Halo semuanya, selamat lebaran. Maaf ya, telat update. Habis, pembantu pulang jadi sibuk bersih-bersih rumah terus

Silahkan dinikmati


Naruto POV

Gelap, aku tak bisa melihat apapun. Aku pun tak berani membuka mataku yang kini terasa sangat sakit. Kepalaku terasa mati rasa dan tubuhku kaku. Hanya denyut pelan dari luka yang ada di dahiku yang mengingatkan aku bahwa aku masih hidup.

Aku merasakan banyak sentuhan, rasanya tubuhku dibawa pergi. Aneh…aku berpindah tempat tampa memijakkan kaki. Apakah aku dibopong? Entahlah, tapi siapapun yang membopongku kuharap memperlakukan tubuhku dengan baik karena aku belum mau mati sekarang.

Aku berusaha menarik napas, tapi entah kenapa paru-paruku tak bisa terisi penuh. Rasa sakit menjalar dari kepalaku ke seluruh tubuhku. Tetesan yang hangat masih terus mengalir. Darah? Apakah aku masih berdarah?

Aku mendengar suara-suara tapi semuanya begitu parau dan mendengung, aku tidak mengerti arti suara-suara itu. Tapi, aku bisa tahu bahwa banyak orang di sekelilingku.

Tubuhku terasa dingin dengan keringat rasa sakit yang membasahi seluruh badanku. Aku merindukan kehangatan. Apakah aku akan mati? Kudengar orang yang akan mati merasakan dingin di sekujur tubuhnya. Apakah itu benar?

Sebenarnya, kenapa aku bisa jadi begini?

Oh iya, lampu panggung itu sudah menghantam kepalaku, baru pertama kali kurasakan rasa sakit yang begitu hebat sampai membuat kepalaku serasa akan pecah. Aku bertanya-tanya, kenapa aku terkena lampu panggung? Oh ya, dia…si rambut merah…

Kenapa aku menyelamatkannya?

Gaara POV

Setelah berganti pakaian aku segera pergi ke UKS dengan terburu-buru. Aku menghiraukan orang-orang yang menyapa atau memanggilku. Aku masih ingin menangis dan mataku sudah merah. Detak jantungku masih berdebar begitu kencang, tubuhku masih merasakan kehangatan pelukannya, dan otakku tak bisa melupakan sosoknya yang melindungiku.

Pertanyaan terus muncul dalam benakku. Aku sungguh tidak mengerti. Kenapa dia melakukan itu? Kenapa dia melindungiku?

Tapi, tak ada yang bisa menjawab pertanyaan itu. Dan kini, aku hanya bisa berlari, aku ingin kembali berjumpa dengannya, kuharap aku masih bisa melihat sosoknya, mendengar suaranya meskipun hanya dari jauh. Baru pertama kali ini ada orang yang terluka untuk melindungiku dan kenapa orang pertama itu harus dirinya? Bukan kah kami sudah putus hubungan? Lalu, kenapa?

Aku segera membuka pintu ruang UKS yang dipenuhi oleh banyak panitia dan teman-teman sekelasku yang berdiri di sekitarnya. Di dalam UKS, aku hampir tak bisa melihat Naruto karena terhalang oleh banyak orang. Rasanya seperti di dalam kereta. Aku berusaha untuk menerobos kerumunan itu, berusaha mencari celah untuk mencapai tempat tidur dimana penolongku terbaring.

Setelah perjuangan keras, akhirnya aku bisa melihat dia. Penuh perban yang kini pun sudah merah karena darah meskipun perban itu masih baru. Di kepalanya terlilit banyak perban putih, kapas dengan plester pun menutupi mata kanannya, napasnya tersenggal dengan wajah pucat penuh peluh. Kulihat Sakura sedang berusaha melap keringat Naruto sementara Shikamaru di sebelahnya sedang berusaha menenangkan diri.

Aku menghampiri tempat tidur lebih dekat. Naruto masih memakai kostum prajuritnya yang kini penuh darah. Ia kelihatan kesakitan. Aku menggigit bibirku. Ini kali pertamanya aku melihatnya dalam keadaan begini. Tak ada matanya yang tersenyum palsu ataupun dingin, tak ada senyuman ataupun seringai di bibirnya, yang ada hanyalah wajah yang kelihatan menderita.

