WELCOME BABY
BTS fanfiction
Characters belongs to God, BTS belongs to Bighit
Minyoonhoon
Jimin-Yoongi-Jihoon
...Welcome Baby...
[EXTRA] ME, YOU, AND OUR BABY
Jihoon sudah berumur tiga tahun. Dia tumbuh jadi batita yang lucu dengan pipi putih gembil dan rambut hitam lebatnya. Matanya seperti Jimin tapi wajahnya orang bilang kopian dari wajah Yoongi. Dia sudah mulai bicara sejak umurnya dua tahun. Sekarang hobiya adalah membeo, menirukan apa saja yang dikatakan orang disekitarnya. Seperti ketika Jimin yang marah mengumpati copet yang mencuri dompetnya di mall, Jihoon mengikutinya dengan mengucap 'bangsat' berkali-kali. Jimin sampai harus minta maaf dan bersujud di kaki Yoongi selama berhari-hari karena telah mencontohkan hal yang tidak baik pada anaknya—walau tak sengaja.
Jihoon yang sangat lengket pada Yoongi sedikit membuat Jimin cemburu karena waktu sang istri lebih banyak dihabiskan untuk bayi mereka. Tapi Jimin hanya bisa pasrah dan sabar. Toh Yoongi akan datang padanya kalau waktunya tepat.
Hanya saja, seharusnya Jihoon sudah tidak bergantung lagi pada ibunya di usia tiga tahun ini. Dia sudah lewat dari masa pemberian asi eksklusifnya. Jihoon juga seharusnya sudah mulai belajar makan dan tidur sendiri. Tapi dia sama sekali belum menunjukkan tanda-tanda ingin mandiri. Jihoon bisa dibilang manja, dan Yoongi memanjakannya. Yang berlebihan, adalah ketika Jihoon selalu menolak susu formula dan hanya ingin susu yang dikeluarkan dari dada ibunya saja.
Ah, Jimin kadang bingung saat Yoongi mengeluh sakit tiap Jihoon menyusu. Air susunya sudah kering sejak lama. Disiasati dengan dot, Jihoon tidak mau. Kalau dia marah, rengekannya sama kerasnya seperti ketika Yoongi merajuk. Jimin dapat double tukang teriak sekarang. Si bakpao besar dan bakpao kecil.
Ngomong-ngomong soal bakpao, meski sudah tiga tahun lewat sejak Yoongi melahirkan Jihoon, berat badannya tidak turun banyak. Dia masih terlihat berisi dan pipi gembilnya tidak hilang-hilang juga. Jimin bersyukur karena inilah tubuh istri idamannya. Yoongi yang kurus seperti pensil bukan idamannya sama sekali. Sekarang, tiap kali Jimin menyentuh kaki Yoongi yang mulus, ada lemak di betis dan pahanya yang membentuk lekuk sempurna dari bagian tubuh itu. Ah, dasar suami cabul. Jimin tak pernah lepas dari pikiran kotornya.
.
Di minggu pagi itu, Jimin tengah memakaikan baju pada Jihoon. Yoongi sibuk di dapur untuk membuat sarapan. Sepasang ayah dan anak itu asyik mengobrol walau tak jelas arahnya kemana.
"Papanya Jihoon tampan." ujar Jimin. Dia berucap pelan supaya Jihoon mengikutinya. Hanya saja Jihoon malah diam tak menanggapi. "Ulangi sayang, papanya Jihoon tampan."
Anak itu malah mengerutkan dahi. Persis Yoongi ketika dia tak setuju akan sesuatu.
"Papanya Jihoon tampan." Jimin belum menyerah.
Akhirnya anak itu menggeleng.
"Pujilah papamu sekali-sekali 'nak. Sedih sekali tidak pernah ada yang memujiku bahkan istri dan anakku sendiri..." dia mulai depresi. Jihoon cekikikan melihat ayahnya memasang tampang mengenaskan.
"Papanya Jihoon jelek."
"Aay! Siapa yang bilang begitu?"
"Jihoon." jawab anak itu enteng. Rupanya sifat kejam itu memang menurun dari Yoongi. Jimin lagi-lagi hanya bisa pasrah.
