Pada zaman dahulu kala, hiduplah seorang pangeran dari Kerajaan Walangsangit yang senang berpetualang. Sejak kecil ia gemar bermain petak umpet dan menjelajah seluruh bagian istana yang sangat luas. Saat sang Pangeran mencapai usianya yang ke dua puluh, sang Raja menghadiahkan sebuah kapal layar beserta lima ratus awak untuknya. Raja pun memberi izin sang Pangeran bertualangan dengan mandiri bersama awak kapalnya yang sangat setia.

"Nak, berhati-hatilah terhadap monster laut saat kau berlayar." Raja tersenyum tipis sambil menepuk bahu putranya yang sedang berlutut di hadapan Ayahanda dan Ibunda.

Pangeran menunduk rendah dan tersenyum. "Tenanglah Ayahanda. Aku sudah meminta tukang kayu istana untuk memasang susuk antisilumanlaut di lambung kapal."

Ratu sibuk menutupi separuh wajahnya dengan kipas untuk menyembunyikan tangisnya. Tidak sanggup menahan insting keibuannya, Ratu pun menjauhkan kipasnya dan berlutut di hadapan sang putra. Tangan kurus sang Ratu melingkar di tubuh Pangeran melewati bahu kanan dan ketiak kirinya. "Oh, putraku. Aku tidak menyangka saat kau berlayar sendiri pun tiba," ujarnya serak dengan suara gemetar.

Ibu, Ratu cantik sekali, ya!

Ssst, Tama-chan! Pertunjukannya masih mulai.

Tapi Ratu sangat manis! Lihat, Bu, rambutnya melingkar-lingkar begitu. Indah sekali!

Ya, Sayang. Dia memang anak yang sangat manis.

Tubuh Raja dan Pangeran tiba-tiba kaku. Mereka berdua hanya terdiam sambil berkeringat dingin. Rasanya mereka ingin kabur saat itu juga sekaligus ingin tertawa. Mata keduanya fokus pada sosok Ratu yang masih membeku. Pangeran, yang masih dipeluk sang Ibunda adalah yang paling was-was saat ini karena secara tidak langsung posisinya sedang 'terkunci' dan tidak bisa melarikan diri.

Di lain pihak, poni sang Ratu sukses menutupi mata birunya yang bermaskara. Mulutnya yang terkunci rapat dan membentuk garis lurus tersembunyi oleh leher Pangeran. Pangeran yang masih merasa dirinya terancam, akhirnya memutuskan untuk mengecek keadaan sang Ratu. "Umm, Ibunda? Aku akan baik-baik saja, kok. Karena itu ... jangan ... khawatir?"

Pangeran menelan ludah. Itu dia! Ia sudah menduga poni itu menyembunyikan sorot mata Ratu yang kini terlihat tajam dan menyeramkan, persis seperti mata seorang pembunuh bayaran yang sudah berpengalaman selama satu dekade dua semeseter tiga windu. Pangeran mendesis pelan saat cengkraman Ratu semakin erat, mencakar mungkin lebih tepat. Oh, inilah yang terjadi bila ada yang mengatakan sang Ratu cantik jelita atau manis. Tapi itu kenyataan! Penampilan sang Ratu saat pertama muncul di belakang panggung pun sukses membuat seluruh penghuni istana (red: teman sekelas) menganga dan merona. Mereka harus berusaha menahan godaan untuk terus mencuri pandang ke arah sang Ratu kalau tidak mau dihadiahi tatapan membunuh atau yang lebih buruk, risiko terbunuh sungguhan.

Tiba-tiba saja Ratu melepas pelukannya dan berdiri tegap. Raja mundur selangkah dan Pangeran menunduk dalam, pasrah. "Ne, kalau begitu berhati-hatilah, pa-nge-ran-ku." Sang Ratu tersenyum lembut sambil memiringkan sedikit kepalanya.

