Desclaimer : Masashi Kishimoto
Reply review:
#may : iya ini lanjut, makasih banyak udah nunggu, makasih juga read reviewnya :v
#maehime : weehh, ada apa denganmu? XD kamu gak suka Itachi sama Pain wekekeke siapa pair favoritmu? Btw, makasih banyak read reviewnya :D
#Cindy : who, makasih banyak pujiannya . jadi seneng nih..ahaha gomen, tp dr depan ore kan udah pasang plakat (?) besar2 kalo ini fanfic shonen ai, jadi ya yaoi XD makasih banyak read reviewnya ya…
Makasih juga buat yg udah review : Ai Shfly, alta0sapphire, hyuashiya, Kim In Soo, akira yamada, and Shinkwangyun makasih banyak read reviewnya
.
.
.
Chapter 12 : Bloodthirst
.
.
.
Namaku Sasuke Uchiha.
Dan aku baru saja tersentak bangun dari mimpi burukku, ah…ya, jika itu bisa disebut mimpi. Aku duduk di ranjangku, terengah, menatap pria bersurai jingga dengan wajah penuh piercing yang juga menatapku. Hanya saja ia menatap dalam diam, menunggu reaksiku. Aku membuka mulutku untuk mengucapkan sesuatu, tapi tak ada kata yang keluar dari sana. Dan detik berikutnya yang kutahu adalah bahwa aku terisak tanpa air mata. Aku menangis, memeluk lututku dan menyembunyikan wajahku di sana, kedua tanganku mencengkeram kakiku sendiri dengan kuatnya. Aku menangis…tapi tak ada air mata yang keluar dari kedua sudut mataku
Ah, tubuh vampire brengsek!
Aku menyumpahi tubuhku sendiri yang semua sistemnya sudah tidak berfungsi bahkan hanya sekedar untuk memproduksi air mata.
Pat…pat…
Aku merasakan tangan Pain menepuk kepalaku, mencoba menenangkanku, dan kurasa itu berhasil. Aku mengangkat wajahku, kembali menatap Pain.
"Ne~…" ucapku pada akhirnya. "Apa semua yang kau perlihatkan tadi benar?" aku hanya ingin memastikan apakah yang Pain perlihatkan tadi—kejadian tiga tahun yang lalu—itu benar.
Pain mengangguk.
Aku kembali menundukkan pandanganku. Jadi…Itachi-nii tidak bersalah. Dia hanya…terpaksa membunuh Karin, ahh—…tidak membunuh, meminum darahnya. Dan sekalipun Itachi-nii tak meminumnya, Karin juga sudah tak terselamatkan.
"Sebaiknya kau tidak buka mulut pada siapapun, dan jangan sampai Itachi tahu. Dia pasti membunuhku," ucap Pain.
"Tapi bagaimana dengan keluarga Naruto? Mereka harus tahu kebenarannya! Mereka tidak bisa terus menyalahkan Itachi-nii atas—…"
"Teme!" bentak Pain. "Kalau Itachi memang ingin mereka tahu, dia tidak akan tutup mulut sampai detik ini!"
Aku terdiam. Menatap Pain tajam.
"Biarlah. Memang ini yang diinginkan aniki-mu!" tambah Pain. "Daripada itu, sebaiknya kau menghawatirkan kondisimu sendiri," ucap Pain dan melangkah ke arah pintu. Ia berhenti sejenak dan menatapku. "Kalau kau mulai merasakannya sebaiknya kau mencariku, daripada kau berkeliaran di luar sana," ucapnya lalu menghilang entah kemana.
Apa maksud ucapannya tadi? Merasakannya? Merasakan apa?
Aku hanya bisa diam untuk beberapa lama, hingga aku mengingat satu hal. Point utamanya…point utama aku menanyakan kejadian tiga tahun yang lalu itu untuk mengetahui bagaimana cara mengubah Itachi-nii kembali menjadi manusia, dan aku belum mengetahuinya! Lalu aku lupa menanyakannya dan sekarang Pain sudah pergi.
"Damn!" Omelku.
~OoooOoooO~
Aku baru saja melakukan lompatanku yang ketiga, dan mencapai rekor baru lagi. Sepertinya tubuh vampire ku mempengaruhi.
