THE SWEETEST TROUBLEMAKER

Park Chanyeol

Byun Baekhyun

And OCs

ChanBaek (GS)

Romance (lil bit humor)

Warns for mature contents and sexual harassment!

DON'T LIKE DON'T READ!


Happy Reading!


Waktu menunjuk pada jam-jam malam ketika Baekhyun menyusuri lorong apartemen kekasihnya.

Setelah cukup bersusah payah menekan sandi -karena sejatinya tangannya dipenuhi oleh kantong belanjaan- gadis itu akhirnya bisa merebahkan diri di atas sofa sambil mengatur helaan napasnya yang sedikit memburu karena lelah.

Meski begitu ia berterimakasih kepada Mike karena sudah meminjamkan mobilnya untuk Baekhyun gunakan selama di Amerika.

Karena Baekhyun terlalu enggan untuk menggunakan taksi kedua kalinya setelah kemarin akibat diburu waktu.

Setelah rasa penat sudah berangsur lenyap, gadis itu segera membedah isi kantong belanjaannya hanya untuk mendapati beberapa potong pakaian tidur dengan berbagai jenis.

Dan yang paling menarik perhatiannya adalah gaun tidur transparan, bodystocking dan beberapa set lingerie yangmana cukup membutuhkan waktu lama sebelum membawa semua itu ke meja kasir.

Well, tentu saja perang batin tak terelakkan ketika ia mengingat bahwa ia akan mengenakan salah satu gaun tidur itu untuk menyambut kekasihnya saat pulang kerja nanti.

"Kau terlihat seperti bintang porno, Byun Baekhyun." Gumam gadis itu setelah berdiri di depan cermin dan mengamati tubuhnya yang terbalut salah satu gaun tidur transparan pilihannya. Terlepas dari rasa bangga akan bentuk tubuhnya yang diyakini mampu membuat sesak celana setiap laki-laki yang melihatnya.

Helaan napas berat lolos dari mulut si mungil ketika diingatkan lagi akan tujuannya menyapu bersih beberapa set lingerie di salah satu pusat perbelanjaan ternama di New York tersebut.

Di antara Luhan dan Kyungsoo, banyak yang bilang bahwa Baekhyun lah yang sedikit kurang pintar. Atau lambat mencerna informasi? Apapun itu.

Namun Baekhyun tidak sebodoh itu untuk mengartikan ucapan madam Zhang.

Satu pengorbanan akan membuat semuanya perlahan membaik. Jika kau tulus dan menyerahkan apa yang kau anggap berharga kepadanya, maka awal yang baik akan di mulai..

Selain tidak ingin membiarkan Chanyeol terus menerus menanggung penderitaan yang madam Zhang beritahukan, Baekhyun pun yakin inilah saatnya perannya dibutuhkan. Meski harus menyerahkan apa yang menurutnya berharga, tidak masalah karena ia akan memberikannya pada Park Chanyeol. Terlepas dari segala perasaan waswas pada konsekuensi yang akan ditanggungnya.

Baby.. you're not that dangerous, right?

Gadis itu membatin meski tidak tahu hal berbahaya apa yang tengah menantinya.

Because I'm ready to give everything I own to heal you..

"Jadi cepatlah pulang, sayang.." Lanjut Baekhyun sembari bergulingan di atas ranjang, menunggu kekasihnya pulang dan memberantas rasa bosan dengan membaca buku hingga melakukan hal-hal biasa seperti memotret dirinya dengan kamera ponsel sebelum kemudian mempostingnya di akun media sosial.

Lalu kembali bergulingan tidak karuan.

Sebenarnya bukan karena bosan, namun perasaan gugup dan juga waswas yang mengiringi detik-detik pulangnya sang kekasih.


The Sweetest Troublemaker


Chanyeol memandang datar pada kedua orang yang duduk di hadapannya saat ini. Tak repot-repot menyembunyikan ekspresi tidak suka semenjak tuan Im mengajaknya ke salah satu kafe dekat kantor untuk menyesap kopi selepas jam kerja berakhir.

Chanyeol belum mampu menolak ketika bahkan belum genap seminggu ia menjadi bawahan pria paruh baya itu.

Sebanarnya, Chanyeol tidak akan sejengah seperti saat ini jika saja Im Nayeon tidak datang dan membuat suasana berubah semakin membosankan. Menurutnya.

Gadis itu merengek tentang sesuatu yang terpajang di etalase salah satu brand sepatu ternama kepada ayahnya.

"Jadi, kita bisa pergi ke acara itu besok malam. Kau dan aku, Park Chanyeol."

Entah mengapa, senyum yang terulas dari bibir Nayeon tidak terlihat manis sama sekali.

"Saya sibuk, jadi tidak bisa." Sahut Chanyeol tanpa berkeinginan mencumbu kopi yang sejatinya sudah mendingin.

"Tidak bisa begitu, kemarin kau menolak ajakanku pergi ke pesta ulang tahun temanku. Sekarang kau tidak boleh menolakku lagi." Seru Nayeon, lantas atensinya beralih pada tuan Im yang tengah memperhatikan interaksi keduanya. "Appa, aku tidak mau tahu pokoknya Park Chanyeol harus menemaniku ke acara kampus besok." Tegasnya bersama nada suara memerintah. Merasa memiliki kuasa karena Chanyeol adalah bawahan ayahnya.

Memangnya siapa dia?!

Namun sebelum tuan Im dapat menyahut, ponsel pria paruh baya itu telah lebih dulu berdering.

"Oh kau sudah di depan? Masuklah, nak. Appa dan adikmu menunggu."

"Apa-apaan? Gadis jalang itu ada di Amerika?! Seru Nayeon dengan wajah membeo sesaat setelah mendengar percakapan ayahnya dengan seseorang melaui sambungan telepon.

"Im Nayeon! Panggil dia Eonni! Dia baru sampai, dan Appa memintanya untuk mampir kesini, dengan begitu kita bisa pulang ke rumah bersama-sama."

"Dia bukan Eonni ku! Dia hanya gadis jalang yang ibunya kebetulan menikah denganmu, Appa."

"Meskipun aku hanya saudara tiri, aku tetap Eonnimu, Im Nayeon."

Suara lain yang terdengar tenang itu mengalihkan ketiga pasang mata yang tengah berkumpul di salah satu sudut kafe tersebut.

Tak terkecuali Chanyeol, meski terlihat enggan, lelaki itu kemudian menengadah hanya untuk mendapati sesosok wanita kesurupan dengan dua bola mata nyaris keluar, menatap kearahnya.

Tanpa dikomando, garis rahang lelaki itu mengeras sementara tangannya mulai terkepal cukup kuat. Lantas hatinya mengutuk sebuah pepatah yang mengatakan betapa sempitnya dunia yang mampu mempertemukannya kembali dengan wanita keji yang sayangnya pernah mengisi relung hatinya, dulu.

"P-park Chanyeol.." Lirih wanita itu dengan suara bergetar. Sementara matanya sudah lebih dulu berkaca-kaca.

Chanyeol mengenal ekspresi itu. Raut wajah yang kerap diperlihatkan oleh seseorang yang merasakan penyesalan.

"Kalian saling mengenal?" Tanya tuan Im dengan sedikit terkejut.

Sementara Nayeon mencibir benci jika memang benar mereka berdua saling mengenal.

"Maaf, saya harus pergi sekarang." Tanpa berkeinginan menyahuti wanita itu, Chanyeol membungkuk sopan pada tuan Im dan melenggang dengan langkah kentara menuju luar kafe.

"Tunggu!"

Chanyeol menghempas pergelangan tangannya yang digenggam oleh wanita itu sesaat setelah dia mengejarnya. Lantas berbalik hanya untuk menancapkan jutaan belati dari kedua iris matanya yang membeku pada wanita di hadapannya.

"Dulu kita sudah sepakat untuk mati dan hidup kembali di jalan masing-masing tanpa mengenal satu sama lain." Geram Chanyeol di balik gemertuk giginya.

"Tapi..."

"KIM HYEJIN!" Bentak Chanyeol yang berhasil membuat Hyejin tersentak hebat.

