Hola Minna. saya datang dengan rate baru. masih uji coba. harap maklum kalau masih jelek. hehehe
My first rate M.
DISCLAIMER : TITE KUBO.
WARNING : OOC, AU, GAJE, MISSTYPO (maaf kalau ada kekurangan pengetikan)
RATE : M (for safe)
ATTENTION : Fic ini adalah fiksi belaka, jika ada kesamaan atau kemiripan situasi dan cerita dengan fic lain atau cerita lain dalam bentuk apapun itu tidak disengaja.
.
.
.
"Hei! Apa yang terjadi denganmu kawan?" ujar Renji setelah membuka pintu apartemennya ditengah malam dan mendapati sahabat sintingnya itu membawa seorang wanita yang tak sadarkan diri masuk kedalam apartemennya. Ini bukan ide bagus, tapi Renji menunjukkan kamarnya pada Ichigo agar kepala labu itu bisa menaruh wanita itu masuk dan membaringkannya. Pasti wanita itu masih kurang sehat.
Setelah menunjukkan kamarnya, Renji keluar dan menunggu sahabatnya itu menjelaskan sebenarnya apa yang terjadi. Yah Renji tahu ini bukan saat yang tepat untuk tanya-tanya, tapi dia juga penasaran 'kan?
Tak lama kemudian, yang ditunggupun tiba. Renji sudah duduk disofanya menunggu sahabatnya itu keluar dari kamarnya. Kelihatannya wajahnya bertambah pucat saja setelah keluar dari sana. Entah apa yang sebenarnya terjadi di Karakura, tapi sepertinya sahabatnya ini sedang stress tingkat tinggi.
"Apa yang terjadi kawan? Kuharap ini bukan cerita drama TV dimana kau membawa kabur wanita yang sedang sekarat. Kau tahu aku tidak suka drama TV manapun." Jelas Renji bermaksud untuk bercanda. Tapi sepertinya tanggapan pria itu berbeda. Ichigo duduk didepan sofa Renji dan menundukkan kepalanya dalam-dalam. Wajahnya pucat dan tidak semangat.
"Astaga. Aku main-main kawan. Kenapa kau menanggapinya begitu. Katakan padaku... ada apa selama kau di Karakura?"
"Ibuku sudah tahu tentang Rukia." Jawab Ichigo pelan.
Renji membelalakan matanya. Renji juga ingin kembali melontarkan kata-kata 'darimana Ibumu tahu' tapi sepertinya Renji sendiri sudah tahu siapa dibalik ini.
"Aku sudah tahu sepertinya kenapa Ibumu sampai tahu. Wanita itu benar-benar mengerikan. Jadi apa yang dikatakan Ibumu? Apakah Ibumu bertemu Rukia?"
"Bukan hanya bertemu. Ibuku sangat marah dan membenci Rukia. Aku juga bingung apa yang seharusnya aku lakukan sekarang."
"Lakukan saja apa yang kau suka. Orangtua memang tidak pernah mengerti apa yang kita inginkan. Bagi mereka apa yang mereka pilihkan itulah yang terbaik tanpa tahu kita bahagia atau tidak. Ibumu mungkin belum bisa menerima keadaan Rukia yang sekarang. Tapi kalau pelan-pelan dijelaskan Ibumu pasti mengerti." Jelas Renji.
"Renji... aku tak tahu ternyata kau pintar juga menghibur orang." Ujar Ichigo sambil terkekeh geli.
"Yah itu memang keahlianku. Ichigo... aku pernah dengar cerita sepertimu didalam novel dan drama TV. Tapi ternyata, kalau dikehidupan nyata sangat sulit ya..."
"Kau benar. Semoga saja tidak akan sesulit ini lagi."
.
.
*KIN*
.
.
Setelah ngobrol panjang lebar dengan kawannya itu, Ichigo tertidur di sofa. Dan pagi ini dia melihat sebuah memo berikut dengan setelan jas lengkap. Sepertinya punya Renji. Kebetulan Renji sudah pergi pagi-pagi ke kantor. Dia juga menyuruh Ichigo untuk segera datang kekantor setelah dia kabur begitu saja.
Ichigo telah bersiap menuju kantornya. Kali ini dia mengecek keadaan Rukia di kamarnya Renji. Tampaknya Rukia masih tidur dengan pulas. Karena tak tega membangunkannya, Ichigo hanya meninggalkan memo dengan nomor teleponnya. Sebelum benar-benar pergi, Ichigo mendaratkan satu kecupan hangat didahi wanita itu. Tidak bermaksud membangunkan. Hanya saja dia memang ingin melakukannya. Melakukan hal yang setiap pagi ingin dia lakukan dengan wanita yang dia cintai seumur hidupnya. Dan Ichigo sungguh berharap itu adalah Rukia.
Ichigo memang masih lelah setelah perjalanan Karakura-Tokyo. Tapi dia juga tidak bisa mengabaikan pekerjaannya. Dia juga harus bertanggungjawab pada Presdirnya itu.
Begitu tiba di kantor, semua orang tampak memandang aneh padanya. Mungkin Byakuya sudah melakukan sesuatu. Begitu tiba di lantai kantornya, Ichigo tak sengaja berpapasan dengan Renji di koridor kantornya.
"Presdir ingin bertemu denganmu. Pergilah." Ujar Renji sambil menepuk pundak sahabatnya itu. Dan Ichigo sudah mengerti apa yang ingin dibicarakan.
Ichigo pergi menuju ruangan Presdirnya. Setelah tiba, dia mengetuk pintunya dan menunggu sampai mendapat ijin. Setelah mendapat ijin, Ichigo masuk dan menunduk memberi salam pada Presdirnya itu. Kuchiki Byakuya tampak sedang meneliti beberapa berkas yang bertumpuk dimeja kerjanya. Ichigo dengan sabar menunggu didepan meja Presdirnya itu sambil berdiri. Dia tahu cepat atau lambat harus menghadapinya.
"Apa kau tahu alasanmu dipanggil kemari?" tanya Byakuya sambil menatap Ichigo tajam.
"Yah. Aku sudah tahu."
"Lalu apakah ada alasan yang ingin kau katakan padaku?"
"Aku sudah menemukan Rukia. Dan kali ini aku tidak ingin melepaskannya apapun yang terjadi."
Byakuya tersentak begitu mendengar nama wanita itu dari mulut Ichigo. Rupanya Ichigo bisa menemukannya. Ahh tidak. Ichigo memang bisa menemukannya.
