[BGM: Regina Spektor – Us]

Luhan meringkuk gelisah di atas sofanya. Pikirannya terlalu di sibukkan oleh kata-kata Wu Yi Wei beberapa hari yang lalu.

Bagaimanapun; ancaman pria tua itu tidak main-main. Mungkin untuk sekarang Luhan tidak merasakan efek dari bendera perang yang dikibarkannya. Tapi, Luhan juga gelisah menunggu kabar dari orang-orang terdekatnya.

Bunyi bel apartemennya berbunyi nyaring. Luhan segera beranjak menuju pintu. Ketika pintu kayu bercat putih gading itu terbuka, sosok Minseok yang kacau tersaji di hadapan Luhan.

"Apa yang terjadi padamu, Seokkie?" Luhan tidak mengerti kenapa Minseok sangat kacau. Bahkan perempuan berpipi bulat itu langsung menangis ketika memasuki apartemennya.

"Minseok.." bukannya langsung menjawab, Minseok malah memeluk Luhan erat.

"Ada apa? Apa Jongdae menyakitimu?" Minseok menggeleng ketika Luhan bertanya. Perempuan itu sudah agak tenang, meskipun hanya sesenggukan ringan.

"Lalu…?"

"A-aku," Minseok menarik nafasnya pendek-pendek. "Aku dipecat. Jongdae juga dipindahkan menjadi bagian karyawan biasa di Daegu."

"APA?!" Luhan tidak akan pernah percaya. Duduk di kursi, bercakap, bergosip, apalagi menemukan pasangan seperti Jongdae adalah kehidupan Minseok sebenarnya. Ia tidak mengerti kenapa Minseok langsung dipecat sekaligus Jongdae yang dipindah tugaskan di kota kecil.

Tapi satu nama terlintas di kepala Luhan; Wu Yi Wei.

.

.

Puas untuk menenangkan Minseok yang kini terlelap di kamarnya, Luhan memilih untuk menyendiri di ruang tengah. Berbekal segelas coklat panas yang mulai mendingin, Luhan masih sama saja. Tetap mendudukkan tubuhnya diatas sofa usang.

Luhan memandang ponselnya nanar. Pesan-pesan lama Sehun yang Luhan sudah baca berulang kali. Hingga rekaman suara saat mereka saling menelepon di hari sebelumnya.

Sehun marah besar padanya semenjak skandal tersebut. Baru tadi pagi, skandal yang heboh selama tiga hari itu diredakan sendiri oleh Yifan dan Zitao. Entah atas ide siapa, Luhan menilai jenius atas alasan yang digunakan Yifan untuk menghindari skandal tersebut menjadi membesar.

'Gadis itu teman dekatku sewaktu SMU. Kami baru-baru ini melakukan kontak kembali. Dia bercerita kalau salah satu teman kami ada yang meninggal dan dia mengajakku untuk memberikan penghormatan yang terakhir padanya. Makanya, aku kira media akan berburuk sangka ketika melihatku dan temanku berjalan ke makam di lereng bukit waktu itu.'

Luhan mendesah lega. Baik Yifan dan Zitao tidak menyebutkan alasan sebenarnya dan juga menyebutkan namanya. Cukup beruntung juga saat itu dia memakai kacamata hitam. Apalagi shot photo dirinya di bagian wajah sedikit blur hingga tidak bisa ditebak.

Luhan kembali pada ponselnya. Jemarinya tergerak mengetikkan satu pesan singkat untuk Sehun.

To: Sehun Oh

'Kau sudah tidur? Kalau begitu, selamat malam.'


"Sassy Lady and City Cool Man."

Xi Luhan | Oh Sehun EXO | Wu Yifan | others

Romance | Friendship | Drama

Lenght: Chaptered | Rated: T

WARNING! : GS, drama-adict, menye-menye.

Disclaimer: semua cast yang kalian tahu dari dunia K-pop bukanlah milikku (berdoa saja, semoga Sehun milikku #slapped), mereka sepenuhnya milik Tuhan YME dan keluarga mereka masing-masing. Aku hanya yang memiliki plot cerita ini atas nama ©Hwang0203 dan kuharap kalian bisa membuat cerita khayalan kalian sendiri daripada harus meniru orang lain ._.

.

Chapter 11 : Farewell For You, Not For Me

.


Kerja selama tiga hari belakangan dengan dua hari menginap di kantor membuat tubuhnya serasa remuk. Apalagi kali ini ia lembur lagi tanpa menginap.

Lega menderanya ketika konferensi pers berakhir. Tetapi, sergapan rasa marah sekaligus kecewa muncul ketika Asisten Han datang ke ruangan tim-nya untuk memberitahu kalau Kim Minseok telah dipecat secara hormat atas alasan yang tidak bisa di ganggu gugat –termasuk Yifan maupun Sehun yang tidak bisa melawan kekuasaan Wu Yi Wei selama pria tua itu masih memimpin.

Hal yang sama juga terjadi ketika dia mendengar Kim Jongdae dipindah tugaskan di cabang kecil mereka di Daegu sebagai karyawan biasa. Tentu saja ini sangat membingungkan.

Sehun tahu siapa di balik semua ini. Wu Yi Wei; ayah Luhan. Sehun tahu ketika Minseok bercerita kalau ayah Yifan yang menyebabkan Luhan dan Yifan berpisah.

Maka dari itu, dari awal ketika bertemu pria tua itu tujuh tahun silam membuatnya tidak tenang. Ia sudah menduga pribadi seperti apa Wu Yi Wei.

Jika dulu Yifan dan Luhan dipisah oleh Yi Wei, Sehun merasa kini gilirannya. Entahlah, hanya firasat.

Lelaki berusia 25 tahun ini melepas kasar dasi yang mencekik lehernya sekaligus melempar jas ke sembarang arah.

Bunyi dentingan LINE membuat Sehun mau tak mau mengambil ponselnya. Notifikasi pesan.

Ia tidak masalah; tetapi akun dengan ID Lu-Deer membuatnya tidak tenang.

'Kau sudah tidur? Kalau begitu, selamat malam'

Ingin sekali Sehun memencet pilihan panggilan kontak. Tetapi rasa gengsi menguasainya. Alhasil, lelaki albino ini hanya menjatuhkan dirinya di atas sofa sembari melihat-lihat kembali history pesannya.

Ia ingin percaya pada Luhan. Ia sudah memberikan kepercayaannya serta hatinya pada Luhan. Dia tidak ingin diganggu oleh masalah Yifan lagi. Sudah cukup dulu Yifan membuat kisah cinta pertamanya pupus.

Skandal yang mencuat beberapa hari yang lalu menggoyahkan kembali kepercayaannya. Mungkin, dia ingin menjernihkan pikirannya lebih dulu seharian.

Gengsi tetaplah gengsi untuk lelaki Kota Metropolitan.

