.

.

.

.


Kesenangan di Antara Dua Dunia

What's Happening Beside You—

Chapter 12 . Seeing Me

The Creation-Story © Yoshina Vanatala

VOCALOID © Yamaha Coorporation, beserta perusahaan lainnya yang berhak membuat dan memiliki mereka semua


.

.

.

.


Hari ini entah apa yang sedang terjadi. Aku awalnya berencana hanya ingin membeli sebuah hadiah untuk seseorang, lalu setelah itu langsung pulang tanpa mampir ke manapun. Tapi tiba-tiba saja Akaito ingin ikut denganku. Sekeras apapun aku menolaknya, dia selalu menemukan alasan untuk menyangkalnya dan pada akhirnya, akulah yang menyerah.

"Kak, di pusat perbelanjaan dekat stasiun itu, ada pameran gadget loh. Aku mau ke sana, tapi teman-temanku lagi sibuk. Jadi Kakak sekalian temani aku ke sana ya?"

Aku merasa kasihan dengan kata-kata "teman-temanku lagi sibuk" itu, jadi aku memutuskan untuk mengiyakan saja dan membiarkan dia ikut denganku.

Dan di sinilah kami. Berjalan di trotoar jalan sementara berbagai macam kendaraan melintas melewati kami di jalan raya. Aku sudah membeli benda yang ingin kuhadiahkan pada temanku, dan dia juga sudah selesai dengan pameran gadget-nya itu. Jadi kami memutuskan untuk langsung pulang—setelah kuseret dia dari toko kaset VCD yang berada tidak jauh dari tempat pameran barusan. Ya, dia sempat "tersangkut" di tempat itu.

Di trotoar, aku berjalan di lajur kiri, sedangkan dia berjalan di lajur kanan. Aku memperhatikan pemandangan sekitar, dan kemudian pandanganku terpaku pada cara Akaito berjalan.

Ini apa perasaanku saja atau langkah kakinya yang seirama denganku itu memang dia sengaja...

Jadi aku coba untuk mempercepat sedikit langkah kakiku untuk memastikannya, dan dia dengan segera mampu menyamainya. Oh sial.

"Akaito, kau sengaja menyamakan langkah kakimu denganku?" Akhirnya aku protes padanya, dengan suara keberatan. Ya siapa laki-laki yang mau diperlakukan seperti itu? Apalagi aku. Memangnya aku perempuan?

"Hum? Gak tuh," jawabnya santai. Tapi aku tahu dia sengaja melakukannya, berhubung tadi aku sempat menangkap seringai jahilnya meskipun hanya sesaat.

Dan hei, untuk apa aku terlalu mengurusinya? Sudahlah, mungkin ini hanya perasaanku saja yang berlebihan.

Kemudian kami kembali berjalan dengan tenang. Aku memperhatikan penampilannya. Dia mengenakan kaos oblong berwarna krim-hitam, dengan diselimuti jaket hitam-merah. Dia juga mengenakan celana jeans hitam. Dia memakai tudung jaket untuk melindungi kepalanya, dan kedua tangannya dimasukkan ke dalam kantong jaket.

Sedangkan aku hanya memakai kemeja kotak biru dan celana hitam biasa.

Aku melemparkan pandanganku pada sebuah taman yang terpisahkan oleh jalan raya dengan jalanan trotoar yang kami lewati ini. Aku melihat sesuatu yang menarik perhatianku di sana. Ada seorang wanita sedang duduk di kursi taman. Dia memakai sebuah topi jerami. Wanita itu duduk membelakangi kami, sehingga aku tidak bisa melihat wajahnya.

Bukan apa-apa. Pasalnya aku juga melihatnya di pameran gadget tadi.

Di pameran pun, wajahnya sama sekali tidak terlihat. Mungkin karena tertutup topinya, atau apapun. Wanita itu tidak terlihat melakukan apapun. Di pameran, maupun di taman itu. Dia hanya diam, dan diam, seakan sedang menunggu sesuatu. Dan sebenarnya aku tidak begitu mempedulikannya kalau saja aku tidak melihatnya lagi di sini.

Apakah aku salah kalau aku mulai berpikiran bahwa wanita itu diam-diam mengikuti kami? Oke, sebut aku ke-GR-an.