Aku gemetaran, entah kenapa ini semua bisa terjadi. Kenapa?

Dengan ragu, aku mengambil tangan Naruto yang terasa dingin dan penuh keringat, aku menggenggamnya erat karena aku tidak inggin kehilangan dia.

Tak apa-apa bila hubungan kami putus, aku bisa melihat ia dari jauh, tapi….aku tak bisa membayangkan bagaimana hidupku kalau aku sudah tak bisa bertemu dengannya lagi, tak bisa mendengar suaranya lagi dan tak bisa merasakan sentuhannya lagi.

Aku mendengar guru-guru berdatangan, mereka tampaknya sudah memanggil ambulans dan siap memindahkan Naruto ke rumah sakit.

Aku takut, apakah separah itu keadaannya? Kudengar dari anak-anak yang berbincang di sekitarku kalau pendarahan di kepala Naruto tak bisa berhenti, kelopak matanya sobek dan ada kemungkinan itu akan mempengaruhi penglihatannya. Aku semakin bergetar dan menggenggam tangan Naruto lebih erat.

Tidak…apakah semua ini salahku? Kenapa Naruto yang harus mengalami ini semua? Akulah self injury di sini, seharusnya akulah yang menerima semua rasa sakit, tapi kenapa? Kenapa harus Naruto?

Seorang guru berbadan besar dan berjanggut menyeruak di antara para murid, aku mengenalinya sebagai guru Asuma, guru sejarah. Ia berkata bahwa Naruto akan dipindahkan ke rumah sakit dan menyuruh kami untuk tenang. Bagaimana aku bisa tenang?

Ia membopong Naruto keluar UKS, tanpa pikir panjang aku mengikutinya. Aku terkejut saat merasakan sebuah tepukan di bahuku. Aku menoleh dan meihat Neji, kakak kelasku berdiri di belakangku.

"Aku sudah mencarimu daritadi, Gaara," katanya, ia tampak letih, mungkin ia juga dipusingkan oleh masalah ini.

"Neji…aku…," aku tidak tahu bagaimana harus menjelaskannya.

"Kau ini Ketua OSIS kan, aku mengerti kalau kau pasti ingin menemaninya, tapi keadaan sangat kacau di sini, kau tidak bisa pergi," katanya dengan nada tegas dan wajah serius. Aku menggigit bibirku, ia benar, ia adalah saah satu kandidat Ketua OSIS yang entah bagaimana berhasil kukalahkan dan kini ia menjadi Bendahara OSIS, sebenarnya aku rela menyerahkan jabatanku padanya namun sekarang bukan waktunya untuk memusingkan hal itu.

"Tapi, aku ingin pergi. Naruto sudah menolongku, aku tidak bisa meninggalkannya!" kataku dengan nada parau, aku tak peduli apakah aku terlihat egois dan cengeng sekarang, yang kuinginkan hanya berada di samping Naruto.

Neji mendelik, aku baru sadar kalau aku baru saja memanggil Naruto dengan nama kecilnya, tapi sudahlah itu bukan hal penti. Akhirnya ia mendesah berat sambil memijat dahinya.

"Ya sudah, tapi ingat, kalau keadaan Naruto sudah membaik kau harus segera kembali ke sini Gaara," katanya kemudian tersenyum. Aku mengangguk, aku bersyukur ia orang baik. Lalu aku segera berlari sekuatnya, mobil ambulans pasti ada di luar sekolah, meskipun mungkin aku tidak akan diijinkan untuk naik ke dalam mobil tapi aku akan pergi ke rumah sakit tempat Naruto akan dirawat bagaimanapun caranya.

IoI

Gaara POV

Aku duduk di bangku yang terdapat di lorong rumah sakit. Aku melirik Shikamaru yang duduk di sampingku, ia menaruh tangannya di lutut dan memejamkan mata, sesaat tampak kelihatan seperti tertidur namun aku tahu kalau ia sedang menenangkan diri. Aku melihat lagi Asuma-sensei dan Kurenai-sensei yang ada di seberangku. Mereka sebagai guru juga turut mendampingi Naruto. Hanya aku dan Shikamaru yang diperbolehkan menemani Naruto ke rumah sakit sementara yang lain harus tetap tinggal di sekolah.