"Great job, Sasuke! Dengan begini—…"
"Kakashi-sensei," potongku. "Kemarin aku sudah tidak mengikuti olympiade. Kenapa aku masih harus berada dalam tim untuk kompetisi."
"Well, karena kemampuanmu sayang untuk dilewatkan," jawab Kakashi-sensei. "Dan pastikan pertandingan yang akan datang kau akan berpartisipasi."
"Aku tidak janji," jawabku dan berjalan menuju bangku, mengambil botol minuman dan menenggak isinya. Aku benar-benar haus.
"Wow, badass," komentar Dobe sambil menyerigai dan mengambil botol minumannya sendiri. Aku hanya mengernyitkan dahi tak mengerti, dan Naruto menunjuk botol minum yang ada di tanganku. Sudah hampir kosong. "Kau menghabiskan 1500ml hanya dalam sekali teguk," cengirnya seraya menenngak minumannya sendiri.
"Heh!" aku hanya balas menyeringai dan melanjutkan minumku hingga tak tersisa setetespun dari botol yang kupegang. Gilanya, aku masih merasa haus, dan aku mengambil satu botol lagi dari kotak minuman.
"Nanti kau kembung minum sebanyak itu," protes Dobe.
"Aku hanya haus," bantahku dan kembali minum.
"Well, tapi cuaca kan tidak begitu panas. Kenapa kau bisa sehaus itu?"
Aku hanya mengangkat bahu sebagau respon. Aku sendiri tidak tahu, aku hanya merasa haus, jadi aku minum. Tapi aku sedikit heran juga saat tenggorokanku masih terasa kering bahkan setelah menghabiskan dua botol air minum.
"Yosh, istirahat selesai. Lanjutkan latihan," komando Kakashi-sensei
Kami segera ke lapangan dan memulai latihan seperti sprint di tempat dan lari bolak-balik jarak pendek untuk melatih otot kaki. Nafasku tersengal setelah latihan-latihan itu, tidak sepeti biasanya.
"Oke, sekarang kembali latihan melompat," ucap Kakashi-sensei. "Kali ini tinggi—…Sasuke, Sasuke? Kau baik saja?"
"Hah?" aku menatap Kakashi-sensei.
"Kau baik saja?"
"Well, not really," jawabku. "Aku haus."
"Kalau begitu minumlah. Aku tidak ingin ada yang pingsan karena dehidrasi."
Aku mengangguk dan segera berlari secepat yang aku bisa menuju kotak minuman yang berada di tepi lapangan. Aku benar-benar haus, tenggorokanku seolah tercekik. Dan tepat sebelum tanganku dapat meraih kotak minuman itu, aku kehilangan kesadaran.
~OoooOoooO~
"…suke…Sasuke…"
Perlahan aku membuka mataku, dalam pandanganku yang masih suram aku melihat wajah Dobe.
"Ngh…" aku mengerang pelan dan mencoba bangun, tapi Dobe kembali mendorongku berbaring.
"Tiduran saja. Jangan banyak bergerak," ucapnya dan mengambilkanku sebotol air lengkap dengan sedotan, supaya aku tak perlu bangun untuk meminumnya. "Bagaimana keadaanmu?" tanya Dobe.
Aku tak menjawab, sibuk menumpahkan air yang ada di botol ke dalam perutku.
"Heh, bagaimana mungkin kau bisa pingsan sih? Masa karena kehausan?" ocehnya lagi yang masih tak kujawab. "Padahal kau sudah minum sebanyak itu. Jangan-jangan kau sedang bertranformasi menjadi putri duyung ya?"
"Urusai Dobe," kesalku dan melemparkan bantal tepat ke wajahnya, tapi ia malah tertawa. Aku memijit keningku pelan dan melihat sekeliling, baru menyadari keadaan sekitarku. Aku berada di ranjang UKS, matahari senja menrobos masuk lewat jendela UKS yang tirainya tertiup angin. Astaga, apa Dobe terus menungguiku sampai jam segini?
"Latihannya?" tanyaku dan beranjak duduk.
"Sudah selesai. Kakashi-sensei menyuruhku mengantarmu pulang."
