Disclaimer : Naruto © Mashashi Kishimoto & High School DxD © Ichie Ishibumi.
Rate : T (semi M)
Terinspirasi dari WN Kuma Kuma Kuma Bear dan LN Infinite Dendrogram.
Ketika aku berkata demikian, anak-anak itu saling melihat satu sama lain. Lalu seorang gadis bertanya padaku dengan suara kecil.
"Aku bisa memakannya?"
Aku mengangguk dengan ringan, "Ini masih panas, jadi makanlah perlahan-kuma."
Aku memberinya satu tusuk sate wild rabit dan gadis itu mulai makan setelah menerimanya. Anak-anak lain yang melihat bagaimana si gadis makan dengan lahap juga mulai mengambil satu tersatu tusuk sate yang ku pegang.
"Terima kasih, Kuma-nii-san."
"Tidak apa-apa-kuma. Ngomong-ngomong, bisakah kau menuntunku ke panti asuhan-kuma?" Tanyaku pada gadis yang pertama ku beri tusuk sate.
Gadis itu sepertinya tidak mengerti arti kata-kataku saat dia memiringkan kepalanya ke satu sisi.
"Kau pasti lapar-kuma. Apakah kau tidak ingin makan lebih banyak? Nii-san masih memiliki makanan lain, jadi jika tidak keberatan, bagaimana kalau memakannya di panti asuhan bersama dengan anak lainnya?"
"Be-benarkah tidak apa-apa?"
"Ya."
Gadis itu mengangguk kecil, "Lewat sini."
Setelah gadis itu berjalan ke depan, anak-anak lain juga mengikuti dengan ekspresi khawatir. Bagaimanapun, aku adalah orang asing yang baru mereka temui. Memiliki kekahwatiran adalah hal yang normal. Tapi karena aku adalah orang yeng memberi mereka makanan, keraguan mereka tidak seburuk itu.
Beberapa saat kami berjalan tapi belum sampai di sana. Setelah perjalan cukup panjang dengan anak-anak ini, kami sampai di pinggiran kota.
Area ini sepi dan hanya ada satu rumah bobrok yang didirikan.
Bangunan ini adalah panti asuhan?
Ada retakan di dinding dan lebih dari mungkin bahwa ada lubang di langit-langit juga. Ketika aku tiba di panti asuhan, berkat bimbingan anak-anak, seorang wanita tua keluar.
"Ara, siapa ini? Nama saya Bow, direktur yang mengelola panti asuhan ini."
"Aku Naruto, seorang petualang. Aku melihat anak-anak ini di central plaza."
"Central plaza ..." Bow-sensei diam lalu melihat ke anak-anak, "Apakah kalian pergi lagi?"
"Maaf."
"Sensei, maaf."
Anak-anak meminta maaf satu per satu.
"Tidak masalah. Itu terjadi karena sensei tidak memiliki makanan yang cukup untuk semua orang," Setelah mengatakannya pada anak-anak, sensei berbalik padaku lagi, "Apakah anak-anak ini melakukan sesuatu yang menganggumu?"
"Tidak, mereka tidak melakukan apapun. Tapi karena mereka tampak kelaparan ..."
"Saya benar-benar minta maaf. Meskipun itu memalukan, tetapi tidak banyak yang bisa mereka makan di sini."
Direktur menjawab ku dengan susah payah.
"Bagaimana dengan dukungan keuangan dari kota-kuma?"
"Ya, secara bertahap menurun mulai dari tahun lalu, dan terputus kira-kira setengah tahun setelahnya."
"Terputus ..."
Apa yang eselon atas Alessa lakukan!?
"Ya, itu bisa dipahami. Tidak ada gunanya memberikan uang kas kota kepada kami yang tidak memiliki penghasilan. Apalagi, bangsawan Phenex juga menyetujui tindakan tersebut."
Bangsawan Phenex? Mereka adalah keluarga bangsawa di kota ini yang dikatakan oleh paman penjual kan?
