You, snow and our january
Boyxboy
Main pair: kaisoo
Rated:M
Typos
Warning!
'tap! tap! Tap!'
Chanyeol dan jongin sama-sama berlari menuju ruangan baekhyun, setelah mendengar teriakan 'tolong' dari sana. Bayi laki-laki itu menangis dalam gendongan seorang perawat, sementara dua lelaki lainnya tidak sadarkan diri.
"kyungsoo! " teriak jongin panik begitu melihat keadaan pria kecilnya. Pria tan itu segera berhambur memeluk tubuh kyungsoo, membiarkan darah yang mengalir dari pelipis pria kecil mengotori kemejanya.
Chanyeol masih berdiri, menatap keadaan kyungsoo yang sudah berada dalam dekapan jongin. Pria tan dan pria tinggi itu bertukar pandang sejenak, sebelum ahirnya chanyeol berjalan menghampiri baekhyun yang juga tak sadarkan diri.
Chanyeol mengangkat tubuh itu, begitu juga jongin yang menggendong kyungsoo. Sekali lagi jongin dan chanyeol bertukar pandang.
", , , tolong jaga cinta pertamaku! " ucap jongin pada chanyeol.
Pria tinggi itu mengangguk, "tolong jaga cinta pertamaku juga! " balasnya pada jongin
"dan , , , adikku! " lanjut chanyeol lalu membaringkan tubuh baekhyun diranjang.
Jongin sedikit tersentak mendengar ucapan chanyeol, tapi mengingat keadaan kyungsoo, maka ia simpan rasa penasarannya dan mementingkan keselamatan pria kecil dalam gendongannya.
.
.
.
.
.
"bayiku! " teriak kyungsoo saat terbangun dari pingsannya.
Jongin segera menghampiri pria kecil itu, sambil membawa bayinya dalam gendongannya.
"gwenchana? " tanya jongin hawatir.
Kyungsoo menstabilkan nafasnya, lalu mengambil alih bayinya. Pria kecil itu berulang kali mencium bayi laki-lakinya, menghirup aroma menyegarkan si mungil.
"apa yang terjadi?" tanya jongin lembut.
Kyungsoo hanya menggeleng.
"ceritalah soo, , , " bujuk jongin
"gwenchana, aku dan baekhyun hanya sedikit salah faham, "
.
.
.
.
.
"kamu mau menyalahkan aku? " ucap baekhyun saat chanyeol terus menatapnya seolah menghakiminya.
Chanyeol menarik nafas, lalu berhambur duduk di tepi ranjang baekhyun.
"bukankah, , , kita punya nasib yang sama? Aku ingin mendapatkan kyungsoo, tapi justru hal lain menghalangiku, kamu mempertahankan kehidupanmu dengan jongin, tapi dia justru mencintai orang lain, — kita punya posisi yang sama, jadi untuk apa aku menyalahkan kamu, tapi baek, , , ku mohon berhentilah! "
"berhenti untuk apa? Aku hanya mencoba memperbaiki kehidupanku yang berantakan, dan semua itu berawal dari kamu, !"
"aku minta maaf, "
"mudah bagimu minta maaf karena kamu tidak diposisiku, aku yang merasakan bagaimana ketika bayi itu menghilang, kamu tidak ada kabar, dan tiba-tiba kamu membuangku! —Aku memang dekat dengan jongin, tapi sekalipun aku tidak pernah berniat menghianatimu, — kamu tidak tau bagaimana tersiksanya aku saat itu, rasanya ingin gila, dan sekarang! Itu terjadi lagi padaku, , , jadi jangan salahkan aku kalau saat ini aku bersikap seperti ini! " jelas baekhyun dengan mata memerah menahan air mata.
Chanyeol terdiam.
"aku belum gila chan, aku masih waras, tapi mereka menempatkan aku disini, jadi apa boleh buat, bukankah aku harus jadi gila!?"
.
.
.
.
.
Saat malam tiba, kyungsoo terus terngiang ucapan baekhyun. Ia sungguh dilema, ia tidak tega membiarkan sahabatnya menderita seperti itu, tetapi dilain sisi, ia juga ingin bahagia. Ia tidak ingin kehilangan bayinya.
Pria kecil itu terus berfikir, sesekali menatap pria tan dan bayi mungil yang tengah pulas disampingnya. Ia masih dilema, terus mempertimbangkan, hingga rasa kantuk mengalahkan semua pemikirannya.
.
.
.
Ketika jongin bangun, dua pria mungilnya sudah tidak ada. Pria tan itu segera bangkit dan membersihkan diri.
Tepat setelah ia sarapan, ia menerima sebuah pesan dari pria kecilnya.
.
.
.
Jongin memasuki sebuah gereja yang dulu menjadi saksi bisu pernikahannya dengan kyungsoo. Di dalam, rupanya sudah menunggu pria kecilnya dan juga jagoan kecilnya. Jongin tersenyum, berhambur duduk disamping keduanya.
" ada apa pagi-pagi kesini? " tanya jongin lembut, lalu mengambil bayinya dari pangkuan kyungsoo. Memberinya kecupan sayang.
"jongin, , , kamu ingat tempat ini kan? "
Jongin menatap kyungsoo, mengangguk lembut.
"hari itu, disini kita menikah, bahkan kita baru mengenal —jujur saat aku mengucapkan janji, aku begitu takut, aku tidak tau, apakah keputusan yang kuambil benar, — aku hanya ingin menepati janjiku pada baekhyun, "
"jongin, , , aku sudah memikirkannya semalam, aku ingin menepatinya, janjiku pada baekhyun, , , " lanjut kyungsoo.
"maksud kamu, ?!"
"aku ingin dia merawat bayiku " kyungsoo menatap jongin ragu
"ka-kamu yakin? " jongin sedikit kaget mendengar ucapan kyungsoo
" aku masih bisa punya anak lagi, dia tidak! Aku punya kamu, dia tidak! — Aku ingin dia sembuh jongin, aku juga ingin dia bahagia, dia sahabatku— jujur, ini berat, , , karena itu, , , " kyungsoo tidak bisa melanjutkan kalimatnya, dia menangis.
Pria tan itu segera merangkulnya, menenangkan pria kecilnya.
"aku akan mengikuti keputusan kamu, , , apapun itu, , , asal aku tetap bersama kamu sayang, , , " jongin berucap begitu lembut.
"kamu tidak apa-apa? Dia anak kamu juga?"
Jongin menggeleng " kita bisa punya anak lagi, , , "
"dia yang mempertemukan aku dengan mu, , , dan aku tidak pernah menyesal, walau saat itu adalah paksaan, tapi saat ini, aku ingin berterimakasih padanya, mungkin bayi ini, pantas untuk jadi hadiahnya, , , " tambah jongin dan kyungsoo hanya mengangguk. Lalu keduanya sama-sama mencium bayi mereka.
