The World Before her Eyes by Himawari96
I do not own of Naruto or Shingeki no Kyojin, nor the story
Saya telah meminta dan telah menerima ijin untuk mempublikasikan serta menterjemahkan cerita ini dengan beberapa pengeditan didalamnya.
.
.
Aku tidak menemukan keberadaan Eren diatas ranjangnya saat aku terbangun. Lebih dari itu yang lebih membuatku terkejut adalah Eren dan Levi tidak membangunkanku. Sepasang baju yang teronggok diatas laci menarik perhatianku. Aku eraih sebuah jeans putih dan memakainya dngan cepat lalu setelah itu dengan cepat aku memakai kemeja putih berlengan panjang untuk menutupi tubuh bagian atasku. Menggantikan baju Eren yang sebelumnya kupakai. Kedua mata hijauku menangkap atribut lain, sepasang sepatu boots dan beberapa ikat pinggang. Alisku bertautan. Siapa y6ang membawanya kemari? Apa mungkin Hanji atau Levi? Tapi jika memang mereka, setidaknya mereka bisa skalian membangunkanku.
Bukan saat yang tepat untuk memusingkannya. Kududukan bokongku diatas ranjang lalu kuselipkan kakiku kakiku yang telah terlapisi oleh kaos kaki kedalam sepatu boots dengan cepat. Beberapa ikat pinggang kini terjepit diantara jemariku. Tanpa menunggu lama aku melilitkannya pada kedua tungkaiku sambil berusaha mengingat bagaimana benda ini terpasang pada kaki Levi. Aku sedikit meringis saat aku meligkarkan ikat pinggang ini pada kedua pahaku. Tubuhku masih terasa sakit akibat pukulan titan wanita kemarin, dan sekarang aku masih harus memakai ikat pinggang yang terasa ketat mengikat kakiku.
Aku bisa merasakan sebuah kebanggan saat akhirnya aku telah mempelajari rahasia cara memakai benda rumit ini. Selesai, dengan langkah terburu-buru aku melesat menuju kamar mandi. Membasuh wajah dan menggosok gigi sangat diperlukan sebagai pengganti mandi. Sementara busa dari pasta gigi melapisi mulutku serta sikat gigi yang terjepit diantara kedua bibir, khayalku terbnag pada kejadian tadi malam. Aku sama sekali tak merencanakan untuk 'berkencan' bersama Sasha. Dari kacamatanya, dia saat itu menyelinap menuju dapur untuk mencuri makanan bersama dengan kaptennya. Apa dia akan membahas tentang kejadian itu bersama Levi? Kuharap tidak. Kurasa itu hanya akan menimbulkan kebingungan diantara mereka, dan mungkin saja Sasha akan membocorkannya tanpa mengetahui siapa sebenarnya orang yang menjadi partnernya malam itu. Aku tidak dapat berbuat apapun selain berpikir bahwa ini akan sangat menyenangkan.
Aku meludahkan busa dalam mulutkudan berkumur sebelum meninggalkan kamar mandi. Aku melangkahkan kedua tungkaiku dengan ringan saat melewati sbuah pintu yang kugunakan tadi malam. Kurenggangkan punggungku yang terasa kaku. Entah karena terlalu terburu-buru agar tak ketahuan atau bagaimana, aku tadi malam sama sekali tak menyadari keberadaan tangga disini. Derit pintu yang kubuka memecah sunyi, segera aku melangkah menuju kantin. Masih terlihat kosong, cahaya keabu-abuan menyirami tempat ini membelah kabut merangsek dari jendela. Remang-remang, begitulah kesan yang didapatkan. Pukul berapa sekarang? Kelihatannya ini masih terlalu pagi bagi orang-orang untuk bangun tidur. Tangnku menutup pintu yang menghadap punggungku dan berjalan menuju bangku di tengah-tengah ruangan. Sekilas netra hijauku menangkap siluet seseorang diluar jendela. Aku mendongak ke permukaan kaca yang dingin dan menatap keluar demi memperhatikan orang yang terlihat sedang berjongkok di depan sebuah benda yang terbungkus di kabut dingin. Orang itu menangis. Bukan tanpa alas an tentunya aku mengatakan hal itu. Bahunya terlihat bergetar. Meskipun dalam jarak ytang tak bisa dikatakan dekat mudah saja menangkap arti gerakan semacam itu.
"Ini pertama kalinya aku melihat Kapten Levi menangis." Suara Eren mengejutkanku. Diatas sebuah kursi di dekat jendela lebar itulah dia mendudukan diri. Menatap orang disana.
