Ketujuh pecahan itu pada dasarnya menyimpan perasaan yang sama. Mereka juga ingin disentuh. Mereka juga ingin dicintai tanpa diprioritaskan mana elemen yang lebih sulung dan mana yang bungsu.

Tiap hari yang dilewati dalam perpecahan adalah sesuatu yang menyenangkan sekaligus menyakitkan. Mereka bertujuh harus rela berbagi kekasih. Harus rela membagi kasih sayang sang penguasa bayang dalam lama yang berbeda pula.

Kalau ditanya siapa yang paling disayang, Fang pasti akan menjawab dengan senyum lembutnya,

"Aku sayang semuanya kok. Sama rata dan tidak pilih kasih."

Cemburu: elemental dan tempramental

Intinya mau ngegalau tapi gatau dimana.

Elemen pertama: Petir

Petir menampik segala pikiran kotor yang mampir di otaknya kala ia melihat Fang berlarian di koridor hanya dengan celana joger dan tank top hitam longgar. Ia menurunkan topinya—mengindari paparazi yang akan memotretnya dengan wajah memerah seperti beberapa hari yang lalu.

Ia berjalan santai menuju dapur dan sialnya kekasih bayangnya juga disana dengan segelas jus—entah itu buah apa—yang hampir habis.

Bibir seksi Fang menyuarakan siulan. "Mau kemana, sayang?"

"Berhenti memanggilku dengan panggilan yang menjijikkan itu. Sudah jelas ada di dapur, ngapain nanya lagi."

"Jutek amat, Boi."

Petir mendengus mendengar panggilan 'boi' diakhir kalimat. Tanpa memedulikan Fang yang berdiri didepan counter dapur, ia duduk di bangku tinggi dan meminta segelas susu.

"Maaf ya aku lupa kalau ini petir."

"Memangnya aku bilang kalau aku tidak suka dengan panggilan 'boi'?"

"Kelihatan, tuh."

Petir memutar bola matanya dan tak sengaja melihat tank top Fang yang terlalu rendah sampai dadanya terlihat.

"Ini nih yang kelihatan. Jadi cowok genit amat."

Dalam gerakan kilat Petir membenarkan lembaran kain tipis tersebut. Fang tersenyum manis, menggengam tangan Petir dan menciumnya.

"Tsundere itu gaboleh sering-sering."

"Siapa juga sih yang tsundere! Astaga gajelas amat dah." Petir menyambar gelas Fang dan mencium baunya.

"Ada apa?"

"Jus kamu pake taneman yang bisa bikin halu ya?"

Fang menepuk jidatnya. "Petir yang halu. Nih minum nih."

Petir berusaha sekuat tenaga menjauhi gelas yang ia indikasi beracun. "Jangan-jangan dimasukin racun sama Cahaya!"

"Tuh 'kan cemburu lagi sama Cahaya. Gaboleh suudzon. Cobain aja dulu."

Petir turun dari bangkunya. Berlari mundur sambil menatap jijik pada gelas yang Fang pegang. Geram, Fang mengeluarkan jari bayang dan menahan tubuh Petir agar tetap berada di tempat.

"Cobain dulu aja."

Tubuh yang terperangkap membuat Petir tidak bisa melakukan apa pun. Ia bersikukuh menutup mulutnya kala Fang berusaha memasukkan jus—yang benar-benar bersih tanpa racun.

"Cih." Fang meminum habis jus itu dan menyeringai kemudian. Petir mengeryitkan dahinya tidak mengerti sambil memerhatikan Fang yang terus berjalan mendekat.

"Hmmph!"

Ciuman kasar diberikan Fang. Tangannya merambat kearea privasi Petir hingga makhluk tsundere satu itu membuka mulutnya.

Cairan asam nan manis masuk ke mulutnya. Menuruni tenggorokannya secara paksa setelah Fang dengan bejadnya mengerayangi tubuhnya yang masih berpakaian lengkap.

"Phuah! Fang apa-apaan, sih!"

Fang tertawa kecil dan menghapus jejak cairan di sudut bibir sang kekasih. "Ngebuktiin kalau aku gak lagi halusinasi."

