Sebuah fanfiksi manga Dragon Knights

Disclaimer: Dragon Knights adalah milik Mineko Ohkami.

Bab XI (Cesia)

Tangis dalam Kesunyian

"Aku telah membuatnya hancur….," gumamku pelan.

"Ini takdir yang harus dihadapinya," sahut Alfeegi dari belakangku.

Kudekati Rath yang tengah tertunduk di lantai di samping peti dimana jasadku dibaringkan di ruang berdoa. Wajahnya basah oleh air mata. Matanya menatap kekosongan, seolah justru dirinyalah yang tidak bernyawa.

"Rath…," panggilku.

Namun dia tidak bergerak ataupun memandangku. Tatapan matanya masih tetap kosong.

"Aku masih disini," bisikku. Namun suaraku terdengar seperti sebuah rintihan.

Kuulurkan tanganku. Aku ingin menyentuhnya. Tapi tidak bisa. Ujung jariku menembus lengan Rath. Aku terkesiap.

"Ini tidak adil," kataku.

"Ini tidak bisa dihindari. Takdir terkadang memang terasa tidak adil. Namun hanya sang Pencipta sendiri yang mengetahui mana yang adil dan yang tidak," kata Alfeegi. Kuacuhkan ceramahnya. Aku sedang tidak ingin mendengar ceramah apapun saat ini. "Lagipula kau tidak mempersiapkan Yang Mulia untuk menghadapi peristiwa ini," sambung Alfeegi.

Kalimat terakhirnya menyengatku. Aku berdiri dengan cepat, berbalik menghadapi Alfeegi. "Seandainya aku mengatakannya sejak awal, apa kaukira hasilnya akan berbeda? Rath akan tetap terluka," sergahku keras. "Aku tidak ingin menambah beban pikirannya. Aku tidak ingin melihatnya terus-terusan bersedih karena tahu istrinya akan mati karena kutukan Nadil. Dia pasti akan mencari cara untuk mempertahankanku. Kita tidak akan tahu cara macam apa yang akan dipakainya. Bagaimana bila Rath akan membahayakan dirinya sendiri?"

Alfeegi terdiam. Ekspresinya nyaris sama kosongnya dengan Rath.

"Aku ingin membahagiakan Rath. Menjaganya…. Sebagaimana janjiku pada Lady Raseleane. Meskipun aku tidak bisa mempertahankan kebahagiaannya lebih lama dari yang kuharapkan."

Tanganku terkepal erat sampai bergetar, menahan amarahku. Kemarahanku pada diri sendiri karena ketidaksanggupanku.

Aku sangat mencintai Rath. Sangat mencintainya hingga merasa begitu sakit saat tidak lagi bisa meraihnya. Terus melihatnya terpuruk di ruangan ini sejak kemarin membuatku merasa tersiksa. Aku melihatnya menangis sambil memeluk jasadku. Dia tidak mau melepasnya, hingga Thatz dan Tetheus terpaksa menyeretnya keluar kamarku.

Lalu setelah jasadku dipindahkan ke ruang berdoa ini, dia kemari dan menolak keluar. Rath mengusir pelayan yang membawakan makanan untuknya. Dia terus terpuruk di lantai sambil melamun. Terus tenggelam dalam pikirannya sendiri, tidak akan ada orang yang bisa memasuki dunianya saat ini. Sesekali dia menangis. Suara tangisannya memilukan.

"Apa yang harus kulakukan?" tanyaku tidak kepada siapapun.

"Untuk sementara kau bisa tinggal. Lakukan apapun yang kau mau," kata Alfeegi datar

Aku bersimpuh di samping Rath, mengamati seraut kelelahan yang ada di wajahnya. Ingin rasanya aku memeluknya agar dia merasa lebih tenang. Rath memang terlihat tenang, diam seperti sedang membeku. Namun bukan diam yang seperti ini yang ingin kulihat.

"Dunia kalian sudah berbeda. Tidak seharusnya mereka yang sudah mati berhubungan dengan yang hidup," sahut Alfeegi.

Sesaat kemudian Alfeegi tampak mempertimbangkan sesuatu. Lalu dia menambahkan dengan enggan, "Kau mungkin bisa menyentuhnya dengan bantuanku."

Aku terperangah mendengar apa yang dikatakan Alfeegi. Namun sebelum aku sempat mengatakan permohonan yang terlintas di benakku saat itu, Alfeegi lebih dulu menyatakan penolakannya.

