I do not own the story!

copyright © 2012 All I Care About by fantasy_seoul (AFF)

translated by Zhen Jian (Oct 31, 2016)

Enjoy~


(*Luhan*)

"Apa ada daging yang tersisa?" tanya Luhan sesaat setelah mereka masuk ke dalam. Anggota yang lain berada di kamar mereka, kemungkinan pingsan, dan Luhan ingin bergabung, tapi saat perutnya meraung, dia memutuskan untuk mengambil makanan ringan lebih dahulu.

Sehun mendengus. "Apa pikiranmu selalu tentang makanan? Sial, kau mungkin lebih mencintainya daripada mencintaiku."

Luhan tersenyum. "Itu tidak benar."

"Bagian yang mana?"

"Aku tidak selalu memikirkan makanan."

"Jadi benar kau lebih mencintai makanan daripada aku," tuduh Sehun, mendelik pada kekasihnya.

"Kau yang kedua yang paling dekat, Sehun-ah," kata Luhan, dengan bercanda menjulurkan lidahnya ke luar. "Itu masih sangat spesial."

"Spesial pan—"

"Hongki, ada apa?" suara presiden bisa terdengar dari dapur.

Luhan dan Sehun berjalan mendekat hanya untuk melihat mereka berdua berdiri di sana. Si presiden memiliki raut cemas di seluruh wajahnya. Dan siapa yang bisa menyalahkannya? Keputusasaan di mata Hongki sedikit mengguncangnya, belum lagi laki-laki itu menggenggam pergelangan tangannya dengan kedua tangan, seperti dia menolak untuk membiarkannya pergi.

Terlalu sibuk dengan apa yang terjadi, mereka bahkan tidak menyadari Luhan dan Sehun melongo pada mereka di pintu masuk.

"Kau tidak apa-apa?" tanya si presiden saat Hongki tidak menjawab pertanyaannya yang pertama.

Hongki, yang masih menggenggam pergelangan tangannya, menggelengkan kepala. "Aku baik-baik saja. Hanya saja –"

"Mungkin kau harus kembali tidur. Wajahmu masih merah karena semua alkohol itu."

Dia menggelengkan kepalanya lagi, tapi kali ini terlihat panik, seperti dia tidak yakin tentang hal itu. "A-aku ingin kau membuatkanku teh."

"Teh? Perutmu tidak enak?"

"Yea –Tidak. A-aku menginginkanmu."

"Untuk membuatkanmu teh'kan?" ia melepaskan pergelangan tangannya dari genggaman Hongki dan berbalik untuk mencari kotak teh. "Jenis apa yang kau mau?"

"Lupakan tehnya –"

"Kau tidak mau teh? Lalu kenapa –"

Hongki tiba-tiba mencengkram kedua pundaknya. "Aku tidak mau teh! Setidaknya tidak sekarang!"

"Okeeee...Kau menakutiku. Kau yakin tidak ingin berbaring?"

Hongki mengangguk sedikit terlalu bersemangat, sesuatu yang bukannya menyakinkannya dia baik-baik saja, malah menakutinya lebih jauh.

"Aku ingin –Aku perlu memberitahumu sesuatu."

Luhan tersentak. "Dia akan memberitahunya."

Sehun melihat Luhan dengan alis terangkat. "Memberitahunya apa?"

"Shhhh!" Luhan menyuruhnya diam. Matanya terlalu fokus pada dua orang di depannya untuk menyadari Sehun yang mencurigainya.

"Memberitahuku soal apa?" Ia bertanya.

Hongki menelan ludah. "Aku bermaksud untuk memberitahumu..." Dia berkedip berulang kali, manik-manik keringat turun di sisi wajahnya.

"Ya?"

"Uhh. Umm. A-aku sebenarnya um. Uh." Hongki mulai mengigiti bibirnya, dan ketika dia tidak bisa menatap presiden lurus di matanya lagi, dia mengalihkan perhatiannya pada kaos kakinya.

