Disclaimers: Naruto © Kishimoto Masashi

Just Want You to Know © Backstreet Boys

Genre: Romance/Drama

Rating: T

Pairings: Naruto x Sasuke, slight KibaNaru & KakaIru

Warnings: AU, Shonen-Ai, Yaoi, OOC, OOC, OOC, typo(s), pengulangan kata, mute alert, penggunaan majas yang berlebihan. Don't like don't read! Feel free to leave this page if you don't feel easy to read it. I've warned you already.

A/N: Update! Insya Allah Kyou bisa terus update fanfic meskipun bakal lebih lama masanya. Hontou ni gomennasai… dan ini pertama kalinya fanfic multi-chap Kyou satu chapter-nya mencapai lebih dari 8k. Haish…

Summary from before: Sasuke, yang melarikan diri dari rumahnya dan di'pungut' oleh Naruto yang bisu—yang seorang fotografer juga musisi, memulai langkah pertama demi mencapai impiannya. Setelah debut dan tur konser, ia semakin akrab dengan Naruto yang sudah putus dengan Gaara, hingga pada titik di mana Naruto bersedia memberitahunya bahwa ia adalah orang yang dipungut oleh ketiga kakaknya sekarang. Orang-orang dari masa lalu Naruto pun muncul dan mengaku sebagai Kiseki-band. Sang vokalis, Kiba, adalah orang yang dulu pernah mencuri hati sang Uzumaki. Di tengah masalah itu, Sai muncul sebagai kakak Sasuke, dan setelah menandatangani kontrak dengan sah, Sasuke meluncurkan single debutnya dan membuat posisi aman di agensi Sunny Days maupun di tangga lagu Iwa. Lagu yang di'ciptakan'nya pun membuat Naruto membulatkan tekad untuk menyelesaikan masalahnya dengan Kiba yang masih bersikeras bahwa Naruto adalah miliknya. Bagaimanakah penyelesaian antara Kiba dan Naruto?

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

Betapa sulitnya untuk melupakanmu. Sebegitu mudahnya untuk menyakitimu.

Namun, apa kau tahu kalau kau telah berhasil menjebakku? Aku tak sanggup melepas diri dari jeratmu.

Aku terlanjur mencintaimu begitu dalam. Dan mungkin, aku tidak ingin berhenti tenggelam.

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

Song for Mute Musician

© Kionkitchee

Track 12: Just Want You to Know

© Backstreet Boys

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

.

.

I just want you to know that I've been fighting to let you go

Some days I make it through and then there's night that never end

I wish that I could believe that there's a day you'll come back to me

But still I have to say I would do it all again

Just want you to know

.

.

Kerincing bergetar menghasilkan suara nyaring yang menggaungi ruang pemotretan di gedung agensi Sunny Days. Kerincing tersebut berasal dari sebuah gelang kuno yang melingkar di pergelangan tangan kiri seorang fotografer yang tengah bermain dengan modelnya. Benda kecil berbentuk bulatan tersebut kerap berbunyi seiring dengan putaran fokus lensa yang mengarah ke sang model. Tentunya hal tersebut menandakan bahwa sang fotografer, yang tidak bisa menyuarakan pendapatnya secara langsung, merasa gerakan modelnya menarik… meskipun memang sempat menyita waktu yang tidak sebentar untuk membuatnya demikian.

"Untuk satu model membutuhkan sedikitnya 30 menit, sementara itu dibutuhkan segera tiga new-comers, dua line-leaves, dan seorang offline-star untuk majalah edisi bulan depan yang bertemakan Fresh Fruit. Apa tidak akan terlambat?" Seorang model berambut putih bertanya-tanya pada atasan yang berdiri di sebelahnya.

"Jadwal terbit majalah Sunny Days sudah diberitakan akan diundur seminggu dari tanggal penerbitan. Tetapi, kalau Naruto berhasil menyelesaikan sesi pemotretan lebih awal, kemungkinan majalah terbit bisa sesuai jadwal," jelas pria berambut merah yang sedang menuliskan sesuatu di buku catatannya.

"Hee~ tapi itu tidak mungkin, 'kan? Naru-chan baru selesai menyelesaikan projek single perdananya Hino-kun, dan pasti capek, ditambah lagi Naru-chan nggak memotret Karin! Pasti terlambat deh~" Kali ini model berambut merah bara panjang yang mengenakan kacamata berwarna sama mengungkapkan pendapatnya dengan nada manja.

Suigetsu mendengus. "You wish, Bitch."

Karin pun naik pitam. "NGAJAK BERANTEM NIH!?"

Nagato lalu menengahi. "Yak, cukup. Kalau mau berkelahi, silakan di luar," ucapnya kalem. Ia melihat ke area pemotretan dan menyadari bahwa sesi untuk Hyuuga Hinata telah selesai. "Tolong jangan membuat keributan di studio, Hozuki-kun, Karin." Ia pun menghampiri Naruto setelah memperingatkan kedua model tersebut.

"Ugh! Aku tidak suka orang itu!" kesal Karin kemudian. Di sampingnya, Suigetsu mengangguk setuju. Berdua mereka berdiri di dekat pintu keluar, berharap Naruto kembali tertarik untuk memotret mereka dengan kameranya. Namun, sepertinya akan sangat sulit.

Di depan background pemotretan, Nagato memberitahukan sang fotografer untuk memotret model selanjutnya, yakni Byakugan-band yang sudah siap dengan aksen buahnya. Ia menjelaskan pada Naruto bahwa tema buah band tersebut adalah Over Maturity atau bisa diartikan sebagai 'terlalu matang'. Berbeda dengan Hinata yang mengambil tema BlancheCitron (White Lemon) yang memiliki unsur buah lemon muda yang masih berwarna kuning pudar, B-band memasukkan unsur buah anggur ungu yang sudah digigit sebagian. Masing-masing dari personilnya ada yang menempatkan sebuah anggur di antara bibir mereka atau menggigit tangkai yang masih tersambung dengan anggur, atau bahkan menjulurkan lidah dan menaruh anggur di atasnya. Aura yang mereka tunjukkan memang berarti 'terlalu matang' untuk sebuah band.

Nagato menatap band tersebut nyaris tidak berkedip. Bukan hanya ia tidak begitu nyaman dengan pose mereka yang 'mengundang' tetapi juga ia mengerti watak adiknya—yang ia lirik menunjukkan gelagat yang sama. Ia mengutuk dalam hati karena ia tahu bahwa Naruto akan menghadapi band tersebut dalam jangka waktu yang tidak sebentar. Bagaimana tidak? Naruto tidak begitu suka dengan segala sesuatu yang berbau sensual menyentuh pekerjaannya, bahkan kalau bisa ia malah menghindarinya. Ia tidak ingin hal seronok macam itu mengganggu konsentrasinya… atau begitulah interpretasi Nagato. Namun, yang kemudian terjadi cukup mengejutkannya.

Gelang kerincing sang fotografer berbunyi, diiringi oleh langkah kaki yang berpindah-pindah. Rupanya Naruto tidak mempermasalahkan pose B-band yang semakin lama semakin sensual. Ia justru semakin mendekat untuk mengambil sudut yang tepat.

Nagato menghela napas lega. Syukurlah Naruto tidak terbawa perasaan pribadi selama bekerja. Seharusnya ia tidak melupakan itu. Pria itu lalu berjalan ke arah para model menunggu, khususnya tempat dua model berikutnya… mendapati kenyataan yang cukup mengejutkan lainnya.

"Temamu?"

"Belum tahu. Kau?"

"Sama."

"Buah?"

"Apel."

"Sama."

"Hn."

Hino dan Gaara berbincang. BERBINCANG. Mereka yang sudah bersumpah membenci satu sama lain berbincang normal layaknya orang biasa—okeh, berlebihan, tapi itulah yang mengejutkan Nagato. Ia tidak pernah menyangka—atau bahkan belum berani—kalau kedua orang itu akan bersikap baik terhadap sesama. Rasanya sedikit aneh. Namun, tak urung, ia pun merasa senang karena kedua orang itu dapat mengesampingkan perasaan pribadi dan bersikap profesional.

"Kudengar kau melihat kejadian itu."

"Hn."

"Benar dia yang melakukannya?"

"Hn."

"Si keparat berarti."

"Setuju."

Atau begitulah sikap profesional yang dimaksud Nagato yang kini menghela napas panjang. Bahkan kedua orang yang bermusuhan karena seseorang akan berbalik bekerja sama menghadapi musuh lain demi seseorang itu. Kharisma adiknya memang luar biasa hingga membuat orang-orang mengincarnya baik dalam arti positif maupun negatif. Ia menghela napas lagi. Yah, sudahlah. Selama Naruto baik-baik saja, ia tidak akan protes.

