Title: IT's Not a Reason|Meanie story|MPreg
Cast:
Kim minggyu
Wonwoo
All of member Seventeen
And others
Genre: Romance,Family,little angst
WARNING! MPREG!NC! TYPO BERSERAKAN! EYD KACAU!
BACA DULU!READ IT First!
!(adegan NC akan diletakkan disembarang chapter sesuai mood author)
!(please,be smart reader! If you didn't ever accept mpreg or dont like fanfiction w/ mpreg in story, please go away! Get out from my fantasy! Dont bash! I said for ONCE MOR TIME!PLEASE BE SMART READER)
!(no plagiat! Ini murni hasil pemikiran saya, ketika lagi badmood)
!(dalam fanfict ini saya tidak berusaha untuk mengikuti yang asli, melainkan saya meminjam alur kehidupan member Seventeen yang asli, yang tampak didepan publik. Guna menyambungkan satu-satu fantasy saya. Karena sungguh banyak fantasy saya terhadap Meanie saat mereka dibelakang kamera. So, i try to make story based on their life. Bisa kalian lihat didalam nanti)
!(Read and Review, i'll stop this story if yout dont leave review, thanks... sorry for being rude, i ask like that because your reviews are my spirit and motivation to update soon as possible)
!(cerita ini hanyalah fiktif, namanya juga fanfiction. Jadi kalau ada kesamaan nama,latar belakang, alur yang menyinggung readers, saya minta maaf. Sekali lagi! FF ini murni hasil khayalan saya kalau lagi badmood dan ketika tiap kali saya melihat video mereka. mungkin akan terlihat saya membuat cerita dibelakang kamera. Ya itu benar! Oleh karena itu saya meminjam alur Seventeen)
Synopsis:
"aku sungguh tidak bermaksud melakukan ini kepadamu"
Pemuda pemilik fox eye itu tak merespon apapun yang ia dengar. Pikirannya kini lumpuh. Sedikitpun ia tak pernah membayangkan hal seperti ini menimpa dirinya.
"hyung,maafkan aku"
Lalu pemuda tersebut beranjak dan meninggalkan pemuda yang kini sedang merasa bersalah. Pemuda tersebut melempar apa yang ada dihadapannya kedepan hingga membentur dinding,ia mengacak-acak rambutnya. Untung saja yang dilemparnya bukan barang-barang yang terbuat dari kaca, sehingga tidak membuatnya repot untuk merapikan ruangan itu nanti.
"ku pikir kau sudah cukup dewasa untuk berpikir mana yang terbaikkan, nak Wonwoo",Pemuda tersebut pasrah dengan apa yang menimpanya. Ia siap untuk mengorbankan apapun demi sesorang yang amat teramat berharga dalam hidupnya.
"sampai semua kembali normal, kau bisa kembali ke Seventeen"
"aku mengerti sajang-nim", dengan senyum mengembang dipipinnya, ingatkan dia bahwa ia sedang tersenyum palsu saat ini.
"dibalik kehilangan, pasti ada sesuatu yang akan menggantikan kehilangan tersebut" ujar pemuda itu menyemangati dirinya sendiri dalam menghadapi semua cobaan yang menampar keras dirinya.
CHAPTER 12""
.
.
.
"ne yeoboseyo daepyo-nim?", Wonwoo mengusap wajahnya dengan kasar. Ia tahu sekali, mengapa tiba-tiba Ceo dari Pledis itu menghubunginya. Jantung Wonwoo berdetak sangat cepat, ia gugup.
"jwiseonghamnida.. jeongmal jwiseonghamnida Daepyo-nim..." air mata kini menggenang di pelupuk mata Wonwoo. Setelah Wonwoo mengucapkan kata maaf, panggilan pun diputus dari seberang sana. Yang Wonwoo ketahui, sekarang ceo mereka sangat kecewa dengan pemberitaan yang ada. Bagaimana cara Wonwoo menemui Bos mereka, bagaimana cara ia menghadapi para member yang lain dan yang paling utama, bagaimana ia menghadapi Carat dan fans SNSD. Wonwoo sangat teramat malu dengan tindakan kekanak-kanakannya dulu. Andai saja ia tidak melakukan itu, pasti saat ini ia bisa bernafas dengan leluasa sekarang.
.
.
"loh? Kemana Wonwoo hyung?" tanya Mingyu kepada Hoshi setelah ia selesai membuatkan Pancake sesuai permintaan Wonwoo.
"dia di kamar, dia berpesam agar jangan ganggu dia untuk hari ini" Hoshi tidak bisa menatap mata Mingyu karena ia sendiri saat ini juga panik.
"mengapa tiba-tiba? Ada masalah apa hyung?" tanya Mingyu lagi. Hoshi tidak menjawab melainkan memberikan ponselnya yang berisikan artikel mengenai pemberitaan Wonwoo. Mingyu juga sama terkejutnya sama Wonwoo saat ia membaca artikel tersebut, ia sekarang tahu kenapa Wonwoo mengurung diri di kamar.
Mingyu berdiri di pintu kamar mereka, "sayang, keluar ku mohon" suara Mingyu memelas.
"Hyung, keluarlah "
Dua kali di panggil, Wonwoo juga tidak menyahut. Wonwoo jelas mendengar suara Mingyu dan benar Wonwoo butuh Mingyu saat ini. Tapi ia malu untuk membuka pintu dan menemui Mingyu, ia sangat ingin menjauh dari 12 member lainnya agar Seventeen tidak terkena getah dari tindakannya.
"apa yang telah kau lakukan!" Wonwoo membentak pantulan dirinya di kaca yang berdiri di sebelah lemari mereka.
"Mingyu... apa firasat ku benar..." Wonwoo tidak bisa membendung semua kesedihannya lagi, ia menangis. Wonwoo mengizinkan air mata mengalir bebas di pipinya. Wonwoo menjatuhkan diri di tempat tidurnya. Ia tidur dengan posisi menghadap ranjang milik Mingyu. ia meraih bantal guling Mingyu lalu Wonwoo menenggelamkan wajahnya diguling tersebut sambil terisak didalamnya.
.
.
.
.
"Soonyoung-ah" Scoups mengambil tempat di depan Hoshi. Ia khawatir dengan Wonwoo saat ia tidak sengaja mendengar beberapa remaja mengumpat kepada Wonwoo karena telah mengolo-olok idol mereka. Scoups dan Joshua saat itu berada di arah jalan pulang dari supermarket ke dorm.
"bagaimana keadaan Wonwoo?" Scoups langsung menanyai Hoshi. Hoshi menghela nafas, raut wajahnya menunjukkan kalau situasi saat ini sungguh tidak baik. Joshua mendekati Mingyu, ia menepuk pundak Mingyu. "bagaimana? Wonwoo masih tidak ingin keluar?" tanyanya. Mingyu mengangguk lemah.
