YAYYYYYY! Chapter baru lagi!

Dan, saya juga mau memberi selamat buat sodara2 yang udah menempuh UNAS dengan baik! Selamat! Anda udah menempuh satu lagi jenjang pendidikan dan sekarang akan masuk ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi yaitu Perguruan Tinggi! Apakah semua udah pada milih mau masuk jurusan apa? Apakah ada yang kecemplung di jurusan Arsitektur seperti saya? Wkwkwkw...

Wokey, deh... Itu aja. Sekarang, selamat membaca~ ^^


Matahari sudah nyaris menempati puncaknya. Istana Wei di Luo Yang hari itu begitu panas. Xiahou Long yang tengah duduk di sebuah paviliun di taman istana, memberanikan diri untuk langsung menatap matahari musim panas yang begitu terang benderang mencurahkan cahayanya. Namun apa daya, demi melihat cahaya matahari yang begitu terik, jendral muda itu harus menutup matanya karena silau.

Yahhh... setidaknya satu-satunya hal yang ia syukuri adalah bahwa meski ia tidak dapat melihat matahari itu secara langsung, ia dapat melihat cahayanya.

Xiahou Long melangkahkan kaki keluar dari paviliun tersebut, kemudian berjalan ke arah Taihedian-Aula Tai He. Betapa kagetnya ia saat menemukan, bahwa rupanya ada banyak sekali orang di sana!

Dengan langkah seribu, jendral itu segera mendekat, meski hanya berani melihat dari jauh karena tidak mau terlalu ikut campur. Dilihatnya ada beratus-ratus pasukan berkuda di depan Taihemen-Gerbang Tai He. Jelas sekali terpampang di depan matanya bahwa prajurit-prajurit itu tidak berseragam berwarna biru seperti warna khas Wei, melainkan mengenakan seragam berwarna kuning. Xiahou Long tahu dengan pasti bahwa warna kuning adalah warna yang digunakan Dinasti Han agung sejak awal berdirinya sampai sekarang. Mau apa orang-orang dari Dinasti Han agung datang kemari? Dan yang lebih penting, darimana mereka memiliki prajurit sebanyak ini? Bukankah keadaan Dinasti Han agung sudah nyaris hancur?

Yang membuatnya lebih terkejut adalah seorang yang tiba-tiba turun dari kudanya, sepertinya merupakan pemimpin dari seluruh pasukan itu. Meskipun melihat dari jauh, namun Xiahou Long yakin dengan sepenuh keberadaannya bahwa orang itu adalah Panglima Besar dari Dinasti Han agung! Orang itu adalah Panglima Besar Yuan Shao!

Xiahou Long hanya bisa mengerjap-ngerjapkan mata. Benarkah itu Panglima Besar Yuan Shao? Bukankah Panglima Besar Yuan Shao dikabarkan telah gugur dalam perang di Guan Du melawan Wei? Mengapa sekarang ia berada di sini sesudah tiga tahun menghilang entah kenapa? Dan apa urusannya di sini?

Belum selesai pertanyaan itu terjawab, seorang yang lain keluar dari Taihedian-Aula Tai He. Orang itu tidak lain dan tidak bukan adalah Cao Pi. Seperti biasa, yang mengekor di belakangnya adalah Sima Yi dan segala pendukungnya.

"Cao Pi!" Bentakan yang kasar dan langsung itu tentu saja dari Yuan Shao. "Sekarang juga antarkan aku menemui ayahmu, Cao Cao!"

Mendengar hal seperti itu, bukan hanya Cao Pi, Xiahou Long pun terkejut bukan buatan! Cao Pi, sesudah berhasil mengendalikan keterkejutannya, berdehem dan menjawab. "Aku tidak tahu bagaimana kau bisa hidup sesudah kekalahan di Guan Du. Yang pasti, aku tidak mengizinkan orang sepertimu menginjakkan kaki di Istana Wei!"

Xiahou Long yang sekedar mengintip tidak dapat melihat ekspresi Yuan Shao dengan jelas. Yang ia tahu pasti, panglima besar itu membentak dengan sangat sengit dan keras! Tangannya menuding Cao Pi lurus-lurus. "Sebenarnya aku masih punya banyak urusan denganmu! Kau sudah berani-beraninya mengancam keamanan Dinasti Han agung! Dan kaulah yang punya segala rencana membunuh Kaisar Xian!" Sentaknya dengan keras dan heboh bukan buatan. "Namun sekarang ada yang lebih penting daripada mengurusi orang biadab sepertimu! Aku akan mencari orang yang punya kekuatan Phoenix itu! Dan aku butuh segala informasi dari Cao Cao!"

P-phoenix...! Tidak bisa tidak, Xiahou Long terperanjat sampai-sampai nafasnya serasa terhenti. Ya Tian! Rupanya Yuan Shao sudah kembali ke Dinasti Han agung dan mendengar semua hal bahwa Kaisar Xian telah tewas! Pasti sekarang panglima besar itu mencari Phoenix karena mendengar bahwa dia-lah yang ditunjuk sebagai Putra Mahkota oleh Kaisar Xian! Dan informasi yang bisa didapatkannya adalah dari Wei ini!

"Aku tidak mengizinkannya!" Seperti yang jendral itu duga, nafas Cao Pi seketika memburu ketika mendengar 'Phoenix' disebut-sebut. Ia gusar bukan buatan, tidak hanya karena kebenciannya namun juga sudah tahu bahwa Phoenix itu yang akan menjadi Kaisar jika sampai ia ditemukan! "Ayahku sakit keras dan tidak bisa bertemu dengan siapapun! Jadi, lupakan saja keinginanmu untuk mencari dan menemukan Phoenix itu!" Balasnya dengan bentakkan yang sama sengitnya.

Yuan Shao sama sekali tidak mati kata. Dari balik bajunya, dikeluarkannya sebuah kertas yang terlipat dengan sangat rapi. Dari sini Xiahou Long tidak bisa melihat apa-apa selain berderet-deret huruf yang dibawahanya dibubuhi cap darah. Surat itu pasti surat wasiat dari Kaisar Xian! Xiahou Long langsung menyimpulkan.

Dan memang benar adanya.

"Kaisar Xian, sebelum kematiannya, menuliskan surat wasiat ini untuk mengangkat orang itu menjadi Kaisar!" Serunya dengan tegas dan lantang. "Aku, sebagai panglima besar kepercayaan Kaisar Xian, wajib untuk menemukan Putra Mahkota tersebut dan membawanya ke Istana Chang An! Tidak ada seorangpun yang boleh menghentikanku!"

Xiahou Long sudah tidak menghabiskan banyak waktu lagi untuk mendengarkan percakapan yang sia-sia itu. Dengan langkah secepat yang kakinya bisa, ia berlari menuju Qianqinggong-Istana Qianqing untuk mengabarkan semua ini kepada Kaisarnya, Cao Cao, sekaligus ayahnya, Xiahou Dun. Senyum yang tersembul di bibirnya tidak dapat di tahannya lagi. Ini pertanda yang luar biasa baik untuk Dinasti Han agung! Panglima Besar Yuan Shao sudah kembali! Lebih-lebih lagi, ia sekarang sedang mencari Phoenix itu, Putra Mahkota yang akan melanjutkan pemerintahan Dinasti Han agung!

Kakinya menapaki satu per satu tangga menuju ke lantai dua dari Qianqinggong. Sesampainya di lantai atas, didapatinya ayahnya, Xiahou Dun, sedang berjaga di depan pintu.

"Die!" Seruan Xiahou Long begitu keras! Seketika membuat Xiahou Dun memalingkan wajah ke arahnya. "Die! Die! Dengar! Ada kabar baik! Panglima Besar Yuan Shao ternyata masih hidup dan ia ada di sini sekarang! Panglima Besar Yuan Shao ingin segera bertemu dengan Yang Mulia Kaisar Cao Cao!"

Xiahou Dun yang terlampau kaget, tentu saja mengira anaknya sudah gila. "Xiahou Long! Kau ini bicara apa? Panglima Besar Yuan Shao masih hidup katamu?"

Tentu saja jendral muda itu frustrasi bukan main melihat keragu-raguan ayahnya! Dia begitu terburu-buru, namun ayahnya masih sempat-sempatnya untuk mengira dia gila. "Die! Biarkan aku masuk dan bicara sendiri dengan Yang Mulia Kaisar Cao Cao! Kumohon! Ini penting dan menyangkut kelangsungan Dinasti Han agung serta Kerajaan Wei sendiri!" Melihat kepanikan anaknya yang begitu terburu-buru, Xiahou Dun tidak punya pilihan lagi selain mengizinkannya masuk.

Sesampainya di dalam ruangan itu, Xiahou Long langsung menghambur ke arah Cao Cao. Ruangan yang penuh keheningan ini pun gagal meredakan debaran jantung Xiahou Long yang begitu kencang sangking senang, panik, terkejut, terburu-buru, segala perasaan itu bercampur jadi satu! Cao Cao yang melihat keponakannya datang dengan wajah sumringah sekaligus merah dan berkeringat karena lelah telah berlari-lari, tentu saja jadi bingung bukan buatan!

"Ada apa, Xiahou Lo..."

"Salam hormat pada Yang Mulia Kaisar! Ampunilah Xiahou Long yang begitu lancang masuk kemari tanpa izin! Namun ada satu hal yang harus aku sampaikan, Yang Mulia Kaisar!" Ucap Xiahou Long cepat-cepat sambil menjatuhkan diri di sisi ranjang Cao Cao dan bersoja. "Panglima Besar Yuan Shao ternyata masih hidup dan sekarang ada di Istana Luo Yang ini berharap bertemu dengan Yang Mulia! Namun tentu saja bukan untuk balas dendam atau apapun! Panglima Besar Yuan Shao ingin mencari Phoenix itu! Yang telah ditunjuk menjadi Putra Mahkota oleh Kaisar Xian untuk melanjutkan pemerintahan Dinasti Han agung!"

Alih-alih mendengar kata 'Phoenix', Cao Cao senang sekaligus kaget bukan buatan! Nyaris saja ia langsung bangkit dari ranjangnya. Mendengar nama 'Yuan Shao' sudah cukup membuatnya kaget hingga wajahnya memucat seperti tembok. Namun demi mendengar bahwa Yuan Shao kemari bukan balas dendam melainkan untuk mencari Phoenix itu, tidak bisa tidak Cao Cao diluapi dengan kegembiraan yang luar biasa!

Dengan suara yang parau namun berusaha diteriakkan, Cao Cao menjawabnya. "Cepat bawa Yuan Shao kemari! Aku harus bertemu dengannya!"

"Namun permasalahannya sekarang adalah, Pangeran Cao Pi tidak mengizinkan Panglima Besar Yuan Shao masuk!" Balas Xiahou Long dengan cepat. Barulah sekarang Xiahou Dun masuk dan mendengar semuanya.

Kali ini mata Cao Cao berpindah pada jendral kepercayaannya itu. "Xiahou Dun! Temani Xiahou Long untuk menemui Cao Pi dan katakan bahwa aku mengizinkan Yuan Shao bertemu denganku di kamarku, di Qianqinggong ini!"

Tanpa banyak omong lagi, Xiahou Dun cepat-cepat bersoja, begitu pula dengan Xiahou Long. Seperti orang kebakaran jenggot sangking panik, keduanya turun dari lantai dua dan keluar dari Qianqinggong. Seketika membuat heboh para dayang, pengawal, dan kasim yang melihatnya! Bapak-anak itu melangkahkan kaki secepat-cepatnya menuju ke Taihemen, tempat dimana Xiahou Long melihat kedatangan Yuan Shao. Akhirnya, mereka sampai di tempat itu.

Seperti dugaan Xiahou Long, baik Yuan Shao maupun Cao Pi dua-duanya sama-sama ngotot, tidak ada yang mau menyerah! Sebelum terjadi perkelahian yang malah menghancurkan, keduanya berlari menghampiri Yuan Shao dan Cao Pi.

"Pangeran Cao Pi!" Xiahou Dun segera bersoja dan memberi hormat. Ini membuat mata siapapun mengarah pada dua orang pendatang mendadak itu. "Yang Mulia Kaisar Cao Cao telah mendengar kabar kedatangan Panglima Besar Yuan Shao dan memberi perintah agar Panglima Besar Yuan Shao diizinkan bertemu dengannya di kamar atas Qianqinggong! Harap keributan ini segera diredakan!"

Seketika itu juga Yuan Shao tersenyum menang. Cao Pi, sebaliknya, menggeram marah namun tidak dapat berbuat apa-apa. Yuan Shao dengan diikuti beberapa orang anak buahnya segera mengikuti Xiahou Dun untuk pergi ke Qianqinggong. Yang tertinggal di sana hanya Cao Pi, beberapa orang pengikutnya, dan Xiahou Long.

"SIALAN!" Geram Cao Pi sambil menghentakkan kaki untuk kembali ke Taihedian. Namun tepat sebelum itu, tangannya ditarik oleh seseorang yang tidak lain dan tidak bukan adalah Xiahou Long, saudara sepupu sekaligus sahabatnya sendiri. Bingung, kesal, bercampur marah, Cao Pi langsung menepis tangannya, namun gagal. "Mau apa kau? Kenapa masih di sini?" Bentaknya dengan gusar bukan buatan.

Xiahou Long akhirnya melepaskan tangan Cao Pi, kemudian menatap pangeran Wei itu tajam dan dalam. "Cao Pi!" Serunya. "Kenapa kau jadi seperti ini? Aku heran dengan semua tingkahmu!" Tentu saja, bagi semua orang yang mendengarnya, Xiahou Long sudah kelewat kurang ajar dan bisa segera dihukum karena kekurangajarannya itu. Namun Cao Pi begitu mati kata sampai tidak bisa bersuara lagi!

"Pangeran Cao Pi! Jendral Xiahou Long sudah sebegitu kurang ajarnya mencela anda!" Sima Yi, penasihat Wei yang licik itu langsung memanas-manasi Cao Pi. Tentu saja. Baginya Xiahou Long adalah sebuah ancaman. "Anda harus menghukumnya!"