Luhan menahan keinginan untuk terkekeh melihat betapa gugupnya tingkah Hongki. Itu hanya mengaku pada seorang gadis. Apa susahnya? Lalu Luhan tiba-tiba mengingat waktu di mana Sehun mengaku padanya, yang mana kebetulan juga berada di dapur. Waktu itu Sehun juga gugup, tapi dia juga tidak berkeringat banyak. Mungkin dia membutuhkan sedikit dorongan?

"Hongki HWAITING!" Luhan menyemangati membuat Hongki, presiden, dan Sehun menoleh ke arahnya.

Melihat pasangan itu di pintu masuk, mata Hongki melebar sebesar bola tenis sedangkan si presiden merona, terlihat malu atas kenyataan bahwa ia tidak tahu mereka di sana sepanjang waktu.

"Kau bisa melakukannya!" seru Luhan, memberi Hongki dua ibu jari.

Tapi bukannya tersenyum atas pesan penyemangat Luhan (seperti yang Luhan harap), Hongki terlihat lebih ketakutan, jika itu memungkinkan. Yah itu tidak berhasil...

Sehun memutar bola matanya. "Ma'af untuk itu." Dia meletakan tangan sekuatnya pada mulut Luhan, mencegahnya untuk mengatakan apa pun lagi. "Kami akan meninggalkan kalian berdua sendirian."

Sehun menarik Luhan ke luar dari dapur, menghiraukan gumaman protes laki-laki yang lebih kecil.

"Yahh! Kenapa kau melakukan itu? Dia baru mau mengatakan tentang perasaannya!" Luhan membantah saat Sehun melepaskan tangannya dari mulutnya.

"Yah, nah aku tidak berpikir mempunyai penyemangat di sana akan membantunya," balas Sehun, mendorong Luhan untuk duduk di sofa bersamanya.

"Setiap orang membutuhkan penyemangat di mana saja. Dan sekarang dia membutuhkan satu! Tidakah kau melihat bagaimana dia membeku di tempat. Dia mungkin menjadi es sekarang karena aku tidak di sana."

Sehun tertawa. "Kau membuatnya lebih buruk, Bambi. Dia mungkin lega kita pergi dari sana."

Luhan membuat wajah tidak puas, seperti beraninya Sehun berpikir dia membuatnya lebih buruk, tapi Sehun rupanya berpikir dia terlihat imut karena dia mengacak rambutnya, dan tersenyum lebar.

"Tak seorang pun membutuhkan saksi ketika mereka mencoba melakukan sesuatu yang menegangkan seperti menyatakan perasaan mereka. Aku sangat tahu."

"Tapi Sehun-ah, kau tidak segugup atau sepelan dirinya. Itu terasa seperti dia tidak akan pernah mengeluarkannya."

"Itu karena aku hebat." Sehun menyeringai.

Luhan, berpura-pura dia tidak mendengarnya, melihat ke arah dapur. "Aku penasaran apa yang mereka bicarakan..."

Dia bangun berdiri, tapi sebelum dia bisa bergerak, lengan Sehun melingkar di pinggangnya dan membawanya duduk kembali.

"Mereka tidak membutuhkanmu di sana."

"Tapi –"

"Lu. Jangan. Mereka akan baik-baik saja. Tapi kau tidak jika kau mencoba untuk bangun dari sofa ini lagi," Sehun memperingatkan.

Luhan dengan menurut tetap duduk, tapi bukan karena dia takut pada Sehun yang akan melakukan sesuatu kepadanya (dia sangat meragukan kekasihnya mempunyai keberanian untuk menghukumnya), itu karena Sehun kemungkinan benar. Hongki dan presiden keduanya sudah dewasa. Mereka seharusnya sanggup untuk menanganinya. Benarkan?

"Apa yang membuat mereka sangat lama? Apa dia ditolak?" Luhan bertanya lima menit kemudian, dengan cemas merubah posisinya dari atas Sehun.