"Bilang Papa tampan 'dong, sekaliii saja." Jimin memang pantas dikasihani. Untungnya Jihoon masih punya rasa kasihan. Dia tidak bisa mengabaikan Jimin lama-lama. Anak itu tak tega melihat ayahnya memohon hanya untuk satu kata 'tampan' yang sepele.
"Iya, papanya Jihoon tampan."
"Aaaaaa! Senangnyaaaaa! Ini baru anakku!" Jimin benar-benar senang mendengar ucapan Jihoon. Dia menerjang anak itu hingga mereka sama-sama berguling ke kasur. "Jihoon lucu 'deh, Papa jadi ingin menggigitmu."
"Iihhh! Papa apa 'cih Jihoon tidak cuka dikelitikiiinnn!"
...Welcome Baby...
Yoongi menaruh masakannya yang sudah jadi di atas meja. Aroma dari makanan buatannya tercampur dengan aroma bedak bayi ketika Jimin dan Jihoon datang. Lelaki yang rambut oranyenya sudah lama berganti jadi cokelat itu membawa Jihoon di gendongannya. Anehnya, Yoongi merasa Jimin terlihat seksi dengan pose itu. Seorang ayah seksi yang punya abs dan otot lengan yang besar. Si seksi yang menggendong bayi.
"Mama! Papa minta Jihoon bilang Papa tampan tadi!" tak disangka anak itu melapor pada ibunya. Yoongi spontan tertawa. Tertawa sarkastik. Jimin cemberut. Kenapa 'sih Yoongi dan Jihoon harus mirip luar dalam?
"Tapi 'kan Papa memang tampan... Kalau Papa tidak tampan mana mungkin mamamu mau menikah dengan Papa." Jimin membela diri. Dia tak bisa selamanya diintimidasi oleh istri dan anaknya sendiri seperti ini.
"Dulu kau jelek dan culun, pakai kacamata tebal, baju seadanya, tidak bergaya, cuma modal punya otot dan suara bagus." ejekan dan pujian itu bercampur dalam ucapan Yoongi. Jimin bingung harus menanggapinya dengan apa. Entah dia harus marah atau senang karena terselip sedikit pujian di sana. Walau sakit mendengar perkataannya di awal.
"Tapi sekarang aku tampan, tidak culun, tidak pakai kacamata tebal karena sudah operasi lasik, baju keren dengan kaos-kaos ketat yang kau suka, bergaya, otot bagus masih ada sampai sekarang. Suaraku juga tak tertandingi. Ehem, ehem, nunkkochi tteoreojyeoyo... tto jogeumsshik meoreojyeoyo... bogoshipda..."
"Bogoshipda..." Jihoon membeo. Bocah kecil itu kenal betul dengan lagu yang dinyanyikan Jimin karena itu adalah lagu favoritnya sebagai pengantar tidur.
"Bogoshipda..." lanjut Jimin.
"Bogoshipdaaa..." Jihoon menyelesaikan bagian itu dengan nada yang bagus. Dia masih kecil tapi bakat menyanyinya sudah terlihat. Yoongi sangat kagum. Ia tak sangka kalau anaknya benar-benar menuruni bakat Jimin yang pandai bernyanyi. Mereka berdua terlihat lucu saat bernyanyi bersama dan membentuk harmoni. Agak iri juga 'sih karena Yoongi tidak bisa ikut bernyanyi. Suaranya bisa-bisa menghancurkan harmoni indah itu.
"Seharusnya aku merekamnya tadi." sesal Yoongi.
"Aku bisa menyanyi untukmu kapan saja, sayang."
"Aku tidak memintamu bernyanyi untukku, aku maunya mendengar Jihoon yang menyanyi."
Bocah tiga tahun itu hanya tertawa melihat wajah kecewa Jimin. Entah kenapa bagi Jihoon, ayahnya yang terintimidasi itu terlihat sangat lucu.
"Sudah, sarapan dulu. Nanti makanannya keburu dingin."
...Welcome Baby...
Jimin ngotot ingin pergi jalan-jalan. Tapi jawaban dari Yoongi dan Jihoon tidak memuaskan. Ibu dan anak itu kompak menolak dan lebih memilih untuk tidur-tiduran di rumah. Mereka yang berebahan dengan nyaman di kasur itu terus diganggu oleh Jimin yang merengek tak henti. Sebetulnya siapa yang anak kecil di sini?
