"The Tales Of New Ninja"
Disclaimer : Masashi Kishimoto©Naruto
Genre : Adventure
Rating : T
Warning : Typo-/Miss Typo, OOC, Alur terlalu cepat/kurang jelas,Strong!Naru,GodLike!Naru,Alive!MinaKushi,Gray!Naru, dll.
NB : - Sebagian besar dari cerita ini merupakan modifikasi alur di canon dan beberapa bagiannya merupakan imajinasi Author.
=ENJOY=
Sebelumnya : Itachi mengangguk. "Kupikir begitu. Baiklah. Ayo beristirahat."
Dan akhirnya mereka mulai meninggalkan tempat itu untuk beristirahat.
Tanpa mereka sadari, seseorang mengawasi dari kegelapan. "Khu…Khu…Khu…Rupanya bocah itu anggota Akatsuki." Mata reptilnya menajam. "Kurasa akan semakin menarik." Lanjutnya kemudian menyatu dengan tanah.
Catching Ichibi
Siang hari di desa Konoha itu terlihat begitu tenang. Beberapa orang terlihat berlalu-lalang disekitar desa dengan senyum di wajahnya. Begitupula seorang perempuan bercepol empat dengan sebuah kipas besar di punggungnya.
Setelah kepergian ayahnya sebagai Yondaime Kazekage, kini adiknya yang naik menggantikan posisi ayahnya itu. Sejak saat itu pula ia sering dikirim untuk mengantar surat ke beberapa tempat. Dan kini adiknya mengirimnya ke Konoha untuk mengantarkan surat kepada Hokage.
"Hei, Temari!" Panggil seseorang dibelakangnya.
Temari menoleh. "Oh, Shikamaru."
Pria yang dipanggil Shikamaru itu melambaikan tangannya kemudian mendekat. "Ada apa kau kemari?"
Temari berjalan bersama Shikamaru di sebelahnya. "Yah, Gaara menyuruhku untuk mengantarkan surat untuk Hokage-sama."
Shikamaru menaikan sebelah alisnya. "Surat? Merepotkan."
"Begitulah. Kau sendiri sedang apa disini?" Kata Temari.
"Tadi aku sedang enak- enak tidur di kamarku. Kemudian ibuku datang dan menyuruh pergi keluar. Hah, wanita memang merepotkan."
Temari tertawa kecil kemudian memberi jitakan di kepala Shikamaru. "Nanti kan kau juga akan menikah bersama perempuan, bodoh!"
"Aduh," Shikamaru mengelus kepalanya pelan. "Kau juga merepotkan!"
Temari memutar matanya. "Sudahlah. Aku duluan ya!" Katanya sambil berlalu.
Sedangkan Shikamaru terus saja menggumamkan segala hal tentang 'merepotkan'.
"Kau yakin ini gerbang masuknya, Itachi?"
Itachi mengangguk. "Ini bagianmu. Lumpuhkan para penjaga!"
Naruto mendecih pelan. "Dasar tukang perintah."
"Hei kalian! Berhenti disana!" Kata seorang ninja Sunagakure yang menjadi penjaga gerbang itu.
Naruto menaikan topinya (Note : Sama seperti yang dipakai SasoDei di canon), kemudian menatap orang itu dengan Sharingannya. Seketika itu juga ia terjatuh dan tak sadarkan diri.
"Masih ada delapan orang lagi di sana." Kata Itachi sambil menunjuk ke depan.
Naruto mengangguk. "Kurasa mereka semua akan berdatangan kemari."
Tepat seperti yang dikatakan Naruto, kedelapan ninja yang tadi menjaga gerbang tiba- tiba berlari dan akhirnya mengepung mereka.
"Baiklah. Ini dia mereka." Kata Naruto lagi.
"Menyerahlah! Kalian terkepung!" Ucap salah seorang ninja Sunagakure itu.
Salah seorang lagi kemudian menyadari lambang pada jubah Naruto dan Itachi. "Lambang itu! Mereka Akatsuki!"
Naruto menatap Itachi kemudian mengangguk.
Set!
Mereka berdua langsung memunggungi kemudian membentuk segel tangan bersama- sama.
Katon : Goukakyu No Jutsu!
Mereka berdua menembakan bola api dengan ukuran cukup besar ke arah para ninja itu.
"Arghh!"
"Ughh!"
Dan merekapun tewas terbakar karena tidak sempat menghindar dari serangan kombo Naruto-Itachi barusan.
"Lebih baik kita cepat masuk kedalam sebelum lebih banyak penjaga." Kata Naruto sambil membetulkan posisi topinya dan beranjak dari sana.