Ia tidak ingin kadar kelemahannya terlihat oleh perempuan. Maka dari itu, nilai yang ia junjung juga tinggi. Jika perempuan seperti Luhan… sulit juga untuk mempertahankan eksistensi gengsinya.

Jadi Sehun melepaskan seluruh penat dalam hati dan pikirannya dengan menari di ruangan khusus dalam apartemennya. Tidak peduli sampai tubuh itu remuk atau tidak. Toh, besok juga dia sama menyedihkannya dengan hari ini.


Pagi-pagi sekali, Luhan dan Minseok pergi ke apartemen Yixing. Joonmyeon belum pulang dari pekerjaan penyelidikannya. Jadi, Minseok ingin pergi kesana, sekalian menenangkan pikirannya dulu.

"Sudahlah, Lu. Jongdae sudah meneleponku, dia bilang akan bertemu denganku siang ini. Dia masih berberes-beres untuk kepindahannya besok."

Luhan hanya mengiyakan dan mengikuti Minseok memasuki taksi. Ketika mereka sampai di apartemen Yixing; suara tangis Yijoon beserta Junhee yang terlihat –atau lebih tepatnya sok– tidak ingin menangis dengan menenangkan adik kecilnya. Yixing terduduk di lantai dengan gagang telepon masih digenggamannya.

Minseok buru-buru melepas sepatunya dan segera menghambur masuk memeluk Yixing yang ikut menangis seperti Yijoon.

Luhan menenangkan kedua anak kecil itu. Membisikkan kata-kata penenang yang sekiranya ampuh.

"Ceritakan pada Ahjumma, June. Kenapa kalian semua menangis?"

Junhee masih sesenggukan ringan. "Yijoon menangis semenjak tadi subuh. Mama dapat telepon, orang yang menelepon Mama bilang kalau ayah sedang kritis di rumah sakit karena kecelakaan. Mama jatuh lalu menangis." Luhan tambah mengeratkan kedua anak kecil ini. Sedangkan Yixing sudah digotong masuk kamar oleh Minseok.

"Dengarkan Ahjumma. Kalian jangan cengeng. June, masuk ke kamarmu dan mandi. Kita akan jalan-jalan sebentar, aku akan meminta ijin Mamamu untuk membolos sekolah. Ahjumma akan memandikan Yijoon dulu." Junhee –bocah lelaki itu hanya menganggukkan kepalanya dan segera menuruti perintah Luhan.

Luhan –yang masih menggendong Yijoon yang menangis–, memasuki kamar Yixing dan melihat Yixing sudah agak tenang. "Benar ayah dari anak-anakmu saat ini di rumah sakit?! Astaga; kenapa tidak buru-buru kesana?!"

Yixing masih sesenggukan bersahutan dengan tangis Yijoon. "Dia kecelakaan saat menuju ke Seoul. Saat itu hanya ada klinik kecil, lukanya sedang dibersihkan sebelum dibawa ke Seoul untuk penanganan lebih lanjut. A-aku… rekannya bilang dia kecelakaan saat akan menyebrang di minimarket seberang tengah malam. Butuh jahitan di kepala dan saat ini masih belum sadar."

Minseok mengelus lembut punggung Yixing. Mencoba menenangkan kembali adik-nya.

"Yixing –kau dan Minseok ke rumah sakit nanti. Biar aku dan anak-anak keluar mencari udara segar." bujuk Luhan lalu segera meninggalkan kedua orang tersebut untuk memandikan Yijoon.

.

.

Luhan tidak punya pilihan lagi. Dia membawa dua anak kecil untuk bermain di taman umum dekat Sungai Han. Ini hari kerja, jadi tidak terlalu banyak yang datang. Kebanyakan mungkin para pekerja yang cuti untuk berolahraga disini membawa anjing mereka. Atau pasangan orangtua yang ingin menikmati pagi mereka dengan segar.

Luhan menggelar kain untuk alas mereka duduk di padang rumput. Yijoon terlihat asyik dengan mainan lego-nya sedangkan tidak jauh dari tempat mereka, Junhee mengitari taman dengan sepeda yang sengaja Luhan sewakan.

"June, jangan terlalu jauh."

"Aku paham, Ahjumma."

Lihatlah Junhee. Bocah itu persis seperti Joonmyeon junior. Hanya saja, beberapa sifat yang diwariskan dari Yixing serta senyuman bocah itu terlihat seperti Yixing. Luhan sengaja memanggil Junhee dengan nama June. Selain lahir di bulan Juni, nama depan Junhee juga berawalan dengan kata 'Jun' yang jika orang awam mendengarnya akan terdengar seperti 'June'.

Luhan menemani mereka bermain, makan siang bersama. Sesekali ketika mereka tidak sadar, Luhan mencoba menghubungi Minseok untuk tahu perkembangan Joonmyeon. Ia bernafas lega ketika beberapa jam setelah dipindahkan, Joonmyeon sudah sadar.

"Ahjumma, apa sekarang Appa masih di rumah sakit?"

Luhan mengulum bibirnya, tidak tahu jawaban apa yang ia berikan pada bocah-bocah ini.

"Ahjumma tidak tahu, Mama-mu masih belum bisa dihubungi."

"Aku ingin menengok Appa~" Junhee merengek, matanya mulai sembap.

"Hei, jagoan Kim! Bukankah kata Appa, June harus jadi laki-laki kuat? Saat ini Mama sedang menemani Appa, jadilah kakak laki-laki yang hebat untuk Yijoon. Sekarang, June harus menjaga Yijoon, biarkan Mama mengurus Appa dulu. Paham?"

"Ayay, Captain!" Luhan tidak tahan untuk tidak mencubit pipi tembam Junhee.

Ia memerhatikan Junhee yang menemani Yijoon bermain. Junhee terlihat menyayangi sekali adiknya. Sedari tadi Junhee mencoba menarik perhatian Yijoon dari para lego plastik itu.

Ia tidak bisa membayangkan; bagaimana nanti jika kedua anak itu tumbuh tanpa ayah di bisa melihat mereka atau selalu berada di sisi mereka saat hal tersulit.

Tanpa sadar Luhan menangis. Dia cepat-cepat mengahapus air matanya dan segera bergabung.

Luhan menduga satu nama di balik semua ini.

Wu Yi Wei.

.

.

Mobil Porsche hitam yang tersudut di bawah pohon rindang sehingga spot Luhan dan anak-anak untuk melihatnya menjadi minim.

"Apa ini? Masih belum takut pada gertakanku?" desis Yi Wei yang melihat Luhan bermain-main dengan anak-anak JoonXing.

"Aku sudah membuat teman-temannya kacau. Mau apa lagi dia?"

Asisten Han yang duduk di sebelah supir itu menolehkan kepalanya ke belakang menghadap Tuan Besar-nya. "Tuan Yi Wei, kita masih punya rencana B, kalau anda ingin tahu."

