Because Of Love

.

.

Main cast :

Cho Kyuhyun.

Lee Sungmin.

Choi Siwon.

Kim Kibum.

.

Author : ChominJoy

Rate : T

Genre : Romance, Hurt/comfort.

Warning : Typo(s) dimana-mana, gaje, abal-abal, absurd, enggak sesuai EYD.

Disclaimer : Kyuhyun milik Sungmin, Sungmin milik Kyuhyun, mereka milik Joyers!

Ff ini murni buatan saya. Don't bash my fic! Don't like don't read! No plagiat, okay!

Summary : Bahagia, hanya itu saja yang Sungmin mau, bahagia bersama orang yang ia cintai. Apa itu begitu sulit untuk mendapatkannya? "Aku hanya ingin bahagia bersamamu, Cho Kyuhyun.."

.

Chapter 12

.

"Eomma.. eomma sedang apa?"

Nyonya Cho menoleh ke belakang dan tersenyum kecil melihat sang putra yang baru saja memasuki kamarnya.

"Ah.. ini.. Eomma sedang melihat-lihat album foto," kata Nyonya Cho sambil membalik lembar foto selanjutnya. "Kau tidak berangkat sekolah?"

Kyuhyun berjongkok di hadapan Eommanya dan ikut memperhatikan lembar demi lembar foto yang menggambarkan dirinya, sang Eomma dan Appa.

"Sebentar lagi, lagi pula ini masih terlalu pagi." jawab Kyuhyun.

Nyonya Cho mengangguk kecil. Lalu kembali membalik lembar foto selanjutnya. Wanita itu tersenyum kecil saat melihat gambar dirinya dan mendiang suaminya berada di altar, mengucapkan janji suci di depan Tuhan dan banyak orang. Betapa bahagianya ia dulu. Mengadu pada sang suami karena masakan pertama yang ia buat gagal, menceritakan keluh-kesah padanya, bercanda-tawa sebelum tidur, dan masih banyak lagi kesenangan yang ia rasa masa itu. Tapi sekarang.. ia harus menanggungnya seorang diri. Tak ada lagi cerita seperti dulu. Yang tersisa hanya kenangan.

Mata Nyonya Cho mulai berkaca-kaca. Melihat itu, Kyuhyun pun mencoba menetralisir suasana yang terjadi.

"Apa Eomma sudah sarapan?" tanya Kyuhyun.

Nyonya Cho menghela nafasnya. "Eomma rindu Appa, Kyu.."

Kyuhyun terlihat kelabakan. Tak ingin saja melihat Eommanya bersedih lagi. Kyuhyun ikut menghela nafasnya. "Ada Kyu di sini.. Eomma tak perlu khawatir.."

Nyonya Cho tersenyum sambil memejamkan matanya sebentar. Mengangguk kecil mengiyakan ucapan sang putra. "Kyu.."

"Ne Eomma?"

"Jika suatu hari kau jatuh, cobalah bangkit, jangan terpuruk dengan keadaanmu nanti. Jika suatu saat nanti tak ada yang percaya padamu yakinlah bahwa ada satu orang yang membantumu, menenangkanmu dari keterpurukkanmu. Percayalah jika Eomma melindungimu nanti.."

Kyuhyun menggenggam tangan Nyonya Cho. "Ne, pasti.." ia tersenyum. "Mari kita lihat foto yang lain."

Nyonya Cho pun membalik lembar selanjutnya lagi. Kyuhyun tersenyum saat melihat gambaran dirinya saat bayi. "Apa itu benar diriku? Mengapa gemuk sekali?"

"Bukan, ini Cho Kyuhyun. Putra Eomma yang pintar tapi nakal." bisik Nyonya Cho. Kyuhyun terkekeh kecil.

"Mm.. bagaimanapun juga Cho Kyuhyun itu tetap tampan, bahkan terlalu tampan.." sombong Kyuhyun. Mereka tertawa bersama-sama.

"Sungmin, apa kabarnya dia?" tanya Nyonya Cho tiba-tiba mengalihkan pembicaraannya yang menuju pada sang kekasih.

Kyuhyun mengernyitkan dahinya. "Sungmin? Dia baik-baik saja. Eomma merindukannya?" Kyuhyun terkekeh kecil. Rasa hati sebenarnya masih terasa ganjal. Kejadian beberapa hari lalu, ah lebih tepatnya ucapan Eommanya tentang Sungmin masih melekat dalam pikirannya. Dan itu membuatnya takut. Takut jika ia akan kehilangan gadis itu.

"Kyu, Eomma tahu kau benar-benar mencintainya. Maafkan Eomma atas ucapan Eomma hari itu, mungkin tak seharusnya Eomma berkata seperti itu tentang Sungmin. Sungmin memang anak baik, dia juga sepertinya sangat mencintaimu. Eomma benar-benar minta maaf jika Eomma membuatmu marah saat itu." tutur Nyonya Cho sambil mengelus punggung tangan Kyuhyun.

"Ne, tak apa Eomma.. aku tak marah pada Eomma, aku terlalu menyayangi Eomma untuk melakukan itu." Kyuhyun tersenyum manis membuat Nyonya Cho tersenyum bahagia.

"Kau benar-benar akan menikahinya nanti hmm?" tanya Nyonya Cho membuat Kyuhyun tersenyum malu. "Kyu.."

"Mm?"

"Maukah kau berjanji untuk Eomma?"

"Apa itu?" Kyuhyun menatap Nyonya Cho dengan serius. Nyonya Cho memegang kedua lengan Kyuhyun dan menatap putranya dalam.

"Jika kau benar-benar menyayanginya, jaga Sungmin baik-baik, jangan buat ia bersedih, jangan menyakitinya. Kau tahu, hati seorang wanita itu terlalu rapuh untuk disakiti."

Kyuhyun lagi-lagi tersenyum walau hatinya merasa ada yang berbeda, sesuatu yang ganjil, mungkin.

"Ne, aku pasti menjaganya. Jadi Eomma merestuiku dengan Sungmin?"

"Kau masih belum cukup umur." Nyonya Cho menepuk pelan pipi Kyuhyun.

"Kkk~ ya sudah, Kyu berangkat dulu, Eomma. Eomma istirahat saja, jangan mengurusi kebun terus. Eomma bisa menyuruh Kim Ahjumma untuk mengurusnya, ne.." ingat Kyuhyun.

"Mm.. sudalah.. cepat berangkat. Kau bisa telat nanti. Hati-hati di jalan, Kyu."

Kyuhyun mengangguk dan mencium kening sang Eomma terlebih dahulu sebelum pergi.

"Kyu.." panggil Nyonya Cho saat Kyuhyun sedang membuka pintu kamarnya.

"Ne Eomma?"

"Suatu saat nanti itu pasti terjadi. Eomma harap, kau bisa menjadi dirimu sendiri, jangan dengarkan kata orang lain, Kyu. Eomma yakin kau bisa mengubah hidupmu nanti, kau harus merubahnya. Jika waktunya tiba, Eomma tidak mau melihatmu sedih. Berjanjilah terus tersenyum, Kyu. Eomma menyayangimu.."

Lagi-lagi perasaan aneh muncul dalam hatinya. Walau begitu, Kyuhyun tetap tersenyum pada sang Eomma. Setelahnya ia pun keluar dari kamar Nyonya Cho.

Kyuhyun ikut membungkukkan tubuhnya saat para maid yang berpapasan dengannya membungkuk hormat. Kyuhyun menuruni anak tangga dan tersenyum saat melihat Han Ahjussi yang berjalan ke arahnya.

"Selamat pagi Tuan muda.." Han Ahjussi membungkukkan setengah badannya pada Kyuhyun

"Ne, pagi.." balas Kyuhyun. "Han Ahjussi ingin ke atas?" tanya Kyuhyun.

