stardust
jongdae/kyungsoo, fem!kyungsoo; prostitution!AU
semestinya do kyungsoo mempelajari kembali bagaimana menerima seseorang ke dalam hatinya.
multichapter / 12/? / standard disclaimer applied
c-h-a-p-t-e-r 12
Kim Jongdae mengaku kalau dia adalah seorang guru honorer yang mengajar sosiologi di sekolah Sehun, tapi saat yang bersamaan Sehun mengaku tidak mengenal guru mana pun yang bernama Kim Jongdae. Kenyataan ini membuat Kyungsoo merasa bingung.
"Tapi dia bilang dia sudah beberapa bulan bekerja jadi guru honorer di sana?" Kyungsoo memegangi kepalanya yang terasa pusing seketika. Padahal dia tidak tahu juga mengapa merasa begitu untuk orang asing. "Apa kamu yang kurang pergaulan, Sehun?"
"Aku memang kurang gaul, Nuna, tapi tidak sampai tidak hafal guru-guru."
"Guru-gurumu 'kan banyak?"
"Dia secara spesifik mengatakan kalau dia mengajar sosiologi, 'kan? Nah harusnya aku tahu siapa-siapa yang mengajar sosiologi," Sehun menopang dagu, meraih gelas lalu meneguk isinya. Tidak sampai sedetik, raut wajahnya bersinar-sinar, seperti dia telah memecahkan suatu kasus. Atau, seperti dia mendapatkan permen setelah berhasil menjawab sesuatu dengan benar. "Jangan-jangan Kim Jongdae-mu adalah seorang agen intelijen yang sedang undercover untuk melakukan sesuatu, kemudian jatuh cinta pada Nuna di tengah tugas?"
"Atau pembunuh bayaran," Yixing ikut menyeletuk. Sehun yang gembira karena memiliki kawan mengajak Yixing melakukan high five yang langsung diterima dengan senang hati. "Kamu tahu kan, alur-alur drama banyak yang seperti itu. Lalu dia memiliki suatu hubungan antagonis denganmu, tapi kamu terlanjur jatuh cinta."
"Otak kalian kurang beres," Kyungsoo menyipitkan mata, "Jangan terlalu banyak nonton televisi, apalagi drama-drama picisan. Nggak bagus untuk kesehatan jiwa kalian semua."
Mereka berdua terkekeh geli.
Kyungsoo kembali mengambil perhatian Sehun, menarik kulit di dekat kedua ujung alisnya turun, kemudian meniru caranya tersenyum seperti anak yang menyembunyikan mainan seseorang, "Orang yang seperti ini, masa kamu tidak tahu? Tampan, alis turun, bibir seperti kucing, wajah kotak. Suaranya kalem tapi agak nyaring."
"Orang itu?" Hal ini terdengar seperti membunyikan bel di kepala Sehun, matanya beberapa kali mengerjap lalu membuka mulut. "Kalau guru yang itu, aku tahu, tapi namanya bukan Kim Jongdae. Yang senyumnya terlihat seperti orang yang merencanakan sejuta hal usil, 'kan?"
"Iya, orang yang itu."
"Nah, dia sempat mengajar di kelasku menggantikan guru yang sedang cuti hamil," Sehun memandang langit-langit, berusaha mengingat keras, "Tapi kalau nggak salah dia memperkenalkan namanya sebagai Hong Gitae. Aku jadi bingung? Mungkin Kim Jongdae nama palsunya, sebab kalau mau mendaftar jadi guru 'kan harus punya dokumen asli. Yah, kecuali kalau dia memang agen intelijen undercover sih."
"Tapi Kyungsoo," Yixing kembali memotong sebelum Kyungsoo sempat membalas, "Mengapa kamu sangat kepikiran mengenai identitas klien? Itu tidak seperti kamu yang biasanya, lho, apa ada alasan tertentu?"
Yang ditanya menunduk dan mengacak rambutnya, dia terlihat seperti membenamkan kepala pada mangkuk yang masih terisi makanan. "Itu dia," keluhnya, "Tahu tidak kalau orang biasanya tiba-tiba disuruh mengingat sesuatu meskipun itu hal yang nggak penting dia malah susah lupa, apalagi dia membayarku dengan jumlah yang sumpah, abnormal, tinggi sekali, bagaimana aku bisa lupa, coba."
"Kyungsoo-nuna juga budak kapitalisme ternyata," Sehun tertawa renyah.
"Kapitalisme kepalamu," umpat si gadis, "Aku malah jadi takut sendiri kalau dia bekerja sebagai guru honorer tapi membayarku satu juta semalam dan tiga ratus ribu malam sebelumnya. Sekarang dia punya dua nama, tidak jelas mana yang asli mana yang alias. Siapa pun yang berteman dengan Park Chanyeol si Wakil Direktur setengah sinting itu memang semuanya aneh."
"Park Chanyeol? Yang sering muncul di televisi itu?"
"Iya."
Yixing masih melongo, yang kemudian ditutupi dengan sebelah tangan. "Kyungsoo, koneksimu mengerikan."
Sehun mengangguk setuju.
"Aku pernah bekerja untuk dia dalam satu kesempatan, sih," Kyungsoo mengangkat bahu, "Masalah seksualitas dan sebagainya, bukan pengalaman yang enak untuk diceritakan, pokoknya. Kalau marah dia mengerikan, eh tapi masalahnya sekarang bukan mengenai Park Chanyeol!"