"Ayolaaahhh... besok aku kerja, tidak ada waktu untuk jalan-jalan lagi... Masa' harus menunggu sampai minggu depan?" Jimin menggeliat tak sabaran. Dia berebahan di sebelah Yoongi yang memeluk Jihoon. Dua wajah serupa itu hanya bercengkrama tanpa peduli pada rengekan Jimin.
"Pergi saja sendiri. Jihoon bilang ingin tidur saja di rumah, iya 'kan sayang?"
"Iya, Jihoon mau tidul caja di lumah. Jihoon malac jalan-jalan cama Papa..." bocah itu membalik badannya menghadap Jimin. Dia menyandarkan punggungnya di dada Yoongi. Jimin bisa melihat empat pasang mata yang kejam itu mengarah padanya.
"Papa tidak mau pergi sendiri... Masa' Jihoon tidak mau temani Papa 'sih? Jihoon jahat." Jimin mengeluarkan jurus andalannya. Tingkat merajuk yang paling tinggi. Sebetulnya dia tak tega menyebut Jihoon jahat, hanya saja satu kata itu yang selalu ampuh untuk meluluhkan hati anaknya itu.
Dia membalik badan dan pura-pura tidak mau bicara lagi pada Jihoon dan Yoongi. Istrinya itu hanya mendecih sebal. Dia tetap tidak peduli. Sementara Jihoon mulai merasa bersalah pada ayahnya.
"Papa, Jihoon tidak jahat..."
"Jihoon jahat." ketus Jimin yang masih memunggunginya.
"Jihoon tidak jahat! Ayo jalan-jalan sama Jihoon sekarang! Jihoon mau pelgi cama Papa koook!" bocah tiga tahun itu menerjang Jimin dan menjatuhkan dirinya hingga sebagian tubuhnya berada di depan wajah Jimin. Bocah itu merangkak dan mencoba berguling untuk berada di depan Jimin sepenuhnya. Sang ayah menopang punggungnya dan menarik anak itu lebih dekat supaya dia tidak jatuh dari ranjang.
"Jihoon mau pergi sama Papa?"
"Iya Jihoon pelgi cama Papa."
"Coba tanya Mama mau pergi sama kita juga tidak?"
"Tidak." jawab Yoongi langsung.
"Mama tidak mau pelgi cama Jihoon? Mama jahat!"
Yoongi syok. Kenapa dia juga kena semprot?
Jimin menengok dengan cengiran puasnya. Yoongi menggeram dan mendadak merasa sangat ingin menghajar lelaki sialan yang sudah membuat anaknya berbalik savage padanya itu.
"Mama jahat, ya? Masa' tidak mau pergi sama Jihoon dan Papa. Ih, harusnya Mama tidak usah diajak saja." kata Jimin.
"PARK JIMIIINNN!"
Yoongi memekik dan melilit Jimin seperti pegulat profesional. Suaminya itu hanya bisa mengaduh dan Jihoon tertawa melihat tingkah ekstra orangtuanya.
...Welcome Baby...
Mobil hitam itu berhenti di sebuah spasi di basement mall, di tempat parkir yang hampir terisi penuh. Jimin melepaskan seatbeltnya dan menengok ke belakang di mana Yoongi dan Jihoon duduk.
"Sayang-sayangku ayo turun—"
Jimin baru sadar kalau penampilan Yoongi kelewat berantakan. Kemeja kusut, kaos kerah rendahnya yang miring, dan tampangnya itu. Ah, ini hampir sama dengan hasil karya Jimin. Hanya saja pelakunya bukan dia, melainkan si kecil Jihoon.
"Sebentar, aku harus merapikan ini dulu." Yoongi menurunkan bocah itu dari pangkuannya dan memindahkannya ke samping. Ia membenarkan posisi kaos hitamnya dan sedikit mengatur ulang rambutnya yang tidak berantakan sebetulnya.
"Jihoon habis menyusu?"
"Iya." jawab Yoongi singkat. Jimin terlalu fokus pada jalanan hingga ia tak tahu apa yang sudah terjadi di belakang kemudi sedari tadi. Bocah inosen itu hanya menggelayuti lengan ibunya tanpa merasa bersalah. Padahal Jimin tahu dari wajah merengut Yoongi, dia pasti masih merasa kesakitan habis dadanya dihisap Jihoon.
"Apa sesakit itu?" Jimin agak khawatir mendengar desisan istrinya.