Krak!
"Hm? Aneh sekali." Ucap Temari sambil melihat gelasnya yang tiba- tiba retak.
Shikamaru yang mendengar Temari bicara menoleh kearahnya. "Ada apa?"
"Entah kenapa aku memiliki firasat buruk." Temari menatap gelasnya yang retak itu.
"Mungkin itu hanya perasaanmu saja." Balas Shikamaru.
"Kuharap begitu."
"Jadi disana tempat Jichuuriki itu berada?" Tanya Itachi.
Naruto mengangguk. "Apa kita langsung menyerangnya atau kita membuat keributan kecil dulu?"
"Aku akan mengalihkan perhatian. Kau yang tangani sisanya." Kemudian Itachi segera menghilang dalam kumpulan gagak.
"Yah baiklah. Kurasa aku akan mencoba menggunakan Kuchiyose yang dipinjamkan Nagato."
Naruto memfokuskan chakra di kedua matanya. Perlahan kedua mata itu berubah menjadi pola cincin berwarna ungu terang, Rinnegan.
Chikusodo : Kuchiyose No Jutsu!
Naruto segera menghentakan tangannya ke tanah.
Boft!
Sebuah kepulan asap muncul dan dari dalamnya keluarlah seekor bunglon raksasa dengan sepasang sayap dan beberapa tindik di tubuhnya. Bunglon itu membuka mulutnya dan Naruto masuk kedalamnya. Detik berikutnya bunglon itu sudah menghilang.
BOOM! BOOM! BOOM!
Secara tiba- tiba, tiga buah ledakan terjadi di tiga tempat berbeda di desa itu. Beberapa penduduk langsung berlarian. Ninja yang berada disana langsung bersiaga. Sedangkan sang Kazekage yang mendengar suara ledakan itu segera keluar dari ruangannya dan menuju atap.
BOOM! BOOM!
Dua ledakan kembali terjadi saat Gaara sudah sampai diatap. Asap hitam membumbung tinggi di beberapa tempat.
Kemudian datanglah seorang ninja dan berlutut di belakang Gaara. "Kazekage-sama! Desa kita sedang diserang!"
Gaara membalikan badannya. "Perintahkan seluruh ninja untuk mengevakuasi dan melindungi penduduk."
Ninja itu mengangguk kemudian segera menghilang dengan shunsinnya.
Gaara menggertakan giginya. "Beraninya mereka!"
Secara tiba- tiba tiga buah kunai melayang ke arah Gaara. Namun dengan mudah berhasil ia tepis dengan perisai pasirnya.
Seekor bunglon kemudian muncul di depannya sambil membuka mulutnya. Dan dari dalam sana keluarlah seorang laki- laki dengan jubah hitam bermotif sebuah awan merah dan sebuah topi di kepalanya.
Boft!
Akhirnya bunglon itu menghilang, meninggalkan laki- laki itu bersama sang Kazekage.
"Siapa kau?!" Ucap Gaara.
Laki- laki itu melepas topinya, dan tampaklah rambut kuning serta mata berwarna ungu.
"Na-Naruto?!" Gaara merasa terkejut dengan kehadiran Naruto. 'Mata apa itu? Aku belum pernah melihatnya.' Lanjutnya dalam hati.
Naruto melemparkan topi itu ke tanah dan membuka dua kancing jubahnya.
"Jadi kau mengenalku? Pasti ayahmu sudah bercerita banyak hal ya, Gaara." Naruto mengeluarkan sebuah besi berbentuk tabung dari lengan jubahnya. "Tapi sayang. Sepertinya kita tidak memiliki banyak waktu berbincang."
Set!
Naruto segera melaju dan mengayunkan besi hitamnya ke kepala Gaara.
Jrash!
Namun serangan itu gagal karena perisai pasir milik Gaara kembali melindunginya.
"Cih. Pasir yang merepotkan!" Ucap Naruto. Ia melompat mundur kemudian melempar besi itu ke tanah. Selanjutnya ia merangkai segel tangan dan menghentakannya ke tanah.
BOFT!
Sebuah kepulan asap berwarna putih kembali muncul dan menampilkan sesosok burung raksasa berbentuk aneh dengan empat sayap dan beberapa tindikan di tubuhnya.
"Ayo kita ke udara, Gaara." Kata Naruto sambil melompat keatas burung itu.
Whush!
Burung kuchiyose Naruto segera terbang dari atap itu. Tak tinggal diam, Gaara mengumpulkan pasir di bawah kakinya kemudian pergi menyusul Naruto.