"Nagato-san, aku tidak tahu maksud dari line-leaves dan offline-star. Kalau new-comers sih aku tahu," Tiba-tiba Nagato mendapati salah seorang dari Kiseki-band bertanya padanya. Kalau tidak salah namanya Yamanaka Ino. Nagato tersenyum sembari menjelaskan.

"Line-leaves itu peringkat agensi Sunny Days untuk para artis yang sedang naik daun dan berhasil mempertahankan posisi mereka di hati penggemar dan dunia hiburan. Offline-star adalah peringkat untuk mereka yang sudah lama menggeluti dunia hiburan yang hingga sekarang masih aktif dan tetap menempati posisi 10 terbaik di daftar artis berjaya di seluruh penjuru Jepang. Selain dua sebutan itu, masih ada sebutan lain seperti fourth-clover, antique, dan ancient-storm. Fourth-clover peringkat untuk artis yang telah berjaya di lingkup Asia-Eropa dan menempati posisi 5 terbaik, antique untuk artis yang telah berkarya lebih dari 25 tahun dan telah memberikan kesempatan pada artis muda untuk mempopulerkan karyanya, dan ancient-storm untuk artis yang menjadi panutan bagi artis lainnya atau bahkan disebut legenda. Kira-kira seperti itulah."

Ino mengangguk mengerti. "Ternyata ada peringkat seperti itu ya di Sunny Days…"

Nagato menggeleng. "Bukan hanya di Sunny Days tetapi juga di Rainy Weeks, Blue Line Production, dan banyak agensi lainnya yang menggunakan peringkat tersebut. Sayangnya, hanya sedikit dari mereka yang berhasil mencapai tahap antique dan ancient-storm karena lebih memilih untuk bergerak secara pribadi. Beberapa artis di sini juga ada yang demikian," jelasnya lebih lanjut.

Gadis berambut pirang pudar tersebut mengangguk lagi. "Aku tidak begitu peduli dengan peringkat sih. Selama bisa bermain musik dan bernyanyi, itu saja sudah cukup," katanya.

Tersenyum, Nagato balas mengangguk. "Banyak yang sepertimu, Yamanaka-san. Mereka yang tidak peduli tingkatan dan hanya mencari kesenangan dan kepuasan terhadap seni yang dilakukan. Menurut saya itu lebih baik."

Ino nyengir lebar. "Arigatou, Nagato-san!" Kemudian kembali ke tempat duduknya.

Ya. Banyak yang seperti gadis itu. Nagato memahami beberapa orang yang seperti itu, terutama dia yang membangkitkan dan menjalankan perusahaan hanya dengan berbekalkan kecintaannya terhadap seni… dan sekarang ditambah bisnis. Ia pun tertawa kecil.

"Kalau begitu, Naru ada di posisi yang mana?"

Nagato kembali dikejutkan oleh pertanyaan tak terduga dari Gaara. Rupanya anak itu, dan Hino, juga mendengarkan penjelasannya. Ia menatap mereka yang juga menatapnya. "Let's see… secara resmi, Naruto masih berada di peringkat offline-star. Akan tetapi, banyak yang menyebutnya sebagai antique dan ancient-storm karena karya-karyanya dipopulerkan oleh banyak artis dan dia menjadi panutan mereka. Mungkin Naruto bisa disebut sebagai branch yang berarti artis muda yang menelurkan banyak karya dan diteladani sekitarnya… begitulah," jelasnya.

"Branch? Cabang pohon, begitu?" heran Hino yang mendengarkan jawaban sang pria.

"Hanya untuk orang-orang tertentu, dan sangat sulit untuk dicapai karena tidak banyak yang bisa melakukannya," sambung Nagato lagi. Ia melihat kedua artis di sampingnya itu memikirkan sesuatu. Mungkin mereka ingin menjadi salah satu dari para artis yang menempati posisi di dunia hiburan…

Cring~

Perhatian Nagato lalu beralih ke sang fotografer yang melihatnya sekilas, memberi tanda bahwa ia bisa membawa model berikutnya. Nagato pun beralih ke model berambut merah pendek yang berdiri sembari membawa sebuah apel di tangannya. "Apa temamu, Gaara-kun?"

Sang Sabaku memutar buah itu sejenak sebelum melemparkannya ke udara lalu menangkapnya lagi. "Solitude."

Nagato mengangguk dan mengajak Gaara ke area pemotretan. Ia pun menjelaskan tema sang Sabaku kepada Naruto yang langsung memposisikan kameranya di depan dada. Untuk sejenak, tidak ada pergerakan baik dari Gaara maupun Naruto, dan untuk sejenak, langit biru dan hijau daun bertumbukan dalam diam. Seakan mencari sesuatu di antara mereka. Seakan mencari sesuatu yang menghubungkan mereka. Bagai bertelepati, seolah mengaitkan benang tipis untuk membongkar pola pikir satu sama lain… dan menggabungkannya dalam bentuk persatuan.

Gaara perlahan duduk menghadap kamera dengan kaki kirinya ditekuk vertikal ke depan dan tangan kirinya bertumpu pada lutut yang berbalutkan jeans. Kaki kanannya pun ditekuk horizontal ke depan dan tangan kanannya terjulur lemas di atas kakinya dengan jemari yang terbuka. Sebuah apel dibiarkan menggelinding dari tangannya hingga berhenti beberapa senti dari kaki kirinya. Kemudian ia memejamkan mata dan membukanya kembali hanya untuk menjatuhkan sebulir air mata di atas topeng dingin tanpa emosi.

Kerincing pun berbunyi beriringan dengan shutter yang ditekan berkali-kali dan langkah perlahan menjajaki kemurnian yang tercipta. Tidak diragukan lagi bahwa pemuda itu sangat berbakat dalam menjalani pekerjaannya. Ia tidak akan membuang-buang waktu yang berharga untuk sesuatu yang dicintainya.

Para artis dan manajer yang melihatnya pun terpana dan salut karena Gaara selalu berhasil menarik perhatian sang fotografer yang terkenal perfeksionis itu. Bukan karena mereka pernah menjalani hubungan asmara tetapi karena Gaara memang berbakat dan kerap kali membuktikan kemampuannya itu.

"Kalau tidak salah, Naruto pernah berhubungan dengan anak itu," Ino menggumamkan apa yang diingatnya kepada Kiba yang duduk di sebelahnya.

Kiba menaikkan sebelah alisnya. "Like… being a boyfriend? Seriously?" Sang gadis mengangguk. Pemuda Inuzuka tersebut mendecak. "It's not funny!"

Ino menggidikkan bahu. "Aku mendengarnya dari temanku yang sudah lama tinggal di Iwa. Hinata-chan juga mengakuinya. Hanya saja, sekarang mereka sudah putus karena Gaara jadi suka sama Neji," jelasnya kemudian.

Kiba terkejut—meskipun dengan cepat ia menutupinya. 'Berarti sekarang Naruto available. Ah! Aku harus cepat bertindak!'

"Tapi kudengar juga kalau Naruto punya hubungan khusus dengan Hino-kun," Ino menambahi lagi. Sudut bibirnya membentuk seringai jahil yang ia tujukan pada sang vokalis. "Kurasa kau sudah terlambat~"

Kiba mendecak. "Tidak ada kata terlambat bagiku!" desisnya cepat.

Ino hanya mengangkat bahu sebelum kembali bersandar. 'Baka Kiba. Kita ke sini bukan untuk membantumu mendapatkan Naruto. Tujuan utama kita adalah—'

"Hino-kun! Giliranmu!" panggil Nagato dari area pemotretan.

Sasuke berdiri dengan membawa gitar akustik dan berjalan ke area tersebut. Sembari berjalan, ia berpapasan dengan sang model yang melemparkan buah tersebut ke arahnya. Sama seperti Gaara yang mengenakan celana jeans dan kemeja kotak-kotak hitam-abu-putih, ia pun menggunakan unsur buah apel untuk temanya. Ia pun memiliki keyakinan bahwa Naruto akan langsung memotretnya tanpa menyita waktu lama. Maka dari itu, ia langsung memasuki area serba putih tanpa basa-basi.

Tangan sang Hino mulai melepas kancing kemeja satu per satu dan melonggarkan kemeja tersebut sehingga kaos putihnya terlihat. Ia pun membuat bagian kanannya tampak jelas sementara satunya lagi tertutupi kemeja. Kemudian, ia meletakkan gitar akustiknya di sisi kiri tubuhnya sebelum duduk membelakanginya. Kaki kirinya ditekuk vertikal ke depan dan yang kanan dibiarkan lurus ke depan. Tangan kirinya menumpu pada lutut yang ditekuk sementara tangan kanannya menggenggam apel yang perlahan ia dekatkan ke mulut.