"Jihoon sempat menggigitku tadi." dia memegang dadanya yang masih sedikit membengkak. Sesuatu yang menonjol di sana juga masih tegang. Jimin pikir, Jihoon mungkin saja telah menghisapnya kuat-kuat.
Ia tak menyangka reaksi Yoongi akan seperti itu tiap Jihoon menyusu. Kalau Jimin yang melakukanya dalam foreplay, Yoongi malah bersuara merdu.
"Apa-apaan mukamu itu? Kau berpikiran kotor hanya dengan melihat dadaku?" cibir Yoongi.
"T-tidak!"
"Dasar tidak profesional."
Lho? Maksudnya apa? Jimin jadi bingung.
"Dacal tidak plopeccionalll..." beo Jihoon lamban. "Mama, plo-pecc-cio-nall itu apa?"
Jimin masih roaming dengan tanda tanya.
.
Jimin memang suka belanja. Dibanding jalan-jalan ke taman bermain, dia lebih suka jalan-jalan di mall atau departement store. Bila Jimin suka belanja, sebetulnya Yoongi lebih gila lagi dalam hal ini. Dia berbakat untuk menggesek black card Jimin dan menghabiskan uangnya dengan membeli segala barang yang dia inginkan. Bukan yang dia butuhkan. Matanya selalu bisa menangkap sesuatu yang bagus, tak peduli berapa harganya. Jimin di awal-awal senang-senang saja bisa memuaskan hasrat belanja istrinya yang menjadi-jadi, tapi ujung-ujungnya dia meratap juga karena biaya untuk memuaskan hastrat itu tidak main-main.
Oh sungguh, untunglah ia seorang pekerja keras. Kalau tidak, mana mungkin dia bisa membiayai istri dan anaknya sekarang?
"Jiminie yang ini bagus."
"Tidak, yang biru lebih bagus."
"Ini ada angka tiganyaaa..."
"Yang itu warna biru, aku lebih suka yang ituuu..."
Mereka berdebat di toko kebutuhan rumah tangga. Mereka mendebatkan mug. Yang satu ingin mug hitam dengan logo angka 3 di permukaannya, yang satu ingin mug bernuansa biru dengan aksen laut. Yoongi suka angka 3, dan dia hampir selalu menyukai benda berwarna hitam. Sementara Jimin menyukai warna biru, dan meski di mug hitam itu ada angka kesukaannya juga, tetap saja dia tidak mau karena warnanya suram.
"Ini tidak bisa beli satu-satu, harus sepaket tiga buah. Sudah beli yang ini saja, angka tiganya bagus, cocok dengan jumlah gelasnya, satu, dua, tiga." Yoongi ngotot.
"Yang ini juga harus beli tiga sekaligus. Semuanya berwarna biru dan gambarnya lebih bagus dari angka tiga itu." Jimin tidak mau kalah.
"Mama, Papa, Jihoon lapaaalllllll!" sementara sang anak merengek dalam gandengan mereka berdua. Jihoon menghentak-hentakkan kaki berbalut sepatu yang solnya kelap-kelip itu dengan kesal. Dia membuat sepatunya menyala dan berbunyi tiap dia menghentak. Tapi orangtuanya masih saja berdebat.
"Jihoon, sebentar ya, Mama mau bawa mug ini ke kasir dulu." Yoongi melepaskan gandengannya pada Jihoon dan melenggang pergi membawa tiga buah mug hitam pilihannya.
"Yak! Siapa yang mengijinkanmu memilih mug yang itu! Aku maunya yang biruu!" Jimin menggendong Jihoon sekali hitungan dan langsung menyusul Yoongi yang sudah berdiri di depan kasir.
Pada akhirnya mereka membeli keduanya. Yang hitam dan yang biru. Jadi ada enam mug yang mereka beli di toko itu. Ini salah satu bentuk penghamburan uang yang tercpta dari perdebatan tiada akhir.
Adu mulut itu masih terus berlanjut sampai beberapa toko yang mereka sambangi. Seperti ketika Jimin ingin membelikan Yoongi kaos ketat supaya dia terlihat seksi tapi ditolak mentah-mentah, atau ketika Yoongi ingin membeli boneka Kumamon yang ukurannya hampir dua meter dan Jimin tak mengijinkan dengan alasan boneka itu tampangnya menyeramkan apalagi dalam ukuran super besar, juga saat Jihoon ingin makan ayam pedas hanya karena gambar di poster restorannya terlihat lucu. Jimin dan Yoongi barulah kompak melarang. Padahal sejak tadi mereka selalu selisih paham.
