11. Kalah Selangkah

"Kami senang sekali sewaktu mengetahui Clay akhirnya mau bergabung dengan klub sepak bola," kata Sam yang bersama teman-teman lain mengerubuti Clay pada jam istirahat itu.

"Senior Kyle juga senang dengan keputusan Clay itu. Sudah sejak dulu para senior mengharapkanmu dapat memperkuat kesebelasan sekolah kita," Ross ikut nimbrung.

"Walaupun baru bergabung, kurasa tidak lama lagi Clay akan menjadi starting line up. Berjuanglah, Clay, kami mendukungmu," ujar Weill pula.

"Terima kasih, teman-teman. Aku janji akan melakukan yang terbaik."

Vlyn mengawasi kejadian itu dari tempat duduknya sambil tersenyum. Syukurlah Clay tidak harus mengubur impiannya untuk bergabung dengan klub sepak bola hanya demi menuruti kebodohan Vlyn. Syukurlah semuanya belum terlambat.

"Tumben Clancy tidak ikut mengerumuni Clay," tegur Jule.

"Soalnya aku sedang melakukan kegiatan lain," jelas Clancy yang sejak tadi tak pernah melepaskan matanya dari Vlyn.

Vlyn yang baru menyadari, menoleh keheranan, "Ada apa, Clancy? Apa ada kotoran menempel di wajahku?"

Clancy menggeleng sambil terus menatap Vlyn. "Vlyn, kau menyukai Clay kan?"

Tembakan Clancy tepat mengena. Wajah Vlyn merah dibuatnya.

"Bicara apa kau ini, Clancy?" Vlyn masih berusaha menutupi.

"Haha, sudahlah, tak usah malu-malu begitu, Vlyn."

"Bagaimana kau bisa tahu, Clancy?" Tanya Jule.

"Oh, Jule, kau kan sahabatnya Vlyn, masa kau tidak melihat perubahan besar dalam dirinya? Dulu Vlyn selalu memandang Clay dengan rasa permusuhan. Sekarang hanya bertatapan dengan Clay sudah membuat pipi Vlyn semerah buah apel. Apa yang seperti itu masih belum jelas juga?"

Dalam hati Jule memuji kecermatan observasi Clancy. Padahal anak itu selalu kelihatan selebor dan kelewat ceria, tapi ternyata ia punya perhatian terhadap teman.

"Jadi bagaimana, Vlyn?" Lanjut Clancy lagi.

"Bagaimana apanya?"

"Kapan kau akan meminta Clay jadian denganmu?"

"Aku tidak akan melakukan yang seperti itu!" Sergah Vlyn gusar, tapi tak pelak wajahnya makin merah.

"Kau bisa mengajaknya ke atap sekolah dan melakukan love confession di sana. Aku tahu itu biasanya hanya dilakukan gadis-gadis, tapi tak ada salahnya kan kalau kau mencobanya? Toh kau juga sangat manis," Clancy terus nyerocos tanpa mempedulikan kegusaran Vlyn.

"Clancy terlalu banyak membaca komik," komentar Jule geli.

"Jangan harap aku melakukannya. Saranmu itu hanya akan membuatku mempermalukan diriku sendiri, Clancy."

"Oh, tapi sebaiknya kau bertindak cepat sebelum ada orang lain yang mengambil Clay. Ingat, Vlyn, Clay itu banyak yang mengincar. Jangan sampai kau menyesal karena Clay telanjur bersama orang lain."

"Vlyn, tugas pertama dari kakek untukku sudah turun," Clay mengabarkan pada Vlyn.

"Oh ya? Apa tugasnya?"

"Aku harus menandatangani surat perjanjian kerja sama dengan keluarga Rock yang juga diwakili pewaris yang seumuran dengan kita. Sebenarnya sudah sejak lama keluarga Walse menjalin kerja sama dengan keluarga Rock. Sekarang kakek ingin kerja sama itu lebih diperkuat lagi pada era generasi mudanya, dan aku bertugas menjaga hubungan baik yang sudah terjalin sejak lama itu bersama-sama pewaris keluarga Rock."

