VENUS

Dazai and All the Girls Around

[A Remake Story by Phoebe ; Bungou Stray Dogs belong toKafka Asagiri and Sango Harukawa]

[ Cast: Dazai x Atsushi slight Akutagawa x Atsushi ; Dazai x Chuuya ; Rated M ]

Warning : AU, GENDERSWITCH (GS), OOC, TYPO(S), DON'T LIKE? DON'T READ!

.

.

.

.

[ Bagian 12 ]

[Preparing All]

Jika akhir minggu ini Atsushi memang harus menemui calon mertua semu-nya di Yokohama, maka yang harus di lakukanya adalah bekerja lebih keras lagi agar semua pekerjaanya selesai sebelum waktu itu. Menikah dengan Dazai Osamu? Bahkan terlintas di otaknyapun tidak pernah. Atsushi hampir gila dengan semua ini sehingga beberapa perkerjaan membuatnya berteriak histeris. Belum lagi masalah bertukar ponsel, Bagaimana bila Ibunya menelpon? Seharusnya Atsushi tidak perlu khawatir dengan hal itu karena Ibunya pasti senang dengan ide calon menantu impianya. Tapi Atsushi merasa sangat terganggu karena ponsel Dazai selalu berdering dan selalu ada telpon dari perempuan. Atsushi hampir muntah membaca pesan-pesan romantis dan vulgar yang masuk ke ponsel itu setiap hari. Yang jelas Atsushi selalu melakukan hal yang sama untuk wanita-wanita itu; mencaci maki mereka dan memintanya menjauhi Atsushi karena laki-laki itu sudah bertunangan dengannya.

Cukup sering Dazai menemuinya atau menelponya karena beberapa orang dari sekian banyak perempuan itu mendatanginya ke kantor bahkan ke flat untuk mengkonfirmasi hal tersebut. Meskipun Dazai akan marah-marah pada Atsushi, tapi dia selalu mengatakan "Ya, aku sudah bertunangan setidaknya untuk sementara ini!" kepada semua perempuan yang bertanya. Beberapa perempuan kemudian pergi menjauh, tapi tidak sedikit juga yang bertahan untuk tetap berada di sisi Dazai dengan alasan tunangan bukanlah pernikahan, Dazai Osamu masih memiliki kemungkinan untuk membatalkan pertunanganya. Atsushi mengerang, seandainya hal itu terjadi ia akan sangat bersyukur karena akan terhindar dari laki-laki itu selamanya.

Setelah dua hari, telpon-telpon itu berhenti. Atsushi merasa bisa lebih tenang dan bisa mengerjakan tugasnya secara maksimal dan ia optimis semuanya akan beres sore ini juga, setelah semuanya selesai, Atsushi akan menemui Tuan Francis, laki-laki Paris yang tidak lain adalah Bosnya untuk minta izin beberapa hari. Ia harap ia tidak akan menghabiskan seminggu penuh di Yokohama.

"Kau tidak lapar?" tanya Akutagawa yang sejak tadi duduk di hadapanya sambil memainkan game ponsel. Belakangan ini laki-laki ini selalu berkunjung ke ruangan Atsushi bila dia sedang tidak ada pekerjaan. "Jam makan siang sudah lama lewat!"

"Aku akan makan setelah semuanya selesai!"

"Ada yang perlu dibantu?"

Atsushi menggeleng. "Tidak perlu. Sedikit lagi selesai!"

"Kenapa kau kerjakan semua pekerjaan itu sekarang? Seharusnya kau bisa lebih santai kalau melihat tanggal deadline kasus!"

"Aku harus bertemu dengan calon mertuaku di Yokohama!"

Akutagawa berhenti memainkan ponselnya dan termenung sesaat. Dazai sudah cukup lama tidak menghubunginya semenjak minggu lalu saat ia mengatakan kalau Ibunya meminta Dazai membawa calon istrinya pulang. Dan semenjak itu Dazai sepertinya sibuk menyelesaikan semua pekerjaanya untuk rencana yang sama. Calon Mertua? Atsushi serius? Baru saja ia ingin menanyakanya langsung, Akutagawa sudah tidak sanggup bersuara. Terlebih saat mendengar dering yang di kenalnya dan Atsushi mengeluarkan sumber bunyi itu dari dalam tasnya, ponsel Dazai. Ia terperangah, mereka berdua bahkan sampai bertukar ponsel?