Yi Wei tersenyumsinis setelahnya. "Baiklah. Sejalan rencana B besok, kita akan tahu seberapa kuat mentalmu untuk bertahan di Korea –Xi Luhan."

.

.

Setelah puas bermain, Luhan menitipkan kedua anak itu pada kakek mereka –Kim Siwon– jadi Luhan bisa segera pergi ke rumah sakit tempat Joonmyeon dirawat.

Luhan tidak tahu jika Siwon belum mendengar berita anaknya yang kecelakaan. Tapi Luhan menjanjikan pria paruh baya itu untuk menjenguk anaknya besok. Karena tidak ada yang bisa menjaga Junhee dan Yijoon serta menangkan Yixing disana. Siwon pun setuju.

Bus yang ditumpangi Luhan membawanya ke halte dekat rumah sakit. Sesampainya disana, Luhan disambut Yixing yang mengupas buah, sedang Joonmyeon sudah sadar dan duduk bersandar pada kepala ranjang.

"Bagaimana keadaanmu? Kau oke?" tanya Luhan. Bagaimanapun Joonmyeon sudah dianggap adik sendiri seperti dia menganggap Yixing adalah adiknya.

Joonmyeon tersenyum. Luhan merasa tenang saat itu, "Hanya 5 jahitan di kepala. Setidaknya aku harus opname beberapa hari untuk dilakukan pengecekkan apa ada pendarahan serius atau tidak."

Luhan baru sadar bahwa Minseok serta Jongdae masih ada di kamar inap. Pasangan itu sedang ketiduran di sudut sofa.

"Biarlah, Jiejie. Mereka juga kelelahan menemaniku sejak pagi tadi."

"Bagaimana anak-anak?" tanya Joonmyeon mencemaskan anak-anak yang tidak ikut datang bersama Luhan.

"Aku membawa mereka ke rumah Siwon Ahjussi. Kurasa lebih baik tidak membawa mereka berdua lebih dulu. Aku terlalu takut akan mengganggumu."

Joonmyeon malah terkekeh, "Mereka itu kekuatanku, Noona. Bagaimana pun, aku tidak merasa terganggu oleh mereka."

Luhan hanya tersenyum tipis. Dia jadi merindukan Yue dan membenarkan kata-kata Joonmyeon.

Anak adalah segalanya bagi orangtua. Luhan pernah merasakannya. Pernah dia diancam pulang ke Beijing karena tetap mempertahankan Yue beserta cacian orang-orang padanya. Luhan dapat bertahan karena Xi Yue yang menguatkannya.

"Bagaimana bisa kau kecelakaan seperti ini?"

Joonmyeon mengerang kesakitan sebentar lalu kembali merasa normal.

"Entahlah. Aku ingin mampir membeli kopi. Kebetulan ada minimarket di seberang jalan tempat mobil rekanku di parkir. Jalanan tengah malam saat itu sepi, lagipula aku tidak mendengar suara mesin kendaraan. Tiba-tiba saja aku tertabrak dan kepalaku membentur pinggiran trotoar. Tahu-tahu saja aku disini dan mendengar Yixing menangis." Joonmyeon tergelak tetapi Yixing memasang wajah cemberut.

"Apa kau mengurus hal ini ke Kepolisan?"

"Ya. Rekanku yang menjadi saksi yang mengurusnya. Kamera cctv yang ada didekat minimarket merekam kejadian. Dia mengabarkanku bahwa kepolisian setempat sedang mencari posisi mobilnya di Seoul, karena dari plat mobilnya adalah dari Seoul."

Luhan sudah menduga semua ini. Dia tidak perlu menunggu sampai kepolisian datang membawa nama pemilik mobil yang menabrak Joonmyeon. Sebelum itu, pasti pria tua licik itu yang lebih dulu mengurusnya.

Wu Yi Wei.

Luhan punya firasat buruk yang menyangkut orang-orang terdekatnya dengan Wu Yi Wei.


Luhan memutuskan untuk pulang setelah menjenguk Joonmyeon tadi sore. Ia tidak menyangka akan pulang selarut ini. Belum lagi pagi-pagi juga dia harus menemani Minseok yang mengantar kepergian Jongdae ke Daegu.

Rasa lelahnya menguap digantikan keterkejutan saat melihat sosok jangkung Oh Sehun bersandar pada tembok tepat sebelah pintu apartemennya. Luhan hanya melongo di tempatnya. Sehun sadar kehadiran Luhan saat manik merek bertemu. Lelaki itu lantas bangun dari posisinya.

Seharusnya, lelaki itu ada di saat hal terpuruk Luhan. Seharusnya, lelaki itu ada saat Luhan butuh bahu untuk bersandar. Tapi apa? Semuanya omong kosong.

Lelaki itu lebih memilih keeogisannya untuk bertahan pada hal keras kepala daripada menyediakan bahu serta memberikan kepercayaan pada Luhan.

Oh Sehun brengsek!

Tapi masih dalam diri Luhan, dia mengaku bersalah. Dia tidak berkata jujur kalau dia pernah bertemu Yifan secara pribadi.

"Noona," sangat jarang ia mendengar Sehun memanggilnya Noona.

Luhan tidak bisa marah. Karena memang dalam hubungan ini mereka lah yang bersifat kekanak-kanakan. Sehun yang egois dan manja, Luhan yang keras kepala dan naif.

Nyatanya mereka seperti dumber bertemu idiots; terlalu memuakkan.

Tapi, dalam hal bodoh seperti itu, mereka diberkati perasaan satu sama lain yang membuat mereka terlihat lebih tulus. Bagaimanapun mereka juga saling mencintai; membutuhkan dan dibutuhkan.

Luhan menerima alasan kenapa Sehun akhir-akhir ini tidak menghubunginya. Ia menduga, mungkin saja Sehun butuh waktu atas skandal murahan itu.

Sebaik Luhan juga. Beserta Yifan dan Zitao yang lebih berat dengan menghadapi media dengan mulut mereka yang ingin lebih tahu –atau tepatnya memasuki wilayah pribadi.

Luhan mengabaikan tatapan Sehun yang seperti menelanjanginya. Ia acuh tak acuh dengan memutar kunci apartemennya. "Masuklah jika ada yang kau ingin bicarakan. Ini sudah larut," Sehun mengangguk setuju.

.

Dua cangkir teh hangat menjadi pelampiasan atas ketercanggungan yang tercipta.

"Aku mendengar jika Minseok Noona dipecat dan Jongdae Hyung dipindahkan ke Daegu. Aku juga dengar kecelakaan menimpa Joonmyeon Hyung."

"Ya. Jongdae akan berangkat besok pagi sekali."

Kecanggungan tercipta diantara mereka. Tidak dipungkiri, bahwa mereka berbangga hati telah melihat satu sama lain.

Luhan tampak kuat, wanita itu hebat. Meskipun berkali-kali Luhan mendapat serangan, masih bisa berdiri gagah tanpa luka –baik berdarah ataupun dalam perasaan.