"kau sudah tahu hyung?" tanya Hoshi pelan, nyaris seperti berbisik. Scoups mengangguk lemah dan mengusap wajahnya gusar.
"Dia berpesan untuk tidak menemuinya dulu hyung" Hoshi bersandar pada jendela di ruangan itu. Ia termenung melihat pemandangan diluar jendela.
"sebenarnya Wonwoo sudah pernah menceritakan hal ini. Ku rasa ia melakukan itu karena ia masih remaja labil. Ya kau tahu kan bagaimana sikap anak SMP" tutur Hoshi sambil mengamati orang-orang yang meramaikan jalan di lingkungan itu. "apa yang akan kita lakukan hyung?" Hoshi menghela nafas. Hoshi tidak ingin melihat Wonwoo seperti ini, sama halnya dengan Mingyu. Mingyu langsung menjawab pertanyaan Hoshi dengan percaya diri dan optimis.
"aku akan mencoba untuk membujuknya lagi"
"apa kau baru mengenal Wonwoo? kau tahu sendiri bagaimana sifat dia kan? Kalau ia bilang tidak ingin diganggu, artinya ia benar-benar ingin sendiri sampai ia merasa baikan" Scoups menanggapi perkataan Mingyu.
"Aku mengingatkanmu agar kau tidak kecewa saat Wonwoo tidak membuka pintu"
Meskipun Scoups sudah mengingatkan Mingyu, Mingyu tetap tidak bisa menahan emosinya. Ia mulai meninggikan suaranya hingga Scoups dan Hoshi terkejut "LALU APA YANG HARUS AKU LAKUKAN! BAGAIMANA BISA AKU MELIATNYA SEPERTI ITU HYUNG?!"
Baru saja dia dan Wonwoo bersama di sofa sambil menonton TV dan terlebih situasi mereka sangat-sangat baik. Tidak terpikirkan hal ini akan terjadi dan merusak semua mood mereka. "Wonwoo hyung tadi sudah memberitahuku kalau ia mendapatkan firasat yang tidak bagus.. dan.. dan aku tidak mengindahkan semua perkataannya" mata Mingyu memerah, panas dan sepertinya ia juga akan menangis.
"kalau aku mendengarkannya, tidak akan ku tinggalkan dia sendiri di sini... aku pasti akan tetap memeluknya" lanjut Mingyu menambahi.
Scoups dan Hoshi memaklumi sikap Mingyu saat ini. Disini sikap lain dari Mingyu yang sangat mencemaskan Wonwoo. "tenanglah Mingyu-ya" Scoups menepuk pundak Mingyu, berharap Mingyu bisa menahan emosinya. Suara Mingyu tadi sangat keras, bahkan Wonwoo mendengarnya dengan jelas dari dalam kamar. Wonwoo semakin terisak, ia tidak mengerti mengapa ia tidak dapat menahan airmatanya sampai terisak seperti anak gadis yang mengalami putus cinta.
Mingyu berjalan mendekati daun pintu kamar mereka. "Wonwoo hyung" ia memanggil nama Wonwoo untuk kesekian kalinya, berharap mendapat tanggapan dari Wonwoo. Mingyu mengetuk pintu sesekali. Namun tidak terdengar orang jalan mendekati pintu atau merespon panggilannya.
"Sayang..." Mingyu mencoba memanggil Wonwoo, tangannya masih mencoba mengetuk pintu kamar namun kini tangannya mulai bergetar karena menekan emosinya sendiri untuk tidak melampiaskan pada Pintu itu.
Hampir setengah jam Mingyu mencoba untuk mendapatkan respon dari Wonwoo, namun Wonwoo tetap bungkam. Mingyu tidak tahu apa yang dilakukan oleh Wonwoo didalam sana, yang ia tahu pasti adalah dirinya sangat mencemaskan kondisi Wonwoo saat ini. Ia memahami Wonwoo mengapa pria tidak merespon panggilannya. Wonwoo malu untuk berhadapan dengannya saat ini. Tapi bukan ini yang di inginkan Mingyu. Mingyu menerima apapun keadaan Wonwoo,oleh karena sikap Wonwoo seperti itu sedikit membuat Mingyu kecewa dengan sikap Wonwoo.
"JEON WONWOO! KU DOBRAK PINTU INI KALAU KAU TIDAK MEMBUKANYA!" akhirnya hilang sudah kesabaran Mingyu. Scoups dan Hoshi mendekati Mingyu, mereka berdua menarik Visual Seventeen tersebut mundur dan mencoba untuk menenangkan Mingyu.
"Tenanglah Mingyu" Scoups menuntun Mingyu untuk duduk di atas sofa.
Mingyu melepaskan diri dari kedua hyungnya itu dengan paksa.
"aku tidak bisa membiarkan dia seperti ini hyung... "
"aku tahu bodoh!" Hoshi memukul kepala Mingyu karena geram.
Mingyu kembali berjalan mendekati pintu tersebut dan duduk bersandar pada daun pintu. ia menyembunyikan wajahnya di sela-sela lututnya. Mingyu lagi mencerna situasi yang terjadi pada saat ini. Mengapa dengan tiba-tiba ada kabar berita buruk mengenai kekasihnya itu.
Tiba-tiba terdengar langkah kaki terburu-buru mendekati tiga orang diruangan itu.
"Hyung! aku sudah mengetahuinya!" Suara Seungkwan memecahkan keheningan diantara mereka bertiga.
"bagaimana keadaan Wonwoo ?" tanya jeonghan setelahnya. Tak lama kemudian semua member masuk dan ikut bergabung. Masih tidak ada yang berniat menjawab atau pun berbicara di antara Mingyu, Scoups dan Hoshi.
"YA! TIDAK BISA KALIAN MENGGUNAKAN MULUT UNTUK MENJAWAB PERTANYAANKU!" suara Jeonghan meninggi. Tidak ingin membuat member lain emosi seperti Jeonghan, Hoshi mencoba untuk menjelaskan kondisi Wonwoo saat ini.
Wajah mereka yang baru masuk menjadi ikut suram. "astaga! maneger hyung juga masih didalam ruangan pertemuan saat kami mau keluar dari sana" Vernon tidak bisa berkata banyak untuk menenangkan suasana suram di tengah-tegah mereka karena kejadian yang menimpa saudaranya itu. The8 sangat ingin menengakan hyung-hyung nya itu, tetapi apa daya, kemampuan bahasa koreanya tidak mendukung kosa kata yang ingin ia ucapkan. Jadi, The8 memilih untuk menjadi pendengar pasif.
Seungkwan sudah terisak sesaat ia membayangkan keadaan hyung kesayangannya didalam kamar. Pasti Wonwoo hyungnya sangat sedih, putus asa. Dan ia sendirian didalam kamar. Tidak ada yang dapat menenangkannya saat ini. Karena yang mengalami masalah adalah Wonwoo, sekeras apapun mereka mencoba menghibur Wonwoo tetap tidak akan berhasil kalau tidak dari Wonwoo sendiri yang berusaha mencoba untuk melupakan sejenak masalahnya.
