Terima kasih atas review-nya di chapter sebelumnya :
ChappyBerry Lover—Ga apa-apa, Chappy-san./Nyinggung Abang Byakkun, hah~ keinget ama nasib dia yg masih gaje di manga*abaikan* Di ch ini Abang Byakkun-nya ga ikut bertarung, Chappy-san. Tuk lebih jelasnya lebih baik di baca aja, ya*plak*
Ellenlen—Klw gitu sy panggil Len aja ya./Klw ditanya menikmati, sy jawab: sangat./Memang ada tokoh baru yg muncul di ch ini tuk ngebantu mereka, Len./Hahaha, klw masalah ngerti istilah-istilah kodachi ato Keiratai, sy cuma nyari infonya di sebuah situs aja kok./Sebagian di download, copas dari temen, & dari DVD aslinya.
anna chan—Lega sy, action-nya dimengerti karna bagian itu yg bikin sy waswas./Wah, bener, ya, mirip ma adegan wkt itu*baru nyadar*
Terima kasih pula ma yg udah login (sudah sy balas di PM-nya masing-masing) : Kujo Kasuza Phantomhive | Austine Sophie | ojou-chan | Azalea Yukiko | Kie2Kei | Kiki RyuEunTeuk| Fabri KuroShirou01
.
.
Chapter ini spesial untuk Kie2Kei, ojou-chan, & Azalea Yukiko yg nge-PM sy ttg fic ini. Thanks.
.
.
Bleach © Kubo-sensei (Tite Kubo)
Rated : T
.
Characters :
Toushirou Hitsugaya
Rukia Kuchiki
Yuuichi Shibata
Ganju Shiba
.
Adventure & Romance
Warning : Kemungkinan OOC itu ada (karena author bukan Kubo-sensei), typo (berseliweran(?) kayak kecoa), action (tidak masuk akal), romance (lambat kayak keong), dan lain-lain.
Summary :
Toushirou dan Rukia melanggar salah satu isi Reihou. Hingga perselisihan dengan Batalion 13 pun tak terelakkan. Tapi tak menghentikan niat mereka menyusuri 320 distrik di Rukongai, mencari ibu Yuuichi. Petualangan mereka pun—dimulai!
.
.
.
DON'T LIKE? DON'T READ!
.
.
.
.
.
320 DISTRICTS
.
North Rukongai Arc
.
# 3 #
Kemarin Lawan, Sekarang Kawan. Untuk Apa Kau Menjadi Kuat?
.
.
.
Tak ada yang bisa dilakukan Ganju di posisinya sekarang. Begitu banyak alasan yang membuatnya hanya mampu melakukan satu aktivitas saja.
Menghela napas pasrah.
Selain dari fakta—kalau yang menggiringnya menuju Seireitei saat ini adalah Pasukan Pembunuh alias Keigun, yang artinya: jika ia berani melakukan tindakan bodoh (melawan mereka, padahal jelas-jelas ia kalah dalam kekuatan dan jumlah), bisa jadi—baru beberapa detik ia melaksanakan rencana 'jenius' itu, kepalanya sudah tak bersambung lagi dengan lehernya. Dan ia belum menyiapkan salam perpisahan yang pas pada delapan ekor babi hutan kesayangannya, dan yang terpenting: kakak perempuannya.
Namun yang paling fatal adalah fakta berikutnya—kondisi tempat yang Ganju lalui. Jalan setapak yang hanya selebar semeter, tepat di tengah-tengah bentangan jurang, seperti garis tengah sebuah lingkaran. Lebih jelasnya—sisi kanan dan kirinya adalah jurang yang luas, lalu dikitari hamparan lebat hutan Sunpu. Bisa dibilang, jalan setapak yang dilewatinya kini berfungsi sebagai jembatan menuju sisi lain hutan jika tak ingin repot-repot menempuh jarak jauh dengan menyusuri setengah keliling hutan.
Ganju menduga, Keigun sengaja menariknya melalui jalur menyulitkan ini. Karena dengan posisinya seolah ia adalah seorang buronan kelas kakap, tampaknya pasukan ini sangat yakin kalau dirinya tak 'kan punya nyali besar melarikan diri. Dan itu benar adanya. Ia masih punya otak untuk tidak melakukan hal-hal bodoh yang hanya mampu membuatnya mati konyol.
Sering kali Ganju melongokkan sedikit kepala di sela dua orang Keigun di sampingnya untuk melihat ke bawah, mungkin untuk mengukur kedalaman jurang. Seusainya, ia menelan ludah susah payah. Gamang dirasanya. Dasar jurang sama sekali tak tampak. Sedikit kecerobohan saja pada langkahnya, mungkin ia akan terjun 'indah' ke bawah. Dan bagi dirinya yang tak memiliki Reiatsu sebesar Shinigami, bisa jadi nyawanya tak 'kan tertolong lagi.
Lagi-lagi Ganju membuang napas putus asa.
Sudahlah. Sepertinya, hanya keajaiban yang bisa mengeluarkannya dari situasi rumit ini. Apalagi setelah merasakan Reiatsu dua orang rekan misinya, Toushirou dan Rukia, yang meningkat drastis.
Mendadak mata si bungsu Shiba membesar.
Tekanan roh ini…? Tidak asing.
Ganju mempertajam kemampuan deteksi Reiatsu-nya. Ia ingat. Tekanan roh seorang letnan yang pernah menjadi lawan Ichigo saat penyelamatan Rukia di Senzaikyuu. Renji Abarai.
Muncul secuwil harapan, kalau orang itulah yang akan menjadi penyelamat mereka. Asa itu ada dikarenakan Ichigo pernah mengatakan padanya kalau letnan bertato itu memiliki hubungan yang sangat dekat dengan adik Ketua Klan Kuchiki. Namun sedetik kemudian, harapannya itu sirna setelah tiba-tiba Reiatsu berat ikut serta.
Sebutir keringat menuruni pelipis Ganju. Ia sangat tahu pemilik tekanan roh mengintimidasi ini. Byakuya Kuchiki. Mustahil ia lupa, selepas ia pernah mengecap pengalaman—berhadapan langsung dengan Ketua Klan Kuchiki itu.
Ini buruk. Dua pusaran Reiatsu—Kapten Divisi ke-6 dan letnannya—berpusat pada satu orang.
Rukia Kuchiki.
Ini benar-benar buruk.
Ganju berusaha menenangkan diri kemudian setelah yakin kalau kelangsungan misi ini sudah berada di ujung tanduk. Lalu ia menengok ke belakang, memeriksa kondisi Yuuichi.
Tersenyum.
Satu alis tebal Ganju terangkat. Seakan menunggu dirinya menoleh, Yuuichi langsung melempar senyum lebar. Ia terpaksa kembali berpaling ke depan sesudah ditegur oleh salah satu Keigun.
Heran. Mereka berada dalam keadaan genting, bagaimana bisa bocah itu berlagak santai? Tunggu. Ini bukan sekali mereka berada dalam keadaan kritis seperti ini. Di Hokutan dan Owari, mereka mengalami hal yang hampir sama—nyaris berada di ambang kematian. Mungkin saja, bocah itu berpikir: semuanya akan berakhir baik-baik saja seperti waktu itu.
Ganju menjadi penasaran, apa Yuuichi masih bisa tersenyum lebar setelah mengetahui kenyataan tentang keadaan dua orang lainnya, terutama gadis yang telah dianggap kakaknya sendiri?
Beberapa detik kemudian, ia menggeleng-gelengkan kepala, dan memutuskan tak akan memberitahu anak itu sebelum semuanya pasti.
