HAllooO!

Maaf karena lama! AKu harus berpikir untuk chapter ini dengan penuh hati-hati *Menunduk

Jadi, kuucapkan terima kasih pada para followers, dan yang memfavoritekan ceritaku serta para reviewers! Untuk Miyaka Himizuka, Hikage Natsuhimiko, femix, Indrikyuu88, Zee Cieliova!

Untuk Zee Cielova : sebenarnya, sebagian dari perkataanmu benar! Cloak-man memang makhluk seperti Kawahira *Upss, spoiler! Tapi identitasnya masih menjadi rahasiaku! hehe :P

dan untuk Miyaka Himizuka, aku memang menghapus sebuah chapter. Chapter 9 yang belum di tulis ulang. Hanya untuk pemberitahuan saja.

OKE! AKU MINTAA MAAF LAGI KARENA MEMAKAN WAKTU LAMA UNTUK CHAPTER INI! KUHARAP KALIAN MEMAAFKAN KU!

JADI, SELAMAT MEMBACA!

Pernyataan: Aku tak memiliki KHR karena Amano Akira yang menabjubkan yang memilikinya.

Perhatian: OOC, waktu update yang tak menentu, typos dan lain sebagainya.

"Jepang."

"Italia."

'Berpikir.'

"Flashback."


Byakuran memandangi peristiwa yang terjadi di depannya dengan senyuman licik. Yah, dia mungkin tak memiliki urusan lagi dengan Vongola (setelah dikalahkan oleh Giotto di 'masa depan' dia memilih untuk jauh-jauh dari Giotto karena merasa harga dirinya terinjak-injak), tapi dia tak akan pernah berkata 'tidak' pada sesuatu yang menarik.

Kikyo yang sendari berdiri di samping bosnya hanya geleng-geleng kepala mengetahui bahwa boss-nya itu memiliki ide yang bukan-bukan dan pastinya akan merepotkan dirinya.

"Byakuran-sama. Apa yang anda rencanakan kali ini?" Kikyo bertanya dengan nada putus asa. Byakuran menoleh dan menunjukkan senyuman rubahnya.

"Bukan sesuatu yang besar, Kikyo~ Ah, bisa kau tolong panggilkan Shouchi~?" Byakuran bertanya pada tangan kanannya. Kikyo menatap Byakuran dengan wajah kosong, mengetahui bahwa boss-nya itu telah merencanakan sesuatu.

"Untuk apa, Byakuran-sama?" Kikyo berkata lagi dengan tak yakin.

"Aku harus melakukan sesuatu, Kikyo~" Byakuran berkata dengan suara santai tetapi memiliki ancaman di dalamnya. Kikyo menghela nafas melihat sikap boss-nya. Ia menunduk sedikit sebelum berbalik pergi untuk melakukan perintah bossnya.


Hening.

Hayato menatap sahabatnya dengan mata membesar. Ryohei membeku di tengah aktivitasnya, tinju terhenti di udara. Takeshi menatap Tsuna dengan wajah speechless. Mukuro dan Kyoya hanya menatapnya dengan pandangan kosong. Sedangkan Chrome menatapnya dengan wajah tanpa eskpesi.

Tsuna di lain tempat, hanya terdiam di tempatnya dengan perasaan gugup yang mulai menyelimutinya.

"Kenapa kau menceritakannya pada kami, Tsuna?" Hayato akhirnya berbicara setelah keheningan yang panjang. Tsuna menundukkan kepalanya.

"Karena... aku telah memilih kalian menjadi guardianku." Tsuna berkata pelan. Meskipun begitu, mereka bisa mendengarnya.

"Guardian? Apa maksudmu dengan guardian, Tsuna?" Takeshi betanya dengan bingung. Tsuna menggigit bibir bawahnya. Dengan pelan ia mengangkat wajahnya dan menatap setiap orang yang ada di depannya dengan serius.

"Aku... bukanlah penjaga yang sebenarnya dari tri-ni-sette. Seorang wanita bernama Sephira dan seseorang bernama Kawahira yang menjaga dan mengawasi ketiga set ini selama beratus-ratus tahun. Tetapi, beberapa hari yang lalu, mereka mengangkatku untuk menjadi salah satu dari mereka, menjadi seorang pengawas." Tsuna menjelaskan. Ia menatap Hayato.

