You are a my girl
Pairing : Eren Jaeger X Annie Leonhartd
Rated : T
Disclaimer : Hajime Isayama
Alur : Gaje , Typo , Maju dan Mundur
Genre : Romance
Happy read ^^
Chapter 12
Senin pagi yang sangat biasa, aku kembali menjemput hana karena dia bilang dia punya kejutan untukku. Aku menguap sambil berjalan menuju rumah hana, tentu saja dari halte.
"pagiii kak erenn… gimana penampilanku?" Tanya hana saat keluar dari rumahnya. Aku menganga kaget. Melihat saat ini rambut hana menjadi panjang dan berwarna hitam.
"ap-apa?" aku tak bisa berkata-kata.
"cantikkan..? tentu saja donk, aku kan memang cantik. Oke kita pergi." Katanya sambil menggandeng tanganku, dan aku masih shock. Aku kehilangan surai pirang kesukaanku.
"hanaaa…." Saat sampai tepat didepan gerbang 3 orang anak secara tiba2 menyerangku dan hana.
"ehhh.. kiko,mera, oka. Pagiii… ehh liatt dehh.. bagus kann? Makasihh yaaa" dengan sangat semangat hana melepas gandengannya dan segera berputar memamerkan rambut barunya.
"KAWAIIIII…." Koor ketiganya cempreng membuatku hampir pingsan.
"hallo han, waahhh rambut baru." Aoi menyeruak dari sampingku, aku tersenyum kearahnya.
"iyaaa aoi… wahhh …. Kamu kemaren gak ikut sihh.." hana menghampiri aoi dan memeluknya. Kelima gadis itupun larut dalam pembicaraan masing2. Karena tidak enak, aku berjalan meninggalkan mereka.
"kak eren.." panggil hana keras, aku menoleh. Dia berlari dan mengecup pipiku " nanti keatap ya" kemudian dia berlari kearah teman2 nya. Aku tersenyum kecil, sambil memegang pipiku. Anehnya aku tidak lagi deg-deg an dan pipiku tidak memanas.
.
.
"eren.." neechan memanggilku saat pelajaran berlangsung. Aku menoleh dan tersenyum kearahnya. Dia ikut tersenyum dan kembali focus pada pelajaran. Aku memutar bolpint dengan malas, melirik sana-sini mencari teman mengobrol. Tugas kimia didepanku terlalu membosankan. Aku beralih menoleh kebangku belakang. Dan mataku terpaku pada sosok pirang disana , yang tengah memejamkan matanya tenang, menampakkan helaian bulu mata yang letik nan indah. Aku terbuai dalam keindahan wajah itu. Tapi kemudian seseorang mengejutkanku.
"eren.. kau daritadi dipanggil levi-sensei." Armin berkata sambil melempar penghapus kearahku. Aku tersentak dan segera mengalihkan mataku menuju kedepan kelas.
"kau sedang apa, jaeger?" Tanya levi sensei dengan tatapan dinginnya yang bisa membuat sambaran arus listrik imajiner menuju mataku.
"saya-.. itu saya.." aku terbata, sangat bingung akan menjawab apa.
"jaeger, bisa kau keperpus ambilkan aku beberapa buku ! dann annie, sebagai anggota perpus tolong dampingi jaeger." Levi sensei memberi perintah layaknya seorang kopral memerintah prajuritnya. Annie berdiri dan berjalan keluar sedangkan aku maish duduk terpaku menatap punnggung kecil itu keluar dari daun pintu kelas.
"sampai kapan kau memasang tampang bego itu jaeger." Annie muncul kembali dan membuatku melonjak kaget dan segera berlari kearahnya.
.
.
"ah.. et-tto annie kau-"
"bagaimana hubunganmu dengan cewek centil itu?" Tanya annie dengan tatapan dinginnya kearahku.