Sedangkan Oh Sehun adalah percikan yang sudah bertemu percikan lain akan menimbulkan api besar. Ya; emosi yang sangat labil seperti remaja pada umumnya.

"Aku tahu…" Oh Sehun yang pertama kali membuka mulutnya.

"… aku tahu Noona marah besar padaku. Aku bukan lelaki dewasa yang patut menjadi perisaimu. Pengecut; kau boleh anggap demikian. Nyatanya aku mudah tersulut. Aku sudah mendengar dari Zitao kalau–"

"–Kalau Yifan dan aku menjenguk Yue di makamnya."

Sehun terlihat seperti anak bodoh sekarang yang ketahuan mencontek pekerjaan rumah milik temannya. Dia hanya mengangguk ringan lalu bergumam 'Ya, seperti itu' dan kembali menganggukkan kepalanya.

"Sehun," yang dipanggil namanya langsung menegakkan punggungnya. "Kau tahu kan kepercayaan seperti selembar kertas yang halus tanpa ada lipatan?"

Butuh waktu sampai akhirnya Sehun bergumam kata 'Ya, tentu.'

"Menurutmu, apakah kepercayaanku bisa kembali jika kertasnya kau buat lusuh?"

Sehun membutuhkan waktu seperkian detik. "Kurasa… ti-dak?"

"Exactly!"

Sehun benar-benar dibuat tidak berdaya. Seperti menduga bahwa Luhan menyiapkan dua boom untuknya agar ia tidak bisa berkutik sama sekali.

"Aku hanya butuh alasanmu; kenapa kau masih meragukan kepercayaanku." Luhan bergumam lirih, tetapi telinga Sehun masih bisa mendengarkannya.

"Aku pikir, kau memang tidak akan pernah menyangkut pautkan hubunganmu dengan Yifan Hyung. Karena skandal itu… aku begitu marah." ujarSsehun. Ia berkata benar soal perasaannya terhadap kepercayaan Luhan selama ini.

"Lalu… apakah kepercayaanku adalah angin yang sebentar diabaikan olehmu dan sebentar kau rasakan?"

Sehun masih diam. "Ini bukan soal permainan, Luhan. Kurasa, ini bagaimana tentang kita yang memandang suatu persoalan."

"Dan kita dalam hubungan serius! Kita bukan atasan dan bawahan! Bukan juga teman. Kenapa bisa kau memperlakukanku seperti hubungan ini hanyalah bentuk permainan tanpa pondasi?!" Luhan tidak habis pikir, bagaimana bisa Oh Sehun masih kekanak-kanakan di usianya menginjak dua puluh lima tahun?

Yang Luhan inginkan hanyalah Oh Sehun selalu ada di pihaknya dan mendengarkan penjelasan darinya. Bukan diam melarikan diri lalu datang kembali seolah tidak bersalah.

Luhan boleh marah besar pada Oh Sehun.

"Sudahlah. Mungkin benar kata orang; jangan berpacaran dengan pria yang lebih muda darimu. Mereka sangat kekanakan!"

"Lihat! Kau sendiri juga masih ragu padaku!"

"Lupakan! Kau malah memperburuk mood-ku, Oh Sehun. Bisakah... kita seperti pasangan lain? Menghargai satu sama lain, menghormati satu sama lain?"

"Tentu saja," Sehun bangkit dari duduknya, melangkah menuju Luhan. Mengulurkan telapak tangannya dan tersenyum lembut pada Luhan. "tentu saja selalu bisa."

Luhan tidak tahan untuk tidak tersenyum lebar.


"Hati-hati, jaga dirimu baik-baik!" Minseok berseru lantang pada Jongdae yang sudah menaiki bus antar kota. Lelaki berkepala kotak itu menyembulkan kepalanya dari dalam.

"Aku akan meneleponmu jika sudah sampai. Sering-seringlah berkunjung!"

"Kau juga!" Minseok melambaikan tangannya tinggi-tinggi saat bis sudah melaju membawa Jongdae ke kota sebelah.

Luhan yang diam memerhatikan pasangan tersebut mendecih meremehkan.

"Sangat kekanakan."

"Lebih kekanakan mana aku dengan daun muda-mu?"

Luhan tidak tahan untuk tidak menjambak kecil poni Minseok. Kebiasaan Luhan jika sedang kesal dengan kelakuan sahabat pipi tembam-nya tersebut.

Ponsel Luhan bergetar, ia kira nama Sehun akan tertera di layar ponselnya. Malah, kata 'Mama' yang tertera. Ia mengerutkan alisnya. Tidak biasanya Mama Xi akan meneleponnya saat di hari sibuk. Biasanya mereka akan menelepon di weekend seperti hari Sabtu atau Minggu.

"Nihaoma, Mama?"

\'Lu,'/ suara Mama Xi di seberang sana membuat kepanikan Luhan main meningkat.

"Ada apa Mama? Sesuautu terjadi?"

\'Apa kau melihat headline news di kabar politik kemarin malam?'/

Luhan menggeleng pelan walaupun ia tahu Mama Xi tidak akan bisa melihatya. Terdengar desahan panjang Mama Xi di seberang sana. Luhan memberi isyarat pada Minseok untuk pulang duluan saja. Mereka berdua mengambil jalur berbeda; Minseok dengan bus umum sedangkan Luhan memilih taksi.

"Apa ini kaitannya dengan Baba? Apa masalah di partai lagi?"

\'Ada fitnah yang mengatakan posisi Babamu saat ini disalah gunakan. Korupsi, serta jabatan Bendahara yang sekarang ini dijabat Babamu di partai dianggap suap –bukan sebagai hasil suara. Sekarang Babamu sedang ada di kantor untuk di periksa, Mama juga sedang perjalanan ke sana. Mama rasa harus memberitahumu lebih dulu, kau pasti tidak suka jika tahu lewat media lebih dulu.'/

Tanpa sadar, Luhan meremas sisi kanan-kiri ponselnya. Giginya bergemelutuk.

Korban kali ini ayahnya.

Baba Xi; orang yang paling Luhan hormati dan sayangi di dunia ini –selain Yue dan Sehun, tentu. Meskipun ia pernah membangkang untuk tidak pulang ke Beijing saat mengandung Yue, tetapi Baba Xi tetaplah ayahnya yang paling Luhan hormati.

"Mama," sebisa mungkin Luhan menahan tangisnya, "Jangan menangis, oke? Jangan buru-buru berpikir bahwa ini adalah kebenaran. Aku tahu, ini hanyalah omong kosong yang sengaja di lempar pada keluarga kita."

\'Mama tahu. Mama hanya ingin kau pulang, Lu. Mama dan Baba butuh kau.'/

Mendengar suara Mama Xi yang terisak dan memohon pada Luhan, membuat dada perempuan itu sesak. Orangtuanya kali ini, tidak cukup kah teman-temannya yang ikut terkena imbas?