Kami berjalan dan akhirnya berhenti di sebuah perempatan. Apartemen tempat kami tinggal ada di seberang jalan ini, dan kami hanya tinggal menyeberang melewati zebra cross ini untuk bisa sampai di sana. Kami pun diam berdiri menunggu lampu penyeberangan jalan yang masih berwarna merah.

"... tahu gak? Android yang sempat kupegang tadi itu android impianku. Gosh, kapan aku bisa punya android keren seperti itu!"

Saking asyiknya aku melamun, aku bahkan baru sadar bahwa sebenarnya dari tadi Akaito terus-terusan mengoceh membicarakan tentang apa yang dia alami di pameran. Aku mengacuhkannya dan memperhatikan jalanan di depanku.

Eh, tunggu.

Bukannya itu wanita yang kulihat tadi?

Dia terlihat berdiri di antara orang-orang yang juga sedang menunggu lampu penyeberangan menjadi hijau. Aku yang juga berada di antara kerumunan orang pun hanya diam, sambil sesekali melihat ke arahnya.

Kenapa dia sudah ada di sana? Maksudku, sejak kapan? Rasanya pada saat kami berjalan tadi, dia masih ada di taman yang notabene memiliki rute perjalanan yang lebih jauh jika harus berjalan ke perempatan ini.

Dan karena aku tidak mau ketahuan memperhatikannya, aku menoleh untuk melihat Akaito di sampingku.

Dan—apa?

"Akaito, kau kenapa?"

Aku melihat wajahnya sedikit pucat. Keringat dingin menetes dari pelipisnya, meskipun cuaca sedang tidak panas. Rasanya tadi wajahnya terlihat begitu berseri-seri karena sudah berhasil memegang android impiannya meskipun itu bukan miliknya.

Dia bergeming dan malah memperhatikan jalanan di depan. Atau kalau kuperkirakan, dia juga memperhatikan wanita itu.

"Akaito?" Aku memegang pundaknya untuk menyadarkannya. Dan dia pun menoleh padaku dengan raut wajah yang gugup.

"Eh? A-ah, apa, Kak? Aku baik-baik saja."

Dia terlihat seperti ketakutan.

Tapi kupikir-pikir lagi, apa yang seharusnya dia takutkan dari wanita itu? Apakah sebenarnya dia kenal dengan wanita itu? Kalau iya, lantas kenapa dia tidak menyapanya? Atau mungkin wanita itu musuhnya? Atau mantannya?

Lampu penyeberangan yang tadinya merah, sudah berubah menjadi hijau.

Aku dan Akaito berjalan mengikuti orang-orang yang sudah lebih dahulu berjalan menyeberang. Aku melihat wanita itu baru berjalan setelah orang-orang dari barisannya sudah jauh di depannya. Dia berjalan di lajur kiri. Kami juga berjalan di lajur kiri zebra cross dengan Akaito berada di sebelah kiriku.

Dan tiba-tiba saja Akaito menabrakku dari samping dan kini sudah berjalan di lajur kanan zebra cross. Kulihat dia menarik tudung jaketnya untuk menutupi kepalanya.

"Aduh, apa-apaan sih kau—"

Aku tidak menyelesaikan kalimatku karena aku melihat wajah Akaito sudah semakin pucat, cenderung membiru. Aku bisa melihat napasnya sudah mulai tidak beraturan. Dan aku mulai merasakan sebuah gelombang suara yang menyakiti telingaku. Suara dengungan.

Sudah lama aku tidak merasakan sensasi ini. Tapi, kenapa baru sekarang—

Wanita tadi sudah ada di depanku. Tidak, di depan Akaito.

Tiba-tiba semuanya berjalan begitu lambat. Sangat lambat. Seperti ada efek slow-motion.

Aku yang terkejut hanya diam di tempatku. Dari sini, aku bisa melihat wanita itu dengan sangat jelas. Wanita itu berambut coklat kehitaman yang panjang, dan mengenakan gaun terusan berwarna coklat berlengan pendek. Kulitnya entah kenapa berwarna pucat. Dan nyatanya, poni rambut sama sekali bukan alasan kenapa aku tidak bisa melihat wajahnya. Topi yang dia pakai pun tidak segitu besarnya sampai menutupi wajahnya.

