LOVE ME THE SAME
Chanyeol takut luar biasa. Tangannya yang berdarah bergetar, seirama dengan detak jantung yang tak terkontrol dalam dadanya.
Koridor rumah sakit sepi menyisakan Chanyeol seorang diri pada bangku tunggu itu. Tangannya bergetar dengan hebat, diselimuti oleh darah Baekhyun. Chanyeol memandangi tangannya kosong, perlahan menggenggam kepalan tangannya sendiri—seolah mampu meredam getaran itu tak lagi berlanjut.
Namun tak bisa ia lakukan. Ketakutannya memimpin semua kendali tubuhnya.
Satu jam sudah terlewat dan Baekhyun masih berada di dalam ruang operasi sana. Chanyeol ingat bagaimana darah yang tak berhenti keluar dari luka nadi Baekhyun, kesadaran yang terenggut serta nafas satu-satu mengenai dadanya dalam perjalanan ke rumah sakit.
Chanyeol ketakutan.
Baekhyun melukai dirinya sendiri, lelaki itu mencoba bunuh diri. Berselang beberapa menit setelah ancaman yang ia lakukan, Baekhyun melukai dirinya sendiri. Siapapun akan menuding jika apa yang terjadi jelas berawal dari Chanyeol, emosinya yang tak terkendali juga lidah tajam kurang ajar miliknya.
Itu menampar telak Chanyeol, menyadarkan dirinya sendiri bagaimana ketidakinginan Baekhyun tinggal bersama dengannya lagi. Baekhyun memilih untuk mati ketimbang harus tetap ditahan tinggal bersama dirinya, bersama ia yang merupakan si monster sialan.
Chanyeol seharusnya tau diri.
Baekhyun sudah tak ingin, lalu mengapa ia harus menahannya lagi? Mengapa? Karena Chanyeol mencintainya? Lalu bagaimana dengan Baekhyun?
Semua ego itu taunya malah mengantar Chanyeol pada kehilangan yang lain. Kenyataannya, Chanyeol telah kehilangan Baekhyun. Kenyataannya lagi, Chanyeol tak pernah sekalipun memiliki Baekhyun dalam dirinya.
Sekalipun tidak pernah.
…
"Operasinya berhasil." Ujaran dokter itu menjalari Chanyeol dalam kelegaan luar biasa. Chanyeol nyaris tak bisa bernafas—ia seolah lupa bagaimana melakukan hal itu namun kini oksigen seolah memasok paru-paru dengan sendirinya.
"Kondisi pasien sudah stabil kembali. Dia sudah dipindahkan ke ruang inap." Dokter itu menyambung kembali.
"Terima kasih dokter." Chanyeol berucap sungguh-sungguh. Dokter itu memberikan anggukan kepala pelan dan berlalu pergi meninggalkan Chanyeol.
Chanyeol tak pernah merasa selega ini, rasanaya seperti timpahan beban dalam hatinya terangkat dan membebaskan ia dalam belenggu ketakutan. Chanyeol menghela nafas lagi dan tersenyum sumringah untuk dirinya sendiri. Langkahnya ia tarik menelusuri lorong, menuju kamar dimana Baekhyun di rawat. Chanyeol berdiri di depan pintu, melalui kaca kecil di depan pintu Chanyeol memperhatikan Baekhyun yang terlelap tanpa niatan masuk ke dalam sana.
Chanyeol hanya khawatir jika Baekhyun tiba-tiba sadar dan mendapati kehadirannya disana membuat lelaki mungil itu menyakiti dirinya kembali. Chanyeol tak ingin. Lagipula melihatnya dengan sejarak ini sudah membuat Chanyeol merasa cukup.
Lagipula, Chanyeol pikir lagi ini bukanlah kali pertama baginya. Ia telah melakukannya sejak dulu, nyaris setahun penuh dan ia seolah hidup untuk itu. Rasanya seperti déjà vu, rasanya seperti terhempas pada masa lalu namun lagi itu bukanlah hal yang besar baginya.
Baekhyun sudah baik-baik saja sekarang, dia hanya membutuhkan istirahat yang cukup untuk kembali sehat sedia kala untuk fisiknya. Mungkin mentalnya juga dan Chanyeol sadar betul jika ketidakberadaannya yang menjadi penyembuh ampuh untuk kesehatan psikologis lelaki itu.
Apa yang terjadi hari ini seolah menampar Chanyeol telak, menyadarkan ia sepenuhnya dan Chanyeol seolah berperang dalam batinnya sendiri. Baekhyun bahkan menyakiti dirinya sendiri, memotong nadinya hanya karena tak ingin tinggal disisinya lagi. Itu menyadarkan Chanyeol jika kini ia tak lebih sebagai jurang pesakitan untuk lelaki itu.
Baekhyun mengatakan beberapa kali jika Chanyeol adalah kebahagiannya, mungkin sekarang sudah tidak seperti itu, sudah tidak lagi. Berbanding terbalik Chanyeol berubah menjadi tombak pesakitan dan Chanyeol tak ingin membuat Baekhyun tersiksa karenanya.
Maka dari itu, Chanyeol memilih untuk mundur. Menghilang dari kehidupan Baekhyun asal ia mendapat bayaran kebahagian untuk lelaki mungil itu.
…
Langit-langit putih bersih di atasnya adalah pemandangan pertama yang menyambut indera Baekhyun kala ia tersadar. Baekhyun pikir ia telah berada di surga atau tempat lain yang bukanlah lagi di bumi, namun selang infuse yang bergelantungan di atasnya menyadarkan Baekhyun jika ia masih berada di dunia yang sama, ia masih belum mati. Bunuh diri yang gagal ia lakukan, ia masih hidup dan berbaring di atas ranjang rumah sakit kini.
Baekhyun tanpa sadar menghela nafasnya pelan, kelopak matanya ia pejamkan kembali dan sedikit banyak memendam kesal dalam dirinya. Sia-sia saja, Baekhyun pikir.
Namun pada sisi lain, Baekhyun pikir Tuhan hanya tak ingin melepas tanggungjawab miliknya. Mungkin kehadiran jabang bayi di dalam rahimnya menjadi pertimbangan untuk mempertahankan dirinya di dunia. Jika itu untuk bayinya, maka bukanlah masalah.
Baekhyun perlahan membawa tangannya yang tak berinfus pada perutnya dan mengusap bagian buncit itu dengan sayang. Merabainya dan merasakan detakan sama dari darah dagingnya dan itu menciptakan ia pada tarikan senyum tipis.
Otaknya lalu tanpa ia sadari mulai menciptakan rasa rindu dalam dirinya. Mungkin berasal dari bayinya—merindu akan usapan tangan lain selain miliknya. Chanyeol. Baekhyun membuka matanya cepat dan mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut kamar dan mendapati dirinya seorang diri. Tidak ada Chanyeol… dimana lelaki itu? Baekhyun berguman.
Namun sedetik kemudian tersadar dan memaki dirinya sendiri.
Hormonal kehamilan sialan, rutuknya. Baguslah jika Chanyeol tidak berada di sekitarnya, lagipula memang itu yang ia harapkan. Memang sebaiknya lelaki itu tidak muncul saja, tidak untuk hari ini, hari esok dan Baekhyun akan mengucapkan ribuan syukur jika Chanyeol tak pernah memunculkan batang hidung selamanya.
Namun… apakah memang seperti itu keinginannya?