Si lelaki memejamkan matanya dengan geram lalu mengangkat jari telunjuknya dengan tegas pada Hyejin. "Simpan semua permintaan maafmu, dan jangan pernah berani muncul di hadapanku lagi."

Lantas tanpa berkeinginan memberikan kesempatan pada Hyejin yang berusaha menukas sepatah atau dua patah kata sebagai jawaban, Chanyeol kembali berbalik dan melenggang pergi.

"Kau mengenalnya, nak?" Suara tuan Im membuyarkan lamunan Hyejin yang berdiri di depan kafe.

Wanita itu berbalik dan menatap ayahnya tidak percaya. "Appa tidak mengenalnya?"

Ada kerutan samar di dahi tuan Im saat ini. Pria paruh baya itu lantas menggeleng. "Dia karyawan baru di kantor, setahuku."

"Appa, dia Park Chanyeol putra dari Park Seunghyun!" Seru Hyejin dengan geram. "Park Seunghyun Sajangnim yang dulu keluarga kita jebak." Lanjutnya hanya untuk mendapati tuan Im membatu dengan kedua bola mata nyaris keluar.

Kini yang tersisa untuk Chanyeol adalah hari yang buruk, tubuh dan pikiran yang lelah serta suasana hati yang sangat kacau.

Park Chanyeol memperkosaku!

Rahang Chanyeol kian mengeras ketika suara menggema yang berasal dari masa lalu itu memenuhi indera pendengarannya.

Dia memukul, mencekik dan membanting kursi itu pada kakiku.

Lelaki itu menyandarkan kepala pada pintu lift dan membenturkannya berkali-kali, benci mendengar suara-suara menggema itu.

Dia menodaiku.

Dia melecehkanku berkali-kali.

Tanganya mengepal keras sebelum kemudian meninju pintu lift berkali-kali, mengabaikan rasa perih bersama darah segar yang mulai merembes dari kepalan tangan akibat pelampiasannya yang membabi buta.

Lelaki itu menekan sandi apartemen dengan perasaan tak menentu, marah tentu saja hal yang paling mendominasi perasaannya saat ini. Kemunculan Hyejin benar-benar membuat emosinya terpancing bahkan sama sekali tidak membuat kedua matanya melembut meski di depannya saat ini berdiri sosok mungil yang canggung seraya merapatkan kedua kaki, menyilangkan kedua tangan di depan dada, mencoba menyembunyikan tubuh polosnya yang terekspos dibalik gaun transparan yang dikenakannya.

Park Chanyeol benar-benar berbahaya! Dia menyakitiku! Dia menyentuhku!

Dia brengsek!

Kilatan amarah di kedua iris Chanyeol kian kentara, langkahnya tanpa sadar terurai, mendekat pada si mungil dengan sedikit memiringkan kepala seraya melonggarkan dasi yang melilit di lehernya.

"Sayang? K-kau.. baik?" Cicit Baekhyun yang tanpa sadar mengambil langkah mundur saat dilihatnya ekspresi asing dari wajah kekasihnya.

Park Chanyeol terlihat berbeda.

Lelaki itu tampak marah.

Dia.. menakutkan.

"P-park Chanyeol!" Pekik Baekhyun setelah kedua pipinya dicengkram kuat oleh lelaki itu. Lalu ia kembali dikejutkan oleh darah setengah mengering pada kepalan tangan kekasihnya. "Hei, kenapa tanganmu, hum? Apa kau baik-baik saja?" Serunya dengan perasaan cemas.

Chanyeol tidak menyahut, sedang matanya semakin membeku.

Dia membenturkan tubuhku ke dinding.

Seperti sebuah komando, suara Hyejin di masa lalu itu membuat Chanyeol terhipnotis, lantas dengan gerak kentara Chanyeol membenturkan tubuh mungil di hadapannya itu pada dinding.

Terdengar bunyi yang cukup keras diiringi pekikan hebat yang keluar dari mulut Baekhyun. Sakit luar biasa menjalar di sekitar punggung hingga membuatnya tak sanggup untuk menopang beban tubuh sebelum kemudian terhuyung ke lantai.

Seperti terlahir kembali, Chanyeol memejamkan mata lantas menghirup udara seraya mengulas seringaian aneh di sudut bibirnya.

Oh, dia menyukai perbuatannya beberapa detik lalu.

Erangan kesakitan masih keluar lolos dari mulut Baekhyun, namun terdengar seperti nyanyian merdu di telinga Chanyeol. Lelaki itu berlutut, mengangkat dagu Baekhyun sebelum kembali mencengkram kedua sisi wajah gadis itu.

Baekhyun menggeleng pelan, lidahnya masih kelu akibat terkejut atas perlakuan tak terduga dari Chanyeol beberapa saat lalu dan kini ia kembali mendapati sorot asing dari kedua iris kelamnya, lelaki dengan kilatan mata menakutkan di hadapannya saat ini bukanlah Park Chanyeol-nya.

"Apa yang kau harapkan dengan berpenampilan provokatif seperti ini?" Chanyeol menelisik penampilan Baekhyun.

Benar atau tidak, Baekhyun mendapati tatapan merendahkan yang terlempar kepadanya.

Bahkan suara lelaki itu terdengar lain, jauh lebih berat dan seolah memiliki sejuta kemarahan.

"Jawab aku, Byun!" Dihempasnya wajah Baekhyun dengan kasar. "Apa kau sengaja ingin memancing gairahku?"

Baekhyun menunduk dalam. Ketika ia berpikir untuk memberontak lantas melarikan diri, petuah dari madam Zhang kembali terngiang di otaknya.

Mungkin kau akan merasa takut dan putus asa pada awalnya, namun ingat satu hal. Penderitaanmu tidak sebanding dengan penderitaannya.

Dan Baekhyun memilih mengambil resiko, sejauh mana lelaki itu akan menempatkannya dalam bahaya?

Dengan begitu Baekhyun akan tahu penderitaan apa yang dirasakannya selama ini.

"Byun Baekhyun, kau menguji kesabaranku!" Geram Chanyeol lantas menjambak rambut si mungil dan menyeretnya masuk ke dalam kamar.

Baekhyun menggeleng keras, meyakinkan dirinya sendiri untuk tidak takut. Bahkan ketika punggungnya yang masih sakit harus kembali terbentur pada permukaan ranjang, ia mencoba untuk menahan sakitnya di balik mulut yang mengatup rapat.

"Kita lihat sampai kapan kau akan menahannya." Tukas Chanyeol diringi seringaian itu lagi. Lantas atensinya menyapu tubuh polos Baekhyun dibalik gaun tidurnya dengan tatapan lapar.

Sekarang Chanyeol merasa tolol karena telah memendam hasrat kelelakiannya selama ini.

Saliva Baekhyun tertelan pahit, sedang matanya mencoba melihat kearah lain saat Chanyeol mulai melepas satu persatu pakaiannya.

"Kenapa menghindar? Bukankah kau memakai pakaian jalang itu untuk ini? Untuk memancingku agar menyetubuhimu, bukan begitu?" Kekeh Chanyeol setelah naik keatas ranjang namun sikap Baekhyun yang sedari tadi bungkam cukup membuat amarahnya membuncah.

"Kau tahu, hukuman adalah apa yang pantas diterima oleh seseorang yang mengabaikan ucapan orang lain."

Lantas setelah mengumpat kecil, memaki Baekhyun dengan kata-kata kasar yang juga memberinya kepuasan tersendiri, Chanyeol merobek gaun tidur yang dikenakan si gadis hingga berhasil menelanjanginya.

Dan ternyata, Baekhyun tidak sekuat dan setegar itu. Tubuhnya mulai bergetar, perasaan takutnya mulai mendominasi.

Bahkan rasa sakit mulai mencubit hatinya, ia pernah diperlakukan sekasar itu, ia pernah dilecehkan dan nyaris ditelanjangi, dulu. Insiden yang tidak pernah pupus dari ingatannya hingga kini, sampai membuatnya kerap berpikir dua kali untuk menggunakan alat transportasi umum jika tidak dalam keadaan mendesak. Dan apa yang tengah berlangsung kini seolah kembali memutar kilas balik kejadian menakutkan itu. Lebih buruk lagi yang melakukannya bukan orang lain, bukan orang asing berseragam supir taksi, melainkan Park Chanyeol. Kekasihnya. Sosok yang kerap Baekhyun yakini jelmaan malaikat yang Tuhan ciptakan tanpa emosi dan hawa nafsu.