"Ye Tuan."

"Bertemu Eomma? Ada apa?"

"Mm.. begini.. saya ingin memberitahu pada Nyonya Cho tentang Cho Corp."

"Ada apa dengan perusahaan Cho? Apa terjadi sesuatu? Katakan padaku saja. Eomma terlihat sedang lelah." kata Kyuhyun penasaran.

"Baiklah, saya ingin memberitahu bahwa Cho Corp mengalami kebangkrutan. Tidak ada yang mengurusi perusahaan Cho semenjak Tuan Cho meninggal." jelas Han Ahjussi membuat Kyuhyun terkejut.

"Bagaimana bisa? Tidak adakah yang mencoba memperbaikinya? Appa memang bertanggung jawab di Cho Corp tapi tidak mungkin jika tidak ada satupun pegawai atau sekertaris di sana mencoba membantu tanggung jawab Appa. Jika memang benar, berarti selama ini mereka hanya bergantung pada Appa, dan Appa sangat bekerja keras untuk Cho Corp, begitu?" tutur Kyuhyun. Ia benar-benar tidak habis pikir jika perusahaan Cho bangkrut hanya karena Appanya meninggal.

"Beberapa pegawai sedang mencoba untuk membuat promosi atau iklan. Rencananya mereka akan melakukan kerja sama dengan perusahaan lain. Maka dari itu saya ingin melapor pada Nyonya Cho." jelas pria paruh baya itu.

"Jangan! Eomma akan sangat terkejut dengan berita ini. Eomma benar-benar belum pulih. Membayangkan Eomma terkejutpun aku tidak akan tega. Laporkan apa yang terjadi padaku saja."

"Tapi-

"Aku putra Appa, aku punya tanggung jawab untuk membantu pekerjaan Appa jika sudah seperti ini." cegah Kyuhyun membuat Han Ahjussi mengangguk mengerti.

"Baiklah Tuan.."

"Lakukan saja kerja sama itu jika memang itu menguntungkan untuk perusahaan Cho. Tapi kita harus berpikir dua kali untuk melakukannya, jangan sampai kita malah semakin jatuh ke dalam."

.

.

Hari ini Sungmin terlihat lebih ceria dari dua hari sebelumnya. Dua hari tanpa Kyuhyun membuat kehidupannya seakan mati. Ya walau nyatanya ia sempat pergi ke panti asuhan untuk mencoba mencari hiburan kemarin. Dan kematian itu hilang saat dirinya bertemu dengan Kyuhyun.

Oh.. Sungmin tak tahu lagi harus bagaimana jika saat itu ia tak bertemu Kyuhyun, pasti setiap malam ia akan menangisi kepergiannya. Tapi untungnya, ia bisa menahan Kyuhyun melakukan niatnya untuk tinggal di Amerika.

Sungmin tersenyum kecil kala mengingat kejadian kemarin. Kalau dipikir-pikir itu sangat memalukan. Rasanya ia merasa aneh pada dirinya sendiri. Ingat bukan kalau dulu ia sangat pendiam? Tapi kemarin ia benar-benar jauh dari kata pendiam. Berteriak, menangis dan membentak seorang lelaki, memaksa orang itu hingga ia sudah berani menyatakan perasaannya pada laki-laki itu. Itu Benar-benar memalukan.

"Kenapa kau senyum-senyum seperti itu?"

Sungmin mengerjab lalu menoleh pada seorang laki-laki yang kebetulan sedang ia pikirkan itu. Ia sampai lupa jika ia tengah bersama Kyuhyun sekarang. Sungmin tersenyum malu untuk mengakuinya. Kyuhyun menggeleng kecil sambil menatap kembali jalan dengan fokus. Ia sedang menyetir saat ini, lebih tepatnya berangkat sekolah bersama yeojanya.

"Perasaanmu sudah membaik sekarang?" tanya Kyuhyun lagi.

"Maksudmu?" Sungmin mengerutkan dahinya bingung.

"Ya seharusnya perasaanmu hari ini sangat bahagia karena pangeran tampanmu sudah kembali. Kemarin-kemarin perasaanmu sangat sedih karena pangeran tampanmu itu pergi bukan?" Kyuhyun tersenyum miring.

Sungmin mendengus tak suka. Kenapa pagi-pagi seperti ini Kyuhyun sudah menggodanya. "Siapa yang kau maksud pangeran tampan?"

"Hmm.. pura-pura tak tahu. Kau ingat, bahkan saat itu kau menangisi pangeran tampanmu. Dia hebat bukan, bisa membuat orang sependiam dirimu menjadi seperti itu. Hebat 'kan?" Kyuhyun menoleh sebentar sambil mengedipkan sebelah matanya.

Sungmin tak bisa menutupi rasa malunya pada Kyuhyun. Ia pun mengalihkan pandangannya ke jendela mobil.

"Min.."

Sungmin tak menggubris panggilan Kyuhyun. Ia benar-benar merasa malu. Pasti sekarang Kyuhyun akan menggodanya lagi. Namja itu benar-benar menyebalkan.

"Menurutmu bagaimana pangeran tampanmu itu?"

Sungmin tetap diam pada posisinya, tak berniat untuk menoleh pada Kyuhyun ataupun menjawab godaannya. Hal itu lantas membuat Kyuhyun tersenyum. Walau Sungmin tak pendiam lagi, tapi Sungmin tetap dan masih pemalu. Ia akan diam jika sudah merasa malu. Manis bukan?

"Jika dia pengeranmu berarti kau adalah putrinya ya?" Sungmin tetap diam. "Atau permaisuri?" goda Kyuhyun lagi.

Sungmin malu plus kesal. Kesal karena Kyuhyun terus asik menggodanya. Sungmin juga tidak suka saat Kyuhyun bicara seolah-olah ia membanggakan dirinya. Dia berlebihan atau sombong?

"Kau malu?" goda Kyuhyun sambil melirik Sungmin. Sungmin tak berkutik. "Baiklah, aku tak akan bicara lagi." ucap Kyuhyun malas setelah melihat Sungmin yang hanya diam tak mau melihatnya sedikitpun.

Suasana di dalam mobil pun menjadi sunyi, hanya ada suara mesin mobil yang menemani mereka. Sungmin terus diam menatap pemandangan di luar kaca mobil. Sedang Kyuhyun, jujur, ia sedang mengumpat dalam hati. Kesal saja karena Sungmin benar-benar diam, padahal ia menggodanya, tapi sulit sekali mendapatkan tingkah malu-malu Sungmin. Ia hanya bisa melihat raut malunya saja, dan itupun Sungmin selalu mencoba menghindar dari tatapannya.

Memang walaupun ia hanya bisa melihat wajah merona Sungmin, ia merasa sangat senang. Itu adalah hal yang meyenangkan. Tapi ia ingin Sungmin lebih malu-malu lagi padanya. Seperti mengatakan 'Kyu.. hentikan..' atau 'kau menyebalkan.' sambil memukul-mukul lengannya. Bukankah itu terlihat sangat manis?

Biarlah, untuk sekarang ia harus mencoba melupakan permasalahan Cho Corp terlebih dahulu. Walau pikirannya masih mencoba berpikir keras mencari cara untuk melewati masa kebangkrutan perusahaan Appanya saat ini.

Tak terasa mereka pun sudah sampai di sekolah. Kyuhyun keluar untuk membukakan pintu mobil untuk Sungmin. Sungmin merasa Kyuhyun terlalu berlebihan. Ia hanya tak ingin murid-murid memikirkan hal-hal yang tidak-tidak tentang dirinya. Ya walau memang mereka sudah mau menyapa bahkan berteman dengannya, tapi secara sadar atau tidak, Sungmin yakin sebagian dari mereka masih tak suka padanya.

