Author Note: sorry guys, hari ini aku update satu chapter saja ya? Aku sibuk buat sinopsis dan outline nih ==" maaf banget! DX –nunduk dalam-dalam—
oh yeah! Makasih banyak sudah mereview! XDD

To a reviewer name Nophie-chan and Owly Bros: wah,Sephiroth itu memang boss yang paling sulit dikalahkan ==" mendekatinya saja susah, apalagi menyerangnya ^^"

To a reviewer name KuroMaki RoXora and Hikari Shourai: weks! Kependekan! Gomene! Soalnya disengaja, tergantung judul chapternya juga! ^^"

Your Other Life

Chapter 12 : Can't log out.

"See ya tomorrow, Xion!" Kataku sebelum Xion hendak log out.

"Yeah, see ya." Xion pun log out setelah mengatakannya.

Setelah Xion log out, maka aku juga hendak log out...

"Huh?" Aku terheran-heran setelah menekan tombol log out, tidak terjadi apa-apa. "Mengapa aku tidak log out?"

Kutekan tombol log out berkali-kali, tetapi tidak terjadi apa-apa...

'Bagaimana ini?' Pikirku kebingungan.

Aku lalu memutuskan untuk mengirim message pada Ni-san untuk meminta pertolongannya. Sebelum mengirim message yang telah kutulis, seseorang lalu memanggilku...

"Sora," panggil seseorang.

Aku lalu menoleh kearah suara yang memanggilku, dia memiliki rambut silver dengan mata aqua marine. Jika tidak salah ingat, aku pernah melihatnya sekali, dia pernah terlihat ketika aku sedang menyerang Head Dog bersama Roxas.

Aku tidak dapat melupakan wajahnya meski hanya dapat melihatnya sekilas, matanya yang indah membuatku tidak bisa berhenti menatapinya...

"Kau...siapa?" Tanyaku setelah menatapinya cukup lama.

Dia tersenyum padaku. "Kau menanyakan namaku untuk kedua kalinya, Sora. Kau masih tidak ingat juga?"

"Um, aku...tidak ingat pernah berkenalan denganmu," jawabku.

"Oh, kalau berkenalan secara formal memang belum pernah. Namaku Riku," katanya sambil menyalamiku.

"Nice to meet you," kataku dengan senyum, senyum ini terasa canggung karena dia adalah orang asing bagiku. "Hey, um, bisakah kau membantuku? Entah mengapa aku tidak bisa log out."

"Kau memang tidak bisa log out, Sora," jawabnya.

"Huh? Mengapa?" Tanyaku heran.

"Kita tidak bisa," jawabnya dengan senyum sedih dan membuatku menjadi semakin bingung. "Sudah lama sekali kita tidak mengobrol seperti ini," katanya dengan senyum.

'Huh?'Sudah lama tidak mengobrol seperti ini'!' Pikirku terheran-heran. Apa maksudnya? Mengapa dia terlihat seperti mengenalku dengan baik? Jangan-jangan dia ini stalker! Aku melangkah melangkah mundur menjauhinya...

"Ada apa?" Tanyanya dengan bingung melihatku menjauhinya.

"Apa maumu?" Tanyaku dengan wajah curiga. "Kau ini stalker, bukan?"

"I'm not a stalker, Sora," Jawab Riku dengan dahi mengkerut, matannya memancarkan aura kesedihan. "Aku hanya ingin bicara denganmu karena dulu kau sering menghindariku."

'Huh? 'karena dulu aku sering menghindarinya'?' Pikirku tambah heran. 'Rasanya aku baru bertemu dengannya sekali saja, ketika hunting bersama Roxas dan Cloud saja,' pikirku sambil menyilangkan lenganku di depan dada, kepalaku menunduk menatapi tanah. 'Mungkinkah yang dia maksud adalah Ni-san?' Pikirku teringat bahwa sebelum kugunakan, Sora digunakan oleh Ni-san. "Um, Riku, kurasa kau salah orang, karena sebelum aku, yang menggunakan Sora adalah kakakku, aku baru menggunakannya beberapa minggu saja," jelasku.

"Apa...maksudmu, Sora?" Riku terlihat bingung mendengar penjelasanku.

"Begini, aku adalah user kedua Sora setelah kakakku memberikannya padaku," jelasku.

"User?" Katanya dengan heran.

"Riku, kau ini player juga, bukan? Kau pasti mengerti maksudku bahwa di dunia game ini, setiap character yang ada di sini dapat digunakan oleh siapa pun, oleh player maksudku, bahkah satu character dapat digunakan untuk beberapa user. Sebelum aku, kakakkulah yang menggunakan Sora," jelasku sambil mencoba membuat penjelasan ini mudah dimengerti.

Dia menatapiku dengan dahi mengkerut selama sejenak. "I don't get it, kau Sora, bukan?" Tanyanya.

"Nama characterku memang Sora, tapi nama asliku bukan Sora," jawabku.

"Stop lying, Sora, aku tahu kau masih marah padaku, tetapi kau tidak perlu berbohong seperti itu," katanya dengan wajah kesal.

"I'm not lying!" Teriakku kesal dikatakan berbohong.

"Venira!" Panggil seseorang dan aku segera menoleh kearah orang yang memanggilku.

"Ni-san!" Kataku dengan senang melihat keberadaan Ni-san.

"We will meet again..." Riku terlihat berjalan pergi setelah melihat Ni-san berlari kearah kami.