Mereka makan di restoran Jepang dan memilih makanan yang aman dan bisa dikonsumsi anak umur 3 tahun. Yang mengusulkan ini adalah Jimin, dan Yoongi menurut saja. Kalau lapar dia tidak menolak apapun. Satu kebiasaan baru yang muncul sejak dia hamil dulu dan jadi pemakan segala.
Restoran itu memiliki servis yang unik dengan jalur yang menyerupai rel kereta mini untuk mengantarkan pesanan. Jihoon berkali-kali memandang takjub saat piring-piring kecil itu bergerak cepat melintasi meja mereka. Ketika pesanan mereka sampai, Jihoon amat senang.
"Mama Cuga, Jihoon mau yang ituuu..."
Yoongi sedikit terkejut mendengar panggilan yang tak biasa dari Jihoon. Jimin tertawa. Anak itu sempat bertemu Hoseok beberapa minggu lalu saat dia dibawa Yoongi ke kantor Jimin. Hoseok memanggil Yoongi dengan sebutan Suga dan Jihoon rupanya masih ingat dengan itu.
"Cuga Cuga why you so fly..." tiba-tiba Jimin bersenandung.
"Papa itu lagu apa?"
"Mamamu punya lagu lho. Di lagu itu mamamu disebut-sebut terus, Suga Suga why you so fly..." dia menyanyi lagi.
"Cuga."
"Suga, sayang. Syuuuu-gaaaa..."
"Hentikan, sudahlah. Aku geli mendengar panggilan itu." protes Yoongi.
"Tapi lidahku gatal. Syuugaa..."
"Cyuugaa... Sszzzyuuugaaa..." Jihoon berusaha keras menyebutkan nama itu dengan benar tapi lidahnya malah membuat bunyi aneh.
"Ah, ini memalukan." cukup Hoseok saja yang memanggilnya begitu. Suami dan anaknya malah membuat nama itu jadi seperti lelucon.
"Kalau begitu ganti saja, aku akan memanggilmu sayang." ucap Jimin iseng. "Sayaang. Jihoon ikuti Papa. Sa-yaaang..."
"Cayaang... Sszzzayaangg..."
Bunyi lidah yang bergetar diantara gigi-gigi yang baru tumbuh itu terlalu lucu bagi Yoongi. Dia terbahak. Jimin merasa senang melihat istrinya tertawa keras. Tawa itu adalah sesuatu yang baik. Sesuatu yang membuktikan kalau Yoongi bukanlah seseorang yang judes dan dingin. Bagi Jimin dia bukan tipe yang cantik saat dingin seperti es krim, tapi tipe yang cantik saat hangat. Seperti pancake yang masih panas dan membuat margarin di atasnya meleleh.
...Welcome Baby...
Mereka pulang dengan membawa banyak kantung belanja. Mereka lelah. Mereka butuh istirahat. Jihoon sudah tidur lelap dan bahkan tak bangun meski dibawa pindah dari mobil ke kamar. Yoongi melepaskan sepatu anak itu tanpa mengganti pakaiannya dengan piyama. Dia sudah terlalu lelah untuk itu. Dia turut merebahkan diri di ranjang seperti Jihoon. Yoongi menyungkurkan kepalanya di bahu kecil Jihoon dan mulai terpejam.
Jimin yang terakhir masuk kamar setelah menaruh barang-barang yang mereka beli itu menemukan istri dan anaknya sudah tertidur lelap. Ia melangkah pelan mendekati mereka, kemudian duduk di tepian ranjang hanya untuk memandang dua wajah yang dia kagumi itu.
Mereka terlihat sangat damai. Wajah inosen Yoongi dan Jihoon yang sedang tidur nampak sama persis. Tanpa sadar Jimin tersenyum.
