Prison
-Part 12-
Disclamair : Masashi Kishimoto
By : Karayukii
Pair: NaruSasu
Rat: M
WARNING: OOC TINGKAT DEWA, BL (YAOI) DAN LEMON
.
.
.
.
Ciuman Naruto begitu kasar dan dipenuhi gairah. Tangannya menahan belakang kepala Sasuke, sementara bibirnya melumat bibir penuh sang raven.
Sasuke tidak berusaha mendorongnya atau berusaha melepaskan diri dari cengkraman pemuda blonde itu. Malah sebaliknya, ia memejamkan mata dan meresapi setiap sentuhan kasar Naruto di bibirnya, walau rasanya ia akan mati karena kehabisan napas.
"Hmpph…"
Naruto melepaskan bibirnya hanya untuk menangkapnya lagi, menciumnya lebih dalam dan lebih bernafsu. Lidahnya masuk ke dalam mulutnya, menunjukkan dominasinya. Sasuke merasakan lidah Naruto bergerilya ke setiap tempat yang bisa dijangkaunya, membuat air liur menetes ke dagunya.
Tangan Sasuke mencengkram bagian depan kain Naruto, kepalanya mulai pening oleh ciuman memabukkan itu. Kekuatannya seperti terhisap habis. Kakinya gemetar dan melemah, tapi disaat pemuda raven itu akan jatuh, Naruto menangkap seluruh bobot tubuhnya ke lengan kekarnya. Dalam satu ayunan enteng, tubuh Sasuke berada digendongan Naruto. Bibir mereka masih menyatuh seakan tak ingin berpisah barang sedetikpun, sementara Naruto melangkah menuju ranjang besarnya yang hangat.
Kali ini tidak ada protesan yang terdengar dari bibir pemuda raven itu, entah karena bibirnya terkunci oleh bibir Naruto atau karena ia sedang mabuk, tapi tak ada satupun rontahan. Pemuda itu pasrah dalam gendongan Naruto. Bahkan ketika Naruto menurunkan tubuhnya ke atas ranjang dan menaikinya. Pemuda raven itu tetap tenang. Hanya memandang pemuda blonde itu dalam tatapan sayu yang menggoda. Bibir yang basah, dan pipi yang dialiri warna merah muda akibat arak yang diminumnya.
"Katakan padaku," Naruto mengecup telinga Sasuke, "apa yang kau inginkan dariku?"
Sasuke menggeliat, ketika kecupan Naruto bergerak ke lehernya dengan bertubi-tubi. Ia menangkap wajah Naruto, menengadahkannya untuk bertemu langsung dengan mata safirnya yang berkilauan.
Bibir merah sedikit bergetar sebelum akhirnya bergerak dan berkata dengan lirih. "Jadikan aku milikmu."
Perkataan Sasuke membuat sudut bibir Naruto terangkat. "Tapi kau adalah milikku. Kau selalu menjadi milikku." Ada nada kepuasan di dalam suaranya. Dia senang tentu saja, sekarang Sasuke mengerti, siapa pemiliknya yang sesungguhnya.
Jari-jari Naruto melepaskan baju Sasuke, membuatnya betelanjang bulat tanpa kain sehelaipun. Ia menunduk, mengagumi tubuh ramping dibawahnya. "Setiap bagian dari tubuhmu adalah milikku," Naruto menyentuhnya, merasakan kelembutan dan kehangatan yang bisa diberikan Sasuke padanya. Telapak tangannya berhenti di dada Sasuke, merasakan detakan jantung sang pemuda raven. "Bahkan hatimu, semuanya adalah milikku."
Ada nada posesif dan protectif di setiap bait dalam suara Naruto, yang mencurahkan semua perasaannya. Bagaimana ia begitu menginginkan pemuda raven itu, bagaimana rasa penat dikepalanya akan muncul setiap kali ia tidak melihatnya, dan bagaimana jantungnya hampir berhenti berdetak setiap melihat Sasuke kesakitan. Perasaan yang pada awalnya tidak disadarinya, kini dimengerti Naruto dengan sangat baik.
Kemudian bibir Sasuke melengkung, pemuda raven itu mendekatkan tubuhnya dan melingkarkan lengannya ke leher Naruto. "Kalau begitu, jangan membuangku." Dia memohon. "Biarkan aku tetap disisimu."
Mendengarkan perkataan Sasuke membuat hati Naruto bergejolak. Ia mengangkat dagu Sasuke, menatap lurus ke onyx yang tengah memandangnya dengan penuh kekhawatiran. Pemuda raven itu mengatakan tidak ingin berpisah dengannya, entah karena rasa bersalah, atau karena takut kesepian. Tapi satu hal yang Naruto ketahui, ia telah memenangkan hati pemuda raven itu. Ia tidak perduli jika Sasuke sedang mabuk, tapi Naruto sudah memutuskan untuk mempercayainya.
"Kalau begitu goda aku dengan tubuhmu." Naruto berbisik tepat di telinga Sasuke. "Tunjukkan padaku kelebihanmu jadi aku tidak akan membuangmu atau menjaukanmu dari sisiku."
Sasuke mematung ditempatnya selama beberapa saat. Mata sayunya menatap dalam ke mata safir Naruto, sementara pemuda blonde itu menunggunya melakukan sesuatu. Kemudian dengan gerakan yang begitu perlahan, tangan Sasuke bergerak mendorong tubuh besar Naruto dari atas tubuhnya.
Naruto terlalu terkejut dengan serangan mendadak Sasuke, hingga ia jatuh terjungkal kebelakang, menghantam sisi kasur. Dahinya mengernyit dengan jengah, ia mengira pemuda raven itu lagi-lagi memutuskan untuk bersikap malu-malu kucing. Tapi ketika ia merasakan ada bobot berat yang tiba-tiba menindih tubuhnya, ia langsung terdiam dan mematung. Sasuke tengah merangkak naik, kemudian mengempaskan tubuh telanjangnya di atas tubuh Naruto.
"Tidak adil jika hanya saya yang membuka baju, Yang mulia." Formalitas yang biasanya diacuhkan oleh Sasuke, kali ini meluncur keluar dari bibirnya yang penuh. Terdengar begitu sensual dan cukup kuat untuk memacu libido Naruto.