"Oh…" aku menuruni ranjang. "Terimakasih. Tapi tidak perlu," cuekku dan melangkah menuju pintu UKS dan berhenti sejenak. "Dan terimakasih telah menungguiku," lanjutku dan melanjutkan langkah.
Mungkin aku keterlaluan dengan bersikap dingin pada Dobe yang sudah rela menungguiku sampai jam segini dan berniat mengantarku pulang, tapi aku hanya ingin pulang secepatnya. Tubuhku…entahlah. Aku merasa ada yang aneh dengan tubuhku.
"Tadaima," lirihku saat memasuki rumah. Aku mendengar aniki tengah berbincang dengan Pain. Astaga, vampire itu masih di sini?
"Aku sudah mengirim Konan ke tempat itu, jadi aku yang akan pergi ke district 101," suara Pain.
"Tapi district yang Konan periksa itu…bukankah yang paling parah? Kenapa bukan kau yang ke sana?" suara aniki.
"Daripada hal ini, aku lebih menghawatirkan keadaan otouto-mu. District 101 adalah yang terdekat dari sini. Hubungi aku kalau terjadi sesuatu padanya."
Untuk kemudian suasana hening, sepertinya Pain sudah pergi. Aku memasuki ruang tengah menemui aniki.
"Okaeri," sambut Itachi-nii yang melihatku.
"Pain sudah pergi?" tanyaku.
"Yeah. Ada urusan," jawabnya. "Then, how was your day?"
"Well…" aku terdiam sejenak, berniat untuk menceritakan kejadian tadi tapi batal. Toh itu Cuma dehidrasi biasa, dan sekarang aku sudah baik-baik saja. Jadi tidak masalah kalau aku tidak cerita. "…great…" sambungku.
Aniki menatap sejenak sebelum mengangguk pelan.
"Aku ke kamar dulu," lanjutku dan melangkah menuju lantai dua.
Jam menunjuk angka 6 saat aku keluar dari kamar mandi, dan itu tandanya aku akan kembali menjadi immortal. Aku bisa merasakan perubahannya, suhu tubuhku yang menurun, organ-organ dalamku yang berhenti bekerja, juga tubuhku yang akan baik-baik saja walaupun aku tidak memasukkan oxygen ke paru-paru ku. Yeah, walau aku harus terus berpura-pura bernafas supaya orang yang melihatku tidak akan merasa ada yang salah denganku.
"Sasuke," panggil Itachi-nii yang sudah berdiri di depan pintu kamarku.
Aku hanya menoleh sambil mengeringkan rambutku.
"Kau…mau makan?"
Aku mengernyit. Makan? Makan yang 'itu'kan? Maksudku, dia tahu kan saat ini aku sedang menjadi vampire, satu-satu nya kata 'makan' yang bisa diartikan hanyalah 'membunuh' manusia. Dunia pasti sudah gila kalau sampai aniki menawariku untuk makan.
"Err…maksudku, kau sudah lama tidak makan kan. Yeah, sesekali kau kan juga perlu makan," lanjut aniki.
Aku mendengus pelan. "Aku baik-baik saja," senyumku tipis. "Lalu…"
Zap!
Aku melesat cepat ke samping aniki dengan kecepatan vampire ku, lalu menubruk tubuhnya dan membantingnya ke ranjang, memeluknya erat.
"Daripada itu bagaimana kalau aku menahanmu di sini? Sudah lama kita tidak menghabiskan waktu bersama."
Itachi-nii tertawa pelan dan menepuk punggungku. "What's gotten into you?" tanyanya.
"Nothing." Jawabku.
Aku hanya bisa diam, memeluk aniki erat. Sudah berapa banyak hal yang ia lalui dan seberapa menyakitkannya itu. Sementara aku malah terus menyalahkannya tanpa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Aku…benar-benar merasa bersalah.
"Ne~ Sasuke," ucap Itachi-nii. "Kau tahu kau bisa menceritakan semuanya padaku."
"Yeah aku, tahu," jawabku. Aku mengangkat tubuhku dan menatapnya. "Aku sangat tahu," senyumku. Dan aku tahu aku tidak akan menambah beban yang kau bawa. Jadi aku tidak akan mengatakan sepatah katapun padamu.