"Ya, memang sudah seharusnya kau takut." Bisik Chanyeol seraya terkekeh, Demi Tuhan ia menyukai ekspresi ketakutan Baekhyun saat ini.

Chanyeol sungguh menikmatinya, dan itu membuatnya menginginkan lebih. Hasrat yang mendoronganya untuk membuka kaki Baekhyun lebar-lebar.

Si gadis berontak keras, ia bahkan menendang kakinya berulang diselingi suara isak tangis yang mulai terdengar. Hal yang membuat gelak tawa Chanyeol mengemuka dengan nikmat. "Teruslah berontak, sayang. Aku menyukainya. Menangislah lebih kencang." Lanjutnya lalu menunduk, menjilat cairan bening yang lolos dari pelupuk mata Baekhyun.

"Ohh, Byun Baekhyun.." Gumamnya merasakan nikmatnya air mata itu. Tidak. Poin utamanya adalah penderitaan di balik air mata itu.

Chanyeol menyukainya. Dan lagi, hasrat untuk menginginkan lebih kembali tertanam dalam dirinya. Kepalanya bergerak, menyapukan lidah disekitar pipi Baekhyun lalu turun ke leher, mengecapnya sejenak hingga berakhir pada kedua gundukan sintal. Tanpa membuang waktu Chanyeol kini kembali menjelma menjadi seorang bayi rakus, melumat daging kenyal itu dengan buas, memainkan benda merah muda yang menegak itu dengan jilatan sensual diakhiri gigitan keras, membuat Baekhyun yang semula berada dalam perasaan tak menentu karena sengatan-sengatan aneh yang menjalar di sekujur tubuhnya tiba-tiba menjerit kesakitan.

Diremasnya rambut Chanyeol untuk mengalihkan rasa sakit, namun tak bertahan lama karena lelaki itu balik menghempas tangannya, semantara dia bangkit kembali pada posisi bertumpu di depan selangkangan Baekhyun. Satu tangannya yang lain kembali mencengkram kedua pipi si gadis sementara yang lainnya mulai mengarahkan kejantanannya yang sedari mengacung pada lubang kewanitaan Baekhyun tanpa mengalihkan sedikit tatapan mata tajamnya dari si gadis.

Lelaki itu mendesis, sementara yang lebih mungil menjerit saat bagian bawahnya dijelali batang keras berukuran besar dalam satu kali hentakan. Tubuhnya sedikit melengkung menerima rasa sakit luar biasa itu untuk pertama kalinya. "Park.. Park Chanyeol.. hentikan kumohon.." Cicitnya putus asa, diselingi tangis payah. Menyedihkan, meski ia tahu sesuatu yang berharga itu adalah kesuciannya, namun Baekhyun menolak membenarkan tindakan Chanyeol yang merebutnya secara paksa.

Bukan berakhir menjadi si pasrah dengan tangis pilu menyedihkan, karena kehilangan mahkota berharga yang ia jaga setengah mati dengan cara tak manusiawi seperti ini yang Baekhyun harapkan.

Chanyeol tak menggubris, fokusnya sudah sepenuhnya teralih pada cengkraman lubang kewanitaan Baekhyun yang telah lebih dulu menjebak dirinya dalam ruang kenikmatan. "Ya, menjeritlah sayang. Karena.. ohhh.." Ia menggantung ucapannya hanya untuk menyentak kejantanannya lebih dalam. "Astaga aku tidak tahu rasanya seluar biasa ini.. " Lanjutnya dengan geraman dan hentakan pinggul yang lebih keras tanpa mengenal belas kasih pada si mungil yang tengah menggelengkan kepalanya ke kanan dan kiri akibat rasa sakit luar biasa pada bagian bawah tubuhnya.

Suara tangis dan wajah kesakitan Baekhyun adalah apa yang Chanyeol nikmati, terlepas dari cengkaraman pada kejantanannya di dalam sana. Sengatan nikmat tak kunjung menguap bersama dengan hentakan pinggul yang ia maju mundurkan dengan tempo cepat.

Erangan payah Baekhyun mulai berubah menjadi lenguhan lembut di bawah tubuh kekar berhias tattoo, pukulan demi pukulan yang sedari tadi dilayangkan pada dada bidang si lelaki yang masih sibuk menggagahinya berubah menjadi remasan dan cakaran kecil. Sebuah pengalihan.

Lantas ketika mengidamkan kembali raut penderitaan di wajah si mungil yang tengah Chanyeol jajah di bawah tubuhnya, lelaki itu kembali berulah. Tangannya terulur sebelum kemudian kepalannya berhasil mencengkram leher Baekhyun, mencekiknya.

Baekhyun menggeleng, menggengam tangan Chanyeol, memukulnya berkali-kali dan berusaha melepaskan cekikan yang mendarat di lehernya. "Lepas.. Chanyeol aku.. t-tidak bisa bernapas!" Suaranya tercekat berkali-kali sambil berusaha meraup pasokan udara yang semakin terhambat.

Park Chanyeol menyakitiku secara mental dan fisik.

"Yeah.. mendesahlah dalam kesakitan seperti itu! Biar ku tunjukan seperti apa rasa sakit yang sesungguhnya!" Umpat Chanyeol menjawab suara-suara menggema terkutuk itu lagi tanpa berniat melepas cekikannya di leher Baekhyun, tanpa berkeinginan memperlambat hentakan pinggul pada lubang kewanitaan si mungil. Hanya demi satu kepuasan yang menyenangkan.

Menyenangkan bisa melihat wajah memerah Baekhyun, suara payah di balik cekikan yang diterimanya, tubuh mungil yang berontak meminta dilepaskan, mata yang mulai terpejam...

Genggaman tangan yang mulai mengendur...

Helaan napasnya yang semakin payah...

Sepayah gerakan Chanyeol yang ikut melemah, lantas berhenti saat sosok mungil di bawahnya tak lagi terjaga.

Kelopak mata Baekhyun yang terpejam lantas mengalirkan kesadaran yang menghantam Chanyeol secara telak.

Kesadaran Baekhyun yang menghilang, membuat sekujur tubuh Chanyeol diselimuti gigil kentara.

Tak membutuhkan waktu lama ketika Chanyeol menarik tangannya dari leher Baekhyun, tangan yang semula mencengkram leher si mungil dengan kekuatan kini bergetar hebat.

Tangan yang semula ia gunakan untuk membenturkan tubuh mungil itu ke dinding, menjambaknya, menyeretnya, menelanjanginya tanpa belas kasih kini ditatapnya dengan kedua bola mata terkejut, memerah, dan basah.

Apa yang telah dilakukannya?

"Tidak, tidak." Chanyeol menggeleng keras seolah membantah semua perbuatan kejinya beberapa saat lalu. Ketika kesadaran lain menghantamnya lagi tak kalah telak, lelaki itu secepat kilat menarik diri lantas merengkuh sosok mungil yang tergeletak tak sadarkan diri itu ke dalam pelukan erat. "Tidak.. kumohon.. bangun.. sayang maafkan aku.. kumohon.."

Tidak ada pendeskripsian yang tepat untuk menggambarkan penyesalan Chanyeol saat ini.

Ia hanya mampu merapatkan tubuh dan mendekap erat si mungil yang masih kehilangan kesadarannya.


The Sweetest Troublemaker


Chanyeol tidak pernah benar-benar memperhatikan raut wajah tidur seorang gadis. Memang, ia kerap mendapati Haru terkulai di bahunya saat mereka duduk di depan layar plasma, menonton sebuah acara yang disiarkan oleh salah satu stasiun telivisi swasta. Namun apa yang kini terjadi jelas tidak sesederhana ketika Chanyeol membiarkan adiknya membasahi lengan kaos dengan air liur yang menetes.