"Eden."

Mendengar itu, Naruto tak buang waktu dengan berdiam diri. Ia langsung mengambil gambar sang Hino seperti menggila. Tidak seperti Gaara yang membuatnya memainkan kamera dengan elegan dan perlahan bagai sakral, Sasuke membuatnya terpacu dan liar seolah adrenalin-nya dipompa sedemikian rupa. Apalagi ketika remaja itu menggigit apel di tengah-tengah konsentrasinya, Naruto maju dan semakin maju hingga lensanya berhadapan langsung dengan wajah close-up itu.

Eden. Tema yang dipakai Sasuke untuk mewujudkan interpretasinya akan buah yang segar. Ia mengambil tema dari cerita surga yang mengisahkan Adam dan Eve dibuang ke bumi karena menelan buah segar yang ditawarkan iblis. Dipercaya bahwa buah tersebut merepresentasikan apel merah ranum yang menggoda. Karena itulah, dianggap segar setiap saat. Karena itulah… dianggap sebagai dosa.

Entah apa yang membuat Naruto merasa itulah arti Eden yang dimaksudkan sang Hino, namun ia memang tergoda—jauh sangat tergoda dibandingkan eden-eden lain yang pernah didengarnya. Bukan hanya itu, remaja itu pun seolah memiliki aroma yang memendarkan magnet sehingga ia tak bisa lepas darinya… bahkan, tak ingin lepas…

KLANG!

Sebuah kaleng kosong membentur lantai dengan sangat keras terdengar dari arah Kiseki-band berdiam. Pemilik yang menjatuhkan—atau lebih tepatnya melemparkannya—tak lain adalah vokalis K-band yang kini tampak mati-matian menahan amarahnya. Alasannya sudah sangat jelas terpampang di depan mata.

"Kiba! Tempat sampahnya di sebelah sana!" tegur Chouji yang memegang buah melon di pangkuannya.

"Jangan buang sampah sembarangan, Kiba," ucap Shino kalem sembari memungut kaleng soda yang baru saja 'dijatuhkan' pemuda berambut coklat gelap itu. Di tangannya berdiam buah persik yang berwarna kemerahan.

Ino melirik vokalisnya sembari menghela napas panjang. 'Seharusnya tadi aku diam saja…' batinnya menyesal. Ia memutar buah pir di tangannya.

"Jangan membuat ulah lagi! Kau sudah diperingati oleh direktur secara langsung!" Shikamaru menghampirinya dan berdiri di depan sang Inuzuka yang menundukkan kepala untuk menahan amarahnya. Ia menghela napas berat sebelum jongkok dan menyetarakan tingginya dengan Kiba yang duduk di hadapannya. "Aku tahu perasaanmu, Kiba, tapi bukan berarti kau harus mencari masalah baru, 'kan? Ingat kembali tujuan kita datang kemari," ucap Shikamaru tenang. Tak lama, ia berhasil menarik perhatian vokalisnya yang menyusahkan itu.

"Aku tahu…" gumam Kiba. Shikamaru menepuk pundaknya dua kali sebelum berdiri dan kembali ke tempat duduknya.

Dari sisi kanan, Neji dan band-nya memperhatikan band baru itu dengan seksama. Ia memang mengenal Shikamaru, dkk. sebagai sesama penghuni desa Konoha dulu tapi sekarang ia sudah tidak mengenal mereka dengan baik—atau lebih tepatnya, ia tidak peduli. Ia hanya ingin memastikan bahwa band yang mereka bentuk tidak menyusahkan band-nya yang terbilang jauh lebih senior. Dan pastinya, ia tidak ingin jalannya terganggu karena permasalahan kecil.

Lain halnya dengan Gaara yang kini duduk di samping Hinata. Model tersebut menatap tajam K-band terutama vokalisnya. Ia tidak suka dengan Inuzuka Kiba yang ia tahu dari Hinata telah menyakiti Naruto untuk alasan yang tidak logis. Berkata bahwa dulu Naruto pernah bicara memang tidak apa, tetapi seiring waktu berlalu, pastinya ada banyak kejadian yang terjadi yang mengakibatkan Naruto kehilangan suaranya. Dan untuk Kiba memaksanya bicara adalah suatu hal yang tidak sopan dan bisa dibilang menyakitkan hati sang Uzumaki. Memang bukan tempatnya untuk mengukur siapa yang paling berat menyakiti Naruto, tetapi ia peduli pada pemuda itu sebagai teman, rekan, atau bahkan sahabat seperjalanan. Ia takkan tinggal diam jika mengetahui bahwa ada pihak yang ingin mencelakai pemuda yang masih menempati sebagian hatinya itu. Kalau perlu, dengan senang hati ia akan membalaskan rasa sakit yang diterima Naruto beribu kali lipat. Tetapi sepertinya tidak perlu usaha darinya karena sang Hino, yang mulai bisa ia anggap sebagai rekan seperjalanan, yang akan membalaskannya. Kenapa begitu padahal kemarin-kemarin ia masih mengutuki remaja tersebut? Well, Gaara merasa bahwa Hino dapat menerima Naruto apa adanya. Tidak seperti dirinya, Hino dapat berdiri seimbang dengan Naruto dan sudah dibuktikan dengan penampilan mendadak mereka ketika konser di Koshien berlangsung.

Yeah, meskipun ia memang merasa cemburu dengan kedekatan mereka yang seperti tidak bisa ditembusnya walaupun pernah menjadi kekasih Naruto. Tch…

Misalkan ada yang bertanya apakah dirinya masih mencintai sang Uzumaki, kemungkinan besar ia akan menjawab bahwa ia menyayanginya seperti saudara. Atau memang itukah yang dirasakannya semenjak awal? Entahlah. Bisa ya bisa tidak, tergantung pencitraan orang-orang. Yang jelas, saat ini ia sedang berusaha menerima apa yang terjadi antara dirinya dengan Naruto adalah sebuah kenangan indah, dan bahwa ia akan terus menyayangi pemuda itu. Dan mungkin, dengan menerima cinta yang lain, ia akan lebih mudah menyayangi sang Uzumaki.

Kembali ke Naruto dan Hino yang sama sekali tidak terganggu dengan suara yang ditimbulkan Kiba, mereka menyudahi sesi dengan potret terakhir remaja itu memeluk gitarnya. Setelah itu, Naruto maju dan mengacak-acak rambut raven kemerahan di depannya dengan gemas. Sebuah cengiran terpampang di wajahnya.

Sasuke menatap fotografer itu dari sela-sela poninya. "Aku minta hasilnya yang paling bagus. Awas kalau kau memasukkan foto yang jelek!" ancamnya pelan.

Naruto malah semakin gemas setelah mendengar ancaman tak mempan itu. Tak urung, ia mengangguk dan mengangkat jempolnya. 'Tenang saja~'

Sasuke mendengus sebelum berjalan menuju tempat duduknya. Mata ruby-nya melihat K-band berjalan menuju area pemotretan, dan di tengah-tengah, ia berpapasan dengan pemuda yang tempo hari mengatakan bahwa Naruto adalah miliknya. Ia lalu menyeringai sembari berbisik,

"Lay off. He's mine."

Kiba pura-pura tak mendengarnya dan terus berjalan. Dalam hatinya, ia sudah meneriakkan penyangkalan untuk kata-kata sembarangan dari sang remaja.

Let's see then!

Pemotretan untuk Kiseki-band dimulai. Mereka memilih tema Selves yang berarti pribadi masing-masing. Tidak ada dari mereka yang memilih buah yang sama karena mereka ingin menunjukkan ciri khas sendiri. Egois memang tapi itulah yang mereka pilih, dan yang mereka tonjolkan adalah keunikan dari sifat masing-masing. Chouji dengan buah melon yang menandakan bahwa ia memiliki hati lapang yang tentram. Ino memilih buah pir yang berarti ia lembut tetapi juga mengejutkan. Shino memilih buah persik yang artinya tegas dan berpendirian teguh. Lalu Kiba yang memilih buah kiwi yang berarti tantangan. Pengecualian untuk Shikamaru yang tidak memilih apa-apa karena ia tidak ikut pemotretan. Hal itu dikarenakan Shikamaru adalah manajer K-band.

Naruto, berusaha menganalisa buah dan tema yang mereka ambil, menatap satu per satu personil K-band tersebut sebelum menggidikkan dagunya pertanda bahwa mereka sudah boleh berpose sesuai kreativitas. Mata birunya melihat mereka bergaya sesuai dengan arti yang diberikan, dan merasa menarik, ia menaikkan kameranya dan menekan tombol shutter.