"ah, baik2 saja.. dia memiliki banyak teman sekarang jadi, aku mungkin sudah tidak dibutuhkan lagi" kataku sambil menggaruk pipiku pelan. Annie terdiam, dia berhenti berjalan dan menatapku.
"ke-kenapa annie?" tanyaku gugup. Hentikan tatapan matamu itu pirang, kau membuat jantungku hampir keluar dari mulut.
"kalau kau menyukainya, pertahankan. Kalau kau sudah tak menyukainya lebih baik putuskan karena itu bisa memberatkannya." Kata annie sambil menyibakkan poninya pelan. Aku terkesiap.
"ahh.. err.. apa kau bilang tadi?" tanyaku memastikan yang dia katakan itu sudah sangat benar dan didengar oleh telingaku.
"lupakan." Dia berjalan mendahuluiku. Aku mendengus, heeii eren. Kau ini kenapa sih? Dia hanya annie, HANYA ANNIE kenapa kau gugup setengah mati seperti ini.
"kau aneh jaeger." Kata annie tiba2 aku menatapnya pelan. Haa…maksudnya?
"memangnya aneh kenapa?" tanyaku.
"kau takut padaku ya?" Tanya annie sambil menatap kelain arah, bukan kedepan dan bukan kearahku dia menatap kearah kiri dimana lapangan olahraga berada.
"bu-bukan begitu, annie. Aku- aku hanya…. Ituu…" mendengar hal itu aku langsung gelagapan, antara bingung mau jawab apa dan takut kalo dia marah. 'siall… aku ini kenapa sih?' aku merutuki diriku dalam hati.
Setelah itu hanya diam, hening sampai didepan pintu perpus. Annie masuk tanpa ragu dan disambut salah satu senior disitu. Mereka berbincang sebentar, dan annie mengisyaratkanku mengikutinya memasuki lorong buku kimia kelas 2. Annie memilih buku sesekali dia membaca buku sekilas dan berjinjit jika ada buku dirak atas yang akan dia ambil. Aku hanya melihatnya sambil terus memperhatikannya.
'dia annie kan? Teman sekelasku. Kenapa dia terasa sangat berbeda. Kenapa dia begitu bersinar?' aku bergumam dalam hati. Kurasakan pipiku memanas sama seprti halnya perasaanku saat berasama/memperhatikan hana dulu.
"sampai kapan kau akan melihatku jaeger?" Tanya annie sambil menatapku. Aku mendongak dan segera berjalan kearahnya sambil tersenyum innoncent.
"kau tetap bego ya, jaeger." Annie tersenyum mengejek, senyumnya sangat manis tapi itu terasa bagaikan iblis dengan api berkobar.
"apa katamu?" aku melotot menatap tajam kearahnya. Annie kembali menampakkan ekspresi dinginnya.
"itu… aku sangat suka tatapan dan matamu itu." Katanya sambil berlalu meninggalkanku yang membeku dengan pipi memanas.
Sukaa? Dia suka mataku? Suka katanya…
~O~
Teng….Tong…. Teng… Tong…
Kembali lagi saudara author menskip adegan barusan. Aku tidak tau apa yang ada dalam pikirannya mungkin dia butuh aqua sekarang.
#abaikan.
Bel istirahat makan siang berbunyi, dengan malas aku melangkahkan kakiku keluar kelas menuju keatap diikuti oleh armin yang dengan sangat tampannya disuruh neechan untuk mengawalku.
"eren.. matamu terlihat seperti ikan yang mati." Komentar armin sambil tertawa kecil. Aku mendengus mendengar ucapannya.
"aku terlalu malas armin." Jawabku singkat sambil melangkahi satu anak tangga.
"hahaha.. ren kau sangat gila. Bertold coba kau pukul dia pakai sapu, mungkin otaknya bisa lurus kembali pffttt…" suara itu… aku menoleh kearah bawah dan menemukan sosok itu, sosok pirang yang sangat cantik. Mataku membulat.
