Kuroko No Basuke milik Fujimaki-sensei #SUMIMASEEENNN!
Story plot ya milik saya #digebuk
SORRY UPDATE LAMA!~~~ QAQ #ojigi
Enjoy reading!~ /( 0w0)/
Title: Balada Saudara Tiri
Category: Anime/Manga » Kuroko no Basuke/黒子のバスケ
Author: D.N.A. Girlz
Language: Indonesian
Rating/Rated: K+ (T untuk kedepannya)
Pairing: Nijimura x Fem!Kagami, Kisedai!Brothers + their step-sisters (pairing lain menyusul)
Genre: Family, Humor garing, Friendship, Romance, sedikit OOC dll; terserah reader maunya apa.
[Third's POV]
Seperti biasa, yang memimpin adalah kakak tertua Nijimura bersaudara. Sarapan berlangsung dengan tenang namun sedikit diselingi dengan pembicaraan ringan.
Gimana sih ini bahasanya.
Ada beberapa yang berbincang dengan topik ringan dan ada juga yang menyeletukkan lelucon maupun candaan, membuat suasana cukup bersahabat.
Lalu, tiba-tiba entah angin apa yang bersemilir—salah seorang dari Nijimura bersaudara itu bertanya dengan pertanyaan yang menohok hati.
Tepatnya dari seorang Nijimura Tetsuya.
"Aku akan bertanya tentang hal yang personal. Maafkan aku karena membuat kalian tidak nyaman. Tapi…" Dia menggantungkan kata-katanya beberapa saat sebelum mengucapkannya.
"Apakah… Kalian sudah punya pacar?"
Sepersekian detik itu juga, Navira langsung tersedak makanan yang akan ditelan, (Name) hampir menjatuhkan sendok makannya, Ichiira langsung melirik intens padanya.
Sekejap itu juga, suasana di ruang makan langsung hening.
"Kenapa Tetsuya-Niichan bertanya seperti itu?" tanya (Name) pada pemuda berambut biru muda itu dengan sedikit kaget.
"Tidak, aku—lebih tepatnya kami hanya ingin tahu saja. Tidak lebih." jawab sang Nijimura bungsu menjawab pertanyaan (Name).
"Memangnya ada apa hubungannya dengan kalian?" celetuk Kagami pertama tiba-tiba, sedikit curiga akan pertanyaan mereka.
"Sebenarnya tidak ada hubungannya dengan kami. Kami hanya… Ingin tahu saja." ujar Tetsuya pada Navira dengan mengandalkan wajah datar profesional-nya.
Dua Kagami itu melirik ke arah sang Kagami bungsu, dan yang bersangkutan memberi aba-aba pada dua saudarinya dengan tatapan rahasia mereka bertiga.
"Baiklah, kami akan menjawab pertanyaan 'kepo' kalian berenam." sahut Ichiira yang sejak tadi hanya diam sambil membuat tanda kutip dengan tangannya saat mengatakan kata 'kepo'.
Sang enam bersaudara itu menunggu jawabannya.
"Kami bertiga belum punya pacar. Sama sekali tidak ada. Semuanya single." jawabnya dengan mantap.
"Yakin?" Seijuurou tiba-tiba bertanya seperti host kuis di tv.
"Ya, kami yakin 100%." ucap Ichiira dengan mutlak sambil menatap langsung ke dalam iris merah Seijuurou.
Seketika itu juga, Seijuurou bisa merasakan bahwa Ichiira memiliki aura yang bisa membuat semua orang langsung tunduk padanya, dan merasakan bahwa Kagami bungsu itu menatapnya hingga menebus jiwanya.
Aduh, bahasanya.
"Tapi, kami melihat kalian bertiga berjalan bersama laki-laki-ssu? Apakah… Mereka pacar kalian-ssu?" tanya Ryouta dengan raut muka yang agak gimana gitu.
"Yang mana? Dan—Bagaimana kalian bisa berkata seperti itu?" tanya Navira balik pada Ryouta—yang membuat enam Nijimura yang ada disana terhenyak dan mulai dag-dig-dug hatinya kayak ketemu gebetan aja.
