Sunagakure

.

.

.

Sakura mencabut pedangnya dengan kasar, membiarkan tubuh Haku tergeletak bersimbah darah. Secepat ia datang, secepat itu pula pedang Sakura menghilang bersama kilatan cahaya Aquamarine.

Sakura pun berjalan menjauhi Haku sambil menyembuhkan luka sabet dilengan kanannya. Kakinya terus menuntunnya kearah Tenten berada, mengabaikan dentingan senjata dan kilatan-kilatan sihir yang saling menyambar di kejauhan.

Selesai mengobati lukanya, Sakura segera membuka kekkai yang melindungi Tenten dan menghampirinya.

Wajah Tenten pucat pasi, keringat membanjiri wajahnya, dan darah segar terus-menerus keluar dari luka tusuk diperutnya. Sakura mendudukan diri disamping Tenten, memulai sihir penyembuhannya pada Tenten.

Tenten mengerang pelan saat sinar berpendar kehijauan itu perlahan menyentuh lukanya.

"Sa..kura.." gumam Tenten sambili berusaha menajamkan penglihatannya.

"Kau akan baik-baik saja, Tenten. Tenanglah." sahut Sakura sambil menatap mata Tenten. Tenten mengangguk samar sambil tersenyum lemah.

Perlahan Tenten mulai membaik. Wajahnya tidak terlalu pucat seperti tadi dan pendarahannya juga sudah berhenti. Sakura pun tersenyum menyadari Tenten mulai mendapatkan kesadarannya kembali. Tidak sia-sia Sakura menyerap tenaga Haku tadi.

"Sudah merasa lebih baik?" tanya Sakura.

"Iya, terimakasih banyak, Sakura." jawab Tenten.

Sakura mengangguk pelan. "Kau bisa berdiri? Lebih baik kita cari tempat yang lebih aman."

"Baiklah." sahut Tenten.

Sakura pun membantu Tenten berdiri dengan susah payah. Mereka akan pergi mencari tempat aman jika saja sebuah suara tidak menginterupsi kegiatan mereka.

"Kau akan pergi setelah aku menunggu lama?" tanya sebuah suara dari belakang mereka.

Sontak saja kedua gadis itu menolehkan kepala mereka kearah belakang. Dua orang Mage berdiri dengan congkaknya sambil menatap tajam kearah mereka.

"Kalian..." desis Sakura menahan amarahnya, segera saja Ia maju kedepan tubuh Tenten untuk melindungi gadis yang belum pulih sepenuhnya itu.

"Hei, tidak perlu menatapku seperti itu. Aku bahkan sudah berbaik hati menunggu sampai kau selesai mengobati temanmu itu." ujar salah satu diantara mereka yang membawa sebuah senjata berbentuk sabit.

"Apa mau kalian?" tanya Sakura dengan tatapan tajamnya.

"Kami hanya ingin membawamu, itu saja." jawab Mage tersebut.

Sakura mengangkat sebelah alisnya, "Membawaku kau bilang?" Sakura tersenyum sinis, "Jangan bermimpi!"

Sakura segera maju melancarkan serangannya. Pedang yang tadi disimpannya kembali menampakkan wujud indahnya. Kedua Mage tersebut melompat kearah yang berlawanan. Sakura mengejar si pemakai tongkat sabit. Dentingan suara senjata yang beradu pun terdengar setelahnya.

Baik Sakura maupun Mage tersebut sama-sama kuat dan tidak ada yang mau mengalah. Sakura sendiri bahkan tidak sekalipun membiarkan lawannya untuk mengambil kesempatan. Namun, Ia tidak menyadari bahwa salah satu Mage yang lainnya telah menyerang Tenten yang belum pulih sepenuhnya.

Tepat ketika pedang Sakura bergerak menebas leher Mage yang berhadapan dengannya, sebuah suara yang dingin dan menusuk itu kembali berhasil menghentikan pergerakan Sakura.

"Hentikan, merah muda, atau kepala gadis ini akan terpisah dari tubuhnya."

Spontan Sakura menghentikan laju pedangnya dan menoleh kearah sumber suara tersebut. Matanya membulat sempurna saat melihat Tenten disandera oleh Holy Mage yang satunya. Sebuah pedang panjang yang diambilnya dari medan pertempuran kini bertengger manis diatas kulit leher Tenten.

Sakura menggeram marah.

"Kau-"

BHUAAGH

Sebuah pukulan mendarat tepat ditengkuk Sakura. Pedang yang sedari tadi digenggamnya pun terlepas begitu saja dan menimbulkan suara berdentang yang cukup keras. Tubuh Sakura terasa lemas, sesaat setelahnya pandangan Sakura mulai menghitam dan semuanya menjadi gelap.

"SAKURA!" teriakan Tenten menggema saat tubuh Sakura menghantam tanah dengan cukup keras.

Holy Mage yang sedari tadi menyanderanya pun mendorong tubuh Tenten kedepan hingga gadis tersebut jatuh tersungkur. Detik berikutnya Ia mengangkat pedang panjang tadi tinggi-tinggi dan bersiap menebaskannya pada Tenten.

TRAANGG

Tepat sebelum pedang tersebut mengenai pundak Tenten, sebuah pedang besar telah menahan laju pedang milik Holy Mage tersebut.

Tenten menoleh kebelakang saat mendengar dentingan pedang yang cukup dekat dari telinganya tersebut. "Kisame-san?" Tenten tampak kaget melihat Kisame yang sedang melindunginya.

"Apa yang kau lakukan disana? Cepat menyingkir!" bentak Kisame.

Seakan tersadar, Tenten mengedipkan matanya beberapa kali sebelum akhirnya bangkit dan menyingkir dari sana. Memberikan cukup ruang bagi Kisame untuk bertarung.

"Cukup main-mainnya, Kakuzu. Kita sudah dapat yang kita inginkan." ucap sebuah suara diseberang sana.

"Aku tahu, Hidan." sahut Holy Mage yang dipanggil oleh Kakuzu tersebut.

Kakuzu menghentakkan pedang mereka yang beradu dan melompat mendekati temannya Hidan yang sedang membopong tubuh Sakura seperti karung beras.

"Sakura! Lepaskan dia!" teriak Tenten sambil mengambil ancang-ancang, namun Kisame menghalanginya.

"Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku!" teriak Tenten marah sambil menatap Kisame tajam.

"Diamlah." desis Kisame sambil menatap waspada pada kedua Holy Mage didepannya.

Kedua Holy Mage tersebut tersenyum sinis. "Kalau begitu kami pergi."

Tenten sudah akan mengejar kedua Mage tersebut jika saja Kisame tidak menahan lengannya.

"Lepaskan aku jika kau tidak ingin menolongnya!" ucap Tenten tajam.

"Tidak ingin menolong katamu? Aku bahkan langsung kemari setelah mendengar teriakanmu. Apa kau tidak tahu betapa sulitnya mengelabui Suigetsu sialan itu?" sahut Kisame tak kalah tajamnya.

"Lalu kenapa kau menahanku?!" teriak Tenten kesal.

"Kau pikir kau bisa mengalahkan mereka berdua sekaligus?"

"Setidaknya aku mencoba."

"Jangan konyol. Kita harus memberitahu yang lain secepatnya."

Kisame pun segera menyeret paksa Tenten dari sana untuk menemui yang lainnya. Mungkin Pein atau Shikamaru bisa membantu mereka menyusun strategi menyelamatkan Sakura.

.

.

.

.

.

.

.

.

Disclaimer Masashi Kishimoto

Story by Minazuki Miharu

Warning :

AU, OOC, Typo's, Gaje, Alur gak jelas, Bahasa Kaku.

Don't Like, Don't Read

No Flame!

.

.

.

.

.

.

.

Cavalier

.

.

.

Happy Reading.

.

.

