Cartas de Amor
Length Chaptered
Lai Guanlin x Park Jihoon as maincast
Rating T
.
.
Berawal dari Guanlin, si siswa penyendiri, yang iseng meninggalkan coretannya di atas meja kantin dan ditemukan oleh Park Jihoon. Berakhir dengan saling jatuh cinta dengan tulisan masing-masing.
.
.
.
.
.
.
Hai lagi, Lai Guanlin~
Ya ya ya, aku sekarang sudah kebal dengan panggilan manis seperti itu. Ah iya, tentang nama panggilanmu, apa Lalin bagus menurutmu? Aku baru memikirkannya tadi malam. Jika LinLin, itu terdengar terlalu manis untukmu.
Iya! Aku dan Woojin jauuuuuuuuuuuuuuuuuh berbeda. Aku juga tidak ingin memiliki kesamaan dengan orang menyebalkan itu. Serius Guanlin, jika kau tau Woojin jangan mau berteman dengannya. Dia lebih menyebalkan daripada Jieqiong Noona.
Jinyoung? Bae Jinyoung? Aku dulu satu SMP dengannya. Tapi aku baru tau jika dia juga satu sekolah denganku.
Apa-apaan? Kau berniat menggodaku ya? Jika itu perasaanmu, ku rasa, ya. Aku akan peduli, hahahaha.
Kenapa tidak melakukan hubungan jarak jauh saja? Aku tidak yakin kau tampan. Jika aku tidak terpesona ketika kita bertemu nanti, apa yang akan kau berikan?
Wow, terimakasih Lalin~~. Aku benar-benar penasaran, kau menguntitku ya? Bagaimana kau tau aku menyukai coklat ini? Ah, apa Bae Jinyoung? Tapi ku rasa Jinyoung juga tidak mengenalku sebaik itu meskipun aku dekat dengannya.
Aku membuatkanmu sandwich lagi, Lalin, kkkk~. Dan ini lebih banyak daripada kemarin. Makanlah dengan baik, Lalin. Aku tiba-tiba menyukai nama panggilanku untukmu.
Awalnya aku memang ingin menanyakan lebih dari lima, Lalin. Tapi, di surat selanjutnya aku tidak akan memiliki pertanyaan untukmu. Jadi aku hanya memberikan lima pertanyaan dulu, kkk~
Sesungguhnya, aku tidak benar-benar peduli tentang kertas-kertas yang ada di kantin, tapi, kertasmu berwarna pink. Jadi aku mengambilnya dan membacanya begitu aku sampai di rumah.
Iya! Aku bisa menyanyi. Aku suka menyanyi, tapi lebih menyukai dance.
Kau akan bosan jika memakan sandwichku terus-terusan. Itu yang dikatakan Woojin ketika aku membuatkan sandwich untukmu selama tiga hari berturut-turut. Aku akan mencoba membuat makanan lain untukmu.
Aku juga sering ke sana ketika aku menunggu Woojin selesai ekskul. Aku berpikir, di sana adalah tempat yang nyaman.
Sayang sekali, Lalin. Aku termasuk orang yang tidak suka olahraga. Jangankan jogging, aku berjalan terlalu jauh saja sudah lelah.
Dan ini jawabanku untukmu, Lalin~
1. Aku sudah menjawabnyaaaa, karna suratmu berwarna pink!
2. Suka! Aku menyukai anak anjing. Mereka menggemaskan!
3. Jika itu di rumah, maka kamarku adalah tempat paling menyenangkan untukku. Jika di sekolah aku menyukai pergi ke atap. Jarang sekali ada siswa yang ke sana karena rumor tentang penunggu atap sekolah, padahal sebenarnya rumor itu tidak benar. Selain itu, cafe di depan sekolah juga menyenangkan untukku.
4. Iya, aku di kelas tiga sekarang.
5. Lagipula, memang dari awal suratmu tidak menggunakan bahasa formal Lalin. Jadi, tidak masalah untukku.
Sekarang, pertanyaanku untukmu
1. Jika tebakanku benar, apa kau ikut ekskul basket?
2. Apa kau lebih suka selai coklat atau selai buah?
3. Bagaimana denganmu, kau memiliki tempat favoritmu?
4. Apa kau akan kembali ke Taiwan setelah lulus SMA?
Ku rasa itu saja, aku tidak terpikirkan untuk pertanyaan lain. Jawab dengan benar, Lalin.
See you next letter!
Januari 2016, Park Jihoon
.
.
.
.
.
.
Jihoon mengerucutkan bibirnya begitu ia mendapatkan balasan pesan dari Daniel bahwa Daniel tidak dapat menjemputnya hari ini. Jihoon semakin menurunkan bibirnya ketika Woojin membalas pesannya bahwa ia akan pulang terlambat untuk menghadiri rapat mendadak.
"Semuanya menyebalkan," Jihoon bergumam kemudian membuka pintu cafe di depannya. Lelaki manis itu kemudian mengantri di belakang seseorang yang lebih tinggi darinya untuk memesan.
"Oh, sunbae," seseorang di depannya berseru begitu ia berbalik dan mendapati Jihoon. Jihoon mengedip beberapa kali sebelum menunjukkan senyumannya.
"Hai, kau!" Jihoon melambaikan tangannya pada seseorang itu, Lai Guanlin. Guanlin tersenyum lima jari menunjukkan gusinya pada Jihoon. "Tolong satu Latte untukku,"
"Ah, biar aku bayarkan," Guanlin menghentikan pergerakan Jihoon yang akan mengambil dompet di tasnya. "Anggap saja sebagai ganti karna kau sudah menemaniku menunggu tempo hari, sunbae," Guanlin berkata begitu ia melihat wajah bingung Jihoon.
"Lin! Ayo pergi!"
Jihoon dan Guanlin menoleh ke arah pintu begitu sebuah teriakan mengganggu momen mereka. Jihoon mengernyitkan dahinya. "Bae Jinyoung?"
"Ah, sunbae, sepertinya aku harus pergi, temanku sudah menunggunya. Nikmati minumanmu, sunbae!" Guanlin segera berlari meninggalkan Jihoon dengan wajah bingungnya.
"Aku lupa berterimakasih, sial,"
.
.
.
.
.
.
.
.
aku lg kena wb hehehe, maafkan aku :")