Maaf author galau.
"Ryouta sialan, malah keceplosan begitu!" Daiki kesal dalam hati mengumpat pada sang adik kepala kuning.
"Tolong jelaskan bagaimana kalian bisa berkata seperti itu?" tanya (Name) yang membuat Nijimura bersaudara semakin terpojok.
Pemuda-pemuda berambut pelangi itu hanya dapat melirik ke arah satu sama lain seolah mencoba berkomunikasi untuk mendapatkan suatu keputusan tanpa tiga Kagami yang ada disana tahu.
"Ehmm.. Be-Begini… Sebenarnya kami mengikuti kalian di hari dimana kalian pergi keluar untuk bertemu dengan teman-teman kalian, karena kami takut kalian kenapa-kenapa saja." ceplos Daiki sedikit ragu dan malu sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal—hingga muncul sedikit rona merah di wajahnya seperti anak gadis SMA yang tengah menyatakan cinta pada senpai-nya.
Mau nembak atau mau ngejelasin apa, woi?
"Oohh.. aku sudah menduganya dengan betul kalau itu kenyataannya." celetuk Ichiira memicingkan matanya sambil melihat ke arah keenam pemuda berambut pelangi yang ada diruang makan.
"Hah? J-Jadi kalian sudah tahu kalau kami mengikuti kalian?" sahut Shintarou sambil menatap mereka bertiga tak percaya sementara Ichiira mengangguk kecil.
"Awalnya kami tidak tahu, tapi setelah aku merasakan ada yang aneh—aku melihat Tetsu-Nii dan Atsu-Nii menguntitku, dan akhirnya aku mengirim pesan kepada kedua kakakku kalau kami sedang diikuti oleh kalian." jelasnya singkat padat dan jelas.
Atsushi menyahut, "Hee… Jadi laki-laki yang bersama dengan kalian itu bukanlah pacar kalian, ya?"
"Jelas bukan." Navira menghela napas singkat.
(Name) melanjutkan, "Kami tahu kalian berusaha menjadi saudara yang baik, tapi kami bisa menjaga diri kami sendiri. Dan kalau ada apa-apa, pasti akan kami ceritakan pada kalian semua. Jadi, tolong mengertilah kami."
Nijimura bersaudara itu termangu sejenak sebelum bertatapan satu sama lain, sebelum akhirnya Seijuurou berucap, "Baiklah kalau begitu, kami hargai privasi kalian. Kami takkan mengikuti kalian lagi—tapi jika ingin pergi, izin terlebih dahulu atau bilang kepada salah satu daripada kami. Kami juga punya tanggung jawab terhadap kalian selama Ayah dan Mama tidak ada di rumah."
Ichiira dan Navira tersenyum dan bertos ria.
"Terima kasih, Seijuurou-Niichan. Kami berjanji." (Name) tersenyum lembut dan berterima kasih padanya dan dibalas anggukan oleh Seijuurou.
Setidaknya mereka bertiga bisa diatur dengan baik dan mereka bisa berkoordinasi dengan teratur.
Semoga normal-normal saja.
Semoga.
[SKIP TO A FEW DAYS…]
"Shintarou-Nii."
Pada siang hari yang terik dan cerah dia hari Minggu itu, Shintarou menoleh ke arah Ichiira yang memanggil namanya. Pemuda itu sedang membaca buku sembari duduk santai di ruang tamu dan menikmati minum teh hijau untuk menenangkan jiwa.
"Ya, ada apa?" tanyanya sambil menatap pada sang Kagami bungsu.
"Aku ingin beli cemilan di minimarket terdekat—aku cukup jalan kaki saja. Nanti Navira-Neechan juga berpesan, kalau nanti ada yang datang mencari dia—langsung panggil saja. Katanya ada temannya yang datang mau meminjam buku catatan." jelasnya pada sang pemuda berambut hijau daun tersebut.
