11

BERBALIK ARAH

.

.

.

"Kalian berdua saling tergantung sekali," Seulgi menguap di tempat tidurnya, matanya menyipit ke arah Soojung yang duduk di ambang jendela kaca.

"Cuma mau memastikan dia aman." Soojung mengawasi dua sosok kesatria berbaju zirah, satu pendek satu lagi tinggi, berdiri di kebun labu dekat gerbang hutan.

"Kau kedengaran... seperti... pangeran..." Seulgi meracau sampai napasnya berat, tidak terusik oleh sorakan marah yang menggema di luar sana.

Soojung hampir tidak bisa melihat asal suara itu di balik pagar tajam, hanya kelebat-kelebat bayangan para pangeran, wajah semrawut, dan pakaian acak-acakan. Di dunia ini tidak pernah ada yang pasti. Pangeran pun bisa menakutkan seperti gergasi. Putri bisa menjadi penjahat. Sahabat erat bisa jadi musuh.

Mata Soojung berair. Setelah dia pulang, dia hanya ingin menjadi Baik. Dia memang tidak sempurna–tentu saja, tapi dia sudah bersikap sebagai sahabat sejati Kyungsoo dan menjadikannya panutan. Setiap hari dia berjuang untuk menepis jauh-jauh pikiran Jahatnya, amarah, dan badai yang berkecamuk di dalam hatinya. Lalu, apa balasan yang didapatnya? Dikhianati demi seorang pangeran, dicap penyihir, dihindari seperti penyakit. Kini Kyungsoo tinggal satu ciuman lagi dari membuatnya terlantar sendirian selamanya. Soojung mengusap air matanya, menyedot ingus. Sekarang siapa yang Jahat?

Yah, kadang Soojung tidak sadar kalau dulu, sebelum mereka diculik dari Jangho, Kyungsoo sudah merasakan itu semua.

Berjam-jam sudah, tapi Kyungsoo dan Luna belum bergerak dari kebun labu, bertahan di antara ancaman membabi buta dari para pangeran serta serangan senjata mereka yang musnah ditelan batas pelindung di atas pagar. Tengah malam tiba, kemudian pukul dua, pukul empat...

Kyungsoo sama sekali tidak bergerak ke arah kastel Kai.

Akhirnya, bulan nyaris tenggelam dalam pendar matahari baru dan Kyungsoo tetap di tempatnya. Soojung memerah malu. Sekolah ini membuat mereka saling tidak percaya. Setelah kejadian saat pelajaran Kelompok Hutan, Kyungsoo pasti sadar. Wajar bila mereka saling meragukan satu sama lain. Namun Soojung yakin kalau persahabatan mereka lebuh kuat dari keraguan. Tak lama lagi mereka akan bersungguh-sungguh dan saling membuat permohonan untuk bisa bersama, siap meninggalkan tempat ini. Sebentar lagi mereka akan pulang seperti yang dijanjikan Kyungsoo, Kai akan pergi selamanya.

Saat menyandarkan kepalanya ke kaca, Soojung sadar betapa lelahnya dia. Selama dua hari berturut-turut, adrenalin sudah membuatnya terus terjaga. Sekarang pikirannya terpecah menjadi potongan-potongan dan mengalir ke dalam mimpi.

Tangannya yang berbalut sarung tangan mencabut lumut dari pusara yang terlantar, kupu-kupu terukir di batunya, dua angsa terpahat pada dua pusara di sampingnya; satu angsa putih, satu angsa hitam–sehitam bayangan yang dihancurkan si kembar Baik, sehitam bulu-bulu bangkai yang tersebar ke tanah, sehitam langit yang ganjil–

Mata Soojung terbelalak seketika. Langit di atas Hutan Biru gelap pekat–obor-obor padam, sisa sinar bulan dan sinar baru mentari sirna. Para pangeran itu berteriak kebingungan sebelum akhirnya obor dan sinar kembali, membuat mereka kelimpungan menyaksikan gerhana yang baru saja berlalu. Namun Soojung tahu itu sama sekali bukan gerhana. Dia pernah menyaksikannya pada Uji Dongeng tahun lalu.