.

Sunagakure

.

.

.

Pertarungan terus berlangsung dengan sengit. Tidak peduli bagaimana pun caranya, mereka harus menghentikan Holy Mage yang berusaha menghancurkan desa mereka.

Namun, disaat mereka berpikir bahwa mereka sudah hampir berhasil memukul mundur pasukan lawan, dua sosok laki-laki berpakaian Holy Mage datang sambil membawa sepasukan besar klon Zetsu. Keduanya berdiri angkuh diatas reruntuhan desa sambil memandang remeh pada Naruto dan teman-temannya. Kedatangan mereka pun mau tak mau membuat gelombang keterkejutan yang amat sangat bagi Naruto dan teman-temannya bahkan bagi pasukan Mage Sunagakure.

Sambil menyeringai iblis, dengan santainya mereka memerintahkan pasukan Zetsu untuk menyerang. Namun yang paling membuat Naruto, Sasuke, Gaara, Sasori dan yang lainnya lebih terkejut adalah keberadaan seorang gadis yang terkulai lemah bersama kedua Mage tersebut. Gadis berambut merah muda yang dibopong salah satu Holy Mage layaknya karung beras.

"SAKURAAA!" teriakan Sasori memecah keterkagetan yang menyelimuti mereka.

Sasori menerjang maju, namun pasukan Zetsu tidak membiarkannya begitu saja. Dengan ganas Sasori menghajar siapapun yang mencoba untuk menghalanginya. Satu-satunya hal yang ada di dalam otaknya saat ini adalah menyelamatkan Sakura dan mencincang tangan-tangan kotor yang berani menyentuh gadis itu.

Namun saat Sasori selesai menghajar para Zetsu tersebut, kedua Holy Mage yang tadi membawa Sakura sudah hilang entah kemana. Sasori mendecih kesal lalu berlari menuju tempat kedua Mage tadi berdiri.

"Kuso!"

"Sasori!"

Tak berselang beberapa detik, Gaara segera menghampiri Sasori dan segera menyeret paksa sepupunya itu untuk mendekat. Tampaknya Shikamaru tengah menyiapkan strategi untuk menyelamatkan Sakura.

"Baiklah, jadi aku bisa menyimpulkan bahwa kita sudah hampir menaklukan mereka sebelum bala bantuan itu datang. Kita berhasil membunuh Zabuza, Haku dan Ukon. Namun Tenten dan Konan mengalami luka berat begitu juga dengan Kiba dan Lee." ucap Shikamaru tenang.

"Aku akan menunjuk Hinata dan Shino sebagai bagian inti dari tim pengejaran ini. Kita bisa menggunakan kemampuan mata Hinata dan kemampuan khusus Shino untuk melacak mereka. Lalu aku juga menunjuk Naruto dan Sasuke karena keduanya memiliki kerjasama yang sangat bagus dalam menghadapi musuh yang lebih kuat. Lalu aku sendiri akan ikut dengan tim pengejaran ini." lanjut Shikamaru sambil memandang teman-temannya satu-persatu.

"Izinkan aku ikut, Shikamaru-san." celetuk Sasori tiba-tiba.

Shikamaru menggeleng, "Desa lebih membutuhkan kalian, teman-teman kita yang lain juga tidak bisa bertarung tanpa kalian. Hanya kalian yang tidak mengalami cedera yang cukup berat." ucap Shikamaru sambil menatap Sasori, Gaara, Kankuro, Temari, Pein, Kisame, Deidara dan Shion.

"Tapi-"

"Percayalah pada mereka, Sasori." ucap Gaara sambil menepuk pundak sepupunya tersebut.

"Tapi Gaara-"

"Berhentilah merengek seperti seorang bayi, aku akan membawa Sakura kembali." kali ini Sasuke yang memotong kata-kata Sasori.

Sasori terdiam, menatap tajam kearah Sasuke yang juga menatap tak suka padanya.

"Kau sebaiknya memegang ucapanmu itu, Uchiha." desis Sasori tajam.

"Kau bisa lihat sendiri nanti." sahut Sasuke tak kalah tajamnya.

Setelah melalui sedikit perdebatan, akhirnya diputuskan bahwa Hinata, Shino, Naruto, Sasuke dan Shikamaru akan tergabung dalam satu tim yang bertugas membawa kembali Sakura. Sisanya akan bertugas mempertahankan desa dari serangan musuh.

Tanpa buang-buang waktu lagi, akhirnya kelima Mage tersebut memanggil Naga mereka masing-masing dan mengejar kedua Holy Mage tersebut.

Fajar hampir menyingsing saat tiga ekor naga tersebut membumbung di udara. Hinata meminpin jalan dengan byakugan miliknya. Ketiganya terus memacu laju terbang naga mereka tanpa mempedulikan udara dingin yang terasa begitu menusuk. Ketika Hinata berkata bahwa dia menemukan posisi kedua Holy Mage tersebut beserta Sakura, ketiganya langsung memacu naga masing-masing dengan kecepatan tinggi.

Sekelebat bayangan serba putih terlihat dibawah sana. Keduanya melompat dari satu pohon ke pohon lainnya dengan kecepatan tinggi.

Renne –naga milik Hinata- dan Vind –naga milik Naruto dan Sasuke- mengepung kedua Holy Mage tersebut dari arah samping. Sedangkan Lecta –naga milik Shikamaru dan Shino- menghalau dari arah depan.

Keduanya berhenti setelah dikepung. Namun Hidan tampaknya tak berniat sedikitpun untuk melepaskan Sakura.

"Hei kau! Cepat kembalikan Sakura-chan!" teriakan melengking milik Naruto menarik perhatian keduanya.

"Bagaimana kalau kami tidak mau?" tanya Hidan dengan seringai mengejek.

"Kalau begitu aku akan merebutnya secara paksa!" jawab Naruto penuh percaya diri. "Maju, Vind!"

Naga elemental Aero tersebut segera mengepakkan sayapnya. Naruto berdiri, begitu juga dengan Sasuke. Keduanya pun melompat dari punggung sang Naga dan menerjang keduanya.

"Astaga, aku tahu Naruto itu bodoh. Tapi kenapa Sasuke harus ikut-ikutan juga?" gumam Shikamaru sambil menghela nafas pasrah. "Hinata, tetap awasi keadaan dan tidak perlu ikut bertarung." titah Shikamaru selanjutnya pada Hinata.

"Aku mengerti." sahut Hinata sambil tetap waspada.

"Kau siap, Shino?" tanya Shikamaru pada Shino yang duduk kalem dibelakangnya.

"Tentu." jawab Shino tenang, dan detik berikutnya mereka segera ikut bergabung dalam pertarungan tersebut.

Pertarungan mereka berlangsung cukup sengit dan lama. Naruto dan teman-temannya berusaha sekuat tenaga untuk mengalahkan kedua Holy Mage tersebut. Naruto dan Sasuke melakukan serangan kombinasi, kerjasama mereka berdua memang sangat baik tepat seperti perkiraan Shikamaru. Stamina keduanya pun masih sangat bagus walaupun telah menghadapi pertarungan sebelumnya.

Sementara Naruto dan Sasuke menyerang Hidan yang membawa Sakura, Shikamaru dan Shino sedang melawan Kakuzu. Ternyata Kakuzu merupakan lawan yang cukup tangguh bagi Shikamaru dan Shino.

Kedua belah pisak sama-sama sengit, terlebih lagi Naruto dan Sasuke. Mereka ditantang harus ekstra berhati-hati agar sihir yang mereka keluarkan tidak mengenai tubuh Sakura yang berada diatas pundak Hidan.

Tapi tentu saja lama-kelamaan mereka mulai kelelahan, terlebih akibat pertarungan mereka sebelumnya. Hinata pun hanya menatap khawatir pada mereka. Ia tidak bisa membantu mereka, tapi Ia juga tidak bisa berdiam diri saja.