"Kedengarannya menarik. Aku jadi ingin tahu seperti apa pewaris muda itu."

"Kalau kau mau, ikutlah denganku. Hari Minggu besok aku akan ke sana."

Hari Minggu tiba. Vlyn dan Clay hanya disambut oleh Rock dan Mint, adik Lane yang lebih muda setahun. Sedangkan Lane, sang pewaris itu sendiri, tidak terlihat.

Sejak awal perkenalan, Vlyn sudah tidak suka dengan sikap Mint yang terlihat sangat berlebihan mengagumi Clay. Sepertinya ia bermaksud untuk terus menempel Clay. Sementara itu Rock mulai gusar karena pelayan yang ditugasi memanggil Lane mengatakan bahwa tuan mudanya itu tidak menjawab ketika dipanggil-panggil dari luar kamar.

"Biar aku sendiri yang memanggil anak itu," kata Rock akhirnya.

"Ikut yuk, Clay. Kau pasti penasaran ingin melihat kakakku yang bandel itu."

"Uum...tapi..." Clay ragu-ragu, ia merasa tidak sopan masuk ke kamar orang yang bahkan belum dikenalnya sama sekali.

"Tidak apa, Clay. Hubungan antara keluarga kita sudah seperti saudara. Aku tidak akan menyembunyikan keburukan cucuku, justru aku berharap ia nantinya akan dapat belajar banyak darimu," kata Rock.

"Tuh kan, kakek sudah mengizinkan. Ayo." Mint menyeret Clay tanpa menunggu persetujuannya. Vlyn mengikuti dengan diam di belakang mereka, ia merasa diabaikan.

"Lane, kakek akan masuk ke kamarmu." Rock langsung membuka pintu kamar yang tidak terkunci. "Astaga, anak itu masih tidur jam segini. Ayo bangun, Lane! Ada tamu un..." Kata-kata Rock terputus ketika ia menyingkap selimut dan hanya menemukan seonggok bantal guling yang ditata menyerupai orang tidur.

Wajah Rock merah padam karena geram. Dipanggilnya pelayan-pelayan dan ditanyai adakah yang mengetahui kepergian Lane, tapi hasilnya nihil.

"Maaf, Clay," kata Rock kemudian. "Anak itu benar-benar susah diatur, makin hari ia makin bandel. Tapi sudah kusuruh orang-orang untuk mencari dan membawanya pulang. Kuharap kau mau menunggu sebentar lagi. Aku jadi tidak enak pada kalian berdua."

"Saya tidak berkeberatan menunggu. Vlyn, bagaimana denganmu?"

"Saya juga tidak."

"Hm, baiklah. Kalau begitu aku permisi dulu, ada yang harus kuurus. Mint, temani mereka," perintah Rock.

Dalam hati Vlyn penasaran, seperti apa Lane itu? Ah, pastilah tipikal anak berandal dengan wajah seram dan rambut awut-awutan. Vlyn jadi mengkhawatirkan Clay yang harus bekerja sama dengan anak macam itu.

"Sembari menunggu kakak, ayo kutemani kau melihat-lihat sekeliling rumah ini. Di belakang ada kolam renang dan lapangan tenis." Mint langsung menggandeng Clay tanpa mengajak atau menawari Vlyn untuk bergabung.

"Tapi aku tidak bisa meninggalkan Vlyn sendirian di sini," protes Clay.

"Tak apa, Clay. Biar aku menunggu di sini saja sambil melihat koleksi barang-barang perak dan pecah belah." Vlyn tidak ingin mempersulit posisi Clay walau dalam hati ia sangat tidak suka dengan kelakuan Mint.

"Tak ada masalah kan, Clay. Ayo!" Tanpa menunggu lebih lama lagi, Mint membawa Clay keluar dari rumah itu.

"Siapa anak itu tadi?" Tanya Mint dengan pandangan menyelidik.

"Sudah kubilang saat perkenalan tadi kan? Dia sepupuku, Vlyn."