Sebenarnya tadi aku takut melihat wajahnya, tapi pada akhirnya, aku beranikan diri untuk melihatnya.

Aku tidak bisa melihat di mana mata dan hidungnya berada. Dan, apakah lubang di bagian bawah wajahnya itu adalah mulutnya?

Jadi selagi aku syok dengan kenyataan barusan, wanita tadi berjalan di sebelah kanan Akaito. Aku tidak tahu apa yang terjadi selagi wanita itu berada di samping Akaito. Yang kutahu, aku mendengar suara samar yang kupikir adalah suara wanita itu.

"Aku tahu kamu bisa melihatku."


.

.

.

.


Aku tidak tahu wanita itu berbicara pada siapa. Setahuku, hantu akan menunjukkan penampakannya dengan sendirinya meskipun kita tidak punya kemampuan untuk melihat mereka.

Apa jangan-jangan yang dia maksud itu adalah Akaito? Maksudnya, Akaito bisa melihatnya? Kenapa dia mengatakannya? Padahal aku juga bisa melihatnya? Dan kenapa orang-orang di sekitarnya sama sekali tidak merespon pada kehadirannya yang ganjil itu?

Aku coba menceritakan ini pada Kamui.

"Jadi dia berbicara begitu padamu?"

Aku mengangguk.

"Seharusnya kau coba foto dia. Siapa tahu kalau aku melihat penampakannya, aku bisa menduga-duga apa yang sebenarnya dia lakukan pada kalian," ucapnya. "Atau kau bisa mendeskripsikan bagaimana penampilan dia?"

"Uhm, wanita itu berambut coklat panjang. Dia memakai topi jerami yang tidak terlalu besar, dan baju terusan coklat berlengan pendek. Dia tidak memiliki mata dan hidung. Kupikir lubang yang tidak memiliki bibir di wajahnya itu adalah mulutnya."

"Hum, lalu?"

"Suaranya seperti suara manusia."

"Hanya itu?"

"Apa maksudmu dengan hanya itu?" Aku bertanya bingung.

"Apa kau melihat kakinya?"

Oh.

Aku baru sadar aku tidak melihatnya. Entah aku yang tidak sempat melihatnya karena gaun yang panjang, atau dia memang tidak memiliki kaki.

Tunggu. Seingatku gaunnya tidak segitu panjangnya sampai menutupi kakinya. Eh, tapi aku tidak melihat kakinya, jadi bagaimana aku bisa berpendapat seperti itu?

"A-aku tidak melihatnya..."

Dia menyeringai, dengan usil. "Dia melayang ya?"

Orang ini suka sekali membuatku takut dengan ucapan-ucapannya.

"Oke, kembali ke awal. Kau bertanya-tanya kenapa dia berucap seperti itu pada kalian?"

"Iya."

Dan dia pun mengangguk-angguk mengerti. Kemudian dia merilekskan duduknya dan menyender pada senderan kursi taman kampus.

"Aku punya dugaan," dia berucap dengan pandangan mengarah ke orang-orang yang sedang berjalan di koridor yang tidak berdinding. "Dia mungkin berbicara padamu. Karena meskipun kau tidak punya kemampuan untuk melihat mereka sepenuhnya, setidaknya kau bisa menyadari kehadiran mereka.

"Tapi aku ingin bertanya dulu. Apa kau sering melihat penampakan mereka sepenuhnya?"

"Uhm, tidak sesering itu." Aku mencoba mengingat-ingat. "Aku lebih sering melihat bayangannya saja, atau hanya sekilas. Aku baru bisa melihat penampakan mereka secara jelas ketika aku sedang bersamamu."

Aku kaget karena tiba-tiba dia tertawa mistis. Dan setelah tawanya reda, dia kembali pada seringai miringnya. "Sudah kuduga. Dia pasti berbicara dengan adikmu."

"Kenapa kau berpikir begitu?"

"Karena, hei. Apa kau tahu adikmu bisa melihat mereka dengan jelas?"

"Aku tidak tahu kalau masalah itu."

"Mungkin setelah pulang nanti, kau bisa bertanya padanya." Dia melihat ke langit. "Siapa tahu dugaanku benar."