Gaara dan Naruto saling bertatapan. Ekspresi mereka sangat tenang seperti halnya para ninja profesional.
"Apa maksudmu menyerang desa ini?!" Tanya Gaara.
"Tidak banyak," Naruto menatap Gaara. "Aku hanya menginginkan Ichibi."
"Untuk apa kau menginginkan Ichibi?!" Balas Gaara. Dalam pikirannya ia ingin mengalihkan Naruto agar dapat mengevakuasi penduduk Suna.
Sedangkan Naruto yang mengetahui apa yang Gaara rencanakan memutar matanya bosan. "Bisakah kita menghentikan pembicaraan yang tidak ada habisnya ini? Aku tahu kau sedang mengalihkan perhatian supaya penduduk dapat dievakuasi."
Gaara terdiam. Tak menyangka rencananya dapat ditebak dengan mudah.
"Lagipula aku tidak berniat untuk menghancurkan desamu ini. Cukup serahkan dirimu dan kami akan pergi dari sini."
Gaara tak bergeming. Perlahan pasir yang ada di kendinya itu bergerak, kemudian mulai membentuk sebuah tangan raksasa dan mengarah ke tempat Naruto.
Whush!
Dengan mudah kuchiyose Naruto berhasil menghindarinya. Namun beberapa saat setelahnya, tangan- tangan pasir lainnya mengejar Naruto dan kuchiyosenya itu.
Whush! Krak!
Salah satu tangan pasir itu berhasil menangkap burung aneh milik Naruto. Namun burung itu menghilang dan meninggalkan kepulan asap putih.
Tiba- tiba Naruto muncul dari baliknya sambil berlari diantara lengan pasir milik Gaara dengan dua buah besi hitam yang sama. Setelah berada di depan Gaara, ia menusukan besi itu ke arahnya dengan cepat.
Zrash!
Namun lagi- lagi pasir Gaara berhasil menghalangi serangan Naruto.
"Pertahanan bagus." Kata Naruto. Detik berikutnya ia menggunakan pasir itu sebagai tumpuannya lalu melompat ke belakang dan mendarat di salah satu atap.
Melihat Gaara yang sudah menurunkan pertahanan pasirnya, Naruto kembali merangkai segel tangan.
Suiton : Suiryuudan No Jutsu!
Partikel- partikel air mulai berkumpul dan akhirnya membentuk sesosok naga air raksasa.
Groaar!
Naga itu melaju ke arah Gaara sambil mengaum. Beberapa penduduk yang melihat itu merasa ketakutan. Beberapa ninja penjaga akhirnya juga berdatangan ke arah atap karena kehadiran naga itu.
"Cih. Dimana Itachi?" Gumam Naruto.
Gaara yang melihat hal itu segera mengangkat tangannya. Dalam sekejap, sebuah tembok pasir raksasa terbentuk dan menahan serangan naga air itu. Namun ternyata pasir itu luruh.
Naruto yang melihat hal itu tidak ingin menyia-nyiakannya kembali merangkai segel tangannya.
Katon : Sanryuu Huashi!
Naruto menarik napasnya dalam- dalam dan menghembuskannya sebanyak tiga- kali. Lalu, terbentuklah tiga naga api kemudian kembali mengarah ke tempat Gaara.
"Gaara-sama!" Teriak seorang ninja Suna.
BUM!
Serangan Naruto tadi meledak dan menghasilkan asap cukup tebal.
"Sialan kau!" Seorang ninja Suna akhirnya maju ke arah Naruto dengan kunai di tangan kirinya. Dengan segera ia mengayunkannya vertikal ke arah Naruto.
Sret!
Naruto menunduk, lalu bersalto sambil menendangnya.
Buagh!
Ninja itu terpental keatas. Namun Naruto melompat ke arahnya sambil menangkap kunai ninja tadi. "Kau gegabah!" Ucap Naruto sambil menusukan kunai itu kearah si ninja.
Namun tiba- tiba sebuah pasir dari bawah memerangkap kakinya. Naruto melihat ke tempat Gaara dan menemukan bahwa sang Jinchuuriki masih hidup, namun dengan beberapa bagian baju yang sobek dan gosong.
"Kukira dia sudah kalah." Kata Naruto lagi.
Pasir itu perlahan- lahan menyelimuti seluruh tubuhnya dan akhirnya membentuk sebuah bola pasir dengan Naruto di dalamnya.
"Dengan ini berakhirlah sudah, Naruto!" Ucap Gaara sambil mengepalkan tangan kanananya keatas.
