Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto. I don't take any material profit from it

Pairing : SasuFemNaru

Rated : T

Warning : Gender switch, OOC, OC, typo(s)

Genre : Supernatural, hurt/comfort, family

Note : Dilarang mengcopy paste isi fic ini maupun fic milik saya lainnya. Yang tetep membandel saya kutuk jadi jomblo seumur hidup!

Selamat membaca!

Calendula Officinalis

Chapter 12 : Rencana Naruto

By : Fuyutsuki Hikari

Faking a smile is so much easier than explaining why are you sad. (Unknown)

Empat puluh hari?

Kenapa hanya empat puluh hari?

Pria itu mengacak rambutnya kasar lalu melepas napas lelah. Dan kenapa aku baru mengetahuinya sekarang, saat semuanya sudah hampir terlambat? Naruto-nya sekarat? Benar-benar sekarat? Kenapa? Kenapa harus Naruto, Tuhan? Aku sudah hidup lebih lama di dunia ini, kenapa bukan aku saja? Raungnya pilu, di dalam hari.

Kakashi terus merenung di teras belakang kediaman keluarga Namikaze, kepalanya mendongak—menatap rembulan yang mengintip malu dari balik awan. Malam ini pria itu tidak bisa memejamkan mata barang sedetik pun. Kenyataan mengenai sisa waktu keponakannya kini menghantuinya dengan hebat. Membuatnya gelisah, takut sekaligus marah pada waktu bersamaan.

Baru saja dia merasa sedikit tenang karena Minato akan diizinkan pulang dalam waktu beberapa hari, sekarang ketenangannya kembali dirampas dengan paksa setelah kebenaran mengenai Naruto diketahuinya dari mulut Sasuke. Dunianya seolah runtuh saat Sasuke mengatakan kebenaran itu padanya. Pria itu sama sekali tidak bisa membayangkan bagaimana sedihnya Minato, Kushina dan Kyuubi jika Naruto pergi meninggalkan mereka untuk selamanya?

Itu tidak mungkin terjadi. Naruto pasti hanya bercanda untuk mengerajai Sasuke. Iya, kan?

Kakashi memejamkan mata. Hatinya mengucapkan sebuah pujian tulus kepada Sasuke yang sepertinya bisa mengendalikan diri dengan baik. Putra bungsu keluarga Uchiha itu menyembunyikan keresahannya hanya demi kebahagiaan Naruto?

Ah, andai saja semua ini mimpi buruk, Kakashi ingin segera terbangun tanpa mengingatnya.

Ia tersenyum getir.

Naruto?!

Ia memanggil sedih nama keponakannya itu di dalam hati. Kenapa dalam keadaan seperti itu keponakannya masih mementingkan kebahagiaan keluarganya? Sebuah perasaan bersalah menohok Kakashi dengan hebat. Selama ini ia terlalu sibuk hingga lupa jika Naruto memerlukannya. Selama ini keponakannya itu tidak banyak menuntut, dan hanya tersenyum lebar saat Kakashi memberinya selamat atas prestasi-prestasi yang berhasil Naruto raih di sekolah.

Kenapa aku melewatkan ekspresi itu? Maki Kakashi di dalam hati. Dalam senyum lebar itu, Naruto menyembunyikan perasaannya yang sesungguhnya.

Keponakannya itu kesepian. Selalu kesepian, dan mirisnya tidak ada satu pun dari anggota keluarganya yang menyadari hal itu. Semua terlalu sibuk, dan saat sadar semuanya sudah terlambat, kini mereka hanya bisa menyesal atas apa yang telah terjadi di belakang.

Menggelikan, pikir Kakashi menertawai dirinya sendiri.

Ia kembali menyalakan sebatang rokok keempatnya, menghisapnya dalam-dalam lalu mengepulkan asapnya ke udara. Dalam diam pria itu mengamati kepulan asap yang mengotori udara segar disekitarnya. Ah… sudah lama sekali Kakashi tidak menikmati rokok. Dia hanya menghisap rokok saat pikirannya sedang kalut. Rokok menjadi pelariannya, seolah hal itu bisa membuatnya melupakan masalahnya untuk beberapa saat walau pada kenyataannya pelariannya itu sama sekali tidak berpengaruh.

"Paman sedang ada masalah?"

Kakashi menoleh lewat bahunya, lalu mematikan rokoknya dengan cepat saat Kyuubi berjalan ke arahnya dengan kening ditekuk dalam.

Kyuubi menyodorkan segelas susu hangat kepada Kakashi yang segera diterima pria itu dengan sebuah senyum penuh terima kasih.

"Jangan melarikan diri ke rokok saat paman ada masalah!" omel Kyuubi dengan mata menyipit. Ia melipat kedua tangannya di depan dada, sementara Kakashi meminum susu hangatnya pelan. "Paman harus menjaga kesehatan. Jika tidak bisa tidur, minum susu hangat, Jangan merokok!"

"Aish… hanya sesekali." Kakashi berkilah dengan senyum konyolnya, mengabaikan Kyuubi yang melotot mengancam ke arahnya. Kakashi melepas napas panjang. "Lalu, kenapa kau masih terjaga?"

Kyuubi tidak langsung menjawab. Ia mengangkat bahunya ringan. "Masih banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan malam ini."

"Jaga kesehatanmu, Kyuu!"

"Kau juga, Paman." Kyuubi terdiam sejenak. "Jangan terlalu lelah. Jangan memaksakan diri. Ok? Naruto akan sedih jika paman jatuh sakit," ujarnya parau. Kyyubi menggigit bibir bawahnya, terlihat menahan kesedihannya dengan kuat. "Jangan membuatku cemas. Kau tahu, kan? Kami semua menyayangimu," tambahnya tanpa bisa menatap kedua mata Kakashi secara langsung.