"Uh, Eren! Kau mengagetkanku. Eh? Tunggu.. orang itu Levi?" kutempelkan wajahku pada kaca. Benar itu memang dirinya! Model rambutnya yang kuhafal diluar kepala itulah yang membuatku yakin seratus persen. Hanya saja rasanya aneh melihat keadaannya yang sekarang ini. Cara bahunya yang bergetar, dia menangis dalam diam.
"Kenapa dia menangis?" tanyaku dengan wajah melongo akan pemandangan yang tersaji. Punggungnya yang menghadap kearah kami membuatku tak bisa melihat seperti apa wajahnya, dan ini semakin menyulitkan untuk menebak kira-kira seperti apa ekspresinya saat ini.
"Mereka akan menguburkan mayat-mayat itu sekarang. Eld, satu-satunya anggota dalam timnya yang tidak dilemparkan dari kereta." Eren bertutur lembut, menyesap kopinya. Aku meneguk ludah. Jadi benar. Yang dibungkus itu mayat Eld.
"Haruskah aku menghampirinya?" Sekali lagi aku bertanya, rasanya aku ingin seklai menenangkannya. Tapi aku juga tidak yakin ini adalah langkah yang tepat. Jujur saja mengenal mereka selama seminggu juga membuatku merasa sangat kehilangan, terutama Petra. Tapi tentu saja ini tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Levi. Dia benar-benar peduli pada anggota timnya.
"Tidak, biarkan saja. Dia pasti akan malu jika kau melihatnya dalam keadaan seperti itu. Aku yakin itu." Ucap Eren dengan lembut, menyesap minumannya pelan-pelan, membiarkan lidahnya mengecap rasanya. Mengangguk setuju lalu akiu berjalan kerahnya.
"Apa yang lain masih tidur?" Secepat mungkin aku mengganti topic pembicaraan.
Eren menganggukkan kepalanya plan lalu menatap tepat di kedua mataku. "Sekarang jadwal piket memasak Conni dan Christa. Seharusnya mereka datang lebih awal."
"Begitu…." Kulirik permukaan meja kayu yang mengelupas. "Siapa yang membawakan baju untukku tadi pagi?"
"Bertholdt, Levi yang menyuruhnya karena dia ingin melihat Eld untuk terakhir kalinya sebelum dimakamkan. Maaf aku tadi pagi juga sedang sibuk membantu Hannes memngangkut mayat-mayat diluar." Katanya dengan muram.
Guratku meretas, jelas tidak menyukai ide itu, mendapati pria lain yang muncul dalam kamarku saat aku terbnagun dari tidurku. Terutama saat aku sednag sendirian.
"Aku ingin meminta kunci untuk kamar kita." Ucapku. Dia mengangguk setuju.
"Aku sudah mengatakannya pada Hanji. Dia bilang tunggu saja sampai minggu depan." Dia mendengus sebal.
Selama beberapa menit kami terkurung dalam kesunyian sampai Conni dan Christa merangsek memasuki kantin dengan wajah yang masoh mengantuk. Bahkan mereka berdua tidak perlu merepotkan diri untuk sekedar menyapa kami.
"Apa kita makhluk yang tak kasat mata?" tanyaku sarkastik. Sebenarnya aku juga tidak melihat kehadiran Eren tadi.
"Kuras a karena cahaya silau dari jendela. Um.. Sakura, gulungan apa yang ada di dalam lacimu?" aku meringis saat dia tak menyadari kesalahan yang telah diperbuatnya. Senyumku terbit, sama sekali tak merasa terganggu dengan fakta bahwa dia telah memata-mataiku. "M-maaf, tadi itu.. hanya hanya, aku sedang mencari sesuatu. Sikat gigi. Yeah benda itu. Lalu aku tak sengaja menemukan gulungan berwarna dengan symbol Cina."
"Jepang," aku mengoreksi. "Dan sayangnya aku tidak memiliki sikat gigi. Uh, kurasa aku harus segera mendapatkannya. Sedangkan soal gulungan itu…." Aku meraih kantung ninja milikku dan mengambil gulungan berwarna hijau. Aku meletakkannya diatas meja.
"Masing-masing gulungan berbeda. Ini gulungan senjata. Huruf kanji tidak terlalu penting dalam gulungan. Tapi pengecualian bagi guluingan informasi, jutsu atau benda-benda yang ditulis lainnya. Eren hanya diam menatapku. Benar-benar tidak mengetahui apa yang kubicarakan. Napasku terhembus, ini tidak akan mudah untuk menjelaskannya.
"Perhatikan." Asap muncul saat aku membuka gulungan. Aku hanya diam memeprhatikan, berbeda dengan Eren yang melompat mundur. Kini beberapa senjata Nampak berjejer diatas meja. Kunai berbagai jenis dan shuriken terlihat.
