"Tolong jelaskan, Kazekage-sama." Suara rendah Naruto menyeruak meminta perhatian penuh pada orang yang dimaksud.
"Penjelasan akan anda terima saat di ruang pertemuan nanti, Hokage-sama." Jawab Gaara tenang masih tak perduli mengingat moodnya yang hancur berantakan.
"Oi.. Gaaraaaaaa.." Teriakan Naruto kini yang menggelegar.
Shikamaru hanya membuka mata sekilas kemudian menutup kembali.
"Ada apa, Naruto?" Tanggap Gaara sambil membalik kertas laporan.
"Kau tahu yang kumaksud bukanlah masalah pertemuan para Kage sialan ini." Geram Naruto.
"Ya, aku tahu." Asal Gaara.
"Dan?" Tuntut tak sabar Naruto, tak ingin berbelit-belit.
"Hah, Jangan mengungkit hal itu, Naruto." Gaara menghela nafas lelah.
Braaak..
Untung meja Gaara kokoh.
Tipikal Naruto sekali. Membuat kerusuhan untuk mendapatkan sesuatu.
Naruto sadar kalau Gaara sedang keadaan kurang menyenangkan, aura hitam menguar kemana-mana.
Tapi ia benar-benar butuh penjelasan mengenai apa yang ia lihat sekilas tadi.
"Gaara.." Tuntut Naruto kembali.
"Dari pada kau seperti itu terus. Lebih baik aku yang bertanya lebih dulu. Buat apa kau berbuat sejauh ini hanya untuk gadis yang kau gantung lebih dari dua tahun perasaannya?" Gaara tetap melanjutkan aktivitasnya sembari melirik Naruto.
Sabaku Gaara akan berbeda gaya bicaranya hanya pada satu orang. Yakni Uzumaki Naruto.
Bukan apa-apa. Tapi Gaara hanya malas mengulang perkataannya sehingga ia selalu menggunakan bahasa yang lebih mudah Naruto serap yang tentunya ia harus berbicara panjang lebar dan ekstra sabar.
Bagi Naruto sendiri kalimat pertanyaan itu benar-benar menohoknya.
"Kau tahu?" Tanya Naruto ragu.
"Siapa yang tidak tahu kalau kau terus mengirim burung-burung pesan itu padaku dan pada gadis itu. Dan jangan lupakan fakta dibalik kedatanganmu kemari yang berkedok pertemuan sialan ini juga."
Gaara menambah kata 'juga' karena ia juga terganggu karena pertemuan ini. Ia jadi tidak bisa lebih lama bersama si gadis Hyuuga berkat ide gila Shikamaru, Gaara memincingkan mata melihat calon kakak iparnya.
"Ah, kentara ya. Baiklah lupakan. Bisakah kau jelaskan Gaara. Apa yang dilakukan teme di sini? Apakah aku benar melihat Hinata? Dan apakah aku tadi berhalusinasi melihat Hinata ada dipelukan Sasuke?" Berondong Baruto.
Akhirnya sebut merk Naruto, sekarang lihatlah Gaara bertambah buruk auranya.
"Pertama kau bisa tanyakan sendiri pada si teme mu itu. Kedua, ya kau meliha'nya'. Dan yang ketiga, kau tak berhalusinasi." Jawab Gaara dengan ogah-ogahan.
Naruto terdiam.
Terlalu lama. Gaara yang tak perduli kini mengangkat wajahnya melihat Naruto.
Tangan Naruto mengepal. Memejamkan mata dengan kuat. Ia sedang menahan emosinya sekaligus kekuatannya. Bahkan Gaara bisa merasakan masih ada chakra yang luar biasa menguar dari tubuh Naruto.
"Jangan Hancurkan tempat ini percuma. Kau akan menikah jangan melibatkan diri dalam masalah." Tutur Gaara santai, berusaha lebih rileks.
Naruto membuka matanya dan melihat Gaara yang menggulung gulungan yang selesai ditandai.
Naruto mengabaikan kalimat terakhir seolah tak pernah terucap dari bibir Gaara.
Tap..
Gulungan sudah berpindah tangan pada Naruto.
"Undanganmu sudah kuterima dan itu laporannya." Terang Gaara.
