Akashi keluar dari ruangan tempatnya bertemu dengan raja dengan wajah dingin, namun aura gelapnya tidak bisa ia sembunyikan, bahkan para penjaga disitu tidak ada yang berani menegurnya karena takut pada aura intimidasinya yang terlalu kuat. Tidak ada hal yang menyenangkan jika ia bertemu ayah tirinya itu. Saat ia kecil dulu, dimana ia masih belum mengerti apapun, dulu ayah tirinya itu merupakan sosok yang sangat ia kagumi setelah ayah kandungnya meninggal, dia menolong ibunya dan Akashi kecil dari keterpurukkan, tapi setelah ia mengetahui kalau dalang dibalik kematian ayah kandungnya adalah ayah tirinya, alias pamannya sendiri, ia berubah menjadi sangat membencinya.
Pemuda berambut merah itu memasuki kamarnya dan mengunci pintunya, memastikan tidak ada siapapun yang bisa masuk, lalu ia membuka sebuah kotak kayu yang tersimpan di lemari pakaiannya, didalamnya terdapat sebuah surat dari mendiang ibunya, dan hanya Akashi seoranglah yang mengetahui isinya. Dia membaca kembali surat tua itu.
'Yang membunuh ayahmu dulu adalah pamanmu karena ia ingin menjadi raja. Kenyataan ini selalu ditutupi oleh para mentri yang sekarang karena mereka telah dijanjikan kekuasaan. Seijuurou anakku, jika nanti ibu juga tiada, maka bisa dipastikan bahwa pamanmu juga pelakunya, karena ia mengetahui bahwa ibu membongkar rahasianya itu. Dan mulai saat itu juga kau harus berhati-hati, karena ibu tidak bisa melindungimu lagi. Jagalah dirimu baik-baik dan tetaplah hidup.'
Tanpa disadari ia meremas surat itu, pandangan matanya berubah penuh kebencian, ia ingat saat itu ia menemukan ibunya sudah terbujur kaku di kamarnya dengan sebuah panah beracun menancap di dadanya. Dan lagi-lagi kasus itu hanya dianggap kasus pembunuhan biasa yang dilakukan oleh para pemberontak. Awalnya ia juga berpikir begitu, tapi beberapa bulan setelah kematian ibunya, ia menemukan sebuah surat tulisan tangan ibunya yang diselipkan di baju yang sering ia pakai, setelah membacanya, ia langsung menyimpan dendam di hatinya dan bertekad suatu saat ia akan membalaskan dendamnya itu dan merebut kembali kekuasaan ayahnya.
"…Sebentar lagi…" bisik pemuda berambut merah itu, "Sebentar lagi, aku akan membalaskan dendamku…"
.
.
.
Sins
Kuroko no Basuke – Fujimaki Tadatoshi
Rate : M
Genre : Crime, Hurt, little Romance
Warning : OC, Little OOC, AU, bahasa kasar, pairing masih belum jelas, mengandung kekerasan, dll
.
.
.
Imayoshi menyarungkan nodachinya sambil tersenyum puas, disekelilingnya banyak sekali terdapat mayat-mayat pemberontak dengan bagian tubuh yang terpisah, dan genangan darah, baju seragamnya juga kotor oleh percikan darah.
"Shou-san," pria berambut abu muncul dibelakang Imayoshi sambil membungkuk.
"Ah, Chi rupanya… Bagaimana 'bagianmu'?"
"Aku dan Kou sudah membereskan semuanya, tapi tidak sedikit juga dari pasukan kita yang tewas," lapor Chihiro tenang.
"Souka… Kerja bagus Chi," puji Imayoshi, "Ngomong-ngomong…" pria berkacamata itu melihat sekelilingnya, "Kau melihat Nijimura-dono?"
Chihiro menggelengkan kepakanya, "Tidak, aku tidak melihatnya sejak tadi."
Imayoshi melebarkan smirknya dan melihat kesebuah bukit, "Maa, sudahlah… Mungkin dia yang akan 'menjemput' si antagonis… Kita tunggu saja sebentar."
Dan Chihiro hanya mengerutkan alisnya tidak mengerti mendengar perkataan Imayoshi.