Kakashi tersenyum simpul. Sama sekali tidak menyangka jika Kyuubi akan mengatakan kekhawatirannya secara terbuka. Hati pria itu tersentuh. Dadanya terasa hangat. Ia sama sekali tidak bisa menjawab, yang bisa dilakukannya hanyalah mengangguk kecil sembari mengacak rambut keponakannya itu.

.

.

.

Nagato menekuk keningnya dalam saat membaca sebuah dokumen laporan yang baru diserahkan oleh salah satu anak buahnya beberapa saat yang lalu. Brengsek! Makinya di dalam hati. Jika benar apa yang dilaporkan oleh anak buahnya ini, maka kasus yang ditanganinya saat ini bukanlah kasus biasa. Kasusnya melibatkan orang penting di dalam pemerintahan serta seorang pengusaha kaya yang terkenal bermain kotor namun tidak pernah tersentuh oleh hukum.

Ular! Maki Nagato di dalam hati.

Polisi berpangkat kapten itu bernapas lelah lalu memijat pangkal hidungnya yang sedikit bengkok, mencoba untuk mengalihkan perhatiannya sementara anak buah yang memberi laporan itu padanya menunggu dengan sorot cemas.

"Apa yang harus kita lakukan?" tanyanya dengan gerakan gelisah. "Tersangka dalam kasus percobaan pembunuhan Tuan Namikaze bukanlah orang biasa."

Satu alis Nagato terangkat. Pria itu berusaha untuk tetap terlihat tenang, walau hatinya berkata sebaliknya. Dengan santainya ia menutup dokumen yang baru selesai dibaca setengahnya. "Apa lagi yang harus kita lakukan? Kita harus mengumpulkan bukti untuk menangkap mereka tentu saja," jawabnya ringan. "Bukankah itu tugas kita?"

"Dia bukan orang biasa, Kapten," pria yang menjadi bawahannya itu menelan air ludah dengan susah payah.

"Lalu?" tanya Nagato datar. "Hanya karena dia memiliki jabatan penting di dalam pemerintahan lantas membuat kita mandul?" Ia terdiam sejenak. "Jika bukti yang kita miliki tidak cukup kuat, hal ini bisa menjadi bumerang untuk Tuan Namikaze. Beliau bisa diserang balik dengan alasan ingin menjatuhkan lawan politiknya." Nagato kembali terdiam untuk menarik napas panjang. Ekspresinya kembali serius saat ia kembali bicara, "Pemilu sudah di depan mata, reputasi Tuan Namikaze dipertaruhkan. Kita harus hati-hati jangan sampai berita ini bocor ke publik. Apa kau mengerti?"

"Saya mengerti, Kapten!"

Naruto tersenyum miris mendengarnya. Orang yang berusaha membunuh ayahnya ternyata seorang petinggi di pemerintahan? Kenapa bisa ada orang sejahat itu? Pikir Naruto tidak mengerti. Bagaimana bisa seseorang memiliki niat sejahat itu hanya untuk kepentingan dirinya sendiri?

Roh gadis remaja itu kembali melayang, menembus tembok demi tembok yang menjadi pembatas setiap ruangan di dalam gedung kantor kepolisian itu. Ia harus melakukan sesuatu agar penjahat itu tertangkap, pikirnya. Tapi apa? Apa yang harus dilakukannya?

Naruto tahu jika untuk hal ini dia tidak bisa melibatkan keluarga serta teman-temannya. Terlalu berbahaya. Orang yang dihadapinya bukanlah orang biasa. Jika orang itu dengan mudahnya berusaha untuk melenyapkan ayahnya, maka Naruto yakin jika orang itu tidak akan segan-segan meenyapkan beberapa orang lagi untuk mengamankan rahasianya.

Aku harus mengumpulkan bukti-bukti itu seorang diri. Tidak ada yang boleh ikut terlibat dalam hal ini. Aku harus melindungi orang-orang yang kusayangi, putusnya mutlak.

.

.

.

"Apa yang kau lakukan di sini?" Minato menyempitkan mata, terlihat tidak bersahabat saat Sasuke datang berkunjung ke ruang inapnya sore ini.

Sasuke memberi hormat samar, sebelum menarik sebuah kursi dan duduk di samping ranjang Naruto. "Menengok putri paman," jawabnya tanpa ekspresi.

"Apa harus datang setiap hari?" sungut Minato masih dengan mata menyipit. Pria itu meletakkan buku novel yang tengah dibacanya untuk Naruto ke atas meja. "Apa kau tidak punya kegiatan lain selain datang ke rumah sakit setiap hari? Tidak ada les? Kegiatan ekstra kulikuler? Atau apa pun yang bisa membuatmu sibuk?" tanyanya beruntun.

Sasuke nyaris menguap karenanya. Kenapa dia merasa seperti tengah diinterogasi oleh calon ayah mertua yang tidak rela putrinya berkencan. "Nilai pelajaranku sangat baik, Paman. Saya tidak butuh les."

Minato mendengus. "Sombong!" omelnya pelan, nyaris tak terdengar sementara Sasuke hanya mengangkat bahunya ringan. "Apa orangtuamu tidak mencarimu? Seharusnya mereka cemas karena kau terus pulang malam setiap harinya."

Sasuke kembali mengangkat bahunya ringan. "Keduanya tahu kemana saya pergi. Mereka mengerti."

Minato memutar kedua bola matanya. Tidak seharusnya Fugaku dan Mikoto memberi kelonggaran sebesar itu pada Sasuke. Walau seorang pria, Sasuke masih di bawah umur dan masih harus di bawah pengawasan orangtua.