Anak yang lebih muda menyarankan mereka untuk tiduran di sofa sebentar, sesuatu yang Sehun harap akan mengalihkan Luhan, tapi dia salah.

Sehun yang sedang memainkan rambutnya, mengerang. "Kau tidak sabaran. Benar-benar."

Luhan mendunduk pada Sehun. "Aku hanya berharap semuanya baik-baik saja. Hongki diam-diam menyukainya selama dua tahun... Akan sangat buruk jika dia setidaknya memberinya sebuah kesempatan."

"Wow dua tahun? Itu waktu yang lama."

Luhan berkedip pada kekasihnya, yang masih memainkan jemarinya di rambutnya, dan mendesah. "Dua tahun tidaklah lama."

Dia menundukan kepalanya, dan menyembunyikan wajahnya di perbatasan leher Sehun. "Aku kenal seseorang yang menyukai orang ini untuk waktu yang sangat lama," gumamnya.

Sehun berhenti. "Hah?"

"Kenapa? Kenapa kau tidak memberitahuku bahwa kau berteman dengannya sejak sekolah menengah atas?"

Sehun terdiam selama semenit, bingung atas siapa yang Luhan maksud. Ketika akhirnya dia mengerti, dia bangun tiba-tiba, matanya melebar. "Bagaimana kau –"

"Dia memberitahuku. Aku menanyakannya saat kita membuang sampah." Luhan, sekarang duduk di pangkuan Sehun, melingkarkan lengannya pada leher Sehun. "Dia memberitahuku semuanya."

Sehun menelan ludah. "Apa kau marah?"

Luhan menggelengkan kepalanya. "Tidak. Aku tidak marah. Hanya saja. Kenapa kau tidak memberitahuku?"

Sehun menghela napas. "Karena itu masa lalu. Itu terjadi sebelum aku bertemu denganmu."

"Tetap saja..Lebih baik jika aku tahu." Luhan memberikan Sehun sebuah senyum kecil.

"Ma'afkan aku." Sehun membawa tangannya untuk menangkup wajah Luhan, jari-jarinya mengelus plester di pipi Luhan. "Bukan berarti aku mencoba untuk menyembunyikannya darimu. Aku hanya tidak ingin kau khawatir."

"Apa kemungkinan yang bisa kulakukan jika aku tahu hubunganmu dengannya?"

"Mengenalmu, aku akan mengatakan bahwa kau akan memerintahku untuk keluar dari klub musik dan tidak pernah menemuinya lagi."

Luhan menghembuskan napas. "Aku tidak sekejam itu. Aku tidak akan memerintahmu untuk keluar dari klub musik. Aku akan dengan sopan memintamu untuk melakukannya." Dia mendorong dahi Sehun dengan dahinya.

Sehun mengerutkan dahi. "Lihatkan?"

Luhan tertawa. "Aku bercanda."

Mendengar tawa lembut Luhan, Sehun menjadi tenang dan melingkarkan lengannya ke sekitar pinggang Luhan. "Tidakkah kau akan merasa tidak nyaman jika mengetahuinya?"

"Sejujurnya, ya. Aku akan merasa sedikit tidak nyaman, tapi aku tidak akan mencemaskannya sebanyak saat aku tidak tahu."

Sehun menatap ke mata Luhan dan Luhan merasakan kegelisahan yang lebih muda. "Apakah ini uh merubah sesuatu?"

Luhan tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Tidak. Aku masih sangat mencintaimu, Oh Sehun."

Mata Sehun bersinar dan dia tersenyum, membuat hati Luhan berdetak sedikit lebih cepat. Senyuman indah Sehun cenderung memiliki efek padanya.

"Bagus." Sehun kembali berbaring ke sofa dengan lengannya yang masih memeluk Luhan. Perasaannya tiba-tiba senang.

Luhan kembali beristirahat di dada Sehun, jari telunjuknya membuat hati-hati kecil di area di mana jantung Sehun sebenarnya berada. "Bisakah aku menanyakan sesuatu?"

"Yeah."

