BOUND TO GET BURN
Minseok tampak cemas saat duduk di ruang tunggu Boram Hospital. Ia juga iri dengan pemandangan bahagia di sekelilingnya yang dipenuhi oleh para pasangan yang tampak mencintai satu sama lain. Ia hampir menangis dan berteriak miris saat melihat ada seorang pria yang tampaknya baru keluar istirahat kerja dan pria itu langsung menghampiri dan mencium perut seorang wanita, mungkin istrinya, dengan penuh cinta. Jongdae yang melihat arah tatapan Minseok langsung menggenggam tangan gadis itu.
"Jung Minseok" panggil seorang suster.
Minseok berdiri dan menuju ke ruang pemeriksaan itu sendiri. Minseok menyadari, banyak mata yang memandangnya dengan tatapan aneh dan meremehkan. Bahkan, ada yang tidak segan-segan untuk berbisik-bisik pada suaminya, menggunjingkan kesendirian Minseok. Gadis itu berusaha menulikan kupingnya.
Ia disambut oleh seorang anak kecil berusia sekitar 5 tahun yang mengenakan jas putih khas dokter. Anak itu membawa sebuah boneka lumba-lumba kecil dan berlari menuju meja yang berada di belakang ranjang yang biasa digunakan dokter untuk memeriksa pasiennya. Pandangan Minseok bertemu dengan dokter yang Minseok yakini bernama dokter Lee.
Dokter itu tampak seperti seseorang yang berumur kurang dari 35 tahun. Minseok membaca name-tag dokter itu. Disana, tertera nama Daniel A Lee. "Kenapa nona?" tanya dokter itu sambil tersenyum ramah. "Tidak, hanya takut salah masuk kamar periksa." Dokter itu menganggukkan kepalanya, "namanya Haru, anakku yang paling kecil. Usianya masih 5 tahun." jelas dokter Lee setelah melihat Minseok yang tidak bisa melepaskan pandangannya dari Haru. Ia mulai melihat rekam medis Minseok yang sebenarnya hanya berisi informasi standar karena Minseok memang baru pertama kali ke rumah sakit ini.
"Nona Jung Minseok, janji dibuat atas nama Jung Jongdae, adik anda?" Minseok mengangguk. "Baik, aku tau kau sedikit 'berbeda' dengan pasien lain. Tapi tenang saja, prosedurnya sama seperti muggle. Karena pada saat dalam kandungan janin belum bisa menunjukkan bakat mereka yang sebenarnya. Yang dilakukan di Asklepios hanya sejenis penghitungan DNA. Dan, tidak ada yang bisa memilih takdir, kan? Penghitungan DNA tidak selamanya benar. Buktinya ada yang seharusnya anak A memiliki potensi untuk menjadi Metamorphmagi tapi ternyata yang mendapat kemampuan istimewa itu anak B." jelas dokter Lee.
Minseok mengangguk.
"Baik, kapan terakhir anda melakukan sexual intercourse?"
Minseok menggeleng. "Saya tidak ingat, dok."
Dokter itu mengerti akan ketidaknyamanan Minseok saat ditanyai tentang kehidupan seksnya. Jadi, ia tidak berusaha menekan gadis itu lebih jauh lagi. "Baik, kalau begitu kita mulai saja pemeriksaannya."
Dokter Lee mulai melakukan pemeriksaan standar bagi ibu hamil. Minseok hanya memperhatikan bagaimana dokter itu memeriksa dirinya dengan sangat teliti. Sesekali dokter Lee akan menuliskan sesuatu di kertas dan mulai memeriksa dirinya lagi. Anak gadis kecil yang membawa boneka lumba-lumba tadi duduk di pojok ruangan, memperhatikan pekerjaan dokter itu, yang Minseok tebak adalah ayahnya. Ya, hal itu mudah terlihat dari kemiripan wajah keduanya.
"Perkiraanku usia janinmu sudah berumur 6 minggu. Kehamilanmu masih rawan sekali. Kau harus menjaga diri baik-baik, jangan terlibat perkelahian dengan temanmu di sekolah. Kau sudah memasuki tahun terakhirmu, kan? Berhati-hatilah pada ujian yang mengharuskan dirimu berduel ataupun pelajaran ramuan. Kau tau kan efek dari 2 hal itu? Jaga dirimu dan kandunganmu baik-baik."