Shintarou mengangguk kecil. "Baiklah, tapi cepat pulang—bukannya apa ya, tapi sebentar lagi sudah mau senja-nanodayo."
"Tidak usah tsundere, Shintarou-Nii." ceplosnya santai.
"Aku tidak tsundere-nodayo!" semprotnya.
"Aku tahu kok. Aku pergi dulu." ujarnya sembari mengenakan membuka pintu depan.
"Hati-hati."
Ichiira keluar dari pintu ganda bagian depan rumah tersebut sebelum pintu tertutup lagi olehnya.
Shintarou menghela napas singkat dan kemudian berjalan masuk ke dalam untuk mengambil beberapa roti dikarenakan sedikit mengalami lapar. Beberapa belas menit kemudian, disaat dia akan duduk di sofa empuk, terdengar suara dari luar.
TING TONG
Merasa jengkel karena bunyi bel yang mengganggu, akhirnya Shintarou terpaksa meletakkan piring berisi potongan roti di meja dan berjalan menuju pintu ganda tersebut. Dia membuka pintu dan mendapati bahwa seorang pemuda berdiri di hadapannya saat ini.
"Hm? Mencari siapa?" tanya Shintarou pada pemuda tersebut.
Pemuda tak dikenal itu menjawab seadanya. "Saya temannya Kagami Navira, mau mengambil buku catatan yang dipinjam olehnya."
Dia meneliti sambil diam beberapa saat ketika melihat secara keseluruhan penampilannya. Merasa tak ada yang aneh, pemuda berambut hijau itu pun mempersilahkan masuk sang tamu untuk duduk menunggu di ruang tamu.
Shintarou berkata, "Tunggu disini, biar kupanggilkan Navira." Lalu iapun berlalu dari sana.
Pemuda yang duduk di sana hanya bisa diam sambil mencuri lirik ke segala penjuru ruangan. Ini baru pertama kalinya dia ke rumah teman perempuannya yang baru, karena dia tahu rumah Navira dulu ketika ibu temannya masih menjanda.
Tak disangka, Seijuurou yang memakai baju santai—kaos hitam dan celana panjang hijau melekat di tubuhnya—lewat dengan sebuah kunci mobil ditangannya.
Berniat untuk menyuruh pelayan agar mencuci mobil sport merah kesayangannya di garasi pada hari Minggu seperti ini, dan dia bisa bersantai sambil menikmati libur sebelum besok pergi ke kantor untuk bekerja.
Niat untuk jalan terhenti dikarenakan menemukan seseorang yang tak dikenal berada di ruang tamu yang luas tersebut. Sambil mengernyitkan dahi, dia mencoba tenang karena curiga siapa yang berani masuk ke kediaman rumah keluarganya. Dia berjalan menuju pemuda yang tengah melihat-lihat patung miniatur keramik berwarna putih di meja ruang tamu.
"Ada perlu apa kesini?" tanya Seijuurou langsung ke intinya, membuat seseorang yang ditanya mendongak dan menjawab dengan nada biasa walaupun aura intimidasi terlihat dari balik punggung pemuda berumur dua puluh lima tahun tersebut.
"Saya datang kesini untuk bertemu dengan seseorang."
Seijuurou berbalik tanya. "Memangnya siapa?"
Belum sempat mendapatkan jawaban, masuklah Navira dan Shintarou yang cukup terkejut dengan Seijuurou yang berbicara dengan seseorang yang sesaat tadi mencoba menjawab pertanyaannya.
"Seijuurou," sahut Shintarou, membuat pemuda yang dipanggil namanya menoleh.
"Kalian berdua.." Seijuurou sedikit bingung kenapa dua makhluk itu bisa masuk disaat dia ingin bertanya pada orang asing tersebut.
"Chii-chan, selamat datang!" Navira langsung sumringah ketika melihat seseorang yang ia kenal, segera berlari dan menubruk—memeluk erat sang pemuda berambut kelabu tersebut hingga hampir terjatuh.
Kacamata Shintarou hampir melorot jatuh.
Seijuurou sweadtrop kuadrat dengan tak elitnya.
