Title: KISAH CINTA

Main Casts: Luhan, Sehun, etc

Pairing: Hunhan

Genre: Kingdom AU

Rated: T

Disclaimer: Fiksi ini merupakan karya dari Sherls Astrella dengan judul yang sama.

Di sini saya hanya ingin berbagi cerita dengan maincast member EXO.

Jadi cerita ini MURNI MILIK Sherls Astrella.

Untuk link-nya bisa dilihat di akhir cerita :)

Warning: it's Genderswitch!

Happy reading!

.

.

.

Chapter 12

.

.

.

Luhan memperhatikan keramaian di halaman Kastil Quadville dengan putus asa. Meja-meja tertata rapi di sepanjang ruang kosong. Para wanita dan pria bergerombol di antara meja-meja. Mereka bercanda riang sambil membawa gelas berisi anggur. Para pelayan berjalan mondar-mandir melayani para tamu yang diundang khusus untuk hari spesial ini.

Haruskah ia melakukan ini? Tidak bisakah ia menghindarinya? Tidak bisakah ia muncul secara normal?

Mata Luhan beralih pada Duke of Vinchard yang dengan bangga memberikan sambutan.

Luhan sadar ia tidak bisa mengubah apapun. Sejak awal ia sudah tidak mempunyai kesempatan untuk membatalkan pesta ini.

Pesta ini memang baru berlangsung hari ini namun kesibukan Quadville sudah dimulai semenjak Duke membuat keputusan.

"Akhirnya saat ini tiba," Seohyun dengan gembira mengumumkan.

Luhan melihat wanita tua itu. Ialah orang yang paling bersemangat memilihkan gaun pesta untuknya. Ia pula yang paling antusias menanti saat ini.

Luhan kembali mengarahkan perhatiannya pada halaman Kastil Quadville. Sekali lagi ia bertanya, haruskah ia muncul di bawah mata semua orang itu?

"Inilah dia cucu tercintaku, Lady Luhan Yvonne Lloyd."

Seketika semua mata melihat ke serambi yang semester lebih tinggi dari halaman Quadville.

Luhan pun tahu ia tidak bisa.

"Cepatlah, Tuan Puteri. Duke telah memanggil Anda," Seohyun membimbingnya keluar dari balik tirai yang membatasi serambi menuju halaman dengan ruangan tempat ia harus bersembunyi hingga Duke Leeteuk memanggilnya.

Luhan melangkahkan kaki ke serambi. Matanya menatap para tamu dan kakinya melangkah mantap ke arah Duke yang menatapnya dengan bangga.

Luhan bertanya-tanya apa yang ia cari dari para tamu kakeknya ini. Matanya memandang mereka tetapi ia tidak melihat mereka. Apakah ia ingin membaca bibir yang tengah berbisik-bisik itu? Apakah ia ingin mencari siapa yang paling tertarik melihatnya?

Setiap pasang mata memperhatikannya lekat-lekat seolah-olah ingin menanti ia membuat kesalahan yang memalukan.

Sayangnya Luhan akan mengecewakan para tamunya. Selama seminggu penuh Seohyun melatihnya berjalan anggun menuruni tangga serambi. Selama seminggu Seohyun memastikan ia berjalan tanpa cacat. Luhan telah menghafal setiap langkahnya sehingga Luhan yakin walaupun dengan menutup matapun ia bisa dengan selamat sampai di sisi Duke Leeteuk.

Mulut para wanita berbisik-bisik seolah-olah ingin mencari kecacatan dalam penampilannya hari ini.

Sayangnya pula, Luhan akan mengecewakan mereka. Seohyun telah memastikan ia menjadi bintang hari ini. Dalam seminggu penuh ini Seohyun telah mencoba berbagai macam dandanan dan gaun. Sekarang ia sudah dari telapak kaki hingga ujung rambut tampil sempurna seperti dalam kamus Seohyun. Rambutnya yang pucat telah ditata sedemikian rupa sehingga warnanya yang pucat menonjolkan perhiasan yang menghiasi kepalanya. Kulitnya yang pucat disembunyikan oleh gaun biru terang yang senada dengan matanya. Setiap lipatan gaun yang dipilih Seohyun selama seminggu ini menonjolkan setiap lekukan tubuhnya.

Inilah sebabnya ia tidak pernah ingin datang ke sebuah pesta apa pun. Luhan tidak suka cara mereka menatapnya. Ia tidak suka mendengar bisik-bisik mereka. Ia tidak pernah menikmati menjadi tokoh utama topik pembicaraan. Ia tidak peduli mereka menyebutkan anak haram. Ia tidak terlalu memikirkan komentar mereka. Ia hanya membenci mereka yang suka menjelek-jelekkan Duke Yunho dan ayahnya.