"Tunggu... Bagaimana anda bisa tau kegiatanku di sekolah? Anda nampaknya hapal sekali dengan kurikulum di Hogwarts?" tanya Minseok.
"Kau tau aku ini squib, kan?"
Minseok mengangguk.
"Kau tidak tau kalau istriku penyihir, dan sialnya bakat sihir itu menurun pada dua anak gadisku. Kurasa kau seharusnya paham dengan hal ini."
Minseok terkejut saat mengetahui sebuah fakta tentang dokter Lee. "Is-istrimu..."
"Yeah.. Sudah tidak usah dipikirkan. Sekarang naik ke tempat tidur lagi. Aku mau melakukan USG pada janinmu." perintah dokter Lee yang langsung dituruti Minseok tanpa banyak bicara.
Taehyun tampak mondar-mandir di perpustakaaan keluarga Kang. Seungyoon hanya melihat tunangannya itu dengan malas. Ia merasa Taehyun terlalu mempedulikan masalah orang lain tanpa melihat sekelilingnya yang butuh juga rasa peduli dari gadis itu, seperti Seungyoon misalnya.
"Bisakah kau berhenti mondar-mandir?" tanya Seungyoon ketus.
"Bisakah kau pergi dari sini jika kerjaanmu hanya protes?" Taehyun menjawab balik dengan nada yang tak kalah ketusnya.
"Kau lupa? Ini rumahku nona." ujar Seungyoon. Seungyoon mendekati Taehyun yang masih sibuk mondar-mandir tidak karuan.
'CUP'
Ukuran mata Taehyun langsung melebar dua kali lipat saat merasakan sesuatu yang lembut dan kenyal - yang ternyata itu adalah bibir dari Seungyoon - menyentuh bibir tipisnya. Seungyoon melepaskan ciumannya pada Taehyun, menikmati wajah shock tunangannya itu.
"Aku hanya tidak ingin kau memaksakan diri, ok? Kak Yifan bilang, dia akan menunggu sampai kondisi kesehatan paman dan bibi dari Jung bersaudara itu pulih. Bersabarlah sebentar dan jangan terlalu khawatir." Seungyoon mengelus lembut pipi Taehyun, dan mengecup kening gadisnya itu.
Lalu, ia langsung meninggalkan ruang perpustakaan. Namun, langkahnya terhenti sebentar.
"Untuk masalah keluarga Jung, kita masih memiliki 2 tahun lagi untuk menyusun rencana. Selama itu, kumohon, bersabarlah. Kita pikirkan rencana yang matang dan tidak melukai banyak pihak. Jagalah sikapmu didepan Luhan, jangan mudah terprovokasi dengan ucapannya." lanjut Seungyoon.
Pria itu kemudia menghilang dibalik pintu, meninggalkan Taehyun yang masih terpaku di tempatnya.
Gadis itu memegang bibirnya yang tadi dicium oleh Seungyoon. Mukanya memerah, menahan malu. Ciuman pertama yang sangat manis.
Jinwoo dan Yixing saat ini menggantikan posisi dan tugas-tugas Minseok di rumah mungil yang mereka tempati. Entah mengapa, kondisi Minseok melemah sejak pulang dari dokter kandungan dan harus mengurus adik-adiknya itu. Menurut dokter Lee, Minseok tidak boleh terlalu capek dan banyak pikiran, itu akan sangat berpengaruh pada kondisi tubuh dan kehamilannya. Jadi, saat ini, Jinwoo dan Yixing yang harus menjaga Minseok, sedangkan Jongdae melaut, mencari makan untuk dirinya dan ketiga gadis itu. Maklum saja, Imja adalah pulau kecil, tidak seperti Jeju. Lagipula, ikan baik untuk anak yang ada di rahim Minseok.
Pagi ini, Yixing sedang sibuk mencuci baju di halaman belakang rumah keluarga Jung. Dari kejauhan, ia melihat burung hantu milik Yifan, Narcissus terbang dengan gagahnya menuju rumah keluarga Jung. Burung itu juga dengan cerdasnya melepaskan sesuatu dari kakinya tepat di kamar Jongdae yang jendelanya memang dibiarkan terbuka. Yixing yang melihatnya, mencoba mengingat-ingat kejadian itu agar tidak kelupaan.
