
Balasan Review
Luca kazuka : Ok, siap
Lusy922 : Bisa dibilang iya dan tidak. Susah menjelaskannya, maaf. Lisanna benci karena hal sepele. Ia cemburu karena gara-gara kehadiran Lucy, Natsu jadi jauh darinya. Lebih jelasnya baca saja chapter 12. Ne?
Akano Tsuki : Oh iya. Hati Natsu mulai bergejolak. Yah namanya juga ditakdirkan bersama maka rasa sakit Lucy juga bisa ia rasakan.
Ifa Dragneel92 : Ok, tentu dilanjut
Dragneel77 : Dia memang plin-plan, ikuti saja alur mainnya. Menyenangkan sekali membuat Natsu seperti itu.
Serendine irene : Aduh seren-san sepertinya anda harus baca ulang. Cerita ini sangat serius dan berkonflik berat, jadi harus extra teliti bacanya. Begini, Natsu benci permaisuri karena menurutnya gara-gara permaisuri ibunya tiada. Dan gara-gara permaisuri pula ia menjadi setengah manusia. Nanti akan ada chapter yang menjelaskannya secara gamblang. Tunggu saja. Jellal tahu karena dijelaskan oleh Erza, coba baca lagi. Dan iya, Lucy punya kekuatan Overpower itu.
Kotoran : Ok, terimakasih atas penyemangatnya
Akayuki1479 : Satu apa? yang mana sih? Author gak ngeh. Benarkah? Padahal author merasa kalau hurt-nya kurang. Tapi makasih banget ...
Fic of Delusion : Oh tentu dia akan tahu, mungkin chapter depan atau chapter 14.
Hannah : Mungkin lain kali. Ini dilanjut dan di Ending-kan dulu. Author nggak bisa berbagi konsentrasi pada banyak cerita.
Samaheda : cowok. Iya, chapter 12 Natsu mulai baik kok. Silahkan baca saja.
Asiyahfridausi : Jangan gitu dong. Author ini memang suka Hurt/Comfort. Harap dimaklumi saja. Jika tidak suka author tidak memaksa membaca kok.
Guest : Ok
NataliaXaveria : Iya, tapi jawabannya dibaca saja ya.
Allifahgm : sampai segitunya? Wuah author gak menyangka kalau feelnya bakal dapet. Thanks.
Naomi Koala : Benarkah? Syukurlah, sempet pesimis bakal gak ngena feelnya. Tapi banyak yang bilang sedih sih. Akhirnya. Okey, tetap ikuti ya Naomi-san.
Kurokawa yuki : Thanks. Ikuti terus ya dan mohon reviewnya.
Nalu lovers : Makasih , kalau penasaran silahkan baca kelanjutanya. Ini dia chapter 12, Dozou.
.
.
.
Rate : T
Genre : Drama, Fantasy, Mystery, Hurt/Comfort, little Comedy
Pair : [Natsu D, Lucy H] Sting E, Lisanna S
.
.
Fairy Tail milik Hiro Mashima-sensei
.
.
.
Mata Natsu tak sengaja melihat sebuah tanda biru di bagian pipi kanan Lucy, seketika oksigen seakan direnggut dari paru-parunya. Sesak. Ia menarik nafas tapi tetap sama, sangat sesak. Nafasnya memberat, tubuhnya bergerak perlahan. Mendekati Lucy dengan pasti. Entah setan mana yang sudah merasuki tubuhnya, tiba-tiba ia sudah mendekap Lucy kedalam pelukannya. Dapat Natsu rasakan dadanya mulai basah, ia tercengang tak kala menyadari jika Lucy menangis. Hal yang ia nantikan selama ini, kerapuhan Lucy dan keputusasaannya. Ia menanti ini. Harusnya ia senang, tapi ia tidak bisa tersenyum. Harusnya ia bersorak tapi bibirnya seakan terkunci. Ia membuka bibirnya mencoba mengeluarkan suara namun nihil, tak ada satu nadapun yang keluar dari sana. Laksana sebuah patung ia hanya mampu diam membisu. Kini yang bisa ia lakukan hanyalah mengeratkan pelukannya. Menenangkan tubuh kecil itu kedalam dekapannya.
"Hatiku sakit, Aku tak bisa bernafas. Aku tak tahu apa yang terjadi pada diriku, kusentuh tanganmu dan kupeluk dirimu. Tak peduli seberapa keras aku ingin melihatmu menderita karena cinta dan kepercayaan, kau tak bergeming. Kau bagaikan fondasi yang sangat kokoh yang sulit untuk kurubuhkan" kata Natsu dalam hati
"Aku telah menjebakmu. Kemudian aku malah merengkuhmu. Aku hanya berharap mendengar suaramu saat ini. Kata-kata yang bagaikan duri. Mengoyak dan menyobek diriku kemudian menyadarkanku" kata Natsu dalam hati
...
Lucy memejamkan matanya, meresapi kehangatan yang menjalar kesetiap inchi tubuhnya. Batinnya bergejolak. Patut ia akui kini ia merasa nyaman dan tenang. Tapi ada bagian kecil dari otaknya yang menolak. Kepalanya terus menyuruhnya untuk melepas pelukan itu tapi tubuhnya tidak sejalan. Bahkan tangannya terulur, membalas pelukan itu. Ditenggelamkannya kepalanya kedalam dada bidang Natsu tanpa memperdulikan bagian otaknya yang tak henti-hentinya menjerit untuk pergi. Merasa pelukannya dibalas, Natsu mengelus pundak Lucy pelan. Tak sadar sebuah senyum sangat tipis menghiasi wajahnya.
Tanpa mereka sadari, sepasang manik biru tengah memandang benci kearah mereka. Lisanna Strauss yang kebetulan hendak mengambil sesuatu yang tertinggal di studio radio menghentikan langkahnya tak kala melihat dua orang tengah berpelukan. Dan sepertinya sangat mesra. Tangannya mengepal, mencengkeram erat rok bagian bawahnya. Bibirnya bergetar dan matanya mulai menggelap.
"Dia tidak akan mendapatkan Natsu-ku. Akan kusingkirkan pelayan itu dari hadapan Natsu bagaimanapun caranya" gumam Lisanna
Menurut Lisanna, semenjak kedatangan Lucy, Natsu jadi berbeda. Pemuda itu lebih disibukkan untuk menyiksa Lucy hingga tidak memperhatikannya. Meski awalnya ia tenang kalau Natsu membencinya, tapi apa yang dilihatnya kini sudah merubah segalanya. Tidak mungkin seorang Natsu Dragneel mau memeluk sembarangan orang, terlebih seorang pelayan rendahan yang bahkan derajatnya lebih rendah dari pelayan dirumahnya. Bukan sehari dua hari ia mengenal Natsu, tapi selama 10 tahun. Pemuda itu tidak akan bicara dengan kata-kata, melainkan sikap. Pelukan itu membuktikan bahwa jelas-jelas Natsu memiliki ketertarikan sendiri pada Lucy.
Mata Lisanna mengawasi Onyx hitam Natsu. Liquid bening merembes melalui kelopak mata dan menetes pelan. Tatapan Natsu sangat teduh dan sendu, jelas sekali itu bukan tatapan tuan pada pelayannya, dan ia membencinya. Tak kuat untuk melihat pemandangan itu, Lisanna memilih pergi dengan segala kebencian memenuhi dadanya.
Merasa seseorang dipelukannya sudah tenang, Natsu melepaskan pelukannya. Ditatapnya wajah Lucy dengan sedikit menunduk. Ditatapnya kemeja Lucy yang sangat mengenaskan, untung saja masih bisa menutupi tubuhnya.
"Kita ganti pakaianmu" kata Natsu kemudian
Disinilah mereka berada. Di studio klub fotografi. Natsu ingat kalau Jellal dan Erza selalu menyimpan seragam cadangan disini. Tanpa permisi ia menggeledah lemari penyimpanan, namun tak ada yang bisa dikenakan karena yang ada hanyalah satu setel seragam Erza. Natsu melirik Lucy yang duduk terdiam di sofa, ia menaikkan salah satu alisnya dan menggeleng.
"Bagaimana dengan bawahannya? Celana panjangnya sudah tidak bisa dibilang bersih" kata Natsu dalam hati
"Sial, tak ada apapaun" umpat Natsu dalam hati
Tiba-tiba saja ia mengingat hal yang tidak seharusnya. Seperti tadi ketika ia menunduk melihat pakaian Lucy dengan detail, ada hal yang sedikit mengganggunya. Perut Lucy. Ya, karena seragamnya dipotong pendek memperlihatkan perut putih mulus nan rata. Mata Natsu membulat, ia kemudian menggeleng berusaha mengenyahkan pikiran anehnya itu.
Sudah bermenit-menit ia mencari celana panjang untuk Lucy, tapi nihil. Natsu menghela nafas lelah. Salah satunya lelah pada dirinya sendiri yang kenapa mendadak jadi mengkhawatirkan keadaan bocah pirang pelayannya itu. Ia berjalan mendekati Lucy dan memberikan satu setel seragam Erza yang tak lain tak bukan untuk perempuan. Lucy menerimanya tanpa banyak komentar atau memang ia sedang tidak ingin banyak bicara. Ia menuju bilik di ruang itu yang sepertinya memang untuk ruang ganti. Dibukanya kancing bajunya, memperlihatkan bahu yang putih mulus tanpa noda.
Diluar, Natsu duduk disofa dengan sesekali melirik bilik tempat dimana Lucy berganti pakaian. Entah kenapa ada sedikit rasa tidak tenang begitu melihat tirai penutup bilik sedikit bergoyang. Berdebar? Oh tidak mungkin, ia seorang Natsu Dragneel. Akhirnya ia memilih untuk mengambil beberapa buku yang kebetulan ada di meja dan mulai membacanya.
Tak selang lama, Lucy melangkahkan kakinya keluar dari bilik. Didekatinya Natsu, pemuda bersurai pink itu masih fokus dengan buku yang dibacanya, meski jika diperhatikan betul-betul ia membaca dalam keadaan buku terbalik. Hingga suara Lucy menginterupsinya.
"Terimakasih" ucap Lucy lirih.
"Hn" jawab Natsu
"Eh?" inner Natsu sadar
Seketika Natsu menoleh, matanya terbelalak melihat apa yang dilihatnya tepat didepan mata. Matanya menelusuri setiap bagian dari seseorang yang kini duduk di sebelah kirinya. Mulai dari rambut yang sudah rapi, wajah yang putih dan sedikit lebam, bola mata caramel, hidung yang mancung, bibir kecil berwarna peach, tubuh ramping yang dibalut seragam berukuran pas serta rok yang 20 centi diatas dengkul. Memperlihatkan kaki jenjang yang entah kenapa dimatanya kini tampah seperti milik perempuan.