Aku pun terdiam. "Memangnya apa dugaanmu yang sebenarnya?"

"Aku menduga, adikmu memang bisa melihat mereka."

Benar juga.

Selama ini aku tidak pernah terpikir seperti itu. Karena ya, Akaito sempat tobat dari penjelajahan hantunya itu. Dan sejak kecil, dia memang tidak punya kemampuan itu. Tapi siapa yang tahu jika setelah dia kembali terjun ke dunia mistis, dia malah semakin menggila?

Bukan tidak mungkin dia mempelajari cara "membuka mata batin" akibat dari rasa penasarannya yang tinggi terhadap hantu.

Aku tidak bisa membayangkannya. Aku tahu apa yang akan terjadi pada seseorang yang membuka mata batinnya. Di awal pembukaan, jika mental tidak kuat, dia akan mati ketakutan melihat begitu banyak bayangan-bayangan yang berkeliaran di sekitarnya. Belum lagi jika banyak dari mereka yang sadar bahwa dia bisa melihat mereka.

Aku tidak pernah terpikir ingin melakukannya, dan tidak pernah menginginkannya. Meskipun aku juga tertarik pada mereka. Dan selama aku bersama Kamui, tiba-tiba saja aku bisa melihatnya secara otomatis. Jadi itu bukan salahku, bukan?

"Hei, Shion..."

"Hah?"

"Kau pernah mendengar rumor bahwa jika kita membicarakan sesosok hantu, berhati-hatilah karena bisa jadi hantu itu sedang ikut mendengarkan kita juga, bukan?"

Jantungku seakan mencelos mendengarnya. "M-maksudmu? Dia ada di sini?"

Dia bukannya menjawab, malah menatap ke suatu arah. Kolam ikan yang sekelilingnya tumbuh pohon besar yang rindang. "Menurutmu?"

Aku ikut memperhatikan arah yang ia tatap. Tapi itu berarti aku menghadap ke matahari pagi secara langsung. Makanya aku langsung menutup mataku karena silau.

Hah, pantas saja dari tadi aku merasakan ada sesuatu yang aneh dengan kolam itu...

"Hei, apa yang membuatmu mengikuti Shion dan adiknya? Apa mereka menarik perhatianmu? Apa kau menyukai mereka?"

Tiba-tiba aku merasa mules ketika membayangkan, Kamui memang benar-benar berbicara dengan sosok yang kutemui kemarin. Apalagi suaranya itu terdengar santai sekali seolah ia sedang berbicara dengan manusia biasa. Jadi aku hanya terdiam, tengkukku terasa dingin padahal cuaca sudah terbilang cerah. Pembicaraan ini sebenarnya tidak begitu mistis tapi ini membuatku gila.

"Sebaiknya kau lupakan saja itu. Mereka punya kehidupan mereka sendiri, begitu juga denganmu. Jangan coba ganggu mereka, oke?"

"Kamui, apa yang kau katakan itu?" Aku mengalihkan pandanganku pada Kamui lagi, yang kini wajahnya sudah abstrak. Maksudku, dia kembali pada seringainya yang menyeramkan. "Dan dia menjawab apa?"

"Heh, dia langsung pergi begitu saja," dia mendengus. "Kupikir kau harus menanyakan keadaan adikmu sekarang. Aku khawatir kalau perempuan itu tidak mau menuruti ucapanku."

Aku langsung menurutinya dan mengambil ponselku dari saku celana.

"Halo, Akaito?" Aku berharap ada yang menyahutiku di seberang telepon ini. Dan untunglah, harapanku terwujud.

"Huh? Ada apa, Kak? Aku sedang ada mata kuliah nih."

"Ugh, sudahlah. Kau baik-baik saja, bukan?

"? Kenapa kau bertanya? Aku baik-baik saja kok."

"Sungguh?"

"Iyaaa... memangnya ada apaan sih?"

"T-tidak. Aku hanya ingin memastikan."

"Hum, yasudah. Kututup ya."

Dan telepon pun diputus. Aku menghela napas lega.

"Dia baik-baik saja, katanya."

"Oh, baiklah." Dia menolehkan kepalanya ke arah lain, dan aku tidak tahu dia sedang melihat apa. "Jujur saja, aku masih penasaran dengan adikmu itu... sebenarnya apa yang sudah terjadi padanya?"