~OoooOoooO~
Aku tengah berjalan di koridor sekolah saat Naruto menegurku.
"Kau sekarang jadi kappa atau apa?" canda Naruto. Aku hanya mengernyitkan dahi tak mengerti. "Well, yang kulihat akhir-akhir ini kau tidak pernah kemanapun tanpa botol minuman di tanganmu, dan sebagian besar waktu yang kau gunakan adalah mengosongkan isi botol itu ke dalam perutmu," lanjutnya.
Aku mengangkat pundakku. "Entahlah, akhir-akhir ini aku merasa selalu haus."
"…" terdiam, Naruto bahkan menghentikan langkahnya. "…haus…?" tanyanya ragu.
Aku juga menghentikan langkahku, menatapnya heran.
"Yeah, haus," aku memperjelas ucapakanku. Maksudku, memangnya aneh kalau orang minum karena merasa haus? "Kenapa?"
"Err…bukan apa-apa," ucapnya kemudian. "Jaga-jaga saja supaya kau tidak menjadi kappa betulan hahaha," tawanya dan melangkah mendahuluiku. Tapi setelah beberapa langkah, ia berhenti dan menoleh ke arahku.
"Ne~ Sasuke…" panggilnya. "Kalau kau merasa ada yang aneh, sebaiknya kau langsung mencariku. Daripada nanti terjadi hal yang tidak diinginkan."
Aku hanya bisa mematung. Kenapa dia dan Pain bisa mengatakan hal yang sama?
~OoooOoooO~
"Sasuke!" bentak Asuma-sensei saat aku meminum tegukan air ku yang terakhir. "Siapa yang mengizinkanmu minum di dalam kelas!?"
"Aku haus," jawabku. Dan sekarang aku butuh air lagi karena botolku sudah kosong.
"Kau bisa menahannya sampai waktu istirahat tiba!"
"Sensei, boleh aku ke kantin untuk membeli air lagi?"
"KAU TIDAK DENGAR APA YANG BARUSAN KUKATAKAN HUH?!"
Tapi aku haus, benar-benar haus. Aku harus minum.
"Kau tidak akan kemanapun sebelum bel istirahat dibunyikan!"
Aku hanya bisa mematung, mengikuti pelajaran dengan sedikit susah payah saat nafasku mulai tersengal. Aku bahkan sudah tak bisa berkonsentrasi hanya untuk mendengarkan penjelasan Asuma-sensei. Leherku serasa tercekik.
"Buka buku halaman 76! Kau dengar?!" omel Asuma-sensei sambil menggebrak mejaku.
Tapi tanganku tidak bergerak untuk membalik halaman buku, melainkan memegangi leherku. Aku semakin tersengal, nafasku semakin berat.
"Ohok…!" aku terbatuk, nafasku tercekat, nyaris tak mampu memasukkan udara ke paru-paruku.
"Sasuke…? Sasuke…?"
Aku mendengar suara Asuma-sensei yang mulai khawatir dengan kondisiku, tapi aku bahkan tak bisa merespon untuk mengatakan aku baik-baik saja seperti yang biasa kukatakan pada siapapun yang menanyakan keadaanku.
Aku harus minum. Aku butuh air!
Aku berdiri, menyingkirkan tubuhku dari meja dan berjalan, tapi aku terjatuh. Tubuhku terasa sakit, aku kenapa? Aku kenapa? Rasa sakit ini…tidak mungkin karena dehidrasi kan? Rasa sakit yang kurasakan semakin kuat, tapi aku tidak tahu bagian mana dari tubuhku yang sakit. Seolah rasa sakit itu mengalir di dalam tubuhku, di sepanjang pembuluh darahku. Aku menjerit, tidak begitu memperhatikan kepanikan orang-orang di sekitarku.
"Sasuke…!"
Samar aku mendengar teriakan Dobe, lalu dalam pandanganku yang buram aku melihatnya terburu-buru menghampiri dan mendekap tubuhku erat.
"Sasuke…Sasuke…" panggilnya berulang-ulang.
Tapi aku sama sekali tak mempedulikannya, atau lebih tepatnya, aku tidak bisa peduli. Fokusku teralihkan pada leher Dobe, dan tubuhku bergerak sendiri seolah mengikuti insting. Aku menggigitnya, leher Naruto. Tanpa taring vampire.