Pemuda blonde itu terpaku ditempatnya dengan tidak percaya, saat jemari nakal Sasuke bergerilya di tubuhnya menyingsing kain yang menutupi tubuh sehelai demi sehelai. Pipinya yang memerah dan bau arak yang menguar dari mulut Sasuke, sebenarnya sudah cukup untuk menjelaskan tingkah tidak biasa sang Uchiha. Sasuke sedang mabuk berat, tapi lagi-lagi Naruto tidak ingin memperdulikannya. Ia ingin mempelajari sisi liar sang pemuda raven ini.
"Yang mulia," Suara Sasuke keluar secara otomatis saat mengamati otot-otot six pack sang pemuda blonde. Napasnya berat dan nyaris terdengar seperti desahan. Pemuda raven itu terangsang, bisa dilihat dari benda diselangkangannya yang sekarang tengah berdiri tegak menantang gravitasi, dengan posisi tepat diatas perut Naruto.
Dipihak lain, lidah Naruto terasa keluh melihat tubuh Sasuke diatasnya. Tubuh putih polos nan ramping itu terlihat begitu erotis dan mengundang. Ia ingin mencicipinya sesegera mungkin. "Apa kau hanya akan menatap?" Tegurnya dengan nada tidak sabaran.
Teguran Naruto, seperti membangunkan Sasuke dari fantasinya sendiri. Ia terlalu lama memandangi tubuh luar biasa itu. Sasuke menggeleng cepat berusaha menumpuk keberaniannya. Pipinya merah padam, entah karena malu atau karena pengaruh arak yang tadi di minumnya. Sasuke mengangkat tubuhnya memosisikan pantatnya tebat diatas selangkangan Naruto. Tubuhnya bergetar hebat ketika milik Naruto bergesekan dengan mulut lubangnya. Ia tinggal menghempaskan dirinya saja. Tapi keberanian di dada Sasuke malah terkikis sedikit demi sedikit. Ia takut dengan rasa sakitnya.
Naruto menggeram keras. "Kau sangat lamban!" Bentaknya seraya mencengkram pinggul Sasuke dan mendorongnya turun. Langsung menenggelamkan miliknya hingga ke pangkal.
Sasuke berteriak keras, merasakan batang Naruto menyobek lubangnya. Matanya berair dan rasa sakit menyelubungi seluruh tubuhnya. "Sa-sakit-ahk!" Ia mencengkram lengan Naruto dipinggulnya, berusaha mencari pegangan.
Naruto dibawahnya menggeram pelan, berusaha menahan kenikmatan yang memanja selangkangannya. Lubang Sasuke begitu ketat dan panas, sungguh tak tertahankan hingga hampir membuatnya berejakulasi seketika.
"Yang mulia..." Sasuke merintih seraya menggigit bibir bawahnya menahan sakit. Seluruh tubuhnya gemetar hebat dan matanya memohon agar dilepaskan.
"Kita baru mulai, Sasuke." Naruto berusaha menetralkan napasnya. "Kau pikir aku akan melepaskanmu semudah itu setelah kau membawa tubuh telanjangmu yang erotis ini ke hadapanku?"
Tangan besar Naruto bergerak menangkap batang Sasuke, meremasnya kuat, membuat pemuda raven itu kembali memekik keras.
"Sampai kapanpun aku tidak akan melepaskanmu." Kata Naruto dengan sungguh-sungguh.
Kemudian di detik berikutnya, Naruto mulai menghentakkan selangkangannya dengan kuat, mencicipi lubang Sasuke lebih dalam dan tanpa ampun.
Naori menahan dirinya untuk tidak menunjukkan senyum mencemoohnya.
Inikah dia?
Inikah wanita yang akan menggantikan posisinya kelak?
Hyuuga Hinata duduk dihadapannya, tampak cantik dengan gaun violetnya yang panjang. Mata yang sewarna gaunnya itu mengamati sekeliling, menilai kastil kecil Naori. Hanabi berdiri dibelakang kursinya, memegang sebuah kotak berwarna coklat gelap, menunggu majikannya memberikan perintah padanya.
"Aku minta maaf karena baru mengunjungimu sekarang." Hinata berkata dengan nada penuh penyesalan. "Ku pikir anda akan datang saat pesta perjamuan kemarin."
Senyuman palsu penuh kesopanan tercetak dibibir Naori. Di dalam hatinya terdapat beribu kebencian yang dalam. Dia sebenarnya muak melihat wanita itu datang mengunjunginya, muak melihat wanita itu duduk di kursinya, dan muak melihat senyuman tololnya. Tapi ia tidak bisa menunjukkan itu semua, tentu saja, bukan begitu cara Naori menunjukkan kebenciannya.
Naori selalu meletakkan orang-orang yang dia benci disisinya, maka dengan begitu ia bisa menghancurkannya dengan lebih muda. Kelicikan adalah dirinya.
"Tidak masalah, kau tidak perlu memikirkannya." Balas Naori seraya memberikan kode pada pelayannya untuk menuangkan minuman ke cangkir Hinata.
"Yang mulia telah menceritakannya kepada saya, dia bilang anda tidak diizinkan untuk keluar dari kastil ini. Oleh karena itu, saya sendirilah yang datang menemui anda. Saya harap saya tidak menggang—" Kata-kata Hinata terhenti sebelum ia sempat mengakhirinya, mata violetnya menangkap kernyitan tidak senang diwajah Naori.
"Aku tahanan rumahnya. Seorang pengkhianat. Naruto pasti mengatakan hal itu padamu." Nada Naori terdengar sehalus kapas, tidak ada nada kekesalan atau ketersinggungan disana. Tapi aura dingin yang menguar saat Naori memalingkan wajahnya dan fokus untuk meneguk teh hijaunya sudah cukup jelas bahwa ia tidak senang dengan perkataan Hinata.
Hinata nampak panik. Ia menggigit bibir bawahnya sama sekali tidak bermaksud menyinggung perasaan Naori. "Saya minta maaf. Saya sama sekali tidak berniat menyinggung anda."
Naori mengibaskan tangannya seakan menyuruh Hinata untuk tidak memusingkannya. Senyum menenangkan tersampir di wajahnya yang cantik. "Tidak masalah. Apa yang kau katakan tidak sepenuhnya salah."
