.
.
.
When my world is falling apart
When there's no light to break up the dark
That's when I look at you
When the waves are flooding the shore
And I can't find my way home anymore
That's when I look at you
.
.
.
Kyuhyun baru saja berkeliaran di kampus tekhnik INU. Setelah berbagai kejadian kemarin, Kyuhyun kembali bernafsu untuk menemukan Jungmo. Jungmo-lah yang bertanggung jawab atas semua penderitaan yang dialami Kyuhyun selama ini.
Namun, lagi-lagi Kyuhyun pulang tanpa membawa hasil. Dia menaiki tangga sambil mematikan iPod-nya, tanpa melihat Sungmin yang menatapnya terkejut dari depan kamarnya. Kyuhyun baru sadar saat melihat sepasang kaki di depannya. Kyuhyun mendongak, lalu menatap Sungmin kaget.
"Kau bukannya..." Kyuhyun mendadak terdiam. Dia tidak akan membuka percakapan apa pun lagi dengan Sungmin. Dulu, semua adalah kesalahannya. Dia sudah membiarkan dirinya terlibat begitu jauh dengan Sungmin. Sekarang, Kyuhyun memastikan hal itu tidak terjadi lagi. Kyuhyun menelan kata-katanya dan melangkahkan kakinya menuju kamarnya.
"Kyuhyun, tunggu!" sahut Sungmin sambil menghalanginya. Kyuhyun menatap gadis itu dan mendadak Kyuhyun sadar kalau dia sudah terlalu lama tidak melihat mata Sungmin yang bulat itu. Kyuhyun segera mengalihkan pandangannya.
"Apa?" tanya Kyuhyun berusaha supaya terdengar tidak peduli.
"Apa? Apa?" tanya Sungmin tak percaya. "Bukannya 'Apa?'! Kau seharusnya minta maaf padaku!"
Kyuhyun kembali menatap Sungmin. "Hah?"
"Kau seharusnya meminta maaf setelah semua yang kau lakukan selama ini! Dasar pembohong," ujar Sungmin, tetapi tidak tampak marah. Kyuhyun yakin Victoria pasti sudah mengatakan yang tidak-tidak padanya.
Sungmin sekarang melipat kedua tangannya di depan dada, dan menatap Kyuhyun seolah menunggu permintaan maafnya. Kyuhyun menghela napas. Pola ini terulang lagi, tetapi Kyuhyun tidak akan kalah.
"Dengar, apa pun yang Victoria katakan padamu..."
"Aku lebih percaya Victoria," tandas Sungmin membuat Kyuhyun terdiam. "Kau selalu berbohong, jadi aku sudah tidak mempercayaimu."
"Kau... bisa tidak, kau biarkan aku sendiri?" sahut Kyuhyun geram.
"Apa? Kau ingin mengatakan sesuatu yang kejam lagi?" tantang Sungmin, tidak tampak takut. Kyuhyun menatapnya tajam, lalu memukul pintu di depannya, tepat di samping wajah Sungmin. Sungmin balas menatap Kyuhyun berani.
"Apa Victoria mengatakan kalau aku sebenarnya takut kehilanganmu?" tanya Kyuhyun. "Karena kalau dia mengatakan itu, kau sungguh sangat percaya diri. Sama sekali tidak pernah terbesit di pikiranku..."
"Aku sudah tidak peduli lagi dengan semua kebohonganmu," potong Sungmin membuat Kyuhyun melotot. "Mau kau katakan aku perempuan desa, aku bukan tipemu, kau tidak menyukaiku, kau benci padaku, aku tidak peduli."
Kyuhyun menatap Sungmin bingung.
"Kyuhyun, aku sudah mendengar semuanya dari Victoria, dan sekarang aku tahu kenapa kau mempunyai penyakit ini," ujar Sungmin lembut. "Aku sekarang tahu kalau bukan salah kamu bisa mendapat penyakit itu. Sebenarnya, alasan apa pun tidak penting, karena aku tidak akan menjauhimu karena kau mempunyai penyakit itu."
"Berhenti mengatakan sesuatu yang mais-manis," sambar Kyuhyun geram. "Kau dulu pernah ragu, bukan?"