Itu mantra Gelap. Mantra kesukaan Kyungsoo.

Dia melonjak bangun, tapi kedua kesatria itu maish berada di tempat mereka. Soojung mengerang dan menjatuhkan diri ke tempat tidur. Cukup sudah paranoidnya. Waktunya tidur. Dia perlu tidur. Soojung menarik selimut, tapi keraguan melandanya. Perlahan dia kembali ke jendela.

Kesatria yang lebih tinggi kehilangan sebelah sepatu bajanya. Sepatu yang hilang itu jelas terlihat beberapa kaki dari pemiliknya. Namun baik si pendek maupun si tinggi tidak berusaha mengambilnya.

Soojung menyipit, dan bisa lebih jelas melihat Kyungsoo yang kehilangan sepatu itu kesulitan berdiri, sementara Luna berusaha menopangnya. Semakin Luna berusaha menolong, semakin Kyungsoo menggapai-gapai tanpa hasil, hingga akhirnya kedua kesatria itu jatuh ke tanah. Pedang Luna terlepas dari sarungnya dan dia memekik ketakutan. Luna melompat untuk menangkapnya, tapi terlambat. Kyungsoo jatuh tertelungkup lebih dulu menimpa pedang itu, ambruk mengenaskan dan menghantam ujung pedang, lehernya tertebas.

Soojung membuka mulut untuk menjerit menyaksikan kepala Kyungsoo menggelinding keluar dari helm–

Kepala yang berupa labu biru besar.

Soojung membeku.

Luna perlahan menengadah, berlumuran isi dan biji labu.

Darah dalam nadi Soojung menggelegak. Dia tertipu.


"Pada saat Luna mengembalikan cahaya seperti semula, kau kira-kira sudah sampai di Semak Pirus," Victoria berulang-ulang mengarahkan Kyungsoo. "Soojung tidak akan bisa melihatmu di antara pohon-pohon itu. Bermogrif saja jadi sesuatu yang kecil dan pergi secepat mungkin ke Sekolah Laki-laki."

Saat cahaya kembali terang, Kyungsoo malah sedang berlari kembali ke kastel perempuan. Alasannya karena Kyungsoo masih belum yakin sihirnya cukup dipercaya untuk bermogrif, mengingat kejadian di pernikahan Yunho. Alasan lainnya, Sekolah Laki-laki pasti sudah diberi pelindung dari siapapun yang masuk dengan sihir, mengingat bagaimana anak-anak Ever menghabiskan sepanjang tahun lalu untuk pelajaran Kekesatriaan. Dan yang paling utama, dia yakin dengan apa yang didengarnya. Apapun yang dikatakan para gadis penyihir itu, dia yakin sepenuh hati pada Kai.

Menyelinap kembali ke kastel perempuan tanpa sepatu, Kyungsoo tahu hanya ada satu jalan pintas menuju Jembatan Separuh Jalan. Sekawanan kupu-kupu yang berpatroli terbang keluar dari lobi sebelum Kyungsoo bergegas sembunyi di belakang tugu potret-potret murid perempuan dan menyelinap ke tangga Honor, melewati kamar-kamar asrama yang gelap, ruang-ruang kelas permen, dan perpustakaan dua lantai Virtue, lalu keluar dari pintu beku menuju atap.

Tanaman pagar di Margasatwa Guinevere berkilau hijau sejuk di bawah sisa sinar bulan, menerangi lekuk tubuh langsing sang ratu di setiap adegan. Meskipun dia masih sangat kecil ketika ibu Soojung meninggal, dia ingat betul ibu Soojung memiliki pinggul langsing dan tubuh kurus yang sama; berbeda dengan Haneul atau ibu-ibu lainnya di Jangho yang bertahan hidup dengan memakan daging dan kentang. (Sooyeon tidak terlalu gemuk dan tidak terlalu langsing, jadi Kyungsoo pikir ibunya adalah pengecualian.) Jika terlihat bersama Haneul Si Buncit itu, mereka pasti jadi sepasang sahabat yang kelihatan aneh, pikir Kyungsoo.