"Apa kau ingat ketika kau menyelamatkanku di Italy, Hayato?" Tsuna bertanya. Hayato mengangguk pelan. Tanpa disadari oleh Tsuna, Kyoya, dan Yamamoto menyipitkan mata mereka dengan curiga.

"Mansion itu sebenarnya milik Sephira-san. Sephira-san dan Kawahira-san... mereka menculikku dan membawaku ke Italy *aura gelap muncul tiba-tiba* Di sana, Sephira-san menjelaskan segala sesuatu mengenai tri-ni-sette padaku." Tsuna berkata lagi. Tiba-tiba saja suaranya tercekat ketika ia mengingat alasan Sephira menjadikannya seorang pengawas.

"Sephira-san berkata bahwa aku memiliki tiga alasan mengapa aku dipilih menjadi pengawas." Tsuna menelan ludahnya dengan susah payah. "Tapi dia memang berkata padaku untuk mencari guardian, meskipun ia tak mengatakan apapun lagi setelah itu karena Cloak-man menyerang tempat itu. Kami berdua sibuk melarikan diri dari genggamannya." Tsuna menghela nafas.

"Jadi... maaf, aku tak begitu mengerti dengan konsep ini juga. Karena itu aku juga tak begitu tahu tentang guardian ini." Tsuna berkata dengan pelan.

"Tunggu, bagaimana kau bisa tahu bahwa kami adalah guardian-mu yang extreme?" Ryohei berkata dengan bingung. Tsuna menggaruk pipinya yang tak gatal dengan ragu-ragu seraya tersenyum dengan malu-malu.

"... Sebenarnya, bukan aku yang memilih kalian secara langsung. Luce yang memilih kalian." Tsuna berkata pelan. Sebuah ingatan tentang suara-suara aneh yang menganggu mereka muncul di pikiran mereka.

Tsuna membuat suara dan membuat seluruh perhatiaannya kembali padanya. Wajahnya tiba-tiba berubah serius dan matanya berubah menjadi orange dengan api berkibar di belakangnya. Hayato, Takeshi, Lambo, Kyoya, Mukuro dan Chrome melebarkan mata mereka dengan kaget atas perubahan yang tiba-tiba itu.

"Kalau bisa, aku sama sekali tak ingin melibatkan kalian. Ini terlalu berbahaya." Tsuna berkata dengan serius, membisikkan keinginannya.

"Aku... aku senang bisa berteman dengan Hayato, bagaimanapun dia telah menyelamatkanku dan merupakan teman pertamaku, sahabatku. Dia adalah seseorang yang berharga untukku. Yamamoto-san adalah orang yang kukagumi. Dia selalu berusaha keras dan tersenyum walaupun sebenarnya hatinya berkata lain. Aku mengagumi sikapnya itu." Mata Tsuna melirik ke arah Hayato dan Takeshi.

"Hibari-san bagaimanapun sangat kuat dan aku tahu itu. Dia... menurutku adalah seseorang yang patut dihormati dan tak bisa dikekang. Hal ini hanya akan membuatnya terkekang. Rokudo-san dan Chrome-san, aku tak ingin melibatkan kalian juga. Chrome-san baru saja mengalami kecelakaan dan aku tak ingin di terluka. Rokudo-san... aku ingin dia menemukan kebahagiannya." Tsuna berkata pelan seraya menatap penuh arti ke Mukuro yang memicingkan matanya dengan curiga. Ingatan Tsuna kembali di mana Luce memberitahunya tentang masa lalu Mukuro.

"Begitu juga dengan Onii-san, dan Lambo. Aku tak ingin melibatkan kalian berdua. Lambo masih terlalu kecil untuk ini, dan... aku tak ingin melibatkan Onii-chan karena aku tak ingin membuat Kyoko khawatir dan melihat Onii-chan terluka." Tsuna bergumam, tapi suaranya cukup keras untuk didengar oleh yang lain.

"Tapi, Luce berkata bahwa aku harus segera mencari para guardianku. Dia yang memilih kalian semua." Tsuna mengambil jeda.