Sudah setengah jam lamanya sejak Naruto di masukkan ke IGD. Apakah lukanya separah itu? Apakah lukanya akan berbekas? Apakah ia akan cacat? Apakah nyawanya terancam?

Rasanya seperti bertahun-tahun sampai akhirnya pintu IGD terbuka dan dari dalam ruangan keluar dokter wanita berambut pirang yang dikuncir dua. Kami semua segera bangkit tapi aku membiarkan Asuma-sensei yang berbicara dengan dokter tersebut.

"Ia sekarang baik-baik saja. Pendarahannya sudah berhenti dan tak ada luka permanen pada kepalanya," katanya sambil tersenyum. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama aku bisa menarik napas lega.

"Tapi mungkin matanya akan mengalami sedikit gangguan penglihatan, kelopak matanya tersobek cukup parah meskipun bola matanya sama sekali tidak tergores. Tampaknya ia menutup matanya saat kelopak matanya tergores, untunglah demikian, kalau tidak mungkin ia akan buta permanen," tambahnya lagi. Aku kaget, memandang dokter tersebut dengan mata lebar. Tidak mungkin….

"Jadi, Naruto akan buta?" tanya Shikamaru dengan wajah panik.

Dokter tersebut menggeleng. "Saya kurang tahu, saya akan menyuruh dokter spesialis mata untuk mengecek keadaannya nanti," katanya. Lalu, kemudian dia pergi sambil mengatakan bahwa Naruto harus dirawat selama beberapa hari di rumah sakit dan dia akan dipindahkan ke kamar rawat inap setelah 2 jam beristirahat di IGD.

Kulihat Shikamaru segera mengeluarkan handphonenya dan tampaknya sedang memberitahu teman sekelas, Kurenai-sensei pun sedang menelepon seseorang yang kukira adalah wali Naruto sementara Asuma-sensei sedang bertanya pada suster yang baru saja keluar dari ruang IGD.

Aku hanya terpaku di tempat, tak mampu berbuat apa-apa, mulutku terasa beku, otakku kosong dan mataku hanya terus terbelalak.

Naruto…tidak…kumohon, jangan biarkan Naruto buta karena aku.

IoI

Gaara POV

Aku menatap keluar jendela, hari sudah sore, langit perlahan berubah dari biru menjadi oranye. Aku berpaling melihat sosok yang kini terbaring di tempat tidur. Sudah sejak lama Naruto dipindahkan ke kamar rawat inap kelas 1, bangsal ini diisi oleh 4 orang pasien yang dipisahkan oleh gorden berwarna biru. Shikamaru dan Kurenai-sensei sudah kembali ke sekolah sementara Asuma-sensei sedang keluar untuk merokok.

Aku sendiri sudah mengirim sms pada Neji bahwa aku tak akan kembali hari ini. Ia tampaknya marah tapi tidak protes dan membiarkan aku tetap menunggu Naruto.

Aku duduk di bangku di samping tempat tidur, melihat Naruto yang terbaring dengan baju dari rumah sakit. Kepalanya dipenuhi perban, namun kini terlihat lebih baik karena tidak basah oleh darah. Matanya masih dibalut kapas sementara mata kirinya yang baik-baik saja masih tertutup rapat. Ia tampak lebih sehat dan sedang tertidur.

Aku merasa sedikit lega, setidaknya ia akan hidup dan aku masih bisa melihatnya lagi dari jauh.

Tapi, aku harap matanya akan baik-baik saja. Dokter wanita itu…namanya Tsunade, mengatakan kalau bisa melihat atau tidaknya Naruto bisa diketahui kalau luka di kelopak mata Naruto sudah sembuh, sampai saat itu tiba Tsunade tidak memperbolehkan kapas yang menutup mata kanan Naruto dibuka.

Aku menghela napas panjang. Aku tidak pernah menyangka hari festival sekolah akan jadi seperti ini. Aku bersyukur besok libur jadi tak akan ada beban.

Dengan perlahan, aku kembali menggenggam tangan Naruto. Sekarang tangannya sudah jauh lebih hangat daripada di sekolah tadi, aku berharap ia cepat sembuh segera.