"Kau?" tanya Natsu sedikit tidak percaya
Lucy memalingkan wajahnya, ada rasa aneh ketika Natsu memandang dirinya seperti itu. Seperti tubuhnya seakan diserang oleh sengatan-sengatan listrik dengan skala kecil. Natsu sadar, ia ikut memalingkan wajahnya, dan untuk yang kesekian kalinya . . .
"Hik" Natsu cegukan
"Hik, Hik" Natsu cegukan lagi
"Sial! Ada apa denganku!" umpat Natsu dalam hati
"Pergilah ke kelas, aku mau disini saja" kata Lucy mengusir Natsu secara halus
"Hik, Hik" Natsu membekap mulutnya, ia benci ini. Sudah sekian lama sejak ia cegukan. Terakhir kali ia cegukan adalah saat bersama seorang gadis yang mengaku bernama Luna yang keberadaannya entah berantah dimana. Gadis yang sangat berarti bagi Sting tapi nyatanya tidak ada seorangpun di negara ini bernama Luna dengan karakter seperti yang diingatannya.
Dengan susah payah, Natsu menahan sedikit nafasnya demi menghentikan cegukan sialan itu dan akhirnya berhasil. Ia kembali menoleh ke arah Lucy.
"Kau fikir aku mau? aku akan tetap disini. Jadi jangan mengusirku, aku anggota disini. Kalaupun ingin sendiri kau yang harus pergi. Toh aku sudah memberimu pakaian ganti" balas Natsu ketus
Lucy menyunggingkan senyum miris. Inilah Natsu Dragneel yang dikenalnya. Bodohnya ia karena beberapa menit yang lalu sempat berfikiran bahwa Natsu menghkawatirkannya. Tidak mungkin kan pelayan rendahan yang keberadaannya tak lebih dari seekor peliharaan mengharapkan hal absurd seperti itu? Oh ayolah, ini pasti gila! Lucy Milkovich tidak mungkin mengharap dan berharap untuk dikhawatirkan oleh seseorang macam Natsu Dragneel yang bahkan namanya saja tidak pernah ia bayangkan di otaknya. Perlakuan Natsu tadi hanyalah sebuah reflek belaka atau memang otak pemuda itu pasti sudah konslet karena terlalu memikirkan bagaimana cara menyiksanya. Miris.
Lucy berdiri, tentu ia akan menuruti perintah tuannya. Mungkin tidur di perpustakaan akan sedikit menenangkan dirinya. Hangusnya foto keluarga miliknya membuatnya cukup shock. Ia selalu membawanya guna menjadi penyemangat disela-sela kehidupan sekolah yang bagaikan neraka itu. Untuk kejadian tadi, ingin rasanya ia pergi dan menampar bolak-balik wajah Kagura dan mengulitinya. Tapi hati kecilnya menolak, wajah Kagura tidak seperti biasanya. Kagura yang biasanya selalu menikmati menyiksa dirinya, tadi jelas sekali kalau ia sedang tertekan. Matanya menyiratkan kalau ia sakit, sakit yang Lucy sendiri tidak tahu apa itu. Yang jelas, itu juga membuat dada Lucy nyeri. Kali ini ia akan memaafkannya, meski mungkin butuh waktu lama untuk melakukannya.
Baru selangkah Lucy menjelajahkan kakinya, tiba-tiba seseorang sudah mencekal pergelangan tangannya.
"Aku memang menyuruhmu pergi, tapi tidak untuk sekarang" kata Natsu menarik pergelangan tangan Lucy kuat hingga membut tubuh gadis yang ia sangka laki-laki itu berbalik dan terhempas ke sofa dengan keadaan duduk dan jangan lupakan kalau tubuhnya kini sudah berada di dekapan dada bidang Natsu.
Lucy mendongakkan kepalanya, ia cukup terkejut dengan wajah Natsu yang berada dekat sekali dengannya. Buru-buru ia menarik diri, tapi pemuda itu tidak mau melepaskan pelukannya. Ia kembali menatap wajah Natsu, dan apa yang ia lihat? Pemuda itu menyeringai. Lucy merinding, ia tidak tahu apa yang ada dikepala pink sang tuan tapi yang jelas ini cukup berbahaya. Bagaimana kalau Natsu mengetahui kalau ia perempuan? Pasti kejadian saat ia mengaku menjadi Luna akan terulang. Tidak!
"Lepas" pinta Lucy lirih
"Tidak" jawab Natsu tegas
"Aku mohon padamu" pinta Lucy memalingkan wajahnya, beralih untuk tidak menatap mata Onyx hitam Natsu
HENING
Natsu terdiam untuk sejenak. Kali ini Lucy sudah memohon padanya tapi entah kenapa ia tidak berniat untuk melepaskan dekapan itu, meski otaknya memerintahkannya untuk segera menghempaskan Lucy kelantai dan menginjak-injaknya layaknya budak tapi tubuhnya berkhianat. Setan benar-benar telah menggodanya, dan ia akui ia cukup terbuai dengan godaan setan itu. Buktinya ia masih betah mendekap tubuh Lucy yang baru ia sadari ternyata cukup ramping dan begitu pas dengan dirinya. Ia jadi bertanya-tanya, apa mungkin Sting tertarik pada Lucy karena ini? Sting teman dekat Lucy pasti sekali pemuda itu pernah memeluknya. Natsu sadar dari godaan setan seketika, kini diotaknya terlintas sebuah ide untuk memastikan apa yang menjadi tanda tanya terbesar darinya selama ini.
"Kau kecil ya" kata Natsu kemudian
"Apa maksudmu?" tanya Lucy
"Aku baru menyadari kalau tubuhmu benar-benar kecil, tidak seperti laki-laki pada umumnya" jawab Natsu datar
"Kau mengejekku?" tanya Lucy tak suka
"Apa aku terdengar seperti sedang mengejek?" tanya Natsu balik
"Tidak bisakah kau tidak menjawabku dengan pertanyaan? Dan kumohon lepaskan aku" kata Lucy
"Sudah kubilang tidak. Aku tuanmu, kau tentu ingat itu" kata Natsu
"Apa kau bersikap baik padaku untuk bisa kau perlakukan semena-mena lagi?" tanya Lucy
"Aku sedang tidak ingin melakukannya" jawab Natsu datar
"Sedang tidak ingin?" Lucy tidak percaya, ia mendongak dan menatap wajah Natsu dengan penuh selidik
"Lalu apa yang kau inginkan dariku? Apa maksudmu dan apa alasanmu menahanku dengan memelukku seperti ini?" tanya Lucy bertubi-tubi
BRUKH
Seketika Natsu menghempaskan tubuh Lucy di sofa dan menindihnya. Tak lupa ia menahan kedua tangan Lucy agar tidak kabur. Lucy terbelalak, ini cukup ekstrim dan ia pernah mengalaminya sekali. Waktu itu Natsu hampir mencium lehernya, bedanya kini mereka ada diatas sofa jadi tubuh Lucy tidak merasa sakit. Lucy meronta, tapi cengkeraman Natsu terlalu kuat.
"Apa yang kau lakukan? kau sudah gila?" bentak Lucy
KLIK
Natsu menarik kacamata bulat yang menghalanginya menatap langsung mata Lucy. Lucy memejamkan matanya, ia tidak mau menatap mata Natsu yang kini berubah menjadi mengerikan. Padahal baru beberapa menit yang lalu tatapannya begitu tenang.
"Buka matamu" pinta Natsu
Lucy menggeleng, Natsu mendekatkan wajahnya dan menyentuhkan hidungnya ke hidung Lucy. Membuat gadis itu seketika membuka matanya dan memelototinya, memprotes apa yang baru saja dilakukannya. Natsu-pun menyeringai.
"Kau benar-benar gila! Tuan!" bentak Lucy
"Entahlah, tubuhku bergerak sendiri" kata Natsu
Natsu memandang Lucy lekat-lekat, menciptakan semburat merah pada kedua belah pipi gadis itu yang kini dimatanya mendadak berubah menjadi menawan. Sepertinya setan belum benar-benar pergi dari dirinya.
"Aku hanya penasaran saja kenapa Sting tertarik padamu. Mungkin sekarang aku tahu alasannya" kata Natsu
"Apa yang kau bicarakan? Cepat menyingkir dariku atau kau akan menyesalinya" ancam Lucy
"Kau tidak mirip dengan laki-laki. Aku baru menyadarinya sekarang. Kau lebih mirip dengan perempuan meski kau tidak lebih cantik dari perempuan kebanyakan. Tapi kuakui kau cukup menggoda" kata Natsu
"Menggoda? Dasar gila! Apa otakmu sudah konslet? Huh?" bentak Lucy
Tiba-tiba saja Natsu mengusapkan ibu jarinya ke bibir Lucy, merasakan betapa lembutnya dan kenyalnya bibir ranum itu. Ia menyeringai, entah kenapa otaknya terus memunculkan hal-hal gila saat ini. Sedangkan Lucy, ia menegang, dadanya berdegup cukup keras berkat perlakuan sang tuan.
"Kau sudah pernah berciuman kan dengannya?" tanya Natsu
"Apa? Jangan sembarangan!" elak Lucy
"Jelas sekali Sting menciummu di danau saat menyelamatkanmu" kata Natsu
"Dia melihatnya?" tanya Lucy dalam hati
"Apa kau tidak bisa membedakan yang mana ciuman dan nafas buatan?" tanya Lucy balik dengan wajah merah padam antara malu dan kesal karena Natsu menyinggung hal sesensitif itu
"Menurutku keduanya sama saja. Sama-sama menempelkan bibir, mungkin" jawab Natsu enteng
"Dengar, mulai sekarang tetaplah berada disampingku. Jangan pernah mencoba untuk kabur atau jauh dari pandanganku. Kau harus ada disaat aku mau memejamkan mata dan membuka mataku atau aku benar-benar memporak-porandakan panti asuhan dan melukai Sting di depan matamu" kata Natsu kemudian
"Kau mengancamku lagi? Tch! Sudah berapa kali kau melakukannya? Tapi tidakkah ini berlebihan?" Protes Lucy
"Aku akan menepati janjiku dengar membayarmu 1 juta jewel karena berhasil menemukan kalung itu. Dan minggu ini kau juga akan menerima gajimu, tentu dengan jumlah utuh tanpa kukurangi sepeserpun" kata Natsu
Mata Lucy melotot. Sebenarnya apa yang berada dikepala pink Natsu hingga ia jadi seperti ini. Kadang jahatnya melibihi satan, bengisnya melebihi iblis, egoisnya melebihi pangeran dan kadang plin plan melebihi anak kecil.
Melihat ekspresi Lucy, Natsu sedikit menyunggingkan senyum tak kasat mata. Ia bangkit dan menarik Lucy kembali untuk duduk.