"Mestinya dilarang…. Tapi dalam situasi yang sangat mendesak, aku akan memberimu pertolongan. Sekali saja…"

Aku memandang Alfeegi dengan memelas, berusaha membuatnya luluh. "Tolonglah. Kau bisa melihat sendiri akibat dari peristiwa ini. Aku tidak tahan melihat Rath yang seperti ini."

Alfeegi terdiam, tampak sedang berpikir.

"Kumohon…"

Tapi Alfeegi menggeleng. "Kurasa tidak ada manfaatnya bila kau mendekatinya sekarang. Setelah kau menghilang lagi dari penglihatannya, Yang Mulia akan kembali dalam keadaan seperti ini."

"Kau sendiri yang bilang akan menolongku!" protesku keras. Suaraku bergaung dalam ruangan yang sunyi.

Alfeegi tidak memberikan respon apapun. Dia malah berbalik dan mulai berjalan ke arah pintu keluar, sama sekali tidak mengacuhkanku.

Amarahku sudah mencapai ubun-ubun. Aku berdiri dengan kaku sambil mengepalkan kedua tanganku. "Alfeegi!" teriakku.

"Pikirkan tawaranku tadi sebijaksana mungkin," katanya datar sambil terus berjalan. Kemudian dia berbelok dan sosoknya tidak lagi terlihat.

Aku menghentakkan kakiku di lantai pualam dan menggeram kesal.

"Sial. Apa sih maksudnya? Dia bilang mau menolong, tapi saat aku memintanya dia malah menolak. Kalau tak mau membantu sebaiknya tidak usah…."

Satu isakan pelan menghentikan omelanku. Kulihat Rath menangis lagi.
Pundaknya terguncang pelan selagi dia terisak-isak.

"Rath… Aku masih disini. Setidaknya untuk sementara….." Aku tahu Rath tidak bisa melihat atau mendengarku, tapi aku tetap mengatakan kata-kata yang kumaksudkan untuk menenangkannya. "Tolong maafkan aku yang telah melukaimu sampai seperti ini. Aku tidak bisa mendampingimu lebih lama dan membahagiakanmu. Tapi aku akan selalu mencintaimu. Dari sejak dulu dan hingga kapanpun juga…. Aku akan tetap mencintaimu."

Rath masih tetap terisak. Aku beringsut semakin mendekat.

"Aku bersyukur benang takdir itu sempat mengikatku padamu dan menjadikan kita satu. Tidak akan ada kata-kata yang cukup untuk menjelaskan betapa aku sangat beryukur atas cinta yang kauberikan padaku. Aku sangat bahagia bisa menjadi bagian dari dirimu…."

Lalu terdengar langkah-langkah kaki memasuki ruangan. Aku menoleh dan melihat Thatz dan Rune masuk beriringan. Rath yang sudah berhenti terisak tidak terusik dengan kedatangan mereka. Dia bahkan tidak mengangkat wajahnya sama sekali, seolah dia juga tidak bisa melihat kedua sahabatnya.

"Sahabat kita terlihat mengenaskan," keluh Thatz.

"Ya," sahut Rune setuju. "Kita harus mengajaknya keluar dari sini. Rath sudah berada disini sejak kemarin. Kurasa dia juga tidak tidur."

Rune menyalakan sebuah lilin. Thatz mengikutinya. Lalu mereka berdua memejamkan mata dan terdiam dalam doa mereka. Aku beranjak dari sisi Rath, lalu menghampiri Thatz dan Rune yang masih tenggelam dalam kekhusyukan doa mereka – cukup mengejutkan bagiku melihat Thatz berdoa seserius ini, sesuatu yang belum pernah kulihat sebelumnya.

"Terimakasih atas doa kalian. Aku sangat menghargainya," kataku.

Mereka masih belum selesai.

"Tolong bantu Rath," kataku.

Air mataku meleleh keluar. Aku sempat merasa takjub bahwa aku masih bisa menangis. Kuusap air mataku dengan punggung tangan. Air mata ini masih terasa nyata sebagaimana aku masih hidup dulu.

Aku tidak tahu pertolongan macam apa yang akan kuminta pada Thatz dan Rune. Aku tidak ingin melihat Rath terus terjebak dalam dukanya seperti ini. Tapi apa yang bisa dilakukan? Segalanya sudah terlanjur jadi seperti ini.

Rune selesai berdoa. Dia menghampiri Rath dan berlutut di depannya.

"Rath," panggilnya dengan lembut. Sementara yang dipanggil tetap tidak bergeming. "Ini sudah larut malam. Tidakkah kau ingin kembali ke kamarmu?"