"Aku pernah menanyakan pertanyaan ini padamu. Tapi waktu itu belum kau jawab sama sekali. Antara pelacur itu... dan jabatanmu. Mana yang lebih penting?" tanya Byakuya dingin.
"Pelacur itu." Jawab Ichigo tegas.
"Jadi kau tidak keberatan meski kehilangan pekerjaan pentingmu karena wanita itu? Kau siap kehilangan segalanya?"
"Anda tak akan pernah tahu seberapa banyak yang kukorbankan untuk bersamanya. Sama seperti wanita itu berkorban sedemikian banyak untukku. Aku tak pernah menyesal sudah melakukan ini. Aku justru akan menyesal jika aku tak pernah melakukannya. Aku memang terlambat, tapi lebih baik daripada tidak sama sekali."
"Kurosaki Ichigo. Kau sungguh di luar perkiraanku. Seharusnya aku sudah menduga apa yang mungkin akan kau pilih jika aku bertanya seperti itu. Baiklah. Kalau kau sudah tahu, silahkan ambil keputusan yang tepat untukmu. Aku tidak akan menghalangimu apapun keputusanmu. Dan sudah kukatakan padamu. Aku tidak akan pernah mencampuradukkan masalah pribadi dengan masalah kantor. Jadi… aku sudah memutuskan."
Ichigo diam menunggu instruksi selanjutnya dari Presdirnya itu.
"Karena kau sudah meninggalkan kantor tanpa ijin dan tidak bertanggungjawab menyelesaikan pekerjaanmu, aku akan membebastugaskanmu dari pekerjaanmu." Ujar Byakuya.
Yah paling tidak Ichigo sudah tahu itu. Memang lebih baik seperti ini.
"Terima kasih Presdir. Aku akan menulis surat pengunduran diriku sesegera mungkin."
"Memang aku bilang kau dipecat?" tanya Byakuya misterius.
"Hah? Tapi bukankah Anda bilang aku dibebastugaskan? Jadi..."
"Dibebastugaskan bukan berarti kau harus dipecat. Kembalilah kemari setelah satu minggu. Kau harus bertanggungjawab untuk menyelesaikan pekerjaanmu dan bekerja lebih keras dari sebelumnya. Aku sudah pernah mengatakannya bukan? Jadi kau tidak perlu khawatir lagi."
"Presdir?"
"Aku melakukan ini demi wanita itu. Aku tidak ingin membuatnya merasa bersalah karena aku memecatmu seperti itu. Paling tidak ini yang bisa kulakukan untukknya ketika dia melakukan hal besar untukku dulu."
"Terima kasih Presdir. Aku berjanji akan melakukan yang terbaik."
.
.
*KIN*
.
.
Sebenarnya bukan tanpa alasan Byakuya melakukan ini. Karena Byakuya tahu, Senna pasti akan terus menyulitkan mereka. Byakuya juga ingin menghentikannya. Tapi kalau Byakuya ikut campur, kesannya dia malah membela orang lain dan bukan adiknya. Karena sebelum almarhum Kakeknya pergi, dia sudah berjanji akan menjaga Senna. Jadi sekarang... semuanya tinggal terserah pada mereka.
Byakuya juga masih menyimpan perasaan itu. Meski dia tahu, tidak mungkin tersampaikan.
"Rupanya begini rasanya cinta bertepuk sebelah tangan." Gumam Byakuya.
.
.
*KIN*
.
.
"Oi? Kau kenapa? Dipecat ya?" ujar Renji melihat sahabatnya itu bergegas keluar dari kantor dengan wajah sumringah luar biasa. Sepertinya itu pertanda tidak baik.
"Kau bisa tunggu aku seminggu lagi! Sampai jumpa Babon!" ujar Ichigo bersemangat dan meninggalkan Renji yang masih melongo tak karuan itu. Kenapa dia seperti itu?
"Pasti dipecat." Gumam Renji.
.
.
*KIN*
.
.
"Rukia?" panggil Ichigo setelah sampai di apartemen Renji. Ichigo begitu senang akhirnya dia punya waktu untuk bersama wanita itu. Tapi begitu tiba di kamar Renji, dia mendapati kamar kosong yang sudah rapi. Mendadak jantung Ichigo terasa mencelos keluar. Ichigo mengobrak abrik seisi apartemen Renji dan berteriak memanggil nama wanita itu. Kamar mandi, beranda, gudang, dapur, ruang tengah, semuanya tak ada Rukia. Bahkan tak ada yang dia tinggalkan. Kemana sebenarnya wanita itu.
Ichigo nyaris frustasi begitu menyadari bahwa sebenarnya apartemen ini sudah kosong.
"RUKIA!" teriak Ichigo
Ichigo bergegas keluar mencari wanita berambut hitam itu. Mungkin belum terlalu jauh. Mungkin Rukia-nya masih berada disekitar sini. Mungkin saja―
Begitu membuka pintu apartemen itu, Ichigo melongo melihat Rukia yang berdiri dengan tampang polos didepan pintu bersama dengan seorang bell boy apartemen itu.
"Oh, kau sudah pulang? Tadi aku keluar sebentar mencari makan tapi aku tidak tahu cara membuka pintu ini. Jadi aku―" penjelasan Rukia terpotong karena Ichigo langsung memeluknya dengan perasaan lega yang luar biasa.
"Ichigo?" panggil Rukia. Sebenarnya bellboy itu menatap mereka yang berpelukan dengan wajah membelalak. Lalu menyadari keadaan itu, bellboy itu langsung pergi setelah berpamitan yang tidak dihiraukan oleh Ichigo. Rukia merasa begitu mungil dalam pelukan pria orange ini. Ahh tidak. Tubuhnya memang mungil. Tanpa sadar, Rukia memeluk lengan kekar pria itu.
"Baru 2 jam aku meninggalkanmu dan kau langsung pergi begitu saja. Bukankah sudah kubilang telepon aku kalau kau butuh sesuatu. Aku bisa gila kalau kau terus menerus menghilang tanpa memberitahukan padaku." Kata Ichigo dengan emosi yang sedikit memuncak. Namun masih memeluk erat wanita itu dan menciumi puncak kepala Rukia.
"Maaf." Lirih Rukia.
Ichigo melepaskan pelukannya dan mencengkeram lengan gadis itu dan menatapnya penuh cemas.