"Bangsawan kota?"
Aku tidak memahaminya. Kupikir sebuah keluarga bangsawan hanya dapat mengelola satu kota. Tapi disini, selain tuan kota yang merupakan bangsawan asli pemilik Alessa, ada juga mereka yang disebut bangsawan kota. Dan mereka bisa menentukan kebijakan kota juga?
"Benar."
Direktur-sensei mengatakannya dengan suara yang rendah. Aku berdehem dan mencoba mengubah topik.
"Bagaimana anda berurusan dengan makanan-kuma?"
"Tentang itu, saya mengunjungi restoran, penginapan, toko kelontong, dan toko buah untuk menerima makanan yang dapat dimakan, yang entah memar atau rusak, dan dengan demikian tidak dapat dijual ke pelanggan, untuk kami makan."
Kemarahanku bertambah besar sedikit demi sedikit.
"Bahkan kemudian, kuantitasnya masih kecil, jadi anak-anak ini pergi ke alun-alun pusat ..."
"Saya mengerti. Sensei, saya punya bahan makanan. Memang tidak banyak tapi cukup untuk semua anak di panti asuhan. Jika tidak apa-apa, saya ingin membuat makanan untuk anak-anak."
Aku dipandu ke dapur panti asuhan dan mengeluarkan 5 ekor wolfe yang belum dibongkar. Tubuh mereka adalah yang paling gemuk dan bobot keseluruhan 5 wolfe hampir mencapai 200 Kg. Mereka adalah Wolfe yang kuburu ditempat para wyver dimana sumber makanan berlimpah (sebelum kemunculan wyver), jadi karena itu mereka memiliki ukuran yang lebih subur dari rata-rata wolfe.
Selain daging, aku juga mengeluarkan 4 barel kecil jus yang ku beli tempo hari. Aku tidak memiliki persediaan jus lagi, tapi aku bisa membelinya lagi ketika pergi ke kios.
"Erm, Naruto-san."
"Sensei, tolong bantu juga. Sebelum itu, adakah orang lain selain anda di panti asuhan ini?"
"Ada seorang gadis bernama Liz. Saat ini dia sedang pergi untuk mencari makanan dari toko-toko."
Panti asuhan ini dirawat oleh dua orang?
Aku membongkar kelima serigala dengan cepat sedangkan direktur-sensei mempersiapkan roti dan jus. Karena stat STR-ku sangat tinggi, memotong dan menguliti wolfe tidak ada bedanya dari memotong mentega. Tapi hasil serigala yang ku bongkar tidak terlalu rapi karena ini adalah pertama kalinya aku membongkar hewan. Aku harus berlatih [Dissmantle] nanti.
Setelah memotong, membumbui, dan memanggang daging, makan siang akhirnya siap.
"Dagingnya cukup untuk semua orang, jadi jangan terburu-buru dan nikmati makanan kalian-kuma."
"Semua orang, ucapkan terima kasih kepada Naruto-nii-san."
"""Terimakasih atas makanannya Naruto-nii-san~!"""
Setelah itu, anak-anak semua mulai makan pada waktu bersamaan. Semua orang makan seperti mereka belum makan selama seminggu. Begitu terburu-buru seolah mereka sedang berlomba dalam perlombaan makan.
Senyum muncul di wajah mereka.
"Naruto-san, terima kasih banyak. Sudah lama sejak saya melihat anak-anak ini tersenyum."
"Masih ada sisa daging wolfe, jadi jika ada anak-anak yang masih lapar, saya akan memanggang lagi."
"Terima kasih banyak."
Selagi anak-anak menikmati makanannya dalam suka cita, suara teriakan yang mengancam datang dari luar.
"Nenek tua! Cepat keluar atau akan ku hancurkan panti asuhan ini!"
Siapa orang-orang ini? Berteriak begitu kasar padahal banyak anak-anak disini.
"Naruto-san, tolong tetap di dalam dan jaga anak-anak. Saya akan bicara dengan mereka."