"berhentilah menangis hyung, Wonwoo hyung pasti memiliki cara sendiri untuk menenengkan hatinya di dalam" Dino mengelus lengan Seungkwan.
"aku tidak tahu bagaimana kondisinya sekarang" Hoshi berbicara seperti ia ingin menangis. DK mendekati dirinya dan mengusap pundak Hoshi.
"Wonwoo hyung akan baik-baik saja" DK berbisik pada Hoshi guna menenangkan pikiran Hoshi.
Mingyu yang sedari tadi duduk bersandarkan pintu kamarnya mengingat sesuatu. Mingyu mengangkat kepalanya, menatap semua orang yang duduk berkumpul disana. Ia berdiri dari duduknya.
"hyung aku keluar sebentar"
"kau mau kemana?"tanya jun khawatir setelah melihat Mingyu terburu-buru ingin keluar.
"mencari udara segar" ucap Mingyu, membohongi mereka semua.
Mingyu memilih pergi ke atas gedung, ia mengeluarkan ponselnya dan langsung menelpon Eommanya.
"apa Eomma yang melakukan ini semua?" tanya Mingyu tepat sasaran saat panggilannya dijawab oleh Eommanya.
(apa kau pikir Eomma akan main-main Mingyu-ya?)
Mingyu mengepalkan tangan kanannya yang bebas. "Apa Eommaku adalah wanita yang tidak memiliki perasaan seperti ini?" suara Mingyu terdengar lembut namun kata-kata yang keluar sangat tajam. Hingga sang Eomma di sebrang sana sakit hati mendengar perkataan Mingyu. Ia menahan airmatanya, karena tidak ingin si anak mengetahui tindakannya setengah-setangah untuk menentang hubungan mereka.
(apa kau pernah sedikit saja memikirkan perasaaan orang tua mu?)
"Eomma aku mohon... jangan sakiti dia seperti ini Eomma, ini sama saja kau menyakiti anakmu sendiri" suara Mingyu bergetar, ia menangis. Mingyu mengeluarkan semua emosinya lewat air mata yang keluar membasahi pipinya.
(kau pikir kami tidak sakit saat melihat anak laki-laki satu-satunya mencintai seorang Namja?)
"sakiti aku saja Eomma" Mingyu semakin terisak. Suaranya menjadi serak karena menangis.
"aku sangat mencintainya"
(apa dengan menyakitimu akan membuatmu menjauhi Wonwoo? apa cukup untuk membuatmu menjauhi dia? Dan kau pikir kau tidak bisa hidup tanpanya? Lalu bagaimana jika kau diharuskan untuk memilih aku atau Wonwoo? apa kau bisa melihat aku mati saat kau memilih dia?)
"a-apa yang kau bicarakan Eomma" Mingyu mengacak-acak rambutnya frustasi. Bagaimana cara meluluhkan hati Eommanya?
(pilih Mingyu-ya... kau sendiri yang bilang kalau aku meninggalkan mu dulu sehingga kau menanggap kalau aku tidak menyayangimu... bukan kah lebih baik kalau aku mati saja dari pada melihat anak lelaki ku menerima hujatan dari masyarakat saat mengetahui kalau dia seorang gay...)
"ya tuhan! Eomma aku mohon... aku menyayangi mu. Eomma Jangan berbicara seperti itu. aku tidak bisa memilih kalian. Kalian sama berharganya dalam hidupku. Eomma aku mohon..."
(Eomma tidak sedang bermain... hari ini kau menerima kabar mengenai skandal Wonwoo. dan besok kau akan menerima kabar kematianku...)
"Andwae! Eomma jangan lakukan hal seperti itu!" Mingyu meninggikan suaranya. Ia sangat takut sang Eomma benar-benar merealisasikan perkataannya. Mingyu sangat menyayangi keluarganya. Tanpa sang Eomma ia tidak mungkin bisa bertemu Wonwoo. Tanpa sang Eomma bagaimana ia bisa mandiri sampai saat ini. Tanpa sang Eomma bagaimana ia bisa merasakan kasih sayang seorang ibu. Meskipun ia sempat kecewa karena ditinggal oleh orang tuanya, Mingyu juga merasa bersyukur. Setidaknya ia sekarang sudah kembali ke rumah dengan anggota keluarga yang lengkap.
(...)
Tidak ada suara di sebrang sana, Wanita itu tidak merespon.
"berjanjilah untuk tidak menyakiti dia lagi Eomma" dengan ragu Mingyu menyampaikan keputusan terberat dalam hidupnya. Hatinya sangat sakit dan Air mata terus mengalir.
(kau akan meninggalkan semua kenangan kalian dan menjauhinya?)
"n-ne"
Inilah pilihan terberat dalam Mingyu. ia tidak ingin Wonwoo mengalami masalah yang lebih berat dari ini karena dirinya. Dan ia juga takut kehilangan wanita yang paling ia sayangi dalam hidupnya.
"berjanjilah Eomma tidak akan menyakiti diri Eomma sendiri..."
.
.
.
Mingyu kembali ke dalam dan tidak mengatakan apapun kepada hyung-hyungnya tentang apa yang ia lakukan di luar tadi. Meskipun ada beberapa member yang bertanya apa yang terjadi terhadap Mingyu, Mingyu terlalu frustasi untuk menjawab pertanyaan mereka bahkan Mingyu tidak yakin dengan ucapannya di luar tadi. Ia belum siap untuk kehilangan Wonwoo. Ia tidak bisa melepas Wonwoo. Ia berkata seperti itu karena ia tidak bisa berpikir dengan jernih. Setidaknya untuk hari ini ia berhasil meyakinkan Eomma-nya kalau dia akan meninggalkan Wonwoo dan sang Eomma tidak melakukan hal nekat. Masalah ke esokan harinya akan ia pikirkan nanti. Sekarang yang ia prioritaskan adalah Wonwoo.
"hyung... makanlah sedikit" Seungkwan masih mencoba untuk membujuk Wonwoo. di belakang, Mingyu terus menatap Pintu kamarnya. Wonwoo tadi sempat keluar tetapi member lainnya tidak berani untuk bertanya kemana ia akan pergi. Wonwoo masuk ke dalam kamar pun tidak ada yang mencoba untuk menahan Wonwoo agar tidak mengurung diri lagi.
"hyung kau belum makan apapun kan dari tadi siang?" Seungkwan kembali terisak.
Tak tahan dengan sikap Wonwoo, Mingyu terpaksa merusak pintu dengan merusak knop pintu itu dengan beberapa kali ia dobrakan.
Pintunya terbuka!