Persis seperti dia dan Soojung.

Kyungsoo melumat rasa bersalahnya.

Berapa kali kau mau melakukan kesalahan yang sama?

Dia memaksa dirinya terus berjalan, matanya awas mencari-cari air. Itulah portal rahasia ke jembatan yang menghubungkan kedua sekolah. Temukan adegan yang menampilkan air, pikirannya memburu.

Di seberang atap, tiba-tiba sebuah obor menyala terang dari lantai tertinggi Menara Charity. Kantor Dekan. Apa Dekan tahu dia kabur dari tugas jaga malam?

Kyungsoo menahan rasa paniknya dan terus menyusuri pagar tanaman–Guinevere memerintah di singgasananya, Guinevere bersama para Kesatria Meja Bundar, Guinevere memenggal kepala raksasa dengan pedangnya–seolah dia memimpin Camelot sendiri, pikir Kyungsoo yang tiba-tiba merasa dirinya membela ayah Kai. Sambil terus mengawasi kantor Dekan, Kyungsoo tidak menemukan sedikitpun tampilan air di sana. Saat dia menyerah dan baru akan membalikkan tubuhnya, didengarnya suara gemericik air mengucur dangkal di balik dinding berduri yang terletak di paling ujung.

Di kolam yang memantulkan cahaya gemintang, Guinevere memandikan bayi Kai yang memakai baju baptis. Kyungsoo merasa tersentuh melihat pangerannya tak berdaya dalam gendongan ibunya–sampai dia melihat wajah sang ibu. Meskipun tanaman pagar itu membuat detail rautnya lebih lembut, jelas terlihat bagaimana perasaan mantan ratu itu terhadap putra yang baru dilahirkannya. Sambil melotot pada Kai, mulut Guinevere menggeram penuh kebencian.

Dia bukan sedang memandikannya. Dia sedang menenggelamkan anaknya.

Kyungsoo memucat. Apapun yang terjadi malam ini, apapun yang terjadi dalam kisahnya setelah ini, Kai tidak boleh melihat ini selamanya. Dia berputar untuk melihat sinar obor memancar di ruang Dekan, lalu mendengar langkah sepatu berkeletak-keletuk cepat. Sambil berdoa, Kyungsoo menceburkan diri ke dalam kolam Guinevere, seketika merasakan serangan cahaya putih yang panas.

Sekejap kemudian, dia berdiri dalam keadaan kering di depan Jembatan Separuh Jalan, terengah lega. Namun ketika dilihatnya jalur batu sempit dan panjang menuju Sekolah Laki-laki, kelegaannya sirna.

Kini dia tahu kenapa gadis-gadis penyihir itu melarang melewatinya.


Bulu-bulu pink Soojung berkelepak diembus angin ribut selagi wujud elangnya terbang menyebrangi langit ke Sekolah Laki-laki. Sejak insiden kucing itu, dia memang takut untuk bermogrif, tetapi kemarahannya mendepak segala rasa takut. Dia harus sampai di tempat Kai berada sebelum Kyungsoo menciumnya.

Tetes air mata kemarahan membasahi sayapnya. Dia sudah kehilangan ibu dan pangerannya. Dia tidak bisa kehilangan sahabatnya juga. Kenapa semua orang yang dicintainya ingin meninggalkannya?

Aku tidak bisa kehilangan Kyungsoo, dia berdoa. Dia satu-satunya orang yang bisa membuatnya tetap Baik. Satu-satunya orang yang bisa mematikan si penyihir.

Jangan ambil Kyungsoo.

Sambil berkaok sedih, dia menerjang ke arah kastel laki-laki yang merah bergerigi.