"Ma, Luhan janji akan pulang, tapi Luhan akan mengurus hal yang ada di Seoul selama selama tiga hari. Tolong, Mama tunggu Luhan tiga hari mendatang. Luhan usahakan akan lebih cepat dari tiga hari yang dijanjikan."

.

.

"Sekretaris Jung; apa saja jadwalku hari ini?"

"Setelah ini Anda akan menghadiri makan siang antar dewan sampai jam tiga, setelahnya mengunjungi cabang di Incheon sampai jam lima. Jam tujuh nanti ada kunjungan dari lima perwakilan dari investor perusahaan Yamada Corp, dan ."

"Terima kasih, kau boleh pergi Sekretaris Jung." Perempuan molek yang dipanggil Sekretaris Jung itu memberi hormat. Sebelum benar-benar menghilang, perempuan itu mengingatkan satu hal yang terlupakan.

"Ada Nona Xi yang bersikeras menemui Anda walaupun tidak membuat janji."

"Xi?"

"Ya, Tuan."

"Suruh dia masuk menemuiku."

Tidak butuh waktu lama bagi Yi Wei untuk mendengar bunyi pintu yang ditutup secara kasar dan hentakan kaki yang penuh kemarahan. Dalam hati ia bersorak. Inilah yang dia inginkan.

Luhan terlihat kacau. Mata sembap, rambutnya yang indah terlihat kusut.

"Apa maumu, Pak Tua?!"

Yi Wei menyeringai. "Apa kau lupa? Meninggalkan Korea kedengarannya bagus."

"Kenapa kau masih belum puas? Teman-temanku, keluargaku… kau adalah Pak Tua yang licik! Kenapa kau tidak membusuk di neraka saja?!"

"Wow, pujianmu ekstrim. Tapi sayangnya, aku masih bersikeras. Meninggalkan Korea atau… ada yang lebih bijak lagi dari keluargamu dan Sehun?"

"A-apa?"

"Kedua elemen itu yang berpengaruh besar selain teman-temanmu 'bukan?"

"Jangan dekati mereka, kau akan mati di tanganku!" Luhan tidak habis pikir, dimana lelaki tua ini menaruh hati nuraninya? Terlihat kejam sekaligus menjijikkan dalam waktu bersamaan.

"Kau–"

"Aku mengingatkanmu tentang keluargamu." Luhan mencengkram ujung sweeter-nya. Ia tidak bisa membebani lebih banyak kepada teman-temannya. Keluarganya –apalagi. Terutama Sehun….

… apakah dengan meninggalkan Korea Sehun akan berubah lebih bijak? Apakah dengan meninggalkan Korea Luhan akan menemukan jawaban dari meditasi diri? Apakah dengan meninggalkan Korea, keluarganya akan baik-baik saja?"

"Luhan, kau tidak mungkin berbangga hati melihat keadaan keluargamu yang kacau–"

"Aku setuju!"

Yi Wei awalnya tidak percaya dengan kesediaan Luhan. Ia kira, akan membutuhkan palu yang lebih besar dan kuat untuk batu yang amat keras. Nyatanya tidak. Tinggal menyiramkan zat kimia yang menyakitkan, batu tersebut akan terkikis menjadi debu yang diterbangkan angin.

Yi Wei patut berpesta untuk ini. Ia menyeringai di tempatnya.

"Aku sudah menemukan lokasi yang tepat untukmu. Kau hanya perlu setuju."

"Tentu keputusan yang besar perlu balasan jasa yang besar pula."

"Apa yang kau minta."

"Sederhana; hanya tiga hari di Korea dan dua hari di Beijing. Kembalikan seperti asalnya, lalu biarkan kedua orangtuaku tahu –tenang saja, aku tidak akan menyangkut pautkan tentangmu. Aku yang akan memilih lokasi. Tenang saja, kupastikan tempat yang bukan mereka kira."


Luhan selalu diliputi rasa bersalah. Melihat Minseok yang bermain dengan Yijoon serta Junhee yang ikut meramaikan. Melihat Yixing yang dengan telaten mengurus suaminya membuat Luhan berbangga hati sebagai kakak Yixing –meskipun bukan dalam ikatan biologis.

Jangan lupakan kehadiran tiga pewaris yang membuat seluruh Asia berdecak heboh; Wu Yifan, Huang Zitao dan Oh Sehun.

"Aku mendengar Joonmyeon kecelakaan. Aku kemari untuk menengok, sungguh!" Luhan bersyukur dalam hati. Setidaknya Yifan tidak menuruni sifat licik nan iblis dari ayahnya.

Bagaimana pun, Joonmyeon pernah dekat dengan Yifan. Tidak ada yang heran jika Yifan menjenguk kawan lamanya.

Bagaimana jika dia harus meninggalkan yang mereka? Akankah mereka cepat melupakannya?

"Kau melamun, Noona." Sehun menyodorkan kaleng kopi dingin padanya. Luhan menerima itu lalu meneguknya perlahan.

"Yah, suasana seperti ini terlihat mengharukan bukan?"

Sekarang, Yifan terlibat obrolan dengan Yixing dan Joonmyeon. Sedang Zitao –yang tadi juga menyapanya– sedang bermain bersama anak-anak ditemani Minseok.

"Sehunnah…"

"Ya?"

"Tidak terasa ya, ini sudah mendekati malam Natal."

"Kau baru sadar lima hari akan malam Natal?"

"Ya," Luhan mengangguk lemah, fokusnya msih pada anak-anak. "Dan lima hari saat Natal Jongdae kembali ke Seoul sampai Tahun Baru dia harus kembali lagi ke Daegu."

"Kekasihmu sebenarnya Jongdae Hyung atau aku?"

"Aku mengenal lama Jongdae, dia sudah aku anggap adik sendiri. Kau cemburu ya?"

"Cemburu? Kata itu tidak ada di kamus hidup Oh Sehun."

"Benarkah?" Luhan terkekeh kecil. "Lalu siapa yang merajuk akibat skandal itu?"

Sehun mengacak poni Luhan. "Asihh! Jangan ingatkan aku tentang masa labilku lagi!"

Sehun tersenyum. Setidaknya mereka berlaku seperti pasangan normal pada umumnya. Berbagi canda, berbagi tawa. Saling menghargai dan mengasihi. Bukankah itu lebih baik dari sebelumnya?

"Sehunnah, apa kau punya jadwal untuk besok?"

"Kenapa?"

"Aku ingin berjalan-jalan menghabiskan waktu bersamamu. Bagaimana ke Lereng Sowon? Aku akan memperkenalkanmu pada Yue, lalu kita bisa pergi ke manapun. Kita piknik, yayaya?"

Luhan bertingkah seperti gadis remaja yang ingin kencan bersama pacarnya. Sehun jelas merasa aneh melihat tingkah Luhan yang jarang terlihat.

"Ada apa denganmu?"