Namun Cao Pi seolah tidak mendengarkan perkataan Sima Yi. Ia balik membentak Xiahou Long dengan begitu keras! "Apa maksudmu? Aku sama sekali tidak mengerti!"

"Justru aku yang tidak mengerti!" Sergah Xiahou Long. Matanya sekarang sudah berkilat-kilat dengan berbagai perasaan di benaknya. "Kenapa kau lakukan semua ini? Aku tidak mengerti mengapa kau begitu berambisi ingin memiliki Dinasti Han agung! Aku tidak mengerti mengapa kau tidak lagi mengindahkan Kaisar Cao Cao! Aku tidak mengerti mengapa kau memerintah Wei dengan tangan besi...!" Suara jendral Wei itu sudah nyaris pecah, tidak dapat mengatakan apa-apa lagi. Namun ia tidak mau berhenti! Ada banyak sekali yang ada di pikirannya yang harus diucapkan keluar!

"Tapi... yang paling aku tidak mengerti adalah... mengapa kau begitu membenci Phoenix itu!"

Suara Xiahou Long yang begitu keras, seolah menggetarkan seluruh isi Istana Luo Yang. Cao Pi terkesiap melihatnya. Dilihatnya Xiahou Long yang juga menggeram, dengan kedua tangan terkepal erat-erat dan bergetar. Di matanya adalah perasaan kesal dan marah, tetapi juga rasa tidak percaya dan keheranan yang luar biasa! Betapa inginnya Cao Pi membalas Xiahou Long dengan sepatah 'itu bukan urusanmu!', bukan karena kalimat itu sepenuhnya benar, tetapi karena Cao Pi sendiri tidak tahu jawaban untuk seluruh pertanyaan Xiahou Long.

Namun Cao Pi tidak bisa mengucapkannya. Dan itulah yang memberikan kesempatan pada Xiahou Long untuk melanjutkan tumpahan seluruh emosinya. Dipandanganginya pangeran Wei itu dengan perasaan yang ia sendiri tidak tahu bagaimana. Orang di depannya ini adalah pangerannya, saudara sepupunya, sahabatnya! Bagaimana ia bisa tidak sedih jika melihat Cao Pi menjadi orang yang demikian kejam?

"Cao Pi! Aku sudah bertemu dengan Phoenix itu!" Serunya. Kali ini tanpa peduli lagi dengan segala tata krama untuk mengucapkan gelar 'pangeran' sangking hebatnya badai dalam perasaannya. "Semakin lama aku semakin heran, kenapa kau sampai sekarang masih hidup! Kau telah begitu membencinya, mencelakainya, menyiksanya, dan bahkan mengukir tanda seperti itu di punggungnya! Dan kau masih baik-baik saja?"

Xiahou Long mengacungkan jarinya, seketika Cao Pi hanya bisa mundur selangkah. Orang-orang lain yang melihatnya pun terlalu terkejut untuk dapat melakukan apapun.

Nafas jendral Wei itu seolah tercekat dalam tenggorokannya. Suaranya tertahan, lebih pelan dari yang sebelumnya. "Apa kau tidak ada pikiran sedikitpun bahwa malam di Taihedian itu, andaikata dia mengucapkan sepatah sumpah serapah saja, andaikata dalam hatinya ada sedikit saja kebencian yang membuatnya ingin memusnahkanmu, maka kau bisa dilenyapkan olehnya saat itu juga(1)?" Tanyanya, masih dengan nafas yang memburu namun tertahan. "Bahkan sesudah kau tahu bahwa dia adalah Phoenix pun, kau masih saja melanjutkan seluruh kebrutalanmu padanya? Cao Pi, kau benar-benar bersalah padanya!"

Satu sentakan terakhir Xiahou Long, seketika menggetarkan kalbu pangeran Wei itu. Namun Xiahou Long tidak cukup berhenti di situ. Sampai sepupunya ini sadar diri, barulah dia akan berhenti! "Namun... sesudah segala kejahatan yang kau lakukan padanya..." Kali ini tangannya turun perlahan. Suaranya menjadi jauh lebih lembut dari sebelumnya. "Kau tahu apa yang dia katakan? Dia bilang, dia sudah lupa semua kejahatanmu. Bahkan dia tidak mendendam maupun membencimu..."

Sampai di situ, Xiahou Long diam. Cao Pi juga diam. Orang-orang itu semua juga melakukannya. Tempat itu menjadi begitu hening, tidak ada suara apa-apa lagi.

"Dia bilang... begitu?"

Jendral Wei itu hanya mengangguk. Entah mengapa, jiwanya terasa lebih ringan sekarang, seolah ia sedang melayang. Apa yang selama ini berusaha dikatakannya pada pangeran itu tidak pernah berhasil keluar. Barulah kali ini ia berhasil mengungkapkannya. "Aku tidak berani berbohong pada anda, Pangeran Cao Pi." Suaranya kembali menjadi normal dan santun, seperti biasa. Kini jendral itu berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan Cao Pi yang masih terdiam sementara orang-orang yang lain hanya menatap kepergiannya.

Dalam sela-sela keheningan itu, didengarnya suara Cao Pi. Suara itu entah diucapkan dengan kemarahan, keputusasaan, ketidakpercayaan, atau apapun. Yang jelas suara itu begitu sarat dengan perasaan, sesuatu yang Xiahou Long tidak menyangka.

"Aku tidak akan percaya... sebelum mendengarnya dari Phoenix itu sendiri...!"

Xiahou Long hanya berhenti sejenak, seolah untuk sesaat mencerna kalimat itu. Namun ia tidak berbalik. Kakinya terus melangkah ke tujuannya, meninggalkan orang-orang itu semua. Perlahan langkah kakinya menuntunnya kembali ke Qianqinggong. Semuanya sudah menanti di sana, tentunya termasuk Yuan Shao juga. Sedikit terbersit dalam hatinya, mudah-mudahan Yuan Shao dapat menemukan Phoenix itu dan membawanya ke Chang An. Mungkin dengan begitu, dia dapat bertemu dengan Cao Pi, dan Cao Pi dapat membuktikan sendiri kebenaran kalimat itu...

Tapi itu terlalu egois, bukan?

Pintu kamar atas Qianqinggong dibukanya, berusaha agar tidak menimbulkan suara apapun yang dapat mengganggu percakapan di dalamnya.

"Yuan Shao..." Cao Cao meletakkan satu tangan di dahinya. Meski dari jauh, Xiahou Long dapat melihat jelas ada penyesalan di baliknya. "Sungguh menyesal aku telah berperang melawanmu di Guan Du! Aku termakan oleh ambisi yang begitu jahat, sampai-sampai mencelakakan temanku sendiri!"

Xiahou Long berdiri di sebelah ayahnya yang berada di sudut ruangan, menyaksikan dua sahabat yang akhirnya saling memaafkan sesudah permusuhan yang melanda mereka. Dilihatnya Yuan Shao yang sekarang duduk di kursi di sisi ranjang hanya menggeleng. "Yang telah terjadi, sungguh tidak ada gunanya untuk diungkit-ungkit. Aku ingin kembali ke masa lalu dimana kita, kau, aku, Liu Bei, dan Sun Jian, berempat kita melawan pemberontak Sorban Kuning, kemudian menetang pemerintahan Dong Zhuo. Siapa nyana kesalahpahaman terjadi sampai-sampai kita berpencar sendiri-sendiri..."

"Sun Jian... sudah tidak ada."

Yuan Shao mengangguk. "Iya. Itu salahku. Gara-gara aku terlalu kemaruk menginginkan Cap Kerajaan yang ditemukannya..." Sahutnya juga dengan penuh rasa bersalah. "Dan Liu Bei di barat berada di Kerajaan Shu, bukan?"

Kaisar Wei yang sedang sakit itu hanya bisa menghela nafas panjang sekali. "Dulu aku bersahabat begitu karib dengannya. Namun karena ambisiku, sampai-sampai kami bermusuhan seperti ini..." Gumamnya penuh rasa sesal. "Entah sejak kapan semuanya jadi kacau dan hancur begini..."

Sesudah keheningan yang agak panjang, barulah Yuan Shao berdiri. Tangannya terkepal, menunjukkan tekad kuatnya yang tak tergoyahkan. "Justru karena itulah, Cao Cao." Yuan Shao menarik nafas dalam-dalam sebelum melanjutkan. "Aku sekarang akan pergi mencari orang yang memiliki kekuatan Phoenix itu, agar dia dapat melanjutkan pemerintahan di Dinasti Han agung ini." Jelasnya dengan suara yang tegas dan lantang.

Kali ini, Cao Cao tidak menerawang ke atas lagi. Ia menoleh ke arah Yuan Shao.

"Itu tidak mungkin."

Yuan Shao berbalik dengan cepat, siap untuk berteriak. Namun ia urung ketika melihat Cao Cao mengeluarkan sesuatu yang disembunyikan di sudut kasurnya. Tiga helai bulu berwarna gradasi merah, jingga, kuning, dan putih. Dipandanginya ketiga helai bulu itu dalam-dalam, sampai-sampai jiwanya serasa hanyut dalam udara di kamar tersebut. Yuan Shao, tidak bisa tidak, mengalihkan pandangan matanya ke tiga helai bulu itu juga. Di matanya, tidak ada yang istimewa dengan bulu itu selain karena warnanya seperti api. Namun selain itu, bulu itu kelihatan biasa saja.

Dengan satu desahan panjang, Cao Cao memulai penuturannya. "Phoenix datang bukan untuk memerintah, tetapi untuk membawa kedamaian." Ujarnya pelan. "Dan lagi, dia bukan burung yang bisa dikurung dalam istana semewah apapun, maupun dalam rumah sesederhana apapun. Dia punya sepasang sayap untuk terbang... sepasang kaki untuk berjalan... tidak mungkin ada yang bisa menghentika..."

"PERSETAN DENGAN SEMUA ITU!" Yuan Shao dengan cepat memotong, kelihatan sama sekali tidak sabaran sangking gusarnya. Xiahou Dun sudah akan maju dan mengusir Yuan Shao kalau Xiahou Long tidak mencegahnya terlebih dahulu. "Aku tidak peduli dengan semua itu! Bagaimanapun, dia adalah orang yang ditunjuk Kaisar Xian sebagai Putra Mahkota! Perihal dia memiliki kekuatan Phoenix atau tidak, itu urusan belakangan!"

Cao Cao mengernyitkan dahi memandang kawan lamanya. Seolah termakan dalam keheningan yang aneh, keduanya cuma bisa saling melemparkan tatapan saja. Yuan Shao dengan tatapan tidak sabar dan tidak puas, sementara Cao Cao dengan tatapan heran dan tidak percaya.

"Pantaslah kau tidak mengerti, Yuan Shao!" Ujar Cao Cao dengan keras sambil menuding. Yuan Shao yang kaget hanya bisa mundur selangkah.

"Sedari tadi aku selalu mendengarmu berkata 'orang yang memiliki kekuatan Phoenix'!" Lanjut Cao Cao, dengan suara yang sama kerasnya. Kata-katanya diselingi batuk-batuk beberapa kali karena berusaha untuk berseru. "Dia sama sekali bukan 'orang yang memiliki kekuatan Phoenix'! Dia adalah Phoenix itu sendiri! Dan itu sama sekali bukan urusan belakangan! Itu yang paling penting!"

Demi mendengar perkataan Cao Cao tersebut, barulah pikiran Yuan Shao terbuka. Namun rasa penasarannya masih belum membebaskannya. "Phoenix itu sendiri?" Yuan Shao tertawa dan menggeleng dalam ketidakpercayaannya. "Apa maksudmu?"

Lagi-lagi Cao Cao mengalihkan pandangan dari Yuan Shao. Kali ini ia memandang ke langit-langit kamarnya, sepertinya menerawang jauh sekali menembus atap di atasnya. "Kita semua sudah sering mendengar kisah mengenai orang-orang yang menjadi Abdi Langit dan pergi ke Tian Shang, atau orang-orang yang sesudah mati dianggap menjadi dewa, atau orang-orang yang memiliki kekuatan khusus dari langit..." Cao Cao bergumam, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Yuan Shao. Matanya terus memandang ke atas seolah telah mencapai langit. "... namun yang terjadi sekarang adalah kebalikannya. Baru kali ini mendengar seseorang dari Tian Shang, Phoenix itu sendiri, pergi ke Ren Huan dan menjadi manusia sungguhan, kan?"

Yuan Shao kembali duduk di kursinya. Kepalanya juga menengadah ke atas seolah berusaha melihat apa yang dilihat kawan lamanya. Tidak ada apapun selain langit-langit kamar yang penuh ornamen dan sangat indah itu.

Kaisar Wei itu menghela nafas panjang. "Sayang tembikarku sudah kuberikan pada Liu Bei. Kalau tidak, aku akan lebih mudah mengatakannya padamu..." Ujarnya. "Yuan Shao, dulu aku punya sebuah tembikar yang sangat indah berbentuk Phoenix yang terbakar dalam api. Tembikar itu sudah kuberikan pada Liu Bei karena ia begitu menanti-nantikan Phoenix." Cao Cao terhening sejenak, mengenang kembali masa lalu. "Tembikar itu, beserta tembikar-tembikar lainnya, dibuat oleh dua orang yang telah menjadi Abdi Langit bernama Tao Ge'er dan Sancai. Karena mendapat ancaman dari permaisuri yang memerintah saat itu, keduanya terbang ke langit dan membawa semua tembikar mereka yang lainnya(2). Ya, hanya tembikar berbentuk Phoenix itu saja yang tetap tinggal..."

Panglima besar itu hanya bisa memandang kawannya. Sepertinya ia pun sedang berusaha mencerna cerita tersebut. Tentu Yuan Shao tahu dengan jelas cerita itu, cerita asal usul tembikar tiga warna yang disebut sancai.

Namun ia tidak tahu bahwa ada sebuah tembikar yang berbentuk Phoenix. Dan tembikar itu masih ada.