KRAK!

Seluruh tubuhnya tersengat listrik dan terjungkir di langit. Soojung mengepak-ngepakkan sayapnya, tapi tubuhnya mati rasa.

Pendeteksi Mogrif.

Saat meluncur tajam ke tepi danau, bulu-bulunya mengelupas, paruhnya berubah menjadi bibir, wujud tubuhnya kembali, segala usaha kembali menjadi burung terhalang–sebelum dia terjerembap di rerumputan busuk, 50 kaki dari ujung terowongan Kejahatan. Erangannya tersumbat lumpur, kedua kakinya lengket dan dingin. Sejenak dia bersyukur pendeteksi itu mengembalikan wujudnya tanpa kesulitan, mengingat kejadian di kelas Lady Kwon. Kemudian, kenyataan mengadangnya.

Dia terkapar tanpa pakaian di atas lumpur, di halaman Sekolah Laki-laki.

Betapa bodohnya dia! Tentu saja mereka memasang pendeteksi mogrif! Kai tidak akan membiarkan menaranya tanpa perlindungan!

Soojung terlalu takut untuk bergerak ataupun mendongak. Berapa lama lagi anak-anak laki-laki itu akan datang? Sekarang bagaimana dia mau menghentikan Kai dan Kyungsoo? Bagaimana caranya dia bisa menemukan pakaian?

Soojung menahan diri agar tidak pingsan atau muntah. Dia hanya perlu menemukan sulur atau perdu yang lebat. Dia pasti bisa memadukannya menjadi sesuatu yang layak pakai. Dia mendongak ke daratan lumpur dengan penuh semangat, lalu terpaku.

Dia telungkup di atas pelepah hitam yang mengerut dan bersisik seperti kulit ular, tapi ini dua kali lebih tebal dan panjang. Perlahan matanya beralih pada kulit ular lainnya yang terletak beberapa kaki di hadapannya. Lalu dua lainnya lagi... Soojung mengangkat kepalanya. Dia dikelilingi kulit ular, tak terhitung jumlahnya.

Dalam kegelapan, dilihatnya para pemilik kulit bangkit dari lumpur, mata hijau dan kuning terangnya menyala di bawah kepal hitam gepeng tak keruan, batang tubuhnya yang serupa belut mencuatkan duri di setiap sisiknya. Soojung mundur kelabakan, sia-sia karena lebih banyak lagi yang muncul di belakangnya. Mereka melengkung tinggi, mengepungnya dalam lingkaran penuh; depan belakang dan atas bawah. Dengan seringai yang sama, mereka menjentikkan lidah tanpa bersuara, dan terbeliak ke arah si penyusup, menunggunya bergerak.

Hanya satu gerakan yang bisa dilakukannya.

Soojung menjulurkan jari pendarnya dan ular-ular itu menerjang seketika, mematok tubuhnya ke tanah dalam posisi telentang dan menyerah. Duri-duri menancap ke pergelangan tangan dan kakinya selagi ular-ular itu berdesis lantang, membungkan jerit kesakitan Soojung. Dia mendengar suara anak-anak laki-laki dari terowongan setelah bunyi tanda bahaya. Dia pun tahu tamat sudah riwayatnya.

"Kenapa aku tidak boleh membunuhnya?!" seru suara cempreng.

"Kembali berjaga di pintu masuk!" bentak suara yang lebih berat.

"Tapi aku duluan yang mendengar suara ular-ular itu!" rengek si suara cempreng.

"Diam!" bentak si suara berat. "Teman-teman, siap senjata!"

Soojung mencakar tanah. Kumohon... aku tidak mau mati... Kemudian dilihatnya kilatan pedang dan bayangan-bayangan di terowongan. Dalam beberapa detik mereka akan sampai.

Tiba-tiba rasa sakitnya hilang, sebuah ingatan datang kembali seperti lagu.