Seungkwan dan Mingyu terkejut saat melihat keadaan Wonwoo. Tangis Seungkwan semakin menjadi saat matanya menangkap Wonwoo yang tergeletak di atas kasurnya. Sedangkan Mingyu dengan cepat mendekati Wonwoo.
Jeonghan dan yang lainnya berpikiran macam-macam saat mereka mendapati Seungkwan terduduk dilantai dan semakin menangis. Jeonghan menghampiri Seungkwan dan disusul oleh member yang lain. Mereka semua terkejut, sedangkan Mingyu menangis sambil memeluk Wonwoo .
"berhentilah membuatku cemas hyung" Mingyu mengeratkan pelukannya kepada Wonwoo yang sedang tertidur. Ya! Mingyu memaksa Wonwoo yang sedang tidur untuk duduk dan memeluknya. Alhasil Wonwoo merasa terganggu dan terbangun. Wonwoo mengucek-kucek matanya yang terlihat membengkak. Mingyu tahu kalau pemuda di dalam pelukannya ini menangis seharian. Mata Wonwoo yang sipit menjadi mirip dengan mata Hoshi.
Ternyata Wonwoo tergeletak di atas tempat tidurnya itu karena Wonwoo sedang tidur, melegakan sekali bagi para member. Member yang melihat pemandangan itu pada mengucapkan syukur dan tersenyum lega. Vernon merangkul Seungkwan "kau juga membuat kami menjadi takut hyung"
Seungkwan menjawab Vernon disela tangisannya "aku sedih dan bahagia. Ternyata Wonwoo hyung sedang tertidur"
"memangnya kau berpikir Wonwoomelakukan apa di dalam?" tanya Woozi sedikit kesal karena Seungkwan telah membuatnya spot jantung.
"sudah! Ayo semuanya,kita biarkan mereka berbicara berdua dulu" Jisoo mendorong Hoshi menjauh dari kamar itu dan diikuti oleh semua dongsaengnya.
.
.
.
"lepaskan Mingyu-ya" Wonwoo berusaha melepaskan pelukan Mingyu.
"tidak akan! Kau sudah membuatku sangat khawatir. Ku kira kau akan bunuh diri di kamar ini"
"itu niat awalku..." jawab Wonwoo pelan.
Mingyu menjitak kepala Wonwoo "bodoh! Apa hanya karena berita seperti itu membuatmu lemah seperti ini?!"
Wonwoo mengadu sakit "kenapa kau menjitakku! apa kau pikir aku sungguh-sungguh melakukan tindakan bodoh seperti itu?"
"jangan pernah menanggung semua beban sendirian hyung" Mingyu kembali mengeratkan pelukannya. Wonwoo tidak membalas pelukan Mingyu. Namun juga tidak menolak untuk dipeluk.
"Mingyu-ya..."
"hmm?"
"ayo kita akhiri semua hubungan ini" setelah mengucapkan kata kramat itu, Wonwoo memejamkan matanya. Wonwoo menguatkan dan meyakinkan dirinya sendiri bahwa keputusannya itu sudah benar.
"kau ini bicara apa hyung?" Mingyu menangkupkan pipi Wonwoo, ia menatap intens mata Wonwoo. Mata Wonwoo mengatakan kepadanya kalau saat ini Wonwoo sungguh-sungguh ingin mengakhiri semuanya. Sungguh membuat Mingyu kecewa, sangat kecewa. Namun Mingyu mencoba untuk tersenyum, menganggap kalau Wonwoo hanya bercanda. Bukankah tadi dia yang berjanji kepada eommanya agar meninggalkan Wonwoo. mengapa saat ini Wonwoo yang menginginkan untuk mengakhiri hubungan mereka, rasanya sangat sakit.
"aku lelah Gyu" Wonwoo saat ini sedang membohongi dirinya sendiri. Ia berusaha untuk tidak terdengar ragu saat ingin mengakhiri semuanya.
"apa sikapku membuatmu lelah? aku sungguh tidak bermaksud melakukan ini kepadamu. aku-aku tidak bermaksud membuatmu lelah dengan sikap kenakan-kanakan ku hyung"
Pemuda pemilik fox eye itu tak merespon apapun yang ia dengar. Pikirannya kini lumpuh. Sedikitpun ia tak pernah membayangkan hal seperti ini menimpa dirinya. Sama hal nya dengan Mingyu. Mingyu belum siap jika harus melepaskan Wonwoo meskipun ia sudah berjanji dengan sang eomma. Ia memerlukan waktu. Waktu untuk menyiapkan hati nya agar tidak menangis. Mingyu tidak ingin melepas Wonwoo. Sungguh tidak ingin.
"hyung,maafkan aku" mata Mingyu kini menatap intens mata Wonwoo. dan Wonwoo juga tidak ingin Mingyu menanggapnya tidak serius. Oleh karena itu Wonwoo membalas tatapan Mingyu. Wonwoo tersenyum, memaksakan senyum lebih tepatnya.
"tidak! Aku hanya lelah dengan tekanan saat ingin bebas dari semua masalah ini. Maafkan aku tapi aku ingin kita mengakhiri hubungan yang salah ini. Kau tahu Mingyu-ya... bisa saja berita buruk mengenai diriku saat ini merupakan hukuman untuk ku karena sudah menentang hukum alam"
Mingyu melepaskan tangkupan nya dari pipi Wonwoo.
"begitukah... "
Mingyu merasa dunianya yang dua tahun ini indah mengalami tsunami yang siap menghancurkannya hingga berkeping-keping.
"jadi... tidak bisakah kita menjadi teman" Wonwoo tersenyum sangat manis, melihat senyuman itu membuat amarah Mingyu meluap.
"bagaimana bisa kau tersenyum seperti itu hyung" ucapan Mingyu kini terkesan dingin. Wonwoo menyadari perubahan Mingyu. Jantung Wonwoo sangat berdegup kencang. Ia tidak pernah melihat air muka kekecewaan milik Mingyu yang separah ini karena dirinya.
"apa aku harus marah? Menangis? Menyesali semuanya?", Wonwoo menanggapi kalimat Mingyu dengan santai. Rahang Mingyu mengeras saat mendengar tanggapan dari Wonwoo, ia tidak suka dengan jawaban yang ia dapat dari Wonwoo.
"terserah kau saja! Ayo akhiri semuanya" Lalu pemuda tersebut beranjak dan meninggalkan pemuda yang kini sedang merasa bersalah. Mingyu keluar meninggalkan Wonwoo sendirian yang sedang tersenyum setelah mendapat persetujuan dari Mingyu. Mingyu berjalan keluar dengan air mata yang mengalir tanpa izin darinya.