"Memang benar aku pernah ragu, tapi aku menyesal. Harusnya aku tidak pernah ragu. Waktu itu aku akui, aku takut. Tapi, setelah itu, aku membenci diriku yang penakut seperti itu. Waktu itu, aku berpikir, kalau aku takut, aku tidak akan pantas untukmu," kata Sungmin lagi. Kyuhyun masih menatapnya tanpa berkedip. "Tapi, Kyuhyun, sekarang aku tidak akan pernah takut lagi. Aku tahu seperti apa dan mungkin kau berubah beberapa tahun lagi, tetapi aku tidak pernah mempunyai perasaan sekuat ini pada siapa pun. Kau berubah menjadi apa pun itu juga tidak mungkin membuatku mundur."
"Kau tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan," ujar Kyuhyun gemetar. Sungmin tersenyum.
"Kau juga tidak tahu, kan?" Ucapan Sungmin membuat mata Kyuhyun melebar. "Jadi, kenapa kita tidak mengambil risiko itu?"
Kyuhyun ingin sekali merengkuh gadis di depannya ini. Setitik air matanya mulai menetes. Sungmin menyeka air mata itu dengan jemarinya dan memegang lembut pipinya. Kyuhyun bahkan tidak menghindar.
"Aku hanya mempunyai waktu lima tahun," gumam Kyuhyun membuat Sungmin tersenyum lagi.
"Jadi, kita gunakan waktu itu sebaik-baiknya," jawab Sungmin membuat setitik lagi air mata jatuh dari mata Kyuhyun. "Kalau kau tahu kau hanya mempunyai waktu lima tahun, ayo kita membuat kenangan sebanyak-banyaknya dalam waktu itu."
"Kau... kau rela mengorbankan lima tahun hidupmu untukku?" tanya Kyuhyun lagi.
"Aku tidak ingin mengatakan aku rela mengorbankan lima tahun hidupku untukmu," ujar Sungmin. "Karena aku tidak ingi hanya lima tahun bersamamu. Aku ingin selamanya bersamamu."
Kyuhyun menatap Sungmin dalam-dalam, mencari kebenaran dalam matanya.
"Sugmin... Bolehkah aku mempercayai perkataanmu sekarang?" tanya Kyuhyun membuat air mata Sungmin mulai menetes. Sungmin mengangguk, lalu membelai pipi Kyuhyun yang sudah basah karena air mata.
Sebelum Kyuhyun sempat berkata-kata lagi, Sungmin memeluk Kyuhyun. Awalnya, Kyuhyun hanya membatu, menyangka dirinya sedang berada di alam mimpi. Namun, harum rambut Sungmin menyadarkannya, bahwa saat ini dia benar-benar hidup di dunia nyata. Kyuhyun mengangkat tangannya ragu, lalu menyentuh punggung Sungmin yang terasa hangat. Semuanya terasa begitu nyata.
Kyuhyun mempererat pelukannya pada Sungmin dan membenamkan wajahnya lebih dalam ke bahu gadis itu. Kyuhyun tidak ingat kapan dia merasa sebahagia ini sebelumnya. Kali ini, dia tidak akan melepas Sungmin lagi. Tidak akan pernah lagi.
.
.
.
.
.
When I look at you
I see forgiveness, I see the truth
You love me for who I am
Like the stars hold the moon
Right there where the belong and I know
I'm not alone
.
.
Kyuhyun membuka matanya dan seberkas cahaya menelusup melewati jendela. Kyuhyun mengerjapkan, dan setelah semua nyawanya terkumpul, dia berusaha mengingat kejadian semalam.
Semalam, dia bermimpi telah memeluk Sungmin. Dia bermimpi bahwa Sungmin berkata akan selalu bersamanya. Kyuhyun mengangkat tangannya dan meantap tangan itu. Tangan yang sudah menyerah pada seorang gadis bernama Sungmin.
Mendadak Kyuhyun sadar, kalau kejadian semalam bukanlah mimpi. Harum Sungmin masih terasa di kamar ini. Semalam, setelah Kyuhyun memeluk Sungmin, emosinya begitu meledak-ledak sampai dia tidak ingin melepaskan Sungmin. Kyuhyun memeluk Sungmin sampai Sungmin jatuh tertidur.