"Baik, tapi ..."
"Tidak apa-apa, ini bukan pertama kalinya. Yang terpenting, anak-anak tidak boleh keluar apapun yang terjadi."
"Iya."
Bagaimana pun aku melihatnya, ini tidak baik. Orang-orang itu jelas tidak memiliki niatan baik.
"Uuu ... Kuma nii-san ..."
Seorang gadis kecil merengek padaku, lalu ada anak-anak lain dibelakangnya yang punya ekspresi sama.
"Tidak apa-apa-kuma. Sensei sedang bicara dengan mereka."
Aku yakin, ekspresi dibawah kostumku pun tidak kalah khawatir. Dia hanyalah wanita tua dan mereka memiliki tempramen buruk. Bagaimana jika mereka melakukan hal buruk pada Bow-sensei?
Sebelumnya aku tidak memiliki hubungan apapun dengan panti asuhan atau anak-anak ini. Mereka punya masalah sendiri dan bukan kewajibanku untuk membantu. Namun setelah melihat keadaan mereka ...
Tidak bisa di pungkiri aku menjadi khawatir ...
Anak-anak ini ...
"Dasar tidak tahu diri! Kami sudah membuang-buang banyak waktu. Tapi apa balasanmu!?"
"Sa-saya minta maaf. Ta-tapi panti asuhan ini ..."
"Aku tidak menginginkan maafmu, tanda tangani saja perjanjiannya!"
"Saya tidak bisa!"
"Kau berani melawan ya ..."
"Ma-maaf atas kekasaran saya. Tapi saya benar-benar tidak bisa menjual panti asuhan ini ..."
"Kau!"
"To-tolong pergi. Kalian menganggu anak-anak-"
Plaaak!
"SENSEI!"
"SENSEI!"
"SENSEI!"
Ketika aku melihat kejadian itu, hanya sebuah pemikiran pendek yang kupunya.
Hajar mereka.
Merefleksikan pikiran, tubuhku seperti tersengat listrik dan seluruh sarafku merespon seolah itu adalah hal yang wajar. Dalam sekejap aku meninggalkan suara anak-anak di belakang dan menghantamkan sebuah pukulan dengan tangan kiriku.
Meskipun ini terjadi sangat cepat, aku sadar pukulan tangan kananku akan memiliki dampak terlalu besar karena momentum yang kubuat. Tapi masih saja, dampak yang terjadi benar-benar diluar perkiraanku.
Buaaagh!
4 orang itu dikirim terbang dengan satu pukulanku layaknya home run.
'Ap-Apa-apaan ini?'
Perasaan ini ...
Apakah ini ...
Mungkinkah ...
Sial! Bukankah ini terlalu buruk!?
Ketika di dalam permainan aku tidak bisa menggunakannya. Tapi karena aku sudah tidak di Elder Tale, melainkan dunia nyata ... apakah itu artinya aku bisa menggunakan 'itu' lagi?
"Sensei huweeeee~!"
"Senseeeeei~!"
"Sensei sensei sensei sensei~!"
Benar, direktur-sensei!
"Sensei, apa kau bisa bangun?"
Aku menghampiri dan melihat Sensei hanya berbaring.
Aku khawatir.
Pukulan itu tidak akan membahayakan nyawa. Tapi karena direktur-sensei sudah tua, aku pikir itu akan dapat merobohkannya di tempat tidur selama beberapa hari.
"Hikkss ... sob ... sob ... sensei ..."
"Sensei sob ... sob ..."
"Hiks ... sensei sensei..."
"Jangan menangis-kuma. Sensei hanya perlu istirahat, kalian bisa tenang-kuma."
Aku membawa bow-sensei ke panti asuhan dan membaringkannya di tempat tidur. Karena beberapa anak ingin menemaninya, aku memutuskan untuk pergi keluar dan membawa 4 orang yang pingsan ke penjaga.