Petir memajukan bibirnya sekian senti. Fang memeluk pemilik kuasa petir itu sambil membubuhi wajah manis nan galak dengan kecupan ringan sementara kekasih tsunderenya berusaha menghilangkan rasa just tomat dari bibirnya.

"Astaga ini gak enak!"

"Jusnya?"

"Tomatnya!"

Fang mengerutkan dahinya dalam. "Tomat 'kan enak."

"Aku gak suka sayur!"

"Sejak kapan tomat itu sayur?"

"Sayur kok! Jelas-jelas tomat sayur. Masak bareng kembang kol, kok!"

"Gausah ngegas, dong. Tapi bentuknya aja bulat dan berisi." Seringai kecil muncul dan tangan nakal Fang meremas bokong Petir pelan. "Kayak ini."

"Apa-apaan, sih. Lepas, ah. Penelitian sudah membuktikkan kalau tomat itu sayur!"

"Bodoamat pokoknya tomat itu buah."

Fang melepas pelukannya dan berdiri tegap di hadapan Petir yang cemberut dengan wajah memerah malu.

"Kalau yang ini sih tomat orang."

Petir memicingkan matanya tajam. "Bilang apa tadi?"

Ciuman mendarat di pipi hangat Petir. "Bukan apa-apa. Aku ke kamar dulu, ya. Bye."

Dengusan tajam terdengar. "Terus aku ditinggal?!"

"Maunya ditemenin?"

Petir memalingkan wajahnya. "No need."

Elemen kedua: Angin

Setelah dibujuk habis-habisan oleh Angin, Fang berhasil terdampar di Bumi. Bersyukurlah Angin membawanya ke Kedai Tok Aba dan menyuguhkannya donat lobak merah tanpa sebab. Pecahan Boboiboy yang lain ada di rumah entah sedang apa. Tapi ia tidak peduli, teman kencannya hari ini adalah donat. Titik.

"Hehe…Apa kabar cucuku?"

Fang menaikkan sebelah alisnya. "Boboiboy? Seperti yang sudah Atok lihat, lah."

Tok Aba tertawa kecil. "Bukan. Maksudnya kamu."

Manik merah mengerjap cepat. "A…aku? Cucu?"

"Ya kalau bukan cucu apa lagi. Mau Atok panggil menantu?"

Fang menunduk malu mendengarnya. "Yah…terserah, sih. Emangnya Atok setuju apa Boboiboy sama aku?"

"Sebenarnya gak rela juga, sih." Gelas dirapikan kembali ke tempatnya. "Dia kan cucu satu-satunya Atok. Udah gitu SMA belum tamat. Mana kamunya alien gak jelas."

"Wah saya tersinggung, nih, Tok."

"Jangan baper dulu. Intinya Atok ga terima kamu apa-apain Boboiboy sebelum waktunya!"

Pemuda ungu itu tersenyum kecut sambil menyembunyikan wajahnya yang memerah. 'Toh udah dijebol berkali-kali. Maafin ya,' batinnya memohon maaf.

"Ngomong-ngomong Atok ga merasa tersinggung nih Boboiboy suka sama cowok?"

Tok Aba nampak berpikir. "Masalahnya Atok masi ngirain dia cewek, Fang."

"Bhak."

"Hehe…Gapapa asal Boboiboy bahagia, nama ganti jadi GiGirGirl juga tidak masalah."

Fang tersenyum manis pada Tok Aba yang mulai sibuk mengurus pesanan yang kembali datang.

Rambut ungunya bergerak mengikuti angin yang mendadak datang tidak beraturan. Pusaran angin terasa mendekat tiap detik. Fang menoleh dan mendapati Angin dengan cengira khasnya menatap jenaka pada sang pengendali bayang.

"Mau apa kamu?"

"Ehehe..mau jadi populer!"

Fang melongo. "Kenapa mendadak banget?"

Angin bertepuk tangan layaknya anak kecil. "Aku sudah kalah dari saudara-saudaraku! Aku berusaha menjadi pemenang di voting selanjutnya, nih!"

"Caranya gimana?"

"Aku tadi sudah tanya Cahaya. Pinjam topinya Petir juga sudah. Tapi katanya, yang paling mungkin adalah memakai item orang populer."