"Ada apa?" Atsushi agak membentak. Hari ini ia sedang tidak ingin mendengar suara Dazai.

"Aku jemput sekarang!"

Hanya itu. Dazai segera menutup telponnya. Dengan kesal Atsushi meletakkan ponsel itu kembali keatas meja. Lalu kembali mengerjakan pekerjaanya. Dalam waktu singkat semua pekerjaanya sudah selesai dan ia menghela nafas lega sambil bersandar di kursinya. Kedua alisnya bertaut saat memandang Akutagawa yang masih menatapnya bingung.

"Ada apa?" Tanya Atsushi heran.

"Kau serius mau pergi ke Jepang?"

"Aku terpaksa melakukanya!"

"Terpaksa?"

"Sepupumu suka bertindak seenaknya, aku sudah berusaha menolak dengan berbagai cara dan dia juga memaksa dengan berbagai cara."

"Hubungan kalian sekarang seperti apa?" Akutagawa menyadari kalau ekspresinya mungkin terlalu serius, ia berusaha memperbaikinya dan berusaha terlihat biasa. "Aku sudah berusaha untuk melupakanya tapi hal ini menggangguku terus. Malam itu saat aku melihatmu di flat Dazai, kalian sedang apa? Dia bilang kau mengusir kekasihnya dan dia memberi pelajaran padamu!"

"Kalau dia mengatakan itu sebagai pelajaran, demi Tuhan itu sangat keterlaluan!"

"Dia melakukan apa?"

"Dia..." Atsushi segera menutup mulutnya. Apa mungkin ia bisa menceritakan kepada Akutagawa kalau malam itu Dazai memaksanya melakukan sesuatu? Tidak, Dazai tidak bisa di salahkan seratus persen karena Atsushi tidak bisa memungkiri kalau ia juga sangat menikmatinya. "Dia menggigit jariku!" Atsushi menyentuh tanganya dan dia baru menyadari kalau cincin pertunangan itu masih di kenakanya. Atsushi belum melepaskanya lagi semenjak malam itu.

"Kenapa? Maksudku hukuman yang aneh, Kau tidak sedang menyembunyikan sesuatu kan? Tidak sedang berbohongkan?"

Atsushi menggeleng. Ia memang tidak menceritakan semuanya, tapi malam itu Dazai benar-benar menggigit jarinya bahkan rasa ngilu masih terasa sampai sekarang. "Aku tidak berbohong. Dia memang melakukanya karena aku menggunakan cincin pertunangan untuk kepentinganku sendiri." Atsushi memperlihatkan jarinya yang memakai cincin kepada Akutagawa, dan Akutagawa menyentuhnya.

Cincin tunangan? Selama ini, Akutagawa mengira kalau itu hanya cincin biasa, Dazai juga tidak pernah mengatakan apa-apa tentang hal ini. Tiba-tiba saja Akutagawa merasa kalau ia sudah banyak melewatkan cerita tentang Dazai dan Venus-nya. Ia merasa kecewa.

"Dilarang menyentuh milikku, Aku tidak suka berbagi hal-hal yang menjadi milikku!" Dazai merampas tangan Atsushi dari Akutagawa, lalu memandang Atsushi sambil menyunggingkan sebuah senyum menggoda. Ia senang saat melihat Atsushi melengos, Dazai sudah berhasil meniru kata-kata yang selalu di ucapkanya. "Kau sudah siap-siap? Kita kerumah Ibumu sekarang aku sudah menyiapkan pakaianmu juga, mungkin kita akan menginap semalam!"

Atsushi menarik tanganya dan berkemas-kemas. "Aku harus menemui Bos dulu! Kau tunggu di mobil saja!" Atsushi kemudian memeluk Mapnya erat-erat. Lalu tersenyum kepada Akutagawa sebagai tanda perpisahan.

[ Bersambung ]