Sebelumnya aku telah membangunkan salah seorang dari mereka dan menanyai siapa yang mengirimnya. Dari perjanjian yang tertulis di surat, tidak tercantum pihak mana yang ingin membeli tanah tersebut dan orang-orang ini tidak mengetahui identitas dari kliennya. Mereka hanya pekerja kelas bawah.
Lalu aku mulai bertanya-tanya, kenapa panti asuhan?
Tempatnya di pinggiran kota, bangunan disekitarnya jarang, ketertiban umum tidak terlalu bagus, dan ada anak-anak yang tinggal disini.
Tidak ada keuntungan secara geofrafis, lalu kenapa ngotot ingin mendapatkannya?
Saat aku kembali ke panti asuhan, direktur-sensei belum bangun. Dan di sampingnya ada gadis dengan rambut castanye. Umurnya sekitar 13 tahun.
Biasanya aku tidak akan memperhatikan. Tapi karena anak-anak disini berumur antara 5 sampai 10 tahun, perbedaannya menjadi menonjol.
"Apa kau Liz?"
"Benar. Aku Liz, Kuma nii-san," Liz berdiri dan membungkuk padaku, "Terima kasih banyak untuk yang telah kau lakukan. Jika Kuma Nii-san tidak ada, keadaannya mungkin akan lebih buruk. Aku sangat bersyukur. Terima kasih ..."
"Tidak apa-apa. Sungguh. Aku melakukannya tanpa pikir panjang. Daripada ucapan terimakasih, sebenarnya aku lebih khawatir pada kalian."
Liz tersenyum lembut dan menjawab pertanyaanku, "Ini bukan pertama kalinya. Mereka sudah sering mendatangi kami untuk menandatangi kontrak perjanjian. Jadi tidak perlu mengkhawatirkan kami."
"Bukan begitu. Hanya saja, orang-orang seperti mereka biasanya tidak akan menyerah dengan mudah. Aku khawatir jika mereka mencariku dan menyebabkan masalah lebih buruk ke panti asuhan."
Liz menunduk lemah, "... aku ... mengerti ..."
"Aku penasaran. Bukannya tanah panti asuhan sebenarnya adalah milik tuan kota? Meskipun pihak panti asuhan memiliki surat tanahnya, namun tanpa persetujuan dari tuan kota sendiri maka bukankah mustahil untuk menjualnya?"
Bagaimanapun aku memikirkannya, jika sebelumnya tuan kota memberikan dana secara berkala dari waktu ke waktu, maka dapat ku simpulkan bahwa panti asuhan sebenarnya ada di bawah perawatan tuan kota. Menjual tanah ini sama seperti menghina tuan kota, mereka berdua -pihak penjual dan pembeli- pasti akan mendapat hukuman.
"Kami juga berpikir demikian, tapi mereka tetap memaksa untuk menjualnya. Aku sudah mengirimkan permintaan pada kenalan Bow-sensei, namun dia tidak membalasnya. Mungkin karena dia sangat sibuk akhir-akhir ini. Bow-sensei juga mengirimkan surat untuk tuan kota mengenai masalah ini, tapi sama seperti bagaimana dana untuk panti asuhan terputus, tuan kota tidak memberikan pemberitahuan apa-apa."
Ini sangat aneh. Ada sesuatu yang salah disini.
"Begitu," Aku melipat tangan beruangku dan menatap langit-langit ruangan. Memikirkan apa yang terjadi membuatku merasa ingin melamun untuk beberapa saat. Membenamkan pikiranku untuk mengkaitkan petunjuk yang ada. Jika aku ingin membantu mereka, terlebih dahulu aku harus tahu tentang seluruh kronologinya. Informasinya sangat kurang.
"Tidak apa-apa Naruto nii-san, kami sudah terbiasa dengan situasi ini. Kau sudah membantu kami dengan makanan, itu sudah lebih dari cukup. Tidak perlu memaksakan diri untuk membantu dalam masalah ini." Ucap Liz sambil menggantungkan kepalanya. Suaranya agak bergetar, jadi kupikir dia menyadari betapa sulitnya keadaannya.