.
.
.
Himuro mengernyitkan matanya, rencananya gagal, pasukan pemerintah yang dikirim ternyata lebih banyak dari dugaannya, dia bermaksud melakukan rencana lainnya, dan beranjak pergi dari situ, namun sebuah pisau pedang menghentikannya, beruntung dia menghindar dengan cepat.
"Hebat juga kau," kata sosok pria berambut raven sambil tersenyum sinis, "Ternyata benar, kau mengawasi tempat itu dari sini."
"Anda rupanya…" ucap Himuro tenang.
Nijimura membelalakan matanya saat ia ingat pemilik suara itu, "Kau…" geram Nijimura dengan tatapan tajam saat ia melihat pria dihadapannya membuka tudungnya, "Tatsuya!"
Himuro tetap tersenyum tenang saat melihat wajah terkejut Nijimura, "Oh? Sebuah kehormatan seorang bangsawan seperti anda mengingatku," senyuman Himuro berubah menjadi sebuah smirk, "Tapi sayang, sepertinya ini adalah pertemuan terakhir kita."
"Jangan bilang kau-"
"Ya. Akulah Ryuu yang kalian cari-cari," potong Himuro, kemudian ia menarik rapiernya dan menyerang Nijimura bertubi-tubi.
"Kau-! Sial!" marah Nijimura, ia berhasil menahan serangan Himuro menggunakan katana hitam legamnya, dan menendang perut Himuro, "Bersiaplah, aku tidak akan membiarkanmu hidup!" kali ini giliran ia yang menyerang ketua pemberontak itu, katana hitamnya dan rapier milik Himuro pun saling beradu.
"Hee, sombong sekali…" pria bermata satu itu tersenyum mengejek, dia melompat dengan lincahnya dan melemparkan beberapa jarum kecil beracun ke arah Nijimura, dan beberapa menancap lengannya, "Tapi itu memang cocok dengan kalian…" kembali ia menyerang Nijimura dengan rapiernya dan berhasil menggores pipi letnan muda itu, "Anjing pemerintah!" Himuro pun tertawa puas saat melihat Nijimura agak terdesak.
"Hhh… menarik…" Nijimura tersenyum kecil sambil menghapus darah yang mengalir di pipinya, dan melepaskan jarum-jarum yang menancap di lengannya, Himuro mengernyit tidak suka melihat kelakuan Nijimura itu, dan dia agak bingung kenapa Nijimura tidak terpengaruh jarum beracunnya, "Orang sepertimu mengataiku 'anjing pemerintah'?" pandangan Nijimura berubah menyipit dan berbahaya, "Jangan sembarangan, orang buangan!" dia menyerang Himuro lagi, kecepatan ayunan katananya lebih cepat dan berat dibanding tadi, "Aku harus membunuhmu! Dengan begitu aku akan bertemu dengan Kara!"
"Kata 'orang buangan' lebih terhormat bagiku," Himuro menerima serangan Nijimura, dan berusaha menahannya, jika memungkinkan dia akan menyerang balik, "Bertemu dengan 'dia'? Langkahi dulu mayatku, anjing pemerintah!"
"Sial!" geram Nijimura.
Keduanya terus saling menyerang, tubuh mereka juga sudah terluka di beberapa bagian karena terkena serangan dari senjata mereka, namun belum ada satupun yang berniat mengalah atau tumbang.
"Sudah cukup… Aku sudah bosan menahan diri, dan harus mencari adikku," geram Nijimura, lalu dia melepaskan pemberat yang terdapat di gagang katananya.
'Dia… ternyata menggunakan pemberat di katananya,' batin Himuro, menggunakan pemberat saja gerakannya sudah sangat cepat, apalagi jika pemberat itu dilepas, "Tch…" decih pria itu, tapi senyuman tipis tercetak dibibirnya, 'Apa aku akan kalah disini?'
"Akhirnya aku menemukan lawan yang sepadan…" bisik Nijimura, lalu ia mengayunkan katananya sekuat tenaga dan berhasil membuat rapier Himuro rusak dan pria itu tersungkur, lalu ia mengacungkan katananya ke leher pimpinan pemberontak itu, "Jawab aku sebelum aku menghabisimu, dimana Kara?"