Aku harus mengawasi mereka lebih ketat, pikir Minato. Matanya melirik ke arah Naruto yang masih terbaring tak sadarkan diri.

Pria itu mengernyit dalam. Tapi sebentar lagi aku akan diizinkan untuk pulang. Bagaimana aku mengawasi mereka? Bagaimana jika Sasuke mengambil kesempatan saat mereka hanya berdua di dalam ruangan ini?

Minato menggelengkan kepala, terlalu sibuk dengan pikirannya hingga tidak sadar jika saat ini Sasuke menatapnya dengan tatapan aneh.

"Hei, kau!" Minato menunjuk Sasuke dengan jari telunjuknya. "Jangan mengambil kesempatan dalam kesempitan, mengerti?!" ujarnya penuh penekanan. Minato melipat kedua tangannya di depan dada. "Aku akan terus mengawasi kalian," tambahnya membuat satu alis Sasuke terangkat. "Kau mengerti, kan apa yang kumaksud?"

Hening.

Minato berdecak, terlihat sebal dan kesal secara bersamaan. "Pokoknya jangan mengambil kesempatan dalam kesempitan! Putriku masih sangat muda. Kalian masih terlalu muda untuk menjadi sepasang kekasih. Aku belum mengizinkan Naruto untuk memiliki kekasih. Paham?"

Sasuke tidak langsung menjawab. "Bukankah itu terserah pada keputusan Naruto, Paman?" Ia balik menyerang dengan telak. "Lagipula, apa salahnya jika saya menjadi kekasih Naruto? Anda seharusnya merasa tenang karena anda sudah mengenal saya dengan baik."

Minato menggelengkan kepala. "Tidak. Aku tidak mengenalmu," sanggahnya cepat. "Semua pemuda sama saja. Mereka serigala berbulu domba!"

Kini giliran Sasuke yang memutar kedua bola matanya bosan. Ujian apalagi ini? Tanyanya di dalam hati. Naruto belum bangun saat ini. Mereka bahkan belum menjadi pasangan kekasih secara resmi, namun Minato sudah menolaknya? Bagus, pikir Sasuke muram.

"Aku akan mengawasi kalian dengan ketat. Mengerti!" putus Minato mutlak membuat sore Sasuke semakin kelabu.

.

.

.

"Jadi, apa aku bisa merasuki tubuh seorang manusia?" Naruto bertanya dengan ekspresi biasa. "Aku hanya sekedar ingin tahu," ucapnya cepat saat Kimimaro menatapnya dengan tatapan curiga. "

Kimimaro tidak menjawab.

"Kimimaro…?!" panggilnya dengan nada manja.

Alih-alih terbujuk, Kimimaro malah mendengus dan melenggang pergi, meninggalkan Naruto yang berdecak sebal di belakangnya.

"Ya Tuhan aku tidak bisa bernapas," ujar Naruto dengan ekspresi berlebihan, berusaha untuk menarik perhatian Kimimaro.

Kimimaro memutar kedua bola matanya dan menjawab ketus. "Kau memang tidak bisa bernapas!" ujarnya sembari berbalik pergi.

Naruto mendengus, tidak patah arang. Roh gadis remaja itu pun melayang, melintasi setiap ruangan, menembus tembok demi tembok yang menjadi pembatas antara satu ruangan dengan ruangan lainnya untuk mengejar Kimimaro. "Apa aku bisa menguasai tubuh manusia untuk beberapa waktu?" tanyanya lagi dengan nada memelas. "Kenapa kau begitu pelit? Bukankah kau sudah lama tinggal di dunia roh? Kau pasti tahu mengenai hal ini, kan?"

Kimimaro berbalik dengan cepat. "Apa yang sedang kau rencanakan?" tanyanya dengan nada dan sorot mata tajam. "Belakangan ini kau terlihat murung, dan sekarang tiba-tiba saja kau tertarik ingin tahu apa kau bisa merasuki tubuh manusia?" tambahnya saat Naruto tidak kunjung menjawab pertanyaannya. Kedua alis pria muda itu bertaut, ekspresinya terlihat serius saat menatap wajah Naruto, seolah-olah ia ingin membaca apa yang tengah dipikirkan oleh sahabatnya itu. "Apa kau berpikir dengan cara itu kau bisa menguasai kembali tubuhmu?"

Naruto menggelengkan kepala pelan, mengerjapkan mata lalu mengangguk cepat, terlalu cepat hingga membuat Kimimaro semakin menyipitkan matanya—tidak percaya.

Ah, seharusnya ia bisa mengelabui Kimimaro dengan mudah. Seharusnya dia mencari bahan pembicaraan sebelum bertanya mengenai hal itu. Naruto cemberut, sebal karena Kimimaro pasti tidak akan merasa puas sebelum rasa ingin tahunya terjawab. Keduanya berdiri kaku saling bersisian di depan sebuah ruang inap tempat Kimimaro biasanya duduk termenung menatap seorang wanita cantik berusia lima puluh tahunan yang terbaring di atas ranjang rumah sakit. Hingga saat ini Naruto masih belum tahu apa hubungan wanita itu dengan Kimimaro.

Ia pernah bertanya apa wanita itu ibu Kimimaro? Namun Kimimaro menjawab dengan sangat meyakinkan jika wanita itu bukan ibunya.

"Lalu? Alasan apa lagi yang bisa membuatmu ingin tahu mengenai hal itu?"

Naruto menegakkan tubuhnya. "Aku sudah tahu siapa dalang dibalik usaha pembunuhan ayahku," jawabnya murung.

"Siapa?"

Ia berbalik ke Kimimaro. "Salah satu dari lawan politik ayahku."