Kyuhyun terbangun dengan tersentak, lalu melihat ke sekelilingnya. Sungmin sudah tidak ada. Kyuhyun segera bangkit dan membuka pintu kamarnya. Dia berdiri di depan pintu kamar Sungmin dan menatapnnya ragu.
Kyuhyun menjambak rambutnya sendiri. Harusnya semalam dia bisa lebih menahan diri. Harusnya dia bisa melepaskan Sungmin dan membiarkan Sungmin tidur di kamarnya sendiri. Kyuhyun benar-benar takut Sungmin sudah menganggapnya yang tidak-tidak. Sungmin pasti sangat terkejut saat melihat Kyuhyun di sampingnya saat bangun sehingga langsung kabur dan tidak mau melihat Kyuhyun lagi.
Kyuhyun masih saja menjambak rambutnya frustasi saat mendengar suara pintu terbuka di lantai atas. Kyuhyun menatap pintu itu penasaran. Mungkin saja Sungmin ada di atas. Kyuhyun segera naik ke lantai tiga dan Sungmin ada di sana, sedang bersandar pada pagar pembatas, menatap bangunan-bangunan di depannya. Kyuhyun menghela napas lega karena setidaknya Sungmin masih ada di flat ini. Tiba-tiba Sungmin menoleh, dan melempar senyum pada Kyuhyun yang segera salah tingkah. Kyuhyun lalu menghampiri Sungmin ragu ragu.
"Ng..." gumam Kyuhyun tak jelas. "Maaf, semalam aku...maaf."
"Tidak apa-apa," Sungmin tersenyum semakin lebar. "Semalam aku terbangun, tapi kau sudah tertidur. Jadi, aku menyelimutimu lalu pergi ke kamar."
Kyuhyun mengangguk-angguk, benar-benar lega karena Sungmin tidak berpikiran aneh-aneh tentangnya. Kyuhyun ikut bersandar di sebelah Sungmin. Sebenarnya, Kyuhyun masih ingin memluk Sungmin, tapi keinginannya itu ditahannya.
"Kenapa diam?" tanya Sungmin membuat Kyuhyun menoleh. Sungmin tertawa kecil. "Kyuhyun, aku belum pernah mendengar darimu, kalau kau menyukaiku..."
Kyuhyun menatap Sungmin tak percaya, lalu membuang muka. Telinganya yang berubah merah membuat Sungmin terbahak.
"Tidak perlu kukatakan juga sudah tahu, bukan," ucap Kyuhyun keki. Sungmin sendiri berhenti tertawa, lalu ikut menatap pemandangan di depannya.
"Sampai saat ini, aku masih tidak percaya kalau kau akhirnnya bisa percaya padaku," kata Sungmin membuat Kyuhyun menatapnya. "Aku sangat senang sampai rasanya ingin menangis."
Sungmin tidak bisa mengatakan kalau semalam saat dia terbangun dan mendapati Kyuhyun ada di sampingnya, dia menangis lagi. Sungmin benar-benar senang Kyuhyun sudah mempercayainya.
Sungmin menggigit bibirnya, menahan dirinya untuk tidak menangis lagi. Kyuhyun menepuk kepalanya dan mengacak rambutnya.
"Seharusnya aku yang mengatakan itu," ujar Kyuhyun membuat Sungmin benar-benar menangis. "Hei. Jangan menangis. Dasar cengeng."
"Biarin!" sahut Sungmin sambil terisak. Kyuhyun tersenyum simpul.
Sungmin masih terisak sampai akhirnya Kyuhyun berbaring di lantai dengan kedua tangan terlipat di belakang kepalanya. Sungmin menyeka air matanya, lalu ikut duduk di sampingnya. Sejenak mereka menikmati angin yang berembus sepoi.
Sungmin melirik Kyuhyun yang sudah terpejam. Sungmin memeluk lututnya dan mengamati wajah Kyuhyun yang tampak menawan ditimpa sinar matahari.
"Ng... Kyuhyun?" tanya Sungmin pelan.
"Hm?"
"Ng... Aku boleh tanya sesuatu tidak?"
Kyuhyun membuka matanya menatap sekumpukan awan yang berarak. Dia tahu, cepat atau lambat Sungmin pasti akan bertanya sial masa lalunya.
"Boleh saja," kata Kyuhyun akhirnya.