"Eyy, hanya ingin menghabiskan waktu denganmu, tidak boleh?"

"Okay, aku jemput jam tujuh pagi besok."

Luhan tidak tahu harus bersorak riang atau justru malah menyesali keputusannya.


Seperti perkataan Sehun semalam, mobil sport merah milik Sehun sudah terparkir manis di depan gedung apartemen Luhan.

Sehun sedikit… terpesona –mungkin? Penampilan Luhan yang jarang dilihatnya. Luhan hanya memakai dress bercorak bunga bewarna-warni selutut. Ditambah lagi, rambut secoklat madu itu dibiarkan tergerai halus.

"Sehun?" Luhan memberikan tatapan bingung pada Sehun yang diam.

"Ah? Ada apa?"

Luhan tersenyum tipis, "Tolong buka bagasinya, aku ingin menaruh keranjang piknik ini dan buket bunga ke dalamnya."

Sehun menuruti perintah Luhan. Setelah beres, mereka melaju menuju tempat dimana Yue beristirahat.

Ya, memang. Jika diteliti lagi, tempat ini sama seperti saat paparazzi memergoki Luhan dan Yifan saat berada di sini. Suasana yang hangat dan tenang. Rerumputan hijau yang memberikan kehangatan.

Hanya ada pohon besar dengan seikat pita biru di dahannya. Buket yang dibawa Luhan ditaruh begitu saja di bawah pohon, serta Sehun dapat meliat buket bunga lain yang dibiarkan layu. Itu pasti Luhan yang mengunjungi Yue sebelumnya bersama Yifan.

"Yue, Mama datang. Maaf tidak membawa Baba-mu, Mama membawa Paman Sehun. Dia kekasih Mama. Bagaimana menurutmu?" Luhan bermonolog sendiri. Barulah Sehun sadar, di bawah pohon inilah dimana abu Yue ditebarkan.

"Halo, Yue. Aku Oh Sehun, kekasih Mama-mu. Aku harap kau menyukaiku."

Sehun mengehala nafas panjang. "Yue, pasti khawatir karena Mamamu sendirian tanpa ada Yue. Pasti Yue juga akan mengira, Mama akan punya banyak hal lain sehingga melupakan Yue. Hey, Yue adalah gadis kesayangan Mama jadi tidak boleh berprasangka buruk. Asal Yue tahu, Paman ingin sekali melihat Yue. Mamamu bercerita banyak hal tentang Yue. Betapa cantiknya Yue saat baru dilahirkan; Paman ingin tahu seberapa cantik Yue. Apakah seperti Mamamu?"

Sehun tersenyum lebar. "Yue tidak perlu khawatir tentang Mama. Paman Sehun akan selalu menjaga Mama untuk Yue. Paman Sehun janji."

Sehun yang di depan Luhan bukan Sehun yang merajuk manja seperti anak Mama. Sehun yang di depan Luhan bukan Sehun si Lelaki dingin Kota Metropolitan. Sehun yang ada di depannya adalah Sehun yang meleleh oleh hangat, Sehun yang bisa diandalkan sebagai sosok pria sesungguhnya. Sehun-nya... Luhan tidak salah mencintai seorang Oh Sehun.

.

Setelah mengunjungi makam Yue, Luhan mengajak Sehun untuk ke bagian Barat. Tempat disana terkenal dengan padang rumputnya yang indah serta menjadi tempat piknik keluarga yang paling apik.

Saat sampai disana, hanya ada beberapa pasangan dan keluarga baru yang menempati sebelah barat. Ada anak perempuan yang Luhan kira seusia Yue diantara keluarga kecil tersebut.

"Ayo, Lu." ajak Sehun saat selesai menggelar tikar untuk mereka. Luhan menyadari hal tersebut, segera duduk di samping Sehun dan mengeluarkan isi dari keranjang yang dibawanya.

"Tada! Aku membuat Kimchi lobak pedas, sandwich dan juga jus apel untuk kita!" Luhan berseru riang saat membuka kotak bekal yang dibawanya dan menunjukkannya pada Sehun. Segurat senyuman tipis terpampang di wajah dingin Pemuda Kota Metropolitan ini.

"Ini?" Sehun mengambil salah satu potongan sandwich, "apakah enak jika buatanmu?"

Luhan menurunkan kotak bekal dan memasang wajah cemberut. "Kalau tidak suka, jangan dimakan. Makan saja rumput disini. Minum saja air genangan disana."

Luhan merajuk, ini yang paling Sehun sukai.

"Eyy, wajah cemberutmu itu menggemaskan, ingin mencubit pipimu seperti… ini." Tangan Sehun tergerak untuk mencubit kedua pipi Luhan. Sedangkan perempuan asal Beijing ini mengaduh kesakitan.

"YA! Lepas, Oh!" Sehun menghentikan aksinya disertai kekehan yang terlontar.

"Kau pasti lapar. Ayolah makan sandwich buatanku~"

Sehun tidak bisa mengatakan tidak.

.

.

"Sehunnie~"

"Jangan panggil aku dengan panggilan itu, Lu."

"Lalu jangan menyebutku dengan nama. Kau ini tahu norma sopan santun kan?"

"Lalu apa? Noona? Kau malah terlihat seperti Noona genit yang mengincar daun muda!"

"Sehun!"

"Hahahaha… baiklah, aku menyerah. Hahaha… HENTIKAN!" Luhan berhenti untuk menggelitik pinggang Sehun. Kembali ke tempatnya semula; menempatkan belakang kepalanya pada paha Sehun yang berselonjor.

"Aku tidak mengerti kenapa bisa aku berakhir dengan pria menyebalkan sepertimu."

"Aku tidak menyangka juga akhirnya dengan Noona cerewet."

Luhan terkekeh dan ditimpali Sehun dengan senyum lebar. Jarang sekali menghabiskan quality time seperti ini semenjak insiden di Taman Hiburan.

"Sehun, lihat aku." Sehun membiarkan bukunya teronggok di sampingnya. Manik coklat gelap itu bertemu hazel yang cantik. Saling beradu seperkian detik sebelum salah satunya memecah keterpanaan tersebut.

"Kalau aku menghilang… apa kau mencariku? Menungguku?" pertanyaan yang tidak biasa dilontarkan oleh Luhan. Sehun mengerutkan alisnya bingung. Sangat tidak biasa Luhan bertindak aneh dan semisterius seperti ini.

"Kau tampak aneh," alih-laih menjawab, Sehun malah berkomentar.

"Sehun, aku serius!" tantang Luhan tidak terima. Sehun menghela nafas. Mengalah.

"Aku mencarimu, aku akan menunggumu. Karena kau, aku tidak tertarik pada siapapun. Karena kau, Luhan, membuatku gila. Jangan tanyakan padaku, aku akan tetap menunggu dan mencarimu. Sampai kau bisa jelaskan alasanmu."

"Kalau aku… memintamu berhenti?"