"Heh…" Himuro meludah kesamping, dan itu terasa asin karena ada darah didalamnya dan tersenyum mengejek ke arah Nijimura, "Kau bertanya pada orang yang salah, aku tidak menjual informasi apapun, apalagi mengenai dia."
Nijimura menggeram tidak suka, "Disaat seperti inipun kau masih bisa sombong, hah?" dia menarik kerah Himuro, dan memandangnya dingin, "Cepat beritahu aku! Aku harus membawanya kembali!"
Himuro menatap Nijimura tajam, "Lalu apa? Lalu apa yang akan kau lakukan jika bertemu dengannya? Kau akan memenggalnya karena ia berhianat pada pemerintah, hah?!"
"Justru karena aku tidak mau melihatnya mati!" bentak Nijimura, cengkraman di kerah Himuro menguat, "Jika ia kembali sekarang, setidaknya hukumannya bisa dikurangi, hidupnya masih bisa diselamatkan!"
Himuro menarik nafasnya dan menatap Nijimura dingin, "Pertanyaannya, apa dia membutuhkan bantuanmu? Kau harusnya paham kalau ini adalah pilihannya. Bukankah ada sesuatu yang salah dengan pemerintahan hingga dia berbuat sejauh ini?"
Nijimura tidak bisa menjawab ucapan Himuro, suaranya terasa tertahan. Untuk apa sebetulnya ia menginginkan gadis itu kembali? Bukankah bagus jika gadis itu lepas dari pemerintahan, meskipun caranya 'salah'.
"Itu… Aku… hanya ingin dia hidup, dan bersamanya…" bisik Nijimura.
Himuro memejamkan matanya sejenak mendengar jawaban Nijimura, "Egois sekali…" pria itu menatap kosong ke langit di atasnya, "Walaupun aku juga begitu…" lirihnya.
Tiba-tiba, pria berkacamata dengan senyuman yang tidak pernah lepas di wajahnya muncul dihadapan keduanya, "Yak, pembicaraannya sudah cukup bukan, Nijimura-dono?" lalu ia melihat ke arah Himuro yang masih dicengkram oleh Nijimura, "Dan… Tuan pemberontak? Atau kusebut saja 'Ryuu'?"
Nijimura melepaskan cengkramannya di kerah Himuro dan menyerahkannya pada Imayoshi, "Selanjutnya kuserahkan padamu, Imayoshi," ucap Nijimura sambil beranjak pergi.
"Ah, terima kasih atas kerja kerasmu, Nijimura-dono," kata Imayoshi dengan senyum khasnya, "Nah, kuharap kau tidak melawan lagi, Ryuu-san," pria berkacamata itu memasang sebuah rantai ditangan Himuro, yang bisa dipastikan Himuro tidak akan bisa kabur.
Sementara Himuro hanya tersenyum tipis, 'Sisanya terserah pada kalian, Ruka, Taiga…'
.
.
.
Ruka mengerjap-ngerjapkan matanya dan berusaha bangun dari posisi tidurnya, tengkuknya masih terasa sakit. Lalu ia melihat ke sekelilingnya, langit sudah gelap, hanya api unggun yang menjadi sumber penerangannya di tengah hutan ini. Iris madunya pun menangkap sosok pemuda tinggi berambut merah-hitam yang sedang melamun sambil menatap api unggun di depannya.
"Taiga…" gumam gadis itu, Kagami pun melihat ke arahnya.
"Oh? Kau sudah bangun, Ruka?" Kagami menghampiri gadis itu.
Ruka mengangguk kecil, dia memijat kepalanya yang agak terasa pusing, ia teringat akan Himuro, saat ia sedang berbicara dengan pria itu, tiba-tiba semuanya menjadi gelap, dan sontak dia langsung menarik kerah Kagami, "Dimana Tatsuya?!"
"O-oy! Tenang du-"
"Cepat jawab aku, Taiga! Dimana dia?!"
Kagami mengepalkan tangannya keras, "Dia ada di markas utama…" jawabnya tanpa mau menatap wajah Ruka.