"soo-ya ~"
"hm, ?"
"kenapa kamu terlalu baik menjadi seseorang, "
Kyungsoo menggeleng "eomma selalu bilang, semakin banyak kita berbuat baik, semakin banyak pula kebaikan yang kita terima, aku hanya seperti itu ~"
"aku sungguh manusia paling beruntung, karena memiliki seseorang seperti kamu" ucap jongin kemudian mempertemukan bibirnya dengan bibir pria kecilnya.
.
.
.
.
.
Ketika jongin dan kyungsoo datang ke rumah sakit, ayah dan ibu jongin juga disana. Tetapi mereka sudah berencana pulang.
"masuklah, eomma dan appa hanya meminta maaf pada baekhyun" ucap ny. Kim
"bicaralah dengan baekhyun, aku akan bicara dengan appa dan eomma, " bisik jongin pada kyungsoo.
Pria kecil itu mengangguk.
Jongin segera mengajak kedua orang tuanya keluar, meninggalkan kyungsoo dan baekhyun.
.
.
.
"baek, , , "
"kamu tidak marah? " tanya baekhyun seketika.
Kyungsoo menggeleng
"jangan terlalu baik, atau aku akan selalu menyakitimu~"
Kyungsoo justru tersenyum, kemudian ia memberikan bayinya pada baekhyun, membuat pria cerewet itu sedikit terkejut, tapi perlahan memposisikan bayinya dipangkuannya.
"rawatlah dia! "
Baekhyun semakin terkejut, "kyung, , , "
"aku dan jongin sudah memutuskan, aku ingin kamu merawatnya! — tapi berjanjilah, kamu harus jadi orang yang lebih baik baek!"
'KLEK! '
"apa aku mengganggu? " tanya chanyeol yang tiba-tiba masuk.
"aniya, masuklah hyung! " jawab kyungsoo.
"hyung? " baekhyun dibuat makin bingung dengan cara kyungsoo memanggil mantan suaminya.
"dia kakakku baek, kita bersaudara! " jelas kyungsoo singkat, membuat baekhyun melongo tak percaya.
"tidak usah kaget, bukannya kamu ingin tertawa saat ini! " sindir chanyeol pada baekhyun.
"HAHAHA, , , thanks GOD! " ucap baekhyun sarkatis.
Kyungsoo hanya tersenyum melihat keduanya.
"oh ya, aku dan jongin belum memberinya nama, kalian bisa memberinya nama! "
"kalian?! " ucap baekhyun dan chanyeol bersamaan.
Kyungsoo mengangguk, "aku rasa, , , kalian masih saling punya perasaan satu sama lain, , , "
"itu hanya baekhyun, bukan aku! " jawab chanyeol
"aku?! Hh! Jika hanya aku, kenapa kamu setiap hari datang kesini? " baekhyun coba membantah.
"karena kamu tidak punya siapapun!"
"jadi kamu hanya mengasihani aku?!"
Chanyeol hanya menggidikkan bahunya "Cinta bisa datang dari kebiasaan baek! "
"ck! Bilang saja tidak ada orang lain yang bisa mencintaimu melebihi aku! "
"sudah, sudah! Kenapa malah bertengkar? " lerai kyungsoo
"pokoknya aku menitipkan anakku pada kalian, jaga dia baik-baik! "
"iya! Aku akan selalu mengawasi kalian! " tambah jongin yang baru masuk.
"jangan ikut campur kim! Kamu juga sama jahatnya! Kamu membuangku! " sahut baekhyun
"kamu tidur dengan mantan suamimu dibelakangku! Baek! " bela jongin
"sudah! Jaga saja kyungsoo kim! Aku akan mengawasimu! " kali ini chanyeol bersuara
Jongin menarik nafas, merangkul kyungsoo.
"tentu hyung! Aku akan menjaganya!"
"kamu juga sudah tau kalau kyungsoo adik chanyeol? " tanya baekhyun pada jongin
"jadi cuma aku yang belum tau, " gerutu baekhyun
"sudahlah baek! " kali ini chamyeol bersuara lagi sambil mengambil bayi dari pangkuan baekhyun.
"namanya jasper! " ucap chanyeol
"wae? " protes baekhyun
"kenapa? Kamu mau protes? Kamu protes, akan ku rebut bayi ini darimu! " jawab chanyeol.
Baekhyun hanya mendengus kesal. Sementara jongin dan kyungsoo hanya terkekeh.
.
.
.
.
.
Hari berlalu,
Pria tan itu disibukkan dengan berbagai pekerjaan dikantornya yang sempat berantakan karena masalah keluarganya. Ia juga mengurus berkas perceraiannya dengan baekhyun.
Seperti biasa jongin tidak pernah telat pulang kerja, bahkan ia lebih sering pulang awal karena ingin cepat bertemu pria kecilnya.
Sesampai di rumah, ia segera bergegas menuju kamarnya.
"soo-ya ~" ucapnya semangat sambil membuka pintu.
Tapi pria itu justru tercengang. Bagaimana tidak, ia memang mendapati pria kecilnya sedang tersenyum. Tetapi apa yang sedang dilakukan pria kecil itu membuatnya kaget.
Kyungsoo tengah mengemas barang-barangnya kedalam koper, dan pakaian pria itu sudah rapi.
Kyungsoo menarik resleting kopernya, menguncinya. Kemudian ia menurunkannya dari atas ranjang, pertanda ia selesai berkemas.
"kenapa berdiri disitu? Masuklah! " ucap kyungsoo lembut.
Jongin melangkah ragu mendekati kyungsoo, menatap pria kecil itu bingung.
"apa yang sedang kamu lakukan? "
"berkemas, " jawab kyungsoo ringan
"kamu mau kemana? "
" aku akan ke alaska! "
"kamu bercanda kan? Kenapa kamu melakukan ini,? Kenapa kamu mau kesana? Kenapa kamu tidak bilang padaku? Kita bisa kesana bersama! " jongin membombardir pertanyaan dengan panik.
Kyungsoo meletakkan kedua tangannya di pipi jongin, menatap pria itu.
"jongin, , , dengarkan aku! Aku tau ini mendadak, tapi aku butuh menjauh dari sini saat ini, aku terus teringat bayiku — aku sudah bicara dengan orang tua kamu, mereka mengizinkanku untuk bekerja di alaska, tapi aku tau, , , kamu masih punya banyak urusan disini, jadi tidak apa-apa, aku bisa sendiri?! "
Jongin menggeleng, mengambil kedua tangan kyungsoo.