"Phoenix itu bukannya berdiam diri di langit dan menjauh ketika melihat semuanya menjadi kacau dan hancur. Yang ia lakukan adalah datang kepada kita semua." Mendengar lanjutan dari Cao Cao, Yuan Shao seketika terbangun dari pemikirannya yang dalam. "Yang kau cari itu bukan cuma orang biasa yang diberi kekuatan Phoenix, melainkan benar-benar Phoenix itu sendiri."

Tidak bisa tidak, Yuan Shao makin bingung. Mustahil perkara demikian bisa terjadi, bukan? "Phoenix itu sendiri...? Seperti apakah dia?" Tanyanya dengan nada tidak percaya, namun penuh rasa takjub. Bagaimana tidak? Bukankah ini sebuah keajaiban yang sangat luar biasa? "Ya Tian...! Jangan-jangan dia adalah seorang yang luar biasa berkuasa dan kuat! Seorang jendral yang begitu luar biasa perkasa seperti Jendral Xiang Yu dan Han Xin di zaman Dinasti Han kuno? Pantaslah tidak ada yang bisa memaksanya kembali ke Chang An!"

Sebagai jawaban, Cao Cao cuma menggeleng.

Yuan Shao makin bingung saja. "Kalau begitu... " Jawabnya sambil masih berpikir keras. "Seperti Sun Zi yang begitu pandai dan cerdik? Atau seperti Lao Zi? Atau seperti orang-orang bijak lainnya? Dan karena itu tidak ada sanggup yang mengubah pikirannya?"

Sekali lagi, Kaisar Wei itu menggeleng.

Sangking tidak tahannya, begitu penasaran dan tidak sabar, Yuan Shao nyaris berteriak! "Kalau begitu seperti apa Phoenix itu!"

Cao Cao tak lantas menjawab. Ia hanya menoleh dan memandang sisi ranjangnya, seolah-olah Phoenix itu, yang entah bagaimana bisa menjadi anak angkatnya sendiri, masih duduk di lantai di sisi ranjangnya. Seolah-olah laki-laki muda berambut coklat itu masih ada di sana, menggenggam mangkuk berisi obat dan menunggunya dengan sabar untuk meneguk habis obat di mulutnya(3). Seolah-olah anak itu masih sedang berbincang-bincang dengannya dan menemaninya seharian penuh.

"Dia itu..." Jawab Cao Cao pada akhirnya. Sekarang di tangannya hanya ada sehelai bulu saja. "... seperti bulu ini. Begitu lembut dan sangat biasa, tanpa keistimewaan apapun. Kalau kau bertemu dengannya di tengah jalan, kau tidak akan tahu apakah dia itu Phoenix atau bukan. Kau hanya tahu bahwa dia adalah seorang laki-laki muda berambut coklat tanah, dengan wajah dan tatapan mata yang lembut."

Pemandangan di depan mata Cao Cao berganti. Kalau tadi ia melihat Phoenix itu masih duduk di sebelahnya, sekarang ia sudah melihat sesuatu yang jatuh berbeda. Teringat kembali olehnya saat dimana Cao Pi masuk, kemudian berbuat sesuka hatinya pada Phoenix itu. Cao Cao bergidik ngeri. Rintihan kesakitan sang Phoenix saat punggungnya dihujam oleh pecahan porselain kembali terngiang-ngiang di kepalanya(3).

"Bulu yang melengkung ke bawah..." Lanjutnya, kali ini dengan nada yang sedih. "...yang kalau jatuh, siapapun dengan bebas menginjaknya sampai hancur, seolah menunduk rendah dan mengizinkan kekejaman dan perbuatan brutal orang lain menimpa dirinya."

Yuan Shao terkejut bukan buatan. Namun ia lebih terkejut lagi saat tahu bahwa di kamar itu hanya dia sendiri yang terkejut. Xiahou Dun dan Xiahou Long, kedua jendral ayah-anak itu menunduk, sepenuhnya mengerti semua itu.

Cao Cao terdiam lagi. Dimana Phoenix itu sekarang? Dimanapun dia berada, Kaisar Wei itu yakin suatu saat dia sedang membawa kedamaian. Secara ajaib dan sama sekali tidak habis dipikir, dia bisa menjadi seorang Putra Mahkota. Jika hal seaneh itu terjadi, maka membawa kedamaian ke China bukan sesuatu yang mustahil lagi.

"Xiahou Dun, Xiahou Long, tolong tutup semua jendela dan pintu." Perintah kaisar itu pada keduanya. Segeralah mereka melakukannya. Sekarang ruangan itu benar-benar gelap, tidak ada cahaya sedikitpun yang masuk. Yuan Shao tentu saja bingung dengan semua itu. Namun saat melihat Cao Cao mengangkat bulu tersebut, panglima besar itu mengerti.

Ruangan itu tidak benar-benar gelap. Bulu tersebut mengeluarkan cahaya yang meskipun lembut dan tidak menyilaukan, namun memenuhi ruangan yang gelap itu dengan cahaya.

"Namun kau akan tahu bahwa itu dia, melalui kedamaian yang dipancarkannya." Lanjut Cao Cao untuk terakhir kalinya. "Yuan Shao, kawan lamaku, aku tidak akan mencegahmu mencari Phoenix itu. Namun ingatlah bahwa dia punya jalan hidup dan takdirnya sendiri. Kau tidak mungkin bisa mengaturnya." Satu kalimat itu mengakhiri semuanya, penjelasan dan pembicaraan mereka.

Yuan Shao masih terdiam. Ia mengangguk perlahan. "Begitu..." Gumamnya. "Baiklah. Aku tidak tahu apakah aku bisa mengajaknya kembali ke Chang An. Namun aku ingin mencarinya." Kali ini panglima besar itu berdiri. "Kali ini bukan karena ingin membawanya sebagai Putra Mahkota, tetapi karena aku ingin melihat Phoenix itu dengan mata kepalaku sendiri."

Melihat ini, Cao Cao tersenyum. "Jika kau butuh bantuan, kau dapat mengajak Jia Xu, Xiahou Long, dan Xiahou Mei. Merekalah yang sudah pernah menempuh perjalanan panjang untuk mencari Phoenix itu."

Begitu mendengar namanya disebut, Xiahou Long maju dan bersoja pada Cao Cao. "Aku yang rendah ini tentu merasa sangat terhormat jika diberi kesempatan menemani Panglima Besar Yuan Shao mencari Phoenix itu." Ujarnya dengan sungguh-sungguh sambil membungkuk. "Mungkin aku tidak bisa membantu banyak, namun aku akan berjuang sebaik-baiknya."

Yuan Shao menepuk punggung Xiahou Long. "Baiklah, Jendral Xiahou Long. Kau dan adikmu ikut denganku. Juga tentu saja Penasihat Jia Xu." Katanya, yang segera dibalas Xiahou Long dengan anggukan yakin. "Kau tahu dimana Phoenix itu berada?"

"Terakhir kali aku bertemu dengannya, dia ada di Kerajaan Wu di sebelah timur." Jawab Xiahou Long. "Jika memang ingin mencarinya, sebaiknya kita tidak segera menunda-nunda lagi, Panglima Besar Yuan Shao. Mari kita berangkat secepatnya."


Lu Xun

"Nah, kita sudah sampai di Cheng Du! Lu Xun, sekarang kita akan kemana?"

"Tentu saja ke kediaman Perdana Mentri Zhuge Liang. Zhao Yun dan Jiang Wei saja tidak diperbolehkan masuk ke istana gara-gara ulah Ibusuri Shu, apalagi kita."

"Hmmm... benar juga, ya. Baiklah kalau begitu!"

Sesudah beberapa minggu perjalanan, akhirnya kami berdua tiba di Cheng Du. Dilihat sepintas, tidak ada perubahan apa-apa. Cheng Du yang sekarang dengan Cheng Du yang setahun lalu masih saja tetap sama. Warga kotaraja Cheng Du yang sibuk mengurusi pekerjaannya meskipun hari sudah sore seperti ini, anak-anak yang mulai pulang ke rumahnya masing-masing, pedagang dan pengelana serta Gaibang yang keluar masuk kota, semuanya sama sekali tidak berubah barang sedikitpun. Seolah baru saja kemarin kami dari tempat ini. Benar-benar satu tahun yang tidak terasa.

Namun aku dan Yangmei tidak masuk ke dalam kota. Kami pergi ke sisi selatan dari gerbang kota, dan dari sana agak lebih ke selatan lagi. Di sanalah rumah kediaman Perdana Mentri Zhuge Liang berada. Kurasa, hanya inilah yang dapat kami lakukan sekarang. Aku yakin Ibusuri Shu tidak akan dengan mudah mengizinkan kami masuk. Jadi sebaiknya kami merundingkan hal ini dengan Zhao Yun, Jiang Wei, dan Perdana Mentri Zhuge Liang. Dengan begini, diharapkan kami tahu apa yang harus kami lakukan selanjutnya.

Sampai hari menjelang malam, barulah kami sampai di tempat itu. Dari sini terlihat ujung-ujung pohon buah dao yang begitu lebat dibalik pagar kediaman Perdana Mentri. Di musim panas ini, buah-buah dao sudah meranum dan memerah, siap untuk dipetik. Aku dan Yangmei masuk melalui sebuah pintu yang dijaga oleh seorang pembantu, dan ia mengizinkan kami masuk dengan ramah. Rumah ini bukan hanya merasakan kehangatan musim panas, tetapi juga memberikan kehangatan bagi para tamu-tamunya yang datang. Jujur saja, tidak mungkin ada orang yang bisa merasa bosan dan terusir dari tempat ini.

Kami dipersilahkan duduk di ruang tamu yang terbuka, seperti ting-paviliun. Dari sini aku bisa melihat taman pohon dao yang begitu rindang, merasakan ketenangan yang jarang bisa didapatkan di tempat lain. Sementara Yangmei, sangking keasyikan, melompat sana dan sini sambil melihat barang-barang antik dan hiasan yang berada di sini. Yah, selama dia tidak merusak apapun, kurasa tidak apa-apa.

Tak lama, Zhao Yun dan Jiang Wei datang. Tentu saja mereka datang dengan begitu hebohnya!

"Lu Xun! Ya Tian! Kukira kau tidak akan kembali ke sini!" Seru Zhao Yun sambil langsung menghambur ke arahku!

"Kau ini... kenapa perlu waktu begitu lama agar kau pergi ke Shu lagi? Apa kau sudah melupakan kami?" Tanya Jiang Wei yang tak kalah heboh dari Zhao Yun!

Aku tertawa melihat mereka berdua, berdiri, kemudian merangkul keduanya. "Jangan berkata begitu! Setiap saat aku mengkhawatirkan kalian di Shu, apalagi dengan Ibusuri Shu yang sepertinya sangat tidak mengenakkan!" Jawabku sambil tersenyum lebar, melepas rasa rindu sesudah setahun tidak bertemu dengan sahabat-sahabat terbaikku ini! Bagaimana tidak? Setahun lamanya aku tidak bertemu mereka barang sedetikpun! Dan hanya berbicara dengan surat. Padahal dulu, setiap kali membuka mata saat bangun tidur, pasti akan melihat mereka. "Kalian sahabatku yang baik, bagaimana aku bisa melupakan kalian?"

"Hei! Hei!" Tiba-tiba saja Yangmei menyeletuk. Pipinya menggembung. "Kalian tidak menyapaku juga? Kenapa hanya Lu Xun saja?"

Zhao Yun, seperti biasa, sukanya mencari gara-gara dengan Yangmei. Begitu juga sebaliknya! "Wah, aku sama sekali tidak sadar Yangmei juga ada di sini!" Tukas Zhao Yun sambil menepuk jidat. "Maaf, Yangmei! Habis kau tambah pendek saja! Aku jadi tidak bisa melihatmu!"

"Apa? Sialan kau! Mentang-mentang kau tinggi!" Bentaknya sambil menghentak-hentakkan kaki sangking kesal. Yangmei ini... benar-benar tingkahnya kalau sewot begitu malah membuat semua orang tertawa! "Dengar, ya? Selama setahun ini aku sudah berubah menjadi manusia berpendidikan! Jadi, aku tidak akan meladeni omonganmu yang sama sekali tidak ningrat itu, tahu?"

"Lho? Lalu kenapa kau membalas? Berarti kau pun masih belum ningrat!"

Yah, begitulah pertemuan pertama kami sesudah sekian waktu lamanya tidak bertemu! Benar-benar menyenangkan sekali! Sudah berpisah selama setahun, tetapi anehnya tidak ada rasa canggung sedikitpun. Mula-mula kami membicarakan hal-hal ringan yang tidak penting. Lalu Zhao Yun dan Jiang Wei menceritakan tentang pengalaman mereka di Nanman untuk menentramkan daerah tersebut. Zhao Yun bahkan bercerita tentang Jiang Wei yang terjatuh dari punggung gajah saat berusaha menaikinya! Hahaha! Aku dan Yangmei sama-sama tertawa saat mendengar hal itu, sementara Jiang Wei jadi sewot sendiri.

Akhirnya, lama-lama pembicaraan kami bergeser ke arah yang lebih serius.

"Jadi, begitulah..." Zhao Yun mendesah panjang. Seketika tawa kami mati di situ. "Sepulangnya dari Nanman, semua kembali ke Istana Cheng Du. Hanya aku dan Jiang Wei-lah satu-satunya yang tidak diizinkan masuk. Karena itu kami sekarang tinggal di kediaman Perdana Mentri." Meskipun Zhao Yun berusaha menutupinya, tapi aku tahu dia menyimpan berbagai macam emosi. Kesedihan, kekhawatiran, rasa tidak terima, bingung, kemarahan, dan bertanya-tanya dalam hati. Jiang Wei tidak berbeda, malah justru ia lebih tidak ragu-ragu memperlihatkannya.

Aku juga hanya bisa mendesah. "Lalu... apa kata Kaisar Liu Bei tentang ini?" Tanyaku. "Beliau tidak bisa melakukan apa-apa?"

Jiang Wei, sebagai jawaban, menggeleng pelan. "Bahkan untuk bertemu dengan Kaisar Liu Bei saja kami tidak diizinkan."