"Lah katanya sudah pake topi Petir."

"Kan yang kemarin menang Halilintar."

"Oiya lupa. Jadi kamu mau aku bikin Halilintar keluar?"

Gelengan diterima Fang. "Aku mau…"

"Mau apa—Hey!"

"Mau kacamataaaaa!"

Aksi rebut-rebutan kacamata berteknologi terjadi. Angin tetap gigih berusaha mendapatkan kacamata Fang sampai harus menginjak-injak pundak Fang.

"Dapat! Pusaran angin!"

"Hey! Sini kamu! Elang bayang!"

Angin tertawa bahagia. Dipakainya kacamata Fang sampai kemudian berbagai macam tulisan muncul dari lensanya yang tidak ada plus minus apalagi silinder.

"Kembalikan!"

Angin membelalakan matanya. Tangan Fang hampir meraihnya jika saja ia tidak menambah kecepatan pusaran anginnya.

Manik madu meneliti tiap atap rumah yang ia lewati. Kala melihat atap merah rumah Atoknya, Angin langsung turun dengan tergesa-gesa.

"PETIR! CAHAYAAA!"

Tidak ada sahutan dari dalam. Angin berdecak dan masuk lewat jendela kamarnya yang—lupa—ia kunci. Baru saja ingin menutup jendela, elang bayang datang menabraknya dengan horor.

Berasa di ambang kematian, guys.

"Sini kacamatanya!"

Angin mengaduh. Elang bayang sudah menghilang dan Fang dengan seenak jidat berdiri diatasnya—meski kakinya mengangkang, sih. Oh. Kakinya mengangkang. Pemandangan yang indah.

Angin memalingkan wajahnya dengan bibir yang cemberut. "Aku cuma mau jadi kayak kamu. Siapa tahu gantengnya nular."

"Ngaku kalo gak ganteng, nih?"

"Aku ngaku nih kalo aku manis!"

"Syukur…Masih ada yang waras ternyata."

"Dikira aku kayak yang lain apa. Masih sakit hati kalah voting, nih."

Fang merampas kacamatanya dengan santai. "Dibanding kamu, aku lebih jauh lagi."

"Kamu 'kan populernya bullshit."

"Bilang apa tadi?"

"Omong kosong."

"Huh. Aku kalo kembali ke sekolah juga banyak yang jatuh cinta. Jangan cemburu aja."

Angin duduk bersila dan menggembungkan pipinya. "Aw-!"

"Apa? Mau protes?"

"Gajadi."

"Yang paling cocok sok imut emang cuma Daun. Gausah ikut-ikutan, deh."

"Bener apa kata Petir. Fang sukanya ngebanding-bandingin."

"Ya—aduh. Siapa juga yang maksa jadi populer?"

"Gaada hubungannya, ya."

"Daun lebih populer dari Angin."

"Siapa yang bilang?!"

"Cek fanart dong."

"Aku juga banyak fanartnya!"

"Hem. Bareng Yaya sih lebih tepatnya."

"Eh? Iya sih. Tapi itu 'kan Taufan."

"Apa bedanya Taufan sama Angin?"

"Ya jelas beda, lah. Kalo Angin sukanya sama Petir."

"Kalo Taufan sama Yaya gitu?"

"Enggaaaak! Nggak begitu."

"Terus sukanya sama Halilintar?"

Angin nampak berpikir keras lalu menatap Fang dengan mantap. "Baru inget kalo sukanya sama Fang."

"Lah tadi bilang suka sama Petir. Ngomong-ngomong kau blak-blakkan sekali, ya."

"Soalnya Monsta jarang keluarin aku."

Fang tertawa kecil dan menepuk kepala Angin yang tertutup topi warna biru.

"Jangan memaksakan diri. Aku memang tidak pantas untuk semua elemen Boboiboy."

Angin menarik kerah jubah Fang—menarik wajah Fang mendekat lalu mencium bibir lembut Fang.

"Mau bagaimana pun kau masih pemuda yang dicintai oleh Boboiboy. Bagaimana bisa aku tidak menyukaimu?"

Fang menangkup wajah Angin yang lebih tirus dari Daun namun lebih berisi dari Petir.