Namun tiba- tiba dari dalam bola pasir itu keluar suatu tekanan tidak kasat mata. Beberapa rumah di sekitarnya ikut hancur. Debu- debu berterbangan dan angin bertiup cukup kencang. Pandangan mereka kabur.
Tanpa disadari Gaara, Naruto sudah ada dibelakangnya. Ia menarik kepalan tangannya dan memajukannya dengan kekuatan penuh.
BUAGH! BRAK! BRAK!
Gaara sempat menaikan pasirnya untuk perlindungan. Tapi serangan Naruto barusan sangatlah kuat. Ia terpental, kemudian menabrak rumah- rumah penduduk hingga keluar desa.
Para ninja tidak berkutik melihat pertarungan ninja kelas atas itu. Mereka berpikir bahwa ikut campur hanya akan menyusahkan sang Kazekage.
GROAR!
Sesaat terdengar sebuah raungan dan tekanan angin yang cukup kuat dari arah jatuhnya Gaara di luar desa.
Beberapa penduduk dan para ninja yang mendengar teriakan itu mengalihkan pandangan mereka. "I-itu kan…"
Naruto yang melihatnya dengan cepat melompat keluar desa dan mendekatkan posisinya dengan sang monster berekor itu.
"Berani sekali kau, bocah!" Kata rakun itu.
Naruto masih melayang sambil melipat kedua tangan di dadanya. "Lebih baik kau menyerah Ichibi. Atau kau mau menjadi bulan- bulananku lagi?"
Sang bijuu yang merasa diremehkan menggeram. "Grr. Awas saja kau!" Ichibi membuka mulutnya dan mengumpulkan chakra di mulutnya.
"Haahh. Itu saja? Tidakkah para bijuu memiliki serangan yang lebih kuat lagi?" Naruto berusaha memancing amarah Ichibi.
Monster berekor satu yang mendengar perkataan Naruto marah. Tekanan chakra di mulutnya semakin lama- semakin tinggi.
"Oh sial!" Naruto menyatukan tangannya kemudian mengikat rakun raksasa itu dengan kayu- kayunya. Ichibi bertahan dalam mengumpulkan chakranya. Dalam sekejap, bola raksasa itu meluncur dengan kecepatan tinggi ke arah Naruto.
Naruto merentangkan tangannya. Sedetik kemudian, meledalah tenaga tak kasat mata dari arah Naruto dan meledakan serangan Ichibi. Ledakan besar terjadi tepat didepan wajah Naruto.
Namun berkat pelindunya itu ia berhasil menahan serangan masif dari bijuu berekor satu itu.
Ia terengah. Tubuhnya mulai turun akibat chakranya yang terkuras untuk menahan serangan terakhir itu. Matanya masih sama dengan sebelumnya, namun dengan cahaya yang sedikit redup.
GROARR!
Bijuu itu masih terus mengaum. Kembali ia mengumpulkan serangan kedua dengan kekuatan sedikit lebih besar dari sebelumnya. Naruto memejamkan mata. "Hehehe…"
Itachi yang melihat Naruto berlutut berniat menolongnya. Namun, keinginannya itu tertahan. Sebuah ledakan aura muncul dari sisi Naruto.
Dalam sekejap Naruto sudah menghilang dari tempat itu dan tiba diatas kepala sang bijuu. Dengan sekuat tenaga, Naruto menghentakan tinjunya disana.
BUAGH! BOOOMM!
Sebuah ledakan besar kedua menghiasi pertarungan disana. Cahayanya cukup silau hingga beberapa orang yang ada disana menutup mata mereka.
Lima detik kemudian akhirnya cahaya ledakan itu memudar. Menghasilkan sebuah kawah cukup besar.
Dengan cepat Itachi berjalan ke arah kawah itu dan menemukan seorang laki- laki berambut merah dengan kulit seperti pasir yang retak- retak bersama dengan Naruto yang sedang berlutut sambil terengah.
"Sebaiknya kita segera pergi." Kata Itachi sambil membawa Gaara. Diikuti oleh Naruto di belakangnya.
Namun baru saja keluar dari kawah besar itu, para ninja Suna mengerubunginya. Salah satunya menggunakan cat diwajahnya yang Naruto ingat salah satu saudara Gaara.
"Berhenti disana! Serahkan Gaara atau kami akan menangkap kalian berdua!" Teriaknya.
Naruto berhenti. Ia memandang Itachi sambil memberi kode agar membawa Gaara pergi.
"Tapi-" Itachi berusaha membantah karena melihat tenaga Naruto yang terkuras. Namun pria berambut kuning itu meggeleng. "Pegilah!"