"Hm... Apa benar cita-citamu ingin menjadi sutradara?" tanya Sungmin hati-hati. "Kata Victoria, dulu waktu SMA kau ingin menjadi sutradara."
"Benar," jawab Kyuhyun setelah beberapa saat. Dia duduk dan merogoh saku celananya dan mengeluarkan rokok. Sungmin dengan segera merampas rokok itu dan membuangnya. Kyuhyun menatapnya sebentar, lalu menghela npas. "Tapi, sekarang sudah tidak ada gunanya lagi kan membicarakan itu?"
Sungmin menatap Kyuhyun bingun. "Kenapa?"
Kyuhyun balas menatapnya. "Kenapa? Bukankah sudah jelas? Aku tidak mungkin menjadi sutradara."
"Kenapa tidak bisa?" tanya Sungmin lagi membuat Kyuhyun sekarang bena-benar memusatkan perhatian padanya.
"Dengar," ujar Kyuhyun setengah geli. "Orang seperti aku ini sudah tidak mempunyai masa depan. Tidak mungkin aku bisa menjadi sutradara."
Mata Sungmin membulat saat Kyuhyun mengatakan itu.
"Kyuhyun, aku pikir kau tidak akan menyerah begitu saja." Ucapan Sungmin membuat Kyuhyun mendengus.
"Memangnya aku pernah mengatakan itu?" katanya, dan Sungmin sadar kalau Kyuhyun memang tidak pernah mengatakannya.
"Kyuhyun, kau jangan menyerah begitu saja. Kau pasti bisa menjadi apa pun yang kau inginkan kalau kau tidak menyerah!" ujar Sungmin. Kyuhyun nenatapnya kesal.
"Jangan mengajariku." sergahnya membuat Sungmin terkejut. Kyuhyun menghela napas. "Aku memang berterima kasih kau sudah menerima keadaanku, tapi bukan berarti kau bisa mengajariku."
Sungmin menatap Kyuhyun tak percaya. Kyuhyun menolak untuk menatapnya balik.
"Kyuhyun, aku tahu kau memang sakit. Tapi, apa sekarang kau lumpuh? Apa sekarang kau cacat? Tidak, bukan?" seru Sungmin membuat Kyuhyun kaget. "Bahkan orang cacat pun tidak berhenti bermimpi! Kau bisa menjadi apa pun yang kau inginkan!"
"Kalau sekarang aku berusaha pun belum tentu nantinya aku bisa menjadi sutradara!" sahut Kyuhyun balik.
"Tapi, itu lebih baik daripada kau tidak melakukan apa pun!" sahut Sungmin lagi. "Setidaknya kau sudah berusaha, itu yang terpenting!"
Kyuhyun terdiam mendengar kata-kata Sungmin. Sungmin menghela napas.
"Kyuhyun, orang yang sudah tahu akan mati dan diam menerima nasib itu orang yang paling menyedihkan," lanjut Sungmin. "Semua orang tahu mereka mungkin saja bisa mati besok, tapi tidak ada yang hanya diam menunggu kematiannya."
"Tapi, tidak semua orang tahu kapan tepatnya mereka mati, tidak sepertiku," kata Kyuhyun miris. "Aku hanya diprediksi bisa hidup lima tahun lagi, dan setiap ingat itu, aku kehilangan semangatku."
"Kalau benar kau hanya hidup lima tahun lagi, berarti kau harus bisa menghargai setiap harinya," ucap Sungmin. "Bahkan setiap detiknya. Karena hanya tinggal lima tahun, makanya jangan biarkan sedetik pun berjalan begitu aja."
Kyuhyun hanya terdiam menatap Sungmin.
"Kyuhyun," kata Sungmin lagi sambil tersenyum pada Kyuhyun. "Kalau kau yakin, aku yakin pasti bisa. Aku yakin suatu saat kau bisa menjadi sutradara. Kau hanya harus berusaha, jangan pernah menyerah dengan keadaanmu. Itu saja."
Kyuhyun berhenti menatap Sungmin dan kini menatap awan. Sudah begitu lama Kyuhyun tidak memikirkan cita-citanya. Kyuhyun menganggap cita-cita itu bagian dari masa lalu yang tak akan pernah diungkitnya lagi. Namun, sekarang, seorang gadis bernama Sungmin telah membuatnya kembali mengiginkan cita-cita itu. Sungmin mngakan hal yang tadinya dia rastanya tidak mungkin mnjadi mungkin.