Kami-sama, apa yang harus aku lakukan?

Hinata hanya bisa terus memantau keadaan sekitar, berjaga-jaga jika ada pasukan lawan yang akan menyergap mereka. Lalu atensinya pun tertuju pada Naruto.

Naruto maju dengan tinju terkepal. Pukulan dan tendangan pun Naruto layangkan dengan terarah dan hati-hati, namun Hidan dapat menangkisnya walaupun hanya dengan satu tangan.

Naruto melompat mundur dan gantian Sasuke yang menyerang, kali ini dengan Kusanagi tergenggam erat ditangannya. Hidan merunduk saat Kusanagi Sasuke bergerak menebas lehernya lalu dengan cepat menendang ke arah perut Sasuke.

Sasuke melompat menghindar lalu mengangkat pedangnya, bersiap menebas Hidan kembali. Namun laju pedang Sasuke terhenti saat Hidan dengan sengaja menjadikan tubuh Sakura sebagai tameng.

Hidan menyeringai, segera saja Ia mengeluarkan sihirnya dan mengenai Sasuke dengan telak. Sasuke terpental kebelakang sambil menahan sakit. Naruto pun kembali maju. Sungguh, jika seperti ini terus maka pertarungan ini bisa berlangsung sampai besok pagi.

Hinata memekik kecil saat serangan Hidan tinggal beberapa senti lagi akan mengenai Naruto yang pada saat itu terjengkang dengan tidak elitnya.

"Renne! Meriam air!" teriak Hinata.

Naga yang ditunggangi Hinata segera mengeluarkan serangan tepat setelah Hinata mengeuarkan perintah.

Hidan melompat mundur menghindari serangan naga Hinata. Sambil berdecak kesal, Hidan pun mengganti arah serangannya, pria itu mengincar Hinata.

Hinata membulatkan matanya saat melihat Hidan meluncur seperti anak panah dengan sebuah sabit teracung kearahnya. Dengan cekatan Hinata meliuk-liukan arah terbang Renne demi menghindari serangan Hidan yang terus terarah padanya.

Tepat saat Hinata tidak bisa menghindar lagi, gadis itu membuat kekkai yang cukup kuat. Susah payah Hinata mempertahankan kekkai tersebut sementara Hidan terus membentu-benturkan sabitnya.

Untungnya Sasuke segera mengambil tindakan, Ia melompat kearah Hinata, menjadikan kekkai tersebut sebagai tumpuan dan bergerak menebas leher Hidan dengan Kusanagi-nya.

Hidan menghindar, dan Naruto muncul dari belakang Hidan dengan tendangannya. Hidan sedikit tersentak saat tendangan Naruto mengenai sisi wajahnya, pegangannya terhadap tubuh Sakura pun terlepas sedangkan tubuhnya terlempar ke samping.

Sasuke dengan sigap menangkap tubuh Sakura sebelum tubuh mungil tersebut menghantam tanah.

"Kita mendapatkannya!" ujar Sasuke kencang, membuat Shikamaru dan Shino mundur dan mendekati mereka.

"Bagus, sekarang kita hanya perlu mengalihkan perhatian mereka dan pergi dari sini." sahut Shikamaru dan disambut anggukan setuju dari teman-temannya.

"Uchiha-san, naikkan Sakura kemari, aku akan menjaganya." teriak Hinata sambil mendekati teman-temannya dengan naga elementalnya.

Sasuke mengangguk singkat dan mendudukkan Sakura didepan Hinata. "Jaga dia dengan baik."

"Baiklah." Hinata menggangguk mantap.

"Kurang ajar! Aku akan membunuh kalian semua!" teriakan Hidan menggema, mereka pun memasang posisi bersiaga. Tampaknya kali ini Hidan benar-benar murka.

Hidan merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah botol hijau kecil berisi cairan orange aneh yang biasa diminum oleh Holy Mage yang lain. Shikamaru berdecih pelan saat mengetahui benda apa yang dikeluarkan oleh Hidan. Shikamaru pun mencoba untuk menggagalkan usaha Hidan namun Kakuzu menghalanginya.

Pertarungan pun kembali terjadi. Kali ini lebih sengit dan liar dari sebelumnya.

Naruto dan Sasuke tampak kewalahan, bahkan Shikamaru dan Shino juga. Perbedaan kekuatan mereka cukup besar karena Hidan telah meminum cairan aneh tersebut, dan Shikamaru yakin bahwa Kakuzu telah melakukan hal yang sama sebelum ini.

Matahari sudah hampir menyingsing namun tidak ada tanda-tanda bahwa pertarungan mereka akan selesai.

'Hinata awas!'

Hinata terlonjak kaget saat suara Renne menyeruak didalam kepalanya. Namun sebelum Hinata sempat bertanya kepada Renne, Renne sudah terlebih dahulu menukik tajam kebawah tanpa aba-aba. Sesaat setelahnya kilatan cahaya pun muncul persis diatas kepala Hinata.

Akibat gerakan Renne yang tiba-tiba, Hinata pun oleng dan kehilangan keseimbangan. Baik keseimbangan dirinya maupun keseimbangan akan tubuh Sakura. Keduanya pun terjatuh dan meluncur bebas.

"Sakura-chan!" Hinata berteriak histeris sambil berusaha menggapai Sakura yang juga terjun bebas.

Teriakan Hinata pun berhasil memecah konsentrasi Naruto dan yang lainnya.

"Sakura!" Sasuke berteriak kencang sambil melompat kearah Sakura.

TRAAANGG

Lagi-lagi sebuah kilatan sihir muncul dan menyerang kearah Sasuke, namun Sasuke berhasil menangkisnya dengan pedang Kusanagi miliknya. Sasuke terpaksa melompat mundur. Lalu sekelebat bayangan pun muncul dan dengan cepat menyambar tubuh Sakura sebelum Sasuke sempat untuk melompat kembali.

"Sasuke cepat tolong Hinata!" teriakan Naruto barusan menyadarkan Sasuke yang sempat terpaku dan menggeram marah pada sosok yang berhasil mendapatkan Sakura.

"Cih!"

Dengan cekatan Sasuke segera menangkap tubuh Hinata dan membawanya sedikit menjauh. Lalu setelahnya Sasuke kembali menerjang sosok yang tadi menangkap tubuh Sakura.

"Apa kau yang asli?" tanya Sasuke sambil menggeram marah.

"Oh, ternyata kau pintar juga. Bagaimana pasukanku? Mereka hebat bukan?" jawab sosok yang diketahui adalah Zetsu tersebut. Dengan cara yang sama, Zetsu ini membopong Sakura dipundaknya seperti karung beras.

"Kembalikan Sakura." desis Sasuke tajam, mata merahnya berkilat penuh amarah.

"Hei, aku yang mendapatkannya terlebih dahulu. Kenapa juga aku harus mengembalikannya padamu?"

"Jangan bercanda!"

"Apa kalimatku barusan terdengar lucu bagimu? Aku tidak tahu ternyata selera humor klan Uchiha sangat bagus."

"Urusai!"

Sasuke menerjang kearah Zetsu, namun dengan lincahnya Zetsu berhasil menghindari seluruh serangan Sasuke dengan melompat kesana-kemari tanpa berniat untuk membalas serangan Sasuke sedikit pun.

"Seranganmu lumayan juga." ujar Zetsu sambil tersenyum sinis.

"Berhenti menghindar dan cepat hadapi aku!"

Namun setelah dibentak pun, Zetsu tidak terpengaruh sama sekali. Yang dilakukannya hanyalah menghindari serangan Sasuke. Zetsu lalu melompat keatas pohon saat menghindari tebasan Sasuke yang mengarah ke perutnya. Saat Sasuke akan melompat juga, tiba-tiba saja pasukan klon Zetsu menghalangi serta mengerumuninya seperti pasukan lebah.