Aku kaget saat jari tangan Naruto bergerak dalam genggamanku dan kelopak matanya perlahan terbuka. Dengan spotan aku melepas tangannya dan memandang Naruto.

"Naruto…," panggilku dengan panik. Ia mengerang pelan dan tangannya perlahan memegang kepalanya yang dipenuhi perban. Ia mengerjapkan matanya sebelum akhirnya melirikku. Aku bingung harus berkata apa, aku hanya terus diam dan menanti Naruto untuk bicara.

Matanya yang biru kini sedang melirik keadaan sekitarnya, agaknya ia menyadari kalau ia berada di rumah sakit.

"Gaara…," katanya pelan dengan suara parau. Dadaku berdegup kencang, sudah lama ia tidak memanggil namaku lagi.

"Ya, Naruto? Apakah kau butuh sesuatu?" tanyaku, berusaha untuk menenangkan diri.

Ia menggeleng pelan namun kemudian mengerang kesakitan, tampaknya luka di kepalanya membuatnya kesakitan. Aku bingung harus melakukan apa.

"Jangan pergi," kata Naruto kemudian menutup matanya lagi. Aku tersentak, kaget dan bingung. Tapi, kemudian perlahan ia meraih tanganku dan menggenggamnya. Setelah diam sejenak aku menggenggam balik tangannya.

Aku tahu sekarang wajahku sudah memerah dan dadaku masih berdebar kencang. Naruto tidak ingin aku pergi, setidaknya untuk sekarang.

Aku…merasa senang…

IoI

Naruto POV

Aku terbangun dan mengerjapkan mata, silau….ternyata sudah pagi. Rasanya kemarin berlalu cepat sekali. Pada sore hari Gaara pulang karena jam besuk sudah habis, kami sama sekali tidak bicara setelah aku mengatakannya untuk tidak pergi dan aku percaya hari ini ia akan kembali ke sini. Pada malam hari Kakashi-sensei datang, ia tampak lega saat melihat keadaanku yang membaik.

Kini ia pasti sedang ada di apartemenku. Kalau kembali ke rumahnya memang terlalu jauh.

Aku mendesah dan berusaha untuk tidak menggerakkan kepalaku. Rasanya masih sakit dan berdenyut kencang. Tapi, yang pasti aku sama sekali tidak berani untuk mencoba menggunakan otot disekitar mata kananku. Rasanya aneh melihat hanya dengan satu mata, tapi rasa sakit yang masih terasa di mata kananku memperingatkan aku untuk tidak coba-coba membukanya.

Aku mengerti keadaanku, kata dokter bedada besar itu, kemungkinan aku bisa buta atau setidaknya mengalami gangguan penglihatan. Memang masuk akal sih, serpihan kaca yang meledak dari lampu gantung itu memang menggores kelopak mataku cukup dalam, seandainya saat itu bola mataku kena, mungkin bola mataku sudah dicabut sekarang karena luka parah.

Sejujurnya, sampai sekarang pun aku masih tidak mengerti. Kenapa aku melakukan hal itu? Kenapa aku menolong Gaara?

Aku memejamkan mataku, kepalaku berdenyut lagi, mengingatkan aku untuk tidak berpikir terlalu banyak.

Tapi, lampu panggung itu…mungkinkah lampu itu jatuh karena perbuataan seseorang?

Ah, entahlah, aku berusaha untuk tidak ambil peduli dan mencoba untuk kembali tertidur.

IoI

Gaara POV

"Oh jadi temanmu yang berambut pirang itu sudah menolongmu?" tanya kakakku yang berkuncir empat, aku mengangguk sambil memakai sepatuku. Aku akan berangkat untuk menjenguk Naruto lagi, aku ingin melihat bagaimana keadaannya.

"Iya, dia sudah menolongku," kataku, berusaha untuk menyembunyikan wajahku yang sedikit memerah. Temari yang ada di belakangku ikut berjongkok bersamaku.

"Oh, kalau begitu apa aku ikut denganmu sekalian, untuk berterimakasih padanya," kata Temari sambil melirikku.

"Tidak, jangan," kataku cepat. Aku sendiri tidak mengerti kenapa aku tidak mau Temari ikut bersamaku, tapi perasaanku mengatakan agar tidak membawa ia bersamaku. Naruto sudah bangun dan aku ingin bertanya banyak hal padanya, aku tidak ingin Temari tahu.