"Jangan... menghilang lagi." Kata Ichigo pelan. Rukia tersenyum lebar menanggapi kata-kata konyol itu. Lalu berjinjit memeluk leher pria itu.
"Tenang saja. Aku tidak akan menghilang lagi. Kau percaya padaku?"
Ichigo kembali merasa lega. Dia tak akan pernah khawatir seperti ini lagi. Tidak apa-apa. Sekarang semuanya akan baik-baik saja.
"Tapi... kenapa kau cepat pulang? Dan... apakah ini apartemenmu?" tanya Rukia setelah melepaskan pelukannya.
"Bosku memberiku hari libur. Ahh tidak. Ini bukan punyaku, tapi punya temanku. Namanya Renji. Nanti kukenalkan padamu. Jadi… kemana kita hari ini?"
"Hah?"
.
.
*KIN*
.
.
Ichigo melepaskan jas dan dasinya. Kini dia hanya memakai kemeja putih yang lengannya sengaja digulung tinggi. Pertama, Ichigo membawa Rukia ke toko baju, dia tidak bisa bertahan dengan melihat Rukia yang hanya memakai piyama rumah sakit. Nanti bisa dikira Rukia pasien yang melarikan diri, yah meskipun memang dilarikan sih.
Awalnya Rukia menolak, tapi kepala orange itu terus memaksanya. Jadi Rukia tak punya pilihan. Rukia mencoba beberapa dress dengan berbagai warna. Dan pilihannya jatuh pada dress putih lengan pendek yang hanya sebatas lutut.
Setelah berganti pakaian mereka mulai menjelajah Tokyo. Semuanya terasa menyenangkan. Mereka seperti sedang berkencan layaknya pasangan kekasih yang bahagia. Ichigo tak pernah sekalipun melepaskan tangannya dari tangan mungil Rukia. Mereka menjelajah Ginza, dan tempat-tempat lain yang biasa dikunjungi oleh kekasih pada umumnya. Haripun tampak cerah dan bersahabat. Memang saat yang tepat untuk kencan. Seumur hidup, Rukia tak pernah merasa sebebas ini. Rasanya menyenangkan dan tidak terkira.
Semua orang yang melihat Rukia dan Ichigo berjalan berdampingan sudah pasti akan mengira mereka adalah pasangan kekasih paling bahagia didunia. Rukia meminta Ichigo membelikannya sebuah pistol gelembung dan meniupnya disepanjang jalan. Benar-benar kencan yang selalu diimpikan oleh Ichigo. Kencan yang selama ini dia dapat dari gadis-gadis yang biasa dia kencani tidak pernah sesenang ini.
Terakhir, setelah makan siang―tapi sepertinya sudah lewat dari jam makan siang karena beranjak sore―bersama di sebuah restoran yang cukup romantis, mereka berjalan menuju sebuah pantai yang cukup sepi di Tokyo. Mereka berjalan berdampingan dan menyusuri pinggir pantai. Sesekali Rukia bertingkah jahil dan mendorong Ichigo menuju air laut yang menerjang bibir pantai itu. Ichigo juga tak mau kalah.
Setelah bermain air di laut, mereka duduk ditepi pantai sambil saling bersandar dengan punggung masing-masing.
"Ini adalah hari terbaik dalam seumur hidupku." Ujar Ichigo.
"Oh ya? Kenapa begitu?" tanya Rukia.
"Karena selama 1 hari ini aku hanya melihatmu saja. Jujur kencan kita yang pertama kali ini tidak buruk ya?"
"Hmm... aku tidak tahu kencan yang baik itu seperti apa. Tapi kau pasti biasa kencan dengan banyak gadis 'kan?"
"Kalau hanya sekedar makan malam dan nonton bioskop itu bukan kencan yang istimewa. Lalu apa kau pernah kencan, dengan suami gadunganmu itu?" kata Ichigo setengah menyindir.
"Kau yakin mau dengar?" goda Rukia.
"Tidak! Tidak jadi. Jangan katakan itu. Aku berubah pikiran." Kata Ichigo secepat mungkin. Dia mana mau membayangkan jika nantinya Rukia menggodanya dengan menceritakan salah satu kencannya dengan dokter itu sangatlah menyenangkan. Mendengarnya saja dia kesal, apalagi membayangkannya. Tidak akan!
Rukia sendiri tersenyum geli melihat Ichigo yang sepertinya sedang cemburu itu. Rasanya lucu juga membuat seorang pria cemburu pada kita. Rukia senang ternyata Ichigo benar-benar peduli padanya.
Baru saja akan melontarkan kata-kata lain, tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Mereka berlari menuju mobil Ichigo yang ternyata diparkir sangat jauh. Ini benar-benar diluar dugaan kalau ternyata hari yang cerah itu tiba-tiba langsung jadi buruk.
Dan alhasil baju mereka berdua basah kuyup.
.
.
*KIN*
.
.
Ichigo kelihatan bingung akan sesuatu. Dia yakin menaruhnya dilemari pakaiannya. Karena selama ini tidak pernah terlihat, jadi Ichigo pikir semuanya ada disana. Kenapa tiba-tiba tidak ada? Atau jangan-jangan… diambil wanita sadis itu ketika dia menginap disini?
"Ichigo? Kau yakin kau punya?" ujar Rukia dari dalam kamar mandi pribadi Ichigo. Karena tidak tahu mau kemana lagi dengan pakaian basah, Ichigo membawa Rukia kembali ke apartemen Ichigo sendiri. Untungnya dekat. Tapi sekarang masalahnya...
"Ichigo?" akhirnya Rukia keluar dari kamar mandi itu dengan tubuh basah yang hanya dibalut kimono handuknya. Ichigo masih tidak menyadari kedatangannya karena terlalu sibuk dengan lemarinya yang berantakan.
"Ichigo?" panggil Rukia lagi setelah dia berada tepat dibelakang Ichigo.
"Sudah kubilang tunggu saj―Rukia! Kenapa kau keluar dengan pakaian seperti itu!" rutuk Ichigo sambil menutup matanya dengan salah satu tangannya dan memalingkan wajahnya kearah lain. Rukia sendiri bingung kenapa pria itu bertingkah aneh.
"Karena aku sudah kedinginan didalam kamar mandi dan kau juga tidak menjawab panggilanku. Ada apa memangnya? Kau 'kan sudah bisa melihat wanita lain telanjang? Jangan sok begitu tahu! Kau'kan playboy." Sindir Rukia.
