Sebelas
"WAH, hujan lagi," kata Nenek Osawa sambil menatap keluar pintu kaca teras.
Keempat orang lainnya yang duduk mengelilingi kotatsu ikut berpaling dan menatap keluar. Baekhyun bertanya-tanya dalam hati apa yang sedang dilakukan Chanyeol saat ini. Sudah lebih dari satu jam berlalu sejak ia mengantar Yuri pulang, kenapa sampai sekarang belum kembali?
"Chanyeol pergi dengan mobilnya?" tanya Kakek Osawa tiba-tiba.
"Tidak," sahut Tomoyuki, kembali menatap mangkok nasinya yang sudah hampir kosong. "Kurasa dia sudah mengembalikan mobilnya."
"Kurasa dia juga tidak membawa payung," gumam Nenek Osawa. Lalu ia berpaling kepada Baekhyun dan tersenyum menghibur. "Mungkin dia terlambat karena hujan ini."
Baekhyun hanya tersenyum karena ia tidak tahu bagaimana menanggapi kata-kata Nenek Osawa. Apakah kekecewaannya begitu jelas terlihat sampai Nenek Osawa merasa perlu menghiburnya?
"Ya. Menurutku juga begitu," timpal Tomoyuki setelah menelan makanan yang ada di dalam mulutnya. "Chanyeol Oniisan tidak akan pulang dalam hujan selebat ini. Kurasa dia pasti menunggu hujan berhenti di..."
Haruka memukul kepala adiknya dan melotot. "Hati-hati dengan ucapanmu." Tomoyuki menatap kakaknya sambil memberengut dan mengusap-usap kepala.
"Memangnya apa yang akan kukatakan?"
Baekhyun membiarkan kedua kakak-beradik itu meneruskan perdebatan kecil mereka dan berkonsentrasi pada makanan di depannya. Ia tidak mau memikirkan Chanyeol. Untuk apa memikirkan hal-hal yang pasti akan membuat hatinya sendiri sakit? Sebaiknya ia mencari bahan obrolan yang menyenangkan karena ia tahu dirinya agak pendiam selama makan malam. Yah, mungkin itu sebabnya Nenek Osawa berusaha menghiburnya.
Tiba-tiba ponselnya berbunyi nyaring. Alis Baekhyun terangkat ketika melihat nama yang tertera di layar. "Moshimoshi? Chanyeol-san?"
Chanyeol menutup flap ponsel dan tersenyum. Ia sudah tahu Baekhyun akan mengomel sedikit, setelah itu menyetujui permintaannya. Stasiun kereta bawah tanah ini tidak jauh dari gedung apartemen, jadi gadis itu tidak perlu berjalan jauh. Chanyeol mendongak dan mengembuskan napas panjang. Uap putih meluncur keluar dari mulutnya dan menghilang dengan cepat. Ia merapatkan jaket karena dingin dan berdiri memerhatikan hujan yang sepertinya tidak akan berhenti dalam waktu dekat.
Ia memangan berkeliling. Di sekitarnya banyak orang yang juga sedang menunggu hujan berhenti. Orang-orang yang membawa payung sudah berjalan menembus hujan. Beberapa orang dijemput oleh keluarga atau teman yang membawakan payung, membuat iri orang-orang yang masih berdiri menunggu. Chanyeol tersenyum. Ia tidak merasa iri, karena tidak lama lagi Baekhyun akan datang dan menjemputnya.
Dan kali ini aku akan mengatakan apa yang tidak sempat kukatakan kepada Baekhyun tadi, putusnya sambil menyelipkan amplop berisi foto yang diambilnya dari Yuri ke balik sweter supaya tidak basah.
Baekhyun melirik Chanyeol yang berjalan di sampingnya sambil memegangi payung. Dari tadi Chanyeol diam saja, tidak menjelaskan apa-apa. Kenapa? Akhirnya Baekhyun berdeham dan bertanya, "Kau sudah makan?"
Chanyeol menoleh menatapnya dan tersenyum. "Belum. Kalian sudah selesai makan?"
"Sudah," sahut Baekhyun.
"Oh,"Chanyeol mengangguk pelan, lalu kembali terdiam.
Baekhyun menggigit bibir dan meliri Chanyeol lagi. Apakah laki-laki itu benar-benar tidak mau menjelaskan? Apakah ia harus bertanya? Apakah ia akan terdengar terlalu ikut campur kalau bertanya? Apakah ia boleh bertanya?
Tiba-tiba Chanyeol mendesah keras dan berhenti melangkah. Baekhyun ikut berhenti dan menatapnya dengan heran. "Ada apa?" tanyanya.
Chanyeol berbalik menghadapnya. "Tidak ada yang ingin kau tanyakan kepadaku?"
"Apa?" Baekhyun terkejut dan mengerjap. Astaga! Apakah Chanyeol baru membaca pikirannya? Tidak, tidak mungkin. Mungkinkah?
"Kau benar-benar tidak ingin tahu?" tanya Chanyeol lagi.
"Ingin tahu tentang apa?"
Chanyeol ragu sejenak, berpikir-pikir. Lalu menarik napas dan berkata, "Kukira kau ingin tahu tentang hubunganku dengan Yuri."
Napas Baekhyun tertahan dan matanya melebar. "Ap-apa?" katanya tergagap, tidak menyangka Chanyeol bisa menebak apa yang dipikirkannya dengan tepat. "Tidak, aku tidak ingin tahu."
Mata Chanyeol menyipit.
"Kau sudah pernah menceritakan semuanya kepadaku," lanjut Baekhyun ketika melihat Chanyeol sepertinya tidak percaya. "Dia teman lamamu dan bertunangan dengan sahabatmu. Tapi, tentu saja, sekarang dia sudah tidak bertunangan lagi karena dia menyadari sebenarnya dia menyukaimu. Dan kau juga menyukainya. Tidak ada lagi yang perlu kuketahui."
Ia menghentikan kata-katanya begitu menyadari nada suaranya agak ketus dan menyadari ia sudah terlalu banyak bicara. Chanyeol menatapnya tanpa berkedip. Baekhyun membuka mulut, lalu menutupnya lagi, tidak tahu apa yang harus dikatakannya dalam situasi seperti ini. Mungkin memang lebih baik tidak mengatakan apa-apa. Baekhyun mencengkeram payungnya, lalu membalikkan tubuh dan bergumam, "Sebaiknya kita cepat-cepat. Aku kedinginan."
Ia baru berjalan beberapa langkah ketika Chanyeol menyusulnya dan bertanya, "Kau cemburu?"
Baekhyun ingin berkata, Tidak, aku tidak cemburu. Sama sekali tidak. Kenapa harus? Lalu ia berpikir kata-kata yang diucapkan dengan terlalu menggebu-gebu seperti itu justru tidak akan membantu. Akhirnya ia menarik napas untuk menenangkan diri dan berkata, "Aku tidak punya alasan untuk cemburu, bukan?"Chanyeol berpikir sejenak, lalu menjawab ringan, "Memang tidak."
Baekhyun mengangguk pendek sambil terus melangkah. Benar, ia tidak punya alasan untuk cemburu. Sama sekali tidak berhak cemburu. Tetapi, astaga, kenapa hatinya masih terasa sakit walaupun ia sudah tahu sejak dulu kalau semua ini akan terjadi?
Tiba-tiba tangan Chanyeol memegang sikunya dan menahannya supaya berhenti berjalan. "Hubungan kami tidak seperti itu."
Baekhyun mengerjap menatap Chanyeol. "Apa?"