Aku juga merasa penasaran.


.

.

.

.


"Akaito, ada yang ingin kutanyakan padamu."

"Hah? Apa, Kak?" Dia menolehkan kepalanya saat kupanggil. Dia sedang duduk di ruang tengah, dengan tangan yang tadinya sedang mengotak-atik laptop. Melihatku datang, dia langsung menutupnya. Aku tidak mempedulikannya dan duduk di sebelah kiri adikku.

"Uhm. Aku mau kau jawab jujur."

"Iya iya. Akan kujawab dengan jujur. Memangnya ada apa? Kelihatannya serius sekali."

"Err... bagaimana bilangnya ya? Kau masih ingat dengan kejadian kemarin, 'kan?"

"Oh. Saat kita bertemu dengan perempuan muka datar itu?"

Aku mengangguk. "Aku menanyakan itu pada temanku."

"Temanmu yang mana? Kak Kamui kah?"

Aku merasa aneh karena tiba-tiba saja Kamui dipanggil dengan "Kak" oleh manusia macam gini.

"Iya," jawabku. "Dia menduga, mungkin hantu itu berbicara denganku. Tapi katanya, itu sebenarnya tidak mungkin. Karena aku jarang melihat mereka kecuali jika memang hantu itu menampakkan dirinya dengan sengaja, atau karena aku sedang berada di samping Kamui."

"Dan dia juga menduga...," Aku awalnya ragu mengatakan ini, tapi kurasa aku harus mengatakannya, "kau bisa melihat hantu."

Hening.

"Jadi aku ingin tanya. Apa kau memang bisa melihat mereka?"

Hening lagi.

Aku diam dan hanya memperhatikannya. Wajahnya terlihat sedikit terkejut, tapi cepat-cepat ia tutupi dengan ekspresi datarnya. Aku tidak tahu kenapa tapi kurasa dugaan Kamui itu benar.

"Akaito?"

"... iya, aku memang bisa melihat mereka. Lalu?"

Sekarang aku yang terkejut.

"S-sejak kapan? Rasanya dulu kau belum bisa melihatnya." Aku mencoba untuk berbicara dengan wajar, meskipun rasanya seperti berbicara sambil meneguk biji durian.

"Aku baru saja melakukannya." Dia menoleh pada laptop merahnya yang tertutup. "Setelah aku lulus SMA. Aku dipengaruhi oleh temanku yang juga penyuka hantu. Dia bilang, dengan membuka 'mata batin', aku bisa lebih mengenal dunia mereka. Ya setelahnya aku memang bisa melihat mereka, tapi tidak kusangka aku akan terus-terusan diganggu oleh mereka."

Aku hanya diam mendengarkannya.

"Awalnya aku stress karena ke manapun aku berjalan, mereka selalu ada. Setiap kali aku berusaha untuk tidak tahu, mereka selalu tahu bahwa aku bisa melihat mereka. Tapi pada akhirnya," aku menangkap seringai dan sinar matanya berubah menjadi... gila? "Aku terbiasa dengan mereka."

"Tapi apanya yang terbiasa kalau kau masih terlihat takut pada mereka? Terutama pada wanita kemarin? Padahal yang menakutkan dari dia hanya wajah datarnya—secara harfiah—dan... tanpa kaki." Aku sedikit bergidik mengucapkan kata barusan.

Dia sama sekali tidak menjawab ucapanku. Dia malah menundukkan kepalanya. "Karena dulu aku sempat stress, makanya mataku jadi berkantung seperti ini."

Sudah kuduga matanya yang berkantung hitam itu bukan karena dia tiba-tiba menjadi rajin belajar.

"Lalu? Apa kau tahu maksud dari ucapannya kemarin?" Rasa penasaranku masih membumbung tinggi. Aku harus mengorek informasi apapun yang bisa kudapat dari adikku ini sebelum situasi semakin memburuk. Karena kita belum tahu, apa yang akan dilakukan oleh hantu wanita itu setelah diperingatkan oleh Kamui di kampus tadi.

"Iya. Yang dia maksud itu aku."

"Lantas kenapa aku jadi bisa melihatnya juga?"