Sasuke menjatuhkan dirinya kembali lalu melompat mundur sambil bersalto beberapa kali.

Matanya mengedar ke sekeliling. Tak disangka ternyata bukan hanya dirinya yang diserang oleh gerombolan Zetsu putih, teman-temannya yang lain pun mengalami hal yang serupa. Dengan sisa-sisa tenaga mereka pun berusaha melawan pasukan Zetsu tersebut. Kali ini tenaga mereka benar-benar akan terkuras habis.

Sasuke segera membabat habis pasukan Zetsu didepannya. Sharingannya yang telah aktif sejak tadi membantunya bergerak dengan sangat lincah. Kusanagi-nya pun mengenai target dengan sempurna. Tapi tetap saja, stamina mereka ada batasnya.

Setelah menghabisi pasukan Zetsu tersebut, Sasuke menyadari bahwa tubuh Zetsu yang asli beserta Sakura sudah lenyap entah kemana. Dirinya tidak lagi menemukan sosok yang membawa gadis berambut merah muda itu dimana pun.

"Sasuke!"

Naruto menghampirinya dengan wajah pucat. Peluh dan darah mengotori wajah sahabat pirangnya tersebut. Sasuke tidak jauh berbeda, mereka sama-sama berantakan. Namun kalimat yang diucapkan Naruto selanjutnya berhasil membuat Sasuke bertambah kacau.

"Mereka berhasil mengelabui kita dan membawa Sakura pergi."

"Kita harus melacaknya secepat mungkin!" Sasuke murka, berulang kali dia menjambak rambutnya sendiri kesal.

Wajah Naruto kian memucat. "Hinata terluka, begitu juga dengan Shino. Kita tidak bisa melacaknya sekarang."

"Kuso!"

Sasuke memukul udara kosong. Hampir saja mereka menang dan berhasil membawa Sakura kembali. Jika saja dia bisa jadi lebih kuat lagi, mereka tidak harus kehilangan Sakura seperti ini.

.

.

.

.

.

.

.

Bulan purnama tampak menyinari tempat tersebut.

Sakura mengenali tempat ini dengan sangat baik. Bagaimana tidak? Hampir seumur hidupnya Ia habiskan di tempat ini. Bermain, belajar, tidur, makan, semuanya. Semua hal-hal kecil itu Sakura lakukan disini, bersama keluarganya dulu. Dulu.

Ya, ini adalah rumahnya. Tempat dimana dahulu Sakura menghabiskan masa kecilnya bersama keluarga kecilnya. Andai saja tidak ada kata dahulu, maka sampai saat ini pun Sakura harusnya masih bisa menikmati kasih sayang dan cinta serta merasakan arti dari sebuah ikatan keluarga.

Mereka berdua, Sakura dan Zetsu, berjalan pelan menyusuri lorong rumahnya sendiri. Zetsu memimpin di depan, sedangkan Sakura dipaksa mengekor dibelakang dengan tangan terikat. Tanpa perlu diberitahu oleh laki-laki berkulit pucat ini pun Sakura sudah tahu bahwa mereka saat ini menuju ruang kerja ibunya, Sannin Tsunade.

Sakura awalnya sempat kaget saat mengetahui ternyata Ia telah kembali ke rumah. Tapi hal yang lebih membuatnya kaget adalah, sekarang rumahnya telah menjadi markas utama para Holy Mage yang terkutuk itu.

Tiga hari ditawan disini membuat Sakura mengetahui banyak hal, termasuk kekalahan Holy Mage setelah melawan desa Sunagakure tempo hari. Setidaknya Sakura bisa bernafas lega karena teman-temannya berhasil selamat.

Namun jika mengingat semua perbuatan keji yang telah Holy Mage lakukan, hal itu selalu saja berhasil membuat emosi Sakura memuncak. Matanya memandang benci laki-laki yang berada di depannya saat ini. Tunggu saja sampai ikatan ini terlepas, maka bisa dipastikan Sakura akan menebas kepala Zetsu tersebut dengan pedangnya. Tinggal sedikit lagi dan tali yang mengikat tangannya akan terlepas. Bersabarlah Sakura.

"Aa, kau sudah datang rupanya."

Suara dingin itu menyambut Sakura ketika pintu itu digeser. Memecah lamunan Sakura dan fantasinya tentang kepala Zetsu yang akan menggelinding sebentar lagi. Secara perlahan Zetsu pun menyingkir, membuat manik Sakura berpindah fokus pada sosok didepannya.

Sosok itu diam, bertopang dagu dan tampaknya tengah menatap ke arah Sakura.

Sakura menatap tajam sosok yang terhalang tirai tersebut. Dengan gerakan lincah Sakura menendang Zetsu yang berada disampingnya hingga terjengkang dan bergerak cepat menuju sosok tersebut. Tangannya yang sedari tadi telah berhasil meloloskan diri kini tengah menghunuskan pedang Aquamarine miliknya diatas leher sosok tersebut.

Sosok itu masih saja diam tak bergerak, tak menunjukkan perlawanan sama sekali meski pedang Sakura yang berada di lehernya bisa saja menebas kepalanya saat ini juga.

Merasa tidak ada respon sama sekali, Sakura menyibakkan tirai jaring itu kasar hingga terlepas dari tempatnya.

Mata yang tadinya menyorot dengan penuh kebencian kini berganti dengan tatapan kaget. Mata mereka bertemu. Emerald dan Onyx yang sekilas mengingatkan Sakura akan Sasuke. Wajah pria itu bahkan tidak berubah, hanya saja rambut hitamnya sudah lebih pendek dari sebelumnya.

"Obito? Apa yang kau lakukan disini?"

Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Sakura. Pedang indah itu tidak lagi bertengger manis dileher sosok yang dipanggilnya Obito tersebut. Tanggannya terkulai lemah, matanya masih membulat sempurna.

"Lama tidak berjumpa, Sakura." Obito tersenyum tipis. Tangannya bergerak perlahan mengisyaratkan Zetsu -yang tengah bersiaga kalau-kalau Sakura berbuat nekat- untuk segera meninggalkan mereka berdua.

Sakura tentu saja mengenal sosok tersebut. Dia adalah Uchiha Obito yang pernah bertemu dengannya beberapa tahun yang lalu. Mereka mengembara bersama-sama dan saling membantu satu sama lain. Walau hanya pertemuan singkat, tapi keduanya menjadi sangat akrab.

"Kau belum menjawab pertanyaanku, Obito. Apa yang kau lakukan disini?"

"Apa yang aku lakukan? Tentu saja memenuhi keinginanmu."

"Jangan bercanda, Obito. Keinginan apa yang kau maksudkan?" desis Sakura pelan, tatapannya kembali menajam, genggaman pedangnya kembali mengerat. "Apa kau dalang dibalik semua ini?"

"Aku tidak bercanda, aku melakukan semuanya untukmu, Sakura. Kau bilang kau membenci kekuasaan Sannin yang selalu saja seenaknya. Kau membenci mereka, karena itulah aku melakukan ini semua." ujar Obito panjang lebar membuat Sakura melebarkan matanya tak percaya.

Apa-apaan Obito? Apa dia sudah gila? Tidak, Obito pasti bercanda. Ya, ini bukan Obito yang dikenalnya, dia hanya bercanda, itu pasti. Obito tidak akan melakukan hal bodoh semacam ini hanya untuk dirinya.

Obito bangkit, tidak lagi duduk santai dikursi singgahsananya. Tangannya meraih tangan Sakura dan menggenggamnya begitu erat. Kedua matanya pun kini menatap Sakura penuh harap.