"Kita sekarang ada dimana?! Kenapa kau meninggalkannya dan malah membawaku?!"
"Kita ada di hutan pebatasan Timur, Ruka-"
"Kenapa?! Kenapa kau malah menyelamatkanku?! Ini semua salahku! Gara-gara aku, Tatsuya-"
"RUKA!" bentak Kagami sehingga membuat gadis itu terdiam, "Tenanglah dulu! Kau pikir aku mau meninggalkan Tatsuya, hah?! Tapi ini keinginannya! Dia ingin kau hidup, karena itu aku membawamu pergi! Dan berhentilah menyalahkan dirimu sendiri, karena tidak ada yang menyalahkanmu!" teriaknya frustasi sambil mencengkram kuat bahu gadis didepannya.
Ruka tertunduk mendengar ucapan Kagami, perlahan dia melepaskan tangannya yang berada di kerah Kagami dan memeluk pemuda itu, "Maaf… Maafkan aku, Taiga…" lirihnya sambil menenggelamkan wajahnya di dada bidang pria itu.
Kagami pun menghela nafasnya, dia membalas pelukan gadis itu dan mengelus surai coklatnya, "Aku juga minta maaf karna membentakmu, Ruka," dia menempelkan dahinya di puncak kepala gadis itu, "Besok kita kembali untuk melihat keadaan. Tenanglah, percayalah pada Tatsuya…" bisik pria itu pada Ruka sebetulnya dia juga mengatakan itu pada dirinya sendiri, karena dia juga tidak kalah khawatir dengan Ruka.
'Kau pasti baik-baik saja kan, Tatsuya?'
.
.
.
Sebuah besi panas menempel di paha pemuda itu, pemuda itu tidak berteriak ataupun mengeluarkan suara sedikitpun, melainkan hanya menatap benci dengan sebelah matanya pada orang-orang dihadapannya.
"Yare-yare… Benar-benar keras kepala sekali ya…" Imayoshi menggelengkan kepalanya sambil menarik nafas santai, "Apa susahnya sih mengatakan informasi mengenai jaringan pemberontakmu yang lain?"
Himuro lagi-lagi tidak mengatakan apapun, dia masih berusaha menenangkan detak jantungnya. Sekujur tubuhnya terasa sangat perih, pakaiannya dilucuti, dia hanya menggunakan kain untuk menutupi bagian bawahnya.
"Kau tuli, hah?! Cepat jawab!" pria beralis tebal memukulkan tinjunya ke perut Himuro sekuat tenaga, sehingga Himuro terbatuk dan mengeluarkan darah dari mulutnya.
"Jangan kasar-kasar padanya, Kou…" ucap pria berwajah cantik, yang juga merupakan anggota divisi khusus lain.
"Urusai, Aku!" bentak Kou.
"Ck… Jangan panggil aku dengan nama itu!" lalu pria berwajah cantik itu menjilat pisau kecil yang ada di tangannya, dan menghampiri Himuro, "Hei, sebaiknya kau menjawab pertanyaan kami, kalau tidak…" dia menyayat-nyayat lengan Himuro tipis, "Kau akan semakin terluka loh…"
"Heh…" Himuro tertawa pelan sehingga orang-orang yang ada disitu menatapnya aneh, apa dia sudah gila, karena disiksa terus-menerus? "Kuberi tahu satu hal…" pria itu menatap dingin mereka, "Aku tidak akan pernah menjual informasi apapun pada kalian, para anjing pemerintah."
"Haa?" semua yang ada disitu, kecuali Imayoshi, langsung menatap marah pada Himuro.
"Hoy, sialan!" Kou menarik poni Himuro yang menutupi sebelah matanya, "Kau pikir kau sedang bicara dengan siapa, sampah?!"
"Aku tahu, kalian adalah divisi khusus, 'tukang bersih-bersih' ah, tepatnya 'boneka' pemerintah kan?" ucap Himuro tenang, dan tinjuan pun melayang di pipi Himuro.
"Si brengsek ini…" geram Kou kesal.