Chanyeol melepaskan tangannya dari siku Baekhyun dan tersenyum.
"Hubungan kami tidak seperti itu," katanya sekali lagi.
Baekhyun kembali mengerjap. Ia memang tidak salah dengar. "Oh? Tapi... Tapi kau menyukainya."
"Tadinya kukira begitu," aku Chanyeol. "Tapi kalau aku memang menyukainya, kenapa aku selalu merasa tidak tenang setiap kali melihatmu bersama Akira?"
Sesaat mereka hanya berpandangan. Entah jalanan saat itu memang sedang sunyi atau Baekhyun yang tidak bisa mendengar apa-apa selain debar jantungnya sendiri dan bunyi hujan yang terdengar samar-samar. Rasanya seperti mimpi. Apakah ia memang sedang bermimpi?
"Apa... maksudmu?" Akhirnya Baekhyun memberanikan diri bertanya.
Suara yang keluar dari tenggorokannya terdengar kecil dan jauh.
Jantungnya berdebar keras menunggu jawaban Chanyeol.
Keheningan yang hanya dihiasi bunyi hujan tiba-tiba dipecahkan bunyi decit yang keras. Mereka berdua serentak menoleh dan melihat dua mobil sedan hitam berhenti mendadak di dekat mereka. Dua pria keluar dari masing-masing mobil, tanpa payung, dan menatap lurus ke arah mereka.
Baekhyun mengerjap dan rasa panik langsung merayapi dirinya. Tangannya terangkat dan mencengkeram lengan jaket Chanyeol. Ia tidak tahu siapa orang-orang itu dan apa yang mereka inginkan, tetapi sudah pasti mereka tidak bermaksud baik. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri. Tidak ada orang. Jalanan sunyi senyap. Jalan itu memang selalu sepi, tetapi setidaknya biasanya ada satu atau dua orang yang terlihat berjalan kaki. Hari ini, dalam hujan lebat ini, tidak terlihat orang lain di jalan selain mereka.
Chanyeol mengerutkan kening. Perlahan ia menarik Baekhyun ke belakang punggungnya. "Siapa kalian?" tanya Chanyeol kepada orang-orang berpakaian serbahitam itu.
Mereka tidak menjawab. Saat itu pintu belakang salah satu mobil terbuka. Seorang pria keluar sambil membuka payung. Ia menegakkan tubuh, menutup pintu mobil, dan tersenyum ke arah Chanyeol. Senyum itu sama sekali bukan senyum bersahabat. Kerutan di kening Chanyeol semakin dalam. Pria itu. Kenapa pria itu terasa tidak asing?
Pria yang menatap Chanyeol dengan tajam itu berumur sekitar tiga puluhan, bibirnya tipis, rambutnya tipis, dan hidungnya agak bengkok.
"Kau tidak ingat lagi padaku?" tanya pria itu sambil tersenyum lebar. Lalu ia tergelak. "Waktu itu aku juga menanyakan pertanyaan yang sama.
Tapi tentu saja, sekarang kau sudah pasti tidak ingat padaku. Aku menghajarmu dengan baik, bukan?"
Baekhyun terbelalak di balik punggung Chanyeol dan cengkeramannya di lengan Chanyeol mengencang. Astaga! Orang itu yang dulu menyerang Chanyeol. Orang itu... Orang itu yang membuat Chanyeol hilang ingatan. Dan orang itu... orang itu... Oh! Tiba-tiba Baekhyun terkesiap ketika ia akhirnya bisa melihat wajah pria itu dengan lebih jelas di bawah sinar lampu pinggir jalan.
Mata sipit pria itu beralih ke arah Baekhyun. Baekhyun tidak berani bernapas sementara pria itu mengamatinya dengan saksama, lalu ia kembali menatap Chanyeol dan tersenyum lebar, "Kurasa pacarmu ingat padaku," katanya.
Chanyeol menoleh ke belakang ke arah Baekhyun. Baekhyun mendongak dan bertatapan dengan Chanyeol. Ia ingin berkata ia memang mengenal pria itu. Ia pernah melihat pria itu di pertunjukan balet yang dihadirinya bersama Chanyeol. Waktu itu pria berwajah jahat ini menatap Chanyeol dengan pandangan aneh. Kini Baekhyun mengerti sebabnya. Tetapi suaranya tidak bisa keluar. Ia terlalu terkejut untuk berkata-kata.
"Kurasa pacarmu ingat padaku."
Jantung Chanyeol berdebar begitu keras sampai dadanya terasa sakit. Ia menoleh ke arah Baekhyun. Karena Baekhyun mencengkeram lengannya, Chanyeol bisa merasakan gadis itu gemetar. Ia mengerti arti tatapan di dalam mata Baekhyun yang terbelalak ketakutan itu. Baekhyun memang pernah bertemu dengan pria yang berdiri di hadapan mereka ini.
Kalau memang pria itu yang menyerangnya, maka...
"Kau sepupu Akira?" tanya Chanyeol datar sambil kembali menatap pria itu. "Hirayama Jun?"
Jun mendengus. "Sudah kuduga Akira akan menjadi masalah," katanya dengan nada rendah. "Dia sudah memberitahumu, hah?"
"Apa yang kauinginkan dariku?" tanya Chanyeol. Walaupun ia berbicara dengan nada datar dan tenang, pada kenyataannya jantungnya berdebar kencang. Ia merasa tegang, bukan karena khawatir akan keselamatan dirinya, tetapi khawatir akan keselamatan gadis yang saat ini ketakutan di belakangnya. Orang-orang yang mengerubungi mereka ini sudah jelas orang-orang kasar. Mereka sudah pernah menyerang Chanyeol satu kali.
Kemungkinan besar hari ini mereka datang untuk menyelesaikan pekerjaan mereka yang belum tuntas.
"Seharusnya aku menghabisimu saat itu juga, jadi aku tidak perlu direpotkan masalahmu sekarang." Suara Jun terdengar lagi. Ia melirik Baekhyun. "Tapi sekarang juga tidak apa-apa. Aku bisa menyelesaikan dua masalah sekaligus."
Chanyeol kembali menoleh ke arah Baekhyun. Ia tidak mungkin membiarkan Baekhyun terluka. Seharusnya ia tidak meminta gadis itu datang menjemputnya di stasiun kereta bawah tanah. Seharusnya ia tidak menempatkan gadisd itu dalam bahaya. Seharusnya... Seharusnya...
Jun menyunggingkan seulas senyum licik yang menampakkan giginya. "Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali," gumamnya.
Baekhyun tidak bisa melepaskan cengkeramannya di lengan Chanyeol. Pria yang berdiri di hadapan mereka bersama empat orang anak buahnya itu terlihat berbahaya. Apa yang diinginkannya? Apa yang akan terjadi pada mereka? Pada Chanyeol?
Chanyeol menurunkan payung yang dipegangnya, menunduk ke arah Baekhyun, dan berbisik, "Telepon polisi."
Kata-kata Chanyeol belum sempat dicernanya ketika Baekhyun mendengar satu kata yang diucapkan pria jahat di depan mereka itu. "Serang," gumam pria itu. Kemudian segalanya kacau.
Chanyeol menarik Baekhyun ke samping ketika empat orang bertubuh besar itu dengan cepat bergerak maju. Payung Baekhyun terlempar entah ke mana. Baekhyun juga tidak peduli. Matanya terbelalak menatap Chanyeol yang memunggunginya dan berhadapan dengan empat orang yang sepertinya tidak akan ragu-ragu membunuh pria itu.