Tiba-tiba, senyum pahit tersungging di bibirnya. Sejak hari pertama misi ini, anak kecil itu telah mengalami banyak hal yang tak seharusnya dilalui oleh anak seumurannya. Namun, Yuuichi tak pernah mengeluh. Mungkin—begitulah wujud, besarnya kemauan anak itu untuk bertemu dengan ibunya.
Dan bukan hanya itu—Yuuichi percaya pada mereka bertiga: Toushirou, Rukia, dan tentu juga padanya.
Ganju tersentak. Kembali ia tersenyum pahit. Bagaimana bisa ia menjalankan kepercayaan kuat anak itu pada dirinya dengan setengah hati. Ia akui, kalau dari awal ia mengecilkan harapan si bocah untuk bisa bertatapan lagi dengan ibunya. Tetapi, selepas melihat sekilas raut Yuuichi di belakang barusan, Ganju tersadar bahwa harapan itu tak pernah redup.
Dari awal hingga sekarang.
Hal ini membuatnya teringat dengan ucapannya pada Yuuichi saat menginap di rumahnya, sehari sebelum menjalankan misi.
"Aku sarankan padamu, Bocah, kalau lebih baik kau pulang saja ke Junrinan, hidup bahagia dengan kakak dan kedua orangtua angkatmu. Lupakan saja ibumu itu. Aku jujur padamu, misi yang kalian jalankan ini hanya akan berakhir sia-sia."
Ganju mengungkapkan kenyataan kejam itu saat Yuuichi tertidur memunggunginya di futon, di sampingnya. Seusai mengatakannya, ia kembali berbaring karena si bocah sama sekali tak menanggapinya.
Dan setelahnya—samar—ia mendengar isakan.
Tangan Ganju terkepal.
Tekad membara, tak mau berakhir konyol sebelum menyatakan maaf pada Yuuichi menggeliat dalam dadanya. Mengumpulkan keberanian yang tersisa, Ganju akan melaksanakan ide yang menurutnya brilian, yang mendadak menyempil di kepalanya.
"Oi, mengapa kau berhenti? Cepat jalan!" perintah Keigun dikarenakan tahanan mereka—tak ada angin, tak ada hujan—mendadak menyetop pergerakan.
Langkah semua pasukan terhenti.
"A-aku i-ingin se-segera ke kamar kecil," mohon Ganju. Menutup bokong dan membungkukkan tubuhnya, ia bergaya layaknya seseorang yang begitu tak tahannya ingin segera buang air besar.
Serempak tampang tanda tanya besar mendominasi wajah pasukan. Mereka sedang berada di tengah-tengah bentangan jalan setapak di tengah jurang, sama sekali tak ada tempat yang dipinta Ganju.
Mengira ini adalah ide busuk untuk mengelabui mereka, pemimpin tim yang paling depan segera mendekat kepada tahanannya. "Jangan pikir kami ini bodoh. Cepat jalan, atau kau ingin aku membunuhmu di sini sekarang juga?"
Yang diancam berupaya tak terlihat gentar. "A-aku se-serius." Warna merah telah memenuhi wajah pria beralis tebal ini karena menahan hasratnya.
Belum, pria Keigun ini berkomentar, Ganju telah menunjukkan akibat karena tak menuruti kemauannya. Kentut super bau Ganju Shiba meletus seketika. Baunya? Bertanya saja pada Yuuichi yang pernah merasakannya. Meski pasukan ini telah bermasker, baunya masih berhasil menyelinap dan memenuhi penciuman mereka.
Bersamaan, pasukan Keigun menutup hidung.
Ganju tak membuang percuma kesempatan. Dengan sengaja, ia menumbangkan tubuhnya sendiri ke belakang, menimpa salah satu pria. Walhasil, tutup tabung di pinggang belakangnya terbuka, dan beberapa bola seukuran jeruk menggelinding keluar di samping tubuhnya.
Kita tahu bola apa itu.
Langsung saja, Ganju menimpakan tubuhnya pada tiga buah bola. Tak berapa lama, muncullah kepungan asap tebal cabe. Mereka semua terkepung asap yang mampu membuat mereka menangis tanpa alasan, termasuk si pembuat jebakan itu sendiri.
Tenang, Ganju tak ikut pesta menangis korbannya. Berbekal kacamata renang yang dibawa oleh anggota geng-nya saat perayaan di Owari, tanpa pikir panjang ia memasangnya sekalipun kedua tangannya masih terikat. Sejak saat itu, ia tak lupa menyematkannya di atas kepalanya untuk berjaga-jaga saat dibutuhkan, seperti sekarang ini.
Ketika seluruh pasukan sibuk mengeluh dan mengucek mata, Ganju berseru memanggil, "Yuuichi!" Panggilan pertama tak ada jawaban, ia memanggil lagi, dan tetap saja, jawaban nihil. Saat Ganju mulai dikuasai kekalutan, Yuuichi muncul dengan kacamata pemberiannya yang sudah bertengger di wajahnya.
Jika Toushirou dan Rukia sering menjadi sepasang rekan dalam tim ini, untuk Ganju—dirinya dan Yuuichilah yang menjadi sepasang rekan lainnya. Karena itu, ia pun membekali kacamata favoritnya pada rekan kecilnya ini.
Gembira yang meluap-luap, Ganju berlari kencang untuk memeluknya. Mata Yuuichi membesar. Gawat. Bocah ini berniat berteriak untuk menghentikan tindakan Ganju-ojichan kalau di belakang dirinya kini adalah jurang yang hanya berjarak setengah meter, namun semuanya sudah terlambat.
Kemalangan nasib untuk sepasang partner ini. Reaksi bodoh Ganju mengirim mereka pada jurang yang sepertinya beratus-ratus meter kedalamannya.
Hanya menunggu waktu, tubuh Ganju dan Yuuichi menubruk keras bebatuan sungai di bawah.
.
.
.
.
.
"Bankai!"
Seiring komando itu, tumpukan kayu yang menenggelamkan tubuh Toushirou terhempas keras menjauh dari dirinya. Suhu mendadak turun beberapa derajat disertai dengan awan kelabu yang mulai memayungi dua orang kapten berbakat di Batalion 13 ini. Seolah badai akan segera datang, angin menerjang tanpa ampun pepohonan di sekitarnya, membawa serpihan es.
"Daiguren Hyourinmaru."
Kapten Divisi ke-10 berdiri tegap dengan tangan kanan berkepala naga es biru memegang Hyourinmaru; kedua kaki berbalutkan es, membekukan tanah yang dipijakinya; dan sepasang sayap es yang lebar di punggungnya. Singkatnya, ia telah berada dalam mode siap bertempur, dengan tanpa ragu-ragu memberikan perintah pada Hyourinmaru untuk berubah dalam bentuk Bankai.
Bukan—bukan 'tanpa ragu-ragu'. Hanya saja, Toushirou ingin mengakhiri pertempuran ini secepatnya. Karena jujur, ia tak cukup senang melawan sesama kapten Batalion 13 dengan alasan bertempur, yang dipikirnya masih belum masuk akal.
Bukan berarti Toushirou tak tahu apa hukum yang telah dilanggarnya dengan menjalankan misi untuk menemukan ibu Yuuichi. Tapi, itu hanyalah hukum tak resmi. Bukan maksud ia menganggap remeh hukum ini. Namun, jika dipikir-pikir lagi, turun tangannya Batalion 13 dan Onmitsukidou—dua organisasi militer Soul Society—untuk menangkap mereka atau barangkali berupaya menggagalkan misi yang dijalani, ini sedikit tak masuk akal.