Akhirnya Itachi mengalah dan meninggalkan Naruto sendirian bersama para ninja Suna itu.
"Tidak akan kubiarkan!" Teriak seorang ninja Suna. Ia berlari ke arah Itachi untuk mengambil Gaara kembali.
Naruto yang melihatnya melompat ke arahnya kemudian memukul ninja itu hingga terpental.
Set! Buagh!
"Kau meremehkanku." Kata Naruto. Ia memfokuskan chakra di mata kirinya. Mata hitam itu berubah menjadi berwarna merah dengan tiga koma di sekelilingnya.
'Dua puluh orang.' Batin Naruto.
Ia kembali mengaktifkan armor chakranya. Dengan cepat tubuhnya sudah berlapis dengan chakra abu- abu dengan aura yang membuat ninja disana merinding.
Tanpa bisa dilihat mata telanjang, Naruto bergerak untuk menyerang mereka.
Set! Buagh!
Ninja pertama berhasil ia kalahkan dengan melakukan tendangan keras dikepalanya. Tidak tinggal diam teman- temannya segera melakukan berbagai serangan ke arah Naruto.
Set! Set! Set!
Tiga serangan beruntun berhasil dihindari Naruto. Ia bersalto mundur kemudian membuat segel tangan. Menarik napasnya dalam- dalam, Naruto mengeluarkan beberapa pedang angin tak kasat mata yang berhasil mengenai tiga ninja diantaranya.
"Cukup sudah!" Kata Kankuro sambil mengeluarkan dua boneka andalannya.
Set! Set!
Boneka- boneka itu mengeluarkan pedang bermata dua dan segera melaju ke arah Naruto.
Set! Set!
Naruto menunduk menghindari sebuah tebasan dari boneka Kankuro. Tak lama kemudian sebuah serangan kembali diarahkan kepadanya.
Set!
Naruto bersalto tiga kali kebelakang kemudian melakukan segel tangan singkat.
Suiton : Suishouha!
Sebuah ledakan air muncul dari tengah arena pertarungan itu dan membuat para ninja Suna terpental cukup jauh. Lima orang ninja termasuk Kankuro berhasil menghindari serangan itu tepat waktu.
Sekarang jarak mereka (Ninja Suna-Naruto) terpaut sepuluh meter. Naruto berdiri dengan kedua tangan didepan dadanya. Armor chakra miliknya masih setia mengelilingi tubuh laki- laki berambut kuning tersebut.
"Nah. Kalian ingin sampai disini saja atau…"
"Tidak! Kami tidak akan menyerah sampai…UGH!"
Ninja yang membalas perkataan Naruto harus merasakan sebuah pukulan keras di dadanya hingga sebuah retakan tulang terdengar.
Teman- temannya tidak tinggal diam. Jutsu angin yang mereka miliki segera mereka gunakan untuk menyerang Naruto. Namun naas serangan itu malah mengenai rekan mereka sendiri hingga akhirnya tersisa Kankuro dan Naruto.
"Kurasa aku pernah melihatmu sewaktu di Konoha tiga tahun lalu. Apa aku benar?" Kankuro memperhatikan Naruto dengan seksama.
"Pikiranmu lambat ya ternyata." Ejek Naruto.
Kankuro menggeram. Dengan cepat jari tangannya kembali menggerakan boneka miliknya dengan benang chakra.
Sebuah tusukan yang berasal dari boneka Kankuro berhasil dihindari Naruto. Serangan berikutnya yaitu lima tembakan pisau melaju ke arah Naruto dengan cepat.
Trang! Trang!
Dengan cepat pula Naruto mengambil sebuah kunai dari kantong ninjanya dan menahan kelima serangan itu.
"Sudah saatnya kita akhiri ini." Dalam sekejap Naruto sudah menghilang dan berada di belakang Kankuro.
Tak tinggal diam, ia segera menggerakan boneka- bonekanya untuk kembali menyerang Naruto.
Brak! Brak!
Dengan dua kali pukulan, Naruto menghancurkan kedua boneka Kankuro hingga berkeping- keping.
"Sekarang apa yang akan kau lakukan?" Kata Naruto melihat kedua boneka Kankuro yang hancur.
"Heh. Jangan kira kau sudah menghancurkan bonekaku!"
Set!
Bagian- bagian boneka yang tadi di hancurkan Naruto kembali bergerak, namun dalam keadaan terpisah. Pisau yang berada di dalamnya sudah menunjukan dirinya. Pisau- pisau itu mengelilingi Naruto dengan tetesan berwarna ungu di ujungnya.