Sakura yang masih kaget atas pengakuan Obito barusan secara refleks menghentakkan kedua tangannya kasar hingga genggaman Obito terlepas. Kakinya secara otomatis membawa tubuhnya ke belakang saat Obito mendekati dirinya.

"Kau... bercanda 'kan?" tanya Sakura ragu, berharap Obito menjawab pertanyaannya dengan anggukan kecil dan senyuman hangat seperti biasanya.

"Apa maksudmu, Sakura? Aku tidak bercanda. Aku akan mewujudkan keinginanmu. Dan kita bisa terus bersama setelahnya."

"Kau... kau sudah gila, Obito! Apa yang kau lakukan pada Ibuku, Paman Jiraiya dan Paman Orochimaru!"

Langkah Obito terhenti, matanya menatap bingung pada Sakura. "Kau masih mengkhawatirkan mereka? Bukankah kau membencinya? Kau membenci Lady Tsunade, Sakura. Aku tahu itu."

"Bagaimanapun juga dia adalah ibuku!" teriak Sakura murka, masih tidak percaya dengan ucapan Obito sebelumnya. Lagi-lagi Obito memandang Sakura dengan tatapan bingung.

"Kau sudah tidak menyegel emosimu lagi?" tanya Obito to the point, mengabaikan teriakan marah Sakura.

"Cepat jawab pertanyaanku!" teriakan Sakura bertambah keras, bahkan sampai membuat Obito mengernyitkan keningnya.

"Tapi tidak masalah, aku menyukai kau apa adanya, Sakura." Obito tersenyum manis, membuat Sakura tiba-tiba saja merasa muak dengan Obito.

Obito berbalik dan menyalakan lampu penerangan dengan elemental Flame miliknya. Seketika itu juga ruangan yang tadinya temaram itu menjadi terang benderang.

Saat itulah Sakura melihatnya. Ya, Sakura melihatnya. Di sudut ruangan tersebut, tepat disamping meja tempat ibunya selalu bekerja, terdapat dua buah tabung berukuran sebesar tubuh manusia dengan berbagai selang-selang dan alat-alat aneh menempel pada tabung tersebut.

Mata Sakura melotot ngeri. Kedua kakinya terasa lemas. Tepat didalam kedua tabung itu terdapat dua sosok yang sudah sangat Sakura kenal. Jiraiya dan Tsunade, ibunya.

Tidak, tidak, tidak!

Ibunya, ibunya terkurung didalam tabung sempit itu. Tabung yang terisi air, hingga membuat rambut pirang ibunya melayang-layang tak tentu arah. Matanya terpejam seolah enggan menatap putrinya ini. Tidak ada tatapan tajam yang biasa Sakura lihat setiap kali mereka bertatap muka. Tidak ada.

Setetes air mata pun lolos dari sudut mata Sakura.

Paman Jiraiya yang berada ditabung sebelahnya pun tak jauh berbeda. Bahkan dengan tubuh besarnya itu, Sakura yakin tabung itu sangat menyesakkan baginya.

"Kau adalah penyelamatku, Sakura. Aku akan melakukan apa saja untukmu. Aku akan melakukan semuanya! Termasuk menyingkirkan orang-orang yang kau benci. Aku akan membereskan mereka semua." Obito kembali berjalan mendekati Sakura.

"Jangan mendekat!" pedang Sakura kembali teracung dan itu berhasil membuat Obito menghentikan langkahnya. Emeraldnya yang masih meneteskan air mata itu pun menajam. "Kau salah, Obito. Bukan ini yang kuharapkan!"

"Tidak." Obito tiba-tiba saja mencengkram erat mata pedang Sakura, membuat gadis itu kembali terbelalak kaget. Darah segar mengalir deras dari telapak tangan Obito dan membasahi pedang indah milik Sakura.

"Aku melakukan hal yang benar. Setelah ini semua berakhir, kita bisa hidup bersama-sama seperti dulu lagi, Sakura. Kita tidak perlu hidup dalam pelarian lagi, kita bisa hidup dengan damai setelah ini." Obito tersenyum aneh, tepatnya menyeringai aneh.

"Hentikan, Obito. Ini semua tidak benar!" genggaman Sakura semakin erat, menahan Obito yang tampaknya ingin merebut pedang Sakura.

"Kau tidak mengerti, Sakura! Belum... kau akan mengerti nanti." Obito menyeringai. "Tapi sebelum itu, aku harus menyingkirkan mereka terlebih dahulu."

Sakura membulatkan matanya. Apa maksud Obito dengan 'mereka'? Apa mungkin Obito berhasil menangkap teman-temannya? Tidak, ini tidak boleh terjadi.

"Apa maksudmu?!"

"Kau akan lihat sebentar lagi." Obito menyeringai sambil menatap tajam kedua mata Sakura.

Lalu tiba-tiba saja tubuh Sakura menjadi kaku. Pedangnya jatuh begitu saja menimbulkan suara berdentang yang cukup keras. Kedua tangannya jatuh disamping kedua tubuhnya. Mata hijau itu tampak kosong seperti kehilangan cahaya kehidupannya. Wajah cantik itu pun tidak lagi menunjukkan ekspresi sama sekali. Bagaikan tubuh yang telah kehilangan jiwanya.

Sakura...

... telah berada dalam kendali Sharingan.

.

.

.

Beberapa saat sebelumnya...

.

.

Pasukan Mage desa Sunagakure dan desa Amegakure telah berhasil mengepung pintu masuk desa Konohagakure. Kedua desa akhirnya bersatu karena hanya merekalah desa yang tersisa setelah pembantaian besar yang dilakukan oleh Holy Mage.

Mereka merayap dalam diam, gelapnya malam membantu mereka lolos dari pengawasan pasukan desa Konohagakure yang berdiri kaku bak boneka. Mereka mengambil tempatnya masing-masing, menunggu aba-aba dari sang pemimpin untuk maju serentak menyerang desa Konoha. Malam ini, pertempuran habis-habisan tak bisa terelakkan lagi.

Sementara itu, Sabaku Gaara yang bertindak sebagai pemimpin pasukan saat ini sedang menyusup ke dalam desa bersama teman-temannya yang lain. Sebelum perang ini dimulai, mereka harus bisa menggunakan kekuatan yang tersegel tersebut dan menyelamatkan Sakura.

Untuk itu, mau tak mau mereka harus mengikutsertakan salah satu prajurit terbaik Suna yang memiliki elemental Ice, menggantikan posisi Sakura. Mereka biasa memanggilnya dengan nama Torune.

Mereka berhasil melewati gerbang desa tanpa ketahuan, dan kini mereka tengah berkumpul diantara pepohonan dan semak-semak yang menghiasi hampir diseluruh penjuru desa Konoha.

"Monumen itu berada didekat makam para leluhur dan pahlawan desa Konohagakure. Kita harus bergerak cepat sebelum mereka menyadari keberadaan kita."

Instruksi Pein disambut anggukan mantap oleh teman-temannya. Tepat setelah Pein mengatakan hal itu, mereka pun langsung melesat menuju tempat yang dimaksud. Dengan penuh hati-hati mereka mengendap-endap ketika penjagaan sedang lengah.

Sasuke yang saat itu berhasil melewati seorang penjaga tanpa sengaja menatap mata salah satu penjaga, untungnya penjaga itu tidak melihat dirinya.

"Mustahil." desis Sasuke geram.

"Aku juga baru menyadarinya, Sasuke. Tapi aku berani bersumpah Itachi tidak akan pernah memperlakukan mereka serendah ini." bisik Pein seolah tahu apa yang sedang membuat pemuda Uchiha ini kesal.

"Siapapun dia, itu artinya dia memiliki Sharingan. Hanya Sharingan yang bisa mengendalikan manusia seperti ini. Kita harus lebih waspada." balas Sasuke.