"Tapi, saya…"
"Kau sudah dua kali meminta maaf, Tuan putri." Tegur Naori lembut. Ia beranjak dari tempatnya, dan duduk disamping Hinata. Tangannya merangkul bahu sang gadis dengan akrab, sementara bibirnya membentuk senyuman perdamaian. "Kau tidak perlu bersikap terlalu formal padaku. Aku sesungguhnya sangat senang kau datang mengunjungiku." Ia berkata seraya mengelus bahu Hinata. "Kau akan menikah dengan Naruto tidak lama lagi, kau akan menjadi anggota baru keluarga Uzumaki. Oleh karena itu aku ingin kita memiliki hubungan baik, hubungan yang akrab seperti seorang teman."
Jemari Naori bertaut di jemari Hinata. "Apa kau ingin menjadi temanku?"
Hinata sedikit terpaku. Gadis itu jelas terkejut dengan perlakuan Naori. Sebenarnya Naori cukup terkenal hingga ke kerajaan clan Hyuuga sebagai ratu angkuh yang sombong. Tidak banyak hal baik tentang dirinya. Tapi saat jemari Naori meremas lembut jemarinya, Hinata merasa gossip murahan itu salah besar. Naori bukan Ratu yang sombong, ia sungguh baik dan ramah. Hinata sebenarnya kesulitan bergaul dengan Karin yang eksentrik, tapi Naori, ia begitu terbuka padanya.
"Tentu, saya merasa sangat terhormat." Hinata tersenyum senang. Jemarinya balik menggenggam jari Naori. Kemudian dia menoleh ke Hanabi mengangguk padanya. Hanabi bergerak maju, menunduk dalam-dalam ke hadapan Hinata dan Naori seraya menyerahkan kotak tangannya.
"Ini hadiah dari clan Hyuuga." Hinata berkata seraya mengambil kotak yang diberikan Hanabi. Ia membukanya dan menunjukkan sebuah jepitan kepala cantik bertabur mutiara berwarna hitam. "Kau punya rambut yang benar-benar cantik, ku rasa ini akan cocok untukmu."
Naori mematung melihat hadiah itu. Benda berkilauan di tangan Hinata sama sekali tidak menarik perhatiannya, baginya malah terlihat norak. Tapi apapun yang dibawa gadis itu, tidak perduli seberapa cantik dan mahalnya, tidak akan pernah terlihat bagus di mata Naori. Semua permata yang dibawakan Hinata untuknya hanya akan menjadi sampah.
Tapi lagi-lagi Naori tidak menunjukkannya, ia malah berpura-pura senang dan mengambil penjepit rambut itu. "Ini benar-benar cantik." Pujinya. "Kau sungguh baik."
Hinata tampak legah mendengar perkataan Naori, ia sesunggunya kebingungan setengah mati saat memilih hadiah yang akan dia berikan kepada calon mertuanya. "Kau mau aku memakaikannya padamu?"
Hinata sudah mengambil hiasan rambutnya, bermaksud memakaikannya di rambut panjang Naori, tapi ia berhenti ketika melihat tatapan Naori yang setajam pedang. Tatapan yang hanya sekilas muncul di wajah Naori, Hinata bahkan mengira dia hanya membayangkannya.
"Aku senang kau disini." Naori mengalihkan perhatian dengan mengganti topik. "Ku harap keberadaanmu disini bisa mengubah kebiasaan buruk Naruto."
"Kebiasaan buruk?"
"Ya," Balas Naori cepat. "Naruto terlalu dekat dengan… yah, kau pasti tahu siapa maksudku."
Tapi tatapan Hinata menunjukkan bahwa ia sama sekali tidak mengerti. Naori menaikkan alisnya. "Kau tidak tahu?"
Hinata menggeleng.
Naori mendesah pelan. "Naruto terlalu sering bersenang-senang dengan pemuda itu. Terlalu banyak menghabiskan waktu bersama dengannya, bahkan hingga malam sekalipun, itu sebenarnya di luar batas kewajaran. Tapi ku rasa itu tidak masalah sekarang, karena dia memutuskan akan menikah denganmu. Walau menurutku kau tetap harus rela berbagi."
Hinata mengerutkan alisnya, "Apa yang kau maksud ada seseorang yang telah disukai oleh Yang mulia?"
Naori mengangguk seraya memasang tampang muram.
Hinata mendengus sopan. "Aku sama sekali tidak masalah, bagiku dengan berada disisi Yang mulia saja sudah membuatku—"
"Naruto adalah orang yang kurang memerhatikan keindahan disekitarnya." Naori memotong perkataan Hinata, "Ia tidak akan tertarik dengan hal lain ketika ada sesuatu yang terlanjur menarik perhatiannya. Kelak kau akan menjadi seorang Ratu, kau harus mengendalikan posisimu. Tempat kosong disisi Naruto adalah milikmu. Kau harus menjadi orang nomor satunya, atau kau hanya ingin menjadi pajangannya semata? Wanita yang hanya diperuntukan untuk memberikan keturunan padanya?"
Hanabi menoleh pada Hinata, menatap wajah putrinya yang mendengarkan pernyataan Naori dengan kernyitan di dahinya. Wajah majikannya kini digerogoti oleh kekhawatiran. Hanabi adalah orang yang paling tahu tentang Hinata yang sangat mencintai sang raja Uzumaki. Ia begitu senang saat Yang mulainya mengatakan akan menikahinya. Tapi apa benar ada seseorang yang tengah mengancam posisi putrinya di hati sang Uzumaki?
"Aku terkejut kau tidak menyadarinya." Naori melirik Hanabi yang mendengarkan setiap perkataannya dengan serius. "Tapi jika kau memperhatikan baik-baik ke sekitar Naruto. Kau akan menemukan seseorang yang bisa menggeser tempatmu."
Naori terlihat puas ketika melihat kegalauan dimata Hinata. Gadis itu tampak takut sekarang, genggaman tangannya di tangan Naori melemah, seperti kehilangan semangat.
Naori tersenyum dalam hati. Seperti inikah wanita yang Naruto pilih untuk menantangnya? Wanita naïf yang bahkan tidak punya kepercayaan pada dirinya sendiri. Naori hanya menggertaknya sedikit, dan lihat, raut wajah wanita itu sudah dipenuhi oleh ketakutan. Dia lemah, sangat lemah. Sejujurnya Naori merasa amat kecewa, dia pikir dia akan mendapatkan pertarungan yang menarik karena Narutolah yang membawa wanita itu langsung. Tapi dia ternyata bukan apa-apa.