"Jika itu membuatu lebih baik, aku siap berjalan diatas paku."

"Kau berjalan diatas paku; aku akan memintamu berhenti, apa kau berhenti?"

"Sebutkan dulu alasanmu. Karena aku tahu, kau pasti punya alasan yang bagus untuk membuatku berhenti berjalan di atas paku untuk menujumu."

Luhan tidak memperjelas pertanyaannya maupun menjawab tantangan Sehun. Dia malah menyentuh halus permukaan tubuh Sehun. Mulai dari kelopak mata, pipi, hidung smapai dagunya yang lancip.

Sehun memejamkan mata. Mencoba mengelak perasaan getar aneh yang tidak tertahankan. Sehun mencoba untuk menahan sebisanya. Sentuhan Luhan memberikan efek luar biasa yang bisa membuat Oh Sehun gila berlipat kali ganda.

"Kau tampan." desah Luhan, "Kau yang mengubahku, Oh. Karena kau, aku malah mencintaimu."

"Bukankah itu bagus? Kita saling memiliki, menopang satu sama lain. Mencintai satu sama lain."

Kecupan singkat dan lembut, tidak bisa tidak membuat mereka merasakan efek yang hebat.


Sepulangnya Luhan bersama Sehun, dia menelepon Jongdae beserta Minseok. Dengan alasan rindu, Luhan dapat mengobrol dua jam tanpa henti. Setelahnya, dia akan berbagi video call bersama dua keponakannya yang lucu.

Yixing dan Joonmyeon bingung dengan tingkah Luhan yang aneh. Luhan berpikir, mungkin mereka belum tahu kabar keluarga Luhan di China. Jadi ini akan mempermudah rencananya. Malam itu Luhan mulai berkemas. Dan ia sudah berpesan pada yang bertanggung jawab di Apartemen bahwa ia akan memberikan kuncinya saat pagi-pagi sekali.

Luhan menatap sendu ke arah tiket pesawat yang menuntunnya kembali ke rumah awal. Ia mulai membayangkan wajah-wajah orang yang disekitarnya bingung dan panik karena Luhan

Terutama Sehun.

Lelaki yang terus berada di depannya dan ada untuk mempercayainya. Lelaki pertama yang akan mengorbankan tubuhnya untuk melindunginya. Luhan sadar… ia mencintai Oh Sehun lebih saat dibandingkan dengan Yifan dulu. Ia tidak bisa jauh dari Sehun, tidak…

Keadaan memaksa. Ia tidak ingin mengorbankan semua orang hanya untuk keegoisannya semata demi bersama Sehun. Seberapa besar pun cintanya, Luhan tidak bisa melihat teman-temannya tersakiti hanya untuk dia tetapberdiri di tempatnya.

"Maaf," satu liquid bening lolos, disusul liquid berikutnya dan isakan yang keras.

"Maafkan aku… maaf." racaunya di sela tangis.

.

.

Ia melihat papan jadwal penerbangan pesawat. Pesawatnya sebentar lagi take off. Untung saja Luhan memilih penerbangan pagi-pagi sekali. Ditatapnya ponsel yang baru saja dibelinya kemarin. Tentu saja, tanpa sepengetahuan orang-orang terdekat –kecuali orangtuanya.

Luhan menatap sekilas paspor dan tiketnya sebelum melaju ke bagian imigrasi.

Ia sudah memiliki hal menyenangkan disini. Untuk selalu diingat; bahwa hal yang menyenangkan pun memiliki resiko yang setara.

"Halo, Mama? Pesawatku sebentar lagi take off. Butuh tiga jam untuk ke Beijing."

.

.

Sehun memandang aneh pada ponselnya. Nomor Luhan tidak bisa ia hubungi. Ia mencoba menanyakan pada Minseok dan juga Yixing, hasilnya pun sama; mereka tidak tahu keberadaan Luhan dan juga ponsel Luhan mati sedari tadi.

Kalau bukan pekerjaan penting, mungkin Sehun sudah berlari menuju apartemen Luhan. Ia harus menyelesaikan beberapa pekerjaan sebelum jam makan siang nanti ia akan ke apartemen Luhan.

.

Saat makan siang tadi, Sehun nihil mengunjungi apartemen Luhan. Minseok dan Yixing menangkan Sehun dengan kalimat, 'Mungkin dia ke sekolah SMU dulu. Dia punya satu tempat rahasia untuknya menenangkan diri.'

Oke, Sehun masih bisa terima. Semalaman pun matanya berusaha untuk terpejam, sama sekali tidak bisa. Mata miliknya mulai menimbulkan kantung mata seperti milik Zitao.

Dia tidak bisa tidur semalaman. Oke, mari beranggapan positif Luhan bisa saja meninggalkan ponselnya dengan sengaja.

Keesokannya, dengan bantuan Minseok, Sehun meminta perempuan itu untuk menjemput Luhan. Beberapa jam, info dari Minseok membuatnya kalang kabut.

\'Menurut penjaga sekolah, Luhan tidak pernah mampir sejak dua bulan yang lalu. Kemana dia?'/

Astaga, Demi Tuhan…

Sehun jatuh terduduk sambil mengusap wajahnya dengan kasar. Baiklah, mungkin saja Luhan menutup dirinya dengan berada di apartemen sepanjang hari!

Ya, mungkin...

.

Sehun berulang kali menekan tombol interkom. Berkali-kali menggedor pintu apartemen Luhan.

"Xi Luhan, kau di dalam?!" seru Sehun. Ia sama sekali tidak terusik dengan tatapan heran para tetangga Luhan yang jelas-jelas terganggu oleh kebisingan yang dibuat Sehun.

"Ada apa, Nak?" pria paruh baya yang diduga bertanggung jawab atas ketertiban penghuni apartemen itu bertanya pada Sehun.

Sehun menoleh, mendapati pria itu menatapnya cemas.

"Apa… apa Xi Luhan di dalam?!"

"Bukankah Xi Luhan-ssi pindah? Dia bilang akan pindah suautu saat, makanya dia menitipkan kuncinya pada saya."

Sehun melongo tidak percaya. Sama sekali tidak!

Kenapa, Luhan? Ada alasan apa dia berbuat seperti ini? Sehun bahkan hampir terhuyung mundur dan bisa saja jatuh jika lengannya tidak dipegang kuat-kuat oleh pria paruh baya yang mengenalkan dirinya sebagai Pak Jung.

"Kapan?" pertanyaan Sehun lirih. Tapi Pak Jung masih bisa mendengarnya.

"Pagi-pagi sekali. Dia membawa banyak tas dan koper."

Sehun menggeleng pelan. Dia tidak mempercayai. Tidak sama sekali.

"Pak Jung, bisa minta tolong bukakan pintu apartemen Luhan untukku? Aku janji, aku tidak lama dan tidak berbuat aneh."

.