"Brengsek!" maki Kimimaro marah. "Manusia terlalu serakah. Mereka bahkan tega membunuh sesamanya untuk kepentingannya," ujarnya dengan gigi gemertuk.

Naruto tersenyum pahit. "Kau juga manusia," ujarnya seolah mengingatkan Kimimaro.

"Aku roh," ujar Kimimaro. "Aku bukan manusia," kilahnya membuat Naruto mendelik dan menjawab dengan nada ketus, "Kau pernah jadi manusia."

"Ya… ya… Aku pernah jadi manusia. Puas?"

Naruto mengendikkan bahu.

"Jadi, apa hubungannya dengan hal itu?"

Naruto tidak menjawab. Dia sibuk menata pikirannya. Ia takut jika mengatakan secara jujur apa yang tengah direncanakannya pada Kimimaro. Sahabatnya itu pasti menentang keras dan berpotensi untuk mengadukan hal ini pada Sasuke lewat Sai. Dan itu berarti masalah. Naruto tidak mau keluarganya menjadi cemas karenanya. Tapi, bagaimana jika sesuatu yang tidak diinginkan terjadi padanya?

Tidak akan terjadi apa pun, ujarnya untuk membesarkan hatinya sendiri. Dia seorang roh. Manusia biasa tidak akan bisa melihat keberadaannya, lalu apa yang harus dikhawatirkannya?

Dia juga bisa memberi penjahat itu pelajaran. Iya, kan? Dia bisa meneror penjahat itu. Benar, kenapa aku tidak melakukannya?

"Aish… aku tidak suka ekspresimu saat ini," ujar Kimimaro membangunkan Naruto dari lamunan pendeknya. Pria muda itu berkacak pinggang, menatap Naruto dengan kedua mata menyipit. "Sebenarnya apa yang sedang kau rencanakan?" tanyanya.

Naruto mengangkat kedua bahunya, berusaha untuk berkelit. "Memangnya apa yang bisa kurencanakan? Aku hanya sedang merencanakan sesuatu untuk menjodohkan pamanku," elaknya kurang meyakinkan.

"Jangan coba-coba membodohiku, Naruto!" geram Kimimaro. Ia tidak mengerti, namun hati kecilnya terus berkata jika Naruto tengah merencanakan sesuatu yang berbahaya saat ini. "Kau berbicara berputar-putar. Asal kau tahu, apa pun yang sedang kau rencanakan, tolong hentikan!"

Naruto memalingkan wajah. "Aku tidak merencanakan apa pun. Jangan khawatir!"

"Kau tidak bisa berbohong padaku! Aku bisa mencium aroma kebohongan darimu saat ini!" Kimimaro berhenti sejenak. "Apa kau pikir bisa mengelabuiku dengan mudah?"

Pertanyaan itu tidak pernah terpikir oleh Naruto. Karena selama ini ia bisa dengan mudahnya mengelabui orang-orang disekitarnya. Dia selalu mengelabui mereka dengan memasang senyum terbaiknya. Naruto meremas dadanya. Kenapa Kimimaro bisa dengan mudahnya mengetahui kebohongannya? Apa karena pria itu roh hingga ia bisa membaca pikirannya dengan sangat mudah?

"Jangan menyimpan segala sesuatunya seorang diri, Naruto." Kimimaro kembali bicara dengan nada lebih lembut. Pria itu terdiam sejenak lalu meletakkan kedua tangannya di atas bahu Naruto, lalu menundukkan kepalanya agar sejajar dengan roh remaja wanita itu. "Kau harus belajar berbagi," tambahnya. "Bukan hanya kebahagiaan yang harus kau bagi, tapi juga kesedihan, rasa sakit, cemas bahkan perasaan marah. Kau harus membaginya dengan orang lain. Jangan terus memakai topeng untuk membuat orang lain bahagia."

Naruto terdiam.

"Sekarang tolong katakan padaku, apa yang sedang kau rencanakan!" pinta Kimimaro parau.

.

.

.

Sai kembali menyapu ruangan untuk yang kesekian kalinya. Dia melirik ke jam dinding yang tergantung di tembok kelasnya. Sudah hampir pukul dua belas siang tapi Naruto masih belum menunjukkan batang hidungnya? Aneh, pikir Sai.

Biasanya roh centil itu sudah datang sejak pukul sebelas siang untuk mengganggunya atau sekedar menyapa teman-teman sekelasnya di kelas sebelah. Kemana dia? Tanyanya di dalam hati dengan kening ditekuk dalam.

Pandangan Sai kini tertuju ke arah Sasuke. Ia mulai menilai. Sikap Sasuke itu terlihat sama seperti biasanya. Tidak ada tanda-tanda jika Uchiha bungsu itu tengah bertengkar dengan Naruto. Sasuke seharusnya terlihat murung jika tengah ada masalah, kan? Tanyanya pada dirinya sendiri.

Kernyitan Sai semakin dalam. Ada atau tidak ada masalah tidak pernah mengubah ekspresi Sasuke. Bukankah pada dasarnya dia memang minim ekspresi?

Sai menghela napas, mulai berpikir dengan serius. Bagaimana bisa Sasuke bertengkar dengan Naruto? Melihat roh Naruto saja Sasuke tidak bisa. Jadi, kemungkinan keduanya bertengkar sangat kecil, pikirnya sedikit tenang. Lalu, dimana Naruto? Tanyanya lagi semakin penasaran.

"Apa yang sedang kau pikirkan?" Neji buka suara saat guru literature mereka telah keluar ruangan sesaat setelah bel istirahat makan siang berbunyi. "Kau terlihat tidak fokus," tambahnya membuat Sai menjadi Shikamaru dan Sasuke menoleh ke arah meja Sai.