"Whoaa! Keren! Benda-benda ini muncul saat kau membuka guluingannya. Tapi bagaimana mungkin semua senjata ini bisa berada di dalam benda sekecil ini?" dengan hati-hati dia menguji bagian gulungan yang tidak terbuka, memastikan adanya trik. Tapi tentu saja tidak ada. Dari luiar memang terlihat seperti sebuahy gulungan dengan pita yang terikat kencang, tapi saat kaiu membukanya berbagai senjata akan berjejer diatas kertas gulungan. Jika boleh jujur ini sebenarnya sangat mudah melakukannya, bahkan seorang ninja tingkat geninpun menguasainya. Pun begitu lain di mata Eren, baginya ini sebuah ilmusihir.
"Ini jenis benda yang digubakan untuk jutsu transfer. Pada dasarnya ini sperti memindahkan benda ke tempat lain, di dalam gulungan. Dan akan muncul saat kau membukanya." Aku menjelaskan dengan hati-hati.
"Apa? Jutsu?" tanyanya dengan kebingungan oleh kosa kata yang kugunakan. Aku sudah membuka mulut bersiap untuk menjelaskan sat Jean, Sasha dan Ymir menghembur memasuki ruangan, menginterupsiku.
"Ah, si peri kecil merah muda sudah ada disini rupanya." Wanita tinggi berambut gelap iutu berseru keras, berjalan kearah akmi. Bahuku mengendik lalu aku menyusut, tidak ingin berada dekat dengannya. Reiner duduk di seberang diikuti Bertholdt, kapan mereka dating? Ymir duduk di sebelahku, lengannya yang berada diatas bahuku menarikmnya untuk lebih mendekat padanya. Aku membuat gerakan berontak dalam peganagnnya.
"Selamat pagi Eren, Sakura. Hmm, bau ini.. Christa memasak kentang. Uh, aku sangat lapar." Kata Sasha yang duduk di sebelahku. Aku hanya menatapnya dengan wajah tanpa ekspresi. Apa dia seius? Bahkan setelah yang tadi malam dia masih kelaparan?
"H-hei Ymir, kau akan menyakitinya jika memegangnya dengan cara seperti itu…." Bertholdt berujat gagap dengan maat yang menatapku cemas.
"Menyakitinya? Seorang bocah setengah titan yang bahkan mungkin bisa saja merobohkan gedung ini hanya dngan berjalan menembusnya?" Tanya Ymir sarkastik, terlkihat sedang menantang pria jangkung itu. Bertholdt menunduk, memainka kedua ibu jarinya.
Aku memisahkan diri dari Ymir dan memandangnya dnegan serius. "Bagaimanapun juga aku akan menghargainya jika aku memberiku ruang untuk bergerak." Ucapku ringan, yang sukses membuatnya mengernyit.
"Tentu saja." Jawabnya singkat. Menopang sikunya diatas meja dan menatap gulungan dengan senjta diatasnya.
"Apa itu?" Suara berat Levi yang tiba-tiba membuat kami semua membalikkan badan. Dia berdiri menjulang dengan sebuah cangkir dalam genggamannya. Pria itu sama sekali tak menunjukan tanda-tanda habis menangis. Dia terlihat seperti si tua dingin Levi.
"Kapten, Sakura baru saja ingin bercerita tentang desanya." Gumam Eren menyahutinya.
Aku tersenyum dan memberi isyarat padanya untuk duduk di sebelah Sasha. Levi menurut, menarik sebuah kursi dari meja lain dan meletakannya di sebelah Sasha. Tubuhku menegang, mengetahui benar masalah diantara mereka.
"Selamat pagi, kapten. Bagaimana tidurmu?" Sasha berkata blak-blakan. Aku hampir menjerit. Kedua matanya menatap Levi.
Levi balas menatap Sasha dengan alis terangkat, rupanya Sasha tidak pernah menanyakan hal semacam itu. Oh bagus. "Pagi. Tidurku nyenyak, terimakasih." Ucapnya dingin, menyesap minumannya.
"Begitu..." respon Sasha kini menatap dalam mata Levi. Aku semakin gugup.
"Dammit! Siapa yang memakan semua makanan yang kusimpan?! Pudingku juga lenyap!" Jean meraung penuh kemarahan. Botol yang sebelumnya terisi puding itu terhempas ke lantai sebelum diinjak oleh alas sepatunya. Aku menunduk merasa bersalah.
"Mungkin saja kau sudah memakannya, hanya kau tak ingat." Ymir berteriak kearahnya dengan sebuah senyum lebar.
