Disclaimer : Boboiboy (c) Animonsta
Warning : Typo, OOC, Genderbend, Dll
Genre : Romance and Adventure
.
.
Chapter 12
"Karena kurasa aku jatuh cinta padamu."
Deg!
Jantung Fang sukses berhenti berdetak. Kalimat barusan menimbulkan keheningan. Tak ada yang bicara. Suasana terasa canggung.
"Ma-maksud mu?" ucap Fang dengan ragu.
Boboiboy menghela nafas. "Aku juga tidak mengerti, aku tidak tahu kenapa setiap menatapmu aku merasa terpesona, merasakan perasaan aneh. Perasaan lebih dari sekedar sahabat."
Fang menelan ludah gugup. Sial, sekarang jantungnya berdetak dengan begitu hebat, sampai ia takut Boboiboy bisa mendengarnya.
Boboiboy memalingkan pandangan, ke apapun itu asalkan bukan dua manik violet yang seperti black amethyst berkilau itu.
"Karena kau waktu itu adalah laki-laki, aku begitu frustasi karena perasaanku. Saat kau marah aku terlalu pengecut untuk memberitahukan kenyataannya karena aku egois, aku tidak ingin dianggap abnormal."
Perkataan Boboiboy dicerna lamat-lamat oleh otak Fang. Semuanya terlalu membingungkan. Terlalu memusingkan.
"Maaf. Aku tahu kau pasti membenciku. Tapi aku sangat ingin meminta maaf. Maaf Fang."
Fang yang tak bersuara sedari tadi membuat Boboiboy tidak tenang.
"Fang?"
"..."
"A-aku me-mencintai mu, F-Fang." Suara Boboiboy begitu pelan namun berhasil menyentakkan Fang.
Fang tidak tahu. Ia sungguh tak mengerti kenapa jantungnya sangat ribut setelah mendengar kalimat itu. Dan apa yang dapat menjelaskan panas yang membakar pipinya?
Tolong beritahu Fang apa yang sedang terjadi pada dirinya...
Apa yang harus ia lakukan sekarang? Apa yang harus ia katakan. Sungguh Fang bingung. Semua ini terlalu menyiksa.
"Apa aku masih punya kesempatan?" tanya Boboiboy harap-harap cemas.
Fang menundukkan kepala. Rambutnya jatuh menutupi wajahnya, menyembunyikan ekspresi yang begitu kacau.
"Terlambat Boboiboy..."
Fang akhirnya menjawab dengan suara pelan.
"Kau sudah tahu aku memiliki orang lain. Aku juga tak bisa pergi dari sini lagi."
Boboiboy dapat merasakan belati yang menusuk tepat kearah jantungnya. Sakit. Tapi dia tahu itu bukan salah Fang. Semua sepenuhnya adalah karena kebodohannya.
Andai dulu ia bisa jujur. Tak egois dan pengecut. Andai waktu itu ia bisa berhenti untuk menyangkal perasaannya.
Ah, penyesalan itu memang selalu di akhir. Boboiboy tak akan mengeluh lagi.
"Ya, aku tahu," jawab Boboiboy dengan suara tercekat. "Aku hanya ingin jujur dan meminta maaf padamu."
Boboiboy memaksakan seulas senyum. Tak peduli betapa hancur perasaanya sekarang. Pemuda itu tetap berusaha meyakinkan dirinya bahwa ini sudah lebih dari cukup. Dia tak akan meminta lebih lagi.
"Tapi kau memaafkanku kan?"
Fang menghela nafas panjang lalu mengangguk. "Kumaafkan."
Boboiboy tersenyum tipis. Sekarang perasaannya bisa sedikit lebih lega. Oke, sangat sedikit sekali. Pemuda itu tetap tidak bisa menyingkirkan perasaan patah hatinya.
"Kuharap kau bahagia."
Fang menundukkan kepalanya, menggigit bibirnya lalu mengangguk. "Ya, terima kasih. Semoga kau bahagia juga." Kalimat terakhir nyaris seperti bisikan kecil.
Fang membalikkan tubuh. Ia memasuki kamar dan menutup jendela. Menyembunyikan wajahnya yang kacau, seberantakan perasaannya saat ini.
Boboiboy menatap punggung Fang yang makin menjauh. Pemuda itu membalikkan tubuhnya juga lalu melompat turun, langsung mendarat di tanah dengan mulus.
"Ini akhirnya ya?"
.
.
Fang menghempaskan tubuhnya di kasur. Menutup kedua mata rapat. Kejadian tadi terulang dikepalanya.
"Karena kurasa aku jatuh cinta padamu."
Sial. Kata-kata itu tak mau pergi. Terus berdengung di telinganya. Seolah ingin menghantuinya sepanjang malam.
Hidupnya sudah cukup memusingkan. Sekarang pengakuan Boboiboy menambah sakit kepala.
Fang memiringkan tubuhnya. Menatap keluar jendela.
"Sudah terlambat. Sudah tidak bisa lagi."
.
.