"eren.. kenapa kau ber-" ucapan armin terputus saat aku secara tiba2 melangkah turun. Aku tidak tau tapi, tubuhku seakan-akan menyuruhku untuk turun dan menemui sosok itu.
"eren..?"
"lohh eren mau kemana?"
"…"
Hanya bertold dan reiner yang menyapaku, sedangkan annie hanya diam dengan muka datarnya seolah dia tidak tertawa barusan.
"aku mendengar tawa nenek sihir tadi disini." Ucapku sambil melirik annie sekilas dan menatap bertold serta reiner.
"kau menghinaku nenek sihir jaeger." Dengan cepat dia menjawab. Aku mengangguk cuek.
Tungguu… kenapa aku bersikap seperti ini?.
"eren.. kau salah makan?" bertold bertanya sambil memicingkan matanya.
"tidak." Jawabku pelan sambil kembali naik ketangga, menemui armin diatas sana. Samar2 kudengar ocehan reiner dan suara annie yang mengatakan aku bego. Pipiku memanas, aku ini kenapa sihh?.
.
.
"kak erenn.. lama." Hana cemberut saat melihatku diujung anak tangga.
"maaf.." aku tersenyum kecil. Dia langsung menggandeng tanganku dan menyeretku kearah permadani merah yang menanti.
"haloo eren senpaii…" aoi menyapaku dengan semangat masa mudanya. Dilanjut dengan ketiga gadis yang sangat kompak meneriaki hana dan aku.
"cieeee… makin mesra aja." Koor ketiganya, armin tertawa mendengar hal itu.
Aku duduk dengan tenang sambil mencomot satu roti gandum dikeranjang. Hana dan teman2 nya masih sibuk mengoceh tidak jelas, membuatku sedikit jenuh disitu. Kulihat armin hanya diam sambil meminum jus jeruknya.
"hoii annie… kita bisa makan dikantin." Suara itu membuat kami diam dan menoleh kearah pintu. Pintu berderit pelan, menampakkan sosok gadis pirang yang dengan cueknya melewati kami dan menuju pagar pembatas. Diikuti dengan 2 pemuda yang memanggil namanya.
"biar saja, reiner." Dengan kalemnya sosok bertold mengelus bahu reiner dengan pelan. Reiner mendengus kesal.
"heii lihat itu, itu dia gadis pirang jutek yang kuceritakan." Hana berbisik pada teman2 nya.
"dia tidak jutek hana. Dia itu baik." Aoi dengan sigap membela kakak kesukaannya.
"kau diam saja lah aoi." Hana mendengus kesal.
"iyaa dari mukanya aku sudah tau dia jutek. Tapi dia cantik banget, kau mah kalah han."
"bulu matanya lebih indah darimu. Dan rambut pirangnya keren banget., bener, kau mah kalah."
"aku mau pisang donk." Komentar ketiga temannya itu. Dan aku bahkan melotot heran saat mendengar komentar oka yang malah tidak niat memperhatikan situasi. Hana melengos kesal, mungkin karena teman2 nya membela annie daripada dia. Mungkin..
Tatapanku melayang, menangkap sosok annie. Aku menatapnya, hingga semua disekitarku buram seakan-akan mataku hanya terpaku pada sosoknya. Dia diam disitu, sambil bersandar kedua pemuda disekitarnya hanya berbincang pelan tapi sosok mereka terlalu buram dimataku.
Aku sudah tahu kalau bertold meyukai annie dan baru saja kemaren reiner mengaku pernah menyukainya juga. Walaupun dia dingin, kurasa dia juga memiliki sisi lembut. Aku mengingat senyumnya di UKS membuatku sangat terpana, betapa indahnya senyuman itu. Tapi, sayang aku masih melihat kedinginan dimata cantiknya.