Setelah Mingyu keluar, Wonwoo kembali menangis. Wonwoo sakit, hatinya juga terkena tsunami karena terpaksa Wonwoo melepas cintanya demi kebaikan Mingyu. Meskipun ia mencoba untuk bertahan, tetapi tetap saja tidak bisa. Wonwoo mendengar semuanya! Ketika Mingyu meninggalkan ruangan dan memutuskan untuk keluar, tak lama Wonwoo juga keluar. Ia sengaja mengikuti Mingyu. Wonwoo yakin, Mingyu keluar bukan tanpa alasan. Pasti ada yang Mingyu lakukan. Karena selama ini Wonwoo merasa Mingyu sedang menutupi sesuatu dari dirinya.
Meskipun Jun, Joshua dan Seungkwan bertanya ia akan kemana, Wonwoo tidak menggubris pertanyaan mereka. Alhasil tidak ada lagi yang berani bertanya kepada Wonwoo. ia tanpa suara keluar dan mengikuti Mingyu. ini bukan saatnya untuk ia berdiam lagi. Saat Wonwoo menjumpai dimana Mingyu, Wonwoo berdiri dibalik pintu, ia mendengar semua percakapan Mingyu dengan eomma Mingyu. Wonwoo menangis dalam diam, tidak cukup kah masalah yang ia hadapi sekarang ini membuatnya terjatuh.
'ternyata ini semua karena hubungan kita Mingyu-ya, mengapa kau tidak jujur kepadaku kalau eommamu menentang kita' kata Wonwoo dalam hati. Wonwoo tersenyum lega karena ia sudah tahu akar masalahnya dari mana. Sebelum semuanya bertambah buruk dan menbahayakan Mingyu serta Seventeen, Wonwoo ingin mengakhiri penyebab utama masalah itu.
.
.
.
Wonwoo melempar apa yang ada dihadapannya kedepan hingga membentur dinding untuk melampiaskan emosinya,ia mengacak-acak rambutnya. Untung saja yang dilemparnya bukan barang-barang yang terbuat dari kaca, sehingga tidak membuatnya repot untuk merapikan ruangan itu nanti.
"setidaknya aku ingin memelukmu untuk yang terakhir kalinya...tapi..."
'terimakasih sudah melindungiku Mingyu, sekarang giliranku melindungi sesuatu yang sangat berharga untukmu' ujar Wonwoo dalam hati. Selama ini Wonwoo sudah membuat psikis Mingyu berperang karenanya. Bagaimana bisa ia tidak menyadari semua itu, bagaimana bisa Mingyu tersenyum dan berusaha membahagiakan Wonwoo disaat batinnya tersiksa.
Wonwoo memejamkan matanya, memanggil kembali kenangan dimana Mingyu menyatakan cintanya kepada Wonwoo, mereka seperti orang bodoh pada saat itu. kenangan ketika Wonwoo lulus dari SOFA, Mingyu datang dengan meneriakan namanya tak lupa setangkai mawar pink di tangannya, karena warnanya pink, Mingyu dihadiahi pukulan di kepalanya dari Wonwoo. Sebagai seorang laki-laki Wonwoo malu karena bunga yang ia terima sangat feminim warnanya. Apa Mingyu pikir ia seorang perempuan. Eh! Ternyata saat itu Mingyu sedang mengerjainya saja, Mingyu sudah menyiapkan hadiah untuk kelulusan Wonwoo.
Hingga kenangan dimalam yang indah dan sangat berharga bagi mereka pada saat hari kelulusan Mingyu. Wonwoo dengan resmi memberikan semua yang ia miliki kepada Mingyu. dirinya hanyalah milik Mingyu. Air mata semakin deras mengalir seiring dengan Keingatnya Wonwoo dengan kenangan konyol mereka berdua. Wonwoo membalikkan badannya menghadap bed Mingyu dan mengelus bantal yang tiap hari digunakan Mingyu.
"aku ingin kau bahagia Mingyu-ya"
.
.
.
Semua member bertanya-tanya kepada Mingyu mengapa ia menangis, Mingyu bersandar pada kaca jendela dekat balkon dorm mereka. Ia menundukkan kepalanya dan mulai terisak. Jeonghan mendekati Mingyu dan mengusap bahu dongsaengnya.
"apa yang terjadi?" tanya Jeonghan dengan lembut agar tak menyinggung Mingyu.
"semua sudah berakhir. Aku dan dia..." Mingyu menjambak rambutnya sendiri, ia menggigit bibir bawahnya sendiri karena marah dengan semua kondisi saat ini. Ia geram hingga menarik rambutnya kuat. Mingyu benar-benar menangis. Bahkan Wonwoo mendengarnya dari dalam semakin membiarkan airmatanya meluncur bebas keluar. Sontak mereka yang ada disana terkejut mendengar pernyataan Mingyu. Mengapa? Kok bisa? Itu yang ingin mereka tanyakan. Tetapi tidak terucap karena mereka tidak ingin membuat Mingyu tambah sedih.
Hoshi langsung teringat dengan Wonwoo. Jika Mingyu saja kondisinya memprihatinkan, lantas bagaimana dengan sahabatnya itu? Wonwoo bahkan mengalami masalah ganda, bagaimana ia bisa membiarkan Wonwoo sendiri didalam kamar. Hoshi memutuskan untuk menemui Wonwoo.
Hoshi masuk kedalam kamar, ia terkejut saat melihat bantal-bantal, dan barang barang yang lainnya berserakan di lantai. Mata Hoshi kemudian beralih kepada sahabatnya itu, Wonwoo duduk bersandar pada dinding dengan memeluk kedua betisnya, ia menenggelamkan wajahnya di lengan yang ia tumpukan di atas lutunya. Bahunya bergetar, ia masih menangis. Sebuah tangis tanpa suara. Hoshi mendekati Wonwoo, ia memegang lengan Wonwoo.
Hoshi ingin sekali ikut menangis, pedih rasanya melihat Wonwoo seperti ini. Ia tidak pernah sama sekalipun melihat Wonwoo dengan kondisi memprihatinkan seperti ini.
"bagaimana bisa kau menutup diri dariku Wonwoo-ya?" suara Hoshi bergetar, ia berusaha menahan tangisnya.
Wonwoo mengangkat kepalanya, ia tersenyum melihat Hoshi. "aku baik-baik saja"
"bagaimana bisa kau baik-baik setelah semua ini"
Hoshi mengusap lengan Wonwoo.
"orang tua Mingyu menentang ku, semua berita buruk mengenai diriku merupakan wujud dari pertentangan orang tua Mingyu" kata Wonwoo dengan suara serak akibat menangis.
Mata Hoshi membulat, yaa... meskipun tidak sepenuhnya bulat.
"apa maksudmu?!" Hoshi menggenggam tangan Wonwoo dengan kuat. Ia berusaha agar tidak berpikiran buruk mengenai orang tua Mingyu.