Temari memasang muka cemberut. "Ya sudah deh, titip salam untuk pacarmu ya," katanya kemudian kembali ke dalam rumah. Aku tersentak dan menoleh ke belakang, wajahku merah karena malu dan kesal.

"Dia bukan pacarku!" teriakku. Memang sih aku ingin jadi pacarnya tapi…ah, lupakan!

Aku hanya mendengar suara tawa Temari dari dalam rumah. Aku mendengus dan berusaha menenangkan diri. Kulangkahkan kakiku ke luar rumah, siap untuk berangkat. Rumah sakitnya tidak terlalu jauh, sekitar 30 menit bila ditempuh dengan bis. Aku segera berjalan menuju halte bis, tak lupa untuk membeli sekeranjang buah-buahan untuk buah tangan, tak mungkin aku menjenguk dengan tangan kosong.

Tak lama menunggu di halte, bis pun tiba. Aku segera masuk dan duduk setelah membayar ongkos pada kotak yang ada di sebelah supir. Bis pun melaju dan pikiranku pun melayang kepada psychopath berambut pirang. Banyak hal yang ingin kutanyakan, tapi aku tak tahu bagaimana menanyakannya. Aku merasa gugup dan takut. Aku takut ia marah dan membenciku.

Saat bis berhenti di halte berikutnya, aku pun turun dan berjalan menuju rumah sakit. Rumah sakit yang dipenuhi oleh aroma obat dan alcohol membuatku merasa tak nyaman. Aku menghiraukan hal itu dan bergegas untuk pergi ke bangsal dimana Naruto dirawat.

Setelah menemukannya, meski sebenarnya agak ragu apakah aku benar, aku segera mengecek tempat tidur pasien paling pinggir dekat jendela yang tertutup gorden. Aku menyibaknya terbuka sedikit, aku lega melihat wajah Naruto, berarti ingatanku masih bagus namun aku kaget melihat seorang pria duduk di sebelah Naruto. Rambutnya berwarna perak, berdiri seperti Naruto tapi agak condong ke samping, hampir seluruh wajahnya tertutup masker dan aku hanya bisa melihat mataya. Agak kaget dengan penampilannya yang agak tidak biasa, aku hanya terpaku saat ia menoleh padaku dan tersenyum – sebenarnya aku hanya melihat matanya tapi aku rasa ia sedang tersenyum padaku.

"Temannya Naruto?" tanyanya padaku, aku hanya mengangguk lalu melangkah sambil menyibak gorden sedikit kemudian menutupnya lagi. Apakah ia wali Naruto?

"Perkenalkan, aku Hatake Kakashi. Uhm…mungkin bisa dibilang wali ketiga Naruto," katanya memperkenalkan diri.

Ketiga? Aku merasa bingung, apakah Naruto punya wali sebanyak itu?

"Saat ini wali Naruto yang asli sedang dirawat di rumah sakit di kota sebelah, sementara wali Naruto yang lain sedang dalam perjalanan keliling dunia, jadi yah….begitulah," katanya, anehnya dengan nada enteng. Aku hanya bisa mengangguk.

"Saya Gaara, teman sekelas Naruto," kataku memperkenalkan diri. Aku terkejut saat sadar lagi-lagi aku memanggil nama kecil Naruto langsung. Biasanya aku selalu memanggil nama keluarga seseorang dengan embel-emble –kun atau –san, tapi…sudah terlambat.

Kakashi tersenyum lagi. "Jadi kau yang bernama Gaara," katanya. Aku kaget dan kemudian sadar ia pasti sudah mendengar apa yang telah terjadi pada Naruto.

Aku hanya mengangguk lalu diam. Apakah ia akan marah?

"Si bodoh Naruto berulah lagi ya? Entah ini keberapa kaliya ia masuk rumah sakit," kata wali Naruto yang agak aneh tersebut sambil tertawa kecil. Aku hanya termangu, agak tidak mengerti kenapa ia justru bereaksi seperti itu.

"Dulu kakinya pernah patah saat memanjat pohon, pernah juga keserempet mobil, lalu kakinya terkilir saat main bola, aku masih ingat saat ia jatuh dari tangga di sekolah. Naruto itu memang sering masuk rumah sakit, jadi jangan khawatir," katanya dengan nada santai, aku hanya bisa mengangguk.