Ichigo tak bisa seperti ini. Hidungnya memanas begitu saja. Wajahnya juga ikut-ikutan memanas seakan darah mengalir semua kewajahnya. Dia memang biasa melihat wanita lain telanjang didepannya. Tapi ini berbeda! Dia belum siap melihat semuanya... ahh tunggu dulu! Waktu itu Ichigo pernah melihat Rukia hanya memakai selimut saja, tapi kenapa dia jadi seperti ini? Kenapa mendadak dia malu? Apa karena... Ichigo selama 2 tahun ini tidak pernah lagi melihat tubuh wanita lain?
"Kau kenapa sih?" tanya Rukia bingung.
Akhirnya Ichigo memalingkan wajahnya kearah Rukia. Wanita ini hanya memakai kimono handuknya saja. Dan tentu saja tidak memakai apapun lagi. Ichigo berpindah posisi menjadi duduk diujung kasurnya dan menundukkan kepala. Rukia ikut duduk disebelahnya. Rukia merasa aneh melihat Ichigo yang tiba-tiba aneh ini. Wajahnya juga memerah tidak tahu kenapa.
"Tidak apa-apa kalau bajunya tidak ada. Aku bias menunggu baju itu kering. Kau kenapa? Demam ya? Wajahmu merah..." tanya Rukia polos. Rukia mengangkat sebelah tangannya dan menyentuh dahi pria itu. Tapi kemudian Ichigo malah menghindar. Rukia merasa aneh sedari tadi. Apa yang membuat Ichigo begini? Kontan saja Ichigo tersentak karena gerakan refleknya. Mereka jadi salah paham.
"Maaf kalau aku membuatmu tidak nyaman. Aku akan tunggu diruang tamu saja." Ujar Rukia dan berdiri dari duduknya. Reflek Ichigo menahan lengan Rukia. Rukia berbalik tapi masih melihat pria itu menundukkan kepalanya.
"Maaf, aku tadi tidak sengaja. Bukan maksudku... aku hanya... sebenarnya..." dan entah kenapa kata-kata Ichigo sedikit membingungkan dan dia salah tingkah seperti itu. Dia terus bergerak gelisah ditempat duduknya.
"Rasanya aku melihat Ichigo 12 tahun yang lalu. Malu-malu padaku." Ujar Rukia.
Tak lama kemudian Ichigo mendongak melihat Rukia yang kini berdiri didepannya. Gadis itu tersenyum lembut membuat Ichigo tersipu.
"Maaf aku tidak tahu kalau kau ternyata... malu padaku." Kata Rukia lagi. Tapi Ichigo diam karena memang itulah yang dia rasakan. Namun tangan Ichigo tak melepaskan genggamannya di lengan Rukia.
"Lalu apa yang harus aku lakukan? Atau... apa yang kau inginkan?" tanya Rukia lagi.
.
.
*KIN*
.
.
Perlahan, tangan Ichigo yang bebas terulur kedepan dan mendorong leher Rukia menunduk padanya. Ichigo juga sedikit memajukan wajahnya untuk memperpendek jarak diantara mereka. Rukia awalnya terkejut. Tapi... Rukia juga tak bisa menolak. Jarak diantara mereka sudah tereliminasi dengan sempurna. Ichigo mengecup bibir mungil wanita-nya. Rukia juga sama. Membalas kecupan itu. Kecupan-kecupan yang bertubi itu berubah jadi lumatan lembut yang seakan ingin saling menghangatkan ciuman yang memabukkan ini. Masih dengan saling memberikan ciuman yang begitu berarti, Ichigo berdiri dari duduknya tanpa melepas ciuman itu dan menyelipkan tangannya yang sengaja dilepas dipunggung dan lutut Rukia. Membawanya menuju peraduan mereka selanjutnya.
Ichigo menghempaskan tubuh mungil itu perlahan dan menindihnya diatas Rukia. Rukia melingkarkan tangannya dileher Ichigo dan menikmati setiap ciuman yang begitu hangat ini. Lidah Ichigo juga tak tinggal diam. Menjilat perlahan bawah bibir Rukia mencoba mendorong bibir Rukia terbuka untuk menjelajah didalamnya. Bibir Rukia begitu manis dan hangat. Ichigo tak ingin melepaskannya semudah itu.
Bahkan ketika Rukia membuka mulutnya dan saling mengadu lidah mereka, ciuman ini semakin terasa panas.
"Hmmnggh! Ichi―Hmmpph!" Rukia mengerang saat ciuman itu semakin tidak terkendali. Wajah Rukia memerah karena kekurangan udara yang menghimpit pernafasannya. Mengerti akan hal itu, Ichigo melepaskan ciuman panas mereka dan beralih ke leher putih wanita-nya itu. Menciumi setiap senti dan tidak ingin kehilangan bagian yang belum terjamah itu. Memberikan tanda kepemilikan yang sudah sah menjadi miliknya ini.
"Arrggh! Hhh… hmmpph! Pelan saja―hhh…" Ichigo menggigit kecil leher Rukia membuat wanita itu mendesah kesakitan. Rukia menggigit bibir bawahnya karena tak tahan dengan rangsangan yang diberikan oleh Ichigo.
Pria itu kembali menciumi bibirnya dan mengajak lidah Rukia saling mengobrak abrik isinya dan mengabsen satu persatu gigi Rukia. Kali ini tangan Ichigo tak mau menganggur, dia juga melepaskan ikatan dipinggang kimono Rukia.
Mata Rukia terbelalak lebar ketika tangan Ichigo berusaha membongkar kimononya. Beberapa kilasan menyakitkan beredar dalam kepalanya. Tangan Rukia bergetar dan hendak mendorong tubuh Ichigo. Airmata Rukia juga turun tanpa bisa dicegah. Dadanya terasa sesak dan kembali perasaan takut mencengkeram dirinya. Sekuat mungkin Rukia mencoba mendorong tubuh bidang pria itu. Tidak! Rukia sekarang malah melihat Ichigo sebagai orang lain. Tidak! Ini bukan masa lalunya!