Lelaki itu masih terpaku pada sosok mungil yang terlelap di atas ranjang. Cahaya matahari yang mulai meninggi menerpa sebagian wajah Baekhyun sementara helai rambut panjang tersebar di sekeliling kepalanya, lantas kesan tak nyata berhasil tercipta. Baekhyun tidak terlihat seperti manusia. Dia tampak serupa patung porselen yang tercipta untuk melahirkan decak kagum dari setiap atensi yang melihatnya.

Bahkan, kelopak matanya yang tertutup halus menciptakan satu harapan konyol dalam benak Chanyeol. Lelaki itu ingin menjelma menjadi seorang pangeran yang membangunkan sang puteri tidur dengan sebuah ciuman.

Namun sebelum Chanyeol berharap lebih jauh lagi, ia kembali dihantam oleh pahitnya kenyataan. Apa yang menjadi harapannya tentang segala sesuatu yang menyenangkan dengan Byun Baekhyun tidak akan pernah terwujud.

Ya, bahkan Chanyeol masih memikirkan hukuman apa yang pantas dirinya terima atas perbuatan kejinya semalam. Jika ada hukuman paling menyakitkan hingga membuat siapapun lebih memilih mati daripada menanggungnya, maka Chanyeol akan bersedia menerima hukuman tersebut.

Karena sungguh, meski raut wajah tidur Baekhyun terlihat begitu lembut namun hal itu tak cukup mengusir rasa sesal dan luka yang mulai menganga di dalam hatinya.

Tidak. Gadis itu tertidur karena memang sedari awal kesadarannya terenggut, dan itu adalah ulah Chanyeol. Lelaki itu mengakuinya dengan perasaan menyesal yang teramat dalam.

Selama ini, Chanyeol tidak pernah begitu menunjukkan apa yang dirasakannya terhadap Baekhyun. Ia hanya kerap menatap penuh kagum dalam diam, menggambar tingkah laku si mungil sebelum pergi tidur, menyembunyian rasa cemas dibalik tatapan galak andalannya, atau bahkan hal tersulit yaitu mengusir hasrat kelelakiannya yang diakibatkan oleh kelakuan Baekhyun yang suatu waktu akan begitu memprovokasi dirinya.

Dan Chanyeol keliru, pikirnya setelah berhasil melewati semua ujian itu, ia benar-benar berhasil menjadi sosok yang baru.

Chanyeol bahkan selalu berpikir bahwa ia bukan lagi manusia berbahaya seperti yang kerap dituduhkan oleh orang-orang, dulu.

Ia sudah sembuh. Chanyeol selalu menerapkan keyakinannya itu.

Namun kini ia menyadari betapa naif dirinya. Hanya tidak lebih kurang dari lima menit pertemuannya dengan Hyejin, wanita itu berhasil membangkitkan sosok buas yang selama ini sudah Chanyeol yakini telah lenyap dalam dirinya.

Lelaki itu beranjak dari duduknya diiringi helaan napas berat, lantas berjalan lunglai sebelum kemudian memusatkan atensi pada pemandangan kota New York di bawah sana.

Cahaya terik yang mengenai wajahnya kini terasa cukup mengganggu, lantas kernyitan di dahi Baekhyun mengemuka seiring dengan kelopak matanya yang mulai terbuka. Pelan dan lemah.

Si mungil mendesis kecil ketika bergerak, lalu rasa nyeri yang menjalar di bagian bawah tubuh menyadarkannya akan sesuatu. Dengan sedikit berusaha karena melawan rasa ngilu di punggungnya, gadis itu akhirnya berhasil bangkit dari posisi tidur. Ia mengamati tubuh yang semalam terbujur menyedihkan dalam keadaan telanjang kini sudah terbalut kemeja besar.

Sontak ia kembali disadarkan oleh sesuatu, matanya beralih menyapu seluruh ruangan tanpa waswas, tanpa perasaan takut seperti yang ia rasakan tadi malam. Malah kini atensinya berakhir pada punggung tegap berhias tattoo dengan tatapan cemas.

Kekasihnya itu mungkin tengah menyalahkan dirinya sendiri saat ini.

Baekhyun menjulurkan kaki ke permukaan lantai, lalu mengurai langkah pelan, mengabaikan rasa sakit di bawah tubuhnya dan berjalan ke arah Chanyeol yang berdiri di depan kaca besar yang menghadap langsung pada pemukiman padat kota New York.

Ketika Chanyeol berpikir bahwa ia sudah siap menerima konsekuensi atas perbuatannya yang tak termaafkan tadi malam, termasuk memikirkan kesulitan apa yang akan ia hadapi karena akan kehilangan sosok yang entah sejak kapan menjadi prioritasnya, lelaki itu justru dibuat terkejut oleh sepasang lengan halus yang kini menelusuri perut telanjangnya dari belakang, melingkar sebelum kemudian memeluknya erat.

Sunyi yang mengudara terasa menyiksa.

Chanyeol terlalu menyesal untuk sekedar bersuara, ia cemas. Lantas mengutuk mulutnya sendiri akibat berbagai kalimat kasar dan kotor yang semalam ia tujukan pada si mungil yang kini justru tengah mengusakkan wajah di punggungnya.

Usapan lembut di sekitar perut Chanyeol adalah apa yang Baekhyun sebut sebagai usaha menenangkan ketika tubuh lelaki itu dialiri getar samar.

"Tidak apa-apa.." bisik si mungil.

Chanyeol menggeleng keras, bibirnya terkatup rapat sementara matanya mulai memerah.

"Tidak apa-apa.." kembali Baekhyun menukas, sedikit mempertegas. Mencoba mengusir perasaan bersalah yang bahkan menguar dengan jelas dari bahasa tubuh kekasihnya.

Chanyeol menunduk dalam sebelum kemudian berbalik, menghadap pada si mungil sebagai seorang pendosa yang tak termaafkan.

"Aku baik.. aku tidak apa-apa.." Baekhyun mengalihkan rasa ngilu di sekujur tubuhnya dengan membelai wajah Chanyeol.

Lagi lagi Chanyeol menggeleng keras, menolak membenarkan pengakuan Baekhyun yang jelas berusaha memperbaiki perasaan kacaunya saat ini.

"Hei, lihat aku.."

Lalu perlahan Chanyeol mulai membagi atensinya pada Baekhyun.

Si mungil menggeleng pelan melihat kilatan kesedihan di kedua iris Chanyeol dan masih membelai lembut telapak wajah kekasihnya itu. Setelahnya ia menarik tangan Chanyeol, membawa lelaki itu pada single sofa hingga keduanya duduk berhadapan. "Katakan, apa yang terjadi? Hum?" Baekhyun mulai bertanya dengan lembut sementara tangannya sudah lebih dulu menggenggam tangan Chanyeol.

Si lelaki masih bungkam, namun kebisuannya tak sedikitpun mengalihkan atensinya dari si mungil yang kini menatapnya penuh perhatian.

"Aku mungkin bukan pemecah sebuah masalah. Aku bahkan payah dalam memperbaiki sesuatu, tapi.. aku pendengar yang baik. Luhan dan Kyungsoo bahkan selalu menjadikanku tempat untuk berkeluh kesah. Jadi, kau tak perlu cemas. Aku cukup dapat dipercaya." Tukas Baekhyun diakhiri senyum tulus.

Chanyeol menunduk sejenak sebelum kemudian menghela napas dan kembali menengadah. "Aku.. aku cacat." Tukasnya parau.

Baekhyun mengeratkan genggaman tangannya pada Chanyeol ketika dirasanya ada getar samar di sana. Ia tidak menyahut, membiarkan Chanyeol melanjutkan ucapannya.

"Dulu, meskipun tidak sekaya dirimu, aku berasal dari kalangan cukup berada. Setidaknya.. ayahku memiliki beberapa gedung pencakar langit untuk mengembangkan usahanya. Keluargaku cukup terpandang dan dikenal oleh setiap orang di lingkunganku. Tapi yang mereka tidak tahu, kekuargaku tidak seharmonis dan sebahagia yang terlihat." Chanyeol menjeda ucapannya, helaan napas kian memburu karena ia harus mencongkel kembali luka lama itu.