Mungkin mulai saat ini ia akan merubah cara bermainnya. Seperti mendapatkan kepercayaannya hingga membuat Sting cemburu dan terbakar. Bukankah dengan begitu persahabatan atau mungkin cinta mereka benar-benar hancur? Dan pada akhirnya ia bisa melihat keputusaasaan Sting ditinggal seseorang yang berharga. Merasakan apa yang ia rasakan. Berterimakasihlah pada setan yang telah menggodanya.
PLAK
Lucy memukul kepala belakang Natsu dengan keras, pemuda itu mendesah pelan dan menoleh. Matanya mengkilat, tanda ia sangat marah. Oh jika saja ia tidak sedang dalam rencana barunya mungkin sudah ia tendang Lucy keluar jendela.
"Jangan mengujiku, Bocah" gerutu Natsu
"Kau berhak menerimanya" balas Lucy
"Setelah apa yang aku lakukan padamu? Aku bahkan berbaik hati memberikan uang dan pekerjaan bagus padamu" kata Natsu tak terima
"Setelah apa yang kau lakukan padaku? Itu belum sepadan, Tuan" balas Lucy
"Lalu apa aku harus menyerahkan sebagian kekayaanku?" tanya Natsu sedikit menantang
"Aku tidak sematrealistis itu, Tuan. Paling tidak berikan aku dispensasi dengan bisa lepas dari kontrak secepatnya" kata Lucy
"Hoh, kau pikir aku mau? Aku akan melepaskanmu jika kau mau menuruti satu permintaanku yang mustahil kau penuhi" jawab Natsu kemudian
Lucy tertarik, wajahnya menjadi sumringah mendegarnya. Terlepas dari jeratan Natsu Dragneel? Apakah dewi fortuna sedang berpihak padanya? Oh sepertinya iya. Lihatlah Natsu yang memberikan tawaran menggiurkan bahkan sanggup membuat air liurnya hampir menetes.
"Apa itu?" tanya Lucy antusias
"Lupakan, kau tidak akan pernah bisa melakukannya. Jadi jangan harap" jawab Natsu ketus
"Hei, kau kan katanya sedang baik, tidak bisakah kau memberi tahuku? Sedikit saja" bujuk Lucy mendekat namun tangan Natsu mendorong dahi Lucy segera, hingga sang pemiliknya cemberut dan memutar bibirnya
...
Malamnya Lucy mengantarkan Natsu pulang ke rumah setelah sesore ini menemaninya berkeliling kota untuk sekedar kebut-kebutan, yang membuatnya harus mati-matian menahan rasa mual di perutnya. Ia bahkan diharuskan masuk sampai ke dalam kamar sang tuan dan memastikannya tidur baru boleh pulang. Sebuah siksaan baru bagi Lucy tapi alih-alih kesal ia malah melakukannya tanpa beban. Karena apa? ada sesuatu yang harus ia dapatkan dari Natsu. Jawaban dari pertanyaannya tadi siang belum dijawab.
Lucy keluar dari mobil Natsu, ia heran tak kala melihat para bodyguard berbadan kekar, berpakaian serba hitam dan kacamata hitam berjejer rapi laksana prajurit melindungi benteng kerajaan sepanjang pintu masuk. Mata Lucy mengedar dan baru menyadari sebetapa kaya rayanya Dragneel itu. Ia berjalan begitu saja hingga tak sadar sudah menubruk punggung lebar Natsu.
"Apa yang kau lakukan? kemana arah matamu?" tanya Natsu
"Aku hanya melihat-lihat, apa tak boleh?" tanya Lucy sedikit kesal
Pintu utama terbuka, memperlihatkan Macao yang menyapa sambil menundukkan kepalanya. Cukup terkejut dengan kedatangan sang tuan muda yang pulang bersama dengan seorang gadis yang bisa dibilang sangat cantik. Tahu apa yang dipikirkan Macao, Natsu buru-buru mengklarifikasinya.
"Jangan terkecoh, ia laki-laki. Ia pelayanku di sekolah, Macao" jelas Natsu
"Ah, Lucy-kun" Macao baru ingat
"Senang bertemu dengan anda" kata Macao sopan
"Senang bertemu kembali" jawab Lucy kikuk
"Apa yang kau lakukan disana? Ikuti aku!" teriak Natsu yang sudah berada ditanga
Lucy membungkukkan badannya pada Macao dan mengikuti Natsu menuju kamarnya yang berada di lantai 3. Sepanjang menapaki anak tangga, mata Lucy tak henti-hentinya kagum dengan segala hiasan dan furniture yang ada. Pantas saja Natsu sombong, ia kaya sih.
Dan disinilah ia berada. Didalam kamar seorang Natsu Dragneel, kamar yang luasnya hampir 10 kali lipat dari apartemennya. Bahkan didalam ada sofa, TV LED yang besarnya hampir sebesar dinding apartemennya, beberapa alat fitness, ranjang king size dengan sprei berwarna merah maroon, miniatur, mainan dan yang cukup menyita perhatiannya adalah banyaknya hiasan berupa origami-origami berbagai bentuk. Ia melangkah menuju Origami bintang yang berada didekat jendela, belum sempat menyentuhnya suara Natsu sudah menginterupsi.
"Jangan sentuh apapun. Duduklah di sana dan tunggu aku" kata Natsu
Natsu mandi, ia mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Kembali berfikir tentang apa yang dilakukannya siang tadi. Saat ia meminta Kagura untuk menghanguskan benda berharga Lucy dan merobek pakaiannya.
"Kenapa aku malah berbalik menolongnya? Kenapa aku memeluknya?" tanya Natsu dalam hati
"Aku memang mengatakan kalau aku melakukannya karena Sting. Tapi sebelum itu tubuhku bergerak sendiri, dan sialnya kenapa aku malah menikmatinya?" tanya Natsu
"Apa aku gila? Apa aku sudah tidak waras?" umpat Natsu
"Sihir apa yang kau gunakan hingga setan-setan itu selalu menggerayangiku? Menggodaku untuk melakukan sesuatu padamu? Sesuatu yang tidak bisa aku terjemahkan dengan teori dan kata-kata. Sesuatu yang akan selalu muncul setelah aku menyiksamu" kata Natsu dalam hati
"Apa aku tertarik padamu?" lanjut Natsu
Natsu berdiam diri sejenak, berusaha mengusir segala perasaan humanis yang mulai muncul dalam dirinya. Ia tidak akan mempercayai siapapun, mengkhawatirkan siapapun atau tertarik pada siapapun atau lebih tepatnya ia tidak ingin. Bahkan tidak ada kata-kata itu di dalam kamusnya. Perlahan, raut wajahnya yang semula bingung dan bertanya-tanya berubah. Berubah menjadi dingin seperti sedia kala, menjadi Natsu Dragneel sang pangeran sadis. Ia menatap pantulan wajahnya di cermin kemudian menyeringai.
"Ya, aku memang tertarik padamu. Bahkan sangat tertarik. Kau adalah bidakku untuk menghancurkan Sting Eucliffe dan budakku untuk melampiaskan segala yang ada didalam hatiku. Jangan pernah bermimpi aku akan melepaskanmu karena kau milikku, hanya milikku sampai aku tidak membutuhkanmu" kata Natsu kemudian, ia bercermin lagi dan memastikan ekspresi wajahnya
Tak tahukah kau Natsu, kalau dirimu kini tengah mengelak dengan apa yang sedang terjadi didalam hatimu. Apa kau ketakutan kalau hati bajamu akan luruh? Atau kau ketakutan jika seseorang itu akan merebut hatimu? Atau meninggalkanmu? Dan kembali membuatmu sendirian?
Natsu keluar dari kamar mandi dengan hanya dibalut handuk yang menutupi bagian bawah tubuhnya. Ia mengambil pakaian di lemari dan mengenakannya tanpa memperdulikan orang lain yang berada diruangannya. Lucy menahan nafas dan menahan untuk tidak menolehkan kepala, karena tadi sekilas ia melihat Natsu setengah basah dengan hanya dibalut handuk. Sungguh memalukan! Bagaimana mungkin pemuda kelas atas dan bermartabat atau apalah itu mempunyai kebiasaan seperti ini? terkutuklah Natsu Dragneel dengan segala ketampanannya. Hingga tiba-tiba . . .
BRUK
Satu setel pakaian menutupi kepala Lucy. Lucy mengambilnya dan menoleh, didapatinya Natsu yang sudah berpakaian lengkap sedang mengusap-usap rambutnya.
"Apa ini?" tanya Lucy
"Matamu buta? Pakaian, apa lagi?" balas Natsu
"Maksudku kenapa kau memberikan ini padaku?" tanya Lucy masih tak paham
"Mandilah dan ganti pakaianmu. Aku sangat terganggu dengan rokmu itu, kau benar-benar mirip dengan banci daripada pelayanku" jawab Natsu ketus
"Kau kan yang menyuruhku mengenakannya tadi" balas Lucy tak terima
"Aku tunggu kau dibawah" kata Natsu pergi meninggalkan Lucy di kamarnya
Lucy melongo. Ia benar-benar tidak mengerti sifat Natsu, pemuda itu mudah sekali merubah sikapnya meski mulutnya tetap mengeluarkan kata-kata pedas. Lucy berdecak, mandi? Oh ayolah, ia benci air. Tapi jika tidak mandi, Natsu pasti akan mengguyurnya, membayangkannya saja sanggup membuat bulu kuduk merinding. Dengan sangat berat hati akhirnya Lucy masuk ke kamar mandi dan dengan cepat kilat ia mandi.
Meja makan. Natsu sudah stand by dengan ditemani Macao yang masih menyajikan hidangan makan malam. Tak lama kemudian Lucy turun dengan kikuk, ia mengenakan celana kain panjang berwarna coklat dan jaket yang kebesaran. Ia bertanya pada pelayan di rumah itu dan diantar ke ruang makan. Betapa kagumnya ia melihat makanan yang tersaji. Semua kelas hotel bintang 7, ia meneguk ludah dan mengusap bibirnya, siapa tahu air liurnya menetes. Natsu berdehem dan mengedikkan pandangannya, memerintahkan Lucy untuk duduk didepannya.
"Makanlah" kata Natsu datar
"Eh? Apa? bisa kau ulangi? Ma-makan? Apa kau sedang demam? Aku tahu kalau kau sedang baik katanya. Tapi apa ini benar-benar Dragneel yang kukenal?" tanya Lucy tidak percaya
"Makanlah atau aku akan memasukkan makanan ke mulutmu dengan cara yang tidak pernah kau bayangkan" jawab Natsu ketus
"Tch, mulutnya benar-benar bermasalah" gumam Lucy
"Aku mendengarmu" kata Natsu
"Aku tahu, tuan" jawab Lucy jengah, ia mengangkat garpu dan mulai mengambil makanan yang ada
Macao menggigit pipi dalamnya, menahan untuk tidak tertawa bahkan hanya sekedar tersenyum. Baru kali ini ia melihat seseorang yang berani berdebat dengan tuan mudanya yang selama ini dikenal sadist. Diliriknya Natsu yang makan dengan tenang, sementara Lucy makan dengan lahap. Tak butuh waktu lama bagi Lucy untuk menghabiskan semua makanan yang terhidang, ia merebahkan punggungnya dan mengusap perutnya.