"Entah apa lagi yang direncanakan Lao Zucong sialan itu..." Gumam Zhao Yun sambil memicingkan mata dan mengerutkan dahi. Yah, kurasa kalau begini pasti penyebabnya tidak lain dan tidak bukan adalah ibusuri sendiri.

"Bagaimana dengan Perdana Mentri?" Tanyaku. "Apa beliau tidak bisa menyampaikan apa-apa pada Kaisar?"

Keduanya saling berpandang-pandangan. Baru sesudah itu Zhao Yun menjawabku. "Perdana Mentri sudah menyampaikan hal ini pada Yang Mulia Kaisar. Tetapi Kaisar hanya berkata bahwa urusan rumah tangga kerajaan semuanya diatur oleh Lao Zucong. Beliau sendiri tidak memiliki hak untuk bicara." Jawabnya sebelum mendengus keras. Tidak perlu orang pintar untuk memberitahu bahwa Zhao Yun sedang kesal bukan main. "Jujur saja, kurasa Lao Zucong sekarang tidak hanya mengurusi rumah tangga kerajaan, tetapi ikut campur masalah kehidupan pribadi orang lain!"

Aku mati kata, tidak bisa mengatakan apa-apa lagi. Cuma duduk berpangku dagu.

Kenapa bisa begini, ya? Sebelum Ibusuri Shu menampakkan diri, aku berpikir bahwa Shu ini adalah kerajaan yang sama sekali tanpa masalah. Tanahnya subur, hasil alamnya melimpah, tempatnya aman dan tentram, dengan sumber daya manusia yang baik. Namun ternyata, ada juga masalah seperti ini. Dan yang lebih ajaib lagi, masalah sebesar ini ditimbulkan hanya karena seseorang yang meskipun memiliki kekuasaan besar, tetapi seharusnya tidak memiliki kedudukan apa-apa dalam pemerintahan. Orang itu adalah Ibusuri Shu yang adalah ibunda dari Kaisar Liu Bei sendiri.

Permasalahannya berat juga. Masalahnya, kami sekarang menghadapi orang yang bahkan tidak bisa dilawan oleh Kaisar sendiri. Bukan karena pengaruh kekuatan politik atau apa, tetapi karena alasan etika yaitu bahwa seorang anak tidak boleh menentang orangtuanya! Atau kalau tidak, beliau dapat dikatakan anak durhaka dan menerima kutukan serta hukuman langit.

Rumit juga masalahnya... Kalau aku terlibat, bisa-bisa bukan hanya terlibat urusan kerajaan lain, tetapi bahkan dalam urusan pribadi keluarga orang.

Syukurlah, sesudah agak lama, Perdana Mentri tiba di tempat ini. Kami semua segera menyambutnya dengan bersoja.

"Wah, sungguh kami beruntung akhirnya kalian kembali ke tanah Cheng Du ini, Lu Xun, Yangmei." Sapa Perdana Mentri dengan senyum hangat. Aku dan Yangmei membalasnya dengan membungkukkan tubuh. "Maafkan kami tidak bisa menyambut dengan layak. Entah kenapa, sekarang Istana Cheng Du menjadi sangat sulit untuk dikunjungi. Bahkan kami tidak bisa mengabarkan kedatangan kalian pada Kaisar Liu Bei."

Aku tersenyum sambil menggeleng pelan. "Kami berdua mengerti tentang kesulitan yang Perdana Mentri hadapi. Lagipula, siapa kami ini sampai minta disambut segala? Boleh diizinkan untuk bertemu dengan Perdana Mentri sudah merupakan keuntungan besar bagi kami." Ucapku dengan tulus dan hormat.

"Yang dikatakan Lu Xun itu benar, Perdana Mentri." Yangmei juga ikut menjawab dengan suara yang hormat dan santun. "Kami datang kemari bukan bertujuan untuk membuat repot seisi Cheng Du. Justru kami datang dengan harapan dapat membantu seandainya ada masalah."

Perdana Mentri tersenyum lebar saat mendengar Yangmei. Yah, bukan hanya Perdana Mentri tetapi juga Zhao Yun dan Jiang Wei. "Wah, Yangmei. Cara bicaramu benar-benar sudah berubah. Kau sekarang benar-benar berlaku seperti putri yang terhormat dan penuh sopan santun!" Puji Perdana Mentri dengan penuh kekaguman. "Selama setahun ini kau telah berubah banyak rupanya!"

Aku tersenyum mendengar hal itu, apalagi Yangmei. Dia dengan cepat mengangguk. "Tentu saja Perdana Mentri! Kan Lu Xun yang mengajariku!" Ujarnya dengan gembira sambil memeluk lenganku. Ahahaha... Yangmei ini memang lucu sekali...

Perdana Mentri Zhuge Liang pun sekarang duduk di salah satu bangku yang masih kosong. Beliau, sambil mengipasi diri dengan kipas bulu miliknya, memulai pembicaraan yang selama ini mengganjal hati kami. "Jadi, kalian berdua datang karena resah memikirkan Zhou Ying yang sampai sekarang belum memberi kabar apapun soal pernikahannya, bukan? Aku yakin, Penasihat Zhou Yu serta orang-orang Wu pasti akan khawatir mengenai hal ini." Kata Perdana Mentri dengan penuh penyesalan.

"Yang Perdana Mentri katakan memang persis dengan apa yang ada di kepalaku." Jawabku, menghela nafas panjang dan menatap lantai. "Zhou Ying adalah adikku dan adik Meimei. Dia adalah putri Penasihat Zhou sekaligus putri Wu. Jika selama setahun dia berada di Shu tanpa ada kabar apapun, bagaimana kami tidak cemas? Entah sudah berapa kali kami semua mengirimkan surat untuknya, tetapi tidak ada satupun yang dibalas." Aku menjelaskan. Perdana Mentri Zhuge Liang pasti sudah melihat kekhawatiran , baik di wajahku maupun di wajah Yangmei.

Zhao Yun tiba-tiba menyela. "Jangankan kau yang sebegitu jauhnya dari Wu. Aku dan Jiang Wei pun selalu mengirim surat untuk Zhou Ying dan Yan Lu, namun tak ada satupun yang dibalas." Perkataannya disetujui dengan anggukan kepala dari Jiang Wei.

Perdana Mentri terdiam sejenak dan terlihat berpikir. "Sulit bagiku untuk mengatakan hal ini. Namun ini semua pasti adalah ulah Lao Zucong. Sayangnya, kita tidak bisa melakukan apa-apa." Gumam beliau, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada kami. "Kurasa ini adalah rencana Lao Zucong untuk membuat mereka menderita. Benar-benar kejam sekali Lao Zucong sampai mengurung Yan Lu dan Zhou Ying hingga tak seorang pun boleh menemui mereka."

Dalam hatiku timbul kemarahan yang tersembunyi kepada ibusuri itu. Kenapa sampai membuat Zhou Ying dan Yan Lu seperti ini? Mereka tidak salah apa-apa, kan? Aku selalu merasakan firasat buruk setiap kali memikirkannya, khususnya pada Zhou Ying. Entah apa yang telah dilakukan Ibusuri Shu pada Zhou Ying yang adalah adik angkatku itu! Apa hanya karena Zhou Ying seorang Wu, lalu beliau membencinya, dan lantas merasa berhak memperlakukan Zhou Ying semaunya? Ataukah mungkin ada alasan lain? Tapi apa? Bukankah sebelum ini kami tidak pernah bertemu dengan beliau?

Keheningan ini terus berlanjut sampai Jiang Wei angkat suara. "Tapi sekarang, kurasa keadaannya bisa sedikit berubah." Ujarnya sambil berusaha tersenyum meyakinkan. Sekarang mata kami semua tertuju padanya. "Kaisar Liu Bei tentu sangat bergembira jika mendapat kabar bahwa Lu Xun dan Yangmei berdua, sepasang Phoenix, datang ke Shu! Kurasa bagaimanapun Kaisar Liu Bei pasti akan menyambut meski Lao Zucong tetap menolak."

"Benar!" Sahut Zhao Yun menyetujui. "Dan jika pintu gerbang Istana Cheng Du terbuka untuk Lu Xun dan Yangmei, berarti aku dan Jiang Wei juga bisa masuk ke dalam!"

Sebenarnya, aku tidak menemukan celah dari rencana sederhana itu. Kaisar Liu Bei tidak mungkin akan menolak mengizinkan aku dan Yangmei masuk ke Istana, bukan? Beliau sangat baik hati dan menghargai kami berdua, tidak seperti Ibusuri Shu. Nah, kalau sekarang aku dan Yangmei masuk, dengan dibarengi Zhao Yun dan Jiang Wei, mustahil Zhao Yun dan Jiang Wei akan diusir! Karena, bukan hanya pasti tindakan itu tidak beralasan, tetapi juga karena ini bisa menimbulkan kecurigaan dariku dan Yangmei yang orang Wu. Jangankan Kaisar Liu Bei, bahkan aku yakin Ibusuri pun tahu untuk tidak membiarkan urusan pribadi kerajaannya sampai diketahui orang asing.

Pada akhirnya, aku mengangguk setuju. "Kurasa, itu bukan usul yang buruk."

"Baiklah." Perdana Mentri pun memberikan persetujuan. "Kalau begitu, besok pagi kita akan pergi ke Istana Cheng Du. Aku akan mengantarkan kalian ke sana."

-o-o-o-o-o-o-

Malam ini aku dan Yangmei menginap di kediaman Perdana Mentri. Tidak ada hal lain yang dilakukan setelah makan malam selain berbincang-bincang sejenak bersama Perdana Mentri Zhuge Liang dan Zhuge furen. Sesudah itu, kami semua pergi tidur. Aku, Zhao Yun, dan Jiang Wei tidur dalam satu kamar yang sama, tetapi di dalamnya terdapat kamar-kamar yang lebih kecil berisi sebuah pembaringan untuk kami tidur. Yangmei tidur di tempat lain, tentu saja. Perjalanan hari ini begitu melelahkan, jadi sebaiknya aku cepat tidur untuk hari esok.

Tapi... aku tidak bisa tidur.

Apakah ini karena udara malam musim panas yang begitu panas? Baju tidur berbahan sutra yang lembut dan longgar ini mulai basah oleh keringat. Entah berapa kalipun aku mencoba tidur, menutup mataku, membolak-balikkan tubuhku sana sini untuk mencari posisi tidur yang nyaman, tetap saja aku tidak bisa tidur. Apakah karena aku berada di Shu dan bukan di Wu? Ah, tidak mungkin. Selama perjalanan aku selalu bisa tidur dengan nyenyak. Justru ketika sudah sampai di tempat tujuan, aku malah tidak tidak bisa tidur.

Aku menyerah. Aku pun duduk di pembaringan.

Atau mungkin... aku tidak bisa tidur karena sedari tadi Zhao Yun dan Jiang Wei belum kembali?

Iya. Aku ingat sebelum masuk kamar, mereka berdua berkata agar aku tidur dulu, karena mereka ada urusan yang perlu dikerjakan. Aku sama sekali tidak bertanya apa itu dan langsung masuk. Namun rupanya, baru sekarang aku merasa mencemaskan mereka. Ya, aku tahu perasaanku ini sama sekali tidak beralasan. Tapi memangnya yang namanya perasaan butuh alasan?

Jadi, aku beranjak dari ranjang tempat aku berbaring. Tanpa mengganti pakaian tidurku, aku mengenakan alas kaki yang sudah disediakan dan pergi keluar. Koridor yang kulalui begitu sepi, sama sekali tidak ada orang. Mereka semua pasti sudah tidur. Aku terus saja berjalan sambil menoleh ke kiri dan ke kanan, berharap untuk menemukan Zhao Yun dan Jiang Wei yang entah berada dimana sekarang. Kuharap aku segera menemukan mereka. Berjalan tengah malam di rumah orang lain tentu saja bukan hal yang menyenangkan.

Akhirnya, tibalah aku di taman pohon Dao.

Sampai di sini, aku mendengar gelak tawa yang aneh. Tapi aku yakin bahwa gelak tawa yang bersahut-sahutan dan penuh kegembiraan itu adalah dari Zhao Yun dan Jiang Wei. Hah? Malam-malam begini mereka sedang tertawa tentang apa? Apakah mereka membicarakan sesuatu yang menyenangkan? Kalau iya, kenapa aku tidak diajak? Penasaran, aku pun segera berjalan dan mencari mereka di atara pepohonan dao yang begitu indah dipandangi pada malam hari.

"Ya! Ya! Ya! Memang brengsek sekali nenek sihir tua satu itu! Untung besok kita sudah boleh masuk istana!"

"Hahaha! Betul! Betul! Besok kita akan melemparkan nenek sinting itu ke kuali besar lalu merebusnya dengan minyak!"

Hah? Mereka ini sedang bicara apa, sih? Kok sepertinya mengelantur dan tidak jelas juntrungannya? Dan siapa maksud mereka 'nenek' itu? Apa maksudnya Ibusuri? Kalau iya, kenapa mereka sampai bikin rencana aneh-aneh segala tentang merebus dengan minyak? Penasaran, aku pun mendekat. Ya Tian... kok bisa-bisanya ada bau-bau arak seperti ini? Ugh... menciumnya saja aku sudah tidak tahan! Rasanya aku ingin muntah dan pingsan kalau mencium bau seperti ini!

Jadi, dengan agak menahan nafas, aku mendekati mereka berdua. Benar juga! Sial delapan belas turunan! Mereka sekarang sedang duduk berhadapan di sebuah meja batu, masing-masing memegang sepoci arak, dan mabuk-mabukan! Ya Tian! Mereka ini sudah gila atau edan? Bisa-bisanya jendral seperti mereka melakukan tindakan begini rupa!

"Hei, Zhao Yun! Jiang Wei!" Seruku sambil berjalan mendekat dengan langkah lebar dan cepat. Mereka menoleh dan memandangiku dengan tatapan tolol begitu. Wajah mereka merah semuanya, begitu juga mata mereka. Sudah kuduga. Mereka benar-benar sedang mabuk! "Kukira kalian sedang melakukan apa malam-malam begini! Ternyata kalian sedang minum mabuk! Memalukan sekali!" Bentakku sambil merampas sebuah botol dari tangan Zhao Yun.