…
Jackson menangis sepanjang hari itu. Tangisannya menggema meneriakkan nama Baekhyun berulang dan Kyungsoo sampai kewalahan menenangkan bocah itu. Lelaki yang bekerja sebagai butler itu mengujarkan banyak kalimat penenang, menghiburnya dengan cerita lucu bahkan berjanji akan membuat muffin kesukaan Jackson lagi namun taunya tak mampu meredakan isak tangis itu.
"Aku ingin Papa." Isaknya berulang. Wajah tampannya berubah merah dan matanya nyaris tenggelam karena sembab namun tak membuat ia menghentikan tangisnya sama sekali.
Chanyeol pulang di saat yang bersamaan. Ia melangkah cepat menuju Jackson dan merengkuh anak itu dalam pelukannya.
"Hei, Jagoan mengapa menangis?" Chanyeol bertanya.
"Papa pergi." Ucapnya sesunggukan. Bicaranya tersendat dan teredam di atas pundak lelaki yang menjadi orangtuanya itu. "Papa benar-benar pergi."
Chanyeol tertegun sedang dalam hati bertanya darimana Jackson memiliki kesimpulan itu dalam dirinya. Namun Chanyeol tidak bertanya, ia bangkit dari simpuhannya dan berjalan menelusuri lorong rumah dengan Jackson dalam gendongannya.
"Aku sudah berjanji untuk tidak nakal lagi, tapi Papa tetap pergi." Ratapnya.
Chanyeol terdiam. Tangan besarnya mengusap punggung sempit anaknya itu pelan tanpa tau apa yang harus ia lakukan untuk menenangkan darah dagingnya itu. Baekhyun menghabiskan nyaris setiap harinya untuk mengurusi Jackson, bahkan untuk Chanyeol sendiri yang merupakan orangtua biologisnya pun meragu bisa memahami polah anak itu.
Pun halnya dengan Natalie. Wanita itu walaupun merupakan orangtua kandungnya, namun ia telah terbiasa untuk ditinggal seorang diri, sejak masih balita sekalipun mereka tak memiliki hari yang panjang untuk dilewati bersama. Namun Baekhyun tidak, mereka memiliki hari yang panjang bersama, Baekhyun bersamanya setiap hari lalu ketidakhadirannya mendadak seperti ini jelas membuat Jackson tak siap.
"Papa tidak sayang padaku." Rintihan pelan Jackson menyadarkan Chanyeol.
"Itu tidak benar sayang." Chanyeol menyela cepat. "Papa sayang padamu."
"Tapi Papa meninggalkanku."
"Papa tidak," Chanyeol menggeleng. "Papa tidak pergi, Papa hanya sedang sakit dan berada di rumah sakit sekarang."
Jackson menarik wajahnya tiba-tiba dari pundak Chanyeol dan menatap penuh sarat pertanyaan dari indera sembabnya.
"Papa sakit?" tanyanya disana.
Chanyeol memberikan anggukan dan perlahan mengusap aliran pada wajah anaknya itu. "Papa tidak pergi," katanya disana. Setidaknya tidak hari ini, Chanyeol membatin dalam dirinya.
"Apa kau ingin bertemu dengan Papa?" Tanya Chanyeol.
Jackson mengangguk cepat penuh semangat. "Aku ingin bertemu Papa!" serunya.
Itu taunya menciptakan senyum samar dari bibir CEO Licth Group itu. "Kalau begitu ayo kita bertemu Papa."
…
Chanyeol terdiam sepanjang perjalanan menujur rumah sakit. Ia mengendarai mobilnya sendiri dengan Jackson yang duduk di sampingnya. Anak itu sudah kembali tenang, tidak lagi terisak dan duduk diam pada tempatnya terlibat dalam ocehan apapun.
Suasana sedikit canggung terasa dan itu kembali mengingatkan Chanyeol betapa kecilnya ruang interaksi mereka selama ini. Dirinya yang sibuk, tanpa sadar melewatkan tumbuh kembang si anak dan itu taunya lagi mengingatkan apa yang Baekhyun lakukan.
Chanyeol mulai memikirkan bagaimana jika Baekhyun sudah tak berada disekitarnya lagi, disekitar Jackson yang membutuhkan peran orangtua dalam pertumbuhannya. Jackson mungkin akan tumbuh dalam kesendirian, sama seperti Chanyeol melewati masa kecilnya dulu.
Itu menyebalkan, sebenarnya sedikit menyakitkan.
"Adakah yang kau inginkan? Kita bisa membelinya sebelum bertemu dengan Papa." Chanyeol memutuskan untuk membuka sebuah pembicaraan. Ia melirik bocah berumur 5 tahun itu sesaat sebelum memofuskan pandangannya kembali pada jalanan di depannya.
Jackson terlihat berpikir, menimang dalam dirinya sebelum akhirnya memberikan gelengan pelan sebagai jawaban.
"Mungkin kue? Atau es krim?" Chanyeol menawarkan kembali.
"Papa suka es krim." Celetuk Jackson tiba-tiba.
"Haruskah kita membeli es krim untuk Papa?"
Jackson tersenyum sumringah dan menganggukkan kepalanya dalam jumlah yang terlampau banyak. "Ya, ayo beli es krim untuk Papa."
…
Jackson menenteng semangat sebaskom es krim ditangannya. Hirup pikuk rumah sakit sama sekali tak menarik minatnya sedang langkah kaki panjang Chanyeol membuatnya menanti dimana keberadaan Baekhyun.
Chanyeol berhenti pada salah satu kamar dengan Jongin yang berdiri di depannya. Chanyeol lantas menurunkan Jackson dari gendongannya dan bertanya kepada bawahannya itu.
"Bagaimana keadaan Baekhyun?"
"Tuan Muda sudah sadar, Tuan. Dokter baru saja memeriksanya dan mengatakan kondisi Tuan Muda sudah mulai stabil kembali." Jawab Jongin sopan.
Chanyeol tanpa sadar menghela nafas lega kembali dan mengintip melalui kaca kecil pada pintu. Ia mendapati Baekhyun disana, duduk setengah berbaring di atas tempat tidur—melempar pandangannya lepas ke arah jendela.
Baekhyun benar terlihat lebih baik dan Chanyeol tak berhenti bersyukur akan hal itu.
Jackson menarik-narik pelan kain celana Chanyeol dan menyadarkan lelaki itu tujuannya kesana. Ia terkekeh dan bersimpuh satu lutut di depan anak itu dan mengusap helai pirangnya dengan lembut.
"Berjanjilah pada Daddy untuk tidak mengganggu Papa, ingat Papa sedang sakit."
Jackson memberikan anggukan cepat. "Aku janji." Tukasnya.
"Nah, masuklah. Temui Papa." Chanyeol mendorong tubuh kecil itu pelan menuntunnya di depan pintu.
"Daddy tidak masuk?" Jackson bertanya kebingungan. Ia menatap Chanyeol penasaran dan mendapatkan sebuah gelengan pelan disana.
"Tidak, Daddy akan menunggu disini. Masuklah bersama pengawal Kim."
Jackson tak bertanya lagi, ia menapaki langkah masuk ke dalam kamar inap Baekhyun bersama Jongin—meninggalkan tatapan sendu Chanyeol tanpa ia sadari tersemat lekat dari paras tampan itu.
Langkah kaki pendeknya berlari masuk ke dalam sana dan berteriak senang mendapati sosok Baekhyun di atas tempat tidur.