Naori mengelus bahu Hinata pelan dan penuh kelembutan. "Aku hanya ingin memberitahumu." Ia berbisik. "Bahwa apapun yang terjadi, aku akan selalu berada di pihakmu. Tentu saja karena kita adalah teman." Naori kembali menyunggingkan senyum palsunya, onyxnya yang penuh kelicikan menatap Hinata, layaknya seekor predator memandang mangsanya.
Bagaimanapun caranya, Naori tidak akan pernah membiarkan posisinya sebagai seorang Ratu tergeser. Dan gadis bodoh disampingnya ini sama sekali bukan tandingannya.
Gorden besar itu masih tertutup walau pagi telah lama berselang. Satu-satunya penerangan berasal dari sebersit cahaya matahari yang menyelinap masuk melalui sela-sela tirai. Yang hanya memberikan sedikit cahaya kecil di kamar utama milik sang raja Uzumaki.
Naruto bergeming di dalam ruangan bercat merah itu. Ia terpana pada pemandangan 'indah' diatas ranjangnya.
Entah sudah berapa lama Naruto berdiri disana, kakinya terasa berat untuk digerakkan. Terbangun dengan sang Uchiha berada disisinya, menjadi penyegaran tersendiri untuknya. Padahal ada banyak hal yang harus dia kerjakan, tapi enggan rasanya untuk melewatkan moment-moment ini.
Mungkin ini terkesan aneh. Sosok Uchiha Sasuke yang tertidur di atas ranjang terlihat begitu berharga dan menentramkan Naruto. Ada rasa penyesalan yang menggeliat bagai cacing di dalam hatinya. Ia menyesal karena telah memindahkan sang Uchiha dari kamarnya dan menempatkannya di kastil barat yang jauh dari jangkauannya.
Tapi lihatlah, Uchiha Sasuke yang tertidur nyenyak diatas ranjangnya tampak begitu pas. Seolah memang sudah sepantasnyalah ia berada disana. Menghabiskan malam di kamarnya, diatas ranjangnya, dan bersama dengan dirinya.
Sasuke tertidur nyenyak sepulas bayi. Selimutnya telah melorot sampai ke pinggangnya memamerkan punggung putih mulusnya yang mengundang.
Naruto masih bergeming, iris safirnya yang tajam sungguh terhipnotis oleh sosok itu. Kemudian dia berjalan mendekat, mengamati sosok rapuh itu dalam kebisuan. Sasuke yang masih tertidur di atas ranjang sama sekali tidak menyadari kehadiran lain disisinya. Ia bahkan masih tertidur saat Naruto mengulurkan tangannya dan menyentuh lembut punggungnya yang terekspos. Jari Naruto bergerak mengikuti tulang belakang Sasuke, kemudian berhenti di sekitar pinggangnya.
"Jadikan aku milikmu."
Suara Sasuke kembali terngiang dalam benak Naruto.
Pemuda blonde itu tersenyum, ia menempelkan tubuhnya ke tubuh Sasuke. "Kau sendiri yang mengatakannya. Jadi jangan harap aku akan melepaskanmu."
Ia menundukkan tubuhnya, seakan tidak puas dengan pergulatan sex mereka tadi malam, gairah sang penguasa keempat clan itu kembali terpompa seiring sentuhannya di kulit halus Sasuke. Dengan perlahan, jari Naruto di pinggang Sasuke berpindah ke perut datarnya. Ia mendekatkan kepalanya ke punggung telanjang itu, untuk memberikan kecupan-kecupan singkat. Terus naik ke leher jenjangnya yang telah dipenuhi kiss mark. Perlahan tapi pasti tangan Naruto turun dari perut Sasuke, menuju ke bagian intim nan sensitif dibawah sana. Napasnya berdesir panas.
Tapi sebuah ketukan dipintu merusak fantasi indahnya. Tubuh Naruto berubah menjadi kaku, kernyitan tidak senang langsung bermunculan di keningnya.
Namun seolah ingin menguji kesabarannya, ketukan dipintu terdengar kembali, kali ini diiringi dengan sebuah sahutan.
"Tuan Uchiha, saya datang membawa pakaian anda."
Itu suara Ino. Gadis itu pasti tidak tahu kalau Naruto berada di dalam kamarnya. Memang, dihari-hari biasanya saat matahari telah bersinar tinggi dilangit, sang raja Uzumaki pasti sedang menghabiskan waktunya duduk di ruang kerjanya, disibukkan dengan perkamen-perkamen dan cap kerajaan.
Pemuda blonde itu terpaksa berdiri tegap kembali dan melepaskan tubuh Sasuke dari dekapannya. Bertepatan dengan itu, pintu kamar terbuka, menampilkan sesosok gadis blonde yang sedang memegangi kain sutra panjang di kedua tangannya.
Wajahnya tampak senang saat ia masuk dan menutup pintu, tapi ketika ia berbalik dan menemukan Naruto berdiri menjulang dihadapannya dengan ekspresi sedingin es, ia langsung mematung. Sekejap wajahnya berubah menjadi pucat pasi.
"Ya-yang mulia!" Ia tergagap karena panik." Saya tidak tahu… anda masih…" Ino melemparkan pandangannya ke ranjang besar di sudut ruangan, melihat Sasuke yang terbaring di ranjang dengan selimut hampir melorot menampilkan bokongnya. Ino langsung meringis seakan mengerti. Ia cepat-cepat menjatuhkan dirinya ke kaki Naruto dan bersujud dengan gemetar. "Ampun Yang mulia! Saya benar-benar tidak tahu!"
Suara Ino terdengar seperti isakan. Wajahnya menunduk dan hampir bersentuhan dengan lantai. Naruto mendesis dengan tidak suka.
"Bangun!" Perintahnya.
Ino bangun dengan otomatis. Wajahnya masih menunduk menatap lantai, tidak berani melihat Rajanya. Di kepalanya telah berputar hal-hal mengerikan yang ia duga akan segera diterimanya sebagai hukuman. Lancang sekali dirinya merusak momen indah rajanya.