Aku bertanya-tanya, apakah benar Naruto mengalami hal seperti itu? Kedengarannya seperti topeng Naruto sekali, atau itu terjadi saat ia masih kecil? Apakah Naruto dulu ceroboh tidak seperti sekarang ini?

"Tapi, ia begini karena menolong saya," kataku merasa bersalah. Kakashi terdiam sebelum akhirnya bicara lagi.

"Ia menolongmu karena ia memutuskan untuk menolongmu, itu adalah keputusannya dan bukan salahmu. Kau pun tidak bersalah karena kau berada dalam posisi bahaya seperti itu, jadi kau tidak perlu merasa bersalah," katanya dengan bijak. Aku merasa tersentuh dan kemudian perlahan tersenyum.

Ia benar-benar wali yang baik, meski agak aneh.

"Oh ya, ini untuk Naruto," kataku sambil menyodorkan sekeranjang buah-buahan yang daritadi kubawa. Kakashi mengucapkan terima kasih dan menaruhnya di meja di samping tempat tidur.

"Maaf ya, Naruto masih belum bangun," katanya sambil tersenyum lagi. Aku hanya menggeleng.

"Ah, tidak apa-apa," kataku, menyadari kalau pipiku memerah sedikit.

"Kau…pacarnya Naruto?" tanyanya membuatku kaget. Aku segera menggeleng cepat-cepat.

"Bukan, sama sekali bukan. Aku hanya teman sekelas biasa," kataku dengan panic, tapi aku yakin wajahku pasti merah. Kemudian, Kakashi hanya tertawa, sama seperti Temari tadi.

"Ah tidak apa-apa, aku malah senang kalau kau jadi pacarnya," katanya membuatku sedikit tersipu. Kemudian ia bangkit dari tempat duduknya.

"Sebenarnya aku ingin pergi menjenguk wali Naruto yang dirawat di rumah sakit di kota sebelah. Yah, karena banyak masalah, aku harus segera pergi ke sana. Bisa titip Naruto?" tanyanya. Aku segera mengangguk. Ia tersenyum kemudian pergi berlalu. Aku masih agak terkesima dengan sikap dan penampilannya, tapi Kakashi adalah orang baik, aku tahu itu.

"Dia sudah pergi?"

Aku terkejut dan menoleh ke belakang, kulihat Naruto sudah membuka matanya. Ia tidak terlihat ngantuk, apakah daritadi ia pura-pura tidur?

"Ya, dia sudah pergi," kataku kemudian duduk di kursi di sebelah tempat tidur. Naruto mendesah kemudian mencoba untuk bangkit, dengan segera aku berusaha membantunya. Aku menarik bantal dan menyandarkannya pada dinding lalu kubantu Naruto untuk duduk bersandar pada bantal. Aku tidak tahu apakah ia marah padaku atau tidak, tapi ia tidak protes saat aku membantunya.

Aku kembali duduk di kursi dan diam. Naruto pun terdiam dan hanya memandang keluar jendela. Aku bingung harus berkata apa, Naruto pun tampaknya tak ingin mengatakan apa-apa.

"Bagaimana keadaanmu?" tanyaku, menanyakan pertanyaan basa-basi untuk orang yang sedang sakit.

"Lumayan," jawab Naruto singkat tanpa melihat mataku.

"Bagaimana dengan matamu?" aku bertanya lagi.

"Belum sembuh," jawab Naruto lagi, singkat dan mematikan pembicaraan. Aku hanya diam, bertanya-tanya apakah ia benar-benar marah padaku.

"Maaf," kataku pelan sambil memandang lantai. Aku merasa Naruto menatapku, tapi aku tak berani membalas tatapannya.

"Untuk apa?" tanyanya. Aku menggigit bibirku, berusaha mengumpulkan keberanian.

"Karena kau jadi begini karena menolongku," kataku lagi. Aku masih mengingat semua kejadian itu dengan jelas, rasanya seperti baru saja kualami.