~O~
Hari selanjutnya kulalui dengan sosok annie yang selalu menghiasiku. Aku bahkan tidak bisa membuang bayangnya hilang dari benakku, bahkan aku menggantinya dengan sosok hana tapi, itu tidak berhasil. Cerita reiner membuatku serasa sangat tertarik padanya. Wajah cantiknya, mata indahnya, dan rambut pirangnya. Dan jugaa.. bulu matanya. Aku sangat menyukai semua itu. Aku ingin memilikinya. Tapi..
"eren.. supmu sudah dingin." Neechan menepuk bahuku pelan sambil menunjuk sup didepanku. Aku terkesiap dan mulai menyuap makanan itu kearah mulutku.
"eren…" neechan berbicara lirih, aku mendongak menatapnya dia tampak serius. Aku sampai bergidik menatapnya. Ayah dan ibu sedang kerumah saudaraku mungkin besok pagi akan pulang.
"akhir2 ini kuperhatikan kau selalu melamun sendirian." Katanya sambil mengelus sayang pipiku.
Aku menunduk, iyaa benar kata neechan.. aku selalu melamun sendirian. Melamunkan annie, dalam hati kecilku aku sangat menyesal tidak memperhatikannya saat kelas satu.
"kau bisa ceritakan padaku, masalah hana ya?" Tanya neechan sambil duduk disampingku. Aku mendesah panjang kemudian mulai bercerita.
"neechan, kenapa aku tidak berdebar lagi jika didekat hana?. Kenapa aku tidak nyaman lagi ada dipelukannya?. Kenapaa aku selalu jenuh?." Aku mulai berkeluh kesah kekakak perempuanku ini. Aku tau aku alay *lempar author pake garpu* tapi, mungkin neechanku bisa menyelesaikannya.
"kau tidak mencintainya eren.. kau tidak mencintainya. Aku sudah tau itu dari awal. Kau hanya kagum dan kau mencintainya karena kau mengira dia gadis bertudungmu itu."neechanku berkata sambil mengelus puncak kepalaku.
Gadis bertudung? Bahkan aku melupakan sosok yang sangat kusuka dalam dua tahun. Hanya karena annie.
"tapi, nee.."
"kau sudah mencintai sosok lain, mungkin dia lebih kau suka daripada sosok bertudungmu itu." Neechanku menebak dengan ketepatan seratus persen. Aku terdiam.
Iyaa aku sudah mencintai orang lain.
Bukan hana… bukan juga gadis bertudung yang kuimpikan selama ini.
Gadis yang kusukai adalah annie.
Aku menyukainya.
~O~
Pojok author : ya alloh Alhamdulillah sudah sampai sejauh ini… eren saya menyayangimu *ehh apa hubungannya*. Ehem.. begini, karena cerita ini sudah hamper tamat ,, etto yah mungkin dua chapter lagi atau bisa kurang lebih :3 sih… kalian suka kan? Suka lohh yaaa *maksa*.
~O~
Pagi yang cerah, dengan dorongan neechan aku berniat membulatkan tekad menyatakan perasaanku. Entah kapan aku juga tidak tau, keran aku masih milik hana, dan itu MUTLAK (Akashi kedua mungkin.. *lirik Akashi dari fandom sebelah*).
Neechan menepuk bahuku pelan saat dilorrong aku mengangguk dan dia berlalu bersama jean kearah kelas terlebih dahulu. Aku membuka lokerku dan mendapati sebuah surat disana. Dengan cepat aku membuka dan membacanya.
"kak.. mungkin kita harus bicara. Hana "
Aku mengernyit menatap tulisannya itu. Tapi sebuah suara berhasil membuatku tersadar.
"pagi kak annie…" telingaku berkedut saat mendengarnya. Dan benar saja, suara itu berasal dari marco, si anak kelas satu.
"pagi.." annie membalas dengan cuek sambil memakai gelang ditangannya.
Tunggu gelang?
"wahh… gelang yang cantik. Cocok sekali dengan kak annie yang cantik. Bahkan gelang itu kalah cantik sama kakak." Aku tertohok mendengarnya.
" ohh iya?" annie menoleh kearah marco sebentar dan kembali sibuk menata lokernya.