Kulit ular di tangannya sementara Profesor Moon menjelaskan kegunaan ajaibnyadalam pelajaran Uglifikasi, suara tawa Jahatnya saat dia menyelimuti dirinya dengan kulit ular yang sama, jeritan anak-anak Ever dan Never ketika dia menghancurkan kastel Kebaikan.

"Tapi aku ingin membunuh Soojung!" kata suara cempreng, memancing suara tawa yang lainnya.

"Membunuh katak saja kau tidak becus. Apalagi cewek yang membuatmu lembek?" ejek si suara berat.

"Tidak ada yang membuatku lembek!"

Jari pendar Soojung berkedip ketika duri-duri ular menyayat lengannya. Dia terengah kesakitan selagi berusaha memvisualisasikan mantranya.

"Sst! Aku mendengarnya!"

Kulit-kulit ular bergetar di sekelilingnya–

"Bersedia... siap..."

Ratusan kulit ular terangkat ke atas ular-ular itu–

"Serang!"

Empat anak laki-laki bertubuh besar bertudung merah dan berseragam hitam berlari dari terowongan, pedang mereka terhunus.

"Sial," umpat si pemimpin bersuara berat dan kekar itu, lencana emas tersemat di atas lambang ularnya. Di tanah berlumpur, ular-ular kebingungan dan saling mendesis. Tidak ada objek yang mereka patok ke tanah. Si pemimpin merapalkan mantra dan ular-ular itu pun kabur sambil memekik. Dia melepas tudungnya, memperlihatkan rambut spike hitam, pipi menonjol seputih hantu, urat-urat nadi biru yang berdenyut, dan mata lembayung yang sadis. "Ular tolol."

Soojung menahan sakit bekas tusukan duri terasa begitu perih, tak terlihat di bawah gundukan kulit ular.

Laki-laki bertudung yang ceking tergopoh belakangan dari terowongan. "Kalian kira aku lembek?" ujar si cempreng sambil melepas tudungnya. "Tunggu saja sampai aku memenangkan harta itu! lihat saja!"

Soojung menahan napas. Hort tumbuh pesat selama kepergiannya. Bulu-bulu mulai tubuh di dagunya, rambut hitamnya bertambah lebat, dan sepasang mata kecil yang tidak lagi tampak seperti mata seorang bocah.

"Akan kubeli peti mati untuk ayahku. Sudah dua tahun dia menunggu di kuburan. Peter Pan sendiri yang membunuh ayahku." Hort memandang marah ke tanah berlumpur yang kosong. "Lihat saja nanti, Mino! Aku sendiri yang akan membunuh Soojung. Kau belum tahu bakat penjahatku."

"Berubah jadi manusia serigala selama tiga detik dalam sekali waktu?" tanya Mino, para begundalnya terkekeh.

"Itu dulu! Sekarang aku sudah bisa bertahan lebih lama! Lihat saja nanti!" Hort meraung, mengejar mereka ke dalam terowongan.

Soojung mengembuskan napas lega saat melihat mereka pergi–

Mino berputar, mengarahkan pedangnya. Soojung diam terpaku saat Mino menatap ke tempat dia terbaring telanjang, mata lembayungnya menyipit.

"Ada apa, Kapten?" tanya begundalnya.

Mino menyimak keheningan di sana.

"Ayo," ujarnya kemudian, memimpin pasukannya ke kastel laki-laki, Hort terbirit-birit di belakang.

Tidak ada yang melihat sekelebat sinar pink di tanah berlumpur di belakang mereka, kulit tembus pandang berubah menjadi jubah tembus pandang.


Jembatan Separuh Jalan sudah diledakkan.

Dari semua menara, Kyungsoo hanya bisa melihat kabut berputar-putar menutupi bagian tengah jembatan. Setelah berdiri di antara kabut pekat dan dingin, dia menatap serpihan batu di antara lubang yang menganga. Jembatan itu dihancurkan oleh kekuatan yang begitu besar sehingga pecahan dari kedua sisinya melengkung tak berdaya ke arah parit merah-jingga di bawahnya. Ujung potongan kedua sisinya mencuat di antara moncong-moncong putih crog yang mencium keberadaan seorang gadis.