Inginnya Toushirou berunding tentang hal ini dengan lawan di hadapannya. Tetapi dirasanya, itu cuma menghabiskan waktu saja. Yakin, Kapten Divisi ke-2 tak akan mendengarkannya. Karena julukan lain Soifon—selain Shinigami Tercepat setelah Yoruichi—adalah kapten paling loyal terhadap perintah dan peraturan Soul Society.
Butuh keajaiban untuk mempengaruhinya.
"Apa kau yakin, sekarang adalah waktu yang tepat untuk melamun, Toushirou Hitsugaya?" Soifon menarik kembali kapten bermanik turquoise ini tentang apa yang ada di depannya sekarang setelah beberapa lama Toushirou hanya terdiam. "Aku sarankan—" Menghilang. Soifon berada di depan si kapten berjulukan 'Prodigy', dengan beberapa senti saja jarak tendangan dengan wajah kapten termuda ini. "—jangan lengah."
Sayang, tendangan hanya berbentrokan dengan udara.
Dengan gabungan Shunpo dan kepakan sayap es Hyourinmaru, Toushirou berhasil menghindar, dan berdiri beberapa ratus meter di atas Soifon yang mendongak dengan tatapan tajam.
Tak lama, kapten berponi rata menyusulnya, dan berdiri beberapa meter di depannya. "Aku sebenarnya ingin menyelesaikan pertempuran ini tanpa harus menggunakan Zanpakutou-ku. Tetapi," Soifon menarik wakizashi yang tersemat di pinggang belakang, "tampaknya aku tidak punya pilihan lain."
Toushirou menanggapi keseriusan Komandan Onmitsukidou dengan mengeratkan genggamannya pada gagang Hyourinmaru.
Wakizashi terbentang horizontal di depan wajah Soifon. "Jinteki Shakusetsu, Suzumebachi!" Perintah itu dilafalkan bersamaan dengan sapuan tangan pada bilah pedang. Terselimutkan cahaya putih, dalam sekejap wakizashi menyusut dan berubah menjadi sarung tangan berbelang hitam dan keemasan hingga mencapai siku Soifon, lalu rantai kecil menghubungkan sarung tangan itu dengan 'Stinger'—seperti mata pisau yang berada jari tengahnya.
"Aku mulai."
Iris mata turquoise membulat. Sesuai gelar Soifon, Komandan Pasukan Pembunuh, ia sama sekali tak memberi kesempatan sedetik pun. Tajamnya sengatan Suzumebachi hanya terpaut dua senti dari hidung Toushirou. Namun, jangan menganggap remeh gerak refleks kapten jenius ini. Toushirou memiringkan kepalanya beberapa derajat. Dan dalam waktu sesingkat itu, ia menangkap keterkejutan samar dari Soifon. Ini kesempatan. Bilah Zanpakutou tipe es terkuat menikam perut kapten berkepang dua ini.
Dan hanya satu jurus yang langsung terlintas di pikirannya saat itu. "Ryuusenka." Seperti ledakan popcorn, es merekah layaknya ledakan es raksasa pada mangsa yang menjadi tusukan Hyourinmaru.
Untuk sementara, langkah Kapten Divisi ke-2 terhenti. Tentu, hanya sementara.
Toushirou mundur beberapa langkah. Sembari mengendalikan napas yang agak terengah-engah, ia memerhatikan Komandan Onmitsukidou yang terjebak dalam gunungan es. Hampir saja, teknik pembunuh andalan Soifon mengenainya—Nigeki Kessatsu[1].
Dan ketika Toushirou masih memikirkan hal itu, bunyi kertakan es terdengar. "Cih."
Belum sampai sepuluh detik ia bernapas lega, es di depannya telah retak. Tak ingin menjadi orang bodoh, diam di sana menyaksikan Komandan Onmitsukidou meloloskan diri dari kepungan es buatannya, ia terbang menjauh. Sedikit merutuki diri sendiri atas tindakannya yang tak menggunakan seluruh kekuatannya saat melancarkan teknik Ryuusenka.
Sewaktu Toushirou berusaha memusatkan perhatian untuk terbang menghindar dari Soifon yang kelihatannya telah berhasil melepaskan diri, tekanan roh yang cukup familiar dirasakannya.
Kekhawatiran terpampang di wajahnya.
Dan seketika itu, Soifon muncul dengan acungan Suzumebachi ke lehernya. Toushirou mengelak dengan Shunpo. Sayangnya, ia tak cukup cepat menghindar dari Houmonka[2] sehingga lambang kematian itu tersemat di antara pangkal lengan kanan dan pundaknya.
Sial!
"Kau sedikit lengah, Toushirou Hitsugaya. Ada apa?" Soifon berkata santai seolah tusukan Hyourinmaru sebelumnya hanya mengoyak kulit terluarnya. Serangan Ryuusenka pun tampak tidak memberi pengaruh sama sekali.
Toushirou tidak menjawab. Ia tak ada niat untuk berdalih. Soifon benar.
"Apa kau khawatir dengan bawahan Juushirou Ukitake—Rukia Kuchiki?"
Untuk pertanyaan ini, pemuda berambut spiky putih memilih bungkam.
Soifon mengernyit skeptis. "Kau benar-benar khawatir pada perempuan itu?"
"Aku khawatir atau tidak, itu bukan urusanmu," akhirnya Toushirou bersuara. "Lebih baik kita berhenti bicara, dan cepat menyelesaikan ini. " Ia tak bergurau saat menuturkan hal ini. Ia memang sangat ingin segera menuntaskan pertempuran ini.
Sangat ingin. Keinginan yang berkali-kali lipat lebih besar ketimbang sebelumnya.
"Karena kau ingin segera menyelamatkan Anggota Divisi ke-13 itu?" terkaan Soifon.
Lagi-lagi Toushirou tak berkata apa pun.
"Kau juga merasakannya 'kan—Reiatsu Byakuya Kuchiki," lanjut kapten berkepang dua ini. "Orang itu pasti datang untuk menjemput adik perempuannya."
Dan seketika itu, jantung Toushirou berdetak lebih cepat. Tangan berkepala naga bergerak-gerak gelisah di gagang pedangnya.
Melihat kebisuan kapten termuda di depannya, Soifon yakin hal itu. Meski ia agak sangsi dengan pernyataannya sendiri barusan kalau Kapten Divisi ke-6 datang demi tujuan menangkap Rukia Kuchiki dengan tangannya sendiri, Soifon tak punya niat untuk menarik kembali pernyataannya. Dan jujur, ia agak terusik dengan kedatangan Ketua Klan Kuchiki. Sebab, Komandan Kapten Yamamoto sama sekali tak menyinggung bahwa kapten divisi lain akan ikut serta.
Namun pada akhirnya, mantan letnan Yoruichi Shihouin ini mengabaikan secercah kecurigaan itu.
"Baiklah, aku akan mengabulkan keinginanmu—menyelesaikan pertempuran ini secepatnya." Dan begitu adanya. Soifon melesak cepat ke depan. Runcingnya penyengat Suzumebachi berbenturan dengan bilah pedang. "Aku akan bertanya satu hal terakhir padamu, Toushirou Hitsugaya," saat masih berlangsungnya benturan Hyourinmaru dan Suzumebachi, ia menginterupsi. "Mengapa kau melakukan hal ini?" Pertanyaan ini sudah lama ditahan Soifon di ujung lidahnya.
"Apa maksudmu?"
"Menjalankan misi ini. Jangan bilang kau melakukannya demi Rukia Kuchiki."
Toushirou kembali membisu.
Soifon menyeringai tipis. Tendangan keras kaki kanannya dilayangkan pada leher Toushirou. Pertahanan lemah membuat Toushirou menjadi sasaran empuk, dan terhempas ke bawah.