Aku mendengar Naruto mendesah dan perlahan kuangkat wajahku untuk melihatnya. Ia kembali memandang keluar jendela. Saat itu aku baru sadar kalau ia sama sekali tidak memakai topengnya, tapi matanya tidak tajam dan dingin seperti biasanya. Matanya terlihat kosong dan sedikit sendu meski masih terasa dingin.

"Sudahlah, lupakan saja," katanya. Aku bingung bagaimana menanggapinya.

"Kenapa kau menolongku? Kupikir, kita sudah putus hubungan," tanyaku, akhirnya menanyakan pertanyaan yang sudah menghantuiku sejak kemarin. Naruto hanya diam kemudian perlahan menoleh padaku. Ia melihatku dan kemudian mendesah.

"Entahlah, aku sendiri tidak mengerti," katanya.

Aku hanya terdiam. Dia sendiri tidak tahu? Bagaimana bisa begitu?

"Tampaknya tubuhku jauh lebih jujur dari hatiku sendiri," tambahnya. Aku berusaha menangkap kata-katanya. Apakah yang ia maksud….ia peduli padaku?

"Kupikir, kau tidak mau menjalin hubungan denganku lagi," kataku, merasa getir dengan kata-kataku sendiri. Bukankah ia yang ingin mejauh dariku? Kenapa ia melakukan ini?

"Mungkin, mungkin saja tidak," katanya, membuatku semakin bingung. "Mungkin, aku hanya takut untuk menjalin hubungan dengan orang lain," tambahnya.

Aku terkesima mendengar pernyataan Naruto. Aku menatapnya sejenak sementara ia menutup matanya dan tampak memikirkan sesuatu.

"Mungkin, aku hanya takut terluka bila menjalin hubungan dengan orang lain," katanya lagi.

Aku semakin terdiam, dadaku berdebar kencang dan mataku terpaku padanya.

"Mungkin, aku tidak ingin kamu pergi," katanya lagi. Perlahan ia membuka matanya dan menatapku. Aku merasa, bisa melihat sosoknya yang lemah, dibalik sifatnya yang dingin dan kejam, Naruto masih seorang manusia biasa yang bisa merasakan sakit, sedih dan kesepian.

Apakah Naruto juga kesepian selama ini?

Aku tidak tahu harus berkata apa, aku hanya terus terdiam sambil mengalihkan pandangan ke lantai.

"Jangan pergi, tinggalah di sini," katanya. Aku terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk.

Aku juga….tidak ingin pergi dari sisimu, Naruto…


Kemarin ada yang nanya tentang sindrom munchausen. Pas aku cari tahu, sindrom ini tidak mirip dengan self-injury. Orang yang terkena sindrom munchhausen ini, sengaja membuat diri mereka sakit untuk mendapatkan perhatian atau kenyamanan dari tenaga medis. Anehnya, mereka adalah orang-orang yang tahu tentang ilmu medis sehingga bisa menyuntikkan obat tertentu ke dalam diri mereka agar terlihat sakit. Mereka memang ingin sakit agar dapat perhatian, mungkin sama dengan orang yang sengaja terlihat miskin supaya dikasihani. Dulu memang aku pernah nonton Grey's Anatomy dan ada pasien yang merupakan seorang suster dan minta dirawat karena mengeluh sakit. Tapi, sesudah di cek ternyata air seinya berwarna biru bukti kalau ia meminum obat tertentu untuk menjadi sakit dan akhirnya dia dialihkan ke rumah sakit jiwa meski si suster itu bersikeras kalau ia sakit sungguhan. Begitulah contohnya, rasanya penyakit ini langka dan memang jarang karena hanya terkena pada orang-orang yang memiliki pengetahuan medis cukup dalam

Berbeda dengan self-injury, mereka melukai diri sendiri karena menikmati rasa sakit dan membutuhkannya untuk mengusir stress, bukan karena mau diperhatikan.

Ada juga penyakit mental yang menyerang para mahasiswa kedokteran, tapi saya lupa namanya. Penyakit tersebut muncul karena saat mereka mempelajari tentang penyakit, mereka merasa telah mengalami gejala dari penyakit-penyakit tersebut sehingga mereka merasa kalau mereka sakit. Hm, saya cuma tahu segitu saja sih, nanti mungkin akan saya cari tahu lebih banyak.

Ok, sampai disitu saja, selamat lebaran. Mohon maaf lahir dan batin ya