"Ia berkata bahwa para guardianku akan memberikanku tanda-tanda mereka, dan kalian-sebagian dari kalian-telah menunjukkanku tanda-tanda itu, yah... walaupun tanpa kalian sadari. Maafkan aku karena melibatkan kalian."

Suasana kembali hening. Tak ada yang berbicara setelah Tsuna mengucapkan pikirannya. Pikiran mereka kembali ke salah satu peristiwa aneh yang terjadi pada hari itu. Ketika sebagian dari mereka mengatakan hal tak masuk akal pada Tsuna secara tiba-tiba. Tsuna sendiri menolak untuk memandang para calon-guardiannya dan memilih untuk menunduk dan memandangi lantai dengan perasaan bergejolak di mata merek.

"Tsuna, kau tahu ini bukan salahmu." Hayato berkata dengan pelan. Tsuna mendongak seraya menatap Hayato dengan wajah kaget. Hayato tersenyum pelan ke arahnya, penuh dengan resolusi dan keyakinan.

"Kau temanku-bukan-sahabatku, Tsuna. Aku tak akan marah hanya karena kau telah melibatkanku pada sesuatu hal yang berbahaya. Aku senang karena kau mau memasukkanku dalam masalahmu, itu berarti kau telah mempercayaiku. Selain itu, hidupku sudah berbahaya sejak dulu." Hayato berkata seraya mengalihkan pandangannya dari Tsuna. Ia kembali menatap Tsuna ketika mengucapkan kalimat selanjutnya.

"Kita kesampingkan itu, aku akan membantumu dan melindungimu Tsuna. Dari rumor, em, yang kudapatkan, Cloak-man merupakan orang yang berbahaya. Aku tak bisa membiarkanmu sendirian ketika kau sedang berhadapan dengan seseorang sepertinya." Hayato berkata dengan serius dan penuh keyakinan.

"Maa, apa yang dikatakannya benar." Takeshi tiba-tiba menyeletuk. Tsuna menatapnya.

"Aku sendiri yang memilih untuk menjadi guardianmu. Kau sendiri yang bilang bahwa kami yang memberikan tanda-tanda itu kepadamu kan? Jadi kau tak perlu merasa bersalah. Dan aku juga ingin membalas budi padamu. Kau tahu, setelah menyelamatkanku dan menyadarkanku. Apa yang kau lakukan hari itu benar-benar membantuku." Takeshi berkata dengan seringai khasnya.

"Tsuna-nii." Lambo merengek. Tsuna kembali mengalihkan pandangannya.

"Lambo-sama ingin selalu bersama Tsuna-nii. Jadi Lambo-sama akan mengikuti Tsuna-nii kemanapun Tsuna-nii berada."

"Kufufu, Aku tak akan membiarkanmu berpikiran bahwa kau melibatkanku dan Chrome tersayangku, Tsunayoshi-kun." Mukuro terkekeh. "Aku melibatkankan diriku sendiri karena aku sedang bosan. Kau tak bisa mengatakan tidak pada sesuatu yang menarik, kan~?"

"Aku setuju dengan Mukuro-nii, Tsuna-san." Chrome berbicara dengan malu-malu tapi penuh dengan keyakinan.

"Aku akan dengan sangat extreme mengikuti orang extreme sepertimu!" Ryohei berseru dengan penuh semangat. Setiap orang meringis mendengar volume suaranya.

"Hn, Aku harus menjaga ketenangan Namimori." Kyoya berkata dengan cuek.

Tsuna memandang pemandangan di depannya dengan speechless. Ia tak bisa berkata apa-apa. Ia menatap mereka sementara perasaan senang dan hangat mulai membanjiri hatinya. Dengan pelan, sebuah senyuman mengembang di bibirnya *cough* dengan bunga-bunga bermekaran dan kelinci mengelilingi *cough*.

Seluruh manusia yang hadir menatap Tsuna dengan ekspresi mereka sendiri-sendiri.

'Kawaii.'

Tsuna tersenyum seraya menatap mereka satu persatu.

"Terima kasih, Minna."


Asari dan Tsuyoshi sedang berbincang-bincang untuk saling memenuhi kenangan mereka satu sama lain ketika pintu Takesushi terbuka. Mereka berdua menoleh secara bersamaan dan tersenyum ketika melihat Takeshi berjalan masuk dengan melamun.