Selama pemotretan, Kiba tak melepaskan pandangannya dari sang Uzumaki. Ia berusaha menanamkan pesan bahwa ia takkan mundur sebelum mendapatkan apa yang diinginkannya. Ia berusaha mengirimkan pesan bahwa ia ingin—bahkan butuh bicara dengannya.

Naruto menangkap pesan itu. Ia memang sudah merencanakannya.

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

Sebuah ayunan kayu terpasang di dahan kokoh di salah satu pohon tepat di halaman luas sebuah sekolah. Ayunan itu bergoyang mengikuti arah angin bertiup sebelum akhirnya dipaksa bergerak mengikuti tuan yang menempatinya. Ke depan dan ke belakang, benda itu bergerak cepat hingga menimbulkan bunyi kesakitan. Namun, tuan yang menempatinya tidak peduli karena sudah sibuk dengan keasyikannya sendiri.

Tak jauh dari situ, seorang anak memperhatikan anak lainnya bermain dengan gembira. Kakinya membatu di tempat dan tangannya terkunci di depan dadanya. Bibirnya mengatup rapat tanpa ada upaya untuk melontarkan kata-kata kepada mereka di sana. Matanya yang sebiru langit di atas hanya bisa menatap lekat sementara hatinya kerap berteriak 'Maju!' dan mendorongnya untuk satu langkah pertama. Ketika mulutnya terbuka, bukan suaranya yang keluar melainkan…

"Hei, lihat! Itu si anak penyihir, 'kan?"

"Bukan penyihir tapi iblis! Ngapain dia di sini?!"

gunjingan yang kerap terlontar untuk dirinya setelah puas menyakiti bundanya tersayang. Tidak, bahkan kata-katanya tidak bisa keluar, hanya lirihan pilu karena rasa sakit yang menghujam hatinya, juga tubuhnya yang kini terkena lemparan batu dari mereka yang ingin diajaknya bermain bersama. Kedua lengannya refleks melindungi kepalanya agar tidak terjadi sesuatu yang fatal.

"Pergi dari sini! Jangan dekat-dekat, Iblis!"

"Monster! Penyihir! Iblis!"

"Dasar pembawa sial!"

"Sesat! Dia iblis! Jauhi dia!"

"Mati saja kau!"

Ah, berapa kali sudah ia mendengar kata-kata itu? Berapa kali ia masih akan mendengar kata-kata itu? Berapa kali hingga mereka sadar bahwa ia mengerti setiap perkataan mereka? Kenapa harus mengatakan hal kejam seperti itu padanya? Kenapa ia tidak boleh berteman dengan mereka? Kenapa dirinya harus dijauhi seperti ini?

'Kalau terus begini, tinggal menghitung jam saja hingga kita kena penyakitnya! Menjijikan!'

Pikirannya memutar ulang ucapan tetua desa yang ditujukan untuk bundanya. Tetua yang menatap ibunya dengan pandangan meremehkan dan tidak pantas, juga dengan kebencian yang menumpuk menjadi dendam yang dibarengi oleh dengki dan iri hati. Tetua yang menampilkan senyum semanis madu hanya di depan ayahnya dan menunjukkan ekspresi jeleknya di hadapan ibunya.

Hanya karena sang bunda berasal dari luar desa. Hanya karena sang bunda bertindak menurut isi hati yang mengutamakan kebebasan berekspresi. Hanya karena sang bunda sering pulang lewat dari jam 6 sore setelah mengambil potret alam. Hanya karena sang bunda sering menampilkan karyanya di media. Hanya karena sang bunda berhasil merebut pangeran Konoha yang terkenal tampan, baik hati, tegas, dan tidak sombong. Hanya karena sang bunda mengalahkan anak tetua desa dalam meminang sang pangeran. Hanya karena itu!

Penyihir, pengikut ajaran sesat, monster, pembawa sial, penular penyakit mematikan, iblis, semua hinaan yang dilontarkan untuk sang bunda, ia pun mendapatkannya.

Tidak adil! Kenapa ia harus dibawa-bawa? Apakah karena ia anaknya? Apakah karena ia darah dagingnya? Tidak adil! Tidak adil…

Benci. Ia membenci sang bunda. Ia membenci sang bunda yang juga ditinggalkan sang ayah pergi ke dunia sana. Ia benci! BENCI!

"Hei, hentikan! Apa-apaan sih kalian?!"

Tiba-tiba seseorang berdiri di depannya. Seorang anak yang sebaya dengannya, berambut coklat gelap, berkulit dan bermata coklat terang, memiliki tanda segitiga merah di kedua sisi pipinya dan seorang anjing yang menggonggong di sebelahnya. Ia belum pernah melihatnya—atau sama sekali tidak menyadari keberadaannya karena terlalu sibuk menyalahkan dan membenci sang bunda.

"Tidak apa-apa. Mereka tidak akan menyakitimu lagi."

Mata birunya menatap bola coklat terang di hadapannya. Seulas senyum tampak mekar untuknya. Uluran tangan pun terjulur di depannya.

"Aku tidak bisa membiarkanmu sendirian. Teman?"

Ia terkejut, sangat terkejut. Baru kali ini, baru sekali ini ada yang mau menjadi temannya. Baru sekali ini ada yang tidak menghinanya. Baru sekali ini ada yang menggubrisnya! Bagaimana ini? ia sangat senang! Ia merasa bahagia! Karena itulah, dengan cepat ia menyambut uluran tangan itu, dan dengan cepat ia menunjukkan cengiran di wajahnya.

"Namaku Inuzuka Kiba, panggil saja Kiba. Siapa namamu?"

Dan dengan bersemangat, ia membalas, "Uzumaki Naruto! Salam kenal, Kiba!"

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

Sesi pemotretan untuk majalah Sunny Days edisi bulan Agustus telah usai. Studio 1 dibersihkan, peralatan dirapikan, dan pihak yang terkait pun dibubarkan. Waktu menunjukkan pukul 1 lewat 25 menit yang berarti sudah lewat dari jam makan siang. Mereka yang belum makan siang pun bergegas mencari kudapan untuk mengisi perut yang sudah bermusik ria. Ada yang pergi ke kantin agensi untuk merasakan kenikmatan koki sederhana yang mengenyangkan, ada yang pergi keluar untuk mendatangi restoran kesukaan, dan ada yang langsung pulang untuk memakan masakan rumah. Ada juga yang tidak peduli dengan keselamatan perutnya dan langsung kembali bekerja. Di antara banyak pilihan, seseorang yang jemari kirinya belum pulih benar dari retak memutuskan untuk duduk tenang di dalam studio yang sudah dibersihkan tersebut.

Ia tengah menunggu.

Pintu studio 1 dibuka dari luar, menandakan ada seseorang yang hendak masuk ke dalam. Tak lama, seorang pemuda yang sebaya dengan pemuda yang menunggu pun masuk. Pintu lalu ditutup. Untuk beberapa saat, hanya keheningan yang menemani mereka. Untuk beberapa saat, hanya biru dan coklat yang saling bertumbukan… dan napas yang perlahan tercekat oleh detak jantung yang sedikit menderu.

"Naruto," Pemilik mata coklat menyapa pemuda yang duduk di depan tempat yang tadinya digunakan sebagai area pemotretan. Balasan yang didapatnya adalah anggukan biasa dari seorang kenalan.

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

Ia berjalan di depan seorang anak yang dianggap iblis oleh penduduk desa. Mata kecoklatannya melirik setiap langkah anak itu sementara bibirnya menyunggingkan senyum yang tidak menyenangkan. Ia berhati-hati agar anak itu tak menyadarinya.

"Kiba! Ngapain kamu main sama iblis?!"

"Iya, Kiba! Nanti kamu kena racunnya! Nanti kamu bisa mati!"

Ia tahu makna di balik perkataan temannya yang juga menyunggingkan senyum yang sama. Ia tahu bahwa mereka ingin dirinya kalah dan menraktir mereka apapun yang mereka mau. Jangan salah! Ia tidak pernah kalah! Ia pasti akan memenangkan permainan itu!

Anak itu berhenti beberapa meter di belakangnya. Ia lantas menghampiri anak itu dan bertanya dengan nada manis. "Ada apa, Naruto? Kau tidak mau bermain denganku?"

Anak itu menggeleng sayu, "Aku tidak mau kau dijauhi karena dekat-dekat denganku…" kemudian menatapnya dengan bola mata sebiru langit yang berkaca-kaca.

Sebersit rasa aneh melewati hatinya. Namun, dengan segera ia melupakannya. "Aku tidak peduli dengan mereka. Aku ingin bermain denganmu."