"no! Aku akan ikut! Aku tidak bisa berpisah denganmu, soo!"
"jongin! Kamu tau dimana harus menemukan aku! Aku hanya di alaska, tinggal dirumah kamu, bekerja disana, ada ibu kandung kamu disana, aku tidak akan kemanapun, , , — kamu jangan hawatir, aku menunggumu, kamu selesaikan semuanya disini dulu, setelah itu, baru temui aku, —aku selalu menunggumu" kyungsoo meyakinkan
"tapi soo ~"
"percayalah! Semua baik-baik saja!, aku mencintaimu! "
Jongin menghela nafas, merengkuh tubuh kecil dihadapannya.
"hanya di alaska! Jangan pergi kemanapun!"
"hm! Aku janji! "
.
.
.
Ahirnya Jongin mengantar kyungsoo ke bandara. Pria tan itu tetap berat hati membiarkan pria kecilnya pergi. Bahkan jongin tidak melepaskan tangannya saat kyungsoo harus segera boarding.
"jongin! ~"
"soo, , , "
"look! " kyungsoo mengangkat tangan kirinya. Menunjukkan cincin yang melingkar di jari manisnya.
"kamu punya janji padaku! Jadi aku pasti akan menunggu kamu datang untuk menepati janjimu! "
Jongin mengangguk, melepaskan tangan kyungsoo perlahan.
Tanpa diduga pria kecil itu justru memberikan suaminya kecupan di bibir.
"i love you" ucapnya sambil tersenyum lalu berbalik segera menyeret kopernya.
Kali ini giliran jongin yang tiba-tiba menarik tangan kyungsoo, membuat tubuh pria kecil itu menghantam tubuhnya. Tidak tanggung-tanggung, pria tan itu meraup bibir penuh kyungsoo dengan bibirnya. Menciumnya dengan rakus. Ia lupa diri, tidak tau tempat.
Kyungsoo bahkan melawan, tapi cengkraman jongin ditengkuk dan dipinggangnya begitu kuat. Membuat pria kecil itu kesulitan dan terpaksa mencubit keras pinggang jongin.
Pria itu tidak berteriak kesakitan, ia hanya langsung berhenti, membiarkan kyungsoo meraup oksigen yang sempat menipis di paru-parunya.
"kamu gila! Kita di bandara jongin! " protes kyungsoo
Pria tan itu hanya diam, mengusap saliva yang tertinggal di bibir kyungsoo.
"hati-hati, i love you, , , aku akan merindukanmu setiap hari! " ucap jongin
"me too! " balas kyungsoo.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bulan terus berganti, , ,
.
.
.
.
.
Winter has been came, , ,
.
.
.
.
.
11 january, alaska 11.43 pm
Kyungsoo melangkah dibawah payung birunya. Ia baru saja turun dari bus yang menjadi transportasinya setiap hari untuk bekerja. Salju turun lagi sejak pagi tadi. Sesekali tangan kecilnya menangkap butiran es, memainkannya ditangannya hingga lebur.
Ia berhenti sejenak, menatap rumah yang sudah hampir 3 bulan ia tinggali. Sendiri. Ia merindukan pria tannya. Jongin memang sering menelpon, tapi sebulan terahir ia jarang melakukannya. Bahkan pria itu lupa dengan anniversary pernikahan mereka.
Besok adalah hari ulang tahunnya, atau tinngal beberapa menit adalah hari ulang tahunnya. Kyungsoo berharap ia bisa bersama jongin atau setidaknya pria itu mengucapkannya tepat waktu. Pria kecil itu bersumpah jika jongin sampai lupa, ia akan memarahinya habis-habisan.
Salju semakin lebat, kyungsoo ahirnya melangkah untuk segera masuk kedalam rumahnya.
'klek'
Ia membuka pintu perlahan, menyalakan saklar lampu tepat disamping kiri pintu, membuat rumah itu seketika berubah jadi terang.
'bug! '
Tas di tangan kyungsoo jatuh ke lantai. Matanya melebar seketika melihat pemandangan dihadapannya. Seisi rumahnya penuh dengan mawar. Buket mawar tertata di setiap sudut dan meja, belum lagi ribuan mawar membentuk hati membentang di hadapannya. Kyungsoo benar-benar terkejut.
Belum selesai keterkejutannya, dua lengan kekar memeluknya dari belakang membuat tubuhnya seketika menegang. Kyungsoo bisa merasakan hangat nafas orang itu menerpa tengkuknya. Kemudian ia merasakan sebuah ciuman hangat disana.
Kyungsoo tak perlu bertanya siapa yang tengah memeluknya saat ini. Aromanya, kulit lengannya, begitu familiar. Ia rindu semuanya. Dia pria yang tengah ditunggunya setiap hari.
"happy birthday, , , sayang, , , " suara khasnya menyapa indera pendengar pria kecil itu. Bersamaan dengan sebuah benda kenyal yang menempel ditelinganya.
Kyungsoo mencoba berbalik, tetapi pria itu menahannya.
"mianhae, , , kamu harus menunggu sedikit lama, , , "
Kali ini kyungsoo berbalik lagi, dan jongin membiarkannya.
Keduanya bertemu muka. Rindu benar-benar menguasai keduanya saat ini. Hasrat ingin memeluk, mencium begitu besar diantara keduanya. Tetapi alih-alih melakukannya, mereka justru menahannya, sedikit lagi untuk mebdapatkan waktu yang lebih pas.
Jongin tersenyum begitu manis, membelai pipi halus didepannya. Sementara pria kecil itu masih membisu, ia seolah tak percaya jongin ada dihadapannya saat ini.
"kamu tidak ingin memelukku?" tanya jongin. Kyungsoo masih diam.
"kamu tidak merindukanku? " tanya jongin lagi, "arasseo, , , "
kali ini ia berinisiatif terlebih dahulu, membawa pria kecilnya ke dalam dekapannya. Jongin memeluk erat tubuh itu.
"kamu pasti sangat kaget aku ada di sini, , , tapi ini surprise sayang, , , kamu jangan diam saja, , , " lanjut jongin mengelus rambut hitam pria kecilnya.
'hikss'
Isakan kecil mulai terdengar, dan jongin segera melepaskan pelukannya. Benar dugaannya pria kecil itu menangis.
"hey, , , what's wrong?! Kenapa menangis, , , mianhae, , , aku mengejutkanmu! " jongin coba menenangkan dan kembali membawa kyungsoo kedalam pelukannya.