"Kurasa sekarang aku yang bertanya. Menyerah atau mati?" Ucap Kankuro dengan percaya dirinya.
Naruto yang berada tepat dibelakang Kankuro mengangkat tangannya. "Hah baiklah."
Kankuro menyeringai menang.
BUAGH! KRAK!
Secara mengejutkan Naruto mengayunkan kaki kanannya ke punggung Kankuro dengan bantuan chakranya. Bunyi retakanpun kembali terdengar diantara pertarungan keduanya.
Kankuro terpental cukup jauh hingga akhirnya mendarat dalam keaadaan terlentang, tidak bisa bergerak. Namun dalam waktu singkat, Naruto sudah berada di sebelahnya.
"Ugh…"
Naruto menatapnya dengan wajah kasihan. "Kalau saja kau tidak lengah. Kau pasti sudah menang…"
Lalu dari kejauhan terdengar banyak teriakan ninja yang mengarah ke tempat mereka. Naruto yang melihatnya segera bersiap untuk pergi.
"Nah. Kurasa tulangmu akan sembuh dalam beberapa bulan. Jadi, selamat menikmati hari- hari penuh penderitaan."
Dan setelah berkata begitu Naruto menghilang meninggalkan tempat itu.
"Kankuro–san?" Seorang gadis berambut kuning pucat mendekatinya perlahan- lahan.
"Ce-cepat…Kirimkan pesan darurat….Ke Konoha…"
Konoha, 20.00 Waktu Setempat.
"Itadakimassu!" Ucap seorang anak laki- laki berambut merah jabrik dengan tiga goresan halus di wajahnya. Dengan lahap ia mulai memasukan sesendok demi sesendok nasi kedalam mulutnya.
"Pelan- pelan, Menma-kun. Nanti kau bisa…"
"Uhuk…Uhuk…"
Belum habis ibunya berbicara, kejadian selanjutnya tepat seperti yang akan dikatakan olehnya.
"Air…Air…"
Wanita berambut senada dengan anaknya itu menuangkan segelas air hangat ke dalam gelas lalu memberikan kepada sang anak.
"Ahhh…Arigatou Kaa-san."
"Makanya lain kali kau harus dengarkan Kaa-sanmu Menma!" Nasihat sang ayah yang melihat kejadian tersebut.
"Iya, Tou-san."
"Oh iya Menma. Kudengar Sakura sedang dilatih oleh Tsunade Senju." Kata Minato.
Menma menghentikan acara makannya sejenak. "Benar. Dan kurasa aku tidak ingin cari masalah dengannya lagi."
"Kenapa?"
"Waktu itu sakura menghancurkan sebuah batu besar hanya dengan sebuah pukulan." Balas Menma sambil membayangkan betapa mengerikannya waktu itu.
Kushina yang mendengarnya menjadi bersemangat. "Wah! Berarti dia sudah menguasai jutsu yang dimiliki Tsunade-hime."
Tok…Tok…Tok…
Sebuah ketukan di pintu secara tidak sengaja mengganggu pembicaraan mereka bertiga.
Minato bangun dari tempat duduknya kemudian menuju ke pintu itu lalu membukanya.
"Maaf mengganggu Hokage-sama." Ucap seorang Anbu yang berlutut di depannya.
"Ada apa?" Minato menaikan sebelah alisnya.
Anbu itu mengambil sebuah gulungan kemudian menyerahkannya kepada Minato.
Minato lalu membukanya dan membacanya. Baru sampai setengah, ia melebarkan matanya. "Baiklah. Kau boleh pergi. Tapi sebelumnya, tolong panggilkan Kakashi Hatake, Sakura Haruno, Sasuke Uchiha, dan Sabaku Temari ke kantor Hokage segera."
Sang Anbu mengangguk kemuudian menghilang dengan Shunshinnya.
"Ada apa Minato-kun?" Tanya Kushina.
Minato tidak menjawab. "Menma. Cepat persiapkan barang- barangmu. Aku akan mengirim kau dan timmu ke Suna."
Menma berdiri dan menghampiri sang Yondaime Hokage."Sekarang?! Untuk apa?!"
"Nanti akan kujelaskan di Kantor Hokage."
"Apa disini benar- benar hanya gurun pasir ya?" keluh Naruto. Sudah beberapa lama mereka berjalan, namun belum juga menemukan hutan atau sungai.
Itachi terdiam sebentar. "Kurasa beberapa mil kedepan."