"iya kak… ngomong2 itu dari siapa?" Tanya marco dengan senyuman yang dia buat semanis mungkin. Aku mau muntah *author siapin karung*
Annie menoleh kearahku, aku hanya diam dan membalas menatapnya. "dari orang yang sangat special.' Annie berujar sambil beralih menatap marco. Aku terkesiap, merco juga terdiam. Beberapa saat kemudian marco pamit untuk kekelasnya. Dan dilorong hanya ada aku dan annie. Annie bersiap2 pergi, aku gelagapan.
"ehh.. ohhh hai annie." Sapaku kikuk, tunggu kenapa aku berkata seperti itu.
Annie menoleh menatapku bingung. "hai juga." Balasnya singkat.
"ehh.. anu. Mau kekelas? Boleh bareng?" tanyaku dan dibalas anggukan kepala darinya. Kami berjalan berdampingan menuju kelas, sekolah sudah cukup sepi mungkin semua sudah masuk kekelas masing2.
"gelang yang cantik." Kataku sambil memegang pergelangan tangannya dimana terdapat gelang berwarna hijau dengan rangkaian bunga disana.
"terima kasih." Katanya sambil menatapku sekilas lalu menoleh kearah lain. Genggaman tanganku mulai menurun, dan sekarang aku memegang erat jemari letiknya. Sambil sedikit berdehem aku berkata
"orang special itu pasti sangat menyayangimu." Kataku.
"tentu saja." Jawabnya enteng. Entah kenapa hatiku mulai mencelos merasakann kehampaan dan mungkin akan sakit jika benar2 suka ku bertepuk sebelah tangan.
Tapi anehnya.. dia tidak melepas genggaman tanganku. Dia hanya diam saat aku menggenggam erat tangannya sampai pada dipintu kelas, dia melepasnya pelan dan berjalan mendahuluiku.
Tangan yang hangat.
~O~
Istirahat sudah memasuki menit ke10 mungkin 20 menit lagi bel masuk akan berbunyi nyaring. Aku masih didalam kelas bercanda dengan teman2ku. Sampai pada suatu suara yang memanggilku didepan kelas.
"kak eren.." aku menoleh dan melihat hana berdiri didepan kelas. Aku menghampirinya dan menyentuh bahunya pelan.
"maaf.. aku tadi sedang-"
"tidak apa2 kok kak. Hanya saja, mungkin nanti pulang sekolah kita harus bicara. Kita pulang bareng ya.." katanya dengan senyuman manis. Ini dia hana yang kukenal, hana yang lemah lembut. Aku tersenyum dan mengangguk dia mengecup pipiku sekilas dan berlari menuju kekelasnya. Kembali, aku menyentuh pipiku dan sama sekali tidak ada debaran itu.
Sebuah benda lembut mendarat dipipiku, disebelah bekas kecupan hana. Aku menoleh kearah belakang dan mendapati annie menyentuh pipiku dengan tangannya. Jantungku berdegup kencang, seolah akan lepas begitu saja dari tempatnya.
"aku suka tatapan matamu itu jaeger." Katanya lagi sambil menyentuh sebelah mataku.
Aku membeku. Kurasakan seluruh tulangku rontok sekitika.
Ohhh tuhannn… ciptaanmu memang sangat sempurna.
Kemana saja aku saat kelas 1, sampai tidak menyadari ada ciptaan seindah dia didepan mataku.
Tanganku terangkat menyentuh bahunya pelan "terima kasih, aku sangat senang."
~O~
Romantisss sekaliii (author memuji karya sendiri).. ya alloh apa saya salah? #avaikan.
Holla semuaaa… ^^ maaf telat update nya :3 saya sibuk *gak peduli*
Semoga kalian suka yaaa … mau tamat lohh ini ^^ ikutin yaaa ^^
Review Fav Follow dan PM selalu dinantikan ^^
Salam te hee *shizuka_kun* ^^