Muka gadis asal Changsa itu memerah mengingat bagaimana tampannya wajah Yifan. Ya, Yixing memang menyukai Yifan sejak saat pertama melihat pria yang membantunya pada hari pertama sekolah itu. Sejak pertama kali melihat Yifan, Yixing bertekad untuk masuk ke asrama yang sama dengan Yifan. Namun, harapan Yixing menghilang total saat melihat emblem Slytherin yang terdapat pada jubah dan jas sekolah Yifan, seolah meledeknya, membuka matanya agar tidak terlalu berharap seorang pureblood seperti Yifan mau meliriknya.
"Nah.. nah.. Apa yang sahabatku satu ini pikirkan, huh? Ckckck.. mukamu memerah hanya dengan melihat Narcissus." ejek Jinwoo.
"Ti-tidaak kok.."
Jinwoo hanya menatap Yixing yang kini sedang salah tingkah sendiri. Yang ditatap malah memajukan bibirnya, kesal karena diejek terus-terusan.
"Kudengar dari Jongdae, kalau tidak salah besok Taehyun, Seungyoon dan kak Yifan mau kesini, kok. Jadi sabar saja.. Besok kalau tidak ada halangan kak Yifan pasti datang." ujar Jinwoo.
"Aku tidak sabar menunggu besok."
"Jadi, apa isi ceramah kak Seunghoon kemarin?" tanya Tao begitu melihat Chanyeol keluar dari kamar.
"Dia malah menyuruhku untuk mencoba dulu dan menerima semuanya. Tapi, aku..." Chanyeol terdiam.
"Kau tidak mau atau tidak bisa?" potong Tao dengan tidak sabaran.
"Keduanya, kalau boleh jujur."
"Aku rasa untuk masalah ini aku sependapat dengan kak Seunghoon. Give it a try, kak. Tidak ada salahnya kan? Sekali-kali coba posisikan dirimu sebagai pihak wanita dalam perjodohan. Maksudku, ayolaah.. bukankah para pria itu katanya mencintai dengan logika? Bu-"
"Aku memakai logikaku, Zitao! Dan aku tidak mau dan tidak bisa bersama Wu Baekhyun." Chanyeol memotong ucapan Tao. Tampaknya, ia sudah tau arah pembicaraan laki-laki itu.
"Kau masih memakai perasaan, tuan Park. Jika kau berpikir dengan logis, tidak mungkin kau menolak pernikahan ini. Bayangkan bagaimana kekuatan dari 2 keluarga yang masuk kategori paling berkuasa di dunia sihir bersatu? Bayangkan bagaimana keuntungan yang kau dapat. Bayangkan apa yang bisa kau lakukan, yang bisa kau capai dengan semudah membalikkan telapak tangan."
Chanyeol nampak terdiam, memikirkan kata-kata Tao.
"Aku hanya tidak ingin munafik, kak. Semua orang pasti ingin memiliki kekuatan, kekuasaan dan kekayaan. Dan tidak semua orang beruntung dapat memilikinya dengan mudah." lanjutnya.
"Tapi.." Chanyeol kembali terdiam. "Kak Minseok?" tanya Tao. Chanyeol mengangguk.
"Kak Minseok saja tidak pernah melihatmu. Ayah dan ibuku juga sama-sama korban perjodohan. Tapi lihatlah mereka. Jika kalian tidak saling mencintai, kata ibuku, yang penting kalian harus saling menghormati, menghargai dan mempercayai pasangan kalian. Tiga hal itulah yang membuat ayah dan ibuku bertahan hingga saat ini. Mereka menjalani kewajiban mereka berdua dengan baik hingga detik ini. Pikirkanlah matang-matang, kak. Jangan lari dari kenyataan."
Yifan merapikan baju muggle yang dipakainya. Pria itu lalu menuju ke kamar tidur tempat paman dan bibi Jung bersaudara dirawat. Ia melongok ke dalam dan tersenyum saat mendapati sepasang suami istri itu sedang tampak bersiap-siap.
"Kami tidak tau apa yang harus kami lakukan untuk membalas kebaikanmu dan orang yang melepaskan kami itu." ujar Yonghwa pada Yifan.
Yifan hanya tersenyum melihat mereka. "Jung bersaudara adalah teman kami. Terlebih Minseok adalah partnerku sebagai ketua murid. Maaf kalau saya lancang, tapi apa anda mengingat bagaimana rupa yang menolong anda?" tanya Yifan.
Keduanya menggeleng. "Di ruang bawah tanah sangat gelap, jadi aku tidak bisa melihat mukanya. Lagipula dia memakai masker yang menutupi wajahnya." ujar Joohyun.