Teman-temannya yang mendengar penuturan Sasuke tersebut semakin bertambah tegang dan waspada. Tidak ada lagi tingkah konyol Kiba ataupun tawa cempreng Naruto. Bahkan Kisame pun menutup mulutnya. Jika yang dikatakan Sasuke barusan adalah benar, mereka mungkin harus berhadapan dengan klan Uchiha yang terkenal sangat kuat dan beringas di medan pertempuran.

"Itu monumennya." ujar Pein sepelan mungkin, tinggal beberapa meter lagi dan mereka akan sampai pada tujuan mereka. "Kita lakukan persis seperti yang telah kujelaskan sebelumnya."

Mereka mengangguk bersamaan dan mulai menjatuhkan para penjaga yang berjaga disekitar monumen tersebut. Cukup mudah mengingat mereka bukanlah anggota Holy Mage. Mereka hanya Mage-Mage yang dikendalikan paksa menggunakan Sharingan.

Setelah para penjaga yang berjumlah sekitar sepuluh orang itu tumbang, mereka pun menempati posisi masing-masing, seperti yang telah dijelaskan pada mereka sebelumnya. Entah karena apa, monumen itu sama sekali tidak mendapat penjagaan seketat pintu masuk desa.

"Ini terlalu mudah." bisik Sasuke entah pada siapa.

"Aku juga merasakan firasat yang tidak enak." Sasori yang berada di dekat Sasuke ikut menimpali setuju.

Saat ini mereka tengah mengelilingi sebuah monumen batu yang dilapisi marmer hitam dan berujung lancip diatasnya. Monumen ini awalnya digunakan untuk mengenang para pahlawan desa Konohagakure yang telah gugur dalam misi-misinya, sampai berita mengenai segel Rikudou Sennin itu merebak dan mengubah fungsi dari monumen itu sendiri.

Banyak orang yang berbondong-bondong kemari hanya untuk mencoba peruntungan mereka tapi malah berakhir dengan kehilangan nyawa mereka. Karena itulah tempat ini sekarang ditutup.

Mereka melingkari monumen itu dengan jarak-jarak tertentu. Tiga orang dengan elemental yang sama berdiri saling membelakangi hingga punggung mereka menyatu. Kira-kira berjarak tiga langkah, tiga orang lainnya yang memiliki elemental sama namun berbeda dengan kelompok yang pertama ikut melakukan hal yang serupa. Begitu seterusnya, hingga elemen Flame, Aero, Aqua, Terra, Electric, dan Ice itu membentuk lingkaran tak kasat mata dengan monumen batu tersebut sebagai pusatnya.

Sementara itu mereka yang memiliki elemen Nature berdiri lebih dekat dengan monumen, kaki-kaki mereka hampir menyentuh dasar dari monumen tersebut. Mereka berdiri saling berhadapan dan memberi jarak satu sama lain.

"Kita mulai!" Pein berseru lantang. "Patentibus!"

Secara ajaib monumen itu berpendar dan meninggalkan simbol-simbol rumit yang perlahan menjalar tepat dibawah kaki Naruto, Sasuke, Sasori, Pein dan bahkan semua yang berada disana. Simbol rumit berwarna hitam itu mengelilingi mereka semua. Pendar monumen batu itu pun memudar dan digantikan cahaya redup setelah simbol-simbol tersebut berhenti bertransformasi, mencapai bentuknya yang sempurna.

"In Igne!"

Sasuke, Sasori dan Shion berteriak dengan lantang secara serempak lalu mengangkat tangan mereka setinggi mungkin. Api yang sangat panas pun keluar dari telapak tangan mereka dan melesat menuju puncak monumen setinggi dua meter tersebut.

"Ventus Vitae!"

Naruto, Pein dan Temari melakukan hal serupa. Kali ini angin yang sangat kencang melesat menuju puncak monumen tersebut, bersandingan dengan api panas milik Sasori, Sasuke dan Shion.

"Aqua Munda!" Hinata, Sai, dan Kisame pun menyusul. Elemen air mereka pun menyeruak menuju puncak monumen. Jadilah kini tiga elemental berbeda-beda yang sedang bersandingan.

"Terraemotus!" elemen Terra milik Gaara, Deidara, dan juga Chouji adalah yang selanjutnya. Perlahan tapi pasti, cahaya monumen tersebut semakin terang dengan semakin banyaknya elemen yang menyentuh puncak dari monumen tersebut.

"Crocus Tonitrui!" kali ini Shikamaru, Lee, dan Kankuro. Sengatan listrik bertegangan tinggi pun terlihat menyeruak dan menuju monumen tersebut.

"Deus Glaciem!" badai es milik Tenten, Konan dan Torune adalah yang terakhir.

Kini tampaklah ke enam elemental berbeda dari berbagai sisi monumen tersebut berpendar indah dengan warna yang juga berbeda-beda, dan tentunya dengan monumen itu sendiri sebagai pusatnya. Kini saatnya tugas terakhir yang akan disempurnakan oleh Nature Mage.

Ino, Kiba dan Shino mengangkat kedua tangan mereka setinggi mungkin lalu menyerukan satu kalimat yang sama.

"Unum Natura-"

DHUUAARR

Tiba-tiba saja serangan itu muncul dan menghantam mereka dengan telak. Suara ledakan mendominasi. Mereka yang memang sedang fokus pada ritual ini pun tidak menyadari kehadiran musuh. Akhirnya mereka pun terlempar ke berbagai arah. Debu-debu tebal berterbangan memangkas habis jarak pandang mata mereka. Perasaan tidak enak Sasuke dan firasat buruk Sasori terbukti benar.

Refleks Sasuke pun mengaktifkan Sharingannya. Matanya membulat melihat monumen yang menjadi satu-satunya harapan mereka telah hancur berkeping-keping. Namun yang lebih membuat Sasuke kaget adalah sosok penyerang yang sedang berdiri angkuh diatas serpihan monumen tersebut.

"Sakura..."

Mata merah Sasuke menangkap ada yang tidak beres dengan gadis itu. Tatapan matanya kosong, sama seperti para penjaga itu.

"SAKURA!"

Teriakan Tenten menggelegar saat debu-debu tebal itu tidak lagi menghalangi jarak pandang mereka. Temari menyingkirkannya menggunakan elemental Aero miliknya.

Konan mencengkram lengan Tenten dengan erat. Jika saja Tenten tidak ditahan oleh Konan, gadis itu bisa saja berlari menerjang ke arah Sakura saat ini. Konan tahu, ada yang tidak beres dengan gadis itu. Dengan susah payah mereka pun bangkit dan kembali mengatur keseimbangan.

"Sakura!" Sasori ternyata juga ikut menyadarinya. Dirinya pun hampir saja berlari menerjang ke arah Sakura jika saja Gaara tidak menghentikannya.

"Lihat baik-baik, Sakura sedang dikendalikan." bisik Gaara pelan.

Sasori terkaget dan segera menatap emerald Sakura yang baru-baru ini mulai menampakkan kembali kehangatannya. Namun yang didapatinya hanyalah tatapan kosong dan wajah tanpa ekspresi, lagi.

Sasori menggeram kesal. Mengutuk siapapun orang yang telah mengendalikan Sakura seperti boneka tersebut. Siapapun orangnya, Sasori tidak akan mengampuninya. Siapapun orang yang mengendalikan Sakura, dia pasti ada disekitar sini.

"Wah, tidak kusangka kita akan bertemu lagi, Sasuke."

Tubuh Sasuke menegang ketika suara familiar itu masuk ke indera pendengarannya. Kalimat barusan bagaikan sebilah pedang yang menancap di dada Sasuke. Suara itu, ia mengenal suara itu dengan baik. Tapi tidak mungkin, sosok itu telah lama menghilang bahkan sebelum klan mereka mengalami kekacauan. Banyak petinggi Uchiha yang mengatakan bahwa dia sudah meninggal. Bagaimana mungkin dia bisa berada disini?

