CHAPTER 11
"Bagaimana? Sudah selesai, hyung?" tanya Hongbin yang baru pulang dari kencannya bersama Ravi pada Ken yang tengah memandangi buku gambarnya di atas tempat tidur.
Ken menggeleng lemah tanpa mengalihkan padangannya dari kertas putih tersebut.
"Tidak jadi dibantu Leo hyung?"
Ken kembali menggeleng.
"Kenapa?"
"Berbicara padaku saja dia tidak mau, mana mungkin aku memintanya membatu mengerjakan tugasku," jawab Ken lemah.
"Bagaimana kalau meminta bantuan Changmin hyung saja?" usul Hongbin.
Ken mendongak, menatap dongsaengnya yang kini sedang mengutak-atik smartphonenya. "Changmin hyung?"
"Hu-um, Changmin hyung temanku, yang pernah beberapa kali kesini dulu, dia kan alumni sekolah kita juga, jadi mungkin dia bisa membantu."
"Tapi ini harus dikumpulkan besok pagi, Binnie."
"Bagaimana kalau kita kesana sekarang?"
"Sekarang?"
"Ne, sekarang." Hongbin mengangguk pasti.
.
.
.
Sekitar tiga puluh menit kemudian Ken dan Hongbin tiba di depan sebuah rumah yang cukup besar.
"Ini rumahnya?" tanya Ken.
Hongbin mengangguk, kemudian mengulurkan tangannya untuk memencet sebuah bel yang terletak di bawah kotak pos.
Tak berapa lama kemudian seorang namja yang tingkat kecantikannya melebihi yeoja manapun keluar dari dalam rumah dan mendekati KenBin yang masih setia berdiri di depan pagar.
"Ahjumma, masih ingat dengan saya? Lee Hongbin, temannya Changmin hyung," kata Hongbin begitu namja cantik itu membukakan pintu gerbang untuk mereka.
"Ne, ahjumma ingat. Kau kesini untuk mencari Changmin kah?"
"Ne, apa saya bisa bertemu dengan Changmin?"
"Changmin sedang pergi dengan appa-nya, tapi sepertinya tidak lama kok, bagaimana kalau kalian menunggu di dalam saja?"
Namja cantik yang merupakan eomma dari Changmin tersebut mempersilahkan KenBin masuk dan menunggu di ruang tamu.
"Mian, saya tinggal sebentar ya, kalian tunggu saja disini pasti tidak lama lagi Changmin pulang," ucapnya sebelum meninggalkan KenBin berdua di ruang tamu yang cukup mewah tersebut.
Setelah hampir setengah jam KenBin menunggu dalam diam akhirnya mereka mendegar suara pintu gerbang terbuka dan sebuah mobil berwarna hitam masuk dan berhenti carport. Dua orang namja keluar dari dalam mobil tersebut dan KenBin mengira kedua orang namja itu adalah Changmin dan Yunho – appa-nya.
"Aigoo, kita harus cepat keluar dari sini," ucap Hongbin panik ketika melihat wajah kedua orang namja itu, mereka bukan Changmin dan Yunho.
"Keluar? Kenapa? Kita kan belum bertemu dengan Changmin hyung."
"Tapi kita harus cepat." Hongbin menarik pergelangan tangan hyungnya dan berlari masuk ke dalam rumah sebelum kedua orang namja itu tiba di ruang tamu dan mendapati mereka berada disitu. Ken hanya mengikuti arah kemana Hongbin pergi dan kini mereka berakhir di bawah meja dapur.
.
.
.
Keesokan harinya…
Begitu sampai di sekolah Hongbin langsung berlari menghampiri kekasihnya yang tengah sibuk dengan sebuah buku berisi kumpulan rumus-rumus kimia di hadapannya.
"Ravi… Ravi…," panggil Hongbin sambil meletakkan ranselnya di atas meja dan duduk di samping Ravi.
Ravi menutup bukunya dan memandang wajah cantik namjachingunya. "Kau melupakan sesuatu, Binnie…"
Hongbin mengernyitkan dahinya bingung namun sedetik kemudian ia teringat akan sesuatu.
CUP!
Dengan kilat diciumnya pipi kiri Ravi dan langsung membalikkan tubuhnya membelakangi Ravi agar namjachingunya tersebut tidak melihat pipinya yang merona merah seperti tomat.
"Hehehe… Aku kira kau melupkannya," ucap Ravi sambil mengacak surai hitam Hongbin.
Setelah yakin wajahnya sudah tidak merona merah lagi Hongbin membalikkan tubuhnya menghadap ke Ravi. "Oh ya, Ravi, semalam aku dan Ken hyung sudah ke rumah Changmin hyung," ucapnya setengah berbisik agar murid-murid yang lain tidak mendengarnya.
"Lalu bagaimana? Berhasil?" tanya Ravi antusias.
Hongbin menggelengkan kepalanya. "Sama sekali tidak, bahkan kami tidak bertemu dengan Changmin hyung. Tapi ada yang lebih penting dari itu."
Ravi mengubah posisi duduknya, kini ia duduk menyamping agar dapat memandang wajah Hongbin dengan lebih jelas.
"Ternyata appa-nya Changmin hyung, Jung Yunho itu kakak kandungnya Jung Daehyun – appanya Leo hyung. Jadi, Changmin hyung dan Leo hyung itu saudara sepupu."