"Papa!" Panggilnya. Baekhyun tersentak kaget dan menatap kehadiran Jackson setengah tak percaya. Jongin membantu Jackson naik ke atas tempat tidur dan cepat-cepat anak itu memeluk Baekhyun disana.
Baekhyun tertawa dan mengecup puncak kepala itu ketika mendengar rengekan Jackson.
"Hei, dengan siapa Junnie kesini?" Baekhyun bertanya ketika Jackson menarik dirinya kembali.
"Bersama Daddy." Sahut Jackson cepat.
Baekhyun tertegun bersamaan dengan senyumnya yang perlahan memudar. Ia tak sadar ketika membawa pandangannya pada pintu, seolah mencari kehadiran lelaki bersurai merah itu. Namun Chanyeol tak terlihat berada disana, hanya Jongin yang membungkuk sopan lalu meninggalkan Baekhyun bersama Jackson dalam kamarnya.
"Lihat, aku bawa es krim." Celotehan Jackson itu menyadarkan Baekhyun dan cepat-cepat ia bawa pandangannya kembali pada bocah di depannya itu. "Ayo kita makan es krim!" serunya kembali.
"Wah, Junnie membelikan Papa es krim?" Baekhyun bertanya sumringah. Jackson menganggukkan kepalanya lagi dan mulai membuka es krim yang ia bawa.
"Aku pikir Papa pergi." Anak itu berucap di sela. "Aku mencari Papa dimana-mana, tapi Papa tidak ada."
Baekhyun seketika diliputi oleh perasaan bersalahnya kembali. Untuk kedua kalinya, ia menyakiti Jackson dengan egonya. Baekhyun tak pernah menyadari kenyataan jika ia tak hanya menyakiti dirinya sendiri tapi juga Jackson dan mungkin saja… Chanyeol pun tak luput dari hasil keegoisan miliknya.
"Maafkan Papa." Ucap Baekhyun pelan. Es krim di atas pangkuan Jackson tak benar menarik perhatiannya, alih-alih hanya tertuju pada anak itu saja. Jackson luput mengetahui hal itu dan tenggelam dalam dingin es krim yang melumer enak di dalam mulutnya.
"Papa sakit apa?" Jackson menatap Baekhyun. Ia menatap menyeluruh lelaki mungil itu kemudian terhenti pada pergelangan tangan Baekhyun yang terperban. "Apa tangan Papa sakit?" tunjuknya.
Baekhyun ikut memperhatikan hasil pemikiran bodohnya itu dan mengusapnya dengan pelan. Kepalanya ia gelengkan dan tersenyum menenangkan. "Hanya sedikit." Katanya.
"Papa harus cepat sembuh agar kita bisa pergi ke Menara lagi. Kali ini bersama Daddy." Oceh Jackson lagi.
Baekhyun terdiam lagi dan memaksa senyum pada belah tipisnya. Ia tak memberi sahutan apapun dan membawa tangannya pada surai Jackson dan mengusapnya dengan sayang.
"Apa es krimnya enak?"
…
Chanyeol kembali memiliki senyumannya. Apa yang tertangkap pada inderanya dari dalam ruang inap itu menjadi alasan sedang hati menghangat akan bahagia. Hal-hal kecil itu taunya benar menjadi kesukaannya. Tawa Baekhyun berbaur dalam celotehan Jackson, kiranya benar merupakan sumber bahagia tak ternilai harganya. Itu harta berharganya dan Chanyeol selalu ingin memiliknya. Selamanya.
Namun kemudian ia di sadarkan kembali oleh kenyataan jika itu bukanlah miliknya. Baekhyun, sumber kebahagiannya bukanlah miliknya.
Kenyataan itu taunya lagi menyakiti perasaan Chanyeol namun ia tak memiliki apapun untuk membantu perasaannya sendiri. Tak apa, ia berguman untuk kesekian kalinya. Baekhyun hanya harus bahagia walau ia bukanlah alasan dibalik itu, Chanyeol pun akan sama bahagianya.
Lelaki dengan tubuh tegap itu berbalik badan, memutus pandangan mata dari dalam kamar inap itu dan menempatkan dirinya duduk pada bangku tunggu di lorong. Jongin keluar semenit kemudian dan berdiri tegak di depan pintu lagi seperti perintah Chanyeol.
Matanya sesekali melirik sungkan kepada Chanyeol dan menerka dalam hati mengapa awan gelap itu merundungi majiannya. Jongin menerka tentang pertengkaran Chanyeol dan Baekhyun namun tak memiliki keberanian juga hak apapun untuk sekedar memberikan tulusan simpatiknya.
Jongin memutuskan diam, sama halnya akan Chanyeol dan membiarkan sunyi menemani mereka di lorong rumah sakit itu.
…
Chanyeol memiliki banyak pertimbangan sebenarnya. Ia memikirkan banyak hal, merenungi banyak hal. Sisa ego ia coba tinggalkan sedang apapun yang utama baginya mencoba ia kedepankan. Itu adalah Baekhyun dan apapun yang berada dalam kehidupan lelaki mungil itu.
Chanyeol telah menghabiskan seharian waktunya dengan berdiam diri, berdamai dengan dirinya sendiri dan kemudian meneguhkan dirinya sendiri. Hari telah beranjak malam dan hirup pikuk kesibukan di rumah sakit mulai mensunyi meninggalkannya seorang diri.
Chanyeol bangkit dari duduknya, melihat dari kaca di depan pintu dan mendapati dua orang terkasihnya itu terlelap di dalam sana. Keduanya berbagi tempat tidur dan memeluk satu sama lain berbagi hangat masing-masing.
Chanyeol memperhatikannya sedang otak ia paksa merekam semua itu lalu mengubahnya dalam ingatan kenangan. Chanyeol meneguhkan dirinya sekali lagi, menyakinkan dirinya sekali lagi lalu perlahan menggeser pintu di kamar inap itu dan masuk ke dalam sana.
Chanyeol melangkah hati-hati, tak ingin menimbulkan satu suara sekecil apapun yang dapat menganggu dua orang yang tidur disana. Lalu perlahan mengulurkan tangannya menuju Jackson dan hati-hati mengangkat bocah itu ke dalam pelukannya.
"Pulanglah bersama Jackson, aku akan menemani Baekhyun malam ini." Ujar Chanyeol pelan kepada Jongin. Jongin menerima tubuh Jackson sigap dan keluar dari kamar itu, meninggalkan Chanyeol bersama Baekhyun di dalam sana.
Chanyeol membawa pandangannya kembali kepada Baekhyyun, membenarkan letak selimut lelaki mungil itu dan menahan diri untuk tak mengambil kecupan apapun pada wajah cantik kecintaannya itu.
Baekhyun mengeliat pelan, mengubah posisi berbaringnya dan memunggungi posisi Chanyeol yang berdiri pada sisi tempat tidur yang lain. Baekhyun terjaga, Chanyeol tau hal itu pun mengenai Baekhyun yang lagi menunjukkan penolakan terhadap kehadirannya, Chanyeol mengetahuinya.
Chanyeol mencoba untuk tak peduli, menepis denyutan pada rongga dadanya dan menempatkan dirinya duduk pada kursi tunggal di samping tempat tidur. Punggung sempit Baekhyun mengusai hazelnya, terdiam tanpa kata seolah tak ada hal besar terjadi padanya.