"Ah, Takeshi! Kau sudah pulang!" Asari menyapa dengan senang seraya berdiri dari tempatnya dan berjalan menghampiri Takeshi. Takeshi tersadar dari lamunannya dan mendongak untuk melihat siapa yang menyapanya. Senyuman menghiasi wajahnya ketika ia melihat kakak angkat kesayangannya itu.

"Asari-nii!" Ia berseru dengan gembira. Mereka saling berpelukan sementara Tsuyoshi memperhatikan dari jauh.

"Apa yang kau lakukan di sini, Asari-nii?" Takeshi bertanya. Asari menyeringai.

"Temanku sedang mengunjungi keluarganya di sini. Sekalian saja aku mengunjungi kalian." Asari berkata. Takeshi tersenyum senang selama beberapa saat sebelum wajahnya berubah serius. Asari dan Tsuyoshi yang menyadari perubahan ini menatap Takeshi dengan bingung.

"Ada apa, Takeshi?" Tsuyoshi bertanya. Takeshi menatap kedua orang yang ada di hadapannya sebelum menatap mereka dengan serius dan penuh resolusi.

"Oyaji, Asari-nii, aku punya permintaan." Takeshi berkata. Asari dan Tsuyoshi saling berpandangan sebelum mereka akhirnya mengangguk.

"Apa permintaanmu, Takeshi?" Tsuyoshi bertanya. Takeshi menunduk.

"Tolong ajarkan aku teknik berpedang!"


"Hn, Herbivore." Kyoya menyapa kakaknya yang sedang bersantai di ruang tamu. Orang yang sedang ditanya hanya menatap Kyoya tanpa ekspresi seraya menaikkan salah satu alisnya. Mereka berdua saling bertatapan selama beberapa sebelum Kyoya mengeluarkan dua buah tonfanya dan menyerang kakaknya. Alaude berhasil menghindar dengan lancar. Borgol berputar di tangannya.

"Apa maksudnya ini, Kyoya?" Alaude bertanya dengan tenang. Kyoya mengacungkan kedua tonfanya lagi ke depan dan menatap Alaude dengan resouli dan haus darah.

"Bertarunglah denganku."


Ryohei menghentikan langkahnya tepat ketika dia berada beberapa langkah dari rumahnya. Ia menatap sebuah figur lelaki yang berdiri di depan rumahnya seraya memandangi rumahnya dengan matanya yang hitam. Rambutnya yang bewarna hitam pula, masih sama seperti bagaimana Ryohei terakhir kali mengingatnya. Ia juga masih memiliki plester di hidungnya. Hanya saja, ia memakai pakaian postur, berbeda dengan bagaimana ia meninggalkan rumahnya beberapa tahun yang lalu. Walaupun Ryohei terlihat bodoh, tapi ia bisa langsung tahu bahwa sesuatu telah terjadi selama petualangan yang dilakukan kakaknya.

"Aniki!" Ryohei berteriak dengan kencang. Sosok itu menolehkan kepalanya dan memberikan salah satu sengiran yang Ryohei rindukan selama ini. Ryohei berlari kecil menghampiri kakaknya itu.

"Apa yang kau lakukan secara extreme di sini, Aniki? Kenapa kau tak masuk saja?" Ryohei bertanya. Knuckle menatap Ryohei selama beberapa saat sebelum akhirnya tersenyum. Ia mengelus kepala Ryohei dengan penuh kasih sayang.

"Kau sudah tumbuh dengan extreme Ryohei! Ayo masuk! Kau harus menceritakan seluruh petualanganmu yang extreme!"


"Tsuna, kau belum menceritakan seluruhnya pada kami semua kan?" Hayato bertanya akhirnya, setelah perjalanan mereka menuju ke rumah Tsuna dipenuhi keheningan. Rengekan Lambo di sepanjang jalan tak dihitung. Tsuna meringis ketika mendengar perkataan Hayato. Siapa sangka bahwa sahabatnya itu sangat tajam.

"Y-yah, aku tak tahu aku harus mulai dari mana, Hayato. Tapi aku akan menceritakannya padamu." Tsuna berkata lagi. "Tapi untuk saat ini informasi yang kuberikan cukup sampai itu dulu."