Bermain dalam konteks yang sama sekali memiliki arti lain.

Anak itu masih menatapnya ragu seakan tidak ingin ia mendapatkan masalah. Ia pun meraih jemari anak itu dan menggenggamnya lembut. Jemari itu gemetaran di genggaman jemarinya. Kegugupan yang dirasakan membuat hatinya berdesir senang. Ia naikkan jari-jemari itu hingga bersentuhan dengan bibirnya. Lembut, miliknya seorang.

Ya, miliknya seorang.

Untuk sekejap, anak itu terlonjak dari tempatnya. Kemudian, kepala pirangnya menunduk dalam, berusaha menyembunyikan semburat merah yang menghiasi pipinya… membuat Kiba mendecak puas dalam hati. Perlahan, ia raih dagu anak itu dan membuatnya kembali menatap bola coklatnya. Ia membentuk seringai yang menyerupai senyuman untuk menarik perhatian penuh anak itu. Dan seringai di wajahnya semakin melebar ketika bibir di hadapannya melengkungkan senyum malu-malu.

Ya, ia tahu ia sudah mendapatkannya. Hanya tinggal satu sapuan terakhir,

"Aku menyukaimu, Naru-chan."

ia tahu telah memenangkan permainan itu.

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

Keheningan kembali tercipta setelah nama pertama terlontar. Seakan tidak ada yang ingin membuka pembicaraan, mereka terdiam dan menunggu lawannya mengambil inisiatif untuk memulai. Semenit, lima menit, sepuluh menit, bahkan hingga 15 menit berlalu, tidak ada dari mereka yang bergerak, hanya dua pasang bola mata yang saling menatap dalam diam dibarengi oleh hembusan napas yang bermain dalam keraguan.

Kiba mengutuki dirinya yang tak mampu berkata apa-apa kepada Naruto yang tampak tenang. Padahal kesempatan sudah terpampang di depan mata tapi ia malah mendapati lidahnya kelu dan kaku. Kenapa seperti ini jadinya? Ke mana dirinya yang urakan dan cuek itu? Ke mana dirinya yang tidak peduli apapun itu? Ke mana dirinya yang dulu berhasil menaklukkan siapapun itu?

Dirinya yang dulu mempermainkan orang lain bagai sampah…

Karma. Dirinya mendapatkan karma. Dirinya dihujam karma. Ya, karma itu ada… tepat di hadapannya.

Ia ingat bagaimana dulu ia memberi harapan pada sang Uzumaki yang menatapnya tulus dan tak tahu apa-apa. Ia ingat bagaimana dulu ia mengucapkan kata-kata manis pada sang Uzumaki yang tersenyum malu. Ia ingat bagaimana dulu ia menyentuh sang Uzumaki dan meyakinkannya bahwa dirinya berharga. Dan ia ingat betapa ia menghancurkan ilusinya dengan sempurna. Dan ia ingat betapa ia mencampakkan khayalannya dengan luar biasa. Dan ia ingat betapa ia menodai kepolosannya dengan kenyataan yang sesungguhnya. Ia tertawa. Ia mencibir. Ia menggoda. Ia menghina. Ia merampas segalanya.

Dan kini ia harus siap membayar semua kesalahannya. Karma. Karma. KARMA!

'Ingat, Kiba, kita ke sini untuk meminta maaf pada Naruto. Kita ke sini sebagai perwakilan penduduk desa, dan HARUS meminta maaf padanya!'

'Karena dulu kita memperlakukannya dan wanita itu seperti iblis?'

'Sebagian ya. Sebagian lagi karena kau yang paling menyakitinya dengan menjadikannya objek taruhan!'

'Memangnya dia siapa sih? Orang penting?'

'Kau yang paling tahu kenapa, Inuzuka! Tanyakan hatimu sendiri! Tidakkah kau merasa menyesal?'

'Too dramatic, Guys. Aku tidak semenyedihkan itu!'

'Oh ya? Siapa yang selama 5 tahun ini terus memikirkannya, huh?'

'Sial kau!'

Ah, benar. Itulah mengapa dirinya berada di sini. Ada sesuatu yang harus ia katakan kepada Naruto, sesuatu yang berada di lubuk hatinya terdalam. Sesuatu…

"Naruto, ada yang harus kukatakan padamu,"ucap Kiba akhirnya.

Sang Uzumaki memutar bola matanya seakan berkata, 'No shit, Sherlock. It's obvious, isn't it?' Namun, ia tidak membalas apa-apa dan tetap diam.

Kiba mempersiapkan diri sebelum menjelaskan maksudnya. Ia harus membuat kata-katanya sejelas mungkin sehingga tak menimbulkan kesalahpahaman… meskipun ia tahu hal itu akan sangat sulit—bahkan percuma.

"Kau ingat saat pertama kali aku berbicara padamu? Mengatakan ingin menjadi temanmu dan tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu, masih ingat?" Ia menghela napas panjang sebelum melanjutkan, "Kuakui, saat itu aku memang… hanya main-main… Saat itu, beberapa temanku taruhan bahwa aku takkan bisa menaklukkanmu dalam waktu 3 hari. Aku berkata bahwa aku bisa melakukannya, dan mereka akhirnya berjanji akan mengabulkan apapun permintaanku kalau aku menang… dan, aku… menang… setelah menyakitimu…"

Ia mengingat jelas ekspresi sang Uzumaki saat itu. Diperdaya, dibohongi, dikhianati. Ekspresi yang mewakili segala kesedihan di dunia. Mata biru yang terbelalak lebar dan berkaca-kaca hingga akhirnya menumpahkan isi bendungannya, alis yang terangkat tinggi dengan tengah-tengah yang tertekuk dalam ketidakpercayaan, bibir yang terbuka dan gemetar tidak tahu harus melontarkan kata-kata buruk macam apa, dan wajah kecoklatan yang memutih drastis seolah baru saja melihat sesuatu yang sangat menampar. Semua untuk membayar kesenangan para manusia yang tidak berperikemanusiaan.

Dan ia juga mengingat jelas betapa hatinya terasa bagai dihujam pisau tajam ketika mendapati permainan emosi tersebut menempel pada raut sang Uzumaki. Sakit. Sungguh sakit hatinya kala itu, dan ia masih belum menyadari ada apa sebenarnya… hingga hari di mana Naruto pergi, barulah ia menyadari sesuatu yang terjadi padanya. Sesuatu yang diingkarinya hingga detik ini… sesuatu yang tidak ingin diakuinya hingga detik ini…

"Suki da… hontou ni suki da…" (1)

Perasaan yang selama lima tahun ia pendam dan tutup rapat-rapat di lubuk hati paling mendasar adalah perasaan suka pada seorang Uzumaki Naruto.

"I tried to erase that feeling… I t-tried to tell myself that it's not true—that it's just a hallucination… hanya ilusiku saja…"

[Aku ingin kau tahu betapa aku mati-matian berusaha melepaskanmu]

"Terus dan terus… dan terus dan terus berusaha untuk me-melupakanmu…" Kiba menundukkan kepala sembari menjambak rambutnya sendiri, "meyakinkan diri bahwa k-kau… tidak pernah ada… bahwa kau… tidak pernah ada…" ia mengucapkannya dengan lirih, berulang, bagai mantra.

[Ketika berhasil melupakanmu barang sejenak, hari-hari neraka karena mengingatmu terasa sangat panjang]

Setetes air mata mengaliri pipinya. "I'VE TRIED, DAMMIT—AND FAILED!" Bola mata kecoklatannya menusuk tajam warna biru yang terbelalak lebar di hadapannya. "WHY CAN'T YOU JUST GO AWAY FROM MY MIND?! WHY, NARUTO?!" teriaknya frustasi. Ia tidak tahu pasti bagaimana perasaannya saat ini. Yang jelas, ia ingin menumpahkan segala yang menumpuk dalam hatinya… yang tertuju pada pemuda berambut pirang itu.

[Aku ingin percaya bahwa suatu hari nanti kau akan kembali padaku]

Ia tahu bahwa itu mustahil. Ia menyadari betapa sang Uzumaki tidak akan memaafkannya. Ia sangat mengerti itu. Namun, perasaannya ini… perasaannya ini… harus diapakan? Perasaan suka ini… perasaan cinta yang terlanjur mendalam ini… bagaimana harus ia hadapi?

'Mereka yang siap menyakiti harus siap disakiti pula.'

Ia harus menanggung cinta itu dalam rasa bersalah dan malu. Ia harus menanggung cinta itu dalam rasa sakit. Ia harus menanggung cinta itu dalam kesendiriannya… seperti yang pernah dirasakan sang Uzumaki… seperti yang pernah diperbuatnya pada sang Uzumaki.