"Apa kau tahu dia masih memiliki perasaan untukmu?"

"Yeah. Aku tahu. Dia tidak pernah mengatakannya padaku atau apa sejak waktu itu di sekolah tingkat atas, tapi aku tahu. Aku bisa mengatakannya. Kami berteman selama bertahun-tahun. Sangat sulit bagiku untuk berada didekatnya tanpa merasa seperti aku menyakitinya."

"Itu sulit untuknya juga," Luhan memberitahunya.

"Kurasa begitu," kata Sehun, suaranya berisi kesedihan.

Luhan mendongakkan kepalanya untuk melihat Sehun. "Sehun-ah."

"Yeah?"

"Jika aku tidak pindah ke sekolahmu dan menjadi teman sekamarmu, apakah kau... pada akhirnya m-menerima perasaannya?" Dia menggigit bibir bawahnya, menunggu jawaban Sehun.

Sehun berkedip dan lalu melakukan sesuatu yang tidak dia duga sama sekali –dia mencubit hidungnya. Keras.

"Oww!"

Sehun melepaskan hidungnya. "Pertanyaan macam apa itu?"

Menggosok hidungnya yang terluka, Luhan melihat Sehun tidak masuk akal. "Itu adalah pertanyaan yang masuk akal!"

Sehun mendengus. "Jelaskan padaku bagian mana dari pertanyaan itu yang masuk akal."

"Yah, jika kita tidak pernah bertemu, kemungkinan kau akan mulai merasakan –"

"Itu tidak mungkin," sela Sehun.

"Kenapa tidak?"

"Karena kau ditakdirkan untuk menjadi teman sekamar pengganggu yang menyebalkanku."

Menghiraukan bagian di mana Sehun menyebutnya sebagai teman sekamar pengganggu yang menyebalkan (dia tidak mungkin serius), Luhan mengerutkan alisnya pada laki-laki di bawahnya. "Kau tidak tahu itu. Jika aku tidak di sini, kalian berdua bisa dengan mudah mencobanya."

"Sekali lagi –Tidak."

"Kenapa tidak?"

"Karena aku tidak pernah melihatnya lebih dari seorang teman. Dia bukan untukku. Dan aku yakin akan itu."

"Bagaimana?"

"Karena kaulah. Kaulah satu-satunya untukku."

"Kau tidak bisa mengatakannya jika kita tidak pernah bertemu."

Sehun tersenyum lebar. "Pada akhirnya kita akan bertemu. Bagaimana aku bisa tahu? Karena kau terikat pada ujung lain dari benang merahku." Sehun mengangkat jari kelingkingnya dan menggoyangkannya. "Ingat soal itu?"

Luhan merona, membuat Sehun tertawa.

"Ya itu benar. Kau tahu kau ditakdirkan untuk menyukaiku, sama seperti aku tahu kau ditakdirkan untuk menjadi Bambiku." Sehun menempelkan dahi mereka bersama. "Jadi jika kita tidak pernah menjadi teman sekamar, bukan berarti aku akan bersama dengan orang lain, itu berarti hatiku hanya perlu menunggu sedikit lebih lama untukku agar datang dan mengklaimnya."

Merasa wajahnya terbakar karena pengakuan memalukan Sehun, Luhan menekan matanya menutup. "Sehun-ahhh."

"Apa? Terlalu romantis untukmu?" goda Sehun sambil mengusapkan bibirnya pada bibir Luhan.

Luhan menutup matanya lebih erat saat Sehun mulai membubuhi wajahnya dengan kecupan-kecupan kecil. Dia hanya membuka matanya saat dia merasakan gigi Sehun menggigit bibir bawahnya. Dia menatap Sehun, wajahnya terlihat sangat malu.

"Tidakah kau tahu itu tidak sopan untuk melihat orang yang sedang menciummu?" Sehun menyeringai.

"Tidak sopan untuk menggigit orang juga," balas Luhan.

Sehun tertawa. "Kata orang yang menggigit daguku beberapa hari yang lalu."