"Nyaris setiap hari orang tuaku bertengkar, dari situ aku sadar bahwa mempunyai banyak uang tidak cukup membuat manusia puas. Aku sering mendapati mereka bertengkar hebat, hingga ibuku berakhir menjadi korban kekerasan ayahku. Tak jarang beliau melayangkan pukulan terhadap ibuku jika bisnisnya tidak berjalan dengan lancar."

Chanyeol menelan salivanya dengan pahit sebelum kemudian mengusakkan wajahnya pada telapak tangan Baekhyun ketika gadis itu membelainya dengan lembut.

"Semua itu terus berlanjut bahkan hingga bisnis ayahku berada di ambang kehancuran. Pertengkaran mereka semakin intens terjadi. Aku.. pada saat itu ikut putus asa. Tapi kemudian aku sadar, aku mempunyai dia yang selalu berada di sampingku, menjadi tempatku berkeluh kesah."

"Dia?"

"Dia.. kekasihku dulu." Chanyeol mengambil alih genggaman tangan, merapatkannya dengan erat, mencoba memberi perhatian pada Baekhyun, memberi tahunya dalam bisu bahwa wanita itu hanya masa lalu.

Baekhyun tersenyum lembut. Lalu menggeleng pelan, seperti tengah menjawab apa yang Chanyeol ungkapkan dalam diam. Meski ia cukup terkejut karena tidak menyangka bahwa Park Chanyeol pernah berpacaran sebelumnya.

"Namanya Kim Hyejin. Kita menjalin hubungan saat aku duduk di kelas dua. Dan saat itu Hyejin adalah kakak kelasku. Dia menjadi satu-satunya orang yang aku andalkan disaat perasaanku kacau, disaat keadaan di rumah tengah memanas akibat pertengkaran kedua orang tuaku. Aku mempercayakan semua hal kepada Hyejin. Aku.. aku begitu mengandalkannya."

"Dan kau begitu mencintainya, dulu. Begitu?"

Awalnya, Chanyeol sempat ragu namun ekspresi Baekhyun yang tampak tenang membuatnya yakin untuk mengangguk.

"Kim Hyejin adalah salah satu murid populer waktu itu. Selain cantik, dia juga pintar, baik dan ramah. Maka tak heran jika nyaris semua murid laki-laki menggilainya. Termasuk aku. Bahkan beberapa bulan semenjak resmi menjadi kekasihnya, aku masih menjadi sasaran amukan kakak kelas yang masih tidak terima karena Hyejin menjadi milikku."

"Ahh.. kau beruntung sekali." Baekhyun terkekeh, mencoba mencairkan suasana. Satu dari sekian upaya untuk menyembunyikan kecemburuannya.

Oh tentu saja, momennya dirasa kurang pas untuk cemburu, bukan?

"Tapi, karena begitu menggilainya. Begitu mencintainya, terlalu fokus hanya pada perasaanku yang menggebu, aku jadi begitu sangat ceroboh dan bodoh. Aku terlalu memusatkan seluruh perhatianku padanya, menganggap Hyejin adalah orang yang paling kupercaya hingga tanpa kuketahui, dia tidak mencintaiku seperti aku mencintainya. Dia.. mempunyai tujuan lain untuk mendekatiku."

Chanyeol kembali menunduk, menyembunyikan raut wajahnya yang menyedihkan dari Baekhyun. Sementara gadis itu telah lebih dulu terpaku. Ia rasa apa yang akan Chanyeol katakan selanjutnya adalah titik dari segala penderitaan yang dirasakan lelaki itu.

"Hyejin hanya memanfaatkanku untuk mengetahui semua hal buruk tentang keluargaku. Awalnya aku sempat berpikir bahwa berita tentang kekerasan yang ibuku alami yang terpampang di surat kabar adalah perbuatan para tetangga yang iri dengan kehidupan mewah keluargaku, tapi tidak. Itu semua ulah Hyejin. Ulah keluarganya yang ternyata adalah saingan berat bisnis ayahku."

"Kau tahu, yang membuatku merasa lebih buruk adalah tanpa sengaja aku sendiri yang memberinya informasi tentang keluargaku. Akulah penyebab hancurnya bisnis ayahku karena tak ada satu pun hal tentang keluargaku yang aku sembunyikan dari Hyejin. Aku mengeluhkan semuanya kepada wanita itu."

"Ja-jadi.. dia dan keluarga memanfaatkan keadaan keluargamu untuk menggulingkan bisnis ayahmu? Seperti itu?"

Chanyeol mengangguk. "Kekerasan dalam rumah tangga menjadi topik yang begitu sensitif pada saat itu, dan kau tahu apa yang membuat semuanya hancur dalam sekejap?"

Baekhyun mengigit bibir bawah, lantas menggeleng.

"Hyejin mengakhirinya dengan menggunakanku, seolah tidak cukup hanya membuat bisnis keluargaku berada di ambang kehancuran, dia menggunakanku sebagai senajta terakhir."

"Apa yang dilakukannya?" Sedikit banyak Baekhyun mulai merasa geram terhadap wanita bernama Kim Hyejin itu.

"Dia menghebohkan seluruh sekolah atau bahkan lingkungan tempat tinggalku dengan pengakuannya. Dia bilang.. d-dia bilang.."

Baekhyun mengelus bahu Chanyeol yang tampak dialiri getar kentara.

"Dia bilang aku melecehkannya, memperkosanya.. dan.. melakukan kekerasan fisik terhadapnya. Dia meyakinkan semua orang dengan tongkat yang membantunya berjalan. Dia membuat semua orang yakin bahwa luka memar di seluruh wajahnya adalah perbuatanku. Dan dari situ semuanya benar-benar hancur karena aku tak memiliki daya untuk mengelak, aku terlalu mencintainya hingga tidak ingin dia dibenci karena pengakuan palsunya."

Chanyeol tidak bisa untuk mengontrol emosi saat ini, kedua mata yang sedari tadi memerah kini mulai basah. "Setelah ayahku benar-benar bangkrut, aku dan keluargaku pindah ke Seoul, tapi itu bukan awal yang baru. Setidaknya bagiku yang harus mendekam di ruang psikiater selama beberapa jam setiap hari sebagai penderita kelainan seksual karena orang tuaku termakan ucapan Hyejin. Mereka yakin ada sosok monster yang hidup dalam diriku."

Chanyeol menggeleng pelan. "Keyakinan mereka bertambah saat ayahku menyatakan kerap bertengkar dan melayangkan kekerasan terhadap ibuku. Dan psikiater yang menanganiku mengatakan bahwa hal itu yang memicuku menderita kelainan seksual itu."

Mulut Baekhyun kelu, ia bahkan tidak mempunyai kekuatan lebih untuk sekedar menepuk bahu kekasihnya, atau mengatakan sesuatu yang menenangkan. Ia terlalu terkejut.

"Kau tahu, apa yang membuatku menderita bukan karena harus menjalani serangkaian pengobatan sebagai penderita sakit mental. Tapi karena orang tuaku menyalahkan diri mereka sendiri atas apa yang mereka yakini menimpa diriku. Terlepas dari perasaan lega karena perlahan mereka mulai menerima kenyataan, menjalani hidup sebagai orang-orang sederhana."

"Meski tidak bagiku." Chanyeol mencicit pelan. Tenggorokannya tercekat berkali-kali. "Meski mulai hidup baru dengan keluarga yang mulai tertata dan tidak ada lagi pertengkaran berarti dari kedua orang tuaku, tapi aku tumbuh dengan keyakian bahwa aku menderita kelainan seksual. Mereka memaksaku percaya bahwa aku benar-benar berbahaya hingga membuatku yang mulanya membantah perlahan justru menanamkan sendiri keyakinan itu. Bahwa aku mempunyai sosok buas dalam diriku."

Chanyeol kembali menengadah, lantas tangannya terulur mengelus pipi lembut Baekhyun. "Aku benar-benar si cacat itu, Baekhyun. Aku bahkan tidak ingat sudah berapa banyak video sex yang melibatkan kekerasan yang aku tonton diam-diam waktu itu." Lalu suaranya mulai berubah menjadi asing seiring dengan atensinya yang menyapu seluruh tubuh Baekhyun.