"I love you… I love you… I FUCKIN' LOVE YOU! DAMMIT!"

Dan ia terjatuh berlutut dalam keterpurukan. Dengan tubuh yang menyerah pada penyesalan, ia tenggelam dalam kesalahan. Berat, terlalu berat beban yang dirasa. Namun, ia tak bisa lagi melarikan diri darinya.

[Hanya ingin kau tahu…]

Ia tidak sanggup.

Sang Uzumaki, yang menyaksikan setiap penyesalan yang dirasakan pemuda berambut coklat itu, terdiam sempurna. Pikirnya bermain antara masa lalu dan sekarang. Otaknya berusaha mengingat seperti apa orang yang dulu mengkhianatinya itu. Yang pertama mengajaknya berteman, yang pertama berbuat baik ketika yang lain memusuhi, yang pertama menarik perhatiannya, yang pertama merebut hatinya… dan yang pertama menghancurkan segalanya.

Naruto kecewa dan sakit hati. Rasanya pedih mengingat kenyataan yang pernah terjadi dalam hidupnya. Ia membenci pemuda yang merusak kenangannya itu, tetapi ia lebih membenci dirinya sendiri yang dengan bodohnya membiarkan hal itu terjadi. Dengan tolol pula terjatuh dalam iming-iming manis tanpa berpikir dua kali dan membuka diri sebegitu mudahnya. Ia lebih benci pada dirinya sendiri ketimbang pemuda itu. Namun juga, ia tak bisa mengingkari perasaan yang masih menempati sebagian hatinya. Perasaan yang sama dengan yang dirasakan pemuda yang berlutut di depannya sambil berurai air mata penyesalan. Ia tidak dapat memungkirinya tapi ia lebih dari tahu bahwa perasaan itu harus segera dihentikan. Dirinya dan pemuda tersebut harus menghentikan perasaan yang hanya menyakitkan itu. Tidak ada yang boleh melangkahi batas yang terbentuk di masa lalu. Tidak ada yang boleh melewati batas yang sama disadari sebagai pemisah sempurna antara permainan dan kenyataan, benci dan suka, hasrat dan cinta… kebanggaan dan keterpurukan.

Batas yang memisahkan antara harga diri dan ketulusan hati.

Naruto tidak mau melanggar batas itu. Sudah cukup. Ia tidak sanggup mendapatkan itu semua dari pemuda yang sama. Ia masih harus mempertahankan logika dan akal sehatnya. Bukan karena ia takut tetapi ia masih membutuhkan kedua hal itu untuk menjalani hidup. Masih ada yang harus dilakukannya. Masih ada yang harus diberikannya.

'Kalau ada apa-apa, kau bisa memanggilku. Aku tahu kau bisa mengurus dirimu sendiri tapi permasalahanmu dengan si jelek Inuzuka itu sudah bukan milikmu sendiri. Itu juga sudah menjadi permasalahanku.'

'Kenapa jadi begitu?'

'Kau tidak hidup sendiri, Dobe. Seharusnya kau yang paling tahu bahwa banyak yang mengkhawatirkan dirimu—bukannya aku khawatir atau apa!'

'Kau tidak jujur, Gaki teme~'

'Tch! Pokoknya ingat itu!'

Masih ada yang mengkhawatirkan dan membutuhkannya, dan Sasuke ada di sana.

Naruto menghela napas yang tidak ia sadari sempat ditahannya. Yang saat ini dibutuhkannya adalah secangkir cokelat hangat dengan tambahan marshmallow di atasnya, lalu iringan lagu dari piringan hitam klasik komposer panutannya. Ia tidak butuh apapun yang membuat otaknya semakin rumit dan pusing. Dan sebelum itu semua, yang sekarang paling ia butuhkan adalah sesuatu dari pemuda yang masih tampak rapuh di hadapannya. Sesuatu yang sederhana namun harus disadari penuh oleh pemuda itu. Sesuatu yang dirasa cukup untuk menyelesaikan permasalahan mereka. Untuk itu, ia akan melakukan sesuatu lain yang dapat menariknya keluar.

Pemuda berambut pirang itu perlahan melangkah menghampiri sang Inuzuka. Ia menyetarakan posisinya dengan pemuda itu kemudian melingkarkan kedua lengannya di pundak yang gemetaran itu, memeluknya lembut.

Kiba tertegun kaku mendapatkan perlakuan itu. Kehangatan yang ia pikir tidak akan pernah didapatkannya itu kini menjalar merasuki hatinya yang sempat mati rasa oleh amarah penyesalan. Kehangatan yang berasal dari pemuda yang kerap disakitinya… yang mungkin pernah menyayanginya. Kehangatan dari pemuda yang mati-matian berusaha ia lupakan dan lepaskan… yang hingga kini masih dicintainya. Naruto.

Ia mengerti. Ia paham maksud dari kehangatan itu. Naruto memaafkannya. Naruto akan berusaha memaafkan segala perbuatan kejamnya di masa lalu. Naruto… Naruto mungkin akan bisa menerimanya… sebagai teman. Ia paham itu. Ia mengerti bahwa celah untuknya mendapatkan cinta yang sama tidak akan berbalas. Bahwa hati sang Uzumaki sudah tidak mengharapkan keberadaannya. Bahwa hati yang ingin dimilikinya seorang diri itu tidak akan terbuka untuk menerima keegoisan hatinya. Bahwa Naruto tidak bisa menerimanya sebagai seseorang yang paling berharga.

Semua sudah terlambat. Kesempatan baginya sudah tidak ada. Akan tetapi, masih ada satu kesempatan lain yang dimilikinya.

Ia tenggelamkan wajahnya di bahu sang Uzumaki sementara jari-jemarinya menggenggam erat kemeja sang pemuda. "I'm sorry… I-I really am sorry…"

Ia masih bisa meminta maaf.

Sesuatu yang dibutuhkan Naruto akhirnya terjawab. Ia mengangguk pelan, menandakan bahwa ia menerima permintaan maaf sang Inuzuka. Untuk sejenak, ia membiarkan lengannya tetap melingkari pundak pemuda itu, menyampaikan bahwa sudah tak ada masalah lagi di antara mereka… atau mungkin, karena ia masih merindukan keberadaan yang dulu pernah sangat berarti baginya. Ia tak peduli alasan konkretnya. Ia hanya ingin berdiam seperti ini sebentar lagi sebelum kembali pada kenyataan.

Kiba pun demikian. Ia ingin tetap berada dalam dekapan pemuda yang tak bisa disebutnya 'neko-chan' itu. Ia masih ingin terbuai dalam khayalan bahwa Naruto membalas perasaannya dan mereka bersama dalam bahagia… yang ia tahu takkan pernah terwujud. Sebentar saja… hanya sebentar lagi saja…

[Aku akan terus melakukannya lagi… berusaha melepaskanmu]

Keheningan yang tercipta kali ini tidak menegangkan. Ketidaknyamanan berubah menjadi ketentraman yang diinginkan. Kehangatan yang terus berpendar menjadi bukti bahwa mereka telah menerima keadaan yang terjadi… bahwa masa lalu berada di belakang dan mereka harus melangkah menuju masa depan.

[Hanya ingin kau tahu]

Naruto melonggarkan lengannya dari pundak Kiba dan hendak melepaskannya ketika tangan kirinya diamit lembut oleh sang pemuda. Ia merasakan pemuda itu mengusap pelan bagian yang masih berperban untuk membebati ruas jarinya yang masih retak. Naruto mengerti maksud gerakan itu.

Kiba, tahu bahwa Naruto mengerti maksudnya, perlahan memajukan wajahnya untuk kemudian mengecup lembut sebagai permintaan maaf karena telah menyakitinya dengan sangat kasar tempo hari. Waktu itu, ia merasa sangat marah karena mengira Naruto berpura-pura bisu untuk menghindarinya. Namun, setelah mendapati kenyataan bahwa tidak ada suara sekecilpun terlontar kecuali desisan yang tercipta dari pertemuan antara pangkal lidah dengan deretan gigi, ia sadar bahwa pemuda itu benar-benar bisu. Ingin ia menanyakan penyebab kebisuannya tapi ia tdak berani. Ia tidak berani mendengar kalau alasan itu sebenarnya adalah kesalahannya. Ia takut mengetahui kalau alasannya bisu adalah karena syok hebat akibat perlakuan semena-mena penduduk desa dan juga dirinya. Ia sangat takut.