"Huh?" Jean menggaruk kepalanya yang tak gatal, nampak berpikir penuh. Sasha sesekali mencuri pandang kearah Levi saat dia meminum teh atau cairan apapun itu yabg ada di dalam cangkirnya. Dia menggigit kukunya gugup.
"Benar, kau pasti sudah memakannya. Hei, apa kau tidak ingin mendengar tentang desaku?" Aku menginterupsi dengan cepat, melambaikan tangan di udara. Jean hanya bersungut-sungut pelan lalu mengambil kembali botol di bawah kakinya dan melontarkannya ke tong sampah.
Aku hanya menatapnya saat dia berjalan kearah kami. Tak lama Armin dan Mikasa muncul dengan hidung yang mengendus-endus udara, kelaparan. Aroma masakan Christa dan Conni terbaea beraama udara dalam ruangan. Si pirang duduk di sebelah Reiner sedangkan Mikasa memilih berada di dekat Ymir. Sepertinya gadis itu tidak menginginkan kehadiran Bertholdt dan teman berototnya disana, membuatnya tidak bisa duduk di dekat Eren. Jean menarik kursi dan meletakannya di dekat Mikasa.
"Jadi, seperti yang sudah kau katakan sebelumnya, Sakura. Apa itu jutsu?" Tanya Eren, sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan.
"Ah, jutsu merupakan sejenis kemampuan atau teknik. Setiap orang dengan seni ninja di desaku setidaknya harus memiliki satu jutsu. Hanya orang tertentu yang memiliki kemampuan seperti menyemburkan api, melempar pusaran angin, atau kekuatan besar sepertiku."
"Hei, kau bilang menyemburkan api? Apa kau serius? Terdengar menggelikan." Gumam Jean meragukan ucapanku.
Ymir mendengus. "Berubah menjadi titan mungkin juga terdengar menggelikan bagi orang-orang di desanya, asal kau tau." Seberapa besar aku membenci wanita ini, aku tetap menyukai caranya membelaku. Jean yang merasa tersinggung hanya diam saja lalu menopangkan kepalanya diatas telapak tangan kiri.
"Salah satu mantan rekan timku bisa melakukannya. Dia unggul dalam jurus api. rekan timku yang lain sekaligus sahabatku pengguna elemen angin. Dia bisa memusatkan chakra di telapak tangannya dan membentuk energi yang dikombinasikan dengan angin untuk menyerang musuh. Dia benar-benar seorang yang kuat, jauh lebih kuat dariku." Senyumku merekah saat mengingat Naruto yang sedang berlatih dibawah air terjun beberapa bulan lalu. Aku mengintipnya. Dia selalu berusaha keras untuk menjadi kuat, dan dia berhasil melakukannya dengan baik.
"Menarik. Terdengar seperti semacam pahlawan super. Err.. Sakura, tadi kau mengatakan bahwa di desamu tidak ada titan. Apa itu artinya desamu adalah tempat yang damai?" Tanya Armin. Aku merenung, memikirkan jawaban atas pertanyaannya.
"Tidak juga. Selalu saja ada masalah yang timbul antar desa. Dan kami baru saja akan terlibat dalam sebuah perang sebelum aku tiba disini. Pria yang bisa memiliki kuchiyose ular ini mengkhianati desaku beberapa tahun yang lalu. Dia kembali untuk menghancurkan desa." Aku menghela napas, cemas.
Armin memberiku tatapan penuh simpati. "Bagaimanapun disana pasti lebih baik dibandingkan dengan tempat ini. Lihat kami semua, dengan tanpa kekuatan super seperti yang kalian miliki, kami tidak dapat melakukan apapun selain bertarung dan gagal. Padahal kami manusia terakhir..."
"Keadaan sudah berubah. Sakura da Eren ada di pihak kita." Levi berucap tenang. Armin hanya mengangguk.
Dengan malu-malu Armin kembali berucap, "apa kami bisa pergi kesana?"
"Kurasa tidak. Ini akam membutuhkan banyak chakra, dan aku juga tidak yakin jika tubuhku akan baik-baik saja. Aku harus menggunakan segelku. Tapi bagaimanapun aku bisa memperbaikinya dengan kemampuan titanku. Untuk orang normal agar bisa melewati gulungan, mungkin seperti Eren. Dia setengah titan dan bisa pulih. Tapi aku masih belum mencobanya, ini membutuhkan waktu." Ucapku panjang lebar. Armin mengangguk mengerti.
"Tadi kau bilang bahwa kau bisa memanggil seekor siput untuk menyembuhkan. Bagaimana bisa?" Bertholdt bertanya dengan penasaran, dia mengunci pandanganku dengan tatapan memuja.
