"Sial sial sial... Keparat kau Hinata! Kau telah merebut Naru-kun dariku bahkan telah menghasutnya untuk membenciku! Wanita jahanam!" Umpat Shion meluapkan kekesalannya.

Lift terbuka dan dia langsung keluar begitu saja tanpa memperhatikan tatapan bingung dari orang yang dilaluinya. Sesaat kemudian dia tersadar bahwa dia merasa asing dengan tempat ini, sepertinya dia salah lantai. Tatapan bingung dari orang-orang yang berlalu lalang disertai kikikan geli setelah mereka sadar bahwa Shion salah lantai.

Dia menekan kembali lift itu dan sekarang dia bersumpah untuk lebih memperhatikan tanda lantai yang dia tuju.

Shion melangkahkan kakinya keluar dari lift menuju apartemennya, kali ini ia yakin bahwa itu benar-benar apartemennya. Dia membuka pintu apartemennya dan membanting pintu keras-keras.

Dia mencari kontak di ponselnya dan menekan simbol panggilan.

"Moshi moshi, Sasori-kun? Kau sedang sibuk? Aku harus membicarakan proyek baru kita"

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Rate : M

Pair : NaruHina

Warning : Typo bertebaran

Kantor Pusat Namikaze inc.

Pria jangkung berbadan kekar keluar dari kendaraan dinasnya, dengan surai pirang dan manik safirnya yang mengintimidasi sekaligus menawan disaat yang sama. Senyum ramahnya yang selalu ditunggu para wanita cerdas yang bekerja di gedung Namikaze inc. terlepas dari sikap konyolnya yang tidak kenal tempat, wibawanya tidak berkurang sedikitpun meski gayanya yang slengean selalu menjadi ciri khas.

"Ohayou gozaimasu, Namikaze-sama" sapa dua orang resepsionis yang ditempatkan di pintu utama gedung.

"Oh... ohayo" seringaian mautnya membius dua orang resepsionis yang mendadak merasa kakinya lemas bagaikan jelly.

"Hey dobe, mau kemana?" Sapa asisten pribadinya yang entah muncul dari mana.

"Ruang informasi. Mau ikut?" Tawarnya menaik turunkan alis pirangnya dengan sorot mata jenaka.

"Tentu" jawab Sasuke singkat.

Bungsu Uchiha itu memang sangat dingin, berbanding terbalik dengan kakaknya, dan sikap dinginnya itu akan jadi berlipat kali lebih dingin jika dia sedang berhadapan dengan orang yang diluar zona nyamannya.

"Aku berubah pikiran. Aku akan ke kantin saja, segera susul aku." ucap Sasuke tiba-tiba dan segera berbalik menuju arah lain.

"Kau membuatku kecewa teme" ucap Naruto dengan nada memelas.

Sasuke hanya mendecih dengan senyum miring yang selalu tampak cool bagi semua wanita termasuk Sakura Uchiha sang istri yang merupakan sahabat kecil mereka berdua.

"Hey teme aku hampir lupa, agendaku hari ini apa?" Ucap Naruto setengah berteriak.

"Kosong" ucap Sasuke sekenanya yang langsung membuat Naruto berbinar dan berjalan dengan langkah ringan menuju ruang informasi.

Tidak lama kemudian gedung Namikaze inc. bergema dengan suara bariton sang bos besar.

"Tes tes tes... aku sudah bisa bicara kan? Kau yakin mereka bisa mendengarku? Hey Asuma oji-san jangan merokok!... Eh gomen hehehe... Ehem aku ulang saja ya" terdengar suara helaan nafas dari pengeras suara yang baru saja mengeluarkan suara-suara aneh.

"Ohayou minna... hari ini akan aku adakan pesta kecil dirumahku jadi kalian hanya akan bekerja setengah hari, pesta akan dimulai pukul 3 sore ini sampai aku tidak mampu berdiri lagi. Eh? Haruskah? Dalam rangka apa ya? Tidak ada rangkanya! Pokoknya datang saja! Baiklah sekian dulu pengumuman dariku" Suara bariton yang terdengar seenaknya itu membuat gedung menjadi ramai dengan riuh rendah para pegawai yang bahagia.