Kyuhyun mengamit tangan Sungmin dan berjalan bersama di koridor melewati murid-murid yang menatap mereka dengan berbagai macam tatapan. Ada yang menatap mereka sambil tersenyum entah mendukung atau apa, ada yang terlihat kebingungan, ya mungkin karena mereka merasa bingung saat melihat Kyuhyun dan Sungmin kembali bersama, karena kemarin-kemarin sekolah ramai dengan berita Kyuhyun menghianati Sungmin, saat itu juga mereka sangat kaget, mereka baru tahu kalau Kyuhyun mempunyai kekasih selain Kibum. Dan yang sedikit tak disuka Sungmin adalah tatapan para yeoja yang menatapnya dengan tak suka. Mungkin mereka merasa Sungmin tak pantas bergandengan dengan Kyuhyun. Hh.. wajarlah, Kyuhyun punya banyak penggemar disini.

Dan satu lagi. Sungmin tak tahu harus bagaimana kala matanya beradu dengan mata Kibum. Sorot mata Kibum begitu tajam padanya. Rasanya sangat sakit melihatnya. Rasanya memalukan juga, Sungmin malu pada dirinya sendiri mengingat karena ialah Kyuhyun dan Kibum putus, ialah pengganggu hubungan mereka, ialah yang mengambil Kyuhyun dari tangan Kibum.

Sungmin mencoba melepaskan genggaman Kyuhyun, tapi Sungmin tak bisa melawan genggaman Kyuhyun yang malah semakin kuat. Sungmin tak tahu Kyuhyun sadar atau tidak jika ia seperti ini karena ada Kibum, karena dilihat dari wajahnya, Kyuhyun terlihat sangat santai dan tenang.

"K-Kyu.. lepaskan.." bisik Sungmin.

Kyuhyun menoleh dan mengernyit. "Wae?"

"K-kita diperhatikan banyak orang.."

"Tak apa. Biarkan mereka tahu bahwa kau milikku."

Sungmin menghela nafasnya diam-diam. Ia hanya bisa menunduk saat melewati Kibum. Entahlah, Kyuhyun tahu itu atau tidak.

"Kudengar Appa Kyuhyun meninggal."

Bola mata Kyuhyun bergerak penasaran dengan bisikan murid-murid. Kyuhyun mengernyit mendengar nama dan Appanya disebut-sebut dalam perbincangan mereka.

"Ne, apa benar Appanya meninggal?"

"Ya, itu benar. Mungkin itu balasan karena sikapnya yang tidak baik. Pantaslah ia mendapatkannya."

Tak sadar Kyuhyun mencengkram tangan Sungmin dalam genggamannya dengan kuat. Sungmin meringis kesakitan hingga ia mencoba untuk melepaskan cengkraman Kyuhyun. Sungmin berhasil meloloskan tangannya. Ia menatap telapak tangannya yang sedikit memerah karena ulah Kyuhyun. Sungmin pun beralih menatap Kyuhyun dengan bingung. Apa yang terjadi pada Kyuhyun hingga ia sekarang terlihat seperti sedang menahan emosinya?

"Kyu.."

Kyuhyun tak sadar Sungmin memanggilnya, ia terlalu asik menguping pembicaraan murid-murid itu hingga api menyulut emosinya sendiri. Kyuhyun mengepalkan kedua tangannya dengan kuat. Langkahnya ia sengajakan pelan agar ia bisa mendengar bisikan mereka lebih lama dan lebih jelas.

"Apa Appanya tertekan mempunyai anak sepertinya?"

Dengan sekejab mata Kyuhyun berbalik dan sudah berada di hadapan orang yang membicarakannya tadi, tak lupa dengan tangan Kyuhyun yang mencengkram kerahnya dengan kuat. Lantas para murid yang ikut dalam pembicaraan itu pun terlonjak kaget.

"Kau bilang apa huh!" sungut Kyuhyun emosi.

Namja itu hanya diam ketakutan pada Kyuhyun. Kyuhyun semakin kuat mencengkram kerah namja itu. Tangan kanannya sudah mengepal kuat dan siap untuk melayangkannya pada namja itu kalau saja Sungmin tidak berlari mencegahnya.

"Kyu.. hentikan.." cegah Sungmin.

"Kau kira kau menjadi anak yang baik bagi orang tuamu huh!"

Bugh!

Sungmin semakin gencar menahan tangan Kyuhyun setelah namja tampan itu melayangkan tinjuannya. Murid-murid yang kebetulan ada di koridor pun langsung berkumpul untuk melihat aksi Kyuhyun.

"Sudah Kyu.. hentikan.."

"Kau merasa lebih baik dariku? Kau lelaki bukan? Jika kau lelaki tutup mulutmu untuk membicarkan orang dan lawanlah aku!" sungut Kyuhyun.

Kyuhyun berdecih melihat gelagat ketakutan orang di hadapannya itu. Namja itu menatap Kyuhyun dengan risih, bagaimana pun juga ia yakin Kyuhyun akan menang karena dirinya bukanlah tandingan orang yang nyatanya paling terpandang di sekolah ini.

"Kyu.. sudahlah, ayo.." Sungmin mencoba menarik tangan Kyuhyun keluar dari kerumunan itu.

"Jadilah seorang lelaki yang sesungguhnya. Seorang lelaki sejati tak menggunakan mulutnya bicara berbaur seperti mulut wanita." sinis Kyuhyun akhirnya menarik tangan Sungmin pergi menjauh dari kumpulan murid-murid tidak sopan itu. Mereka yag menonton memang tidak sopan, bagaimanapun juga mereka tak berhak mengetahui masalah orang lain dan menotonnya dengan tampang tenang seperti itu.

"Ini masih pagi, kenapa kau sudah berkelahi?" Sungmin mengelus-elus lengan Kyuhyun sambil terus berjalan menuju kelas.

"Dan ini masih pagi, kenapa namja itu sudah menggosip?" balas Kyuhyun tak mau kalah.

"Ne, sudah eoh.. jangan emosi lagi.."

Kyuhyun menoleh dan menghela nafasnya setelah akhirnya tersenyum pada Sungmin. "Maaf eoh.. aku membuatmu takut?"

Sungmin balas tersenyum. "Sedikit.."

Kyuhyun terkekeh kecil lalu mengacak rambut Sungmin dengan sayang. Kyuhyun pun menggenggam tangan Sungmin. Jujur, Sungmin sangat malu diperlakukan semanis ini dengan Kyuhyun di depan para murid. Tapi ia bisa apa? Ia tak bisa melawan Kyuhyun.

.

.

"Dasar wanita murahan!"

Yeoja berparas cantik itu tampak terus menggurutu semenjak ia melihat sang mantan kekasih bersama wanita lain yang notabenenya kini adalah yeojachingu-nya. Lebih tepatnya pengganti dirinya yang bukan milik lelaki itu lagi.

Betapa tak sukanya ia saat melihat Kyuhyun menggenggam tangan Sungmin. Dan wanita itu menerima saja Kyuhyun memperlakukannya seperti itu di depan banyak murid. Apa dia tidak malu? Seharusnya dia malu, apa dia tidak ingat kalau dia telah berselingkuh dengan kekasih orang saat itu, dan bahkan sekarang dia mengambil Kyuhyun darinya.

Ia hanya tak menyangka saja Kyuhyun bisa menyukai Sungmin. Dari sisi apa Sungmin bisa menyita perhatian Kyuhyun darinya. Dia seorang murid yang pendiam bukan? Dia juga bukan orang terpandang di sekolah ini. Asal-usul dirinya saja tidak jelas. Cara apa yang dia lakukan hingga dia bisa merebut kekasih orang lain yang bahkan dia sendiri lebih rendah darinya?