"Beberapa ninja di tempatku memiliki hewan pemamggil, terutama sanin. Ninja lainnya juga memilikinya. Hewan kuchiyose milikku seekor siput raksasa, mungkin hampir seukuran dengan titan, atau mungkin sesikit lebih besar. Katsuyu bisa berbicara, dan memiliki kemampuan menyembuhkan."
Wajah Sasha mengernyit. "Ew.. kau menamainya?"
Ujung alisku berkedut sebal. "Dia binatang baik, sangat tenanh, dan penurut. Dan tidak, aku tidak menamainya. Kurasa dia besar dengan nama itu. Masing-masing hewan kuchiyose memiliki tempat sendiri dimana mereka tinggal. Katsuyu tinggal di hutab lembah, hutan siput. Aku bisa pergi ke tempat itu mengingat aku membuat kontrak dengan siput, guru pembimbingku belum mengatakan ini sama sekali. Sahabatku bisa memanggil katak raksasa dan mantan rekan satu timku bisa memanggil ular besar."
"Tebak, berapa banyak jumlah garam yanh dibutuhkan untuk membunuh benda seperti itu..." gumam Jean. Aku melempar tatapan tajam padanya.
"Katsuyu akan menggepengkanmu bahkan sebelum kau berusaha melakukannya." Aku menyeringai dengan perempatan siku di dahiku. Kurasa terkadang Jean perlu untuk dipukul. Dia hanya cemberut dan mertasikan kedua bola matanya. "Mentorku juga bisa memanggilnya, syarat untuk bisa memanggil binatang ini adalah harus menarik darah dan setiap kali aku melakukannya, maka yang terjadi adalah akuakan berubah menjadi titan..." ucapanku terhenti dengan pasrah.
"Kau bisa melakukannya selama kau tidak memiliki tujuan dalam kepalamu." Eren meyakinkanku.
"Tapi bagaimana bisa aku melakukannya?"
"Bukan hal yang mustahil. Aku akan membantumu." Levi menyahut membuat jantungku berpacu dengan cepat. Aku hanya bisa menunduk, sedikit tersipu.
"Terimakasih." Gumamku pelan. Hei, tunggu dulu.. dia orang ynag telah menendangku waktu persidangan. Dia akan membantuku dengan cara menendang bokongku setiap kali aku membuat kesalahan.
"Apa menurutmu dia bisa mengalahkan titan kolosal?" Eren bertanya dengan pelan, menggenggam cangkirnya. Bertholdt dan Reiner bertukar pandang.
"Aku tidak yakin soal itu. Zat asam yang disemburkannya cukup kuat untuk melelehkan batu. Jikapun bisa menyemburkan padanya aku hanya ragu jika titan itu akan kembali pulih. Zat asam memang terlalu kuat, tapi aku belum pernah melihat titan yang sedang bertarung. Jadi aku tidak bisa menjaminnya."
"Jenis titan peledak yang menjadi mimpi buruk bagi kami, jika kita bisa menyingkirkannya mungkin hidup kita akan lebih baik." Jean berujar gusar.
"Hei, kau tetap menunjukan pada manusia api itu sebagai mantan rekan, apa yang terjadi?" Ymir menginterupsi. Aku merajuk.
"Dia pergi dan tak kembali. Aku tak ingin bercerita tentangnya." Ucapku cepat. Jika aku menceritakan tentang Sasuke sekarang itu hanya akan membuatku menangis. Dan itu akan sangat memalukan.
"Oh, maaf." Gumam Ymir. Tidak ada yang menanyaiku lebih jauh mengenai ini. Aku bersyukur.
"Ja-jadi jutsu keren apa lagi yang kalian miliki?" Tanya Reiner, mencoba mengalihkan topik.
"Seorang temanku yang sangat pemalas bisa mengendalikan bayangan dan melumpuhkanmu dengan bayangan itu. Rivalku, seorang gadis yang sangat menggilai lelaki bisa mengambil alih tubuhmu dalam kurun waktu yang telah ditentukan. Dan guruku, Kakashi dia bisa memanggil anjing dan menggunakan genjutsu. Sebuah jurus yang b erusaha menjebakmu dalam sebuah ilusi hanya dengan menatapmu dengan mata kirinya."
"Kau jadi terdengar sangat biasa jika dibandingkan dengan mereka." Lirih Jean dengan malas. Oh, baiklah aku sudah kehilangan kesabaran.
"Maaf ya, aku akui memang saat masih kecilaku tidak bisa berbuat banyak. Tapi sekarang aku seorang ninja medis terbaik di desaku. Bahkan kekuatanku melampaui mentorklu. Tidak seorangpun di desaku yang bisa mengontrol chakra untuk hal-hal seperti itu."
"Kau orang yang kuat. aku yakin kau juga merupakan aset berharga di duniamu." Puji Bertholdt, tersenyum.