"Aku ingat satu hal, dia memanggil seseorang makhluk aneh, seperti yang kau suruh menjaga kami. Nama makhluk aneh itu Daeun. Kuharap itu bisa membantu." lanjut Yonghwa.
"Daeun?" tanya Yifan. Pria itu tudak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya. Ia pamit dan berlari pergi ke ruangannya. Ia meminta salah seorang kenalan ayahnya, Jun Jin di Departemen Regulasi dan Kontrol Makhluk Gaib untuk mencari data tentang peri rumah bernama Daeun.
Ia pergi ke depan perapian, menunggu kedatangan Taehyun dan Seungyoon. Saat melihat keduanya datang, Yifan langsung menceritakan soal penemuan barunya pada mereka berdua.
"Kurasa, ini akan menjadi sebuah lawakan yang bagus jika yang menolong mereka adalah Sehun. Karena, yang aku ketahui dari Jongdae, dia menemukan sebuah tulisan dengan nama keluarga Oh." ujar Taehyun.
Seungyoon menahan senyumnya, ia tau pasti Sehun yang menolong kedua muggle itu. 'Ah, anak itu tidak pernah berubah.' batin Seungyoon. Tidak heran, dulu saat masih kecil Seungyoon adalah orang yang paling dekat dengan Sehun. Dan ia juga mengenal Daeun, peri rumah kepercayaan Sehun.
"Ah.. maaf, aku tidak ikut ke Imja. Kalian saja yang pergi. Aku melupakan satu pekerjaan. Tidak apa-apa, kan?" ujar Seungyoon.
Yifan dan Taehyun mengangguk. Ia mempersilahkan Seungyoon untuk kembali ke mansion Kang. Keduanya lalu menghampiri Yonghwa dan Joohyun dan mereka berempat kemudian berangkat ke Imja menggunakan portkey, tanpa Seungyoon yang ternyata memiliki rencana lain di otaknya.
"Kei!" panggil Seungyoon.
"T-tuan membutuhkan saya?" tanya peri rumah bernama Kei itu. "Bawa aku ke mansion keluarga Oh. Bawa aku ke pintu gerbang depan, tidak sopan kalau aku harus datang dari dapur atau halaman belakang. Setelah kau mengantarkanku kesana, beritahu Daeun dan Sehun tentang kedatanganku, aku tidak mau berlama-lama dihadapan ayah dan ibu Sehun." titahnya. Kei langsung menggenggam tangan Seungyoon dan ber-apparate ke tempat tujuan yang diminta Seungyoon.
Seungyoon tiba tepat didepan pintu gerbang mansion milik keluarga Sehun itu. Ia menggoreskan pisau pada telapak tangannya dan membiarkan darah mengucur dari telapak tangannya ke sebuah patung elang. Patung itu menyerap darah Seungyoon, dan membuka pintu gerbang itu dengan otomatis.
Seungyoon disambut oleh orang tua Sehun dan ibu dari Luhan. Ia memberi hormat pada ketiga orang tua itu, dan kembali memasang wajah stoic khas bangsawannya.
"Well, ada apa anak keluarga Kang bertamu kesini?" ujar ayah Sehun dengan nada yang meremehkan.
"Apa aku tidak boleh mengunjungi sahabat lamaku sendiri?" tanya Seungyoon.
"Bukankah kau yang membuang Sehun kami?"
"Bukankah kalian yang seharusnya mati?" 'Tahan dirimu Seungyoon.. kontrol emosi..' batin Seungyoon, mencoba mengontrol emosinya.
Tawa Liyin menggema di ruangan itu. "Kau itu naif dan bodoh sama seperti Gyuri-"
"Dan kau itu munafik, sama seperti anakmu, nyonya Xi, atau nona Zhang?"
Liyin mencengkram dagu Seungyoon dan mengarahkan tongkatnya ke wajah Seungyoon. Seungyoon, dengan mode wajah stoicnya menyingkirkan tangan dan tongkat Liyin dari wajahnya. "Kau pikir aku takut dengan tongkatmu nyonya? Aku lebih takut dengan masa lalumu. Ibu macam apa yang membuang dan memantrai anaknya yang bahkan belum bisa bicara dengan mantra obliviate hanya karena takut ketahuan berselingkuh dengan seorang muggle? Aku ingin sekali melihat reaksi Luhan saat tau Yixing, gadis yang selalu diremehkannya itu ternyata adalah adiknya sendiri. Bagaimana reaksi anak gadis kebanggaanmu itu saat tau kalau kau, ibu yang selalu dibanggakannya itu ternyata.. memiliki aib yang besar. Beruntung hanya beberapa orang yang tau masalah ini."