Tapi alih-alih memberikan hukuman pada Ino, Naruto hanya memelototi pelayan itu, sebelum berlalu keluar dari kamar tanpa mengatakan sepatah katapun. Tidak ada cercaan apalagi hukuman.
Ino mengerjapkan matanya bingung, ia berputar mencari Naruto yang telah menghilang dari pandangan.
Ia tidak dihukum? Sungguh?
Tapi sepertinya, Naruto benar-benar memutuskan untuk memaafkannya. Kaki Ino lemas seketika, ia jatuh terduduk dilantai seraya mengambil napas penuh kelegaan. "Terima kasih, Tuhan!" Serunya penuh syukur.
Biasanya orang-orang seperti Ino akan dihukum paling berat lima ratus cambukan, tapi kali ini sang raja Uzumaki yang terkenal dengan kekerasannya, melepaskan Ino begitu saja. Ini suatu keajaiban.
Setelah mensyukuri nasib baiknya, Ino berdiri dan meletakkan pakaian Sasuke diatas ranjang. Sebenarnya ia sangat kaget saat mengetahui bahwa Sasuke tidak ada di kastil Barat ketika ia pergi ke sana pagi ini. Untunglah ada pengawal yang melihat Sasuke pada malam sebelumnya sedang berjalan di kastil utama menuju kamar sang raja Uzumaki.
Ino terpaku melihat majikannya sedang tertidur di atas ranjang kings size itu dengan sangat pulas. Tubuh rampingnya yang putih mulus di penuhi oleh bekas-bekas gigitan, rambutnya kusut, dan bibir tipisnya sedikit bengkak. Ino meragu sebentar, apa sebaiknya dia membangunkannya? Mungkin saja tuannya ini baru memejamkan mata. Demi Tuhan, Ino ingin menyingkirkan dugaan kotornya tentang apa yang telah diperbuat kedua pria itu tadi malam.
Gadis itu menunduk, mendekatkan dirinya ke sang pemuda raven. Sebaiknya ia membangunkannya saja. Tapi saat ia sampai ke jarak yang cukup dekat, ia langsung mengernyit mencium bau arak yang menguar dari Sasuke.
Entah apa yang terjadi tadi malam, tapi sepertinya Sasuke mabuk berat. Fakta ini membuatnya ngeri sendiri membayakan Sasuke dalam keadaan mabuk menemui Sang raja di kamar pribadinya. Jika saja dia hanyalah orang biasa mungkin kepalanya sudah dipenggal malam itu juga, tapi melihat Sasuke yang berakhir di ranjang sang Uzumaki pagi ini, sepertinya itu malah bukan masalah bagi sang pemimpin keempat clan tersebut.
Ino menggelengkan kepalanya, bertanya-tanya dalam hati. Sebenarnya siapa Sasuke ini? Kenapa Naruto begitu berbelas kasih padanya. Mungkin alasan kenapa Naruto tidak menghukumnya tadi karena Ino adalah pelayan Sasuke.
"Tuan," Ino menyahut seraya menggoyangkan pundak Sasuke cukup kuat.
Kedua alis Sasuke mengernyit, tapi matanya tidak terbuka. Ia bergelung sambil menarik selimut sampai ke dadanya, kemudian dia berbalik dan menghadapkan tubuhnya ke Ino. Dengan perlahan kedua kelopak matanya terbuka, memperlihatkan sepasang onyx dengan pandangan sayup.
"Dimana aku?" Sasuke bertanya, masih berusaha mengumpulkan kesadarannya sedikit demi sedikit.
Ino mengerutkan kedua alisnya. "Tuan, anda berada di kamar Yang mulia, di kastil utama." Ia menjawab. "Anda tidak ingat?"
Onyx Sasuke mengerjap menatap sekelilingnya dengan bingung. Ia melihat kelambu transparan yang telah disisingkan, tembok yang di warnai semerah darah, gorden raksasa yang masih tertutup, dan terakhir, pajangan pedang yang digantung di tembok. Hening selama beberapa saat. Wajah Sasuke berkerut seperti sedang mengingat-ingat apa yang sudah terjadi, kemudian dengan mengejutkan ia tersentak bangun, dengan bibir terbuka dan pipi yang tiba-tiba memerah. Gambaran kejadian tadi malam berputar-putar dikepalanya bagaikan sebuah film. Bagaimana ia menyeret kakinya ke kamar Naruto, mengatakan hal-hal memalukan, menangis, dan…
Sasuke terlalu ngeri untuk mengingat kelanjutannya. Tapi untunglah kepalanya yang serasa berputar-putar berhasil mengalihkan perhatiannya. Sasuke memegang kepalanya, mengernyit karena pusing.
"Tuan, anda tidak apa-apa?" Ino mendekat dengan khawatir. Pasti dampak alkohol yang diminumnya mulai bekerja.
"Pakaianku." Sasuke memerintah sambil berusaha menahan rasa sakitnya. Pemuda raven itu tampak kelelahan, tapi saat Ino menyerahkan pakaiannya, ia langsung mengenakannya dengan secepat kilat. Begitu terburu-buru seakan ingin keluar dari kamar itu sesegera mungkin.
"Tuan." Ino mengikuti Sasuke yang sudah turun dari ranjang dengan langkah mengkhawatirkan. Sasuke sempoyongan, ia berjalan sambil memegang kepalanya dan menyeret sekuat tenaga kakinya.
Ino tahu kepala Sasuke pasti sakit sekali karena pengaruh arak yang dia minum tadi malam, dan melihat dari caranya berjalan sepertinya aktifitas tadi malam dengan Yang mulia Uzumaki juga menjadi penyebabnya. "Tuan, aku akan mengambilkan obat penghilang rasa sakit untuk tuan. Aku akan menemui tabib dan kembali kemari, mohon jangan kemana-mana."
"Tidak!" Sasuke membentak keras, membuat Ino hampir melompat dari tempatnya. "Aku harus keluar dari tempat ini." Ia bersi keras, seakan tidak ingin berada di tempat ini lebih lama lagi.
Ino mengangguk tidak ingin membantah tuannya. "Kalau begitu aku akan menemui anda di kastil barat. Mohon beristirahatlah di kamar."
Ino menunggu sampai Sasuke memberikan anggukan kecil, kemudian dia berlari dan bergegas menuju ke istana belakang –istana khusus untuk para kasim, tabib, dan pelayan.
