Chapter 12 : Daily Flowers

Ini sudah menginjak hari ketiga dimana Jungkook selalu mengunjungi restoran sembari membawa sebuket bunga, yang tentu saja diberikannya untuk Yoongi.

"Yoongi, si jangkung Jeon itu datang lagi," ujar Hoseok jengah. Pasalnya, ia sudah bosan melihat pemuda Jeon itu. Bagaimana tidak? Ia datang saat restoran baru saja buka, dan pergi saat restoran tutup. Dan Hoseok tahu, bahwa itu hanyalah akal-akalan Jungkook saja agar dapat dekat dengan Yoongi.

Yoongi hanya terdiam mendengar keluhan Hoseok. Meski ia pun sama jengahnya, namun Jungkook tak melakukan hal yang merugikan dirinya. Lagipula menerima bunga setiap hari adalah suatu anugerah, bukan?

Hoseok menghela nafasnya.

"Kau menyukainya, ya?"

"Tidak," sanggah Yoongi. "Berburuk sangka itu hal yang tidak baik, Hoseok."

Segera Yoongi mendatangi Jungkook dan menerima bunganya, berbincang sebentar, lalu pergi ke kamar untuk menyimpan bunga tersebut. Hoseok yang melihat itu pun lantas menggulirkan pandangannya menuju tempat sampah.

Tempat dimana Yoongi menyimpan bunga yang selalu Namjoon kirimkan.

Lagi-lagi Hoseok menghela nafasnya.

"Sepertinya aku harus bicara lagi pada Yoongi maupun Namjoon," gumamnya pelan.

Yoongi memandang bunga pemberian Jungkook yang telah disimpan diatas meja yang dekat dengan jendela kamarnya. Sesekali dirinya tersenyum.

Jungkook sungguh lucu.

"Apa dia tertarik padaku, ya?" gumam Yoongi sembari tertawa pelan. "Ah, tapi aku tak menyukainya. Apa boleh aku selalu menerima pemberiannya seperti ini?"

Sontak terdengar suara ketukan pada pintu kamarnya.

"Masuk," titah Yoongi sembari menolehkan kepalanya ke arah pintu. Tak lama kemudian, muncul Min eomma dari balik benda sewarna mahoni itu.

"Ya--! Mengapa kau tidak menjaga restoran? Ibu hanya lihat Hoseok dibawah," tegur sang Ibu.

"Bukankah bagus, ya? Jadi Ibu bisa berduaan dengan Hoseok, melakukan simulasi untuk mengelola restoran saat sudah menikah nanti."

Oh, terpujilah mulut tak sopan Min Yoongi.

"Apa??" tanya Min eomma penuh keterkejutan. "Kau gila?? Eomma tidak ada hubungan apapun dengan Hoseok!"

"Tapi... kupikir Hoseok serius dengan Ibu," ujar Yoongi, dan tentu saja itu hanya gurauan. "Lagipula bukankah Hoseok pernah bicara bahwa Ibu adalah tipe idealnya?"

"Ya, Min Yoongi!!! Jika kau punya waktu untuk menggoda Ibumu, lebih baik kau bantu Hoseok menjaga restoran! Lagipula temanmu, Jeon Jungkook itu datang lagi," ujar Min eomma sembari melipat kedua tangannya di depan dada.

"Iya iyaa~ ah, kenapa Ibu-Ibu selalu ditakdirkan bawel, sih?" gumam Yoongi dengan suara sekecil mungkin, berharap bahwa sang Ibu takkan mendengar apa yang ia katakan. Segera Yoongi melangkahkan kakinya, hendak keluar kamar.

Namun, suara sang Ibu menghentikan langkahnya.

"Yoon, seluruh karangan bunga ini... apakah diberikan oleh Jungkook?" tanya Min eomma. Yoongi pun membalikkan tubuhnya, menatap sang Ibu dan membuka suara.

"Iya, ada apa?"

"Lalu, apa bunga yang selalu berakhir di tempat sampah adalah milikmu?"

Yoongi mengerutkan dahinya.

"Ada apa?"

"Itu bunga pemberian siapa?"

Sepertinya sang Ibu memang sedang melakukan hal semacam interogasi padanya. Entah mengapa.

"... itu pemberian Namjoon--"

Terlihat Min eomma membelalakkan kedua matanya meski hanya sepersekian detik.

"Mengapa kau membuangnya?"

"Karena..." Yoongi menunduk, rasanya untuk menjelaskan alasan mengapa ia selalu membuang bunga dari Namjoon sangatlah berat.

"Karena aku membencinya, eomma," lanjut Yoongi dengan tangan yang dengan erat dikepalnya. Benci rasanya jika ia harus mengatakan hal itu. Namun, apadaya, ia sudah cukup merasa kecewa.

Min eomma pun menatap anak semata wayangnya dengan pandangan sayu. Dilangkahkanlah kedua tungkainya menghampiri sang anak, lalu mengelus surai hitam anaknya lembut.

"Apa karena kejadian waktu itu?" tanya Min eomma. Yoongi hanya mampu mengangguk, tanpa sedetik pun membalas tatapan sang Ibu.

Wanita berumur setengah abad itu menghela nafasnya.