"Dan bagaimana bisa aku tidak cemburu saat pecahan Boboiboy bilang dia suka sama Petir?"

"Gak mau komen soal Yaya?"

"Mau tapi gabisa. Netizen maha benar. Bisa-bisa akunku dibanjiri hate comment kayak akun rambuchan waktu dia post soal FangBoi."

"Lah. Gausah dibahas-bahas dong. Aku aja gatau."

"Nih aku kasih tahu."

Elemen ketiga: Tanah

Mama Tanah.

Jangan salahkan fanartist untuk julukan satu itu. He really a good Mama for 6 people in Boboiboy's body. Tanah sudah cukup sabar diberi titel Mama oleh banyak author Fanfiction dan para fanartist di DevianArt mau pun Instagram—bahkan official saja masih sebut-sebut Tanah di mini komiknya.

Mulai dari sendok sayur sampai celemek pink bermotif lope lope, Tanah sudah biasa. Tidak ada lagi helaan nafas kasar mau pun jeritan frustasi seperti saat pertama kali 'Mama Tanah' viral di media sosial—dia publik figur, wajar.

Tapi kalau dipikir-pikir, tidak ada salahnya juga sih. Lagipula dia senang menjadi orang yang dapat menjadi sandaran bagi pecahan lainnya. Menjadi otak dari segala strategi yang ada.

Tanah hari ini berada di rumah. Berdiri dibelakang kompor sambil membalik-balikkan mie goreng ala negara tetangga dengan api besar. Dengan lihai ia menjajal penggorengan dengan tangannya yang tidak dilindungi sarung tangan.

Bibirnya menyuarakan siulan pelan, memecah keheningan diantara desisan mie dengan suara gas yang terus mengeluarkan apinya—Tanah baru ingat adik kecilnya punya elemen api, harusnya ia tidak usah pakai tabung gas. Ia hanya membuang-buang uang Tok Aba.

Ia berbalik dan menemukan Fang berdiri bersandar pada dinding pembatas dapur dan ruang tamu. Tanah menghela nafas, mengabaikan keberadaan makhluk tidak jelas itu.

"Tidak menyapa?"

"Kau tidak melihat aku sedang sibuk?"

"Kulihat kau sudah selesai."

Ibu jari Tanah menunjuk wastafel. "Tuh masih numpuk."

Fang membuka lipatan tangan didepan dadanya dan berjalan masuk ke dapur. Menyempatkan diri mengambil satu mie untuk dicicipi lalu melepas sarung tangannya.

"Kau membantuku?"

"Kenapa tidak? Kau memberiku makanan, Tanah."

"Bukan aku. Tapi Atok."

Dengan cekatan Fang mencuci penggorengan yang kotor dan berminyak dengan sabun. Bau jeruk nipis yang pekat menguar ke seluruh ruangan. Suara air yang beradu dengan penggorengan mengusik ketenangan.

Usai menata makanan Tanah berbalik. Bersandar pada meja makan sambil menatap Fang yang membantunya selayaknya seorang suami yang membantu sang istri—oh, kau menerima julukan Mama, huh?

Senyum kecil terulas. "Kukira anak dari pejabat tidak mau berurusan dengan masalah rumah tangga?"

"Kau tahu aku mengurus diriku sendiri selama di sini, Tanah."

"Tolong rapikan piring yang sudah kering. Aku ingin menyiapkan lalapan."

"Hm."

Tanah mengambil posisi disamping Fang yang tengah merapikan piring bersih. Air bersih mengalir mencuci sayur sawi segar.

"Kenapa tidak minta Air?"

Tanah mengeryitkan dahinya. "Ini air."

"A-I-R yang bisa ngomong dan hidup."

"Oh. Sudah RIP dari pertama kali sampai di sini."

"Eh? Ku lihat dia tidak ada di kamar?"

"Aku juga tidak tahu dia tidur dimana. Mungkin di halaman belakang."

"Sejak kapan kau jadi apatis?"

Tanah menggaruk kepala belakangnya. "Entahlah. Moodku sering berubah seiring dengan komik mini yang aku baca."

"Aku mengerti hidupmu lumayan menyebalkan dengan meme Mama Tanah dimana-mana."