Entah mengapa ia tidak bisa lepas dari mereka. Tak peduli ke manapun ia melangkah, omongan itu selalu mengekor. Tak peduli apapun statusnya, mata-mata itu terus memandangnya. Tidak ada pengecualian. Tua muda, pria wanita semua suka membuatnya menjadi tokoh utama seperti yang telah mereka lakukan selama seminggu terakhir ini.

Koran-koran telah mengupas habis sejarah hidupnya. Bagaimana ia bisa hadir di dunia ini, budaya-budaya yang pernah ia lihat, bahasa-bahasa yang ia kuasai, tempat-tempat yang pernah ia kunjungi. Tidak satupun yang mereka lewatkan.

Sering ketika membaca koran-koran itu, Luhan berpikir mengapa Duke Leeteuk tidak menutup mulut mereka seperti ia melenyapkan ibunya dari muka bumi. Sebaliknya, Luhan menyadari, semakin mereka menguliti masa lalunya, semakin tinggi kebanggaan Duke. Sekarang Luhan berdoa setelah hari ini ia dapat melalui hari ini dengan tenang, jauh dari para pria yang mengincarnya.

Luhan terkejut menyadari apa yang tengah ia cari. Pada saat yang bersamaan matanya menemukan apa yang dicarinya: Pangeran Sehun!

Apa gunanya ia mencari pemuda itu? Apa gunanya ia menemukan pemuda itu? Apa ia ingin Sehun kembali melindunginya dari para pria yang tidak ia sukai?

Sehun tersenyum bahagia. Matanya bersinar-sinar pada para wanita yang berebut menjadi pasangan dansanya. Luhan segera mengalihkan pandangan mata pada Duke. Dibandingkan menemaninya, Sehun tentunya lebih tertarik menemukan teman kencan.

"Kau sangat cantik," Duke Leeteuk mengulurkan tangan menyambut Luhan, "Aku bangga padamu."

Luhan tersenyum. Ia meletakkan tangan di siku Duke dan membiarkan Duke mengenalkannya kepada sahabat-sahabatnya.

"Ia benar-benar mirip Victoria," kata seorang di antara mereka.

"Ia benar-benar seorang gadis muda yang mengagumkan," kata yang lain.

"Kudengar kau pernah mengunjungi negara di sisi lain daratan ini. Apakah engkau pernah ke negara timur tengah?"

"Umurmu masih kecil namun kau sudah mengunjungi banyak negara. Benar-benar mengagumkan."

"Kau tentu menguasai banyak bahasa."

"Kudengar engkau menjadi wali Duke of Cookelt. Luar biasa!"

Luhan hanya tersenyum mendengar komentar mereka yang tiada hentinya itu. Komentar-komentar mereka bukanlah hal baru baginya. Mereka hanya mengulang isi koran.

Luhan ingin meninggalkan mereka. Namun sebagai tuan rumah, ia hanya dapat berdoa mereka segera melepaskannya.

Setelah kerumunan sahabat-sahabatnya, Duke Leeteuk membawa Luhan kepada para bangsawan Helsnivia.

Walaupun ingin segera kabur, Luhan tetap bertahan. Tidak ada yang perlu dikhawatirkannya selama Duke of Vinchard ada di sisinya.

"Nah, Luhan, sekarang temuilah para pemuda yang menarik perhatianmu."

Luhan terperanjat ketika Duke melepaskannya.

"Luhan, aku akan menjadi pasanganmu. Aku akan menjadi pasanganmu," Jongin dengan penuh semangat mengajukan diri.

"Kau tidak akan ke mana-mana, Anak Muda," Duke Leeteuk menarik tangan Jongin, "Kau akan ikut aku."

"Lepaskan aku, tua bangka! Aku punya urusan penting."

Tanpa mendengarkan protes Jongin, Duke menarik Jongin.

Akhir-akhir ini Luhan sudah terbiasa melihat pemandangan ini. Pengawasan Duke yang ketat inilah yang membuat Luhan merasa aman sekalipun mereka berada di bawah satu atap.

Begitu Luhan membalikkan badan, segerombolan pria sudah berada semeter di depannya.

"Lady Luhan, senang berkenalan dengan Anda."

"Kenalkan saya adalah…"

"Apakah Anda bersedia bersedia menjadi pasangan dansa saya?"

"Bersediakah Anda berdansa bersama saya?"

Mereka berebutan memperkenalkan diri dan menjadi pasangan dansanya.