Ketika dua di antara mereka melayangkan pukulan ke arah Chanyeol, Baekhyun memekik. Chanyeol mendorongnya menjauh. Baekhyun terhuyung sedikit, tetapi matanya dengan ngeri menatap Chanyeol yang berusaha mengelak dari serangan oarng-orang itu. Haruka pernah berkata Chanyeol jago karate. Memang. Baekhyun bisa melihatnya. Tetapi orang-orang yang menyerangnya juga bukan orang-orang sembarangan. Ditambah lagi, mereka berempat sementara Chanyeol sendirian.
Sendirian. Bersama Baekhyun yang tidak bisa apa-apa. Baekhyun yang juga dianggap sebagai sasaran.
Otak Baekhyun masih lumpuh. Ia menatap perkelahian di depannya dengan ngeri, tetapi ia tidak bisa bertindak. Ia tidak ingat kata-kata Chanyeol tadi, sampai salah seorang tukang pukul itu meninju rahang Chanyeol. Saat itu jgua Baekhyun merasa sekujur tubuhnya dingin dan jantungnya seakan berhenti berdetak. Dan saat itu juga sebuah suara mendesaknya. Telepon polisi! Telepon siapa saja! Telepon!
Ia ketakutan. Ia gemetaran. Ia basah kuyup. Semua itu membuat usahanya mengeluarkan ponsel dari saku menjadi tugas paling sulit dalam hidupnya. Ia tidak sempat banyak berpikir. Ia hanya menekan tombol untuk menghubungi orang terakhir yang dihubunginya. Saat itu ia tidak ingat siapa yang terakhir kali dihubunginya. Yang paling penting adalah menelepon seseorang. Siapa saja.
Baekhyun tidak melihat salah seorang tukang pukul itu bergerak ke arahnya. Ia sibuk berdoa dalam hati dengan ponsel ditempelkan di telinga. Angkat teleponnya... Angkat teleponnya... Tolong...
"Moshimoshi?"
Suara Haruka! Baekhyun hampir pingsan saking leganya. "Oneesan..."
Ia menjerit ketika lengannya disentakkan dengan kasar. Baekhyun tersungkur ke tanah dan ponselnya terlepas dari pegangan. Ketika ia mendongak ia melihat si tukang pukul mengayunkan sebelah kakinya. Baekhyun otomatis mengangkat tangan untuk melindungi kepala. Tetapi tidak terjadi apa-apa. Malah terdengar suara keras dan sesuatu yang berat jatuh menindihnya.
Baekhyun membuka mata dan mendapati Chanyeol berlutut di dekatnya.
Lengan Chanyeol merangkul tubuhnya.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Chanyeol sambil meringis.
Baekhyun tidak mendengarkan pertanyaan itu. Yang dilihatnya hanya darah di sudut bibir Chanyeol. Matanya terbelalak kaget. Tangannya terangkat ke pipi Chanyeol. "Chanyeol-san! Kau..."
Tiba-tiba si tukang pukul kembali melayangkan tendangan ke punggung Chanyeol. Baekhyun memekik. Ia berputar dan merangkul Chanyeol yang tersungkur di tanah untuk melindunginya.
"Hentikan! Hentikan!" seru Baekhyun. Ketika berteriak ia baru sadar suaranya pecah dan air mata sudah mengalir di wajahnya, bercampur dengan air hujan.
Salah seorang tukang pukul itu, entah yang mana, mencengkeram lengan Baekhyun dan menariknya dengan kasar sampai berdiri. Baekhyun berusaha melawan, menendang, memukul, dan berteriak. Si tukang pukul mengangkat tangan dan menamparnya dengan keras. Kepala Baekhyun tersentak ke belakang. Ia bisa merasakan telinganya berdenging kesakitan dan ledakan warna menyilaukan terlihat di balik kelopak matanya.
Chanyeol bertindak cepat. Ia melayangkan tinju ke rahang orang yang menampar Baekhyun, lalu disusul dengan tendangan di perut. Orang itu terhuyung mundur dan terjatuh ke tanah.
Hirayama Jun, yang dari tadi menyaksikan perkelahian itu dengan senyum licik tersungging di wajah, mengangkat sebelah tangan. Anak-anak buahnya berhenti bergerak.
"Sebelum aku menghabisi kalian berdua," katanya dengan suara pelan dan dingin, "aku ingin mengatakan bahwa aku mengagumi kekuatanmu." Matanya menatap luruslurus ke arah Chanyeol. "Tapi tetap saja kau tidak bisa menang dariku."
Entah sejak kapan mereka mengeluarkan tongkat pemukul dari dalam mobil, tetapi saat anak-anak buah Hirayama Jun kembali bergerak cepat ke arah Chanyeol, merek asudah mengacungkan senjata mereka.
Baekhyun membelalakkan mata. Tidak... Tidak... Tenaga Chanyeol sudah terkuras habis. Walaupun Chanyeol masih berdiri tepat di depan Baekhyun dan sebelah tangannya terulur ke belakang, memastikan Baekhyun terlindungi di belakangnya, Baekhyun tahu laki-laki itu tidak mungkin menghadapi empat tukang pukul yang bersenjata. Baekhyun memang tidak bisa melihat wajah Chanyeol, tetapi ia tidak perlu melakukannya untuk tahu bahwa Chanyeol juga terluka. Tidak... Kalau mereka menyerang Chanyeol lagi, Chanyeol pasti akan celaka. Tidak... Baekhyun harus menghalangi mereka. Bagaimanapun caranya.
"Tidak! Hentikan!" Tanpa berpikir lagi, Baekhyun berlari ke depan Chanyeol, ingin melindunginya, mencoba menghalangi orang-orang yang akan mengayunkan tongkat ke arah Chanyeol.
Chanyeol sudah tidak bertenaga. Seluruh tubuhnya terasa sakit. Darah menetes dari pipi dan bibirnya. Ia tidak mungkin melawan empat orang bertubuh besar yang jago berkelahi. Tidak dalam kondisi seperti ini. Ia sulit bernapas, karena dadanya terasa sakit setiap kali ia berusaha menarik napas. Mungkin juga ada beberapa tulangnya yang patah.
Tetapi ia tidak bisa menyerah sekarang. Tidak boleh. Ia harus memastikan keselamatan gadis di belakangnya ini. Baekhyun sama sekali tidak ada hubungannya dengan semua ini. Ia tidak mungkin membiarkan Baekhyun terluka. Tadi saja ia merasa jantungnya berhenti berdetak ketika salah satu tukang pukul itu memukul wajah Baekhyun.
Chanyeol berusaha mengatur napas. Ia mengulurkan tangan ke belakang, menyentuh Baekhyun, memastikan gadis itu baik-baik saja dan masih ada di dekatnya. Astaga, kalau sesuatu terjadi pada Baekhyun, ia... ia... Apa yang harus dilakukannya?
Keempat orang di hadapannya serentak bergerak dan mengayunkan tongkat ke arahnya. Saat ini yang paling penting adalah menjauhkan Baekhyun dari sini. Walaupun Chanyeol mungkin tak bisa lagi melawan, tetapi ia masih bisa melindungi Baekhyun.
"Tidak! Hentikan!" Tiba-tiba saja Baekhyun bergerak ke depan Chanyeol dengan tangan direntangkan. Chanyeol terkesiap. Tidak... Tidak! Matanya terpaku pada tongkat yang akan mengenai kepala Baekhyun.
Setelah itu semuanya seolah-olah terjadi dalam gerakan lambat. Ia mencengkeram tangan Baekhyun dan menarik gadisd itu ke arahnya. Tepat ketika ia mendekap Baekhyun, kepalanya pun serasa meledak.