Betapa bodoh dirinya karena telah mengabaikan peringatan gadis-gadis penyihir itu. Kyungsoo geram, lalu berbalik cepat dalam kabut menuju portal. Dia mendongak ke langit berguntur. Waktu yang dimilikinya kurang dari satu jam untuk menemukan jalan lain yang bukan saluran air, parit, atau–

Seekor kupu-kupu tiba-tiba muncul dari balik kabut ke arahnya dan memekik. Kyungsoo menyerangnya dengan jari pendar namun luput, lalu kupu-kupu itu meluncur sambil mendengking menuju portal, kembali pada Dekan.

Kyungsoo terpaku ketakutan. Jika dia terpergok berada di sini, maka kisahnya dan Kai berakhir sebelum dimulai. Soojung si Penyihir akan membunuh mereka berdua.

"Sebrangi jembatan," begitu perintah Kai.

Tidak bisa, pikir Kyungsoo. Panik menyerangnya hingga gemetar.

Sebrangi jembatan.

Kyungsoo menatap lubang bekas ledakan. Tahun lalu, di luar dugaan, Kyungsoo bisa melakukan sesuatu yang tidak bisa dilakukan siapapun; berulang kali pindah tempat dari Kebaikan ke Kejahatan. Kai yakin dia bisa melakukannya lagi.

Sebrangi.

Dengan jantung berdebar, Kyungsoo berjalan ke pecahan lubang. Saat kaki telanjangnya menekuk di ujung tebing batu, dia mengulurkan tangannya, berdoa supaya dirinya tidak salah.

Hanya ada udara dingin dan kosong.

Dengan rahang merapat, Kyungsoo mengulurkan tanagnnya lebih jauh lagi. Kaki kanannya meninggalkan lantai batu, lagi-lagi hanya angin yang menerpa jemarinya dengan sia-sia. Keringat meluncur ke tulang rusuknya. Lebih jauh sedikit, maka dia akan jatuh ke dalam parit. Crog dengan moncong bergerigi mendebur dan mencaplok di ombak merah, berebut incaran mereka.

Air mata panik merebak, dia sadar Dekan akan segera datang. Hanya satu pilihan yang bisa diambilnya; memercayakan seluruh hidupnya pada Kai.

Kyungsoo mengembuskan napas pelan-pelan. Kaki kirinya bergeser ke tepi sementara tubuhnya mencondong ke kanan, berserah pada keyakinan. Jemari kaki Kyungsoo bergeser lebih jauh ke batu berlubang, disusul telapak dan tumitnya. Kedua tangannya menggapai-gapai, namun tetap tidak ada apa-apa. Kini kakinya sudah meninggalkan tepi; dia jatuh ke parit sambil menjerit, tangannya bergerak-gerak tanpa tujuan, menggapai–

Sesuatu.

Telapak tangan Kyungsoo menyambar pembatas yang keras dan tembus pandang lalu dia terpental ke belakang, jatuh ke sisi Jembatan sekolah perempuan.

Di pembataas tembus pandang itu, pantulannya perlahan muncul, wajahnya sendiri memandangnya tajam, begitu jernih.

"Gadis dengan Gadis, Pemuda dengan Pemuda.

Kembalilah ke kastelmu, sebelum kau dihancurkan."

Kyungsoo membelalak, terkejut.

"Sudah kubilang dari tahun lalu, kan? Baik dengan Baik, Jahat dengan yang Jahat. Tapi kau pikir kau lebih baik daripada peraturannya. Sekarang lihat sendiri akibatnya pada dirimu." Pantulannya tersenyum miring.

"Biarkan aku lewat," desak Kyungsoo, menoleh ke belakang dengan cemas, berjaga-jaga kalau Dekan datang.