Hayato menghela nafas mendengar perkataan sahabatnya. "Aku bisa membantumu."

Tsuna tak menjawab seraya berpikir tentang sesuatu.

"Besok, Hayato. Aku punya perasaan bahwa malam ini bukanlah waktu yang tepat." Tsuna berkata akhirnya. Hayato mengangguk puas dengan jawaban Tsuna.

"Tsuna-nii, kapan kita pulang? Aku lapar~!" Lambo merengek. Hayato melotot ke arahnya.

"Tch, bisakah kau tak menyusahkan Tsuna! Dasar Ahoushi!"

"Week! Aku tak mendengarkan Baka-dera!" Lambo merengek lagi. Hayato bisa merasakan parameter kesabarannya telah melebihi batasnya. Meskipun, sebelum sempat ia meneriakkan pikirannya, Tsuna sudah menghentikan mereka terlebih dahulu.

"Lambo, hentikan itu. Dan Hayato, Selamat datang di rumahku." Tsuna berkata seraya mereka berhenti di depan sebuah rumah sederhana. Di pagar depan rumah itu, nama 'Sawada' terukir rapi di sebuah name plate. Mereka bertiga berjalan masuk menuju ke pekarangan dan menuju ke pintu. Hayato berhenti dengan tiba-tiba ketika mengingat bahwa ia belum memberikan alasan mengapa ia ada di Jepang.

"Ah, Tsuna. Aku lupa memberitahumu ala-!"

"Kau tak perlu memberitahukannya padaku, Hayato." Tsuna memotong dengan suara yang datar dan wajah tanpa ekspresi. Ia menoleh ke Hayato seraya mereka bertiga berjalan memasuki rumah dan melepaskan sepatu mereka. "Karena aku sudah tahu alasanmu apa."

Bagaikan sebuah isyarat, sesosok lelaki pirang dengan rambut berdiri berjalan keluar dari ruang keluarga dengan cepat. Detik selanjutnya, lelaki itu telah membawa Tsuna ke dalam pelukannya yang erat.

"Tsu-kun! Kau membuatku khawatir!" Giotto berteriak dengan kelegaan yang terpancar dari suaranya. Tsuna yang menyadari itu hendak menanyakan apa maksud dari perkataannya ketika ia merasakan udara di rampas darinya.

Di lain tempat, Hayato membeku di tempatnya dengan mata terbelalak melihat seorang boss Vongola, The Decimo, memeluk temannya dengan erat.

"Giotto, kau akan membunuhnya." sebuah suara berkata dengan blank. Giotto, Tsuna dan Hayato mengalihkan perhatian mereka ke sosok yang muncul dari balik ruang tamu. Sosok itu berambut merah dengan tattoo di wajahnya dan ekspresi kosong menghiasi wajahnya. Hayato terbelalak kaget. Sosok yang berambut merah-dikenal dengan G-itu menghela nafas panjang sementara memperhatikan Giotto melepaskan pelukannya.

"He he, sorry."

Tsuna menghela nafas lega. Diam-diam ia melirik Hayato yang masih saja berdiri dengan wajah bengong dan kekagetan terlihat di wajahnya. Diam-diam Tsuna ingin tertawa melihat wajah sahabatnya yang lucu itu.

Ketika Tsuna hendak membuat keberadaan Hayato terlihat oleh kedua orang di depannya, saat itulah G akhirnya menoleh untuk menatap Hayato. Mata G membesar karena kaget. Giotto mengikuti pandangan G dan juga membesarkan matanya karena kaget juga.

Keheningan yang canggung pun menyelimuti mereka.


"Tsu-kun! Mou, kau tak bilang kau akan membawa temanmu bersamamu!" Nana berkata dengan senyuman lebar di bibirnya. Tsuna hanya tersenyum dengan malu seraya melirik ke arah kakaknya dan G yang duduk di seberang mereka, masih dengan mata penuh kebingungan dan juga Hayato yang duduk di sampingnya dengan kesadaran yang telah menyerap di otaknya. Tak lupa juga Lambo yang sudah dengan lahap memakan makanannya di samping Hayato.