Hasilnya—beberapa pohon harus tumbang karena pendaratan keras Kapten Divisi ke-10.
Mestinya, Toushirou bisa mengantisipasi ini, tetapi entah kenapa—untuk sesaat konsentrasinya buyar, dan pasti Komandan Onmitsukidou memanfaatkan baik hal itu.
Soifon mengamati kepulan debu di bawahnya, hasil pendaratan korban tendangannya. "Hyourinmaru!" Serangan es tak terduga memaksanya harus ikut mendarat di tanah, dengan bekuan es di lengan kirinya.
Pegangan Hyourinmaru kian kuat. Ini kesempatan terakhir. Toushirou tak boleh lengah lagi. Jika tidak, nyawanya akan melayang. Dan hasrat besarnya untuk menolong perempuan itu hanya akan menjadi sekadar hasrat.
Toushirou membatu.
Kapan ia menjadi sebegini pedulinya pada gadis itu?
Jika seperti ini—alasan mengapa sedari tadi ia tak merespons berbagai pertanyaan Soifon, karena semua pertanyaan itu menjurus pada satu jawaban sederhana yang sulit ia akui.
Toushirou sangat khawatir—
Kepada siapa?
—pada Rukia Kuchiki.
.
.
.
.
.
Wajah berhadapan dengan daratan keras berbatu, Ganju tak sempat berpikir jadi apa dirinya setibanya di sana, karena hanya satu terpikirkan—berteriak: "Aaaaakkkhhhhhh!" Dan teriakan itu terus berlanjut hingga beberapa detik ke depan.
Di saat Ganju yakin kalau ia sekarang tidak berada lagi di Soul Society, artinya ia telah mati, Yuuichi mengguncang tubuhnya. Ia mengutuk diri sendiri bahwa karena kebodohan dan kelemahannyalah, bocah tak berdosa ini harus ikut mati. Tapi pikiran itu lenyap saat ia membuka mata dan tersadar. Alih-alih jatuh menimpa batu besar yang masih puluhan meter di bawahnya, ia malah tersangkut pada sebuah jaring—mirip jaring laba-laba. Hanya saja, yang ada di sekitarnya ini terbuat dari baja hitam.
"Kita belum mati, kita belum mati, " kata Ganju berulang-ulang seolah kalimat itu adalah mantra, meyakinkan dirinya kalau mereka masih bernapas di Soul Society. Lalu ia memeriksa sekujur tubuh Yuuichi yang berjongkok di depannya. "Kau tidak apa-apa 'kan, Yuuichi?" tanyanya, berharap tak ada yang kurang dari tubuh si bocah.
"Aku tidak apa-apa, Ganju-ojichan," kata Yuuichi menenangkan sembari—tersenyum? Sepertinya terjun ke dasar jurang hanya permainan bagi anak kecil. Ganju sudah pucat pasi hampir mirip mayat, Yuuichi justru memasang ekspresi terbalik.
Seusai bernapas lega karena tubuh bocah itu masih utuh, begitu pula dirinya, Ganju yang semula terduduk lemas, bangkit lalu mendongak ke atas. "Siapa yang menyelamatkan kita?"
Dan tiba-tiba saja, sahutan di belakangnya—"Halo"—membuat Ganju terlonjak kaget. "Akulah yang menyelamatkanmu, pria besar dan juga anak kecil yang manis ini."
Belum sempat ia berkomentar apa-apa dengan makhluk aneh di hadapannya—yah, maksudnya, siapa yang tidak terkejut jika seonggok kepala tiba-tiba menyembul dari satu untaian jaring—suara berisik dari atas mengalihkan perhatiannya. Satu per satu pasukan Keigun terjun melintasinya, dan Ganju hanya bisa menonton hingga semua pasukan mendarat di daratan berbatu di bawah.
Ganju menengadah, ingin tahu siapa sosok penolongnya, dan seorang bertubuh besar seperti beruang berdiri di sana, dan berteriak, "Apakah mereka baik-baik saja, Daruku?"
Wanita berkepala besi alias Daruku perlahan-lahan memunculkan keseluruhan tubuhnya yang mirip laba-laba raksasa bertubuh baja hitam. Daruku menjawab, "Kau meremehkanku, Koga? Tentu saja. Mereka tidak kekurangan apa pun."
Tubuh Ganju menegang. Nama itu serasa tak asing di telinganya. Meski ingatannya tak sekuat gajah, tapi Ichigo pernah memberitahu tentang Bount yang menjadi lawannya di Karakura. "Kau … kau salah satu Doll?"
"Eh, kau tahu tentangku? Ternyata aku terkenal juga," narsis Daruku, padahal itu bukan maksud pria di depannya.
Dengan begini, Ganju tak perlu memastikan lagi siapa pria yang berada di atasnya.
Ini sih namanya: Keluar dari mulut singa, masuk ke mulut buaya.
.
.
.
.
.
Sepasang sayap es mengepak di tengah luasnya langit yang mulai memunculkan semburat jingga. Toushirou menghindar dari serangan Suzumebachi yang telah berhasil mengurangi setengah daya hidupnya setelah Houmonka bertengger di bagian depan pundak kanannya selain lengannya.
"Pertempuran ini tidak akan selesai jika kau terus menghindar, Toushirou Hitsugaya," suara Soifon di belakangnya.
Tapi hanya beberapa detik setelah itu, Soifon muncul di sampingnya, mengacungkan Suzumebachi ke pipinya. Toushirou memundurkan sedikit kepalanya, tetapi malahan kapten berkepang ini memberikan sebuah tendangan. Seolah telah memprediksinya, Toushirou merunduk. Dan dalam gerak lambat, si kapten termuda mengalungkan kakinya, mengunci kaki Soifon yang masih membentang.
Sesaat, Soifon tak mampu bergerak. Langsung saja, Toushirou berucap, "Bakudou no Ichi, Sai." Kedua tangan targetnya terkunci oleh pengikat tak kasat mata.
Toushirou menjauh beberapa meter, bukan untuk menghindar lagi. Genggamannya semakin mengerat. Ini yang terakhir. Ia tak boleh ragu-ragu. "Hyourinmaru!" lafalan perintah lantang. Naga es raksasa bergerak cepat ke arah targetnya, dan Soifon pun hanya mampu membulat mata terkejut. Ia tak siap. Dan alhasil, kini dirinya yang terhempas jatuh ke bawah menimpa deretan pepohonan.
"Taichou!" Letnan Soifon, Marechiyo Oomaeda muncul dengan tersengal-sengal, menghampiri Soifon yang telah terselubungi ribuan serpihan es. "Taichou? Kau tidak apa-apa, Taichou?"
"Cerewet." Soifon bangkit. "Apa yang kau lakukan di sini, Oomaeda? Di mana mereka?"
"Ano, Taichou, Kuchiki-taichou … "
Beberapa meter di atas, Toushirou memerhatikan Oomaeda yang memberikan laporan atas tugasnya. Dan tubuhnya mendadak membeku saat secara tak sengaja suara Oomaeda yang nyaring menyambangi pendengarannya. Letnan Divisi ke-2 itu memberitahukan informasi yang ia takutkan sedari tadi.
"Toushirou!"
"Toushirou-niichan!
Di belakang sana, Ganju dan Yuuichi bersorak gembira melihatnya. Menunggangi babi hutannya, mereka berderap cepat segera menghampirinya. Saat seekor babi hutan lain muncul, Toushirou membelalak terkejut. Bukan hewannya yang membuatnya kaget, tapi pria yang menungganginya.
Orang itu …?