Luhan memerah akan pengingat Sehun. "Kau tidak akan pernah membiarkannya'kan?"

"Tentu saja tidak. Kau. Menggigit. Daguku."

Luhan mengerang. "Seharusnya aku menggigit lebih dari sekadar dagumu," gumamnya seraya menyembunyikan wajahnya di leher Sehun.

"Apa?"

"Bukan apa-apa."

Sehun tersenyum lalu memberikannya tepukan di punggung. "Ada lagi pertanyaan bodohmu?"

Mereka bukan pertanyaan bodoh! Luhan ingin mengatakannya, tapi karena Luhan puas dengan jawaban Sehun, dia akan membiarkannya.

"Tidak. Aku baik." Dia bergelung lebih dekat pada Sehun, menyukai kehangatan yang menyelimutinya.

Bagi Luhan, Sehun adalah selimut favoritnya.

Ukuran yang pas dan kehangatan yang sempurna.

"Apa kau mau tidur di luar sini malam ini?" tanya Sehun.

Luhan baru mau bertanya pada Sehun apa yang dia maksud saat tiba-tiba dia menyadari mereka berbaring di sofa di ruang tamu.

Dia hampir melupakan alasan mengapa mereka di sana dan bukan di salah satu kamar, ketika dia tiba-tiba mendengar pergerakan dari lorong yang menghubungkan dapur ke ruang tamu.

Dia bangun tiba-tiba, mengejutkan Sehun diprosesnya, dan berjalan menuju pintu masuk.

Hongki dan si presiden memasuki ruangan dan melihat Luhan menatap mereka, mereka saling pandang satu sama lain. Tak satu pun tahu apa yang mau dikatakan.

"Uhh.. Luhan. Apa kau menunggu di sini sepanjang waktu?" tanya Hongki sambil menggosok belakang lehernya di waktu yang sama.

Luhan mempelajari wajahnya. Hongki tidak mempunyai jejak air mata di pipinya, jadi itu berarti dia tidak menangis –yang mana bagus. Jika dia tidak menangis berarti dia tidak menolaknya. Luhan juga menyadari rona tipis di kedua pipi mereka, yang mana berarti mereka antara malu karena Luhan mengamati mereka atau dari –

"Ya. Sekarang bisakah kau memberitahunya apa yang terjadi karena pikirannya mungkin berputar-putar tidak jelas sekarang," kata Sehun seraya bangun dari tempatnya di sofa dan berdiri di samping Luhan.

Mereka melirik satu sama lain sekali lagi sebelum presiden berdeham. "Ahem. Luhan, Sehun, ini sudah larut, kalian berdua seharusnya tidur." Dia menoleh ke arah Hongki. "Kau juga."

Hongki tersenyum lebar. "Ya!" Dia memberinya sebuah hormat. Ia tertawa akan itu sedangkan Luhan terus menatap mereka, pikirannya masih mencoba untuk mencari tahu apa yang terjadi di dapur. Sehun tidak tertarik.

"Aku duluan. Pastikan kalian beristirahat banyak. Kita akan pulang lebih awal besok." Ia berjalan menuju tangga, tapi sebelum ia menaiki tangga pertama, ia berbalik dan melihat ke arah mereka (khususnya Hongki). "Malam."

Hongki tersenyum. "Malam."

Sesaat setelah ia menaiki tangga, dan Luhan bisa mendengar pintu dari kamar anak perempuan tertutup, dia cepat-cepat ke sisi Hongki.

"Beritahu aku semuanya."

Hongki, yang masih menatap ke tangga, mengambil napas. "Aku memberitahunya bagaimana perasaanku."

"Dan?"

"Dan dia mendengarkan. Itu sulit dan aku mungkin terdengar seperti orang idiot, tapi dia mendengarkan semuanya –bahkan ketika aku berbicara tidak jelas soal pertama kali kita bertemu dan bagaimana aku mengagumi kebaikannya dan bagaimana –"

"Yeah yeah. Apa kau mengajaknya berkencan? Apa yang dia katakan? Apa dia memberimu kesempatan?" Luhan kenyataannya melompat naik-turun penuh antisipasi.