Raja dan Pangeran menganga. Senyum ... senyum barusan ...

Uwaaaah! Manis banget! Siapa, sih cewek yang jadi Ratu itu? Kelas mana, ya?

Dia ... dia tersenyum padaku!

Aaaaah, dia benar-benar manis meski dadanya rata. Kurasa aku bisa kena diabetes hanya dengan melihat senyum itu. Ada yang bawa suntik insulin? Kurasa gula di hatiku meningkat.

Kali ini, Raja dan Pangeran manggut-manggut. Mereka setuju seratus persen dengan komentar-komentar penonton itu—kecuali yang diabetes. Bahkan bisa dilihat warna kemerahan yang mulai merambat di wajah mereka. Saat akhirnya tirai ditutup dan gerutuan pelan bin bin kecewa audiens terdengar, barulah keduanya kembali ke alam sadar.

Ratu sudah berdiri sambil mengepalkan kedua tangannya di depan dada. "Well, katakan dengan jujur putra dan suamiku tersayang. Apa kalian juga berpikiran sama seperti rakyat jelata tidak sayang nyawa jomblowan merana di luar sana?" Ia meremas kepalan tangannya sampai terdengar suara gemerutuk kecil yang entah kenapa terasa horor.

Keduanya menggeleng cepat.


.

Title: Test for Kira

Disclaimer: Gundam Seed/Destiny punya BANDAI dan SUNRISE! Saya gak ada niat buat numpang nama kok #eh?

Genre: Romance/Humor/Friendship

Pairing : KiraXLacus, KiraXMeer (sedikit doaang~), AuelXMeer, AthrunXCagalli

Warning : AU, OOC, Abal, jayus, alur . . . .

.


Hope you enjoy this chapter! ^^


Di sisi lautan yang sangat dalam, terlihat begitu banyak putri-putri dan pangeran duyung yang sedang menari dan bernyanyi dengan riangnya. Mereka berpesta dan tertawa dengan ceria. Gelembung-gelembung kecil mengiringi setiap gerakan mereka yang anggun. Rumput-rumput laut ikut menari bersama ubur-ubur. Musik dari kerang-kerang laut, koral, dan lumba-lumba dipandu oleh sang konduktor laut terkenal, Sebastian Sang Kepiting, yang berdiri di depan sebuah batu besar yang mulai berlumut.

Raja Triton yang berkulit gelap tiba-tiba berdiri dari singgasananya dan mengangkat tangannya. Alunan musik dan tarian pun berhenti. Seluruh makhluk laut yang ada mengalihkan perhatian mereka pada sang Raja Laut dan menunduk singkat. "Pendudukku yang sangat kucintai. Seperti yang kalian semua ketahui, hari ini adalah hari ulang tahun putri keenamku, Ariel."

Seekor putri duyung berambut merah muda yang sangat cantik melesat dengan riang ke samping Raja. Raja berdeham dan menarik tangan Ariel untuk berdiri di hadapannya dan menekan kedua bahunya pelan untuk menunduk. Putri cantik itu hanya tertawa kecil dan menatap sang Raja dengan antusias. "Apakah akhirnya Ayah akan memberikan izin itu?" tanyanya penuh harap.

Triton menghela napas dan tersenyum tipis. Ia kembali mengangkat kepalanya dan menatap seluruh penduduk serta rakyat jelata tidak sayang nyawa jomblowan merana di sisi lain. "Yah, kalian semua tahu putri bungsuku ini sangat tidak sabaran dan tidak bisa diam terlalu lama. Karena itu, aku akan langsung mengumumkannya saja," pria berjanggut panjang itu mengacungkan tombaknya ke atas bahu kiri sang putri, "Ariel Putri Triton IX, di usiamu yang akhirnya mencapai enam belas ini, kunyatakan kedewasaanmu secara sah dan kuberikan izin padamu untuk melihat dunia atas!"