Dari berbagai tempat di seluruh penjuru gedung terdengar suara-suara mistis.

"I love you bos!!"

"Kyaaa bos is the best"

"Kutunggu dudamu bos"

"Cih... pengumuman macam apa itu? Seenaknya saja" Sasuke mengucap protesnya dari kantin gedung Namikaze dengan senyum terkembang yang tentunya tidak terdengar oleh sasaran yang dituju, siapa peduli.

Sasuke sama senangnya dengan semua pegawai disini, namun hanya itulah bentuk luapan rasa senangnya. Sederhana memang, tapi memang itulah ciri khas Sasuke yang diturunkan oleh sang ayah, Uchiha Fugaku.

Beberapa saat kemudian, Naruto menepati janjinya untuk menemui Sasuke di kantin kantor di lantai dasar. Naruto tidak melepas senyumnya, banyak sekali pegawai yang menyapanya -itu sudah sangat biasa di mata Sasuke, tapi senyum Naruto kali ini tampak sangat berbeda.

"Teme, tolong nanti ajak Fugaku ji-san juga ya, ajak seluruh keluarga kalian. Tou-chan pasti merindukan mereka" ucap Naruto penuh kebahagiaan.

"Kau sudah terlalu tua untuk menggunakan suffix-chan pada orang tuamu dobe" Sasuke menjawab dengan topik yang berbeda.

"Mereka suka dipanggil dengan sebutan seperti itu, aku sebagai anak yang berbakti harusnya mengikuti saja kan" Naruto mengendikan bahunya acuh dan memesan beberapa makanan.

Perbincangan kedua sahabat itu selalu saja berlanjut tanpa pernah kehabisan topik, sepertimya pembicaraan mereka jadi sangat panjang karena Sasuke tidak mau mengucap terlalu banyak kata dalam sekali bicara.

~Un-Invited Visitor~

Pukul 11.30 waktu Konoha

Hinata mendengar deru rendah mesin kendaraan bermotor roda empat yang memasuki garasi rumah mereka. Hinata tidak pernah mempermasalahkan pukul berapa sekarang dan kenapa suaminya itu sudah pulang, baginya semakin cepat sang suami pulang maka semakin baik juga. Terdengar suara pintu ditutup perlahan, dia tau jika sang suami pasti berusaha mengejutkannya.

"Tadaima Hime" ucap Naruto sambil memeluk Hinata yang tengah memasak dan menyodorkan buket bunga kepadanya.

"Okaerinasai Naruto-kun" senyum Hinata terkembang kala sang suami mendaratkan bibirnya di dahi Hinata yang tertutup poni.

"Mandilah, akan aku siapkan makan siang setelah ini" Hinata berucap sembari merebut buket bunga dari tangan Naruto, dia berjalan kearah vas bunga yang berada di ruang tengah dan membawanya ke dapur.

Naruto berlalu menuju lantai atas dimana kamarnya berada, sementara Hinata merapikan bunga yang Naruto berikan padanya sembari melanjutkan acara memasaknya.

10 menit kemudian, Naruto turun dengan setelan kaos santai berwarna biru dipadu celana pendek berwarna hitam. Naruto menarik kursi menempatkan dirinya duduk menghadap pantry dapur dimana sang istri tengah menghidangkan berbagai menu berbahan dasar ikan.

"Naruto-kun tadi Shion-san kesini" ucap Hinata sambil terus memindahkan piring dari pantry ke meja makan.

Deg

"Apa yang dia lakukan?" Ucap Naruto terkesan dingin, mungkin karena fokus sang istri sedang melayang pada makanan yang tengah ia siapkan dia tidak memperhatikan nada mengintimidasi dari sang suami.

"Dia hanya mampir, aku memintanya datang ke pesta kebun kita nanti malam" Hinata mendudukan dirinya tepat diseberang Naruto.

Deg

"Kau melakukan itu tanpa merundingkannya padaku? Astaga hime, kau itu tidak tau bahaya apa yang sedang menimpamu! Dia itu wanita mengerikan-" ucapan Naruto terputus.