Imayoshi pun menghela nafasnya, "Hhh… Sepertinya diteruskan pun percuma…" dia bangkit dari kursinya dan pupil abu yang biasa tidak terlihat itu kini menatap Himuro dingin, "Kalian bebas melakukan apapun padanya, asal jangan sampai dia mati."
"Eh? Benarkah, Shou-san?!" kata Aku senang, dia mulai mengeluarkan 'koleksi' pisaunya.
"Ya, kalian bebas 'bermain' dengannya, tapi ingat, jangan sampai ia mati, karena eksekusi yang sebenarnya akan dilakukan besok," ucap Imayoshi sambil tersenyum iblis dan berjalan meninggalkan ruangan itu, diikuti pria berambut abu dibelakangnya.
"Loh? Kau tidak ikut 'bermain' juga, Chi?"
"Aku tidak tertarik," jawab Chi dingin. Setelah mereka keluar dari ruang penyiksaan itu, sebuah prajurit memanggil mereka, tepatnya Imayoshi.
"Ketua Imayoshi, anda di panggil ke ruang pertemuan sekarang."
"Ah, aku mengerti," Imayoshi pun langsung segera pergi menuju 'ruang pertemuan' yang dimaksud.
.
.
.
Setelah sampai di ruang pertemuan itu, ia melihat para mentri dan elit lainnya, Nijimura, kiseki no sedai, dan bahkan raja. Diapun langsung menunduk dihadapannya.
"Angkat kepalamu, Imayoshi Shouichi," perintah sang raja, "Terima kasih atas kerja kerasmu dan Nijimura Shuuzo, ketua pemberontak berhasil di tangkap, dan sekarang, aku akan menentukkan hukuman untuknya," pandangan raja berubah menjadi kejam, "Besok pukul dua belas siang, eksekusi mati dia dengan cara di penggal, dan lakukan itu di alun-alun kota yang disaksikan seluruh masyarakat!"
Nijimura dan para kiseki no sedai kecuali Akashi menatap raja tidak percaya.
"Mohon maaf raja, tapi itu-" ucapan Nijimura terhenti karena raja sudah memberinya tatapan tajam.
"Tidak ada penolakan! Ini pelajaran untuk masyarakat agar tidak ada lagi yang berani memberontak!"
Nijimura mengepalkan tangannya erat, dia tidak bisa melawan ucapan rajanya, "… Aku mengerti."
"Bagus," raja mengambil sebuah wine yang dibawakan seorang pelayan, "Sekarang, mari kita berpesta untuk merayakan kemenangan kita!"
Dan para mentri, bangsawan, dan elit lainnya pun bersorak. Hanya beberapa orang yang menatap itu tidak suka, terutama Nijimura dan Akashi, mereka langsung meninggalkan ruangan itu, diikuti kiseki no sedai lainnya.
"Akashi, kau akan kemana sekarang?" tanya pemuda berambut hijau.
"Menemui si ketua pemberontak itu," jawab pemuda berambut merah itu singkat. Kiseki no sedai yang lain pun menatapnya terkejut.
"U-untuk apa, Akashicchi?"
"Hanya ingin berbicara dengannya."
Kelima kepala lainnya hanya saling berpandangan bingung, namun akhirnya mereka memutuskan untuk mengikuti Akashi menuju ruang penyiksaan.
Himuro membuka matanya saat ia mendengar ada orang yang memasuki selnya, 'Ada apa lagi?' batinnya. Padahal baru beberapa menit yang lalu para anggota divisi khusus meninggalkannya setelah bosan menyiksanya karena Himuro tidak bereaksi apapun. Tiba-tiba iris abu milik Himuro menangkap surai berwarna merah menyala dan mata heterokom yang menatapnya dingin.
"Ternyata kau…" gumam Himuro tidak tertarik.
"Jadi kaulah si Ryuu itu…" Akashi tersenyum tipis,
"Ya. Kalau kau sudah tahu, kau mau apa?"
Akashi menarik nafasnya, "Dengar, aku hanya mengatakan ini sekali," Himuro menautkan kedua alisnya, "Bergabunglah denganku."
"Hah?!" kelima orang yang berada di belakang Akashi menatap pemuda itu tidak percaya.