Hongki, bagaimana pun, tidak menyadarinya. Dia masih menatap anak tangga, terlalu terpesona.

"Bisakah kau memberitahunya? Aku tidak mau dia sesemangat ini sebelum pergi tidur." Sehun akhirnya bersuara, menyadarkan Hongki dari lamunannya.

Dia menoleh ke arah Luhan. "Dia bilang dia tidak siap untuk sebuah hubungan. Dia bilang sesuatu soal mencoba merelakan masa lalu."

Luhan mengangguk, sadar yang ia maksudkan adalah perasaannya pada Sehun.

"Tapi dia ingin mengenalku lebih baik, jadi kami akan melakukannya. Kami akan menghabiskan waktu lebih bersama. Kuharap, dia akan menyadari bagaimana tulusnya aku dan mungkin kita akan menjadi hal lebih..." Dia tersenyum pada Luhan. "Dia juga membuatkanku teh."

Luhan tersenyum kembali. "Aku sangat bangga padamu. Lihat? Itu tidak terlalu sulit. Sekarang yang perlu kau lakukan adalah menunjukan padanya betapa besar keinginanmu untuk bersamanya, dan aku yakin semuanya akan bekerja. Dia akan jatuh cinta padamu! Dan saat kalian kencan, kalian bisa membuatkan teh untuk satu sama lain!"

Hongki tertawa. "Apa kekasihmu selalu begitu antusias, Sehun?"

"Kau tidak tahu setengahnya." Sehun melipat lengannya di depan dadanya, tersenyum lebar pada kerutan imut yang muncul di wajah Luhan.

"Yah, aku akan tidur sekarang. Tiba-tiba merasa pusing atas semua yang sudah terjadi. Malam semuanya."

Saat Hongki pergi, Luhan berbalik pada Sehun. "Bukankah ini bagus?! Mereka bisa menjadi pasangan!"

Sehun menaikan satu alisnya. "Sejak kapan kau menjadi sangat tertarik pada kisah cinta ketua klub kita?"

"Sejak beberapa jam yang lalu."

Sehun menggelengkan kepalanya. "Kenapa aku repot-repot bertanya?"

Luhan tertawa sebelum memeluk Sehun. "Yeah, kenapa kau bahkan bertanya?" Dia menanamkan kecupan lembut di bibir Sehun dan tersenyum.

Sehun menempelkan dahinya pada dahi Luhan. "Bisa kita tidur sekarang?"

Luhan menangguk. "Ya –setelah aku menyelesaikan makanan kecilku."

"Daging barbeque pada tengah malam bukan termasuk 'makanan kecil'."

"Oke baik. Apa ada kue yang tersisa? Aku tidak berkesempatan untuk makan satu pun." Luhan memberikan Sehun cibiran bibir yang dia tahu Sehun tak bisa menolaknya.

"Makan kue di malam hari tidak lebih baik dari makan daging. Kau tidak mau menjadi –"

"Jika kata 'gendut' keluar dari mulutmu, aku akan menendang tulang keringmu."

Sehun melangkah menjauh darinya. "Kenapa di tulang kering?"

"Karena itu tidak terlalu serius bagiku untuk menendangmu di mana kau tahu itu akan sangat menyakitkan. Lagi pula, jika aku menendangmu di sana –"

"Kita berdua akan menderita."

Sehun menyeringai, puas dengan kenyataan komentarnya membuat Luhan berubah menjadi merah.

"Bukan itu yang ingin aku katakan!"

"Terserah. Ayo ambil kuemu sebelum kau mulai menggigitku."

"Heii!"

Malam terakhir perjalanan mereka dihabiskan dengan Sehun menonton Luhan menghabiskan potongan terakhir kuenya, dan Luhan mencoba untuk menyakinkan Sehun untuk membiarkannya melepas beberapa plesternya.