"hm, , , sudah jangan menangis, , , kamu boleh marah padaku, , , kamu boleh memukulku!— sudah ya! Jangan menangis, , , "
Kali ini kyungsoo melepaskan diri dari pelukan suaminya, berusaha menghapus air matanya.
"ada apa denganmu?! Lihat, , , kenapa setiap kali kita bertemu setelah berpisah kamu jadi kurus begini, kamu tidak pernah makan ya?! " jongin masih berceloteh.
", , , aku merindukanmu, jadi aku tidak nafsu makan, " ahirnya kyungsoo berbicara. Sesekali ia masih terisak
" kamu sendiri yang memilih pergi dan berpisah, , ,"
"kamu menyalahkan aku?! " tanya kyungsoo kembali menangis
"no! No no! Ssstttt, , , jangan menangis lagi oke! " jongin panik
"kamu sendiri yang bilang akan cepat datang kesini, tapi kamu membiarkanku menunggu lama, dasar jahat! " bela kyungsoo sambil memukul lengan jongin.
"Mianhae, , , aku janji mulai sekarang aku tidak akan meninggalkan kamu lagi, aku akan membahagiakanmu, , , "
"membahagiakanku?! Sekarang saja kamu membuatku menangis, ini hari ulang tahunku, mana hadiahnya! "
"tentu sayang , , , aku sudah menyiapkan hadiah istimewa buat kamu, , , kamu tidak lihat mawar-mawar ini? "
" hanya mawar ini?! "
"why you so greedy?! , , , —oke, aku sudah menyiapkan yang lainnya, mawar ini hanya permintaan maafku padamu, , , dan sekarang kita akan memulai hadiahnya, "
"kita?! Memulai?! "
"hm, , , tunggu disini, aku akan menyiapkan mobil?! "
"kita mau kemana?! "
"nanti kamu juga akan tahu"
.
.
.
Jongin membuka pintu mobil untuk kyungsoo, mempersilahkan pria kecil itu layaknya seorang putri.
"kenapa kamu jadi romantis begini?! " ucap kyungsoo sambil masuk kedalam mobil
"hm, , , mulai sekarang aku akan jadi pria romantis! "
Setelahnya jongin menutup pintu pelan, lalu berlari kecil masuk pada pintu kemudi.
Jongin tersenyum, kemudian mendekat pada kyungsoo secara tiba-tiba, menyunggingkan smirknya.
"aku tidak kaget, kamu memasangkan seatbelt untukku kan?! " tebak kyungsoo dan memang benar.
"that's right! And, , , this! "
Jongin dengan cepat menempelkan bibirnya pada milik namja kecil itu. Hanya sebentar lalu menjauh.
"kali ini kaget kan?! "
Tebakan pria tan itu benar, karna kyungsoo spontan melebarkan ukuran matanya. Sedang jongin hanya tersenyum puas.
Selanjutnya jongin meraih sebuah selimut, memakaikannya pada kyungsoo.
"tidurlah! perjalanan kita jauh, !" ucap jongin lalu mengaitkan jari-jari nya dengan kyungsoo.
"kamu yakin mau menyetir dengan satu tangan? " tanya kyungsoo ragu
"jangan hawatir, I'm best driver! "
.
.
.
.
.
04.19 am
"soo, wake up! " jongin membangunkan kyungsoo pelan.
"kita sudah sampai? " jawab kyungsoo dengan suara khas orang bangun tidur.
Jongin merapikan rambut berantakan kyungsoo. Lalu memakaikan syal, serta sarung tangan. Setelah itu dirinya berhambur keluar, membukakan pintu untuk kyungsoo.
Namja kecil itu keluar perlahan, mengamati sekitar yang begitu asing. Ia menatap jongin penuh tanya, tetapi pria tan itu hanya tersenyum.
"kita dimana? " tanya kyungsoo
Jongin tidak menjawab, pria itu justru segera menggandengnya, membawanya melangkah memasuki sebuah bangunan sederhana mirip stasiun.
Dugaan kyungsoo benar, ini memang stasiun. Dan ia bisa melihat rel serta lokomotif disana. Jongin terus menggandengnya lalu membawanya mendekat pada lokomotif dengan sebuah gerbong dibelakangnya.
Pria tan itu, melangkah terlebih dahulu, naik kedalam kereta. Kemudian ia memgulurkan tangannya untuk namja kecil yang masih berdiri menatap bingung.
"ayo naik! " ajak jongin
Kyungsoo tidak punya clue apapun, ia hanya menurut saja, menerima uluran tangan jongin, lalu naik kedalam kereta.
Jongin menuntunnya perlahan membawanya masuk ke dalam gerbong. Sungguh ini melebihi yang dibayangkan kyungsoo. Gerbong itu sangat indah, berbeda saat dilihat dari luar.
Tidak banyak kursi disana hanya sepasang dengan sebuah meja. Sama seperti dirumahnya, setiap sudutnya penuh dengan mawar. Ucapan ulang tahun untuknya menggantung disalah satu sisi gerbong. Sebuah kue, dan sebotol wine juga bertengger diatas meja yang memiliki ukiran indah disetiap kakinya. Sebuah sofa membentang tepat dibawah tulisan ulang tahun, disana berbaris banyak replika boneka salju, beruang, dan penguin.
Kyungsoo melangkah perlahan, menyentuh setiap sisi saat ia berjalan hingga duduk di sebuah kursi. Ia menatap jongin yang masih berdiri dengan wajah puasnya.
"kamu menyiapkan semua ini?! "
Jongin mengangguk. " kamu suka?!"
Kyungsoo mengembangkan senyumnya, lalu mengangguk. Pria tan itu melangkah perlahan, memposisikan dirinya duduk tepat didepan kyungsoo. Ia mengeluarkan sebuah pematik, lalu menciptakan api dari sana, membuat lilin yang bertengger diatas cake terbakar.
"oke, ucapkan doamu! " pinta jongin
"kamu tidak bernyanyi untukku?"
"eyy, kamu tau kan suaraku jelek, aku tidak ingin merusak momen indah ini dengan suaraku, , , "
"suaramu merdu kok! Sungguh! Aku ingin mendengarnya!" kyungsoo berucap dengan mata puppynya.
Jongin menarik nafas, lalu mulai bersenandung lirih. Sementara pria kecil dihadapannya tak berpaling sama sekali.
Tepat ketika lagu itu berahir, kyungsoo meniup lilinnya.
"kamu sudah berdoa? "
Namja kecil itu mengangguk imut,
"apa doamu? "
"rahasia! "
Tangan kecilnya mengambil sebuah pisau kue, memotongnya sebagian, meletakkannya di piring kecil. Kyungsoo mengambil sesuap dengan garbunya, memasukkannya kedalam mulutnya sendiri. Sementara pria tan itu hanya melongo.