Okey, katakan dirinya ini cemburu. Yeah, walau nyatanya ia tak menyukai Kyuhyun selama ini. Hanya saja ia merasa tersaingi oleh Sungmin. Betapa bahagianya ia dulu saat masih menjadi kekasih Kyuhyun. Apa saja keinginannya, Kyuhyun pasti akan mengabulkannya. Tapi sekarang, hal itu milik Sungmin. Ia tidak salah jika dirinya bersikap seperti itu pada Kyuhyun, salahkan saja Kyuhyun yang begitu percaya padanya.

Tapi mengapa murid-murid di sini malah mengasihi Sungmin? Hey, korban yang sesungguhnya itu dirinya. Sungmin merebut Kyuhyun dari tangannya, tapi kenapa dirinya ini yang malah dipojokkan. Benar-benar kurang ajar!

"Taman sekolah memang sejuk eoh.."

Kibum menoleh dan mendapati Siwon yang telah duduk di sampingnya. Namja itu tersenyum padanya. Kibum pun mencoba untuk tersenyum, yeah lebih tepatnya sebuah senyuman palsu.

"Kau sedang apa di sini? Bel akan berbunyi sebentar lagi." ujar Siwon.

"Hanya duduk saja." jawab Kibum sambil mengalihkan pandangannya ke depan.

"Benarkah? Kukira kau sedang menenangkan diri."

Kibum menoleh kembali sambil mengernyit bingung. "Maksudmu?"

Siwon menyamankan posisinya dan mengangkat satu kakinya ke atas kakinya yang lain. Tangan kirinya sengaja melingkar di kursi di belakang punggung Kibum.

"Kurasa karena mereka kau seperti ini. Kau cemburu pada mereka?"

Kibum memutar bola matanya jengah dan memutuskan pandangannya dari Siwon. Kibum mengerti kemana arah pembicaraan Siwon. Dan itu sama seperti apa yang ia pikirkan tadi sebelum Siwon datang menghampiri.

"Aku? Cemburu?"

"Yeah, mungkin memang seharusnya begitu. Kau menyendiri di sini dan melamun setelah melihat mereka datang bersama. Kau terlihat berbeda saat melihat mereka." ucap Siwon membuat Kibum lagi-lagi menoleh padanya.

"Jadi kau memperhatikanku tadi?"

Siwon tersenyum tipis sambil mengalihkan wajahnya lurus ke depan. "Aku tidak tahu itu kebetulan atau tidak."

"Dan suatu kebetulan juga yang membawamu kemari?"

Siwon hanya mendelik sebagai respon ucapan Kibum. Yeah, semenjak tadi memang Kibum dalam pengawasan pandangannya. Ternyat Kibum cukup jeli juga, maksudnya benar kata Kibum, jika memang itu kebetulan, dirinya tak mungkin ada disini dan duduk bersama dengannya. Bukankah jika bertemu secara kebetulan itu biasanya hanya terjadi sekali? Ah lupakanlah.

"Mari ke kelas," ajak Siwon sambil berdiri dari duduknya. "Percaya atau tidak, satu.. dua.. tiga.."

Teng! Teng! Teng!

Bel berbunyi tepat setelah Siwon menghitung. Kibum hanya tersenyum acuh menanggapi hal itu. Ia pun ikut berdiri dan berjalan mendahului. Melihat itu, Siwon pun segera menyusul Kibum dan berjalan berdampingan dengan yeoja cantik itu.

"Kita berjalan bersama ke kelas seperti mereka tadi."

Kibum menoleh tidak suka. "Apa kau kira aku terobsesi untuk menjadi seperti mereka?"

"Kurasa tidak, tapi kita bisa melakukannya dengan cara kita sendiri."

"Kenapa kau selalu berbicara ambigu huh?" tukas Kibum.

"Begitu ya? Kalau begitu buatlah kalimatku agar tak terdengar ambigu di telingamu."

"Aku harus berharap agar bisa mengerti kalimatmu, begitu?" Kibum berjalan sedikit lebih cepat dari Siwon. Tapi Siwon terus menyamakan langkahnya dengan Kibum.

"Tak perlu berharap. Kau hanya perlu mendengarkannya dengan hatimu."

Kibum berhenti melangkah dan menatap Siwon bingung. Siwon mengangkat kedua alisnya sambil tersenyum menunjukan lesung pipinya. "Ada apa?"

"Aish kau ini.." Kibum menggerutu kecil sebelum akhirnya melanjutkan langkahnya.

Siwon kembali berjalan mengiringi langkah Kibum. Bibirnya kembali mengembang menjadi senyuman. Lucu saja bersikap seperti ini pada Kibum, mendekati Kibum benar-benar bukan hal yang mudah. Kibum tergolong orang yang cuek dan sedikit dingin dengan orang lain yang belum dekat dengannya. Dan Siwon sudah memiliki strategi untuk itu.

"Hey, istirahat nanti kau mau makan di kantin bersamaku?" tawar Siwon.

"Entah kenapa hari ini aku ingin sendiri."

"Oh.." Siwon mengangguk mengerti. "Kalau begitu anggap saja aku tak ada saat aku bersamamu."

Kibum tampak menghela nafasnya sebelum bungkam. Moodnya sedang tidak baik sekarang, dan bukannya ada yang membuatnya sedikit senang, malah membuatnya semakin jengah.

"Bagaimana? Kau mau?"

Kibum menghela nafasnya lagi. "Aku tak berjanji."

.

.

"Ayolah.."

"T-tapi.."

"Apa aku harus memelukmu terlebih dahulu?"

"Huh?"

Sekali lagi, yeoja itu tampak menatap Sungmin dan Kyuhyun bergantian. Ia benar-benar bimbang harus mengikuti perintah siapa. Ini hal yang pernah ia alami sebelumnya. Kyuhyun memintanya untuk pindah ke bangkunya, dan Sungmin hanya bisa diam sambil terus menatapnya penuh harap agar tak mau menuruti perintah namjachingu-nya itu. Benar-benar membimbangkan.

Sungmin terus menatap resah yeoja yang notabenenya adalah teman sebangkunya itu. Memberi isyarat padanya agar tetap duduk di bangkunya. Tapi sepertinya Kyuhyun menyadari hal itu.

Sebenarnya tak masalah jika Kyuhyun mau duduk sebangku dengannya, hanya saja.. ia merasa yakin jika saat belajar nanti ia tidak akan konsen. Walau dia adalah kekasihnya tapi tidak seharusnya dia bertingkah berlebihan seperti ini. Rasanya seperti tidak mau kehilangan dan berpisah sedetikpun. Berlebihan.

"Aku akan memelukmu jika kau mau pindah ke bangkuku."

Yeoja itu menelan salivanya diam-diam. Hey, siapa yang tidak gugup jika harus diposisikan seperti dirinya. Bayangkan jika di hadapanmu ada seseorang yang kauidolakan atau kausukai, dia orang yang tampan dan berkarisma. Dia mengatakan bahwa dia akan memeluk dirimu. Apa yang kau pikirkan saat itu selain kau mengharapkannya dan menelan salivamu?

"Kyu.. cepatlah duduk di tempatmu. Songsaenim akan masuk sebentar lagi.." ucap Sungmin berniat menggagalkan rencana Kyuhyun.

Kyuhyun menoleh pada Sungmin dan memiringkan kepalanya, menatap kekasihnya ragu. "Kau ingin aku duduk di bangkuku?"

Sungmin mengerjab polos. "U-uh.. ne.."