Musik kembali terdengar seiring sorak sorai para penduduk. "Pesta dilanjutkan!" seru sang Raja dengan suaranya yang membahana. Tak butuh waktu lama bagi seluruh makhluk laut untuk melanjutkan pesta mereka. Mereka pun sedikit menjauh dari Raja dan Putri untuk memberi mereka ruang pribadi.

Triton tersentak mundur saat Ariel tiba-tiba saja memeluknya dengan erat.

Ibu! Batunya tadi bergerak!

Itu hanya imajinasimu, Sayang.

"Terima kasih banyak, Ayah! Aku sangat mencintaimu!"

Ibuuu! Batunya bergerak lagi!

Sssst, Sayang! Jangan berisik, nanti mengganggu penonton lain!

Wajah Triton mulai memerah. Ia tersenyum kesenangan dan balas memeluk putrinya dengan erat. "Aku juga menyayangimu, putriku."

Ibuuu, aku takuut!

Memangnya ada gempa, ya? Dari tadi rasanya batu besar itu bergerak terus. Kau melihatnya, Murrue?

Tidak. Gempa juga rasanya tidak ada, Mwu.

.


Di balik panggung ...

"Si Bodoh itu ... bisa-bisanya curi kesempatan di saat seperti ini! Dia mau menghancurkan pertunjukanku, ya!? Dia mau manas-manasin Kira atau cuma ambil kesempatan?!" geram Yzak yang mengintip dari balik tirai sambil meremas naskah drama di tangan kirinya.

"Tenang saja, Ketua Geng. Yang mana pun tidak masalah karena aku yang akan 'menghukumnya'."

Yzak terlonjak dan berbalik cepat mendengar suara dingin itu dari belakang lehernya. Pemuda itu mengangguk puas karena melihat sosok Mirrialia yang sedang memegang handycam dengan tatapan datar.

"Butuh ini?" tawar Athrun yang membawa seember penuh air dengan pandangan sama.

Keduanya mengangguk serempak. "Taruh saja di pojok sini. Biar dia sadar."

.


Badai menerpa kencang. Kapal sang Pangeran terombang-ambing dengan ganasnya. Bahkan seorang awak yang bersiaga di crow nest sempat melaporkan kalau ia melihat seorang anak kecil yang menunggangi bison terbang baru saja jatuh ke laut. Pangeran yang terkejut pun tanpa pikir panjang langsung melompat untuk menyelamatkan sang anak. Namun cahaya kebiruan yang sangat terang dan angin yang sangat kencang menghempaskannya dengan mudah. Kesadarannya mulai hilang.

Ariel yang baru saja hendak pergi ke permukaan terkejut melihat seorang manusia tampan memesona berjenis kelamin pria dan berstatus lajang tenggelam sendirian. Dengan penuh tekad, Ariel berenang dan menyambar pemuda itu untuk membawanya ke permukaan. Melihat kekacauan yang terjadi, Ariel dengan hati-hati namun cepat berganti haluan untuk membawa sang pemuda ke pantai.

Saat sudah sampai di pantai, Ariel hanya mampu membaringkannya di pasir tidak jauh dari tepian. Dengan khawatir gadis itu menepuk-nepuk pipi dan memanggil-manggil pemuda untuk membangunkannya. Saat akhirnya Pangeran terbatuk-batuk dan memuntahkan air dari mulutnya, Ariel menghela napas lega. Pangeran membuka matanya dengan susah payah dan berusaha mencerna apa yang terjadi. Ia menangkap mata biru bulat yang indah dan surai rambut merah muda panjang yang terlihat memesona. Lalu suara itu ... suara yang sangat indah itu terdengar setiap sang gadis membuka mulutnya. Apa dia memanggilnya? Belum sempat ia menangkap lebih banyak, sosok itu pergi seiiring dengan matanya yang kembali tertutup.

.


Di saat yang sama ...

"Ne, bagaimana rasanya dipeluk oleh The Angel Voice, Paduka Raja Dearka yang Mulia?"