Si mungil menggeleng pelan. Mencoba menanamkan kekuatan dalam pikirannya, bahwa ia tidak akan takut kalau-kalau sosok buas itu kembali hadir.

"Aku menikmati ekspresi kesakitanmu tadi malam. Aku menyukainya." Bisik Chanyeol, lalu tubuhnya mulai bergerak, mengikis jarak dan membuat si mungil ikut bergerak pada posisi tertidur di atas sofa dengan sedikit waswas. "Aku mendapat kepuasanku sendiri saat melihatmu menderita tadi malam."

Chanyeol memejamkan mata, menghirup wangi rambut Baekhyun dengan gestur yang amat sensual.

"Aku tidak lebih dari seorang psiko berbahaya." Suara Chanyeol kian rendah, hingga tubuhnya kini berhasil mengungkung si mungil di bawahnya. "Jadi, apakah sekarang kau ingin melarikan diri? Berlari sejauh mungkin dan lenyap atensiku. Jika ya, aku memberimu kesempatan untuk bangun sekarang, pakai bajumu dan keluar dari tempat terkutuk ini dan jangan pernah kembali."

Namun usaha Chanyeol sia-sia. Ia tidak sedikitpun membuat si mungil gentar. Malah kini ia dibuat terkejut saat gadis itu melingkarkan tangannya di leher, menarik tengkuk dan mendaratkan kecupan lembut.

"Kau tidak berbahaya." Bisik Baekhyun. "Setidaknya biar kuingatkan lagi kejadian di hutan, bukan malah senang mendapatiku menangis ketakutan di pedalaman hutan yang gelap, kau malah memelukku erat. Mencemaskanku, dan menenangkanku."

Chanyeol hendak menyahut namun Baekhyun lebih dulu meletakkan jari telunjuknya di bibir lelaki itu. "Urmm.. saat di sungai.. oh aku yakin kau mengingatnya. Jika memang kau seberbahaya itu, bukankah seharusnya saat ini aku sudah memenjarakanmu karena tuduhan pelecehan? Aku telanjang bulat waktu itu jika kau lupa." Bisik Baekhyun lalu menjentikkan jari dengan keras, membuat lelaki di atasnya sedikit terkejut.

"Saat membuat tattoo! Studiomu bahkan lebih terang dari pencahayaan di sungai, kau melihat payudaraku dengan cukup jelas, kau bahkan menyentuhnya, Park Chanyeol-ssi."

"Kenapa kau frontal sekali, 'sih?" Lama-lama Chanyeol mulai sedikit kesal, bagaimana bisa gadis itu mengatakannya tanpa sedikitpun merona?

"Kenapa harus malu? Aku bahkan sudah tidak perawan."

Dan Chanyeol dibuat mati kutu oleh pernyataan si mungil. Lelaki itu memainkan bola matanya dengan cukup gusar. "Itu.. tadi malam pengalaman pertamaku."

Baekhyun mengulum senyum, bukan merasa ngeri mengingat kejadian tadi malam, ia justru lebih tertarik memperhatikan raut wajah Chanyeol saat ini, seperti seorang anak kecil nakal yang tertangkap basah sudah mencuri sesuatu.

"Hei, setidaknya jika kau tidak yakin, kita bisa mencobanya."

"Hum?" Chanyeol mengernyit samar.

"Kita lakukan dengan caramu. Kita lihat apa benar kau seberbahaya itu."

"Kau sudah tahu jawabannya, Baekhyun."

Si gadis menggeleng, "Sebelumnya kau tidak seperti itu, dan aku cukup merasa heran. Sekarang katakan padaku, apa sesuatu terjadi sebelum kau sampai di apartemen?"

Chanyeol berpikir sejenak, menimbang opsi antara 'Ya' dan 'Tidak' untuk memberitahukan pertemuannya dengan Hyejin.

"Tak apa, sayang.. katakan padaku."

Dan suara merengek si mungil adalah apa yang selalu membuat Chanyeol kalah.

"Aku bertemu dengan Hyejin, kemarin."

Baekhyun mengerjap berkali-kali, lantas ia mendorong tubuh Chanyeol hingga keduanya kembali duduk berhadapan. "Bagaimana bisa? Lalu apa yang terjadi? Hum? Kau baik-baik saja!"

Chanyeol menggeleng seraya mengecupi pungung tangan kekasihnya. "Akibatnya..." lalu ia sadar akan satu hal.

"Aku marah dan.. melampiaskannya padamu? Itu yang terjadi kemarin, bukan?"

Lalu Chanyeol menggeleng pelan saat berpikir bahwa perbuatannya tadi malam hanya terpancing emosi yang dipicu oleh pertemuannya dengan Hyejin. Ia mengenyahkan pikiran bahwa ia sudah sembuh dan yakin bahwa monster itu masih bersarang di tubuhnya.

"Apa kita sedang memikirkan hal yang sama?" Tukas Baekhyun seraya melayangkan tatapan curiga pada kekasihnya.

"Tidak, Baekhyun. Itu tidak mungkin."

"Daripada ragu-ragu seperti itu, kenapa kita tidak mencobanya?"

"Maksudmu?"

Baekhyun berdecak kesal. "Aku sedang mengajakmu bercinta, Park Chanyeol-ssi!"

Chanyeol melotot sempurna sebelum kemudian menggeleng keras, ia bahkan masih dibayangi-bayangi oleh perbuatan kejinya tadi malam.

"Apa ini? Kau menolakku setelah merenggut kesucianku?!" Seru Baekhyun tak terima.

Chanyeol kembali menggeleng, lalu mengikis jarak dan memeluk kekasihnya. "Bukan seperti itu. Aku hanya.. aku takut menyakitmu seperti tadi malam. Terlepas dari perasaanku yang begitu menginginkanmu." Lalu mencium pelipis Baekhyun berkali-kali.

"Kau menginginkanku?"

Chanyeol mengangguk dengan jelas.

Baekhyun mengusakkan wajah meronanya pada bahu Chanyeol. "Dengar aku, dari awal tekadku adalah menyembuhkanmu. Jadi kumohon beri aku kesempatan melakukannya. Jika kau memang seperti itu, bukankah kita bisa melalui kesulitan itu bersama? Aku akan menyembuhkanmu. Setidaknya kita coba dulu, apa kau masih si berbahaya itu atau kau perlahan sudah sembuh. Kita harus mencari tahu."

"Aku tidak yakin, Baekhyun." Tukas Chanyeol di bahu sempit kekasihnya.

Baekhyun melepas pelukan, lantas menangkup wajah Chanyeol. "Percaya padaku kita bisa mengatasinya."


The Sweetest Troublemaker


Ketika Baekhyun meminta Chanyeol untuk percaya padanya, walaupun sempat ragu namun akhirnya lelaki itu mengangguk dengan pasti.

Namun ia cukup terkejut saat keluar dari kamar mandi setelah membersihkan diri, sosok mungil itu menyambutnya dengan senyum nakal beserta satu set lingerie yang sudah menempel di tubuh seksinya.

Gadis itu benar-benar membuat Chanyeol gemas.

Tidakkah dia ingat perbuatan keji Chanyeol di malam sebelumnya?

Tidakkah gadis itu merasa trauma?

Astaga!

Lelaki yang masih mengenakan bathrobe itu perlahan berjalan, mendekat pada si mungil yang berdiri di samping ranjang. "Aku tidak tahu kau senekat ini." Bisiknya setelah melingkarkan sebelah tangannya pada pinggang Baekhyun. "Tidakkah kau merasa takut padaku?" Lanjutnya sebelum kemudian menyapukan lidah di telinga kekasihnya.

"Aku.. takut. Tapi.." ucapan Baekhyun terinterupsi oleh sengatan-sengatan kecil yang mulai menjalar di sekujur tubuh akibat ulah lidah nakal kekasihnya. "Aku lebih takut kehilanganmu. Jadi, jangan pernah sekalipun mencoba membuatku pergi dari hidupmu." Lanjutnya sebelum kemudian melepas tali bathrobe Chanyeol dan mendorong lelaki itu hingga terpental pada permukaan ranjang.