"Aku hanya sedikit heran karena Naruto belum menunjukkan batang hidungnya hari ini," jawab Sai. Pemuda itu kembali menyapu seisi ruangan kelasnya yang hampir kosong. "Biasanya dia sudah datang sejak satu jam lalu, melayang-layang di udara dan terus mengoceh hingga nyaris membuatku mati berdiri," tambahnya suram.

Neji tersenyum tipis. "Seharusnya kau merasa senang karena siang ini Naruto tidak mengganggumu. Bukan begitu?"

Sai mengernyit, terlihat ragu. "Entahlah," ujarnya sembari mengendikkan bahu. "Entah kenapa aku malah merasa tidak tenang," akunya jujur. "Aku sangat yakin jika Naruto tengah merencanakan sesuatu untuk membuatku ketakutan setengah mati," keluhnya dengan desahan napas berat. Sai menatap Sasuke ragu. "Atau, jangan-jangan kalian sedang bertengkar?"

Ruangan itu hening untuk beberapa saat hingga akhirnya Sai berdeham, dan kembali bicara dengan nada setengah gugup. "Aku hanya menebak-nebak saja," ujarnya cepat. "Jadi, kalian bertengkar tidak?"

"Bagaimana bisa kami bertengkar jika aku sama sekali tidak bisa melihatnya," sahut Sasuke datar.

Sai menepuk dahinya pelan. "Ah, aku juga mengatakan hal itu pada diriku sendiri tadi. Kalian tidak mungkin bertengkar karena kau tidak bisa melihatnya."

Shikamaru mendengus lalu menepuk bahu Sai. "Kau terlalu banyak berpikir, Sai. Kurasa Naruto tengah mengikuti Paman Kakashi saat ini," ucapnya membuat Sai kembali berpikir serius. "Naruto roh sibuk," lanjut Shikamaru dengan kekehan pelan. "Aku bahkan tidak akan terkejut jika saat ini Naruto tengah menguntit artis-artis pria favoritnya. Mengintip mereka berganti pakaian misalnya?"

Neji melirik ke arah Sasuke.

"Apa?" tanya Sasuke tanpa ekspresi.

"Apa kau tidak merasa terganggu?" goda Neji. "Apa yang dikatakan Shikamaru terdengar masuk akal," guraunya. "Bisa saja saat ini Naruto tengah sibuk menguntit artis-artis pria favoritnya."

Sasuke menguap, terlihat bosan. Pemuda itu berdiri dan menjawab dengan ekspresi datar yang sama. "Yang kita bicarakan saat ini adalah Naruto. Seorang gadis remaja yang akan menjerit histeris hanya karena melihat seorang pria bertelanjang dada." Sasuke menggelengkan kepala. "Dia tidak akan memiliki keberanian untuk melakukannya," tambahnya dengan keyakinan penuh.

.

.

.

Kushina menggelengkan kepala pelan, lalu menyereput teh hangatnya pelan, sementara manik matanya menatap lurus layar datar televisi yang tengah menayangkan berita politik paling panas satu minggu ini.

"Kenapa Ibu menonton acara tidak bermutu seperti itu?" Kyuubi bertanya sembari menghempaskan tubuh rampingnya ke sofa nyaman berwarna coklat di samping Kushina. Putri sulung keluarga Namikaze itu mendelik, mencebik dan menyerapah pelan saat melihat sosok politikus yang kini menjadi orang paling dibencinya di dunia.

Kushina mengangkat bahu dan menjawab tenang, "Ibu hanya ingin tahu hingga sejauh mana dia akan memfitnah ayahmu."

Wajah Kyuubi menggelap, keningnya ditekuk dalam.

Kushina menghela napas. "Ibu hanya bisa berdoa, semoga masyarakat tidak terpancing mulut sampahnya itu."

"Tapi dengan pemberitaannya tidak berimbang, Bu," timpal Kyuubi geram. "Posisi ayah semakin tersudut," keluhnya dengan kedua tangan terkepal. "Aku juga heran kenapa ayah tidak mengklarifikasi masalah ini? Ayah seharusnya membela diri. Apa yang dikatakan bajingan itu sebuah kebohongan besar yang menjijikkan," ujarnya berapi-api.

Kushina membuang pandangan, menatap jauh keluar jendela Prancis besar yang menampilkan pemandangan taman samping rumahnya. "Ayahmu sudah tidak memikirkan nama baiknya, Kyuu." Ia terdiam sejenak. "Sekarang ini yang menjadi prioritas ayahmu adalah kesembuhan Naruto dan kebahagiaan kalian, kedua putrinya. Itu saja."

Kyuubi memandang kosong layar datar televisi dan sedikit menghela napas. Dia masih tidak mengerti kenapa hanya demi sebuah jabatan seseorang bisa begitu tega memfitnah orang lain? Ia tahu jika ayahnya bukan ayah yang sempurna. Ayahnya memiliki banyak kekurangan, bahkan memiliki kesalahan yang terkadang membuat Kyuubi merasa kesal juga. Namun mengorbankan nyawa orang lain dan nyawa putri kandungnya sendiri untuk kepentingannya bukanlah sikap ayahnya.

Ayahnya bukan monster yang tega mengorbankan putrinya sendiri.

Kyuubi kembali menghela napas, sekilas melirik ke arah ibunya lalu mengulum senyum muram. "Lalu apa yang harus kita lakukan, Bu?" tanyanya parau, terlihat masih tidak rela karena nama baik ayahnya dicemarkan oleh orang yang tidak bertanggung jawab.