"Bagaimana dengan Little Must Protect Fang yang bertebaran di salah satu akun instagram fanartist?"

Fang tertawa kikuk. "Aku pura-pura tidak lihat."

Tanah menyenggol tubuh Fang dengan sengaja. "Adik kecilku yang manis. Memakai kostum penguin dan berteriak 'Abang~' kapan pun ia sedih."

Pemuda serba ungu mengeluarkan tangan bayang dan menahan tubuh Tanah agar tetap menempel padanya.

"Berisik."

"Tsk. Lepaskan aku."

"Tidak mau."

"Lepas sebelum aku mengeluarkan tanah pencengkram untuk membalasmu."

"Kau mau merusak rumah Tok Aba? Itu terserah, sih."

Tanah speechless. Ia hanya bisa cemberut seraya memerhatikan Fang meletakkan piring pada tempatnya.

"Ah, ngomong-ngomong bukannya kau tidak suka sayuran?"

"Emangnya aku bilang ini buat aku?"

"Coba dulu baru tahu. Ini enak."

Fang mengambil sehelai sayur dan melipatnya kecil. Lipatan sayur itu ia tempelkan pada bibir Tanah yang tertutup rapat.

"Benar-benar tidak mau, ya?"

Tanah menggeleng.

"Hah…yasudah."

Terlepas dari kukungan membuat Tanah kembali bekerja. Fang berbalik dan pergi duduk di kursi meja makan seraya memainkan game di smartphone.

"Petir, Cahaya atau aku?"

Perempatan muncul di dahi Fang. "Kenapa kau menanyakan hal itu juga?"

"Karena kau sudah melewati batas dengan mereka."

"Apakah salah?"

"Aku tahu mereka pecahan Boboiboy tapi aku juga!"

"Jangan ngegas."

"Maaf keceplosan."

"Kau juga mau disentuh?"

"Mau menghabiskan waktu saja sih sebenarnya."

"Kenapa?"

"Karena aku cinta kamu."

Fang tertawa. "Jijik."

Tanah melempar mangkuk plastik ke wastafel dengan kasar lalu menatap tajam Fang.

"Bercanda."

Tanah menghela nafas dengan senyum sekadarnya dan menyusun sayur diatas meja. Sarung tangan ungu tua diambil dari saku celemek merahnya. Tangan Fang diraihnya, diusap penuh sayang lalu dipakaikannya kembali sarung tangan.

"Istri yang luar biasa."

"Tidak. Aku bukan istrimu. Boboiboy yang milikmu. Bukan aku, atau Petir, atau Cahaya."

Tangan basah yang telaten menjaga elemen lain diciumnya. "Tapi kaulah yang mempresentasikan Boboiboy dalam hidupnya."

Tanah menahan getaran disuaranya. "Kau tidak akan mengatakan itu kalau ada yang lain disini."

"Tidak. Aku akan tetap mengatakan itu meski Petir siap menyambarku."

Fang menarik Tanah untuk dicium. Bibir manis ia lumat dengan lembut. Tanah menatapnya sayu, sedih mengingat ia bukan yang pertama untuk mendapatkan ciuman manis dari Fang.

"Jangan sedih. Siapa suruh Boboiboy ada banyak. Jadi bingung siapa yang harus duluan."

Tanah tersenyum manis dan memeluk leher Fang erat. "Salahkan Boboiboy dan moodnya."

Tangan Fang menjajal punggung dibalik jaket dan kaus Tanah. Membubuhi leher Tanah dengan ciuman yang memabukkan.

Tanah dengan wajahnya yang mulai memerah menarik Fang kedalam ciuman. Ia sudah berjanji pada dirinya untuk mendapatkan Fang saat ada kesempatan. Masih berpakaian lengkap, Tanah duduk diatas pangkuan Fang, menggesek bokong berisinya pada milik Fang yang masih belum bereaksi.

"Apa aku masih kurang?"

"Kurang untuk apa?"

"Mendapatkanmu."

"Tidak. Kau sempurna."

"Kau yakin?"

"Bangunkan aku."