"Oy, Akashi! Kau bercanda kan?!" kata pemuda berambut navy blue.
"Tidak. Aku serius."
"Akashi, apa kau gila-nanodayo?!" bentak si surai hijau.
Himuro pun tertawa mendengar perkataan Akashi, "Aku tidak peduli kau bermaksud bercanda atau tidak, tapi aku menolak, tuan bangsawan."
"Kenapa?" Akashi mengabaikan perkataan Midorima dan fokus pada Himuro.
"Aku tidak berminat bergabung dengan orang pemerintahan."
Pemuda bersurai merah itu menghela nafasnya, "Kalau begitu, pembicaraan selesai. Nikmati eksekusimu besok," ucap pemuda itu dingin sambil meninggalkan ruangan tersebut.
"A-Akashicchi! Tadi kau sungguh-sungguh mengajak dia bergabung?" tanya Kise saat mereka sudah berada diluar.
"Untuk apa aku bercanda?"
"Tapi kenapa?"
Akashi tersenyum tipis, "Aku membutuhkannya untuk mencapai tujuanku. Tapi karena dia menolak, artinya aku harus mencoba pada yang lain, dan kupastikan, yang kedua ini tidak akan menolakku," ucapnya dengan nada absolute.
"Aku tetap tidak mengerti…" gumam Kise, para kiseki no sedai yang lain juga mengangguk, namun Akashi mengabaikan mereka dan hanya tersenyum tipis.
Di tempat lain, Ruka terbangun karena mendengar beberapa suara, padahal masih pukul lima pagi, dan dia melihat Kagami tengah berbicara dengan sekumpulan orang, terlihat dari wajahnya kalau Kagami panik.
"Taiga, ada apa?"
Kagami mengepalkan tangannya erat dan wajahnya menegang, "Ruka…" pria itu memegang pundak Ruka, "Tatsuya telah ditangkap."
.
.
.
Kagami memacu kudanya cepat sementara dibelakangnya Ruka memeluk punggungnya erat.
"Oy! Takao! Apa kau yakin Ryuu sudah tertangkap?!" teriak Kagami pada pria berambut hitam yang memacu kuda di belakangnya.
"Ya, sebetulnya kami dibagi menjadi dua kubu, kubu pertama lah yang menyerang pasukan pemerintah duluan, dan kubu kedua menunggu perintah lanjutan dari Ryuu-sama, dan Ryuu-sama bilang, jika ia tidak menemui kami lebih dari enam jam, itu artinya terjadi sesuatu padanya, dan kami diperintahkan untuk mencarimu, Kagami-san!"
"Kuso…" geram Kagami. Dia memacu kudanya lebih cepat lagi.
Sementara Ruka semakin mengeratkan pelukannya, 'Tatsuya…' firasatnya benar-benar buruk.
Dua jam kemudian, mereka sampai di markas utama mereka, dengan hati-hati mereka melangkah karena dikhawatirkan masih ada pasukan pemerintah, dan yang tersisa disana hanyalah puing-puing bangunan dan beberapa bercak darah sisa pertempuran, tidak ada mayat atau apapun yang tersisa.
"Pemusnahan…" gumam Ruka.
"Eh?" Kagami menatap Ruka bingung.
"Iya, ini pekerjaan divisi khusus. Kami memusnahkan semua barang bukti yang berkaitan dengan target, baik itu mayat atau apapun…" bisiknya lirih sambil mengingat pekerjaannya dulu.
Kagami memicingkan matanya, "Mengerikan… Hanya semalam semuanya lenyap…"
"Tatsuya…" Ruka menggenggam katana yang diberikan Himuro padanya. Jika memang dia ditangkap oleh pemerintah maka sudah pasti yang menanganinya terlebih dahulu adalah divisi khusus.
Kagami juga tidak tahu harus berbuat apa sekarang, membawa kabur Ruka kah, atau nekat memasuki ibu kota yang sudah jelas merupakan sarang pemerintah untuk menyelamatkan Himuro.