"Sayang..." panggilnya. "Kau tahu dengan pasti bahwa Namjoon tak bermaksud untuk meninggalkanmu. Keadaanlah yang memaksa kalian untuk berpisah. Kau tahu? Namjoon sangat mencintaimu, anakku... sama seperti kau mencintainya."

Yoongi membisu.

"Kau telah menjalani hidup yang sulit selama ini. Dan Ibu yakin Namjoon juga begitu. Jadi, jangan bersikap seperti ini, dan mulailah untuk mencoba menerima Namjoon kembali."

"Tapi--" Yoongi menjeda ucapannya. Dirinya terasa tercekik, berat untuk sekadar mengeluarkan suara. Sontak sebulir air mata turun dari netra indah nan kelam milik Yoongi.

"Aku--"

semakin deraslah air matanya.

"Semakin kuingat bahwa Namjoon telah memiliki orang lain, maka keadaan semakin memaksaku untuk mundur. Aku tahu, aku sama sekali tak pantas untuknya. Kami sangatlah berbeda. Dan, bagaimanapun aku mencoba--seberapa kerasnya aku mencoba, aku takkan pernah bisa menggantikan posisi namja itu disisi Namjoon, setidaknya sebelum keluarganya menerima keberadaanku. Eomma... aku tahu bahwa Namjoon tak mencintai namja itu. Namun, jika Tuan Kim dan Nyonya Kim mencintainya, maka apa yang bisa kulakukan?"

Wanita tua itu terdiam sembari terus menatap putranya.

"Aku selalu meyakinkan diriku bahwa aku membenci Namjoon, dan tak pernah menerima bunga yang ia kirimkan. Bahkan bertatap mata dengannya pun aku tak mau. Tidak, bukan karena aku benar-benar membencinya, namun ini semata-mata upayaku menahan perasaanku padanya... aku tak pantas untuknya, eomma. Kumohon eomma mengerti..."

Kini Yoongi tertunduk, dengan air mata yang terus membanjiri wajahnya. Akhirnya ia mengatakan semuanya, setelah selama ini berusaha menahan gejolak perasaan itu sendiri--setelah selama ini ia berusaha membohongi perasaannya sendiri.

Bahwa ia tak membenci Namjoon, namun mencintainya.

Bahwa ia ingin sekali menerima seluruh bunga yang dikirimkan Namjoon dan memajangnya di kamar, alih-alih membuangnya.

Lagi-lagi Min eomma menghela nafasnya.

"Eomma mengerti. Namun, memutuskan hubungan tetap tak baik, Yoongi. Kau temui Namjoon, berbaikan dengannya, dan kembali menjadi temannya. Mungkin kalian memang saling mencintai, namun, cinta tak harus selalu memiliki, bukan?"

Mendengar perkataan sang Ibu, sontak Yoongi terkekeh pelan sembari menyeka air matanya.

"Ah, seperti Hoseok, ya?" Ujarnya.

"Hoseok?"

"Dia kan sangat mencintai eomma, tak terhitung ia telah melamar eomma, namun untuk kesekian kalinya juga dirinya ditolak mentah-mentah."

Sontak Min eomma mencubit pipi Yoongi.

"Kau ini! Jika ada yang mendengar lalu salah paham bagaimana?"

Kembali Yoongi terkekeh.

"Baiklah, terima kasih eomma. Kupikir aku akan mencoba menemui Namjoon nanti," ucapnya seraya tersenyum manis. Kini tak ada lagi air mata pada matanya yang indah. Min eomma pun mengangguk.

"Iya. Sudah sana, kembali bantu Hoseok. Lagipula, Jungkook pasti sudah lama menunggu. Dia kemari karena ingin menemuimu, 'kan?"

"Ya--dia hanyalah bocah aneh pengirim bunga."

Tepat setelah bicara begitu, Yoongi pun segera melangkah menuju lantai bawah untuk membantu Hoseok lalu menemui Jungkook.

"Eh?" Yoongi menautkan alis kala netranya menangkap sosok Hoseok yang tengah sibuk bekerja dengan bantuan Jungkook.

Apa?

Jungkook membantu pekerjaan Hoseok, menggantikan dirinya?

"Jungkook-ssi..." panggil Yoongi, membuat si tampan Jeon itu menolehkan kepalanya dan tersenyum yang menampilkan gigi kelincinya.

Sangat tampan.

"Ah, Yoongi-ssi?" Segera Jungkook menghampiri Yoongi yang masih terperangah melihat namja jangkung itu.

Bagaimana tidak?

Ini kali pertama bagi Yoongi melihat Jungkook berbalut apron.

"Maaf--karena kau tak kunjung kembali dan kulihat Hoseok-ssi kesusahan, maka aku membantunya," jelas Jungkook kemudian. "Namun, tentu saja hal ini tidak gratis."

Yoongi mengerutkan dahinya.

"Apa? Maksudmu?"

Segera Jungkook mendekatkan tubuhnya, dan berbisik tepat di telinga pemuda pucat itu.

"Aku ingin memasak sup denganmu, nanti. Tentunya kau takkan keberatan, 'kan?" bisiknya dengan sengaja, saat mengetahui bahwa ada seorang pemuda jangkung lainnya yang melihat mereka dari kejauhan.

TBC