Luhan berharap ia dapat memahami perasaan Sehun dikerumuni wanita cantik. Sayangnya, ia bukan Sehun. Ia tidak menikmati kerumunan ini. Tanpa disadarinya, matanya melirik Sehun yang masih bercanda dengan wanita-wanita cantik di sisinya.

Luhan terkejut menyadari ia masih mengharapkan perlindungan Sehun. Bodoh! Ia benar-benar bodoh! Tidakkah ia melihat Sehun tampak begitu gembira berada di antara wanita-wanita yang memujanya?

Seorang pria melintas kerumunan itu.

Luhan tersenyum gembira. Saat ini hanya sepupunya inilah yang bisa menjauhkan pria-pria ini. "Maaf, saya sudah punya janji," Luhan menerobos kerumunan itu. "Yesung!" panggil Luhan.

Yesung terkejut melihat Luhan mendekatinya. "Mengapa kau ada di sini?" Yesung semakin terkejut ketika Luhan meraih tangannya dan menariknya menjauhi keramaian.

Akhirnya Yesung sadar mengapa Luhan mencarinya. Ia sudah mendengar desas-desus tentang Luhan. Ia sudah mengetahui ketidaksukaan gadis ini menjadi pusat perhatian. Sayangnya, ke mana pun Luhan berada, ia akan selalu menjadi pusat perhatian.

"Duke tidak akan suka melihatku bersamamu."

"Saat ini Kakek lebih tertarik memperkenalkan teman-temannya pada Jongin," Luhan terus membawa Yesung menjauh.

Yesung memalingkan kepala mencari Duke of Vinchard. Seperti yang dikatakan Luhan, Duke tengah memperkenalkan sang Duke baru Cookelt kepada bangsawan-bangsawan penting Helsnivia. "Sepertinya ia sudah menganggap Jongin sebagai putranya."

"Ya," Luhan membenarkan. "Kakek sangat menyayangi Jongin. Aku bahagia Jongin dapat menemukan seseorang yang ia puja."

Yesung memperhatikan wajah tegang Luhan. "Ke mana kau akan membawaku?"

"Entahlah. Aku hanya ingin menjauhi tempat ini."

"Besok kau akan menjadi berita utama Helsnivia," Yesung bergurau, "Lady Luhan Yvonne Lloyd, sang tuan rumah Quadville, meninggalkan tamu-tamunya."

"Aku tidak terlalu memusingkannya," Luhan mengaku.

Tentu saja Yesung tahu. Luhan tidak pernah memusingkan gosip-gosip tentangnya. Luhan hanya tidak menyukai cara semua pria memperlakukannya.

Yesung tidak menyalahkan Luhan. Sejak umur enam tahun Luhan telah dicap sebagai anak haram Duke of Cookelt. Sejak masih anak-anak, gadis cantik ini telah dipandang sebagai wanita rendahan seperti ibunya. Bertahun-tahun para pria memperlakukannya sebagai wanita murahan yang bersedia melakukan apa saja demi uang dan kedudukan.

"Luhan," Yesung berhenti dan menatap lembut pada gadis muda itu, "Tidak semua pria seburuk yang kau pikirkan."

"Aku mengerti hal itu, namun…," Luhan mendesah, "Tidak mudah membuat hatiku menerimanya." Matanya menatap langit biru. "Sering aku berpikir mengapa hati dan otak manusia tidak bisa berjalan beriringan."

"Kau hanya membuat semuanya menjadi rumit."

"Mungkin…" Luhan mengakui. "Tampaknya tidak mudah mencari seorang pria seperti Papa."

Yesung menyadari para pria di sekitar Luhan memperkuat pandangan gadis ini. Almarhum Duke Yunho bukanlah seorang pria setia. Jongin, yang masih muda itu suka bermain wanita. Dan Sehun, sang Pangeran yang telah memberinya perlindungan adalah seorang playboy kelas atas. Hanya Changmin Elwood satu-satunya pria setia yang Luhan kenal. Hanya Changmin Elwood yang tetap mencintai satu wanita sampai akhir hayatnya.

Yesung melihat puluhan pasang mata yang cemburu menatap tajam padanya.

"Ini bukan ide yang baik."

Luhan melihat Yesung dengan bingung.

"Aku khawatir aku tidak dapat menjaga nyawaku yang berharga ini bila aku terus bersamamu." Yesung memutar badan Luhan.

"Apa maksudmu?" Luhan menoleh pada pria itu.

"Pangeranmu sudah datang menjemput," Yesung mendorong Luhan.