Dulu, Kyuhyun menyerh untuk masuk sekolah perfilman karena terlalu takut. Takut kalau ada yang mengetahui penyakitnya dan menjauhinya. Takut kalau sebelum sempat memulai dia sudah akan mati. Sekarang, setelah mendengarkan Sungmin, Kyuhyun mulai menyadari kalau hidupnya yang tinggal sedikit ini tidak boleh disia-siakna.
Sungmin melirik Kyuhyun yang tampak berpikir keras. Sungmin benar-benar menginginkan Kyuhyun untuk kembali bersemangat dan melupakan dendamnya pada Jungmo. Sungmin tidak ingin melihat Kyuhyun lebih menderita lagi.
"Kyuhyun," ujar Sungmin pelan. "Tolong janji satu hal padaku."
Kyuhyun mentap Sungmin. Sungmin menggigit bibirnya ragu.
"Lupakan soal... Jungmo," kata Sungmin pelan membuat Kyuhyun mengangkat alis tinggi tinggi. Detik berikutnya, dia mendengus.
"Kau menyuruhku melupakan bajingan itu?" tanya Kyuhyun, toba-tiba kembali menjadi Kyuhyun yang dingin. "Kau bercanda?"
"Kyuhyun, kalau kau masih mencari dia, kau tidak akan bisa meneruskan cita-citamu! Kau tahu apa akibatnya kalau kau membunuhnya? Kau akan menghabiskan hidupmu di penjara!" seru Sungmin. "Kau ingin seperti itu?"
Tangan Kyuhyun terkepal keras, bahkan sampau bergetar. Kyuhyun bukannya tidak pernah memikirkan kemungkinan itu. Memang dulu Kyuhyun tidak peduli kalau dia sampai dipenjara atau mati sekalipun, karena tidak ada yang peduli padannya. Namun, sekarang berbeda. Sekarang, ada yang peduli padanya. Seorang gadis dengan wajah khawatir yang sedang duduk di sebelahnya.
"Kyuhyun, aku sudah berjanji ingin menemanimu, bukan? Lalu apa gunanya kalau kau ada di penjara?" kata Sungmin lagi. Dia memgang kedua pipi Kyuhyun dan memandangnya dalam dalam. "Kyuhyun, aku mohon."
Kyuhyun balas memandang Sungmin. Kyuhyun benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Memang benar dia sekarang tidak ingin kehilangan Sungmin, tetapi dia juga tidak bisa melupakan dendam enam tahunnya begitu saja. Karena Jungmo, seluruh kehidupannya hancur berantakan.
Kyuhyun bangkit tiba-tiba, membuat Sungmin terkejut. Kyuhyun turun tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi padanya. Sungmin terduduk pasrah menatap punggung Kyuhyun yang segera menghilang di balik pintu.
Sungmin merasa Kyuhyun benar-benar sudah tak tersentuh lagi.
.
.
.
.
You appear just like a dream to me
Just like a kaleidoscope colors that cover me
All I need every breath that I breathe
Don't you know you're beautiful
.
.
Selama setengah jam, Kyuhyun duduk diam di atas kasur kapuk kamarnya. Kyuhyun melirik seprai itu. Seprai berwarna pink dengan gambar Barbie. Kyuhyun menghela napas, lalu meraih handycam di sebelahnya.
Dari semua hal, Kyuhyun tidak pernah bisa melepaskan handycam ini. Handycam yang diberikan ayahnya saat dia berumur sepuluh tahun. Handycam yang tidak akan pernah digantinya dengan apa pun.
Kyuhyun memainkan sebuah kaset saat ulang tahunnya yang kesebelas. Tampak figur ayah dan Eommanya yang bahagia. Handycam itu kemudian dipegang oleh orang lain, dan figur Kyuhyun kecil tampak di sana. Dia meniup lilin, sementara ayah dan Eommanya memeluknya erat. Wajah mereka semua tampak bahagia.