"Hayato, aku memang bilang padamu bahwa kau harus menyusulku nanti ke rumah Giotto, tapi bagaimana kau bisa bersama dengan Tsuna?" G akhirnya bertanya, memecah keheningan yang menyelimuti meja makan, sementara Nana masih memasak di dapur dengan bergumam. Wajah Hayato menunjukkan kepanikan ketika ia belum memikirkan alasan mengapa ia bersama dengan Tsuna. Well, sejak awal ia tak tahu bahwa Tsuna merupakan adik Vongola Decimo, Giotto a.k.a Ieyasu Sawada, dan bahwa kakaknya ada di rumah Tsuna. Perkataan Tsuna di pintu depan muncul di kepalanya.

"Hayato adalah sahabatku." Tsuna berkata dengan cepat. Perhatian teralihkan kepadanya.

"Hayato dan aku saling bertukar email. Kami menjadi sahabat. Aku langsung tahu bahwa Hayato adalah adik G-san ketika ia menyebut namanya. Waktu aku pergi mencari Lambo, aku bertemu dengan Hayato, tapi aku tak pernah bilang padanya bahwa aku adalah adik Gio-nii dan bahwa kakakknya ada di rumahku." Tsuna menjelaskan denga suara yang dinodai dengan kesenangan. Hayato menatap Tsuna dengan mata menyipit, mengetahui bahwa Tsuna baru saja menjahilinya dan berpikir kenapa Tsuna berbohong pada kakaknya.

"Kau tak pernah menceritakannya padaku, Hayato?" G berkata seraya menaikkan alisnya.

"Aku memang tak pernah membicarakannya dengan siapa pun." Hayato menghela nafas mengikuti kebohongan Tsuna. Pandangannya teralihkan ketika ia mendapati Giotto memandangi Tsuna dengan mata menyipit. Tsuna di lain tempat, menyadari tatapan Giotto hanya diam.

Makan malam mereka berjalan dengan santai dan penuh dengan percakapan. Nana menyambut dengan baik kedatangan Hayato begitu pula dengan G. Makan malam mereka juga diringi dengan rengekan Lambo dan pertengkarannya dengan Hayato yang membuat seluruh orang tertawa.

"Hayato," Tsuna berkata pelan seraya memanggil sahabatnya itu. Hayato mendongak dari membereskan piringnya untuk menatap Tsuna dan menemukan wajah serius Tsuna. Hayato segera mempercepat kerjanya.

"Nana-san, saya sudah selesai." Hayato berkata dengan pelan.

"Oh~ Panggil saja aku Mama!" Nana berkata dengan bahagia. Hayato merasakan wajahnya memanas. Ia mengangguk dengan pelan.

"Mama, aku akan naik dengan Hayato. Aku ingin berbicara banyak hal dengannya." Tsuna berkata. Nana hanya mengangguk. Setelah mengucapkan selamat malam kepada Giotto dan G, mereka berdua segera naik ke kamar mereka. Tak menyadari sosok kecil lain yang mengikuti mereka dari belakang.

Hayato memasuki kamar Tsuna dan langsung merasakan atmosfer yang serius yang menimpanya. Tsuna membimbingnya untuk duduk di depan sebuah meja kecil dengan Tsuna di seberang. Ia menghela nafas dan menatap hanya yang kembali bersinar orange.

"Pertama, aku ingin kau tak menceritakan ini kepada kakakmu, Hayato." Tsuna berkata dengan tegas. Hayato mengerutkan dahinya dengan bingung.

"Kenapa, bukannya mereka bisa membantumu?" Tsuna menggeleng.

"Aku punya alasan Hayato. Ketika Sephira-san memberitahuku tentang ini, dia juga memberi tahuku bahwa kakakku, dan kakakmu, begitu pula dengan seluurh guardian kakakku merupakan reinkarnasi dari Vongola Generasi Pertama." Tsuna menjelaskan. Ada keheningan setelah itu sebelum Hayato berdiri dengan tiba-tiba. Tangannya yang gemetar menunjuk Tsuna sebelum mengarah ke pintu.

"Ka-kakakku, G adalah reinkarnasi dari Vongola Generasi Pertama?" Hayato bertanya dengan tak percaya dengan berbisik tertahan. Tsuna mengangguk dengan meringis melihat ekspresi wajah Giotto. Ia memperhatikan Hayato yang kemali duduk di tempatnya dengan wajah yang anehnya kosong.