'HAH? CHII-CHAN?'
Pemuda yang dipanggil demikian langsung berantisipasi akan pelukan maut sang gadis berambut gelombang yang dikuncir kuda tersebut.
"Tolong jangan lakukan pelukan mautmu, Kagami. Aku tidak bisa bernapas…" Dia sudah terlambat mengantisipasi karena pelukan Navira sudah mengenai dirinya.
"Hehehe… Kau jangan begitu—akhirnya kau datang juga. Aku bosan menunggumu sampai ingin menelponmu dua kali tadi." Bibirnya mengerucut beberapa senti setelah ia melepaskan pelukannya.
Sang pemuda menjawab sambil menghela napas, "Aku sedang dalam perjalanan, kau tahu. Lagipula, rumah kalian terlalu besar dan sulit mencarinya. Untung tadi bertemu dengan Ichiira."
"Iya, iya—maaf." Navira menyerah.
"Maaf mengganggu—tapi Navira, siapa dia?" tanya Seijuurou memecahkan percakapan diantara kedua orang tersebut.
"Oh iya—kalian belum kenal dia. Adik-adikku sudah kenal, sebenarnya. Ini Mayuzumi Chihiro, teman sejurusan sekaligus sahabat karibku." Navira memperkenalkan sang pemuda berambut kelabu tersebut sambil memeluk lengan kirinya.
"Yoroshiku." jawab Mayuzumi singkat dan datar bagai seseorang yang kedua Nijimura itu kenal auranya.
.
Nama lengkap: Mayuzumi Chihiro
Nama panggilan: Mayuzumi, Chihiro,Chihiro-Niisan, Mayu-kun, Chii-chan (khusus hanya Navira saja yang bisa panggil), Mayu-pyon (panggilan dari Mibuchi dan dianggap tidak ada), Chihiro-chan, Mayuzumi-san
Umur: 18 tahun
Status: Single; lagi menjomblo seperti teman-temannya. Sangat hati-hati memasang target yang pas.
Tingkat kepintaran: normal—cukup pintar
Pekerjaan: mulai masuk kuliah semester pertama; jurusan Sastra Bahasa Inggris
Keterangan: anak tunggal, suka sama light novel,seorang pengoleksi dan expert light novel otaku yang parah, makanan kesukaannya tiramisu cake, sifatnya datar bak tembok, sudah bisa anteng kalau ada light novel disisinya, bisa jadi acuh tapi bisa jadi perhatian juga, paling diam diantara teman-temannya Navira, masuk klub basket, paling tidak suka pekerjaan yang menyita tenaga—tapi kadang Navira menyeretnya ke dalam masalah yang menguras tenaga, sepupu dari Hayama Koutarou—teman sekolah Ichiira.
Ciri-ciri: tinggi badan 182 cm, berat badan 69 kg, goldar AB, horoskop; Pisces, rambut kelabu bak awan mendung, rambut disisir rapi atau dibiarkan berantakan, warna mata kelabu, kulit putih.
.
Seijuurou dan Shintarou tak habis pikir, kenapa seseorang seperti Navira mempunyai teman datar bak tembok dingin Berlin seperti Mayuzumi Chihiro.
"Chii-chan, ini dua orang dari enam saudara baruku. Yang ini Nijimura Seijuurou—yang tertua disini, lalu yang ini namanya Nijimura Shintarou, anak kedua." Navira yang tidak tahu apa-apa akan pikiran kedua saudara tersebut langsung saja memperkenalkan keduanya pada Mayuzumi.
Seijuurou mengangguk kecil dan Shintarou berjabat tangan dengannya.
Mata hijau Shintarou melirik ke arah lengan Mayuzumi yang dipeluk Navira sedari tadi, tapi dia hanya diam saja.
"Navira, kenapa kau memeluk lengannya terus? Dia tidak bisa leluasa bergerak." sahut Seijuurou yang juga memperhatikan tingkahnya sejak tadi, membuat yang bersangkutan menjawab dengan enteng.