"Dia adalah temanku Naruto-kun, temanmu juga. Dia bagian dari masa lalumu, seharusnya kau menjadikannya pelajaran bukan malah menyingkirkannya" Hinata menyela ucapan sang suami dengan nada tidak terima yang ketara dari suaranya.

"Pelajaran? Kau akan mendapat pelajaran besar untuk tidak membawa tamu tidak diundang masuk kedalam rumahmu hime!" Suara Naruto terdengar berat dan dingin dengan matanya yang menajam menatap nyalang amethys dihadapannya. Setelah itu Naruto mengambil piring dan memilih sendiri makanannya tanpa mau diurus oleh sang istri.

Mereka makan dengan suasana canggung, hanya dentingan piring yang beradu dengan sumpit yang terdengar. Naruto sengaja mengetukkan sumpitnya untuk mendapatkan atensi sang istri yang entah kenapa jadi sangat dingin.

"Aku memesankanmu Ferrari LaFerrari Aperta berwarna Hitam, kau boleh memodifikasinya sendiri jika kau mau. Aku sudah selesai, terimakasih atas makanannya" ucap Naruto dingin saat dia selesai makan dan langsung melenggang pergi ke ruang tv.

Hinata masih membeku dalam keterkejutannya di meja makan. Matanya berbinar menanggapi suara yang tertangkap oleh indra pendengarnya. Bahkan disaat marah dan merasa tidak dipatuhi oleh sang istri pun Naruto tetap memiliki cara tersendiri untuk membuat sang istri merasa terlampau bahagia.

Hinata mengejar Naruto ke kamarnya tanpa mengindahkan eksistensi piring kotor yang menunggu untuk dibereskan.

"Naruto-kun" Hinata menghambur masuk ke kamarnya. Dia mendapati sang suami tengah duduk di sisi kanan ranjangnya sambil memainkan ponselnya.

Naruto tidak menjawab, ia hanya mengangkat wajahnya sekilas memandang rona wajah bersalah sang istri lalu kembali menundukan wajahnya pada ponsel pintarnya. Hinata semakin merasa bersalah atas tindakan yang baru saja dia lakukan.

"Naruto-kun gomenasai..." Hinata menghambur kepada sang suami yang kini tengah terbelalak kaget.

Tak cukup sampai disitu, Hinata bahkan menarik tengkuk sang suami dan mengecupi bibirnya dengan linangan air mata yang meleleh pada kedua pipi chubbynya. Naruto yang membolakan matanya perlahan mengerti alasan atas tingkah istrinya itu, perlahan dia menyerah dan turut membalas kecupan istrinya, mengubahnya menjadi lumatan ringan dan berakhir dengan lidah mereka yang bergulat dengan sengit.

Kebutuhan biologis akan pasokan oksigen menghentikan aktifitas mereka. Naruto terus menatap Hinata dengan sorot matanya yang dingin meskipun sebenarnya dia tidak tega melihat pipi lembut sang istri dipenuhi lelehan air mata.

"Apa yang ingin kau katakan sekarang?" ucap Naruto masih mempertahankan suaranya yang dingin.

"Aku harus bagaimana Naruto-kun? Aku sudah terlanjur mengundangnya. Aku tidak tau kalau kau akan marah seperti ini" jelas Hinata dengan linangan air mata yang terus turun mengalir di pipi chubby-nya.

"Ayo segera bersiap-siap, kurang dari 10 menit lagi para maid dari mansion akan datang" ucap Naruto berlalu meninggalkan Hinata menuju kamar mandi "bawakan handuk dan gosok punggungku"

Naruto memerintah dengan nada yang masih sama sinisnya, tapi Hinata tau bahwa sang suami telah menurunkan emosinya hingga dia ingin berbicara secara privat dengan sang istri.

Tok tok tok

"Naruto-kun ada tamu" Hinata berucap dengan sedikit berteriak karena sang suami sudah menutup pintu kamar mandi.

"Biar aku yang lihat"

To Be Continued

Hayolooo siapa itu tamunya...