Sasuke terpaku selama beberapa saat setelah kepergian Ino. Ia berpegangan pada sandaran terdekat. Pandangannya seperti berputar-putar dan ada sengatan menyakitkan dibokongnya setiap dia melangkahkan kakinya. Berusaha menguatkan diri, dia berjalan sambil menahan rasa sakit. Sekali-kali bersandar ke tembok lorong saat tiba-tiba ia merasa ingin muntah.
Ino berlarian di istana utama, melewati koridor yang satu ke koridor yang lainnya, berharap bisa sampai di tempat tabib secepat mungkin. Langkah kakinya berderap keras, ia berbelok menuju ke sayap barat untuk melewati taman istana. Jalan ini jauh lebih cepat daripada melewati pintu utama. Tapi saat ia baru akan berbelok ke taman, ia hampir menabrak Chiyo yang baru akan memasuki koridor.
Wanita tua itu mendesis marah saat Ino dengan napas ngos-ngosan me-rem mendadak kakinya dan berakhir jatuh tersungkur di lantai.
"Apa yang kau lakukan! Berlarian di koridor seperti itu!" Bentaknya marah.
Ino cepat-cepat memperbaiki posisinya, ia berdiri lalu menunduk dalam-dalam. "Maaf nyonya, tapi saya harus segera menemui tabib untuk meminta obat. Tuan Sasuke sakit dan sedang menunggu saya." Jelasnya, ia mengangkat kepalanya dengan takut-takut untuk menatap wajah Chiyo. Kepala pelayan itu pasti marah besar. Tapi alih-alih hanya melihat wajah kesal Chiyo, Ino juga melihat dua orang lain dibelakangnya.
Hinata Hyuuga dan pelayannya. Sepertinya Chiyo sedang mendampingi mereka berkeliling istana.
"Selamat pagi, Nona Hyuuga." Sapa Ino cepat memberi hormat. Ia berdecak dalam hati, merutuki kesialannya sendiri. Sekarang dia terjebak diantara kepala pelayannya yang paling galak dan dua wanita yang tidak disukainya.
"Apa tuan Uchiha sedang sakit?" Hinata bertanya dengan kekhawatiran yang tulus.
"Ah, beliau hanya sedang mengalami sakit kepala ringan." Jelas Ino sambil berusaha tersenyum setulus mungkin.
"Kalau begitu, kenapa kau malah berputar-putar sampai ke istana utama? Bukankah tempat tabib jauh lebih dekat dari istana barat?"
Pertanyaan tajam dari Chiyo membuat Ino panik seketika. Benar, Chiyo tidak tahu kalau Sasuke semalaman berada di kamar Naruto, dia mengira Sasuke ada di kamarnya yang terletak di kastil barat. Kastil barat memang jauh lebih dekat dengan tempat sang tabib, jika ia dari kastil barat maka dia tidak perlu melewati kastil utama, itu sama saja dengan mengambil jalan memutar.
Ino menggigit bibir bawahnya, dahinya mengernyit, ia melirik Hinata dengan ragu. Apa bijak jika dia berkata jujur, mengingat sang calon pendamping raja juga berada disana. Apa yang akan dipikirkan Hinata jika tahu calon suaminya menghabiskan satu malam penuh dengan seorang pria.
"Kenapa kau tidak menjawab?" Suara Chiyo terdengar membentak keras, membuat Ino berjengit di tempatnya. Dia menatap wajah Chiyo, dan tiba-tiba kengerian membuat bulu kuduknya berdiri.
Ekspresi Chiyo menggambarkan kecurigaan. Ia pasti mengira Ino telah melakukan tindak kejahatan kepada Yang mulia. Dulu ketika raja Minato memerintah, ada banyak pengawal yang berjaga disetiap tempat di kastil utama. Hal ini disebabkan karena banyaknya pembunuh bayaran yang di sisipkan masuk ke dalam istana Uzumaki untuk membunuh Yang mulia Minato. Dan pembunuh bayaran itu tidak tanggung-tanggung penyamarannya. Paling sering ia menyamar sebagai pelayan berwajah lugu dan polos.
Ino takut, sekarang Chiyo mencurigainya sebagai salah satu pelayan-pelayan itu. Pelayan yang kepalanya berakhir dipenggal sampai putus.
Ino menelan ludah, dia jelas tidak ingin dicurigai macam-macam. Akhirnya ia memilih membuka mulut dan berusaha untuk tidak menatap ke mata Hyuuga Hinata. "I-itu karena semalam, tuan Sasuke tidur bersama Yang mulia di kamar pribadinya di istana utama."
Satu kalimat penjelasan dari Ino, membuat suasana menjadi tegang seketika. Alis Chiyo berkedut dan matanya terlihat bergerak untuk melirik Hinata yang berdiri di belakangnya, seakan khawatir.
Tapi Ino sendiri yang takut mendapat kemarahan lain dari Chiyo, cepat-cepat mengambil langkah seribu. "Maaf nyonya, tapi saya buru-buru. Tuan Sasuke sudah menunggu saya." Pamitnya dengan tergesa-gesa, lalu berlari menuju ke tujuan awalnya.
Chiyo mengikuti langkah Ino yang menyebrangi taman utama. Ia memelototi kebodohan gadis itu, bagaimana bisa dia menjawab pertanyaannya sejujur itu. Tapi kemudian tatapannya bertemu dengan Hinata, yang tampak mematung dan… memucat.
"Maaf atas gangguan tadi, Nona." Tegur Chiyo dengan nada meminta maaf. "Bagaimana kalau kita melanjutkan perjalanan kita?"
Chiyo sebenarnya ingin mengacuhkan Hinata yang cukup terguncang karena perkataan Ino. Tapi wanita itu sepertinya tidak mendengarkannya, membuatnya tidak punya pilihan lain.
"Nona, apa anda tidak apa-apa?" Chiyo bertanya seraya mendekat. "Apa anda ingin beristirahat saja?"
Dahi Hinata mengernyit dan dia sedikit gemetar, tatapannya tidak fokus, seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Tuan putri?" Hanabi disisinya tampak khawatir. Ia yakin, Hinata pasti sedang memikirkan kata-kata Naori.