"Terimakasih makanannya" kata Lucy
Natsu terbengong, ia menatap tidak percaya pada piring-piring yang sudah kosong.
"Kau ini lapar atau rakus? Kau benar-benar seperti orang yang tidak makan seminggu saja" komen Natsu
"Maafkan aku, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak melahap makanan seenak itu" jawab Lucy
"Jadi, kapan kau akan tidur? Aku ingin segera pulang" tanya Lucy
"Ini masih jam 8.00, aku akan tidur setidaknya jam 10.00. Masih dua jam lagi" jawab Natsu datar
"Kau sengaja mempersulitku?" selidik Lucy
"Bagaimana kalau kau melakukan sesuatu untukku?" tawar Natsu
Kini, Lucy tengah komat-kamit duduk di meja belajar Natsu. Natsu menghadapkannya dengan kumpulan tugas fisika yang sama. Tugas yang ia kerjakan selama seminggu namun hangus ditangan Kagura. Dan untuk yang kesekian kalinya ia harus kembali bertemu dengan soal-soal memuakkan itu. Dengan aristokrat Natsu duduk disamping Lucy dan mengedikkan pandangannya. Memerintahkannya untuk menyelesaikan semua soal dalam waktu dua jam.
"Kenapa kau menatapku seperti itu? apa perintahku kurang jelas? Kerjakan semua soal dalam waktu dua jam" kata Natsu
"Apapun asal jangan berhitung. Kau tahu aku menyelesaikannya dalam waktu seminggu dengan mengurangi waktu tidurku" keluh Lucy
"Aku tidak tanya. Yang jelas cepat kerjakan, aku tidak mau dihukum gara-gara kau menghilangkan tugasku" kata Natsu
Lucy bungkam, ia memang tidak akan pernah bisa berkutik dengan perintah absolut Natsu. Ia membuka-buka buku paket dan mulai mengerjakan. Selama ia mengerjakan, Natsu menyangga wajah tampannya dengan salah satu tangan, ia tak henti-hentinya menatap atau bahkan sekedar berpaling dari Lucy. Hening, jam terus berdenting, menghiasi kedua orang yang tengah duduk berdua di meja belajar. Hingga Natsu membuka suaranya.
"Hei, sebenarnya kenapa kau bisa jadi seperti tadi?" tanya Natsu datar, memecahkan keheningan
"Jangan tanya, aku sedang fokus" jawab Lucy ketus
"Apa seseorang melakukannya padamu?" tanya Natsu lembut
"Bukan urusanmu" jawab Lucy
"Hmm, memang bukan. Tapi kenapa pakaianmu bisa seperti itu?" tanya Natsu
"Dan kenapa kau bisa menangis?" tanya Natsu lagi
BRUK
Lucy menghempaskan bukunya ke meja dan menatap kesal Natsu.
"Bukankah kau yang meminta untuk menyelesaikan semuanya dalam waktu dua jam? Jadi kenapa kau terus bertanya dan mengganggu konsentrasiku?" tanya Lucy meledak-ledak
"Aku hanya bertanya, aku bahkan tidak menuntut jawaban darimu. Kalau tidak ingin menjawab ya jangan dijawab. Apa susahnya" jawab Natsu santai
Lucy menghela nafas kasar. Ia tidak mau cepat tua dengan meladeni pertanyaan dan jawaban konyol Natsu. Cukup sudah ia merasa pening dengan segala perubahan Natsu yang tiba-tiba. Diambilnya buku paket dan kembali mengerjakan.
Tiga puluh menit berlalu, Lucy mulai menguap. Matanya sudah tidak kuat lagi untuk diajak kompromi. Diliriknya Natsu yang masih tak bergeming dengan terus memandanginya. Lucy buru-buru memalingkan wajahnya membelakangi Natsu. Oh kenapa ia jadi gugup? Apa ini efek karena ia tadi dipeluk olehnya? Mustahil!
"Hoi! Cepat selesaikan! Kau tidak mau menginap disini kan?" hardik Natsu
"Iya iya" jawab Lucy ketus
Beralih ke bangunan mewah milik Dragneel Corp. Disebuh ruang meering room. Rapat Intern Dewan Vampire. Rapat yang hanya dihadiri oleh beberapa anggota saja. Igneel Dragneel, Skyadrum Cheney, dan sang Raja Vampire itu sendiri. Zeref Dragneel. Zeref duduk di singgasananya, ia menautkan kedua jari jemarinya dan menyanga dagunya. Alisnya bertaut tanda ia sedang berfikir dengan serius. Diliriknya Skyadrum yang pucat pasi. Ia tahu kalau pria paruh baya itu mendapat tekanan karena melakukan kelalaian besar.
"Bagaimana mungkin bisa hilang?" tanya Zeref dengan nada berat namun terkesan sabar
Seketika Skyadrum beranjak dari tempat duduknya dan bertekuk lutut pada sang Raja. Meletakkan kedua tangan diatas kedua kakinya, menundukkan kepala sedalam-dalamnya.
"Maafkan saya, Zeref-sama. Brankas tidak rusak sedikitpun dan CCTV rusak. Maafkan saya, saya tidak tahu bagaimana harus memohon maaf lagi. Ini kesalahan saya, mohon hukum saya" kata Skyadrum dengan nada gemetaran
"Maaf? Jika maaf mengembalikan semuanya maka tak perlu ada hukum" jawab Zeref santai, alih-alih tenang Skyadrum semakin berkeringat dingin. Zeref adalah seorang penyabar tapi tindakannya susah ditebak.
"Dan Perusahaanmu juga tidak akan dibutuhkan" lanjut Zeref sarkatis
Skyadrum tak sanggup berkata-kata lagi. Ia benar-benar menundukkan kepalanya sampai menyentuh lantai. Memohon pengampunan.
"Fiuh, angkat kepalamu Skyadrum. Aku tidak akan bisa bicara kalau kau tetap seperti itu" kata Zeref kemudian dengan mengontrol segala emosinya
"Kapan terakhir kali kau mengeceknya?" tanya Zeref
"Saya selalu mengeceknya setiap hari. Tapi baru kemarin saya benar-benar sadar kalu buku itu palsu" jelas Skyadrum
"Bagaimana mungkin kau baru menyadarinya?" tanya Igneel sinis
"Karena buku itu lenyap ketika aku menyentuhnya. Buku itu menjadi transparan dan menghilang begitu saja. Apa kau pikir ini masuk akal?" jawab Skyadrum
"Menggandakan objek adalah salah satu yang tertulis dibuku itu. Jadi kurasa buku itu sudah dicuri dan diduplikat jauh sebelumnya. Dan orang yang mampu membobol pertahanan militer keluarga Cheney hanyalah dia" kata Zeref menyimpulkan
"Tapi yang tidak habis kupikir adalah, bagaimana dia menghindari sensor. Aku tahu kalau CCTV pasti akan dirusaknya dengan mudah. Tapi sensor itu tidak main-main, dia akan mencabik siapapun yang berusaha mendekatinya. Dan yang lebih tidak masuk akal adalah bagaimana mungkin tidak ada yang menyadari kehadiran-nya" kata Zeref bertanya-tanya
"Tapi semua itu bisa dia lakukan jika dia memiliki tubuh. Dan dia tidak bertubuh. Natsu sudah menghancurkan tubuhnya dan memusnahkannya kala itu" lanjut Zeref
"Bagaimana mungkin" Skyadrum ternganga tak terkecuali Igneel yang melotot
"Jadi, Zeref-sama. Anda ingin mengatakan kalau dia berhasil menemukan tubuh yang cocok?" tanya Igneel
"Sepertinya iya, karena pembunuhan vampire kelas atas yang terjadi tak lain adalah demi memperkuat dirinya" jawab Zeref
"Apa sensor itu punya kelemahan?" tanya Igneel kemudian
"Segala sesuatu tentu memilikinya, Igneel. Seperti sensor itu tidak akan meresponku" jawab Skyadrum
Igneel terperangah, otaknya bekerja secara cepat. Seseorang yang berkemungkinan mencurinya dan bisa jadi merupakan wadah dari dia adalah keluarga Skyadrum sendiri. Ia menatap Skyadrum tajam, membuat pria paruh baya berambut hitam itu tak nyaman.
"Kau tidak tinggal sendiri, Skyadrum. Jika sensor itu tidak meresponmu maka semua darah yang sama denganmu tentu tidak akan merespon" selidik Igneel
"Kau mencurigai keluargaku? Ketua Dewan?" tanya Skyadrum tidak terima
"Kita akan tahu jawabannya setelah mengintrogasi mereka. Zeref-sama, berikan aku izin menahan keluarga Cheney" kata Igneel mengambil keputusan
"Ketua Dewan!" Skyadrum tidak terima, ia bahkan berdiri dari duduknya dengan tangan mengepal
Zeref mengedikkan pandangannya dan meminta kepala keluarga Cheney itu untuk tenang dan kembali duduk. Skyadrum mengambil nafas dan menuruti perintah sang Raja.
"Maksud Igneel, Keluargamu akan diselidiki. Tapi aku tidak akan mengizinkan Igneel begitu saja tanpa persetujuan darimu. Kau punya waktu sampai akhir bulan untuk berfikir dan kuharap sebelum akhir bulan kau sudah membuat keputusannya. Karena tanpa kau kami juga tidak bisa bertindak. Berfikirlah dengan bijak, Skyadrum. Kami percaya padamu" kata Zeref memberi kesimpulan dengan bijak
"Bagaimana jika Skyadrum pada akhirnya menolak?" protes Igneel
"Aku tahu dia tidak akan menolaknya" jawab Zeref pasti membuat sang empunya terlonjak.
Bagaimana mungkin Zeref mengatakan Skyadrum tidak akan menolak padahal ia sendiri masih belum memikirkannya.
Kembali ke Mansion Dagneel, Kamar Natsu.
Tinggal beberapa halaman lagi, jam sudah menunjukkan pukul 09.25 PM. Sesekali Lucy memejamkan matanya dan tertidur kemudian bangun lagi. Begitu terus hingga tanpa sadar ia benar-benar menjatuhkan kepalanya diatas tumpukan buku-buku. Natsu terdiam, diamatinya Lucy yang sepertinya kelelahan. Bibirnya tertarik sedikit dan mengambil tugas yang sepertinya sudah diselesaikan. Matanya mengedar meneliti semua jawaban yang ada.