"Bukan itu maksudku. Aku tahu dia sepupumu. Tapi dari pengamatanku, sepertinya dia istimewa bagimu."

Clay jengah dibuatnya, "Kami sudah dekat sejak kecil. Wajar kan kalau aku sayang padanya?"

"Benarkah hanya itu? Kalian tidak punya hubungan yang...yang spesial?" Desak Mint.

Clay makin jengah, "Aku tidak mengerti maksudmu, Mint."

"Hmm, ya sudahlah. Kalau begitu, tidak apa-apa kan kalau aku melakukan ini?"

Dengan cepat, Mint menarik kerah kemeja Clay sehingga Clay terdorong mendekat, dan Mint menciumnya. Clay membeku selama beberapa detik sebelum tersadar dan mendorong Mint menjauh.

"A...apa...yang kau lakukan?"

"Haha, kau tampak semakin menawan saat shock seperti sekarang, Clay. Rupanya kau belum pernah diperlakukan seperti ini sebelumnya? Atau jangan-jangan kau malah belum pernah berciuman sama sekali?" Mint tertawa menggoda.

"Jangan bercanda, Mint! Bagaimana kalau kakekmu sampai tahu? Ia akan berprasangka buruk terhadapku!"

"Ah, kakek tidak akan tahu. Lagipula kakek juga tidak terlalu peduli pada kami. Yang dilakukannya hanyalah menetapkan segala macam aturan untuk kami patuhi. Itulah mengapa kakak selalu ingin menunjukkan pemberontakannya. Kak Lane itu sangat berani, padahal sudah tak terhitung berapa kali ia mendapat marah dari kakek setiap kali ia berulah. Bahkan tak jarang kakek memukulnya jika sudah hilang sabar."

Clay merasa kepalanya pusing tiba-tiba. Ia bingung bagaimana harus bekerja sama dengan seorang pembangkang dan adiknya yang agresif.

"Kita kembali saja yuk," ajak Mint. "Aku yakin kakak berhasil kabur lagi kali ini. Ia tak akan ditemukan, kecuali kalau ia pulang atas kemauannya sendiri. Entah seperti apa kemarahan kakek nanti, aku tak mau membayangkannya. Sebaiknya kalian pulang saja karena akan sia-sia menunggu kepulangan kak Lane."

Vlyn yang merasa bosan karena tidak kunjung ada perkembangan tentang keberadaan Lane, akhirnya memutuskan untuk berjalan-jalan ke sekeliling rumah. Ternyata keluarga Rock memang bukan keluarga sembarangan. Kekayaan mereka tidak kalah dengan keluarga Walse, pikir Vlyn sembari melihat-lihat keadaan sekitarnya.

Vlyn sampai di area lapangan tenis. Ia berdiri di satu sisi pembatas dinding kawat. Dari situ ia melihat ke seberang lapangan, ke arah pembatas satunya, dan...ia melihat Clay dan Mint berciuman. Dengan hati hancur, Vlyn berjalan kembali ke dalam rumah. Di sana ia bertemu Rock.

"Vlyn, kau kelihatan pucat. Apa kau tidak enak badan?"

"Eh, saya..."

Saat itu, Clay dan Mint juga masuk. Melihat mereka, Vlyn berusaha keras menahan diri agar tidak menangis.

"Saya ingin pamit sekarang," kata Vlyn kepada Rock.

Clay yang merasa ada yang tidak beres dengan Vlyn, ikut menambahkan, "Saya rasa saya juga harus pulang sekarang. Lain hari saja saya kemari lagi."

Mint mengamati Vlyn lekat-lekat. Ia tahu sekarang kalau di antara Vlyn dan Clay memang ada apa-apanya. Hanya saja sepertinya mereka masih enggan melakukan langkah-langkah serius. Yah, itu justru akan memberinya kemudahan. Jika sikap Vlyn terus mengambang dan terkesan malu-malu seperti itu, maka Clay akan jatuh ke tangannya, Mint tersenyum dalam hati.