Pagi berikutnya, saat semua orang mencoba menghilangkan sisa mabuknya, Luhan dan Sehun masih tertidur. Dengan Luhan yang dengan imutnya berbaring di sisi Sehun, tak seorang pun mempunyai hati untuk membangunkannya. Hanya ketika mereka selesai membuat makan pagi mereka melakukan "Batu, Gunting, Kertas" untuk memutuskan orang yang akan melakukan tugas kurang beruntung membangunkan mereka berdua.

"Jika aku tidak keluar hidup-hidup, maukah kau berjanji untuk memberitahu semua yang di universitas pengorbanan muliaku?" Hongki meminta seraya mencengkram tangan si presiden.

Ia tertawa. "Kau dramatis lagi. Lakukan saja!" Dia mendorongnya masuk ke kamar, seketika menutup pintunya.

Menatap pasangan itu di lantai, Hongki menelan air liur. Membuat langkah ragu menuju sosok itu, Hongki berhenti saat dirinya sangat dekat dengan Sehun, yang bahkan ditidurnya terlihat sangat menakutkan. Luhan, di lain sisi, tidur seperti bayi –kelopak matanya berdenyut, mulutnya sedikit terbuka, tangannya menggenggam baju Sehun.

"Aku harus membangunkan yang terlihat lebih baik."

Hongki berjalan menuju sisi Luhan dan baru akan meletakan tangannya pada bahu anak itu ketika Sehun (dengan mata yang masih tertutup) menggertak, "Berani menyentuhnya dan kau mati."

Hongki bersumpah pada siapa pun yang bertanya, untuk pertama kali dalam hidupnya, dia ketakutan sampai dititik dia hampir kencing di celana.

"Uhh. S-sa-sarapan sudah s-siap," dia tergagap, tangannya menempel di sampingnya. "Tolong j-jangan s-sakiti aku."

Menghiraukan komentar terakhir Hongki, Sehun menarik Luhan lebih dekat dan meletakan dagunya di atas rambut berantakan kekasihnya. "Kami akan makan di van."

"B-baiklah. A-ambil waktumu." Hongki dengan cepat mundur dan saat dia keluar, yang lain menahannya sebelum lututnya jatuh ke lantai. "Aku tidak mau melakukannya lagi!"

Saat Luhan terbangun, semua orang sudah berberes dan membawa barang-barang mereka ke van yang menunggu di luar.

"Apa aku bangun kesiangan?" Luhan bertanya pada Sehun, yang sibuk membereskan barang mereka berdua ke dalam tas.

"Tidak. Mereka yang bangun terlalu pagi."

Luhan membuat "O" dengan mulutnya dan dengan mata separuh terpejam, dia melingkarkan lengannya di sekitar pinggang Sehun, memeluknya dari belakang. "Ini perjalanan yang mengesankan."

"Yeah."

Saat pintunya di buka dan Hongki muncul di sisi satunya, Luhan menyadari bagaimana dia menjauhkan diri saat melihat mereka. Apa sesuatu terjadi saat aku tidur?

"Pagi Hongki," sapa Luhan dengan suara yang bersemangat, mencatat bagaimana wajah Hongki mengendur saat mereka bertatapan. Itu terlihat seperti dia menghindari mata Sehun.

"Pagi. Presiden menyuruhku untuk memberitahu kalian kita akan pergi jam sepuluh, jadi uh bersiap-siaplah." Dia dengan cepat meninggalkan kamar itu, tak mengatakan apa pun pada Sehun.

"Apa terjadi sesuatu?" Luhan bertanya pada Sehun saat mereka berdua duduk di belakang van.

Sehun memberikannya roti isi dan sebotol jus jeruk. "Seperti apa?"

"Seperti kenapa hanya kita berdua yang memakan sarapan di mobil? Dan kenapa Hongki menghindarimu?"

"Sudah kukatakan –mereka bangun lebih awal, jadi mereka sudah sarapan sebelum kita. Dan Hongki tidak menghindariku."