Baekhyun memekik ketika tongkat kayu itu menghantam kepala Chanyeol dan laki-laki itu terjatuh ke depan, masih mendekap Baekhyun erat-erat. Serangan itu tidak berhenti di sana.
Satu pukulan itu dilanjutkan dengan bertubi-tubi pukulan lain. Baekhyun meminta mereka berhenti memukuli Chanyeol, tetapi suaranya dikalahkan bunyi hujan. Walaupun orang-orang itu bisa mendengarnya, Baekhyun tidak yakin mereka mau menuruti kata-katanya.
Chanyeol tetap memeluk Baekhyun, menahan Baekhyun di tanah dengan tubuhnya sementara ia menerima setiap pukulan yang diarahkan kepadanya. Baekhyun terisak memanggil namanya, tetapi Chanyeol tidak menyahut. Kalau bukan karena lengannya yang merangkul tubuh Baekhyun dengan kencang, Baekhyun pasti berpikir laki-laki itu sudah pingsan.
Lalu tiba-tiba saja terdengar bunyi melengking, beberapa berkas sinar menyilaukan terlihat dan Baekhyun juga mendengar teriakan-teriakan keras yang mengalahkan suara hujan. Tiba-tiba saja tubuh Chanyeol berhenti berguncang. Orang-orang itu tidak lagi memukulinya. Terdengar teriakan lagi. Bernada mendesak. Memerintah. Lalu tongkattongkat kayu berjatuhan ke tanah.
Baekhyun mendongak dan menyipitkan mata karena silau. Lalu perlahan-lahan semuanya menjadi jelas. Orang-orang yang tadi memukuli mereka berdiri memunggungi mereka dengan tangan terangkat ke atas kepala. Begitu juga Hirayama Jun. Baekhyun mengalihkan pandangan dan melihat beberapa orang polisi mengacungkan pistol ke arah mereka. Polisi datang!
"Chanyeol-san," panggil Baekhyun sambil bergerak dalam pelukan Chanyeol. "Chanyeol-san, polisi sudah datang."
Chanyeol tidak bergerak. Juga tidak bersuara.
Baekhyun mendorong tubuh Chanyeol dan berusaha duduk, namun memekik pelan ketika Chanyeol langsung jatuh terlentang di tanah. "Chanyeol-san?" panggil Baekhyun panik sambil memegang pipi Chanyeol. Ia menatap mata Chanyeol yang terpejam, pipinya juga terluka, dan bibirnya yang berdarah. Baekhyun merasa sekujur tubuhnya menegang ketakutan.
"Kalian tidak apa-apa?" tanya salah seorang polisi yang buru-buru menghampiri mereka.
Baekhyun mendongak menatap wajah polisi itu dengan mata terbelalak cemas dan menunjuk Chanyeol. "Dia... dia..."
Si polisi cepat-cepat memeriksa keadaan Chanyeol sementara seorang polisi lain yang lebih muda menghampiri Baekhyun dan membantunya berdiri. Baekhyun tidak bisa mendengar pertanyaan yang diajukan kepadanya oleh polisi yang membantunya itu. Matanya terpaku pada Chanyeol yang sedang diperiksa polisi yang lebih tua tadi. Akhirnya si polisi berbicara di walkie-talkie-nya, meminta ambulans segara dikirim ke lokasi kejadian karena ada korban yang terluka parah dan tidak sadarkan diri.
Sekujur tubuh Baekhyun terasa dingin. Jantungnya seakan berhenti berdetak beberapa detik. Terluka parah? Separah apa? Ada apa dengan Chanyeol? Apa...?
"Baekhyun!"
Baekhyun berpaling. Ia melihat Haruka yang memegang payung berlari-lari ke arahnya.
Dengan cepat Haruka tiba di depan Baekhyun. "Kau tidak apa-apa? Apa yang terjadi?" tanyanya dengan nada mendesak cemas. "Begitu mendengar suaramu di telepon, aku langsung merasa ada yang tidak beres dan cepat-cepat menelepon polisi. Tomoyuki sedang pergi menemui temannya, jadi aku panik. Aku... Astaga! Kau menggigil!"
Baekhyun menggeleng-geleng. Kepalanya mendadak terasa pusing. "Tidak, aku tidak apa-apa. Tapi Chanyeol-san... dia..."
Dan hal terakhir yang didengar Baekhyun adalah pekikan Haruka ketika ia jatuh pingsan dalam pelukan tetangganya.
Winter in Tokyo
PUTIH. Hanya itu yang dilihatnya ketika ia membuka mata. Setelah mengerjap beberapa kali, Chanyeol baru sadar yang dilihatnya adalah langit-langit kamar. Kelopak matanya terasa berat, pandangannya masih agak kabur, kepalanya sakit. Di mana dia? Di rumah sakit? Apa yang...?
Ah, ia ingat. Perkelahian itu. Hirayama Jun kembali menyerangnya. Dan Baekhyun. Di mana gadis itu? Apakah ia baik-baik saja?
"Kau sudah sadar?"
Chanyeol menggerakkan kepalanya ke arah suara. Wajah Takemiya Shinzo terlihat di samping tempat tidurnya. "Paman?" gumamnya serak.
"Aku senang kau masih mengingatku." Takemiya Shinzo tersenyum lega. "Kurasa kau juga sadar bahwa kau berada di rumah sakit."
"Baekhyun?" tanya Chanyeol dan berusaha bangkit.
"Tunggu, tunggu," cegah pamannya dan menahan bahu Chanyeol. "Pelan-pelan saja."
Chanyeol duduk dibantu pamannya. "Di mana Baekhyun? Bagaimana keadaannya?"
"Baekhyun?" kata Takemiya Shinzo bingung. "Maksudmu gadis yang dibawa ke sini bersamamu itu? Dia baik-baik saja."
"Di mana dia sekarang?"
"Tadi dia di sini. Perawat baru saja membujuknya kembali ke kamarnya sendiri. Dia harus banyak istirahat," sahut pamannya ringan.
Melihat sorot mata Chanyeol yang tiba-tiba cemas, ia cepat-cepat menambahkan, "Percayalah. Dia tidak apa-apa. Kata dokter dia sudah boleh pulang besok. Sedangkan kau harus tinggal di rumah sakit beberapa hari lagi."
Merasa tenang mendengar Baekhyun baik-baik saja, Chanyeol mengembuskan napas perlahan dan tersenyum. Kemudian ia tertegun dan menatap pamannya. "Paman, sudah berapa lama aku di sini?"
Pamannya tersenyum lebar. "Tidak selama yang waktu itu. Kau hanya pingsan beberapa jam. Hebat, kan? Apakah mungkin itu berarti kau sudah kebal dihajar?"
Chanyeol tertawa, dan langsung meringis ketika wajahnya terasa sakit.
Ia melirik jam dinding. Belum tengah malam.
"Kenapa Paman masih ada di sini?" tanyanya heran. "Bukankah jam besuk sudah lewat?"
"Tentu saja sudah lewat," balas pamannya sambil tertawa. "Tapi aku membujuk perawat memperpanjang waktu kunjunganku. Perawat di sini baik-baik."
Chanyeol tertawa kecil, ingat pamannya bisa sangat memesona kalau keadaan mengharuskan.
"Untunglah kau segera sadar," Takemiya Shinzo menambahkan. "Kalau tidak, aku harus menelepon ibumu dan mengabarkan bahwa kau dikeroyok lagi. Ibumu pasti akan langsung terbang ke sini dan menyeretmu kembali ke New York tanpa banyak omong."