Yaya menatap Boboiboy dengan mata yang sedikit menyipit. Tingkah Boboiboy aneh. Itulah yang ada di pikirannya. Pemuda itu diam dan melamun terus sedari pagi. Setiap ditanya hanya memaksakan sebuah senyum dan menggeleng.
Yaya cukup pintar untuk menyadari ada sesuatu yang terjadi pada sahabatnya. Yaya mengedipkan mata pada Ying, memberinya kode agar bicara diam-diam. Ying mengangguk dan mendekatinya. Mereka berdua mengambil jarak beberapa meter dari Boboiboy dan Gopal. Berdiri di balik pilar.
"Kau tahu Ying, ada yang aneh dengan Boboiboy sejak pagi," bisik Yaya dengan suara rendah.
Ying mengangguk. "Ya. Dia menyembunyikan sesuatu dari kita. Aku penasaran apa yang terjadi dengannya."
Yaya meletakkan tangan ke dagu. "Apa ya? Dia sepertinya kacau sekali, memang sih keliatannya baik-baik saja, tapi matanya sama sekali tidak bisa bohong."
Ying ikut berpikir. "Seperti orang yang patah hati?"
Yaya mengangguk setuju. "Tapi bukan hanya itu. Ada sesuatu yang benar-benar disimpan rapat dari kita."
Ying menghela nafas lelah. "Kenapa Boboiboy itu tertutup sekali kalau menyangkut masalahnya. Padahal seorang pahlawan juga butuh orang lain untuk membantunya mengatasi masalah."
Yaya mendengus. "Terkadang ia bisa jadi begitu bodoh."
.
.
"Bisakah kau tidak memelototiku setiap detiknya, itu membuat risih tahu," ujar Fang bersungut-sungut sambil menaiki tangga untuk meraih buku-buku di tingkat ketujuh dari rak besar di perpustakaan istana.
Kaizo berdiri menyandar pada rak dibelakangnya, bersidekap tangan di dada sedang matanya menatap tajam punggung sang adik yang menelusuri deretan buku-buku tebal.
"Kalau begitu katakan padaku, apa yang sedang kau pikirkan?" tanya pemuda berambut keunguan tersebut dengan nada serius.
Fang menghembuskan nafas. "Tidak ada yang perlu kau ketahui. Kepalaku memang selalu penuh banyak masalah yang perlu dipikirkan. Dan hei! Aku juga perlu privasi."
Kaizo mendengus. "Kalau kau bukan Ratu dan adikku, kupastikan kau akan kulempar dari atas menara."
"Sayangnya aku adalah Ratu dan adikmu," balas Fang santai sambil mengambil sebuah buku bersampul kulit yang tebal dan terlihat tua. "Tangkap!" serunya sambil menjatuhkan ke bawah buku itu dengan bebas, membiarkan gravitasi menariknya turun.
Kaizo dengan cepat menangkap buku itu. "Kenapa dulu aku tidak menyuruhmu memperbanyak belajar Tata Krama kerajaan?" keluh Kaizo, kepalanya itu baru saja hampir menjadi landasan mendarat sebuah buku seberat setengah kilo. Bisa geger otak dia.
Fang tergelak ringan tanpa sedikitpun menoleh. Matanya sibuk memilah buku-buku yang ia perlu. "Maaf-maaf saja ya, kau paksa pun aku tetap tidak akan mau mempelajarinya. Nih tankap!"
Fang kembali melempar buku dengan tebal yang sama namun kali ini sampulnya beludru merah.
"Terserah kau saja," gumam Kaizo. "Tapi aku tahu kau bohong, ada sesuatu yang kau sembunyikan dariku, ceritakanlah."
Tangan Fang yang tadi ingin menarik sebuah buku lagi berhenti. Menggigit bibir bawahnya dengan gelisah. "Tidak ada kok," bisiknya.
Kaizo mendesah. "Kenapa kau keras kepala sekali?" pemuda itu dengan cekatan menangkap sebuah buku yang lebih tipis dari dua sebelumnya.
"Sudah dari lahir begini," balas Fang cuek.
"Ck, tapi setidaknya jangan menutupi sesuatupun dariku. Aku abangmu. Kau bisa menceritakan masalahmu padaku."
Fang ragu sejenak sebelum berputar dan sedikit menunduk untuk menatap abangnya. Kedua tangannya memegang tangga. "Apa yang kau lakukan kalau terlambat menyadari sesuatu?"
Kaizo menaikkan sebelah alisnya. "Terlambat menyadari?" Fang mengangguk.
Kaizo memasang sikap berpikir. "Aku akan tetap menjalani keputusanku dan berusaha untuk membuatnya menjadi hal yang baik. Aku akan berusaha untuk memperbaiki kesalahan sehingga aku bisa sedikit lebih lega dan tidak menyesal."
Fang tersenyum tipis, gadis itu berbalik dan turun menapaki kembali lantai. Fang mengambil semua buku yang dipegang abangnya dan berjalan menuju sebuah meja yang dipenuhi buku-buku tebal lainnya yang beronggok. Beberapa diantaranya ada yang terbuka. Kaizo hanya menguntit dari belakang.