"Bagaimana kabarmu Baekhyun?" pelan suara Chanyeol memecah sunyi. Baekhyun mendengarnya namun bertingkah seolah tak ada apapun yang tertangkap inderanya—berpura-pura tidur, mengabaikan kehadiran Chanyeol di belakangnya.
Hela nafas Chanyeol terdengar sayup, dan Baekhyun mulai menerka apa yang tengah dipikirkan oleh pemimpin Feuer itu. Rencana apalagi yang akan dilakukan laki-laki itu kepadanya? Ke Negara mana lagi yang akan ditujunya untuk membuatnya terpisah kembali dengan keluarganya? Atau… rencana pembunuhan apa yang akan dilakukannya terhadap Sehun, mungkin kecelakaan yang sama seperti yang ia lakukan terhadap ayahnya, atau mungkin hal yang lebih kejam daripada itu.
Baekhyun tak sadar berdecih dalam hati dan membiarkan benci semakin membumbung tinggi mengusai dirinya.
Baekhyun semakin membenamkan matanya terpejam, berharap dapat kembali tidur tanpa mendengar ocehan apapun yang Chanyeol katakan. Namun taunya tidak seperti itu, bahkan hela nafas samar dari lelaki itu nyatanya masih dapat tertangkap oleh inderanya.
"Aku…" Berat suara Chanyeol terdengar kembali. "Kali pertama melihatmu saat kau berada di tahun terakhir di sekolah menengah atas." Lelaki itu menutur dalam sunyi. Senyumnya tertarik simpul, seolah punggung sempit Baekhyun tengah menampilkan kilasan ingatan dari apa yang ia ujarkan.
Chanyeol menerawang dalam dirinya sendiri dan membiarkan ingatannya terhempas pada beberapa tahun silam. Di depannya, tanpa Chanyeol ketahui Baekhyun membuka matanya perlahan, tertegun mendengarkan patahan kata miliknya.
"Kau memakai seragam sekolahmu dan memegang secorong es krim, es krim stroberi." Chanyeol menegaskan. "Aku ingat saat itu harinya sangat terik, udaranya begitu panas tapi kau malah tak terganggu dengan hal itu. Kau tersenyum, senyumanmu begitu cantik. Aku tak pernah melihat senyuman secantik itu sebelumnya." Chanyeol tertawa tanpa suara, teringat masa silam menyenangkan itu.
"Lalu kau mulai hadir dalam diriku, setiap hari aku dibayangi oleh senyumanmu, tiap malam dan aku selalu mendapat mimpi yang serupa, kau dan senyum milikmu. Itu seharusnya mengganggu, tapi nyatanya tidak. Aku mulai bertanya-tanya siapa dirimu, siapa namamu, dimana kau tinggal, berapa tanggal lahirmu, apa makanan kesukaanmu, apa film kesukaanmu—hal-hal seperti itu." Chanyeol mengikik, merasa lucu terhadap dirinya sendiri.
"Jadi aku mulai mencari tau siapa dirimu," Chanyeol menyambung lagi. "Aku tau namamu, namamu adalah Byun Baekhyun, kau lahir tanggal 6 pada bulan Mei dan aku juga tau apa yang kau sukai dan apa yang tidak kau sukai.
"Kau suka apapun yang berhubungan dengan stroberi, kau tidak suka mentimun. Kau suka film action dan tidak suka film romantis, biru adalah warna favoritmu, kau juga suka bermain piano, membaca buku biografi dan juga memasak."
Senyum Chanyeol perlahan memudar. "Aku juga tau apa cita-citamu. Kau bercita-cita menjadi polisi dan berharap menjadi anggota Interpol seperti ayahmu. Kau berkeinginan untuk menangkap semua kriminal dan memberikan mereka hukuman. Kau benar-benar membenci mereka—aku yang merupakan sampah dimatamu."
Chanyeol merasakan denyutan lagi di dalam dadanya. Luka hatinya seperti ditaburi garam, ia buka kembali dalam ingatannya. Itu menulari Baekhyun, tanpa sadar merasakan jantungnya berpacu dua kali lebih kencang dari semestinya.
"Satu-satunya yang kusadari adalah jika aku takkan pernah memiliki kesempatan bersamamu," Chanyeol melirih dalam pesakitannya. "Satu-satunya yang kusadari adalah kau takkan bisa mencintaiku seperti rasa cintaku padamu."
Chanyeol menunduk, menatap lantai buram di kakinya dan melinglung.
"Kau benar aku berbohong padamu Baekhyun." Ungkap Chanyeol disana. "Kau benar tentang aku yang berbohong tentang dirimu, namamu bukanlah Park Baekhyun, kau tidak lahir pada bulan juni tanggal 14, kita tidak sebaya, kau lebih muda 4 tahun dariku. Aku juga berbohong mengenai pertemuan kita di perpustakaan kota, obrolan singkat, saling jatuh cinta, pernikahan sempurna… kau benar, aku berbohong padamu. Semuanya."
Baekhyun menggigit bibir. Selimutnya ia genggam semakin erat dan tiba-tiba saja merasa tak siap mendengar apapun yang akan Chanyeol ujarkan padanya. Tentang kebenarannya, tentang nyata cerita mereka.
"Tapi kau salah tentang aku yang mempermainkanmu, kau salah tentang aku yang hanya menganggapmu sebagai bonekaku—kau tidak seperti itu." Chanyeol menggeleng. "Kau… adalah segalanya bagiku, bagaimana mungkin jika aku menganggapmu seperti itu."
Baekhyun tidak tau harus seperti apa menanggapi. Ia tidak siap, sama sekali belum dan apapun yang tengah Chanyeol perdengarkan benar tak ingin ia dengar kini. Itu… menyakitinya. Menyakiti perasaannya yang tanpa sadar Baekhyun rasakan dalam dirinya. Mengapa seperti itu?
Chanyeol menarik nafasnya kembali, mencoba menguatkan dirinya dan menarik tatapannya dari lantai. Rasanya sedikit melegakan, seolah bebannya terangkat dan Chanyeol tak memiliki sesak apapun yang membelenggu dirinya kini.
"Kau ingin lepas dariku bukan?" Chanyeol bertanya walau kenyataannya ia tau apa jawaban dari pertanyaan retoris itu. penolakan Baekhyun selama seminggu ini menjelaskan segalanya. "Aku akan melepaskanmu." Lanjut Chanyeol, tegas seolah meyakinkan Baekhyun jika itu bukanlah omong kosong semata.
Pandangan buram Baekhyun melebar, sedikit banyak tak percaya dengan apa yang Chanyeol katakan. Pada sisi lain… ia merasa setengah tak rela. Mengapa harus seperti itu?
"Tapi Baekhyun…" Chanyeol menukas lagi. "Bolehkah aku melakukannya setelah bayi kita lahir nanti?" Chanyeol diam sesaat, menunggu kiranya respon yang si mungil itu berikan kepadanya. Namun hembusan angin malam masih menjadi yang menyambut dirinya.
Baekhyun tidak tidur, tapi dia enggan menjawab. Baekhyun pasti tidak setuju dengan permintaannya.
"Aku… hanya membutuhkan waktu untuk terbiasa, hanya 3 bulan sampai kau melahirkan dan setelah itu aku akan melepasmu. Kau boleh pergi, kau boleh membawa bayi kita atau jika kau tidak menginginkannya, maka aku yang akan merawatnya. Dan selama itu, aku akan pergi dari hidupmu, aku akan menghilang dari hidupmu sampai kau lupa jika aku pernah hadir sebelumnya. Aku berjanji."