"Lalu?"
"Karena saat menunggu Changmin hyung pulang kami melihat Jung Daehyun dan eommanya Leo hyung datang maka kami bersembunyi di bawah meja dapur yang letaknya tidak terlalu jauh dari ruang keluarga tempat kedua orang tua Leo hyung dan kedua orang tua Changmin berbicara."
Ravi mengangguk tanda ia mengerti apa yang dibicarakan namjachingunya.
"Lalu kami mendengar rencana kedua orang tua Leo hyung yang akan menjodohkan Leo hyung dengan anak dari sahabat Jaejoong, mereka akan menikahkan Leo hyung dengan yeoja itu tepat satu hari setelah hari kelulusan Leo hyung, dan mereka tidak akan memberi tahu Leo hyung sampai pada harinya, satu hari sebelumnya – tepatnya pada hari kelulusan Leo hyung – mereka akan menculiknya dan menikahkannya secara paksa dengan yeoja itu," cerita Hongbin.
"Yeoja? Siapa yeoja itu?"
"Kalau aku tidak salah dengar namanya Park Bom, anak dari Park Yoochun dan Kim Junsu, sahabat Jaejoong."
"Ah! Aku tau! Yeoja yang mirip boneka barbie itu."
"Jadi kau kenal dengannya?"
"Ani, aku tidak kenal dengannya, hanya saja aku tau orangnya dan aku yakin Leo hyung akan lebih memilih N eomma."
Hongbin mengangguk. "Lalu bagaimana? Apa kita harus memberi tahu eomma dan Leo hyung?" Hongbin meminta pendapat sang namjachingu yang memang sudah sangat dekat dengan hyung dan eommanya tersebut.
"Tentu saja, kita harus memberi tahu mereka sebelum semuanya terlambat."
.
.
.
Sepulang sekolah Ken, Hongbin, dan Ravi langsung menuju ke apartemen Neo untuk menceritakan semua yang KenBin dengar semalam di rumah Changmin.
"Jadi menurutku, lebih baik pernikahan eomma dengan Leo hyung dipercepat saja," usul Hongbin.
"Aku setuju dengan Binnie, eomma, dipercepat saja," Ravi menyetujui usul Hongbin.
"Ne, aku juga eomma," Ken juga menyetujuinya.
"Tapi kita harus membicarakannya dengan Leo dan Bi juga," jawab N.
"Sekarang dimana Leo hyung?" tanya Ken sambil celingukan mencari sosok calon appa-nya.
"Ne, dari tadi Leo hyung tidak kelihatan batang hidungnya," tambah Ravi.
"Tadi dia bilang mau bertemu dengan Bi sebentar, oh ya, aku telepon saja." N meraih smartphonenya yang tergeletak di atas meja dan menyentuh layarnya beberapa kali, mencoba menghubungi calon suaminya.
"Yeoboseyo," sapanya lembut.
"….."
"Kau masih bersama Bi?"
"….."
"Aku sedang bersama Ken, Hongbin, dan Ravi. Kalian dimana?"
"….."
"Ne, aku kesana sekarang."
"…"N tersenyum sendiri mendengar ucapan Leo dari seberang sana.
"Nado saranghae, Leo-ya…"
"Leo masih bersama Bi dan dia minta aku untuk langsung ke rumah sakit," ucap N setelah memutuskan sambungan teleponnya.
"Rumah sakit?" Ravi mengernyitkan dahinya bingung.
"Siapa yang sakit?" tanya Ken.
"Ani, eomma dan Leo akan ke rumah sakit untuk check up," jawab N sambil memasukkan smartphonenya ke dalam saku.
"Oooo…. Kirain ada yang sakit. Ya sudah, kami antar eomma ne, sekalian kami butuh berdiskusi dengan Bi hyung," ucap Ravi.
"Araseo. Kalau begitu kita berangkat sekarang, kaja."
.
.
.
Ravi, Hongbin, Ken, dan Bi berrunding di café yang terletak di samping rumah sakit sambil meunggu N dan Leo check up kandungan.
"Jadi hyung sudah tau semuanya? Kenapa tidak memberi tahu kami?"
"Bukan begitu, Ravi-ya, aku juga baru dengar kemarin sore dan aku membicarakannya dengan Leo pagi ini," jawab Bi sambil mengaduk-aduk jus strawberry di hadapannya. "Sama seperti kalian, Leo juga ingin mempercepat pernikahannya, tapi kita kan harus membicarakannya dengan Hakyeon juga. Oh ya, bagaimana dengan haelmoni dan haraboji kalian?"
"Aku rasa eomma setuju. Masalah haelmoni dan haraboji, eomma bilang ia akan berbicara sendiri dengan mereka," ucap Hongbin yakin.
"Baguslah kalau begitu, berarti kita hanya tinggal mengatur tanggalnya saja. Itu mereka sudah keluar, lebih baik kita lanjutkan ini di apartemen saja." Bi menunjuk ke arah N dan Leo yang tengah berjalan ke arah mereka.
TBC
.
Aish… Aku rasa ini cerita semakin gaje & ruwet deh… Tapi aku usahain enggak lama lagi tamat kok…