Kushina terdiam, tidak langsung menjawab. "Tidak perlu melakukan apa pun." Wanita itu meletakkan cangkir tehnya ke atas meja kopi. "Terkadang kita perlu menutup mata dan menulikan telinga, Kyuubi. Jangan menanggapinya, biarkan waktu yang membuktikan jika ayahmu tidak bersalah."

Menyerahkannya pada waktu? Cibir Kyuubi di dalam hati. Tapi sampai kapan? Kyuubi mendesah. "Ibu benar-benar tidak marah?" tanyanya kemudian, masih penasaran. "Bagaimana pun nama baik ibu yang tengah dicemarkan oleh bajingan itu," tambahnya dengan ekspresi serius.

"Marah?" beo Kushina pelan. "Tentu saja ibu merasa marah," tambahnya masih dengan nada tenang yang sama. "Ibu ingin meninju wajah menyebalkannya, bahkan ibu ingin sekali memotong lidah lancangnya itu."

Kyuubi menelan kering, terbelalak. "Ibu pasti bercanda?"

Kushina menggelengkan kepala pelan. "Ibu benar-benar ingin melakukannya." Ia mengangkat bahu. "Hanya saja ibu terus diingatkan jika dia terlalu rendah untuk mendapat perhatian sebesar itu dari ibu," tambahnya membuat Kyuubi merinding ngeri.

Ah, sekarang Kyuubi tahu, darimana sifat barbarnya berasal.

.

.

.

Mei menatap Kakashi dengan terheran-heran. Tidak biasanya mantan kekasihnya itu tidak fokus saat bekerja. Wanita itu tidak membuka mulut, dan memilih untuk mengamati Kakashi dari balik kacamata bacanya.

Di seberang mejanya, Kakashi masih memasang wajah tidak bersahabat. Pemberitaan buruk mengenai Minato membuatnya kesal setengah mati. Jika bukan atas permintaan Minato, ia pasti sudah mengadakan konferensi pers untuk menyangkal semua tuduhan demi tuduhan keji yang dituduhkan oleh pesaing politik Minato pada kakak angkatnya itu.

Kakashi pura-pura membaca dokumen di tangannya. Sialan! Makinya di dalam hati, tanpa menyadari jika Mei mengamatinya dengan seksama sedari tadi.

"Apa kau baik-baik saja?" tanya Mei kemudian, buka suara.

Kakashi mendongak, menatap Mei dengan ekspresi serius, namun tidak menjawab.

Mei berdeham pelan, menyandarkan punggungnya ke punggung kursi. "Kau terlihat tidak fokus," ujarnya. "Kita bisa membahas temuanku mengenai bisnis gelap Misumi besok," tambahnya dengan suara tenang dipaksakan.

"Tidak perlu," sahut Kakashi cepat. Pria itu kembali berusaha untuk fokus membaca dokumen yang diberikan oleh Mei padanya. "Semakin cepat kita menyelesaikan kasus ini akan semakin baik," lanjut Kakashi. Kedua bahunya terlihat tegang. "Aku sangat yakin jika Misumi-lah dalang dibalik usaha pembunuhan kakakku. Misumi menggelapkan pajak. Dia berusaha menyuap kakkku. Dia bahkan bersedia mendanai semua biaya kampanye jika kakakku bersedia untuk tutup mulut dan berhenti mengganggunya."

Mei menghela napas panjang, menundukkan kepala dan tersenyum tipis saat perasaan itu kembali hadir di dalam hatinya. Perasaan cemburu. Selama mereka menjadi pasangan kekasih, Kakashi selalu saja memikirkan keluarganya, sementara Mei? Entahlah, Mei selalu merasa jika Kakashi menomorduakannya. Semua yang dilakukan pria itu hanya demi keluarganya. Kakashi bahkan seringkali tidak memperdulikan dirinya sendiri demi keluarganya. Sebuah loyalitas yang hingga saat ini tidak bisa dipahami oleh Mei. "Jangan memaksakan diri," kata Mei kemudian, mencoba untuk mengerti. "Kita masih memiliki banyak waktu," ucapnya berusaha untuk menghibur.

"Kita tidak memiliki banyak waktu!" bentak Kakashi kasar mengejutkan Mei. Ruang rapat itu mendadak hening. Mei tidak bisa berkata-kata, mulutnya seolah terkunci. Dia sama sekali tidak menyangka jika Kakashi bisa membentaknya seperti itu, bagaimanapun Kakashi bukanlah tipe pria yang bisa bersikap sekasar itu pada seorang wanita. "Maaf!" ujar Kakashi kemudian, setengah berbisik. Ia meletakkan dokumen di tangannya ke atas meja. "Aku terbawa emosi," tambahnya parau.

Mei mengangguk pelan, mencoba untuk memahami kondisi emosi Kakashi yang tidak stabil saat ini. Masalah Minato pasti membuat pria itu stres, pikir Mei muram. Belum lagi masalah keponakan Kakashi yang hingga saat ini masih koma, lalu goncangan politik atas Minato. Tuduhan keji dari lawan politik terus dituduhkan kepada Minato tanpa ampun belakangan ini. Semua ini karena keluarganya? Mei kembali tersenyum muram.

Wanita itu bukanlah tipe penghibur yang baik. Dia tidak bisa menghibur dengan kalimat-kalimat basi untuk membuat lawan bicaranya senang, karenanya Mei memutuskan untuk menunggu hingga Kakashi merasa lebih tenang.

Kakashi mengusap wajahnya kasar, menyerah. "Kau benar, mungkin sebaiknya kita membahas masalah ini besok," ujarnya kemudian, terdengar lelah. "Aku akan mempelajari hasil temuanmu ini di rumah. Boleh aku membawa dokumen ini pulang?"