"Memangnya kau sendiri punya kemampuan itu?"

"Seingatku, aku tidak pernah memilikinya."

"Yasudah. Berarti itu hanya kebetulan."

"Tapi aku masih penasaran, kenapa aku bisa melihatnya!" Lalu aku tersentak. Tunggu, rasanya sekelebat pikiran melintas di dalam kepalaku. Tapi aku tidak tahu apa itu. Dan aku mengacuhkannya. "Dan kenapa bisa-bisanya kau melakukannya!"

Dan aku tahu seharusnya aku tidak sepenuhnya menyalahkannya atas kejadian ini.

"Itu bukan urusanmu kalau aku memilikinya, bukan?!" Dia membentakku.

"Tapi karena itu aku jadi bisa melihat mereka! Aku juga jadi ikut susah, Bodoh!"

Kemudian hening. Kami terdiam secara tiba-tiba. Aku ingin melontarkan kalimat lagi, tapi nihil. Suaraku tercekat di dalam tenggorokanku. Aku mulai merasa bahwa ucapanku tadi terkesan sedikit berlebihan, tapi...

Kuputuskan untuk menarik napas, dan menjadi yang pertama menenangkan diri.

"... sudahlah. Aku ingin tidur." Aku beranjak dari dudukku, dan berjalan ke kamarku. Aku meninggalkannya yang membuang wajah dan membuka laptopnya lagi.

Sebenarnya aku agak merasa bersalah karena sudah membentaknya. Dan seperti apa yang dikatakannya barusan, itu bukan urusanku jika dia memilikinya. Tapi ayolah, aku kakaknya. Jelas aku khawatir dengan keadaannya.

Di dalam kamar, meskipun sekarang aku sedang terbaring di tempat tidurku yang empuk ini, aku tetap tidak bisa tidur. Sosok hantu wanita itu terus-terusan membayangi pikiranku. Segala hal yang terjadi di hari kemarin, dan apa yang diucapkan oleh Kamui hari ini, berputar-putar di dalam kepalaku.

"Aku tahu kamu bisa melihatku."

"Sudah kuduga. Dia pasti berbicara dengan adikmu."

"Kenapa kau berpikir begitu?"

"Aku menduga, adikmu memang bisa melihat mereka."

"Kamui, apa yang kau ucapkan itu? Dan dia menjawab apa?"

"Kupikir kau harus menanyakan keadaan adikmu sekarang. Aku khawatir kalau perempuan itu tidak mau menuruti ucapanku."

Aku terkejut karena tiba-tiba aku mendengar suara dering ponsel yang nyaring. Aku mengambil ponselku di atas bupet di sebelah tempat tidurku dan mendapati nama Kamui di layarnya.

Aku bingung kenapa dia meneleponku malam-malam begini.

"Halo?"

"Kau dan adikmu sedang di mana?"

Aku mengangkat alis. Tidak biasanya suaranya terdengar menggeram seperti ini. "Aku di kamar, dia ada di ruang tengah. Kenapa?"

"Perempuan itu ada di apartemenmu."

Aku langsung terbangun, aku bisa merasakan mataku terbelalak. "Sedang apa dia?"

Tapi sebelum aku mendapat jawabannya, telepon ditutup seenaknya. Aku semakin merasa gelisah, karena aku tahu bahwa yang dimaksud olehnya itu adalah hantu wanita itu, jadi aku segera turun dari tempat tidur dan berjalan keluar kamar—

Aku semakin terkejut karena begitu membuka pintu, aku tidak melihat apapun melainkan kegelapan. Mendapati keadaan ini, aku merasakan darahku mengalir dengan deras di dalam tubuhku. Napasku mulai tidak bisa kukendalikan. Adrenalin dan suara denging ini membuat kepalaku tiba-tiba pusing.

Dan hantu wanita itu pun menampakkan dirinya tepat di depan mataku, dengan "lubang mulut"nya yang menyeringai lebar.

Aku pun kehilangan kesadaran.


.

.

.

.


Aku tersadar dengan tiba-tiba karena mendengar sebuah lagu gothic. Entah setan mana yang berani menyalakannya di saat aku baru saja mengalami hal yang mengerikan.

Dan ternyata setan yang menyalakan lagu itu adalah Kamui yang kini sedang duduk menyender di ruang tengah.