Tiba-tiba sebuah burung gagak menghampiri Ruka, "Ini… Milik divisi khusus…" gumam Ruka, dia mengambil surat yang ada di kaki burung gagak itu, dan matanya membelalak setelah membaca isi surat itu.
"A-ada apa, Ruka?"
Ruka segera menggenggam tangan Kagami erat, "Taiga… butuh berapa lama untuk sampai ke ibu kota?"
"Sekitar empat sampai lima jam…"
'Empat sampai lima jam? Dan sekarang sudah pukul delapan lewat…
"Taiga! Segera ke ibu kota! Tatsuya akan di eksekusi pukul 12 siang!" perintah Ruka dengan nada bergetar.
"A-! Sial! Kalau bergitu, ayo cepat!"
Kagami dan Ruka segera menaiki kudanya dan memacunya cepat menuju ibu kota.
'Semoga… Semoga masih sempat!'
.
.
.
Para masyarakat telah berkumpul di alun-alun kota untuk menyaksikan eksekusi mati Himuro, raja dan para bangsawan dan elit lainnya juga hadir, suasana semakin ramai ketika melihat Himuro mulai menaiki sebuah panggung kecil dengan tinggi kurang lebih 4 meter yang berada di tengah alun-alun tersebut, tempat eksekusinya. Tangan dan kakinya di rantai, dan dia dipaksa bersimpuh disitu, disampingnya terdapat seorang algojo dengan pedangnya yang mengerikan. Himuro tidak mengatakan apapun dan hanya menunduk.
"Perhatian semuanya!" suara raja yang menggema membuat suasana hening seketika, lalu raja berjalan menaiki panggung kecil itu dan berdiri disamping Himuro, "Inilah akibat dari menentang kekuasaanku! Kau akan mati sia-sia!" ucapnya arogan sambil menunjuk Himuro.
Himuro tertawa keras mendengarnya, "Mati sia-sia katamu?" Himuro menatap raja dengan tatapan mengejek, "Aku tidak mati sia-sia! Setidaknya aku sudah berhasil menunjukkan kalau pemerintah itu memang busuk!"
"Apa katamu?!" sang raja menghajar wajah Himuro keras. Dilain tempat Akashi menatapnya sambil tersenyum tipis.
Himuro kembali memasang wajah tenangnya, lalu ia menatap ke sekumpulan masyarakat di depannya, "Tidak akan ada pemberontak jika kalian, para pemerintah dan kaum elit tidak bertindak seenaknya pada rakyat kelas bawah!"
"Tutup mulutmu!" bentak raja.
"Kenapa? Aku hanya mengatakan yang sebenarnya, yang mulia raja…" ucap Himuro tenang.
"Kau!" raja menggeram marah dan mengambil pedang yang dipegang algojo, "Biar aku saja yang memenggalnya! 5 menit lagi, jam akan berdentang menunjukkan pukul 12, dan saat itu juga hidupmu berakhir!"
"Tidak masalah… Lagipula aku juga tidak mau menghirup oksigen yang sama denganmu," Himuro menatap raja datar, "Dan jangan berpikir kalau dengan kematianku semua pemberontakkan akan berakhir, raja… Selama anda tidak berubah, maka pemberontakkan tidak akan berhenti."
"Beraninya kau mengaturku…" desis sang raja.
Himuro menatap kosong ke arah jam di depannya, hanya tinggal 1 menit lagi. Dan matanya menangkap sosok yang sangat ia kenal berlari memasuki alun-alun kota, berusaha menerobos keramaian sambil menatapnya, dan akhirnya pandangan mereka bertemu. Himuro pun mengulum sebuah senyum di bibirnya, dan mengatakan kalimat yang akan selalu diingat oleh gadis itu, "Teruslah hidup, Ruka…" bisiknya.
'Aku bersyukur bisa melihatmu disaat terakhirku…'
Mata Ruka membelalak saat melihat sang raja mengayunkan pedangnya, jam berdentang menunjukkan pukul 12 siang, "TATSU-mmph!" pandangan mata dan mulut Ruka ditutup oleh tangan besar Kagami. Jeritannya tertahan… Sementara Kagami sendiri menundukkan pandangannya dan memejamkan matanya erat, dia merasakan kalau tangan yang menutupi mata Ruka basah oleh air mata gadis itu, dia juga merasakan kalau gadis itu berusaha menjerit. Segera ia tarik gadis itu ke pelukannya agar dia tidak perlu melihat panggung kecil yang sekarang berwarna merah itu, agar dia tidak perlu melihat tubuh kaku Himuro dan merasakan sakit lebih dari ini.