Mei mengangguk. "Aku menyimpan dokumen aslinya di ruang kerjaku, jadi kau boleh menyimpan salinannya," jawabnya tenang.

Kakashi terdiam lama, terlihat berpikir dalam.

"Maaf, aku benar-benar tidak bermaksud membentakmu," katanya dengan sorot meminta maaf. Mei tidak menjawab. "Kondisi Naruto yang tidak kunjung membaik membuatku gelisah." Kakashi menghela napas. "Belum lagi serangan si brengsek itu terhadap kakakku. Perilakunya mmebuatku sangat marah," akunya geram.

Sudah berapa hari kau tidak tidur?" tanya Mei sementara pandangannya terarah lurus pada wajah Kakashi. Oh Tuhan, kenapa dia baru sadar jika penampilan Kakashi terlihat sangat kacau? Pria itu terlihat lebih kurus daripada terakhir mereka bertemu.

Kakashi tersentak, terlihat terkejut mendapat pertanyaan yang sama sekali tidak diduganya, "Apa?"

Mei mendesah keras. "Sudah berapa hari kau tidak tidur, Kakashi?" ulangnya tidak sabar. "Lingkaran di bawah matamu berwarna hitam, kantung matamu juga sangat tebal, aku yakin kau tidak tidur selama beberapa hari," tebaknya tepat. "Kau terlihat sangat lelah."

Kakashi berdeham, tidak langsung menjawab. Dia tidak tahu harus merasa senang karena Mei memperhatikannya atau mengumpat karena jika Mei saja bisa melihat kelelahannya, maka keluarganya pun pasti bisa melihat hal yang sama. "Aku tidak bisa tidur," jawab Kakashi. "Bagaimana aku bisa tidur dengan tenang jika masalah yang menimpa keluargaku terus menerus datang tanpa henti?"

"Jika kau tidak bisa menjaga dirimu sendiri, lalu bagaimana kau bisa menjaga keluargamu?"

Hening.

"Kau harus kuat, Kakashi. Bukankah keluargamu bergantung padamu saat ini?"

Ruangan itu kembali hening untuk beberapa saat.

"Keluargamu pasti akan sangat cemas jika melihat kondisimu yang seperti ini. Iya, kan?"

Kakashi tertawa pahit. "Benar. Terlebih keponakan bungsuku. Ia pasti mengomeliku seharian penuh jika melihatku seperti ini," ujarnya membuat Mei mengernyit bingung. Kakashi mendongak, menatap lurus ke arah Mei. "Keponakanku itu sangat baik. Dia mencemaskan semua orang namun seringkali melupakan keadaannya sendiri."

Seperti dirimu, ucap Mei di dalam hati.

Kakashi melepas napas yang sedari tadi ditahannya sementara tatapannya menerawang, terlihat rindu. "Dia mengomeliku saat tahu aku bekerja hingga larut malam, dan pasti bisa kau bayangkan bagaimana reaksinya jika tahu aku tidak tidur selama beberapa hari?"

"Aku pasti mengatakan tentang ini padanya saat dia bangun nanti," ujar Mei dengan senyum dan semangat yang menular dengan cepat. "Semua masalah ini pasti akan segera berlalu dan keponakanmu itu pasti segera bangun dari komanya, Kakashi. Kau hanya perlu yakin."

Kakashi mengangguk. "Aku tahu," jawabnya setengah berbisik. "Dan aku juga memiliki keyakinan besar jika Naruto tidak akan mungkin tega meninggalkan kami secepat ini," tambahnya parau.

.

.

.

Sebelum melakukan perjalan menuju kediaman Tsuruga Misumi, Naruto berhenti sejenak di ruang tempatnya dirawat bersama dengan Minato. Ia berdiri di sana dengan kedua bahu yang terlihat tegang. Naruto tidak tahu apa rencananya ini akan berhasik atau tidak, terlebih Kimimar sama sekali tidak mau menjawab pertanyaannya dan malah berusaha untuk menghentikan rencananya saat ia menceritakan rencananya pada pria itu.

Naruto tidak peduli jika Kimimaro menganggap rencananya gila. Pria itu bahkan mengatakan jika rencana yang disusun oleh Naruto tidak mungkin berhasil.

Kita tidak akan tahu jika tidak mencobanya. Iya, kan? Ia bertanya pada dirinya sendiri.

Masih terlalu lemah? Beo Naruto di dalam hati, meniru ucapan Kimimaro sebelumnya.

Persetan! Pikirnya. Dia harus tetap melakukannya demi menegakkan keadilan.

"Sudah kubilang, jangan gegabah, Naruto!" Kimimaro berteriak dari belakang punggung remaja wanita itu.

Naruto bergeming, menulikan telinga dan terus melayang berusaha untuk keluar dari dalam gedung rumah sakit ini secepatnya. Kimimaro tidak akan bisa mengejarnya jika sudah ia berada di luar gedung rumah sakit, karena itu ia harus berhasil keluar dari dalam sana sebelum Kimimaro berhasil mengejarnya.

"Kau belum cukup kuat untuk merasuki tubuh manusia!" Kimimaro kembali berteriak lantang, memperingatkan. "Kekuatanmu akan melemah jika kau memaksakan diri!" tambahanya kini dengan ekspresi cemas dan kalut. Kimimaro mengumpat marah saat tubuh Naruto melewati tembok terakhir sementara dirinya terperangkap, sama sekali tidak bisa menembus tembok sialan yang menjadi penghalangnya keluar dari gedung rumah sakit itu selama ini.

"Rohmu bisa hancur, Naruto," gumam Kimimaro lemah. "Kau bisa hancur," beonya muram.

.

.

.