"HENTIKAN!" teriak Rukia setelah berhasil melepas ciumannya dan berteriak sekencang mungkin. Ichigo terkesiap kaget dan menatap wajah Rukia yang dia lupakan. Wajah ketakutan dan kegelisahan yang pernah dia lihat beberapa waktu lalu. Dan sekarang dia kembali melihat wajah itu. Kini Rukia-nya menangis histeris karena perlakukan Ichigo barusan. Ichigo tampak merasa sangat bersalah. Dan mengutuk dirinya sebagai pria brengsek.
Ichigo bangkit dari tubuh Rukia dan duduk sambil mengusap wajahnya sendiri dengan frustasi. Dia membuat Rukia ketakutan! Pria macam apa dia? Pria yang berjanji akan menjaga dan melindunginya melakukan perbuatan bejat seperti itu!
"Maaf Rukia. Maaf. Aku merasa seperti pria brengsek yang pernah menyakitimu. Aku tak pantas melakukan hal serendah ini. Aku benar-benar mencintaimu dan menginginkanmu. Tapi aku tak tahu kalau ini akan menyakitimu. Maafkan aku." Kata Ichigo sambil menundukkan kepalanya sedalam mungkin tanpa berani melihat Rukia.
Rukia kembali sadar dari mimpinya. Tidak. Bukan seperti itu. Dia hanya… selama ini dia tak pernah lagi merasa ketakutan seperti itu. Dia hanya… trauma.
Rukia mengubah posisinya menjadi duduk dibelakang Ichigo dan memeluk pria itu dari belakang. Kontan saja Ichigo terkejut dan hendak menoleh kebelakang. Tapi dia tahu, mungkin Rukia masih merasa shock dan ketakutan. Ichigo membiarkan pelukan wanita mungil itu yang kini menyandarkan dirinya dipunggunyanya. Perlahan Ichigo juga mengelus lengan mungil wanita-nya.
"Maaf aku membuatmu kecewa. Maaf… Ichigo… aku sama sekali… tidak menyangka bahwa mimpi itu datang lagi. Aku hanya takut… karena ini… pertama kalinya setelah… setelah…"
Ichigo segera membalik tubuhnya dan memeluk erat tubuh mungil yang bergetar itu. Dia tak tahan kalau melihat Rukia yang terisak dan menangis seperti ini karena masalah yang seharusnya sudah berlalu itu. Ichigo benar-benar ingin membunuh orang yang sudah membuat Rukia seperti ini.
"Kau tak perlu takut lagi. Sekarang kau bisa lupakan masa lalu menyebalkan itu. Kau hanya perlu lihat aku dan aku akan melihatmu. Jadi kau tidak perlu teringat masa lalu itu. Kalau kau belum siap... aku tak akan memaksa. Tapi pelan-pelan aku akan membantumu melepaskan semua rasa sakit yang pernah kau rasakan."
.
.
*KIN*
.
.
Tangan mungil Rukia berhasil membuka kancing kemeja Ichigo yang kini menatapnya dengan penuh senyum diatasnya. Ichigo melepas kemeja dan memperlihatkan dada bidangnya yang tentu saja membuat Rukia memerah tidak karuan. Rukia sudah memutuskan untuk melupakan semuanya. Tidak ada seorangpun yang kini akan merenggut kembali kebahagiaannya. Tidak seorangpun.
Ichigo mencium kembali bibir mungil yang tak pernah bosan dia cium. Rasanya semakin dicium semakin memabukkan dan membuat penasaran. Rukia tak menutup matanya. Tapi melihat wajah tampan pria yang kini menciumnya penuh perasaan. Sama dengan Ichigo yang juga melihat wajahnya. Tangan Ichigo kembali mencoba membuka kimono handuk Rukia. Tapi Ichigo kembali takut kalau-kalau Rukia kembali menolak. Rasanya trauma itu tak bisa hilang sampai―
"Aku tidak takut lagi." Bisik Rukia. Tangan mungilnya membimbing tangan kekar Ichigo untuk membuka kimono handuk itu. Kini tubuh Rukia sudah polos dari benang manapun. Ichigo bahkan begitu puas melihat tubuh mungil wanita-nya.
Jari-jari Ichigo menyusuri tiap lekuk tubuh gadis itu. Rukia mencengkeram erat seprei disampingnya. Ichigo kembali mendaratkan bibirnya di leher Rukia yang sebenarnya sudah meninggalkan bercak kemerahan. Bibir Ichigo semakin turun kebawah, menuju dada mungil wanita-nya. Menciuminya penuh sayang dan perlahan membelai dada lainnya yang belum diciuminya.
"Hhh... Ahh! Ichigo! Ahh... hhh... hmmphh... enggh..." Rukia mendesah disetiap gerakan Ichigo, baik itu bibirnya maupun jari-jari nakal pria itu. Kini bibirnya kembali turun lebih bawah lagi. Kali ini menciumi perut datar Rukia hingga akhirnya sampai ditempat terakhir. Rukia sedikit gemetar ketika Ichigo sampai didaerah itu. Tapi Rukia cepat-cepat menghapus ketakutannya. Dia tak mau membuat Ichigo kembali merasa bersalah karena ketakutannya. Pria berambut orange itu menciumi daerah terlarang itu. Menyelipkan lidahnya dan melakukan gerakan yang mampu membuat Rukia jauh lebih terangsang dari sekedar mencium leher dan dadanya. Tubuh Rukia juga sedikit bergetar dan akhirnya meremas rambut orange milik Ichigo. Ichigo tengah menikmati bagian intim tubuh wanita-nya.
"Arghh! Hhh... mmpphh... ahhh!" Rukia kembali mendesah setelah mengeluarkan hasratnya. Ichigo tampak begitu tenang dan menciumi sambil menjilati daerah yang sudah basah itu.
Kali ini Ichigo melepaskan 'kegiatannya' sejenak dan melepas celananya yang tampak mengganggu. Rukia mendadak memalingkan wajahnya karena mendapat kejutan luar biasa itu. Wajahnya kembali memerah.
"Dasar Ichigo bodoh!" rutuk Rukia.
Tapi pria itu tak menghiraukannya dan merangkak naik kembali keatas tubuh Ichigo.
"Kenapa? Kau sudah tidak takut lagi 'kan?" sindir Ichigo.
"Kau mengejekku ya? Kelakukanmu itu―arghh!" Rukia mendadak menjerit ketika tiba-tiba, jari tengah Ichigo masuk kedalam daerah terlarangnya itu. Menggeliat liar didalam sana dan membuat Rukia bergerak gelisah. Tangan Rukia yang tak sabar, memeluk punggung Ichigo.