Chanyeol meringis. "Tapi Paman belum menelepon Ibu?"
"Kupikir, untuk apa membuat ibumu khawatir sebelum kita tahu hasil yang pasti? Bagaimanapun juga, sekarang kau sudah sadar dan sepertinya kau sangat baik."
"Ya, tapi badanku sakit semua."Chanyeol terdiam sejenak, lalu berkata, "Orang-orang itu..."
"Polisi sudah menahan orang-orang yang menyerangmu itu," sela Takemiya Shinzo. Nada suaranya berubah serius. "Mereka juga yang menyerangmu pada Hari Natal waktu itu." Chanyeol mengangguk.
"Aku tidak ingin kau merisaukan masalah ini..." Pamannya tersenyum menenangkan. "Aku sudah menghubungi pengacaraku dan dia yang akan mengurus semuanya. Yang perlu kaulakukan sekarang hanyalah mengurus dirimu sendiri. Setelah merasa cukup sehat, kau harus memberikan pernyataan kepada polisi."
Chanyeol mengangguk lagi. "Bagaimana dengan Baekhyun?" "Kurasa polisi sudah berbicara kepadanya."
Kening Chanyeol berkerut samar. Ia tidak suka Baekhyun harus menghadapi polisi sendirian.
Seolah-olah bisa membaca pikiran Chanyeol, Takemiya Shinzo berkata pelan, "Kau tidak perlu khawatir. Aku meminta pengacaraku menemaninya saat itu."
Chanyeol menarik napas panjang. "Terima kasih, Paman."
"Gadis itu... Baekhyun," Suara pamannya terdengar agak ragu, "... dia gadis yang kubilang mirip Luhan."
Chanyeol menatap pamannya dengan pandangan bertanya.
"Dia gadis yang pergi ke pertunjukan balet bersamamu pada malam Natal itu," kata Takemiya Shinzo.
Chanyeol tersenyum. "Ya. Dia saudara kembar Luhan." Alis Takemiya Shinzo terangkat. "Benarkah?"Chanyeol memejamkan mata, namun ia masih tetap tersenyum. "Dia lahir lima menit setelah kakak kembarnya. Dia tidak bercita-cita menjadi model. Dia senang bekerja di perpustakaan, suka membaca buku, suka mengomel dalam bahasa Korea, dan suka menonton balet. Pikirannya juga suka melantur ke mana-mana. Dia takut gelap dan tidak bisa memasang bola lampu..."
"Dan kau menyukainya," gumam Takemiya Shinzo pelan sambil tersenyum mengerti.
Chanyeol menatap pamannya. "Apa?"
Takemiya Shinzo menggerakkan dagunya ke arah meja kecil di samping tempat tidur. "Aku sudah melihat itu."Chanyeol menoleh ke arah yang ditunjuk dan melihat amplop besar. "Apa itu?"
Takemiya Shinzo meraih amplop itu dan menyerahkannya kepada Chanyeol. "Mereka menemukan ini di balik swetermu. Amplopnya yang lama sudah basah dan robek, tapi foto-fotonya masih bisa diselamatkan."
Chanyeol tersenyum memandangi foto-foto yang diberikan Yuri kepadanya. Foto-foto yang diambilnya ketika ia baru saja tiba di Tokyo, termasuk foto-foto Baekhyun.
"Dan ini Baekhyun-mu, bukan?" tanya Takemiya Shinzo sambil menunjuk salah satu foto. "Kau tidak akan memotret seperti itu kalau kau tidak menyukainya."
Beberapa jam setelah pamannya pulang, Chanyeol masih terjaga di ranjangnya. Tubuhnya memang terasa lemah, tetapi ia sangat asdar, otaknya terang benderang, dan ia tidak bisa tidur.
Mungkin sebaiknya ia pergi melihat Baekhyun. Memastikan gadis itu memang baik-baik saja.
Chanyeol turun dari ranjang dengan perlahan, meringis sedikit ketika kakinya menginjak lantai dan harus menopang tubuhnya. Ia berjalan tertatih-tatih ke pintu, membukanya, dan melongokkan kepala ke luar. Tidak ada siapa-siapa di koridor yang diterangi lampu itu. Kamar Baekhyun tidak jauh dari kamar Chanyeol sendiri. Ia sudah bertanya kepada pamannya tadi, jadi ia tidak akan kesulitan menemukan kamar Baekhyun.
Kamar Baekhyun memang tidak jauh, tetapi Chanyeol membutuhkan waktu lima belas menit untuk berjalan ke sana. Tentu saja karena ia sesekali harus berhenti sejenak untuk menarik napas atau mengistirahatkan ototnya yang sakit. Menjadi orang lemah dan sakit memang menyebalkan.
Perlahan-lahan dan tanpa suara Chanyeol membuka pintu kamar Baekhyun. Di kamar yang diterangi lampu kecil di meja sudut, Chanyeol melihat Baekhyun terbaring pulas di ranjang. Gadis itu berbaring menyamping, sebelah pipinya disandarkan ke bantal, dan selimut ditarik sampai ke dagu.
Chanyeol berjingkat-jingkat menghampiri ranjang. Ia berhenti di samping ranjang dan memandangi gadis yang terlelap itu.
Sepertinya tidak ada luka, pikir Chanyeol setelah menatap wajah Baekhyun dengan saksama. Ia baik-baik saja. Syukurlah.
Chanyeol duduk di kursi di samping ranjang. Ia menarik napas dan mengembuskannya pelan. Kini ia bisa bernapas lebih mudah. Kegelisahan yang tanpa sadar dirasakannya sejak tadi mulai menguap dari tubuhnya. Ia merasa lega. Ya, semuanya akan baik-baik saja.
Ia berkata pada diri sendiri bahwa ia hanya akan duduk di sana sebentar. Hanya sebentar. Namun kenapa waktu terasa begitu cepat berlalu, walaupun ia hanya duduk di sana tanpa melakukan apa-apa selain memandangi wajah Baekhyun yang sedang tidur?
Tadinya Akira bermaksud mampir ke kamar Baekhyun dan melihat keadaan gadis itu. Walaupun Baekhyun dibawa ke rumah sakit dalam keadaan pingsan, tidak lama kemudian gadis itu sadar dan langsung menanyakan keadaan Chanyeol.
"Chanyeol tidak apa-apa," hibur Akira saat itu. "Dia memang belum sadarkan diri, tapi keadaannya sudah stabil. Dia pasti bisa bertahan. Jangan khawatir."
Baekhyun masih terlihat cemas, tetapi ia tersenyum kecil. "Aku tahu," gumamnya. Lalu ia mendongak menatap Akira. "Boleh aku melihatnya?"
Akira mengantarnya ke kamar rawat Chanyeol. Saat itu paman Chanyeol ada di sana, jadi Akira memperkenalkan mereka berdua.
"Kukira semua keluarga Chanyeol-san sudah pindah ke New York," kata Baekhyun setelah memberi hormat kepada pria yang lebih tua itu dan acara perkenalan berlalu.
Takemiya Shinzo tersenyum. "Rupanya dia tidak pernah bercerita tentang aku?"
"Oh, aku tidak bermaksud..."
"Tidak apa-apa. Sudah kuduga pasti begitu," sela paman Chanyeol ringan.
Baekhyun beralih menatap Chanyeol yang terbaring di ranjang. Kepala dan kaki kiri Chanyeol dibebat.