"Wait! Riku!" Panggil Ni-san.

Riku terlihat berlari dan tidak memperdulikan panggilan Ni-san. Tiba-tiba Riku menghilang setelah banyak angka –yang kebanyakan angka satu dan nol—muncul disekitarnya.

Ni-san lalu berhenti di sampingku.

"Ni-san, Riku itu...siapa?" Tanyaku.

"Riku, dia, untuk saat ini aku tidak bisa mengatakannya dengan pasti. Dia bukan seorang player mau pun NPC (Non Player Character). Hingga saat ini, kami masih menyelidiki apakah Riku itu Bug atau bukan," jelas Ni-san. "By the way, kau baik-baik saja?"

"Huh? Oh ya! Aku tidak bisa log out!" Keluhku.

"Aku tahu, Helmi meneleponku dan mengatakan bahwa kondisimu terlihat aneh. Dia mencoba membuatmu log out paksa, tetapi dia tetap perlu bantuan dari dalam game juga. Saat ini statusmu dalam keadaan setengah log out, tetapi kesadaranmu tertahan disini tanpa sebab yang jelas," jelasnya.

Aku pun langsung cemas ketika mendengarnya, apa yang terjadi padaku?

"Don't worry, aku kemari khusus untuk membantumu log out," katanya mencoba menenangkanku. "Sekarang, cobalah untuk relex dan tutup matamu, kosongkan pikiranmu..."

Dapat kurasakan tangan Ni-san yang besar menyentuh kepalaku setelah aku menutup mataku sesuai dengan apa yang dikatakannya. Sentuhan Ni-san perlahan-lahan terasa menghilang dan kakiku terasa mati rasa...

Samar-samar aku mulai mendengar sebuah suara, suara itu kecil, tetapi perlahan-lahan membesar dan mulai terdengar jelas. Kusadari bahwa mataku terbuka, tetapi tidak menangkap satu pun cahaya. Ketika aku mengedipkan mataku, tiba-tiba sebuah cahaya menyilaukan mataku sehingga aku menutup mataku kembali. Kubuka mataku perlahan dan menangkap sebuah bayangan...

"Sis! Sis! Bangun, sis!" Terdengar suara Helmi bro memanggil namaku, suaranya terdengar cemas.

Akhirnya mataku terbiasa dengan cahaya dan aku menangkap sosok Helmi bro, aku baru menyadari bahwa dia sedang menepuk-nepuk pipiku dengan pelan. Aneh, mengapa aku baru menyadarinya sekarang?

"Um...? Bro?" Kataku setengah sadar.

"Thank goodness..." Dia terlihat menghela napas lega. "Sejak tadi aku sangat cemas padamu, tidak biasanya sis bangun terlambat. Ketika aku mengecek sis, kondisi sis terlihat aneh. Lampu di samping kacamata yang menandakan bahwa user masih bermain telah padam, tapi sis tidak bangun-bangun meski kupanggil berkali-kali. Padahal seharusnya sis masih dapat mendengar suaraku meski masih dalam kondisi bermain," jelasnya.

Aku lalu mencoba untuk duduk. "Apakah ini pernah terjadi sebelumnya?" Tanyaku heran.

"Aku tidak tahu, tetapi ini tidak pernah terjadi padaku," jawabnya.

"Oh, apakah Dad dan Mom tahu tentang kejadian ini?" Tanyaku cemas, jika mereka tahu, mereka akan memarahi Ni-san.

"Belum, aku belum memberitahukan mereka," jawabnya.

"Helmi, kumohon rahasiakan ini pada Dad dan Mom. Aku tidak ingin mereka memarahi Ni-san di hari pertama dia pulang nanti...," kataku sambil menggenggam lengannya dengan erat.

"Ni-san akan pulang!" Tanya Helmi bro dengan wajah terkejut.

"Yeah," kataku sambil mengangguk. "Maka dari itu, berjanjilah kau akan merahasiakannya," pintaku.

"Uh, okay then," janjinya dengan setengah hati, Helmi bro sangat tidak suka berbohong, karena di keluarga kami, kami selalu dididik untuk selalu jujur.

"Thank you," kataku dengan senyum.

Aku lalu turun dengan perlahan dari kasur dan menaiki kursi roda. Helmi bro lalu mendorong kursi rodaku menuju ruang makan, dimana MomDad pastinya sudah berangkat kerja—terlihat sedang duduk di kursi.

"Pagi, Venira, tidak biasanya kau bangun terlambat?" Tanya Mom dengan heran.

"Iya," kataku dengan muka memerah. "Um, tadi, aku bangun terlalu pagi, jadi aku tidur lagi, makanya aku terlambat bangun dan akhirnya kesiangan," jelasku dengan berat hati, tentu saja itu tidak benar.

"I see..." Mom hanya tersenyum mendengarnya, senyumannya yang tulus membuatku semakin merasa bersalah karena membohonginya, maaf ya, Mom. "...kalau begitu, sarapan dulu bersama Mom dan Helmi, nanti makanannya keburu dingin jika kau mandi dulu," ajak Mom.

"Yeah," kataku dengan senyum.

To Be Continued...

Author Note: okay, maaf cuma update satu chapter minggu ini. Jika urusan mengurus novel yang tidak kunjung kelar ini selesai, aku usahakan untuk update lebih dari satu chapter!
so, review? :3