.

Halo, perkenalkan, nama saya Sasori.

Bukan, bukan. Saya tidak akan mengambil alih cerita ini untuk menceritakan kehidupan luar biasa saya. Saya hanya ingin berbagi cerita aneh yang akhir-akhir ini begitu mengganggu saya.

Ini mengenai seorang pria aneh dengan wajah mesum beserta gaya rambut pantat bebek yang sering saya lihat di dekat penitipan anak Happy Chiyoko. Gerak-geriknya begitu mencurigakan. Apalagi pakaiannya yang terkesan begitu tertutup; topi hitam, coat panjang berwarna gelap juga sepatu mengkilap. Sungguh, pria itu membuat saya takut. Ada aura-aura pedopil yang terasa dari pria itu.

Apa perlu saya panggil polisi ya?

.

Papa Cacuke © AzuraLunatique

NARUTO © Masashi Kishimoto

Genres are Family, Romance, Humor, Slice of Life

Rate is K+

Warning are AU. Adult!Sasuke. Chibi!Hinata. Kata-kata kasar(Gue-Elo). Alur berantakan. OOC-ness akut. Typos.

.

[It's a SasuHina Story]

.

Saya peringatkan, Don't Like, Don't Read.

Happy Reading! XD

.

Sasori's POV

.

Chapter 12

Save The Day!

Pagi musim dingin terasa begitu menusuk kulit, membuat saya malas untuk keluar rumah. Namun sayang, saya tak bisa lari tanggung jawab saya untuk bekerja. Seperti biasa, saya mengantar anak laki-laki saya yang tampan ini ke tempat penitipan anak. Selama perjalanan, saya mendengar kicauan burung-burung gereja yang bgeitu merdu, membuat saya tak bisa untuk tidak membayangkan, bagaimana kalau saya mengkandangkan semua burung-burung itu terus dibawa pulang. Nggak ada yang melarang, kan?

"Ayah," panggil sebuah suara imut yang berasal dari pangkuan saya.

"Apa, Gaara?"

"Ayah kalau lapar, jangan makan burungnya. Kasian." Gaara tampak begitu khawatir. Dalam hati, ketika tahu Gaara lebih khawatir pada burung-burung itu dibanding perut saya yang lapar, disitu kadang saya merasa nelangsa.

"Tenang saja, Ayah kalau lapar makan daun aja."

Gaara menatap saya lama lalu memutar kedua bola matanya. Aih, anak satu ini mulai makin mirip dengan saya.

Tak berapa lama, saya pun sudah menitipkan Gaara di penitipan anak. Lambaian tangan pun saya lakukan kepada anak semata wayang saya. Namun, ketika saya mau meninggalkan gerbang penitipan anak, saya melihat sekelebat sosok hitam di balik pohon. Sukses saya mengernyit heran. Takut salah lihat. Tapi, ketika diperhatikan baik-baik, memang ada seseorang disana, dengan topi hitam, coat gelap juga wajah mesum yang seadng menatap ke arah halaman penitipan anak.

Saya berhenti melangkah, dan untuk sekian detik saya hanya memperhatikan pria itu. Sayangnya, dering telepon menghentikan pengamatan saya. Dan menit berikutnya, saya sudah lari terbirit-birit menuju kantor.

.

.

.

Sore yang cukup indah dengan langit berwarna merah merona. Saya berjalan menuju tempat penitipan anak untuk menjemput Gaara. Namun, sebelum sampai di tempat penitipan anak, saya kembali melihat pria itu. Pria aneh yang sedang mengintip dari balik jeruji pagar. Terdorong oleh rasa penasaran, saya ikut-ikutan mengintip dari balik pagar, sambil tetap menjaga jarak dari pria aneh itu.

Dari balik pagar, saya dapat melihat sekumpulan anak manis semanis boneka, sedang asik bermain. Hm, sepertinya mereka sedang bermain Power Ranger. Terdapat empat anak laki-laki dan dua anak perempuan. Ada si kuning, si nanas, si kacamata dan si ceria dalam kumpulan anak laki-laki. Dan ada si bando biru juga si bando ungu dalam kumpulan anak perempuan. Keempat anak laki-laki dan si bando biru tampak sedang menyerang monster boneka dan si bando ungu asik dengan bukunya. Sesekali, si kuning memanggil si bando ungu dan berbincang sesaat. Keduanya tampak begitu lucu. Terlihat sekali kalau si bando ungu tampak malu-malu dengan rona merah di kedua pipi tembamnya.

Trang! –suara pagar yang bergerak membuat saya terkejut.

Saya menoleh dan terkejut ketika mendapati wajah horor di pria pantat bebek itu. Kedua tangan pria itu menggenggam pagar dengan begitu erat sampai buku kukunya memutih. Giginya bergemelutuk dengan desisan yang lolos dari mulutnya. Saya hanya bisa mengurut dada ketika melihat penampakan setan itu.

"Ayah?" Sebuah suara membuat saya terlonjak dan cepat-cepat mencari sumber suara.

"Gaara?"

"Ayah ngapain sih?"