Nah, mereka masih saja memandangiku seperti orang tolol begitu! Malah sekarang wajah mereka jadi aneh sekali!

"Lho? Hei, Jiang Wei! Kau lihat apa yang di depanku?" Tanya Zhao Yun di ambang batas kesadarannya. Tangannya mulai teracung-acung ke arahku. Dengan kesal bukan buatan aku langsung menepis tangannya. Apalagi tangannya berbau arak yang sangat menyengat!

"Iya..." Jiang Wei mengangguk dengan mata melotot juga memandang ke arahku. "Zhao Yun, ada bidadari turun dari khayangan di depan kita!"

A-APA? Rupanya mereka bukan cuma mabuk! Mereka pasti sudah gila mengatai aku bidadari! Aku mendesis sangking kesalnya, dan mestinya akan berteriak sekeras-kerasnya kalau tidak ingat bahwa hari ini sudah malam! Jadi, sambil aku memukulkan botol arak Zhao Yun ke atas meja, aku berseru dengan lantang. "Bidadari apanya? Aku ini Lu Xun! Kalian ini jadi rabun gara-gara pengaruh arak, ya? Ayo cepat pergi tidur!"

Uh-oh...

Sepertinya aku salah mendatangi mereka malam-malam, apalagi menegur mereka. Apalagi memberitahukan siapa aku sebenarnya!

Dengan gerakan yang cepat luar biasa, tiba-tiba Zhao Yun sudah menarik lenganku sampai aku terjatuh ke arahnya!

"Zhao Yun! Apa-apaan ini? Lepaskan aku!"

"Oh, Lu Xun! Kau di sini rupanya! Hahaha! Ayo temani kami minum!" Ajak Zhao Yun sambil menuangkan segelas arak padaku. TIDAAAAAK! Aku tidak mau minum benda itu barang setetes pun! Ya Tian! Mereka berdua ini kenapa sebenarnya? Sial! Harusnya tadi aku tidak meninggalkan pedangku di kamar! Celakaaaaaa!

Jiang Wei langsung datang mendekatiku yang sekarang tidak bisa bergerak atau lari karena dipangku oleh Zhao Yun. "Wah... wah... Lu Xun, aku baru sadar sesuatu..." Jiang Wei cegukan sekali, sebelum kemudian memandangiku dalam-dalam dengan mata melotot. Betapa kagetnya aku saat tangannya berada di pipiku! "Rupanya kau benar-benar mirip perempuan, ya? Hahaha! Sekarang aku jadi ragu kau ini sebenarnya laki-laki atau perempuan!"

"Tentu saja aku laki-laki! Hei, Jiang Wei! Sadarlah!" Dengan panik aku berusaha meronta-ronta, melepaskan diri baik dari Zhao Yun maupun dari Jiang Wei yang sudah jadi gila sangking mabuknya! Kali ini aku tidak peduli lagi kalau aku akan membuat keributan di rumah orang lain malam-malam begini. Yang pasti aku berteriak sekuat-kuatnya meminta tolong! Kalau tidak, kejadian di Han Shou akan terulang lagi! Malah mungkin saja akan jadi lebih gawat!

Sampai tiba-tiba, aku melihat seseorang dari kejauhan. Yangmei!

Yangmei yang panik langsung mengeluarkan empat pasang piaonya dan siap-siap untuk melemparkannya. Dia benar-benar kelihatan gusar sekali sampai wajahnya hijau dan asap keluar dari telinganya! Tapi sambil menggeleng kuat-kuat, aku ingin bilang jangan! Tapi bagaimana aku bisa bersuara? Bisa-bisa Zhao Yun dan Jiang Wei akan menyadari kedatangannya!

"Nah... nah... nah... Ayo, Lu Xun! Ini arak untukmu!" Zhao Yun yang memang sudah mabuk setengah mati sekarang mengangkat secangkir penuh arak, yang tentu saja akan diberikan untukku! Ya Tian! Matilah aku! Bagaimana sekarang aku bisa keluar dari bahaya seperti ini?

Kembali ke Yangmei. Saat aku menoleh, gadis itu ternyata sudah hilang dari pandangan! Ya Tian! Yangmei...! Bisa-bisanya dia meninggalkanku di situasi seperti ini!

Aku menggeleng kuat-kuat dan meronta seperti ayam akan dipotong! Habis kalau tidak, aku akan benar-benar mati! "Tidak mau! Tidak mau! Aku tidak bisa minum minuman seperti itu, Zhao Yun!" Seruku dengan sepenuh hati, jiwa, dan raga supaya arak itu tidak jadi diberikan untukku! Berada di sini dan mencium baunya saja sudah membuatku muak! Apalagi kalau harus meminumnya!

Tapi sialnya, aku benar-benar tidak didengarkan! Celaka delapan belas turunan! Jiang Wei mengambil cangkir itu dari tangan Zhao Yun sementara tangannya yang satunya memegang daguku. Didekatkannya cangkir itu sampai benar-benar dekat dengan bibirku! "Jangan bilang begitu, Lu Xun... ayo! Kau harus jadi laki-laki sejati! Hahaha!"

Benar-benar bisa gila kalau aku berada di antara Zhao Yun dan Jiang Wei yang sudah mabuk begini! Jangankan saat mereka mabuk, saat mereka sadar saja mereka bisa bertingkah aneh-aneh seperti di Han Shou! Justru ini sih sama sekali bukan laki-laki sejati! Mana ada cerita seorang laki-laki dilihat sejati atau tidaknya dari minum arak? Kalau aku tidak bisa minum arak, apa berarti aku bukan laki-laki sejati? Tidak bisa begitu!

Meski mau berteriak atau menjerit, aku tidak mau membuka mulut karena pasti pada akhirnya akan membuat mulutku dicekoki minuman mengerikan itu! Ya Tian! Ini benar-benar mengerikan!

"Kok... masih juga tidak mau minum?" Jiang Wei kelihatan kesal dalam kemabukannya itu. "Ayo, Lu Xun! Buka mulut!" Benar-benar kali ini dia meminumkannya dengan paksa padaku! Ya Tian... minuman apa ini? Aku sama sekali tidak mengerti kenapa banyak orang bisa suka pada sesuatu yang seperti ini! Bukan cuma minuman ini tidak enak dan aneh rasanya, tetapi ini juga membuat otakku serasa lumpuh dan tidak bisa berpikir!

Benar-benar minuman memuakkan!

Sangking tidak tahannya dicekoki arak sebanyak itu, aku memalingkan wajahku jauh-jauh dari Jiang Wei! Aku terbatuk-batuk gara-gara kehabisan nafas, sampai-sampai memuntahkan arak yang kuminum! Ya Tian... rasanya aku seperti akan mati saja...!

"Lho... Lu Xun, kau ini bagaimana...?" Aku bisa mendengar suara Jiang Wei yang masih mabuk dalam sela-sela nafasku yang terengah-engah. "Payah... tidak mau minum... kau bukan laki-laki sejati, ya?"

"E-enak saja...! Aku... tentu saja aku... laki-laki sejati!" Bantahku masih dengan nafas terputus-putus.

"Hei, Jiang Wei... Rasanya benar juga... jangan-jangan dia memang bukan laki-laki sejati!" Zhao Yun menyeletuk. EEEEHHHH? Apa maksudnya itu? "Kau kan tadi bilang sendiri kau ragu dia ini laki-laki atau perempuan..."

Jiang Wei mengangguk-angguk dengan keadaan mabuk begitu, benar-benar seperti orang tak waras! Yang lebih membuatnya tidak waras adalah, tiba-tiba saja kedua tangannya menggenggam ikat pinggang dan celana yang kupakai! "Benar juga... kalau begitu... kita harus selidiki dia ini sebenarnya laki-laki atau perempuan...! Hei, Zhao Yun?"

Zhao Yun tertawa terbahak-bahak! Ya Tian! Sekarang mereka mau apa lagi? Benar-benar aku dalam bahaya luar biasa besar! Bahkan berada di mulut singa dan buaya saja masih jauh lebih baik daripada ini! "Ide bagus, Jiang Wei! Aku juga penasaran! Hahaha!"

Dengan satu kata itu, Jiang Wei pun dengan gelak tawa mulai melakukan aksinya!

"JANGAAAAAAAN!"

BYUUUURRRR!

Ya Tian... apa itu? Air bah?

"Jangan sentuh Lu Xun lagi, dasar makhluk-makhluk tidak berbudaya!" Aku menoleh ke belakang, dan menemukan Yangmei dengan sebak besar air dingin berjalan dengan langkah seribu. Begitu sampai di depan kami, dia langsung memukul-mukulkan bak itu ke Jiang Wei dan Zhao Yun yang sudah setengah tidak sadarkan diri! Ya Tian! Ternyata tadi Yangmei menghilang karena dia ingin mengambil air dan menyiramkan pada mereka berdua supaya mereka sadar dari kemabukan mereka!

"Brengsek! Brengsek! Brengsek!" Yangmei menyumpah dengan gusar bukan buatan! Dia pasti kalap sekali sekarang! "Lu Xun itu laki-laki sejati! Justru kalian yang begitu buta sampai tidak bisa melihatnya-lah yang sebenarnya bukan laki-laki sejati!"

"Meimei! Meimei! Sudahlah! Hentikan!" Seruku panik sambil berusaha menahan serangannya yang membabi-buta itu. Pada akhirnya, Yangmei menurut dan melemparkan bak itu ke samping.

Kulihat Zhao Yun dan Jiang Wei yang mulai bergerak. Ya Tian... mereka seperti orang mati saja... Jiang Wei yang paling pertama siuman langsung menoleh ke kiri dan ke kanan seperti orang tolol.

"Lho? Sudah pagi, ya?"

Tidak tahu bagaimana terjadinya, entah karena keajaiban atau tidak, sekarang kami sudah kembali ke kamar, dengan Jiang Wei dan Zhao Yun sudah sadarkan diri. Yangmei kembali ke kamarnya sendiri dan melanjutkan kegiatannya merajut mimpi. Kami bertiga sudah mandi, lagi. Sekarang, sesudah mengenakan pakaian tidur yang bersih dan pastinya tidak berbau arak, kami duduk di lantai beralaskan karpet. Jiang Wei dan Zhao Yun sedari tadi diam saja dan menunduk dalam-dalam. Entah malu, entah menyesal, entah merasa bersalah, pokoknya mereka tidak mau buka mulut meski biasanya mereka sangat banyak omong.

Aku menghela nafas melihat mereka yang dari tadi tetap hening terus. Karena mereka tidak mau bicara, terpaksalah aku yang bicara duluan.

"Kalian berdua ini kenapa?" Tanyaku dengan suara pelan. "Kenapa sampai kalian mabuk-mabukan begitu? Apa ada yang mengganjal hati kalian?"

Mereka masih juga tidak bicara apa-apa. Memandangku saja tidak.

"Jangan hanya diam saja! Katakan sesuatu!" Sekali lagi aku bertanya dengan desahan kuat, sarat rasa frustrasi dan putus asa.

Sebenarnya, minum arak sampai semabuk itu memang bukan sesuatu yang aneh atau jahat. Banyak orang yang melakukannya. Kalau tidak salah, adik angkat Kaisar Liu Bei yang bernama Jendral Zhang Fei sangat gemar minum arak, bahkan kadang sampai mabuk dan mencelakakan banyak orang. Yang dilakukan Jiang Wei dan Zhao Yun ini jauh dari berbahaya atau merugikan orang lain.

Tapi, bukan itu yang membuatku gelisah. Zhao Yun dan Jiang Wei, sahabat-sahabatku ini, tidak pernah minum sampai mabuk begitu. Mereka pasti tahu kapan untuk berhenti. Anehnya, kali ini mereka tidak peduli kalau mereka mabuk, bahkan sampai main gila seperti itu. Dan kalau mereka seperti ini, berarti kemungkinan besar ada masalah yang membuat mereka benar-benar frustrasi. Misalkan itu benar, mengapa mereka tidak mau memberitahukannya padaku? Kami bertiga ini sahabat! Di antara kami tidak ada rahasia!

Zhao Yun akhirnya mengangkat wajah. Tatapan matanya bertemu denganku. "Kau sudah tahu, kenapa sekarang bertanya?" Tanyanya, dengan sedikit nada kesal terdengar di suaranya. "Sudah setahun lebih kami berdua tidak melihat Zhou Ying dan Yan Lu barang sedetikpun. Apalagi mereka berdua berada di istana, dengan Lao Zucong brengsek itu ada di sana. Kalau begini, bagaimana bisa tidak khawatir?"

Jiang Wei mengangguk mengiyakan. Pandanganku sekarang beralih padanya. "Lao Zucong dengan sengaja membuat kami berdua tidak bisa bertemu dengan mereka. Pasti ada sebuah niat jahat di balik ini!" Tangan Jiang Wei yang mulai mengepal dalam kemarahan tidak luput dari pandanganku. Kenyataannya, kemarahan tak terbendung dari mereka berdua, yang berusaha ditahan-tahan, semuanya aku tahu. "Seharusnya, sejak kami pulang dari Nanman, pernikahan kami sudah harus mulai dibicarakan. Tapi sampai detik ini hal itu tidak pernah disinggung-singgung! Bahkan kami tidak diizinkan bertemu dengan Yan Lu dan Zhou Ying!" Tukasnya dengan penuh amarah.

"Entah apa yang sudah dilakukan Lao Zucong brengsek itu pada mereka..." Keluh Zhao Yun sambil mendesis kesal. "Apalagi Zhou Ying. Melihat bagaimana dari awal sepertinya Lao Zucong sudah sangat membenci Zhou Ying, aku ragu apakah sekarang dia sedang baik-baik saja."

Ternyata tentang Yan Lu dan Zhou Ying! Astaga... kenapa aku tidak sadar? Eh, tapi... apa perlu mereka sampai mabuk begitu demi bisa menghilangkan kekhawatiran mereka sementara? Toh, bukankah pada keesokan harinya mereka akan teringat lagi dan jadi khawatir lagi? Ini kan sama sekali tidak ada penyelesaiannya? Untuk apa mereka melakukan hal sia-sia begitu?