Rath bergerak sedikit. Pelan-pelan dia mengangkat kepalanya, memandang Rune. Namun tatapannya masih tetap kosong. Aku tidak yakin dia benar-benar memandang Rune.

"Sejak kemarin kau disini terus. Kau juga tak mau makan. Kami semua mencemaskanmu." Rune mengulurkan tangan dan menyentuh lengan Rath.

Namun ekspresi Rath tidak berubah sedikit pun. Thatz yang rupanya sudah menyelesaikan doanya, bergabung di sebelah Rune.

"Ayolah, Rath. Ikutlah dengan kami. Aku dan Rune akan mengantarmu ke kamar. Istirahatlah. Kau tidak bisa disini terus. Besok adalah pemakaman Cesia. Kau juga harus mempersiapkan diri. Kalau kau disini terus, kurasa besok kau bakal tumbang bahkan sebelum acara pemakamannya selesai," kata Thatz dengan nada memohon.

"Aku akan menemani Cesia disini," kata Rath pelan, nyaris sepelan bisikan. Suaranya terdengar parau.

Thatz dan Rune beringsut mendekati Rath, tampak berusaha mendengar apa yang dikatakan Rath.

Rath mengerjapkan matanya pelan. Tampaknya dia memang benar-benar sudah kelelahan. Namun dia masih tetap keras kepala. "Aku akan menemani Cesia disini," ulangnya, masih sama pelan seperti sebelumnya. Kata-katanya terdengar seperti sebuah igauan di telingaku.

"Tapi kau juga butuh istirahat," kata Rune. Wajahnya berkerut oleh kesedihan. "Kumohon jangan seperti ini."

"Rath, tolong dengarkan kami," kata Thatz. "Kami semua tahu kau sangat kehilangan Cesia. Kami juga sedih karena Cesia pergi. Tapi janganlah kau menyiksa dirimu sendiri."

Rune mendadak terisak. Dia menutup mulutnya, berusaha menahan tangisnya. Thatz memandang frustrasi ke arah Rath yang tidak kunjung memberikan tanggapan positif.

"Dengarkan aku, Rath!" Thatz mencengkeram kedua lengan Rath dan mengguncang tubuhnya. "Hentikan perbuatanmu ini. Lihatlah dirimu sendiri. Jangan kaupikir kami akan tahan melihatmu seperti ini. Kami semua mencemaskanmu. Lady Raseleane juga….. Janganlah menambah kesedihannya."

Air mata Rath kembali mengalir. Thatz melepaskan cengkeramannya di lengan Rath, tampak menyesal seolah telah menyakiti anak kecil. Ekspresi datar di wajah Rath berubah sedikit. Sorot matanya tidak lagi kosong. Berganti dengan kesenduan yang selama ini seringkali kulihat, tapi kali ini wajahnya basah oleh air mata.

"Tolong tinggalkan aku sendiri disini. Aku ingin bersama Cesia lebih lama lagi," kata Rath.

Untuk sesaat Thatz dan Rune terdiam. Lalu tatapan mata Thatz melembut.

"Kalau begitu aku akan tetap disini," katanya.

"Aku juga," kata Rune. "Kau adalah sahabat kami. Seorang sahabat tidak akan pergi meskipun kau menyuruhnya meninggalkanmu."

"Begitu juga dengan Cesia. Dia juga sahabat kami," sambung Thatz.

Untuk sesaat sepertinya Rath bingung akan menjawab apa. Namun kemudian dia membuang muka untuk menghindari tatapan Thatz dan Rune. "Terserah kalian," kata Rath.

Lalu mereka bertiga duduk berdampingan.

Malam semakin larut dalam kesenduan. Diiringi senandung hujan yang turun dengan deras. Tiupan angin yang keras menghempaskan tetes-tetes air hujan ke permukaan kaca jendela – yang bermotif mawar merah dan sulur-sulur yang meliuk-liuk rumit – dan menimbulkan suara mengetuk-ngetuk yang ramai, memecah kesunyian yang melingkupi ruangan ini.

Sedangkan aku tenggelam dalam kesedihanku. Berbagai emosi bercampur jadi satu, memunculkan sebentuk kesedihan yang begitu kelam dan pekat. Betapa menyakitkan saat kita menorehkan luka pada orang-orang terkasih. Terutama Rath, yang memiliki cintaku seutuhnya dan telah menyerahkan cintanya padaku.