"Arghh! Ichigoo... pelan―hngghh! Sa-sakit…" rintih Rukia.
"Akan lebih sakit kalau kau tidak rileks. Santai saja. Jangan tegang begitu." Ujar Ichigo lembut dan terus menerus memandangi wajah Rukia yang memerah karena malu dan kesakitan. Rukia tak bisa memejamkan mata dan beralih memandang yang lain. Tapi wajahnya semakin merah kala melihat tubuh telanjang Ichigo ini. Jari Ichigo kembali bertambah dan semakin cepat gerakannya. Sekarang tambahan jari itu malah ikut meliuk didalamnya. Karena kasihan melihat Rukia yang nampak kesakitan, Ichigo menciumi kembali bibir gadis itu. Tapi tidak lama karena Ichigo ingin mendengar desahannya.
"Hhh... kau benar-benar... arggh! Playboy brengsek... berapa gadis yang―arrghhh... hmmngghh... kauh... tiduri?" kata Rukia bersusah payah karena masih mendapat rangsangan yang begitu nikmat ini.
"Tenang saja. Kau yang terakhir Rukia." Bisik Ichigo mesra.
Kata-kata yang sudah sejak lama Rukia ingin dengarkan. Menjadi wanita terakhir dalam hidup seorang pria yang dia cintai.
Kali ini Ichigo memutuskan akan mengakhirinya.
"Rukia... kau boleh membunuhku kalau ini sakit... tapi setelah sakit itu tidak akan apa-apa... semua akan baik-baik saja. Ok!" ujar Ichigo masih tersenyum lembut padanya.
Ichigo tahu, Rukia pernah melakukan hal ini, tapi Ichigo tak tahu kalau ternyata, Rukia hanya sekali melakukannya. Mungkin benar, Rukia hanya menyerahkan keperawanannya saja dan tidak melakukannya lagi dengan pria lain.
"Katakan Rukia... kau bohong 'kan padaku soal kau sudah tidur dengan puluhan pria?" tanya Ichigo.
"Memangnya... akh! Itu... penting? Hmmngg..."
"Pasti iya. Terima kasih kau bohong padaku."
Rukia tak mengerti apa maksud Ichigo, mendadak pria itu malah menghujamkan sesuatu yang lebih besar dari jari-jarinya. Ichigo langsung menciumnya dalam, meredam teriakan Rukia. Tapi wanita itu malah memukul punggungnya berkali-kali dan menendang kakinya sendiri. Agak lama, Ichigo membiarkan dirinya didalam sana, menunggu gadis itu terbiasa dengan kehadirannya. Setelah Rukia tak lagi memukuli dirinya dan menendang kakinya, barulah Ichigo kembali bergerak. Rasanya seperti sedang bermain dengan gadis perawan meski tak ada darah keluar dari sana. Tempat Rukia masih terlalu sempit. Sudah pasti dia memang bohong. Ada begitu banyak kebohongan yang dilakukan Rukia, tapi sayangnya Ichigo tak pernah marah soal itu.
"Ichigo! Ichigo! Ichigo! sa―sakit! Arghhh… hhh… nhggghh…" desah Rukia sambil bergerak gelisah.
Ichigo sadar pasti rasanya sakit sekali. Dengan gerakan cepat, Ichigo menghentakkan dirinya didalam sana. Juga sekaligus menciumi dalam kekasih hatinya ini.
Setelah beberapa sentakan terakhir, akhirnya Ichigo juga melepaskan hasratnya bersamaan dengan Rukia. Wajah Rukia sudah memerah. Bahkan sangat merah layaknya kepiting yang kelewat direbus atau tomat yang kelewat masak. Ichigo menempelkan dahinya didahi Rukia. Rukia nampak memejamkan matanya sejenak dan menatap mata cokelat Ichigo.
"Terima kasih karena sudah berkorban banyak untukku. Terima kasih sudah berbohong untukku. Aku mencintaimu." Lirih Ichigo.
"Apakah itu kata-kata yang kau ucapkan setelah meniduri semua wanita?" goda Rukia.
"Tidak. Aku tidak pernah berterima kasih setelah melakukan ini pada wanita manapun. Kecuali kau..."
"Playboy brengsek." Bisik Rukia.
Ichigo menarik tangan kiri Rukia. melepaskan cincin pernikahan pinjaman Ulquiorra itu. Rukia bingung dengan tingkah Ichigo.
"Mulai sekarang, aku adalah pria yang akan melindungimu. Bukan orang lain. Jadi... kau tidak perlu cincin ini."
Sebagai ganti dari cincin yang Ichigo lepas, Rukia mendapat sebuah kalung berbentuk matahari dengan sebuah batu berwarna ungu ditengahnya. Rukia membelalakan matanya. Jujur saja, ini seperti sebuah lamaran untuknya. tapi bolehkan dia berharap begitu?
"Ichigo?"
"Punyaku yang ini. Sepasang denganmu. Tanda bahwa kita tidak boleh dipisahkan." Ichigo mengacungkan sebuah kalung berbentuk bulan sabit polos yang akan jadi milik Ichigo. Benar. Ini lamaran 'kan?
Dan setelah itu, malam ini jadi begitu indah. Ini adalah malam terindah didalam hidup seorang playboy Kurosaki Ichigo. Malam yang tak mungkin pernah dilupakannya.
.
.
*KIN*
.
.
Rukia membuka pelan matanya. Cahaya matahari menerobos masuk. Rukia menghalau sinar menyilaukan itu dengan lengannya. Tapi begitu dia ingin bergerak, pinggangnya terasa terlilit seseuatu. Begitu erat melilitnya seolah tak mau lepas. Karena bingung, Rukia berbalik kebelakang. Ternyata playboy ini juga belum bangun. Dia dan Rukia sama-sama belum mengenakan pakaian apapun. Rukia terbelalak dan buru-buru menutupi tubuhnya dengan selimut. Tapi tampaknya meski Rukia bergerak begitu heboh, lilitan dipinggangnya malah semakin erat dan semakin mendekatkan tubuh mungilnya kedada bidang pria orange ini. Rukia bergerak gelisah.
"I-Ichigo… cepat lepaskan… kalau tidak kau mati!" ancam Rukia masih bergerak mencoba melepaskan dirinya. Tapi pria itu tak mau dengar dan makin memeluk kencang tubuh Rukia. Rukia menjerit kecil ketika lengan Ichigo berpindah menuju punggungnya.