Tch!
Aku berdiri dan mengelus kepalanya. Liz adalah anak yang baik, jika saja dia tidak mengalami masalah ini maka auranya mungkin tidak akan kalah cerah dari Vivin-chan. Liz mendongak dan matanya agak berkaca-kaca. Aku tidak suka melihatnya, tapi tidak ada yang bisa ku lakukan untuk saat ini.
"Tolong sampaikan salamku pada direktur-sensei ketika dia bangun. Aku akan pulang untuk sekarang karena sudah larut."
"Baik."
Setelah itu aku pulang. Anak-anak yang melihat kepergianku mengantarkan aku sampai keluar dari halaman panti asuhan. Mereka melambaikan tangan dan mengucapkan terima kasih dengan semangat. Aku membalasnya dan berjalan pergi.
Ini sudah sore dan cahaya kemerah-merahan menghiasi langit Alessa. Warna yang hangat menciptakan perasaan nyaman dan aku berjalan rileks melewati orang-orang yang sangat hidup.
Mengabaikan fakta bahwa mereka menatapku seperti hewan kebun binatang eksotis, aku terus berjalan dengan perasaan gelisah. Apa yang bisa aku lakukan? Jika aku tidak melakukan apa-apa, panti asuhan bisa-bisa musnah tanpa aku sadari.
.
Di tempat lain pada malam hari ...
Di ruang kerja dengan dokumen yang tersusun rapi. Riser menyatukan kedua tangannya di atas meja dan menatap kelompok orang di depannya dengan mata dingin. Tidak ada kebaikan atau kemarahan, itu adalah mata dark-blue indah dengan ketenangan dan intelektual. Namun hanya dari melihatnya, empat orang dengan wajah garang di depan Riser gemetar ketakutan.
"Jadi, kalian bilang, bawahan kalian gagal?" Suara yang dingin dan tenang terdengar bagai musik kematian bagi mereka. Secara insting, keempat orang itu bersujud di depan Riser seolah meminta pengampunan atas nyawa mereka.
"Ka-kami benar-benar minta maaf Phenex-sama!"
"Tolong ampuni kami!"
"Kami mohon!"
Riser tidak menjawab permohonan mereka. Dia hanya menatap keempatnya tanpa ekspresi. Sebelumnya, dia memiliki kemarahan yang besar karena keempatnya memiliki kepercayaan dapat mengurus masalah kesepakan dengan panti asuhan. Tapi mengkhianati harapan Riser, mereka gagal.
Dia sudah menyerah pada keempatnya.
"Ka-kami benar-benar tidak tahu bahwa ada petuaang kuat disana."
"Orang-orang yang kami kirim adalah mantan petualang peringkat C. Kami tidak berpikir mereka dapat dikalahkan."
"Karena itu Phenex-sama. Hanya sekali, tolong beri kami kesempatan lagi."
Riser berkata pada mereka, "Tidak. Tidak perlu memaksakan diri kalian."
Ucapan Riser terdengar seperti mengkhawatirkan mereka, itulah yang mereka pikir. Mengingat semua pekerjaan kasar yang telah mereka lakukan, tidak akan sulit bagi keempat orang itu untuk berpikir bahwa Riser memaafkan mereka karena mereka berguna.
"Phenex-sama?"
"Jika dia petualang yang kuat kalian tidak mungkin bisa menghadapinya. Jangan memaksakan diri."
'Apakah itu artinya kami dibebaskan dari pekerjaan ini? Kami tidak perlu merasa takut padanya lagi?'
'Jika kami bisa bebas darinya, aku akan bermalam di rumah bordir seminggu penuh.'
'Orang brengsek ini akhirnya melepaskan kami, aku sudah muak dengannya.'
'Ini tidak terasa benar.'