"Nggak ngapa-ngapain. Ayah lagi nunggu Gaara."

"Oh." Gaara meraih jari jemari saya dengan cepat. "Ya udah. Yuk cepat pulang! Gaara mau nonton tipi!"

"Oke, ayo kita pulang."

Dan setelahnya, saya pun tidak tahu lagi apa yang dilakukan oleh pria yang menurut saya pedopil itu. Saya hanya berharap, si bando ungu, yang tampaknya jadi target si pria pedopil, bakal selamat sampai rumah.

.

.

.

Saya sesungguhnya berharap untuk tidak melihat pria itu lagi, namun sayang, doa saya tidak terkabul. Sore ini, seperti biasa, di bawah pohon rimbun, pria itu terlihat sedang asik mengintip dan sudah diduga, yang diintip adalah anak perempuan berbando ungu itu. Anak perempuan berpipi tembem, kulit putih layaknya snow white, rambut hitam panjang sepinggang dan senyuman yang begitu manis. Nggak heran kenapa si pria ini kepincut sama anak berbando ungu.

Sore ini, si bando ungu sedang asik bermain pasir-pasiran. Sepertinya sedang membuat gunung pasir. Saya menoleh dan langsung sweatdrop ketika melihat senyuman mesum sudah terpasang di wajah pria itu. Bulu kuduk saya bergoyang-goyang, tanda waspada. Namun, sayang lukisan indah si pria itu tampaknya rusak ketika seorang anak laki-laki berambut kuning menghampiri si bando ungu. Keduanya pun asik bermain bersama. Dan seperti yang sudah saya duga, lagi. Si pria pedopil itu sudah memasang wajah iblis dengan taring dan tanduk imajiner yang muncul entah darimana. Kedua mata pria itu seperti ingin menusuk di anak laki-laki.

Dalam hati, saya bersyukur, bukan Gaara yang menjadi korban pria itu.

Kalau udah begini, apa perlu panggil polisi, nggak sih?

.

.

.

Siang ini saya diperbolehkan untuk pulang lebih dulu. Sebelum ke tempat penitipan anak, saya mampir ke sebuah toko kue. Entah memang takdir atau bagaimana, saya bertemu dengan pria pedopil itu lagi. Omong-omong, saya penasaran apa nggak ada orang yang emngomentari gaya rambut pria itu? Memangnya gaya pantat bebek cukup keren ya?

Kali ini, pria itu tampak sedang begitu kebingungan dengan kue-kue yang terpajang di etalase. Saya dengan rasa penasaran berjalan mendekat ke arah pria itu sambil mata fokus ke jajaran kue.

"Mbak, kue buat anak perempuan, bagusnya yang mana ya?" tanya pria itu, dengan nada suara yang begitu serius.

Saya sontak menoleh dengan terkejut. Nggak menyangka kalau pria ini begitu serius mengejar anak perempuan berbando ungu itu. Apa sebegitu sukanya pria ini dengan anak kecil itu? Wah, ini pedopil tingkat dewa. Dalam hati saya, berlarian pertanyaan mengenai apa yang harus saya lakukan demi menyelamatkan anak berbando ungu ini dari jeratan pria pedopil ini. Sampai-sampai, saya tidak menyadari pria itu telah menghilang dari toko kue, membuat saya mengutuki diri saya sendiri.

.

.

.

Sepertinya Tuhan sedang berbaik hati. Setelah di toko kue, kini saya bertemu lagi dengan pria itu tanpa sengaja ketika saya ingin membelikan robot-robotan untuk Gaara. Dan yang membuat saya speechless adalah segunungnya mainan anak perempuan yang dibeli oleh pria itu.

Sungguh, ini pedopil niat banget!

Untuk berjaga-jaga, hari itu saya menyimpan nomor ponsel polisi yang posnya dekat dengan tempat penitipan. Berjaga-jaga itu penting kan?

.

.

.

Sore ini, saya berjalan dengan agak tergesa-gesa menuju ke tempat penitipan anak. Saya takutnya pria itu sudah nongkrong di pagar tempat penitipan anak. Dengan nafas terputus-putus saya pun sampai di dekat tempat penitipan anak dan langsung shock ketika menemukan dua pria yang sedang mengintip lewat pagar. DUA! Ya ampun! Satu aja udah bahaya! Apalagi dua!

Yang satunya pria pantat bebek dan yang satunya lagi pria dengan gaya rambut sasak oranye layaknya rocker kesasar. Mulut saya sukses menganga dan dengan cepat saya mengambil ponsel di saku celana.

Polisi mana? Polisi!

.

.

.

Teriakan membabi buta terdengar sore ini. Dua pria penguntit itu ditangkap oleh polisi setempat. Dua pria itu sempat memberontak dan tidak terima ketika ditangkap oleh beberapa polisi yang datang. Saya berdiri tak jauh dari tempat kejadian sambil tersenyum puas.

Rasanya begitu luar biasa ketika berhasil melakukan sesuatu yang baik bagi masyarakat dan negara.