Naruto mengangguk. Ia menengok kebelakang, memperhatikan bunshinnya yang membawa Gaara. "Setelah mendapatkannya kita harus apa?"
"Melakukan ritual pengekstrakan bijuu." Balas Itachi lagi.
Tepat dua mil setelahnya, terbentanglah hutan yang cukup luas di depan mereka. Mereka segera bergegas melompati satu persatu pohon di hutan itu.
"Apa itu pengekstrakan bijuu?" Tanya Naruto.
Itachi terdiam sebentar. "Nanti kau akan melihatnya sendiri,"
"Jadi Kazekage diculik?!" Ucap Kakashi tidak percaya.
Minato mengangguk. "Kabarnya, salah satu dari dua penculik itu memiliki rambut berwarna kuning dan mata berwarna merah di sebelah kiri."
Mereka melebarkan matanya. "Jangan- jangan…"
"Bisa jadi itu Naruto." Sahut Minato. Ia berdiri dari kursinya itu kemudian menatap ke luar jendela. "Tapi kita belum bisa memastikannya karena ciri- cirinya sedikit berbeda dengan yang kita ketahui."
Sasuke terdiam. Ia memikirkan kembali banyak hal yang ia alami dengan laki- laki itu.
Sedangkan Temari menundukan kepalanya. "Gaara…" gumamnya. Ia memikirkan bagaimana keadaan saudaranya itu.
"Kita tidak punya banyak waktu lagi. Aku perintahkan kalian untuk pergi ke Sunagakure dan menemukan Kazekage!"
"BAIKLAH!"
"Tak kusangka kalian berhasil menangkap Ichibi secepat ini." Ucap Nagato.
Setelah menempuh perjalanan yang memakan waktu sekitar seharian penuh, mereka akhirnya sampai di tempat persembunyian Akatsuki (sama seperti cannon) yang berada di dalam gua dekat sungai.
"Salahkan dia yang katanya malas berlama- lama." Tunjuk Itachi ke Naruto.
Sedangkan yang ditunjuk hanya menggaruk belakang kepalanya. "Hehehe…"
"Kita akan segera melakukan ekstraksi bijuu." Ucap Nagato lagi. Ia menyatukan tangannya dan dari belakangnya keluar sebuah patung dengan tangan menengadah keatas. Diatas jari- jarinya itu muncul hologram- hologram anggota Akatsuki.
"Ada apa ketua?" Tanya seorang laki- laki bercadar.
"Kita akan melakukan pengekstrakan bijuu."
Orang- orang disana cukup terkejut. "Siapa yang…"
Nagato langsung menunjuk Naruto dan Itachi.
"Lebih baik kita cepat memulainya. Ritual ini akan memakan cukup banyak waktu." Potong Tobi kemudian.
Mereka mengangguk dan memulai ritual pengekstrakan bijuu itu.
Sunagakure.
"Bagaimana keadaannya Sakura?" Tanya Menma yang sedari tadi memperhatikan tangan Sakura berpendar cahaya hijau berputar- putar di tubuh Kankuro.
"Keadaannya parah. Kurasa aku tidak bisa mengobatinya." Aku Sakura jujur.
"Ugh…" Kankuro terus melengguh akibat patah tulang yang dialaminya.
"Kankuro, aku tahu kau sedang kesakitan. Tapi, bisakah kau jelaskan lagi bagaimana ciri- ciri orang yang menculik Gaara?" tanya Temari.
"Seingatku…UGH…Ada dua orang. Yang melawanku itu berambut kuning. Mata sebelah kiri berwarna m-merah…Arghh!..." Jawab Kankuro terbata- bata.
"Yang satunya, aku tidak tahu. Tapi aku dengar, dia berambut hitam panjang, punya mata yang sama dengan yang kulawan….UGH…Tapi dia punya di kedua matanya."
Jantung Sasuke berdegup. "Jangan- jangan…"
Mereka menghadapkan pandangannya pada Sasuke.
"Kenapa, Sasuke?" Tanya Kakashi.
"Ti-tidak…"
Mereka menaikan alisnya. "Baiklah kalau begitu. Kita tidak boleh buang waktu lagi. Kita harus menyusun rencana." Kata Kakashi.
Minato memijit kepalanya pusing. Dokumen- dokumen yang ada di mejanya dibiarkan begitu saja. Jika bukan karena Hiruzen yang membantunya, mungkin beberapa diantaranya tidak akan dikerjakan oleh Minato.
Sudah tiga tahun ia tidak memikirkan lagi tentang Naruto. Dan kemarin, ia baru saja mendengar kabar bahwa Sunagakure diserang dan Kazekagenya diculik oleh orang yang perawakannya mirip dengan Naruto, atau bahkan ia benar- benar Naruto?