"Tck, Bodoh sekali dia" komen Natsu
Natsu membaringkan Lucy di kasurnya. Ia meletakkan tubuh kecil itu pelan seakan takut kalau sang empunya bangun tiba-tiba dan menendangnya. Ia akui kalau Lucy punya kekuatan yang lumayan, bahkan Vampire sepertinya merasakan sakit. Diselimutinya tubuh Lucy, lagi-lagi matanya terus menatap. Menatap setiap inchi dan lekukan di wajah Lucy.
"Tch! Bahkan ia lebih cantik dari semua gadis yang pernah aku temui! Jika saja ia bukan laki-laki mungkin aku sudah . . ." kata Natsu dalam hati
"Argh, apa yang aku pikirkan! Dia bidak dan budakku. Tidak lebih, dan tidak akan pernah lebih!" elak Natsu dalam hati
Malam itu, Natsu memilih tidur di sofa setelah menyuntikkan vaksin ke dalam tubuhnya. Hari ini banyak hal yang membuatnya hampir out of character dan semua itu gara-gara Lucy. Ia membencinya, tapi entah kenapa ada secuil hatinya menikmati. Argh! Ia benar-benar sudah tidak waras! Mungkin dengan tidur otaknya akan kembali normal.
Lucy's Dream
Lucy dewasa berjalan menyusuri koridor di sebuah mansion megah yang terletak di dalam hutan. Hutan yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Sayup-sayup ia mendengar suara senandung, senandung yang amat merdu. Diikutinya kemana arah suara itu dan disinilah ia. Didepan kamar yang entah ia tidak tahu siapa pemiliknya. Dibukanya kamar itu perlahan. Sebuah cahaya bersinar menghalau pandangannya, namun ia masih bisa melihat kalau didalam ada seorang gadis kecil tengah bernyanyi sambil menulis sesuatu.
Lucy dewasa terbangun, tapi kini ia tiba disebuah hutan. Ia mengedarkan pandangannya dan tidak menemukan siapapun. Ia kembali berjalan, menuju jalan setapak yang menuju puncak bukit. Sebuah suara kembali didengarnya, namun kali ini bukan senandung merdu. Melainkan sebuah isak pilu nan menyayat hati. Lucy memegangi dadanya yang tiba-tiba nyeri dan sesak. Tanpa ia sadari, liquid bening menetes membasahi pipinya.
End of Lucy's Dream
.
.
.
Di dalam tidurnya, Lucy dewasa menangis
.
.
.
Merasa mendengar suara isakan, Natsu terbangun di tengah malam. Didekatinya Lucy, dan ia terhenyak tak kala melihat tetes demi tetes air mata keluar dari kelopak mata Lucy yang terpejam. Spontan Natsu memegangi dadanya, ia mengernyit.
"Ada apa ini?" tanya Natsu bingung
Tangannya terulur ingin membangunkan Lucy, namun terhenti begitu saja diudara. Dikepalkannya tangannya, menariknya kembali dan menggigit pelan bibir bawahnya. Natsu memilih untuk meninggalkan Lucy sendirian di kamar. Membiarkan Lucy dengan air matanya.
Diluar kamar, Natsu memukul dinding dengan kuat.
"Sial! Ada apa lagi denganku!" umpat Natsu
Malam semakin larut, jam sudah menunjukkan pukul 11.05 PM. Hutan dipinggiran kota. Burung-burung gagak berterbangan keluar dari sana, mereka pergi seolah takut atau mencemaskan sesuatu yang berada di hutan. Angin meniup dedaunan, ranting-ranting rapuh-pun berbunyi karena retak. Bahkan banyak diantaranya yang berjatuhan di tanah. Suara burung hantu menggema ke segala penjuru hutan. Terdapat bayang-banyang hitam berjalan di dalam sana, mata berbeda iris bersinar di tengah kegelapan malam. Bayangan itu berhenti disebuah batu besar. Tangannya menyentuh batu itu dan seketika batu itu bergeser, menampakkan anak tangga menuju bawah tanah.
Bayangan itu menyusuri labirin bawah tanah. Telinganya mendengar sayup-sayup suara pemujanya yang tak henti-hentinya menyebut namanya.
"Acnologia-sama, Acnologia-sama" rapal segerombol vampire
Yang disebutkan namanya masuk ruangan, semua terdiam dan bersimpuh. Layaknya mereka menunduk dan menghormati sang Raja. Tapi ini bukan Raja, melainkan iblis yang berkeinginan menjadi Raja. Orang yang mereka sebut bernama Acnologia duduk di singgasananya. Singgasanya yang berwarna hitam dengan motif keemasan. Ia duduk dengan menyilangkan kakinya. Sangat aristokrat.
"Sudah lama menungguku?" tanya orang bernama Acnologia yang hanya mereka lihat kakinya saja tanpa berani menatap lansung wajahnya.
"Acnologia-sama" puja para pengikutnya dan kembali bersujud
Orang bernama Acnologia menaikkan sudut bibirnya.
"Angkat kepala kalian dan tatap aku" pinta Acnologia
Dengan gerakan patah-patah mereka mengangkat kepala. Meski sekilas tahu kalau wajah Acnologia tidak seperti sebelumnya, tetap saja mereka terpana. Karena . . .
Wajah Acnologia tak lain tak bukan adalah wajah seseorang pemuda tampan, dengan garis luka di mata serta surai pirang yang sangat mencolok. Ya, tubuhnya kini adalah
.
.
.
Sting Eucliffe
.
.
.
"Apa aku terlihat muda dan tampan?" tanya Acnologia dengan tubuh Sting
"Huh, kalian tahu?" Acnologia menunjuk dirinya sendiri
"Orang ini benar-benar keras kepala. Bahkan terlalu baik hati untuk tidak melahap Permaisuri kala itu. Tch! Aku harus menunggu lama hanya untuk mendapatkan tubuhnya" kata Acnologia dengan suara Sting
"Ia (Sting) sudah berani mengusirku dengan cara menggandakan tubuhnya. Picik sekali, dia bahkan melakukannya dengan buku ciptaanku" lanjut Acnologia
"Maafkan hamba, Acnologia-sama. Tapi kapan kita menyerang Natsu Dragneel?" tanya salah satu pengikutnya, Neinhart
"Tentu akhir bulan ini. Camping tahunan akan segera dilaksanakan di Fairy Tail dan kupastikan ia akan ikut serta. Setidaknya aku ingin membalas sedikit sakit hatiku karena dia sudah mengancurkan tubuhku" jawab Sting aka Acnologia
...
Esoknya di sekolah. Lucy benar-benar mengekori kemanapun Natsu pergi bahkan untuk sekedar ke toilet. Pemuda itu masih sangat diktator tapi bisa diakui kalau ia mulai bersikap baik. Seperti tidak sering main tangan, meski kadang ia suka kelepasan dan hampir melayangkan tangannya yang langsung ditahan. Dalam hampir sehari pula, seisi sekolah heboh. Bahkan ia sudah menjadi trending topic di blog sekolah atau apalah-apalah itu yang Lucy tidak ketahui dengan pasti.
Kini jam pelajaran terakhir, salah satu pelajaran yang paling Lucy benci. Dengan malas ia mengeluarkan bukunya yang ia jamin masih kosong. Bob-sensei masuk, di awal kelas ia langsung meminta semua siswa yang belum mengumpulkan tugas untuk mengumpulkannya. Natsu bangkit, ia berjalan ke depan kelas dan memberikan tugasnya. Sementara Lucy, ia hanya terpaku ditempat. Bagaimana mungkin ia mengumpulkan? Semalam ia bahkan ketiduran setelah menyelesailan tugas Natsu dan belum sempat menyalin. Oh Shit!
"Lucy! Apa tugasmu tertinggal?" tanya Bob-sensei halus namun tajam
Lucy merinding, kali ini suara Bob-sensei berbeda. Ia mendongak dengan gerakan patah-patah dan betapa terkejutnya ia ketika mendapati sang guru sudah berada di hadapannya.
"Kumpulkan tugasmu" pinta Bob-sensei dengan menekankan kalimatnya
"Anou, sensei" Lucy mulai mencari alasan
Semua menoleh ke arah Lucy. Tak terkecuali Kagura, wajahnya datar.
Tak sabar menunggu jawaban Lucy, Bob-sensei menarik buku tugas Lucy dan membukanya. Lucy memejamkan mata. Oh, ia harus bersiap di depak dari jam pelajaran fisika dan mencetak nilai merah. Damn fisika!
"Kalau sudah selesai harusnya kau mengatakannya" kata Bob-sensei lembut dan berjalan kembali ke depan kelas
Lucy melongo, jelas-jelas ia tidak menulis apapun dibukunya. Jadi bagaimana mungkin? Ia menoleh, mencoba mencari jawaban dari seseorang yang sangat berkemungkinan menjadi tersangka. Natsu menaikkan satu alisnya, sok tidak paham dengan tatapan menyelidik Lucy.
"Apa? kau menatapku seolah aku ini pelaku kejahatan" tanya Natsu ketus
"Bukan kau kan?" tanya Lucy
"Apa?" tanya Natsu lagi, Lucy hanya menggeleng. Mengenyahkan segala kemungkinan itu. Hei, tidak mungkin kan seorang Natsu Dragneel melakukan hal baik nan manusiawi nan rendah hati seperti itu?
Seketika banyak siswa yang berbisik.
"Kau lihat? Bahkan Natsu tidak meninggikan nada bicaranya"
"Iya, bocah itu pasti sudah mengguna-guna Natsu hingga bisa membuatnya seperti itu"
"Kurangajar bocah itu, berani sekali dekat-dekat dengan Natsu. Dia pikir dia sangat berguna apa? Aku sangat yakin kalau Natsu punya rencana lain untuk menghancurkannya dan mengusirnya dari sini"
"Bukannya baru beberapa hari lalu Natsu mengatakan untuk mengajari bocah itu sopan santun? Tapi apa yang kulihat? Bocah itu pasti penjilat yang sangat baik"
Telinga Lucy panas. Oh ayolah ia tidak mungkin melakukan hal tidak bermutu untuk sekedar menjilat atau mengguna-guna Natsu. Kekanakan sekali, kalau ia benar-benar ingin, daripada melakukan kedua hal itu bukankah lebih baik langsung men-santet Natsu? Lucy berdecak, berusaha menulikan pendengarannya. Sementara Natsu, ia melirik Lucy dari ekor matanya. Matanya menyipit, ia tidak suka ini. Kenapa dengan reaksi Lucy yang kelewat biasa?
Dibangku ketiga antek-antek Natsu, juga mengalami hal sama.