"Entah mengapa setelah seluruh informasi yang kau berikan Tsuna, aku tak terlalu kaget lagi." Hayato menghela nafas. Tsuna punya keinginan untuk terkikik melihat tingkah temannya itu.

"Well, sebenarnya aku sudah punya dugaan seperti itu karena nama mereka yang sama dan wajah mereka yang juga sama." Hayato berkata pelan. Tsuna tersenyum.

"Karena itu aku ingin kau merahasiakannya dari mereka. 400 tahun yang lalu, Cloak-man sudah pernah muncul satu kali untuk mewujudkan apapun tujuannya. Meskipun begitu, generasi pertama dengan Sephira-san berhasil menyegelnya. Walaupun mereka adalah reinkarnasi dari generasi pertama, tapi ada kemungkinan bahwa mereka tak memiliki ingatan mereka di masa lalu. Selain itu, kita tak bisa membiarkan Reborn mengetahui ini." Tsuna berkata.

"Kenapa?" Hayato berkata dengan bingung.

"Karena Kawahira-san adalah orang yang mengutuknya menjadi salah satu dari Arcobaleno. Aku memiliki firasat bahwa ia menyimpan dendam pada Kawahira-san." Tsuna berkata pelan. Mereka berdua terdiam dengan pikiran masing-masing. Setelah waktu yang serasa selamanya, Hayato pun akhirnya memecah keheningan.

"Tsuna, kau bisa mempercayaiku." Hayato akhirnya berkata. Tsuna mendongak dengan cepat. Ia menunjukkan senyuman mengembang dengan lebar di bibirnya.

"Terima kasih, Hayato." Tsuna berkata. Ia segera berdiri dan merenggangkan tubuhnya dengan cepat.

"Baiklah, kupikir aku harus menyiapkan futon untukmu. Kalau G-san tidur di kamar kakakku, ada kemungkinan kau ak-"

"Kaulah Sang Langit." Tsuna membelalakkan matanya mendengar suara Hayato yang memotong ucapannya, berbicara dalam Bahasa Italia. Ia menoleh dengan cepat seraya menatap Hayato dengan kaget. Wajah Hayato berubah menjadi serius, dan semburat api bewarna merah yang liar mulai mengelilinginya. Tsuna membelalakkan matanya dengan kaget.

'Benar juga, Hayato belum menunjukkan tanda-tandanya padaku!' Tsuna memekik dalam pikirannya.

"Kami adalah elemenmu." Suara lain, yang terdengar lebih kekanak-kanakkan tetapi serius dan penuh keyakinan bersua. Tsuna menolehkan kepalanya ke pintu kamarnya untuk menemukan Lambo berdiri di sana dengan wajah yang tak kalah serius dengan Hayato. Api berwarna hijau mengelilinginya, dengan kilata-kilatan listrik di dalamnya.

"Badai, elemen yang paling menghancurkan dari pada yang lain, sang penghancur, selalu berada di samping sang langit." Hayato berkata kembali.

"Petir, elemen yang paling memikat di antara yang lain, sang penarik perhatian, selalu menarik seluruh bahaya pada dirinya." Lambo berkata. Tsuna bisa mendengar suara badai yang mulai bergemuruh, diiringi dengan suara petir di kejauhan. Suara yang semakin lama semakin terdengar dengan jelas. Badai akan datang.

"Wahai Sang Langit, kami telah berikat resolusi kami padamu." Mereka berdua berkata secara bersamaan.

"Kami akan menjadi guardianmu, dan melindungimu dari bahaya yang mengancammu." Tsuna bisa melihat api di balik mata mereka yang melambangkan elemen api dying will mereka.

"Sang Langit," Mereka mengambil jeda. Hujan mulai turun di luar. Angin kencang menggetarkan jendela kamar Tsuna.

"Langit kami."

Saat itulah petir menyambar diiringi suara badai yang mulai mengamuk.


Fuh, ini benar-benar melelahkan.

Baik! Kuharap kalian menyukainya!

Sampai bertemu di chapter selanjutnya!

Ja Mattane!