Minato tak habis- habisnya berpikir hal itu. Di sebelahnya, Hiruzen sedang menyelesaikan beberapa dokumen miliknya yang terlantar tak berdaya di meja itu. Tangannya bergantian mengambil cap dan menandatangani kertas- kertas itu.
"Lebih baik kau beristirahat sebentar Minato. Kau sudah tidak tidur sejak kemarin." Kata Hiruzen tanpa mengalihkan pandangannya dari pekerjaan didepannya itu.
Minato mengangguk. "Maaf merepotkanmu Hiruzen-sama."
Pria bermarga Namikaze itu akhirnya meninggalkan kantornya dengan sebuah kilatan kuning. Dalam sekejap ia sudah berada di depan rumahnnya. Namun hal terakhir yang ia lihat adalah pintu rumah yang terbuka. Menampilkan sesosok wanita berambut merah panjang dengan wajah khawatir. Lalu, semuanya gelap.
Minato terbangun di ruangan serba putih berbau obat- obatan. Di tangannya terpasang sebuah selang infus yang memberi asupan nutrisi bagi dirinya. Sedangkan disebelahnya, seorang wanita yang tidak lain adalah istrinya. Ia tertidur sambil memegang tangannya yang tidak terinfus.
Minato melirik kearah jam dinding. Ternyata sudah tengah malah. Pantas istrinya ini tertidur pulas sekali.
"Minato-kun? Kau sudah sadar!" Tiba- tiba Kushina terbangun sambil memeluk Minato dengan erat.
"Apa yang terjadi padaku?" Tanya Minato.
"Tiba- tiba kau pingsan di depan rumah. Kata dokter kau terlalu stres dan kelelahan." Jawab Kushina.
Minato kembali berpikir lagi tentang beberapa hari kebelakang. Seketika itu kepalanya kembali pening. "Ah mungkin aku memang butuh sedikit perawatan."
Kushina mengangguk. Ia bangun kemudian mencium Minato singkat. "Tidurlah kembali, anata."
Minato mengangguk dan kembali merebahkan dirinya.
IIIIIIIIIIIII
Kakashi terdiam. Memikirkan kemungkinan- kemungkinan yang ada tentang penculikan Gaara. Ia masih tidak yakin bahwa yang melakukan itu adalah Naruto. Apalagi dengan tambahan bahwa Naruto adalah salah satu anggota Akatsuki.
Mereka berempat sedang berkumpul di sebuah ruangan yang dipinjamkan oleh Temari. Masing-masing masih tenggelam dalam pikirannya tentang siapa yang menculik Gaara. Namun tak bisa dipungkiri bahwa mereka hanya memiliki satu kandidat : Naruto.
"Yah. Kurasa kita akan mengetahuinya besok." Kata Kakashi mengakhiri pembicaraan yang agak diam itu. "Beristirahatlah."
Mereka bertiga mengangguk. Kemudian, Kakashi segera meninggalkan kamar itu.
"Apa nii-san benar- benar anggota Akatsuki ya…" Gumam Menma yang tentu saja didengar oleh orang- orang disana.
Sasuke menggeleng. "Kita tidak akan tahu sampai kita benar- benar menemuinya."
Sakura mengangguk. "Lebih baik kita beristirahat." Katanya sambil mematikan lampu dan segera beristirahat.
Dalam kegelapan, sepasang mata mengawasi tanpa sepengetahuan mereka. "Jadi mereka akan menyusul ya. Hmm…" Dan detik berikutnya ia sudah terhisap masuk kedalam tanah.
A/N : Haaahh…Maaf buat update yang lama ini. Banyak sekali yang author harus kerjakan selama beberapa bulan kebelakang. Dan mohon maaf juga kalau chapter ini masih terdapat beberapa kekurangan hehehe…
Untuk beberapa review yang bertanya tentang Sharingan yang Itachi berikan, itu kayak cuma nutupin Rinnegan Naruto, tapi Naruto tetep bisa gunain Rinnegan itu. Mungkin terasa sedikit aneh tapi author harap reader sekalian mau memaklumi hehehe.
Untuk kuchiyose Naruto author meminta beberapa saran dari reader sekalian. Kan engga enak kan kuchiyosenya minjem dari Nagato terus. Lagian kalo mereka bertarung bersama, kan jadi bingung mau manggilnya.
Oke sekian dari author, jangan bosan membaca fic gaje ini dan sampai jumpa di chapter berikutnya!