Tapi... sebaiknya aku tidak menasihati mereka ini itu. Aku sudah meminta mereka menceritakan semua itu supaya aku bisa menghibur mereka, bukannya malah mencerca dan menegur mereka.

Aku memeluk lutut rapat-rapat. "Begitu..." Aku mengangguk. "Iya. Ibusuri itu menyebalkan sekali, ya?"

"Tentu saja!" Sahut Zhao Yun dengan cepat dan keras. "Kau sih! Tinggal sebegitu jauhnya di Wu! Jadinya, tidak akan merasa khawatir!"

"Enak saja tidak merasa khawatir! Zhou Ying itu adik angkatku! Yan Lu itu sahabatku! Bagaimana bisa tidak khawatir?" Balasku dengan sengit. "Pokoknya, kalau sampai terjadi apa-apa pada Zhou Ying maupun Yan Lu, Ibusuri harus bertanggung jawab!"

"Betul! Betul!" Jiang Wei mengangguk setuju dengan semangat. "Kalau semisalkan beliau tidak mau bertanggung jawab, maka kita bertiga akan menggantikan langit untuk menghukumnya!"

Semakin lama kami semakin sengit saja menumpahkan segala kekesalan, kejengkelan, kemarahan, kekhawatiran, kecemasan, dan kedongkolan kami. Mulai dari mengkhawatirkan dua orang yang sekarang terjebak dalam Istana Cheng Du, dan seorang ibusuri yang menjadi penyebab dari semua ini. Pokoknya benar-benar seru dan heboh sekali! Zhao Yun sampai bahkan membuat daftar apa yang akan dilakukannya kalau berhasil membongkar akal busuk ibusuri!

Namun, kehebohan dan keseruan pembicaraan itu berakhir, menjadi keheningan kembali. Sehening keadaan awal.

"Hei, Lu Xun." Celetuk Jiang Wei. Kali ini dia duluan yang memecah keheningan. "Aku ingin bertanya sesuatu. Boleh?"

"Tentu."

Dia menghela nafas sejenak, memandangi karpet seolah membaca apa yang tertulis di sana. "Jangan-jangan, selama kau kehilangan Yangmei, kau juga merasa seperti ini?"

"Kenapa tidak cari tahu sendiri?"

"Aku sedang cari tahu. Makanya aku bertanya."

Giliranku yang menghela nafas. Kuangkat wajahku. Ternyata Jiang Wei memandangiku dengan tatapan bertanya, begitu juga dengan Zhao Yun. Keduanya menunggu jawabanku, entah kenapa. Memangnya hal itu begitu merisaukan mereka? Atau tepatnya, memangnya pertanyaan itu perlu? Apa masih kurang jelas untuk mereka sampai-sampai harus bertanya lagi? Kupandangi bulan yang sekarang bersinar dengan begitu terangnya. Yah... untung saja semua itu sudah menjadi masa lalu. Yangmei ada bersamaku sekarang. Dia milikku, dan aku miliknya.

Jiang Wei dan Zhao Yun masih menunggu jawabanku. Jadi aku menjawanya. "Iya."

"Hanya 'iya'?" Tanya Zhao Yun tidak puas. "Memangnya yang ada di kepalamu sekarang cuma 'iya'?"

Aku mengangguk. "Memang mau apa lagi?"

"Biasanya kan kau selalu bicara panjang lebar tentang perasaanmu pada Yangmei." Jawab Jiang Wei sambil mendengus. "Kau ini... kalau menjawab dengan panjang lebar sangat membingungkan. Tapi kalau menjawab sesederhana itu, lebih membingungkan lagi!"

"Kalian bingung apanya? Dan aku harus menjelaskan apa?" Tanyaku balik. "Memangnya kalian akan mengerti perasaanku pada Meimei?"

Keduanya kemudian berpandang-pandangan sejenak. Mereka pun hanya bisa menghela nafas dan menunduk dalam-dalam. "Sekarang baru kami mengerti..."

Aku tertawa pelan. "Yah... sama seperti kalian. Aku juga kehilangan Meimei waktu itu. Tapi sekarang setidaknya kalian tahu mereka ada di istana. Sementara aku, waktu aku mengejarnya, aku sama sekali tidak tahu dia ada dimana. Rasanya seperti mengejar-ngejar sesuatu yang selalu bersembunyi dalam kegelapan." Yang terdengar sekarang hanyalah tarikan dan hembusan nafasku, Jiang Wei, dan Zhao Yun. Tengah malam ini benar-benar hening sekali, tetapi kami juga tak kunjung terlelap. Mataku kini menatap lurus pada mereka berdua. "Tapi aku tidak duduk-duduk saja di tengah malam sambil merutuki nasib, kemudian minum sampai mabuk dan berusaha menghilangkan rasa khawatir. Aku terus mencarinya tanpa berhenti."

Jiang Wei melebarkan mata saat mendengar ini, kemudian mengangguk lemah dan tertunduk lagi.

Zhao Yun, sebaliknya, malah tersenyum simpul. "Itu kan karena kau tidak bisa minum arak, Lu Xun?"

Aku mengangkat bahu, membalas senyumannya. "Yah, setidaknya aku tidak sampai mengira seorang laki-laki adalah perempuan, mencekokinya dengan arak, dan nyaris membunuhnya." Jawabku dengan nada santai. Kudengar mereka tertawa, tentu saja menertawakan kejadian mengerikan itu lagi. Mereka itu benar-benar... sukanya hanya menertawakan kesulitan orang lain saja... dasar. "Ya sudah. Aku mau tidur saja. Besok kita akan ke istana. Jadi, bersiaplah."

"Baiklah! Kalau begitu, selamat tidur, Lu Xun."

"Selamat tidur."

-o-o-o-o-o-o-

Pagi terasa cepat sekali tiba. Tidak heran, kemarin aku tidur malam sekali.

Tahu-tahu, sekarang kami sudah berada di depan pintu gerbang Istana Cheng Du. Namun, sangat jauh dari prasangka kami semua, gerbang tersebut dibukakan lebar-lebar di hadapan kami! Tidak hanya itu, rombongan dari istana keluar dan dengan begitu meriah menyambut kami semua! Ada Kaisar Liu Bei, ada Yan Lu dan Zhou Ying, ada Guan Suo, Ma Dai, dan Guan Ping, ada Jendral Huang Zhong dan Penasihat Pang Tong, pokoknya mereka semua menyambut kami dengan begitu gembira! Ya Tian! Padahal penyambutan seperti ini sama sekali tidak perlu! Aku sampai salah tingkah dibuatnya!

"Ah, Lu Xun! Yangmei! Kalian benar-benar datang!" Sambut Kaisar dengan senyuman lebar dan hangat. "Ayo! Masuklah! Kenapa kelihatan bingung begitu?"

Bahkan ibusuri yang kami bicarakan kemarin sampai tengah malam tersenyum senang melihat kedatangan kami. "Wah, kami di Shu sudah begitu lama menunggu kehadiran kalian sepasang Phoenix ke Shu! Akhirnya kalian benar-benar tiba!"

Bagaimana bisa tidak bingung? Jiang Wei, Zhao Yun, bahkan Perdana Mentri Zhuge Liang sendiri berkata padaku bahwa masuk ke istana sangat sulit! Bahkan rasanya kami tidak akan disambut dengan baik. Tapi ternyata penyambutannya begini heboh! Ibusuri sendiri sampai dengan ditandu begitu datang untuk melihat kedatangan kami! Ini sih benar-benar mengejutkan dan tidak di sangka-sangka! Aku sampai serba salah dibuatnya!

Dengan cepat dan tanpa disuruh dua kali, aku dan Yangmei serta yang lainnya segera turun dari punggung kuda kami dan bersoja. "Salam hormat pada Kaisar Liu Bei!"

Kutolehkan kepalaku pada Zhao Yun dan berbisik. "Hei, kau bilang katanya masuk kemari sangat sulit! Ternyata begitu mudahnya bahkan kita disambut dengan ramah!"

"Mana kutahu kalau seperti ini?" Balas Zhao Yun setengah membentak, tetapi tetap berbisik. "Biasanya hanya pengawal yang akan menyampaikan bahwa kami tidak boleh masuk!"

Aneh sekali... tapi baguslah! Lagipula, sekarang berarti Zhao Yun dan Jiang Wei bisa masuk ke istana dengan mudah! Ahhh... senangnya!

Kulihat Zhou Ying dan Yan Lu yang juga turun dari kuda mereka, kemudian berlari menghampiri kami! Benar-benar heboh sekali sesudah itu! Aku, Yangmei, Zhao Yun, Zhou Ying, Jiang Wei, dan Yan Lu saling melepas rindu satu sama lain! Akhirnya kami berenam bisa berkumpul lagi seperti dulu! Dan ternyata sama sekali tidak susah! Sangat berbeda dari prasangka buruk kami bahwa perjumpaan ini akan diwarnai dengan begitu banyak kesulitan.

"Akhirnya kalian datang!" Seru Yan Lu girang. "Kenapa begitu kejam tidak pernah membalas surat kami? Dan kalian berdua, kenapa tidak pernah datang berkunjung?" Tanya Yan Lu agak membentak, meski masih tetap tersenyum lebar dan tidak merusak suasana kegembiraan ini.

"Lho? Bukannya kalian yang tidak pernah membalas surat-surat kami?" Tanyaku dan Yangmei bersamaan.

"Surat-surat dari kami juga tidak pernah kalian balas!" Imbuh Jiang Wei.

"Dan lagi, selama ini kami tidak diperboleh masuk istana, apalagi bertemu dengan kalian!" Zhao Yun menambahkan.

Ini membuat Yan Lu dan Zhou Ying mengerjap-ngerjap kebingungan. Aku juga. Jadi... mereka sebenarnya juga tidak pernah mendapat surat dari kami? Dan mereka juga selalu mengirimkan surat tetapi tidak ada yang pernah sampai? Aneh... jangan-jangan surat-surat yang mereka kirim dibuang, dan begitu juga surat-surat yang diterima untuk mereka. Meskipun aku tidak suka menuduh orang lain tanpa bukti, tapi kemungkinan besar pelakunya adalah Ibusuri...

"Ah, sudahlah!" Zhou Ying tiba-tiba menyahut membuyarkan pemikiran kami yang dalam. "Jangan dipikirkan! Yang penting, sekarang kita semua bisa berkumpul bersama seperti dulu lagi! Bukankah ini sesuatu yang sangat menggembirakan? Jangan merusak suasana ini hanya gara-gara hal-hal sepele!"

Sebenarnya, ini bukan hal sepele...

... Tapi kata-kata Zhou Ying memang tidak salah! Ini kan bukan saatnya untuk berpikir keras, apalagi berprasangka buruk dan mencurigai orang lain? Kami sudah bertemu dan mereka berdua rupanya baik-baik saja, tidak kekurangan sesuatu apapun! Itu kan yang penting? Kenyataan itulah yang membuat kami semua bisa tersenyum.

"Iya! Iya! Zhou Ying benar!" Yangmei menyahut. "Ayo kita bersenang-senang saja!" Tentu saja kami menyambut kalimat itu dengan anggukan penuh semangat dan senyuman senang.

Zhao Yun menoleh ke arah Zhou Ying. Yaaaaa... kita akan melihat keduanya melepas rasa kangen mereka! "Zhou Ying, kau baik-baik saja, kan?" Tanya Zhao Yun, yang seketika mengagetkan Zhou Ying. Ahahaha... Zhou Ying masih saja mudah kaget dan penakut seperti dulu! "Kau tidak diapa-apakan Lao Zucong, kan? Beliau tidak jahat padamu, kan?" Tanya dengan penuh rasa prihatin.

Kami semua begitu senang saat melihat Zhou Ying tersenyum manis. "Kau ini bicara apa, Zhao Yun? Mana mungkin hal itu terjadi?" Tanyanya sambil tertawa kecil. "Lao Zucong sangat baik padaku dan pada Yan Lu! Beliau tidak hanya mendidikku agar menjadi putri yang baik, tetapi juga sangat memperhatikan dan menyayangiku! Kenyataannya, semua sangat baik padaku! Aku senang sekali berada di tempat ini!" Jawabnya dengan penuh rasa gembira. Zhou Ying menoleh ke arah Yan Lu sekilas. "Ya kan, Yan Lu?"

Yan Lu mengangguk cepat dengan senyuman lebar. "Tentu saja!"

Ahhh... syukurlah kalau begitu! Ya Tian... sia-sia saja kalau begitu selama ini kami mengkhawatirkan mereka berdua. Apalagi Zhao Yun dan Jiang Wei yang sampai-sampai minum mabuk untuk menghilangkan kekhawatiran mereka. Rupanya kekhawatiran itu sangat amat sia-sia! Kedua jendral Shu itu menghela nafas sambil tersenyum lega, sebelum mulut mereka komat-kamit memanjatkan ucapan terima kasih pada langit dan bumi. Hahaha! Benar-benar berlebihan! Bahkan Yan Lu dan Zhou Ying sampai kebingungan melihatnya!

Tapi... tidak bisa tidak... aku menyadari sesuatu.

Zhou Ying itu anak dari Penasihat Zhou Yu, dan ia sangat bisa menutupi ekspresinya yang sebenarnya dari orang lain. Yan Lu juga sama. Berguru pada Perdana Mentri Zhuge Liang tentu membuatnya dapat mengelabuhi kami. Tapi aku... aku seorang ahli strategi, dan aku bisa tahu kalau mereka sebenarnya berkata bohong tadi. Yan Lu dan Zhou Ying sebenarnya sedang menutup-nutupi sesuatu...

Tapi apa? Dan kenapa?

Kalau memang Lao Zucong melakukan kejahatan pada mereka, kenapa mereka tidak mau memberitahukannya pada kami?

"Hei, Lu Xun!" Betapa kagetnya aku saat tiba-tiba Yangmei memukul punggungku! "Kenapa kau diam saja dan melamun begitu? Mereka semua sudah masuk, lho! Ayo cepat!" Seru Yangmei sambil tertawa gembira dan berlari mengejar keempat teman kami.