Sosok itu menghentikan langkahnya. Berdiri angkuh dan menatap remeh pada orang-orang yang telah berani menyusup kemari. Bahkan berani membuka segel milik Rikudou Sennin.

Ketika sosoknya tertangkap oleh Sharingan Sasuke, Sasuke berharap bahwa sosok yang dilihatnya saat ini hanyalah imajinasinya saja atau mungkin ada yang salah dengan matanya. Walau hal itu sangat mustahil bagi pengguna Sharingan seperti Sasuke.

"Sasuke!" Naruto mendekati Sasuke. "Bukankah dia..."

"Obito." desis Sasuke pelan. Ya, Obito adalah sepupu jauhnya. Sepupu yang tiba-tiba saja menghilang setelah pengangkatan ayahnya menjadi pemimpin Holy Mage. Apa yang sebenarnya terjadi pada Obito?

"Bagaimana kabar ayah dan ibumu? Ah... aku lupa kalau mereka sudah mati. Dan kudengar kau dan Itachi melarikan diri setelah kematian mereka."

"Kau! Apa sebenarnya maksudmu, Obito!" bentak Sasuke.

"Maksud? Aku tidak ada maksud apa-apa. Hanya saja aku merasa kasihan padamu. Bagaimana rasanya hidup dalam bayang-bayang seorang ayah yang mengalami kegagalan?"

"Hentikan, Obito!" kali ini Naruto yang berteriak. Walaupun tidak terlalu akrab, setidaknya Naruto pernah bertemu Obito beberapa kali.

Obito menyeringai. "Paman Fugaku, apa hebatnya dia? Jelas-jelas akulah Uchiha yang paling hebat! Dia merebut tempatku! Dan tentu saja, aku harus merebutnya kembali!"

Kalimat Obito barusan bagaikan menampar Sasuke dengan telak. Obito memang Uchiha yang sangat berbakat, bahkan dia mampu melampaui kekuatan ayah kandungnya sendiri. Tapi semua Uchiha pun tahu bahwa Fugaku lebih mumpuni untuk menjadi pemimpin Holy Mage. Bahkan jika Fugaku menolak, Itachi-lah yang akan menjadi penggantinya.

Lalu pemikiran aneh itu pun terlintas di kepala Sasuke. Obito menghilang setelah ayahnya diangkat menjadi pemimpin Holy Mage. Ayahnya yang meninggal di rumah mereka sendiri tanpa alasan yang kuat, bahkan Ibunya yang saat itu juga berada dirumah meninggal dengan cara yang sama. Lalu rumor yang beredar bahwa para Sannin telah dikendalikan seseorang.

Jangan-jangan...

Entah benar atau tidak, tapi pemikiran-pemikiran aneh itu membuat pandangan Sasuke kian menajam. Rahangnya pun mengeras, bahkan kepalan tangannya semakin mengerat. Pikiran bahwa Obito-lah yang membunuh kedua orangtuanya terus berdenging dikepalanya.

Menyadari perubahan ekspresi Sasuke, membuat Obito menyeringai lebar. Seakan tahu apa yang sedang dipikirkan oleh sepupunya itu, dengan santai Obito mengatakan, "Ya, aku yang merencanakan semuanya. Akulah yang membunuh ayahmu dan mengambil alih Holy Mage." dengan seringaian yang belum menghilang

Mata Sasuke membulat sempurna, namun tak bertahan lama karena pada detik berikutnya tatapan Sasuke berubah menjadi tatapan yang siap membunuh. "Kurang Ajar!"

Sasuke yang sudah tak bisa mengontrol emosinya langsung melesat dengan Kusanagi dan Sharingan yang aktif. Tapi serangan Sasuke terhenti tepatnya terhalang sebuah kekkai berwarna biru gelap yang sangat kuat.

"Aa, Kabuto... kau selalu bisa diandalkan." ujar Obito dengan tawa nistanya.

Obito tak menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Obito segera melancarkan tendangan yang mengenai perut Sasuke dengan telak. Sasuke pun terpental namun dengan sigap Naruto segera menangkap sahabatnya tersebut.

"Sial!"

"Tenanglah, Sasuke!" teriak Naruto sambil menahan Sasuke.

Mata mereka bergerak liar saat terjadi pergerakan yang tiba-tiba. Tak butuh waktu lama sampai mereka semua dikepung oleh pasukan Holy Mage dan pasukan desa Konohagakure yang sedang berada dalam kendali Obito.

"Uchiha Obito, harusnya aku sudah bisa menebak bahwa semua ini ulahmu." ujar Pein.

"Lalu kalian mau apa? Membunuhku?" tanya Obito sambil terkekeh.

"Ini belum terlambat, Obito. Menyerahlah sebelum perang ini benar-benar pecah!" teriak Naruto.

"Naruto, kau bocah berisik yang tidak pernah berubah, ya. Apa hidup di lingkungan Uchiha membuatmu merasa pantas untuk mengguruiku?" Obito menyeringai melihat wajah Naruto yang berubah menjadi merah padam.

"Diam kau dan cepat kembalikan Sakura serta semua orang seperti semula!" Naruto kembali berteriak karena tersulut emosi.

Obito menyeringai. Ia pun membuat gerakan kecil dengan tangannya dan hal itu langsung membuat Sakura melompat mendekati Obito. Senyum kemenangan menghiasi wajah bengisnya.

"Bukankah dia cantik? Dia akan menjadi pengantinku setelah aku membereskan kalian." Obito membelai pipi Sakura dengan jemarinya, seringai aneh terbentuk jelas diwajahnya.

"Jauhkan tangan kotormu darinya!"

Sasori tidak bisa menahannya lebih lama lagi. Dengan kasar dia menghentakkan tangan Gaara lalu menerjang ke arah Obito dengan busur apinya. Melihat bagaimana si brengsek itu memperlakukan Sakura dengan seenaknya membuat Sasori benar-benar murka. Beraninya Uchiha sialan itu!

"Maka dari itu musnahlah kalian semua!" Obito ikut melesat maju menyambut undangan Sasori, begitu juga dengan para pasukan pengikutnya maupun Holy Mage.

Gaara melepaskan bongkahan pasir berbentuk bulat ke udara dengan kecepatan penuh. Ketika sampai di angkasa, bola itu pun pecah ketika listrik milik Kankuro mengenainya. Membuat pasir itu berpijar layaknya bunga api.

Itu adalah tandanya, tanda bagi mereka yang sedang menunggu diluar untuk mulai penyerangan.

Dengan ini perang diantara dua kubu pun pecah.

Pasukan desa Suna dan Ame yang telah bergabung pun menerjang gerbang kokoh desa Konoha dengan semangat membara. Seorang Kazekage dan pemimpin desa Ame tampak memimpin di barisan paling depan. Pasukan mereka langsung menyerbu dan melumpuhkan para penjaga desa Konohagakure yang sedang berjaga diluar.

Sementara itu, dengan kekuatan penuh sang Kazekage mengerahkan elemental Terra-nya untuk mendobrak gerbang desa. Membuat sebuah balok tanah sekeras baja dan membenturkannya pada gerbang desa Konohagakure yang tertutup rapat.

Gerbang desa Konoha pun berhasil didobrak dengan beberapa kali serangan.

Semua pasukan yang membawa senjata dengan baju berlapis baja tebal maju paling depan, membentengi para pemanah yang melesatkan ribuan anak panah pada pasukan Zetsu putih yang telah menunggu kedatangan mereka.

Para pasukan berpedang menyeruak masuk, menebas siapa saja yang berusaha menghalangi mereka untuk meraih kebebasan. Sementara ribuan anak panah berterbangan menyerang para Zetsu yang melancarkan serangan balik. Mereka bertarung sekuat tenaga dengan nyawa sebagai taruhannya. Mereka tidak akan tunduk atau pun takut lagi sekarang.