Tanpa perintah, Ganju segera melempar bom asap ke arah Soifon dan Oomaeda sebagai kamuflase kesempatan untuk melarikan diri.
Sepasang partner divisi ke-2 ini menghindar, lalu mendarat di dahan pohon, dan akhirnya mengetahui bahwa mangsa mereka telah menghilang.
"Taichou, kita harus mengejar me—"
"Tidak perlu."
"Eh?"
Soifon pikir tak ada gunanya mengejar mereka. Setidaknya salah satu anggota mangsa telah tertangkap. Jika Toushirou Hitsugaya memang peduli pada Rukia Kuchiki, Kapten Divisi ke-10 pasti akan datang ke Seireitei untuk menolongnya.
Dan saat itulah pertempuran part ke-2 untuk sang Ahli Hakuda dan si Kapten Jenius.
.
.
.
.
.
.
.
Menatap curiga punggung besar di depannya, Toushirou mengikuti Gou Koga—mantan anggota Bount—ogah-ogahan. Reaksinya ini normal setelah beberapa bulan lalu, orang ini menyandang status sebagai musuhnya sewaktu menyerang Soul Society. Tak hirau alasan kenapa pria ini masih hidup saat pertarungan sengit mereka di Seireitei, yang ia pentingkan kini adalah alasan mengapa pria ini mendadak muncul dan menyelamatkan mereka.
Tiba-tiba Koga berhenti berjalan. "Ternyata di sini. Aku hampir lupa menyimpannya di mana." Puluhan ikat kayu disatukan dalam ikatan besar tersandar di balik pohon. Setelah membopong mudah kayu itu di punggungnya, ia menoleh ke belakang. "Aku tahu apa yang ingin kautanyakan. Tetapi ini bukan tempat yang cocok untuk menjelaskannya."
Terpaksa Toushirou harus menekan rasa penasarannya itu, dan juga menahan mulutnya untuk menjelaskan lebih pada Ganju dan Yuuichi di belakangnya tentang kronologis peristiwa: Rukia dibawa pergi oleh Byakuya Kuchiki. Sebab Toushirou pun tak tahu pasti hal itu karena ia pun hanya mencuri dengar dari Oomaeda.
Menyusuri hutan lebat Sunpu; hanya didominasi keheningan mereka berempat, atau sesekali terdapat suara sarat kekhawatiran Yuuichi tentang Rukia dengan menggumam, "Rukia-neechan…" Selain itu, hanya ada suara gemeresek langkah saat menginjak daun kering yang berserakan di tanah.
Ketika langit mulai berwarna jingga kemerahan, mereka tiba di sebuah kediaman yang berlokasi di bawah tanah. Hanya ada papan tertingkap yang diganjal dengan kayu kedua sisinya sebagai pintu masuk. Dari sana, tersembul cahaya dari lilin yang bertengger di kedua dinding tangga.
"Kau … tinggal di sini?" tanya Ganju, ragu.
"Iya. Tempat tinggal yang cukup nyaman. Setidaknya cukup sulit untuk ditemukan oleh para Shinigami," kata Kouga sembari melirik satu-satunya Shinigami di antara mereka.
"Pantas saja," tanggap orang yang disinggung.
"Koga-ojisan, tinggal sendirian?"
Siap membuka mulut untuk menjawab pertanyaan Yuuichi, sebelum suara gemeresek semak-semak di depan memalingkan perhatian. Seorang wanita muncul dengan ranting dan dedaunan yang menghiasi rambut coklatnya yang tersanggul. "Sudah kubilang berapa kali padanya untuk segera membuat jalan di sini," gerutunya. "Kalau begini 'kan aku tidak perlu kerepo—" Dan ia membeku ketika menyadari tiga orang tamu tak di undang berdiri di depan pintu masuk tempat persembunyiannya. "Wah, seharusnya kau memberitahuku terlebih dahulu kalau kau akan membawa tamu, Koga."
"Maaf."
"Yah, maksudku, kau mengundang tiga orang di saat kita sedang tidak punya makanan yang bisa dihidangkan."
"Kau…?" Toushirou menyela sembari memutar otak, berusaha mengingat wanita ber-haori putih dan berkacamata yang tersenyum padanya. "Ran'Tao…?" Beruntung, ia punya ingatan bagus, meskipun hanya sekali bertemu ketika ilmuwan wanita ini turun tangan untuk menghentikan Jin Kariya di Seireitei.
"Terima kasih karena masih mengingatku. Jika begini, aku tidak perlu memperkenalkan diri lagi 'kan, Kapten Divisi ke-10."
Dan ternyata, Ran'Tao pun masih mengingat Toushirou.
.
.
.
.
.
Menuruni tangga kayu reyot dengan lilin di kedua sisi dindingnya, kita tiba pada ruang satu-satunya di rumah bawah tanah ini. Lantai berbatu hanya berbalutkan tatami lusuh, mengelilingi tungku panci yang sedang memerah panas. Lalu terdapat tangga berbatu yang hanya terdiri tiga anak tangga menuju sebuah ranjang besar berkelambu putih, dan di sebelah kiri: tengkorak rusa dan beberapa tulang babi (berharaplah agar Ganju tak menyadarinya. Bisa-bisa ia menangis) terletak di atas deretan tong kayu, dan juga tumpukan ikatan kayu bakar yang dibawa Koga tadi terdapat di sampingnya.
Inilah kediaman sederhana mantan ilmuwan hebat di Seireitei, Ran'Tao.
Di tatami, Ganju dan Yuuichi memerhatikan si ilmuwan yang sedang menyembuhkan tubuh penuh memar Toushirou. Meski kekuatan Shinigami-nya telah disegel, lambat laun Reiatsu Ran'Tao telah kembali walau masih belum sepenuhnya. Karenanya, pemulihan Toushirou lebih lambat dibanding yang diharapkan.
"Jadi, kalian datang ke sini untuk mencari informan bernama Puba?" sembari berkosentrasi pada Kidou, wanita berkacamata ini bertanya memastikan. Ia telah diberitahu oleh Koga tentang tujuan kedatangan orang-orang ini ke Sunpu—setelah pria mantan Bount itu diberi info oleh Ganju saat perjalanan menolong Toushirou.
Melihat Toushirou tak merespons, Ganju yang menjawab, "Iya. Tapi sepertinya … sia-sia saja karena ternyata kami ditipu oleh orang-orang dari Kusajishi."
Kidou meredup sejenak. Ran'Tao tersenyum misterius.
"Orang-orang itu memang sering muncul di Sunpu," timpal Kouga di sudut belakang Ganju. "Bisa dikatakan distrik ini adalah markas mereka yang lain selain Kusajishi. Karena rumor tentang Puba sudah tersebar di seluruh Rukongai, mereka menyebarkan informasi bohong itu demi meraup keuntungan sendiri."
"Jadi … aku benar-benar tidak bisa bertemu dengan mama," suara Yuuichi yang sarat dengan keputusasaan.
Toushirou setengah menoleh pada bocah yang dipunggunginya. Begitu penuh harapan saat awal menjalankan misi ini, tetapi kini harapan itu telah melayang sudah setelah kenyataan pahit terpampang di depan mata kalau semua hanya tipuan. Bisa jadi, Puba hanyalah rumor belaka, dan informan itu memang dari awal tidak pernah ada.
"Siapa bilang kau tidak bisa bertemu dengan mamamu, Bocah Manis?" Ran'Tao berujar setelah tubuh Toushirou disembuhkan, kecuali dua lambang Houmonka yang masih tergambar di tubuh Kapten Divisi ke-10 ini karena hanya pemilik teknik itu saja yang bisa menghilangkannya.