"Oh, kau sudah sadar," ucapnya datar sambil menoleh sekilas padaku. Aku menatapnya dengan bingung, lalu melirik pada jendela apartemenku. Masih malam sepertinya.

"S-sekarang jam berapa?" Aku malah menanyakan tentang itu.

"Jam 5 pagi," ia menjawab dan memperhatikan jam tangannya. "Lama sekali aku menunggu kalian bangun."

"Akaito mana?" Tanpa menjawab keluhannya barusan, aku langsung teringat dengan adikku, berhubung aku sama sekali tidak melihatnya sebelum aku pingsan tadi. "Dan... bagaimana dengan wanita itu? Apa dia sudah pergi?"

"Hei heeei. Santai saja, Shion. Semuanya sudah terkendali dengan baik kok. Aku menunggu kalian di sini, jaga-jaga kalau saja dia tiba-tiba datang lagi."

"Lalu, Akaito bagaimana?"

Dia tidak menjawab, hanya menoleh pada suatu arah di mana aku tidak bisa melihatnya karena terhalang meja. "Dia hanya harus istirahat untuk beberapa hari ke depan."

Karena aku merasa kepalaku sudah agak mendingan, jadi aku memaksa tubuhku untuk bangun dari kasur lipat ini. Dan aku terkejut melihat keadaan Akaito saat ini.

Dia tidur di atas kasur lipat juga, dan berselimut tebal. Dari sini, aku bisa melihat wajah itu terlihat sedikit memar, seperti terkena benturan.

"Tadi aku langsung ke sini karena perasaanku tidak enak. Ketika sampai di sini, yang pertama kutemukan adalah Akaito. Saat kutemukan, dia sudah setengah tidak sadar, dan duduk menyender dinding. Tidak ada luka serius kecuali bekas cakaran di tangan kanannya. Setelah kudekati dan bertanya apa yang terjadi, dia tidak menjawab melainkan diam. Matanya sempat terlihat kosong sebelum akhirnya benar-benar pingsan."

Aku diam mendengarkan. "Lalu? Aku bagaimana?"

"Kau sendiri kutemukan pingsan di dalam kamarmu. Secara fisik, kau baik-baik saja. Dan sepertinya perempuan itu belum sempat melakukan apapun padamu karena aku sudah datang."

Euh, kenapa ini jadi terdengar seperti kasus penangkapan buronan pembunuh berantai?

"Uhm, terima kasih sudah mau datang menyelamatkan kami, Kamui."

"Hei, untuk apa kau berterima kasih? Kita berteman tidak hanya sehari, bukan?" Dia tertawa. "Lagipula, kalau bukan dia yang memberitahuku, aku tidak akan tahu ada sesuatu yang terjadi di sini."

"Siapa dia?" Aku bertanya. Selain pada manusia sinting ini, aku harus berterima kasih juga pada temannya ini.

Tapi dia malah tidak mempedulikanku. Dan terus meracau sendiri. "Yang pasti aku terpaksa tinggal di sini sampai nanti agak siang."

"Kau harus tahu, gara-gara dia, aku jadi agak trauma dengan wanita bertopi." Kemudian aku tertawa pelan. Sudahlah, mungkin ada saatnya nanti aku akan tahu siapa orang yang dia maksud tadi.

"Asal jangan sampai jadi homo saja, hahaha."

Sialan orang ini. "Lalu? Bagaimana dengan wanita itu?"

"Hmm," dia bergumam, dan menyeringai. "Awal aku ke sini, dia tidak terlihat di manapun. Lalu aku meneriakinya, 'Kuperingatkan sekali lagi. Kalau kau mengganggu mereka lagi, aku pastikan kau akan terbakar oleh api Neraka yang panas itu.' Kemudian aku mendengar suara aneh seperti goresan di dinding."

Orang ini sungguh gila.

"Trus?"

Dia menunjuk dinding di sebelahnya. "Ini jawabannya. Entah dia dapat pensil darimana."

Aku pun membaca tulisan yang acak-acakan itu. Dan dalam seketika mematung.

BUKANNYA ITU KAU?


.

.

.

.


To be continued.


.

.

.

.


15062015. WHBY12. YV