Kyuhyun menatap Sungmin datar. "Tsk! Aish.." desis Kyuhyun sambil kembali menatap gadis di hadapannya itu. "Kau mau?"

"Kyu.."

"Kau mau kupeluk atau kucium?"

Yeoja itu membulatkan matanya sambil menelan ludahnya kembali. Menciumnya? Astaga! Siapa yang tak menginginkannya?

Yeoja itu tampak sadar saat tangan Sungmin memegang lengannya. Ia pun menatap Sungmin resah. Ia di sekolah ini seperti Sungmin, pendiam dan korban bully. Rasanya tak pantas ia mendapatkan pelukan atau ciuman dari seorang idola sekolah ini, belum lagi dia sudah punya kekasih, dan bahkan kekasihnya ada di hadapannya.

Sungmin menggeleng kecil pada yeoja itu. Kyuhyun mencibir diam-diam saat melirik Sungmin yang sedang memberi isyarat pada yeoja itu. Tanpa basa-basi lagi Kyuhyun langsung saja memeluk yeoja itu. Yeoja itu tampak mematung dalam pelukan Kyuhyun. Sedang Sungmin, ia tampak tak percaya.

Kyuhyun pun melepaskan pelukannya membuat yeoja itu mengerjab polos, tak percaya akan apa yang ia alami. Astaga! Bahkan yeoja lain tidak bisa mendapatkan pelukan dari si idola sekolah ini dengan mudah. Atau bahkan tak pernah ada yang mendapatkannya selain kekasihnya sendiri.

"Nah.. sekarang kau ambil tasmu dan duduklah di bangkuku." Kyuhyun melirik Sungmin. "Seterusnya."

Sungmin membelalakkan matanya. Seterusnya? Sampai lulus? Oh astaga..

Yeoja itu pun mengangguk gugup dan segera melakukan apa yang Kyuhyun ucapkan tadi. Setelah yeoja itu duduk di tempatnya, Kyuhyun pun mendudukkan dirinya di bangku barunya. Beda halnya dengan Sungmin yang masih berdiri menatap Kyuhyun datar, tapi Kyuhyun tahu bahwa Sungmin sedang kesal padanya.

"Kenapa tidak duduk?"

Tidak ada jawaban. Kyuhyun menghela nafasnya dan menarik tangan Sungmin dengan lembut agar mau duduk di sebelahnya. Tapi apa yang didapatkannya? Sungmin melepaskan tangan Kyuhyun dari tangannya. Tidak kasar, hanya saja Kyuhyun jadi merasa tidak enak hati padanya.

Kyuhyun menghela nafasnya. "Duduklah.."

Sungmin memutuskan tatapannya dari Kyuhyun dan mendudukkan dirinya di samping namja tampan itu.

"Kau mar-

"Selamat pagi!"

Kyuhyun mengatupkan mulutnya saat seorang namja paruh baya memasuki ruang kelas. Tsk! Guru itu masuk di saat yang tidak tepat.

"Jangan pikirkan keberadaanku, belajarlah dengan serius, aku berjanji tidak akan mengganggumu.. maaf.."

.

.

Jam pelajaran telah usai, kini waktunya murid-murid bergegas berebut tempat di kantin. Sama halnya dengan Sungmin. Yeoja manis itu tengah duduk sendirian. Lalu kekasihnya? Kyuhyun? Entahlah, tadi dia bilang pergi sebentar dan akan kembali lagi.

Sungmin berharap, semoga saja Kyuhyun tidak pergi ke atap sekolah dan berciuman dengan yeoja lain, seperti yang ia lakukan dulu. Awas saja jika itu benar terjadi.

Sungmin beralih menatap makanan yang dipesan Kyuhyun untuknya lalu menatap ke sekelilingnya dan kembali menatap nampan berisi sepiring makanan itu.

Haruskah ia makan duduk di sini? Haruskah ia memakan makanan ini?

Ini terlalu 'jarang' untuk Sungmin. Biasanya, ia membawa bekal dari rumah, apapun itu untuk ia makan saat istirahat. Kalaupun tidak bawa bekal, ya satu-satunya cara adalah membeli sebotol air minum. Setidaknya ada yang mengisi perut kosongnya. Lalu jika pun ia bawa bekal, ia tak akan makan di tempat ini. Tempat ini terlalu ramai dan mahal.

Uang jajan sehari-harinya mana cukup untuk membeli makanan di kantin. Uang sakunya hanya seperempat persen dari harga makanan-makanan ini. Sedang mereka, mereka tampak tak terbebani untuk membeli makanan kantin ini. Mereka punya cukup uang bahkan lebih.

Mereka punya orang tua untuk meminta. Mereka punya orang tua untuk memberi. Mereka juga punya orang tua untuk mengasihi. Bahkan Sungmin ingin tahu bagaimana rasanya meminta uang jajan kepada orang tua, bagaimana rasanya saat mereka memberikan apa yang ia inginkan, dan bagaimana rasanya berpamitan pada orang tua saat berangkat sekolah. Ah.. sedihnya jika mengungkit hal itu.

Sungmin tersenyum miris sambil menghela nafasnya. Ini tempat umum, jangan sampai ia menangis disini. Memalukan bukan?

"Kenapa tidak dimakan?"

Kyuhyun? Ah, bukan. Suaranya tidak senyaring ini. Sungmin pun menoleh dan mendapati sosok wanita cantik yang.. tersenyum dingin padanya.

Yeoja itu mendudukkan dirinya di hadapan Sungmin. Sungmin tampak gugup dan takut membuat yeoja itu tersenyum merendahkannya. Bagaimana tidak? Kibum. Kibum ada di hadapannya. Apa yang akan ia dapatkan nanti? Apa Kibum akan menamparnya seperti waktu itu?

"Kemana Kyuhyun?" tanya Kibum lagi.

Sungmin tak menjawab. Ia tak punya cukup nyali untuk menjawab.

"Kenapa tidak menjawab?"

Sungmin menatap Kibum ragu. "K-Kyuhyun.. d-dia pergi sebentar.."

"Beberapa hari dia tidak masuk. Apa kabar dengannya? Kudengar Appanya meninggal."

"N-ne.." Sungmin menunduk.

"Kasihan sekali dia. Apa.. dia menangis? Atau melakukan sesuatu yang gila seperti.. bunuh diri?"

Sungmin langsung mendongak menatap Kibum. Entah kenapa mendengar Kibum bicara seperti itu membuat hati Sungmin berdenyut sakit. Tangan Sungmin bergetar membayangkan apa yang Kibum ucapkan. Membayangkan hal yang benar pernah Kyuhyun lakukan.

Detik itu juga Sungmin berharap agar Kyuhyun cepat kembali. Tak ada yang bisa ia lakukan selain bertahan atas kalimat-kalimat yang Kibum lontarkan padanya.

"Kau sendiri? Kau bahagia?" Kibum menatap Sungmin intens. "Kau bahagia Kyuhyun-

"Kau punya urusan dengan Sungmin?"

Kibum dan Sungmin menoleh. Dan akhirnya Sungmin bisa menghembuskan nafas dengan lega karena Kyuhyun datang di saat keadaan yang mencekam dirinya ini. Sedang Kibum terlihat gagap menanggapi Kyuhyun yang kini ada di hadapannya.

"U-uh.. a-aku-

"Sungmin, apa kau punya urusan dengannya?" potong Kyuhyun.

"A-aku-" ucapan Kibum terpotong.

"Aku bertanya pada Sungmin, bukan kau!" Kyuhyun kembali menatap Sungmin.

"U-umm.. K-Kibum hanya m-mengajakku makan b-bersama.." dusta Sungmin.