Aku membalas senyumnya. "Tentu saja! Aku adalah murid salah satu legenda sanin." Pria ini cukup pengertian, aku menykainya.
"Jadi di duniamu kalian menggunakan kunai-kunai itu, dilihat dari kesopananmu kau pasti orang Jepang. Selain itu juga karena huruf kanji dan romanji yang tertulis di guluingan itu." Mikasa tiba-tiba bersuara. Dia selalu menjadi orang yang pendiam di sekitarku, mendengarnya berbicara seperti melihat Hinata berteriak marah.
"Ah, ya. Tentu saja. Apa kau orang Jepang, Mikasa?" Aku bertanya penasaran. Dia tidak terlihat sepertiorang Jepang sepnuhnya. Wajahnya berbeda.
"Aku campuran. Ibuku berasal dari Jepang, sedangkan ayahku berasal dari Ameruika." Katanya terus terang.
"Begitu..." Hanya itu yang mampu kuucapkan. Jika boleh jujur aku ingin menanyainya lebih, tapi memeprtimbangkannya sekali lagi aku memilih untukmemendamnya saja.
"Kau berasal dari Jepang? Seingatku mereka sudah tidak ada lagi keberadaannya disini. Ini seperti kau keturunan Jepang terakhir yang masih terisa. Berada di jalanan mencari kegelapan. kau adalah target utama, terutama dilihat dari penampilanmu yang.. menonjol." Papar Jean memperingatkaku.
"Begitu..." Aku tidak tahu harus mengatakan apa.
"Hal seperti itu tida akan terjad dibawah pengawasanku. Anggta tim dalam regku tidak akan berakhir dengan cara senista itu." Ucap Lvi dengan dahi mengernyit. Aku menggigit bibir untuk menghentikan rasa angat yang merayap. Kenapa ucapannya membuatku merasa seperti ini? Ini bukan seperti seolah-olah dia akan menjagaku. Atau mungkin aku hanya lelah.
Eren menginterupsi lamunanku. "Hei, gulungan ini keren. Pasti kalian berpikir bahwa senjata-senjata ini akan terasa mustahil bisa berada didalamnya 'kan? Lihat ini!" Ern menatapku seolah meminta ijin, aku hanya menganggukan kepala pelan. Dia memegang sebuah gulunga dan membukanya. Asap yang mengepul membuat orang-orang terkejut. Beberapa senjata yang muncul dari gulungan yang terbuka membuat mereka menganga.
"Cukup menarik." Untuk sekali ini ucapan si muka kuda membuatku tak ingin memukulnya.
"Tentu saja, senjata-senjata ini terssembunyi did alam gulungan, dan hanya akan muncul saat kau membukanya. Ini benda terkeren yang pernah kulihat." Seru Eren.
"Biar kutebak, ii poasti akan sangat berguna ntuk menyembunyikan majalah porno." Ucap Jean sekali lagi dengan volume kencang. Bertholdt dan Eren merona. Levi terbatuk palsu. Aku hampir saja menyemburkan tawa. Hei, apa Jean benar-benar mengatakannya? Hoho.. kelihatannya aku bisa mengambil keuntungan dari ini.
"Tentu saja, kau bisa menyimpan semua kolesi majalah pornomu disana. Yang harus kau lakukan adalah memakai segel jadi yang lain tidak akan membukanya. Kalau kau mau aku bisa menjual satu untukmu. Aku masih punya yang lain di dalam kamarku." Aku berucap santai. Aku sangat membutuhkan uang. Aku tidak akan bisa bertaha hidup dsini dengan cara menjual senjataku.
"Apa?!" Sasha menjerit, rona merah menghiasi kedua ppinya.
"Jika yang kau butuhkan adalah uang, kenapa bukan senjatam saja yang kau jual? Kau akan untung besar." Gumam Eren.
"Diam, bodoh! Janga memberinya ide. Sakura, sebutkan harga yang kau tawarkan." Jean berseru sekali lag.
Aku tersenyum lebar. "Kita bisa mmebicareakan hal ini di waktu yang lebih tepat, kita bisa berbisnis nanti." Ucapku padanya.
Jean menyodorkan tangannya kearahku. "Sepakat?" Ymir terkikik. Aku menjabat tangannya dengan erat. "Yep, kita sudah sepakat." Dia tersenyum lebar.
"Apa-apaan ini?" Gumam Reiner, seperti orang linglung. Levi menggelengkan kepalanya pelan, tidak yakin dengan apa yang baru saja dia lihat.
"Menarik, kaan kalian akan pergi menuju regu kalian?" Suara Hanji yang mengagetkan membuat kami semua berbalik pada meja di belakang kami.