Aku menghela nafas panjang. Ah, sudahlah. Kalau mereka tidak mau memberitahu sekarang, suatu saat nanti mereka pasti akan menceritakannya juga. Lagipula, memang sebaiknya tidak berpikir seperti ini sekarang. Kami sudah berkumpul lagi, dan ini saatnya untuk melakukan hal-hal yang menyenangkan! Bukannya sibuk mencampuri urusan orang lain! Kaisar Liu Bei dan yang lainnya menyambut kami dengan gembira, bahkan Ibusuri Shu!

Meski aku tahu... senyuman ibusuri pun palsu...

-o-o-o-o-o-o-

Hari ini benar-benar mengasyikkan sekali!

Tahu kenapa? Karena hari ini, sesudah setahun lebih tidak bertemu, Zhao Yun dan Zhou Ying serta Jiang Wei dan Yan Lu mengisi waktu mereka dengan berduaan sepanjang hari. Tapi, bagian yang paling mengasyikkan adalah aku dan Yangmei dengan iseng mengganggu acara berduan kedua pasang kekasih itu! Bukannya apa-apa. Aku bahkan sudah memperingatkan Yangmei itu tidak melakukan hal iseng begitu. Tapi Yangmei bilang bahwa dia masih sangat kesal karena ketika kami berada di Wu, sesudah sekian lama berpisah dan mengisi waktu dengan berduaan, mereka berempat selalu datang menganggu! Contohnya adalah pada saat aku mengajari Yangmei cara menulis namaku.

Dan sekarang, gantian kami berdua yang mengganggu mereka...

"Pergi sana! Dasar orang-orang kurang kerjaan! Bersama kalian, kami bisa sial delapan belas turunan!"

"Kalian berdua itu harusnya Phoenix lambang cinta kasih dan keharmonisan sepasang kekasih! Sekarang malah mengganggu orang yang berduaan!"

Yah... begitulah seruan marah dari Zhao Yun dan Jiang Wei.

Tapi... Hahaha! Rasanya puas dan menyenangkan sekali, ya? Pokoknya aku dan Yangmei melakukan apa saja mulai menguping pembicaraan mereka yang begitu romantis, meski agak berlebihan, sampai menyeletuk setiap pembicaraan mereka! Yah, jadilah aku tertular sifat nakal Yangmei...

"Hahaha! Lu Xun, asyik sekali, bukan?"

Aku mengangguk. "Tentu saja!"

Yangmei tertawa bangga. "Ini sebagai pembalasan pada mereka karena menganggu waktu-waktu berduaan kita selama di Jian Ye!"

Aku pun tidak punya pilihan lain selain tertawa, baik karena mengingat wajah Zhao Yun dan Jiang Wei yang sangking gusarnya sampai hijau, maupun karena tingkah Yangmei yang kelihatan bangga luar biasa ini! Yahhh... mengingat Zhao Yun dan Jiang Wei yang bahkan mengejar kami dengan tombak seolah kami ini babi hutan buruan, dan akan membunuh kami, rasanya membuat kami tertawa terpingkal-pingkal!

Kalau keadaannya sungguh menyenangkan begini, rasanya semuanya akan baik-baik saja...

Pada akhirnya, aku dan Yangmei juga berjalan berdua saja melewati taman Istana Cheng Du yang penuh dengan pohon-pohon dao. Pohon-pohon ini sama indahnya dengan yang ada di kediaman Perdana Mentri Zhuge Liang. Yangmei, masih dengan nakalnya, memanjat sebuah pohon dao dan mengajakku juga memanjat, seperti yang selalu kami lakukan di Wu! Tapi ini kan bukan di istana sendiri dimana kami bisa melakukan seenaknya? Jadi aku menyuruh Yangmei segera turun, dan duduk-duduk di bawah pohon dao saja.

Barulah aku sadar sesuatu sekarang. Biasanya kalau kami datang, Kaisar Liu Bei akan meminta kami menghadap. Kali ini, kami dibiarkan begitu saja. Kenapa sekarang kami tidak diacuhkan, ya?

Hmmm... mungkin beliau sedang sibuk dan banyak urusan. Yahhh... mungkin besok baru kami akan dipanggil menghadap.

"Lu Xun!"

"Hah!"

Tidak ada angin tidak ada hujan, tiba-tiba saja Yangmei meremas tanganku erat-erat! Lho? Ada apa ini memangnya? Tidak cuma itu, dia bahkan langsung menatapku dengan tajam, lurus, dan tanpa berkedip! Tatapannya bahkan lebih aneh daripada tatapan seperti ingin melahap yang biasanya ia tunjukkan padaku. Aku cuma bisa mengerjap-ngerjap kebingungan, dan agak tegang juga, sih... "Kenapa, Meimei?"

Yangmei mendengus seperti banteng. "Dengarkan aku, Lu Xun! Pokoknya..." Ujarnya dengan suara rendah, sebelum volume suaranya meningkat dengan sangat drastis! "... aku akan membantumu membawa kedamaian di China!"

Ya Tian! Yangmei ini bicara apa, sih? Kenapa tiba-tiba dia kelihatan serius begitu, dan mengatakan hal yang tidak kalah serius juga? Kalau begini aku kan jadi kaget dan ngeri sendiri? Saat dia berkata begitu, rasanya nafasku tertahan dan jantungku berhenti!

"I-iya... tentu saja!" Aku mengangguk dengan cepat, masih agak gugup. "Kenapa tiba-tiba kau berkata begitu?"

Putri kecil itu memonyongkan bibir dan menggembungkan pipi. Sekarang aku tidak tahu dia ini sebenarnya kesal, atau senang, atau gemas, atau marah, atau apalah! Yang pasti, menunjukkan wajah lucu begitu, siapa yang tidak akan tertawa melihatnya? "Aku selama ini berpikir, Lu Xun!" Jawabnya dengan tegas dan lantang. Untung saja di sini tidak ada orang yang mendengarnya. Mana suara Yangmei sangat keras pula! "Kau Phoenix, aku juga! Tapi kau adalah Feng, dan aku adalah Huang! Kau punya tugas, pertama-tama untuk menyelamatkanku dan melepaskanku dari kegelapan. Ya, kan?"

Aku mengangguk, masih tidak mengerti kemana pembicaraan ini akan bermuara.

"Lalu yang kedua, kau punya tugas untuk membawa kedamaian! Nah, tugasmu yang kedua ini juga tugasku!" Lanjut Yangmei, masih dengan suara yang begitu penuh semangat dan tekat kuat. "Lalu aku berpikir, Lu Xun. Kenapa kau menyelematkan aku dulu, baru sesudah itu membawa kedamaian di China? Dan akhirnya... aku mendapatkan jawabannya!" Serunya dengan senyum lebar, memperlihatkan giginya, dan dengan satu jari telunjuk terangkat. "Karena kau menyelamatkan aku, bukan supaya setelah itu aku ongkang-ongkang kaki dan santai-santai saja hidup bersama denganmu! Tapi supaya sesudah itu kita bisa bersama-sama membawa kedamaian di China! Ya, kan?"

Aku terhenyak.

Yangmei masih saja menunggu jawabanku dengan senyum yang makin lebar. Kelihatannya senyumnya tidak bisa lebih lebar dari ini.

Dan aku hanya bisa membalas senyumnya itu juga. "Kau merasa keberatan, Meimei?"

Dia menggeleng dengan sepenuh kekuatan, sampai-sampai rasanya kepalanya bisa terlepas dari lehernya. "Tentu saja tidak! Sama sekali tidak keberatan!" Jawabnya setengah berteriak. "Mana bisa aku merasa keberatan? Aku ini bodoh, tidak penting, tidak pintar, dan tidak hebat! Tapi kau masih saja mau mempercayakanku tugas sebesar itu. Sekarang, bagaimana aku bisa merasa keberatan? Justru aku merasa senang dan berterima kasih sekali!" Jawabnya dengan sungguh-sungguh, tegas, jujur, tetapi sangat tulus dan polos.

Benar-benar... jawaban yang Yangmei sekali, ya?

Kubelai lembut rambutnya, tak lantas menjawabnya. Yangmei masih menatapku dengan mata peraknya yang bulat dan bening seperti air. Kenapa dia berbicara seperti itu, aku juga tidak tahu. Yang jelas, aku tahu kalau dia sekarang hanya ingin berusaha membantuku, melakukan apapun yang aku ingin dia lakukan, atau apa saja untuk bisa membuatku senang.

"Kau baru sadar sekarang?" Tanyaku sambil tertawa kecil. Putri kecilku itu membelalakkan matanya sangking terkejut. "Aku sudah pernah bilang, kan? Aku matahari, dan kau bulan. Aku memberikan padamu cahayaku bukan cuma agar kau bisa memilikinya seorang diri. Tapi supaya kau bisa bersinar di malam hari..."

Yangmei mengangguk pelan. "Ohhh... iya juga, ya..." Kemudian dia tertawa sendiri. "Wah, bodoh juga aku baru tahu sekarang..."

Tangan Yangmei naik ke atas kepalanya, bersentuhan dengan tanganku yang sedang mengelus rambutnya. Digenggamnya tanganku, sebelum ditariknya mendekati wajahnya. Perlahan, ia melepaskan sarung tanganku. Dengan begini, aku bahkan bisa merasakan hembusan nafasnya yang hangat. Tidak sampai di situ, Yangmei mencium tanganku dan menempelkannya pada kedua belah pipinya.

"Meimei...?" Tanyaku sedikit bingung. "Kenapa?"

"Tidak apa-apa, kan?" Ia balik bertanya. "Habis, aku suka sekali tanganmu!"

Ya Tian... Yangmei ini benar-benar jujur luar biasa. "Memangnya apa yang kau sukai? Tanganku biasa-biasa saja dan telapaknya kasar."

Yangmei menggeleng. "Bukan itu! Memang sih tanganmu tidak terlihat istimewa atau kulitnya halus atau kukunya rapi. Tapi tanganmu selalu lembut! Dan selalu bisa memberikan kehangatan! Aku suka sekali!" Ujarnya. Sangking jujurnya aku sampai tidak bisa berkata apa-apa lagi. "Kalau boleh, aku ingin sekali bisa punya tangan sepertimu!"

Kali ini aku menggerakkan kedua tanganku ke belakang kepalanya. Kutarik ia dalam pelukanku. "Pasti bisa, kok..." Balasku dengan lembut. "Suatu saat nanti pasti bisa..."

Yangmei... Yangmei... aku sampai tidak punya kata-kata untuk menjelaskan dirinya.

Akhirnya, jadilah kami pun berduaan seperti layaknya Jiang Wei dan Yan Lu serta Zhao Yun dan Zhou Ying. Untungnya, kami berdua tidak mendapat gangguan apa-apa. Dan aku harap, mereka juga tidak, selain gangguan dari kami tadi. Begitu hari sudah mulai senja, aku dan Yangmei kembali ke Wenchangdian tempat kami akan menginap, seperti biasa. Yan Lu, Zhou Ying, Jiang Wei, dan Zhao Yun sudah menunggu kami dengan makanan berlimpah di atas meja makan. Kami berenam makan malam dengan lahap sambil bercerita mengenai masa lalu yang sudah terjadi. Zhao Yun dan Jiang Wei bercerita saat mereka di Nanman. Kata mereka, makanan di situ rasanya benar-benar luar biasa aneh dan tidak pernah mereka temukan seumur hidup mereka. Selain itu, mereka juga menceritakan mengenai kemenangan yang gilang gemilang di sana. Wah, aku sampai kagum dengan kepandaian can kecerdikan Perdana Mentri Zhuge Liang yang berhasil menundukkan daerah Nanman itu! Benar-benar di Tiga Kerajaan ini, tidak ada yang bisa mengalahkan kepandaian beliau!

Sesudah Zhao Yun dan Jiang Wei, gantian Zhou Ying dan Yan Lu yang bercerita bahwa selama berada di sini, mereka jarang masak karena Lao Zucong sering membawakan makanan yang enak-enak untuk mereka. Selain itu, mereka juga mengatakan bahwa Lao Zucong selalu memberikan perhatian yang luar biasa, sampai-sampai Zhou Ying berkata bahwa ia merasa diperlakukan Lao Zucong seperti cucu kandungnya sendiri...

Yah, begitulah kata dua putri itu. Entah benar atau bohong.

Tapi, aku juga tidak mau membicarakannya. Setidaknya untuk sekarang. Sebenarnya aku juga bertanya-tanya mengapa kami makan-makan sendiri seperti ini. Bukankah biasanya Kaisar akan mengadakan perjamuan? Tapi yah... daripada mengganggu suasana yang menyenangkan seperti ini, sebaiknya aku tutup mulut saja.

Sesudah acara makan-makan, seketika Wenchangdian dijajah oleh tiga putri yang ternyata lebih berkuasa ini! Entah apa yang akan mereka lakukan, yang jelas kami bertiga para laki-laki diusir dengan sangat tidak terhormat! Katanya mereka akan mengobrol masalah wanita dan tidak boleh ada pria yang masuk. Heran... mereka ini apa-apaan, sih? Kalau gadis-gadis berkumpul dan mengusir semua yang ada, berarti kemungkinannya cuma satu. Mereka pasti sedang heboh bergosip...

Tidak punya pilihan lain, kami bertiga berjalan tak tentu arah dan tujuan. Malam-malam begini, kami diusir... ada-ada saja...

"Tidak masalah! Tidak masalah!" Jiang Wei mencoba menghibur. "Biarkan saja gadis-gadis itu mengurusi hidupnya! Kita juga mengurusi hidup kita sendiri!"

Aku tertawa sambil menepuk bahunya. "Kau benar, Jiang Wei!" Sahutku. "Ngomong-ngomong, sesudah berbicara dengan Yan Lu, apa katanya tentang pernikahan kalian? Kapan akan dilaksanakan?" Kemudian aku juga berpaling ke arah Zhao Yun. "Dan kau juga, Zhao Yun. Bagaimana dengan Zhou Ying? Sudah ada kabar? Penasihat Zhou Yu sudah tidak sabar menunggu hari pernikahanmu dan Zhou Ying!"