"Apa kalian pikir Natsu benar-benar serius baik dengannya?" tanya Loki
"Entahlah, tapi aku yakin sepertinya ia tidak bersandiwara. Kau pikir siapa yang bisa mengerjakan fisika dalam waktu singkat selain dia? Kalaupun ada, tidak mungkin karena yang dekat dengan bocah itu hanya Natsu seorang" jawab Gray
"Tapi, kenapa? Natsu bukan tipikal orang yang suka berbuat baik" tanya Loki
"Sepertinya telah terjadi sesuatu diantara mereka yang tidak kita ketahui" jawab Gajeel
"Aku penasaran" Loki memegangi dagunya
Natsu menoleh, tentu ia mendengar obrolan ketiga pengikutnya. Matanya menajam, memerintahkan untuk bungkam atau mereka tahu akibatnya. Seketika ketiganya salah tingkah, dan setelah memastikan Onyx tajam itu tidak lagi memandang ke arah mereka, barulah mereka menghela nafas.
Sepulang sekolah. Lucy bangkit dan bersiap dengan tasnya, bertepatan dengan Kagura yang juga berdiri dan menggendong tasnya. Kagura menoleh ke arah Lucy, menatapnya sebentar dan membuang muka. Lucy hanya menghela nafas, harusnya ia yang marah. Kenapa ia jadi merasa terbebani?
"Mau kemana kau? Kau harus menemaniku ke Bar setelah ini bersama Gray dan yang lain" tanya Natsu
"Aku ada pekerjaan dengan Erza" jawab Lucy
"Pekerjaan? Hei, aku ini tuanmu! Berapa kali harus kuingatkan huh?" tanya Natsu mulai meninggikan nada bicaranya
"Tapi aku sudah janji. Dan aku bukanlah seseorang yang akan mengingkari janjiku, jadi maaf saja. Aku akan bekerja sepulang sekolah bersamanya selama dua minggu" jelas Lucy
"Pekerjaan apa itu? Apa pekerjaan itu lebih penting daripada tuanmu?" tanya Natsu
"Ya" jawab Lucy
"Berapa bayaranmu? Akan kubayar lebih, jadi tetap ikut aku" kata Natsu
"Sudah kubilang, aku sudah janji" jawab Lucy
Mereka masih berdebat hingga Gajeel menginterupsi.
"Natsu, ayo" kata Gajeel
"Pergilah, aku masih ada urusan dengannya" jawab Natsu
Gajeel mengajak Gray dan Loki untuk pergi duluan. Meninggalkan Natsu yang masih bersitegang dengan sang pelayan.
"Aku akan ikut sekarang juga jika kau mengatakan bagaimana caranya agar aku bisa cepat terlepas dari kontrak" tawar Lucy
"Tidak akan. Jangan mimpi bocah!" tuding Natsu. Ia mengambil tas dengan kasar dan pergi begitu saja meninggalkan Lucy. Membuat yang ditinggal lagi-lagi terbengong-bengong.
Diambang pintu, Natsu berhenti.
"Lakukan apa maumu. Kutunggu kau di Bar setelah selesai dan jangan sampai terlambat" kata Natsu kemudian
Studio Fotografi. Lucy masuk dan disambut oleh Erza dan Jellal. Awalnya ia heran kenapa anggota Osis seperti mereka masih sempat ikut klub. Tentu jawabannya karena itu adalah hobi mereka dari kecil, yaitu memotret. Pekerjaan Osis bisa dikerjakan dipagi hari. Erza mempersilahkan Lucy duduk dan menyajikan teh.
"Kau sudah siap? Aku sudah menyiapkan banyak pakaian untukmu" kata Erza
"Pakaian? Untuk apa? bukankah kau bilang aku hanya harus duduk saja?" tanya Lucy tak paham
CEKLEK
Levy masuk dengan membawa se-Lorry penuh gaun. Lucy mengernyit, berusaha mencerna situasi. Belum sempat otaknya bekerja, Erza sudah lebih dulu menyerobot.
"Pakai ini dan kita akan mulai pemotretan" kata Erza
"Eh? Apa maksudmu?" tanya Lucy masih tak paham
Levy dan Erza menyeringai, mereka mendekati Lucy seraya menyodorkan sebuah gaun berwarna ungu.
"Tidak, jangan katakan kalau aku, TIDAKKK" teriak Lucy menggema ke seantero ruangan
Tak lama kemudian, Lucy sudah siap di depan kamera. Sesekali ia menaikkan gaunnya yang hanya sebatas dada. Mengekspos bahu putihnya. Levy sudah menyita kacamatanya dan Erza sudah mengenakannya wig berwarna silver. Dan wajahnya sudah dipoles dengan sedikit bedak. Jellal bahkan hampir tak berkedip melihatnya, jika saja ia tidak memiliki tunangan mungkin ia akan mencoba merayu Lucy sekali saja. Ia heran kenapa Lucy lebih suka berpakaian laki-laki dan mengenakan kaca mata yang menurutnya konyol. Diliriknya kedua gadis yang sudah menyihir sang cinderella. Erza menaikkan kacamatanya dan tersenyum penuh kemenangan. Sementara Levy, matanya tak henti-hentinya berbinar.
"Kau sangat cantik, Lucy" puji Levy
"Kenapa aku harus berpakaian seperti nona-nona? Ini sangat aneh. Ini gatal Levy dan memalukan. Bisa aku ganti dengan pakaian yang lebih normal?" pinta Lucy
"Tidak, kami akan menggantinya setelah pemotretan pertama" jawab Erza
Erza memerintahkan Lucy untuk berpose sedangkan Jellal yang mengambil gambar. Berkali-kali Lucy diharuskan mengganti pakaiannya. Bahkan sesekali ia mencoba untuk kabur dan berhasil dijerat oleh Erza. Ia mengerutuki janjinya yang menyetujui tawaran Erza beberapa waktu lalu.
"Sudah banyak kan? aku boleh ganti sekarang?" tanya Lucy tak sabaran
"Tidak Lucy. Aku ingin kau mengganti pakaianmu sekali lagi" jawab Erza sembari mensortir foto yang berhasil Jellal ambil
"Kita akan untung besar, Jellal" bisik Erza
"Aku tak menyangka kau benar-benar memaksanya" bisik Jellal
"Jangan sebut namaku Erza jika tidak bisa melakukannya. Akan kulakukan meski dengan cara mengancam sekalipun" jawab Erza
"Tidakkah sekolah akan heboh?" tanya Jellal
"Aku tidak akan menjualnya ke sekolah. Ini terlalu berharga, kau tahu?" kata Erza
...
Hampir seminggu Lucy selalu mengunjungi klub fotografi. Meski ia mencoba beralasan tapi Erza selalu akan menemukannya dan menyeretnya. Setelah itu, ia juga diharuskan menyusul Natsu di Bar dan menemaninya. Menuangkan minuman beralkohol rendah, dan mengantarnya pulang meski bukan ia yang menyetir. Memastikan ia tidur baru boleh pulang.
Dipagi hari, ia harus bangun pagi dan segera menuju Dragneel Mansion untuk menunggu sang tuan bangun. Igneel Dragneel selalu menawarinya untuk sarapan pagi dan mengajaknya bicara. Seperti kenapa ia bisa berakhir menjadi pelayan Natsu. Untungnya ia bisa berdalih dan membuat Dragneel senior itu tidak curiga. Sikap Natsu juga kian hari kian berubah, ia mulai tidak meninggikan suaranya dan bicara dengan datar. Bahkan ia tidak mempermasalahkannya untuk bekerja dengan Erza. Natsu juga suka mentraktirnya makan diluar dan tidak lagi bermain tangan dan kata-kata pedas. Bisa dibilang Natsu sedikit manusiawi. Dan patut ia akui, rasa bencinya pada Natsu mulai terkikis atau mungkin ia sudah melupakannya?
Natsu dan Lucy sedang berjalan di koridor lantai satu. Dengan Natsu di depan dan Lucy berjalan di belakang. Jujur saja, sedikit sulit mengimbangi langkah kaki Natsu yang menurut Lucy terlalu lebar. Kakinya kan lebih pendek dari Natsu, meski ia berjalan dengan tempo cepat-pun, ia masih sedikit tertinggal beberapa langkah. Merasa sang pelayan sedikit kesulitan mengimbanginya, Natsu memperkecil langkahnya hingga kini membuat Lucy berjalan tepat disampingnya. Tanpa disadari, Lucy menyunggingkan sebuah senyum. Ia merasa bangga bisa menyusul Natsu dengan kaki pendeknya. Dan tak tahukah kau Lucy, jika sang Pangeran Egois membuang muka dan mengalihkan pandangannya untuk tidak melihat senyumanmu.
Didepan Sting tengah berjalan sendirian sambil membawa buku pelanggaran. Pandangan datarnya seketika berubah tak kala melihat Lucy tersenyum tipis dan tengah berjalan beriringan dengan Natsu. Ya, ia juga mendengar kabar kalau keduanya mulai akrab. Dan ia membencinya! Bahkan kini Lucy seperti tak menganggapnya, jika berpapasan saja menoleh saja tidak. Contohnya ketika mereka berpapasan di kantin, Lucy seolah tak menganggapnya ada. Ketika ia terlambat, daripada bicara padanya, Lucy akan lebih memilih di beri nilai merah oleh Erza atau Jellal. Lucy benar-benar menghindarinya.
Senyum Lucy pudar tak kala menyadari keberadaan Sting. Perasaan bersalah dan amarah beradu menjadi satu. Mereka berdua berselisih jalan dengan Sting tanpa saling melirik. Namun baru beberapa langkah setelah melewati Sting, Natsu tiba-tiba berhenti. Memaksa Lucy untuk juga menghentikan langkahnya.
"Apa kabarmu, Kaichou?" sapa Natsu tanpa menoleh
Sting berbalik, diikuti Natsu yang juga membalikkan badan.
"Seperti yang kau lihat" jawab Sting datar, namun jelas sekali pandangan matanya menyiratkan kalau ia sedang menahan diri
"Yang kulihat? Begitu ya. Tapi yang kulihat darimu adalah kau sedang menahan diri untuk tidak memukulku" canda Natsu
"Jangan bercanda, Natsu" balas Sting
"Aku tidak pernah bercanda, kau tahu itu kan?" tanya Natsu sarkatis
"Entahlah, jangankan aku bahkan dirimu sendiri saja tidak tahu apakah kau sedang bercanda atau tidak" balas Sting yang sialnya tepat sasaran. Natsu mendengus, ia sedikit menaikkan sudut bibirnya yang bahkan Sting saja tidak menyadarinya.
"Jangan mengujiku, Sting. Aku sudah berbaik hati menanyakan kabarmu. Tapi kau tidak menanyakan balik kabarku atau bahkan temanmu" kata Natsu
Sting mengepalkan tangannya, sedang tangannya yang lain menggengam buku pelanggaran dengan erat. Seolah dengan begitu ia bisa menghancurkan buku itu seketika.