Luhan yang tidak siap langsung terhuyung.

"Luhan!" Sehun menangkap Luhan.

Luhan terperanjat. Dadanya berdebar keras. Ia masih kaget oleh tindakan tiba-tiba Yesung. Sedetik lalu ia merasa tubuhnya seperti ditarik bumi.

Sehun memelototi Yesung dengan tidak senang.

"Jaga dia baik-baik, Yang Mulia," Yesung tersenyum penuh arti. "Jangan biarkan pria lain mendekatinya."

Sehun tidak menyukai pria ini. Ia tidak menyukainya ketika mereka bertemu di pesta Viscount Kyuhyun. Sekarang pun ia tidak menyukainya. Hanya karena ia adalah penerus Duke Leeteuk, ia pikir ia bisa menguasai Luhan. Hanya karena Luhan memilihnya, ia pikir Luhan adalah miliknya.

Sehun tidak suka melihat Yesung mendekati Luhan. Ia tidak suka pria-pria yang mendekati Luhan. Ia sudah serasa terbakar emosi melihat gerombolan pria yang mendekati Luhan. Ia benar-benar kehilangan kendali ketika Yesung membawa Luhan ke tempat sepi.

Sejak Duke mengumumkan pesta ini, ia sudah memutuskan tidak akan menyerahkan Luhan pada siapa pun. Ia tidak akan membiarkan pria lain menjadi pasangan dansa Luhan. Dia adalah pasangan dansa pertama Luhan dan yang terakhir!

Sejak ia tiba, gerombolan wanita terus mengekor. Wanita-wanita yang merepotkan itu telah menyulitkannya. Celoteh mereka yang tiada henti telah membuat pria-pria lain mempunyai kesempatan untuk mendekati Luhan. Andai bukan karena sopan santun, Sehun pasti telah meninggalkan mereka untuk memastikan tidak seorang pria pun mendekati Luhan.

Yesung terus menjauh dengan senyum lebar di wajah tampannya.

"Kau baik-baik saja, Luhan?" Sehun bertanya cemas pada gadis di tangannya, "Apakah kau terluka?" Ia tidak akan melepaskan Yesung kalau Luhan sampai terluka.

"Saya baik-baik saja," jawab Luhan sambil tersenyum manis, "Terima kasih, Yang Mulia."

Sehun dapat merasakan penolakan gadis itu. "Kau hanya punya satu pilihan kalau kau ingin menjauhi mereka," Sehun memperingati. Hanya saat inilah ia mensyukuri ketidaksukaan Luhan pada para bangsawan mata keranjang… sepertinya.

Luhan pun menyadari kebenaran dalam kata-kata itu. Lebih mudah menghadapi satu penggoda wanita yang telah ia kenal daripada puluhan pria yang tidak ia kenal.

Sehun membuka sikunya untuk Luhan.

Sebuah bunga kebahagiaan bersemi dalam hati Luhan ketika ia meletakkan tangan di siku Sehun.

Wanita-wanita memasang mata iri pada Luhan. Sehun langsung mengabaikan mereka ketika Luhan muncul. Sehun langsung meninggalkan mereka ketika Luhan berjalan bersama seorang pria.

Tatapan mereka menyadarkan Luhan akan posisinya. Bunga kebahagiaan di hatinya layu bersamanya. Ia hanyalah satu di antara wanita-wanita Sehun.

Ia tidak akan pernah menempati tempat spesial di hati Sehun. Ia tidak akan menjadi wanita terpenting dalam hidup Sehun. Ia tidak akan pernah mendapatkan hati Sehun.

Sehun adalah seorang petualang. Sama seperti ayahnya, Sehun tidak akan pernah terpuaskan. Mereka adalah petualang sejati dan seorang petualang sejati tidak pernah berhenti berpetualang.

Tidak hanya Luhan yang memperhatikan orang-orang di sekitar mereka. Sehun juga tengah mengawasi mereka. Hanya saja ia bukan wanita-wanita cantik itu yang ia perhatikan. Ia tengah menatap tajam pria-pria yang tidak melepaskan mata dari Luhan.

Ia mempunyai alasan yang sama dengan Luhan untuk tidak menyukai pesta yang diadakan Duke of Vinchard ini. Sehun tidak suka Luhan menjadi pusat perhatian. Ia tidak suka pria-pria lain memperhatikan Luhan.

Sehun membawa Luhan ke keramaian para tamu. Ia tidak akan menyembunyikan Luhan ke tempat sepi. Ia akan menunjukkan pada setiap orang milik siapakah Luhan. Sehun tidak akan membuang kesempatan untuk melenyapkan kesempatan tiap pria.