Kemudian dia melepaskan jaket yang dikenakannya, dia ikut merebahkan diri di spasi yang tersisa. Tangannya bergerak terulur untuk memeluk Yoongi sekaligus Jihoon yang berada di tengah. Dia mengelus-elus lengan Yoongi sejenak, sebelum beralih mengusap-usap kepala Jihoon dengan lembut. Diciumlah kening itu. Sang anak terlalu nyenyak tidurnya hingga tak terganggu. Lalu Jimin mencium kening Yoongi setelahnya. Hanya saja lelaki cantik itu terbangun karenanya.
"Jimin...? gumamnya pelan.
Jimin menatap mata yang setengah terpejam itu dengan penuh kekaguman.
"Aku mencintaimu, sayang."
"Huh?" Yoongi tak begitu mendengar bisikan itu. Jimin terkekeh, dia harus mengulangnya.
"Aku bilang aku mencintaimu." dia mengelus pipi Yoongi dan menyibakkan rambut hitam itu ke belakang telinga sang istri. Dia juga menyisir rambut Yoongi ke belakang hingga kening mulus itu terekspos sempurna. Yoongi sangat cantik dan bersinar seperti bulan. Apalagi dengan rambut hitamnya itu.
"Hm.. ya..." jawabnya asal. Yoongi menutup matanya lagi.
"Hei, kau tidak mau bilang sesuatu padaku? Aku juga mencintaimu misalnya?"
"Kau sudah mengatakannya untukku barusan."
"Yoongi..."
"Jangan mulai merengek, tidurlah..."
Jimin yang kecewa kemudian beringsut menjauh. Dia kira Yoongi memang benar-benar tidak peduli, nyatanya lelaki cantik itu masih membuka matanya. Dia lihat Jimin yang sedang melamun memandang langit-langit dan entah memikirkan apa.
Tangan Yoongi ia ulurkan untuk menggapai Jimin. Sambil pura-pura tak melihat, Yoongi meraba-raba seolah mencari di mana letak kepala Jimin. Setelah menemukan yang ia cari, jari-jarinya bergerak mengelus rahang tegas itu.
Jimin menoleh. Tapi Yoongi tak menampakkan wajahnya. Dia masih tersungkur di jaket tebal Jihoon.
Hanya, dengan begitu saja Jimin sudah cukup puas. Belaian Yoongi membuatnya senang karena pernyataan cintanya dibalas, walau bukan dengan kata-kata.
Ia pun memejamkan matanya dan perlahan mulai tertidur, jatuh ke alam mimpi membawa lelahnya.
Yoongi mengintip untuk melihat apakah suaminya itu sudah tidur atau belum. Mendengar dengkuran halus dari Jimin, ia yakin kalau lelaki itu sudah benar-benar terlelap. Jimin lah yang paling lelah di sini karena dia harus berjalan kesana-kemari mengikuti Yoongi yang keluar-masuk toko, membawakan kantung belanja yang tidak sedikit, belum lagi menyetir. Jimin benar-benar penyabar. Wajar bila si penyabar itu jatuh tertidur dengan cepat.
Yoongi mencodongkan tubuhnya, lantas berbisik tepat di depan bibir tebal Jimin.
"Aku juga mencintaimu." dia mencium bibir itu sebagai ucapan selamat tidur.
Mereka tidak romantis. Mereka juga masih saja memelihara kebiasaan bertengkar itu hingga sekarang. Tapi mereka saling mencintai. Mereka adalah satu keluarga yang utuh dengan seorang buah hati. Mereka sempurna dengan segala kekurangannya.
Jimin, Yoongi dan Jihoon.
Keluarga kecil yang tinggal di sebuah rumah dengan ayunan di halaman belakangnya.
...Welcome Baby...
EXTRA, END
Saya mau bilang makasih buat semuanya yang udah baca dan ngikutin cerita ini... makasih banyak...
Saya nggak nyangka aja cerita abal yang dibikin asal tanpa mikir banyak ini bisa dapet respon yang baik, sekali lagi makasih banyak *kiss kiss*
Sebetulnya cerita ini adalah eksperimen saya yang kesekian untuk nyoba gaya tulis yang beda. Saya suka gaya tulis yang cenderung depresif, tapi saya juga ingin bisa nulis yang ringan-ringan tanpa perlu mikirin diksi dll. Mungkin lain waktu saya bakal coba gaya ringan seperti ini, atau mungkin gaya lainnya.
Terakhir, buat yang baca sampai sini, semoga sekolah, kuliah dan kerjaannya lancar deh!
Bubye, sampai jumpa di ff lainnya!