Akhirnya Rukia diam sejenak. Wajahnya dan wajah pria ini sudah begitu dekat. Tangan Rukia yang awalnya ada didepan dadanya yang awalnya juga berusaha untuk menutupi tubuhnya bergerak perlahan menyusuri wajah khas laki-laki itu. Rahang yang begitu tegas dan tampan. Hidungnya yang mancung dan bibirnya... yang entah berapa kali sudah menyentuh seluruh tubuh Rukia. Cinta... Rukia begitu mencintainya...
Entah kenapa meski Rukia yakin hubungan mereka tidak mungkin akan bahagia, karena banyaknya halangan, Ichigo selalu menguatkan dirinya dan membuatnya percaya bahwa kisah mereka mungkin bisa berakhir bahagia dan seindah kisah dongeng yang selalu didengarnya ketika kecil. Layaknya Cinderella, Beauty and the Beast, Sleeping Beauty, dan semua kisah dongeng yang berakhir bahagia. Yah… Ichigo tak pernah marah dan benci padanya setelah dia melakukan semua kebohongan itu pada Ichigo. Tak pernah sekalipun.
"Menyerang orang yang sedang tidur itu perbuatan mesum tahu!" sindir Ichigo yang masih menutup matanya. Rukia terkesiap kaget dan langsung berguling mundur. Tapi sialnya, Ichigo malah melepaskan pelukannya dan membiarkan wanita itu menggelinding jauh kebawah kasur mereka. Rukia merasa kepalanya terbentur sesuatu dan…
"Tak perlu sekaget itu 'kan? Kau berlebihan!" ejek Ichigo yang masih berbaring tengkurap diatas kasurnya menunggu Rukia bangkit dari jatuhnya. Rukia menyelimuti seluruh tubuhnya dengan selimut layaknya sushi yang diselimuti nori.
"Kau memang brengsek!" geram Rukia setelah dia bangun dan duduk dilantai lalu memandang sinis pada Ichigo.
"Apa yang kau bayangkan selagi aku tidur? Pasti tentang semalam 'kan?"
Blush!
Wajah Rukia langsung memerah dengan jelas. Rukia menarik selimutnya menutupi wajahnya yang memanas.
"Aku tidak membayangkannya mesum! Kau benar-benar keterlaluan! Dimana pakaianku?"
"Memangnya kau butuh ya? Kan tidak usah ditutupi lagi. Aku sudah lihat semuanya. Atau kau mau kita mengulangnya lagi? Jujur aku masih ingin―"
"ICHIGOO!" teriak Rukia yang merasa malu itu.
Ichigo bergerak jahil. Dia menggerakkan badannya dan berbaring tengkurap tepat didepan wanita itu. Wajah mereka kembali sejajar. Perlahan Rukia melepaskan selimutnya. Karena kaget melihat Ichigo didepannya, Rukia segera menarik selimutnya lagi, kali ini Ichigo menghentikannya.
"Jangan tutupi wajahmu begitu, aku jadi tidak bisa konsentrasi melihat wajah cantikmu." Ujar Ichigo lembut.
Perlahan Rukia menurunkan selimutnya. Lagi-lagi pria itu menatapnya dengan lembut. Wanita mana yang tidak meleleh dengan tatapan itu? Bahkan Rukia sekalipun.
"Nah. Apa yang akan kita lakukan hari ini?" Tanya Ichigo.
"Bukankah kau harus pergi bekerja?"
"Bosku memberiku libur panjang. Jadi aku bisa bersamamu selama 1 minggu ini. Jadi... apa yang kita lakukan?"
"Bos macam apa yang memberi libur pada pegawai selama itu? Jangan-jangan kau dipecat ya?" sindir Rukia.
"Bos bodoh macam apa yang memecatku? Aku ini pegawai paling berbakat. Jangan remehkan aku. Akui saja kalau aku memang lebih pintar darimu."
"Baiklah. Kau memang berbakat dan pintar. Kalau begitu antarkan aku ke rumah sakit saja. Aku harus bertemu dokter pribadiku."
"Hah?"
"Ulquiorra. Dia sudah di Tokyo dari kemarin. Aku ingin bertemu dengannya sekaligus membicarakan... penyakitku…"
Ichigo tak mendengar kata-kata selanjutnya dari Rukia. Dahinya seakan berkedut sebal. Untuk apa dokter itu sampai pindah kemari? Menemui Rukia? Jangan-jangan...
Ichigo tak bisa bertahan dengan kondisi seperti ini!
Dia selalu saja cemburu begitu mendengar wanita-nya menyebut nama pria lain dengan wajah berbinar..
.
.
*KIN*
.
.
"Seharusnya kau sudah mengerti 'kan kenapa Kurosaki begitu? Tidak perlu repot mencarinya lagi." Ujar Byakuya.
"Seharusnya Kakak membelaku ketika Ichigo meninggalkanku dengan alasan perusahaan. Kenapa Kakak membiarkannya seperti itu?"
"Karena aku tidak pernah mencampuri urusan pribadi dengan pekerjaan. Sudahlah… sudah cukup untukmu menyulitkan Kurosaki. Dia juga cukup menderita."
"Lalu Kakak pikir aku tidak menderita?" ujar Senna kesal.
"Kau sendiri yang memulainya seperti ini. Jika sedikit saja kau mengerti, maka semua ini tidak akan pernah terjadi. Kakak akan merasa bersalah pada Kakekmu kalau kau terus seperti ini. Lupakan Kurosaki."
Byakuya meninggalkan adiknya di kamarnya sendiri. Jika Senna seperti ini terus menerus maka tidak akan adil untuk Rukia. Juga Ichigo. Tidak akan adil untuk dua orang itu. Karena mereka juga berhak untuk bahagia.
.
.
*KIN*
.
.