"aku harus melepasnya, karena ia tidak bisa melepasku... bukan hanya aku, tapi Mingyu bahkan Seventeen akan terkena dampaknya juga"
"astaga!" Hoshi mengepalkan tangannya yang bebas. Ia geram dengan orang tua Mingyu.
"Mingyu tahu?"
Wonwoo mengangguk " tapi ia tidak tahu kalau aku menguping pembicaraan mereka tadi"
"lalu kau ingin aku melakukan apa?" Hoshi tidak tahu harus membantu Wonwoo dalam hal apa.
"aku ingin kau merahasiakan semua ini"
"kau tidak ingin aku memaksamu pindah kamar?" Wonwoo menaikkan sebelah alisnya. Wonwoo tersenyum lagi kemudian menggeleng.
"tidak! Aku akan tetap disini,kami sudah jauh. Akan lebih jauh jika aku harus pisah kamar dengannya. Setidaknya aku bisa menatap punggungnya saat tidur"
Jawaban dari Wonwoo membuat Hoshi tercengang. 'apa kau bodoh? Itu sama saja kau menambah luka' ujar Hoshi dalam hati. Namun ia tetap menghormati keputusan Wonwoo. untuk malam ini Hoshi akan tidur di kamar itu, ia akan menemani sahabatnya itu agar Wonwoo tidak terlarut dalam kesedihannya.
.
.
.
"kau ingin tukar kamar denganku Mingyu-ya?" Joshua mencoba membantu dongsaengnya itu untuk tidak terlalu tenggelam dalam sedihnya.
Mingyu terdiam. Ia tidak lagi menangis, tetapi wajahnya terlihat kosong.
"dengan ku saja hyung" kali ini Vernon mengikuti Joshua.
"tidak perlu hyung, Vernon-ah"
"tapi kalau kau masih dikamar itu akan membuat suasana di antara kalian tidak membaik. Rasa sakit akan terus menghantui kalian tiap hari bahkan saat kau akan tertidur" Joshua mencoba untuk membujuk Mingyu. ini juga untuk kebaikan Wonwoo. agar mereka bisa terbiasa untuk sendiri.
"aku tahu hyung, meskipun aku tidak bisa memeluknya lagi, aku masih bisa melihat punggungnya saat ia tidur kan.."
Hari ini merupakan hari terburuk untuk pasangan fenomenal Seventeen. Para member juga tidak bisa berbuat banyak kalau itu sudah menjadi keputusan mereka berdua. Atas permintaan keduanya, anggota Seventeen lainnya di minta untuk tidak mengungkit kenangan mereka, menanyai hubungan mereka dan sebagainya. Mingyu dan Wonwoo hanya ingin melewati semuanya bagai air mengalir. Lambat laun pasti mereka terbiasa untuk tidak bergantung satu sama lain seperti sebelumnya dan melupakan semua rasa sakit yang sekarang mereka rasakan. Sebelum tertidur, Mingyu berdoa agar Wonwoo tidak mengalami masalah lebih dari ini dan eomma nya tidak melakukan hal nekat yang membahayakan diri wanita itu.
Saat ini Mingyu kalah dalam peperangan antara anak dan ibu itu. Tidak tahu apa rencana yang direncanakan Tuhan untuk mereka, namun tanpa mereka sadari, keinginan mereka sama, tidak ingin melepaskan satu sama lain. Ingin selalu bersama meskipun sudah tidak terikat di dalam suatu hubungan seperti beberapa waktu yang lalu.
.
.
.
Setelah Wonwoo terlelap Hoshi meninggalkan sahabatnya itu untuk bergabung dengan yang lainnya. Malam ini sang maneger pun belum ada mengunjungi mereka, sepertinya ia sedang sibuk mengurus masalah yang beredar di antara masyarakat. Wonwoo yang sebelumnya mengadu pusing memilih untuk tidur terlebih dahulu tanpa ada sebutir nasi yang masuk kedalam perutnya. Meskipun mulut Hoshi berbusa membujuk Wonwoo untuk makan tetap saja Wonwoo tidak ingin makan karena ia kehilangan nafsu makan.
"bagaimana keadaan Wonwoo Soonyoung-ah?" tanya Scoups sesaat setelah kalau Hoshi baru keluar dari kamar.
"tentu saja tidak baik-baik saja hyung" Hoshi mengambil tempat disebelah DK yang kebetulan kosong. Mingyu yang katanya tidak ingin peduli dengan Wonwoo sebenarnya sedang mencuri dengar didalam tidur palsunya.
"Wonwoo tidak kau suruh makan? Dia sedang apa? Tidur?" tanya Jeonghan tidak sabaran.
"satu-satu hyung nanyanya" DK menyahuti.
"Wonwoo tidak ingin makan dan setelah dia mengeluh pusing lalu ia tidur lebih awal" Hoshi memberi penjelasan dengan sebisa mungkin tidak mengarah ke topik pembicaraan yang mengakibatkan terbongkarnya rahasia dirinya dan Wonwoo.
"wajar saja pusing, seharian ini dia hanya makan roti saja" Woozi tiba-tiba langsung mengomentari laporan dari Hoshi. Mingyu yang mendengar obrolan mereka saat ini sedang mengutuk dirinya sendiri. Wonwoo sekarang seperti ini karena dia. Andai ia bisa meyakinkan orang tuanya.
Hoshi memandangi punggung Mingyu.
"Mingyu juga sudah tertidur" Hoshi bergumam pelan.
"dia ingin tidur disini hyung" DK menyahuti.
"aku ingin menangis saat melihat keadaan Wonwoo"
"aku tahu, ini sangat berat untuknya hingga memutuskan hubungannya dengan Mingyu. tapi bagaimana pun kita harus menghormati keputusan mereka dan mendukung mereka" Scoups ikut memandangi punggung Mingyu. Tanpa mereka sadari, air mata mengalir dari sudut mata Mingyu.
Mengapa cinta harus terhalang oleh gender? Tidak bisa kah dunia membuka mata satu saja untuk melihat kenyataan-kenyataan yang terjadi di lingkungan mereka bahwa pasangan normal yang telah menikah bahkan tidak menjamin mereka akan hidup bahagia. Banyak diantara mereka yang saling menyelingkuhi, mengkhianati, bahkan saliing membunuh. Bagaimana bisa mereka menghakimi cinta tulus para pasangan sesama jenis?
.
.
.
.
.
Wonwoo terbangun dari tidurnya jam 5 pagi, sepertinya ia sudah puas tidur. Wonwoo lupa akan sesuatu hingga ia kembali berbalik badan untuk melihat penghuni tempat tidur disebelahnya. Wonwoo tersenyum miris "apa yang ku harapkan, bocah sepertinya sudah pasti memilih untuk pindah kamar"
Wonwoo keluar dari kamarnya, masih sepi. Semua member masih tertidur. Saat Wonwoo melewati ruangan santai mereka, ia akhirnya menemukan objek yang ia cari-cari tadi. Wonwoo bernafas lega saat mengetahui Mingyu tertidur dengan pulas. Ia ingin mengambilkan selimut untuk Mingyu, namun Wonwoo mengurungkan niatnya. Ia tidak ingin Mingyu bertanya-tanya siapa yang menyelimuti dirinya. Akhirnya Wonwoo berjalan ke dapur, mengambil segelas air putih dan duduk di pinggir westafel. Ia menengguk air tersebut.