"kamu tidak menyuapiku? " jongin berharap
Namja kecil itu menggeleng, " aku lapar, aku tidak mau berbagi! " goda kyungsoo lalu berhambur duduk di sofa. Menikmati kuenya.
"jongin-ah, kapan keretanya akan jalan?"
Jongin menghela nafas lagi. Lalu keluar sebentar dan kembali masuk. Tak lama, kereta itu mulai berjalan.
Jongin membuka wine, menuangkannya kedalam gelas kaca hingga hampir penuh. Ia membawa gelas itu, sembari berhambur bergabung bersama namja kecil disofa. Jongin meneguk sedikit demi sedikit cairan berwarna merah dalam gelasnya. Matanya tak beralih dari pria kecil itu. Sementara si pria kecil juga menatapnya.
"jongin-ah! Apa itu enak?!" kyungsoo penasaran.
"hm! " jawab jongin singkat, dan meneguknya seolah begitu menggiurkan.
"kamu mau?! "
Kyungsoo diam, masih menatap ragu.
"minumlah, mungkin kamu akan mabuk sedikit, dan itu akan memudahkan aku melakukan apapun padamu! " jongin bersmirk.
Kyungsoo mendengus sebal, ia menghabiskan sesuap cake yang tersisa. Mengembalikan piringnya keatas meja lalu kembali duduk disofa, tanpa melihat jongin. Ia lebih memilih menikmati pemandangan diluar. Salju yang membentang luas, dengan beberapa pepohonan yang daunnya ikut memutih karena es.
Jongin mulai mendekati pria kecil itu, membawanya kedalam dekapannya, sambil melihat pemandangan melalui jendela.
"aku kira kamu marah? " tanya jongin
"hm, wae? "
"kenapa masih mau kupeluk?! "
"aku kedinginan! "
Jongin terkekeh, semakin erat memeluk pria kecil dalam dekapannya. Sesekali namja tan itu mencuri sebuah ciuman dipipi kyungsoo.
Namja kecil itu mendongak, memperhatikan jongin yang masih meneguk winenya.
"jongin-ah, kapan-kapan ajari aku minum itu ya! "
jongin tertawa kecil. "sekarang juga tidak apa-apa! "
Kyungsoo menggeleng.
"kenapa? Bukankah lebih baik sekarang!?, kita mungkin bisa bercinta disini! " jongin menggoda lagi,
Dan sebuah cubitan keras dilengannya membuat pria tan itu memekik.
"ahh! Kenapa mencubitku! " protes jongin
Kyungsoo hanya diam, ia kembali menatap keluar jendela.
"ah! Aurora, lihat jongin! Itu aurora! " namja kecil itu begitu antusias. Sementara namja tan itu hanya tertawa kecil. Ia sama sekali tidak tertarik dengan keindahan alam yang sedang tersaji saat ini. Baginya keindahan dunia hanya pria kecil yang ada dihadapannya saat ini.
Kyungsoo bisa merasakan jongin terus menatapnya. Ia menoleh dan mendapati kebenaran dugaannya.
"kenapa menatapku begitu?! Auroranya indah jongin, lihat diluar! " ucap kyungsoo malu.
"tidak ada yang lebih indah dibanding kamu, kamu adalah yang terindah dari yang indah soo~"
Pipi kyungsoo bersemu seketika, ia menunduk menyembunyikan wajahnya. Tapi jongin meraih dagunya, membuat pria itu menunjukkan wajahnya.
"aku sungguh ingin memelukmu saat ini, aku sangat ingin memciummu! " jongin menatap kyungsoo lekat
". . . "
"soo~"
"do it! Just kiss! Nothing else! "
Segera bibir tebal itu bertemu bibir tebal yang lain. Bibir yang satu jadi begitu dominan, mengusai bibir yang lain yang begitu pasrah dipermainkan. Jongin memberikan ciuman dalam dan basah, membuat namja didekapannya melemah. Kedua mata mereka tertutup. Ciuman yang awalnya lembut, perlahan berubah menggairahkan. Namja tan itu semakin menuntut. Ia begitu rakus. Tangannya mulai bergerilya meremas bongkahan kenyal bagian belakang namja itu.
"no! Not now please, , , " ucap kyungsoo bersusah payah, ketika jongin melepaskan bibirnya.
Pria tan itu mengendalikan hasratnya, ia mengusap saliva yang tertinggal di bibir pria kecilnya.
"arraseo! " jongin berucap lembut.
"jongin-ah, , , terimakasih, , , ini hadiah yang indah! "
Jongin tersenyum, "hadiahnya belum selesai soo, , , "
"hah?! Jinjja?! "
.
.
.
.
.
Usai menyaksikan aurora dikala fajar, keduanya berlanjut pergi ke resort ski. Bermain ski, dan salju hingga mereka lupa waktu. Ketika matahari tennggelam mereka mengahiri permainan dan menaiki gondola yang menghantarkan mereka untuk menikmati pemandangan seluruh resort dari atas.
Jongin merangkul erat kyungsoo, sementara pria kecil itu memainkan jari-jari suamimya.
"bagaimana hari ini? "
"aku sangaaaaattt bahagia, , , gomawo jongin! "
"hm, , , sebenarnya, , , "
"sebenarnya aku marah padamu! " potong kyungsoo
"wae? "
"kamu melupakan anniversary pernikahan kita, desember lalu, , , aku sungguh kecewa! "
Jongin tersenyum, "aku , , , tidak lupa, tapi, , , "
"tapi apa? "
"aku sengaja melupakannya? "
"wae?! " kyungsoo menatap jongin tajam.
Tetapi jongin tetap tenang, ia justru menatap kyungsoo lembut tapi serius.
"aku ingin memulai semuanya dari awal sekali lagi, "
"maksud kamu? "
"semuanya, pernikahan kita, saat itu kita menikah karena sebuah keterpaksaan, sebuah tujuan, tapi kali ini, , , aku memiliki perasaan yang dulu belum ku miliki saat kita menikah, semuanya berbeda, aku ingin mengucap janji itu lagi, dengan segenap hatiku, setulus jiwaku, , , jadi, , , "
Jongin menjeda ucapannya, ia bergerak lalu berlutut didepan kyungsoo, menggenggam tangannya.
"maukah kamu menikah denganku?"
Kyungsoo terpaku, ia seolah tidak percaya akan memiliki cerita seperti ini dalam hidupnya. Seseorang yang dicintainya mengajaknya menikah. Tetapi kisah kyungsoo berbeda dari kebayakan kisah lainnya. Ia dilamar oleh suaminya sendiri.