"Kita akan lebih bahagia di sini. Cowok merusak segalanya," jawab pantulannya.

"Seorang penyihir bisa membuat lebih banyak kerusakan," sergah Kyungsoo. "Aku mau menyelamatkan kedua sekolah–"

"Jadi sekarang semuanya tentang Baik, ya?" Wajahnya tersenyum sinis. "Bukan soal cewek yang menginginkan seorang cowok?"

"Kubilang biarkan aku lewat."

"Coba saja sebisamu. Kau tidak akan bisa mengelabuiku lagi," kata pantulannya. "Jelas-jelas kau ini Cewek."

"Cewek itu apa?" tanya Kyungsoo.

"Cewek itu Perempuan."

"Perempuan itu yang bagaimana?"

"Segalanya yang bukan Laki-laki."

"Lalu Cowok itu yang bagaimana?"

"Jelas, segalanya yang bukan Cewek."

Kyungsoo mengerutkan kening. "Tapi kau belum memberitahuku apa itu Laki-laki atau Perempuan."

"Yang kutahu, seseorang yang membuat permohonan untuk bersama seorang Laki-laki pasti seorang Perempuan," jawab pantulannya penuh percaya diri.

"Kenapa begitu?"

"Karena yang dimohonkan Perempuan memang Laki-laki dan yang dimohonkan Cowok adalah Cewek. Kau membuat permohonan untuk bersama Cowok. Jadi, kau pasti Cewek. Kau pasti Perempuan. Sekarang kembalilah ke kastelmu atau–"

"Kalau yang mencium Cewek berarti apa?"

"Mencium Cewek?" kata pantulannya, mendadak was-was.

"Mencium seorang Cewek untuk menghidupkannya kembali seperti yang dilakukan para pangeran terbaik," Kyungsoo melotot.

Pantulannya balas melotot. "Jelas-jelas Cowok."

Kyungsoo tersenyum kecil. "Tepat sekali."

Pantulannya terkesiap, malu karena tertipu lagi. Lalu menghilang.

Kyungsoo memandang parit merah-jingga yang bergolak di bawha celah tinggi yang mematikan. Gemetar, dia melangkahkan kaki telanjangnya ke udara dan kali ini terasa menapak pada sesuatu yang tembus pandang.

Kyungsoo memperhatikan dirinya sendiri, melayang secara ajaib di atas buaya-buaya yang menggertak marah. Masih tak percaya, dai melangkahkan kakinya lagi di celah itu, lalu selangkah lagi, sampai dia tiba di sisi jembatan batu yang lain. Terjawab sudah panggilan Kai.

Sekarang Soojung tidak bisa memergoki mereka.

Rasa takut menyelinap pergi dari dada Kyungsoo, menyisakan tempat untuk harapan. Kai sudah menyelamatkannya dari penyihir itu, dan sekarang dia yang akan menyelamatkannya.

Perutnya serasa tergelitik memikirkan pertemuan mereka sebentar lagi. kyungsoo berlari ke kastel laki-laki, bersenjatakan keyakinan mendalam pada pangerannya.


Jauh di belakang, di kegelapan gerbang lengkung biru Sekolah Perempuan, mata hazel Dekan Seo menyipit ke arah kabut. Ketika melihat muridnya menghilang ke menara lapuk itu, dia tetap diam.

Soojung mengejar Kyungsoo. Kyungsoo mengejar pangerannya.

Sepasang sahabat yang dulu tak terpisahkan kini tercerai-berai.

Dekan berbalik dan berjalan tenang, kembali ke kastelnya.

Hati-hati bila membuat permohonan, Anak-anak.

Deretan gigi putih bersihnya tampak berkilau saat dia tersenyumm lebar dalam gelap.

Sungguh, berhati-hatilah bila membuat permohonan.

.

.

.

Go read the next chapter! ;w;

Bagi saya, Kyungsoo x Penghalang Jembatan itu momen terfav dari update kali ini. LOL.