"Whoa." Baekhyun mengerjap kagum pada selangkangan Chanyeol, di sana sudah berdiri batang panjang yang mengacung dan ukurannya mampu membuat si mungil menelan saliva berkali-kali.

Chanyeol yang masih cukup terkejut atas perlakuan Baekhyun kini kembali dibuat melongo saat si mungil bergerak nakal seraya melepas satu-persatu kain yang melekat di tubuhnya.

"Dari mana kau belajar membuka bra dengan ekspresi seperti itu?" Heran Chanyeol terlepas dari perasaannya yang begitu ingin menerkam si mungil yang kini sudah bertelanjang bulat dan mulai merangkak naik keatas tubuhnya.

"Apa kau sedang protes?" Delik Baekhyun tak terima.

Chanyeol menggeleng pelan. "Aku justru menyukainya." Bisik lelaki itu sebelum kemudian bibirnya dilumat dengan cara susah payah oleh si mungil.

Lelaki itu menyambutnya dengan kekehan kecil lantas mengambil alih bibir Baekhyun sepenuhnya, dilumatnya dalam satu kali suapan dan menyesapnya dengan cara yang amat lapar, seolah ingin mengunyah bibir manis itu dan menelannya.

Erangan tertahan lolos, Baekhyun yakin ia sudah sering berciuman dengan Chanyeol. Namun hal itu tak cukup membuatnya terbiasa, kekasihnya itu memang sosok dominan yang seolah tidak akan memberinya kesempatan untuk sekedar mengecapi setiap inci bibir tebalnya.

Setelah dirasa cukup membutuhkan pasokan oksigen, gadis itu melepas pagutan terlebih dahulu.

Chanyeol berniat kembali meraup bibir gadis itu namun Baekhyun telah lebih dulu menepuk bibir tebalnya yang mana berhasil melahirkan kekehan kecil.

"Aku penasaran dengan hal ini.."

Sebelum Chanyeol sempat menyahut, gadis itu telah lebih dulu menurunkan kepala, mengecupi setiap inci dada bidang Chanyeol dengan telaten tanpa meninggalkan kesan sensual. Lidahnya berulah nakal, menggambar garis basah pada keenam kotak menonjol di perut Chanyeol, lantas menjadi lebih seduktif saat tiba di pangkal paha kekasihnya itu.

Chanyeol memejamkan mata, lantas kepalanya terayun ke belakang tanpa kendali yang pasti saat kedua tangan mungil Baekhyun menggenggam kejantanannya. Napas lelaki itu perlahan memburu, desisan kecil lolos saat benda basah dan hangat yang ia ketahui lidah itu menyapu urat-urat menonjol dari batang sembilan inci miliknya.

Si mungil merengut saat mencoba memasukkan ujung kejantanan Chanyeol ke dalam mulutnya. "Sayang, ini terlalu besar, bahkan kepalanya saja tidak muat masuk ke dalam mulutku." Rengeknya seraya menengadah dan melempar wajah merajuk pada kekasihnya.

"B-benarkah?" Chanyeol mengangkat kepala dan seketika ia terkekeh mendapati wajah kesal si mungil di antara selangkangannya.

Pemandangan yang begitu kontras, melahirkan kesan sensual dan jenaka secara bersamaan.

Baekhyun mengangguk. "Nakal! Little Chanyeollie nakal!" Kesalnya seraya cemberut dan menyentil kejantanan kekasihnya berkali-kali.

Chanyeol tertawa di balik punggung tangan. "Sayang, jika kau begitu menginginkannya, coba saja pelan-pelan.." tukasnya dengan penuh perhatian.

"Seperti ini?" Si mungil mulai mengikuti insting, kembali membuka mulutnya sebelum kemudian menutupnya kembali dengan ujung kejantanan kekasihnya. Setelahnya ia bergumam tidak jelas sambil terus berusaha memasukkan batang besar itu ke dalam mulutnya.

Chanyeol tentu bereaksi, meski kejantanannya masih belum berhasil bersarang di mulut Baekhyun dan hanya sampai pada tahap di mana gadis itu mengecapnya seperti tengah melumat ujung es krim, namun hal itu sudah sangat berefek dan berhasil mengalirkan sengatan-sengatan nikmat pada seluruh urat sarafnya.

"Baekhyun..." Chanyeol masih menahan napas ketika si mungil di bawah sana masih sibuk dengan upayanya. "Sebaiknya kau hentikan sekarang..." lantas mengingatkan.

Baekhyun sedikit menarik diri, "Kenapa?" tanyanya dengan nada protes.

"Karena.. aku tidak yakin bisa menjamin keselamatan mulutmu." Tukas Chanyeol dengan napas tersengal. "Jika kau terus melakukannya, aku bisa saja mendorong pinggulku ke atas dan merobek bibir kecilmu itu dengan kejantanannku." Lanjutnya dengan gemas.

Baekhyun mengangkat kedua tangan layaknya seorang tahanan, "Okay, okay.." katanya terdengar tidak mempunyai pilihan lain.

Di detik berikutnya, gadis itu mulai kembali merangkak ke atas tubuh kekar Chanyeol, melempar kerlingan nakal yang sebenarnya cukup membuat Chanyeol cemas terlepas dari rasa gemas ingin melumat tubuh mulus dan seksi kekasihnya itu.

"Biar aku yang melakukannya.." bisik Chanyeol.

Ada sedikit raut ragu yang berkelabat di wajah Baekhyun, dan kejadian tadi malam cukup terngiang di benaknya, melahirkan sedikit rasa takut karena demi apapun Baekhyun masih mengingat rasa sakitnya.

"Hei, I'm not gonna hurt you.. trust me, will you?" Chanyeol cukup mengerti keraguan Baekhyun, namun seperti yang gadis itu katakan, mereka hanya harus mencobanya, mereka hanya harus percaya. Dan Chanyeol ingin menjadi yang pertama membuktikan bahwa semua akan baik-baik saja.

Baekhyun tersenyum lembut, lantas mendaratkan kecupan kecil di dahi cemerlang kekasihnya. "Do it.." bisiknya.

Seperti sebuah komando yang mutlak, sepersekian detik setelahnya Chanyeol membalik keadaan. Ia merengkuh tubuh mungil itu sebelum kemudian menindihnya.

"Hei, tarik napas dan keluarkan pelan-pelan. Ingat, kau bukan seorang monster, kau kekasihku.. Park Chanyeol yang aku tahu tidak akan menyakitiku.." Baekhyun membelai wajah Chanyeol ketika dilihatnya kilatan asing yang cukup membuatnya merinding itu berkelebat di kedua manik kekasihnya.

Si lelaki memejamkan mata, menarik napas pelan lalu menanamkan keyakinan dalam dirinya sendiri bahwa ia tidak akan menyakiti Baekhyun, bahwa dirinya mampu melawan hasrat terkutuk yang begitu ingin menikmati wajah kesakitan si mungil di bawah kendalinya.

"Good boy, so proud of you.." Baekhyun melempar pujian, sebentuk aksi yang dirasanya cukup mampu mengendalikan Chanyeol di atas tubuhnya. "Nah.. sekarang lakukan pelan-pelan, aku percaya padamu.."

Chanyeol mengangguk pasti, ia mendaratkan kecupan di dahi Baekhyun sementara di bawah sana tengah berupaya menerobos apa yang sebelumnya telah ia rusak.

Yang lebih mungil menahan napas, mengalihkan rasa perih yang menjalar dengan meremas otot lengan kekasihnya tanpa berniat melemahkan atensi dari kedua manik sayu itu.

Desisan serta erangan pun lolos berbarengan saat batang keras itu mulai merangsak masuk oleh dorongan tersendat.

Chanyeol akui lebih sulit melakukannya kali ini, karena ia tengah menahan diri untuk tidak bertindak fatal dan sebisa mungkin berhati-hati. Walaupun bisikan untuk melakukan hal-hal yang akan berujung menyakiti Baekhyun terngiang di benaknya, namun lelaki itu lebih memilih untuk melawan hasrat terkutuk itu.