"Arggh…!"
Kudengar Naruto menjerit, tapi aku tak berhenti. Bisa kurasakan darahnya mengalir ke mulutku, tapi rasanya tidak enak. Bau anyir menerobos ke hidungku melalui mulut, rasanya menjijikkan dan membuatku ingin muntah. Aku melepas gigitanku pada leher Naruto, memuntahkan kembali darah Dobe yang sempat masuk ke mulutku.
"Naruto, darahmu tidak mau berhenti," panic Asuma-sensei sambil mencoba menghentikan pendarahan Dobe.
Hebat! Tentu saja, aku menggigit tepat di arteri carotis nya, darahnya tidak akan berhenti kecuali aku punya kekuatan vampire untuk membuat lukanya menutup kembali. Sekarang apa?
"Arrrgghh!" aku menjerit kembali saat rasa sakit kembali menyengat tubuhku, kali ini lebih parah dari sebelumnya. Seolah seluruh organ dalamku nyaris meledak. Aku mencengkeram kuat tangan Dobe yang berusaha menahan gerakanku, aku mendengar ia mengerang pelan, tapi aku tak melepaskannya, begitu juga dengan dia, bukannya mencoba melepaskan diri, dia malah mendekapku erat.
"Sasuke…!"
Kali ini aku mendengar suara Itachii-nii, lalu ada tangan yang menutup mataku hingga aku tak dapat melihat apa-apa. Atau mungkin…aku kehilangan kesadaran…?
~OoooOoooO~
"…baik saja?"
Aku mendengar orang bercakap-cakap. Tapi tidak begitu jelas. Suara mereka menggema. Saat aku membuka mata, yang kulihat adalah bayangan buram. Aku mengerjap beberapa kali untuk menjernihkan pandanganku, barulah aku mengenali sosok mereka. Naruto dan Itachi-nii.
"Jadi…Sasuke sudah tahu semuanya?" tanya Itachi-nii dengan kepala sedikit tertunduk. Naruto mengangguk pelan. Aniki menghela nafas. "Maaf soal Karin," lanjutnya.
"Aku tidak akan pernah memaafkan pembunuh sepertimu," jawab Naruto. "Kau yang membunuh Karin-neesan. Aku tidak akan pernah memaafkanmu! Sampai kapanpun."
Jadi aniki tetap tidak mau buka mulut tentang apa yang sebenarnya terjadi?
"Nii-san," panggilku lemah, sengaja menginterupsi pembicaraan mereka. Kalau aku tidak boleh menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, setidaknya aku tidak ingin pembicaraan penuh kesalahpahaman ini terus berlanjut.
"Sasuke…!" keduanya sama-sama menghampiriku. Aniki langsung mengusap kepalaku, menyingkirkan surai hitamku yang menutupi wajah. Dalam keadaan dekat, aku bisa melihat memar di tangan Dobe—bekas cengkeramanku—dan lehernya yang masih meninggalkan bekas luka walau—mungkin—Itachi-nii yang sudah menutup lukanya.
"Umm…Aku baik saja," ucap Dobe sambil menyentuh luka di lehernya. "Bagaimana perasaanmu?" tanyanya khawatir.
"Tubuhku sakit," jawabku jujur, suara terdengar lemah bahkan oleh pendengaranku sendiri. Dan rasa sakit langsung menyengatku saat aku mencoba menggerakkan jariku.
"Sebenarnya apa yang terjadi padaku?"
Aniki terdiam, menatapku. Matanya memancarkan keraguan antara mengatakannya atau tidak.
"Tell me," aku mendesak.
"Umm…well, kau tahu kan, resiko kalau kau meminum darah Naruto? Maksudku…clan Namikaze. Kau akan berubah menjadi Half Mortal karena kau harus meminum darah yang sama untuk tetap hidup, dan kau bisa meminum darahmu sendiri sebagai Half Mortal. Tapi dalam kasusmu…" ia menghentikan penjelasannya, merasa aku sudah tahu apa kata yang akan ia ucapkan selanjutnya.