"He? Ka-kapan kau ada disana?" Jean tergagap. "Kapan dia ada disini?" Dia bertanya pada Reiner.
"Da sudah berada disana sejak tadi. Bagaimana rasanya saat kai mengetahui ternyaa kau suka membaca majalah porno?" Komentar Levi. Jean memberengut.
"Oh, ayolah, kapten. Sebagai seorang pria kita pasti memikirkan ini! Jangan bilang kau belum pernah membacanya sepanjang hidupmu?" Serunya. Levi tak merespon.
"Mesum." Ucap Sasha, mengerucutkan bibir. Jean hanya mengerang kesal, tak ada satupun pria yang membelanya.
"Sebenarnya wanita juga memikirkan hal ini. Terutama seorang remaja, jadi jangan menyangkal. Sasha, Sakura, Mikasa." Seu Hanji dengan senyum teramat lebar. Wajah kami hanya merah padam. Memang benar, hanya saa aku tak perna memikirkannya terllau jauh. Paling jauh aku ahnya membaca Icha Icha Paradise, yang hampir membuatku mimisan sepanjang waktu. Sekarang aku mengerti kenapa Kakashi ketagihan.
"Ini buruk..." gumam Armin merasa tak nyaman.
"Apa yang sedang kalian bicarakan?" Conni muncul di belakang kami dengan sekeranjang buah-buahan dalam tangannya. Mike berdiri di sebelahnya dengan semangkuk sup dan Christa memegang semangkuk kentang goreng dan roti hangat.
"Makanan!" Seru Sasha dengan wajah riang.
"Cepatlah dan antre, para anggota lainnya akan muncul sebentar lagi." Perintah Mike. Semuanya kecuali aku, Hanji dan Levi berhambur menuju direksi dimana Conni, Christa dan Mike menyiapkan makanan.
Bertholdt menengok kearahku. "Kau ingin aku mmebawakan makanan untukmu?" Tanyanya denga sopan. Aku hanya mnggeleng.
"Tidak, terimakasih. Eren akan membawakannya untukku." Aku sudah tahu ika dia akan bertanya seperti itu melihat dia memegang dua mangkuk.
"Begitu..." Jawabnya terlihat kecewa lalu pergi.
Hanji duduk di seberangku, sementara Levi bangkit dari kursinya untuk duduk di sebelahku. Dia hany menatap saat aku mengambil glungan dan meletakannya ke dalam kantong ninja miliku. Matanya masih terpaku padaku. Apa yang dilihatnya?
"Jadi. sejak kapan kalian menjadi 'sepasang'?" Tanyanya tiba-tiba. Aku menatapnya tajam.
"Maaf?" Aku dan Levi brucap bersamaan. Dia mengerutkan dahi.
"Ya.. kemarin aku berjalan menuju ruang masuk di ruang bawah tanah dan ahh.. pintu kamarmu terbuka. Aku melihat Levi duduk diatas ranjangmu dan kau bersujud.. diantara kakinya. Dia melempar kepalanya kebelakang, dan ekspresinya saat itu, aku tidak pernah melihatnya sebelumnya. Menurutku itu semacam blowjob." Ucapnya panjang lebar.
Levi menyemburkan minumannya dan tersedak, terbatuk dengan kasar. Wajahku semerah kepiting rebus. "Aku menyembuhkannya! Ada apa denganmu?! Ba-bagaimana bisa kau mengatakan hal.. hal semacam itu?!" Jeritku.
"Oh, begitukah? Aku akan senang melihat kalian..." gerutunya. Aku mengrang. Hanji terlalu blak-blakan dan jujur. Dia membutuhkan pelajaran tentang bagaimana menjaga privasi. Aku harus menutup pintu lain kali.
"Bodoh. Itu hanya akan terdengar seperti mengambil keuntungan dari seorang ocah." Ucap Levi, merasa frustasi dengan wanita bertubuh tinggi ini. Hanji cemberut.
"Usia hanyalah sebuah angka." Dia bernyanyi, membuat Levi mengurut baang hidungnya dengan frustasi.
"Usia jelas huruf, sekarang diam." Desisnya. Aku menatapnya. Jadi berapa umurnya? Dia pasti tak lebih dari dua puluh lima tahun, dan aku tujuh belas tahun. Jadi kenapa dia begitu mempermasalahkannya? Apa dia sudah sangat tua? Aku merasa sangat penasaran, tapi begitu melihat Armi, Eren dan Mikasa berjala kearah kami dengan makanan, kurasa aku akan menanyakannya lain waktu.
"Kapten? Kau bilang nanti sore akan ada pertemuan. Apa yang akan kita lakukan sebelumnya, apa aku memiliki waktu luang?" Aku bertanya dengan berharap penuh.