Wonwoo memeriksa ponselnya, begitu banyak pesan dari Adik dan mereka khawatir dengan keadaan Wonwoo karena artikel itu. Wonwoo tidak membuka pesan tersebut terlebih dahulu melainkan pesan dari maneger Seventeen. Sebuah pesan yang berisikan agar Wonwoo dapat kekantor menemui CEO dari pledis untuk membahas artikel itu. Wonwoo menjadi teringat kembali dengan masalahnya yang satu itu. memikirkan bagaimana nasibnya nanti membuat kepala Wonwoo kembali pusing. Saking pusingnya membuat Perut Wonwoo mual.
Wonwoo menutup mulut saat isi perutnya naik ke kerongkongan. Agar tak tidak mengganggu tidur member yang lainnya Wonwoo langsung menghidupkan shower. Dengan gemercik air yang menenggelamkan suaranya membuat member yang lainnya tidak mengetahui apa yang ia lakukan di dalamnya.
"ada apa dengan ku sebenarnya" Wonwoo memijat pelipisnya, pasalnya sejak beberapa hari yang lalu, Ia akan muntah saat ia banyak pikiran, bahkan ketika hendak gosok gigi membuat Wonwoo mual. Tangan kanan Wonwoo memijat dahinya agar pusing yang ia rasakan dapat berkurang dan tangan kirinya ia gunakan untuk mengusap perutnya sendiri.
Wonwoo menautkan alisnya saat ia mencoba meraba bagian bawah perutnya. Terasa seperti tonjolan, ia dapat merasakannya hingga Jantungnya berdegup cepat. Ia tidak berani menduga tetapi feelingnya kuat, tonjolan ini bukan merupakan lemak. Ia tahu betul bagaimana bentuk perutnya. Meskipun ia jarang berolahraga seperti Mingyu dan DK, Wonwoo masih ingat hanya ada bentuk otot saja di perutnya bukan seperti saat ini. Karena teringat dengan semua ucapan Seungkwan di dapur waktu itu membuat Wonwoo mencoba mencari tahu tentang kehamilan termasuk tanda-tandanya di internet.
Keringat mulai membanjiri dahinya ketika ia menemui tanda-tanda kehamilan ada pada dirinya. Setelah itu Wonwoo mencari tahu bagaimana cara mengetahui kehamilan itu sendiri tanpa ke dokter. Maklumi saja, Wonwoo itu laki-laki dan tidak memiliki pengalaman hal semacam ini. Setelah membaca beberapa artikel, Wonwoo langsung kekamar dan mengeluarkan jacket hitamnya dari lemari tak ketinggalan dengan masker serta topi hitamnya.
Wonwoo keluar dari dormnya dengan langkah yang terburu-buru. Di jam segini para member belum bangun jadi Wonwoo harus bergegas sebelum ada yang bangun. Wonwoo berjalan menelusuri jalanan didaerah itu dan memerhatikan sekitarnya ada apotik yang buka 24jam atau tidak.
Setelah jalan lumayan jauh, Wonwoo menemukan sebuah Toko obat-obatan, ia melirik kesana kemari sebelum singgah ke toko itu. jaga-jaga apabila ada yang mengenali dirinya.
"selamat datang,tuan" pegawai wanita yang sedang bertugas menyambut Wonwoo. tersenyum ramah kepada Wonwoo. Wonwoo membalas senyum wanita itu, tetapi tetap saja tidak terlihat ia sedang tersenyum. Wajahnya saja tertutup topi dan masker. Tak lama-lama, Wonwoo langsung menanyakan kepada pegawai di toko itu mengenai ada tidaknya barang yang ia cari namun dengan suara yang kecil.
"aku mencari tes kehamilan, ada tidak?"
Pegawai wanita itu tertawa, pegawai itu mengira pria didepanya ini malu membeli alat itu untuk istrinya.
"tidak perlu malu seperti itu. pantas saja kau menutupi semua wajahmu. Apa ini kehamilan pertama pasanganmu?"
Wonwoo terperangah, namun tak lama kemudian ia menangguk cepat. Sambil menunggu pegawai tersebut mengambil testpack, Wonwoo berkali-kali membuang nafas untuk menghilangkan ke gugupannya.
Pegawai itu kembali dengan membawa beberapa testpack ditangannya.
"ini ada beberapa macam jenis testpack. Kau bisa memilihnya"
Wonwoo memiringkan kepalanya. Bagaimana ia paham dengan urusan seperti ini. "aku ambil semua!"
Wanita itu kembali tertawa. "anak muda sekarang semangat sekali"
Wonwoo tertawa canggung, ia membayar ke lima testpack yang di bawa pegawai tadi dan langsung pulang ke dormnya. Wonwoo menyembunyikan barangnya didalam jacket. Berkali-kali ia melihat jam di ponselnya. Sudah satu jam ia keluar, pasti mereka sudah bangun. Ini sudah hampir jam 7.
Sesampainya di dorm.
"Wonwoo-ya, apa yang kau lakukan pagi pagi begini diluar?" ternyata Jun yang menyambut kedatangannya. Wonwoo melepas topi dan maskernya.
"aku ingin mencari udara segar diluar"
Wonwoo memerhatikan jun yang sibuk berkutat di dapur.
"kau sendiri, ngapain? Apa ini jadwalmu memasak?"
Jun menangguk "kau harus belajar memasak Wonwoo-ya, lihatlah sampai jadwal memasak saja kau tidak tahu"
Wonwoo menangkat kedua bahunya dengan ekspresi 'aku tidak peduli'
"kalau kau ingin mati keracunan aku bersedia masak"
Jun menoleh ke arah Wonwoo "pergi sana bangunkan yang lain"
"baiklah!" Wonwoo berjalan menuju kamarnya.
"WOAH!YA!Apa yang kau lakukan?" Wonwoo memegang dadanya seakan-akan jantungnya hendak lepas.
Saat ia memasuki kamar, Wonwoo di kagetkan dengan Seungkwan yang tiba tiba duduk di kasurnya dengan badan berbalutkan selimut putih. Seungkwan hanya membalas tatapan Wonwoo. ia masih mengantuk dan berniat untuk tidur lagi. sebelum Seungkwan menidurkan badannya kembali, Wonwoo menahan kepala Seungkwan.
"Aish! Dasar anak ini"
Wonwoo menepuk pipi Seungkwan pelan "Ya! Seungkwan-ah bangun"
"eumb..ya..mmmnanti.." racau Seungkwan.