"Keadaannya stabil," gumam Takemiya Shinzo, menjawab pertanyaan Baekhyun yang tidak diucapkan. "Dia baik-baik saja."
Baekhyun mengangguk.
"Kalau tidak keberatan, maukah kau menemaninya sebentar?" tanya Takemiya Shinzo. "Aku harus menelepon seseorang."
Tentu saja Baekhyun tidak keberatan. Tapi setelah menyatakan kesediaannya, ia baru berpaling ke arah Akira, baru teringat Akira masih berdiri di dalam kamar itu juga. "Sensei tidak perlu menemaniku," katanya perlahan. "Aku tidak apa-apa. Aku hanya akan duduk di sini sebentar. Hanya sebentar."
"Baiklah," kata Akira setelah berpikir sejenak. "Tapi jangan ragu-ragu memanggilku kalau ada apa-apa."
Baekhyun tersenyum yakin. "Baiklah."
Setelah itu Akira meninggalkan Baekhyun yang duduk di kursi di samping ranjang Chanyeol.
Kini, Akira berdiri tertegun di pintu kamar rawat Baekhyun yang terbuka sedikit. Matanya menatap sosok Chanyeol yang duduk di kursi di samping ranjang Baekhyun. Chanyeol hanya duduk di sana, dengan kedua tangan disandarkan ke masing-masing lengan kursi, kakinya yang dibebat diselonjorkan ke depan. Ia tidak melakukan apa-apa. Hanya duduk di sana memandangi Baekhyun yang sedang tidur.
Karena tidak ingin mengganggu, Akira kembali menutup pintu tanpa
suara dan berjalan menjauh dari kamar rawat Baekhyun. Sebenarnya ia sudah merasakannya sebelum ini, hanya saja ia masih belum yakin atau ia tidak mau mengakuinya. Tetapi dari apa yang dilihatnya tadi, semuanya sudah jelas. Ia hanya perlu menerimanya.
Chanyeol tidak tahu jam berapa ia kembali ke kamarnya sendiri, tetapi ia akhirnya bisa terlelap. Dan ketika ia terbangun keesokan harinya, matahari sudah bersinar cerah walaupun rasa dingin di luar sana tetap menusuk tulang.
Tidak ada siapa-siapa di kamarnya. Mungkin pamannya baru akan datang siang nanti. Apakah Baekhyun sudah bangun?
Chanyeol bermaksud pergi mencari gadis itu. Tetapi ketika ia sedang berusaha bangkit dari ranjang, pintu kamarnya terbuka. Ia mengangkat wajah, berharap melihat Baekhyun, tetapi ternyata bukan.
"Yuri?"
Iwamoto Yuri menyerbu masuk dan bergegas menghampiri ranjang Chanyeol. "Tadi aku pergi mencarimu ke apartemenmu dan salah seorang tetanggamu memberitahuku tentang penyerangan itu. Jadi aku langsung ke sini," katanya cemas, sebelum Chanyeol sempat bertanya. "Chan, kau tidak apa-apa? Apa yang terjadi?"
"Aku tidak apa-apa. Kau tidak perlu khawatir," kata Chanyeol menenangkan. Ia memberi isyarat supaya Yuri duduk, tetapi wanita itu mengabaikannya karena sepertinya ia terlalu cemas. Lalu Chanyeol menjelaskan secara garis besar apa yang terjadi kemarin malam.
"Mengerikan sekali," gumam Yuri di akhir penjelasan Chanyeol.
"Tapi aku akan segera sembuh," tambah Chanyeol. "Akira juga bilang yang harus kulakukan hanya istirahat yang cukup. Setelah itu aku akan sembuh total."
Yuri masih terlihat cemas.
"Oh ya, kenapa kau mencariku?" tanya Chanyeol, teringat bahwa Yuri pergi mencarinya ke apartemen.
Akhirnya Yuri duduk di kursi di samping ranjang. "Oh, aku hanya ingin memberitahumu pelatihanku di Tokyo sudah berakhir dan besok aku akan pulang ke New York."
"Oh, ya? Cepat sekali waktu berlalu."
"Tapi aku bisa tetap tinggal di sini kalau kau membutuhkanku. Maksudku, karena sekarang kau masih sakit."
Chanyeol menggeleng. "Sudah kubilang, aku tidak apa-apa. Dan aku tidak mungkin merepotkanmu."
Yuri tersenyum kecil. "Sama sekali tidak repot. Itu gunanya teman, bukan?" sahutnya. Ia terdiam sejenak. "Ngomong-ngomong, bagaimana keadaan Baekhyun-san?"
Raut wajah Chanyeol melembut. "Dia diizinkan pulang hari ini," sahutnya sambil tersenyum.
"Senang mendengar dia juga baik-baik saja."
Chanyeol mendesah dan memandang ke luar jendela. "Kalau sampai terjadi sesuatu padanya, kurasa aku..."
"Ya?"
Chanyeol menatap Yuri, baru sadar kalau tadi ia sudah mengucapkan apa yang sedang dipikirkannya. Ia menggeleng dan tersenyum. "Tidak apa-apa. Lupakan saja."
"Chan."
"Mm?"
"Kau yakin dengan perasaanmu terhadap Baekhyun-san?" "Maksudmu?"
Yuri mengangkat bahu dengan bimbang. "Bukan apa-apa. Maksudku, kau tidak mengenalnya dan kau sama sekali tidak ingat apa pun tentang dia, tapi tiba-tiba kau bilang kau menyukainya. Bukankah kedengarannya gegabah?"
Chanyeol mendongak menatap langit-langit. "Ingatanku bisa saja bermasalah," gumamnya pelan, "tapi aku tahu apa yang kurasakan."
"Apa yang kaurasakan?"
"Kau ingat ketika kita menghadiri acara reuni SMP-ku bulan lalu?"
Chanyeol menoleh ke arah Yuri. Ketika yang ditanya mengangguk, ia melanjutkan, "Saat itulah pertama kali aku melihatnya setelah aku hilang ingatan. Dia sedang berdiri di seberang ruangan. Dan ketika dia menatap ke arahku, jantungku serasa berhenti berdegup. Aku tidak bisa menjelaskannya, tapi saat itu... aku merasa sangat senang melihatnya."
Chanyeol berhenti sejenak dan mengangkat bahu. "Kedengarannya konyol, bukan?"
Yuri menarik napas perlahan, lalu tersenyum. "Tidak. Sama sekali tidak konyol."
"Saat itu aku sangat bingung dengan apa yang kurasakan setiap kali aku melihatnya," lanjut Chanyeol dengan nada melamun. "Maksudku, aku sama sekali tidak mengenalnya. Tidak ingat apa pun tentang dirinya. Tetapi aku selalu ingin melihatnya."
"Akhirnya kau berpikir dulu kau mungkin pernah menyukainya," gumam Yuri.
"Ya. Saat itu aku memang berpikir begitu," aku Chanyeol. "Tapi sekarang aku tahu memang begitulah kenyataannya."
Alis Yuri terangkat sedikit. Setelah terdiam beberapa saat, akhirnya ia berkata pelan, "Ingatanmu sudah kembali."
"Baekhyun-san." Baekhyun yang sedang dalam perjalanan ke kamar Chanyeol berhenti melangkah dan menoleh ketika mendengar suara Kitano Akira. "Sensei," sapanya sambil tersenyum lebar dan membungkuk. "Selamat pagi."
Kitano Akira menghampiri Baekhyun. "Bagaimana keadaanmu pagi ini?" "Sangat baik. Terima kasih atas bantuannya."