"Umm ... ah, ya itu, kan bagian dari skenario ... biasa saja kok."

"Biasa saja, eh? Atau luar biasa sampai kau terlihat senang sekali sampai tidak melepas-lepas pelukanmu begitu? Aku juga sudah membaca skenarionya, Dearka Sayang. Aku tahu dengan jelas berapa lama seharusnya adegan itu terjadi. Lalu bagaimana dengan senyum mesum di wajahmu itu, hah?"

"Ya ... kalau ditanya begitu ... rasanya ... memang ... luar biasa, sih."

Kretek.

"Ta-ta-tapi tidak seluar biasa saat kau peluk, kok, Milly! Sungguh!"

"Oh, memangnya kapan aku pernah memelukmu?"

Dearka menelan ludah.

Kretek.

.


"Anda menginginkan suaraku?"

"Oh, Putri. Ya, tentu saja! Suaramu lebih indah dari mutiara mana pun di lautan koral dan plankton ini! Ihihihihihihihi~"

Waaah, penyihirnya seram, ya, Tama-chan.

Ssst, Ibu gak boleh berisik.

"Ta-tapi, bagaimana aku bisa bicara dengan Pangeran jika Anda mengambil suaraku?" tanya Ariel sambil menggerakkan tangannya dengan panik.

Penyihir berbaju serba hitam itu pun hanya tertawa melengking. "Oh, Sayang. Jika kau memang mencintainya dan ia mencintaimu, suara bukanlah masalah. Atau kau tidak benar-benar mencintainya?"

Ariel memalingkan wajahnya sejenak dan berpikir. Penyihir masih terus memutarinya dengan seringai licik di wajahnya. Setelah berpikir cukup lama, Ariel mengepalkan kedua tangannya dan menatap Penyihir dengan mantap. "Berikan padaku ramuan itu."

Seringai Penyihir semakin lebar dan dengan penuh semangat wanita itu mengangkat kedua tangannya. Alunan musik opera yang menegangkan mulai terdengar membahana. "Bernyanyilah, Putri!"

Dengan ragu Ariel mulai melantunkan rangkaian nada yang sangat indah. Tawa Penyihir terdengar semakin menggelegar saat suara Putri Triton keenam semakin menghilang. Angin bertiup kencang membawa gelembung-gelembung dengan cepatnya.

.


Di balik panggung ...

Athrun yang mengenakan kemeja putih bersih agak longgar, celana satin berwarna cokelat, dan sepatu boots memeluk tubuhnya sendiri dan mengelus-elus kedua lengannya. "Uh, aku tidak bisa membayangkan situasi Kira saat ini. Aku yang mengintip dari balik panggung saja merinding melihat Cagalli yang tertawa menyeramkan begitu, apa lagi Kira yang ngintip lewat lubang mata di batu dekat mereka."

"Wanita memang menakutkan," timpal Auel yang juga sedang mengelus-elus lengannya sendiri, masih dengan kostum Ratu dan wig biru tua yang bergelombang rapi.

Yzak yang ada di sampingnya hanya menatapnya dengan pandangan aneh. "Kau sama sekali gak cocok bilang begitu dengan penampilanmu yang sekarang, Auel. Justru kau yang menakutkan."

"Ah, lihat! Satu ... dua ... tiga ... ada lima anak yang menangis!" timpal Dearka dengan pipi lebam, mata bengkak, hidung bengkok, dan bibir mengembang.

Para lelaki hanya menggeleng-geleng dengan decakan kagum. "Cagalli memang menyeramkan."

Tiba-tiba saja Yzak menoleh cepat ke arah Dearka dan menatapnya tajam. "Dearka, kau tidak lupa kalau kau masih ada scene, kan? Jelaskan padaku bagaimana kau akan tampil dengan wajah seperti itu?"