Liyin sudah bersiap untuk menyerang Seungyoon, tapi niatnya terhenti saat mendengar suara langkah kaki yang mereka yakini adalah Sehun. Terlambat, Sehun yang ternyata sudah melihat Liyin dan Seungyoon sedang dalam posisi siap untuk berduel hanya bisa terdiam di tempatnya. Victoria, ibu Sehun buru-buru menyuruh Sehun membawa Seungyoon pergi dari hadapan mereka.
Sehun mengajak Seungyoon ke perpustakaan pribadi yang terdapat di kamarnya. Sebuah perpustakaan rahasia yang berada di balik lemari baju milik Sehun, tempat persembunyian keduanya waktu kecil.
"Jadi, Luhan dan Yixing memiliki hubungan darah?" tanya Sehun. "Kau mendengarnya?" Sehun mengangguk. "Brengsek! Kenapa kau tidak menyelamatkanku dari tadi? Mau aku mati, ya?" gerutu Seungyoon. "Kalau aku datang tepat waktu, aku tidak bisa tau rahasia satu ini. Lagipula, tumben kau kesini. Di sekolah saja kita jarang bertukar sapa." tanya Sehun yang masih heran dengan kedatangan Seungyoon. "Jadi, kembali menjadi penyelamat tahanan? Seperti dulu.." Sehun tertawa mendengar ucapan Seungyoon.
"Jadi, Yifan minta bantuan Taehyun?" tanya Sehun. "Tentu saja! Luka dalamnya benar-benar gila. Aku jadi khawatir dengan nasib ketiga Jung itu." ujar Seungyoon.
"Mereka akan baik-baik saja. Semoga..." ujar Sehun.
Yifan, Taehyun dan pasangan suami-istri Jung itu berangkat dengan menggunakan portkey. Saat mereka sampai di Imja, Jinwoo yang pada saat itu sedang menjemur pakaian dengan Yixing langsung berlari ke arah paman dan bibinya itu. Jinwoo memeluk mereka erat, gadis itu menangis di pelukan paman dan bibinya. Jongdae yang mendengar ribut-ribut di luar langsung berlari dan mendapati kedatangan paman dan bibinya. Jongdae memandang ke arah Yifan dan Taehyun.
"Tidak senang dengan kejutan kami? Kami sengaja menunggu kondisi paman dan bibimu pulih lalu memulangkan mereka kesini." jelas Taehyun.
"Jongdae, kau harus berterimakasih pada nona Hong ini. Dia yang merawat kami sejak kami berdua dibebaskan."
Jinwoo mengajak mereka semua masuk. Didalam, Yixing sudah menyediakan minuman dan beberapa makanan kecil. Tanpa banyak bicara, Yixing langsung pergi ke atas, menghampiri Minseok yang memang mengalami morning sickness yang berlebihan. Taehyun yang melihat gerak-gerik Yixing langsung meminta ijin pada Joohyun untuk menemui Minseok.
Taehyun melihat Yixing sedang mengelap keringat di dahi Minseok. Mereka berdua tidak menyadari kehadiran Taehyun.
"Jadi, morning sickness berlebihan?" tanya Taehyun. Yixing dan Minseok terkejut saat menyadari kehadiran Taehyun. Yixing mengangguk.
"Bukankah dokter Lee memberikan ramuan untuk mengurangi morning sickness? Kenapa kakak tidak meminum itu? Kalau habis aku bisa membuatka ramuan itu kok. Dokter Lee memberitahuku cara membuatnya." bujuk Yixing.
Minseok menggeleng. "Ramuan apa? Boleh aku lihat?" tanya Taehyun pada Yixing. Yixing mengambil ramuan itu dan menyerahkannya pada Taehyun. Ia juga mengambil kertas berisi cara membuat ramuan itu dan memberikannya pada Taehyun. Begitu menerima ramuan dan kertas berisi cara membuatnya, Taehyun langsung memperhatikan isi kertas itu. Ia juga membuka botol ramuan itu dan membauinya. Taehyun mengernyit bingung, ia kenal ramuan ini. Ini bukan ramuan sembarangan yang bisa didapatkan di sembarang tempat, bahkan ramuan ini tidak bisa ditemukan di Asklepios.