Luhan tidak mengatakan apa-apa lagi setelahnya. Dia dengan senang memakan roti isinya, berpura-pura tidak mendengar keluhan Sehun soal dirinya yang menjatuhkan remah-remah di mana-mana. Hmph. Dia tidak seharusnya memberikanku roti isi jika dia tidak mau remah-remah di mana-mana.

Saat Sehun membuka kunci pintu rumah mereka, Luhan mendorong melewatinya dan berlari masuk, menjatuhkan tasnya seketika.

Dia berteriak, "KAMI PULANG," tidak terlalu memikirkan bahwa itu adalah Minggu pagi.

Sehun mendengus dari belakangnya. "Belum ada yang bangun, Bambi. Simpan napasmu."

Lalu setelah itu langkah kaki berisik bisa terdengar datang dari tangga –langkah kaki yang tak lain milik teman satu rumah mereka yang selalu tersenyum lebar, Chanyeol.

Saat matanya mendarat pada Luhan dan Sehun, Chanyeol menghentikan larinya.

"Ya, hyung. Kami sudah pulang," kata Sehun sebelum menutup pintu di belakangnya.

Chanyeol tersenyum sebelum berlari mendekat untuk mengangkat mereka berdua dari kakinya.

Luhan mengeluarkan sebuah "Wooaaaah."

Sehun mengerang. "Hyung, turunkan kami."

Chanyeol menggelengkan kepalanya dan mengguncang mereka sedikit, membuat Luhan tertawa dan Sehun mengharapkan perjalanan mereka sedikit lebih panjang.

Laki-laki yang lebih tinggi tersenyum lebar sebelum berteriak dengan senang, "HUNHAN KEMBALI!"


fantasy_seoul: OH MY GAWD. FLUFFNYA. AKU TAK TAHAN. Lol. Kuharap ini bagian yang menyenangkan untuk kalian semua. Komentar benang merah Sehun tertuju untuk ICCL :) dan yay Hongki mendapatkan sebuah kesempatan! Semuanya baik-baik saja! Bagian favorit –Lulu memperingatkan Sehun untuk tidak mengatakan kata gendut, Sehun mengatakan mereka berdua akan menderita jika Lulu menendangnya di bawah sana (LOL apa yang dia maksud dengan itu? Wink wink) dan Sehun mengancam Hongki. Lol. Dia sangat serius. Juga Chanyeol menjadi senang tentang kepulangan Hunhan! Apa bagian favoritmu?

Karakter baru akan dikenalkan sedikit di bagian depan. Akan ada lebih banyak Baekyeol dan Sulay di bagian yang akan datang karena aku rindu menulis tentang mereka dan karena Hunhan kembali ke rumah, akan masuk akal jika akan ada lebih banyak interaksi di antara semua pasangan. Sudah cukup soal presiden dan Hongki, lebih banyak anak EXOkan? Aku berharap untuk menuliskan tentang mereka lagi!

Karena Natal akan datang sebentar lagi, aku akan mencoba sebisanya membuat bagian Natal sebelumnya. Mungkin bisa dua update dari sekarang. Aku bersemangat untuk itu. FLUFF NATAL! Terima kasih sudah membaca semuanya :D

Z.J: JIAN KEMBALI! 3 days straight update! PRAISE MY SOUL! Mau dong yah, satu pacar romantis kaya Sehun (untuk yang kesekian kali)... Ancaman Sehun ke Hongki itu apa banget. Lol. Berakhir sudah masalah Luhan dengan presiden, dan apalah Lulu sayang ga ada yang butuh teriak-teriak semangat waktu nembak kaya gitu, makin gugup sampai rasanya mau mati iya... Dan Sehun itu benar, kalau dia sampai ketendang di bagian bawah sana, bukan cuma Sehun yang bakal menderita, hohoho~~~ Chapter depan bakal ketemu lagi sama Baekyeol yang heboh dan lebih banyak FLUFF!