"Meski kubilang untuk tidak peduli, harusnya kau tetap peduli. Bukankah kalian adalah teman? Bocah ini bahkan memikirkan bagaimana perasaanmu" kata Natsu
Lucy menegang. Pasalnya perkataan Natsu barusan adalah sindiran baginya. Ya, Natsu tahu kalau ia menghindari Sting demi kebaikan pemuda itu juga. Ia tidak ingin Sting menjadi sasaran Natsu dan juga dirinya yang sedikit sulit mengontrol emosi jika berdekatan dengannya. Kejadian di Circuit masih sangat berbekas di otaknya. Dimana Sting mempertaruhkannya layaknya ia ini barang. Meski ia tahu kalau itu demi kebaikannya, tapi logikanya menolak. Teman mana yang akan mengorbankan temannya?
Mata Sting mengarah ke Lucy yang berlindung atau tengah menghindar dari tatapannya di balik punggung Natsu. Oh, apakah ini pengkhianatan? Kemana perginya Lucy Milkovich yang selalu ada untuknya? Untuk Sting Eucliffe? Dan tatapan Natsu benar-benar menyindirnya. Ia tidak suka ini, Lucy tidak seharusnya dekat bahkan akrab dengan Natsu. Natsu adalah calon Raja Vampire atau lebih tepatnya calon suami Lucy. Dadanya memanas, mengguncang setiap ulu hatinya. Perasaan cemburu mulai membakarnya.
"Teman? Aku tidak yakin kalau seseorang yang kau katakan menganggap aku temannya" jawab Sting sarkatis
Diam-diam Natsu menarik sudut bibirnya.
"Dan jika tidak ada yang ingin dibicarakan lagi, aku akan pergi" kata Sting seraya berbalik namun perkataan Lucy menginterupsinya. Sebuah suara serak khas yang pernah ia dengar dan ia harap tidak akan pernah ia dengar.
"Kau memberiku alasan yang tepat, Sting Eucliffe" kata Lucy tiba-tiba
"Terimakasih karena telah memperjelasnya" lanjut Lucy kemudian pergi
Mata Sting membulat, perkataan Lucy barusan bagaikan petir di siang bolong. Menyambarnya dengan kecepatan melebihi cahaya dan membuatnya mati kaku. Natsu tak peduli bagaimana reaksi Sting, yang sudah bisa ia tebak seperti apa. Ia melenggang dan mengikuti kemana Lucy pergi.
"Kenapa? Kenapa bibirku mengatakan hal yang bertolak belakang dengan kemauanku? Kenapa tubuhku mengkhianatiku? Bahkan melakukannya pada seseorang yang tidak semestinya. Lucy, kenapa aku harus mengatakan itu padanya? Kenapa aku harus melukai hatinya? Kenapa denganku? Apa aku cemburu?" tanya Sting dalam hati
"Semakin ingin kugapai semakin sulit untukku meraihnya. Semakin ingin kukejar, semakin sulit untukku melangkah. Kakiku seperti pondasi yang tak mau digerakkan, seperti es yang membeku di kutub utara dan seperti akar yang tertancap kuat ke bumi" lanjut Sting dalam hati
"Ia membenciku, dan aku yang memintanya. Bukankah aku ini sangat bodoh? Tidak! bukankah aku ini idiot?" tanya Sting dalam hati, mengerutuki segala tindakan dan kalimat yang keluar dari mulutnya
Lucy menuju pinggir danau, ia memeluk lutut dan menenggelamkan wajahnya diantara kedua kakinya. Matanya panas, sudah berhari-hari ia mencoba bertahan untuk tidak memikirkannya, tapi hari ini otaknya mengkhianatinya. Setelah perkataan Sting, ia benar-benar merasa kesal, marah dan kecewa. Ia juga seperti orang paling bodoh didunia. Bayangkan saja, ia masuk Fairy Tail dengan segala taruhan demi sahabatnya, namun yang ia dapat kini hanyalah kekecewaan. Faktanya, Sting bahkan tak menganggapnya. Jika memang ia temannya, seperti yang dikatakan Natsu, harusnya Sting tetap bicara padanya. Harusnya Sting tetap menyapanya. Dan yang paling utama, harusnya Sting tidak membohonginya. Membohongi dengan segala kebaikan dan pertolongan, senyuman dan sikap hangat. Menjijikkan! Damnt it Sting Eucliffe!
Natsu berhasil menemukan Lucy, matanya menyipit dan ekspresinya sulit untuk dijelaskan. Ia duduk disamping Lucy begitu saja.
"Pergi kau" usir Lucy
"Tidak ada larangan siapapun untuk duduk disini. Kalaupun ada, aku yang yang harusnya mengatakan untuk tidak ada yang boleh duduk di sini" jawab Natsu
Lucy beranjak, ia tahu kalau Natsu mengusirnya. Sudah hampir sebulan ia mengenal pemuda pink itu, sedikit banyak ia paham dengan segala cacian halusnya.
"Berani pergi maka kuhukum kau" kata Natsu mencegah Lucy pergi
"Apa maumu? Kau ingin menertawakanku?" tanya Lucy dengan suara seraknya
"Aku hanya membantumu memahami siapa Sting sebenarnya. Itu saja" elak Natsu dengan penuh keyakinan
"Kau tahu? Aku sahabatnya dulu" lanjut Natsu yang seketika membuat Lucy terkejut. Diingatnya lagi perkataan Natsu dulu yang mengatakan kalau pemuda itu mengenal dengan baik siapa itu Sting. Bodohnya ia tidak pernah memikirkan kemungkinan itu.
"Dia mengkhianatiku, padahal aku sangat percaya padanya kalau ia akan selalu mendukungku. Tapi kenyataannya dia meninggalkanku" jelas Natsu dengan wajah sedikit sendu, bahkan matanya kini berubah menjadi sayu. Yang entah sungguhan atau hanyalah acting belaka.
"Kau tidak pernah mengatakannya" tanggap Lucy
"Apa jika aku mengatakannya kau akan percaya?" tanya Natsu yang dijawab helaan nafas Lucy. Ya, yang dikatakan Natsu memang benar. Ia tidak akan percaya.
Mereka sama-sama terdiam. Untuk beberapa menit hanya suara angin yang terdengar. Keduanya larut dalam pikiran masing-masing. Lucy yang tidak menyangka akan Sting dan Natsu yang mulai mengingat kembali kebersamaannya dengan Sting ketika mereka kecil dulu. Hingga tanpa diperintah, bibirnya mengucapkan sebuah kalimat yang membuat Lucy kembali tercengang.
"Jangan pernah percaya atau mempercayai jika berujung dikhianati, jangan jatuh cinta atau mencinta jika berujung ditinggalkan" kata Natsu dengan pandangan menerawang
"Karena keduanya adalah hal absurd yang berbuah malapetaka" lanjut Natsu dalam hati
Sepulang sekolah. Lucy kembali meminta izin untuk pegi ke ruang klub fotografi dan Natsu mengizinkannya. Bahkan Lucy yakin dan teramat yakin kalau ia melihat senyum Natsu meski itu hanya samar. Sepeninggalan pemuda itu dan ketiga anteknya, wajah Lucy memanas.
Natsu berjalan beriringan dengan Gray, Loki dan Gajeel. Ketiga anteknya heran karena sikap Natsu semakin hari semakin out of character.
"Natsu, sepertinya kau benar-benar terkena sihirnya" kata Gray
"Dia bukan cenayang, Ice Freak! Natsu tidak akan mudah terkena hal-hal seperti itu" kata Loki
"Kau semakin baik padanya. Kau seperti bukan Natsu yang kami kenal" kata Gajeel
"Tidak bisakah kalian hentikan bualan kalian? Aku memang bersikap lunak padanya. Aku akui itu, apa kalian punya masalah dengan itu? Dia orangku, milikku. Terserah padaku aku mau bersikap bagaimana padanya. Semua tak ada sangkut pautnya dengan kalian" jawab Natsu ketus
"Kau tidak berniat menunggu waktu untuk menjatuhkannya kan?" selidik Gray
Natsu berpaling. Ia memutar badan dan berjalan berlawanan arah dengan mereka. Meninggalkan ketiganya dengan segala pertanyaan memenuhi otak.
Di sepanjang koridor, Natsu mengumpat. Setelah memastikan keadaan sepi, ia berhenti di tangga dan memukul dinding.
"Sial! Ada apa denganku! Kenapa aku jadi terbawa suasana seperti ini! Bahkan bibirku dengan mulusnya mengatakan bualan itu!" umpat Natsu
"Ini hanya siasat, bukan diriku yang sebenarnya. Bukan kemauan hatiku, bukan!" racau Natsu
"Aku hanya perlu menunggu sampai Sting menjauh dan Lucy benar-benar membencinya. Lalu jika waktunya tepat, akan kubunuh bocah itu tepat dihadapannya. Dengan begitu Sting benar-benar merasakan apa yang namanya sakit hati dan ditinggalkan" gumam Natsu
Natsu berjalan menuruni tangga dan kini tiba dilantai satu. Ia berhenti didepan ruang OSIS yang ia yakini ada Sting didalamnya. Pintu sedikit terbuka, ia mendekat dan penasaran apa kiranya yang dilakukan Sting untuk menjauh dari Lucy. Namun pemandangan yang dilihatnya membuat matanya membulat, ia segera membekap mulut dan menahan nafas untuk menyembunyikan hawa keberadaannya. Sting menoleh, ia tak mendapati siapapun dan kembali dengan kegiatannya.
"Apa yang kulihat tadi?" tanya Natsu dalam hati
Mata Natsu kembali melirik. Disana, didalam ruang OSIS atau lebih tepatnya di lantai berserakan foto-foto seorang gadis yang wajahnya sangat mirip dengan Lucy. Dengan berbagai pose dan ekspresi layaknya model profesional meski senyum dan mimiknya kaku. Ada juga foto yang menunjukkan ia sedang panik dan marah. Persis seperti Lucy.
"Lucy" gumam Sting
Mata Natsu membulat. Jadi benar jika semua foto itu adalah foto Lucy? Otak Natsu berputar, diingatnya lagi Lucy yang sering berkunjung ke klub fotografi dalam hampir seminggu ini. Tanpa sadar ia mengepalkan kedua tangannya. Matanya menajam melihat Sting yang tengah memuja dengan pandangan sendu foto-foto Lucy.
Natsu melangkah dengan langkah lebar, dadanya panas. Ia harus segera menemui Lucy segera dan mendapat penjelasan. Namun langkahnya terhenti tak kala Lisanna memanggil namanya.
"Natsu" panggil Lisanna
"Aku sedang sibuk Lis, sebaiknya lain waktu saja" jawab Natsu
"Sibuk dengan bocah itu?" tanya Lisanna
"Bukan urusanmu" jawab Natsu ketus
"Ini urusanku. Karena sejak ada dia kau jadi menjauh dariku" kata Lisanna dengan suara serak
"Aku tidak menjauh. Bukankah kita memang tidak terlalu dekat?" tanya Natsu
"Bukankah kau sudah pernah berjanji, bahwa kau tetap akan membiarkanku didekatmu?" tanya Lisanna
"Kau yang berjanji pada dirimu sendiri. Bukan aku. Karena seingatku aku tidak pernah menjawab iya" jawab Natsu
Liquid bening menetes membasahi pipi Lisanna. Apakah pengorbanan dan kesabarannya selama ini tidak ada artinya? Apa penantiannya sia-sia? Dan yang jelas Natsu mengkhianatinya. Bukankah pemuda itu yang mengiyakannya waktu itu?