Eksekusi telah selesai, semua orang sudah keluar dari alun-alun itu, tidak ada yang berani mengeluarkan sepatah katapun, tapi dalam ingatan mereka terpatri akan satu hal, 'Jangan melawan Raja jika tidak ingin mati'. Mayat Himuro? Entahlah… Mungkin akan 'dilenyapkan' oleh divisi khusus.
Ruka dan Kagami berjalan ke arah hutan yang sepi untuk menyembunyikan diri mereka lagi, "Ruka…" Kagami kembali memeluk erat Ruka yang semenjak keluar dari alun-alun tidak mengatakan apapun dan hanya menundukkan pandangannya, "Menangislah…" bisiknya sambil membelai lembut surai coklat gadis itu.
Kaki Ruka serasa lemah sekarang, ia jatuh terduduk diikuti Kagami yang masih memeluknya, "Ukh… A-aaakh!" gadis itu menangis meraung-raung di dada Kagami, membiarkan emosinya tumpah, setidaknya dengan menangis, rasa sakit di dadanya sedikit berkurang, gadis itu terus menangis hingga suaranya tidak keluar lagi. Sementara Kagami tetap setia memeluk gadis itu, tanpa sadar iris crimson milik Kagami juga mulai basah, dan tetesan-tetesan air asin dari kelopak matanya mulai mengalir di pipinya.
.
.
.
"Taiga…" lirih Ruka dengan pandangan mata yang kosong setelah suasana duka yang menyelimuti hati mereka berkurang, gadis itu berdiri dan mengangkat katana yang diberikan Himuro padanya, "Ayo hancurkan pemerintahan dan bunuh raja."
Kagami pun ikut berdiri di samping gadis itu, pandangan matanya menajam, "Ya."
"Pembicaraan yang menarik," ucap seseorang dingin di belakang mereka, dan iris mata Ruka membelalak saat tahu siapa orang itu, "Biarkan aku bergabung."
"Akashi…sama…"
.
.
.
TBC
Author's note :
Ha-halo… *ngumpet*
Iya-iya! Author minta maaf uda ngebunuh Himuro disini! Aah! Maaaaaf! *sujud* Sebenernya author juga gamau Hime-chan mati, tapi mau gimana lagi, tuntutan naskah… ;A; #alesan aja lu! *dibantai rame-rame*
O-oke… sedikit penjelasan mengenai chap ini…
Rapier : Pedang yang langsing(?), tipis, dan ujungnya tajem, sangat cocok buat nusuk-nusuk(?), biasanya si ada di anggar :3
Terus udah tau kan 'Aku' itu siapa? xD Bingo! Mibuchi Reo-nee desu~! Ditulis pake kanji悪い (warui), 'Aku' itu cara baca yang lainnya, artinya iblis, atau buruk. :3
Saa, bales review dulu~
Ayanoshida : Itu udah Nijimura vs Himuro-nya xD Walaupun akhirnya Himuro… ._. *kabur sebelum dibantai*
Silvia-KI chan : Sipp! Ini udah update! :3
Aoi Yukari : Nasib Kara? Entah akan bagaimana dia… :') #digetok
Akiyama Seira : Fufu… Kita liat nanti GoM bakal gimana… x3 Dan ini udah ada, Nijimura vs Himuro-nya, walaupun Himuro-nya… #udah oy!
Minna-san… Maaf banget kalau chap ini mengecewakan… Apalagi buat yang pengen Himuro jadian sama Ruka(Kara)… ;A;
Nah, silahkan lampiaskan unek-unek(?) kalian di kotak review, author pasrah deh… :'3
Makasih banyak buat semua yang udah baca, review, follow, dan fave…
See you next chap~!
Sign, Kaito Akahime.