"Aku akan berlatih membuatnya juga, kak. Jadi, kakak minum saja sekarang. Masalah simpanan ramuan ini untuk di sekolah tidak usah dipikirkan. Aku yang mengerjakannya, dengan bantuan bahan-bahan dari tanaman terbaik yang dipilihkan kak Yixing tentunya." ujar Taehyun, ia membantu Yixing membujuk Minseok.
Tiba-tiba, ketiga gadis itu dikejutkan oleh kedatangan bibi Minseok. Joohyun langsung memeluk anak tertua Jung itu dan mengelus perut Minseok yang terlihat rata. "Berapa usianya, sayang?" "Sudah hampir 8 minggu, bi." jawab Minseok. "Berarti, usia kandunganmu sekitar 8-9 bulan saat kau selesai sekolah?" tanya bibi Jung. "Tidak nyonya Jung, anak-anak tingkat akhir seperti kami hanya memiliki 3-4 bulan waktu sekolah lagi. Kecuali jika di beberapa tes kami memiliki masalah dan harus mengulang. 2 bulan sisanya, kami dibebaskan untuk tinggal di asrama atau pulang. Lalu, kami akan datang ke sekolah lagi untuk wisuda."jelas Yifan yang sudah berada dibelakang para wanita.
"Yang penting, aku dan bibimu hanya memintamu untuk menjaga kesahatan, bukan hanya dirimu, tapi juga janin yang hidup didalam rahimmu. Jangan terlalu memaksakan diri dan akhirnya malah membuatmu sakit. Apalagi kudengar dari Jongdae kandunganmu sedikit lemah. Tuhan sangat baik karena memberikan berkah ini untukmu, sayang. Jaga dia baik-baik." nasihat Yonghwa.
Minseok menangis, ia terharu dengan kehadiran mereka, orang-orang yang menyayanginya, bahkan di saat tersulit.
"Jadi? tetap menjadi pihak abu-abu?" tanya Seungyoon. Sehun mengangguk. "Kau punya kesempatan untuk bisa berada di pihak mereka, tau." Sehun menggeleng, "Tidak. Aku lebih memilih seperti ini. Tetap aman dan terlupakan. Semuanya akan menganggap aku hanya korban dari ambisi kedua orangtuaku. Yoon, aku tidak punya keberanian untuk membela salah satu pihak dan mengorbankan pihak lainnya. Aku seorang Slytherin, ambisi terbesar Slytherin adalah kekuasaan dan kami para Slytherin lebih rasional dengan membantu orang-orang yang punya tujuan sama dengan kami untuk memperoleh sesuatu. Keluargaku sudah terlibat dalam hal ini sejak awal, apa aku harus kabur dan berlari seperti pengecut hanya demi menyelamatkan diriku? Apa dengan aku membelot ke pihak seberang mereka akan menerimaku tanpa mencurigai motifku? Oh ya, kapan rencananya kau dan paman Lee akan melepas kuncinya?"
"Kau hanya ingin melindungi keluargamu agar mereka tidak memiliki dosa terlalu banyak? Tapi, namamu bahkan sudah masuk daftar hitam Jung bersaudara dan Taehyun. Dan aku benci tidak bisa berbuat apa-apa, kau tau. Dan mengenai masalah itu.. kami berencana melepasnya sampai semua berakhir. Tenang saja, ini rahasia antara aku, paman Lee dan dirimu. Kadang, bukankah beberapa hal lebih baik dibiarkan tidak terungkap."
"Aku tidak heran jika Jung bersaudara membenciku. Bahkan itu niatku sejak awal, semakin mereka membenciku, maka semuanya akan lebih mudah untukku. Ya, memang lebih baik seperti itu."
"Kau tidak bisa menyimpan rahasia dariku, kau tau kan? Dan kurasa kita harus berhati-hati pada calon istriku, pemikirannya sangat tajam."
Sehun tertawa. "Kau memang sahabat terbaikku, Yoon. Dan ya, Taehyun itu seperti gems di pihakmu, daya tangkap dan analisisnya luar biasa."