Keempat orang itu memiliki pemikiran sendiri. Tapi jauh di lubuh hatinya, mereka selalu ingin menjauh dari Riser. Dia adalah orang yang licik dan berpikiran pendek. Semua cercaan dan hinaan itu membuat mereka muak tapi tidak mungkin untuk melawan karena dia adalah bangsawan. Terlebih lagi, jika mereka membuat masalah dengan Riser, menemukan keempatnya dari jaringan bawah tanah bukanlah hal yang sulit.
"Oleh karena itu, kalian sudah tidak diperlukan lagi."
"Apakah itu artinya kami diberhentikan?"
Mereka senang, jika itu kebenarannya mereka akan sangat senang. Tapi senyum tenang dari Riser dan ucapannya benar-benar membuat keempat orang itu membeku.
"Tidak. Itu artinya, kalian mati."
Pulil dark blue Riser berubah hitam legam seperti tercelup tinta. Bersamaan dengan perubahan tersebut, kabut hitam yang misterius muncul dari ketiadaan dan menyelimuti keempat orang itu. Mereka memberontak, berteriak sekuat tenaga, dan meminta pertolongan. Tapi tidak ada yang terjadi. Kabut itu tetap memerangkap mereka, meredam suara dan teriakan penderitaan keempatnya.
Lalu, kabut itu hilang seolah tidak ada yang terjadi.
"Mana mereka sangat sedikit. Makanan kelas rendah sungguh menjijikkan."
'Either way, karena lelang memiliki barang bagus dan keluarga kerajaan akan datang, tidak perlu lagi untuk melakukannya secara sembunyi-sembunyi. Tapi, seorang petualang yang dapat mengalahkan sekelompok petualang mantan Rank-C di kota ini? Betapa menggelikannya.'
.
.
.
To be Continued.
A/N : Haloooo~! Chapter 12 telah update!
Pertama dan utama, saya ucapkan terima kasih untuk kalian yang masih setia sama fanfict ini sampai sekarang. Setiap review kalian bener-bener jadi dukungan mental untuk Author.
Kedua, cerita ini masih lanjutan dari chapter 11 :3
Dan ketiga, saatnya bales pertanyaan di review~!
Pertanyaan : Naruto itu class type warrior ya?
Jawaban : Bisa juga disebut warrior. Tapi Superior job Classnya bakalan gak cocok disebut warrior pada akhirnya, soalnya ... ^_^)
Pertanyaan : Fict ini terispirasi dari anime apa thor?
Jawaban : Inspirasi dari anime adalah 0 (nol / gak ada). Di bagian paling atas saya sudah mencantumkan bahwa ini terinspirasi dari WN Kuma kuma bear dan LN Infinite Dendrogram. Adapun tambahan lain, saya juga ambil sedikit alur dari Emperor Solo Play. :)
Pertanyaan : Apakah Naruto akan disukai anak-anak sama seperti Kuma di Infinite Dendrogram?
Jawaban : Iya. Tapi author bingung gimana bikin scene sama anak-anak O.O
Pertanyaan : Azazel gak tahu Job Naruto karena kurang level?
Jawaban : Bukan. Di [Edea], untuk mengetahui Job seseorang perlu menggunakan Crystal Job. Tapi Superior Job itu terlalu tinggi buat Crystal Job, akibatnya gak bisa dibaca. Dari awal Azazel emang gak bisa tahu job orang lain secara pasti. Perkataan Author sebelumnya cukup ambigu, maaf ya.
Mungkin itu aja, terimakasih sudah membaca cerita saya ^_^)
Oh, btw ... Riser itu sebenarnya ganteng kan? Saya lihat ilustrasinya di LN, si Riser itu gak punya keriput kayak Itachi dan mukanya masih muda. Kalau membandingkan siapa yang lebih ganteng antara Issei sama Riser, Author bakalan milih Riser.
Di animenya pasti sengaja Riser dibikin jelek supaya Issei lebih menonjol :v
Sorry, jangan dipikirkan. Sampai jumpa di chapter depan~!