"jongin, , , aku— aku tidak bisa, , , "
Jongin mengerutkan keningnya, tapi ia sabar menunggu kelanjutan kalimat kyungsoo.
"tentu aku tidak bisa menolak, , , bagaimana mungkin aku bisa menolak ketika seorang yang melamarku adalah suamiku sendiri, , , bahkan tanpa kamu memintapun aku, , , "
Kalimat kyungsoo terhenti saat itu juga, karena jongin membungkam bibirnya dengan milik pria itu. Hanya ciuman lembut sesaat.
"i love you! "
Dan kyungsoo bisa merasakan sesuatu terlepas dari jarinya. Namja kecil itu tidak menemukan lingkaran berkilau di jari manisnya. Ia menatap jongin, tentu ia tau suaminya yang telah mengambilnya.
"jangan hawatir, kamu akan mendapatkan yang lebih indah besok"
"besok?! "
"hm! Kita akan menikah besok! "
"WHAT?! "
.
.
.
.
.
13 January
Kyungsoo berada dalam sebuah mobil tepat didepan sebuah gereja. Jongin baru saja turun, dan memintanya menunggu. Entah kenapa ia begitu gugup. Ia bahkan memainkan jemarinya sendiri tidak jelas.
Tak lama, seseorang membuka pintu untukknya, kyungsooo seketika mendongak. Ia melihat wajah tuan park, ayah kandungnya. Pria tua itu mengulurkan tangannya.
"turunlah, appa akan mengantarkanmu pada pria yang kau cintai! "
Kyungsoo masih sedikit terkejut dengan kehadiran tn. Park yang begitu tiba-tiba. Tetapi ia tidak mau berfikir rumit hari ini, pernikahannya dengan jongin sudah cukup membuatnya gugup, meski ini untuk kedua kalinya.
Kyungsoo menerima uluran tangan ayahnya, bergerak perlahan turun dari mobil. Tn. Park tersenyum, dan dibalas dengan kyungsoo. Pria dewasa itu kemudian melingkarkan tangan putranya dilengannya, menuntunnya perlahan untuk memasuki gereja.
Pintu terbuka, dan sebuah karpet merah membentang. Diujung sana jongin tengah menunggu. Berdiri dengan begitu gagah. Ia sangat tampan dalam balutan tuxedo. Disampingnya tengah berdiri seseorang yang akan menikahkan mereka.
Namja kecil itu juga baru tersadar bahwa beberapa orang hadir disana. Kedua mertuanya, Tn. Dan Ny. Kim, lalu ibu kandungnya, ny. Park, ada juga baekhyun dan chanyeol serta jasper, bayi laki-lakinya yang kini jadi anak kakak dan sahabatnya. Tak ketinggalan kim tae ri, ibu kandung jongin.
Tn. Park mulai berjalan menuntun dirinya melewati altar. Perlahan tapi pasti, hingga ia menyerahkan tangan putranya pada pria tan yang tengah menunggu dengan wajah bahagianya.
Ini seperti mimpi bagi kyungsoo. Pernikahan yang indah. Semua seperti yamg pernah diharapkannya.
Mereka berikrar janji dengan khidmat. Sekali lagi saling berucap 'I Do'. Janji yang mereka ucapkan sama persis seperti saat pertama kali mereka menikah, tetapi kali ini, perasaan mereka berbeda. Janji suci itu berdasarkan perasaan tulus yang disebut cinta.
Kali ini mereka bertukar cincin, sebuah berlian indah terukir inisial 'J 💙 K', masing-masing telah melingkar dijari manis keduanya. Jongin menepati janjinya, ini sesuatu yang sangat indah.
Keduanya saling menatap, sorot mata bahagia. Saling menggenggam erat, dan berahir dengan ciuman manis dari jongin untuk kyungsoo, bukan hanya di kening, tapi di bibir. Kali ini, untuk pertama kalinya, namja kecil itu berusaha membalas ciuman dari prianya. Meski hasilnya tetap sama, karena jongin akan selalu jadi dominan.
Semua yang hadir bertepuk tangan, mereka melepas tawa bahagia.
.
.
.
.
.
Setelah upacara pernikahan selesai keluarga besar itu berkumpul untuk makan bersama. Barulah disitu namja kecil itu tahu, bahwa hanya dirinyalah yang tidak tau apapun. Bahkan semua acara ini, memang sudah lama direncanakan jongin. Yang lebih mengejutkan lagi baekhyun dan chanyeol rupanya juga sudah menikah lagi. Kyungsoo sedikit kecewa karena bahkan dirinya tidak diundang. Tetapi melihat keduanya sudah bahagia, ia pun ikut bahagia.
Terlebih lagi, sekarang jasper sudah mulai bisa diajak bercanda. Simungil itu sudah bisa tersenyum. Dan semua orang menyayanginya. Karena bayi laki-laki itu, ahirnya semua orang menuntut kyungsoo untuk menghadirkan sang adik sekaligus teman bermain bagi jasper.
"eomma berharap kamu segera memiliki anak lagi ya kyung! " ny. Park berucap
"iya, sekarang jasper sudah tinggal bersama baekhyun dan chanyeol, rumah jadi sepi, jadi kamu harus segera buatkan cucu untuk eomma ya, , , !" kali ini ny. Kim
"jasper pasti senang jika punya adik, segera ya kyung! Karena kamu tidak hadir di pernikahanku, jadi berikan adik untuk jasper sebagai hadiah pernikahanku" tambah baekhyun
Kyungsoo hanya tersenyum menanggapi mereka semua, sementara jongin justru bersmirk menggoda.
.
.
.
.
.
Kyungsoo dan jongin ahirnya kembali ke rumah mereka berdua, setelah melakukan aktifitas seharian yang begitu melelahkan. ingin rasanya kyungsoo segera terlelap, tapi entah mengapa ia justru tidak bisa tidur dan berahir dengan bermain game di ponsel jongin.
Tak lama jongin juga bergabung keatas ranjang. Memeluk pria kecilnya begitu erat. Ia melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 11.03 pm.
"soo~ sebentar lagi ulang tahunku, , , " jongin berucap, sambil meletakkan wajahnya di perpotongan leher pria kecil itu.
"hm, arra! Aku sudah menyiapkan hadiah untukmu! "
"really? "
"hm! "
"tapi aku sudah memilih hadiahku sendiri, "
"apa?! " kyungsoo menoleh, menatap jongin ingin tau
" let's do it, you promised that we can do it all night! "
Kyungsoo berhenti sejenak dari permainanya. Tapi kemudian melanjutkan lagi.
"soo~" jongin masih menunggu jawaban kyungsoo.