Fang duduk di kursi dengan lapisan beludru hijau serta kayu jati berukir yang menjadi tubuh kursi tersebut. Ia seperti tenggelam diantara tumpukan buku. Segera dibukanya lembaran dari buku yang baru saja diambilnya.
Dengan serius membaca kata demi kata dan membuka buku-buku lainnya. Sesekali menggoreskan tinta dari pena bulu pada perkamen yang penuh coretan yang diatur sedemikian rupa.
"Sedang mengatur taktik perang?"
Fang mengangkat wajahnya. Lalu mengangguk kecil dan kembali pada perkamennya.
"Aku sudah memperkirakan kekuatan musuh dan pola penyerangan mereka, jadi aku mencari strategi paling efektif. Aku mempelajari dari perang-perang besar dalam sejarah. Menutupi kelemahan dan membuat musuh terpojok."
Kaizo tersenyum tipis. Adiknya benar-benar ratu yang hebat. "Mau kubantu?"
"Boleh."
Fang terus membaca bukunya dan mendengarkan dengan seksama penuturan abangnya tentang beberapa hal penting dalam peperangan. Sesekali terdiam dengan kening berkerut dalam tanda berpikir keras.
Fang sudah memikirkan masak-masak semua ini. Dia tidak ingin terburu-buru dan gegabah. Semua strategi disusun dengan rapi dan sistematis. Kekuatan musuh telah dihitung dengan penuh pertimbangan.
"Haaah..."
Desah Fang sambil menyadarkan punggungnya dan memijit pangkal hidung. Matanya capek setelah berkutat lama dengan tulisan-tulisan di kertas-kertas kusam itu.
"Sudah lelah?"
Fang mengangguk. "Istirahat dulu deh." Gadis itu menutup buku di tangannya. Kaizo meletakkan buku yang digenggamnya ke atas meja. Bersandar ke rak yang berada di punggungnya. Kedua tangan berada didalam saku, memperhatikan adiknya.
Mendecak kecil. Adiknya benar-benar payah dalam berbohong. Ia bilang tak ada apa-apa yang terjadi tapi matanya terlihat kosong dan melamun. Dan yang lebih menyebalkan lagi ia tidak bisa membaca apa yang sedang dipikirkan gadis itu.
"Apa sih yang jadi masalahmu? Pemberontakan? Pertungangan? Atau hal lain?" tanya Kaizo terdengar hampir frustasi.
Fang tersentak kecil dan menggeleng perlahan pada abangnya. "Tidak kok, hanya beberapa masalah pemberontakan. Tenang saja, sedikit lagi semuanya rampung." Fang mengulas senyum hambar.
'Bohong,' batin Kaizo. "Katakan apapun yang kau perlukan dari ku. Aku ingin ketempat Ibu sebentar," lalu Kaizo melangkah keluar dari pustaka. Fang diam ditempat.
"Dan jika sudah siap, ceritakanlah masalahmu," sahutnya berhenti sebentar tanpa menoleh didepan pintu lalu benar-benar keluar menutup pintu kayu.
Fang menundukkan wajah, menghadap lembaran perkamennya dengan senyum getir.
"Aku mencintaimu Fang."
"Aku tidak tahu kapan aku siap untuk menceritakannya, karena aku sendiri belum siap mempercayai hal itu."
.
TBC
.
A/N:
Ai: "Hallo semua... Lama gak ketemu. Baru kelar ujian semester dan menyelesaikan tumpukan tugas yang menggunung karena di tinggalin selama sebulan karena persiapan OSP, jadilah baru bisa nge-update. Sebenarnya mau update kalo chap 14 udah setengah jalan, tapi chap 13 aja belum tamat. Hehe."
Boboiboy: "Kelamaan mah ini namanya. Dan yang sakit hati angkat tangan." /angkat tangan kanan. "Kenapa aku dibikin sakit hati terus?!"
Ai: "Sorry Boboiboy, pengin dikit kasih drama doang hehe."
Boboiboy: "Walau cuma mainin peran tapi tetap aja nyesek kalau ditolak." /pout.
Fang: "Emang kenapa sakit hati? Kan cuman main naskah Ai doang?" /Innocent.
Boboiboy: "Gak, gak papa kok." /pundung.
Ai: /Ngakak guling-guling. /dibuang Boboiboy.
Fang: "Udah woi, bales review gih."
Ai&Boboiboy: "Siap Bos..."
Kyulennychan ; Ai: "duh maaf gak bias asap. - sibuk dengan tugas dan osp…"
cielfuntom69 : Ai : "Yap Akhirnya dia ngaku juga."
Floral Lavender : BoboiBoy : "Dia nolak tuh." /nangis di pojokan.
Kushina-korra95 : Boboiboy : "Yakin deh, abis baca chap ini gak berbunga lagi. Tapi malah galau."
N Rani kudo : Fang : "Ai itu bukan tipe orang yang romantic soalnya. Dia lebih suka komedi dan misteri. Dan entah kenapa nulis genre roman."
Sekian. Ai pergi dulu..
Mohon reviewnya ^^