"Apa maksudmu?" tanya Toushirou penasaran setelah mengenakan kembali kosode-nya.
Ran'Tao duduk di hadapan Ganju dan Yuuichi, membuka tutup panci, dan kepulan uap menerpa wajahnya. "Mungkin kalian berpikir kalau Puba itu sama sekali tidak nyata setelah kalian dikelabui. Apalagi setelah tersiar kabar kalau tak ada seorang pun yang pernah bertemu dengan informan itu. Tapi bukan berarti informan itu sama sekali tidak ada."
"Jadi … Puba … benar-benar ada?" Wajah Ganju mulai berbinar.
Setelah panci ditutupnya kembali, Ran'Tao menegakkan posisi duduknya. Raut keseriusan terpancar. "Iya. Dan dia berada di Mikawa."
"Mikawa? Itu berarti…"
"Ya. Di Rukongai Selatan."
Harapan masih ada. Ganju dan Yuuichi berpandangan semangat, tapi raut itu pupus perlahan sewaktu Toushirou menuturkan prasangka buruk, "Bisa jadi kabar itu juga tipuan." Setidaknya ia tak ingin jatuh ke kubangan jebakan untuk kedua kalinya.
"Sepertinya kau meragukan informasi dariku, Kapten Divisi ke-10?"
Tak ada balasan.
Ran'Tao mendesah. "Iya, aku mengerti hal itu. Tapi bagaimana jika aku bilang—aku pernah bertemu dengan informan itu secara langsung, melihat Puba dengan kedua mataku sendiri."
Iris turquoise membelalak.
"Tetapi aku tidak akan memberitahu kalian bagaimana wujud dan rupanya. Kalian saja yang melihatnya sendiri."
Ganju mengernyit. Kata-kata Ran'Tao ini seolah memberitahu bahwasanya informan misterius itu berwujud berbeda dengan mereka. Jangan-jangan Puba itu adalah makhluk halus atau makhluk jadi-jadian.
"Sebenarnya bukan maksud kami meragukanmu, Oba-san, tapi—"
Suara Ganju menghilang. Ia membeku setelah merasa adanya aura berbeda dengan wanita di depannya. "Siapa yang kaupanggil 'Oba-san', hah?"
"Ma-maksudku Onee-san."
Aura gelap meredup. "Tapi apa?"
Menelan ludah susah, Ganju meneruskan, "Tapi saat ini kami tidak bisa pergi begitu saja setelah satu teman kami dibawa pergi oleh salah satu kapten Batalion 13."
"Jadi, kalian ingin menyelamatkan teman kalian itu dulu?"
"Yah, itu—"
"Beritahu kami di mana posisi tepatnya informan itu di Mikawa," Toushirou menceletuk dengan tetap membelakangi mereka. Perkataannya seakan ia telah memutuskan untuk tetap melanjutkan misi ini walau tanpa Rukia.
"Toushirou … kau … bagaimana dengan Kuchiki? Apa kita akan meninggalkannya?"
Tanpa mengatakan apa pun lagi, Toushirou bangkit dan berjalan melintasi orang-orang yang menatapnya bingung dengan keputusan tak terduganya. Sebelum kakinya menginjak anak tangga pertama, ia berujar dengan pandangan tetap ke depan, "Aku keluar dulu mencari angin." Dan hanya suara reyot tangga yang terdengar.
Jika seperti ini, misi akan dijalankan dengan hanya tiga orang anggota.
.
.
.
.
.
Ganju langsung terbangun saat mendengar derap langkah menuruni tangga, dan muncullah Toushirou dari lorong tangga menatapnya heran. "Apa?"
"Apanya yang 'apa'? Aku tidak menyangka kau depresi begitu gara-gara Kuchiki tidak ada." Ganju menyimpulkan seperti itu karena raut Toushirou sedari tadi hanya raut tak bersemangat. Lalu apanya yang mencari angin, si kapten menghabiskan berjam-jam di luar, dan baru kembali saat tengah malam.
"Apa?" kata Toushirou meninggi.
"Kaupikir aku tidak melihat, Toushirou, apa yang kalian lakukan semalam saat di penginapan Echigo?"
Toushirou duduk dengan menelentangkan satu kakinya, kaki lainnya ditekuk memangku lengannya. "Aku tidak mengerti apa yang kau maksudkan."
Menarik napas pendek, Ganju memandang Toushirou. "Jangan pura-pura bodoh," katanya. "Saat Kuchiki menemanimu makan." Inilah alasan si bungsu Shiba menuding kalau mereka memiliki hubungan khusus dan membuatnya ogah-ogahan menerima tugas dari Toushirou saat pencarian Puba di pusat Provinsi Sunpu.
"Lalu?" Toushirou berpikir, apa ada yang salah dengan hal itu?
Ganju menggaruk leher sampingnya. "Ya … lalu … aku pikir kau dan Kuchiki mungkin saling menyukai." Sesungguhnya pria beralis tebal ini pun masih ragu saat menyatakan dugaan sepihaknya ini.
Membuang napas panjang, Toushirou memejamkan mata, tidak memedulikan analisa buruk si bungsu Shiba.
Mengerutkan bibir, Ganju menambahkan, "Yah … aku tahu itu terdengar tidak masuk akal. Jadi … jika kalian tidak saling menyukai … maksudku jika Kuchiki tidak menyukaimu, jadi barangkali kau yang menyukai Kuchiki."
Kontan saja, kelopak mata yang baru mengatup sebentar—terbuka. Tatapan tajam dilempar Toushirou.
"Yah … kalau aku salah, ya sudah, kau tidak perlu marah." Adik Kuukaku Shiba ini membaringkan tubuh kembali, tidak berantusias lagi mencari tahu hubungan aneh Toushirou dan Rukia. Bisa-bisa, ia dijadikan patung es. Namun, belum semenit ia menutup mata, ia terbangun kembali.
"Apa lagi?" sengit Toushirou.
Ganju agak bergidik. Segitu besarnyakah Toushirou terusik dengan ucapannya tadi. "Yah … aku cuma mau bilang apa yang disampaikan Ran'Tao-oneesan—kalau Puba berada di Hutan Iblis Mikawa," katanya. "Bukankah tadi kau menanyakannya?" Tampaknya penyataan Ganju telah membuat otak si kapten agak berjalan tak semestinya. "Jadi … bagaimana? Kapan … kita berangkat?"
Menarik napas singkat, Toushirou menjawab, "Kalau begitu, kita berangkat besok lusa."
"Lusa? Bukan besok?"
"Sebaiknya untuk besok, kita habiskan untuk beristirahat. Apalagi," Toushirou memandang Yuuichi yang tertidur bersama Ran'Tao di ranjang, "sepertinya Yuuichi cukup kelelahan seharian ini, jadi biarkan dia beristirahat untuk sehari."
Ganju menatap Toushirou ragu. Tumben-tumbennya kapten ini terang-terangan khawatir pada Yuuichi. "Jadi … bagaimana dengan Kuchiki? Kita akan pergi tanpanya?"
Toushirou mengalihkan perhatian pada jepitan perunggu—pemberian gadis itu—yang tergeletak di sampingnya. "Tidak. Dia akan kembali. Pasti."
Diam-diam Ganju tersenyum jahil. Tuh, kan, benar dugaannya bahwa hubungan kapten ini dan adik angkat Ketua Bangsawan Kuchiki, bukanlah sekadar hubungan pertemanan atau rekan misi. "Kenapa kau tidak katakan saja kalau kita tidak jadi pergi besok gara-gara menunggu Kuchiki? Kau tidak perlu berpura-pura menggunakan alasan kalau kau mengkhawatirkan Yuuichi, Toushirou."