Secara bersamaan, keduanya mendesah lesu. Kalau begitu... pasti kabar buruk...

"Zhou Ying bilang padaku, bahwa dia sudah sering mengatakan hal ini pada Lao Zucong maupun Yang Mulia Kaisar Liu Bei. Tapi jawaban yang dia dapatkan selalu hanya bahwa beliau berdua belum menemukan hari dan waktu yang tepat." Jawab Zhao Yun. Kelihatan lesu bercampur putus asa bercampur sedih.

Jiang Wei mengangguk pelan. "Yan Lu juga berkata begitu."

Melihat kedua temanku begini lesu dan tidak bersemangat, aku jadi tertular. Desahan nafas panjang keluar dari mulutku sementara aku menepuk bahu mereka berdua. "Kalian bersabarlah, ya..." Kataku berusaha menghibur. "Yang penting kalian berada di istana sekarang. Kalau sudah begini, berbicara dengan Kaisar Liu Bei pasti jadi lebih mudah. Ini tidak akan lama..."

Merek berdua mengulaskan senyum tipis. Semoga mereka menjadi lebih baik dengan perkataanku.

"Baiklah! Sudah diputuskan! Kita akan pergi besok!"

Wah, apa itu, ya? Tengah kami berjalan tak tentu arah begini, tiba-tiba terdengar suara teriakan begitu, yang kemudian dilanjutkan oleh sorakan setuju beberapa orang. Kalau tidak salah, suara orang yang berteriak itu suara Jendral Huang Zhong, jendral veteran dari Shu yang sudah sangat tua. Sementara suara yang bersorak setuju itu pasti suara Guan Ping, Guan Suo, dan Ma Dai.

Penasaran, aku mengajak Zhao Yun dan Jiang Wei ke sana. "Hei, coba kita lihat ada apa di sana! Yuk!"

Maka kami bertiga berlari-lari kecil ke arah sumber suara itu. Ternyata, di atas sebuah paviliun untuk duduk-duduk, keempat orang seperti sedang berdiskusi. Kami bergegas meuju ke paviliun tersebut sebelum bersoja dan menyapa semua yang ada di sana. Baru sesudah itu menanyakan apa yang sedang mereka bicarakan.

"Begini!" Guan Suo mulai menjelaskan dengan gembira dan penuh semangat. "Baru saja beberapa minggu yang lalu Jendral Huang Zhong dan kakak pertama pulang dari Istana Chang An! Lalu, Jendral Huang Zhong bilang bahwa anak muda zaman sekarang tidak pernah dilatih dengan keras, makanya disiplinnya jadi kedor! Pada akhirnya, kami bertiga lalu meminta Jendral Huang Zhong mengadakan latihan itu untuk kami bertiga! Lagipula, aku memang merasa kemampuanku masih sangat rendah!"

"Aku juga! Selama di Chang An, aku merasa jadi jendral yang paling payah sendiri!" Imbuh Guan Ping.

"Apalagi aku! Saat di Nanman, aku nyaris saja mati gara-gara bertarung dengan seorang kepala suku!" Ma Dai menyahut.

Aku, Jiang Wei, dan Zhao Yun ber-ohhh ria. Jadi itu maksudnya. Mereka akan pergi besok entah kemana untuk berlatih...

"Ya sudah kalau begitu!" Ucap Jiang Wei sambil berlalu. "Kami cuma mampir bertanya saja!"

"Kami permisi dulu! Selamat berlatih dan semoga berhasil!" Zhao Yun juga ikut pergi.

Namun sebelum mereka sempat melangkahkan kaki keluar dari paviliun ini, mereka sudah ditarik duluan oleh Guan Ping, Guan Suo, dan Ma Dai yang kelihatan kesal bukan buatan! "Tidak bisa! Tidak bisa! Kalian berdua juga harus ikut berlatih dengan kami! Lagipula, kalian termasuk orang-orang muda yang disiplinnya kendor!" Bentak Ma Dai dengan sengit bukan buatan! Aku cuma bisa tertawa geli melihat tingkah para jendral Shu ini.

"Apalagi kau, Jiang Wei! Memalukan sekali sampai jatuh terpeleset dari punggung gajah!" Tambah Guan Suo sambil menuding Jiang Wei.

"Hei! Itu kan hanya karena tidak hati-hati saja!"

Kali ini, sementara Zhao Yun dan Jiang Wei masih enggan-engganan, Jendral Huang Zhong yang rambut dan jenggotnya sudah beruban itu maju ke arah mereka dengan langkah lebar dan tegap! "Kalian berdua juga harus ikut!" Dengan satu bentakan dan acungan jari telunjuk itu, Zhao Yun dan Jiang Wei kelihatan ngeri sendiri dan akhirnya tidak punya pilihan lain selain ikut. Benar-benar aku sampai setengah mati menahan tawa melihat mereka! "Kalian ini masih hijau dan tidak punya pengalaman! Dan kau juga, Zhao Yun! Jangan mentang-mentang merasa kemampuan bertarungmu hebat, lantas sombong! Hei, bocah, sekilas aku lihat di Gunung Ding Jun, kau masih tidak bisa menghadapi alam!"

"Benar itu!" Guan Suo juga ikut membentak. "Kalian tidak punya nyali! Benar-benar bukan laki-laki sejati!"

"Enak saja bukan laki-laki sejati!" Seru Zhao Yun dengan sengit. "Baiklah kalau begitu! Besok aku akan ikut kalian berlatih dan kita akan lihat siapa yang laki-laki sejati sebenarnya!"

Jiang Wei mengangguk tegas dan mantap. "Kalau Zhao Yun pergi, aku juga akan pergi! Aku akan ikut berlatih!"

Melihat Zhao Yun dan Jiang Wei jadi penuh semangat begini, aku jadi bisa tersenyum lega. Yahhh... baguslah kalau mereka bisa mengalihkan pikiran sementara dari urusan pernikahan. Memang sih hal itu tidak boleh ditunda-tunda urusannya. Tapi kalau terlalu keras memikirkan sesuatu yang tidak dalam jangkauan tangan, pasti nanti akan jadi frustrasi sendiri dan tidak bisa berpikiran jernih.

"Tapi masalahnya..." Tiba-tiba Jiang Wei menyeletuk. "Bagaimana dengan Lu Xun? Dia jadi sendirian kalau tidak ada kami. Apalagi sekarang setiap malam Wenchangdian selalu dijajah oleh tiga putri berkuasa itu..."

Zhao Yun mengangguk sambil memasang tampang berpikir keras. "Kasihan juga kalau Lu Xun setiap malam diusir dari Wenchangdian dan sendirian. Kan merana sekali..."

Sebenarnya sih mereka tidak perlu mengkhawatirkanku seperti itu...

Ma Dai dan Guan Suo saling berpandang-pandangan, sebelum memberikan senyum lebar. "Lho? Justru kami mengadakan latihan ini besok, supaya Lu Xun bisa ikut serta!"

"Aku boleh ikut?" Tanyaku dengan mata berbinar-binar. Bagaimana bisa tidak kaget? Maksudku, aku kan bukan orang Shu? Tapi mereka memperbolehkanku ikut pelatihan seperti ini! Makin terkejut saja aku saat melihat mereka tersenyum lebar sambil mengangguk yakin. Dengan penuh rasa gembira, aku segera bersoja dalam-dalam dan berterima kasih. "Terima kasih banyak! Aku merasa sangat senang sekali jika boleh ikut!"

Lagi-lagi Ma Dai dan Guan Suo menyengir lebar.

"TIDAK! TIDAK! Pokoknya Lu Xun tidak boleh ikut!" Seru Jiang Wei dan Zhao Yun bersamaan sambil merangkulku erat-erat, seolah aku sedang dalam bahaya besar! Lho memangnya kenapa? "Alasan kalian mengajak Lu Xun ikut, supaya kalian bukan jadi yang paling payah, kan?"

"A-APA?" Kaget bukan buatan, aku cuma bisa menoleh memandang ke yang lain. Ternyata kebodohanku dalam bertarung sudah menjadi rahasia umum! Bahkan di Shu! AHHHHH! Memalukan sekali aku ini...!

Kedua jendral Shu itu tersenyum garing mendengar Jiang Wei dan Zhao Yun. "Wah, ketahuan ya..." Guan Suo cuma bisa menggaruk-garuk kepala sendiri. "Yahhh... sebenarnya begitulah. Kalian berdua sering bercerita kalau Lu Xun bertarungnya payah sekali. Bagaimana kami tidak terpikir untuk mengajaknya? Kalau begini, setidaknya kami tidak mungkin jadi peringkat yang terendah dalam pelatihan ini..." Jelasnya sambil menyengir kuda.

"APA?" Jendral Huang Zhong yang sudah tua itu membentak sambil menggebrak meja, membuat semua ketakutan. Kegalakannya jendral tua itu sangat mengerikan! "Jadi itu alasan kalian ingin mengajak Lu Xun, bocah? Dasar kalian semua bukan laki-laki sejati!" Kemudian jendral tua itu dengan segera menoleh dengan cepat ke arahku. Anehnya, saat memandangku, ekspresinya berubah jadi ramah. Hahaha... lucu sekali ya orang-orang Shu ini... "Lu Xun, kau juga harus ikut! Nanti aku akan mengajarimu agar bisa memberi pelajaran pada bocah-bocah brengsek ini!"

Aku mengangguk kuat sambil menarik nafas dalam-dalam, meski dalam hati aku menahan tawa melihat Jendral Huang Zhong dan 'bocah-bocah hijau'nya. Baiklah! Pokoknya besok aku harus ikut dan membuktikan pada semuanya kalau aku tidak sepayah yahng mereka kira! "Baiklah! Aku akan ikut!" Seruku dengan tangan terkepal.

"Lho?"

Satu suara dari Guan Ping mengagetkan kami semua. Sekarang enam pasang mata tertuju ke arahnya. Namun matanya hanya menatap tajam ke arahku. Aku sampai tertegun saat melihat tatapan matanya yang menusuk padaku. Kenapa... Guan Ping memandangku seperti itu? Seperti aku ini musuhnya? Seolah tatapannya itu tidak cukup mengejutkanku, pertanyaannya lebih mengejutkan lagi. "Memangnya Lu Xun akan ikut dengan kita?" Tanyanya. Nadanya memang datar, tapi aku bisa merasakan ada sedikit nada ketus pada suaranya.

Guan Suo dan Ma Dai yang masih tidak tahu apa-apa hanya tertawa. "Tentu saja, kakak pertama! Makin ramai kan makin asyik!" Jawab Guan Suo, masih riang seperti biasanya.

"Jangan bilang nyalimu ciut gara-gara seorang Phoenix ikut dengan kita!" Imbuh Ma Dai juga tertawa.

"Aku akan tetap ikut." Jawab Guan Ping cepat sebelum ia berdiri dan keluar dari paviliun itu. "Dimana tempat latihannya?"

"Di Gunung Qing Cheng! Sebelah barat kota Cheng Du! Tempat itu masih belum dikelola dan sangat cocok menjadi tempat berlatih!" Jawab Jendral Huang Zhong. "Gunung itu berada di seberang Sungai Min yang bercabang menjadi tiga sungai kecil."

Sesudah mendengar jawaban itu, Guan Ping mengangguk, bersoja, dan meninggalkan tempat. Aneh... kenapa sesudah tahu aku juga ikut dalam latihan ini, dia kelihatan tidak senang? Dan kenapa sedari tadi memandangku seperti itu? Padahal, Guan Ping itu kan juga temanku? Apa aku pernah berbuat salah padanya, ya?

"Kalau begitu, bocah-bocah hijau! Besok pagi aku akan menunggu kalian di Gunung Qing Cheng! Sekarang, istirahatlah yang banyak untuk pelatihan besok yang berat!" Jendral Huang Zhong berpesan sebelum keluar dari paviliun itu juga. Pada akhirnya, Guan Suo dan Ma Dai juga berpamitan pada kami dan kembali untuk beristirahat. Jiang Wei dan Zhao Yun juga mengajakku kembali ke Wenchangdian. Aku mengangguk dan ikut.

Tapi... aku masih penasaran... kenapa Guan Ping seperti itu, ya?


(1) Baca "Phoenix FORM: Unbroken Thread" chapter 3 (The Sign) kalo lupa~~~

(2) Kalo lupa, silahkan sodara baca prolog dari cerita ini...

(3) Baca "Phoenix FORM: Unbroken Thread" chapter 7 (Letter from An Old Friend) kalo lupa~~~

Wokey~ Yahhh... saya nggak tau apa pikiran sodara saat membaca chapter ini. Entah kenapa, pas saya mengedit chapter ini sebelum dipublish, saya banyak banget menemukan hal-hal random dalam chapter ini... Wkwkwkw... Sangking bingungnya, saya sampe nggak tau harus ngasih judul chap ini. Akhirnya, saya milih 'Reunion' karena setidaknya di sini adalah 2 reunion. Yang pertama adalah reunion Cao Cao dengan Yuan Shao, sementara yang kedua adalah reunion Lu Xun dan Yangmei dengan Zhao Yun, Jiang Wei, Yan Lu, Zhou Ying, dkk...

Oh iya~ Di chap selanjutnya kan menceritakan tentang 5 cowo ini pergi untuk latihan~ Hohoho~ saya nggak sabar pengen cepet publish chap itu~ Ehm, nggak nyambung, sih... tapi entah kenapa saya jadi teringat ama Group Band Korea bernama 'B1A4' (baca: Be Ane A Four) yang katanya namanya diambil dari 4 orang yang punya golongan darah A, sementara yang satunya golongan darah B. Entah kenapa, saya jadi membayangkan 5 orang ini bakal jadi 'Wu1Shu4' Karena ada 4 yang dari Shu dan 1 yang dari Wu... (Lagian, akuilah... 5 cowo bizhounen ini memang cakep2 kayak band Korea, kan? *coret*Apalagi Lu Xun... Wah, TOP BGT nggak ada matinya~~~*coret*) Yah, pokoknya ditunggu aja chapnya~

That's all for today's chap! Update selanjutnya, seperti biasa~~ Minggu depan di hari dan jam yang sama~ Zai jian!