Hinata tiba-tiba mengerjapkan matanya seakan baru ditarik dari alam bawah sadarnya. Ia kemudian mengangkat wajah dan menatap Chiyo lurus-lurus.
"Apa hubungan Tuan Uchiha dengan Yang mulia?" Pertanyaan mendadak Hinata membuat Chiyo dilanda keterkejutan.
Wanita tua itu tampak kaget ditanya begitu tiba-tiba. Ia menatap wajah Hinata yang penuh dengan kekhawatiran. "Tidak ada, nona. Anda tidak perlu khawatir."
"Tapi aku dengar ada seseorang yang memiliki hubungan khusus dengan Yang mulia. Apa i-itu adalah Tuan Uchiha?"
Chiyo menghela napas panjang. Ia menggeleng. "Nona, walaupun Yang mulia memiliki hungungan khusus dengan siapapun, anda akan tetap menjadi ratunya. Walau Yang mulia memiliki beribu-ribu selir, tapi dia hanya akan mempunyai satu orang Ratu. Anda tidak perlu terlalu memikirkan hal ini."
"Ta-tapi Naruto berbeda. Dia tidak sama dengan raja-raja lainnya." Hinata berkata dengan tidak yakin. "Lagipula Tuan Uchiha—"
"Memang benar tuan Uchiha memiliki hubungan khusus dengan Yang mulia." Akui Chiyo, nada lembut didalam suaranya telah menghilang digantikan dengan nada tegas yang meyakinkan. "Tapi tuan Uchiha adalah seorang laki-laki, dia tidak akan berarti terlalu banyak."
Bibir Hinata terbuka tapi tidak ada kata-kata yang keluar, ia seperti masih ingin mengungkapkan kekhawatirannya, tapi tidak tahu bagaimana mengungkapkannya. Ada jeda selama beberapa saat, kemudian wanita itu, seakan menyerah, menganggukkan kepalanya. Pada akhirnya memutuskan untuk mempercayai perkataan Chiyo, walau tangannya sibuk meremas-remas selendangnya.
"Raja Sabaku mengabarkan tentang kedatangannya." Obito memberitahukan Naruto. Ia meletakkan selembar surat ke meja yang baru saja diantarkan oleh seorang pengantar pesan. Di surat tersebut terdapat stempel lambang clan Sabaku dari Sunagakure.
Naruto membaca tulisan tangan Kankuro, sang pemimpin suna, sebelum meletakkannya kembali ke atas meja dan menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi.
"Dimana Karin?"
"Di kamarnya dan masih menolak untuk ditemui siapapun."
Dahi Naruto mengeryit dalam. Bibirnya menipis saat ia menyumpahi adik semata wayangnya yang keras kepala. "Wanita bodoh itu!"
"Dia berusaha untuk bernegosiasi." Obito menyela. Mendapati mata Naruto tiba-tiba menyipit berbahaya. "Dia mengancam akan meracuni Kankuro jika kau masih bersikeras untuk menjodohkannya. Tapi sebaliknya jika kau menjodohkannya dengan Sasuke, ia akan melakukan apapun yang kau inginkan."
"Negosiasi?" Naruto mengangkat satu alisnya. "Itu terdengar seperti sebuah ancaman."
Obito mendesah pelan, ia menggelengkan kepalanya, nampak lelah.
"Kalau begitu katakan padanya. Aku akan tetap menjodohkannya pada Kankuro dan jika dia berani meracuninya, maka akan ku penggal kepalanya, lalu ku kirim dalam peti penuh belatung sebagai permintaan maafku pada Sunagakure."
Obito hampir memutar bola matanya, "dia akan mengamuk."
"Ya, aku juga."
Kekeras kepalaan kedua Uzumaki kadang membuat Obito berada pada posisi yang rumit. Tapi sepertinya memang tidak ada pilihan. Karin harus mengalah, tidak mungkin mereka mengatakan pada Kankuro tentang pembatalan perjodohan. Raja Sunagakure sudah bersedia menempuh perjalanan jauh dari kastilnya yang terletak di padang pasir ke kastil Uzumaki demi menjemput calon ratunya.
Lagipula Obito cukup mengerti seberapa pentingnya perjodohan ini. Salah sedikit perang bisa bergejolak kembali.
"Kurasa sebaiknya kita membujuknya lagi." Obito memberi saran, berniat menyelesaikan masalah ini sedamai mungkin sebelum Kankoru tiba di kastil Uzumaki.
"Aku juga ingin diadakan pesta penyambutan untuk sang Raja Sabaku. Kankuro mungkin akan tiba beberapa hari lagi." Naruto mengetukkan jarinya di meja, berpikir dengan alis berkerut. "Tidak perlu terlalu mewah, terlalu banyak pesta akhir-akhir ini." keluhnya.
"Pesta jauh lebih menyenangkan daripada perang. Itu pertanda bahwa kau telah membawa kemasyuran."
Masa-masa Minato memimpin kerajaan Uzumaki adalah masa-masa dimana kerajaan dipenuhi dengan peperangan antara saudara. Semua clan seperti tak terkontrol dan lupa siapa pemimpin mereka. Kabar buruk yang dibawa oleh burung-burung terus berdatangan. Keamanan dikastil Uzumakipun ditingkatkan demi melindungi sang raja keempat clan.
Klimaksnya terjadi ketika pemberontakan di Yukigakure dimana clan Uchiha berkuasa. Minato bahkan harus menikahi Uchiha Naori untuk mengendalikan clan Uchiha, walau akhirnya ia gagal total. Uchiha ternyata bekerja sama dengan clan Sabaku untuk mencoba menggulingkan Uzumaki dari tahta, tepat dihari kematian Minato.
Tapi pria pirang dihadapannya ini berbeda dengan Minato. Mungkin karena di nadinya mengalir darah Uzumaki, atau mungkin karena dia yang menjadikan kesalahan-kesalahan Minato sebagai pembelajaran baginya. Ia berhasil menaklukan keempat clan lewat aksinya yang gemilang saat memimpin ribuan tentara Uzumaki ketika clan Sabaku menyerang Konohagakure, membuat keempat clan takluk padanya dan memberikan pengakuan atas kekuasaanya sebagai Raja Uzumaki yang baru.