"Aku tidak bisa meminum darahku sendiri karena saat aku menjadi vampire, aku tidak memiliki tubuh manusia," ucapku. "Jadi rasa haus yang kurasakan bukan karena dehidrasi, tapi karena seharusnya aku meminum darah clan Namikaze?"
Itachi-nii hanya mengangguk sebagai tanda iya.
"Maaf Sasuke, aku tidak tahu akan begini jadinya," ucap Naruto. "Aku kira aku bisa memberikan darahku kapan saja kau membutuhkannya, tapi ternyata…"
Kami sama-sama terdiam untuk beberapa saat.
"Well, sekarang harus apa?" tanya Naruto pada akhirnya. "Kalau kita tidak melakukan sesuatu Sasuke akan terus merasa kehausan kan? Dan dia tidak bisa meminum darahku saat menjadi manusia."
"Tidak ada pilihan lain selain menunggu sampai malam," jawab Itachi-nii.
"Tapi saat malam aku tidak merasa haus. Seperti malam sebelumnya, aku juga baik-baik sa—…" dan ucapanku terpotong oleh dering ponsel aniki.
"Sorry," ucapnya lalu menekan tombol answer dan meletakkan handphone nya di telinga. "…di UKS…ranjang no.3 dari arah pintu…" Itachi mendesah lelah. "God…" gumamnya malas lalu mengibaskan tangannya seolah menarik kembali sebuah kekkai. Lalu barulah tampak sosok bersurai jingga tengah berdiri di depan tirai ranjang dengan wajah kesal.
"You expect me to know where you are when you inside YOUR barrier?" omel Pain. "For real?"
"Sorry," jawab aniki innocence.
"Kau—…!" Naruto tercekat begitu melihat Pain.
"Aku mengerti kebencianmu, tapi tidak ada gunanya kau menyerangku karena aku bisa dengan mudahnya mematahkan lehermu," ucap Pain frontal dan langsung menghampiriku tanpa mempedulikan tatapan kebencian Naruto. "Sudah kubilang datang padaku kalau kau mulai merasakan sesuatu."
"Teme, mungkin kau harus kembali ke bangku sekolah supaya bisa mengucapkan kalimat yang bisa dimengerti oleh orang lain," bantahku balik, tapi ia malah mencibir.
"Well, aku lupa kalau otakmu tidak ada setengahnya dari Itachi."
Aku Cuma bisa melotot kesal.
"Pain, berhenti menggodanya," protes Itachi-nii.
"Tch!" decihnya lalu menarikku bangun secara paksa.
"Aaaarrgghh…!" aku menjerit. Menggerakkan jari saja rasanya benar-benar sakit, dan sekarang dia menggerakkan seluruh tubuhku?
"Don't be a spoiled brat!" geramnya, lalu tanpa peringatan ia menancapkan taringnya di leherku.
"AAAAAAARRRRRRRGGGHHHHH…!" aku menjerit, rasanya benar-benar sakit.
"Apa yang kau lakukan!" aku mendengar Naruto berteriak dan menyerang Pain, tapi Itachi-nii menahannya.
Beberapa detik kemudian Pain menarik taringnya dari leherku, tapi rasa sakit itu masih ada. Aku berteriak, memberontak, hingga aku mencium bau yang sangat menggoda. Ya…bau darah! Mataku langsung berpaling dan terfokus pada surai pirang yang memiliki aroma nikmat itu. Aku menerjang ke arahnya, ingin menancapkan taringku di lehernya.
"Not so fast," tapi Pain menahan tubuhku, membantingku ke ranjang dan menjadikan tangannya sebagai objek gigitanku.
Aku meronta, tidak! Bukan ini yang aku inginkan! Yang aku inginkan adalah darah Dobe! Yang aku—…tapi aku berhenti memberontak saat ada darah yang mengalir ke mulutku. Rasanya sama dengan darah Dobe. Nikmat. Dan tanpa pikir panjang aku memegang lengan Pain erat, meminum darahnya. Aku meneguknya dengan rakus, dan ini sama sekali tidak cukup. Aku ingin meminum lebih, aku tidak akan berhenti meminumnya. Hingga Pain menjambak rambutku dan melepaskan gigitanku darinya.