Baekhyun menggigit bibirnya kuat sampai perih terasa.
"Hanya 3 bulan Baekhyun, aku berjanji tidak akan mengekangmu, kau boleh melakukan apapun yang ingin kau lakukan, kau boleh bertemu dengan adikmu, teman-temanmu. Hanya saja, tak bisakah kau berpura-pura menjadi Park Baekhyun lagi untukku? Hanya berpura-pura dan setelah itu kau boleh membenciku sebanyak apapun yang kau inginkan."
Dadanya sesak bukan main, tangisnya terdengar samar namun Baekhyun tetap bertahan pada posisinya. Rasanya begitu menyakitkan, tak tau mengapa… Baekhyun tak ingin mendengar semua janji itu. Baekhyun tak ingin Chanyeol berjanji untuk melepasnya, meninggalkannya lalu melupakan dirinya. Baekhyun tak ingin lelaki itu melakukannya. Mengapa bisa seperti itu? Ia seharusnya senang, bersorak bahagia karena inilah yang ia harapkan?
Lalu mengapa rasanya… tak rela seperti ini?
Mengapa—
"Dan Baekhyun," Chanyeol bersuara kembali di belakangnya. "Kumohon jangan sakiti dirimu lagi seperti ini. Kau seharusnya menyakitiku, kau seharusnya menyayat nadiku, bukan nadimu. Kau seharusnya membunuhku, itu lebih baik untukku daripada harus melihatmu terbaring disini." Desah Chanyeol.
"Tidurlah," katanya kemudian. "Dokter bilang kau boleh pulang besok dan melakukan rawat jalan di rumah."
Suara pergesekan kaki kursi yang Chanyeol dorong terdengar kemudian. Baekhyun tak harus menoleh untuk sekedar memastikan apa yang lelaki itu lakukan. Chanyeol bangkit dari duduknya, mengambil langkah menuju pintu sebelum teringat akan sesuatu yang belum ia sampaikan kepada carrier cantik itu.
"Aku akan menghubungi Sehun dan memintanya untuk datang menemuimu." Tutur Chanyeol lagi. "Bisakah kau sampaikan padanya untuk berhenti meretas jaringan Feuer? Feuer bukan tanggungjawabku lagi sekarang, Natalie yang mengurusnya. Aku tak bisa mencegah keputusannya jika ia menangkap basah organisasi keluargamu lagi."
…
Baekhyun memiliki kantung mata hitam dengan muka bengkak akibat menangis semalaman. Dalam hati Baekhyun bertanya mengapa ia menangis sedang yang harusnya ia lakukan adalah membuncah dalam bahagia dan exciteddalam perkata yang Chanyeol katakan.
Namun taunya lagi tidak seperti itu. beban pikirannya bertambah lagi sedang apa yang Chanyeol ujarkan semalam mengetuk sisi perasaannya yang lain. Ungkapan pertemuan mereka yang sebenarnya… mengisi otak Baekhyun dan bermain dalam ingatannya.
Chanyeol bilang kali pertama lelaki itu melihatnya saat ia berada di tahun akhir sekolah menengah atas, suasana panas yang berarti itu terjadi tepatnya saat musim panas. Baekhyun menerka jika itu terjadi beberapa bulan sebelum ujian kelulusannya. Lalu berlanjut kepada lelaki itu yang mulai mencari tau tentang dirinya, mungkin juga membuntuti dirinya sepanjang hari.
Seharusnya Baekhyun memiliki firasat, firasat akan orang asing yang mengikuti dirinya. Orang asing yang mungkin saja memiliki niat buruk terhadapnya namun taunya Baekhyun tak memiliki hal itu dalam dirinya. Baekhyun tidak merasa terancam, tidak pernah disakiti secara batin apalagi fisik.
Alih-alih ia merasa… aman.
Mungkin karena keluarganya yang berasal dari kepolisian namun entah mengapa semuanya lebih dari semua itu.
Mengapa?
Apakah… Chanyeol menjaganya? Dari jarak yang tak Baekhyun ketahui berapa, sejauh mana… mungkin lelaki itu juga ikut menjaga dirinya pula?
…
Chanyeol tak berbohong tentang ia yang menghubungi Sehun dan meminta lelaki itu untuk menemui Baekhyun di rumah sakit karena nyatanya benar lelaki itu terlihat pada bibir pintu di pagi harinya.
Sehun menerjang Baekhyun dan pelukannya lagi dan berucap syukur mereka dalam bertemu kembali. Baekhyun balas memeluknya dan mengherankan pelik hatinya masih tak mampu di bentengi bahkan dengan kehadiran saudaranya itu pula.
"Apa yang terjadi padamu, hyung? Mengapa kau harus sampai di rawat?" Sehun bertanya beruntun sembari memeriksa keseluruhan tubuh Baekhyun. Ia mendapati perban pada pergelangan tangan Baekhyun dan mulai menerka penyebabnya.
"Apa tanganmu terluka karena lelaki itu?" Sehun bertanya dalam amarah.
Baekhyun menggeleng cepat dan lekas menyembunyikan tangannya di balik selimut. "Aku terjatuh di kamar mandi dan mematahkan tanganku." Baekhyun menjawab terburu. "Ini bukan Chanyeol."
"Kau bisa mengatakannya padaku, hyung. Lelaki itu pasti menyakitimu bukan? Dimana dia melakukannya?"
"Chanyeol tidak!" Baekhyun menjawab tegas. Chanyeol tidak pernah menyakitinya, sekalipun tidak pernah.
Sehun menatap saudaranya itu dengan kilatan mata tak percaya. Dengan pekerjaannya yang seperti itu, mustahil rasanya.
Mendapat tatapan keraguan seperti itu, membuat Baekhun menghela nafasnya pelan dan menatap perutnya kini.
"Hyung…" Sehun memanggilnya. Ia meraih satu tangan Baekhyun dan mengenggamnya dengan lembut. "Ayo kita pergi, hyung."
Kepala Baekhyun terdongak kembali dan melebar menatap adiknya itu.
"Aku tidak melihat siapapun yang berjaga di depan pintu, ini kesempatan bagus. Ayo kita pergi," Ajak Sehun. Itu adalah kesempatan yang bagus, namun Baekhyun tak sedikitpun tertarik untuk melakukannya.
"Kita juga bisa bekerja sama untuk membuka jati dirinya, siapa dirinya dan membalas dendam ayah—"
"Tidak Sehun." Baekhyun menyela. Ia menarik tangannya yang di genggam Sehun dan menyimpan di atas perutnya. Baekhyun menggeleng sedang Sehun menatap tak percaya kepada saudaranya itu.
"Hyung…"
"Jangan lakukan itu Sehun." Pinta Baekhyun. "Untukku jangan lakukan itu."
"Apa maksudmu hyung?" Sehun mencolos tak percaya.
"Feuer bukanlah lawan yang bisa kau kalahkan, Feuer lebih besar dari yang kau bayangkan, kelompok itu sangat berkuasa, mereka sangat berbahaya." Ungkap Baekhyun. "Jangan usik mereka lagi, berhentilah mencari tau apapun yang berhubungan dengan mereka."
Sehun menjatuhkan rahang, benar tak percaya atas penuturan Baekhyun di depannya. Bagaimana bisa Baekhyun mengujarkan hal itu padanya, bagaimana bisa Baekhyun mengabaikan… kematian orangtua mereka?