Seungyoon mengangguk. "Ya, dan sebenarnya aku tidak ingin membuatnya mencampuri urusan ini terlalu dalam. Maksudku, ayolah.. awalnya ini hanya masalah keluarga, tapi terima kasih kepada Kim Hyuna yang membuat semuanya menjadi runyam. Hei, apapun yang terjadi, kau tetap sahabatku. I'll try my best to save you." ujar Seungyoon meyakinkan Sehun. "Even, your soon-to-be-wife bisa saja berbalik membencimu?" tanya Sehun. Seungyoon mengangguk.
"She doesnt need to know the truth. Not now you said."
"No one need to know." ujar Sehun.
"Kemana Seungyoon?" tanya Minseok.
Taehyun yang sedang membantu Yixing dan Jinwoo menoleh ke arah Minseok, "Ia kembali lagi ke mansion, ada hal yang lupa ia kerjakan."
"Sayang sekali, padahal kapan lagi Seungyoon bisa melihatmu memasak." ujar Jinwoo.
Taehyun tertawa. Jinwoo tampak takjub melihat pemandangan itu, sungguh sebuah hal yang sulit untuk dapat melihat Taehyun tertawa, bahkan tersenyum di sekolah. Gadis itu biasanya hanya tampil dengan wajah stoic khas kaum bangsawan.
"Kenapa? Ada yang salah?" tanya Taehyun pada Jinwoo. "Tidak, hanya saja.. kau cantik, sangat cantik saat tersenyum. Ya kan Xing... Xing.. Yixing... ZHANG YIXING!" pekik Jinwoo pada akhirnya. "Eh? Ada apa?" Jinwoo mengerucutkan bibirnya, "Kau itu terlalu banyak salah fokus."
Taehyun yang dari tadi memperhatikan arah pandangan Yixing hanya bisa menahan senyumnya, 'ini akan menarik' batinnya.
"Jinwoo diamlah. Kau ini berisik sekali." "Maaf kak."
Minseok berjalan dari meja makan menuju dapur, bermaksud membantu ketiga gadis itu. Minseok bahkan belum sampai di meja yang menjadi sekat antara dapur dan ruang makan, tapi Yixing sudah menghadangnya, "Kak, kakak jangan banyak bergerak. Kakak pasti masih lemas."
"Ugh, tapi aku bosan hanya duduk-duduk saja di meja makan." keluh Minseok. "Kakak mau membantu kami?" tanya Jinwoo. Minseok mengangguk, matanya berbinar cerah karena akhirnya ada yang mengerti kemauannya. Jinwoo? Dia sukses mendapat glare dari Yixing dan Taehyun. "Hei.. kenapa kalian menatapku seperti itu? Maksudku, dengan duduk dan istirahat saja kak Minseok berarti sudah bisa membantu kita." jelas Jinwoo. Minseok cemberut, "Itu sama saja berarti kau melarangku untuk bekerja Jinwoo-yah!" rajuk Minseok.
"Jadi, apa rencana kalian selanjutnya?" tanya Jongdae. "Entahlah, aku juga masih memikirkannya. Apa kau tidak mempercayaiku, Jung Jongdae?" "Bukan begitu, hanya saja... aneh bagiku melihat seorang Slytherin mau membantu." "Aku mengerti, lagi pula Slytherin memang selalu dihubungkan dengan hal-hal buruk, bukan?" tanya Yifan. Jongdae mengangguk.
"Masih ada sesuatu yang mengganjal sebenarnya." ujar Jongdae. Yifan menatap juniornya itu dengan penuh tanda tanya. "Seungyoon. Kenapa dia tampaknya... tau banyak mengenai hal ini. Ke-"
"Dia adalah bagian keluarga Kang. Dan keluarga Kang adalah salah satu keluarga yang paling banyak kehilangan karena masalah ini. Justru aku lebih takut jika dia bertindak di luar keinginan kita."
"Kenapa?"
"Seungyoon adalah orang terdekat Sehun. Bisa dibilang mereka berdua adalah sahabat dekat, bahkan seperti saudara. Mereka saling melindungi, tapi, sejak masalah ini pecah dan melebar, mereka juga semakin menjauh. Paman Kang melarang Seungyoon mendekati Sehun. Kedekatan Sehun dan Seungyoon, jika kau melihatnya dari luar, pasti kau tidak akan menemukan apa-apa. Tapi, ketika kau melihatnya dari dekat, maka kau akan menyadarinya, ada sebuah bonding yang mengikat keduanya. Jika Seungyoon mengetahui kehamilan Minseok, aku tidak tau apa reaksinya. Seungyoon benar-benar kehilangan pegangan saat ibunya meninggal, lalu paman dan bibinya menghilang. Aku tidak tau apa yang akan dia lakukan saat tau masalah ini, Seungyoon sudah terlalu banyak kecewa."