Athrun dan Auel ikut menoleh ke arah Dearka. Keduanya serempak menutup mulut mereka untuk menahan semburan tawa. "Dearka?" tanya Yzak lagi.

Pemuda itu melarikan diri.

.


Di dalam batu ...

"Aku tidak mau pulang ke rumah! Aku benar-benar tidak mau pulang ke rumah malam ini kalau ada Cagalli! Aku mau pergi dari tempat ini sekarang juga!" batin Kira gemetaran dan berkeringat dingin.

.


Dibantu oleh Sebastian, Ariel sampai di tepi pantai dengan terengah-engah. Gadis itu menyandarkan punggungnya di atas batu yang tak berlumut dan menarik napas panjang sejenak. Gadis itu mengangkat kakinnya yang mulus dengan pandangan takjub.

Sebastian menghampiri Ariel dengan khawatir, ikut memandang bentuk aneh yang baru pertama mereka lihat itu. "Kau ... baik-baik saja? Bagaimana perasaanmu?" Iris ruby itu benar-benar terlihat cemas.

Ariel mengangguk cepat dan tersenyum. Perlahan ia berusaha berdiri sambil bertumpu pada batu (Kira menahan tempat yang ditekan Lacus agar tidak jebol dengan tangannya) namun akhirnya jatuh lagi dengan cepat. Gadis itu tertawa tanpa suara.

"Maax[1], kau di sanaaaa?"

Sebastian dan Ariel tersentak mendengar suara itu. Sebastian dengan cepat menarik tangan Ariel untuk bersembunyi. Ariel yang masih belum bisa berdiri dengan stabil akhirnya jatuh menimbulkan suara cipratan air. Sebastian yang semakin panik dengan cepat kembali ke sisi Ariel, tapi ...

"Max, kaukah i—oh, seorang gadis?" mata emerald pemuda itu mendarat pada Sebastian, "dan kepiting?"

Ariel tersentak dan wajahnya mulai memerah. Kepiting menoleh saat dirasakannya batu di dekat mereka bergerak. Terpesona oleh mata bulat berwarna biru itu, Pangeran hanya mematung. Tunggu sebentar, mata biru? Pemuda itu mengedarkan pandangannya dari ujung kepala sang gadis samping ujung kakinya yang terlihat mulus dan sangat putih. Pemuda itu menautkan alisnya saat melihat rambut merah muda panjang Ariel yang terlihat berantakan namun tetap indah. Belum lagi bajunya yang kusut dan terlihat sedikit koyak di bagian kaki. "Apa kau terdampar?" tanyanya pelan.

Ariel menggeleng. Saat kepiting menyikutnya, Ariel langsung mengangguk cepat. Pangeran tertawa kecil melihat tingkah Ariel yang sangat spontan. Ia menunduk rendah dan mengulurkan tangannya dengan sopan. Melihat senyum tulus di wajah pangeran, Ariel menyambut uluran tangan itu sambil menunduk malu. Gadis itu memalingkan wajahnya, berusaha menyembunyikan semburat merah di pipinya. Jemari lentiknya menyeka helaian rambut merah muda yang menghalangi pandangan ke belakang telinga. Pangeran yang juga salah tingkah hanya menggaruk-garuk belakang kepalanya.

.


Di dalam batu ...

"Aaaah ... mereka berdua kenapa, sih? Kenapa terlihat benar-benar salah tingkah begitu? Itu hanya acting, kan? Tolong katakan itu hanya acting," rapal Kira pelan sekaligus gugup, masih dengan posisi meringkuk. Tiba-tiba mata pemuda itu membulat. "Ah!"

.