Baekhyun menatap Sehun sedih, bukan tak tau apa yang tengah dipikirkan oleh lelaki itu terhadapnya.
"Aku tak ingin kehilangan keluargaku, aku tak ingin kehilangan kau saudaraku satu-satunya, Sehun. Maka karena itu, untukku kumohon… jangan usik mereka lagi."
Dan Sehun kehilangan bantahannya seketika.
…
Chanyeol membuat sebuah kesepakatan dengan janji melepas Baekhyun seperti yang diinginkan oleh lelaki itu. 3 bulan sampai bayinya lahir, dan setelah itu Chanyeol akan melepaskanya.
Baekhyun tak pernah mengatakan ya untuk persetujuan tapi tanpa ia sadari, Baekhyun melakukannya. Ia mungkin tak bisa menuruti keinginan Chanyeol untuk kembali menjadi Park Baekhyun namun lagi tanpa Baekhyun sadari ia merubah sikap dingin ketusnya dan perlahan membuka dirinya sendiri.
Baekhyun mencoba berdamai dengan dirinya sendiri, dengan gejolak dirinya sendiri. Baekhyun tidak lagi mengurung dirinya di kamar, mengeracau menghancur seluruh perabot dan kembali ke dalam rutinitasnya kembali.
Baekhyun kembali menghabiskan waktunya berada di dapur, memaksa makanan kesukaannya, membuat kue manis keinginan Jackson dan juga secangkir kopi pula untuk Chanyeol.
Baekhyun mencoba berdamai dengan keadaannya, tapi menampik kenyataan jika ia pun ingin berbaikan dengan lelaki itu. Baekhyun merasa aneh kepada dirinya sendiri, sejak pembicaraan mereka di rumah sakit, ungkapan kebenaran Chanyeol… Baekhyun seolah lupa dengan segalanya. Ia lupa atas semua kebohongan yang pernah Chanyeol lakukan, semua rasa benci yang ia bangun untuk lelaki itu—kenyataan tentang kematian ayahnya, penyebab amnesianya… Baekhyun melupakan semuanya.
Hubungan mereka masih canggung.
Tanpa Baekhyun sadari sebenarnya Chanyeol perlahan mulai menarik diri, menarik dirinya kepada Baekhyun dan membiasakan dirinya tanpa kehadiran lelaki itu dalam hidupnya. Chanyeol sedang berusaha namun taunya itu meninggalkan kekecewaan dalam diri Baekhyun. Tanpa alasan… Baekhyun tak pernah berharap Chanyeol akan melakukan semua itu. Baekhyun tak ingin Chanyeol melupakannya.
Kehidupannya terasa membosankan entah mengapa. Kegiatan memasaknya tak pernah ia nikmati seperti sebelumnya, Baekhyun terkadang hanya memasak untuk membunuh bosan namun taunya itu tak benar memperngaruhi dirinya.
Chanyeol masih pergi di pagi hari dan kembali ketika petang mulai berganti malam. Mereka bertemu di meja makan—kadang-kadang kemudian Chanyeol memilih untuk menghabiskan malamnya di ruang kerjanya. Ia akan kembali ke kamar ketika Baekhyun telah tertidur dan bersiap pergi ketika lelaki itu bahkan belum membuka matanya.
Selalu seperti itu.
Namun tak ada yang bisa Baekhyun lakukan. Protes pun untuk alasan apa pula ia lakukan?
Moodnya berubah buruk kadang-kadang. Hormonal kehamilan taunya ikut mempengaruhi dirinya. Baekhyun akan berakhir dengan tidur sepanjang hari, memakan apapun sepanjang hari kiranya mampu membuat perasaannya menjadi lebih baik.
Namun tidak ketika hasratnya tiba-tiba naik dan Baekhyun kelabakan mengurus dirinya sendiri. Baekhyun mengeliat tak nyaman di atas tempat tidur, tubuhnya terasa panas tapi bukan deman. Baekhyun tau apa itu, rasa gejolak apa itu dan di hari lalu bukanlah masalah untuknya. Baekhyun memiliki Chanyeol yang akan mengurus hormonnya namun jelas berbeda keadaannya kini.
Dan Baekhyun masih cukup waras untuk tidak meminta bantuan lelaki itu. Tidak, tentu saja tidak.
Baekhyun lantas memilih untuk tidur, pikirnya akan mampu menahan gejolak nafsu dirinya. Namun taunya ketika memejamkan mata, bayang-bayang trasnparan memenuhi imajinasinya. Itu berubah mengerikan bagaimana Baekhyun mulai menggerangi tubuhnya sendiri namun berakhir dengan desahan kekesalan ketika tak mampu mendapatkan kenikmatan dambaannya.
Baekhyun mengerang frustasi dan melimpahkannya dalam tangis tiba-tiba. Isakannya ditangkap Chanyeol ketika memasuki kamar dan lelaki itu terserang panik berpikir Baekhyun merasakan sakit atau sesuatu.
Chanyeol mendekatinya dan bertanya namun Baekhyun tetap diam dalam isakan.
"Baekhyun?" Chanyeol memanggilnya lagi, tangannya menyentuh pundak Baekhyun hati-hati dan menguncang pelan tubuh resah itu. "Baekhyun kau baik-baik saja? Apa yang sakit?" Chanyeol menyentuh dahinya dan terkejut mendapati keringat dingin mengucur keluar membasahi lehernya pula.
"Baekhyun apa yang—"
"Nghhh~"
Baekhyun tercekat dan Chanyeol membola. Baekhyun mendesah tanpa bisa ia tahan lalu merutuki dirinya sendiri karena itu.
"Apa kau sedang mengalami itu?" Chanyeol bertanya memastikan.
Baekhyun lekas-lekas menggeleng, "aku baik-baik ngh saja…"
Tapi jelas terlihat jawaban itu merupakan hal yang berbanding terbalik dengan keadaan tubuhnya.
Baekhyun menggigit bibirnya sambil sesekali membasahi belahan tipisnya. Chanyeol menahan nafas. Ia tak ingin bersikap kurang ajar namun ia pun tak bisa membiarkan Baekhyun tersiksa seorang diri sedang ia ada—siap untuk membantu lelaki itu.
Chanyeol mencoba menekan rasional dirinya dan perlahan naik ke atas tempat tidur dan menindih Baekhyun di bawahnya. Lelaki mungil itu sontak membuka matanya dan menahan dada Chanyeol.
"Apa yang kau lakukan?" Baekhyun melotot.
Chanyeol mengindahi hal itu, menumpukan kedua lengannya pada masing-masing tubuh Baekhyun dan merunduk tepat pada ceruk lehernya. Chanyeol dengan sengaja mengeluarkan desah nafas beratnya disana, bertubrukan dengan batang leher Baekhyun dan menciptakan leguhan dari lelaki mungil itu.
"Cha-Chanyeol kau pikir apa yang sedang kau lakukan?" Baekhyun menyalak marah, kedua tangannya terkepal kuat menahan dada Chanyeol.
Chanyeol lagi mengabaikan hal itu. Bibirnya mengecup lembut batang leher Baekhyun, sekali dua kali dan menjilatinya dengan sensual. Baekhyun lagi meleguh dan matanya terpejam menikmati aliran menyenangkan yang berasal dari bibir lelaki dominan itu.
Chanyeol melarikan bibirnya pada daun telinga Baekhyun kini, menjilati tulang rawan itu dan menjulurkan lidahnya memasuki lubang telinga Baekhyun. Si mungil mendesah, kuat dan kepalan tangannya berubah meremas kain kemeja Chanyeol.