"Kenapa tidak Hinata sendiri yang melaporkannya?" Tanya Naruto pelan dengan nada tajam mengintimidasi di dalamnya.
Gaara melihat sekilas. Naruto tak pernah seperti ini kecuali masalah-masalah yang bersangkutan dengan si Uchiha terakhir.
"Aku yang bilang." Jawab Gaara.
Braak.. Sreet..
Naruto membersihkan meja Gaara- ah ralat. Naruto membalikkan mejanya hingga terlempar ke dinding ruangan itu dan mencengkram kerah Gaara.
"Kenapa kau membiarkannya pergi?!" Naruto tidak membentak hanya nada geraman yang terdengar.
"Karena aku tak ingin melihatnya tidak tersenyum." Gaara menjawab jujur dengan mengganti istilah 'sedih'.
"Dengan membiarkannya pergi hah?!"
"Ya, meski ia juga memintaku untuk menderita maka akan kulakukan demi sebuah senyumnya." Ungkapan Gaara membuat dua orang di ruangan itu terkejut.
Naruto mengendurkan cengkramannya.
'Mendokusei..' batin Shikamaru.
"Kau apa?" Naruto tak percaya.
"Aku akan melakukan apapun untuknya yang selalu tersakiti, Naruto." Penjelasan kembali untuk Naruto.
Naruto melepaskan Gaara dan mundur lima langkah menatap lantai tak percaya.
Gaara mulai bangkit dari duduknya melihat jelas ekspresi Naruto.
Naruto yang kini berbeda yang dulu. Naruto yang kini sudah bisa mengerti arti kalimat Gaara.
"Ya, aku menyukainya. Ah meskipun ini terdengar gila tapi sepertinya aku jatuh cinta." Ungkap Gaara lantang.
"Kau benar gila." Tanggap Naruto menatap tajam pada Gaara.
"Lebih gila mana.. dari pada kau yang sudah akan menikah tapi masih mempunyai keinginan untuk memiliki gadis lain."
"Dia menyatakan perasaannya padamu. Dengan mempertaruhkan nyawanya untukmu. Dan bahkan menjawabnya dengan jantan tapi kau menggantungkan perasaannya, Naruto. Dua tahun lebih. Bahkan aku tak tahu tepatnya. Naruto kau tak pernah tahu jika ia benar-benar tersiksa di dalam Konoha. Bahkan ia menangisi keluarga dan klannya sendiri yang tak menginginkan kehadirannya yang dikatakan lemah."
"Gaara-"
"Setelah ia mendapatkan ketetapan hatinya untuk berhenti malah kau yang bergerak seolah ingin meraihnya. Ia tak akan goyah karena kau sudah memiliki janji komitmen."
"Menikah dengan orang yang kau kejar-kejar karena obsesi gilamu itu. Menikah dengan orang yang bahkan kau sampai tak melirik lavender yang ada di halamanmu senantiasa menyambutmu."
"Kau hanya menikmati keindahan Sakura yang berada di luar halamanmu. Hingga kau mulai tak memperhatikan dan menginjak lavender."
"Ingatlah sang matahari. Meskipun mawar merah dan mawar hitam berteman dengan matahari tetapi tak menutup kemungkinan mawar-mawar itu melindungi lavender yang selalu terluka pada tempat yang ditinggalinya selama ini. Tempat yang lavender pikir untuk pulang yang dinamakan 'rumah'."
"Kita tunda hingga sore pertemuan Kage ini, Naruto. Beristirahatlah."
Ceklek..
Shikamaru menutup pintunya dari luar setelah Gaara keluar dari ruangan, meninggalkan Naruto yang tercenung sendirian di dalam ruangan yang kacau itu.
@N63L
"Sasu-kun. Aku ingin permen apel." Riang Hinata sambil menggelayuti lengan kanan Sasuke.
"Hn." Sasuke menepuk puncak kepala Hinata.
"Tapi, Sasu-kun.. seperti ada yang membicarakanku." Ungkap Hinata mengusap hidung dan telinganya.
"Abaikan saja. Tidak penting. Jangan dipikirkan." Tipikal Sasuke.
"Hai.." Jawab Hinata menganggukkan kepala.
Mereka berdua terus berjalan santai sambil bertukar cerita.
TBC》