Tangan Kyuhyun bergetar menatap pemandangan itu. Melihatnya membuat semua kenangan terputar balik di otaknya. Saat-saat mereka mengetahui penyakit Kyuhyun. Saat ayahnya memutuskan pergi dari rumah karena malu. Saat Eommanya menangis tak henti-hentinya.
Kalau saja Tuhan mengizinkan Kyuhyun untuk membuat satu permohonan, Kyuhyun ingin kembali ke saat-saat di mana semuanya masih baik-baik saja, seperti ulang tahunnya yang kesebelas ini.
Kyuhyun mengelus handycam itu pelan. Handycam yang sudah belasan tahun menemaninya. Handycam yang merekam semua perjalanan hidupnya. Handycam yang menjadi awal dari cita-citanya.
Kyuhyun menjambak rambutnya. Dia tidak tahu harus nagaimnana. Tiba-tiba ponsel di sebelahnya bergetar. Kyuhyun meraih ponsel itu heran. Seingatnya, dia tidak memberikan nomor barunya kepada siapa pun kecuali Donghae.
Mata Kyuhyun nelebar saat mengenali angka yang muncul di layar ponselnya. Itu nomor rumahnya. Tangan Kyuhyun tiba-tiba terasa dingin. Kyuhyun menekan tombol hijau dan mendekatkan ponsel itu pada telinganya.
"Halo? Kyuhyun?" Terdengar suara perempuan dari seberang.
Kyuhyun bergeming saat mendengar suara Eommanya. Sudah begitu lama dia tidak mendengar suara itu, sampai-sampai Kyuhyun merindukannya.
"Kyuhyun! Ini Kyuhyun, kan?" tanya Eommanya lagi. Tenggorokkan Kyuhyun terasa kering.
"Kenapa?" kata Kyuhyun dengan suara serak.
"Kyuhyun!" seru Eommanya. "Ternyata nomornya benar! Kau ada di mana sekarang? Masih di Ilsan?"
Mendadak, Kyuhyun sadar kalau Victoria pasti sudah melaporkan segalanya pada Eommanya. Dan, Victoria mendapatkan nomor ini dari Donghae. Kyuhyun mengatur napasnya.
"Kenapa?" tanya Kyuhyun lagi.
"Kyuhyun, pulanglah," bujuk Eommanya, terdengar mau menangis. "Pulanglah, Kyuhyun. Kami menunggumu di rumah."
Kyuhyun tertawa dalam hati. Kami? Kami siapa maksudnya?
Kyuhyun masih terdiam. Sebenarnya, dia hanya ingin mendengar suara Eommanya. Kyuhyun juga takut kakau dia bicara, dia akan menangis dan ingin cepat pulang.
"Kyuhyun, kau marah dengan Eomma, ya?" tanya Eommanya kemudian. "Kau marah dengan Eomma, kan? Kyuhyun, maafkan Eomma. Maafkan Eomma, Kyuhyun."
Kyuhyun hampir tidak bisa menahan emosinya. Kyuhyun tidak menyangka Eommanya akan meminta maaf.
"Maafkan Eomma karena Eomma bukan Eomma yang baik," kata Eommanya tersedu. "Maafkan Eomma karena Eomma tidak merawatmu dengan baik. Pulang, Kyuhyun. Izinkan Eomma merawatmu sekali lagi."
Kyuhyun tetap mendengarkan tanpa bisa berkata apa pun. Rahang Kyuhyun sudah mengeras, menahan segala keinginannya untuk menangis.
"Eomma tidak akan menangis lagi, Kyuhyun. Eomma akan tegar. Eomma akan lebih percaya diri. Eomma tidak akan peduli lagi apa kata tetangga. Kyuhyun pulang, ya?" bujuk Eommanya lagi. "Kyuhyun, kalau kau pulang, ada seseorang yang menunggumu."
Kyuhyun mengernyit heran. Siapa yang menunggunya.? Victoria-kah?
"Kyuhyun?" Tiba-tiba terdengar suara berat dari seberang, membuat jantung Kyuhyun serasa berhenti berdetak.
Kyuhyun tak bisa mempercayai pendengarannya. Mungkin Kyuhyun sudah salah dengar. Mungkin Kyuhyun barusan berkhayal.
"Kyuhyun? Nak? Ini Appa," kata suara itu lagi membuat Kyuhyun benar-benar hilang kendali dadanya sesak karena mendengar suara itu untuk yang pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir.