Chanyeol lantas menjemput bibir Baekhyun, mengecup sudut bibirnya.
"Biarkan aku membantumu Baek." Berat suara itu menyapa pendengaran Baekhyun dengan panas, desah nafas berat berbaur dalam hasrat Chanyeol taunya menciptakan friksi menggelitik dalam diri Baekhyun. "Tak apa, ini aku…"
Baekhyun di lema, marah terhadap dirinya sendiri, merasa malu terhadap dirinya sendiri.
Chanyeol benar-benar brengsek membuatnya galau seperti itu. Perkatanya seolah menuntun Baekhyun akan ingatan malam-malam hebat yang mereka lalui sebelumnya. Dadanya bergemuruh dan hasratnya semakin membumbung naik dan benar merenggut rasionalnya.
Tebal bibir Chanyeol terperangkap dalam inderanya, bersamaan dengan itu bayang-bayang bagaimana bibir itu memangutnya, membuat Baekhyun berdebar. Baekhyun memperhatikan kenyal basah itu dan lagi merasakan degup jantung yang berpacu di dalam dirinya.
Baekhyun memalu luar biasa. Keadaannya jelas telah berbeda kini, namun hormonal sialan benar memblokir akal sehatnya.
Chanyeol memberikan apa yang Baekhyun butuhkan. Mengisinya, menghangatkan sekujur sarafnya. Baekhyun mencoba tak memberikan suaraan apapun, ia terdiam dalam mengatur nafas kacaunya dan seketika tercekat kala samar isakan terdengar dari ceruk lehernya.
"Aku mencintaimu Baekhyun. Sangat."
Baekhyun tertegun. Ia tak berekasi, menatap langit-langit kamar di atasnya dengan penuhan pernyataan Chanyeol, menggema dalam kepalanya. Baekhyun tak menyadari ketika perlahan, pandangannya mengabur dan alirannya menetes.
Lengannya melingkari punggung Chanyeol, mendekap tubuh tegap itu dan membiarkan isakannya menjawabi pernyataan si surai merah.
Malam itu, mereka menangis bersama.
…
Namun semuanya masih sama adanya.
Itu telah berlalu sejak beberapa minggu yang lalu. Nyaris terhitung sebulan sejak mereka berhubungan badan dan Baekhyun bersyukur hormonnya tak lagi meledak seperti hari kemarin. Setidaknya hormon seksual dan taunya perubahan moodnya semakin labil hari ke hari.
Baekhyun merasakan benar bagaimana tubuhnya begitu lemas bahkan saat ia baru saja bangun di pagi hari. Pinggulnya terasa keram dan bayinya tak berhenti menendang sedari tadi. Baekhyun merasa mual, ia pusing dan tak ingin melakukan apapun selain berbaring di atas tempat tidur saja.
Namun itu tak membantu sama sekali.
Keram pinggulnya merambat pada tulang belakangnya kini, mendera seolah akan remuk lalu melebur satu-satu. Perutnya berubah mulas dan Baekhyun pikir ia akan melahirkan saat ini. Tapi usia kandungannya masih berusia 8 bulan, ia masih memiliki 1 bulan lagi sebelum melahirkan bayinya.
Baekhyun lantas memilih bangkit dari tempat tidur, keluar kamar dan menulusuri lorong dengan tertatih. Dokter kandungannya pernah menyarankan agar ia bergerak lebih aktif di bulan akhir sebelum tanggal bersalin, baik untuk memudahkan ia melahirkan bayinya nanti.
Baekhyun menuruti hal itu. Ia memutuskan untuk melakukannya hari ini, melangkah pelan mengelilingi penthouse dengan satu tangan mengusap perutnya tanpa henti.
Baekhyun merasa sedikit lebih baik, keramnya masih terasa namun tak sesakit pertama. Tapi kemudian berubah buruk ketika ia mendapati Natalie tiba-tiba berada di rumahnya, di Korea, Baekhyun menggaris bawahi.
Apa yang wanita itu lakukan disini?
"Hai, Baekhyun." Wanita itu menyapa pertama kali. Senyumnya yang tersungging masih terlihat menyebalkan seperti kali terakhir Baekhyun lihat. Natalie masih terlihat sama, langkah kakinya masih angkuh yang sama.
Baekhyun mendengus tak berniat menunjukkan kesan ramahnya sama sekali.
"Hai juga Natalie cantik." Natalie mengejek kemudian tertawa ketika Baekhyun menggulirkan bola matanya seperti itu.
"Apa yang kau lakukan disini?"
"Menyapa tentu saja." Sahutnya cepat. Sapphire birunya meneliti Baekhyun dari atas sampai bawah, "kemana kau bawa lemakmu itu?"
Wah benar-benar, Baekhyun memaki. Perutnya sudah cukup sakit, jangan sampai emosinya juga ikutan terseret dalam amarah.
"Pergilah, aku sudah tidak mood melihat wajahmu." Ketus Baekhyun sembari menarik langkahnya menjauhi wanita Rusia itu.
"Excuse me?" Natalie melotot tak pecaya, "kau pikir aku suka melihat wajahmu?" sergah Natalie. "Jika bukan karena bisnisku, aku tak sudi melihatmu. Jadi Baekhyun, dengarkan aku karena aku tak berniat mengulang ini untuk kedua kali."
Baekhyun tak ingin menanggapi. Namun tangannya di tarik Natalie sepihak dan memaksanya duduk pada sofa sedang wanita itu menempatkan dirinya pada sisi yang lain. Baekhyun meringis pelan, merasakan perutnya yang kembali mulas akibat sentakkan tiba-tiba itu.
"Jadi darimana aku harus memulai?" Natalie lebih kepada berbicara untuk dirinya sendiri.
"Nat, aku senang tidak ingin mendengar apapun, jadi hentikan sebelum—"
"Ah, bagaimana dengan tikus Korea itu?"
"Apa?" Baekhyun berkerut alis, menangkap kata Korea yang terselip dari belah merah berlipstik itu membuatnya melupakan sakit perutnya tiba-tiba. "Apa maksudmu?"
"Jadi semuanya dimulai ketika tikus Korea itu mulai menyelidiki Feuer dan meretas jaringan Feuer, dia benar-benar sangat menganggu kau tau? Dia pikir dirinya hebat dan begitu berani hanya karena statusnya sebagai anggota Interpol."
Tikus Korea.
Anggota Interpol.
Baekhyun semakin berkerut kening dan tak mengerti kemana arah pembicaraan itu sebenarnya. Namun terasa tak asing dan seolah semuanya mengarah kepada dirinya sendiri. Pada keluarganya—ayahnya?
Natalie mendengus, menyadari ekspresi dungu Baekhyun dan melanjutkan kalimatnya kembali.
"Semuanya benar-benar kacau saat itu, dan semakin buruk saat Richard malah tak mengambil tindakan apapun dan malah terlihat membiarkan tikus Korea itu berbuat semauanya." Ia menghela nafas kesal sesaat. "Aku benar-benar tidak tahan dan mulai mengambil tindakan sendiri. Aku telah memiliki rencana untuk melenyapkan tikus Korea itu, aku memilih untuk sebuah kecelakaan tunggal untuk melenyapkan dirinya.