Ya. Baekhyun sudah mempercayakan dan menyerahkan dirinya sepenuh hati, maka Chanyeol tidak akan merusak kepercayaan itu, ia lantas memulainya dengan dorongan pinggul yang begitu pelan, mencoba menjerat seluruh kejantanannya pada lubang sempit Baekhyun tanpa terburu-buru.

Kernyitan samar tercetak di dahi Baekhyun, ia mengigit bibir bawah cukup kuat mengalihkan rasa nyeri dan sesak yang menjejali kewanitaannya di bawah sana. "Kau.. melakukannya dengan baik.." lantas kembali melempar pujian pada Chanyeol dengan napas yang sedikit tersengal. "Kau hebat, sayang.." lanjutnya dengan erangan tertahan saat kekasihnya mulai memburu kenikmatan dengan menggerakkan pinggulnya dalam tempo pelan.

"Aku bisa, Baekhyun.. aku bisa." Berusaha meyakinkan dirinya sendiri untuk tidak melakukan kesalahan fatal seperti malam sebelumnya, lelaki itu mulai melarikan tangan ke bawah lutut Baekhyun sebelum kemudian melingkarkan betis ramping itu pada pinggulnya.

"Of fucking course! Baby, you can do it.." Baekhyun mencicit dalam desah, meyakinkan kekasihnya kembali bahwa mereka, terutama Chanyeol mampu terbang, menjemput rasa nikmat itu tanpa harus menyakiti. Karenanya si mungil mengikuti kendali Chanyeol dengan menekan pinggul kekasihnya itu lebih ke dalam selangkangannya, mencoba melakukan hal yang sama, memburu apa yang mereka sebut kenikmatan yang mulai terasa merajai lapisan kulit yang diwakilkan oleh titik-titik peluh sebagai bukti.

Baekhyun tidak pernah merasakan ini sebelumnya. Tadi malam ia terlalu fokus pada rasa takut, terlalu terkejut pada sosok baru yang keluar dari dalam diri seorang Park Chanyeol hingga ia tidak merasakan apapun selain kesakitan, sisanya bahkan tak cukup berarti. Namun apa yang terjadi saat ini jelas berbeda, kepalanya terayun berkali-kali ke belakang saat hentakan demi hentakan di bawah sana kian intens. "Park Chanyeol.. Y-ya.. di sana!" Kenikmatan yang Chanyeol berikan kini bersarang tepat pada titik sensitifnya, berhasil mengendalikan seluruh tubuh, membiarkan kedua tangannya menjelajah, mencari pengalihan dan berakhir meremas rambut si penjajah tanpa menemukan opsi lain.

Geraman yang keluar dari mulut Chanyeol adalah bentuk lain dari perasaan putus asa, disaat dirinya mulai tergoda untuk melakukan hal-hal yang melenceng dari kenikmatan yang kini menjajah dan membakar seluruh urat sarafnya, ia pun merasakan perang batin yang cukup hebat karena pada saat yang sama kalimat-kalimat menenangkan itu tak henti-hentinya keluar dari mulut Baekhyun diiringi desahan yang terdengar begitu merdu. Seperti sebuah nyanyian yang menghipnotis tubuh Chanyeol hingga bahkan tak kuasa mengendalikan kedua tangannya yang mulai terselip ke bawah punggung si mungil sebelum kemudian membalik tubuhnya, membiarkan punggung mulus itu terkekspos.

Desahan terdengar kian mengeras dari mulut Baekhyun yang kini menumpukan kedua telapak tangan pada permukaan ranjang saat Chanyeol kembali menjejalkan batang keras berukuran super itu di belakangnya. Lantas Baekhyun beralih menyalahkan sprei yang sudah tidak berbentuk dengan meremasnya cukup kuat.

Gadis itu tidak bisa menempatkan perlakuan Chanyeol yang kini menampar bokongnya berkali-kali pada tindakan radikal manapun. Karena ia merasa dibuat begitu seksi untuk mengartikan tamparan demi tamparan itu sebagai bentuk kekerasan. Gadis itu merasa terlalu dimanjakan oleh kenikmatan yang mulai berada di ambang batas hingga membiarkan Chanyeol menyentakkan kejantanannya lebih dan lebih, bahkan tempo yang kian membabi buta itu tidak mendapatkan penyalahan berarti ketika perannya berhasil menjemput Baekhyun di puncak kenikmatan. Gadis itu meneriaki nama kekasihnya cukup keras, ia meraihnya dengan kepala menengadah lantas menebarnya di udara.

Punggung sempit itu masih sedikit melengkung dalam getar samar -setelah pemiliknya mengalami orgasme hebat- saat Chanyeol memutuskan merapatkan dadanya di sana. Kedua telapak tangannya mulai menjelalajah sebelum kemudian menangkup dan meremas gundukan sintal yang sedari tadi menggantung dan berayun, sementara gerak pinggulnya semakin kehilangan kendali menjajah di bawah sana.

Keberadaan air conditioner tak cukup berarti, bahkan tak sedikit pun mendinginkan birahi Chanyeol yang telah lama terbakar, hanya butuh satu hentakan keras sebelum menjadikannya bara api yang meleleh di dalam tubuh Baekhyun, lantas kenikmatan tak terbendung itu merenggut geraman dan semua kekuatan yang tersisa. Chanyeol jatuh, tubuhnya ambruk dan berakhir menindih si mungil yang masih terengah ditemani peluh yang tercecer tanpa kendali.

Chanyeol masih menenggelamkan wajahnya pada bahu sempit Baekhyun, perasaannya terlalu tak menentu hingga menjadikan dirinya si bisu yang terharu dalam diam. Ia hanya mampu mengecupi bahu sempit itu berkali-kali sebelum kemudian menarik diri dan mengantarkan punggungnya pada permukaan sprei yang sudah terlihat begitu menyedihkan karena dijadikan kambing hitam oleh pergumulan erotisnya dengan Baekhyun.

Si mungil menyusulnya, gadis itu bergerak pelan dalam upaya membalikkan tubuhnya sebelum kemudian ia berhasil dan merapatkan diri pada Chanyeol yang menyambutnya dengan rengkuhan dan dekapan erat. "We did it!" Bisik Baekhyun setelah cukup mengendalikan napasnya yang tersengal. "You did it!" Lanjutnya diiringi perasaan haru.

Kecupan bertubi-tubi mendarat di puncak kepala Baekhyun. Chanyeol masih tak mampu berkata-kata. Lidahnya dibuat kelu oleh perasaan ragu, ia sendiri masih tidak percaya bisa melakukan ritual surga duniawi itu tanpa menoreh lecet sedikit pun pada tubuh kekasihnya.

Padahal itu terbilang cukup dini. Dan berhasil di percobaan awal terasa sangat tidak mungkin bagi Chanyeol.

Adakah hal lain yang tidak Chanyeol sadari?

Apakah perasaan hangat yang kerap ia rasakan setiap berbagi momen manis dengan Baekhyun selama ini yang membantunya mengendalikan diri?

Jika benar..

Apakah kekuatan cinta memang sedahsyat itu?

Tunggu..

Cinta?

Tentu saja, Baekhyun hanya tidak tahu bahwa Chanyeol juga jatuh cinta kepadanya.

Dan perasaan itu tumbuh cukup pesat hingga kini berada pada tahap yang cukup serius di mana rasa takut kehilangan itu mulai kerap menyelinap di setiap hela napasnya.

TBC

AN:

Dan readers pun tumpengan~ Setelah menunggu belasan chapter akhirnya menemukan yang ena juga~ Pada mesyum emang ya~ :P

Ini mungkin terdengar kejam, tapi aku kok suka ya waktu B diperkosa pacarnya wkwkwk :D #RaisaPerusakMoralBangsa #BoikotRaisa

Ps: Hyejin cuma figuran ya hehehe

Karena dari awal ff ini kubuat seringan mungkin, jadi konfliknya juga gak berat dan gak berkepanjangan. Karena Chanyeol dan Baekhyun di sini itu couple goals banget jadi aku gak mau ngerusak itu dengan konflik yang menguras emosi (meski sempat netes sih pas nulis bagian masa lalu Chanyeol) huhuu T.T

At last, hope you guys enjoy with this chapter.

BIG CHU *