Hola Minna!
astaga fic ini jadi terlantar deh. saya sengaja menyelipkan permintaan senpai deh. ini lemon pertama saya, semoga tidak mengecewakan. tapi kayaknya agak lebai ya? saya berusaha memasukkan perasaan Rukia, tapi gak tahu deh dapet gak feel-nya karena saya udah ngetik bagian itu selama lebih kurang 4 jam. dan gak tahu apakah itu bagus apa nggak.
saya suka banget kalung dengan bentuk matahari dan bulan sabit. apalagi itu adalah tandanya Ichigo dan Rukia. ehehehehe jadi kayaknya semua fic saya bakal ada acara gini deh. tukeran kalung gitu. hohoohoo
duhh!
sumpah saya deg-degan banget dengan lemon pertama saya. saya gak tahu mesti seneng apa deg-degan. secara saya masih seorang pemula dan awam banget dalam penulisan begitu. maaf kalau implisit. saya berusaha banget membuatnya nggak aneh dan terasa eneg ketika senpai membacanya. hoho
kenapa saya lama update? karena saya lagi cari feel untuk fic ini. senpai Voidy pernah bilang dan seingat saya ada juga senpai lain yang bilang, gak perlu update cepet kalau gak bagus. dan karena lama, saya jadi tambah bingung apa yang sekarang bagus atau nggak.
saya lagi keranjingan bikin fic fantasi. enak banget ngebayanginya. saya mau usul senpai, baiknya cerita fantasi saya ditaruh di rate mana? hahahahaha
tapi saya bakal publish setelah fic terlantar saya yang lainnya diupdate. tenang aja...
ok deh balas review...
Yakuza : aduh senpai... makasih udah review. tapi mana bisa langsung tamat. maaf kelamaan. tapi bentar lagi bakal tamat kok.
Zanpaku nee : makasih udah review... hehe kayaknya emang senpai bakat deh jadi paranormal. bisa ramalin saya? hohooh... iya nih emang ada ngaruh dikit ama secret garden tapi gak bakal mirip banget kok... hahaha saya juga kecewa sih ama nenek itu, mau-maunya cuma nerima cucunya doang, amit-amit deh. Rukia emang gak bakal punya anak, saya juga gak tahu cerita ini bakal sampai mana... hehehe
Yuuka Aoi : makasih udah review. yayaya... hahaha gak papa kok telat. yang penting kan dibaca. lebih bagus juga langsung review... hehehe jangan ditabok dong, digoreng aja! *geplaked* nah khusus chap ini saya lagi gak niat bikin konflik. saya lagi pengen bikin mereka romantis gitu. jadi... apa udah cukup romantis? hehehe
corvusraven : makasih udah review senpai. kayaknya emang gila tuh orang ya... heheheeh makasih udah ditunggu, saya terharu banget *ambilkarungbuatngelapingus* hehhehehe kalo ending saya serahkan pada yang di Atas deh... *loh?*
siapa ja boleh : makasih udah review senpai. hehehe ini aja belum selesai mid-nya senpai. tapi berhubung saya lagi malas kuliah dan mid yang hari ini gak ada jadi saya putuskan update deh. dan lagi-lagi ceritanya gak atau belum bisa tamat nih. doain aja tamat cepet. soalnya ini udah klimaksnya.
loveIchiRuki : makasih udah review. haduh jangan panggil senpai dong. saya gak mungkin ke taraf itu. banyak salah gini... hehehe makasih pujiannya. saya terharu sekaligus bikin semangat 45 buat bikin fic yang bagus.
BlackPink 4ever : makasih udah review senpai... hahah kok bukan cewek ato cowok?=_= gak jelas dong... hehehehe iya sih pengennya hidup, tapi saya bingung taruh diperan apa. kalau semakin banyak peran, takutnya ceritanya tambah panjang. hehehehe iya sebenarnya saya juga rada aneh denger nama Rukia berubah gitu, tapi mau gimana lagi? hiks...
Kurosaki Sora : makasih udah review. tapi saya belum bisa janjiin, Rukia bakal mati ato kagak. doain aja yaa... hehehe
Sena youichiru : makasih udah review senpai. loh kok gitu.. gak bisa senpai. nih aja saya hampir ilang feel nulis fic gak tahu kenapa. hheheeh doain aja sebelum akhir tahun semua fic ini bakal tamat. loh... hhehehe
Purple and Blue : makasih udah review... nah loh... saya udah bilang cin... jangan panggil saya senpai. menurut saya itu adalah kata tabu yang gak boleh diucapkan sama saya. karena menurut saya senpai itu udah tahap tinggi dan saya belum sampai kesana. banyak salah gini. cukup panggil saya Kin aja. kalo dirimu? nah yang chap ini udah full IchiRuki loh... gimana?
Bad Girl : makasih udah review senpai. ya emang dari awal fic ini IchiRuki kok. heheheh soalnya ini kan secara gak langsung kisah nyata saya... hohohohoh meski agak beda dikit, maala banyak... hehehehe sebenernya saya suka kok bawa kabur pasien itu... hehehehe tapi gak sinetron banget kan? hiks...
Voidy : makasih udah review senpai. dan masukkannya,... jujur saya chap kemarin bener-bener gak konsen bikinnya. jadinya kacau belau gitu. hehehehe tapi yang ini saya berusaha banget. tapi kalau masih salah... apa boleh baut. emang saya author geblek... hehehehe... senpai bisa lihat fb saya di propil saya kok... tapi senpai kasih tahu dulu kalau itu fbnya senpai deh... hehehehe stalker? kalo yang biasa saya sih gak takut, tapi kalo sampe psycho... amit-amit tolong deh... hehehe
Chadeschan : makasih udah review... hehehe makasih udah nangis. ntar saya literin deh... *geplaked* heheheeh endingnya belum tahu deh... berdoa aja baik-baik ya.
PM : makasih udah review. hahaha iya nih. chap ini saya gak hentikan kok. tenang aja... heheheheeh senpai bisa tebak apa yang terjadi selanjutnya.
nenk rukiakate : makasih udah review cin... hehehehee saya seneng ada juga yang seneng chap kemarin. apakah yang ini tambah seneng lagi? hohohohoh oh ya, kita doakan aja biar cepet selesai semuanya.
Kurosaki Kuchiki: makasih duah review senpai... hehehehe iya saya berusaha gak bakal pisahin lagi. tapi tergantung sitkon ya? hehehehehe *tawalaknat*
noname : makasih udah review. maaf kalo nunggu lama. hehehe
Lucky Girl : makasih duah review. nih udah update...
makasih udah yang review... saya berharap banget chap ini gak ngebosenin atao mirip sinetron lagi. jujur saja bingung banget mau menggambarkan perasaan mereka tuh. ternyata susah juga mengarang indah ya? hehehehe
dan tidak bosannya, tolong berikan review... nih fic masih layak kah untuk lanjut? sekaligus masih layakkah dibaca? hehehehe
Jaa Nee!