Ayahnya terdiam sebentar di ujung sana.
"Kyuhyun? Appa tahu kau pasti sangat marah dengan Appa. Tapi, beri Appa kesempatan sekali lagi, Kyuhyun. Beri Appa kesempatan sekali lagi," kata Appanya membuat tangis Kyuhyun tak tertahan lagi.
Ayahnya juga sudah terisak.
"Appa..." gumam Kyuhyun di tengah isakannya.
"Kyuhyun, maafkan Appa, ya? Appa benar-benar bodoh sudah meninggalkanmu dan Eommamu. Enam tahun Appa nenginteropeksi diri, dan ternyata memang Appa yang salah. Kau tidak bersalah. Appa yang sudah salah karena pergi. Seharusnya, Appa tetap mendukungmu. Maafkan Appa yang pengecut ini, Kyuhyun," kata ayanya lagi membuat tangisan Kyuhyun semakin keras.
"Kyuhyun, kau pulanglah, Nak. Ayo, kita coba sekali lagi," kata ayahnya lagi. "Kali ini, Appa tidak akan lari lagi. Kita ulangi dari awal. Kau, Appa, dan Eomma."
Kyuhyun tisak bisa menjawab. Dia sudah menangis sejadi-jadinya. Seumur hidupnya, dia tidak pernah sebahagia ini. Dia sangat bahagia sampai dadanya seperti mau meledak.
Terdengar ketukan di pintu, tetapi Kyuhyun tak bisa mendengarnya. Sungmin muncul di pintu dan terkejut menatap Kyuhyun yang sedang menangis. Sungmin segera menghambur ke arah Kyuhyun.
"Kyuhyun? Kau kenapa?" tanya Sungmin panik. "Kau sakit? Apa yang sakit?"
Kyuhyun tidak menjawab. Sungmin bingung menatap Kyuhyun yang terisak hebat, lalu menatap ponsel yang sedang dipegangnya. Sungmin mengambil ponsel itu, yang ternyata masih tersambung. Ragu, Sungmin mndekatkan telinganya pada ponsel.
"Kyuhyun? Nak? Kau masih di sana?" sahut sebuah suara wanita. Sungmin terbelalak, yakin itu suara ibu Kyuhyun. Sungmin tak berani menjawab. "Kyuhyun, setelah kau tenang, kami telepon lagi, ya. Cepat pulang Kyuhyun, kami menunggu."
Setelah itu sambungan terputus. Sungmin tersenyum, sudah mengerti arti dari tangisan Kyuhyun. Ternyata, keluarga Kyuhyun mengharapkan Kyuhyun untuk pulang. Kyuhyun sekarang sudah tidak sendirian lagi.
Sungmin mengulurkan tangan untuk mengusap air mata Kyuhyun, lalu memeluknya yang masih menangis. Sungmin benar-benar bahagia karena akhirnya Kyuhyun sudah kembali mendapatkan kehidupannya.
Sungmin menitikkan air mata. Sungmin tahu seharusnya dia tidak sedih, tetapi dengan begini Kyuhyun akan lebih cepat menghilang dari pandangannya. Kyuhyun akan kembali pada keluarganya, tetapi Sungmin harus bisa mendukungnya.
Karena Sungmin sudah berjanji akan menjadi kuat untuk Kyuhyun.
.
.
.
-ToBeContinue-
.
.
.
(Song lyrics : Miley Cyrus - When I Look At You)
Hello! Oh yaa kenapa aku selipin lirik lagu disitu? soalnya waktu ngedit tbtb pengen dengerin lagu itu dannn berhubung liriknya tuh cocok banget buat ngedeskripsiin perasaan kyuhyun ke sungmin...jadi aku selipin aja deh diceritanya hehehehe...and btw aku dapet feelnya banget waktu dengerin lagu itu saran aja buat readers waktu baca nih chapter sambil ngeplay lagu itu :D
Cerita kurang 3 chapter menuju ending... so doain aja bisa update kilat yaahhh...
Thanks buat semuanya yang udah review fanfict ini...seneng ngeliat review kalian tentang cerita ini, buat saya selalu semangat update yaa hehehe :D
Review juseyooooo~~~~~~~~~~~~