Tanah hanya butuh dua detik untuk mengerti pembicaraan Fang. Tanpa turun dari pangkuan atau melakukan sesuatu yang berbau terbuka, Tanah mencium Fang dalam dan menuntut. Ia tidak memainkan tangannya, tidak melepas pakaiannya atau celana yang menghambat Fang untuk menyentuh lubang mungilnya.

Tanah hanya inign Fang tahu, ia spesial.

Fang mencubit puting Tanah. Merangsangnya agar Tanah segera melepas pakaiannya tanpa dipinta. Penguasa bayang itu mengerti tapi ia menolak menurut. Ia ingin Tanah. Sekarang.

"Lepas pakaianmu."

"Tidak sebelum kau benar-benar bangun."

"Kau pikir ini akan cukup?"

"Kurasa begitu."

"Ck. Ini perintah, Tanah."

"Tanah tidak menerima perintah. Ia memerintah. Mengomando."

"Ssshh."

"Apa? Marah?"

"Awas aku mau pergi saja."

"Tidak!"

"Aku tidak mau tidur dengan orang yang tidak mau mendengar permintaan partnernya."

"Kau memerintah! Bukan meminta."

Tanah memukul dada Fang lalu dengan cekatan mengangkat celemek dan membuka celananya. Kejantanan basah nan menggoda tersuguh. Tanah menarik Fang hingga duduk diatas lantai keramik dingin. Pemuda yang didominasi warna coklat itu berlutut, membiarkan Fang menikmati kejantanannya.

"Anh…"

"Celemek ini akan lebih manis kalau tidak ada kain lain dibaliknya hmm."

"Dilain..mh…kesempatan saja…"

"Janji?"

"Iya…lanjutkan saja."

Jari Fang bergerak menelusuri lekuk bokong Tanah yang tidak berbeda jauh dari Boboiboy. Hafal dengan letak organ luar di area privasi, Fang dengan santai memasukkan jari panjangnya ke dalam lubang mungil.

"Eumh…Fang…"

"Apa?"

"Mau…"

"Sebentar, ya."

Fang membuka celananya. Membiarkan Tanah mencengkram pundaknya erat saat ia berusaha memasukkan Fang kedalam dirinya.

Helaan nafas berat membuat Fang ngilu. Ia mulai bosan melihat wajah yang sama namun dengan jiwa yang berbeda merasakan kesakitan saat pertama kali bercinta.

Fang menutup matanya—bersikap apatis agar ia tidak kesal dan merobek Tanah begitu saja.

"Sial."

"Eung…"

"Eh!"

Tanah melesatkan Fang begitu saja. Tersenyum sombong dan mulai menaik turunkan tubuhnya layaknya orang gila sex. Fang meremat tangannya hingga buku jarinya mulai memutih. Fang menatap Tanah yang tersenyum nikmat diantara peluh yang membanjiri dirinya. Balas tersenyum kala Tanah dengan sengaja memainkan dirinya sendiri dengan satu tangan sementara tangan yang lain bertumpu pada Fang.

"Aku tidak menyangka…ini akan jadi kenyataan. Ah."

"Kau sudah mengharapkan ini dari kapan?"

"Sejak…eum kau tidak keluar kamar selama 3 hari penuh."

"Aw. Itu..ngh menyentuhku."

Dua belah bibir saling menyatu, saling beradu untuk menentukan siapa yang pantas memerintah.

Manik merah menatap madu terang. Kala itu juga, Fang sadar. Manisnya madu tidak akan bisa mengalahkan manisnya darah.

WANT 4 MORE?

Hai kalian semua yang aku sayangi dan aku cintai dan aku telantarkan. Maafkan diriku yang membiarkan fandom ini mendadak didominasi HaliYing—anjir sebenarnya w pengen update terus biar FangBoi gak kebanting. Tapi bomat ah.

Mantap? Enggak. Kependekan? Iya gua tau kok. Puas? Kasi tahu di kolom komentar.

Next chap mau 4 elemen yang lain atau mau lanjut plot baru? Itu gua yang tentuin. Mantab djiwa. Sorry ga bisa kerjain request dulu. lagi fokus sama oneshoot. Kalo bikin request nanti plotnya kepecah-pecah.

Makasi banyak buat yang setia baca ini. sampai jumpa dilain kesempatan.