Seruan dan siulan penonton terdengar saat Pangeran dengan lembut menggenggam tangan Ariel. Alunan musik romantis yang hanya terdiri dari dentingan piano dan gesekan biola pun terdengar mengiringi. Ariel yang terkejut mengangkat kepalanya dengan cepat. Wajahnya semakin memerah saat mendapati sosok lelaki yang dicarinya berada semakin dekat. Pemuda itu menunduk sedikit sehingga wajah mereka kini sejajar. "Mata biru itu ...," Pangeran membelai helaian rambut di depan wajah Ariel dan melilitnya pelan di jemarinya, "rambut merah muda ini ... apa kau yang telah menyelamatkan nyawaku?" tanyanya dengan suara yang sangat lembut.

Kepiting menutup kedua matanya dan mundur menjauh. Entah kenapa perasaannya tiba-tiba tidak enak.

Ariel menelan ludah dan menatap mata indah itu lekat-lekat. Wajahnya semakin memerah karena Pangeran tak berpaling sedikit pun dari wajahnya. Ariel menunduk malu. Bahkan telinganya mulai ikut memerah. Pangeran dengan sabar dan perlahan mengangkat dagu Ariel agar kembali menatapnya. "Jadi itu benar? Kenapa kau diam saja?"

Ekspresi Ariel tiba-tiba berubah. Alisnya bertaut dan ia berpaling dengan sedih. Kali ini Pangeran mengatup pipi kanan Ariel dengan tangannya yang besar dan kembali menatapnya. "Kenapa kau terlihat sedih?"

Ariel hanya diam dan menggenggam tangan Pangeran di pipinya dengan kedua tangannya.

"SUDAH CUKUP!"

.


TBC


[1]: Nama anjing peliharaan Pangeran di film The Little Mermaid.

Kali ini update-nya lumayan cepat lho~ #bangga.

Yap! Chapter kali ini full dengan drama! Karena akan sangat merepotkan menulis deskripsi seolah ini benar-benar drama sekolah sekaligus harus menceritakan jalan cerita The Little Mermaid, jadi saya menulisnya dengan gaya seolah benar-benar menceritakan kisah The Little Mermaid aja *bahasamulainjelimet*. Bayangkan saja deskripsi setting di atas dengan kostum-kostum yang biasa ada di variety show Takeshi Castle, hanya saja lebih ala kadarnya dan menyesuaikan dengan kantong anak sekolahan.

Misalnya, Shinn yang pake kostum kepiting sehingga sebenernya Sebastian di panggung adalah kepiting raksasa. Setiap adegan yang ada angin berhembusnya berasal dari kipas angin super yang udah disiapin di samping panggung. Gelembung dari hasil tiupan anak-anak kelas yang lagi nganggur dan yang paling penting: kostum putri duyung. Kostum duyung-duyung di sini gak pake ekor tapi pake dress yang agak menguncup di bagian betis dan akhirnya ngembang sampe nutupin kaki, untuk yang putra duyung juga konsepnya sama. Sekali lagi, ingat kalau ini drama sekolahan, jadi dress-nya juga nggak megah-megah.

Maaf juga kalo readers agak susah ngebayangin Ariel dengan sosok Lacus (atau Lacus dengan sosok Ariel?) dan rasanya agak OOC. Soalnya kepribadian mereka memang agak beda, yang satunya anggun, yang satunya lagi ceria. Bener gak, sih? #geplaked. Yah, intinya, di sini situasinya lagi lomba drama, drama penuh acting, kan? Jadi mohon dimaklumi aja.

Maaf banget kalau seandainya ribet banget *bow*. Nggak apa-apa, kan? *puppyeyes* #Abaikan.

Balasan review untuk WingZero: Ini akhirnya update gak selama biasanya lho~ semoga menikmati ya ^^

Terima kasih untuk para readers dan suuuuppeeer terima kasih untuk yang nyempetin kasih review, fave, dan untuk readers yang tetep mau ngikutin TFK meski dengan laju update yang ababil. Berhubung mulai besok semester baru udah mulai, jadi saya gak janji update-nya bakal cepat atau nggak. Pokoknya saya usahakan supaya TFK gak discontinue dan bisa tamat dengan tenang (?).

Have a nice life and day!