"Luhan," seseorang memanggil, "Pada akhirnya engkau bersama Pangeran."

"Sudah kukatakan, Luhan pasti akan bersama Pangeran lagi," komentar Jongin tidak senang.

Luhan terperanjat. Duke Leeteuk mengharapkan ia bisa mengenal pria lain namun ia terus menempel pada Pangeran, jenis pria yang tidak disukai Duke. Luhan menarik tangannya dari apitan Sehun.

Sebagai gantinya, Sehun meletakkan tangan di pinggang Luhan dan menariknya merapat.

Seketika Luhan sadar ia telah membuat kesalahan.

"Selamat siang, Duke," sapa Sehun, "Saya berharap Anda tidak keberatan saya menemani cucu Anda sepanjang hari ini."

Duke memperhatikan Sehun menarik Luhan merapat ke sisinya. Ia melihat sinar mata Sehun yang mempertegas kepemilikannya atas Luhan.

Duke tersenyum dan berkata, "Tidak. Saya tidak keberatan. Sama sekali tidak" Lalu ia berkata, "Tolong jaga Luhan, Yang Mulia."

Luhan terperanjat.

"Apa!?" protes Jongin, "Bagaimana kau bisa menyerahkan Luhan pada pria mata keranjang ini!? Dia hanya mempermainkan Luhan. Aku lebih pantas untuk Luhan."

Luhan juga sadar Sehun tidak serius. Ia yakin Duke Leeteuk juga tahu. Pasti karena Sehun adalah seorang Pangeran maka Duke tidak mencegah. Andai Sehun hanya seorang bangsawan biasa, Duke pasti melakukan segala cara untuk mencegah Sehun mendekatinya. Pasti.

"Ikut aku, Jongin. Aku akan mengenalkanmu pada temanku." Duke mengabaikan protes itu.

"Tunggu! Apa kau tidak mendengarku, tua bangka!? Tunggu aku!" Jongin bergegas mengikuti Duke.

Luhan tertawa geli melihat mereka. Akhir-akhir ini memperhatikan kedua pria itu adalah hobinya. Entah mengapa setiap melihat mereka, sebuah kehangatan muncul di dadanya.

"Aku benar-benar tidak menduga mereka bisa cocok seperti ini," entah untuk keberapa kalinya Luhan berkomentar.

"Benar," Sehun tidak suka mendengarnya. Ia tidak pernah suka ketika Luhan membicarakan pria lain. Tangannya beralih mengambil tangan Luhan dan menggenggamnya erat-erat.

Ketika melihat Sehun cemburu seperti ini, Luhan berharap kecemburuan itu dikarenakan cinta. Sayangnya, ketika Sehun menariknya mendekat, Luhan hanya merasakan harga diri.

Setiap pasang mata terus mengikuti Sehun yang membawa Luhan berkeliling sambil menyatakan kepemilikkannya atas Luhan. Di antara mata-mata yang penuh ingin tahu itu, hanya satu pasang mata yang dipenuhi amarah.

"Berani-beraninya anak itu mendekati Luhan di depan mataku!" Ratu Taeyeon tidak henti-hentinya menggerutu, "Lihat saja. Aku pasti akan memisahkan mereka. Aku akan melakukan segala cara untuk mencegahnya mendekati Luhan."

Raja Donghae hanya mendesah. "Sikapmu akhir-akhir ini sudah melewati batas."

"Aku harus melakukan segala cara!" Ratu Taeyeon bersikeras, "Aku tidak bisa berdiam diri melihat anak itu menyentuh Luhan!"

"Sehun tidak akan senang."

"Aku tidak peduli! Selama ia menjauhi Luhan, aku tidak peduli."

"Sikapmu itu hanya membuat orang-orang salah sangka. Aku khawatir Luhan sendiri berpikir kau membencinya."

"Omong kosong!" sergah Ratu, "Luhan pasti tahu aku tidak bisa membencinya."

Raja Donghae tidak berkomentar lebih jauh. Sejak Duke of Vinchard mengumumkan pesta ini, ia sudah tahu putranya akan berbuat seperti ini dan istrinya akan terus mengawasi mereka.

"Anak itu…" tangan Ratu terkepal, "Berani-beraninya dia memeluk Luhan seperti itu. Donghae, cepat lakukan sesuatu!"

Raja Donghae melihat Sehun mengajak Luhan berdansa. Ia yakin saat ini tidak ada yang dapat membuat Sehun menjauhi Luhan. Raja tidak pernah melihat putranya seperti ini. Ia tidak pernah melihat Sehun begitu berlebihan dalam memperlakukan pasangannya. Ia yakin Sehun tidak ingin membiarkan seorang pun merebut Luhan darinya.