Entah apa yang memberitahunya, Naruto seperti memahami apa yang bermain dalam pikiran sang Inuzuka. Dan ia tak ingin pemuda itu semakin manyalahkan dirinya sendiri. Ia ingin mereka maju dan meletakkan masa lalu di belakang. Ia ingin permasalahan yang berkaitan dengan dirinya yang dulu selesai. Ia ingin Kiba bebas dari belenggu yang tercipta karenanya meskipun hanya sedikit. Seperti dirinya yang perlahan lepas dari belenggu sang Inuzuka. Karena itulah, Naruto membimbing tangan yang mengelus jemarinya itu untuk bersentuhan dengan bagian leher sedikit ke belakang yang tertutupi rambut dan kerah kemeja.

Sebuah lebam berwarna ungu pekat yang tak lebih besar dari koin 100 yen. Itulah yang disentuhkan Naruto ke permukaan jari Kiba yang matanya semakin melebar dalam keterkejutan. Naruto tersenyum kecil sebelum menggerakkan bibirnya, 'Bukan salahmu.'

Kiba menatap bola langit sang Uzumaki untuk memastikan, lalu kembali menatap lebam yang tidak pernah disadari ada di sana. "Kau terjatuh atau… ada yang menyerangmu?" cemasnya meskipun tahu itu percuma. Apa yang sudah terjadi tak bisa ditarik kembali.

Nyengir, Naruto menggerakkan tangan kirinya membentuk sudut ke atas seperti jembatan Iwa lalu tangan kanannya bergerak meluncur dari atas ke bawah di depan sudut tersebut; menjelaskan bahwa ia terjatuh dari jembatan Iwa. Kemudian, tangan yang meluncur itu bergerak maju bagai air lalu dihentakkan ke samping; pertanda bahwa ia tercebur ke sungai Iwa lalu terbentur daratan di sisinya. Ia berharap Kiba mengerti penjelasannya.

Sedikit. Itulah pemahaman Kiba akan penjelasan yang diberikan sang Uzumaki. Ia hanya menangkap pesan bahwa Naruto terjatuh dari suatu tempat dan tercebur ke sungai lalu terantuk sesuatu—well, setidaknya mendekati!

"Dan sampai sekarang kau tidak memeriksakan keadaanmu? Mungkin saja kau akan bisa berbicara lagi!" ujarnya mendorong. Tetapi, setelah melihat kedua tangan pemuda itu membentuk tanda silang dan kepalanya menggeleng, ia mendapat kesan bahwa Naruto pernah memeriksakan kondisinya tapi tidak mendapatkan hasil yang positif. Ia merasa menyesal entah kenapa. "Naruto…"

Nyengir lagi, Naruto berdiri dan mengulurkan tangannya pada Kiba untuk membantunya berdiri. Ia lalu menunjuk ke arah pintu sembari mengangkat serenceng kunci; mengindikasikan bahwa mereka lebih baik keluar karena studio harus segera dikunci. Kiba mengangguk, dan mereka pun berjalan keluar.

Di luar, ternyata anggota Kiseki band yang lain menunggu mereka—mungkin takut kalau Kiba akan melakukan sesuatu yang tidak seharusnya (untunglah studio bersistem kedap suara 75 persen, jadi mereka tak bisa mendengar percakapan antara Kiba dan Naruto). Ketika melihat kedua orang tersebut keluar dengan wajah cerah, anggota K-band menghela napas lega. Mereka hendak menyampaikan sesuatu ketika Kiba menghampiri mereka lebih cepat dan mengajak pergi.

"Enough for today. He needs rest."

Tak ayal, keempat anggotanya mengedip terpana. Tak mereka sangka akan mendengar Kiba berkata begitu. Tetapi mereka menghormati keputusannya dan mengikutinya pergi setelah memberi anggukan salam kepada Naruto yang membalas dengan gerakan sama.

Setelah K-band pergi, Naruto berjalan ke arah toilet untuk mencuci mukanya sebelum melanjutkan pekerjaannya. Ia menatap refleksinya di cermin dan memperhatikan lebam yang terletak di lehernya. Ia basahi jari telunjuknya dengan air untuk kemudian mengusap warna ungu tersebut. Saat melihat bahwa jarinya bersih dari warna apapun kecuali warna dasar kulitnya, ia menghela napas lega. Rupanya memang hanya pembersih khusus yang dapat menghilangkannya.

Waterproof make-up milik kakak perempuannya memang sangat bagus dan tahan lama. Ia merasa beruntung boleh meminjamnya dengan alasan sederhana seperti untuk persiapan properti pemotretan.

Kiba tidak perlu tahu bahwa alasannya tidak bisa bersuara adalah memang karena sesuatu yang terjadi di masa lalu, dan ia menjadi salah satu penyebabnya.

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

Di suatu desa yang di kelilingi hutan rimbun, seorang pria berbadan besar dan kekar menatap sekitarnya dengan seksama: beberapa penduduk desa yang langsung menghindar dan toko yang memutuskan untuk menyudahi bisnis hari itu. Pria itu tampak menakutkan dengan auranya yang mengancam dan wajahnya yang penuh codet dari kasus-kasus berbahaya yang pernah ditanganinya. Pakaian hitam yang dikenakannya pun bagai memberi peringatan bahwa tidak ada seorang pun yang berani mendekatinya. Ia sungguh menebar bau kematian bagi para penjahat yang berkeliaran.

"Ini rumah sakit, Ibiki. Lebih baik kau kurangi kadar asam milikmu agar pasien di sini tidak ada yang mati tiba-tiba."

Pria itu menoleh ke arah suara yang menegurnya. Seketika, ia melemaskan beban pundaknya yang sengaja ia tegangkan untuk menghindari kejadian yang tak diinginkan. "Asuma," balasnya kemudian pada pria yang sama besar dengannya dan sedang mengisap tembakau. Dengan cepat, ia ambil benda penghasil karbon monoksida itu dan mematikannya di tempat sampah terdekat. "Kau juga kurangi merokok di rumah sakit."

Asuma mendengus sembari mengekeh kecil. "Lama tak bertemu, Kawan. Apa yang membawamu ke Konoha?" tanyanya seraya mengulurkan tangan untuk berjabatan.

Ibiki membalas jabat tangannya. "Penyelidikan," jawabnya singkat sebelum mengambil sesuatu dari sakunya. "Pernah melihat anak ini?" tanyanya kemudian sembari memperlihatkan selembar foto.

Asuma memperhatikan perawakan anak yang ada di foto sejenak sebelum balik bertanya, "Apa dia ada hubungannya dengan keluarga Uchiha? Mirip sekali dengan Fugaku jika orang itu dikurangi kerutan di dahi dan dagunya."

Ibiki mengangguk. "Putera bungsu Uchiha Fugaku, Uchiha Sasuke, yang melarikan diri di awal bulan Mei. Orang itu memintaku untuk mencari dan menangkapnya," jawabnya datar.

"Maksudmu 'memulangkannya', Ibiki. Kurasa anak ini bukan penjahat untuk kau tangkap dan penjarakan," tukas Asuma mengoreksi perkataan sang detektif.

Pria bertopi baret hitam itu melanjutkan, "Sama saja dengan anak itu pulang ke rumah hanya untuk dikurung di dalam kamar dan tidak diperbolehkan keluar sesenti pun. Lagipula, bukan hanya aku yang ditugaskan untuk mencarinya. Uchiha juga menyewa beberapa intel FBI dari luar."

Asuma ternganga. "Serius? Hanya untuk mencari seorang bocah saja? Fugaku memang tidak tanggung-tanggung…" Ia tahu bahwa pria bernama Uchiha Fugaku memang tidak pernah setengah hati dalam melakukan sesuatu tapi sepertinya kali ini terlalu berlebihan. Ia memang tidak pernah paham betul apa yang bermain dalam otak teman masa kecilnya itu. Ia rasa hanya orang itu yang dapat mengerti isi pikiran Fugaku.

"Kalau bukan karena tugas, aku juga tidak mau mengurusi masalah sepele di keluarga Uchiha mengingat aku tidak pernah sejalan dengannya." Ibiki berkomentar sembari menghela napas panjang. Hanya di hadapan Asumalah ia dapat berlaku sebagai manusia biasa yang terlepas dari predikat detektif penuh taktik yang kejam. Mereka memang berteman baik semenjak dulu.

Pria berjenggot tebal itu menggeleng lalu menyerahkan kembali foto Uchiha Sasuke ke tangan Ibiki. "Aku hapal setiap orang yang tinggal dan pernah datang ke sini tapi tidak pernah melihatnya sama sekali. Coba kau cari di tempat lain," ujarnya. Ibiki mengangguk. "Ngomong-ngomong, kau sudah menjenguk Iruka?" tanya Asuma lagi.