"Sudah cukup Teme, produksi darah Half Mortal jauh lebih sedikit dari manusia!" ucap Pain dan menekan kepalaku ke ranjang.
"Graaarrr…!" aku menggeram, memberontak. Tapi Pain lebih kuat.
"Biarkan dia meminum darahku," ucap Dobe. Nah, Dobe saja sudah membiarkanku meminum darahnya, kenapa Pain masih melarangku?! Lepaskan aku! Lepaskan aku!
"Apa kau buta huh? Dengan keadaannya yang seperti ini, dia bisa meminum semua darahmu sampai tak tersisa setetespun!" jawab Pain.
Tidak, aku tidak akan meminumnya sampai habis! Aku hanya butuh minum darah Namikaze sedikit lebih banyak lagi. Tapi aku tidak akan membunuhnya! Biarkan aku minum! BIARKAN AKU MINUM!
"Tapi dia tampak kesakitan! Kalau darahku bisa sedikit meringankan—…"
"Dia ini immortal. Sesakit apapun, dia tidak akan mati!"
Tapi—…"
"Tch! Urusai!"
Apa?! Tidak akan mati katamu?! Tapi ini menyakitkan! Kalau kau tidak membiarkan aku minum, bunuh saja aku! Biar rasa sakit ini hilang!
Aku mencengkeram leherku sendiri, aku akan mematahkannya. Dengan begitu aku tidak akan merasa sakit lagi. Aku akan—…
"Sasuke…"
Aku mendengar suara Itachi-nii, dengan nada yang lembut seperti yang selalu ia lakukan tiap kali ia memanggil namaku. Dan tanpa sadar aku menghentikan gerakanku.
"Ne~ Kau bilang ingin berenang minggu depan?" ucapnya. Ia meraih tanganku, melepas genggamannya dan mengganti dengan tangannya untuk kugenggam. "Aku akan menemanimu. Tenang saja, aku akan bolos rapat."
"Nii-san," panggilku dengan suara serak. Aku mulai bisa memandang secara jernih, aku bisa menatap wajah Itachi-nii. Wajah penuh kelembutan yang selalu aku rindukan. Aku tersenyum. "Hei, aku Cuma bercanda waktu itu. Aku Cuma menggodamu saja, tubuh mati vampire mana bisa mengapung dalam air."
Itachi-nii balas tertawa. "Kalau begitu menyelam mungkin terdengar bagus."
"Yeah, kurasa."
"Tch!" kudengar Pain mendecih kesal.
"Apa?" omelku.
"Itachi itu milikku. Jangan mencoba memonopolinya."
"Haaaahhh? Sejak kapan!" aku bangkit, menantangnya.
Aku sudah nyaris membantah omongannya saat aku melihat Dobe duduk terjatuh ke lantai.
"Naruto!" panggilku dan langsung melompat untuk menghampirinya, tapi Pain menahanku.
"Untuk sementara kau jangan berdekatan denganya," ucap Pain.
Sebagai gantinya, Itachi-nii yang memapah Naruto.
"Maaf, aku hanya lega Sasuke tidak apa-apa," ucap Naruto.
"Apa maksudmu aku tidak boleh mendekatinya?" tegasku.
"Dengan kondisimu sekarang, kau bisa membunuhnya tanpa kau sadari."
"Tapi aku—…"
"Kau masih belum bisa menekan instingmu. Sebelum kau bisa mengendalikannya, sebaiknya kau jangan banyak bicara."
Aku hanya bisa merengut kesal, berniat membantah saat kulihat Pain menghentikan gerakannya. Untuk sesaat aku tidak mengerti, tapi aku lalu menyadari kalau ia sedang menerima telepati.
"Tch!" decihnya beberapa saat kemudian.
"Semakin parah?" tanya Itachi-nii.
Pain mengangguk. "Kali ini di daerah utara. Sepertinya malam ini aku harus memeriksanya."
"Memeriksa apa?" tanyaku. "Apa ini juga yang kau lakukan saat pergi kemarin?"
"Ya."
"Apa yang sedang terjadi."
"Well, bisa dikatakan…" Pain terdiam sejenak, dan entah kenapa ia menatap tajam ke arah Naruto. "Pembunuhan vampire secara masal."
.
.
.
~ To be Continue ~