"Apa yang dilakukan anak itu? Mengapa ia membiarkan Luhan seorang diri? Apa dia tidak takut orang lain mendekati Luhan!?"

Raja melihat Sehun meninggalkan Luhan yang duduk di pinggir kolam ikan.

"Aku tidak bisa membiarkan ini!" Ratu memutuskan.

"Taeyeon!" Raja terlambat mencegah Ratu mendekati Luhan.

Raja menyerah. Ia tidak tahu di mana istrinya menempatkan posisinya. Di suatu saat Taeyeon memisahkan Sehun dari Luhan dan di saat lain ia memerintahkan Sehun menemani Luhan. Satu yang tidak diragukannya: cinta Taeyeon pada Luhan.

"Ke mana anak bodoh itu pergi?"

Luhan terperanjat. Wajah Ratu menampakkan jelas perasaannya. Ia seperti siap melumat Luhan. Luhan memaklumi wajah yang tidak sedap dipandang itu.

"Kau benar-benar mempesona," Ratu duduk di sisi Luhan. "Tidak heran setiap pria di tempat ini tidak dapat melepas mata darimu. Bahkan Sehun pun tidak sanggup meninggalkanmu."

"Maafkan saya, Yang Mulia," Luhan sama sekali lupa ketidaksukaan Ratu Taeyeon padanya, "Saya berjanji tidak akan mendekati Pangeran lagi."

"Khawatirnya engkau tidak dapat," Ratu Taeyeon mendesah, "Kulihat dari waktu ke waktu Sehun semakin tertarik padamu." Dan Ratu tertawa lepas. "Tak diragukan lagi kau memang putri Victoria."

Luhan terperangah. Bermimpi pun ia tidak pernah menduga ia akan melihat Ratu yang anggun ini akan tertawa lepas seperti ini. Tanpa ia sadari, ia menggumam,"Saya pikir Anda membenci saya."

"Membencimu?" Ratu Taeyeon terperanjat, "Bagaimana mungkin!? Engkau adalah putri sahabat baikku!"

"Mama?" Luhan terperanjat, "Anda mengenal Mama?"

"Tidak hanya mengenalnya. Ia sudah seperti saudara bagiku." Untuk pertama kalinya, Ratu Taeyeon tersenyum lembut pada Luhan.

Luhan tidak pernah membayangkannya.

"Apakah tidak ada yang memberitahumu?" Ratu Taeyeon heran.

Luhan menggeleng.

"Kukira engkau sudah tahu."

"Seohyun tidak memberitahu saya."

"Ia pasti melewatkannya," komentar Ratu Taeyeon. "Namun…" Ratu geram, "Changmin tidak pernah mengungkit Victoria bisa dimengerti. Bahkan Yunho juga tidak pernah memberitahumu tentang Victoria?"

Luhan semakin heran. "Anda juga mengenal Yunho?"

"Bagaimana mungkin aku tidak mengenal orang yang telah memperkenalkan Victoria pada cinta sejatinya?" tanya Ratu, "Pada pria yang telah menghancurkan hidup Victoria."

Dari suaranya, Luhan dapat menangkap kebencian Ratu pada Duke Yunho dan ayahnya. "Apakah… Anda membenci Papa?" Luhan bertanya hati-hati.

"Ya," dengan mantap Ratu Taeyeon menjawab, "Dia telah menghancurkan hidup Victoria. Namun…" tangan Ratu merangkum wajah Luhan dan dengan matanya yang lembut ia berkata, "Ia juga telah memberikan kebahagiaan pada Victoria. Dan ia juga memberi Victoria putri yang sangat manis."

"Paduka Ratu…"

"Selama bertahun-tahun ini kau pasti melalui masa yang sulit."

"Tidak, Yang Mulia. Papa telah menjaga saya dengan baik. Duke Yunho juga menyayangi saya."

"Aku telah mendengarnya. Namun aku sama sekali tidak pernah menduga anak haram Duke of Cookelt yang terkenal itu adalah kau."

Rasa bersalah meliputi Luhan. "Duchess Jessica tidak menyukai saya."

"Aku juga telah mendengarnya. Wanita itu yang pernah mengirim orang membunuhmu itu pasti terbaring kaku di ranjang sekarang. Ia pasti tidak pernah menyangka anak haram yang dibencinya adalah keturunan Duke of Vinchard yang terhormat dan bukan putri kandung Yunho. Earl of Mongar juga pasti kehabisan kata-kata."