Kyuhyun terkekeh dingin. "Huh? Alasan macam apa itu?" Kyuhyun menggeleng kecil melihat Kibum yang bahkan tidak membawa makanan. "Ayo bangun, Min!"

"T-tapi bahkan kita belum makan.."

"Kita bisa makan pulang sekolah nanti." Kyuhyun segera menarik tangan Sungmin agar bangun dari duduknya dan membawanya meninggalkan kantin.

Kibum menatap punggung Kyuhyun dan Sungmin tak suka. Kenapa sekarang seakan ia jadi tak punya nyali jika ada di hadapan Kyuhyun, padahal dulu Kyuhyun patuh terhadap ucapannya dan memberikan apa yang ia inginkan.

"Huh! Siapa peduli!"

Kibum membalikkan badannya, dan alangkah terkejutnya ia saat Siwon ada di hadapannya. Jangan lupakan lesung pipi yang menambah senyum manisnya. Siwon melipat kedua tangannya di depan dada dan mengubah ekspresinya menjadi raut kesal.

"Mencoba lari dariku?"

Kibum memejamkan matanya sambil menghela nafas, lalu kembali menatap Siwon. Kenapa namja jangkung ini lagi-lagi datang di saat yang tidak tepat? Ia sedang kesal dan dia datang membuat dirinya lebih kesal lagi.

"Memangnya kau ada urusan denganku? Kau sudah membuat janji? Lalu apa aku menjanjikannya? Lagi pula aku sibuk. Kau harus menunggu sampai aku tidak sibuk." balas Kibum.

"Walaupun aku harus menunggu seseorang terlebih dahulu aku pasti akan tetap melakukan apa yang kuinginkan. Itulah aku.." ucap Siwon membuat Kibum memutar bola matanya malas.

"Kau baik-baik saja?"

Kibum menatap Siwon bingung. "Maksudmu? Aku baik-baik saja.."

"Benarkah kau baik-baik saja?"

Kibum mengerjab. Siwon tersenyum lagi padanya membuat Kibum menunduk. "Mm.. menurutmu bagaimana?"

"Lupakanlah. Kau mau makan? Atau kau mau ke taman?"

Kibum mendongak. Entahlah, melihat Siwon tersenyum.. sepertinya ia begitu tulus. Matanya menunjukkan bahwa ia tak main-main. Tidak seperti saat dirinya menatap Kyuhyun. Yah.. mungkin apa yang dibilang murid-murid benar, Kyuhyun mungkin hanya mengaguminya saja.

"Hey.. kenapa diam?" ucap Siwon membuat Kibum sadar. "Jadi bagaimana? Kau mau makan atau ke taman?"

Kibum diam sejenak, tampak berpikir dahulu. "Di taman tidak panas 'kan?"

Siwon tersenyum senang. "Ada pohon yang menjadi payung kita."

Kibum mengangkat kedua alisnya, menatap remeh Siwon. "Kalau tidak ada pohon?"

"Kau ini.. kau hampir tiga tahun sekolah disini. Kau tidak tahu kalau di taman sekolah ada pohon? Ckckck.." Siwon menggeleng kecil. Setelahnya menatap Kibum datar. "Tapi jika itu benar, kau bisa andalkan aku untuk menjadi payungmu."

Kibum terkekeh kecil. Apa-apaan itu? Apa itu sebuah godaan? Astaga..

.

.

"Apa? Apa yang kau bicarakan dengan dia?"

"Kami.. kami tidak bicara apa-apa Kyu.. Kibum hanya mengajakku makan bersama tadi." jelas Sungmin sambil melepaskan tangan Kyuhyun yang memegang pergelangan tangannya.

Sungmin.. Sungmin.. apa dia tidak punya alasan lain. Jelas-jelas Kibum tadi tidak membawa makanan saat duduk bersamanya. Ckckck.. Lee Sungmin..

"Berbohong?" Kyuhyun menatap Sungmin intens.

"Baiklah.. Kibum tadi menanyakan kabarmu." jawab Sungmin akhirnya.

Kyuhyun terkekeh kecil. Terkekeh meremehkan lebih tepatnya, dan itu menuju pada Kibum. Wanita itu menanyakan kabarnya dalam perspektif baik atau buruk?

"Dia? Menanyakan kabarku? Haha.." Kyuhyun menggeleng kecil atas ucapan Sungmin.

"N-ne.. mungkin maksudnya.. ia juga turut berduka atas meninggalnya Appamu." Sungmin menatap Kyuhyun tidak enak hati.

"Ah.. lupakanlah."

Kyuhyun mendudukkan dirinya di rumput di bawah pohon. Melihat Kyuhyun mau tak mau Sungmin pun mengikutinya. Lalu keduanya pun larut dalam diam. Sungmin melirik Kyuhyun dari ujung matanya. Wajahnya datar tertahan, seperti ingin menguarkan sesuatu yang membelit hatinya. Sepertinya mood Kyuhyun berubah semenjak di kantin tadi. Atau bahkan semenjak pagi tadi? Kyuhyun terlihat sedang berfikir keras dan sedih secara bersamaan.

Melihat Kyuhyun seperti itu Sungmin jadi tak tega. Ia paham, ia paham betul maksud Kibum menanyakan kabar Kyuhyun tadi. Dari nada bicaranya pun seperti menunjukan kesenangan. Entahlah, Sungmin pikir mungkin Kibum seperti itu karena dia kecewa Kyuhyun memutuskannya. Ya begitulah sepertinya.

Dan Kyuhyun juga pasti mengetahuinya. Ah.. Sungmin semakin tidak tega. Maksudnya, Ia tidak tega karena Kyuhyun harus merasakan orang lain bersikap buruk padanya di saat ia sedang berduka. Masalah tadi pagi juga pasti masih membelit perasaannya. Dimana murid-murid menatapnya rendah dan membicarakan hal buruk dirinya di belakang. Pasti rasanya menyakitkan dan menyedihkan.

"Kyu.."

Kyuhyun tidak menjawab maupun menoleh. Ia hanya menghembuskan nafasnya, membuat Sungmin semakin merasakan apa yang Kyuhyun rasakan kini.

"Kyu.."

"Mm?"

Sungmin tampak diam dan menghembuskan nafasnya diam-diam, kembali menatap Kyuhyun walau Kyuhyun tak menatapnya. "Kyu.. kau.. baik-baik saja?" tanya Sungmin hati-hati.

Kyuhyun menoleh pada Sungmin. Diam sejenak sebelum akhirnya tersenyum, senyum tertahan lebih jelasnya. "Aku memang baik-baik saja."

Sungmin menunduk mendengar jawaban Kyuhyun. Serasa ada yang mencubit hatinya saat mendengar Kyuhyun yang mencoba bersikap seolah-olah tak ada rasa sakit yang ia rasa. Melihat senyum kosongnya juga..

'Bolehkah kuharapkan sesuatu sekarang? Tuhan.. aku ingin cukup hanya aku yang seperti ini, cukup aku..'

"Kyu.." panggil Sungmin lembut dan berhati-hati. "T-tidakkah kau merasa se-

"Ah.. di sini benar-benar sejuk ya.. pantas saja kau senang berada di sini."

Sungmin memejamkan matanya, menahan air mata yang ternyata sudah menumpuk di pelupuk matanya. Ia tak boleh menangis, bukankah ia sudah berjanji tidak akan menangis di depan Kyuhyun.

Apa ini semacam pengalih pembicaraan? Atau pencairan suasana? Mengapa rasanya ia semakin yakin bahwa Kyuhyun menyimpan rasa sakit diam-diam? Apa rasanya melebihkan yang ia rasa selama ini?

"Kyu.. maaf.." gumam Sungmin.

"Mwo? Maaf? Untuk apa?"