[BGM: EXO – My Answer]

Sehun memasuki apartemen yang terakhir kali ia kunjungi adalah bulan lalu. Aroma pengharum ruangan masih sama. Bahkan perabotan pun masih bersih tanpa noda.

Sehun membuka pintu kayu yang menjadi tujuan utamanya.

Kamar Luhan.

Bahkan aroma Luhan masih menguar. Membuatnya merasa ada kehadiran Luhan untuknya.

'Sehun!'

'Yak, Oh!'

Sehun tersenyum miris. Telinganya pun bereaksi cepat mengenai Luhan. Salah satu benda yang tergeletak manis diatas ranjang menarik perhatian Sehun.

Ponsel Luhan yang tidak terkunci.

Sehun pun tersenyum melihat wallpaper yang digunakan perempuan itu; foto Sehun yang diambil diam-diam oleh Luhan saat tengah tertidur.

Muncul notes yang sengaja Luhan munculkan dalam layar utama sebagai pengingat.

'Jangan cari aku. Jangan tunggu aku. Jangan mencoba mencari alasan dariku, Oh Sehun. Aku tidak memintamu berhenti, aku hanya memintamu jangan lakukan hal itu.'

Sehun menggegam kasar ponsel Luhan. Matanya nanar. Berulang kali ia melampiaskan melalui helaan nafas panjang.

Sehun menunduk masih membaca berulang kali deret kalimat yang diketik Luhan.

Matanya memanas. Mencoba sebisanya untuk menahan liquid yang melesak keluar.


Luhan menggenggam tangan Mama Xi dengan kuat. "Ma, semuanya akan oke. Jadi tenanglah." pinta Luhan saat Mama Xi mulai menangis menanti waktu yang panjang. Luhan juga sesekali melirik pintu biru yang menjadi jalan masuk ruangan sebagai tempat intrograsi ayahnya.

Hingga akhirnya pintu tersebut terbuka, memunculkan beberapa pria berseragam polisi dan juga Ayahnya. Luhan tidak tahan untuk tidak berlari memeluk Baba Xi. Baba Xi juga tidak bisa tidak memeluk puteri semata wayangnya ini dengan erat. Mama Xi menyusul dengan air mata masih membanjiri wajah yang terbilang awet muda.

"Baba…"

"Bagaimana hasilnya, sayang? Apa mereka oke?"

Baba Xi melepas pelukannya pada Luhan dan memandang wajah istrinya yang terlihat begitu cemas. Pria yang berwibawa ini tersenyum lega.

"Pihak yang menuduhku salah sangka. Semuanya sudah dibereskan. Tetap saja, mereka dikenai sanksi penjara dan juga bayaran denda."

"Oh, syukurlah, sayangku!" ganti Mama Xi yang memeluk suaminya dengan erat.

Luhan mendesah lega. Keputusan yang ia ambil tidak salah meski ia harus mengorbankan banyak hal di Seoul.

Teman-temannya… dan juga, Oh Sehun.

Luhan menghela nafas panjang ketika otaknya memutar berbagai ekspresi yang ditunjukkan Oh Sehun.

Satu hal yang dia tahu; dia sangat merindukan lelaki itu.

"Mama, Baba. Bisakah kita makan malam di rumah? Ada hal yang ingin kubicarakan."

.

.

Luhan menceritakan semuanya. Tentang Oh Sehun, teman-temannya saat ini, bahkan mengenai Yifan (tentu saja bagian Wu Yi Wei dan rencana Pak Tua itu harus Luhan lompati agar menjadi ketenangan). Orangtuanya bernafas lega.

"Tolong, jangan beritahu Xingxing atau Seokkie jika mereka bertanya apa aku pulang di ke Beijing. Aku punya hal untuk Oh Sehun. Aku ingin melihat kesungguhannya padaku, Ba, Ma."

Mama Xi tersenyum lembut. "Tentu sayang. Ceritakan dulu pada kami. Bagaimanapun kami orangtuamu, Lu. Kami berhak tahu apa kau memilih rencana yang baik atau tidak."

"Ceritakan saja, Tian mi." desak sang Baba.

Luhan tersenyum kecil.

Apakah ia yakin dengan rencananya kali ini?

.

.

|| Bersambung ||

.

.


A/N: Halo, maaf ya update telat. Udah janji cepet malah... wkwkwk, yg add sama yg nge-pollow Tw pasti tau apa yg gue ributin di real-life :v

INI GIMANA NIH?! ADUH, LUHAN SAYANG! KOK GITU SIH KAMU?!

Ayo sini yg jengkel sama Wu Yi Wei, bacok berjamaah yuk ah. Ato kita bawa dia ke Baekhyun ntar dijadiin biji cabe buat temen mangkal Baekhyun, wkwkwk :D

Iya, yg chapter kemaren banyak yg gagal review ya? Makasih banyak udah ninggalin review berupa PM. Mungkin itu gegara saya hapus chapter announcement-nya, makanya ya... gitu.

Thanks to: meimei | ChagiLu | novi | ohsiyeon94 | my lulu | Guest1 | Guest2 | RereYunjae Pegaxue | Shin jemun21 (Halo Lo. Nggak ngobrol udah lama, jadi kangen xD) | .7 | jdcchan | NoonaLu | Hyomilulu | nindahunhan7941 | tiehanhun9094 | HunHanCherry1220 | Silver Orange | Samiyatuara09 | firaamalia25 | kimsaera61 | gelll | Guest3 | Kiela Yue | Luhannieka | RoxyFuji Naxy777Max | Yoon sasa | Melisa oh | fangrl lu han | han-tu | Guest 5 | Loveliya | Hohoho61 | Oh Juna93 | | younlaycius88 | Choxeinna | HUNsayHAN | MeriskaLu | N. | blank tae | Re-Panda68 | niasw3ty | chenma | khalidasalsa | lutfiatul96 | Zoldyk | taenggo | Kimsibling | MingyuTae00 | rikha-chan| hanhyewon357 | Crystalized Harmony | BeibiEXOl | Luluhanbyun | Kim Yehyun | KiranMelodi | kimyori95 | ramyoon

MAKASIH BANYAK YG UDAH REVIEW DI CHAPTER 9-10 KEMAREN, I LUPH YOU ALL, muach :* (abaikain emot najis bagi kalian)

P.S: Ciyee~ yg kode2an pake '520', update yg barengan. Ciyee~ AH, KESUWEN! MENGKO TAK GOWO WONG LORO KUWI NANG NGAREP PENGHULU (Ah, kelamaan! Nanti gue bawa mereka ke depan Penghulu)

P.S.S: OT9? XO-IX gitu? :v Aduh, Muka Kotak kesayangan gue belum siap jadi maknae QaQa :v

P.S.S.S: LUV MEH HARDERH LAIKE YUH DUH *astaga, maaf salah, LOVE ME RIGHT maksudnya. YO! Siapin dompet ya buat beli album. 27 versi deng :v