Wonwoo terdiam ketika ia merasakan perutnya kembali bergejolak namun kali ini di sertai dengan perih di lambungnya. Wonwoo berusaha menahan hasratnya yang ingin muntah dengan menutup mulut menggunakan sebelah tangannya. Wonwoo masih menepuk-nepuk pipi Seungkwan pelan.
HOEMMB!
Wonwoo menekan mulutnya agar tidak menimbulkan suara yang dapat memancing kecurigaan dari yang lain. Tapi!
"Hyung kau baik-baik saja?" Seungkwan membuka matanya ketika ia mendengar Wonwoo hendak muntah. Wonwoo mengangguk.
"jangan berbohong!wajahmu pucat hyung" Seungkwan bangun mengajak Wonwoo untuk duduk di sebelahnya.
"aku panggilkan Scoups hyung ya hyung?"
Mata Wonwoo melotot, ia menggenggam tangan Seungkwan "jangan Seungkwan-ah, aku baik-baik saja"
"apa magh mu kambuh?" tanya Seungkwan khawatir.
"mungkin" Wonwoo berusaha untuk tidak banyak berbicara saat ini. Atau ia akan memuntahkan isi perutnya di kasur Seungkwan.
"kau tidak memikirkan kesehatanmu sendiri hyung, dari kemarin siang kau tidak ada makankan?"
"Seungkwan-ah tolong jangan beri tahu siapap-HOEKK" Wonwoo langsung berlari kekamar mandi, ia tidak kuat menahan rasa mualnya lebih lama.
Seungkwan menyusul Wonwoo dengan langkah dipercepat.
"gwaencahana hyung?" tanya Seungkwan saat ia melihat Wonwoo masih sibuk memuntakan isi perutnya ke toilet. Wonwoo mengangguk lemah. Seungkwan membantu Wonwoo untuk memijat tengkuknya.
"sebaiknya kita kedokter saja hyung"
"jangan! Aku tidak ingin mengacaukan jadwal kita hari ini"
Wonwoo berdiri untuk membasuh mulutnya.
"kondisimu seperti ini malah yang akan mengacaukan kita hyung" kata-kata Seungkwan tajam tapi ada benarnya juga. ini demi kebaikan Wonwoo.
"aku akan mengisi perutku setelah itu minum obat lalu istirahat dan semuanya akan beres" Wonwoo tersenyum lembut kepada adiknya yang paling bawel itu.
"Hyung~ ayolaaah~~" Seungkwan berusaha membujuk Wonwoo.
Wonwoo hanya terkekeh.
"sudah sudah ...kau keluar saja, aku akan mandi sebentar lagi sebelum yang lain bangun. Ingat jangan beri tahu kepada siapapun" Wonwoo mendorong pelan Seungkwan agar meninggalkannya. Seungkwan terdorong dan hanya menatap Wonwoo dengan cemas.
"aku baik-baik saja Boo, sudah keluar lah. bantu Junnie di dapur"
Wonwoo mendorong paksa Seungkwan agar keluar dari kamar. Setelah Seungkwan keluar Wonwoo bersandar pada pintu. Ia mencoba untuk mengabaikan perasaan tidak nyaman pada perutnya. "biasanya Mingyu yang menghilangkan sakit diperutku" Wonwoo bermonolog sendiri. Ia memejamkan matanya, mengingat bagaimana Mingyu mengelus perutnya, dan Wonwoo ikut melakukan seperti yang dilakukan Mingyu dalam bayangannya.
"bagaimana ia melakukannya! Sialan kim Mingyu!" Wonwoo mengumpat mantan kekasihnya itu ketika ia tidak berhasil menenangkan perutnya sendiri.
Tangan Wonwoo satunya merogoh saku jacket yang ia kenakan, ia mengeluarkan benda yang baru saja ia beli. Belum hilang sakit diperutnya,Wonwoo malah bertambah pusing saat melihat benda-benda itu, Wonwoo tidak tahu bagaimana cara mnggunakan alat itu dan hanya membolak-balik kemasan test pack itu.
"bagaimana menggunakannya" Wonwoo menyipitkan matanya dan membaca tiap tulisan yag tertera di kemasan untuk mencari cara bagaimana menggunakan alat itu. saat ketemu, Wonwoo memfokuskan penglihatannya kemudian membaca petunjuk yang tersedia. Setelahnya ia mengeluarkan alat itu dari dalam kotaknya.
Wonwoo terkagum sendiri "bagaimana bisa orang menciptakan alat ini dengan fungsi yang luar biasa..." , siapapun yang melihat ekspresi Wonwoo saat ini pasti akan tertawa, karena rapper Seventeen ini memasang wajah polosnya yanng terkesan imut saat melihat melihat benda itu ditangannya.
Sudah terlanjur dibeli, niat Wonwoo untuk melakukan test itu malah menjadi setengah-setengah. Takut mendominasi mentalnya saat ini. Dalam hati berkali kali Wonwoo menyebut nama Mingyu 'jika kau ada disini, apa yang akan kau lakukan Mingyu-ya' Wonwoo terduduk menundukkan kepalanya dengan tangan terulur dan bertumpu pada lututnya. Mau tidak mau Wonwoo harus melakukannya!
Wonwoo menepuk-nepuk kellima testpack satu persatu dengan telapak tangannya saat ia melihat hasilnya yang membuat dirinya menghela nafas panjang dari tadi.
"astaga...bagaimana mungkin..." Wonwoo menertawai pantulan dirinya di kaca yang tergantung di atas westafel.
Wonwoo menggenggam kelima testpack yang telah menunjukkan hasilnya itu, masih menatap pantulan matanya di kaca.
"apa yang kau takutkan Wonwoo-ya" katanya pada dirinya sendiri.
"sebenarnya apa yang ku harapkan dari semua ini...tentu saja tidak akan merubah hasilnya kan"
Tidak ingin terlarut dalam beban pikirannya, Wonwoo memutuskan untuk membersihkan dirinya. Takut kalau member lain ingin menggunakan kamar mandi juga.
.
.
.
TBC
.
Haaaai~ aku balik, ada yang kangen? Gak ya? wkwkwkwk
Sebenernya aku belum sempet update malam ini tapi, reader memotivasiku untuk up malam ini apapunyang terjadi. Ternyata FF unfaedah ini ada yang nunggu untuk update juga. terharu
Terimakasih untuk readers yang sudah memberikan reviewnya, itu dorongan ku biar bisa nyelesain ff ini hehehe.. maaf aku belum bisa balas karena dikejar waktu. NEXT UP akan ku balas semua.
TERIMAKASIH dan maaf karena udah buat Wonwoo menderita dan terkesan seperti anak perempuan yang cengeng. Yaaa.. namanya juga lagi blendung wkwk
SEE YA!