"Tidak. Kau harus membersihkan bangunan di dinding Rose." Jaanya dengan rendah. Aku mengerang, ingin rasanya aku menagis meraung-raung sekarang juga. Si brengsek ini.. akan mempekerjakanku sampai mati.
Eren dan lainnya meletakkan piring diatas meja lalu duduk. Piringku penuh oleh sup ayam dengan nasi beerwarna keemasan. Kombinasi yang aneh, dan warna yang aneh untuk nasi.
Hanj dan Levi bangkit untuk mengambil makanan mereka. Ruangan semakin dipenuhi oleh orang-orang. Aku menunduk merasa bersalah. Aku tidak bisa mengatakan bahwa mereka bukan apa-apa. Kebanyakan wajah mereka terlihat seperti mayat hidup, kosong. Mereka menderita.
"Apa ini?" Tanyaku. Mengangkat sendok untuk mengambil nasi dengan warna keemasan.
Armin mengolesi mentega pada kentangnya. "Sup ayam dengan nasi tomat. Ini enak."
Aku mengarahkan sendok kedalam mulutku dan meraskannya. Membiarkan rasanya terkecap oleh lidahku. Aku mengunyah dngan pelan. "Mmm.. ini enak." Ucapku.
Kami semua makan dengan tenang saat kebisingan di sekitar kita smakin bertambah oleh orang-orang yang saling berbincang. Panas dari makanan ini membantu menghangatkan tubuh kita dari rasa dingin.
.
.
"Apa benar ini tempat terkahir yang dikunjunginya?" Seorang anita pirang berdiri di sebuah tempat terbuka didalam hutan. Beberapa bayangan menari disekitarnya saat dia berjalan mengelilingi tempat dimana muridnya menghilang. Tsunade sudah mencarinya selama dua hari, dan dia mulai merasa cemas. Awalnya Sakura membolos kerja selama dua hari, dan hal ini membuatnya marah atas sikap malas-malasan Sakura. Namun dia mulai merasa gugup saat dia berjalan menuju rumahnya dan bersiap untuk memarahinya. Dia menemukan rumah itu dalam keadaan kosong. Shikamaru menghampirinya dan mengatakan padanya bahwa Sakura sedang berlatih.
"Benar, disini. Dia mengataka bahwa dia ingin berlatih disini. Setelah itu tidka ada seorangpun yang melihatnya." Ucap ninja pemalas itu. Mereka menyisir area tersebut dengan hati-hati saat melihat jejak-jejak pertarungan. Tidak berguna.
"Mungkin dia hanya sedang berkunjung ke dea lain dan teralihkan?" ucap Shikamaru ampak berharap penuh.
"Dia tidak.. akan melakukannya, dia tahu bahwa dia harus memberitahukannya terlebih dulu padaku. Dia.. pasti diculik." Suara Tsunade terdengar terputus-putus. Dia sangat cemas.
"Ini Sakura, tidak mungkin dia diculik." Ucap Shikamaru tenang.
"Sakura tidak akan mungkin pergi saat akan terjadi perang! Dia tiak akan mengabaika Naruto!" Serunya dengan marah. Shikamaru tersentak. Wanita pirang itu mengambil napas dalam, berusaha menenangkan diri. "Maaf, aku tahu dia tidak akan mengkhianati kita, dia pasti diculik oleh musuh. Seeorang yang tidak bisa dikalahkannya. Ini pasti Orochimaru atau bahkan Akatsuki. Pasti." Dia memandangi hutan. Meneraang.
"Jadi sekarang bagaimana?" Tanya Shikaaru, dia juga khawatir pada gadis merah muda itu. Tapi raanya mustahil jika Sakura diculik, sesuatu yang lain pasti terjadi. Hanya dia tidak tahu apa itu.
"Hubungi Suna, mereka pasti melihatnya ..." mereka berdiri dalam keheningan beberapa saat. "Sakura, kau dimana?"
.
.
TBC
Ugh. I'm sowwyyy.
Entah harus mengatakan apa, sebenarnya cukup dihantui rasa bersalah(?) saat harus melalaikan fic ini selama berbulan-bulan. Belakangan kesibukan di RL membuat saya ampir tak memiliki waktu untuk update chap ini dengan cepat. Selain itu juga dunia RP akhir-akhir ini benar-benar mencuri perhatian saya/plak
oke lupakan, Sekali lagi maafkan ika membuat kalian semua menunggu lama. Akan saya usahakan untuk update secepatnya/tapi ngga janji loh heheh :" dan mohon harap maklumi jika banyak typo yang tersebar(?)
see you guys on next chapter *dadahin*