Naruto terlihat sangat tegang. Saat ini ia berada di dalam ruangan kerja Tsurugu Misumi. Roh remaja wanita itu bergeming, sama sekali tidak menyangka jika ia akan melihat seseorang yang belakangan ini sering dilihatnya di layar televisi—Daimyou.

"Kau sangat licin," puji Daimyou dengan mimik puas. "Dengan rencanamu semua yang kuinginkan perlahan kudapatkan," tambahnya dengan seringai jahat, sementara Misumi menyesap anggur merah mahalnya nikmat. Daimyou menghisap cerutu Kuba-nya, lalu mengepulkan asapnya perlahan. "Walau tidak mati, tapi aku sangat yakin jika karir politik Namikaze Minato akan segera hancur," ucapnya dengan kekehan puas.

Misumi terbahak. "Kau tidak perlu khawatir, aku sudah membayar banyak orang untuk menghasut masyarakat." Ia terdiam sejenak. "Aku mungkin gagal membunuhnya, namun aku bisa menjanjikan jika karir politiknya akan benar-benar mati."

"Kecelakaan yang menimpa putri bungsunya sangat menguntungkan kita, bukan begitu?"

Misumi mengangguk, setuju. "Akan lebih menyenangkan jika putri bungsu Namikaze itu mati. Dengan begitu kita bisa menghasut masyarakat untuk membenci Namikaze Minato." Misumi terdiam sejenak untuk berpikir. Ia melirik ke arah Daimyou dan berkata dengan ekspresi serius. "Kita bisa menjatuhkan namanya, dan menuduhnya membunuh putri kandungnya sendiri demi keuntungannya. Bagaimana menurutmu?"

Daimyou mengernyit. "Bukankah aku sudah menyerangnya dengan alasan itu? Aku menuduhnya menggunakan kecelakaan putrinya untuk mengambil simpati masyarakat. Popularitasku naik setelah isu tidak menyedapkan itu menimpa Minato." Ia kembali tertawa puas. "Walau pendukung setianya masih ada, tapi tidak sedikit pendukungnya yang beralih padaku."

Misumi menganggukkan kepala, lalu mencondongkan tubuhnya ke depan. "Serupa, tapi tidak sama. Jika putrinya mati, aku yakin jiwa Namikaze Minato akan terguncang hebat. Di sisi lain, kau bisa terus menyerangnya dengan alasan kematian putrinya. Kita akan terus menyerangnya hingga ia terpuruk dan menyerah, hingga pada akhirnya dikucilkan. Popularitasmu akan meroket dan kau bisa mengamankan kursimu di parlemen."

Daimyou terlihat senang, sebelum akhirnya perlahan keningnya ditekuk dalam saat teringat sesuatu. "Bukankah putrinya dirawat di dalam ruangan yang sama dengan Minato? Bagaimana cara kita mencelakainya?"

Misumi mengangguk pelan.

"Dengan cara apa kita akan membunuhnya?"

Misumi tersenyum jahat. "Kau tidak perlu memikirkannya karena aku sudah memiliki rencana," tukasnya membuat Naruto yang mendengarkan semua itu terbelalak ngeri. "Yang perlu kau pikirkan ke depannya adalah—keamanan bisnisku."

Daimyou mengangguk setuju. Keduanya bersulang, menikmati anggur mahal mereka tanpa menyadari jika ada seseorang yang mengetahui rencana jahat keduanya saat ini.

Oh Tuhan, kenapa ada orang sejahat mereka? Tanyanya di dalam hati. Apa dunia politik memang sangat kejam? Kenapa orang-orang begitu bernafsu untuk berkuasa? Kenapa? Jeritnya di dalam hati, tidak mengerti.

"Kepada siapa aku harus mengatakan perihal ini?" Naruto berkata lirih. "Aku tidak mungkin mengatakannya pada Paman Kakashi lewat perantara Sai," gumamnya cemas. "Aku tidak bisa menjamin jika Sai akan menutup mulut mengenai hal ini. Akan ada banyak orang yang terancam jika rencana ini diketahui."

Naruto menggigit bibir bawahnya.

Tidak boleh ditunda lagi. Aku tidak boleh melibatkan orang lain dalam hal ini. Tidak boleh membuang-buang waktu, pikir Naruto. Aku harus mencari bukti-bukti jika Misumi menggelapkan pajak perusahaan dan terlibat dalam usaha pembunuhan ayahku. Secepatnya. Ya, secepatnya.

"Dokumen-dokumen rahasia perusahaan seharusnya di simpan di tempat ini, bukan?" gumamnya pelan, nyaris tak terdengar bahkan oleh telinganya sendiri. Ia melempar tatapannya ke seluruh penjuru ruangan. Berusaha mencari tempat yang mungkin menjadi tempat penyimpanan dokumen-dokumen rahasia itu. "Aku harus berhasil menemukannya sebelum mereka menjalankan rencananya untuk melenyapkanku."

Naruto terdiam sejenak, kedua tangannya terkepal erat.

"Aku harus berhasil menemukannya sebelum waktuku habis," tambahnya getir.

.

.

.

TBC

Aloha… maafkan untuk keterlambatan updatenya, dan juga typo(s) yang pasti merajalela. #Nangis

Well, penjahat yang mencelakai Minato sudah muncul yah. Tinggal nunggu waktu untuk ditangkap saja? Hahaha! Btw, kira-kira rencana Naruto berhasil nggak ya? Atau malah rencana Misumi duluan yang berhasil? Hm… tunggu jawabannya di chap selanjutnya ya. (:

Semoga terhibur dengan updatean terbaru chap ini, dan sampai jumpa dichap selanjutnya! ^^

#WeDoCareAboutSFN