"Jangan terlalu dipikirkan," senyum Yixing terlihat tenang, tangan menepuk-nepuk kepala Kyungsoo. Sehun terlihat masih menatap kagum Kyungsoo yang ternyata berteman (atau paling tidak kenal) dengan seorang pemegang jabatan besar di sebuah perusahaan ternama. "Bukan tugas orang seperti kita untuk mencari tahu lebih soal klien."
Kyungsoo tersenyum miring. "Ya, nanti akhirnya akan jadi seperti kamu."
Yang disasar sekejap terlihat terkejut, Kyungsoo menyesali apa yang ia katakan. Namun sebelum dia angkat suara, perempuan di hadapannya kembali tenang dengan cepat, sorot mata tidak berubah dari yang sebelumnya. "Benar, nanti akan jadi seperti aku."
Kemudian hening cukup lama, Kyungsoo menghela napas panjang.
Sehun juga terlihat tidak nyaman, memutuskan berdiri dan mengangkat piring-piring bekas ia pakai dengan sebelah tangan, tangan yang satunya lagi bertumpu pada kursi. "Aku boleh duluan? Aku mau ke kamar mandi."
"Boleh," Yixing mengangguk, "Tinggalkan saja piringnya, biar aku yang urus."
Laki-laki yang lebih muda menurut, lagipula dia tidak punya pilihan lain.
Kyungsoo melihat Yixing terus memandangi punggung lebar yang terbungkuk mengikuti kaki yang kesulitan melangkah meski sudah bertumpu pada dinding dengan pandangan yang sulit ia baca sampai pemilik punggung lebar itu menghilang di balik pintu kamar mandi. Ia sendiri tidak membantu Sehun sebab dia masih hendak berbicara pada Yixing.
"Maaf, Yixing. Aku tidak bermaksud mengungkit masalahmu." Ia meraih lengan perempuan muda di hadapannya lalu menggenggamnya erat, demi apa pun dia tidak bermaksud untuk mengungkit-ungkit hal yang menjadi sumber kesedihan dan rasa sakit Yixing.
Yixing membalasnya dengan tawa kecil seolah hendak menertawakan wajah Kyungsoo yang terlihat sangat konyol saat meminta maaf. "Aku tahu, Kyungsoo, kamu tidak pernah bermaksud mengungkit-ungkit hal itu."
"Memangnya kamu sudah baik-baik saja?" Kyungsoo menaikkan alis.
Perempuan itu bangkit, kemudian memeluk Kyungsoo erat dari belakang sebelum membisikkan sesuatu di telinganya, sebuah kalimat sederhana yang menyentak Kyungsoo penuh rasa terkejut, terutama jika itu dikatakan dengan intonasi tenang dan wajah datar. Tak pelak ucapan selanjutnya lebih terdengar seperti jeritan, "Yixing!"
"Jangan bilang siapa-siapa," Yixing menyusun piring kotor menjadi tumpukan-tumpukan agar menjadi lebih mudah dibawa, ketenangannya tidak pernah berubah. "Lalu yang terakhir kudengar, dia sebentar lagi menikah. Anaknya dengan kekasihnya sudah ada dua, laki-laki dan perempuan. Semuanya lucu-lucu, mereka tampak seperti keluarga yang bahagia. Kamu pasti setuju jika saat itu ada di dekatku untuk melihat fotonya."
Dahi Kyungsoo mengernyit, perasaan galaunya akibat kata-kata yang dibisikkan Yixing padanya masih kentara, malah menebal, tapi itu bukan justifikasi untuk menanyakan hal bodoh semacam, "Memang kamu sudah tidak menyimpan fotonya?"
"Baru seminggu lalu kubakar. Melihatnya membuatku iri, tidak bisa hilang."
"Itu hal yang wajar, sih, sebenarnya."
Obrolan bertiga kini berubah menjadi obrolan gadis-gadis satu profesi, Kyungsoo tidak mempermasalahkan itu, dia yakin Yixing butuh teman bicara jika dia bersedia membuka mulut mengenai hal-hal yang terus disimpannya ini. Melihat Yixing mengangkat piring kotor dan membawanya ke belakang, ia cepat memanggil sebab ada sesuatu yang membuatnya jadi teringat. "Hei, Yixing."
Yang ditanya tidak menjawab, hanya menghentikan langkahnya.
"Kamu tidak melihat Sehun sebagai orang itu, 'kan?"
"Sehun anak manis dan wajahnya mirip dengannya, jadi aku nostalgia," jawab Yixing, tidak juga berpaling. "Tapi tidak juga, tidak ada satu pun dari Sehun selain wajahnya yang mirip dengan dia, jadi tenang saja. Pokoknya ingat saja, tidak usah mencari tahu macam-macam soal klien, sebab jika sudah terjerumus tidak ada hal baik yang menghampirimu."
A/N: selamat ulang tahun yang kelima, EXO! semoga EXO semakin sukses ke depannya, dan sebagai their fans since year one, i'm glad EXO is still 9, dan nggak ada skandal aneh-aneh selain kaistal tahun ini. meski saya di cerita ini bakal mencatut nama ex-member, saya penganut paham OT9 garis keras. saya pake OT12 hanya kalo di fiksi lol, sebab the more the merrier :')))
btw PACAR SEHUN BUKAN MIMI PERI PLS HAHA. saya ngeri ngebayanginnya :') anggap aja kris adalah orang yang bikin yixing hancur hehe, makanya kyungsoo benci banget sama kris. thank you banget supportnya meski saya nggak explicitly nyebut nama kalian yang ngereview, tapi saya notis dan hepi banget kalo udah ada yang review / sampe dibela-belain per chapter haha /sends love
thank you readerdeul yang sudah support fic ini dalam bentuk baca/review/fav+follow, saya seneng /o/ see ya next chapter hihihihi