Akira tersenyum kecil. "Sudah menjadi kewajibanku untuk menolong orang sakit," sahutnya ringan. Ia berpikir sejenak sebelum melanjutkan, "Baekhyun-san, aku ingin meminta maaf atas semua yang terjadi..."
"Sensei," sela Baekhyun cepat, "apa pun yang dilakukan sepupu Sensei tidak ada hubungannya dengan Sensei. Jadi Sensei tidak perlu meminta maaf untuk apa pun. Aku yakin Chanyeol-san juga akan mengatakan hal yang sama."
Akira menarik napas panjang. "Aku hanya berharap aku bisa membantu."
"Sensei sudah banyak membantu dengan memberikan informasi kepada polisi," kata Baekhyun. "Itu tindakan yang sangat berani."
Akira menatap lurus ke mata Baekhyun. "Aku sungguh tidak ingin kau terluka."
Alis Baekhyun terangkat sedikit, tetapi ia tetap tersenyum. "Sensei, aku tidak apa-apa. Sungguh. Bukankah Sensei sendiri yang bilang begitu?"
"Benar. Kau memang benar. Aku hanya berharap..." Akira ragu sejenak. Ia menatap Baekhyun dan tersenyum kecil. "Aku hanya berharap akulah yang melindungimu saat itu."
"Kau tidak perlu mengantarku, kau tahu?" kata Yuri ketika Chanyeol bangkit dari ranjang dan ingin mengantarnya ke luar. "Kau masih belum cukup sehat untuk berkeliaran."
"Tidak apa-apa. Aku juga butuh olahraga," sahut Chanyeol mantap. "Lagi pula hanya sampai ke lift."
Begitu tiba di depan lift, Yuri berbalik menghadap Chanyeol. "Oh, ya, hampir saja lupa," katanya sambil tersenyum dan merogoh tas tangannya. Ia mengeluarkan kotak kecil yang terbungkus kertas ungu.
"Untukmu," katanya Yuri dan mengulurkan kotak itu ke arah Chanyeol. "Apa ini?"
"Cokelat," sahut Yuri pendek. "Happy Valentine's Day."
Alis Chanyeol terangkat. "Valentine's Day? Sekarang bukan tanggal 14, bukan?"
Yuri tersenyum. "Tanggal 14 nanti aku sudah tidak ada di Tokyo, jadi kuputuskan untuk memberikannya sekarang," katanya, lalu masuk ke lift dan melambaikan tangan.
Setelah pintu lift tertutup, Chanyeol berbalik, hendak kembali ke kamarnya, tetapi langkahnya tiba-tiba berhenti dan ia menoleh. Tidak jauh dari tempatnya berdiri, ia melihat Byun Baekhyun, yang saat itu masih mengenakan piama rumah sakit, berdiri berhadapan dengan Kitano Akira.
Chanyeol melihat tangan Akira memegang kedua bahu Baekhyun, sepertinya sedang mengatakan sesuatu. Baekhyun mendongak menatap laki-laki itu, tersenyum, dan mengangguk. Lalu Akira melambaikan tangan dan berjalan pergi.
Baekhyun sendiri berputar dan berjalan ke arah kamar rawat Chanyeol.
Sedetik kemudian gadis itu mengangkat wajah dan menatap Chanyeol.
Matanya melebar dan senyumnya berubah cerah.
Apakah gadis itu gembira karena melihatnya atau gembira karena baru bertemu dengan Akira?
"Chanyeol-san," seru Baekhyun dan bergegas menghampiri Chanyeol. "Kau benar-benar sudah sadar."
Chanyeol menunduk menatap gadis itu dan tersenyum lebar. Setiap kali melihat gadis itu tersenyum, ia tidak bisa menahan diri untuk ikut tersenyum. "Aku sudah sadar sejak kemarin malam," katanya, "tapi tentu saja kau tidak tahu karena kau tidur seperti bayi."
Baekhyun balas menatapnya dengan mata yang juga disipitkan. "Apa maksudmu aku tidur seperti bayi?" katanya, terdiam sejenak, lalu menambahkan, "Ngomong-ngomong, kenapa kau jalan-jalan sendirian? Ayo, kembali ke kamar."
Chanyeol membiarkan dirinya dituntun Baekhyun kembali ke kamar rawatnya. "Aku bosan," gerutunya. "Dan aku benci rumah sakit."
Mereka masuk ke kamar dan Baekhyun mendorong Chanyeol ke ranjang.
"Kalau kau mau cepat-cepat keluar dari sini, kau harus istirahat. Luka-lukamu masih belum sembuh benar, tahu. Memangnya kau mau lukamu bertambah parah dan tinggal di sini lebih lama lagi?"
Chanyeol duduk di tepi ranjang dengan patuh, lalu menepuk-nepuk tempat di sebelahnya. "Kau juga duduk di sini."
Baekhyun menurut. Ia duduk di samping Chanyeol di ranjang dan menatap laki-laki itu. "Chanyeol-san... Terima kasih."
"Terima kasih? Untuk apa?"
Baekhyun menggeleng. "Karena aku, kau jadi terluka seperti ini. Bagaimana kepalamu? Sakit sekali?"
"Kau tidak perlu mencemaskanku," kata Chanyeol. Ia mengangkat sebelah tangannya dan menyentuh luka memar di pipi Baekhyun. Sentuhannya ringan, tetapi Baekhyun meringis karena kulitnya masih terasa nyeri.
"Masih sakit?" tanya Chanyeol dengan nada khawatir.
Setelah menahan napas sesaat, Baekhyun memaksa dirinya menghirup napas dengan normal dan menggeleng. "Sepertinya kau lebih kesakitan daripada aku."
Chanyeol menurunkan tangannya dan tersenyum. "Aku tidak apa-apa. Aku kuat. Luka begini saja sama sekali bukan masalah."
Alis Baekhyun terangkat. "Bukan masalah? Kau tahu betapa takutnya aku sewaktu orang-orang itu tidak mau berhenti memukulimu? Dan aku tidak bisa membantumu. Tidak bisa melakukan apa-apa. Dan ketika polisi datang, kau tidak bergerak. Kukira kau... Kukira..." Mata Baekhyun berkaca-kaca. Ia mengerjap, lalu mengalihkan pandangannya ke depan, dan menarik napas panjang.
Chanyeol tertegun. Ia menatap Baekhyun sesaat, lalu mengulurkan tangan meraih tangan Baekhyun dan meremasnya. "Maafkan aku," gumamnya. "Aku berjanji tidak akan membuatmu khawatir lagi."
Baekhyun sendiri tidak menyangka ia akan mengucapkan kata-kata itu. Tetapi semua itu benar. Saat itu ia memang sangat ketakutan. Bukan takut pada orang-orang kasar itu, tetapi takut mereka akan melukai Chanyeol. Yang dipikirkannya saat itu adalah bagaimana kalau Chanyeol celaka? Bagaimana kalau Chanyeol tidak bisa bangun lagi? Selama-lamanya? Apa yang akan terjadi padanya kalau orang-orang itu benar-benar membunuh Chanyeol? Baekhyun menggigil memikirkan kemungkinan itu.
Saat itu Chanyeol menggenggam tangannya dan berkata pelan, "Maafkan aku. Aku berjanji tidak akan membuatmu khawatir lagi."
Baekhyun menahan napas, mengangkat wajah, dan menatap Chanyeol. Laki-laki itu tersenyum kepadanya dan meremas tangannya, meyakinkannya bahwa ia tidak perlu cemas. Benar, pikir Baekhyun. Aku tidak perlu cemas. Semuanya baik-baik saja. Chanyeol baik-baik saja. Laki-laki ini kini ada di sampingnya. Dan itulah yang terpenting.