"Semua berjalan lancar. Mobil yang tumpangi benar-benar mengalami kecelakaan, tapi berubah berantakan saat Richard mengetahui rencanaku. Tebak, seperti apa marahnya dia? Selain marah, Richard juga sudah sinting, dia pergi kesana dan berpikir bisa menggagalkan rencanaku atau setidaknya menyelamatkan tikus itu. Setelah apa yang tikus Korea itu lakukan, Richard malah berniat menyelamatkannya."
Natalie berdecak keras. Matanya menatap Baekhyun dan merasa kesal ketika hanya keterdiaman yang meresponi ia dari lelaki yang tengah mengandung di depannya itu. Natalie mencoba untuk tidak peduli, memutuskan untuk melanjutkan ucapannya.
"Tapi syukurnya rencanaku berhasil, tikus Korea itu benar-benar mati. Tapi tebak hal mengejutkan apa yang Richard temukan?" Natalie bertanya, satu alisnya berjengit pada kening berkeinginan untuk melempar ekspresif jenaka namun lagi Baekhyun tak terlihat tertarik akan hal itu. "Tikus Korea itu ternyata tidak sendiri di dalam mobilnya, dia bersama anaknya. Dan coba tebak lagi siapa anak itu?"
Baekhyun menatap Natalie risau. Ia tak bertanya namun jelas sipitnya menyimpan sejuta penasaran atas apa yang hendak Natalie katakan. Jantungnya tanpa sadar berdegup kencang, tiba-tiba saja ketakutan menyerang dirinya.
"Kau. Kau, Byun Baekhyun yang merupakan laki-laki yang Richard sukai, laki-laki yang membuat Richard jatuh cinta dan gila memandangi fotonya setiap hari. Ya, itu kau. Kau yang terjadi anak si tikus Korea." Ungkapa Natalie tanpa beban.
Baekhyun merasakan jantungnya bergemuruh, namun ia masih seperti patung—mematung seperti itu.
"Kau benar-benar berada disana, tapi kau tidak mati. Dan kau tau, adegannya benar-benar seperti di film-film action. Richard mengeluarkanmu dari sana dan sedetik kemudian BOOM mobil itu meledak." Natalie tertawa, seolah itu merupakan hal yang lucu baginya. "Richard lalu membawamu ke Moskow, di hari yang sama dimana dia menceraikanku." Wanita itu kemudian tersenyum miring.
Baekhyun tergugu. Ia lagi merasa tak siap, ia tak ingin mendengar apapun lagi, apapun yang menjadi kebenaran yang merupakan adanya.
"Kupikir aku—" Baekhyun berubah linglung, ia tak ingin berada disana lebih lama lagi. Baekhyun ingin bangkit pergi namun pantatnya seolah tertahan pada sofa yang ia duduki. Terpaku sedang gemuruh dadanya berubah dalam letupan kacau kini.
Natalie melihatnya, namun tak merasa bersalah akan hal itu. mata birunya meneliti Baekhyun dan berujar kembali dengan nada pelan.
"Kau koma selama berbulan-bulan dan sadar dalam keadaan amnesia." Katanya. "Richard memang membohongimu, membodohi dirimu. Tapi tidakkah kau sadar jika apa yang terjadi mengantar kalian pada sebuah takdir? Takdir untuk bersama?" tanyanya.
Baekhyun tak merespon.
"Aku tidak percaya Tuhan, tapi kupikir kali ini dia benar-benar ajaib membuat sebuah kebetulan. Kau yang amnesia, kau lahir menjadi sosok lain tanpa sekat apapun dengan keadaan Richard sendiri. Richard mungkin menoreh tinta pertama dalam kisah kalian, lalu di hari-hari selanjutnya tidakkah kau sadari, jika nyatanya kau pun ikut menambahkan tinta yang lain untuk cerita kalian?"
Baekhyun tak mengerti mengapa matanya memanas tiba-tiba. ia ingin menangis namun rasanya konyol ia lakukan. Bibirnya ia kulum kuat sedang pandangan memburam menatap Natalie satu dalam sisa keinginan.
Natalie mendesah pelan disana.
"Richard memang mengatur ingatanmu, Baekhyun. Tapi Richard tidak bisa mengatur hatimu. 2 tahun kalian menghabiskan waktu bersama, cobalah untuk tidak munafik… jujurlah pada dirimu sendiri apa yang kau rasakan pada Richard? Bagaimana debar jantungmu padanya, bagaimana wajahnya membayangi tidur malammu dengan kehadirannya." Tutur Natalie lelah. Nafasnya ia tarik untuk kesekian kalinya hari itu, sebelum melarikan birunya pada sipit Baekhyun yang basah.
"Jadi intinya Baekhyun, yang menyebabkan kematian ayahmu adalah aku, yang menyababkan kecelakaan itu. Jika kau bertanya lagi mengapa aku melakukannya, karena Feuer berharga untukku. Ayahku membangunnya bersama dengan ayah Richard, Richard mungkin tak begitu peduli karena dia memiliki Litch, tapi aku tidak. Bagi Richard posisinya lebih penting daripada Feuer, tapi Feuer adalah segalanya bagiku. Jadi bisakah kalian hentikan drama gengsi kalian dan biarkan Richard kembali menjadi dirinya sendiri?" Natalie menatap Baekhyun penuh harap. "Feuer tidak dalam kondisi yang bagus sekarang, keadaannya benar-benar kacau dan aku membutuhkan Richard untuk menstabilkan keadaan Feuer kembali."
Natalie mendekati Baekhyun, meraih tangan carrier itu dan ia seketika terkejut mendapati betapa dingin lentik tangan itu. namun Natalie mengabaikannya, mungkin respon ekspresif tubuh Baekhyun yang terguncang atau hal lain.
Natalie mengenggam tangan itu, meremasnya lembut benar menaruh harapannya kepada lelaki itu.
"Hanya kau yang dapat melakukannya, Baekhyun. Untukku, kumohon… jujurlah pada dirimu sendiri, jujurlah pada perasaanmu sendiri dan berhenti mengombang-ambingkan Richard seperti ini."
Baekhyun tidak mendengarkan lagi. Ia tak mendengarkan permohonan Natalie sama sekali, seluruh pendengarannya terkunci akan 1000 rasa bersalahnya kepada Chanyeol. satu-satunya yang ia pikirkan adalah, bagaimana bisa dia sekejam ini?
Chanyeol… apa yang sudah kulakukan padamu?
Baekhyun menarik tangannya sepihak lalu memaksa tungkainya untuk menegak kembali. Langkahnya menapak tanpa tenaga sebelum akhirnya jatuh limbung pada lantai dan membiarkan tangis lepas disana.
"Baekhyun!" Natalie menyongsong lelaki itu dengan panik. Apa yang ia ceritakan mungkin membuat Baekhyun terkejut, terguncang dan ia mulai takut jika nyatanya itu mempengaruhi kesehatan lelaki itu.
Baekhyun tak menanggapi. Ia meraung memengang perutnya yang semakin sakit dan Natalie kelabakan. Baekhyun merintih bersama dengan lucuran air mata yang menggenangi wajahnya.
"Ba-bayiku…" rintihnya tertahan.
"Baekhyun kau akan melahirkan atau bagaimana—" Natalie seketika tercekat, kalimatnya terpotong ketika ia lihat aliran bening mengucur jatuh cari paha Baekhyun dan mengotori lantai di bawahnya.
"What the fuck Baek, ketubanmu pecah!"
Cocot: maciaaawwww (lagi) udah baca, see you di chap terakhir :D