"Maaf.." Sungmin semakin merapatkan matanya tertutup. Berharap bahwa air mata tidak akan jatuh. "Maaf Kyu.."

Kyuhyun mendekat, tangannya bergerak mengangkat wajah Sungmin agar tak menunduk. Lalu kedua tangannya membelai pipi Sungmin dengan lembut. "Ada apa ini? Kenapa kau meminta maaf padaku?"

"Maaf Kyu.. semua karenaku.." Sungmin membuka matanya perlahan. "Kumohon teruslah tersenyum, jangan mencoba untuk merasakan apa yang kurasa. Kumohon Kyu.."

"Apa maksudmu? Mengapa matamu berkaca-kaca? Jangan mencoba untuk menangis, Min. Kau sudah berjanji.."

Sungmin menghela nafasnya. "Tidak, aku tidak menangis. Kyu, aku pergi sebentar." Sungmin berdiri dari duduknya.

"Kau mau kemana?"

Sungmin tersenyum. "Aku ingin membeli air minum."

Setelahnya Sungmin berjalan menunduk meninggalkan Kyuhyun yang menatap punggungnya bingung. Sungmin merasa tidak sanggup melihat wajah lelah Kyuhyun. Sedang, air mata sudah menumpuk ingin terjun.

Kyuhyun menghembuskan nafasnya panjang. Lalu kembali ke posisi semula. Biarlah.. Sungmin pasti ke kelas, ia bisa menyusulnya nanti. Lagi pula ia sudah nyaman duduk di sini.

Kyuhyun mengedarkan pandangannya. Ia melihat Siwon dan Kibum di sana. Sedang duduk mengobrol. Kibum terlihat tak memperdulikan adanya Siwon, sedang namja itu terlihat terus mengoceh, tapi sesekali Kibum juga terlihat bicara. Bahkan kini mereka tertawa bersama. Sudah mulai dekat rupanya..

Kyuhyun memutuskan pandangan dari mereka. Menyamankan posisi duduknya lalu menyender pada pohon di belakangnya. Memejamkan matanya mencoba untuk istirahat sejenak. Akhir-akhir ini ia merasa lebih lelah dari biasanya. Belum lagi beban batin yang menindih semangatnya.

Tak terasa beberapa menit berlalu. Kyuhyun pun membuka matanya dan menatap sekeliling. Sepertinya bel masuk belum berbunyi tapi Kibum dan Siwon entah kemana menghilang. Biarlah..

Kyuhyun pun bangun dari duduknya dan membersihkan celananya yang sedikit kotor karena rumput. Berjalan meninggalkan taman sekolah. Saat Kyuhyun melangkah memasuki koridor, baru saja ia ingin berbelok tapi karena sesuatu yang ia lihat di depan, Kyuhyun pun berhenti dan mundur beberapa langkah.

Matanya bergerak resah dan curiga. Di sana, di ujung tangga ia melihat dua orang berpelukan. Sepertinya ia mengenal orang itu. Seperti.. Siwon. Dan.. Sungmin.

Kyuhyun berupaya untuk mengintip diam-diam. Benar saja. Itu Sungmin dan Siwon. Apa yang mereka lakukan di sini? Apa maksud Siwon memeluk kekasihnya? Kurang ajar.

"Sudahlah.. jangan menangis.."

Kyuhyun mengernyit. Menangis? Sungmin menangis? Karena apa? Apa ia pergi meninggalkannya karena ingin menangis?

"Kau bisa menceritakannya padaku. Mengapa kau menangis, Min?" suara Siwon bertanya dengan lembut pada Sungmin.

Kyuhyun memejamkan matanya. Kesal saat mendengar nada suara Siwon pada Sungmin. Kyuhyun berhenti mengintip dan lebih memilih untuk mendengar percakapan mereka saja.

"Aku.. aku hanya sedih.. hiks.." isakan Sungmin terdengar di telinga Kyuhyun.

'Hebat, kau berbohong padaku. Kau menangis di belakangku, Min.'

"Apa yang membuatmu sedih?"

"Aku.. hiks.. aku hanya tidak tega pada Kyuhyun hiks.. hiks.. aku tahu bahwa Kyuhyun sangat terpukul, aku tahu bahwa Kyuhyun sedih dan marah karena semua ini. Aku tidak mau melihat Kyuhyun seperti itu hiks.. hiks.."

Deg!

Tak sadar Kyuhyun mengepalkan kedua tangannya dengan kuat. Tapi setelahnya ia melemah. Ia menyenderkan tubuhnya pada dinding. Benar, Sungmin menangis. Bahkan menangis karenanya. Jadi.. Sungmin hanya berpura-pura tersenyum tadi?

Marah, Kyuhyun marah karena Sungmin berbohong padanya. Sedih, Kyuhyun sedih karena Sungmin terlalu memikirkannya hingga ia larut dalam kesedihan yang seharusnya cukup dirasakan Kyuhyun.

"Sstt.. sudahlah.. berhenti menangis, Min. Aku mengerti. Aku juga tidak mau melihatmu seperti ini. Kau tahu bukan kalau aku menyayangimu, maka dari itu jangan seperti ini. Arraseo?"

"Hiks.. ne.."

Kyuhyun kembali mengintip Siwon dan Sungmin. Mereka kembali berpelukan. Kyuhyun tersenyum miris. Hubungan mereka sepertinya memang jauh lebih dekat dari pada hubungan Sungmin dengannya. Sahabat memang mengalahkan segalanya. Bahkan sampai membuat dirinya sakit hati.

Kyuhyun menghela nafasnya dan melangkah maju. Menatap mereka berpelukan. Mungkin karena merasa ada yang memperhatikan, Sungmin dan Siwon menoleh. Alangkah terkejutnya Sungmin saat melihat Kyuhyun yang menatapnya datar. Sungmin pun segera melepaskan pelukannya dengan Siwon. Siwon terlihat sedikit salah tingkah. Salah tingkah pada perasaan takutnya jika Kyuhyun salah paham padanya.

"K-Kyu.. k-kau-

"Aku mengerti, Min."

"Kyu.."

"Lanjutkan saja.." Kyuhyun berjalan pergi meninggalkan Siwon dan Sungmin yang tampak resah.

"Bagaimana ini Siwon-ah.. Kyuhyun salah paham.." Sungmin menatap punggung Kyuhyun gelisah.

.

.

Mereka tampak diam. Tak mau mengeluarkan suara masing-masing. Tak mau mengutarakan perasaan masing-masing. Terlalu asik memikirkan bagaimana nantinya. Apakah mereka akan keluar dari kesalahpahaman ini?

Masing-masing hanya bisa mengutuk dirinya sendiri. Mengatakan bodoh pada dirinya masing-masing. Bodoh karena telah membuat pasangannya salah paham, dan bodoh karena merasa dirinya naif.

Sungmin melirik Kyuhyun dari sudut matanya. Merasa benar-benar bersalah dan bingung atas sikap dirinya.

"Kyu.."

Kyuhyun hanya berkutik tanpa menjawab panggilan Sungmin. Sungmin memejamkan matanya sesaat sambil menghela nafasnya, lalu kembali menatap Kyuhyun.

"Kyu maaf.. tadi.. kau salah paham." untuk kali ini hanya itu yang bisa Sungmin utarakan.

"Ne, aku tahu."

Sungmin memejamkan matanya lagi. "Maafkan aku.."

Kini giliran Kyuhyun yang menutup matanya sesaat. Pasti, ia pasti memaafkannya, hanya saja.. hatinya terlalu berlebihan menanggapi kejadian di sekolah tadi. Berlebihan sampai ia berpikir yang tidak-tidak pada Sungmin.