"Seungyoon memang terkenal misterius. Aku tidak tau kalau dia dekat dengan Sehun. Mereka tidak pernah bertukar sapa selama ini." ujar Minseok.
Jongdae dan Yifan menoleh ke belakang, mereka terkejut melihat kehadiran Minseok. "Kenapa? Aku bosan didalam, ini tidak boleh, itu tidak boleh. Lagipula, dokter Lee bilang kalau udara luar bagus untuk ketenangan pikiranku." ujarnya saat melihat tatapan aneh dari Jongdae dan Yifan.
"Ah.. ya, tidak pernah bertukar sapa ya? Keduanya memang begitu. Maklum, mereka berdua adalah orang yang sama-sama pendiam. Mungkin akan terlihat aneh jika mereka terlihat seperti sahabat-sahabat adikmu yang berisik ini." ujar Yifan sambil melirik Jongdae.
"Maksudmu Seunghoon dan Chanyeol?" Yifan mengangguk, "dan kau terlihat seperti manusia kerdil diantara mereka. Aku heran, setauku, Jung Yunho tidak sependek itu." "Sialan!" maki Jongdae.
Minseok menertawai nasib adiknya. "Eh, tapi bukannya Seunghoon itu cerdas? Dia saingan terberatmu, kan?" tanya Minseok. Jongdae mengangguk.
"Berarti, kau harus mengawasi Seungyoon." "Bukankah ini aneh?" tanya Minseok. "Aneh kenapa,kak?" "Kita sibuk mencurigai Seungyoon. Tapi, kita masih memanfaatkan Taehyun untuk membantu kita."
"Aku juga berpikir begitu. Sudah, lupakan sejenak masalah ini."
"Tunggu. Yifan. Apa menurutmu, Sehun perlu tau tentang ini?" tanya Minseok dengan ragu. Yifan menggeleng, "Aku tidak tau. Sungguh. Terserah padamu saja, Min. Yang paling penting, berhati-hatilah pada Luhan untuk saat ini. Dia benar-benar posesif dengan hal-hal yang berbau Sehun."
"Jadi, bagaimana saran kak Yifan?" tanya Taehyun saat akan menutup pintu kamar Minseok. Gadis itu berjalan ke arah kasur Minseok, menghampiri sang pemilik kamar yang sedang sibuk membaca sesuatu. "Entahlah.. Yifan juga bingung. Dia malah menyuruhku berhati-hati dengan Luhan." Taehyun mengangguk, "Benar. Luhan saat ini menjadi trending topic karena ulahnya. Ia menyerang wanita-wanita yang pernah melakukan one night stand dengan Sehun di pesta tahun baru keluarga Hwang. Salah mereka sih, terang-terangan mengakui hal itu dengan bangganya di hadapan Luhan." ujar Taehyun.
"Bagaimana nasibku dengan dia nanti? Jika Luhan menyerang mereka dengan ganas hanya karena mereka pernah melakukan one night stand dengan Sehun, apa yang bisa dia lakukan padaku dan dia, nanti?" ujar Minseok. Nada khawatir terdengar jelas dari ucapan gadis itu.
"Lari."
"Maksudmu?"
"Berlarilah.. Bawa dia pergi. Mulai hidup baru di tempat yang jauh dari sini. Tanpa siapapun. Buatlah berita bohong tentang keadaan kalian. Hanya itu yang bisa kau lakukan, kak. Aku mengenal tabiat Luhan. Dia tidak segan-segan melakukan apapun untuk seseorang yang menghalangi niatnya. Dia akan memburu orang itu terang-terangan dan tidak akan berhenti sebelum mendengar kabar orang yang diincarnya mati atau sebelum dia menemukan sesuatu yang lebih menarik daripada orang yang diincarnya. Pridenya sebagai seorang Gryffindor akan terangkat saat dia memburu orang yang menghalanginya dan memperoleh kemenangan dengan menjatuhkan orang itu."
"Haruskah?"
"Tidak ada pilihan lain, kak. Jika ada, aku dengan senang hati akan memberikannya." jawab Taehyun.