"Ngomong-ngomong, apa itu?" tanya Baekhyun sambil mengalihkan perhatian ke arah kotak kecil di ranjang Chanyeol.
"Oh, cokelat. Hadiah Valentine dari Yuri," sahut Chanyeol ringan.
Alis Baekhyun terangkat. "Yuri-san? Tadi dia ke sini?" tanyanya.
Chanyeol mengangguk. "Dia hanya sebentar di sini."
"Oh." Hanya itu yang bisa dikatakan Baekhyun. Ia tidak ingin bertanya untuk apa Yuri datang ke sini. Walaupun Chanyeol pernah berkata ia tidak punya hubungan istimewa dengan Iwamoto Yuri, tetap saja itu bukan urusan Baekhyun.
"Dia datang untuk mengatakan dia akan pulang ke New York," kata Chanyeol tanpa ditanya. "Masa pelatihannya sudah selesai."
"Oh?" Baekhyun agak kaget mendengarnya. Tanpa bisa mencegah dirinya, ia bertanya, "Apakah Chanyeol-san juga...?"
"Aku akan tetap di sini. Bersamamu," kata Chanyeol sambil menatap lurus ke arah Baekhyun. Seulas senyum kecil tersungging di bibirnya. "Apakah kau mau menerimaku?"
Kenapa Baekhyun tidak bisa bernapas? Kenapa ia tidak bisa bergerak? Ia balas menatap Chanyeol dan ia bisa merasakan jantungnya berdebar keras. Akhirnya, ia memutuskan untuk menganggapinya sebagai gurauan.
"Karena hanya aku yang mau memasak untukmu?" tanyanya sambil tersenyum lebar.
Chanyeol terdiam sejenak, lalu tertawa kecil. Tiba-tiba ia bertanya, "Ngomong-ngomong, aku melihatmu bersama Akira tadi."
Agak kaget dengan perubahan arah pembicaraan yang tiba-tiba ini, Baekhyun mengerjap, lalu bertanya heran, "Ya. Kenapa?"
"Apa yang kalian bicarakan?"
Baekhyun tidak langsung menjawab. Lalu ia menunduk dan berkata,
"Tidak ada yang penting."
Chanyeol berdeham. "Kau... berencana memberinya cokelat? Pada Hari Valentine nanti, maksudku."
Baekhyun mengerutkan kening, lalu tertawa kecil mendengar pertanyaan aneh itu. Tidak pernah terpikirkan olehnya untuk memberikan cokelat kepada Kitano Akira pada Hari Valentine.
"Kau akan memberikan cokelat kepadanya?" Suara Chanyeol terdengar lagi.
Kalau tersenyum sendiri dan menggeleng. "Tidak."
"Kalau untukku?"
"Apa?" Baekhyun mengerjap dan menatap Chanyeol.
Chanyeol tersenyum lebar. "Bagaimana kalau kau membuat biskuit yang sama seperti yang pernah kauberikan kepadaku Hari Natal lalu? Enak sekali."
Mata Baekhyun melebar. Apa? Biskuit? Hari Natal lalu? Tunggu... Jadi...? Ia tidak berani berharap, tapi...
"Aku sudah ingat," kata Chanyeol, seolah-olah menegaskan apa yang dipikirkan Baekhyun.
"Kau sudah ingat?" ulang Baekhyun tidak percaya. "Semuanya?"Chanyeol mengangguk. "Semuanya."
Sejenak Baekhyun tidak berkata apa-apa, hanya menatap Chanyeol tanpa berkedip. Ia ingin mencerna apa yang baru saja dikatakan Chanyeol kepadanya. Ia ingin merasa yakin ini bukan mimpi.
Chanyeol menatapnya dengan alis terangkat. "Baekhyun-chan, kenapa diam saja? Aku benar-benar sudah ingat semuanya. Tidak percaya?" Ia memiringkan kepala dan mengerutkan kening, seolah-olah sedang berpikir. "Aku ingat kau mengendap-endap di depan pintu apartemenku pada hari pertama aku tiba di Tokyo. Aku ingat kau pernah bermalam di apartemenku karena lampu di apartemenmu tidak bisa menyala. Oh, jangan menatapku seperti itu. Kau memang bermalam di apartemenku walaupun kau tidak suka dengan istilah itu. Aku ingat kencan kita pada malam Natal, pertunjukan balet, lalu kita pergi ke arena seluncur es..."
Tiba-tiba saja, tanpa berpikir dua kali—tanpa benar-benar berpikir, Baekhyun melingkarkan kedua lengannya di leher Chanyeol dan memeluknya erat-erat.
Sekujur tubuh Chanyeol masih sakit dan ia harus menahan diri untuk tidak meringis atau mengaduh ketika Baekhyun tiba-tiba memeluknya dan hampir membuatnya terjungkal ke belakang. Tetapi bagaimanapun juga, ada saatnya ketika rasa sakit sama sekali tidak penting. Misalnya sekarang, ketika Byun Baekhyun memeluknya untuk pertama kali.
"Kau sudah kembali," gumam Baekhyun di bahu Chanyeol. "Kau sudah kembali."
Chanyeol tersenyum, menarik napas dalam-dalam, dan mengembuskannya dengan pelan. Ia merasa lega. Sangat lega. "Aku sudah kembali," gumamnya lirih. "Apakah kau juga akan kembali kepadaku?"
Baekhyun tertegun. Lalu ia mundur sedikit dan menatap Chanyeol.
Tiba-tiba pintu kamar rawat Chanyeol terbuka dan langsung disusul oleh suara Sato Haruka. "Dia pasti ada di kamar Chanyeol. Nah, kubilang juga... Lho, kalian sedang apa?"
Baekhyun tersentak dan buru-buru menjauh dari Chanyeol. Wajahnya terasa panas. "Oneesan, kau sudah datang. Oh, Kakek dan Nenek juga."
"Aku juga datang!" seru Tomoyuki yang masuk belakangan. "Wah, Chanyeol Oniisan sudah sadar?"
"Ingatan Chanyeol-san sudah kembali," kata Baekhyun.
Dan kamar yang tadinya terasa agak sepi itu pun berubah ramai.
"Benarkah? Itu berita yang sangat bagus, Baekhyun?"
"Kita harus merayakannya begitu Chanyeol keluar dari rumah sakit."
"Oniisan, apakah ingatanmu kembali gara-gara kejadian kemarin? Maksudku, karena kepalamu dipukul sekali lagi... Aduh! Oneechan, kenapa kepalaku dipukul?"
"Karena kau tidak peka. Siapa suruh kau mengungkit-ungkit masalah itu? Ngomong-ngomong, kalian berdua, tentunya kalain sudah tahu mataku tajam dan aku selalu yakin dengan apa yang kulihat. Benar? Jadi mulailah menjelaskan apa yang kulihat tadi ketika aku baru masuk."
TBC
akhirnyaaaaa setelah beberapa chap wkwk apakah kita perlu ngadain syukuran
BaekHill : udah noh wkwk
Park Oh Yeoja ChanHun : sudah update yaw
izzahnurul034 : mereka emang bikin greget di chap kemaren
PCYfairyfloss : udah pengen abis nih tapi gak tau bisa up cepet apa gak
FreezingUnicorn180 : nih aku udah update yahhh, cielah ada yang rindu sama aku nih wkwk
almaepark : tenang aja udah inget nih si cy
michiko yoshinora klemente : sudah terbayarkan sekarang