"bunuh monster ini untukku! " pinta kyungsoo sambil menyerahkan ponselnya.
"soo, bukankah ini harusnya jadi malam pertama kita?! Kenapa kita harus bermain game? "
"please~" kyungsoo memohon dengan puppy eyesnya.
Jongin membuang nafas kasar, tapi ia tetap menuruti permintaan namja kecil itu.
Jemarinya bermain begitu lincah, ditambah dengan perasaannya yang sedikit kesal. Ia terus bermain dan namja kecil itu terus memperhatikan suaminya. Tak butuh waktu lama, ia berhasil memenangkannya.
"yeayyy, , , !" kyungsoo puas.
Pria kecil itu, langsung berhambur memeluk jongin, krmudian memciumi pria itu disemua bagian wajahnya. Tentu pria tan itu sedikit kaget dengan tingkah istrinya yang selama ini hampir tidak pernah memciumnya duluan. Tapi jongin Sangat puas. Tangannya meletakkan ponsel diatas nakas, sementara ia membiarkan pria kecilnya memciumnya. Jongin tidak membalas kali ini, ia sengaja ingin tahu seberapa hebat pria kecilnya.
"happy birthday! " ucapnya lembut
"ini hadiahnya? " tanya jongin
Kyungsoo mengangguk malu dengan wajahnya yang sangat memerah.
"tapi aku masih punya hadiah yang lain, , , tunggu ya, aku akan mengambilnya dilemari, , , " ucap kyungsoo lagi, sembari beranjak.
Tapi belum sampai ia beranjak, jongin menariknya kembali. Dalam sepersekian detik posisi mereka berubah. Pria kecil itu sudah terpenjara diantara lengan berotot dan jongin berada diatasnya menatapnya penuh nafsu.
"bisakah kamu saja yang jadi hadiahku, , , aku sangat menginginkanmu soo~ please, , , "
Kyungsoo bergerak gusar, ia tidak berani menatap jongin.
"aku — aku ingin melakukannya juga, tapi, , , , , " kyungsoo mulai menangis tiba-tiba.
"aku sungguh takut, , , "
Jongin terkejut mendengarnya, apalagi melihat namja kecilnya tengah menangis saat ini. Ia sungguh merasa bersalah.
"hey, what's wrong, , , gwenchana, , , ?!
"aku— aku selalu teringat saat terahir kali kamu melakukannya padaku, , , rasanya sungguh menyakitkan, , , aku—, , , "
Jongin menarik perlahan tubuh kyungsoo, membuatnya hingga terduduk. Ia menyeka air mata yang menghiasi wajah namja kecilnya. Kemudian memeluknya hangat.
"mianhae, , , aku tidak tau, jika kamu, , , "
"bisakah, kamu, , , "
"it's okay soo, , , aku tidak akan memaksa, , , "
Kyungsoo menggeleng pelan. "lakukan saja, , , ! "
Jongin melepaskan pelukannya, menatap kyungsoo lembut,
"bukankah aku harus menghilangkan rasa takutku, , , lagipula, aku sudah berjanji padamu, , , " ucap kyungsoo lagi
Jongin menangkup kedua pipi kyungsoo. Menatapnya hangat.
"jangan kasar! " tambah kyungsoo lagi,
"aku akan mencoba melakukannya dengan lembut, , , "
Kyungsoo hanya mengangguk.
.
.
.
Setelah itu jongin membalik tubuh kyungsoo, memposisikan nya terngkurap. Pria kecil itu sedikit terkejut. Ia sedikit bergetar.
"jongin~, , , "
"it's okay, , , percayalah! Aku hanya tidak ingin kamu mengingat rasa sakit saat aku melakukannya dengan posisi seperti ini dulu, "
Kyungsoo pasrah ia memejamkan matanya. Tapi ia bisa merasakan tangan besar itu dengan cepat melepas semua kain yang menempel ditubuhnya.
Selanjutnya kyungsoo bisa merasakan Jika pria tan itu mulai memberikan sentuhan seduktif diseluruh tubuhnya, begitu juga ciuman-ciuman basah diseluruh punggungnya yang menimbulkan rangsangan luar biasa bagi tubuh pria kecil itu.
Mungkin ini berhasil, pria kecil itu mulai terbawa suasana, desahan mulai mengalun dari bibirnya.
Jongin memulai dengan begitu lembut, mempersiapkan milik namja kecil itu dengan hati-hati menggunakan jemarinya. Perlahan, sembari terus mengamati reaksi pria kecilnya yang terus merintih sambil menggenggam erat sprei kusut dibawahnya.
Ketika jongin merasa sudah cukup ia menarik ketiga jarinya, memeluk pria itu erat, sambil terus mencium tengkuknya.
"aakhhh! " pekik kyungsoo tertahan, ia menggigit bantal dibawahnya. Dengan air mata yang mengalir.
Selembut apapun jongin berusaha, rasanya tetap sakit bagi pria kecil itu. Mungkin ini bukan yang pertama, tapi tetap saja hampir satu tahun mereka tidak melakukannya. Jongin mendorong penuh miliknya, dalam sekali hentakan.
Ia diam sejenak, sebelum mulai mengangkat pinggul kyungsoo, memperdalam penyatuan mereka. Kedua tangan besar itu memegang erat kedua sisi pinggul kyungsoo. Setelah itu hentakan mulai berjalan. Perlahan, semakin cepat dan sangat cepat.
Desahan kyungsoo semakin tak terkira. Bibirnya terbuka, peluh mengalir. ia merasakan sakit berulang-ulang dari cara jongin. Tetapi ia bertahan, hingga pria itu ahirnya memukul titik yang begitu sensitif didalam sana.
Tubuh kyungsoo begitu pasrah. Bergerak memantul sesuai dorongan. Ia menerima semua rasa sakit dan juga nikmat akibat gerakan suaminya. Ia tau jongin bukan tipe yang melakukannya secara perlahan.
Ia bahkan harus klimaks dua kali sebelum ahirnya pria tan itu mengisi miliknya.
Kyungsoo lelah, pasti. Tubuh pria kecil itu dibalik. Jongin kembali berada diatasnya. Ia Mengusap peluh yang mengalir di wajah pria kecilnya, mrnyingkirkan anak rambut yang basah dari keningnya.
"you're so beautiful babe, , , i love you! " ucap jongin.
Pria tan itu membuka lebar kaki pria dibawahnya, menempatkannya diatas bahunya. Lalu ia mengaitkam jemarinya dengan milik namja yang pasrah dibawah kungkungannya.