"Iruka? Kenapa lagi dia?" bingung sang Morino. "Bukannya seharusnya dia kembali mengajar sejak 5 tahun lalu?" Lama ia tak mengunjungi desa Konoha, ia tidak tahu-menahu tentang kejadian di sana selama 5 tahun belakangan.

Menghela napas panjang, Asuma menceritakan kejadian yang menimpa Iruka. "Kau tahu kasus tabrak lari 5 tahun lalu, 'kan? Kakashi menyelamatkan seorang anak dari maut dan sebagai gantinya, dia yang tewas. Iruka jatuh sakit dan sempat mengalami syok hebat selama beberapa bulan sebelum akhirnya pulih dan diperbolehkan kembali mengajar. Akan tetapi, kondisi mentalnya tidak sebaik yang diperkirakan dokter sehingga pada saat mereka menyadarinya, Iruka tengah memukuli anak yang ditolong oleh Kakashi dan terus menyebutnya pembunuh. Akhirnya Iruka melakukan rehabilitasi kejiwaan di rumah sakit ini. Suatu malam, aku memergokinya kabur dari rumah sakit dan mengikutinya ke rumah anak yang sama. Di sana, dia kembali memukuli anak itu dan aku segera menahannya lalu membawanya kembali ke rumah sakit. Dia terus meneriakkan kata-kata mengerikan untuk anak itu sampai akhirnya dokter memutuskan untuk memberinya obat penenang. Selama 4 tahun lebih, dia menjalani rehabilitasi dan aku menawarkan diri untuk menjaganya. Hingga awal bulan ini, tak lama setelah aku meninggalkannya sebentar untuk memanggil dokter, Iruka mencoba bunuh diri. Nyawanya masih terselamatkan karena kejadiannya berlangsung tidak lama sebelum aku kembali dengan dokter. Dan sampai sekarang, ia belum sadarkan diri," usainya dengan menghela napas berat.

Mendengar rentetan kejadian tersebut, Ibiki pun menghela napas. Siapa yang menyangka bahwa Iruka akan melakukan hal seperti itu. Padahal guru itu terkenal sangat sabar dan baik hati. Kehilangan Kakashi membuatnya seperti itu sungguh diluar dugaan. "Lebih baik aku mengunjungi makam Kakashi. Kau tahu tempatnya? Tunjukkan padaku."

Mereka pun pergi ke area pemakaman yang terletak tepat di samping rumah sakit. Mereka berhenti di depan batu nisan yang bertuliskan Hatake Kakashi. Ibiki menundukkan kepala sejenak dalam doa sebelum menggumam, "Kau terlalu cepat meninggalkannya, Kakashi. Dia masih membutuhkanmu."

Asuma nyaris terjatuh karena yang diucapkan Ibiki sama persis dengan yang ia ucapkan 5 tahun yang lalu. Pemikiran mereka memang sama.

Ibiki lalu beralih pada sang Sarutobi. "Bagaimana dengan anak yang diselamatkan itu? Apa dia baik-baik saja?" tanyanya. Sejenak, ia tak mendapatkan jawaban apa-apa. Mungkin Asuma tidak tahu—

"Waktu aku ke rumahnya, anak itu sudah tidak ada. Sepertinya dia pergi sebelum sempat mengobati luka-lukanya—terlihat dari darah yang berceceran di lantai luar menuju jalan setapak. Mungkin anak itu tidak ingin berlama-lama di desa ini mengingat banyak penduduk yang memperlakukannya seperti sampah…" jelas Asuma.

Sang detektif menaikkan sebelah alisnya. "Sampah?" Kemudian, ia teringat perkataan tetua desa yang menggunjingkan seorang wanita dari luar desa karena berhasil memikat sang pangeran Konoha. "Maksudmu anak dari wanita Uzumaki itu?"

Asuma pun mendecak. "Putera tunggal Kushina-kun," ralatnya, tidak suka mendengar ada yang mencibir adik iparnya itu. "Namanya Naruto."

Menyadari telah melewati batas, Ibiki menepuk pundak sahabatnya. "Ya, maaf. Kushina-san maksudnya. Aku tahu kau menganggap Namikaze-kun sebagai adikmu sendiri, makanya kau marah. Aku tidak bermaksud menghina istrinya, Asuma," jelasnya sambil tersenyum tipis.

Pria Sarutobi itu menghela napas kembali. "Aku mengerti. Aku juga sebenarnya tidak terlalu akrab dengan Kushina-kun setelah Minato tewas karena kecelakaan. Jujur saja, aku sama sekali tidak tahu nama anaknya sampai sebelum Iruka mengiris pergelangan tangannya sendiri."

Dan Ibiki kembali menaikkan sebelah alisnya. "Kushina-san meninggal karena sakit sebelum kecelakaan yang menimpa Kakashi, benar?" Asuma mengangguk, Ibiki melanjutkan, "Dari analisaku, kemungkinan besar Kakashi bermaksud mengadopsi Naruto sebagai anaknya, dan tentu saja Iruka juga memegang peranan dalam menentukan. Namun, di tengah proses tersebut, Kakashi mengalami kecelakaan—menyelamatkan nyawa Naruto—dan Iruka melupakan proses itu karena terpukul lalu menyalahkan Naruto atas kematian Kakashi. Dan kau yang menjadi saudara dekat Namikaze-kun, teman Kakashi dan penjaga Iruka sama sekali tidak mengetahui nama anak yang menjadi pusatnya sedari awal? Are you stupid or what?" cibirnya.

Asuma menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. "Yah, aku 'kan juga punya banyak urusan…" sangkalnya membela diri. Ibiki hanya menggelengkan kepala.

"Sepertinya aku tidak perlu berlama-lama di sini. Aku harus segera mencari anak itu lagi sebelum ketularan bodohmu, Asuma," ejeknya sambil menyeringai sebelum berjalan keluar area pemakaman.

"Terserahlah. Kusarankan kau mencari di kota seperti Oto, Iwa, atau Ame. Mungkin anak itu ada di salah satu tempat itu," ujar Asuma kemudian, membuat Ibiki menghentikan langkahnya.

"Apa kau tahu tempat yang berhubungan dengan musik atau seni?" tanyanya setelah mengingat kemungkinan besar alasan Uchiha Sasuke melarikan diri dari rumah.

Sesuatu menyentak pikiran pria Sarutobi itu. "Ah! Kau baru saja mengingatkanku akan Shikamaru dan kroninya. Mereka bilang akan menetap di kota Iwa untuk sementara waktu karena band mereka lolos audisi di salah satu agensi di sana. Alasan utamanya sih karena mereka ingin mencari Naruto dan membawanya pulang untuk menemui Iruka…" jelasnya.

'Kota Iwa ya…' Ibiki menganalisa sebentar, 'sepertinya langsung ke sana saja.'

"Terima kasih atas informasinya. Kalau Iruka sudah sadar, sampaikan salamku padanya," Ia pun bergegas pergi ke tempat yang sudah tercantum jelas di otaknya.

"Kalau kau juga menemukan Naruto secara tidak sengaja, tolong katakan padanya untuk pulang. Iruka membutuhkannya," balas Asuma, "rambut pirang, mata biru, kulit coklat—pokoknya hampir sama persis dengan Minato! Tolong ya!" tambahnya.

Dari kejauhan, Ibiki mengangkat sebelah tangannya dalam salam, dan bahwa ia mengerti. Waktunya untuk kembali bekerja, kali ini ke kota Iwa.

Jauh, jauh di kota yang dituju, suara tinggi sebuah alat musik menggema dari lantai 7 sebuah apartemen.

-.-.-TBC-.-.-

(1) Suki da, hontou ni suki da!: Suka… aku benar-benar menyukaimu!

Okeh! Kyou update sekarang sebagai permintaan maaf karena sering lama ngupdate sekaligus sebagai pemberitahuan bahwa chapter selanjutnya akan lamaaaaa di-update karena ada sesuatu hal. Gomenne!

Permasalahan Naruto dengan Kiba akhirnya terselesaikan dengan baik. Perasaan Gaara terhadap Naruto pun perlahan bisa ia kendalikan. Namun, kini ada yang mencari-cari Sasuke dan bermaksud membawanya pulang. Bagaimana reaksi Sasuke ketika mengetahui bahwa Ibiki sebentar lagi akan berada di kota yang sama? Apakah ia harus menurut pulang? Dan bagaimana dengan Naruto? Apakah masa lalunya akan segera terkuak di depan orang-orang yang ia sayangi? Nantikan chapter selanjutnya ya~ sekalian dengan hadiah yang Naruto berikan untuk Sasuke~

Mind to review? Just don't waste your time for leaving me flames.

_KIONKITCHEE_