"Jangan menangis, kau tahu aku benci air mata" kata Natsu sarkatis
Lisanna sesenggukan. Ia tak berusaha mengusap air matanya dan malah memilih menundukkan kepala. Liquid itu berjatuhan, membasahi lantai yang menjadi saksi bisu. Hingga tanpa sadar bibirnya sudah berucap.
"Kau sangat benci air mata tapi kau malah memeluknya. Jadi itu yang namanya benci?" tanya Lisanna dengan suara seraknya
Natsu terhenyak. Pertanyaan Lisanna benar-benar tidak pernah terlintas di benak dan otaknya. Maksudnya ia tidak menyangka kalau Lisanna melihatnya memeluk Lucy waktu itu. Pelukan yang sampai sekarang masih ia pertanyakan.
"Aku harus pergi, kita bicara lain kali saja" kata Natsu kemudian dan pergi meninggalkan Lisanna
Sepeninggalannya, Lisanna memeras ujung roknya. Ia memang belum menentukan langkah apa yang akan dilakukannya pada Lucy. Tapi yang jelas Lucy akan menyesal karena dekat dengan Natsu-nya.
Ruang klub fotografi. Levy menarik Lucy, bersiap mengganti dengan gaun terakhir yang ia punya. Lucy meronta, ia sudah lelah. Mereka berdebat hingga mendengar suara pintu terbuka. Seseorang masuk ke dalam dan menginterupsi kegiatan tarik-menarik antara Levy dan Lucy. Seseorang yang kehadirannya tidak diprediksi.
"Apa yang kalian lakukan?" tanya Natsu
Lucy menegang, ia menoleh dan terkejut melihat sosok yang kini berada dihadapannya. Natsu memicingkan matanya. Melihat Lucy-nya seperti sekarang, entah kenapa dadanya tiba-tiba panas. Ada perasaan tidak suka dan marah ketika melihatnya.
Dengan segera ia mendekat, mendekat ke arah Lucy dan menariknya tanpa aba-aba. Membuat Lucy sedikit memekik. Mata Natsu menyipit, meneliti keadaan sang pelayan yang sudah bertransformasi menjadi Cinderella. Lucy meneguk ludah, oh ia benci tatapan menyelidik itu. Ia menarik diri tapi Natsu malah mencengkeramnya erat.
"Jadi ini yang kau lakukan? pergi meninggalkan tuanmu dan memilih melakukan hal konyol ini?" tanya Natsu sedikit geram
"Eh" Lucy heran. Sudah seminggu Natsu bersikap baik, tapi kenapa tiba-tiba pemuda itu bersikap kasar dan berekspresi seperti itu?
"Kau melakukannya demi uang?" tanya Natsu
"Ap-apa?" tanya Lucy berharap ia salah dengar
"Aku tidak menyangka kau benar-benar rendah. Kau ini laki-laki, tapi kenapa dengan bodohnya mau mengenakan pakaian menjijikkan itu? kau benar-benar membuatku mual hanya dengan melihat" kata Natsu sarkatis
"Jangan hina desainku!" bentak Levy
"Kalau begitu jangan lihat. Apa susahnya" balas Lucy tak terima, ia mencoba untuk tidak tersulut emosi gara-gara perkataan pedas Natsu yang seakan mengunusnya.
"Bagaimana aku tidak melihat kalau aku punya mata, bocah!" Teriak Natsu. Ekor matanya sedikit melirik satu-satunya laki-laki lain diruangan ini, Jellal.
"Jangan berteriak padaku!" teriak Lucy
"Lepas" kata Natsu dengan nada diktatornya
"Apa?" tanya Lucy
"Lepaskan pakaian hina ini sekarang juga atau aku akan merobeknya" kata Natsu
"Jangan macam-macam" kata Levy dan Erza bersamaan
"Natsu, tidak bisakah kau sedikit tenang. Kami hanya melakukannya demi pemotretan" kata Jellal berusaha menenangkan.
Natsu melirik Jellal dan menaikkan sudut bibirnya, menantang. Erza tersulut emosi, hampir saja ia melayangkan bogem mentah ke wajah Natsu namun Jellal menahan tangannya. Natsu menarik Lucy keluar, ia tidak peduli dengan Lucy yang meronta-ronta minta dilepaskan. Yang terpenting sekarang adalah membawa Lucy pergi dari tempat laknat itu. Di area parkir yang sudah sepi dan mobil Sting sudah tidak ada Natsu menghempaskan tubuh Lucy ke mobil Lamborghini Aventador-nya. Lucy meringis, ia hendak bangun namun kedua lengan Natsu sudah menguncinya.
"Apa maumu? Menyingkir!" hardik Lucy
"Aku yang harusnya tanya, apa maumu? Apa maumu dengan berpakaian seperti ini? tidakkah kau pikir ini merendahkanmu?" tanya Natsu bertubi-tubi tentu dengan intonasi berat sarat akan ia menahan amarah
"Aku melakukannya demi pekerjaan. Memang apa?" kata Lucy
"Pekerjaan? Kau terlihat seperti banci murahan, bocah! Tidak sadarkah kau itu!" teriak Natsu
"Ap-apa? banci murahan katamu! Jaga bicaramu! Aku . . ." jawab Lucy yang tertahan begitu saja
"Apa? kau ingin menggoda Jellal dengan tubuh kecilmu yang seperti perempuan itu? atau kau ingin menggoda Sting dan kembali rujuk dengannya yang sudah mengkhianatimu!" tanya Natsu meledak-ledak
"Tutup mulutmu!" bentak Lucy
SREK
Natsu menyobek gaun Lucy, mata Lucy membulat.
SREK
Natsu kembali menyobeknya dengan brutal. Kini tinggal dalaman gaun yang berwarna putih, yang untungnya masih menutupi bagian dada sampai lutut. Mata Lucy berkaca-kaca, ia kembali teringat saat Kagura melakukan hal yang sama denngannya. Merasakan hawa dingin menerpa kulitnya, Lucy segera memeluk tubuhnya. Ditatapnya Natsu dengan pandangan kesal dan nanar.
"Aku tidak sehina itu, tuan. Jadi jangan rendahkan aku lebih dari ini" kata Lucy mendorong dada bidang Natsu kuat
"Kupikir kau sudah berubah. Berfikir tak apa jika aku memaafkanmu kali ini, dan mulai memahami dan mempercayaimu. Tapi nyatanya aku salah! Kau!" tuding Lucy dengan mata berkaca-kaca
"Sama saja dengannya! Pandai sekali berbohong. Kau sama menjijikkannya dengannya! Aku jadi mengerti kenapa kalian berteman dulu" cerca Lucy
"Tutup mulutmu!" bentak Natsu membuat Lucy tambah berkaca-kaca, bahkan nafasnya mulai naik turun
"Tidak sudi! Aku punya hak dengan diriku sendiri, Tuan. Kau tahu itu!" kata Lucy meledak-ledak
"Aku tidak sepenuhnya berbohong" Kata Natsu kemudian, matanya berubah menjadi sayu secara tiba-tiba
Ya. Natsu memang tidak sepenuhnya berbohong. Meski dalam hati ia melakukan semua itu semata-mata mengatasnamakan bagian dari rencana. Faktanya ia menikmatinya dan jujur ia malah terbuai olehnya. Dekat dengan Lucy ternyata tidak seburuk perkiraannya, berdebat dengan Lucy memberi sensasi tersendiri di benaknya. Ia akan selalu menunggu kala pagi hanya untuk melihat wajah mengantuk Lucy dan menunggu hari berikutnya karena ingin melihat reaksi demi reaksi dari wajah Lucy yang mulai terlihat manis dimatanya.
"Tidak sepenuhnya? Berarti masih ada sebagian dirimu yang membohongiku. Bukan begitu? Apa aku salah?" tanya Lucy
"Dengarkan aku . . ." kata Natsu mencengkeram lengan Lucy kuat, dan membuat sang empunya meringis
"Aku tak mau dengar dan tidak akan pernah mau dengar! Simpan alasanmu untuk dirimu sendiri, Dragneel!" kata Lucy menghempaskan tangan Natsu
Sepeninggalan Lucy, Natsu menggenggam tangannya yang tadi dihempaskan Lucy. Ia memejamkan matanya dan menahan gejolak aneh yang tiba-tiba menyerangnya. Hatinya terasa berat, seperti ada berton-ton beton yang menimpa dengan ditimpa batu yang berjuta-juta jumlahnya.
"Tch!" decih Natsu
"Ini tak mungkin. Tanpa kusadari aku telah memandangmu, hingga tanpa kendali aku sudah berubah menjadi semarah ini. Aku membenci perasaan aneh ini. Namun Meski berusaha untuk membencinya, aku tak bisa menyembunyikannya. Tapi aku juga tak dapat mengusirnya. Meskipun harus bertengkar dengan hati dan fikiranku" Kata Natsu dalam hati
"Ini begitu membingungkan. Dalam sekejap kau sudah menciptakan labirin di dalam kepala dan hatiku. Aku mencoba menetapkan pikiranku beberapa kali sehari, tapi ini tak mau pergi dan terus tumbuh. Ini juga tidak akan berhasil meski aku memarahi diriku sendiri" kata Natsu dalam hati
To Be Continue
Ehem . . .
Bertemu lagi dengan Nao di chapter 12. Maaf karena minggu kemarin tidak update. Hehe, hountouni gomenasai.
Jujur saja, minggu kemarin author disibukkan menonton ulang dan tergila-gila dengan film H**** Potter. Apalagi karakter D**** Malfoy? Uh . . . . kakoi! #Hiraukan ocehan ini.
Jadi author tidak sempat menulis. Tapi dengan penuh perjuangan akhirnya berhasil menyelesaikan chapter 12. Kuharap tidak mengecewakan. Awalnya aku ingin memperpanjang wordnya lagi tapi ternyata sudah 9K jadi aku putuskan untuk bersambung.
Maaf jika ceritanya tidak nyambung atau apalah yang jelas author berharap kalian tetap menikmati dan menyukainya.
Terimakasih sudah menantikan dan membacanya. Jangan lupa bersedia memberi komentar, dan author harap jangan flame. Sama-sama mengetik, sama-sama mengeluarkan tenaga lebih baik mereview yang baik-baik. Toh nggak ada ruginya, iya kan?
Terimakasih dan sampai bertemu minggu depan.
Best Regards
Nao Vermillion