"Tidak perlu meminta maaf." ucap Kyuhyun datar.

Sungmin membuka matanya dan menatap Kyuhyun. Wajahnya kembali memperlihatkan raut sedihnya. "Kau terlihat lebih diam dari biasanya, Kyu.."

"Benarkah?" ujar Kyuhyun acuh tak acuh.

"Kyu.. kau marah?"

Kyuhyun memutar bola matanya malas sambil menghela nafasnya. Ia menyenderkan kepalanya di bantalan kursi mobil. Tak memperdulikan ucapan Sungmin.

"Apa.. kau cemburu?"

Kyuhyun tertawa renyah atas ucapan Sungmin, lalu ia kembali diam.

"Mungkin kau salah paham. Siwon menyayangiku sebagai sahabat. Kau tak perlu seperti ini, Kyu.."

"Bagaimana aku tidak seperti ini jika kekasihku mengingkar janji!"

Sungmin diam menatap Kyuhyun yang juga menatapnya dengan kesal. Sedikit bingung dengan ucapan Kyuhyun. Janji apa yang ia ingkari sampai Kyuhyun marah seperti ini padanya?

"Kau sudah berjanji untuk tidak menangis, apa lagi karenaku. Tapi lihat, kau melakukannya. Bahkan di belakangku. Di depanku kau berpura-pura baik-baik saja. Tapi nyatanya kau menyembunyikan perasaanmu sendiri dari kekasihmu ini, Min."

Sungmin menunduk mendengar penuturan Kyuhyun. Benar, ia mengingkari janjinya. Tapi ia menangis bukan karena Kyuhyun. Ia hanya sedih melihat Kyuhyun yang seakan bersikap baik-baik saja di depannya.

Sungmin pun mendongak dan menatap Kyuhyun. "Lalu kau sendiri? Kau juga menyembunyikan perasaanmu yang sesungguhnya bukan?"

"Ya! Aku menyembunyikannya karena aku menyayangimu!" sungut Kyuhyun. Sungmin membelalakan matanya. "Kau tidak tahu betapa berharganya dirimu bagiku. Mendengar kau bertanya apakah aku baik-baik saja pun aku sedih. Aku tahu jika di saat itu kau tengah memikirkan keadaanku, dan aku tahu bahwa kau sedih karena keadaanku. Melihatmu seperti itu aku pun sedih, apalagi jika melihatmu menangis, Min. Apa yang harus kulakukan jika kau menangis huh?"

Sungmin diam antara sedih dan tertegun. Menunduk sambil memejamkan matanya.

"Apa yang harus kulakukan? Mengatakan padamu untuk berhenti menangis dengan lembut? Ya itu bisa saja. Bisa saja kau menangis lagi tanpa sepengetahuanku nanti. Lalu apa yang harus kulakukan, Min? Katakan!" Kyuhyun memejamkan matanya yang memanas dan kembali menatap Sungmin yang menunduk. "Apa yang harus kulakukan jika kau menangis diam-diam? Menangis dalam pelukan orang lain, menceritakan perasaanmu pada orang lain. Bahkan kukira kau akan menceritakannya padaku, bukan dia."

"Siwon hanya sahabatku, Kyu.."

"Ne, aku tahu!" balas Kyuhyun. "Dia sahabatmu yang lebih tahu segalanya tentang dirimu, dia sahabatmu yang selalu ada untukmu, dia sahabatmu yang bisa menenangkan dirimu.."

Sungmin menatap Kyuhyun. "Kau tak seharusnya cemburu pada Siwon.."

"Aku tidak cemburu!" jawab Kyuhyun cepat dengan tidak suka. "Aku.. aku hanya kesal! Bagaimana aku tidak kesal jika kekasihku lebih memilih menceritakan kelus-kesahnya pada orang lain dibanding kekasihnya sendiri? Aku kesal karena kau juga berbohong. Kau menangis di belakangku. Apa aku salah jika aku kesal huh?"

Kyuhyun menatap Sungmin lelah. Melihat Kyuhyun seperti itu Sungmin tidak tega. Tangan Sungmin bergerak menggenggam tangan Kyuhyun. Meremasnya lembut.

"Maafkan aku Kyu.. aku salah.."

Kyuhyun menghela nafasnya dan membalas genggaman Sungmin. Ibu jarinya membelai lembut punggung tangan Sungmin.

"Jangan ulangi lagi, kumohon.. kau tak perlu memikirkan betapa sedihnya aku. Jika kau sedih, katakan padaku, katakan padaku apa yang kau rasakan, kumohon jangan pendam itu.. aku terlalu menyayangimu, Min.."

Tangan Kyuhyun beralih menarik Sungmin dalam pelukannya. Memeluk yeoja manis itu dengan penuh sayang dan mencium keningnya. Kyuhyun sedikit melepaskan pelukannya agar bisa menatap foxy Sungmin.

"Katakan padaku kalau kau juga menyayangiku.."

"Mm?"

"Ayo.."

Sungmin tersenyum malu. "Ne, aku menyayangimu, Kyu.."

Kyuhyun kembali memeluk Sungmin dengan puas. Sungmin membenamkan wajahnya di dada bidang Kyuhyun karena malu. Benar-benar Kyuhyun, di saat keadaan seperti ini pun kebiasaannya tidak bisa dilupakan. Menggombal, menggombal, dan menggombal.

Drtt.. drtt..

Kyuhyun merogoh sakunya dan mengeluarkan ponselnya. Ia melepasakan pelukannya saat melihat ID penelfon.

"Han Ahjussi?" gumam Kyuhyun.

'Semoga dia membawa kabar baik Cho Corp.'

"Siapa Kyu?" tanya Sungmin penasaran.

"Asisten rumahku." jawab Kyuhyun lalu segera menggeser ikon berwarna hijau untuk mengangkat paggilan.

"..."

"Ye, ada apa?"

"..."

Deg!

Kyuhyun mengatupkan mulutnya. Kini dadanya berdetak nyeri, darah pun berdesir dengan cepat. Kyuhyun tak bergeming, sesaat tatapan matanya terlihat kosong, membuat yeoja yang bersamanya menatapnya bingung.

Pip!

Kyuhyun kembali sadar walau ekspresi wajahnya tetap berbeda dari detik sebelumnya. Kyuhyun segera memasukkan ponsel ke sakunya kembali dan segera menjalankan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Hal itu membuat Sungmin semakin bingung, risih dan takut.

"Kyu, apa yang sebenarnya terjadi?"

Kyuhyun tak menjawab, ia terus menginjak pedal gas mobilnya hingga mobilnya benar-benar melaju cepat di jalan raya kota Seoul.

"Kyu, ada apa?"

Lagi-lagi Kyuhyun tak memperdulikan ucapan Sungmin. Ia terlalu takut untuk menjelaskannya. Hatinya terlalu takut hingga ia berpikiran yang tidak-tidak saat ini. Memikirkan sesuatu yang buruk.

Berpikir jika sesuatu yang buruk itu terjadi lagi padanya. Tidak. Ia tidak mau mengalaminya lagi. Cukup sekali ia merasakannya. Kyuhyun terlalu takut sendiri.

Ia takut karena ia terlalu menyayanginya..

.

.

Tbc

Yah.. tbc lagi..

Gimna buat chap 12nya? Jelek yh? Pasti deh kyaknya..

Mianhae..

Duh aku bingung mau ngomong apa. Lagi gk punya sesuatu yg menarik buat diperbincangkan di sini.

Ya udh deh, gitu aja kli yh. Kasih aku gaji karena udh ngebuat ff ini buat klian, gajinya yah review, okey!

So, review please..

aku tunggu, aku selalu baca reviewnya kok :)

Dah...

Salam joyers!