Harusnya Ganju menyesal mengatakan itu. Lihat. Ia disuguhi tatapan membunuh Toushirou. "Shiba…"
"Baiklah." Ganju mengangkat tangan menyerah. "Aku akan tidur." Dan begitulah. Pemuda Shiba ini membaringkan tubuh kembali nyaman di futon.
Setelah menghela napas lega karena terlepas dari diskusi yang dianggapnya tak berguna, tapi cukup membuatnya naik pitam, Toushirou mengatupkan mata, namun langsung terbuka kembali ketika Ganju berkicau lagi. "Toushirou, bagaimana jika Kuchiki ternyata menyukaimu?"
Dan spontan saja, tangan Kapten Divisi ke-10 bergerak untuk meraih Hyourinmaru di sampingnya, tetapi Ganju telah menutupi dirinya dengan selimut dan pura-pura terlelap.
Lagi-lagi Toushirou membuang napas. Apakah sebegitu berbedanya hubungan dirinya dan anggota divisi ke-13 itu sehingga membuat Ganju melihat mereka memiliki hubungan khusus, lebih dari hubungan rekan misi?
Pemuda yang lahir di musim dingin ini menggeleng-geleng kepala. Untuk apa ia memikirkan hal itu? Banyak hal yang harus dipikirkannya selain sesuatu yang tak penting seperti itu.
Sejujurnya ia sendiri tidak paham mengapa ia mengatakan bahwa Rukia akan benar-benar kembali. Yang menjemputnya adalah kakaknya, dan tentu hal normal jika ada orang yang nian meragukan bahwasanya bawahan Ukitake itu akan tetap melanjutkan misi. Tetapi—barangkali, yang menyebabkan Toushirou percaya kalau Rukia akan kembali karena tekad kuat gadis itu untuk membantu Yuuichi yang tak pernah padam hingga saat mereka terakhir kali bertemu di bukit Sunpu.
Dan ia yakin, gadis itu tak 'kan meninggalkan Yuuichi sendirian.
.
.
.
.
.
Koga baru saja kembali untuk membeli sarapan di pasar pagi Sunpu ketika Toushirou muncul dari semak dengan Zanpakutou di tangannya yang diliputi beberapa serpihan es. Sejenak mereka saling berpandangan, lalu si Shinigami bergerak, berinisiatif masuk ke rumah. Tapi, langkahnya tertahan tepat di pintu masuk sewaktu pria di belakangnya berkata, "Kau dari berlatih, Kapten Muda?"
Toushirou bermaksud melangkah kembali setelah dipikirnya kalau pertanyaan itu sama sekali tidak penting, setidaknya hingga Koga kembali berujar, "Semua anak muda sama saja. Sangat senang menganggap kalau kekuatan adalah segalanya."
Memutar badan spontan, si kapten merasa tersinggung. Pria mantan Bount tampak tak memedulikannya dengan sibuk mengumpulkan ranting kecil. Keranjang makanan yang dibawanya tadi diletakkan di atas dahan pohon.
"Apa maksud perkataanmu?"
Koga menghentikan sebentar kegiatannya. "Tidak ada maksud apa-apa. Hanya saja, kau mengingatkanku pada Ichigo Kurosaki. Matamu yang menginginkan kekuatan agar kau bisa melindungi seseorang yang penting bagimu. Apa aku salah?" Di antara anggota Bount lainnya, Koga adalah pria yang paling bisa membaca tabiat dan pikiran seseorang.
Terpaku, Toushirou tak tertarik untuk melanjutkan pembicaraan. Karena apa yang dikatakan Kouga benar adanya. Ia memang ingin menjadi kuat—demi tujuan melindungi Hinamori.
"Bukankah kau sudah kuat, Kapten Muda? Mengapa kau masih menginginkan kekuatan?"
"Aku sama sekali tidak kuat." Iya, Toushirou tidak kuat. Biarpun ia adalah pemilik Zanpakutou tipe es terkuat di Soul Society, dan orang-orang memandangnya sebagai Shinigami berbakat, ia tetap menyimpulkan kalau kemampuannya sekarang masih jauh dari kata kuat. Andaikan ia memang kuat, Hinamori tak 'kan terbaring lemah sekarang di ranjang.
"Jika kau memiliki kekuatan yang kauinginkan, apa kau yakin—dengan kekuatan itu kau mampu melindungi orang yang penting bagimu?"
Termangu, Toushirou tidak tahu harus membalas apa. Ia tidak pernah memikirkan ini. Jika ia mampu menguasai Bankai Hyourinmaru dengan sempurna—tanpa terbatasi oleh umurnya yang masih muda—mampukah ia melindungi Hinamori dengan kekuatan itu?
Tidak mendapat timpalan dari si kapten, Koga menatapnya bijak. "Aku beritahu sesuatu padamu, Kapten Muda," katanya. "Sebesar apa pun kekuatanmu, jika orang yang kaulindungi sama sekali tidak memercayaimu, sampai kapan pun juga kau tidak akan mampu melindunginya," jeda. "Sekuat apapun dirimu, niat baikmu untuk melindunginya hanya akan berakhir sia-sia."
Koga kembali meneruskan aktivitasnya. Setelah berpuluh-puluh ranting terkumpul, ia mengikatnya dengan tali yang disimpan di sakunya. Mengambil ranjang di pohon, ia beringsut mendekat, dan berhenti tepat di samping Toushirou yang masih terdiam. "Ingat itu baik-baik, Anak Muda." Lalu berjalan melaluinya, masuk ke dalam rumah untuk bersiap menyediakan sarapan.
Lidah Toushirou mendadak kaku. Tidak ada kalimat yang melintas di kepalanya untuk membalas Koga. Otak jeniusnya tiba-tiba berhenti bekerja. Apa selama ini Hinamori tidak pernah memercayainya? Apa karena itu, Letnan Divisi ke-5 selalu terluka seolah upaya kerasnya untuk melindunginya tampak sia-sia?
Kedua tangannya terkepal kuat. Ia benci pria Bount itu. Kenapa? Karena telah mengatakan kenyataan yang selama ini dipungkirinya.
.
.
.
.
.
Setelah percakapan tadi pagi, Toushirou berusaha menghindar berinteraksi dengan Koga. Kata-kata pria itu tidak mau lepas membayangi kepalanya. Dan sepanjang hari, ia habiskan hanya duduk santai di atas pohon memandang langit biru. Memikirkan hal lain mungkin bisa menyingkirkan bayangan perbincangan dengan pria itu.
Dan pikirannya langsung melayang pada adik Ketua Klan Kuchiki. Besok pagi adalah batas waktu menunggu kepulangan Rukia. Jika gadis itu tidak datang, apa boleh buat, misi dijalankan hanya dengan tim yang beranggotakan tiga orang.
Tanpa Toushirou sadari, di bawahnya, Ganju menatapnya kasihan. Ia menggeleng-gelengkan kepala tak percaya kalau ternyata kapten yang sering beraut dingin itu ternyata bisa sangat depresi hanya karena Rukia tak ada di antara mereka. Padahal ini baru sehari.
Keesokan paginya, ketika kabut tebal masih menggerayang di hutan Sunpu, Tim Bonny mengemas barang—siap berangkat.
"Sampaikan salamku pada mamamu, ya, Yuuichi," Ran'Tao menyampaikan pesan, dan dijawab Yuuichi dengan anggukan mengiyakan. Setelah menerima pelukan ilmuwan wanita ini, si bocah berjalan lambat-lambat menuju Ganju yang sudah duduk manis di atas Tony. Masih berharap kalau Rukia akan segera muncul.