"jongin-ah, , , "
"hm, kamu lelah?! "
", , , "
"aku benar-benar ingin melakukannya sepanjang malam, , , biarkan aku bermain, , , "
"arraseo, , , do it, whatever you want, , , aaakkhhh! "
Jongin kembali menamam miliknya, tanpa aba-aba.
Dan setelah itu, pria tan itu benar-benar mencari kepuasannya sepanjang malam. Bahkan ketika kyungsoo sudah terlelap karena begitu lelah, pria tan itu belum berhenti.
.
.
.
.
.
Salju sedang turun diluar, ketika pria kecil itu membuka mata. Ia merasakan tubuhnya begitu lengket, sekaligus hangat bersamaan. Ia tau pria dibelakangnya sedang memelukknya erat.
Kyungsoo tidak ingat berapa banyak ia keluar semalam, yang jelas saat ini tubuhnya begitu sakit. Bahkan ia masih merasakan sesuatu yang mengganjal dalam dirinya tepat pada bagian bawahnya.
Pria kecil itu coba bergerak, tetapi jongin seketika menahannya.
"ssttt! Jangan bergerak soo, , , dia baru saja tidur, , , jangan menbuatnya terbangun, , , !"
"rasanya tidak nyaman jongin, , , bisakah kamu mengeluarkannya?! "
"dia nyaman didalam sana, , , kumohon! Biarkan saja! "
Pria kecil itu menghela nafas pasrah. Ia diam memainkan ujung selimut yang menutupi tubuh telanjangnya.
"jongin-ah! "
"sejak kapan kamu mencintaiku? "
"hmmm, , , aku rasa sejak aku melihatmu tidur dalam bianglala, di cichago, , , kalau kamu?"
"saat kamu mengucapkan i love you pertama kalinya, waktu itu kamu menggendongku, , , "
"kamu mendengarnya?!"
"hm, , ,"
"aku kira kamu tidur saat itu, , , "
.
.
.
"jongin saljunya indah diluar!"
"arra, tapi kamu lebih indah soo, , , "
Pipi kyungsoo merona.
"aku masih ingin lebih lama tinggal di alaska, bolehkah?! "
"tentu! Aku akan selalu menenanimu, , , ".
Jongin ahirnya bergerak, menarik miliknya keluar, membuat kyungsoo begitu lega. Jongin membalikkan tubuh kyungsoo menghadap dirinya, menatapnya lekat. Membelai setiap detail karya tuhan itu.
"jangan menatapku seperti itu, , , aku malu, , , "
"aku sangat suka salju, , , tapi sekarang aku lebih menyukaimu, , , kamu adalah hadiah terindah soo, , , kamu januari ku, , , "
"kamu juga, , , my january"
Jongin tersenyum, membawa kyungsoo kedalam dekapannya. "so, this is our january, , , "
.
.
.
.
.
Hari terus berlalu, , , keduanya masih di alaska menjalani rutinitas sehari-hari. Seperti biasa sepulang kerja pria kecil itu ingin segera beristirahat. Maka ia segera membersihkan diri dan merebahkan tubuhnya diatas ranjang. Tetapi, , , seperti biasa usahanya untuk cepat tidur mungkin gagal, karena jongin terlebih dahulu naik keatas tubuhnya dan dengan cepat menarik celana piyama kyungsoo.
"jongin-ah, bisakah aku mendapat libur malam ini? "
Jongin menatap kyungsoo.
"wae? "
"pekerjaanku hari ini banyak sekali, lagipula, hampir setiap hari kita melakukannya, kamu tidak lelah? "
"lelahku seketika hilang saat aku melihatmu, you look so cute tonight! "
Kyungsoo menepuk bantal disebelahnya, mengisyaratkan jongin untuk berbaring.
"kamu tidak mau melakukannya malam ini?" selidik pria tan itu.
"aku sudah tidak memakai celana jongin, bagaimana mungkin aku menolak, aku hanya ingin bicara" jelas kyungsoo sedikit kesal.
Jongin ahirnya berbaring,
"kamu juga seperti ini saat dengan baekhyun dulu?"
"wae? Kamu cemburu? "
"aku tanya jongin? "
"hmm, , , baekhyun yang lebih agresif dibanding aku, tapi, , , entahlah soo, , , aku selalu ingin melakukannya saat denganmu, "
"aku tidak tau kalau kamu ternyata pria mesum"
"salahkan dirimu yang terlalu menggoda!"
"jadi kamu suka jika aku jadi agresif? "
"aku lebih suka kamu tidak berdaya dibawahku! " jongin menggoda.
"haisshh, , , dasar mesum! "
"jadi kamu hanya ingin membicarakan ini, " tanya jongin
"aniya, aku punya hadiah untuk kamu, tapi kamu harus janji, kalau kamu suka hadiahnya, berikan aku libur malam ini, "
"kalau begitu aku tidak suka! " jongin memutuskan seketika
"kamu belum melihatnya~" rayu kyungsoo
"oke, give it to me! "
Kyungsoo meraih sesuatu dari balik bantalnya, lalu memberikannya ditangan jongin.
Pria itu melihat perlahan benda kecil dalam tangannya.
"two line!" bisik kyungsoo.
Jongin menutup wajahnya dengan satu tangan, tapi senyuman mengembang dibibirnya. Ia tampak bahagia. Sangat puas.
"kamu suka? " tanya kyungsoo.
Pria kecil itu tidak menjawab ia justru berkali-kali menciumi wajah namja kecilnya.
"you're perfect baby, , , aku tidak menyangka bisa secepat ini, "
"tentu saja! Kamu melakukannya hampir setiap hari!"
Jongin hanya tersenyum.
"jadi, , , bisakah kita libur malam ini, , , "
Jongin mengangguk, dan kyungsoo merasa lega. Lalu pria tan itu membawa pria kecilnya dalam dekapannya.
"aku harap yang ini kembar! " tutur jongin
"hm, "
"aku ingin punya banyak anak!"
"hm"
"aku ingin membuat banyak anak! "
"kamu ingin banyak anak, atau membuat banyak anak!"
"hmm, , , membuatnya terasa menyenangkan! "
"dasar mesum! "
.
.
.
End
NOTE: Yeayy, , , finish for this story, , , maaf kalo banyak typo, , , i hope you like this story, , ,
Buat yang udah komen, , , thanks so much! Maaf g bisa sebutin satu satu, Love u all readers, , , buat yang masih jadi silent readers, , , thanks juga ya, , ,
Eh, , , sesuai janji aku, , , ada dua story yang bakal gantiin story ini, judulnya REGRET (oneshoot) and Sweet Lies (chapter), , , so, , , yang mana dulu yang harus di upload, , , ntar yang dipilih sesuai banyaknya komen ya, , ,
Thankyou, , ,
-cloudsclear