Sip, saatnya menjemput Gaara.

Buat kalian yang melihat pria aneh yang suka ngintipin anak-anak kecil, segeralah menelepon polisi. Bisa berbahaya jika dibiarkan. Oke?

Salam hangat, Sasori, si Pembela Anak-anak Manis.

.

[To be continued…]

[+Extra]

.

1491 words.

April 6th, 2015.

.

Special Thanks to

Yuuna Emiko, seman99i, lovely sasuhina, Lawchan-Ai, Yoona Ramdanii, blackeyes947, alfireindra, CiElAnGeL, AtikaWu, Hunter, IKaRI, Uzumaki NaMa, Lluvia Pluviophile, Haciki31, mrz, Mell Hinaga Kuran, nara, hinatama, mhey . ariska, enischan, Vampire Uchiha, renatafir, Raye . Harrogath, Guest, Calpa-chan, demikooo

.

Kolom cuap-cuap Author :

Halo, minna! Ketemu saya lagi. Author update cepat nih.

Pertama-tama, saya mau meminta maaf jika chapter ini aneh bin ajaib. Sungguh, entah kenapa, kokoro ini pengen bikin chapter yang POVnya dari orang lain, dan terpilihlah Sasori. /Sasori:*melambaikantangan*wajahteplon Halo reader yang cantik dan tampan. /Author:berasa si Sasori OOC banget.

Penggunaan POV ini biar kerasa feel-nya kalau si penguntit benar-benar nguntit. /eh well, reader pasti pada tau siapa si penguntit ini. Khukhu. Dan saya minta maaf jika Sasukenya kurang dinistain, soalnya lagi kurang ide nih. :p

Yep, benar sekali. Yang ditabrak Sasuke di chap sebelumnya itu Sakura. Dan seperti yang tercantum, Sakura kenal dengan Itachi.

Mengenai Hinata Remaja, maaf kalau ada yang pengen cepat-cepat Hinata beranjak dewasa. Fic ini lebih fokus pada masa kecilnya si kembar dan sasuke. Jadi, perkembangan cerita akan berjalan lambat. Sangat lambat. Kebiasaan saya juga sih, mengalor-ngidulkan plot. Hinata dan Hanabi nanti akan dewasa kok. Setiap chapter memiliki perannya masing2, jadi mohon diterima dengan lapang dada ya? /wah, author malah curhat nih.

FYI, genre utama cerita ini adalah Family, baru deh Romance.

Jumlah chapter ini kemungkinan akan banyak karena chapternya pendek2. Saya nggak tahan kalau bikin chapter panjang2 kalau buat tipe cerita seperti ini. Asa nggak cocok. :p

And so, I will never be bored to say, again and again… Thank you very much for everyone who read, rev, follow and fave! Muach, muach!

Buat reader baru, selamat datang! Sini Author peluk satu-satu. :D

Stay tune and see you! #bow

.

Extra

.

Cklek! –pintu ruang tamu terbuka dan muncullah Sasuke dan Pain dengan tampak kusut, lelah dan sebal.

"PAPAAAA!" teriakan itu menggema disertai dua kurcaci berlari ke arah Sasuke, minta peluk.

"Halo, Hinata, Hanabi." Sasuke tersenyum kecil ke kedua kurcacinya.

"Papa kok lama banget pulangnya?" tanya Hinata, dengan wajah sedih. "Hali ini kan Hinata ulang taun!"

"Iya! Papa jahat! Papa nggak jemput kita tadi. malah Temali-shan!" seru Hanabi, mendukung Hinata.

Pain yang sedari tadi juga ada di ruangan itu mendesah lelah. "Hanabi, Hinata. Kami ini habis-"

"-kami habis nyari kado khusus buat kalian, jadi agak lama. Maaf ya." Sasuke memotong kalimat Pain dengan senyuman yang kelewat manis.

Si duo kurcaci yang disungguhi senyuman menawan bak malaikat itu hanya bisa mengangguk-angguk dengan rona merah di kedua pipinya. Pain yang melihat itu hanya terkekeh pelan.

"Karena Papa dan Om sudah berjuang keras, kalian harus suka sama kado dan kuenya ya?" ucap Pain, diselingi desahan kelelahan.

"Kuenya mana?" tanya Hinata, dengan riang.

"Kado! Kado!" Hinata teriak-teriak tak sabaran.

"Pain, ambilin."

Pain mendecih lalu dengan ogah-ogahan mengambil segala yang ada di mobil. Mulai dari puluhan kado, bunga dan kue ulang tahun yang besar. Malam itu, acara ulang tahun kecil-kecil berlangsung dengan khidmat meski malam itu kutukan pun terucapkan di hati dua pria yang kena sial itu.

Kalau ketemu sama itu orang yang berani-beraninya manggil polisi. Bakal gue kuliti tuh orang, batin Sasuke dan Pain, penuh dendam.

Di sebuah sudut kota, tak jauh dari rumah Sasuke, seorang pria berambut merah bersin dengan sangat kencang, tanpa tahu apa yang akan menantinya di kemudian hari.

.