"Apa ini?" tanya Toushirou setelah Ran'Tao mengulurkan secarik surat.
"Tunjukkan ini pada mereka, lalu kau akan diizinkan bertemu dengan Puba."
Toushirou mengernyit. Siapa yang dimaksud 'mereka'? Apa Puba bukan seorang saja, tapi hidup berkoloni? Namun, dari perkataan Ran'Tao seolah mengisyaratkan kalau 'mereka' yang dimaksud adalah sebuah kelompok, dan ia harus berunding dengan kelompok itu agar bisa bertemu Puba. Banyak pertanyaan yang berputar-putar di kepalanya. Ingin menanyakan, tetapi tampaknya itu percuma saja. Ran'Tao sama sekali tidak menunjukkan raut keantusiasan untuk menjawab pertanyaannya.
"Lalu, kau pun bisa menunjukkan surat itu pada Harugasaki. Dia yang akan menuntunmu langsung ke Hutan Iblis," tambah Ran'Tao. Sebenarnya, ia telah mengatakan perihal ini semalam. Terutama tentang seorang sahabat yang baru dikenalnya—bernama Harugasaki—yang akan berbaik hati menunjukkan mereka posisi Puba.
"Aku paham."
"Koga sebenarnya bisa mendampingi kalian. Tetapi … aku sedikit mengerti kalau kalian sepenuhnya tidak bisa memercayainya. Tapi untuk Harugasaki, aku pikir kalian akan lebih bersikap berbeda."
"Kenapa?"
"Kalian akan tahu itu setelah bertemu dengannya. Aku sudah beritahu 'kan di mana dia berada sekarang?"
"Ya." Semalam Toushirou telah diinfokan, distrik mana orang bernama Harugasaki bertempat.
Setelahnya, Toushirou hanya memandang sekilas Koga. Meski sungkan, ia menunduk sedikit padanya. Dan ketika Toushirou berbalik, pria Bount tersenyum tipis.
Mereka angkat kaki dari kediaman Ran'Tao dengan lambaian tangan Yuuichi pada dua orang yang telah banyak membantu mereka tiga hari ini.
Berderap melewati jalanan berdebu Sunpu, Tim Bonny tidak sesemangat kemarin. Tentu saja. Itu dikarenakan sekarang tim ini telah kekurangan anggota. Toushirou menengok ke belakang. Setiap harinya di sana, gadis itu duduk tenang, dan merasa rindu juga ketika Rukia mencuri pandang padanya. Ternyata benar apa kata pepatah: Kalau kau akan merasakan bagaimana pentingnya orang di sekitarmu saat orang itu tidak ada.
Eh? Tidak salah? Sepertinya Kapten Divisi ke-10 ini mulai mengakui kalau ia memang merasa kehilangan sosok Rukia.
Ketika Toushirou melewati perempatan, perhatiannya mendadak tertuju pada papan jalan di belokan. Berbunyi: 750 METER, PERBATASAN SUNPU DAN GIFU[3]. Semenit penuh, ia menatapnya lekat. Dan ia langsung berekpresi seolah ia baru mengingat sesuatu yang penting.
Mengarahkan Conny ke jalan berbeda dari yang seharusnya dituju, ia bergerak melalui jalan menuju perbatasan. Toushirou tidak menghiraukan teriakan mengherankan Ganju atas tindakannya. Mungkin pria Shiba itu bingung dengan jalur yang dipilihnya karena dirinya sendirilah yang mengatakan untuk tidak melalui jalur perbatasan karena jauhnya dua kali lipat dibanding menggunakan jalur hutan.
Tapi bukan berarti Toushirou akan menjalankan misi melalui jalur ini. Ia menuju perbatasan hanya untuk memastikan sesuatu.
Setibanya di antara papan perbatasan, Toushirou bergegas turun dari Conny dan mengamati ke sekelilingnya, mencari sesuatu. Beberapa lama tidak memperoleh hasil, senyum pahit tersungging di bibirnya. Mengapa ia berharap besar kalau apa yang mereka janjikan sewaktu mereka berpisah akan ditepati?
Toushirou siap menunggangi Conny kembali, setidaknya sebelum sahutan suara yang tak asing telinganya membuatnya terpaku. Nada terima kasih nan sopan yang berasal dari kedai kecil tepat sepuluh meter dari tempatnya berdiri.
Dan ia tak bisa menahan bibirnya untuk mengulas sebuah senyum saat sosok yang ia sangat harapkan muncul keluar dari kedai, dan melayangkan senyum lega padanya.
"Akhirnya Anda datang juga. Saya sudah lama menunggu."
Sosok di hadapannya benar-benar menepati janji yang mereka buat saat berpisah di bukit Sunpu.
"Jangan khawatir! Ini tidak akan lama. Setelah ini selesai, kau tunggu aku di perbatasan Sunpu."
"Saya mengerti."
"Anda pikir saya tidak akan menepati janji saya?"
Toushirou tak berkata apa-apa. Pemandangan langka—kapten berjulukan "Winter Lion" oleh Association Woman Shinigami—tanpa segan memamerkan senyum manis yang jarang ia perlihatkan. Bahkan senyum itu terpampang di wajahnya untuk waktu yang cukup lama.
Ia tak 'kan mengelak pada dirinya sendiri dengan penyataan: kalau ia senang gadis ini telah kembali. Sangat senang.
"Rukia-neechan!" Yuuichi bersorak riang di belakang. Tony masih belum berhenti sempurna, bocah ini langsung melompat hingga ia hampir terjatuh. Dan lari kegirangan memeluk Rukia. Ah, rasanya ia bahagia sekali. Syukurlah, mimpi buruk tentang menjalankan misi tanpa gadis yang sudah disayanginya ini tidak terkabul.
Jika begini, harus dikoreksi lagi. Misi tidak dijalankan oleh tiga orang anggota, namun empat orang. Ya itu sudah pasti karena bukan Tim Bonny namanya kalau anggotanya hanya tiga orang.
.
.
.
.
.
To be Continued
.
.
.
.
.
[1] Nigeki Kessatsu : serangan andalan Soifon di mana targetnya akan mati jk terkena serangan Suzumebachi 2x di tempat yg sama
[2] Houmonka : lambang kematian berbentuk kupu-kupu yg akan muncul jk Soifon menggunakan serangan Nigeki Kessatsu
[3] Gifu : distrik ke-24, Rukongai Utara (buatan author)
A/N : Tolong jgn gebukin sy gara2 update-nya lelet banget sampe satu bulan*angkat tangan takut2* Yah… Sy tdk tahu harus bilang apa selain nyampein satu kata: Maaf. Ada beberapa masalah yg buat sy ga bisa berkosentrasi nulis. Bahkan, masalah ini pun buat kehidupan sekolah sy agak terbengkalai*abaikan sj* Karena itu sy bener2 terima kasih ma Kei, Ojou-chan,& Yuki. PM-nya, entah kenapa buat sy semangat. Dan setelah masalah itu sedikit mereda, sy langsung ketik ch ini. Dan juga thanks banget bg pembaca yg masih nunggu fic ini.
Ntuk ch ini, sy munculin tokoh baru. Masih ingat Ran'Tao, kan? Yang mantan ilmuwan itu, yang mirip banget ma Yoshino. Lalu ntuk Koga, dia loh yg pernah ngelawan Toushirou saat di Seireitei. Mereka-lah penolong ntuk Tim Bonny(?)
Yosh, sampein aja uneg-unegnya ato jk ada yang ingin ditanyakan ato ada yg tdk dimengerti di kotak R-E-V-I-E-W. Sampai Jumpa Lagi di chapter selanjutnya.
Ray Kousen7
14 Agustus 2012