"Yang Mulia…" bahkan koran-koran tidak mengetahui pembunuh kiriman Duchess Jessica juga tentang Earl of Mongar. "Mengapa Anda bisa mengetahui banyak hal tentang saya?"

"Aku menyuruh Irene melayanimu bukan hanya untuk mengawasimu namun juga untuk mengenalmu lebih dalam."

Pantas saja Irene suka mengorek masa lalunya. Pantas saja Irene selalu tertarik mendengar cerita masa lalunya.

Ratu tersenyum penuh kasih sayang. "Bila kau mempunyai kesulitan atau membutuhkan seseorang untuk berbicara, kau bisa menemuiku."

Luhan menatap lekat-lekat Ratu.

"Kau tidak mempercayaiku juga tidak bisa disalahkan. Siapa suruh aku tidak pernah menghiraukanmu."

"Ti-tidak. Saya… saya…" Ratu menggenggam tangan Luhan.

"Aku ingin kau tahu aku sudah mencintaimu sejak melihatmu. Engkau begitu mirip dengan ibumu hingga aku sering salah mengenal. Berulang kali aku ingin berbicara denganmu. Berulang kali aku ingin memelukmu." Dan Ratu melakukan kata-katanya.

Luhan terpaku. Sebuah perasaan yang tidak pernah ia rasakan menghangatkan tubuhnya.

"Engkau bisa menganggapku sebagai ibu bila kau mau." Lagi-lagi Ratu memandangnya penuh kasih sayang.

"Ibu…" gumam Luhan. Inikah perasaan dipeluk seorang ibu?

"Nah, Luhan. Selamat menikmati pestamu." Ratu melepaskan Luhan dan menjauhi gadis yang masih mematung itu.

"Apa yang dibicarakan Mama denganmu?"

Suara tegas itu membuat Luhan terperanjat.

"Apa yang dibicarakan Mama?" suara Sehun menuntut jawaban.

"Ti-tidak ada," jawab Luhan. Bagaimana mungkin ia akan memberitahu Sehun isi pembicarannya dengan sang Ratu, "Beliau tidak membicarakan apapun dengan saya."

Sehun memperhatikan Luhan dengan tajam. Ia tidak percaya ibunya mendekati Luhan hanya untuk berbasa-basi. "Katakan padaku kalau ia mengatakan sesuatu yang membuatmu tidak senang," Sehun memutuskan untuk melepaskan Luhan lalu ia menyodorkan gelas minuman, "Ini minumanmu."

"Terima kasih," tanpa ragu-ragu Luhan menghabiskan minumannya.

Sehun terperangah.

"Pangeran," tanya Luhan kemudian, "Minuman apa ini? Minuman ini sangat sedap."

"Itu hanya anggur merah."

Luhan merasa tubuhnya panas seperti terbakar dan kepalanya pening. Pandangan matanya mengabur dan ia merasa tenaganya hilang.

"Kau baik-baik saja?" Sehun mulai khawatir melihat Luhan. "Luhan," ia mengulurkan tangan.

Luhan jatuh ke tangan Sehun.

"Luhan!" Gelas di tangan Luhan jatuh dan hancur berkeping-keping.

.

.

.

Luhan merasakan mual di perutnya. Pening di kepalanya sama sekali tidak membantunya merasa lebih baik. Tiba-tiba seseorang menciumnya. Sebelum Luhan menyadari apa yang terjadi sebuah cairan mengalir dari mulut pria itu ke dalam tenggorokannya.

"Minum!" perintah Sehun.

Luhan tidak menyukai rasa minuman itu.

"Habiskan!" sekarang Sehun menyodorkan gelas ke mulutnya.

Luhan menuruti perintah itu.

"Kau benar-benar merepotkan," Sehun memeluknya erat-erat. "Kau membuatku kaget. Kupikir aku sudah meracunimu. Mengapa tidak kau katakan kalau kau tidak bisa minum minuman keras!?"

Sepasang mata yang cemas itu membuat Luhan merasa bersalah.

"Berbaringlah. Kau membutuhkan istirahat," Sehun kembali membaringkan Luhan di atas pahanya.

Luhan melihat rimbunan hijau daun pohon. Matanya terpaku pada sinar matahari yang berusaha menerobos ketebalan dedaunan.

Pikiran Luhan mulai berputar. Ia ingat ia duduk di pinggir kolam ikan. Kemudian Ratu Taeyeon mendekatinya dan Sehun memberinya minuman yang membuat tubuhnya serasa terbakar. Sekarang… Luhan bingung mengapa ia bisa berada di bawah pohon. Ia tidak ingat ada pohon di sekitar kolam ikan. Dan mengapa…

Luhan berdiri.