"Nggak apa-apa, kok! Lagipula, aku biasa melakukannya dengan Chii-chan sepert ini. Ya 'kan, Chii-chan?" ujar sang gadis menoleh ke arahnya.
"Karena kau yang memaksaku, Kagami. Padahal aku tidak mau."
"Ah, Chii-chan jahat!" protes Navira, memeluk lengannya lebih erat lagi—membuat Mayuzumi harus sedikit miring karena lengannya dipeluk terlalu erat.
Shintarou berdeham, mencoba mengembalikan topik semula dan alasan inti. "Navira, bukannya temanmu ingin meminjam buku catatan?"
Navira kaget, menepuk dahinya. "Ah! Iya, ya. Aku lupa, Shin-kun! Ayo, Chii-chan, kita ke kamarku sekarang—"
"Tidak boleh, Navira." Seijuurou tahu kalau Navira akan mengajaknya ke kamar sang gadis.
"Memangnya kau siapaku, ha? Kami juga tidak akan macam-macam." Navira menjulurkan lidahnya sinis dan menarik Mayuzumi masuk ke dalam.
Shintarou dan Seijuurou hanya bisa diam di sana.
"…."
"…."
Mereka saling melirik satu sama lain.
"Mau mengikutinya?" celetuk Seijuurou.
Hening sesaat.
"…Aku harus tahu apa bintang horoskopnya. Aku curiga kalau dia tidak meminjam buku catatannya." sahut Shintarou.
Detik itu juga, kakak beradik kubu Nijimura pertama tersebut segera enyah dari sana.
Sementara itu...
Ichiira berjalan dengan santai di trotoar jalan. Dengan memakai baju terusan berwarna krem, jaket cardigan berwarna putih, dan rambut dikepang satu, dia berjalan menuju minimarket terdekat sebagai tujuan.
"Cuacanya mendung. Sebentar lagi hujan, ya." gumammu kecil sambil mendongak. Di hari seperti ini, biasanya dia akan menuju taman kota dan membaca buku di bangku taman untuk menikmati tenangnya suasana (kalau di rumah dia susah berkonsentrasi dikarenakan kedua kakaknya yang berisik). Orang-orang berjalan, angin sepoi yang sejuk khas musim gugur yang datang sebentar lagi—tinggal menunggu waktu saja, mengiringi langkahnya—membuat suasana hati tambah tenang.
"Rasanya aku akan membeli beberapa minuman yogurt. Aku akan membelikannya untukku dan (Name)-Neechan. Ah, Navira-Neechan minta coklat juga.." Tak lama kemudian, ia berjalan masuk ke sebuah supermarket.
Setelah berkutat dengan daftar belanjaan dan barang-barang belanjaan selama 30 menit, gadis yang sedikit chubby itu keluar dari sana dengan menenteng dua kantong belanjaan besar.
"Umph!"
Ketika akan berbelok ke kiri di arah lain, Ichiira tak sengaja ditabrak oleh seseorang yang berjalan berlawanan ke arahnya—membuat kantong belanjaan miliknya terjatuh.
Ichiira berusaha sabar dan tidak mau kesal—karena kalau sudah kesal sekali, dia bisa menundukkan kepala korban dengan sekali perintah—bahkan hewan sekali pun.
"Ma-Maafkan aku!"
Hm?
Sepertinya Ichiira kenal suaranya.
Gadis itu mendongak dan terdiam sejenak—tak menyangka kalau yang menabraknya adalah orang yang dia minta bantuan untuk menjadi pacar bohongannya.
"…Wakamatsu-kun?"
Raut wajah kaget terpantri jelas di diri Wakamatsu yang menatap balik tak percaya kalau dia akan bertemu dengan Ichiira lagi selain di sekolah.
"I-Ichiira-chan..?"
Di antara semua orang, kenapa Ichiira harus bertemu dengan Wakamatsu sekarang?
Hanya Tuhan dan Author yang mengetik yang tahu akan ini.
Anjas.
.
.
.
TBC
Thanks for reviews and ideas.
Mind to Review or Fave? OwO