Dan bukan hanya pandai mengibaskan pedangnya, Uzumaki Naruto juga pandai bermain dibidang politik. Dia tegas dan cerdas, juga bijaksana, serta menjunjung tinggi aturan yang dibuatnya sendiri. Walau sistem pemerintahannya terkesan keras dan tanpa belas kasih, tapi ia berhasil mengontrol keempat clan dengan sangat baik.
Obito yang mengenal Naruto sejak ia masih sangat kecil, tidak pernah membayangkan Naruto akan membawa clan Uzumaki ke masa penuh kejayaan seperti sekarang ini.
"Katakan padaku, jika Karin masih menolak keluar dari kamarnya." Naruto kembali mengetukkan jari-jarinya di atas meja, "biar aku sendiri yang datang menemuinya. Dan jika aku berhasil membobol pintunya, ku pastikan dia akan menyesal."
Obito hanya mendesah pelan mendengar perkataan Naruto. Walau begitu dia mengangguk pada rajanya, mengikuti segala titahnya adalah kewajibannya. Sang tangan kanan raja itu kemudian menundukkan kepalanya dalam-dalam sebelum pamit. Ada banyak hal yang harus ia lakukan hari ini. Ia berjalan menuju pintu keluar, tapi ketika ia sampai diambang pintu, Naruto kembali menyahut membuatnya terpaksa menghentikan langkah dan berbalik menghadap rajanya lagi.
"Aku melupakan satu hal." Sahut Naruto, jari-jarinya bertaut di atas meja. "Aku ingin kau melatih Sasuke dan menjadikannya petarung handal seperti yang diinginkannya."
"Maaf?" Alis Obito bertaut. "Anda ingin aku melatih Uchiha Sasuke?"
Naruto mengangguk pasti. "Ia Ingin menjadi ksatria, seperti kau. Saat aku berada di kerajaan Hyuuga, aku berjanji akan melatihnya dengan dirimu sebagai gurunya. Yah, dia terlihat sangat mengagumimu, walau aku tidak mengerti kenapa dia bisa berpikir demikian. Bukannya dibanding dirimu aku jauh lebih kompeten?"
Obito mengharap ia salah dengar, tapi nada penuh kecemburuan di dalam suara Naruto amat mengganggunya.
"Kau bisa menolaknya, tentu saja. Aku sebenarnya merasa tidak begitu penting Sasuke bisa menguasai tekhnik bertarung. Dia tidak terlalu membutuhkannya, tapi aku harus menjaga perasaannya, bukan?"
Obito tidak langsung menjawab. Onyxnya mengamati sosok rajanya dengan penuh keheranan. Apa matahari akan terbit dari barat? Sejak kapan rajanya, yang sebelumnya selalu bertindak sesuai keinginannya tanpa mau repot memikirkan perasaan orang lain, kini mengatakan hal ganjil semacam menjaga perasaan Uchiha Sasuke?
"Aku akan menemuinya." Jawab Obito, dengan mata masih mengamati.
Uchiha Obito memang sering melatih para ksatria muda sebelum ia diangkat menjadi tangan kanan raja, bahkan yang melatih Naruto adalah dia sendiri. Ia pengajar yang baik, tangkas, dan berpengalaman. Tidak heran banyak pria-pria muda yang mengharapkannya menjadi guru ahli pedangnya.
"Tapi kau tidak perlu terlalu memaksakan diri. Aku tahu kau sibuk. Kau bisa menolaknya, tentu saja."
Obito tahu itu adalah anjuran, seakan pemuda blonde itu mengharapkan Obito menolak Sasuke menjadi muridnya. Ia mengharapkan Obito tidak terlalu banyak menghabiskan waktu bersama Sasuke. Cemburukah? Atau pemuda blonde itu tidak ingin waktu kebersamaanya dengan Sasuke jadi berkurang?
Entah sejak kapan tapi mata safir Naruto kini tidak terlalu gelap seperti sebelumnya. Matanya cerah dan bersinar, seakan semua kegelapan dan kebencian yang pernah bersemayam dimata itu telah sirna darinya. Dan Obito tidak begitu menyukai mata baru Naruto. Itu akan membuatnya menjadi lunak dan gampang dijatuhkan.
"Aku akan mempertimbangkannya," Kata Obito perlahan. "Jika urusanmu sudah selesai, bagaimana kalau kau mengunjungi Putri Hyuuga dan mengajaknya berkuda mengelilingi kastil?"
Obito tidak menunggu jawaban dari Naruto dan langsung menutup pintu. Ia tidak butuh jawaban, karena baginya itu adalah kewajiban yang harus dilakukan oleh sang raja Uzumaki. Hyuuga Hinata adalah calon ratunya, sudah sewajarnya dia meluangkan sedikit waktu agar Hinata bisa lebih cepat beradaptasi dengan tempat tinggal barunya, sekaligus sebagai pendekatannya dengan wanita itu. Bukannya malah sibuk mengurusi masa depan Uchiha Sasuke yang sebenarnya bukan siapa-siapa.
Naruto terlalu banyak menghabiskan waktu dengan Uchiha satu itu, hingga tidak sadar dengan kewajibannya sendiri. Obito mulai khawatir, sepertinya keberadaan Uchiha Sasuke disisi Naruto akan berakibat buruk bagi Kerajaan Uzumaki.
-Tbc-
.
.
Special thanks:
neni uchiha, Qren, ari krisna dewi, Dark Kitsune 9, N Rani kudo, Narusasu, Antimainstream, Yuura, Hime chan, Guest, uzumakiey resty tafrijian, Permenkaret, muridnya valak, ppkarismac, shapire0nix, Shawokey, Yuuki, Guest, Shflynie, mooncikari, sapa aja dah v, Rin Asuka, Hwang635, D, bakafangirl1998, askasufa, Guest, SUke, namikaze menma, FriendShit, Yuma, sekikaoru, Lady Spain, Chika Sasuloves, shella204, Jasmine DaisynoYuki, Beautiful Garnet, .777, .75470, kyle, Reina Putri, Pingki954, Vilan616, Ray, dianarositadewi4, Fujiwara Kyousuke16, nicisicrita, Jung Hara, suira seans, alchemist, Eun810, little lily, Caramelya, , C Grey, Sunsuke, mllz, Hwang Angi, Habibah794, chobangmin, zazuo, .12, Zen liu, .12, daNNa lj, SNS176.