"Apa yang kaulakukan!?" Sehun terperanjat. "Berbaringlah!" Sehun menahan Luhan.

Wajah Luhan merah padam. Mengapa ia bisa berbaring di atas rumput dengan kepalanya di paha Pangeran Sehun?

"Apa kau pusing lagi?" Sehun menundukkan kepala menatap Luhan dengan cemas. Tangannya memegang dahi Luhan. "Mana yang sakit?" ia memijit lembut kening Luhan. "Apa kau sudah merasa lebih baik?"

"Saya tidak apa-apa," Luhan menepis tangan Sehun.

Mengapa gadis ini selalu begini? Mengapa gadis ini tidak pernah menerimanya? Bahkan di saat ia ingin memperhatikannya?

Luhan memaksakan dirinya untuk duduk. Seketika ia sadar mereka masih berada di halaman Quadville tempat pesta diselenggarakan.

"Kau sudah merasa lebih baik, Luhan?"

Duke of Vinchard mendekat dengan cemas.

"K-kakek!" Luhan terperanjat. Seketika ia sadar ia pasti telah membuat keributan. "Maafkan aku, kakek. Aku pasti telah mempermalukan kakek." Bahkan Seohyun pasti memarahinya malam ini.

Duke Leeteuk hanya tertawa. "Tidak ada yang perlu kau khawatirkan. Pangeran telah mengatasinya dengan baik. Sebelum banyak orang mengetahui, ia telah membawamu ke tempat yang sepi ini."

"Terima kasih, Pangeran," Luhan tersipu-sipu.

"Sekarang aku mengerti mengapa wajahmu selalu memerah tiap kali sesudah kau menghabiskan makan malammu," gumam Duke Leeteuk, "Aku akan memerintahkan koki menyiapkan menu yang tidak mengandung anggur untukmu."

"Luhan, kau sudah sadar?" Jongin gembira, "Seohyun membuat minuman khusus untukmu. Katanya kau akan merasa lebih baik setelah menghabiskannya." Jongin mengulurkan segelas minuman pada Luhan.

"Terima kasih," Luhan mengulurkan tangan.

Sehun mencengkeram tangan Luhan. Luhan terperanjat. "Berikan padaku," Sehun merampas gelas itu dari tangan Jongin.

Jongin marah.

"Ikut aku," Duke Leeteuk menarik Jongin sebelum pemuda itu melepaskan amarahnya. "Aku harus segera menyuruh koki menyiapkan makanan khusus untuk Luhan."

Kali ini Sehun tidak sedang bermain wanita. Ia benar-benar jatuh cinta pada Luhan. Sikapnya yang penuh perlindungan itu sudah merupakan bukti yang cukup. Duke Leeteuk tidak pernah melihat sang Pangeran yang suka bermain wanita itu bisa menjadi seorang pencemburu seperti ini.

"Kau masih tidak percaya padaku, Taeyeon?" tanya Raja. "Kali ini Sehun serius. Ia tidak sedang bermain-main."

Ratu Taeyeon kesal. Ia tidak punya pilihan lain selain mengakui kenyataan itu.

Ketika melihat kepanikan Sehun ketika Luhan tiba-tiba pingsan, ia sadar putranya tidak panik karena ia adalah seorang Pangeran namun karena ia mencemaskan Luhan. Sikapnya yang penuh perlindungan itu tidak pernah diberikannya pada wanita kencannya yang lain. Yang terutama, ia tidak pernah melihat Sehun, sang penggoda wanita, bisa menjadi seorang pencemburu. Tidak sekalipun ia membayangkan Sehun bisa begitu murka hanya karena seorang pria mendekati pasangannya. Ia tidak pernah mengharapkan Sehun bisa memandang tiap pria dengan mata yang berkata, 'Gadis ini adalah milikku. Jangan berharap seorangpun dari kalian bisa mendekatinya!'

"Dia memang putri Victoria," Ratu Taeyeon tersenyum bangga. "Tidak. Ia lebih mengagumkan dari Victoria. Ia melampaui Victoria! Ia tidak hanya membuat para pria patah hati tapi juga para wanita."

Ratu Taeyeon tertawa bangga.

"Siapa sebenarnya anakmu?" Raja Donghae menyerah.

.

.

.

TBC

Untuk yang ingin melihat cerita aslinya, bisa berkunjung ke imaginativewonderlanddotblogspotdotcodotid

Dot nya ganti titik ya~