Jika kau hanya menerima tanpa melakukan apa-apa, maka selamanya kau akan berada di bawah.

.

.

.

.

.

.

.

Fajar hampir menyingsing, namun perang yang terjadi antara dua kubu ini masih belum menunjukkan tanda-tanda kemenangan baik dari pihak Suna dan Ame maupun dari pihak Holy Mage. Namun pihak Suna dan Ame ternyata mampu menumbangkan beberapa anggota Holy Mage walaupun harus mengorbankan banyak nyawa dari pasukan Suna dan Ame.

Shion dan Deidara berhasil membunuh Jirobo, sedangkan Konan dan Temari berhasil mengalahkan Karin.

Sementara itu Pein dan Kisame yang telah berhasil menumbangkan Sakon segera menjalankan niatan awal mereka. Keduanya pun mengelilingi desa tanpa tujuan yang jelas untuk waktu yang cukup lama. Namun, akhirnya mereka pun berhenti ketika menemukan letak penjara bawah tanah yang selama ini mengurung semua Mage dari berbagai desa. Ya, niatan awal mereka adalah membebaskan semua tawanan Holy Mage.

Ternyata penjara tersebut terletak tepat dibawah gedung tempat para Sannin biasa melakukan tugas-tugasnya.

Pintu masuk penjara dijaga dengan ketat. Mau tak mau mereka pun harus turun tangan untuk membereskan mereka semua. Sudah tidak ada waktu lagi. Berbagai ledakan dan suara teriakan yang terdengar dimana-mana semakin memacu tubuh mereka tanpa sadar. Bagaimana pun mereka harus memenangkan perang ini.

Keduanya langsung membuka pintu menuju penjara bawah tanah tersebut lalu menuruni tangga yang memutar. Udara lembab langsung menyambut mereka. Obor-obor yang tergantung berjejer di dinding adalah satu-satunya penerangan di ruangan bawah tanah ini.

.

.

Mereka yang sedang berada di penjara bawah tanah ini adalah para Mage yang menolak untuk bekerja sama. Sebagai gantinya mereka akan dikurung dan mendapatkan hukuman yang lebih berat.

Salah satunya adalah Uchiha Itachi.

Itachi menyadari bahwa telah terjadi kekacauan diatas sana. Suasananya begitu tegang dan mencekam, suara ledakan dan terkadang suara teriakan berhasil sampai ke telinga mereka yang terkurung di bawah tanah ini.

"Apa yang terjadi? Apakah mereka sekarang akan menghancurkan desa ini juga?"

"Entahlah, apapun yang terjadi aku tidak ingin terlibat."

"Apa mereka akan membebaskan kita?"

"Aku mendengar suara ledakan."

Bisik-bisik yang terjadi diantara para tahanan terdengar begitu jelas di telinga Itachi. Apa mungkin Pein dan yang lainnya telah melaksanakan rencana mereka?

Tak lama kemudian, samar-samar terdengar bunyi pertarungan di atas sana. Beberapa kali terdengar bunyi berdebum yang Itachi simpulkan sebagai suara tubuh yang terjatuh.

Suara langkah kaki yang sedikit terburu-buru terdengar kemudian. Bukan hanya Itachi, tapi semua tawanan pasti bisa mendengarnya dengan jelas.

"Siapa itu?"

"Apa mereka datang untuk menyiksa kita lagi?"

Lagi-lagi bisik-bisik itu terdengar. Itachi mengabaikannya, dengan Sharingan yang telah aktif dirinya menunggu hingga sosok itu tertangkap oleh matanya.

"Pein! Kisame!"

Teriakan itu keluar begitu saja dari mulutnya ketika menyadari kedua temannya-lah yang datang kemari, dan teriakannya barusan secara tidak langsung semakin membuat kedua temannya itu memacu langkah mereka lebih cepat.

"Itachi!"

Pein dan Kisame langsung menghampiri sel tempat Itachi dikurung bersama tawanan lainnya. Pein tampak mengernyit ketika menyadari sel-sel tahanan ini dilapisi mantra khusus yang membuat para tawanan tidak akan bisa menghancurkan jeruji besi ini dari dalam. Kisame pun mengeluarkan banyak anak kunci yang tadi dirampasnya dari penjaga lalu memberikan separuhnya pada Pein. Dengan tergesa, keduanya pun mencocokkan anak kunci tersebut satu per satu.

"Apa yang terjadi? Aku mendengar keributan diatas sana." tanya Itachi pada Pein sementara Kisame membuka gembok sel yang berada disamping sel milik Itachi.

"Perang sedang berlangsung." jawab Pein sambil berusaha membuka kunci gembok sel milik Itachi tersebut. "Suna dan Ame, mereka bersatu melawan Holy Mage."

"Apa Sasuke dan Naruto baik-baik saja?"

"Mereka ada diatas, ikut bertarung."

"Souka..." Itachi bernafas lega, setidaknya kedua adik bodohnya itu selamat dari serangan Holy Mage yang lalu.

"Ini tidak akan berhasil." Pein melempar anak-anak kunci tersebut dengan kasar, begitu juga Kisame yang sudah tampak kesal.

"Kalian semua dengar!" teriakan Pein menggema dan memancing atensi seluruh tawanan disana. "Saat ini perang sedang berlangsung. Kami akan membebaskan kalian semua dari sini, setelahnya terserah kalian. Jika kalian ingin meraih perdamaian dan kebebasan seperti sedia kala, maka bergabunglah dengan kami! Bersama-sama kita akan menghentikan kekejaman Holy Mage!"

Bisikan demi bisikan terdengar setelahnya. Ruang bawah tanah itu menjadi ramai karena ucapan Pein barusan. Bahkan ada yang terang-terangan menolak ide Pein.

"Aku tidak akan memaksa kalian. Karena itulah jika kalian merasa tidak ingin terlibat dengan semua ini, maka kalian boleh pergi dari sini. Bahkan enyahlah dari muka bumi ini! Kalian bahkan tidak pantas disebut sebagai seorang Mage." teriak Pein penuh percaya diri, membuat bisik-bisik yang terdengar sejak tadi lenyap seketika.

"Sekarang menyingkirlah dari jeruji besi ini, aku akan menghancurkannya."

Setelah semuanya menyingkir, Pein segera mengerahkan pisau angin super tajam yang bahkan mampu membelah gembok-gembok dan jeruji besi tersebut. Itachi menendang pintu sel tersebut hingga terpelanting lalu segera bergabung dengan teman-temannya.

"Yang mau ikut dengan kami, ayo maju!"

Pein segera memimpin jalan menuju keluar penjara bawah tanah ini. Sorak-sorakan penuh semangat terdengar memenuhi ruangan bawah tanah itu. Mereka yang awalnya memilih untuk tidak peduli akhirnya secara memutuskan untuk ikut membantu karena mereka sadar bahwa peperangan ini adalah untuk kebebasan mereka. Mereka menginginkan kebebasan. Mereka semua!

Karena apa yang dikatakan pemuda berambut Orange itu benar. Jika mereka bahkan tidak peduli dengan semua yang terjadi diluar sana, mereka sama sekali tidak pantas untuk disebut sebagai seorang Mage.

.

.

.

.

.

.

.

Sakura dikendalikan! Apakah Sasori dan Sasuke bisa menyelamatkan Sakura? Mampukah mereka memenangkan peperangan ini?

.

.

.

TBC

.

.

.

Halooo~

Jadi yaa, sebenernya draft buat fic ini udah adaa tapi yaa ituuu kadang karena kesibukan jadinya ga sempat buat apdet #PLAK gomeen-neee... Michan apdet kilat karena emang udah seharusnya fic ini menemukan endingnyaa #eleee XD